Show simple item record

dc.contributor.advisorIndra Kesuma Nasution, S.IP, M.Si, Warjio SS,MAen_US
dc.contributor.authorSurya Yudha Regifen_US
dc.date.accessioned2010-03-20T07:27:31Z
dc.date.available2010-03-20T07:27:31Z
dc.date.issued2009-11-23T00:00:00Zen_US
dc.identifier.otherMuswita Widya Rahmaen_US
dc.identifier.urihttp://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14852
dc.description09E02780en_US
dc.description.abstractPada tanggal 19 September 2006 peristiwa politik di Thailand terulang untuk kesekian kalinya, ketika pemerintahan secara sah digulingkan kembali melalui cara inkonstitusional, yaitu dengan cara kudeta oleh pihak militer. Pemerintahan Thaksin Shinawatra yang dipilih kedua kalinya setelah hasil referendum pada tanggal 23 mei 2006 setelah sebelumnya menjabat sebagai presiden pada pemilihan tahun 1997 digulingkan oleh pihak militer karena kebuntuan politik yang terjadi di Thailand, dimana para elit politik saling berseteru dan berbagai macam kisruh kecurangan politik dan kebijakan Thaksin yang lebih kepada kekerasan dalam menerapkan kebijakan di Thailand selatan serta indikasi keterlibatan Thaksin dan kroni – kroninya di dalam korupsi. Dengan dukungan dari raja dan elite politik serta kaum intelektual, militer melancarkan kudeta terhadap Thaksin yang ketika itu berada di New York menghadiri sidang majelis umum PBB. Berbagai pendapat disampaikan oleh negara – negara luar tidak terkecuali negara – negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pasca Kudeta Politik Thailand semakin jauh dari Demokrasi, berbagai kekerasan melanda negara Thailand. Aksi –aksi demonstrasi yaang saling membalas seakan membelah Thailand menjadi dua bagian yaitu pendukung Raja dan pendukung Thaksin. Keamanan kawasan sangat dipengaruhi oleh negara – negara anggotanya, konflik yang berlarut – larut dan tidak segera diselesaikan dapat menimbulkan akibat yang buruk bagi negara-negara kawasan. Indonesia mengkhawatirkan munculnya campur tangan dari pihak-pihak lain yang mengharapkan hubungan antar negara ASEAN tidak berjalan dengan baik. Sebagai salah satu negara anggota ASEAN Indonesia perlu bertindak secara baik dan benar untuk mempertahankan kekuatan ASEAN karena peristiwa di Thailand termasuk kedalam ruang lingkup ASEAN yang menyangkut masalah integrasi ASEAN tahun 2015 dan ASEAN Community tahun 2020 serta kepentingan kawasan lainnya disamping itu juga bersinggungan dengan kepentingan nasional Indonesia. Politik Luar Negeri Indonesia yang menganut sistem bebas dan aktif mempengaruhi langkah – langkah politik luar negeri dan diplomasi di kawasan ASEAN dan khususnya di Thailand pasca Kudeta, dengan langkah – langkah yang diambil Indonesia dapat memajukan ASEAN dan khususnya kepentingan nasional Indonesia.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.subjectpolitik luar negeri indonesiaen_US
dc.titlePolitik Luar Negeri Indonesia Terhadap Thailand Pasca Kudeta Militer Thailand Pada Tahun 2006 Dalam Ruang Lingkup Aseanen_US
dc.typeStudent Papersen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record