Show simple item record

dc.contributor.advisorMursin, Chairul M.
dc.contributor.advisorHarto, Soejat
dc.contributor.authorPutra, Adhi Setia
dc.date.accessioned2014-01-23T02:51:18Z
dc.date.available2014-01-23T02:51:18Z
dc.date.issued2014-01-23
dc.identifier.otherFranz
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/39663
dc.description087114009en_US
dc.description.abstractLatar belakang dan Objektif : Keluhan yang paling sering muncul pada pasien setelah prosedur anestesi dan pembedahan adalah nyeri dan mual muntah paska bedah. Nyeri paska bedah merupakan salah satu masalah penting yang menyertai proses operasi, sehingga analgetik yang kuat dengan efek samping yang minimal sangat dibutuhkan pada periode paska bedah . Obat golongan opioid sudah popular digunakan sebagai analgetik salah satunya Tramadol, tetapi penggunaan Tramadol memiliki efek samping yang paling sering muncul yaitu mual dan muntah. Pada penelitian ini ditujukan untuk membandingkan kejadian mual dan muntah pada pemberian tramadol suppositori 100 mg dan tramadol intra vena 100 mg sebagai analgetik paska bedah pada operasi ekstremitas bawah dengan spinal anestesi Metode : Setelah mendapat persetujuan dari komite etik FK – USU, 41 sampel dikumpulkan, pria dan wanita, dari umur 18-40 tahun dengan status fisik ASA 1-2, yang menjalani pembedahan elektif ekstremitas bawah dengan spinal anestesi pada Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik dan Rumah sakit jejaring. Sampel kemudian dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Pada kelompok A dengan 18 subyek penelitian dan pada kelompok B dengan 20 subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda. Kelompok A mendapat Tramadol 100 mg suppositori dan plasebo intra vena . Kelompok B mendapat Tramadol 100 mg intra vena dan placebo suppositori. VAS, kejadian mual dan muntah dicatat. Semua data dianalisa dengan menggunakan uji Chi square dan fisher test. Hasil :VAS pada kelompok A pada jam ke 6 rata-rata 2,89 dan pada kelompok B 3,45. Pada jam ke 12 VAS pada kelompok A rata-rata 2,67 dan pada kelompok B rata-rata 3,39. Pada jam ke 24 VAS pada kelompok A rata-rata 2,44 dan pada kelompok B rata-rata 2,78. Untuk kejadian mual pada jam ke 1 lebih tinggi pada kelompok B dengan nilai p=0,000. Pada jam ke 12 kejadian mual juga lebih tinggi pada kelompok B dengan nilai p=0,010. Untuk kejadian muntah pada jam ke 1 lebih tinggi pada kelompok B dengan nilai p=0,031 dan pada jam ke 12 kejadian muntah lebih tinggi pada kelompok B dengan nilai p=0,015 Kesimpulan : Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tramadol suppositori dan tramadol intravena efektif sebagai analgetik paska bedah, dengan kejadian mual muntah yang lebih minimal pada tramadol suppositorien_US
dc.description.abstractBackground and Objective: The most frequent complaints arise in patients after anesthesia and surgical procedures are pain and nausea and vomiting after surgery. Post-surgical pain is one of the important issues that accompany the process of operation, so that a strong analgesic with minimal side effects is needed in the post-surgical period. Opioid class of drugs has been used as a popular analgesic Tramadol one, but the use of Tramadol side effects most often appears that nausea and vomiting. In this study aimed to compare the incidence of nausea and vomiting in granting suppositori tramadol 100 mg and 100 mg intravenous tramadol as analgesics after surgery on the lower extremity surgery with spinal anesthesia Methods: After obtaining approval from the ethics committee FK - USU, 41 samples were collected, men and women, from the age of 18-40 years with ASA physical status 1-2, undergoing elective limb surgery under spinal anesthesia with the General Hospital Center for H. Adam Malik and hospital networks. Samples were divided randomly into two groups. In group A with 18 study subjects and in group B with 20 subjects research. This study used a randomized controlled trial. Group A received 100 mg Tramadol suppositori and intravenous placebo. Group B received intravenous tramadol 100 mg and placebo suppositori. VAS, the incidence of nausea and vomiting were recorded. All data were analyzed using Chi square test and Fisher test. Results: VAS in group A at 6 hours to an average of 2.89 and 3.45 in the B group. At the 12 hour VAS in group A mean of 2.67 and in group B the average 3.39. In the hours to 24 VAS in group A and 2.44 average in group B 2.78 average. For the incidence of nausea in the hours to 1 higher in group B with p = 0.000. At 12 hours into the incidence of nausea was also higher in group B with p = 0.010. For the incidence of vomiting in an hour to 1 higher in group B with p = 0.031 and at 12 hours to a higher incidence of vomiting in group B with p = 0.015 Conclusion: The result showed that intravenous tramadol and suppositori tramadol effective as an analgesic after surgery, the incidence of nausea and vomiting were more minimal on tramadol suppositorien_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectTramadolen_US
dc.subjectVisual Analog Score (VAS)en_US
dc.subjectnauseaen_US
dc.subjectvomitingen_US
dc.titlePerbandingan Kejadian Mual Muntah Pada Pemberian Tramadol Suppositori 100 mg Dan Tramadol Intravena 100 mg Sebagai Analgetik Paska Bedah Pada Operasi Ekstremitas Bawah Dengan Spinal Anestesien_US
dc.typeMaster Thesesen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record