Show simple item record

dc.contributor.advisorRahman, Abdulen_US
dc.contributor.advisorSiregar, Mahmulen_US
dc.contributor.authorAziz, Fahmien_US
dc.date.accessioned2013-04-17T07:02:33Z
dc.date.available2013-04-17T07:02:33Z
dc.date.issued2008-04-24T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherSindiana Wulansarien_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/12547en_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/36945
dc.description000222050en_US
dc.description.abstractRuntuhnya kubu komunis pada akhir perang dingin telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap struktur politik internasional maupun domestik, Sebagaimana negara-negara lain yang sebelumnya berada di bawah persekutuan Blok Timur, keruntuhan komunisme juga membawa lmplikasi yang luas bagi negara Yugoslavia. Negara federasi yang tampaknya solid di bawah komunisme ini ternyata harus menghadapi disintegrasi yang serius, Ketika cengkraman komunisme atas federasi Yugoslavia melemah, sentimen etnis yang selama ini tertekan tiba-tiba muncul ke permukaan diantara republik-republik di bawah Federasi Yugoslavia. Memanfaatkan momentum melemahnya komunisme, Republik Slovenia, Republik Kroasia, serta Republik Bosnia-Herzegovina secara berturut-turut memplokamirkan indenpendensi mereka serta memutuskan untuk meninggalkan negara Republik Yugoslavia. Etnik Serbia di Republik Serbia negara bagian terkuat di dalam federasi dan di republik-republik yang memisahkan diri ternyata menentang pemisahan ini tersebut, sehingga di mulailah siklus kekerasan antar etnik di wilayah bekas Federasi Yugoslavia, khususnya di Slovenia, Korasia, dan Bosnia Herzegovina. Dalam perkembangan selanjutnya, kekerasan juga menimpa Kosovo, salah satu propinsi di Serbia, yang memiliki komposisi etnis Albania Muslim (90%), dan Serbia (10%). Meski di dominasi etnik Albania semenjak pasukan Turki merebut Kosovo dari Serbia tahun 1389, bagi etnik Serbia, Kosovo dianggap memiliki arti penting dalam sejarah dan kebudayaan Serbia. Upaya propinsi ini dalam melepaskan diri dari Serbia kemudian di jawab dengan kekerasan oleh Presiden Yugoslavia Siobodan Milosevic, Meski diselingi oleh kesepakatan Rambouillet (199 I), Siobodan Milosevie tetap melancarkan kampanye "Ethnic Cleansing" di wilayah ini, Kekerasan etnik yang menyertai konflik Balkan temyata merupakan salah satu yang terburuk semeniak peristiwa Holocaust yang menghabiskan enam juta orang Yahudi di Eropa. Setelah PBB terlibat dalam upaya meredam itu, cukup banyak anggota UN peace keepers yang justru menjadi korban. Apa yang terjadi di bekas negara Yugoslavia ini kemudian menjadi perhatian internasional, sehingga pada akhirnya Dewan Keamanan PBB dengan otoritas yang di milikinya menetapkan konflik tersebut sebagai situasi yang mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Selanjutnya, dengan Resolusi Nomor 827/1993 Dewan Keamanan PBB menetapkan pembentukan ICry sebagai suatu lembaga peradilan intemasional ad hoe yang di maksudkan untuk mengadili pelaku pelanggaran HAM berat (Gross Violations Of Human Right) di wilayah bekas Yugoslavia. Dalam skripsi ini penulis akan membahas pengaturan HAM di Indonesia, bagaimana implikasi pembentukan ICC terhadap peradilan HAM di Indonesia, dan studi kasus tentang Statute Qf the International Tribunal For The Prosecution Persons Responsible For Serious Violations Of International Humanitarian Law Commited In The Territory of Former Yugoslavia since 1991 (disingkat ICTY).en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectpengaturan ham indonesiaen_US
dc.subjectimplementasi pembentukan iccen_US
dc.subjectperadilan hamen_US
dc.titlePenyelesaian Kasus Pelanggaran (HAM) Barat Di Negara Bekas Yugoslavia (Studi Kasus Tentang International Tribunal For The Former Yugoslaviaen_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record