Show simple item record

dc.contributor.authorHaumahu, Rety
dc.contributor.authorSutatminingsih, Raras
dc.contributor.authorErvika, Eka
dc.date.accessioned2018-11-29T07:30:49Z
dc.date.available2018-11-29T07:30:49Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.otherIndra
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/69891
dc.descriptionRaras Sutatminingsihid
dc.description.abstractSejak dahulu kasus kekerasan seksual sudah menjadi fenomena di masyarakat luas bahkan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Korban dari kekerasan seksual bukan hanya dialami oleh orang dewasa, namun juga oleh anak. Osadan & Reid (2015) mengatakan pelecehan seksual pada anak adalah pelecehan seksual yang terjadi ketika pelaku baik itu dewasa, remaja, atau anak lebih tua atau lebih besar dari korban, perilaku tersebut diantaranya memberikan gambar atau foto pornografi, menyentuh area seks, kontak fisik yang berbau seks, dan menunjukkan alat kelamin. Pengertian kekerasan seksual tersebut terlihat bahwa dengan memberikan gambar atau foto porno kepada anak saja sudah dikatakan kekerasan seksual. Namun hal-hal tersebut sudah sangat mudah akses diera yang serba canggih saat ini salah satunya melalui internet, sehingga dapat menjadi wadah bagi pelaku kekerasan seksual untuk melakukan perbuatannya. Kasus-kasus kekerasan seksual pada anak yang baru-baru ini diberitakan diantaranya yaitu kasus yang dialami oleh Yuyun pada 2 April 2016. Yuyun diketahui diperkosa, kemudian dibunuh dengan keji oleh 14 orang lelaki yang diantaranya bahkan masih berusia dibawah umur (Vinando, 2016). Kasus lainnya yaitu kasus sodomi di Lereng gunung sumbing yang dialami oleh 15 orang anak oleh seorang pria dewasa (Fitriana 2016). Pelaku diketahui telah melakukan tindak keji tersebut sejak 4 tahun silam sehingga tidak dapat dipastikan sudah berapa banyak korbannya selain 15 orang anak yang telah dilaporkan ke pihak yang berwajib. Kasus-kasus kekerasan seksual tersebut adalah sebagian kecil kasus yang dapat dilacak melalui awak media. Namun demikian, berdasarkan Pusat Data dan Informasi Komnas Perlindungan Anak yang disampaikan oleh sekeretaris Jendral Komnas PA Samsul Ridwan statistik diperoleh informasi bahwa dari tahun 2010 sampai 2015 kasus kekerasan yang terjadi pada anak lebih dari 50% adalah kasus kekerasan seksual. Pada penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak tidak bisa dianggap remeh. Noviana (2015) juga mengatakan dunia anak-anak yang seharusnya terisi dengan keceriaan, pembinaan dan penanaman kebaikan, harus berputar balik menjadi sebuah gambaran buram potret ketakutan, karena anak sekarang telah menjadi subjek pelecehan seksual. Para pelaku dari kekerasan seksual kepada anak memang tidak selalu dapat diterka, bahkan tidak disangka. Hal ini dikarenakan biasanya para pelaku adalah orang-orang terdekat dari anak atau korban. Hertinjung (2009) menunjukkan data yang didapat dari Yayasan Kakak di Surakarta bahwa kekerasan seksual pada anak paling tinggi persentasenya dilakukan oleh tetangga yaitu sebesar 38 persen, teman 18%, guru 12%, pacar 11%, keluarga 11%, pejabat pemerintah 2%, tidak dikenal 8%. Berbagai macam cara dilakukan oleh para pelaku untuk menjebak anak menjadi korban, mulai dari merayu dengan benda-benda yang menarik perhatian dan minat anak, hingga ancaman yang membuat anak merasa tidak berdaya untuk melawan.id
dc.language.isoenid
dc.subjectBody Safety Educationid
dc.subjectanakid
dc.titleEfektivitas Personal Body Safety Education untuk Meningkatkan Sef Awareness Anak Terhadap Kekerasan Seksualid
dc.typeLecture Papersid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record