USU-IR Home    USU Library        Feedback

USU Institutional Repository » Master Theses (MT) » Law » MT - Ilmu Hukum »

Please use this identifier to cite or link to this item:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/5189


Title: Suatu Analisis Pbrkembangan Konsep Pidana Mati Di Indonesia
Authors: Nelvitia Purba
Advisors: Prof. Muhammad Abduh, S.H
Issue Date: 22-Apr-2008
Abstract: Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang masih berlaku mengenai jenis-jenis hukuman diatur dalam Pasal 10, salah satu hukuman ini adalah hukuman mati. Hukuman ini merampas salah satu kepentingan hukum yaitu nyawa manusia.Hukuman mati merupakan hukuman yang paling ber.n.Hukuman ini masih berlaku di Indonesia meskipun Belanda yang merupakan asal dari hukum Indonesia telah menghapuskan pidana mati sejak tahun 1870. Dalam penerapan pidana mati ini baik di Indonesia maupun negara-negara di dunia masih banyak pendapat yang pro dan kontra.Pada tahun 2003 ini Kejaksaan Agung selaku pihak eksekutor mengumumkan enam terpidana mati yang permohonan grasinya ditolak oleh presiden, salah satunya adalah Ayodya warga negara India yang terlibat dalam penyeludupan Heroin seberat 12,29 kg di Bandara Polonia Medan. Saat sekarang Ayodya menunggu waktu untuk dilaksanakan eksekusi mati. Selang waktu yang panjang antara putusan yang dijatuhkan dengan eksekusi mati bagi terpidana mati menimbulkan beban yang berat jiwanya terguncang stress karena menunggu tanpa kepastian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan konsep pidana mati dari segi yuridis, agama dan kriminologi, mengapa selama ini eksekusi pidana mati tidak dijalankan dalam waktu relatif singkat dan mengapa sampai sekarang masih terdapat pro dan kontra terhadap pemberlakuan hukuman mati di Indonesia. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan bentuk preskriptif. Deskriptif adalah menuturkan dan manafsirkan data yang ada misalnya tentang situasi yang dialami, pandangan dan sikap yang nampak. Preskriptif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan saran-saran mengenai apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tertentu yang berkaitan dengan pidana mati. Dari hasil penelitian diketahui konsep yuridis pemberlakuan pidana mati dalam rangka aspek pembalasan kepada pelaku kejahatan dan aspek menakutkan agar caloncalon penjahat tidak melakukan kejahatan tersebut, dari konsep agama hukuman mati ini dibenarkan, namun secara konsep kriminologi adanya ancaman pidana mati secara konkrit kejahatan dimasyarakat tidak berkurang. Hal ini tidak lain karena secara kenyataan pidana mati tidak dilaksanakan secara konsekuen, sehingga anggapan masyarakat ancaman pidana mati bukanlah menakutkan. Eksekusi mati tidak dijalankan dalam waktu relatif singkat hal ini tidak lain karena diberi kesempatan bagi terpidana menggunakan upaya hukum. Terjadi pro dan kontra terhadap hukuman mati ini semakin berkembang karena adanya penafsiran yang berbeda terhadap Pasal 28 I hasil amandemen DUD 1945 yang menafsirkan bahwa hukuman mati tidak dibenarkan lagi. Satu sisi yang lain menafsirkan pidana mati masih dibenarkan. Disarankan pemberlakuan pidana mati tidak perlu dipertentangkan selama pidana mati ini tetap ada dalam hukum positif Indonesia, oleh kaena itu pidana mati masih relevan dan layak dipertahankan dalam sistem hukum Indnesia karena pidana mati dapat mengantisipasi tindak pidana yang kejam sehingga dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat. Kelemahan pidana mati ini adalah selang waku yang panjang antara putusan yang dijatuhkan dengan eksekusi mati bagi terpidana mati, untuk mengatasi hal ini hendaknya tenggang waktu diatur secara jelas didalam penggunaan upaya hukum luar biasa sehingga dampak pemberlakuan pidana mati memang nyata dapat mengurangi tingkat kejahatan di masyarakat.
Abstract (other language): In Penal Code which is still in effect, classification of the sentences is included in Article 10. One of those sentences is death sentence. This sentence seizes one of the law interests which is life of human being. Death sentence is the most severe sentence. This sentence is still effective in Indonesia however in Netherlands, where Indonesian law comes from, has abolished death sentence since 1870. In assembling of death sentence which takes place both in Indonesia and other countries, there are many pro and contra opinions. In 2003, attorney general as executor notified six death prisoners which their clemencies were refused by President; one of those prisoners was Ayodya, an India, who is involved in Heroin Smuggling at Polonia Airport, Medan. Until now, Ayodya still waits for execution of the death sentence. While he waits for execution, he feels sad shock and stress because of waiting his execution with out certainty. This research has purposes to know and explain concept of death sentence which looks it from criminology, religion and juridical aspects, why death sentence is not executed in short time and still have many pro and contra opinions about affectivity of the death sentence in Indonesia. This research method is descriptive with prescriptive form. Descriptive means that we can narrate and interpret data such as about experience, philosophy and behavior. Prescriptive means a research which is purposed to get suggestions about what we do to overcome certain problems which are related to death sentence. From this research, we can know that juridical concept of death sentence in retaliatory aspects to prisoners and frightening aspects in order to candidate of prisoners do not do the crimes. From religion aspects, the death sentence is adjusted. But in criminology concept, however there is the threat of death sentence, concretely crimes in society is not decreased too. It happens because in the fact, death sentence is not served consequently, until people deem that the death sentence is not frightening. Execution of the death sentence is not served in short time. It happens because a prisoner is given an opportunity to use a legal remedy. Pro lind contra opinions toward the death sentence is more and more expanding because there are many different interpretations in article 28 I as a result of constitution amendment which interprets that death sentence is not adjusted. But on the other side, death sentence is still adjusted. It is suggested that affectivity of the death sentence should not be contrasted as long as the death sentence is still in Indonesian positive law. There fore, the death sentence is still relevant and proper to be maintained in Indonesian Law System because the death sentence can anticipate cruel crimes so it can implement social justice. The weakness of death sentence is a long interval between decision and execution for prisoners. To overcome this problem, it is better if that interval is arranged clearly in the using of extraordinary legal remedy so affectivity of the death sentence actually can decrease crimes in society.
Keywords: ilmu hukum
URI: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/5189
Appears in Collections:MT - Ilmu Hukum

Files in This Item:

File Description SizeFormat
04011073.pdfMaster Theses4.23 MBAdobe PDFView/Open
 

Items in USU-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.