Show simple item record

dc.contributor.advisorIr. Daniel Rumbi Teruna, MTen_US
dc.contributor.authorBona Simon Tua Sinagaen_US
dc.date.accessioned2010-03-19T10:29:23Z
dc.date.available2010-03-19T10:29:23Z
dc.date.issued2008-04-28T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherSundarien_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/4461
dc.descriptionD0300540en_US
dc.description.abstractPada pekerjaan pengeeoran beton, pengeeoran untuk keseluruhan sekaligus ada kalanya tidak dapat diselesaikan dalam satu kali pengecoran. Pengecoran memakan waktu yang bervariasi tergantung pada besar kecilnya volume beton yang akan dicor, kondisi lingkungan, bentuk konstruksi dan faktor-faktor lainnya. Dalam hal ini, pekerjaan pengecoran dibagi dalam beberapa hari kerja dan biasanya dilaksanakan dengan pengecoran dari balok beton terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan pengecoran dari pelat beton. Ada kalanya pula balok yang digunakan di dalam pereneanaan merupakan balok yang dibuat terlebih dalam pabrik, berupa balok beton prategangan atau balok bertulang praeetak (precast). Akibat dari pengecoran: secara bertahap ini, terjadi konstruksi yang tidak monolit sehingga struktur mengalami gaya geser horizontal pada daerah sambungannya. Dapat tidaknya struktur menahan gaya tersebut tergantung pada tahanan geser antar elemen. Pada penelitian ini, diuji 3 (tiga) buah balok beton bertulang dengan dimensi dan penulangan tarik yang sama. Balok I dilakukan pengecoran serentak, sedang Balok II dan III diberi variasi dalam waktu berbeda, Balok II dicor dengan selang waktu 3 hari. Balok III dicor dengan selang waktu 7 hari. Hasil pengujian menunjukkan, selang waktu pengecoran berpengaruh kepada besar lendutan,pengukuran lendutan pada tengah bentang diperoleh balok I lendutannya 1.487 cm, balok II lendutannya 1.586 cm, balok III lendutannya 1.702 cm, sedang pada pengukuran 75 cm dari tumpuan diperoleh lendutan balok I 1.059 cm, lendutan balok II adalah 1.132 cm dan lendutan balok III 1.213 cm. Daya dukung pengujian untuk balok I adalah 15.5 ton, balok II dan balok III adalah 15 ton, sedangkan daya dukung teoritis adalah 9.34 ton. Dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa antara daya dukung teoritis dengan daya dukung pengujian terdapat perbedaan sekitar 30 - 40%, dimana daya dukung pengujian lebih besar 30 - 40 % dari daya dukung teoritis. Dari pengukuran regangan diperoleh regangan hancur beton , untuk balok I 1.154 permil, balok II 1.166 permil, balok III 1.061 permil, sedangkan regangan baja untuk balok I 3.015 permil, balok II 2.449 permil dan balok III 2.421 permil. Hasil ini membuktikan bahwa pengujian ini adalah pengujian beton bertulangan lemah. Letak titik berat, untuk balok I diperoleh c =5.854 cm, balok II c = 5.232 cm dan Balok III c= 4.918 cm, sedangkan c menurut perhitungan teoritis adalah 4.272 c yang diukur dari sisi terluar serat tertekan. Pada penelitian ini juga diperoleh kesimpulan bahwa lama pengeeoran berkaitan dengan selip yang terjadi. Balok 1 tidak terjadi selip, balok II terjadi selip terbesar 0.199 permil, balok III terjadi selip terbesar 0.280 permit Dengan demikian semakin lama selang waktu pengecoran semakin besar pula selip yang terjadi. Dari pengujian ini juga diperoleh bahwasannya geser horizontal terjadi pada beban 9.5 ton atau sekitar 0.65 dari Pruntuh beton.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectkajian eksperimental balok betonen_US
dc.subjectcor bertahapen_US
dc.subjectsipilen_US
dc.titleSajian Eksperimental Bajok Beton Yang Dicor Bertahap Dengan Mutu Yang Samaen_US
dc.typeMaster Thesesen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record