Show simple item record

dc.contributor.advisorTukiman
dc.contributor.advisorSyahrial, Eddy
dc.contributor.authorPurba, Rupina
dc.date.accessioned2015-12-22T08:13:44Z
dc.date.available2015-12-22T08:13:44Z
dc.date.issued2015-12-22
dc.identifier.otherEra Salida
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/54086
dc.description101000332en_US
dc.description.abstractMaraknya kasus pernikahan dini pada suku Jawa, Pernikahan dini pada umumnya terjadi pada masyarakat menengah ke bawah seperti masyarakat Buruh bangunan. Faktor penyebabnya dimana adanya keyakinan masyarakat tradisional di pedesaan untuk tidak menolak pinangan pertama kepada anak perempuan. Selain itu masih ada persepsi pernikahan usia 14 tahun hingga 18 tahun dianggap wajar. Masyarakat belum paham tentang akibat buruk yang ditimbulkan anak yang menikah dini. Baik dari segi kesehatan maupun dari psikologis. Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk mengadakan penelitian ini dengan menggunakan studi kualitatif, guna memperoleh bagaimana faktor-faktor pernikahan dini pada suku Jawa di Desa Pematang Johar tahun 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indept interview) terhadap 7 (tujuh) informan yang terpilih, yang terdiri dari 4 (empat) informan pelaku pernikahan dini dan 3 (tiga) informan yang merupakan tokoh masyarakat. Faktor –faktor pernikahan dini yang diungkapkan informan pelaku pernikahan dini dan tokoh masyarakat pada umumnya sama yakni dalam masyarakat Jawa, seorang anak gadis atau pemula yang sudah akil balik maka orang tua harus mempercepat anaknya untuk berumah tangga atau menikah. Selain itu didukung dengan status ekonomi yang rendah serta ketidakmampuan mereka melanjutkan pendidikan. Pemerintah diharapkan agar bertindak cepat dalam menanggulangi masalah pernikahan dini. Dan Petugas kesehatan perlu melakukan intervensi kepada masyarakat tentang pernikahan dini karena umumnya masyarakat menikah di usia muda yang banyak menimbulkan dampak baik dari segi mental, sosial dan kesehatan.en_US
dc.description.abstractRampant cases of early marriage in the Javanese, early marriage usually occurs in the lower middle income people like the building worker Factors also vary in which the traditional beliefs in rural communities to not reject the first proposal to girls. In addition there is the perception of marriage age of 14 years to 18 years is considered normal. Society has not understood about the evils caused early child marriage. Both in terms of psychological health as well. This is what lies behind the researcher to conduct this research using a qualitative study, in order to obtain how the factors of early marriage in the Javanese in village of Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli in 2013. The method used in this study are in-depth interviews (indept interview) to 7 (seven) informants were selected, consisting of 5 (five) principal informant early marriage and 2 (two) informant who is a public figure. These factors are expressed early marriage marriage actors early informants and community leaders are generally the same in the society of Javanese, when in family there is a girl or a beginner who has grown beyond the parents should speed up their children to settle down or get married. Also supported by the low economic status and their inability to continue education to a higher level. The government is expected to act quickly to tackle the problem by maximizing early marriage age of marriage. And health workers need to intervene to the public about early marriage because most people get married at a young age that a lot of impact in terms of mental, social, and health.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectPernikahan Dinien_US
dc.subjectSuku Jawaen_US
dc.titleDeterminan Pernikahan Dini Pada Suku Jawa Di Desa Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli Tahun 2013en_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record