Show simple item record

dc.contributor.advisorRahmawaty
dc.contributor.advisorRiswan
dc.contributor.authorSitompul, Yunita Sari
dc.date.accessioned2013-03-21T04:16:26Z
dc.date.available2013-03-21T04:16:26Z
dc.date.issued2013-03-21
dc.identifier.otherPriskilla Napitupulu
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/35405
dc.description001201039en_US
dc.description.abstractThe application of satellite data to let know the expansion of land changes, caused of forest and land fire was the effective enough ways. The using of Landsat data to know the change of land cover might be caused the satellite had stretching time to get image in same location. Available data from Landsat's image are pictorial and digital's images, that gave some important information. We got information could be joined with data and the other maps in Geographical Information System's method. The aims of this study were to learn the related aspects that combine with image processing's activity, mapping and Geographical Information system's application to know the availability (pattern and quantity) of monthly hotspot. The pattern and kinds of landcover in Kabupaten Tapanuli Selatan and Labuhan Batu in year 2001, 2002 and 2003 which become one of ignition forest and land fire. The research was done in the month of October until December 2004, that took the object were Kabupaten Tapanuli Selatan and Labuhan Batu in year of 2001, 2002, and 2003. Data were analyzed in GIS (Geographical Information System)'s database Manajemen Leuser' Unit, Medan, North Sumatera. The merchandise in use were Map, monthly hotspot's data, northen digital map contained both of Kabupaten Tapanuli Selatan and Labuhan Batu, landsat TM images, and then the tools were personal computer and Arc view 3.2's software. Analysis of visual interpretation by overlay both of data (Map and Hotspot), showed that Kabupaten Tapanuli Selatan had the quantity of hotspot are 283, 58, and 145 that concentrated on the palm field and the commulative were in Kecamatan Huristak, Barumun Tengah and Simangambat. In Kabupaten Labuhan Batu had the quantity of hotspot were 223, 58, and 191 that concentrated on log forest and plantations in Kecamatan Kualuh Leidong, Panai Tengah, and Kampung Rakyat. Supposition that come from this collected conditions and indications derived from fire's occurance. To handle this cases, the writer suggest for all correlated stake-holders suppose to set the forest and land'sfire. So that the worst effects caused of forest and land fire could be anticipated as soon as possible.en_US
dc.description.abstractPenggunaan data citra satelit yang merupakan perolehan dari Sistem informasi Geografi untuk mengetahui luasan perubahan lahan akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan cara yang cukup efektif adalah Landsat (Land Satellite = satelit sumber daya). Pemanfaatan data Landsat untuk mengetahui keberadaan (pola dan jumlah) sebaran titik panas pada suatu wilayah dimungkinkan karena satelit ini memiliki rentang waktu pengambilan citra untuk lokasi yang sama. Data yang diperoleh dari citra landsat berupa citra piktorial maupun digital. Data ini perlu diolah untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Informasi yang diperoleh dapat digabungkan dengan data dan peta lain dalam Sistem Informasi Geografi (SIG), Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan citra, pemetaan dan pemanfaatan SIG, mengetahui keberadaan titik panas (Hotspot) bulanan, bagaimana pola penutupan /penggunaan lahan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu serta jenis penutupan/penggunaan lahan sebagai penduga pemicu terjadinya kebakan hutan dan lahan di kedua kabupaten tersebut pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2004. Objek penelitian adalah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu Pada Tahun 2001, 2002, dan 2003. Proses analisa data serta hasil analisis citra dilakukan di kantor G1S Database, Unit Manajemen Leuser (UML), Medan, Sumatera Utara. Bahan penelitian terdiri dari ; Peta sebaran titik panas {hotspot) bulanan tahun 2001, 2002, dan 2003, data koordinat tempat terdapatnya titik panas, data spasial digital berupa peta dasar kedua Kabupaten, Citra landsat TM dan hasil interpretasinya. Sedangkan alat-alat penelitian berupa; alt tulis menulis serta personal computer (PC), dan perangkat lunak Arc View 3.2. Hasil analisa overlay menunjukkan bahawa Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki jumlah titik panas pada tahun 2001, 2002, dan 2003 adalah 283, 58, dan 145 titik yang terkonsentrasi pada penutupan lahan berupa kebun sawit dan secara kumulatif terdapat di Kecamatan Huristak, Barumun Tengah, dan Simangambat. Dan di Kabupaten Labuhan batu terdapat jumlah titik panas tahun 2001, 2002, dan 2003 dengan jumlah 223, 58, dan 191 titik yang terkonsentrasi pada penutupan lahan berupa HTI dan perkebunan di Kecamatan Kualuh Leidong, Panai Tengah, dan Kampung Rakyat. Pendugaan dari indikasi-indikasi yang terseleksi dapat diambil kesimpulan bahwa didaerah-daerah tersebut cukup rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Untuk mengatasi hal ini, penulis disarankan kepada seluruh pihak yang bersangkutan membentuk manajemen kebakaran hutan yang berupa system peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (earty warning system), sehingga bahaya kebakaran hutan dan yang ditimbulkan dapat segera di antisipasi.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectForest and Land Fireen_US
dc.subjectGeographical Information System (GIS)en_US
dc.subjectHotspoten_US
dc.subjectLandcoveren_US
dc.titleDeterminasi Tingkat Kebakaran Hutan dan Lahan Melalui Studi Sebaran Data Titik Panas dan Bentuk Penggunaan Lahan Dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Labuhan Batuen_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record