USU-IR Home    USU Library        Feedback

USU Institutional Repository » Master Theses (MT) » Law » MT - Ilmu Hukum »

Please use this identifier to cite or link to this item:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/34709


Title: Implikasi Pemberlakuan Asas Cabotage Dalam Pelayaran Nasional Terhadap Eksistensi Perusahaan Angkutan Laut Indonesia Pada Perdagangan Bebas Dalam Kerangka WTO
Authors: Asnawi, M. Iqbal
Advisors: Nasution, Bismar
Purba, Hasim
Siregar, Mahmul
Issue Date: 6-Dec-2012
Abstract: Maritime is a very strategic sector for Indonesia which constitutes the largest archipelagic country in the world. This sector has so far given the valuable contributions for the success of national development such as providing the basic needs, increasing the people’s incomes, job opportunities, incomes for country, and regional developments. Therefore, it is not an exaggeration that the Maritime Sector has actually become an excellent point in our national development in the future. The enforcement of Cabotage system stipulated in the Law No. 17 year 2008 regarding with Shipping constitutes the urgent and significant issue for the development and self-empowerment of our national sea-transportations since this cabotage system is aimed to empower the existence of national sea-transportation in domestic sea-transportation activities in order to prevent and stop any possibilities for the foreign sea-transportations to conduct any activities in the Sea Territory of Indonesia (inter land and inter port). Stipulation of Cabotage system is described in the Chapter of Sea Transportation. With regard to the implementation of the sea transportation, it has been technically stipulated and described seperately in Government Regulation consisting more detailed and specific stipulation concerning with daily transportation of goods and / or passengers and also other kinds of sea-activities in the sector of petroleum-gas and off-shore. However, considering that our national armada of sea transportaions are still in uncertain and unready conditions for activities and services in the sector of petroleum-gas and off-shore, such Government Regulation had then been amended which has allowed the foreign sea-transportation to operate under the strict Regulation of Minister of Trandsportation and Communication Affairs concerning with licenses, clearance, and other legal documentation and limit the operational period until 2015. Hopefully, our national armada for the sea transportation will be in ready and more capable conditions to handle the activities of petroleum-gas and off-shore. Implication of Cabotage System for national sea-transportation has certainly brought about impacts in the increasing of the quantity of sea-transportation armada and in the improvement and development of the object-markets being served. This way, it will also impact for national income of the country in the sector of taxation and manpower, increasing of productivity of shipyard industry and maintaining the unity and the authority of our nation and country (national defense). These facts constitute the possitive impacts that we have achieved in the enforcement and imposing of Cabotage system. However, this imposing of cabotage system has also the negative side where there might be a disturbance and interference from outside in the sector of petroleum-gas and off-shore activities if our national armada of sea-transportations are not well-prepared to handle this sector. This will have a strong effect towards the national economy. The operations of foreign ships in this sector will also deduce the national income since these activities are not conducted by the stake-holders of our own country. Therefore, support from Government to enforce the policy of providing loan / fund is highly expected by national shipping / forwarding companies because of the high cost of ships and the rare produce of these kinds of ships make the armada owners difficult to purchase. In case of business of services, Indonesia is the member of World Trade organization which adopts the principle of step-by-step liberalization to prepare going on free trade era. Stipulation concerning with the Cabotage System constitutes part of principles stipulated in WTO / GATS regarding with domestic regulation. Thus, the imposing of Canotage system still corresponds to principles of liberalization in servicing business stipulated in WTO / GATS since WTO / GATS keeps accepting and confessing the existences of national authorizations of its coutry-members. Especially, Indonesia has so far not submitted its commitments yet which will be included in Schedule of Commitments (SOC) in the sector of sea-transportation services. The imposing of Cabotage system is highly expected to establish a system of self-empowerment and tough Indonesian national shipping in welcoming and participating a free trade era which is intolerant with limitation and restriction as well.
Abstract (other language): Bidang kelautan adalah bidang yang sangat strategis bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, karena selama ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi keberhasilan pembangunan nasional, , antara lain berupa penyediaan bahan kebutuhan dasar, peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, perolehan devisa dan pembangunan daerah. Dengan demikian kelautan sesungguhnya memiliki keunggulan dalam kiprah pembangunan nasional di masa depan Pemberlakuan asas Cabotage yang tertuang dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran merupakan hal yang urgen bagi perkembangan dan kemandirian angkutan laut nasional, keberadaan asas Cabotage ini merupakan pemberdyaan angkutan laut nasional dalam kegiatan angkutan laut domestik. Sehingga menutup kemungkinan bagi angkutan laut asing untuk melakukan kegiatan didalam wilayah perairan Indonesia (antarpulau/antarpelabuhan). Pengaturan tentang asas Cabotage diatur dalam bab tentang Angkutan di Perairan. Dalam pelaksanaannya, mengenai angkutan di perairan ini dibuat Peraturan Pemerintah tersendiri yang mengatur lebih teknis tentang kegiatan-kegiatan angkutan laut dalam negeri yang merupakan kegiatan angkutan barang dan/atau penumpang serta kegiatan lainnya yang mengatur tentang kegiatan migas dan lepas pantai. Namun Peraturan Pemerintah ini dilakukan perubahan melihat ketidaksiapan armada angkutan laut nasional pada kegiatan migas dan lepas pantai. Sehingga pada kegiatan tersebut angkutan laut asing masih diperbolehkan beroperasi, namun pada pelaksanaannya di berlakukan perizinan yang ketat yang diatur pada Peraturan Menteri Perhubungan serta diberikan jangka waktu beroperasinya sampai dengan tahun 2015. Diharapkan pada waktu tersebut angkutan laut nasional sudah siap melayani kegitan migas daan lepas pantai tersebut. Implikasi pemberlakuan asas Cabotage bagi angkutan laut nasional tentu membawa dampak bagi perkembangan jumlah armada angkutan laut serta peningkatan pangsa muatan yang dilayani. Dengan demikian hal ini akan berdampak pada pemasukan negara dibidang perpajakan dan menyerap tenaga kerja, peningkatan produktivitas industri galangan kapal serta menjaga kedaulatan bangsa dan negara dibidang pertahanan dan keamanan. Hal-hal tersebut merupakan dampak positif yang dirasakan dalam pemberlakuan asas Cabotage. Pemberlakuan asas ini juga mempunyai potensi dampak negatif, kegiatan migas dan lepas pantai akan terganggu jika angkutan lut nasional tidak mempersiapkan diri untuk dapat melayani kegiatan tersebut, hal ini akan sangat berdampak pada perekonomian nasional Indonesia. pengoperasian kapal asing dibidang ini juga akan menghilangkan devisa negara, karena kegiatan dibidang ini tidak dilakukan oleh stake holder dari anak bangsa sendiri. Dengan demikian dukungan dari pemerintah agar dapat membuat kebijakan untuk memberikan talangan dana sangat diharapkan oleh perusahaan angkutan laut nasional. Karena mahalnya harga kapal serta keberadaannya yang masih langka menyulitkan angkutan laut nasional unttuk memiliki armada kapal jenis ini. Dalam perdagangan jasa, Indonesia merupakan anggota dari organisasi perdagangan dunia (WTO) yang dalam prinsipnya menganut liberalisasi bertahap untuk menuju era perdagangan bebas. Pengaturan mengenai asas Cabotage merupakan bagian dari prinsip yang diatur dalam WTO/GATS tentang domestic regulation. Dengan demikian pemberlakuan asas Cabotage tetap sejalan dengan prinsip liberalisasi jasa yang diatur dalam WTO/GATS, karena WTO/GATS tetap mengakui eksistensi kedaulatan negara anggotanya. Apalagi Indonesia sampai dengan saat ini belum mendaftarkan komitmennya yang dituangkan dalam Schedule of Commitments (SOC) pada bidang jasa angkutan laut. Pemberlakuan asas Cabotage di harapkan dapat membentuk suatu sistem pelayaran nasional Indonesia yang mandiri dan tangguh dalam menyongsong era perdagangan bebas yang tanpa batas.
Keywords: The principle of Cabotage
Law no. 17 In 2008
the National Marine Transport
WTO
URI: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/34709
Appears in Collections:MT - Ilmu Hukum

Files in This Item:

File Description SizeFormat
Cover.pdfCover621 kBAdobe PDFView/Open
Abstract.pdfAbstract454.59 kBAdobe PDFView/Open
Chapter I.pdfChapter I535.2 kBAdobe PDFView/Open
Chapter II.pdfChapter II577.51 kBAdobe PDFView/Open
Chapter III-V.pdfChapter III-V686.36 kBAdobe PDFView/Open
Reference.pdfReference458.7 kBAdobe PDFView/Open
 

Items in USU-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.