Show simple item record

dc.contributor.advisorDrs. Hamzon Situmorang, Ms. Ph.Den_US
dc.contributor.authorWijaya, Rina
dc.date.accessioned2010-04-15T08:29:16Z
dc.date.available2010-04-15T08:29:16Z
dc.date.issued2010-04-15
dc.identifier.otherFredo Hasugian
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16233
dc.description060722007
dc.description.abstractBurung bangau sangat terkenal di Jepang. Dalam bahasa Jepang burung bangau disebut sebagai “tsuru”. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Tanchou”. Tan yang berarti merah sedangkan chou artinya paruh, puncak, sehingga burung ini dinamakan tanchou (red Crest). Di Jepang, burung ini dilambangkan sebagai simbol kesetiaan, kemujuran, dan panjang umur. Dalam cerita dongeng, burung bangau dikenal sebagai dewi bangau yang dapat menolong manusia dari kesusahan. Melipat origami sangat terkenal di Jepang, yang digunakan sebagai ucapan selamat dan permohonan kebaikan dalam acara perayaan. Sering ditemukan dalam acara pernikahan. Origami burung bangau telah dilipat sejak 300 tahun yang lalu. Dipercayakan bahwa si pelipat akan dihargai permohonannya, sering juga 1000 ekor burung bangau ini diikat menjadi satu dan digantungkan pada wihara atau kuil, untuk permohonan mengurangi penderitaan juga kesedihan akibat penyakit. Origami bentuk burung bangau akhirnya menjadi symbol kedamaian Internasional yang ada hubungannya dengan Sadako Sasaki. Sejarah burung bangau 0rigami sebanyak 1001 ekor ini berawal dari tradisi yang ada di Jepang setelah perang Dunia II. Tradisinya dikenal dengan burung bangau 1000 ekor yang bertujuan untuk kedamaian dunia yang diawali dengan seorang anak kecil yang bernama Sadako Sasaki yang mulai melipat 1000 ekor kertas burung bangau dan akan dikabulkan permohonannya setelah selesai melipat. Dengan kesabarannya dan kegigihannya dalam melipat 1000 ekor burung bangau juga dikatakan berdoa pada setiap ekor burung bangau, akan dipenuhi keinginannya pada kesehatan, kebahagiaan, panjang umur dan kemujuran. Dalam tambahannya Sadako Sasaki juga mendoakan kedamaian dunia. Dilihat dari semangatnya, teman sadako menggabungkan semua suratnya dan mempublikasikannya. Mereka juga mendirikan sebuah tugu peringatan kepada sadako dan anak-anak yang terbunuh atas bom di Hiroshima. Pada tahun 1958, tugu Sadako dengan memegang burung bangau emas dipertunjukkan di taman kedamaian Hiroshima. Anak-anak juga membuat sebuah pepatah yang berisi “This is our cry, This is our prayer, Peace in the world ". Siapapun dapat melipat burung bangau origami dan dipersembahkan ke Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima. Dewasa ini, banyak anak-anak masyarakat Jepang Amerika belajar melipat bentuk lengkap burung bangau yang melambangkan kedamaian dan keinginan dalam kebudayaan Jepang. Dalam tradisi pernikahan masyarakat Jepang, pengantin wanita dan keluarganya melipat 1001 ekor burung bangau untuk mendapatkan kemujuran, panjang umur, kesetiaan dan kedamaian perkawinan. 1001 ekor burung bangau ini juga disusun menjadi sebuah lukisan bahawa dapat dinikmati sepanjang tahun.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectMakna Binatangen_US
dc.subjectSimbol Dalam Kebudayaan Jepangen_US
dc.titlePandangan Orang Jepang Terhadap Burung Bangauen_US
dc.title.alternativeTsuru Ni Tashite No Nihonjin No Mikata
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record