Show simple item record

dc.contributor.advisorOctiara, Essie
dc.contributor.authorFahnia, Zilda
dc.date.accessioned2015-12-21T01:38:00Z
dc.date.available2015-12-21T01:38:00Z
dc.date.issued2015-12-21
dc.identifier.otherZulhelmi
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/53876
dc.description110600132en_US
dc.description.abstractKemampuan kognitif, komunikasi, dan motorik anak autis yang terbatas cenderung mengakibatkan anak tidak dapat membersihkan rongga mulutnya sendiri dengan efektif, sehingga sangat rentan terjadinya karies dan penyakit periodontal yang akhirnya menyebabkan gigi hilang sebelum waktunya dan meningkatkan resiko terjadinya maloklusi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi maloklusi berdasarkan klasifikasi Angle dan Dental Aesthetic Index pada anak autis dan anak normal usia 6-18 tahun dan melihat kebutuhan perawatan maloklusi di Kota Medan. Jenis penelitian adalah survei deskriptif, dilakukan pada masing-masing 50 anak autis dan 50 anak normal usia 6-18 tahun, yang diambil dari 2 SLB, 3 Yayasan terapi, dan 2 Sekolah umum di Kota Medan. Pengambilan subjek anak autis dilakukan dengan cara total sampling, sedangkan pada anak normal dilakukan teknik matching berdasarkan usia dan jenis kelamin. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara orang tua dan pemeriksaan klinis pada anak menggunakan klasifikasi Angle, gambaran maloklusi dan Dental Aesthetic Index. Hasil pengolahan dan analisis data disajikan dalam bentuk persentase. Prevalensi maloklusi menurut klasifikasi Angle pada anak autis adalah 86% dan anak normal 76% dengan distribusi yaitu: maloklusi Klas I 48% dan 60%, Klas II 26% dan 6%, Klas III 12% dan 10%. Tiga gambaran umum maloklusi periode gigi bercampur terbanyak pada anak autis yaitu: gigi berjejal 46,42%, gigitan dalam 32,14% dan gigitan terbalik 25%; pada anak normal protrusi 41,37%, gigi berjejal 34,48% dan gigitan dalam 31,03%. Empat komponen DAI periode gigi permanen terbanyak pada anak autis yaitu, gigi berjejal 81,81%, ketidakteraturan terparah anterior maksila 68,18%, ketidakteraturan terparah anterior mandibula 45,45% dan relasi molar anteroposterior ≥1/2 cusp 45,45%; pada anak normal gigi berjejal dari lengkung rahang 71,42%, ketidakteraturan terparah anterior maksila 47,61%, ketidakteraturan terparah anterior mandibula 42,85% dan jarak gigit anterior maksila 38,09%. Kebutuhan perawatan ortodontik periode gigi permanen berdasarkan DAI pada anak autis paling banyak adalah maloklusi yang sangat parah dan sangat memerlukan perawatan 36,36%, sedangkan pada anak normal adalah maloklusi ringan dan tidak membutuhkan perawatan sebesar 66,66%. Disimpulkan, diperlukan perawatan intersetif ortodontik pada periode gigi bercampur pada anak autis agar mengurangi tingkat keparahan maloklusi pada gigi permanen.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectAak Autisen_US
dc.subjectAnak Normalen_US
dc.subjectPerawatan Maloklusien_US
dc.titlePrevalensi Maloklusi pada anak autis di SLB, Yayasan terapi, dan anak normal di Sekolah Umum Kota Medanen_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record