Show simple item record

dc.contributor.advisorProf. Dr. Sutomo Kasiman, Sp.PD, Sp. Jen_US
dc.contributor.authorMasdalifa Pasaribuen_US
dc.date.accessioned2010-03-19T10:48:23Z
dc.date.available2010-03-19T10:48:23Z
dc.date.issued2008-05-03T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherSundarien_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6809
dc.description07004511en_US
dc.description.abstractThe impact of infection resulted from intravenous infusion (plebnis) is a serious problem which is not deadly but brings a clear impact in terms of high cost of treatment because of being long hospitalized. The number of plebitis incidences is extremely influenced by the determination in implementing intravenous feeding. This study aims at examining the relationship between the implementation of Standard Operational Procedure of intravenous feeding and the incidence ofplebitis in the in-patient wards of Haji Hospital Medan. This observational analytical survey (non-experimental) study looks at the relationship between the implementation of treatment SOP and the indicator of quality service in the hospital. The research was carried out in the in-patient wards, Haji Hospital Medan for 7 (seven) months from January to August 2006. The result of this study, through the univariate test, reveals that the 23% of the preparation for intravenous infusion belongs to "good" category, 47% belongs to "fair" category, and 30% belongs to "poor" category. Through the bivariate analysis, it is found out that there is a relationship between the nurse implementing the SOP based preparation for intravenous feeding and the incidence of plebitis on the patient p = 0.001. Univariate test shows that 27% of the implementation of the SOP-based preparation for intravenous infusion belongs to "good" category, 40% belongs to "fair" category and 33% belongs to "poor" category. While the result of bivariate analysis reveals that there is a relationship between the nurses who implement the SOP-based intravenous infusion and the incidence of plebitis on the patient [ p = 0.008. Of the 100 samples observed, 53 (52%) patients experienced the incidence of plebitis and the other 42 (42%) did not. This condition shows that the rate (number) ofincidence of infection through intravenous infusion in Haji Hospital Medan is still high. Of the three variables, the conclusion is that the attitude of nurses while implementing intravenous infusion is a very dominant cause of the incidence of plebitis. It is revealed with OR = 2.771 before the model candidate whose variable has a p value = 0.25 is made and given a test of interaction.en_US
dc.description.abstractABSTRAK Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit. Terjadinya angka kejadian plebitis sangat dipengaruhi oleh ketepatan dalam pelaksanaan pemasangan infus. Tesis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan Standar Operasional Prosedur pemasangan infus terhadap kejadian plebitis di ruang rawat inap Rumah Sakit Haji Medan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah survey analitik obsevasional (non eksperimen) yaitu untuk melihat hubungan pelaksanaan SOP pemasangan infus terhadap kejadian plebitis di rumah sakit. Penelitian dilakukan di ruang rawat inap Rumah Sakit Haji Medan. Penelitian ini dilaksanakan & bulan sejak bulan Januari sampai Agustus 2006 Evaluasi dan Analisis yang dilaksanakan terhadap hasil penelitian tentang analisis pelaksanaan Standar Operasional Prosedur pemasangan infus terhadap kejadian plebitis di ruang rawat inap Rumah Sakit H'Ui Medan, dapat disimpulkan bahwa dari uji Univariat di dapatkan hasil pada persiapan pemasangan infus dengan katagori baik 23 %, katagori sedang 47 % dan katagori buruk 30 %. Sedangkan pada analisis Bivariat di dapat ada hubungan antara perawat yang melaksanakan persiapan pemasangan infus sesuai SOP dengan kejadian plebitis pada pasien, hal ini terlihat dari p value 0,001. Uji Univariat menunjukan bahwa pelaksanaan pemasangan infus yang sesuai Standar Operasional Prosedur katagori baik 27 %, sedang 40 % dan buruk 33 %. Sedangkan pada analisis Bivariat di dapat hasil ada hubungan antara perawat yang melaksanakan pemasangan infus sesuai SOP dengan kejadian plebitis pada pasien, hal ini terlihat dari p value 0,008. Dari 100 orang sampel yang di observasi terdapat kejadian plebitis sebanyak 52 orang (52%) dan yang tidak plebitis 48 orang (48%). Hal ini menunjukan masih tinggi tingkat kejadian infeksi melalui jarum infus di Rumah Sakit Haji Medan. Dari ketiga tabel dapat di ambil kesimpulan bahwa yang paling dominan menimbulkan kejadian plebitis adalah sikap perawat pada saat melaksanakan pemasangan infus, Hal ini terlihat dengan OR = 2.771 sebelum dibuat kandidat model yang variabelnya mernpunyai p value 0,25 serta dilakukan uji interaksi.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectstandar operasional proseduren_US
dc.subjectinfusen_US
dc.subjectplebitisen_US
dc.subjectruang rawat inapen_US
dc.subjectrumah sakiten_US
dc.titleAnalisis Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur Pemasangan Infus Terhadap Kejadian Plebitis Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Haji Medanen_US
dc.typeMaster Thesesen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record