Show simple item record

dc.contributor.advisorRasyidah
dc.contributor.authorPutra, Hendriawan
dc.date.accessioned2015-01-26T08:04:53Z
dc.date.available2015-01-26T08:04:53Z
dc.date.issued2015-01-26
dc.identifier.otherlili nasution
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/43375
dc.description110100314en_US
dc.description.abstractRetinopathy of prematurity (ROP) is a disorder of retinal vascular development in preterm infants. ROP is a condition that can cause blindness in premature infants. Impaired vision in the first years of life can lead to long-term impact on psychosocial aspects, education, and economics. Children who are blind also have a higher mortality rate in the future. Incidence of premature infants are still high in Indonesia, so that ROP’s screening should be carried out among premature infants. The aim of this study is to describe the results of ROP’s screening in preterm infants. Data of ROP’s screening is taken retrospectively from the Medical Records Installation of H. Adam Malik Medan Hospital. The data was obtained and collected and then processed categorically and analyzed in a descriptive method. The study found no case of ROP of all infants who received ROP screening. Groups of infants by gestational age and birth weight most likely to receive screening ROP was >32 weeks (51.2%) and 1501-2000 grams (48.8%) respectively. There were 67.4% of infants who received oxygen therapy, 51.7% of those underwent therapy for more than 7 days; 69% of those received CPAP therapy. The most frequent comorbidity found among patient's mothers was multiple birth (27.9%), and the most frequent comorbidity among infants was sepsis (53.5%).en_US
dc.description.abstractRetinopathy of prematurity (ROP) adalah gangguan perkembangan vaskular retina pada bayi prematur. ROP adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan kebutaan pada bayi prematur. Gangguan penglihatan pada tahun-tahun pertama kehidupan dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap segi psikososial, pendidikan, dan ekonomi. Anak-anak yang buta juga mempunyai angka kematian yang lebih tinggi di kemudian hari. Kejadian bayi prematur masih tinggi di Indonesia sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran hasil skrining ROP pada bayi prematur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil skrining ROP pada bayi prematur. Data mengenai skrining ROP diambil dari instalasi rekam medis RSUP H. Adam Malik, Medan secara retrospektif dari catatan rekam medis. Data yang telah diperoleh dan dikumpulkan diolah dalam bentuk kategorik dan dianalisis dengan cara deskriptif. Tidak ditemukan kasus ROP dari seluruh bayi yang menerima skrining ROP. Kelompok bayi berdasarkan usia gestasi dan berat lahir yang paling banyak menerima skrining ROP adalah >32 minggu (51.2%) dan 1501-2000 gram (48.8%). Terdapat 67.4% bayi yang menerima terapi oksigen. Pada bayi yang menerima terapi oksigen, terdapat 51.7% bayi menerima terapi oksigen >7 hari dan 69% menerima terapi CPAP. Penyakit penyerta paling banyak pada ibu pasien adalah kelahiran multipel sebanyak 27.9%. Penyakit penyerta pada bayi yang paling banyak adalah sepsis sebanyak 53.5%.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectretinopathy of prematurityen_US
dc.subjectscreeningen_US
dc.subjectrisk factorsen_US
dc.titleGambaran Retinopathy of Prematurity pada Neonatus yang Dirawat di Unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik Tahun 2011-2013en_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record