Show simple item record

dc.contributor.advisorTuapattinaja, Josetta Maria R.
dc.contributor.authorChaidir, Weillon
dc.date.accessioned2015-06-06T04:04:28Z
dc.date.available2015-06-06T04:04:28Z
dc.date.issued2015-06-06
dc.identifier.otherlili nasution
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/46877
dc.description101301123en_US
dc.description.abstractSelama ini masyarakat selalu beranggapan bahwa pelacur adalah makhluk hina dan buruk, tanpa berusaha untuk mau mengenal mereka dengan lebih empatik. Pada dasarnya pelacur memiliki kehidupan yang sama dengan masyarakat pada umumnya, yang membedakan adalah justifikasi masyarakat terhadap mereka yang menganggapnya sebagai warga yang terpinggirkan. Setiap manusia bahkan PSK sekalipun menginginkan kehidupan yang bermakna sehingga apapun hal yang dilakukan pada akhirnya adalah untuk menjalani kehidupan yang dirasakan penting, berharga, dan bahagia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika kehidupan yang dijalani PSK dalam proses pencarian makna hidup melalui tahapan pencapaian kebermaknaan hidup Frankl (dalam Bastaman, 2006), yakni: tahap derita, tahap penerimaan diri, tahap penemuan makna, tahap realisasi makna, dan tahap kehidupan bermakna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan jumlah responden sebanyak 2 orang yang diperoleh berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika pencarian makna hidup pada responden 1 berawal dari tahap derita. Dalam menjalani kehidupan sebagai PSK memperoleh social support dan melakukan vicarious learning sehingga mampu mencapai tahap penerimaan diri yang kemudian menuju ke tahap penemuan makna hidupnya setelah menyadari adanya hal yang penting dan berharga. Pada tahap realisasi makna, responden 1 menetapkan tujuan hidupnya melalui experiential value dan attitudinal value yang dimiliki. Dalam usaha menumbuhkan semangat dan komitmen, dia menggunakan parallel system dalam perwujudannya, dan pada akhirnya mencapai tahap kehidupan bermakna dan merasakan kebahagiaan. Sedangkan responden 2 yang juga pada awalnya berada pada tahap derita, akan tetapi responden belajar dari kegagalannya dan memilih untuk menerima keadaan diri, namun ketika responden 2 mulai sadar bahwa ada hal yang penting dan berharga pada tahap penemuan makna dengan dimilikinya creative value malah muncul perasaan ragu-ragu dan takut untuk mengambil langkah ke depan yang pada akhirnya membuat responden 2 mempertanyakan tujuan hidupnya, dan kembali ke tahap derita.en_US
dc.description.abstractSo far, people always assume that prostitutes are despicable creatures and bad, without trying to get to know them more empathetically. Basically prostitutes have the same life with the community at large, the difference is the public justification of those who regard it as marginalized citizens. Every human being even prostitutes want a meaningful life so that anything they done in the end is to live a life that is considered important, valuable, and happy. This research aims to understand the dynamics lives of sex worker in the process of finding the meaning of life through the achievement of the stage of meaningfulness life from Frankl (in Bastaman, 2006), namely: the stage of suffering, self-acceptance stage, meaning discovery stage, the stage of realization of meaning, and the stage of meaningful life. This research used a phenomenological qualitative approach with the number of the respondents as many as 2 respondents obtained based on certain criteria. The result showed that the dynamics of searching for meaning of life on the 1st respondent started from the stage of suffering. In her life as a prostitute, she obtain social support and perform vicarious learning so as to reach the stage of self-acceptance and then headed to the discovery meaning of his life after the discovery phrase aware that there are important and valuable. At the stage of realization of meaning, 1st respondent set a goal of her life through experiential value and attitudinal value owned. In an effort to foster the spirit and commitment, she uses a parallel system to realize it, and finally reached the stage of meaningful life and be happy. While the 2nd respondent that was also originally located at the stage of suffering, but she learnt from the failure and choose to accept the state of being, but when 2nd respondent began to realize that there are things that are important and valuable in the discovery phrase of her meaning with creative value owned, feelings of doubts and fear appear to be an obstacle to take a step forward, which in turn make the 2nd respondent question her purpose of life, and return to the stage of suffering.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectMeaningful Lifeen_US
dc.subjectDynamic Lives Of Sex Worker.en_US
dc.titleKebermaknaan Hidup pada Pekerja Seks Komersilen_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record