Show simple item record

dc.contributor.advisorSofyanti, Ervina
dc.contributor.authorSilvia, Mega
dc.date.accessioned2017-09-04T03:55:20Z
dc.date.available2017-09-04T03:55:20Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.otherZulhelmi
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/67815
dc.description130600185id
dc.description.abstractAsimetri pada wajah dan lengkung gigi merupakan fenomena yang dapat ditemui hampir pada seluruh individu sehingga saat ini asimetri dengan batas-batas tertentu masih dianggap seimbang secara klinis dan dinilai normal. Asimetri wajah dapat terjadi pada bagian sepertiga atas, sepertiga tengah, dan sepertiga bawah wajah (asimetri mandibula). Prevalensi asimetri mandibula ditemukan paling tinggi dan dapat memengaruhi perawatan ortodonti. Maloklusi sebagai salah satu etiologi asimetri mandibula dapat mengakibatkan distribusi tekanan yang abnormal pada permukaan kondilus mandibula, terutama pada usia tumbuh kembang. Salah satu radiografi yang dapat digunakan untuk mendeteksi asimetri mandibula adalah radiografi panoramik (OPG) karena kondilus, ramus, korpus mandibula dan seluruh gigi geligi dapat terlihat. Evaluasi tinggi kondilus dilakukan dengan menggunakan metode Habets yang dimodifikasi oleh Kjellberg dan deteksi maloklusi dengan pemeriksaan model studi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi maloklusi dental pada pasien asimetri mandibula yang dirawat di klinik ortodonsia RSGMP FKG USU. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah rekam medik pasien berupa OPG dan model studi sebelum perawatan ortodonti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi kelompok simetri pada pasien yang dirawat di klinik ortodonsia RSGMP FKG USU sebesar 56.6% (n=47) dan kelompok asimetri sebesar 43.4% (n=36) dengan proporsi crossbite sebesar 40.4% (n=19) pada kelompok simetri dan 41.7% (n=15) pada kelompok asimetri, proporsi openbite sebesar 12.8% (n=6) pada kelompok simetri 13.9% (n=5) pada kelompok asimetri, dan proporsi Universitas Sumatera Utara deepbite pada kelompok simetri sebesar 29.8% (n=14) dan 22.2% (n=8) kelompok asimetri. Klasifikasi hubungan molar pada pasien asimetri yaitu klas I sebesar 16.7% (n=6), klas II 8.3% (n=3), klas II subdivisi 33.3% (n=12), klas III 27.8% (n=10), dan klas III subdivisi 13.9% (n=5). Hasil penelitian ini menyimpulkan pada kelompok simetri dan asimetri, proporsi crossbite paling tinggi dibandingkan openbite dan deepbite serta klasifikasi hubungan molar klas II subdivisi paling banyak ditemukan pada kelompok asimetri mandibula.id
dc.description.abstractAsimetri pada wajah dan lengkung gigi merupakan fenomena yang dapat ditemui hampir pada seluruh individu sehingga saat ini asimetri dengan batas-batas tertentu masih dianggap seimbang secara klinis dan dinilai normal. Asimetri wajah dapat terjadi pada bagian sepertiga atas, sepertiga tengah, dan sepertiga bawah wajah (asimetri mandibula). Prevalensi asimetri mandibula ditemukan paling tinggi dan dapat memengaruhi perawatan ortodonti. Maloklusi sebagai salah satu etiologi asimetri mandibula dapat mengakibatkan distribusi tekanan yang abnormal pada permukaan kondilus mandibula, terutama pada usia tumbuh kembang. Salah satu radiografi yang dapat digunakan untuk mendeteksi asimetri mandibula adalah radiografi panoramik (OPG) karena kondilus, ramus, korpus mandibula dan seluruh gigi geligi dapat terlihat. Evaluasi tinggi kondilus dilakukan dengan menggunakan metode Habets yang dimodifikasi oleh Kjellberg dan deteksi maloklusi dengan pemeriksaan model studi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi maloklusi dental pada pasien asimetri mandibula yang dirawat di klinik ortodonsia RSGMP FKG USU. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah rekam medik pasien berupa OPG dan model studi sebelum perawatan ortodonti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi kelompok simetri pada pasien yang dirawat di klinik ortodonsia RSGMP FKG USU sebesar 56.6% (n=47) dan kelompok asimetri sebesar 43.4% (n=36) dengan proporsi crossbite sebesar 40.4% (n=19) pada kelompok simetri dan 41.7% (n=15) pada kelompok asimetri, proporsi openbite sebesar 12.8% (n=6) pada kelompok simetri 13.9% (n=5) pada kelompok asimetri, dan proporsi Universitas Sumatera Utara deepbite pada kelompok simetri sebesar 29.8% (n=14) dan 22.2% (n=8) kelompok asimetri. Klasifikasi hubungan molar pada pasien asimetri yaitu klas I sebesar 16.7% (n=6), klas II 8.3% (n=3), klas II subdivisi 33.3% (n=12), klas III 27.8% (n=10), dan klas III subdivisi 13.9% (n=5). Hasil penelitian ini menyimpulkan pada kelompok simetri dan asimetri, proporsi crossbite paling tinggi dibandingkan openbite dan deepbite serta klasifikasi hubungan molar klas II subdivisi paling banyak ditemukan pada kelompok asimetri mandibula.id
dc.language.isoidid
dc.subjectAsimetri Mandibulaid
dc.subjectMaloklusiid
dc.subjectMaloklusi Dentalid
dc.titleProporsi Maloklusi Dental pada Pasien Asimetri Mandibula yang Dirawat di Klinik Ortodonsia RSGMP FKG USUid
dc.typeStudent Papersid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record