Show simple item record

dc.contributor.advisorDahar, Eddy
dc.contributor.advisorWahyuni, Siti
dc.contributor.authorDarwita, Sari
dc.date.accessioned2011-04-07T08:01:34Z
dc.date.available2011-04-07T08:01:34Z
dc.date.issued2011-04-07
dc.identifier.otherMuswita Widya Rahma
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/22619
dc.description060600096en_US
dc.description.abstractKehilangan gigi meningkat seiring dengan bertambahnya usia akibat efek kumulatif dari karies, penyakit periodontal, trauma atau kegagalan perawatan gigi. Kehilangan gigi mempunyai dampak emosional, sistemik dan fungsional. Dampak emosional dapat berupa kehilangan kepercayaan diri, keterbatasan aktivitas seperti mengunyah dan berbicara serta perubahan pada penampilan. Dampak sistemik dapat menyebabkan penyakit pada gastrointestinal terkait dengan kasus kesehatan rongga mulut yang buruk, penyakit kardiovaskular maupun osteoporosis. Dampak fungsional yaitu dapat berupa gangguan pada proses bicara dan pengunyahan. Terganggunya proses pengunyahan akibat kehilangan gigi dapat mempengaruhi pemilihan makanan sehingga terjadi perubahan terhadap pola asupan zat gizi sehingga dapat berpengaruh terhadap status gizi. Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan refleksi dari apa yang kita makan sehari-hari. Menurut Depkes RI tahun 2003 status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan absorpsi yang diukur dari berat badan dan tinggi badan dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status gizi dikatakan baik bila pola makan kita seimbang. Artinya, banyak dan jenis makanan yang kita makan harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. Dengan mempunyai status gizi yang baik memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan metode cross sectional. Populasi adalah seluruh penghuni Panti Jompo Abdi/Dharma Asih Binjai Tahun 2010. Cara sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria sampel adalah lansia yang berusia 60 tahun ke atas, yang tidak memakai gigitiruan, bersedia diperiksa rongga mulutnya, diukur berat badan dan tinggi lututnya serta dapat membuka mulut dengan baik dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Jumlah sampel yang digunakan adalah 64 orang dari jumlah populasi 157 orang. Penelitian ini diawali dengan observasi terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran sampel yang digunakan, kemudian data karakteristik responden dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara, dan status gizi didapat dengan pengukuran antropometri dengan pengukuran tinggi badan yang didapat dari pengukuran tinggi lutut. Kemudian data disajikan dalam tabel frekuensi distribusi dan dilanjutkan dengan penelitian analitik untuk mengetahui hubungan antara karakteristik berdasarkan keadaan gigi geligi di rongga mulut dengan status gizi. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik responden di Panti Jompo Abdi/Dharma Asih Binjai Tahun 2010 yang terbanyak berusia 70-79 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki status gizi non underweight dengan jumlah 1-10 gigi yang ada di rongga mulut dan pada kelompok oklusi anterior dan posterior tidak ada. Berdasarkan jumlah gigi yang ada di rongga mulut, persentase tertinggi pada kelompok edentulus adalah sebesar 17,19% dengan status gizi underweight, pada kelompok 1-10 gigi adalah sebesar 28,12% dengan status gizi non underweight, pada kelompok 11-20 gigi adalah sebesar 20,31% dengan status gizi non underweight dan kelompok 21-32 gigi adalah sebesar 10,94% dengan status gizi non underweight. Uji chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi berdasarkan jumlah gigi yang ada di rongga mulut dengan status gizi. Berdasarkan ada tidaknya oklusi di rongga mulut, persentase tertinggi pada kelompok oklusi anterior dan posteriornya tidak ada adalah sebesar 32,81% dengan status gizi non underweight, pada kelompok oklusi anterior ada dan posterior tidak ada adalah sebesar 17,19% dengan status gizi non underweight dan pada kelompok oklusi anterior dan posteriornya ada adalah sebesar 12,5% dengan status gizi non underweight. Uji chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi berdasarkan ada tidaknya oklusi di rongga mulut dengan status gizi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi berdasarkan jumlah gigi dan ada tidaknya oklusi di rongga mulut dengan status gizi pada lansia di Panti Jompo Abdi/Dharma Asih Binjai Tahun 2010.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectStatus Gizien_US
dc.subjectKehilangan Gigi pada Lansiaen_US
dc.titleHubungan Status Gizi dengan Kehilangan Gigi pada Lansia di Panti Jompo Abdi/Dharma Asih Binjai Tahun 2010en_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record