USU-IR Home    USU Library        Feedback

USU Institutional Repository » Student Papers (SP) » Humanities » SP - Japanese Language »

Please use this identifier to cite or link to this item:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/30199


Title: Analisis Kehidupan Yakuza Dalam Komik Gokusen Karya Kozueko Morimoto
Other Titles: Kozueko Morimoto No Sakuhin No “Gokusen Manga No Yakuza No Seikatsu No Bunseki Ni Tsuite
Authors: Debby, Meika
Advisors: Nandi S.
Situmorang, Hamzon
Issue Date: 9-Nov-2011
Abstract: Sebagai makhluk sosial, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Kebudayaan adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari – hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Dalam salah satu unsure kebudayaan terdapat satu bagian berupa karya sastra yang menyajikan nilai-nilai kesenangan dalam berbagai bentuk yang disajikan berdasarkan kehidupan sehari-hari. Sastra adalah karya seni yang dikarang menurut standar bahasa kesusastraan, penggunaan kata – kata yang indah, gaya bahasa dan gaya bercerita yang menarik. Istilah sastra hendaknya dibatasi pada seni sastra yang bersifat imajinatif. Artinya, segenap kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya merupakan sesuatu yang dibayangkan saja. Salah satu hasil karya sastra yang menarik adalah komik. Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Di Jepang, komik merupakan karya sastra yang paling populer. Komik di Jepang sangat berkembang dari waktu ke waktu. Komik Jepang tidak hanya menampilkan cerita bertema kisah cinta, action, misteri, humor, atau kepahlawanan saja, namun juga tentang kehidupan sosial masyarakat dan masalah – masalah yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah komik berjudul Gokusen karya Kozueko Morimoto. Komik ini menceritakan seputar tentang kehidupan keluarga yakuza klan Kuroda, dengan berbagai aktifitas yang terjadi pada kelompok. Semua tergambar dalam kehidupan tokoh utamanya yang bernama Kumiko Yamaguchi yang tumbuh di lingkungan keluarga Yakuza yang juga nantinya adalah pewaris tunggal dan penerus pemimpin kelompok yakuza klan Kuroda ;juga melalui berbagai peran kehidupan tokoh yakuza lainnya. Dalam komik ini digambarkan kehidupan sosial para Yakuza sebagaimana kita ketahui dalam kehidupan nyata, yang terorganisir dengan rapi dalam segala aktifitas anggotanya. Yakuza dianggap mewakili kejahatan terorganisir di Jepang karena yakuza memiliki struktur organisasi yang tersusun dengan rapi untuk mengatur segala aktifitas anggotanya. Dilator belakangi oleh keadaan Jepang yang belum stabil akibat perang menimbulkan banyak pengangguran dari kalangan bushi yang tidak memiliki tuan (ronin) yang membentuk kelompok-kelompok untuk melakukan aksinya, dan mereka menamakan dirinya kabuki-mono. Istilah yakuza pada awalnya hanya ditujukan bagi seorang pemain yang kalah dalam permainan kartu, namun maknanya berkembang dan tidak lagi ditujukan kepada seorang pemain saja tetapi mengacu kepada seluruh orang yang bermain judi dan kepada orang- orang yang melakukan penyimpangan dan mengganggu ketentraman masyarakat. Dalam masyarakat Jepang pada masa itu,orang-orang yang berjudi dianggap sebagai pecundang dan tidak berguna. Golongan yakuza dalam kehidupan nyata ataupun yang tergambar dalam hasil karya – karya sastra kebanyakan adalah sosok – sosok yang kejam, kasar dan dipenuhi oleh berbagai tindak kejahatan. Merupakan kelompok yang dalam menjalankan tugas – tugasnya harus tunduk kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pimpinan kelompoknya. Hatomo-yakko atau pembantu shogun, merupakan asal mula organisasi kriminal di Jepang. Namun yakuza modern tidak mengidentifikasikan diri mereka sebagai keturunan hatomo-yakko, melainkan sebagai keturunan machi-yokko atau pembantu kota. Machi-yokko merupakan suatu kelompok yang sebagian anggotanya adalah berasal dari masyarakat kelas bawah yang ada di Jepang. Tujuan awal dibentuknya machi-yokko adalah untuk melindungi kota-kota dari gangguan para hatomo-yakko. Berbeda dengan hatomo-yakko, kehadiran dari machi-yokko dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang, bahkan mereka dianggap sebagai pahlawan pada zaman itu. Yakuza (ヤクザ), yang juga dapat disebut dengan gokudou ( 極道 ) adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Sedang dalam pengoperasian organisasi ini, sering juga disebut mafia Jepang. Hingga sekarang, yakuza masih saja ditakuti banyak orang, hal ini dikarenakan sepak terjangnya yang sangat mempengaruhi Jepang, bahkan dunia sekaligus. Dalam pelebaran dan perluasan anggota, yakuza tidak memandang status sosial mereka. Bahkan bagi mereka (anggotanya) yang dinilai lemah dan tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan kesehariannya (bukan dalam yakuza), yakuza tidak tanggung-tanggung untuk melindunginya. Dalam kepengurusannya, yakuza dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Yakuza tak bertuan dan keluarga Yakuza. Tidak semua anggota yakuza berasal dari kalangan bawah seperti burakunin, yaitu masyarakat yang dianggap memiliki kedudukan yang rendah dalam masyarakat Jepang, namun ada juga yang berasal dari keluarga terpandang, yang merasa tertekan oleh tuntutan keluarga sehingga melarikan diri dari rumah dan kemudian bergabung dengan yakuza, atau pelajar yang dikeluarkan dari sekolah, anak yang dibuang oleh orang tuanya karena kekurangan ekonomi dan lain-lain. Keanggotaan yakuza selain seperti yang disebutkan di atas, juga berasal dari perekruitan oleh suatu kelompok yakuza terhadap orang-orang yang dianggapnya berpotensi untuk bergabung menjadi anggota yakuza. Yakuza tradisional yang merupakan asal – usul dari yakuza modern, dapat dibedakan menjadi bakuto atau penjudi, dan tekiya atau pedagang keliling. Pada yakuza, kesetiaan itu mereka tunjukkan ke dalam beberapa hal, seperti rela mengorbankan diri sendiri untuk melindungi oyabun, dan siap menerima hukuman apa saja jika melakukan kesalahan yang ringan maupun berat, seperti memotong jari (yubitsume), dan menato seluruh tubuh, dan kemudian hal ini lama-kelamaan menjadi tradisi di organisasi yakuza dan menjadi identitas sebagai anggota yakuza. Bukan itu saja, anggota yakuza juga sering menggunakan kode dan bahasa rahasia jika bertemu dengan sesame anggota yakuza sehingga orang lain yang bukan anggota yakuza tidak dapat mengetahui arti dari tindakan dan ucapan mereka. Yakuza pada zaman Edo atau sering disebut juga yakuza tradisional, dikenal masyarakat sebagai sekumpulan orang yang tidak berguna karena pekerjaan mereka adalah merampok, memeras dan berjudi. Yakuza tradisional yang merupakan asal – usul dari yakuza modern, dapat dibedakan menjadi bakuto atau penjudi, dan tekiya atau pedagang keliling. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan pergantian pemerintahan, yakuza pun ikut berkembang dan mulai meninggalkan aktifitas lama mereka menuju aktifitas yang baru, dan yakuza berubah menjadi yakuza yang modern. Struktur yakuza setelah Perang Dunia II terlihat semakin jelas dan rapi, dan pada saat ini telah memiliki beberapa jabatan layaknya pemerintahan sendiri. Setiap organisasi yakuza memiliki peraturan-peraturan sendiri yang wajib dipatuhi dan dijalankan oleh anggotanya. Oyabun memegang kekuasaan penuh untuk mengatur jalannya organisasi. Sebagian dari kehidupan dan aktifitas yakuza tergambar dalam komik Gokusen karya Kozueko Morimoto ini. Dalam komik Gokusen, pengarang lebih menonjolkan sifat dan karakter yakuza. Yakuza dalam komik Gokusen digambarkan juga sebagai sekelompok orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Jepang saat itu. Pengarang menonjolkan karakter yakuza dari sisi yang berbeda. Yakuza pada komik Gokusen ini menunjukkan karakter utamanya ”Kumiko Yamaguchi”, merupakan keturunan yakuza yang berprofesi sebagai guru di sebuah SMA. Sebagai pemimpin kelompok Yakuza yang menjadi seorang guru, karakter ”Kumiko” menghadirkan image baru pada karakter yakuza yang selama ini ada dalam bayangan masyarakat. Kumiko menghadirkan karakter yakuza yang menyukai perdamaian, membela kaum lemah, dan menghargai pendidikan. Sebagai guru dia mengajar murid-muridnya yang nakal dan tidak berminat dalam belajar. Kumiko menjadi guru yang disipilin dan tegas untuk meningkatkan prestasi muridnya. Demikian juga para tokoh yang lain, antara masing-masing anggota di Keluarga Kuroda harus saling menghormati dan melindungi satu sama lain. Dalam komik ini diceritakan bagaimana kelompok yakuza masing-masing tetap menjaga wilayah kekuasaannya agar tetap aman terkendali. Sedapapat mungkin mereka menghindari perkelahian dengan kelompok yakuza lainnya. Hal inilah yang ditunjukkan komik tersebut, yaitu sisi yang berbeda dari kehidupan yakuza dalam kehidupan nyata.
Keywords: Kehidupan Yakuza
Komik Gokusen
URI: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/30199
Appears in Collections:SP - Japanese Language

Files in This Item:

File Description SizeFormat
Cover.pdfCover437.94 kBAdobe PDFView/Open
Abstract.pdfAbstract290.63 kBAdobe PDFView/Open
Chapter I.pdfChapter I242.51 kBAdobe PDFView/Open
Chapter II.pdfChapter II425.87 kBAdobe PDFView/Open
Chapter III-IV.pdfChapter III-IV265.17 kBAdobe PDFView/Open
Reference.pdfReference214.8 kBAdobe PDFView/Open
 

Items in USU-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.