Show simple item record

dc.contributor.authorMalayu, Siti Muharami
dc.date.accessioned2019-02-01T03:51:57Z
dc.date.available2019-02-01T03:51:57Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.otherIndra
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/70004
dc.descriptionSiti Muharami Malayuid
dc.description.abstractThis study analyzes the Japanese Vowel Sound Devoicing Acoustic by Japanese Learners. This study uses the theory of Acoustic Phonetics with Praat program to measure the duration of the vowel [i] and [w] . This study analyzes 18 target words spoken by four learners; two learners are from Sekolah Tinggi Bahasa Asing Harapan and two learners are from Japanese Department, Faculty of Humanities, Universitas Sumatera Utara. As a model of speech are native speakers of Japanese. The study begins with a voice recording of learners in Medan. The target words are divided into three parts; six words with [i] and [w] vowels in the beginning of the syllable, six-words with [i] and [w] vowels are in the middle of the syllable, and the six other words with [i] and [w] vowels are in the end of the syllable. The problems analyzed in this study are: How are the acoustic devoicing features of /i/ and /u/ BVBJ of Japanese language learners in Medan at the beginning, middle, and end syllable?; How are the pattern accents of the target words spoken by Japanese learners in Medan?; How is the learning concept of BVBJ /i/ and /u/devoicing in Japanese language learners? The findings in acoustic features, based on praat analysis by vowel duration measurements through [i] and [w] devoicing in beginning, middle, and end syllable spoken by four speakers of Japanese language learners do not optimally occur. It is known that the Japanese language concept, the vowel [i] and have low duration while being among certain consonants. From the results of the analysis is, however, found that speakers of Japanese language learners in Medan tend to pronounce the vowel [i] and [w] in high or long duration. For the intensity of [i] and [w] vowel on beginning, middle, and end syllable are found that the basic intensity, minimum intensity, and the intensity of the 18 target words spoken by Japanese learners are also not spoken closely to the Japanese model speaker yet. In general, the intensity of model speaker’s desible is stable. Furthermore, for the frequency of [i] and [w]vowel in beginning, middle, and end syllable, also has not been maximum devoicing on learners. There are only two accent patterns in Japanese language; the high tonesandlow tones that can serve as meaning differentiator. Based on acoustic analysis on the learners, the accent pattern has not been proper that a certain correct teaching pattern based on intonation and pronunciation tones is needed. In Japanese pronunciation, vowel devoicing can not just be ignored. Devoiced vowels are needed to be pronounced well in order to make the Japanese language users speak native-like. In fact, there are the unfluency of Japanese learners in Medan in pronouncing Japanese vowels when compared to native Japanese speakers. The sound of these speeches are the measurement of [i] and [w] vowel duration in the 18 target words of three syllable; in the beginning, middle, and end syllable. The concept of appropriate learning is through the use of computer facilities with praat program.id
dc.description.abstractPenelitian ini menganalisis Akustik Pengawasuaraan Bunyi Vokal Bahasa Jepang oleh Pembelajar Bahasa Jepang. Penelitian ini menggunakan teori Fonetik Akustik dengan Program Praat dalam mengukur durasi vokal [i] dan [w]. Penelitian ini menganalisis 18 kata target yang dituturkan oleh empat penutur pembelajar, yaitu dua orang dari Jurusan Program Studi Bahasa Jepang Sekolah Tinggi Bahasa Asing Harapan dan dua orang dari Jurusan Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Sebagai model tuturan adalah penutur asli bahasa Jepang. Penelitian dimulai dengan merekam suara dari penutur pembelajar di Medan. Kata target dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu enam kata yang posisi vokal [i] dan [w] berada di silabe awal, enam kata yang posisi vokal [i] dan [w] berada di silabe tengah, dan enam kata yang posisi vokal [i] dan [w] berada di silabe akhir. Permasalahan yang dianalisis dalam penelitian, yaitu: Bagaimanakah ciri akustik pengawasuaraan BVBJ /i/ dan /u/ pembelajar Bahasa Jepang di Medan pada silabe awal, silabe tengah, dan silabe akhir? Bagaimanakah pola aksen kata target yang dituturkan oleh pembelajar Bahasa Jepang di Medan? Dan bagaimanakah konsep pembelajaran pengawasuaraan BVBJ /i/ dan /u/ pada pembelajar Bahasa Jepang? Temuan dari segi ciri akustik, yaitu berdasarkan analisis praat melalui pengukuran durasi vokal [i] dan [w] di silabe awal, tengah, dan akhir, yang dituturkan oleh empat orang penutur pembelajar Bahasa Jepang belum secara maksimal pengawasuaraan terjadi. Diketahui bahwa konsep bahasa Jepang, vokal [i] dan [w] saat berada di antara konsonan tertentu, durasinya rendah. Akan tetapi, dari hasil analisis ditemukan bahwa penutur pembelajar Bahasa Jepang di Medan cenderung durasi vokal [i] dan [w] tinggi atau lama. Untuk intensitas vokal [i] dan [w] pada silabe awal, tengah, dan akhir ditemukan bawa intensitas dasar, intensitas minimal, dan intensitas dari 18 kata target yang dituturkan oleh pembelajar bahasa Jepang juga belum maksimal mendekati penutur model orang Jepang. Secara umum ukuran intensitas penutur model desibelnya stabil tidak turun naik. Selanjutnya, untuk frekuensi vokal [i] dan [w] di silabe awal, tengah, dan akhir, juga belum maksimal terjadi pengawasuaraan pada penutur pembelajar. Pola aksen bahasa Jepang hanya dua, yaitu nada tinggi dan nada rendah yang dapat berfungsi sebagai pembeda makna.Berdasarkan analisis akustik terhadap penutur pembelajar, pola aksennya belumlah benar sehingga diperlukan pola pengajaran yang tepat berdasarkan intonasi dan nada pengucapannya. Pada pelafalan bahasa Jepang, pengawasuaraan bunyi vokal tidak dapat diabaikan begitu saja. Diperlukan vokal yang menjadi takbersuara dilafalkan dengan sebenar-benarnya agar pemakai bahasa Jepang dapat berbicara dengan baik dan lancar selayaknya seorang penutur asli (native like). Pada kenyataannya, terdapat ketidakfasihan pembelajar bahasa Jepang di Medan dalam melafalkan bunyi vokal bahasa Jepang bila dibandingkan dengan penutur asli Jepang. Bunyi tutur ini adalah pengukuran durasi vokal [i] dan [w] pada 18 kata target dari tiga silabe, yaitu awal, tengah, dan akhir. Konsep pembelajaran yang tepat adalah melalui penggunaan sarana komputer dengan program praat.id
dc.language.isoidid
dc.subjectPengawasuaraan bunyi vokal [i] dan [w]id
dc.subjectFonetik akustikid
dc.subjectPraatid
dc.titleNihongo no Boin no Musei-kaid
dc.title.alternativePengawasuaraan Bunyi Bahasa Jepangid
dc.typeLecture Papersid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record