Show simple item record

dc.contributor.authorBudi R. Hadibrotoen_US
dc.date.accessioned2010-03-22T08:35:23Z
dc.date.available2010-03-22T08:35:23Z
dc.date.issued2009-07-04T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherEvi Yulfimaren_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/15565
dc.descriptionmkn-jun2005- (3)en_US
dc.description.abstractThe objective of this study is to evaluate the effectiveness and advantages of hysteroscopy procedures in management of uterine cavity abnormalities. A prospective study was conducted to women with uterine cavity abnormalities who underwent hysteroscopy procedure with bipolar electrode system (versapoint) in Gleneagles Hospital Medan from September 2002 – July 2003. From 28 subjects, 14 (50%) patients were between the age of 30 – 39. Vaginal bleeding was the common symptom found in these women. Endometrial hyperplasia (53%) was the most common case, endometrial polyp was found in 12 patients (39%), myoma and synechia were found each in 2 patients (6%). Mode of action frequently done was hysteroscopic ablation, 46%. The average duration of the procedure was 40 minutes. The longest duration of the procedure was 36 – 40 minutes. There were 3 recurrent cases, in which one of them was underwent hysterectomy due to profuse bleeding. Thus, the use of hysteroscopy in management of uterine cavity abnormalities were adequately found and managed disorders accordingly.en_US
dc.description.abstractPemakaian histeroskopi untuk prosedur diagnosa dan terapi mengalami kemajuan yang pesat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektifitas dan keunggulan prosedur histeroskopi dalam penatalaksanaan kelainan pada kavum uterus. Dilakukan suatu penelitian prospektif terhadap wanita dengan kelainan-kelainan pada kavum uterus yang menjalani histeroskopi dengan sistem elektroda bipolar (versapoint) di RSU. Gleneagles dari September 2002 – Juli 2003. Dari 28 pasien yang menjalani prosedur, 14 pasien (50%) berusia antara 30 – 39 tahun. Perdarahan pervaginam merupakan gejala yang tersering yang dialami para pasien ini, yang mana sebanyak 15 orang (53%) didiagnosa dengan hiperplasia endometrium, polip endometrium pada 12 orang (39%) dan mioma serta synechia masing-masing pada 2 orang pasien (6%). Prosedur yang paling sering dilakukan adalah ablasi endometrium, pada 15 orang pasien (46%). Waktu terlama yang diperlukan untuk prosedur histeroskopi 36–40 menit, dengan rata-rata selama 40 menit. Terdapat 3 kasus rekurensi dengan keluhan perdarahan, salah satu diantaranya menjalani histerektomi karena perdarahan yang masif. Dengan demikian penggunaan histeroskopi dalam penanganan kelainan-kelainan dalam kavum uterus memberikan hasil yang adekuat dan memuaskan.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjecthisteroskopi; hysteroscopyen_US
dc.titlePenggunaan Histeroskopi di Medan - Indonesiaen_US
dc.typeUSU e-Journalsen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record