Show simple item record

dc.contributor.advisorDr. Sri Sofyani, SpA(K); Dr. Yazid Dimyati, SpAen_US
dc.contributor.authorRina Amalia Caromina Saragihen_US
dc.date.accessioned2010-03-19T10:43:29Z
dc.date.available2010-03-19T10:43:29Z
dc.date.issued2008-12-02T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherFranzen_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6295
dc.description08E00806en_US
dc.description.abstractBackground. Iron deficiency anemia (IDA) is the most common form of anemia worldwide, especially in developing countries. There were some studies about the association between iron status and behavior, but it is still controversial. Objective. To investigate whether iron therapy has an effect on behavior of children with Iron Deficiency Anemia (IDA) Method. A randomized placebo-controlled clinical trial was conducted in Labuhan Batu on November 2006 – April 2007. Iron Deficiency Anemia was defined as Hb 13. Elementary school children ( 6–12 years old ) with IDA were randomly assigned to treatment group with a daily therapy of 6 mg iron/kg/day or placebo group for three months. The behavior were evaluated with Child Behavior Check List (CBCL) before and six months after intervention. Results. After six months, 110 children completed the therapy. Before intervention, there was 14 children had total T scores>60. All those children also had T scores>60 for social problems and 12 of them had T scores>60 for attention problems. After intervension, 6 of them had total T scoresen_US
dc.description.abstractLatar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan bentuk anemia yang paling sering ditemukan di dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Terdapat sejumlah penelitian tentang hubungan antara status besi dengan perilaku, tetapi hal ini masih kontroversial. Tujuan. Untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi besi terhadap perilaku anak sekolah dasar yang menderita ADB. Metode. Uji klinis acak tersamar tunggal dilaksanakan di Kecamatan Bilah Hulu, pada bulan November 2006 – April 2007. ADB ditegakkan bila dijumpai kadar Hb<12 g/dl, MCHC<31%, Indeks RDW>220 dan Indeks Mentzer (RBC/MCV)>13. Murid sekolah dasar (6 – 12 tahun) dengan ADB diikutsertakan dalam penelitian dan secara acak dibagi atas kelompok intervensi yang mendapatkan terapi besi 4-6 mg/kg/hari atau kelompok plasebo. Terapi diberikan selama 3 bulan. Orang tua diminta untuk mengisi kuesioner Child Behavior Check List (CBCL) sebelum dan 6 bulan setelah intervensi. Hasil. Setelah 6 bulan, 110 anak mengikuti penelitian sampai akhir. Sebelum intervensi didapati 14 anak dengan skor T total>60. Seluruhnya memiliki skor T>60 untuk social problems dan 12 di antaranya memiliki skor T>60 untuk attention problems. Setelah intervensi, enam diantara anak tersebut memiliki skor T total<60. Empat di antaranya mendapatkan terapi besi. Tidak dijumpai perbedaan skor CBCL yang bermakna antara kelompok besi dengan plasebo. Dijumpai penurunan skor T eksternalisasi, skor T total dan attention problem yang bermakna secara statistik pada kelompok besi setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi dan tidak dijumpai perubahan bermakna pada kelompok plasebo. Kesimpulan. Pada kelompok terapi besi didapati penurunan skor T CBCL yang bermakna setelah intervensi dibandingkan sebelumnya dalam masalah eksternalisasi,skor total dan attention problem.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.titlePerilaku Anak Sekolah Dasar Yang Menderita Anemia Defisiensi Besi Setelah Pemberian Terapi Besien_US
dc.typeMaster Thesesen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record