USU-IR Home    USU Library        Feedback

USU Institutional Repository » USU e-Archives (UA) » UA - Professor Orations »

Please use this identifier to cite or link to this item:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20615


Title: Estetika Sastra Melayu Tradisi Perekat Persahabatan Dengan Berbilang Bangsa
Authors: Syaifuddin
Issue Date: 22-Oct-2010
Abstract: Masyarakat yang hidup di zaman modern dan global ini, mungkin merasa bahwa sastra tradisi yang sarat dengan naratif ketahyulan, khayalan, mitos, dongeng, dan tidak rasional sudah tidak relevan lagi. Tabrani (2006:9) menyatakan modernisme mengajar agar bersifat realistis dan membuang sesuatu yang bertentangan dengan ciri dan nilai realitas serta keilmiahan. Namun, sadar ataupun tidak sadar masyarakat pada zaman pascamodern pun telah membawa kita kembali ke zaman silam. Unsur tahyul, khayalan, mitos, dongeng, dan tidak rasional itu telah menjadi sumber dan hipogram lahirnya beberapa teks kreatif yang baru. Contohnya lahir karya-karya bercorak realisme magis, yaitu kombinasi antara realisme dan unrealisme. Habermas (Lubis, 2006:3) dalam melahirkan teori kritisnya juga mengungkapkan bahwa kemiskinan dunia kehidupan sebagai akibat dominasi rasionalitas. Dengan kata lain, yang klasik, tradisional, dan lama senantiasa mempunyai makna, walaupun ada yang harus diubah atau diperbaharui menurut tuntutan zaman. Umpamanya, mengubah atau mengganti unsur mitos dan dongeng yang membangun bahwa raja atau penguasa sebagai titisan dewa. Oleh karena itu, Sikana (2007:7) menyatakan bahwa sesungguhnya warisan sastra Melayu tradisi adalah akar tunggang dan citra jati diri bangsa. Rahman (Arasyid, dkk., 2008:19) juga menyatakan beberapa pengkaji dan budayawan Melayu kerap menyatakan bahwa wujudnya perubahan zaman, kepercayaan terhadap tradisi juga turut mengalami perubahan. Umpamanya, dari segi kosmologi kalau dahulu masyarakat Melayu lebih berpegang kepada tradisi mitos, kini ia digantikan oleh tradisi kosmologi yang bercorak material dan empiris. Namun, kenyataan dari pandangan para sarjana dan cendikia di atas tidak sepenuhnya berlaku di dalam realitas perkembangan dunia sastra Melayu tradisi. Di dalam khazanah sastra Melayu tradisi, walaupun tidak dapat dikatakan terikat sepenuhnya, tetapi ia tidak pernah lepas secara mutlak dari arti dan fungsi makna filosofis wacana awal yang kerap menyertai karya-karya tradisi Melayu yang berkaitan dengan sejarah, adab, dan perilaku dalam kehidupan.
Keywords: Estetika
Sastra Melayu
Persahabatan
URI: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20615
Appears in Collections:UA - Professor Orations

Files in This Item:

File Description SizeFormat
ppgb_2009_wan.pdf138.06 kBAdobe PDFView/Open
 

Items in USU-IR are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.