<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>USU-IR Community:</title>
    <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/79</link>
    <description />
    <pubDate>Fri, 24 May 2013 17:12:56 GMT</pubDate>
    <dc:date>2013-05-24T17:12:56Z</dc:date>
    <item>
      <title>Pengaruh Biomassa Azolla Terhadap Status              &#xD;
Logam Berat Timbal (Pb) Pada Tanah</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37567</link>
      <description>Authors: Abror, Muhammad
Advisors: Sabrina, T; Hidayat, Benny
Abstract (other language): Pencemaran tanah akibat logam berat semakin banyak terjadi akibat perkembangan industri dan kurangnya pengawasan terhadap polutan. Tanah tidak terlepas pada ancaman ini. Penelitian pengaruh biomassa azolla  terhadap status logam berat timbale (Pb) pada tanah bertujuan untuk mengukur kemampuan bimassa azolla  tercemar Pb dalam menambahkan maupun mengurangi ketersediaan Pb pada tanah yang dicemari Pb maupun yang tidak dicemari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan perlakuan yaitu biomassa azolla yang tercemar (0 g, 15 g, dan 30g) dan tanah yang dicemari Pb (0g, 150 ppm, dan 300 ppm). Parameter yang diamati pH H2O, Bahan Organik, Pb Total dan Pb tersedia tanah minggu pertama dan minggu kedua setelah inkubasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian biomassa azolla yang terkontaminasi Pb berpotensi menekan cemaran Pb dalam tanah yang tercemar sebesar 5% dan 10% berturut-turut untuk tanah yang dicemari Pb sebanyak 150 ppm dan 300 ppm. Penambahan biomassa azolla yang terkontaminasi Pb tidak berpengaruh terhadap pH maupun dalam meningkatkan bahan organik tanah. Sedangkan pemberian biomassa azolla yang tercemar Pb ke tanah tidak tercemar justru berpotensi menambah ketersediaan Pb tanah sebesar 75%  dan 82% berturut-turut  untuk penambahan azolla tercemar Pb 15 g dan           30 g. Pemberian azolla ini meningkatkan kandungan bahan organik tanah namun tidak berpengaruh nyata secara statistik terhadap perubahan pH tanah. Efek dari pemberian biomassa azolla yang tercemar Pb sejalan dengan waktu akan meningkatkan bahan organic tanah dan menurunkan pH tanah serta ketersediaan Pb didalam tanah. Pemberian  biomassa azolla yang tercemar Pb sebanyak 30 g kedalam tanah yang tercemar mampu menekan ketersediaan Pb didalam tanah sampai dua minggu setelah aplikasi</description>
      <pubDate>Fri, 24 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37567</guid>
      <dc:date>2013-05-24T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Abror, Muhammad</dc:creator>
      <dc:description>Pencemaran tanah akibat logam berat semakin banyak terjadi akibat perkembangan industri dan kurangnya pengawasan terhadap polutan. Tanah tidak terlepas pada ancaman ini. Penelitian pengaruh biomassa azolla  terhadap status logam berat timbale (Pb) pada tanah bertujuan untuk mengukur kemampuan bimassa azolla  tercemar Pb dalam menambahkan maupun mengurangi ketersediaan Pb pada tanah yang dicemari Pb maupun yang tidak dicemari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan perlakuan yaitu biomassa azolla yang tercemar (0 g, 15 g, dan 30g) dan tanah yang dicemari Pb (0g, 150 ppm, dan 300 ppm). Parameter yang diamati pH H2O, Bahan Organik, Pb Total dan Pb tersedia tanah minggu pertama dan minggu kedua setelah inkubasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian biomassa azolla yang terkontaminasi Pb berpotensi menekan cemaran Pb dalam tanah yang tercemar sebesar 5% dan 10% berturut-turut untuk tanah yang dicemari Pb sebanyak 150 ppm dan 300 ppm. Penambahan biomassa azolla yang terkontaminasi Pb tidak berpengaruh terhadap pH maupun dalam meningkatkan bahan organik tanah. Sedangkan pemberian biomassa azolla yang tercemar Pb ke tanah tidak tercemar justru berpotensi menambah ketersediaan Pb tanah sebesar 75%  dan 82% berturut-turut  untuk penambahan azolla tercemar Pb 15 g dan           30 g. Pemberian azolla ini meningkatkan kandungan bahan organik tanah namun tidak berpengaruh nyata secara statistik terhadap perubahan pH tanah. Efek dari pemberian biomassa azolla yang tercemar Pb sejalan dengan waktu akan meningkatkan bahan organic tanah dan menurunkan pH tanah serta ketersediaan Pb didalam tanah. Pemberian  biomassa azolla yang tercemar Pb sebanyak 30 g kedalam tanah yang tercemar mampu menekan ketersediaan Pb didalam tanah sampai dua minggu setelah aplikasi</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Balok Laminasi Dengan Kombinasi Dari Batang Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Dan Kayu Mahoni (Swietenia Mahagoni)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37546</link>
      <description>Authors: Ginting, Denni Ardian R.
Advisors: Herawati, Evalina
Abstract: The use of timber as a structural material is not only limited to solid timber but also as laminate called lamination wood (gluelam). This research explored the optimum total of layers, and height of the oil-palm stem to evaluate physis and mechanis properties of lamination wood which is a combination of oil-palm  stem (Elaies guineensis jacq) and  mahoni (Swietenia mahagoni). The lamination wood had 50 cm long, 5 cm wide, and 5 cm deep. Glue spread are 300 g/m2 with double side of glue lines. Each layer of lumber glued with water based polymer-isocianate (Koyo Bond) adhesive at pressure of 30 kg/cm2  for 50 minutes pressing time. Testing method followed American Society for Testing and Materials D143-93. The results of lamination wood testing shows that both of the treatment and its interaction did not show significant effect on moisture content,delamination, modulus of elasticity and modulus of rupture. But, was significant effect on density.
Abstract (other language): Pemakaian kayu sebagai bahan struktural tidak hanya terbatas sebagai kayu utuh, tetapi juga sebagai kayu laminasi atau gluelam. Penelitian ini mencari jumlah lapisan, dan ketinggian posisi batang kelapa sawit yang optimum untuk mengevaluasi sifat fisis  dan mekanis kayu laminasi kombinasi dari batang kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq )  dan kayu mahoni (Swietenia mahagoni). Kayu laminasi berukuran panjang 80 cm, lebar 5 cm, dan tebal 5 cm. Jumlah perekat terlabur terdiri dari  300 g/m2 dengan perekatan dua sisi. Masing – masing lapisan papan direkat dengan water based polymer-isocianate (Koyo Bond) pada tekanan 30 kg/cm2, selama 50 menit. Pengujian benda uji dilakukan menurut ASTM D 143-93. Hasil pengujian kayu laminasi menunjukkan bahwa kedua perlakuan beserta interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air,delaminasi, keteguhan lentur dan keteguhan patah. Namun berbeda nyata pada kerapatan.</description>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37546</guid>
      <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ginting, Denni Ardian R.</dc:creator>
      <dc:description>Pemakaian kayu sebagai bahan struktural tidak hanya terbatas sebagai kayu utuh, tetapi juga sebagai kayu laminasi atau gluelam. Penelitian ini mencari jumlah lapisan, dan ketinggian posisi batang kelapa sawit yang optimum untuk mengevaluasi sifat fisis  dan mekanis kayu laminasi kombinasi dari batang kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq )  dan kayu mahoni (Swietenia mahagoni). Kayu laminasi berukuran panjang 80 cm, lebar 5 cm, dan tebal 5 cm. Jumlah perekat terlabur terdiri dari  300 g/m2 dengan perekatan dua sisi. Masing – masing lapisan papan direkat dengan water based polymer-isocianate (Koyo Bond) pada tekanan 30 kg/cm2, selama 50 menit. Pengujian benda uji dilakukan menurut ASTM D 143-93. Hasil pengujian kayu laminasi menunjukkan bahwa kedua perlakuan beserta interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air,delaminasi, keteguhan lentur dan keteguhan patah. Namun berbeda nyata pada kerapatan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Informasi Peredaran Tumbuhan Obat Hutan di Tanah Karo (Studi Kasus : Di Pasar Tradisional Kabanjahe dan Pasar Tradisional Berastagi)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37545</link>
      <description>Authors: Siajabat, Gordon
Advisors: Afifudin, Yunus
Abstract: Traditional medicine has been in the community and is used empirically to provide benefits in improving health danpengobatan various diseases. Department of Health classifies obattradisional as herbs, standardized herbal medicine and traditional medicine is herb fitofarmaka of various types of bagiantanaman that have properties to cure a wide range of traditional penyakit.Obat in Indonesia known as herbal medicine. Drugs have traditionally sendirimasih be senyawa.Sehingga efficacy of traditional medicine may terjadidengan the interaction between compounds that have a stronger influence&#xD;
Medicinal plants generally have certain parts that are used as drugs, namely: root (radix), rhizome (rhizome), tubers (tuber), flowers (flos), fruit (fruktus), seed (semen), wood (lignum) , bark (cortex), stem (cauli), leaves (folia) and whole plants (herbs).&#xD;
Types of medicinal plants used by the community is quite diverse, and its use is not maximized. The benefits of medicinal plants has not been well known by the public umum.Manfaat of some medicinal plants obtained from interviews and contained the same relative scientific sources. Parts of the plant most widely used as an ingredient of medicines are used daun.Tumbuhan derived from plants spread across the district karo obtained from perkarangan, woods and fields.
Abstract (other language): Obat tradisional telah berada dalam masyarakat dan digunakan secara empiris dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh danpengobatan berbagai penyakit. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan obattradisional sebagai jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka Obat tradisional adalah ramuan dari berbagai macam jenis dari bagiantanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.Obat tradisional di Indonesia dikenal dengan nama jamu. Obat tradsional sendirimasih mempunyai berupa senyawa.Sehingga khasiat obat tradisional mungkin terjadidengan adanya interaksi antar senyawa yang mempunyai pengaruh yang lebih kuat&#xD;
Tanaman obat pada umumnya memiliki bagian-bagian tertentu yang digunakan sebagai obat, yaitu : akar (radix),  rimpang (rhizome), umbi (tuber), bunga (flos), buah (fruktus), biji (semen), kayu (lignum), kulit kayu (cortex), batang (cauli), daun (folia) dan  seluruh tanaman (herba).&#xD;
Jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat  cukup beragam, dan penggunaannya belum maksimal. Manfaat tanaman obat belum cukup diketahui oleh masyarakat umum.Manfaat dari beberapa tanaman obat yang didapat dari wawancara dan yang terdapat pada sumber sumber ilmiah relative sama. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan adalah daun.Tumbuhan yang digunakan berasal dari tumbuhan yang tersebar di kabupaten karo yang didapat dari perkarangan, hutan dan ladang.</description>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37545</guid>
      <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siajabat, Gordon</dc:creator>
      <dc:description>Obat tradisional telah berada dalam masyarakat dan digunakan secara empiris dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh danpengobatan berbagai penyakit. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan obattradisional sebagai jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka Obat tradisional adalah ramuan dari berbagai macam jenis dari bagiantanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.Obat tradisional di Indonesia dikenal dengan nama jamu. Obat tradsional sendirimasih mempunyai berupa senyawa.Sehingga khasiat obat tradisional mungkin terjadidengan adanya interaksi antar senyawa yang mempunyai pengaruh yang lebih kuat&#xD;
Tanaman obat pada umumnya memiliki bagian-bagian tertentu yang digunakan sebagai obat, yaitu : akar (radix),  rimpang (rhizome), umbi (tuber), bunga (flos), buah (fruktus), biji (semen), kayu (lignum), kulit kayu (cortex), batang (cauli), daun (folia) dan  seluruh tanaman (herba).&#xD;
Jenis tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat  cukup beragam, dan penggunaannya belum maksimal. Manfaat tanaman obat belum cukup diketahui oleh masyarakat umum.Manfaat dari beberapa tanaman obat yang didapat dari wawancara dan yang terdapat pada sumber sumber ilmiah relative sama. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan adalah daun.Tumbuhan yang digunakan berasal dari tumbuhan yang tersebar di kabupaten karo yang didapat dari perkarangan, hutan dan ladang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Eksplorasi dan Potensi Jamur Pelarut Fosfat pada Ekosistem   Lahan Gambut Fibrik dan Hemik</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37525</link>
      <description>Authors: Sitanggang, Martha Hearty Pratiwi
Advisors: Elfiati, Deni; Hanum, Hamidah
Abstract: The research was conducted to explore, examine and identify potential phosphate solubilizing fungi (PSF) to solubilize insoluble phosphate from peat of Fibris and Hemis. Samples taken from five random plots at 0-20 cm depth around rhizosfir. The chemical analyze properties of peat soils conducted in North Sumatra Seed Research Center while the activities of isolation, and identification of potential trials conducted at the Laboratory of Soil Biology Agroekoteknologi Studies Program Faculty of Agriculture, University of North Sumatra. Isolation using Pikovskaya media with the source fosfat from Ca3(PO4)2, whereas in the potential test media using Ca3(PO4)2,  AlPO4, FePO4, and Rock Phosphate (RP) as source of insoluble phosphate. Evaluate the potential JPF qualitatively by measuring the diameter of holozone extensive use of the dilution index. JPF potential measurements quantitatively by measuring levels of dissolved phosphate with Bray-II method. &#xD;
The results obtained 12 isolates of isolation of pure PSF. The next test conducted on the potential of isolates obtained. Largest diameter of 1,52 cm holozone generated isolates JF10 and the smallest diameter of 0,31 cm isolates produced JH7. The measurement results are available most of the phosphate levels were JF1 isolates of 28,63 ppm (AlPO4 ) and the smallest by JF12 isolates of 8,97 ppm (FePO4). Based on test results concluded the potential for isolates JF1, JF4, JF10 and JF12 have the best ability in dissolving phosphate. The results both of macroscopic and microscopically identification showed that isolate number JF1, JF4, JF10, and JF12 including of Aspergillus genus.
Abstract (other language): Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi, menguji potensi serta mengidentifikasi jamur pelarut fosfat (JPF) unggul dari lahan gambut Fibrik dan Hemik. Sampel di ambil dari 5 petak secara acak pada kedalaman 0-20 cm di sekitar rhizosfer. Analisis sifat kimia tanah gambut dilakukan di Badan Penelitian Teknologi Pertanian Sumatera Utara sedangkan kegiatan isolasi, uji potensi serta identifikasi dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Program Studi Agroeko teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Isolasi menggunakan media pikovskaya dengan sumber fosfat Ca3(PO4)2, sedangkan pada media uji potensi sumber fosfat dari AlPO4, FePO4, dan Batuan Fosfat. Evaluasi potensi JPF secara kualitatifdenganmengukur diameter holozone menggunakan nilai indeks pelarutan. Pengukuran potensi JPF secara kuantitatif dengan mengukur kadar fosfat terlarut dengan metode Bray II.&#xD;
	Hasil isolasi diperoleh 12 isolat JPF murni. Selanjutnya ujipotensi pada isolat yang diperoleh. Diameter holozone terbesar yaitu1,52 cm dihasilkan isolat JF10 dan diameter terkecil sebesar 0,31 dihasilkan isolat JH7. Hasil pengukuran kadar fosfat tersedia paling besar adalah isolat JF1 yaitu 28,63 ppm (sumber fosfat AlPO4) dan paling kecil oleh isolat JF12 yaitu 8,97 ppm (sumber fosfat FePO4). Berdasarkan hasil uji potensi disimpulkan isolat JF1, JF4, JF10, dan JF12 memiliki kemampuan paling baik dalam melarutkan fosfat. Hasil identifikasi baik secara makroskopis dan mikroskopis menunjukkan bahwa isolate JF1, JF4, JF10 dan JF12 termasuk genus Aspergillus.</description>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37525</guid>
      <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sitanggang, Martha Hearty Pratiwi</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi, menguji potensi serta mengidentifikasi jamur pelarut fosfat (JPF) unggul dari lahan gambut Fibrik dan Hemik. Sampel di ambil dari 5 petak secara acak pada kedalaman 0-20 cm di sekitar rhizosfer. Analisis sifat kimia tanah gambut dilakukan di Badan Penelitian Teknologi Pertanian Sumatera Utara sedangkan kegiatan isolasi, uji potensi serta identifikasi dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Program Studi Agroeko teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Isolasi menggunakan media pikovskaya dengan sumber fosfat Ca3(PO4)2, sedangkan pada media uji potensi sumber fosfat dari AlPO4, FePO4, dan Batuan Fosfat. Evaluasi potensi JPF secara kualitatifdenganmengukur diameter holozone menggunakan nilai indeks pelarutan. Pengukuran potensi JPF secara kuantitatif dengan mengukur kadar fosfat terlarut dengan metode Bray II.&#xD;
	Hasil isolasi diperoleh 12 isolat JPF murni. Selanjutnya ujipotensi pada isolat yang diperoleh. Diameter holozone terbesar yaitu1,52 cm dihasilkan isolat JF10 dan diameter terkecil sebesar 0,31 dihasilkan isolat JH7. Hasil pengukuran kadar fosfat tersedia paling besar adalah isolat JF1 yaitu 28,63 ppm (sumber fosfat AlPO4) dan paling kecil oleh isolat JF12 yaitu 8,97 ppm (sumber fosfat FePO4). Berdasarkan hasil uji potensi disimpulkan isolat JF1, JF4, JF10, dan JF12 memiliki kemampuan paling baik dalam melarutkan fosfat. Hasil identifikasi baik secara makroskopis dan mikroskopis menunjukkan bahwa isolate JF1, JF4, JF10 dan JF12 termasuk genus Aspergillus.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pertumbuhan Bibit Avicennia marina pada Berbagai Intensitas Naungan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37524</link>
      <description>Authors: Keliat, Sangapta Ras
Advisors: Yunasfi; Utomo, Budi
Abstract: Avicenia marina Represent the plant species in forest mangrove which can grow at all of location level alongside coastal area.  One of the  efforts  to rehabilitate  the forest mangrove is doing seedbed A. marina. This study aims to determine the growth of seedlings A. marina good on a variety of shade intensity. &#xD;
The design of this study using Random complete  Design (RCD) with 4 treatments, ie, without shade, shade intensity of 25%, 50% shade intensity,and 75% intensity of shade. Each treatment was repeated as many as 10 to obtain 40 seeds of A. marina. The results showed growth of  seed A. marina give  not real  effection  seedling  to life percentation but give the real effection to height,  seedling diameter, seedling leaf, total leaf area, and total  biomass. High largest seed in the seed A. marina with 50% of shading that is equal to 16,27 cm. The diameter of the largest seed in the seed A. marina with 50% of shading is 0,49 cm. We have the largest seedling total leaf area in seedlings  A. marina with 50%  of shading that is equal to 94,97 cm2. Total biomass of the largest seed found in seed A. marina with 50% of shading that is equal to 0,54 grams.
Abstract (other language): Avicenia marina Merupakan spesies tumbuhan di hutan mangrove yang dapat tumbuh pada semua tingkatan lokasi di sepanjang pesisir. Satu diantara beberapa usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi mangrove adalah pembibitan A. marina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit              A. marina yang baik pada berbagai intensitas naungan. &#xD;
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 perlakuan, yaitu intensitas naungan  (0%, 25%, 50% dan 75) yang diulang sebanyak 10 sehingga diperoleh 40 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan intensitas naungan tidak berpengaruh terhadap persentase hidup bibit A. marina namun berpengaruh terhadap tinggi, diameter, jumlah helai daun, luas daun total, dan biomassa total. Persentase hidup bibit A. marina dengan intensitas naungan yang berbeda adalah sama yaitu 100%. Tinggi bibit A. marina tertinggi terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 16,27 cm. Diameter bibit A. marina tertinggi terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 0,49 cm. Jumlah helai daun bibit A. marina terbanyak terdapat pada intensitas naungan 50% sebanyak rata-rata 6 helai. Luas daun total bibit A. marina terluas terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 94,97cm2. Biomassa total bibit A. marina terbesar terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 0,54 gram.</description>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37524</guid>
      <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Keliat, Sangapta Ras</dc:creator>
      <dc:description>Avicenia marina Merupakan spesies tumbuhan di hutan mangrove yang dapat tumbuh pada semua tingkatan lokasi di sepanjang pesisir. Satu diantara beberapa usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi mangrove adalah pembibitan A. marina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit              A. marina yang baik pada berbagai intensitas naungan. &#xD;
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 perlakuan, yaitu intensitas naungan  (0%, 25%, 50% dan 75) yang diulang sebanyak 10 sehingga diperoleh 40 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan intensitas naungan tidak berpengaruh terhadap persentase hidup bibit A. marina namun berpengaruh terhadap tinggi, diameter, jumlah helai daun, luas daun total, dan biomassa total. Persentase hidup bibit A. marina dengan intensitas naungan yang berbeda adalah sama yaitu 100%. Tinggi bibit A. marina tertinggi terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 16,27 cm. Diameter bibit A. marina tertinggi terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 0,49 cm. Jumlah helai daun bibit A. marina terbanyak terdapat pada intensitas naungan 50% sebanyak rata-rata 6 helai. Luas daun total bibit A. marina terluas terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 94,97cm2. Biomassa total bibit A. marina terbesar terdapat pada intensitas naungan 50% yaitu rata-rata 0,54 gram.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Sibayak I Di Taman Hutan Raya Bukit Barisan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37523</link>
      <description>Authors: Sirait, Tomy Sihar Yosua
Advisors: Afifuddin, Yunus
Abstract: Plant contain a many chemical material to form secondary metabolit product and used by plant as material resistance from disturbed organism attack. Because that is, we can to make the plant as material pesticide. The research of purpose to knows kinds and chemical material of toxic plant in the Safe Forest Sibayak I.&#xD;
The kinds of plant toxic finded in the Safe Forest Sibayak I are Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum and Cestrum aurantiacum. Plants of contain flavonoid compound are Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum and Cestrum aurantiacum. And plant of contain terpenoid compound is Angelesia splendens. The plants of contain alkaloid compound are Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum and Cestrum aurantiacum. Plants of contain saponin compound are Pogonanthera pulverulenta and Angelesia splendens.
Abstract (other language): Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan produksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Oleh karena itu, kita dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan kandungan senyawa kimia dari tumbuhan beracun di Hutan Lindung Sibayak I.&#xD;
Jenis-jenis tumbuhan beracun yang ditemukan di Hutan Lindung Sibayak I adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Sedangkan tumbuhan yang mengandung senyawa terpenoid adalah Angelesia splendens. Tumbuhan yang mengandung senyawa alkaloid diantaranya adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Sedangkan tumbuhan yang mengandung senyawa saponin antara lain Pogonanthera pulverulenta dan Angelesia splendens.</description>
      <pubDate>Thu, 23 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37523</guid>
      <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sirait, Tomy Sihar Yosua</dc:creator>
      <dc:description>Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan produksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Oleh karena itu, kita dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan kandungan senyawa kimia dari tumbuhan beracun di Hutan Lindung Sibayak I.&#xD;
Jenis-jenis tumbuhan beracun yang ditemukan di Hutan Lindung Sibayak I adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Tumbuhan yang mengandung senyawa flavonoid adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Pogonanthera pulverulenta, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Sedangkan tumbuhan yang mengandung senyawa terpenoid adalah Angelesia splendens. Tumbuhan yang mengandung senyawa alkaloid diantaranya adalah Eugenia densiflora, Rubus rosifolius, Angelesia splendens, Cinchona ledgeriana, Trema virgata, Melastoma malabathricum dan Cestrum aurantiacum. Sedangkan tumbuhan yang mengandung senyawa saponin antara lain Pogonanthera pulverulenta dan Angelesia splendens.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Derajat Keasaman Dan Konsentrasi Ragi Terhadap Mutu Minuman Beralkohol Dari Sirsak</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37517</link>
      <description>Authors: Silaen, Agam C F
Advisors: Ginting, Sentosa
Abstract: The Effect Of Acidity And Concentration Of Yeast On Quality Of Alcoholic Drink From Soursop. Supervised by SENTOSA GINTING and ISMED SUHAIDI.&#xD;
The aim of this research was to know the effect of acidity and yeast cencentration on quality of alcoholic drink from soursop. This research have been performed using factorial Completely Randomized Design with two factors i.e: acidity (P) : (3, 4, 5 and 6) and yeast concentration (K) : (2%, 3%, 4% dan 5%). Parameters analysed were total soluble solid, total volatyle acid, pH, total alcohol, organoleptic values of color, flavour and taste.&#xD;
The results showed that acidity had highly significant effect on all parameters except on color, flavour and taste. Yeast concentration had highly significant effect on all parameters. Interaction of acidity and yeast concentration had highly significant on total alcohol, had significantly effect on total soluble solid, pH and were not significantly effect the color, flavour and taste. Acidity of 4 and yeast concentration of 5% gave the best quality of alcoholic drink from soursop.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh derajat keasaman dan konsentrasi ragi terhadap mutu minuman beralkohol dari sirsak. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor: yaitu derajat keasaman (P) : (3, 4, 5 dan 6) dan konsentrasi ragi (K) : (2%, 3%, 4% dan 5%). Parameter yang dianalisa adalah total padatan terlarut, kadar asam mudah menguap, pH, kadar alkohol, uji organoleptik warna, uji organoleptik aroma dan rasa.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat keasaman memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap semua parameter kecuali uji organoleptik warna serta uji organoleptik aroma dan rasa. Konsentrasi ragi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap semua faktor. Interaksi kedua faktor memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar alkohol, berbeda nyata terhadap total padatan terlarut, pH, dan berbeda tidak nyata terhadap  kadar asam mudah menguap, uji organoleptik warna, uji organoleptik aroma dan rasa. Derajat keasaman 4 dan konsentrasi ragi 5% menghasilkan minuman berakohol dari sirsak yang terbaik.</description>
      <pubDate>Wed, 22 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37517</guid>
      <dc:date>2013-05-22T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Silaen, Agam C F</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh derajat keasaman dan konsentrasi ragi terhadap mutu minuman beralkohol dari sirsak. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor: yaitu derajat keasaman (P) : (3, 4, 5 dan 6) dan konsentrasi ragi (K) : (2%, 3%, 4% dan 5%). Parameter yang dianalisa adalah total padatan terlarut, kadar asam mudah menguap, pH, kadar alkohol, uji organoleptik warna, uji organoleptik aroma dan rasa.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat keasaman memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap semua parameter kecuali uji organoleptik warna serta uji organoleptik aroma dan rasa. Konsentrasi ragi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap semua faktor. Interaksi kedua faktor memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar alkohol, berbeda nyata terhadap total padatan terlarut, pH, dan berbeda tidak nyata terhadap  kadar asam mudah menguap, uji organoleptik warna, uji organoleptik aroma dan rasa. Derajat keasaman 4 dan konsentrasi ragi 5% menghasilkan minuman berakohol dari sirsak yang terbaik.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Pemberian Kompos Jerami Dan Pupuk  Sp-36 Pada Tanah Sulfat Masam Potensial Terhadap Perubahan Sifat Kimia                       Serta Pertumbuhan Dan Produksi Padi (Oryza Sativa L.)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37512</link>
      <description>Authors: Bhakari, Herlina Eka
Advisors: Fauzi; Hanum, Hamidah
Abstract: The objective of this research is to study the effect of rice straw compost and the application of phosphorus fertilizer of SP-36 on chemical characteristic of acid sulphate soils, rice growth and production (Oryza sativa L). This study  used a randomized block design factorial, with 2 factors : factor 1 : rice straw compost treatment (J) wich consist of : J0 = 0 ton ha-1 (0 g straw/pot) ; J1 = 10 ton ha-1         (40 g straw/pot); J2 = 20 ton ha-1 (80 g straw /pot); J3 = 30 ton ha-1                      (120 g straw/pot). Faktor 2 : fertilizer phosphorus (P) which consist of :                                P0 = 0 kg SP-36 ha-1 (0 g SP-36/pot); P1 = ½ dose (1/2 x 135), advice equal with 0,27 g SP-36/pot; P2 = 1,0 dose (1 x 135), advice equal with 0,54 g SP-36/pot;              P3 = 1 ½ dose (1 1/2 x 135), advice equal with 0,81 g SP-36/pot. This results of the research showed that rice straw compost treatment significantly affected         C-organic, Fe2+ reduction, seed total, dry weight of root. While the application of SP-36 fertilizer significantly affected seed total. Combination between rice straw compost and fertilizer SP-36 significantly increased seed total.
Abstract (other language): The objective of this research is to study the effect of rice straw compost and the application of phosphorus fertilizer of SP-36 on chemical characteristic of acid sulphate soils, rice growth and production (Oryza sativa L). This study  used a randomized block design factorial, with 2 factors : factor 1 : rice straw compost treatment (J) wich consist of : J0 = 0 ton ha-1 (0 g straw/pot) ; J1 = 10 ton ha-1         (40 g straw/pot); J2 = 20 ton ha-1 (80 g straw /pot); J3 = 30 ton ha-1                      (120 g straw/pot). Faktor 2 : fertilizer phosphorus (P) which consist of :                                P0 = 0 kg SP-36 ha-1 (0 g SP-36/pot); P1 = ½ dose (1/2 x 135), advice equal with 0,27 g SP-36/pot; P2 = 1,0 dose (1 x 135), advice equal with 0,54 g SP-36/pot;              P3 = 1 ½ dose (1 1/2 x 135), advice equal with 0,81 g SP-36/pot. This results of the research showed that rice straw compost treatment significantly affected         C-organic, Fe2+ reduction, seed total, dry weight of root. While the application of SP-36 fertilizer significantly affected seed total. Combination between rice straw compost and fertilizer SP-36 significantly increased seed total.</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37512</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Bhakari, Herlina Eka</dc:creator>
      <dc:description>The objective of this research is to study the effect of rice straw compost and the application of phosphorus fertilizer of SP-36 on chemical characteristic of acid sulphate soils, rice growth and production (Oryza sativa L). This study  used a randomized block design factorial, with 2 factors : factor 1 : rice straw compost treatment (J) wich consist of : J0 = 0 ton ha-1 (0 g straw/pot) ; J1 = 10 ton ha-1         (40 g straw/pot); J2 = 20 ton ha-1 (80 g straw /pot); J3 = 30 ton ha-1                      (120 g straw/pot). Faktor 2 : fertilizer phosphorus (P) which consist of :                                P0 = 0 kg SP-36 ha-1 (0 g SP-36/pot); P1 = ½ dose (1/2 x 135), advice equal with 0,27 g SP-36/pot; P2 = 1,0 dose (1 x 135), advice equal with 0,54 g SP-36/pot;              P3 = 1 ½ dose (1 1/2 x 135), advice equal with 0,81 g SP-36/pot. This results of the research showed that rice straw compost treatment significantly affected         C-organic, Fe2+ reduction, seed total, dry weight of root. While the application of SP-36 fertilizer significantly affected seed total. Combination between rice straw compost and fertilizer SP-36 significantly increased seed total.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penggunaan Cendawan Mikoriza Arbuskula (Cma) Untuk        Mengendalikan Fusarium Oxysporum F.Sp. Cubense Dan Nematoda &#xD;
Radopholus Similis Pada Tanaman Pisang Barangan&#xD;
(Musa Paradisiaca) Di Rumah Kaca</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37511</link>
      <description>Authors: Ambarwulan, Rini; Lubis, Lahmuddin
Advisors: Lisnawita
Abstract: Rini Ambarwulan. 2013. The use of Mycorrhizal Arbuscula Fungi (MAF) to Control the Fusarium oxysporum f.sp. cubense and Radopholus similis at Barangan Banana (Musa paradisiaca) in Glasshouse, under supervised by Lisnawita and Lahmuddin Lubis. This research was to study the effectivity use of MAF in controling Fusarium wilt and R. similis at Barangan Banana. This research was carried out in glasshouse of Agriculture Faculty, University of Sumatera Utara, Medan since May until December 2012. The method of this research was Randomized Complete Design Non Factorial with nine treatment and three replication, namely control, inoculation of MAF, inoculation of R. similis, inoculation F. oxysporum f.sp cubense, inoculation of mycorrhizal, R. similis &amp; Foc, inoculation of Foc one week later MAF and R. similis, inoculation of R. similis one week later CMA dan Foc, inoculation of MAF one week later Foc one week later R. similis, inoculation of MAF one week later R. similis one week later Foc.&#xD;
The result showed that fastest incubation period in the treatment inoculation of Foc are 11 days and the lowest in the treatment inoculation of MAF at once week are 20 days. The highest disease severity (35.56%) in the treatment Foc and the lowest (8.89%) in the treatment inoculation of MAF, one week later R. similis one week later Foc. The highest  population of nematodes (2641) in the treatment inoculation of R. similis and the lowest (164) in the tretament inoculation of MAF one week later Foc one week later R. similis. The highest percentage infection of MAF (100%) in the treatment inoculation of MAF and the lowest (93.33%) in the treatment inoculation of Foc next week mycorrhizal and   R. similis.
Abstract (other language): Rini Ambarwulan. 2013. Penggunaan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) untuk Mengendalikan Fusarium oxysporum f.sp. cubense dan Nematoda Radopholus similis pada Tanaman Pisang Barangan (Musa paradisiaca) di Rumah Kaca, di bawah bimbingan Lisnawita dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan CMA dalam mengendalikan layu fusarium dan R. similis pada tanaman pisang barangan. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada bulan Mei sampai Desember 2012. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial, dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan yaitu kontrol, inokulasi CMA, inokulasi      R. similis, inokulasi F. oxysporum f.sp cubense (Foc), inokulasi CMA, R. similis, &amp; Foc bersamaan, inokulasi Foc satu minggu kemudian diinokulasikan CMA dan  R. similis; inokulasi R. similis satu minggu kemudian CMA dan Foc, inokulasi CMA satu minggu kemudian Foc satu minggu kemudian R. similis, inokulasi CMA satu minggu kemudian R. similis satu minggu kemudian Foc.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode inkubasi tercepat terdapat pada perlakuan inokulasi Foc yaitu 11 hari dan terlama pada perlakuan inokulasi CMA pada minggu pertama yaitu pada 20 hari. Keparahan penyakit tertinggi (35,56%) pada perlakuan inokulasi Foc dan terendah (8,89%) pada perlakuan inokulasi CMA 1 minggu kemudian R. similis 1 minggu kemudian Foc. Populasi akhir R. similis tertinggi (2641) pada perlakuan inokulasi R. similis dan terendah (164) pada perlakuan inokulasi CMA 1 minggu kemudian Foc 1 minggu kemudian  R. similis. Persentase infeksi CMA tertinggi (100%) pada perlakuan inokulasi CMA dan terendah (93,33%) pada perlakuan inokulasi Foc 1 minggu kemudian CMA dan R. similis.</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37511</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ambarwulan, Rini</dc:creator>
      <dc:creator>Lubis, Lahmuddin</dc:creator>
      <dc:description>Rini Ambarwulan. 2013. Penggunaan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) untuk Mengendalikan Fusarium oxysporum f.sp. cubense dan Nematoda Radopholus similis pada Tanaman Pisang Barangan (Musa paradisiaca) di Rumah Kaca, di bawah bimbingan Lisnawita dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan CMA dalam mengendalikan layu fusarium dan R. similis pada tanaman pisang barangan. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada bulan Mei sampai Desember 2012. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial, dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan yaitu kontrol, inokulasi CMA, inokulasi      R. similis, inokulasi F. oxysporum f.sp cubense (Foc), inokulasi CMA, R. similis, &amp; Foc bersamaan, inokulasi Foc satu minggu kemudian diinokulasikan CMA dan  R. similis; inokulasi R. similis satu minggu kemudian CMA dan Foc, inokulasi CMA satu minggu kemudian Foc satu minggu kemudian R. similis, inokulasi CMA satu minggu kemudian R. similis satu minggu kemudian Foc.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode inkubasi tercepat terdapat pada perlakuan inokulasi Foc yaitu 11 hari dan terlama pada perlakuan inokulasi CMA pada minggu pertama yaitu pada 20 hari. Keparahan penyakit tertinggi (35,56%) pada perlakuan inokulasi Foc dan terendah (8,89%) pada perlakuan inokulasi CMA 1 minggu kemudian R. similis 1 minggu kemudian Foc. Populasi akhir R. similis tertinggi (2641) pada perlakuan inokulasi R. similis dan terendah (164) pada perlakuan inokulasi CMA 1 minggu kemudian Foc 1 minggu kemudian  R. similis. Persentase infeksi CMA tertinggi (100%) pada perlakuan inokulasi CMA dan terendah (93,33%) pada perlakuan inokulasi Foc 1 minggu kemudian CMA dan R. similis.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas                    Padi Gogo Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37510</link>
      <description>Authors: Tarigan, Ellya Ekaristi
Advisors: Ginting, Jonis; Meiriani
Abstract: ELLYA EKARISTI TARIGAN : growth and production some varieties of upland rice to Liquid Organic Fertilizer, supervised by Ir. Jonis Ginting, M.S. and                      Ir. Meiriani, M.P.&#xD;
This research aims to study the growth and production of some varieties of upland rice to liquid organic fertilizer. The research was conducted in the field UPT BBI, Tanjung Selamat at an altitude ± 57 meters above sea level since May 2012 until August 2012 using Randomized Block Design (RBD) factorial with two factors, which are the varieties (Situ Bagendit, Situ Patenggang and Towuti) and liquid organic fertilizer (0, 10, 20, 30 cc/liter). The parameters measured were plant height, number of tillers, number of panicle, number of empty grain, the amount of grain productive, productive grain weight, grain 1000 grain weight, and grain production per plot.  The results showed that the treatment of varieties significantly affect plant height, number of tillers, number of panicle, productive grain weight, grain 1000 grain weight, and grain production per plot. Liquid organic fertilizer non significant affect to all of parameters. The interaction between the varieties and liquid organic fertilizer non significant affect to all of the parameters.
Abstract (other language): ELLYA EKARISTI TARIGAN : Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Padi Gogo Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair, dibimbing oleh                          Ir. Jonis Ginting, M.S. dan Ir. Meiriani, M.P.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo terhadap pemberian pupuk organik cair. Penelitian ini dilakukan di lahan UPT BBI, Tanjung Selamat, kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian tempat ± 57 m di atas permukaan laut pada bulan Mei – September 2012 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu varietas (Situ Bagendit, Situ Patenggang, dan Towuti) dan pupuk organik cair (0, 10, 20, 30 cc/liter). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah hampa per rumpun, jumlah gabah produktif per rumpun, bobot gabah produktif per rumpun, bobot gabah 1000 butir, dan produksi gabah per plot. Hasil penelitian menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2-10 MST, jumlah anakan per rumpun 10 MST, jumlah malai per rumpun, bobot gabah produktif per rumpun, bobot 1000 butir dan produksi gabah per plot. Pupuk Organik Cair berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter. Interaksi antara varietas dan pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter.</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37510</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tarigan, Ellya Ekaristi</dc:creator>
      <dc:description>ELLYA EKARISTI TARIGAN : Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Padi Gogo Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair, dibimbing oleh                          Ir. Jonis Ginting, M.S. dan Ir. Meiriani, M.P.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo terhadap pemberian pupuk organik cair. Penelitian ini dilakukan di lahan UPT BBI, Tanjung Selamat, kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian tempat ± 57 m di atas permukaan laut pada bulan Mei – September 2012 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu varietas (Situ Bagendit, Situ Patenggang, dan Towuti) dan pupuk organik cair (0, 10, 20, 30 cc/liter). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah hampa per rumpun, jumlah gabah produktif per rumpun, bobot gabah produktif per rumpun, bobot gabah 1000 butir, dan produksi gabah per plot. Hasil penelitian menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2-10 MST, jumlah anakan per rumpun 10 MST, jumlah malai per rumpun, bobot gabah produktif per rumpun, bobot 1000 butir dan produksi gabah per plot. Pupuk Organik Cair berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter. Interaksi antara varietas dan pupuk organik cair berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakter Morfologis, Produksi, dan Kandungan Lemak Kedelai (glycine max l. Merrill) hasil Radiasi &#xD;
Sinar Gamma pada Generasi m6</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37506</link>
      <description>Authors: Sitompul, Seprianto
Advisors: Bayu, Eva Sartin; Kardhinata, Emmy Harso
Abstract: SEPRIANTO SITOMPUL :  Character of morphology, production, and  Fat Content of Soybean (Glycine Max L. Merrill) Result of Irradiation Gammaray of Generation M6, guided by Mrs. Ir. Eva Sartini Bayu, MP and Mr. Ir. Emmy Harso Kardhinata Msc.&#xD;
Assembling of Variety soy (Glycine Max L. Merrill) high production so that can be planted in Indonesia. For that an research have been done in Tanjung Slamat, Medan, North Sumatra (+ 25 m above sea level) in November 2011-January 2012 using non factorial randomized block design, that is population M5 without irradiation (Var. Agromulyo), population M5 with the dose irradiation 100 gray (Gy) (number of strains M100-29A-42-15), population M4 with the dose irradiation 150 gray (Gy) (number of strains M150-69-47-4 ), and population M4 with the dose irradiation 200 gray (Gy) (number of strains M200-52A-66-8 ) then continued with the Duncan Multiple Range Test (DMRT). Parameters perceived were germination percentage, plant height, number of branch of especial bar, number of nodes of crop, flowering initiation, harvesting time, number of filled pods of crop, number of vacuous pods of crop, number of seeds of crop,seeds production of plot, seeds wight of crop, wight 100 seeds, fat content, and oil content.&#xD;
	The results showed that the population tested M6 radiation results from the analysis of the results obtained shows that the number of pods per plant in a population of 0 krad (pod 62.35) and 100 krad (pod 66.03) was significantly different with a population of 150 krad (97.97 pods ), from the results obtained that the weight of 100 seeds per plant increased from generation M5 (16.00 g) to the generation of M6 (16.78 g), no strain M150-69-47-4 has a fat content and the highest oil 11.32% (fat content) and 23.54% (oil content). Value of high genetic progress contained in the parameters of the production per plot (219.404), a high heritability value parameter contained in the germination percentage (.920), plant height (0.890), number of branches on main stem (0.756), number of pods per plant contains (0.696), age flowering (0.848), weight of 100 seeds (0.538), production per plot (0.806), number of pods per plant contains (.405) while the value of low heritability in seed weight per plant parameter (0.077).
Abstract (other language): SEPRIANTO SITOMPUL : Karakter Morfologis, Produksi, dan Kandungan Lemak Kedelai (Glycine max L.Merrill) Hasil Radiasi Sinar Gamma pada Generasi M6, dibimbing oleh Ibu Ir. Eva Sartini Bayu, MP dan Bapak Ir. Emmy Harso Kardhinata, MSc.&#xD;
Perakitan  varietas kedelai (Glycine max L. Merrill) yang berproduksi tinggi sehingga dapat ditanam di Indonesia. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di Tanjung Slamat, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (+ 25 m dpl.) pada bulan November 2011 – Januari 2012 menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial, yaitu populasi M5 tanpa radiasi (var. argomulyo), populasi M5 dengan dosis radiasi 100 gray (no galur M100-29A-42-15), populasi M5 dengan dosis radiasi 150 gray (no galur M150-69-47-4), dan populasi M5 dengan dosis radiasi 200 gray (no galur M200-52A-66-8) kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Parameter yang diamati adalah persentase perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah cabang pada batang utama, jumlah buku per tanaman, umur berbunga, umur panen, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, jumlah biji per tanaman, produksi biji per plot, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji, kandungan lemak, dan kandungan minyak.&#xD;
Hasil penelitian  menunjukkan bahwa populasi M6 hasil radiasi yang diuji Dari hasil analisis diperoleh bahwa jumlah polong berisi per tanaman pada populasi 0 krad (62,35 polong) dan 100 krad (66,03 polong) berbeda nyata dengan populasi 150 krad (97,97 polong), Dari hasil analisis diperoleh bahwa bobot 100 biji per tanaman mengalami peningkatan dari generasi M5 (16,00 g) ke generasi M6 (16,78 g), no galur M150-69-47-4 memiliki kandungan lemak dan minyak yang tertinggi yaitu 11,32% (kandungan lemak) dan 23,54% (kandungan minyak). Nilai kemajuan genetik yang sangat tinggi terdapat pada parameter produksi per plot yaitu (219,404),nilai heritabilitas tinggi terdapat pada paremeter persentase perkecambahan (0,920), tinggi tanaman (0,890), jumlah cabang pada batang utama (0,756), jumlah polong berisi per tanaman (0,696), umur berbunga (0,848), bobot 100 biji (0,538), produksi per plot (0,806),jumlah polong berisi per tanaman (0,405) sedangkan nilai heritabilitas rendah pada parameter bobot  biji per tanaman (0,077).</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37506</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sitompul, Seprianto</dc:creator>
      <dc:description>SEPRIANTO SITOMPUL : Karakter Morfologis, Produksi, dan Kandungan Lemak Kedelai (Glycine max L.Merrill) Hasil Radiasi Sinar Gamma pada Generasi M6, dibimbing oleh Ibu Ir. Eva Sartini Bayu, MP dan Bapak Ir. Emmy Harso Kardhinata, MSc.&#xD;
Perakitan  varietas kedelai (Glycine max L. Merrill) yang berproduksi tinggi sehingga dapat ditanam di Indonesia. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di Tanjung Slamat, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (+ 25 m dpl.) pada bulan November 2011 – Januari 2012 menggunakan rancangan acak kelompok non faktorial, yaitu populasi M5 tanpa radiasi (var. argomulyo), populasi M5 dengan dosis radiasi 100 gray (no galur M100-29A-42-15), populasi M5 dengan dosis radiasi 150 gray (no galur M150-69-47-4), dan populasi M5 dengan dosis radiasi 200 gray (no galur M200-52A-66-8) kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Parameter yang diamati adalah persentase perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah cabang pada batang utama, jumlah buku per tanaman, umur berbunga, umur panen, jumlah polong berisi per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, jumlah biji per tanaman, produksi biji per plot, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji, kandungan lemak, dan kandungan minyak.&#xD;
Hasil penelitian  menunjukkan bahwa populasi M6 hasil radiasi yang diuji Dari hasil analisis diperoleh bahwa jumlah polong berisi per tanaman pada populasi 0 krad (62,35 polong) dan 100 krad (66,03 polong) berbeda nyata dengan populasi 150 krad (97,97 polong), Dari hasil analisis diperoleh bahwa bobot 100 biji per tanaman mengalami peningkatan dari generasi M5 (16,00 g) ke generasi M6 (16,78 g), no galur M150-69-47-4 memiliki kandungan lemak dan minyak yang tertinggi yaitu 11,32% (kandungan lemak) dan 23,54% (kandungan minyak). Nilai kemajuan genetik yang sangat tinggi terdapat pada parameter produksi per plot yaitu (219,404),nilai heritabilitas tinggi terdapat pada paremeter persentase perkecambahan (0,920), tinggi tanaman (0,890), jumlah cabang pada batang utama (0,756), jumlah polong berisi per tanaman (0,696), umur berbunga (0,848), bobot 100 biji (0,538), produksi per plot (0,806),jumlah polong berisi per tanaman (0,405) sedangkan nilai heritabilitas rendah pada parameter bobot  biji per tanaman (0,077).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan &#xD;
Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37504</link>
      <description>Authors: Rangkuti, Reza
Advisors: Patana, Pindi
Abstract: Activity pattern of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) in the structure and composition of forest vegetation in Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Gunung Leuser National Park . Under Academic Supervision of PINDI PATANA and SITI LATIFAH.&#xD;
	Forest act as a habitat which is one of the main elemen in orangutan lives. Increasing rate of forest degradation in recent years considerable influence on the orangutan population growth, its looks from the orangutan population decline significantly in recent years. Area management by related parties also can be a factor of population decline may be caused by lacking information about Orangutan management. Therefore, need to be implemented this research in order to obtain additional information of orangutan’s ecology for better management in the future. The methodology which used in this research are the direct observation of daily activities orangutan’s and vegetation analysis in the forest spots that have been passed by the orangutan.&#xD;
	The result of this research shows that orangutan average active starting at 07.33 WIB and start to make a nest for sleep approximately at 18.15 WIB with an average length of daily activity orangutan approximately 10 hours 42 minutes. Daily activity averange of orangutan for proportion duration are 15,03% for feeding, 36,59% for moving, 44,82 % for resting, and 3,56% for nesting and for frequencies are 24,09% for feeding, 32,95% for moving, 37,76% for resting, and 5,2%% for nesting. The composition of forest vegetation consists of 24 species of trees, 15 species of poles, and 20 species of saplings which identified overall approximately 88,53% of food plants. PPOS forest area has an index of species diversity (Sannon Wiener index) 2.717 species of trees, 2,235 species of poles, and 2,554 species of saplings.
Abstract (other language): Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser. Dibawah bimbingan PINDI PATANA dan SITI LATIFAH.&#xD;
	Hutan berperan sebagai habitat yang merupakan salah satu dari elemen utama dalam kehidupan orangutan. Laju degradasi hutan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan cukup berpengaruh pada pertumbuhan populasi orangutan, hal ini terlihat dari penurunan populasi orangutan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pengelolaan kawasan oleh pihak terkait juga dapat menjadi faktor penurunan populasi yang mungkin diakibatkan oleh kurangnya informasi tentang pengelolaan orangutan. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai ekologi orangutan demi pengelolaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung aktivitas harian orangutan dan analisis vegetasi pada spot-spot hutan yang dilalui orangutan.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangutan rata-rata aktif mulai pukul 07.33 WIB dan mulai membuat sarang akhir untuk tidur rata-rata sekitar pukul 18.15 WIB dengan rata-rata lama aktivitas harian orangutan sekitar 10 jam 42 menit. Aktivitas rata-rata harian orangutan untuk proporsi durasi yaitu 15,03% untuk makan, 36,59% untuk bergerak, 44,82 % untuk istirahat, dan  3,56% untuk membuat sarang dan untuk frekuensi yaitu 24,09% untuk makan, 32,95% untuk bergerak, 37,76% untuk istirahat, dan 5,2% untuk membuat sarang. Komposisi vegetasi hutan terdiri dari 24 jenis pohon, 15 jenis tiang dan 20 jenis pancang yang secara keseluruhan teridentifikasi sekitar 88,53% tumbuhan pakan. Kawasan hutan PPOS memiliki indeks keanekaragaman jenis (Indeks Sannon Wiener) 2,717 jenis pohon, 2,235 jenis tiang, dan 2,554 jenis pancang.</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37504</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rangkuti, Reza</dc:creator>
      <dc:description>Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser. Dibawah bimbingan PINDI PATANA dan SITI LATIFAH.&#xD;
	Hutan berperan sebagai habitat yang merupakan salah satu dari elemen utama dalam kehidupan orangutan. Laju degradasi hutan yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan cukup berpengaruh pada pertumbuhan populasi orangutan, hal ini terlihat dari penurunan populasi orangutan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pengelolaan kawasan oleh pihak terkait juga dapat menjadi faktor penurunan populasi yang mungkin diakibatkan oleh kurangnya informasi tentang pengelolaan orangutan. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai ekologi orangutan demi pengelolaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung aktivitas harian orangutan dan analisis vegetasi pada spot-spot hutan yang dilalui orangutan.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangutan rata-rata aktif mulai pukul 07.33 WIB dan mulai membuat sarang akhir untuk tidur rata-rata sekitar pukul 18.15 WIB dengan rata-rata lama aktivitas harian orangutan sekitar 10 jam 42 menit. Aktivitas rata-rata harian orangutan untuk proporsi durasi yaitu 15,03% untuk makan, 36,59% untuk bergerak, 44,82 % untuk istirahat, dan  3,56% untuk membuat sarang dan untuk frekuensi yaitu 24,09% untuk makan, 32,95% untuk bergerak, 37,76% untuk istirahat, dan 5,2% untuk membuat sarang. Komposisi vegetasi hutan terdiri dari 24 jenis pohon, 15 jenis tiang dan 20 jenis pancang yang secara keseluruhan teridentifikasi sekitar 88,53% tumbuhan pakan. Kawasan hutan PPOS memiliki indeks keanekaragaman jenis (Indeks Sannon Wiener) 2,717 jenis pohon, 2,235 jenis tiang, dan 2,554 jenis pancang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pertumbuhan Propagul Bakau Putih (Bruguiera cylindrica) Setelah Proses Pemeraman</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37498</link>
      <description>Authors: Pasaribu, Gripsi Yati Handayani
Advisors: Yunasfi; Utomo, Budi
Abstract: Bruguiera cylindrica is shaped mangrove forest plants such as evergreen trees, roots and root knee board that extends to the base of the tree next section, the height of the tree sometimes reaching 23 m. However, with the utilization of mangrove forests by communities around the forests into agricultural land, farms, settlements, so the presence of B. cylindrica increasingly depleted. One effort made to rehabilitate degraded mangrove forests is to do the nursery seedlings B. cylindrica&#xD;
The research was conducted in mangrove nursery sites located in the Village Sicanang, District Medan-Belawan, North Sumatra and in the Laboratory of Soil Biology, Program Study of Agroekoteknologi, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara. The experiment was conducted from the month of August until December 2011. This research is using with the provision repening.&#xD;
B. cylindrica propagule with RAL (complete random design) by treatment 0,2,4,6,8,10,12,14, and 16 repening days. The results showed no significant response B. cylindrica with the provision repening the percentage of survival but significant effect on height, diameter, number of leaves, total leaf area , ratio of the leaf and root, and the ratio of the stem and roots. The 6 days repening giving the real effect to the growth of B. cylindrica seeds with 15,32 cm, diameter 5,17 mm, number of leaves 4 leaf, total leaf area 16,13 cm2, weight dry 3,63 g, and the ratio of the leaf and roots 3,08 g
Abstract (other language): Bruguiera cylindrica merupakan tumbuhan hutan mangrove yang bentuknya berupa pohon yang selalu hijau, berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping dibagian pangkal pohon, ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 m. Akan tetapi pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat sekitar hutan menjadi lahan pertanian, tambak, pemukiman, sehingga keberadaan B. cylindrica semakin habis. Salah satu usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi hutan mangrove yang terdegradasi adalah melakukan persemaian bibit B. cylindrica dengan perlakuan berbagai pemeraman propagul.&#xD;
Penelitian ini dilakukan di lokasi pembibitan mangrove yang bertempat di Desa Sicanang, Kecamatan Medan-Belawan, Sumatera Utara dan di Laboratorium Biologi Tanah, Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus sampai bulan Desember 2011. Penelitian ini menggunakan propagul B. cylindrica dengan (RAL) Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan 0,2,4,6,8,10,12,14, dan 16 hari peram. Hasil penelitian menunjukkan respon B. cylindrica dengan berbagai pemeraman tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup namun berpengaruh berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi, diameter, jumlah daun, luas daun, rasio daun dan akar dan rasio batang dan akar. Pemeraman 6 hari memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit B. cylindrica dengan tinggi 15,32 cm, diameter 5,17mm, jumlah daun 4 helai, luas daun 16,13 cm2, bobot kering 3,79 g dan rasio tajuk dan akar 3,08g</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37498</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pasaribu, Gripsi Yati Handayani</dc:creator>
      <dc:description>Bruguiera cylindrica merupakan tumbuhan hutan mangrove yang bentuknya berupa pohon yang selalu hijau, berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping dibagian pangkal pohon, ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 m. Akan tetapi pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat sekitar hutan menjadi lahan pertanian, tambak, pemukiman, sehingga keberadaan B. cylindrica semakin habis. Salah satu usaha yang dilakukan untuk merehabilitasi hutan mangrove yang terdegradasi adalah melakukan persemaian bibit B. cylindrica dengan perlakuan berbagai pemeraman propagul.&#xD;
Penelitian ini dilakukan di lokasi pembibitan mangrove yang bertempat di Desa Sicanang, Kecamatan Medan-Belawan, Sumatera Utara dan di Laboratorium Biologi Tanah, Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus sampai bulan Desember 2011. Penelitian ini menggunakan propagul B. cylindrica dengan (RAL) Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan 0,2,4,6,8,10,12,14, dan 16 hari peram. Hasil penelitian menunjukkan respon B. cylindrica dengan berbagai pemeraman tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup namun berpengaruh berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi, diameter, jumlah daun, luas daun, rasio daun dan akar dan rasio batang dan akar. Pemeraman 6 hari memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit B. cylindrica dengan tinggi 15,32 cm, diameter 5,17mm, jumlah daun 4 helai, luas daun 16,13 cm2, bobot kering 3,79 g dan rasio tajuk dan akar 3,08g</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Konsentrasi Kolkisin Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas  Kacang Panjang               (Vigna Sinensis L)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37492</link>
      <description>Authors: Abmelah, Adnan
Advisors: Bangun, Mbue Kata
Abstract: Effect of colchicine concentration on growth and production at length Some Plant Variety Beans (Vigna sinensis L), led by Ir. Mbue said. Wake up, MS, and Ir. Hasmawi Hashim, MS.&#xD;
The purpose of this research was to determine the effect of concentration and production in some varieties of beans (Vigna sinensis L). This research field trials conducted in the village of Tumpatan Nibung, Batang quizzes, Medan, North Sumatra, with altitude ± 25 feet above sea level, which started from October to February 2012. The design used in this study is randomized block design with two factors. First Factor was the concentration of 0, 100, 200 ppm. Second factor was Variety, namely the parade, 777, black and white. From the results obtained that the higher concentrations of colchicine were used then a decline in germination, plant height, flowering age, age of harvest, pod length, pod weight of planting, planting pod number, seed number perpolong, and the diameter of the seed. On varieties, significantly affect the parameters age and length of flowering peas. Significantly affect the interaction parameter and the diameter of the seed bearing age.
Abstract (other language): :Pengaruh Konsentrasi Kolkisin Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Kacang Panjang (Vigna sinensis L), dibimbing oleh Ir. Mbue Kata. Bangun, MS dan Ir. Hasmawi Hasyim, MS.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan produksi pada beberapa varietas kacang panjang (Vigna sinensis L). penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Desa Tumpatan Nibung, Batang kuis, Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut, yang dimulai dari bulan Oktober hingga Februari 2012. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I yaitu konsentrasi yaitu 0, 100, 200 ppm. Faktor II yaitu varietas yaitu parade, 777, dan hitam putih. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa semakin tinggi konsentrasi kolkisin yang digunakan maka terjadi penurunan daya kecambah, tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, panjang polong, berat polong pertanaman, jumlah polong pertanaman, jumlah biji perpolong, dan diameter biji. Pada varietas, berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga dan panjang polong. Interaksi berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga dan diameter biji.</description>
      <pubDate>Tue, 21 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37492</guid>
      <dc:date>2013-05-21T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Abmelah, Adnan</dc:creator>
      <dc:description>:Pengaruh Konsentrasi Kolkisin Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Kacang Panjang (Vigna sinensis L), dibimbing oleh Ir. Mbue Kata. Bangun, MS dan Ir. Hasmawi Hasyim, MS.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan produksi pada beberapa varietas kacang panjang (Vigna sinensis L). penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Desa Tumpatan Nibung, Batang kuis, Medan, Provinsi Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat ± 25 meter diatas permukaan laut, yang dimulai dari bulan Oktober hingga Februari 2012. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor I yaitu konsentrasi yaitu 0, 100, 200 ppm. Faktor II yaitu varietas yaitu parade, 777, dan hitam putih. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa semakin tinggi konsentrasi kolkisin yang digunakan maka terjadi penurunan daya kecambah, tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, panjang polong, berat polong pertanaman, jumlah polong pertanaman, jumlah biji perpolong, dan diameter biji. Pada varietas, berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga dan panjang polong. Interaksi berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga dan diameter biji.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Evaluasi Penerapan Paket Teknologi Peternakan Ayam Broiler</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37484</link>
      <description>Authors: Aritonang, Irfandi
Advisors: Fauzia, Lily; Ginting, Sinar Indra Kesuma
Abstract (other language): IRFANDI ARITONANG  (070309038)  dengan  judul  Penelitian Evaluasi Penerapan    Paket    Teknologi    Peternakan    Ayam    Broiler    (Studi kasus    Desa    Amandamai    Kecamatan    Sirapit,    Kabupaten    Langkat). Penelitian   ini    dibimbing    oleh     Ibu    Ir. Hj. Lily Fauzia, M.Si    dan         Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma Ginting, M.Si.&#xD;
	Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui paket teknologi ayam broiler apa saja yang diterapkan, untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan paket teknologi ayam broiler atau ras pedaging, untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang dihadapi peternak dalam pelaksanaan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler, untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang perlu  dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani dalam melaksanakan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler di daerah penelitian.&#xD;
	Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk Daerah penelitian ditentukan sacara Purposive (secara sengaja), untuk metode penelitian sampel digunakan metode Quota Sampling dimana sampel ditarik 50% dari 21 populasi. Sampel tersebut terbagi dalam 2 strata dimana strata I dibagi berdasarkan jumlah ternak ≥2000 ekor yang mewakili jumlah sampel adalah 8 peternak, dan strata II dibagi berdasarkan jumlah ternak &lt;2000 ekor yang mewakili jumlah sampel adalah 3 peternak. Total sampel adalah 11 peternak. Penelitian dilakukan di Desa Amandamai. Populasi sampel di Desa Amandamai adalah 730 KK. Metode analisis data yang digunakan adalah secara metode deskriptif.&#xD;
	Dari hasil penelitian diperoleh; Terdapat penerapan paket teknologi perkandangan, peralatan, pembibitan, perawatan bibit dan calon induk, pemberian pakan, pemberian minum, pembuatan bokhasi pakan ternak ; tingkat keberhasilan penerapan paket teknologi ayam broiler atau ras pedaging adalah sedang (sebagian besar paket teknologi diterapkan); masalah yang dihadapi peternak dalam pelaksanaan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler yaitu masalah serangan penyakit, sulitnya sistem pemeliharaan dan minimnya keterampilan beternak, serta masalah keamanan ; Upaya mengatasi masalah serangan penyakit yaitu dengan memberikan obat-obatan, vitamin, dan vaksin secara teratur yang sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan ; upaya dalam mengatasi masalah sulitnya sistem pemeliharaan  dan minimnya keterampilan beternak yaitu peternak rajin mengikuti setiap penyuluhan penerapan paket teknologi ayam broiler yang telah dianjurkan oleh dinas peternakan setempat ; upaya dalam mengatasi keamanan  yaitu peternak mampu bersosialisasi kepada pemuda setempat sehingga pencurian ternak ayam broiler tidak terjadi.</description>
      <pubDate>Mon, 20 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37484</guid>
      <dc:date>2013-05-20T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Aritonang, Irfandi</dc:creator>
      <dc:description>IRFANDI ARITONANG  (070309038)  dengan  judul  Penelitian Evaluasi Penerapan    Paket    Teknologi    Peternakan    Ayam    Broiler    (Studi kasus    Desa    Amandamai    Kecamatan    Sirapit,    Kabupaten    Langkat). Penelitian   ini    dibimbing    oleh     Ibu    Ir. Hj. Lily Fauzia, M.Si    dan         Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma Ginting, M.Si.&#xD;
	Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui paket teknologi ayam broiler apa saja yang diterapkan, untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan paket teknologi ayam broiler atau ras pedaging, untuk mengetahui masalah-masalah apa saja yang dihadapi peternak dalam pelaksanaan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler, untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang perlu  dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani dalam melaksanakan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler di daerah penelitian.&#xD;
	Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk Daerah penelitian ditentukan sacara Purposive (secara sengaja), untuk metode penelitian sampel digunakan metode Quota Sampling dimana sampel ditarik 50% dari 21 populasi. Sampel tersebut terbagi dalam 2 strata dimana strata I dibagi berdasarkan jumlah ternak ≥2000 ekor yang mewakili jumlah sampel adalah 8 peternak, dan strata II dibagi berdasarkan jumlah ternak &lt;2000 ekor yang mewakili jumlah sampel adalah 3 peternak. Total sampel adalah 11 peternak. Penelitian dilakukan di Desa Amandamai. Populasi sampel di Desa Amandamai adalah 730 KK. Metode analisis data yang digunakan adalah secara metode deskriptif.&#xD;
	Dari hasil penelitian diperoleh; Terdapat penerapan paket teknologi perkandangan, peralatan, pembibitan, perawatan bibit dan calon induk, pemberian pakan, pemberian minum, pembuatan bokhasi pakan ternak ; tingkat keberhasilan penerapan paket teknologi ayam broiler atau ras pedaging adalah sedang (sebagian besar paket teknologi diterapkan); masalah yang dihadapi peternak dalam pelaksanaan sistem penerapan paket teknologi ayam broiler yaitu masalah serangan penyakit, sulitnya sistem pemeliharaan dan minimnya keterampilan beternak, serta masalah keamanan ; Upaya mengatasi masalah serangan penyakit yaitu dengan memberikan obat-obatan, vitamin, dan vaksin secara teratur yang sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan ; upaya dalam mengatasi masalah sulitnya sistem pemeliharaan  dan minimnya keterampilan beternak yaitu peternak rajin mengikuti setiap penyuluhan penerapan paket teknologi ayam broiler yang telah dianjurkan oleh dinas peternakan setempat ; upaya dalam mengatasi keamanan  yaitu peternak mampu bersosialisasi kepada pemuda setempat sehingga pencurian ternak ayam broiler tidak terjadi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Jumlah Terasi Dan Lama Penyimpanan Terhadap Pembuatan Produk Sambal Terasi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37448</link>
      <description>Authors: Nasution, Rafika Fitria
Advisors: Setyohadi
Abstract: Along with chili requirement, and to increase the efficiency of processing and  market value it can be make into souce. This research was one method to increase the eficiency 1%, 2%, 3% and 4% with storage time of 0, 3, 6 and 9 days. This research was conducted in November - December 2011 in the Laboratory of Food Techonology, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara, Medan, using a completely randomized factorial design. The parameters analyzed were moisture content, ask content, vitamin C content, member  microbia, pH,TSS and organoleptic values (colour, taste and flavour).
Abstract (other language): Seiring dengan kebutuhan akan cabai maka untuk meningkatkan efesiensi pengolahan dan nilai jual maka dapat dibuat menjadi sambal/saos. Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efesiensinya. Jumlah terasi yaitu 1%, 2%, 3% dan 4% dengan lama penyimpanan 0 hari, 3 hari, 6 hari dan 9 hari. Penelitian dilakukan pada November – Desember 2011 di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Parameter yang dianalisa adalah kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, total mikroba, pH, total padatan terlarut dan uji organoleptik terhadap warna, aroma dan rasa.</description>
      <pubDate>Sat, 18 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37448</guid>
      <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nasution, Rafika Fitria</dc:creator>
      <dc:description>Seiring dengan kebutuhan akan cabai maka untuk meningkatkan efesiensi pengolahan dan nilai jual maka dapat dibuat menjadi sambal/saos. Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efesiensinya. Jumlah terasi yaitu 1%, 2%, 3% dan 4% dengan lama penyimpanan 0 hari, 3 hari, 6 hari dan 9 hari. Penelitian dilakukan pada November – Desember 2011 di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Parameter yang dianalisa adalah kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, total mikroba, pH, total padatan terlarut dan uji organoleptik terhadap warna, aroma dan rasa.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Sistem Informasi Komoditas Tanaman Pangan Kabupaten Serdang Bedagai</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37446</link>
      <description>Authors: Tarigan, Jhon Erikson
Advisors: Munir, Achwil Putra
Abstract: JHON ERIKSON TARIGAN: Crop Commodity Information Systems of Serdang Bedagai Regency, supervised by ACHWIL PUTRA MUNIR and SAIPUL BAHRI DAULAY.&#xD;
Food crop information system in Serdang Bedagai Regency are still stored in books and/or files that are very limited in effectiveness. Computerized information delivery methods and internet networks are the solution which is worth to try to overcome the flow of information problem. This study was designed to produce system that can help the process of delivering, storing, and monitoring information displayed in a web form. The systems was designed in a user oriented programming language PHP, and MySQL database web Apache webserver. This system could improved the efficiency and effectiveness of the flow of information especially the food crop information. The result showed that the distribution and types of food crop commodities in each district in Serdang Bedagai Regency is different. The spread and the kinds of commodity depend on the topographic, the price level and the market demand in the area
Abstract (other language): JHON ERIKSON TARIGAN : Sistem Informasi Komoditas Tanaman Pangan Kabupaten Serdang Bedagai, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan SAIPUL BAHRI DAULAY.&#xD;
	Sistem informasi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Serdang Bedagai masih tersimpan dalam buku-buku dan ataupun berkas-berkas yang sangat terbatas keefektifannya. Metode penyampaian informasi secara komputerisasi dan jaringan internet merupakan solusi yang perlu dicoba untuk mengatasi masalah aliran informasi di atas. Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan suatu sistem yang dapat membantu proses penyampaian, penyimpanan, serta pengawasan terhadap informasi yang ditampilkan dalam bentuk web. Sistem dirancang berorientasikan pada user menggunakan bahasa pemrograman PHP, web database MySQL serta webserver Apache. Sistem ini mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas aliran informasi khususnya informasi komoditi tanaman pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran serta jenis komoditi unggulan tanaman pangan di setiap kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai berbeda. Penyebaran serta jenis komoditi tersebut tergantung pada topografi, dan tingkat harga dan permintaan pasar di daerah tersebut.</description>
      <pubDate>Sat, 18 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37446</guid>
      <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tarigan, Jhon Erikson</dc:creator>
      <dc:description>JHON ERIKSON TARIGAN : Sistem Informasi Komoditas Tanaman Pangan Kabupaten Serdang Bedagai, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan SAIPUL BAHRI DAULAY.&#xD;
	Sistem informasi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Serdang Bedagai masih tersimpan dalam buku-buku dan ataupun berkas-berkas yang sangat terbatas keefektifannya. Metode penyampaian informasi secara komputerisasi dan jaringan internet merupakan solusi yang perlu dicoba untuk mengatasi masalah aliran informasi di atas. Penelitian ini dirancang untuk menghasilkan suatu sistem yang dapat membantu proses penyampaian, penyimpanan, serta pengawasan terhadap informasi yang ditampilkan dalam bentuk web. Sistem dirancang berorientasikan pada user menggunakan bahasa pemrograman PHP, web database MySQL serta webserver Apache. Sistem ini mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas aliran informasi khususnya informasi komoditi tanaman pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran serta jenis komoditi unggulan tanaman pangan di setiap kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai berbeda. Penyebaran serta jenis komoditi tersebut tergantung pada topografi, dan tingkat harga dan permintaan pasar di daerah tersebut.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Tingkah Laku Makan Kerbau Murrah (Bubalus Bubalis) Di Balai Pembibitan Ternak Unggul (Bptu) Babi Dan Kerbau Siborong Borong</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37410</link>
      <description>Authors: Lubis, Ramdiah Fitriani
Advisors: Hamdan
Abstract: Murrah buffalo (Bubalus bubalis) is milk producer (maker) buffalo that very suitable in the development of North Sumatra, Indonesia. In recent years population of buffalo has more declined each year. One was caused by lack of knowledge of breeder in biologycal behavior of buffalo, so buffalo can’t produce as expected.&#xD;
This research aims to determine feeding behavior of Murrah buffalo (Bubalus bubalis) in Balai Pembibitan Ternak Unggul Babi dan Kerbau (BPTU) Siborong Borong. This research was conducted to 41 Murrah buffalo in 4 different populations (population I comparison ratio of adult male and female 1:12; populations II comparison ratio of adults male and female 1:4; populations III comparison ratio of virgin male and female 8:7, and population IV calves with  comparison of male and female young 3:5). This research is using One Zero methode with 15 minutes interval that performed at 08:00 to 12:00 AM. The results showed that  feeding activity higher than rumination activity. Highest feeding activity showed by population III, but highest rumination activity showed by population II.
Abstract (other language): Kerbau murrah (Bubalus bubalis) merupakan kerbau penghasil susu yang sangat cocok dikembangkan di Sumatera Utara, Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir populasi kerbau semakin menurun tiap tahunnya. Salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam tingkah laku biologi kerbau sehingga tidak berproduksi seperti yang diharapkan.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan kerbau murrah (Bubalus bubalis) di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Siborong borong. Penelitian ini dilakukan terhadap 41 ekor ternak kerbau murrah dengan 4 populasi yang berbeda ( populasi I perbandingan jantan betina dewasa 1:12; populasi II perbandingan jantan dan betina dewasa 1:4; populasi III perbandingan dara jantan dan betina 8:7 ; dan populasi IV anak kerbau dengan perbandingan jantan betina 3:5). Penelitian menggunakan metode One Zero dengan interval 15 menit dilakukan pada pukul 08.00­12.00. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas makan lebih tinggi dibandingkan aktivitas ruminasi. populasi dengan aktivitas makan tertinggi pada populasi dara, sedangkan aktivitas ruminasi tertinggi pada populasi dewasa 1:4.</description>
      <pubDate>Thu, 16 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37410</guid>
      <dc:date>2013-05-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Lubis, Ramdiah Fitriani</dc:creator>
      <dc:description>Kerbau murrah (Bubalus bubalis) merupakan kerbau penghasil susu yang sangat cocok dikembangkan di Sumatera Utara, Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir populasi kerbau semakin menurun tiap tahunnya. Salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam tingkah laku biologi kerbau sehingga tidak berproduksi seperti yang diharapkan.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan kerbau murrah (Bubalus bubalis) di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Siborong borong. Penelitian ini dilakukan terhadap 41 ekor ternak kerbau murrah dengan 4 populasi yang berbeda ( populasi I perbandingan jantan betina dewasa 1:12; populasi II perbandingan jantan dan betina dewasa 1:4; populasi III perbandingan dara jantan dan betina 8:7 ; dan populasi IV anak kerbau dengan perbandingan jantan betina 3:5). Penelitian menggunakan metode One Zero dengan interval 15 menit dilakukan pada pukul 08.00­12.00. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas makan lebih tinggi dibandingkan aktivitas ruminasi. populasi dengan aktivitas makan tertinggi pada populasi dara, sedangkan aktivitas ruminasi tertinggi pada populasi dewasa 1:4.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakteristik Morfologi Dan Keragaman &#xD;
Sifat-Sifat Kualitatif Sapi Aceh</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37409</link>
      <description>Authors: Rizal, Fakhrul
Advisors: Umar, Sayed
Abstract: Aceh cattle is Indonesian local cattle germplasm that need to be maintained and developed as a wealth of genetic resources Indonesia has a high adaptability to disease, parasites, low quality feed and extensive maintenance system. The import of exotic animals to Indonesian in addition to improving the quality of local beef would also tend to eliminate the local animal genetic resources in an intersection without evaluation, control and without taking into account the importance of native cattle to Indonesian. Therefore, research done phenotypic and morphometric analysis (color and horn shape) in 205 Aceh cattles (174 females and 31 males) in Aceh Besar District, Banda Aceh City, Bireuen District, Pidie Jaya District and Aceh Barat District. Phenotypic data were analyzed descriptively used Excel and the morphometric data were analyzed by Principal Component Analysis (PCA) used SPSS 18. &#xD;
The results of Principal Component Analysis (PCA) indicates that the body length and chest depth as the Principal Components in Aceh cattle. Aceh Cattle has a variety of colors and red brick dominant (25.37%) and  nutbrown (22.44%). Aceh Cattle generally horned but where 10.24% are not horns (kupung) on males and females. Counseling should be do as the given information of Aceh Cattle as Indonesian local beef germplasm potentian to be developed and preserved for the Indonesian public walfare.
Abstract (other language): Sapi Aceh merupakan plasma nutfah sapi lokal Indonesia yang perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai kekayaan sumberdaya genetik Indonesia yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap penyakit, parasit, pakan kualitas rendah serta sistem pemeliharaan yang ekstensif. Masuknya ternak eksotik dari luar negeri ke Indonesia disamping dapat memperbaiki kualitas sapi lokal juga dikhawatirkan akan menghilangkan sumberdaya genetik ternak lokal apabila persilangan dilakukan tanpa evaluasi, kontrol dan tanpa memperhitungkan arti penting sapi asli Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian analisis morfometrik dan fenotipik (warna dan bentuk tanduk) pada 205 ekor sapi Aceh (174 betina dan 31 jantan) di Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Barat. Data fenotipik dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Excel dan data morfometrik dianalisis dengan Analisis komponen Utama menggunakan program SPSS 18.&#xD;
	Hasil Analisis Komponen Utama (AKU) menunjukkan bahwa panjang badan dan dalam dada sebagai Komponen Utama pada sapi Aceh. Sapi Aceh mempunyai warna yang beragam dan dominan berwarna merah bata (25,37%) dan coklat muda (22,44%). Sapi Aceh umumnya bertanduk akan tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) pada jantan dan betina. Sebaiknya dilakukan penyuluhan untuk memberi imformasi bahwa Sapi Aceh sebagai plasma nutfah sapi potong lokal Indonesia berpotensi untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai upaya meningkatkan kesejahtraan masyarakat Indonesia.</description>
      <pubDate>Thu, 16 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37409</guid>
      <dc:date>2013-05-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rizal, Fakhrul</dc:creator>
      <dc:description>Sapi Aceh merupakan plasma nutfah sapi lokal Indonesia yang perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai kekayaan sumberdaya genetik Indonesia yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap penyakit, parasit, pakan kualitas rendah serta sistem pemeliharaan yang ekstensif. Masuknya ternak eksotik dari luar negeri ke Indonesia disamping dapat memperbaiki kualitas sapi lokal juga dikhawatirkan akan menghilangkan sumberdaya genetik ternak lokal apabila persilangan dilakukan tanpa evaluasi, kontrol dan tanpa memperhitungkan arti penting sapi asli Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian analisis morfometrik dan fenotipik (warna dan bentuk tanduk) pada 205 ekor sapi Aceh (174 betina dan 31 jantan) di Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kabupaten Bireun, Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Barat. Data fenotipik dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Excel dan data morfometrik dianalisis dengan Analisis komponen Utama menggunakan program SPSS 18.&#xD;
	Hasil Analisis Komponen Utama (AKU) menunjukkan bahwa panjang badan dan dalam dada sebagai Komponen Utama pada sapi Aceh. Sapi Aceh mempunyai warna yang beragam dan dominan berwarna merah bata (25,37%) dan coklat muda (22,44%). Sapi Aceh umumnya bertanduk akan tetapi terdapat 10,24% yang tidak bertanduk (kupung) pada jantan dan betina. Sebaiknya dilakukan penyuluhan untuk memberi imformasi bahwa Sapi Aceh sebagai plasma nutfah sapi potong lokal Indonesia berpotensi untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai upaya meningkatkan kesejahtraan masyarakat Indonesia.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Dengan  Penggunaan Pupuk Anorganik &#xD;
Dan Pupuk Campuran Pada&#xD;
Usahatani Padi Sawah</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37386</link>
      <description>Authors: Putra, Erwinsyah
Advisors: Hasyim, H. Hasman; Maryunianta, Yusak
Abstract (other language): ERWINSYAH PUTRA (070309001), Dengan judul skripsi ”Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Dengan Penggunaan Pupuk Anorganik Dan Pupuk Campuran Pada Usahatani Padi Sawah”. Studi kasus: Desa Paya Gambar, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, Penelitian ini dibimbing oleh  Ir. H.Hasman Hasyim, M.Si dan Ir. Yusak Maryunianta, M.Si&#xD;
&#xD;
Tujuan penelitian: untuk mengetahui bagaimana tingkat penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana hubungan karakteristik sosial ekonomi petani dengan penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana hubungan faktor pribadi dan faktor lingkungan petani dengan penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui  masalah-masalah apa saja yang dihadapi petani dalam  penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usaha tani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi petani di daerah penelitian.&#xD;
&#xD;
Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis korelasi Rank Spearman dengan alat bantu SPSS 17. Pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling berdasarkan pola tanam dengan jumlah sampel sebanyak 30 KK.  Data yang digunakan data primer dan data sekunder.&#xD;
&#xD;
Hasil penelitian: Tingkat penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran tidak sesuai dengan dosis anjuran yang telah di tetapkan oleh pemerintah, ada hubungan nyata antara lama berusaha tani, luas lahan, produksi, tersedianya media komunikasi petani, faktor-faktor alam, tujuan dan minat keluarga, terhadap penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran, masalah yang dihadapi petani tersumbatnya saluran pembuangan air, sulit merubah kebiasaan, sulit mendapatkan pupuk, hama dan penyakit tanaman, dan kurangnya modal.</description>
      <pubDate>Tue, 14 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37386</guid>
      <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Putra, Erwinsyah</dc:creator>
      <dc:description>ERWINSYAH PUTRA (070309001), Dengan judul skripsi ”Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Dengan Penggunaan Pupuk Anorganik Dan Pupuk Campuran Pada Usahatani Padi Sawah”. Studi kasus: Desa Paya Gambar, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, Penelitian ini dibimbing oleh  Ir. H.Hasman Hasyim, M.Si dan Ir. Yusak Maryunianta, M.Si&#xD;
&#xD;
Tujuan penelitian: untuk mengetahui bagaimana tingkat penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana hubungan karakteristik sosial ekonomi petani dengan penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana hubungan faktor pribadi dan faktor lingkungan petani dengan penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usahatani padi sawah, untuk mengetahui  masalah-masalah apa saja yang dihadapi petani dalam  penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran pada usaha tani padi sawah, untuk mengetahui bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi petani di daerah penelitian.&#xD;
&#xD;
Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis korelasi Rank Spearman dengan alat bantu SPSS 17. Pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling berdasarkan pola tanam dengan jumlah sampel sebanyak 30 KK.  Data yang digunakan data primer dan data sekunder.&#xD;
&#xD;
Hasil penelitian: Tingkat penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran tidak sesuai dengan dosis anjuran yang telah di tetapkan oleh pemerintah, ada hubungan nyata antara lama berusaha tani, luas lahan, produksi, tersedianya media komunikasi petani, faktor-faktor alam, tujuan dan minat keluarga, terhadap penggunaan pupuk anorganik dan pupuk campuran, masalah yang dihadapi petani tersumbatnya saluran pembuangan air, sulit merubah kebiasaan, sulit mendapatkan pupuk, hama dan penyakit tanaman, dan kurangnya modal.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kecernaan Ransum Mengandung Berbagai Tingkat Bungkil Inti Sawit di Tambahkan Hemicell pada Itik Raja Umur 8 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37379</link>
      <description>Authors: Halawa, Elman
Advisors: Sembiring, skandar; Ginting, Nurzainah; Handarini, Ristika
Abstract: Delays or duration of ranchers to feeding to the day old chick (DOC) is often considered the normal for farmer. Actually, initial feeding may accelerate the growth of digestive organs and ultimately may improve nitrogen retention, energy metabolism and conversion energy nitrogen metabolism corrected from gross energy on broiler. The present experiment was conducted to investigate the effects of the first difference times feed gives on digestible of crude fiber, retention nitrogen and metabolism energy duck age 8 wick. The experiment was designed as completely randomized design with 9 treatments and 3 replications. The range of the different initial feeding between the treatments were six hours. The observed of parameters are average digestible of crude fiber, retention nitrogen and metabolism energy.&#xD;
The result of this experiment showed that the firstly feeding (R0) was give the highest of retention nitrogen, metabolism energy and conversion energy nitrogen metabolism corrected from gross energy on duck were 83.48 ± 0.87%, 3234.51 ± 15.31 kcal/kg, 3409.60 ± 15.31 kcal/kg, 3234.31 ± 15.31 kcal/kg, 3409.40 ± 15.31 kcal/kg and 0.78 ± 0.004 respectively. The conclusion of this research was the earliest feeding can increase the nitrogen retention, metabolism energy and efficiency of utilization of gross energy to energy metabolism on duck 8 week.
Abstract (other language): Keterlambatan atau lamanya peternak memberikan ransum pada day old duck (DOD) seringkali dianggap hal yang biasa bagi peternak. Padahal dengan pemberian ransum yang lebih awal dapat mempercepat perkembangan organ saluran pencernaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari perbedaan jangka waktu awal pemberian ransum terhadap retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik umur 8 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan R0 diberikan ransum sesaat DOD dikandangkan dan pemberian ransum untuk perlakuan berikutnya dengan selisih 6 jam dari perlakuan yang telah diberi ransum. Parameter yang diamati adalah retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ransum yang pertama kali seperti pada perlakuan R0 menghasilkan rataan retensi nitrogen, energi metabolisme (semi, murni, semi terkoreksi nitrogen dan murni terkoreksi nitrogen) dan konversi energi metabolisme dari energi bruto ransum tertinggi berturut – turut sebesar 83.48 ± 0.87%, 3234.51 ± 15.31 kkal/kg, 3409.60 ± 15.31 kkal/kg, 3234.31 ± 15.31 kkal/kg, 3409.40 ± 15.31 kkal/kg dan 0.78 ± 0.004. Kesimpulan dari penelitian ini adala pemberian ransum seawal mungkin pada broiler akan meningkatkan retensi nitrogen, energi metabolisme dan efisiensi</description>
      <pubDate>Tue, 14 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37379</guid>
      <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Halawa, Elman</dc:creator>
      <dc:description>Keterlambatan atau lamanya peternak memberikan ransum pada day old duck (DOD) seringkali dianggap hal yang biasa bagi peternak. Padahal dengan pemberian ransum yang lebih awal dapat mempercepat perkembangan organ saluran pencernaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari perbedaan jangka waktu awal pemberian ransum terhadap retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik umur 8 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan R0 diberikan ransum sesaat DOD dikandangkan dan pemberian ransum untuk perlakuan berikutnya dengan selisih 6 jam dari perlakuan yang telah diberi ransum. Parameter yang diamati adalah retensi nitrogen, energi metabolisme dan konversi energi metabolisme dari energi bruto itik.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ransum yang pertama kali seperti pada perlakuan R0 menghasilkan rataan retensi nitrogen, energi metabolisme (semi, murni, semi terkoreksi nitrogen dan murni terkoreksi nitrogen) dan konversi energi metabolisme dari energi bruto ransum tertinggi berturut – turut sebesar 83.48 ± 0.87%, 3234.51 ± 15.31 kkal/kg, 3409.60 ± 15.31 kkal/kg, 3234.31 ± 15.31 kkal/kg, 3409.40 ± 15.31 kkal/kg dan 0.78 ± 0.004. Kesimpulan dari penelitian ini adala pemberian ransum seawal mungkin pada broiler akan meningkatkan retensi nitrogen, energi metabolisme dan efisiensi</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Kosentrasi Dekstrin dan Perbandingan Sari Mengkudu dan Sirsak Terhadap Mutu Tablet Effervescent</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37350</link>
      <description>Authors: Aryani, Dian
Advisors: Setyohadi; Limbong, Lasma Nora
Abstract: DIAN ARYANI: Effect of dextrin concentrate and Composition of Noni and Soursop Juice on the Quality of Effervescent, supervised by SETYOHADI and LASMA NORA LIMBONG. The aims of this research was to find the effect of dextrin concentrate and composition of noni and soursop juice on the quality of effervescent tablet. This research was conducted in January-February 2012 at the Laboratory of Food Technology, Faculty of Agriculture, North Sumatera University, Medan, using completely randomized design with two factors, i.e.: dextrin concentrate (K) : (4,8,12,16%) and composition noni abd soursop juice (M) : (90:10, 80:20, 70:30 and 60:40%). Parameters analyzed were moisture content, solubility, solubility time, vitamin C content, total acid, Ph, and organoleptic values of colour, flavor, and taste. The results showed that dextrin concentration had highly significant effect on moisture content, solubility, solubility time, vitamin C content, total acid, pH and organoleptic values of colour, flavour and taste. The composition of noni and soursop juice had highly significant effect of moisture content, solubility, solubility time, vitamin C content, total acid, Ph and organoleptic values of colour, flavour and taste. Interaction of the two factors had highly significant effect solubility and organoleptic values of taste but had no significant effect on moisture content, solubility time, vitamin C content, total acid, pH and oragnoleptic values of colour and flavour. Dextrin concentratinon of 16% and composition of noni and soursop juice of 60:40% produced the best quality of effervescent tablet.
Abstract (other language): DIAN ARYANI: Pengaruh Kosentrasi Dekstrin dan Perbandingan Sari Mengkudu dan Sirsak terhadap Mutu Tablet Effervescent, dibimbing oleh SETYOHADI dan LASMA NORA LIMBONG. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanyan pengaruh kosentrasi dekstrin dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak terhadap mutu tablet effervescent. Penelitian ini dilakuka pada Januari-Februari 2012 di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian USU, Medan, menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2 faktor yaitu kosentrasi dekstrin (K) : (4, 8, 12, 16%) dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak (90:10%, 80:20%, 70:30%, 60:40%). Parameter yang dianalisa adalah : kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosentrasi dekstrin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Perbandingan sari mengkudu dan sirsak memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH, dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Interaksi kedua faktor memberikan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap daya larut dan uji organoleptik rasa tetapi berbeda tidak nyata terhadap kadar air, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna dan aroma. Kosentrasi dekstrin 16% dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak 60:40 menghasilkan tablet effervescent yang terbaik dan lebih diterima.</description>
      <pubDate>Sat, 11 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37350</guid>
      <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Aryani, Dian</dc:creator>
      <dc:description>DIAN ARYANI: Pengaruh Kosentrasi Dekstrin dan Perbandingan Sari Mengkudu dan Sirsak terhadap Mutu Tablet Effervescent, dibimbing oleh SETYOHADI dan LASMA NORA LIMBONG. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanyan pengaruh kosentrasi dekstrin dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak terhadap mutu tablet effervescent. Penelitian ini dilakuka pada Januari-Februari 2012 di Laboratorium Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian USU, Medan, menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2 faktor yaitu kosentrasi dekstrin (K) : (4, 8, 12, 16%) dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak (90:10%, 80:20%, 70:30%, 60:40%). Parameter yang dianalisa adalah : kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosentrasi dekstrin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Perbandingan sari mengkudu dan sirsak memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, daya larut, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH, dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa. Interaksi kedua faktor memberikan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap daya larut dan uji organoleptik rasa tetapi berbeda tidak nyata terhadap kadar air, kecepatan larut, kadar vitamin C, total asam, pH dan uji organoleptik warna dan aroma. Kosentrasi dekstrin 16% dan perbandingan sari mengkudu dan sirsak 60:40 menghasilkan tablet effervescent yang terbaik dan lebih diterima.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Survei Petani Bawang Merah                                   (Allium ascalonicum L.) Tentang Pengendalian Hama di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37284</link>
      <description>Authors: Silitonga, Christa Melissa
Advisors: Oemry, Syahrial; Tarigan, Mena Uly
Abstract: Christa Melissa Silitonga “Survey of Farmers Onion (Allium ascalonicum L.) On Pest Control In Kec. Simanindo, Kab. Samosir” under the guidance of Syahrial Oemry and Mena Uly Tarigan is an onion producing states, but the increased production of onion farmers are still experiencing problems such as pests. In pest control farmer generally believe the success of pest control efforts is the provision of chemical pesticides. The study aims to determine the demographics, land, fees, pest, pest control measure as well as the understanding and application of the concept of Integrated Pest Management (IPM) on onion plants in the Kec.Simanindo, Kab. Samosir. The research was conducted since February – March 2012 at the Kec. Simanindo. Kab. Samosir. The research used the survey method using questionnaires to 100 respondents and the data processed using descriptive methods. The survey shows that the most common pests found in the onion crop is Spodoptera exigua, Agrotis ipsilon, Thrips sp., Liriomyza spp. All farmers (100%) prefer to chemical as a control method. Method of spraying with a scheduled system is preferred and selected farmers. Generally, farmers do not have good information or a little knowledge about Integrated Pest Management.
Abstract (other language): Christa Melissa Silitonga “Survei Petani Bawang                                                    Merah (Allium ascalonicum L.)  Tentang Pengendalian Hama Di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir” di bawah bimbingan Syahrial Oemry dan Mena Uly Tarigan. Indonesia merupakan negara penghasil bawang tetapi dalam peningkatan produksi para petani bawang masih mengalami kendala seperti serangan hama. Dalam pengendalian hama para petani pada umumnya beranggapan keberhasilan upaya pengendalian hama adalah dengan pemberian pestisida kimiawi.. Penelitian bertujuan untuk mengetahui demografi, lahan, biaya, hama, cara pengendalian hama serta pemahaman dan penerapan tentang konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman bawang merah di Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2012 di Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Penelitian menggunakan metode survey dengan menggunakan kuisioner terhadap 100 responden dan data diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil survey menunjukkan bahwa hama yang paling umum dijumpai pada pertanaman bawang merah adalah Spodoptera exigua, Agrotis ipsilon, Thrips sp, Liriomyza spp. Semua petani (100%) lebih menyukai pestisida kimia sebagai metode pengendalian. Metode penyemprotan dengan sistem terjadwal lebih disukai dan dipilih petani. Umumnya petani tidak mempunyai informasi yang baik atau pengetahuan yang sedikit tentang program Pengelolaan Hama Terpadu.</description>
      <pubDate>Sat, 04 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37284</guid>
      <dc:date>2013-05-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Silitonga, Christa Melissa</dc:creator>
      <dc:description>Christa Melissa Silitonga “Survei Petani Bawang                                                    Merah (Allium ascalonicum L.)  Tentang Pengendalian Hama Di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir” di bawah bimbingan Syahrial Oemry dan Mena Uly Tarigan. Indonesia merupakan negara penghasil bawang tetapi dalam peningkatan produksi para petani bawang masih mengalami kendala seperti serangan hama. Dalam pengendalian hama para petani pada umumnya beranggapan keberhasilan upaya pengendalian hama adalah dengan pemberian pestisida kimiawi.. Penelitian bertujuan untuk mengetahui demografi, lahan, biaya, hama, cara pengendalian hama serta pemahaman dan penerapan tentang konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman bawang merah di Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2012 di Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Penelitian menggunakan metode survey dengan menggunakan kuisioner terhadap 100 responden dan data diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil survey menunjukkan bahwa hama yang paling umum dijumpai pada pertanaman bawang merah adalah Spodoptera exigua, Agrotis ipsilon, Thrips sp, Liriomyza spp. Semua petani (100%) lebih menyukai pestisida kimia sebagai metode pengendalian. Metode penyemprotan dengan sistem terjadwal lebih disukai dan dipilih petani. Umumnya petani tidak mempunyai informasi yang baik atau pengetahuan yang sedikit tentang program Pengelolaan Hama Terpadu.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Uji  Efektivitas Trichoderma Harzianum Dan Pemberian Arang Sebagai Pengendalian Hayati Penyakit Lanas (Phytophthora Nicotianae De Hann) Pada Tanaman Tembakau Deli</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37283</link>
      <description>Authors: Matondang, Indra Hardian
Advisors: Lubis, Lahmuddin; Pinem, Mukhtar I
Abstract: Indra Hardian Matondang, "Test Effectiveness of Trichoderma harzianum and Coconut Shell Charcoal Granting of control Biological Disease As Lanas (Phytophtora nicotianae de Hann) In Tobacco Plants Deli". Supervised by Ir.Lahmuddin Lubis, MP and Ir.Mukhtar Pinem Iskandar, M. Agr. The study aims to determine the concentration of T. harzianum and charcoal administration is most effective in controlling diseases in plants Tobacco P.nicotianae Deli. The experiment was conducted at the Experimental Farm Deli Sampali Tobacco Research Institute, Medan. This research used a randomized block design factorial with two factors and three replications. The first factor T. harzianum (T) consists of (T0) without treatment, (T1) T.harzianum that in cultures on corn media with a dose of 10 g / plant, (T2) T.harzianum that in cultures on corn media with a dose of 15 g / plant, (T3) T.harzianum that in cultures on corn media with a dose of 20 g / plant and the second factor (a) consists of charcoal administration (A0) without treatment, (A1) coconut charcoal with a dose of 20 g / plant.&#xD;
The results showed the highest percentage of attacks are on treatment T0A0 amounting 99.71% and the lowest percentage of attacks are on treatment T3A1 (T.harzianum that in corn cultured on medium with a dose of 20 g / plant and coconut shell charcoal with a dose of 20 g / plant ) by 0.71%. The highest number of leaves found in treatment T3 (T.harzianum that in cultures on corn media with a dose of 20 g / plant strands at 11.67 and the lowest at treatment T0 (control) of 7.17 strands.
Abstract (other language): Indra Hardian Matondang , “Uji  Efektivitas Trichoderma harzianum dan Pemberian Arang Batok Kelapa  Sebagai Pengendalain  Hayati  Penyakit  Lanas (Phytophtora Nicotianae de Hann ) Pada Tanaman Tembakau Deli“. Dibimbing oleh Ir.Lahmuddin Lubis, MP dan Ir.Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr. Penelitian bertujuan untuk mengetahui  konsentrasi T. harzianum dan pemberian arang yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit P.nicotianae pada tanaman Tembakau Deli. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali, Medan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok  (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor  pertama  permberian T. harzianum (T) terdiri dari  (T0) tanpa perlakuan , (T1) T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 10 gr/tanaman, (T2) T.harzianum yang di  biakan pada media jagung dengan dosis 15 gr/tanaman, (T3) T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman dan faktor kedua  (A) pemberian arang terdiri dari (A0) tanpa perlakuan , (A1) arang batok kelapa dengan dosis 20 gr/tanaman.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan T0A0 yaitu sebesar 99,71% dan persentase serangan terendah terdapat pada perlakuan T3A1 (T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman dan arang batok kelapa dengan dosis 20 gr/tanaman) sebesar 0,71 %.  Jumlah daun  yang tertinggi terdapat pada perlakuan T3 ( T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman sebesar 11,67 helai dan terendah pada perlakuan T0 ( kontrol ) sebesar 7,17  helai.</description>
      <pubDate>Sat, 04 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37283</guid>
      <dc:date>2013-05-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Matondang, Indra Hardian</dc:creator>
      <dc:description>Indra Hardian Matondang , “Uji  Efektivitas Trichoderma harzianum dan Pemberian Arang Batok Kelapa  Sebagai Pengendalain  Hayati  Penyakit  Lanas (Phytophtora Nicotianae de Hann ) Pada Tanaman Tembakau Deli“. Dibimbing oleh Ir.Lahmuddin Lubis, MP dan Ir.Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr. Penelitian bertujuan untuk mengetahui  konsentrasi T. harzianum dan pemberian arang yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit P.nicotianae pada tanaman Tembakau Deli. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tembakau Deli Sampali, Medan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok  (RAK) faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor  pertama  permberian T. harzianum (T) terdiri dari  (T0) tanpa perlakuan , (T1) T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 10 gr/tanaman, (T2) T.harzianum yang di  biakan pada media jagung dengan dosis 15 gr/tanaman, (T3) T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman dan faktor kedua  (A) pemberian arang terdiri dari (A0) tanpa perlakuan , (A1) arang batok kelapa dengan dosis 20 gr/tanaman.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan T0A0 yaitu sebesar 99,71% dan persentase serangan terendah terdapat pada perlakuan T3A1 (T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman dan arang batok kelapa dengan dosis 20 gr/tanaman) sebesar 0,71 %.  Jumlah daun  yang tertinggi terdapat pada perlakuan T3 ( T.harzianum yang di biakan pada media jagung dengan dosis 20 gr/tanaman sebesar 11,67 helai dan terendah pada perlakuan T0 ( kontrol ) sebesar 7,17  helai.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisa potensi limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak sapi di Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37262</link>
      <description>Authors: Nababan, Wina Sridewi
Advisors: Wahyuni, Tri Hesty; Trisna, Ade
Abstract: WINA S. NABABAN: The Study of Agriculture by Product Potency as Feed Resources for Cattle in Subdistrict Dolok Masihul, Regency Serdang Bedagai. Under the supervision of TRI HESTI WAHYUNI and ADE TRISNA.&#xD;
The land use change and climate limit the availability of forage, which is the principal feed ruminants. Optimization of the utilization of agricultural by product and agro-industries can improve the availability of feed. Integration with the business of agriculture is an alternative for sustainable livestock development. This study analyzes the potential of agricultural by product  as ruminant feed in the District Dolok Masihul Serdang Bedagai. The parameters were the production of fresh, dry matter (DM), crude protein (CP) and total digestible nutrients (TDN) of agricultural by product, carrying capacity of agricultural by product in animal unit (AU) and carrying capacity index of agricultural by product. &#xD;
The results showed the amount of fresh production based on agricultural by product material fresh, dry matter, crude protein and TDN such as 176 700 tonnes; 62.148,030 tons, 16.686,827 tons and 36.861,537 tons respectively with a carrying capacity of agricultural by product as a source of feed is  13.832 AU, 16.129 AU, 69.240 AU and 21.954 AU respectively. Carrying capacity of the waste based on the index of food crops in the district Dolok Masihul, supply is still insufficient. So the district could potentially add Dolok Masihul cattle based on fresh, BK, PK and TDN as 7.279 AU, 8.893AU, 43.844 AU and 13.792 AU to optimize the potential of agricultural by product.&#xD;
Keywords: agriculture by product, carryng capasity,fresh, dry matter (DM), crude protein (CP), total digestible nutrient (TDN), animal unit (AU)
Abstract (other language): WINA S. NABABAN: Analisa Potensi Limbah Tanaman Pangan  sebagai Pakan Ternak sapi di Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan ADE TRISNA.&#xD;
Perubahan fungsi lahan dan iklim membatasi ketersediaan hijauan pakan yang merupakan pakan pokok ternak ruminansia. Optimasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan. Integrasi dengan usaha pertanian merupakan alternatif untuk pengembangan peternakan yang berkesinambungan. Penelitian ini menganalisis potensi limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak ruminansia di Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai. Pengujian parameter mencakup produksi segar, bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan  total digestible nutrient (TDN) limbah pertanian, daya dukung limbah pertanian yang dihitung berdasarkan satuan ternak (ST) dan indeks daya dukung limbah pertanian.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan jumlah produksi segar limbah pertanian berdasarkan bahan segar, bahan kering, protein kasar dan TDN masing-masing 176700 ton; 62.148,030 ton; 16.686,827 ton dan 36.861,537 ton dengan daya dukung limbah pertanian sebagai sumber pakan masing-masing 13.832 ST ; 16.129 ST;69.240 ST dan 21.954 ST. Berdasarkan indeks daya dukung limbah tanaman pangan di kecamatan Dolok Masihul, ketersediaannya masih cukup. Sehingga kecamatan Dolok Masihul berpotensi menambahkan ternak berdasarkan segar, BK, PK dan TDN sebanyak 7.279 ST, 8.893 ST, 43.844 ST dan 13.792 ST untuk mengoptimalkan potensi limbah pertanian.</description>
      <pubDate>Thu, 02 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37262</guid>
      <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nababan, Wina Sridewi</dc:creator>
      <dc:description>WINA S. NABABAN: Analisa Potensi Limbah Tanaman Pangan  sebagai Pakan Ternak sapi di Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan ADE TRISNA.&#xD;
Perubahan fungsi lahan dan iklim membatasi ketersediaan hijauan pakan yang merupakan pakan pokok ternak ruminansia. Optimasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan. Integrasi dengan usaha pertanian merupakan alternatif untuk pengembangan peternakan yang berkesinambungan. Penelitian ini menganalisis potensi limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak ruminansia di Kecamatan Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai. Pengujian parameter mencakup produksi segar, bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan  total digestible nutrient (TDN) limbah pertanian, daya dukung limbah pertanian yang dihitung berdasarkan satuan ternak (ST) dan indeks daya dukung limbah pertanian.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan jumlah produksi segar limbah pertanian berdasarkan bahan segar, bahan kering, protein kasar dan TDN masing-masing 176700 ton; 62.148,030 ton; 16.686,827 ton dan 36.861,537 ton dengan daya dukung limbah pertanian sebagai sumber pakan masing-masing 13.832 ST ; 16.129 ST;69.240 ST dan 21.954 ST. Berdasarkan indeks daya dukung limbah tanaman pangan di kecamatan Dolok Masihul, ketersediaannya masih cukup. Sehingga kecamatan Dolok Masihul berpotensi menambahkan ternak berdasarkan segar, BK, PK dan TDN sebanyak 7.279 ST, 8.893 ST, 43.844 ST dan 13.792 ST untuk mengoptimalkan potensi limbah pertanian.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Uji Efektifitas Jamur Cordycep militaris Terhadap Larva Penggerek Pucuk Kelapa Sawit (Oryctes rhinoceros L.) (Coleoptera: Scarabaeidae) di Laboratorium</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37261</link>
      <description>Authors: Ginting, Okta Pani Putri
Advisors: Marheni; Oemry, Syahrial
Abstract: Okta Pani Putri Ginting “Test of Pathogenical Cordyceps militaris against Shoots of Palm Weevils Larvae (O. rhinoceros) (Coleoptera; Scarabaeidae) Mortality in the Laboratory”, under the guidance of Marheni and Syahrial Oemry. This study aims to examine the pathogenity of C. militaris entomophatogen fungus against O. rhinoceros larvae in the Laboratory. This study research using completely randomized design (CRD) nonfactorial with four treatments and six replication, namely A0 (control), A1, A2, A3 (applied to C. militaris fungus  each 20, 25, and 30 grams corn media).&#xD;
	The results showed the highest percentage of mortality larvae found in treatment A3 (applied C. militaris fungus 30 gr on corn media) 60%, and there are the lowest in treatment A1 (applied C. militaris fungus 20 gr on corn media) at 23,33%. A large number of larvae which become pupa was observed 3 days after the larvae become pupae O. rhinoceros the highest found in treatment A0 (control) that is equal to 30 tail and the lowest found in the treatment A3 of by 12 tail. The result showed that the entomophatogen C. militaris fungus less effective use in contolling the O. rhinoceros larvae compared, but it is can be used to control           O. rhinoceros larvae to be a environmentally friendly.
Abstract (other language): Okta Pani Putri Ginting, “Uji Efektifitas Jamur Cordycep militaris Terhadap Larva Penggerek Pucuk Kelapa Sawit (Oryctes rhinoceros L.) (Coleoptera: Scarabaeidae) di Laboratorium”, dibawah bimbingan Marheni dan Syahrial Oemry. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan jamur entomopatogen C. militaris terhadap larva O. rhinoceros di laboratorium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) nonfaktorial dengan empat perlakuan dan enam ulangan yaitu A0 (kontrol), A1, A₂, A₃ (diaplikasikan jamur C. militaris pada masing-masing 20,25 dan 30 gr media jagung).&#xD;
 Hasil penelitian menunjukkan persentase mortalitas larva tertinggi terdapat pada perlakuan A₃ (diaplikasikan jamur C. militaris pada 30 gr media jagung) sebesar 60 %, dan terendah pada perlakuan A1 (diaplikasikan jamur                          C. militaris pada 20 gr media jagung) sebesar 23,33 %. Banyaknya jumlah larva yang menjadi pupa adalah pada pengamatan 3 hari setelah larva menjadi pupa      O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A0 (kontrol) yaitu sebesar 30 ekor dan terendah terdapat pada perlakuan A3 sebesar 12 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur C. militaris entomopatogen kurang efektif digunakan dalam mengendalikan larva O. rhinoceros tetapi dapat digunakan untuk mengendalikan  larva O. rhinoceros yang ramah lingkungan dengan dosis yang lebih tinggi.</description>
      <pubDate>Thu, 02 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37261</guid>
      <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ginting, Okta Pani Putri</dc:creator>
      <dc:description>Okta Pani Putri Ginting, “Uji Efektifitas Jamur Cordycep militaris Terhadap Larva Penggerek Pucuk Kelapa Sawit (Oryctes rhinoceros L.) (Coleoptera: Scarabaeidae) di Laboratorium”, dibawah bimbingan Marheni dan Syahrial Oemry. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan jamur entomopatogen C. militaris terhadap larva O. rhinoceros di laboratorium. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) nonfaktorial dengan empat perlakuan dan enam ulangan yaitu A0 (kontrol), A1, A₂, A₃ (diaplikasikan jamur C. militaris pada masing-masing 20,25 dan 30 gr media jagung).&#xD;
 Hasil penelitian menunjukkan persentase mortalitas larva tertinggi terdapat pada perlakuan A₃ (diaplikasikan jamur C. militaris pada 30 gr media jagung) sebesar 60 %, dan terendah pada perlakuan A1 (diaplikasikan jamur                          C. militaris pada 20 gr media jagung) sebesar 23,33 %. Banyaknya jumlah larva yang menjadi pupa adalah pada pengamatan 3 hari setelah larva menjadi pupa      O. rhinoceros tertinggi terdapat pada perlakuan A0 (kontrol) yaitu sebesar 30 ekor dan terendah terdapat pada perlakuan A3 sebesar 12 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur C. militaris entomopatogen kurang efektif digunakan dalam mengendalikan larva O. rhinoceros tetapi dapat digunakan untuk mengendalikan  larva O. rhinoceros yang ramah lingkungan dengan dosis yang lebih tinggi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pertumbuhan Propagul Rhizophora mucronata Setelah Proses Pemeraman</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37256</link>
      <description>Authors: Sihombing, Nico Armedi
Advisors: Yunasfi; Utomo, Budi
Abstract: The handling of seed after picked a mature propagules from important trees in an effort to improve the quality of seedlings for the rehabilitation of mangrove forests, especially if planting is done in the field immediately. It is feared will lead to deterioration of seed at planting. Curing process is a way to maintain the viability of propagules at the time saved, but can speed up germination also can eliminate the scent of fresh, thereby reducing the intensity of pest attacks. &#xD;
	This research uses Rhizophora mucronata propagules with a Completely Randomized Design (CRD) with treatments 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 and 16 days of curing. Parameters observed from the high, diameter, leaf area, canopy and root dry weight and dry weight ratio of crown and root. The results showed 6 days of curing a real influence on the growth of Rhizophora mucronata seedlings height to the height of 0.55 cm diameter 12.21, 13.45 cm2 leaf area, canopy biomass 1.89 g, 1.61 g of root biomass and the ratio crown / root 1.26 g.
Abstract (other language): Upaya penanganan benih setelah pengunduhan propagul yang matang dari  pohon penting dilakukan dalam upaya peningkatan mutu bibit untuk rehabilitasi  hutan mangrove apalagi  bila penanaman tidak segera dilakukan dilapangan. Hal ini  dikhawatirkan  akan  menyebabkan kemunduran  benih  pada  saat  ditanam. Proses  pemeraman  merupakan  cara  untuk  mempertahankan  viabilitas  propagul pada   saat   disimpan, selain dapat mempercepat perkecambahan juga dapat menghilangkan aroma segar sehingga mengurangi intensitas serangan hama. &#xD;
Penelitian ini menggunakan propagul  Rhizophora mucronata dengan Rancangan Acak  Lengkap  (RAL)  dengan  perlakuan 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 dan  16  hari peram. Parameter yang diamati mulai dari tinggi, diameter, luas daun, berat kering tajuk  dan  akar  serta  rasio  perbandingan  berat  kering  tajuk  dan  akar.  Hasil penelitian menunjukkan pemeraman 6 hari  memberi  pengaruh  nyata  terhadap pertumbuhan tinggi bibit Rhizophora mucronata dengan tinggi 12,21 diameter 0,55 cm, luas daun  13,45  cm2 ,  biomassa tajuk  1,89  g,  biomassa  akar  1,61  g  dan  rasio perbandingan tajuk/akar 1,26 g.</description>
      <pubDate>Thu, 02 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37256</guid>
      <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sihombing, Nico Armedi</dc:creator>
      <dc:description>Upaya penanganan benih setelah pengunduhan propagul yang matang dari  pohon penting dilakukan dalam upaya peningkatan mutu bibit untuk rehabilitasi  hutan mangrove apalagi  bila penanaman tidak segera dilakukan dilapangan. Hal ini  dikhawatirkan  akan  menyebabkan kemunduran  benih  pada  saat  ditanam. Proses  pemeraman  merupakan  cara  untuk  mempertahankan  viabilitas  propagul pada   saat   disimpan, selain dapat mempercepat perkecambahan juga dapat menghilangkan aroma segar sehingga mengurangi intensitas serangan hama. &#xD;
Penelitian ini menggunakan propagul  Rhizophora mucronata dengan Rancangan Acak  Lengkap  (RAL)  dengan  perlakuan 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 dan  16  hari peram. Parameter yang diamati mulai dari tinggi, diameter, luas daun, berat kering tajuk  dan  akar  serta  rasio  perbandingan  berat  kering  tajuk  dan  akar.  Hasil penelitian menunjukkan pemeraman 6 hari  memberi  pengaruh  nyata  terhadap pertumbuhan tinggi bibit Rhizophora mucronata dengan tinggi 12,21 diameter 0,55 cm, luas daun  13,45  cm2 ,  biomassa tajuk  1,89  g,  biomassa  akar  1,61  g  dan  rasio perbandingan tajuk/akar 1,26 g.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Respons Pertumbuhan Dan Produksi  Beberapa Varietas  Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Dengan Pemberian &#xD;
Kompos Limbah Kakao Pada Tanah Inseptisol</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37253</link>
      <description>Authors: Tambak, Dyanne Gisella P
Advisors: Siregar, Luthfi Aziz Mahmud
Abstract: DYANNE GISELLA P. TAMBAK: Response Varieties of Onion (Allium ascalonicum L.) Against Giving  Cocoa Waste Compost on The Ground Inceptisol supervised by Luthfi Aziz Mahmud Siregar and Rosmayati. &#xD;
The study aimed to know respons of four onion extent on the provision of cocoa waste compost on soil inseptisol. Research was conducted at campus area Tengku Amir Hamzah University,Pancing, Medan Estate, Deli Serdang (± 15 m above sea level) from April -Juli 2012. This study used a randomized block design the frist factorsis the variety, Medan Variety, Maja variety, Kuning variety and Bali Karet variety. The second factor is with 4 levels of cocoa waste compost, namely 0 g, 236 g, 472 g, and708 g.. The data obtained were analyzed using analysis of variance, followed by Honestly Significant Difference test. &#xD;
The results showed that the varieties significantly of plant height, number of leaves at 2 week after plant, bulbs per sample,fresh weight per sample, dry weight per sample, fresh weight per plot, dry weight per plot and harves time. Response of giving cocoa waste compost not significantly to all observation parameters. Interaction between varieties and cocoa waste compost doses not significantlyto all observation parameters.
Abstract (other language): DYANNE GISELLA P TAMBAK : Respons Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pemberian Kompos Limbah Kakao Pada Tanah Inseptisol dibimbing oleh Luthfi Aziz Mahmud Siregar dan Rosmayati.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggap empat varietas bawang merah terhadap pemberian kompos limbah kakao pada tanah inseptisol, yang telah dilaksanakan di Lahan Kampus Universitas Tengku Amir Hamzah, Jalan Pancing, Medan Estate, Deli Serdang dari bulan April hingga July 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan faktor ganda, Faktor pertama adalah varietas yanaman antara lain Varietas Medan, Maja, Kuning dan Bali Karet. Faktor  kedua dosis kompos limbah kakao dengan 4 taraf, yaitu 0 g, 236 g, 472 g, dan 708 g.Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur.&#xD;
	Hasil analisis data menunjukkan bahwa varietas berbeda nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun pada 2 minggu setelah tanam, diameter umbi per sampel, bobot segar umbi per sampel, bobot kering per sampel, berat segar per plot, berat kering per plot dan umur panen.Dosis kompos limbah kakao tidak berbeda nyata seluruh parameter pengamatan. Interaksi antara varietas dan dosis kompos limbah kakaobelum berpengaruh nyata terhadap semua parameter</description>
      <pubDate>Thu, 02 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37253</guid>
      <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tambak, Dyanne Gisella P</dc:creator>
      <dc:description>DYANNE GISELLA P TAMBAK : Respons Beberapa Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pemberian Kompos Limbah Kakao Pada Tanah Inseptisol dibimbing oleh Luthfi Aziz Mahmud Siregar dan Rosmayati.&#xD;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggap empat varietas bawang merah terhadap pemberian kompos limbah kakao pada tanah inseptisol, yang telah dilaksanakan di Lahan Kampus Universitas Tengku Amir Hamzah, Jalan Pancing, Medan Estate, Deli Serdang dari bulan April hingga July 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan faktor ganda, Faktor pertama adalah varietas yanaman antara lain Varietas Medan, Maja, Kuning dan Bali Karet. Faktor  kedua dosis kompos limbah kakao dengan 4 taraf, yaitu 0 g, 236 g, 472 g, dan 708 g.Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur.&#xD;
	Hasil analisis data menunjukkan bahwa varietas berbeda nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun pada 2 minggu setelah tanam, diameter umbi per sampel, bobot segar umbi per sampel, bobot kering per sampel, berat segar per plot, berat kering per plot dan umur panen.Dosis kompos limbah kakao tidak berbeda nyata seluruh parameter pengamatan. Interaksi antara varietas dan dosis kompos limbah kakaobelum berpengaruh nyata terhadap semua parameter</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Konsentrasi Larutan Kitosan Jeruk Nipis Dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Tahu Segar</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37252</link>
      <description>Authors: Perangin-Angin, Brananda Hasiholan
Advisors: Karo-Karo, Terip; Rusmarilin, Herla
Abstract: Brananda Hasiholan Perangin-angin : The Effect of Lime Chitosan Concentration And Storage time on the Quality of Fresh Tofu supervised by Terip Karo-karo and Herla Rusmarilin.&#xD;
The research was conducted to determine the effect of lime chitosan concentration and storage time on the quality of fresh tofu. This study used a completely randomized design with two factors is: lime Chitosan  concentration (K) : 0.25%, 0.5%, 0.75%, 1% and1.25% and storage time (P) : 5, 10, and 15 days. The parameters analyzed were moisture content, ash content, total microbes, pH, protein content, and sensory characteristics (color, flavor and aroma, and texture).&#xD;
The results showed that the lime chitosan concentration had highly significant effect on all parameters and sensory characteristics. Storage time had highly significant effect on all parameters and sensory characteristics. Interaction of both factors had highly significant effect on total microbial, pH, protein content, and color, flavor and aroma. Lime chitosan concentration of 0.5% was the best treatment for the fresh tofu.
Abstract (other language): Brananda Hasiholan Perangin-angin : Pengaruh Konsentrasi Larutan Kitosan Jeruk Nipis Dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Tahu Segar dibimbing oleh Terip Karo-karo dan Herla Rusmarilin.&#xD;
	Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh larutan konsentrasi kitosan jeruk nipis dan lama penyimpanan terhadap mutu tahu segar. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu larutan kitosan jeruk nipis (K): (0,25%), (0,5%), (0,75%), (1%) dan (1,25%) dan lama penyimpanan (P) : (5 hari), (10 hari), dan (15 hari). Parameter yang dianalisa adalah kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik (warna, rasa dan aroma serta tekstur).&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan kitosan jeruk nipis memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik warna, aroma dan rasa serta tekstur. Lama Penyimpanan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa, serta tekstur. Interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik warna, rasa dan aroma. Konsentrasilarutan kitosan jeruk nipis 0,5% memberikan pengaruh yang terbaik untuk mutu tahu segar.</description>
      <pubDate>Thu, 02 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37252</guid>
      <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Perangin-Angin, Brananda Hasiholan</dc:creator>
      <dc:description>Brananda Hasiholan Perangin-angin : Pengaruh Konsentrasi Larutan Kitosan Jeruk Nipis Dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Tahu Segar dibimbing oleh Terip Karo-karo dan Herla Rusmarilin.&#xD;
	Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh larutan konsentrasi kitosan jeruk nipis dan lama penyimpanan terhadap mutu tahu segar. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu larutan kitosan jeruk nipis (K): (0,25%), (0,5%), (0,75%), (1%) dan (1,25%) dan lama penyimpanan (P) : (5 hari), (10 hari), dan (15 hari). Parameter yang dianalisa adalah kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik (warna, rasa dan aroma serta tekstur).&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan kitosan jeruk nipis memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik warna, aroma dan rasa serta tekstur. Lama Penyimpanan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total mikroba, pH, kadar protein, dan uji organoleptik warna, aroma dan rasa, serta tekstur. Interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap total mikroba, pH, kadar protein, dan nilai organoleptik warna, rasa dan aroma. Konsentrasilarutan kitosan jeruk nipis 0,5% memberikan pengaruh yang terbaik untuk mutu tahu segar.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Stroberi Di Desa Dolat Rayat Kecamatan Dolat Rayat Kabupaten Karo</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37241</link>
      <description>Authors: Fristama, Rovilino
Advisors: Tarigan, Kelin; Salmiah
Abstract (other language): Tanaman stroberi cocok diusahakan di daerah Tanah Karo, salah satunya terdapat di desa Dolat Rayat. Usahatani stroberi di daerah penelitian menggunkan faktor/input produksi yang terdiri dari lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan obat-obatan.&#xD;
	Metode penentuan daerah penelitian ditentukan secara purposive (sengaja). Penentuan dan penarikan sampel dilakukan secara sensus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dai data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh melalui instansi-instansi yang terkait seperti BPS, penyuluh pertanian dan monografi Desa Dolat Rayat, sedangkan data primer diperoleh melalui daftar kuisioner dan hasil wawancara langsung dengan petani. Kesimpulan dari penelitian ini adalah :&#xD;
1.	Produksi dan produktivitas stroberi di daerah penelitian adalah 62.384 Kg dan 6033,3 Kg/Ha masih jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan produktivitas menurut literatur/anjuran yaitu sebesar 57.142,85 Kg/Ha. Artinya produksi dan produktivitas stroberi di daerah penelitian masih tergolong rendah.&#xD;
2.	Faktor produksi lahan, bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja di daerah penelitian mempengaruhi produksi usahatani stroberi secara serempak dan secara parsial tidak mempengaruhi. &#xD;
3.	Penggunaan faktor produksi di daerah penelitian belum optimal. Hal ini dikarenakan faktor bibit, pupuk daun, pupuk kandang dan tenaga kerja melebihi optimal, agar penggunannya menjadi optimal pemakaian faktor tersebut harus dikurangi, sedangkan luas lahan, NPK, insektisida dan fungsida belum optimal, agar penggunannya menjadi optimal pemakaian faktor tersebut harus ditambah.</description>
      <pubDate>Wed, 01 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37241</guid>
      <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Fristama, Rovilino</dc:creator>
      <dc:description>Tanaman stroberi cocok diusahakan di daerah Tanah Karo, salah satunya terdapat di desa Dolat Rayat. Usahatani stroberi di daerah penelitian menggunkan faktor/input produksi yang terdiri dari lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan obat-obatan.&#xD;
	Metode penentuan daerah penelitian ditentukan secara purposive (sengaja). Penentuan dan penarikan sampel dilakukan secara sensus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dai data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh melalui instansi-instansi yang terkait seperti BPS, penyuluh pertanian dan monografi Desa Dolat Rayat, sedangkan data primer diperoleh melalui daftar kuisioner dan hasil wawancara langsung dengan petani. Kesimpulan dari penelitian ini adalah :&#xD;
1.	Produksi dan produktivitas stroberi di daerah penelitian adalah 62.384 Kg dan 6033,3 Kg/Ha masih jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan produktivitas menurut literatur/anjuran yaitu sebesar 57.142,85 Kg/Ha. Artinya produksi dan produktivitas stroberi di daerah penelitian masih tergolong rendah.&#xD;
2.	Faktor produksi lahan, bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja di daerah penelitian mempengaruhi produksi usahatani stroberi secara serempak dan secara parsial tidak mempengaruhi. &#xD;
3.	Penggunaan faktor produksi di daerah penelitian belum optimal. Hal ini dikarenakan faktor bibit, pupuk daun, pupuk kandang dan tenaga kerja melebihi optimal, agar penggunannya menjadi optimal pemakaian faktor tersebut harus dikurangi, sedangkan luas lahan, NPK, insektisida dan fungsida belum optimal, agar penggunannya menjadi optimal pemakaian faktor tersebut harus ditambah.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Evaluasi Karakter Morfologis dan Produksi Mutan Padi                  (Oryza  Sativa L.) Varietas Cibogo Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi M6 Dengan Aplikasi Pupuk N Dan P Yang Berbeda</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37224</link>
      <description>Authors: Mulana, Indra
Advisors: Bayu, Eva Sartini; Putri, Lollie Agustina P.
Abstract: INDRA MAULANA : Evaluation of Morphological Characters and production of Mutan Rice Cibogo Variety as a Result of Gamma Ray in M6 Generation by aplicating P and K Different Fertilizer. Supervised by Eva Sartini Bayu and Emmy Harso Kardhinata.&#xD;
	This reaserch is proposed to find the different of morphologies and mutan production of Cibogo variety as a result of gamma ray in M6 generation by aplicating P and K different fertilizer. Mutan Cibogo accurs as a result of gamma ray in M5 generation which uses SRI. This reaserch was held in Village Tumpatan Nibung, Batang Kuis, Medan, North Sumatra from June until september 2011 by using Randomized Plot Design with 2 factors, the first factor is nitrogen fertilizer, the doshes are N0(250 kg/ha) N1(300 kg/ha) N2(350 kg/ha) and the second factor is phospate, the doshes are P0(200 kg/ha) P1(250 kg/ha) P2(300 kg/ha). From the data analysis obtained that P and K fertilized treatment perform the significant effect to the plant height (103,09cm), number of tillers (29,76), the maximum number of tillers (29,76), number of productive tillers (27,96),panicle number (27,96), the number of panicle branches (10,29) ,number of grains per panicle (108,22 grains), 1000 grain weight (27,60 g),production per plant (2,01 kg) and production per hectare(8,89 tons) .Whereas the parameter of seed germination,time germination,the number of empty grains per panicle,the percentage of empty grains per panicle,length of vegetative stage,length stadia generative, age of flowering ,age of harvest and stem diameter had no significant effect.
Abstract (other language): INDRA MAULANA : Evaluasi Karakter Morfologi danProduksi Mutan Padi (Oryza sativa L.) Varietas Cibogo Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi M6 Dengan Aplikasi Pupuk N dan P yang Berbeda. Dibimbing oleh Eva Sartini Bayu dan Lollie Agustina P. Putri.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologis dan produksi mutan padi varietas Cibogo Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi M6 Metode SRI Dengan Aplikasi Pupuk N dan P yang Berbeda. Mutan cibogo terjadi sebagai akibat radiasi sinar gamma pada generasi M5 yang menggunakan SRI. Penelitian ini dilaksanakan di desa Tumpatan Nibung,Batang Kuis,Medan,Sumatera Utara pada bulan juni hingga bulan september2011 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor yang pertama pupuk nitrogen dengan dosis N0(250 kg/ha) N1(300 kg/ha)                   N2(350 kg/ha) dan yang kedua pupuk kalium dengan dosis P0(200 kg/ha) P1(250 kg/ha) P2(300 kg/ha). Dari hasil analisis data diperoleh bahwa perlakuan pupuk N dan P berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman (103,09cm), jumlah anakan (29,76), anakan maksimum (29,76), anakan produktif pertanaman (27,96), jumlah malai (27,96), jumlah cabang malai(10,29), gabah berisi(108,22 bulir), bobot 1000 butir(27,60 g), produksi pertanaman (2,01 kg) dan produksi perhektar (8,89 ton). Sedangkan pada parameter daya kecambah benih,saat muncul kecambah, lama stadia vegetatif, gabah hampa,persentase gabah hampa, lama stadia vegetatif, lama stadia generatif, umur berbunga, umur panen dan diameter batang tidak berpengaruh nyata.</description>
      <pubDate>Tue, 30 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37224</guid>
      <dc:date>2013-04-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Mulana, Indra</dc:creator>
      <dc:description>INDRA MAULANA : Evaluasi Karakter Morfologi danProduksi Mutan Padi (Oryza sativa L.) Varietas Cibogo Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi M6 Dengan Aplikasi Pupuk N dan P yang Berbeda. Dibimbing oleh Eva Sartini Bayu dan Lollie Agustina P. Putri.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologis dan produksi mutan padi varietas Cibogo Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi M6 Metode SRI Dengan Aplikasi Pupuk N dan P yang Berbeda. Mutan cibogo terjadi sebagai akibat radiasi sinar gamma pada generasi M5 yang menggunakan SRI. Penelitian ini dilaksanakan di desa Tumpatan Nibung,Batang Kuis,Medan,Sumatera Utara pada bulan juni hingga bulan september2011 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor yang pertama pupuk nitrogen dengan dosis N0(250 kg/ha) N1(300 kg/ha)                   N2(350 kg/ha) dan yang kedua pupuk kalium dengan dosis P0(200 kg/ha) P1(250 kg/ha) P2(300 kg/ha). Dari hasil analisis data diperoleh bahwa perlakuan pupuk N dan P berpengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman (103,09cm), jumlah anakan (29,76), anakan maksimum (29,76), anakan produktif pertanaman (27,96), jumlah malai (27,96), jumlah cabang malai(10,29), gabah berisi(108,22 bulir), bobot 1000 butir(27,60 g), produksi pertanaman (2,01 kg) dan produksi perhektar (8,89 ton). Sedangkan pada parameter daya kecambah benih,saat muncul kecambah, lama stadia vegetatif, gabah hampa,persentase gabah hampa, lama stadia vegetatif, lama stadia generatif, umur berbunga, umur panen dan diameter batang tidak berpengaruh nyata.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Tepung Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dalam Ransum dan Pengaruhnya terhadap Performans Broiler</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37214</link>
      <description>Authors: Lumbantoruan, Tahan M
Advisors: Aris, Soehady; Ginting, Nurzainah
Abstract: The objective this research is to study the effect of temulawak powder utilization (Curcuma xanthorriza Roxb) on the average of feed consumption, the growth of body weight and feed conversion. This research used one hundred broilers. The design used in this research is conplete random sampling (RAL) with five treatments ; R0, Rl, R2, R3, and R4 with resvective level of temulawak (0%, 1%, 2%, 3%, and 4%), each treatment consist of five broilers. The parameter measured is the average of feed consumption, the growth of body weight, and feed conversion.&#xD;
The result of research indicated that average feed consumption (g/poultry/week) were significantly different (PO.01) among treatment (R0=402,78; Rl=325,04; R2=350,77; R3=322,75; R4=309,90) and was significantly different (P&lt;0.01) that growth of body weight (g/poultry/week) : (R0=298,17; Rl=243,67; R2=276,85; R3=241,32; R4=231,58) but were not significant different that feed conversion of broiler (R0=l,29; Rl=l,28; R2=l,21; R3=l,27; R4=l,32) and also mortality (poultry) ratio (R0=3; Rl=5; R2=2; R3=2; R4=l). It is concluded that aplication of temulawak powder (Curcuma xanthorriza Roxb) is not effective to increase of feed consumption, growth of body weight and feed conversion of broiler however it can decrease the mortality.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penggunaan tepung temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Penelitian ini menggunakan seratus ekor broiler. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acap lengkap (RAL) dimana lima perlakuan (R0, RI, R2, R3 dan R4) dimana level temulawak masing-masing (0%, 1%, 2%, 3% dan 4%) setiap perlakuan terdiri dari empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata (P&lt;0.01) terhadap konsumsi ransum (g/ekor/minggu): (R0=402.78; Rl=325.04; R2=350.77; R3=322.76; R4=309.90) dan berpengaruh sangat nyata (P&lt;0.01) terhadap pertambahan bobot badan (g/ekor/minggu): (Rl=298.17; R2=243.67; R2=276.85; R3=241.32; R4=231.58) dan konversi ransum broiler (R0=1.29; Rl=1.28; R2=1.21; R3=1.27; R4=1.32) serta tingkat mortalitas (ekor): (R0=3; Rl=5; R2=2; R3=2; R4=l). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) kurang efektif dalam meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum akan tetapi dapat menekan tingkat mortalitas.</description>
      <pubDate>Tue, 30 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37214</guid>
      <dc:date>2013-04-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Lumbantoruan, Tahan M</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penggunaan tepung temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Penelitian ini menggunakan seratus ekor broiler. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acap lengkap (RAL) dimana lima perlakuan (R0, RI, R2, R3 dan R4) dimana level temulawak masing-masing (0%, 1%, 2%, 3% dan 4%) setiap perlakuan terdiri dari empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata (P&lt;0.01) terhadap konsumsi ransum (g/ekor/minggu): (R0=402.78; Rl=325.04; R2=350.77; R3=322.76; R4=309.90) dan berpengaruh sangat nyata (P&lt;0.01) terhadap pertambahan bobot badan (g/ekor/minggu): (Rl=298.17; R2=243.67; R2=276.85; R3=241.32; R4=231.58) dan konversi ransum broiler (R0=1.29; Rl=1.28; R2=1.21; R3=1.27; R4=1.32) serta tingkat mortalitas (ekor): (R0=3; Rl=5; R2=2; R3=2; R4=l). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) kurang efektif dalam meningkatkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum akan tetapi dapat menekan tingkat mortalitas.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Tingkat Bahaya Erosi (Tbe) Tanah Andisol Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan Dengan Metode Usle Di Desa Kuta Rakyat Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37207</link>
      <description>Authors: Simanungkalit, Amos
Advisors: Nasution, Zulkifli; Sembiring, Mariani
Abstract (other language): Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Tanah Andisol Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan dengan Menggunakan Metode USLE di Desa Kutarakyat Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo, di bimbing oleh Prof. Ir. Zulkifli Naustion, MSc, PhD sebagai ketua komisi pembimbing dan Mariani Sembiring , SP, MP sebagai anggota komisi pembimbing.&#xD;
Desa Kutarakyat Kecamtan Namanteran Kabupaten Karo merupakan daerah desa yang langsung bertepatan dengan Kabupaten Langkat dimana daerah ini masih didominasi oleh daerah hutan. Vegetasi yang masih serta kemiringan lereng mulai dari landai, curam sampai datar di daerah ini menjadi pemicu masalah erosi tanah. Untuk mengetahui tingkat erosi tanah Desa Kutarakyat dilakukan suatu penelitian pada Juni-September 2011. Penelitian ini menggunakan metode survey dan dilanjutkan  perhitungan laju erosi tanah metode USLE (Universal Soil Loss Equation). &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan erosi tertinggi terdapat di daerah tanaman semusim pada kemiringan lereng 30% yaitu sebesar 28, 803 dengan tingkat bahaya erosi kriteria sangat tinggi. Sebaliknya, nilai erosi tanah terendah terdapat di daerah tanaman hutan pada kemiringan 8% yaitu sebesar 0,163 dengan tingkat bahaya erosi kriteria sedang.</description>
      <pubDate>Mon, 29 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37207</guid>
      <dc:date>2013-04-29T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Simanungkalit, Amos</dc:creator>
      <dc:description>Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Tanah Andisol Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan dengan Menggunakan Metode USLE di Desa Kutarakyat Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo, di bimbing oleh Prof. Ir. Zulkifli Naustion, MSc, PhD sebagai ketua komisi pembimbing dan Mariani Sembiring , SP, MP sebagai anggota komisi pembimbing.&#xD;
Desa Kutarakyat Kecamtan Namanteran Kabupaten Karo merupakan daerah desa yang langsung bertepatan dengan Kabupaten Langkat dimana daerah ini masih didominasi oleh daerah hutan. Vegetasi yang masih serta kemiringan lereng mulai dari landai, curam sampai datar di daerah ini menjadi pemicu masalah erosi tanah. Untuk mengetahui tingkat erosi tanah Desa Kutarakyat dilakukan suatu penelitian pada Juni-September 2011. Penelitian ini menggunakan metode survey dan dilanjutkan  perhitungan laju erosi tanah metode USLE (Universal Soil Loss Equation). &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan erosi tertinggi terdapat di daerah tanaman semusim pada kemiringan lereng 30% yaitu sebesar 28, 803 dengan tingkat bahaya erosi kriteria sangat tinggi. Sebaliknya, nilai erosi tanah terendah terdapat di daerah tanaman hutan pada kemiringan 8% yaitu sebesar 0,163 dengan tingkat bahaya erosi kriteria sedang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Uji Efektifitas Beberapa Jenis Insektisida Botani dengan Dosis dan Cara Aplikasi yang Berbeda untuk Mengendalikan Penggerek Umbi Kentang Phthorimaea operculella Zell. (Lepidoptera: Gelechiidae) di Gudang</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37169</link>
      <description>Authors: Hutabarat, Lilis S
Advisors: Tobing, M. Cyccu; Tarigan, Mena Uly
Abstract: Lilis Suriani Hutabarat, “The Effectivity of Botanical Insecticides with Different Dose and Application to Control Potato Tuber Moth Phthorimaea operculella Zell. (Lepidoptera: Gelechiidae) in Bond” under the guidance of Maryani Cyccu Tobing and Mena Uly Tarigan. The objectives of the research were to study the effectivities of botanical insecticides to control Phthorimaea operculella in bond. The research was conducted from August to November 2011 in bond UPT.BBI.Kutagadung.Berastagi. The research used randomized complete design with two factors, the first factor was botanical insecticides (control, neem 50, 75, 100 gr; citronella grass 50, 75, 100 gr; lead tree 50, 75, 100 gr) and the second factor was application (dry leaf and dipping) with 20 treatments and three replications.&#xD;
The results showed that the highest attack percentage and population of P. operculella on the 44 days after application (daa) are in treatment control (dry leaf and dipping) respectively 46,67% and 38,33% with pest population 21,67 and 19,00 and lowest in all of dry leaf treatment and neem 75 gr/dipping, neem 100 gr/dipping, and citronella grass 100 gr/dipping respectively 0% (there is no pest attack). Botanical insecticide was not causes damage of potato tuber morphology and decrease potato weight.
Abstract (other language): Lilis Suriani Hutabarat, “Uji Efektifitas Beberapa Jenis Insektisida Botani dengan Dosis dan Cara Aplikasi yang Berbeda untuk Mengendalikan Penggerek Umbi Kentang Phthorimaea operculella Zell. (Lepidoptera: Gelechiidae) di Gudang” di bawah bimbingan Maryani Cyccu Tobing dan Mena Uly Tarigan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas insektisida botani untuk mengendalikan penggerek umbi kentang Phthorimaea operculella Zell. di gudang. Penelitian dilakukan pada Agustus-November 2011 di Gudang UPT.BBI.Kutagadung Berastagi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor yaitu faktor pertama adalah jenis insektisida botani (kontrol; mimba 50, 75, 100 gr; serai wangi 50, 75, 100 gr; petai cina 50, 75, 100 gr) dan faktor kedua adalah metode aplikasi (daun kering dan pencelupan) dengan 20 perlakuan dan tiga ulangan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan dan populasi P. operculella tertinggi pada 44 hsa yaitu perlakuan kontrol (daun kering dan pencelupan) sebesar 46,67% dan 38,33% dengan populasi hama 21,67 dan 19,00 ekor dan terendah pada semua perlakuan daun kering dan mimba 75 gr/celup, mimba 100 gr/celup dan serai wangi 100 gr/celup sebesar 0% (tidak ada serangan hama). Perlakuan insektisida botani tidak menyebabkan perubahan pada morfologi umbi kentang dan susut bobotnya.</description>
      <pubDate>Sat, 27 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37169</guid>
      <dc:date>2013-04-27T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hutabarat, Lilis S</dc:creator>
      <dc:description>Lilis Suriani Hutabarat, “Uji Efektifitas Beberapa Jenis Insektisida Botani dengan Dosis dan Cara Aplikasi yang Berbeda untuk Mengendalikan Penggerek Umbi Kentang Phthorimaea operculella Zell. (Lepidoptera: Gelechiidae) di Gudang” di bawah bimbingan Maryani Cyccu Tobing dan Mena Uly Tarigan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas insektisida botani untuk mengendalikan penggerek umbi kentang Phthorimaea operculella Zell. di gudang. Penelitian dilakukan pada Agustus-November 2011 di Gudang UPT.BBI.Kutagadung Berastagi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor yaitu faktor pertama adalah jenis insektisida botani (kontrol; mimba 50, 75, 100 gr; serai wangi 50, 75, 100 gr; petai cina 50, 75, 100 gr) dan faktor kedua adalah metode aplikasi (daun kering dan pencelupan) dengan 20 perlakuan dan tiga ulangan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan dan populasi P. operculella tertinggi pada 44 hsa yaitu perlakuan kontrol (daun kering dan pencelupan) sebesar 46,67% dan 38,33% dengan populasi hama 21,67 dan 19,00 ekor dan terendah pada semua perlakuan daun kering dan mimba 75 gr/celup, mimba 100 gr/celup dan serai wangi 100 gr/celup sebesar 0% (tidak ada serangan hama). Perlakuan insektisida botani tidak menyebabkan perubahan pada morfologi umbi kentang dan susut bobotnya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Tingkat Ketersediaan Logam Berat Kadmium Akibat Pemberian Beberapa Sumber Fosfat dan Waktu Inkubasi pada Bahan Tanah Andisol</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37156</link>
      <description>Authors: Hutagalung, Irene
Advisors: Razali; Rauf, Abdul
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan ketersediaan logam&#xD;
berat Kadmium (Cd) akibat pemberian beberapa sumber fosfat dan juga waktu&#xD;
inkubasi yang berbeda-beda pada bahan tanah Andisol. Untuk itu maka dilakukan&#xD;
percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial untuk&#xD;
mengetahui pengaruh tunggal maupun interaksi dari beberapa sumber pupuk P&#xD;
dan waktu inkubasi terhadap P-tersedia tanah, Cd-tersedia tanah, dan pH H2O&#xD;
tanah.&#xD;
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah dan&#xD;
Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara&#xD;
Medan. Perlakuan percobaan ini yaitu dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan,&#xD;
yaitu: Faktor I beberapa sumber P yang terdiri dari 4 jenis yang di aplikasikan&#xD;
dengan dosis pemberian senilai KFS, yaitu Pupuk SP-36 (P1), Pupuk Rock&#xD;
Phospat (P2), Kompos (P3) dan Kotoran kerbau (P4). Faktor II lamanya waktu&#xD;
inkubasi, yaitu 0 hari waktu inkubasi (T1), 5 hari waktu inkubasi (T2), 10 hari&#xD;
waktu inkubasi (T3), 15 hari waktu inkubasi (T4), 20 hari waktu inkubasi (T5),&#xD;
25 hari waktu inkubasi (T6), dan 30 hari waktu inkubasi (T7).&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi beberapa sumber fosfat&#xD;
berpengaruh nyata meningkatkan ketersediaan logam berat Kadmium (Cd) pada&#xD;
bahan tanah Andisol, aplikasi beberapa sumber P juga memberikan pengaruh yang&#xD;
sangat nyata terhadap P-tersedia dan pH H2O. Waktu Inkubasi berpengaruh sangat&#xD;
nyata meningkatkan P-tersedia, Cd-tersedia, dan pH H2O pada bahan tanah&#xD;
Andisol. Interaksi pemberian beberapa sumber fosfat dan waktu inkubasi&#xD;
berpengaruh sangat nyata terhadap P-tersedia dan pH H2O, tetapi tidak&#xD;
berpengaruh nyata terhadap Cd-tersedia.</description>
      <pubDate>Fri, 26 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37156</guid>
      <dc:date>2013-04-26T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hutagalung, Irene</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan ketersediaan logam&#xD;
berat Kadmium (Cd) akibat pemberian beberapa sumber fosfat dan juga waktu&#xD;
inkubasi yang berbeda-beda pada bahan tanah Andisol. Untuk itu maka dilakukan&#xD;
percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial untuk&#xD;
mengetahui pengaruh tunggal maupun interaksi dari beberapa sumber pupuk P&#xD;
dan waktu inkubasi terhadap P-tersedia tanah, Cd-tersedia tanah, dan pH H2O&#xD;
tanah.&#xD;
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah dan&#xD;
Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara&#xD;
Medan. Perlakuan percobaan ini yaitu dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan,&#xD;
yaitu: Faktor I beberapa sumber P yang terdiri dari 4 jenis yang di aplikasikan&#xD;
dengan dosis pemberian senilai KFS, yaitu Pupuk SP-36 (P1), Pupuk Rock&#xD;
Phospat (P2), Kompos (P3) dan Kotoran kerbau (P4). Faktor II lamanya waktu&#xD;
inkubasi, yaitu 0 hari waktu inkubasi (T1), 5 hari waktu inkubasi (T2), 10 hari&#xD;
waktu inkubasi (T3), 15 hari waktu inkubasi (T4), 20 hari waktu inkubasi (T5),&#xD;
25 hari waktu inkubasi (T6), dan 30 hari waktu inkubasi (T7).&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi beberapa sumber fosfat&#xD;
berpengaruh nyata meningkatkan ketersediaan logam berat Kadmium (Cd) pada&#xD;
bahan tanah Andisol, aplikasi beberapa sumber P juga memberikan pengaruh yang&#xD;
sangat nyata terhadap P-tersedia dan pH H2O. Waktu Inkubasi berpengaruh sangat&#xD;
nyata meningkatkan P-tersedia, Cd-tersedia, dan pH H2O pada bahan tanah&#xD;
Andisol. Interaksi pemberian beberapa sumber fosfat dan waktu inkubasi&#xD;
berpengaruh sangat nyata terhadap P-tersedia dan pH H2O, tetapi tidak&#xD;
berpengaruh nyata terhadap Cd-tersedia.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Uji Antagonisme Isolat Mutan Sclerotium rolfsii Sacc Terhadap Isolat Tipe Liar Sclerotium rolfsii Sacc di Laboratorium</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37141</link>
      <description>Authors: Nasution, Nurainun
Advisors: Hasanuddin
Abstract: Nurainun Nasution, “Antagonism test between mutated isolate  of  Sclerotium rolfsii Sacc. against wild type isolate of Sclerotium rolfsii Sacc.  in laboratory, supervised by Hasanuddin and Darma Bakti. This research aims to determine ability from mutated isolate of S. rolfsii to inhibit wild type isolate of             S. rolfsii’s growth in laboratory. It was conducted in Plant Pathology Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Sumatra Utara, Medan from September until November 2012. It was done by using Completely Randomized Design Non Factorial with 7 treatments and 3 replications.&#xD;
This research’s result showed that highest percentage of inhibiting zones contained at 10 minutes UV irradiated isolate (M2) at 67,63 %  and the lowest were at 30 minutes UV irradiated isolate (M6) at 52,80 %. Macroschopis of                  S. rolfsii experience of the change at 15 and 30 minutes UV irradiated isolate                (M3 and M6) were in the form of colony more dense and compact, myselium like cotton and hyphae in the form of refinement. Mutated isolate of S. rolfsii at 15, 20, 25, 30 minutes UV irradiated able to inhibit wild type isolate of S. rolfsii from producing sclerotia. UV Irradiation length is inversely proportional with mutated of S. rolfsii’s growth speed and 30 minutes UV irradiated isolate decreasing               S. rolfsii’s pathogenecity and virulency towards plants.
Abstract (other language): Nurainun Nasution, “Uji antagonisme isolat mutan Sclerotium rolfsii Sacc. terhadap isolat tipe liar Sclerotium rolfsii Sacc. di laboratorium” dibawah bimbingan Hasanuddin dan Darma Bakti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat mutan S. rolfsii dalam menghambat pertumbuhan isolat tipe liar S. rolfsii di laboratorium. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada bulan September sampai November 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase daerah hambatan tertinggi terdapat pada isolat yang dipapari UV 10 menit (M2) sebesar 67,63 % dan terendah pada isolat yang dipapari UV 30 menit (M6) sebesar 52,80 %. Makroskopis dari S. rolfsii mengalami perubahan pada isolat yang dipapari UV selama 15 dan 30 menit (M3 dan M6) yaitu koloni rapat, miselium seperti kapas dan hifa halus. Isolat mutan S. rolfsii yang dipapari UV selama 15, 20, 25, dan 30 menit mampu menghambat pembentukan sklerotia isolat tipe liar  S. rolfsii. Lama penyinaran berbanding terbalik dengan kecepatan pertumbuhan koloni dan pemaparan UV selama 30 menit (M6) menurunkan patogenesitas dan virulensi                  S. rolfsii terhadap tanaman.</description>
      <pubDate>Fri, 26 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37141</guid>
      <dc:date>2013-04-26T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nasution, Nurainun</dc:creator>
      <dc:description>Nurainun Nasution, “Uji antagonisme isolat mutan Sclerotium rolfsii Sacc. terhadap isolat tipe liar Sclerotium rolfsii Sacc. di laboratorium” dibawah bimbingan Hasanuddin dan Darma Bakti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat mutan S. rolfsii dalam menghambat pertumbuhan isolat tipe liar S. rolfsii di laboratorium. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada bulan September sampai November 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase daerah hambatan tertinggi terdapat pada isolat yang dipapari UV 10 menit (M2) sebesar 67,63 % dan terendah pada isolat yang dipapari UV 30 menit (M6) sebesar 52,80 %. Makroskopis dari S. rolfsii mengalami perubahan pada isolat yang dipapari UV selama 15 dan 30 menit (M3 dan M6) yaitu koloni rapat, miselium seperti kapas dan hifa halus. Isolat mutan S. rolfsii yang dipapari UV selama 15, 20, 25, dan 30 menit mampu menghambat pembentukan sklerotia isolat tipe liar  S. rolfsii. Lama penyinaran berbanding terbalik dengan kecepatan pertumbuhan koloni dan pemaparan UV selama 30 menit (M6) menurunkan patogenesitas dan virulensi                  S. rolfsii terhadap tanaman.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perbandingan Berat Kacang Kedelai Tergerminasi dan Biji Nangka dan Konsentrasi Ragi pada Pembuatan Tempe</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37137</link>
      <description>Authors: Purba, Lely Sepryda
Advisors: Ginting, Sentosa; Nurminah, Mimi
Abstract: The research was perfomed to find the ratio of germination soybean and jackfruit’s seed and fermentation agent concentration in a process of making tempeh. The research had been performed using factorial completely randomized design with two factor i.e : the ratio of germination soybean and jackfruit’s seed (K) : (90:10; 80:20; 70:30; 60:40) and concentration of fermentation agent (R) : (0,2; 0,4; 0,6; 0,8%). Parameters analysed were protein content, fat content, mineral content, water content, and organoleptic values (flavour, taste, and texture). The research showed that ratio of germination soybean and jackfruit’s seed had highly significant effect on protein content, mineral content, water content, and organoleptic values (flavour, taste), and significant effect on organoleptic texture, no significant effect on fat content. The concentration of fermentation agent had highly effect on protein content, fat content, mineral content, water content, and organoleptic values (flavour, taste, texture). The interaction of ratio of germination soybean and jackfruit’s seed and concentration of fermentation agent had highly significant effect on protein content and had no significant effect on fat content, mineral content, water content, and organoleptic values (flavour, taste, texture). The ratio of germination soybean and jackfruit’s seed at 80:20 and 0,8% concentration of fermentation agent produced the best quality of tempeh.
Abstract (other language): Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dan biji nangka dan konsentrasi ragi pada pembuatan tempe. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yakni perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka (K) : (90:10; 80:20; 70:30; 60:40) dan konsentrasi ragi (R) : (0,2; 0,4; 0,6; 0,8%). Parameter analisa adalah kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan nilai organoleptik (aroma, rasa, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar protein, kadar abu, kadar air, uji organoleptik aroma, rasa, memberi pengaruh berbeda nyata terhadap uji organoleptik tekstur, dan memberi pengaruh tidak nyata terhadap kadar lemak. Konsentrasi ragi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan uji organoleptik (aroma, rasa, tekstur). Interaksi perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka dan konsentrasi ragi memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan uji organoleptik (aroma, rasa, tekstur). Perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka pada 80:20 dan konsentrasi ragi 0,8% menghasilkan mutu tempe yang baik.</description>
      <pubDate>Thu, 25 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37137</guid>
      <dc:date>2013-04-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Purba, Lely Sepryda</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dan biji nangka dan konsentrasi ragi pada pembuatan tempe. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yakni perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka (K) : (90:10; 80:20; 70:30; 60:40) dan konsentrasi ragi (R) : (0,2; 0,4; 0,6; 0,8%). Parameter analisa adalah kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan nilai organoleptik (aroma, rasa, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar protein, kadar abu, kadar air, uji organoleptik aroma, rasa, memberi pengaruh berbeda nyata terhadap uji organoleptik tekstur, dan memberi pengaruh tidak nyata terhadap kadar lemak. Konsentrasi ragi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan uji organoleptik (aroma, rasa, tekstur). Interaksi perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka dan konsentrasi ragi memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan uji organoleptik (aroma, rasa, tekstur). Perbandingan berat kacang kedelai tergerminasi dengan biji nangka pada 80:20 dan konsentrasi ragi 0,8% menghasilkan mutu tempe yang baik.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakteristik sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Penerapan Teknologi Pertanian Semi Organik Pada Komoditi Padi Sawah</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37119</link>
      <description>Authors: Ramadhani, Wulan
Advisors: Hasyim, Hasman; Butar-Butar, Hasudungan
Abstract (other language): Wulan Ramadhani (080309052) dengan judul skripsi “Karakteristik sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Penerapan Teknologi Pertanian Semi Organik Pada Komoditi Padi Sawah”. Studi Kasus : Desa Sambirejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat yang dibimbing  oleh Bapak Ir. H. Hasman Hasyim, M.Si dan Bapak Ir. Hasudungan Butar Butar, M.Si.&#xD;
	Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat adopsi petani terhadap teknologi pertanian semi organik padi sawah di daerah penelitian dan untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi penerapan teknologi pertanian semi organik pada komodidti padi sawah di daerah penelitian. &#xD;
	Metode penilitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda menggunakan model persamaan Cobb Douglas dengan alat bantu SPSS 15. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional pada kondisi populasi heterogen dan berstrata dengan jumlah sampel sebanyak 30 petani. Data yang digunakan adalah data primer dan data skunder.&#xD;
	Hasil penelitian tingkat adopsi petani terhadap pertanian semi organik padi sawah di daerah penelitian adalah sedang dengan skor rata-rata 25.27. Karakteristik sosial ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi adalah pendidikan dan tingkat partisipasi petani, sementara umur, lama berusahatani, tingkat kosmopolitan, jumlah tanggungan, luas lahan dan total pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi teknologi pertanian semi organik pada komoditi padi sawah di daerah penelitian.</description>
      <pubDate>Thu, 25 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37119</guid>
      <dc:date>2013-04-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ramadhani, Wulan</dc:creator>
      <dc:description>Wulan Ramadhani (080309052) dengan judul skripsi “Karakteristik sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Penerapan Teknologi Pertanian Semi Organik Pada Komoditi Padi Sawah”. Studi Kasus : Desa Sambirejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat yang dibimbing  oleh Bapak Ir. H. Hasman Hasyim, M.Si dan Bapak Ir. Hasudungan Butar Butar, M.Si.&#xD;
	Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat adopsi petani terhadap teknologi pertanian semi organik padi sawah di daerah penelitian dan untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi penerapan teknologi pertanian semi organik pada komodidti padi sawah di daerah penelitian. &#xD;
	Metode penilitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda menggunakan model persamaan Cobb Douglas dengan alat bantu SPSS 15. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional pada kondisi populasi heterogen dan berstrata dengan jumlah sampel sebanyak 30 petani. Data yang digunakan adalah data primer dan data skunder.&#xD;
	Hasil penelitian tingkat adopsi petani terhadap pertanian semi organik padi sawah di daerah penelitian adalah sedang dengan skor rata-rata 25.27. Karakteristik sosial ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi adalah pendidikan dan tingkat partisipasi petani, sementara umur, lama berusahatani, tingkat kosmopolitan, jumlah tanggungan, luas lahan dan total pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi teknologi pertanian semi organik pada komoditi padi sawah di daerah penelitian.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Level Tepung Ikan Dalam Ransum Terhadap Produksi Tehur Ayam Buras Umur 64 - 70 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37082</link>
      <description>Authors: Mangetan, Stanley
Advisors: Nasution, Hasan Fuad; Roeswandy
Abstract: Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara mulai bulan April sampai Mei 2002.&#xD;
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh levd tepung ikan dalam ransum terhadap konsumsi ransum (gram), produksi telur (gram), produksi telur (%) dan konversi ransum pada ayam buras umur 64-70 minggiL&#xD;
Rancangan Penelitian yang digunakan dalam pendirian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 5 perlakuan yaitu R0 (ransum tanpa tepung ikan), RI (ransum dengan penggunaan 3% tepung ikan), R2 (ransum dengan penggunaan 6% tepung ikan), R3 (ransum dengan penggunaan 9% tepung Icau) dan R4 (ransum dengan penggunaan 12% tepung ikan). Setiap perlakuan diulang 4 kafi dan setiap mât perlakuan terdiri aari 2 ekor ayant&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum (gram), produksi tdur (gnm\ produksi fefcar (% Hen Day) dan konversi ransum.</description>
      <pubDate>Sat, 20 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37082</guid>
      <dc:date>2013-04-20T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Mangetan, Stanley</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Suplementasi Mineral Zinkum terhadap  Produksi, Fertilitas dan Daya Tetas Telur  Burung Puyuh (Cotumfc-cotumm japónica) Umur 6-14 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37077</link>
      <description>Authors: Sitindaon, Sri Haryani
Advisors: Siregar, Zulfikar; Rifa'i, Juharnomi
Abstract: This research was conducted at Paya gambar village, Batang Kuis since 11 April up to 22 June 2005.&#xD;
The purposes of this research is to test the impact of mineral suplement of Zinkum to production, fertility and hatchability of quail eggs (Coturnix-coturnix japónica) in the age of 6-14 weeks of age.&#xD;
The method of research is completly randomized design (LKD) with 4 treatment and 5 repeat. The treatment are RO^ without Zinkum mineral suplement, Rl=37,5 mg Zinkum mineral /kg feedstuff, R2=75 mg Zinkum mineral/kg feedstuff, R3=l 12,5 mg/kg feedstuff.&#xD;
The result of study indicated the average of egg production (%) 42,46 with the higher production on R3 about 43,91 and the lower on R0 for 40,92. The average fertility (%) is 92,86 with the higher fertility on R3 about 97,14 and the lower on R0 for 88,57. The average of hatchability (%) is 83,93 with the higher hatchability on R3 for 92,61 and the lower on R0 for 80,62.&#xD;
In conclusion, the mineral suplement of Zinkum in level 112,5 mg signifikan to increase production, fertility and hatchability of quail eggs (Coturnix-coturnix japónica) in the age of 6-14 weeks of age.
Abstract (other language): Penelitian dilaksanakan di desa Paya Gambar, Batang Kuis mulai 11 April sampai 22 Juni 2005.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk menguji pengaruh suplementasi mineral Zinkum terhadap produksi, fertilitas dan daya tetas telur burung puyuh (Coturnic-coturnic japónica) pada umur 6-14 minggu.&#xD;
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan tersebut yaitu R0 = tanpa suplemetasi mineral Zinkum, RI = 37,5 mg mineral Zinkum/kg ransum, R2 = 75 mg mineral Zinkum/kg ransum dan R3 - 112,5 mg mineral Zinkum/kg ransum.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh rataan produksi telur (%) sebesar 42,46 dengan produksi paling tinggi pada R3 sebesar 43,91 dan terendah pada R0 sebesar 40,92. Rataan fertilitas (%) diperoleh sebesar 92,86 dengan fertilitas tertinggi pada R3 sebesar 97,14 dan terendah pada R0 sebesar 88,57. Rataan daya tetas (%) diperoleh sebesar 83,93 dengan daya tetas tertinggi pada R3 sebesar 92,61 dan yang paling rendah pada R0 sebesar 80,62.&#xD;
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi mineral Zinkum pada taraf 112,5 mg berpengaruh nyata meningkatkan produksi, fertilitas dan daya tetas telur burung puyuh (Cotumix-coturnix japónica) umur 6-14 minggu.</description>
      <pubDate>Sat, 20 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37077</guid>
      <dc:date>2013-04-20T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sitindaon, Sri Haryani</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian dilaksanakan di desa Paya Gambar, Batang Kuis mulai 11 April sampai 22 Juni 2005.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk menguji pengaruh suplementasi mineral Zinkum terhadap produksi, fertilitas dan daya tetas telur burung puyuh (Coturnic-coturnic japónica) pada umur 6-14 minggu.&#xD;
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan tersebut yaitu R0 = tanpa suplemetasi mineral Zinkum, RI = 37,5 mg mineral Zinkum/kg ransum, R2 = 75 mg mineral Zinkum/kg ransum dan R3 - 112,5 mg mineral Zinkum/kg ransum.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh rataan produksi telur (%) sebesar 42,46 dengan produksi paling tinggi pada R3 sebesar 43,91 dan terendah pada R0 sebesar 40,92. Rataan fertilitas (%) diperoleh sebesar 92,86 dengan fertilitas tertinggi pada R3 sebesar 97,14 dan terendah pada R0 sebesar 88,57. Rataan daya tetas (%) diperoleh sebesar 83,93 dengan daya tetas tertinggi pada R3 sebesar 92,61 dan yang paling rendah pada R0 sebesar 80,62.&#xD;
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi mineral Zinkum pada taraf 112,5 mg berpengaruh nyata meningkatkan produksi, fertilitas dan daya tetas telur burung puyuh (Cotumix-coturnix japónica) umur 6-14 minggu.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Kulit Buah Markisa (Passiflora edulis) Fermentasi (Aspergillus niger) dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler Umur 0-8 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37076</link>
      <description>Authors: Siswanto
Advisors: Wahyuni, Tri Hesti; Umar, Namida
Abstract: This research conducted at Biological Veterinery Laboratory at the Animal Husbandary Department of Agriculture Faculty at Sumatera Utara University at Dr. Sofyan street no 3 * Medan, for two months started from December 2004 to January 2005. This research aimed observe the responce of giving the husk fruit of marquisa fermented by Aspergillus niger in feed on the performance of broiler.&#xD;
The husk fruit of marquisa a by product of agriculture industry is not commonly used in feed due to some limmiting factors such as low protein rate and high crude fiber content. Through fermentation process this constrictor factors expected can lessen. This research was using completly randomized experimental design with five treatment, four replications and each replication consisted of five chick. The treatment was Ro (Control), Ri (4% of husk fruit of marquisa fermented in feed), R2 (8% of husk fruit of marquisa fermented in feed), R3 (12% of husk fruit of marquisa fermented in feed), Rt (16% of husk fruit of marquisa fermented in feed) respectively. The research observed Feed Intake, average daily gain (ADG), and feed conversion ratio (FCR) of broiler.&#xD;
The result of research that Feed Intake (g/chick/week) was: (714.95 ; 697.12; 691.38; 681.78 and 677.22 respectively) with average 692.49 g/chick/week, and the effect of feed intake on this research was decrease signicantly different (P&lt;0.05). average daily gain (ADG) (g/chick/week) was: (365.50; 321.53; 298.76; 293.27; and 269.11 respectively) with average 309.63 g/chick/week, and the effect of ADG at this research was decrease very signicantly different (P&lt;0.01). The Feed Conversion Ratio (g/chick/week) was: (2.60; 2.45; 2.33; 2.25; and 1.94 respectively) with average 2.31 and the effect of FCR at this research was not signicantly different (P&gt;0.05).&#xD;
The result of the research showed that the husk fruit of marquisa (Passiflora edulis) fermentated at the level 4%-16% in feed decreased Feed Intake, average daily gain (ADG), and increase feed conversion ratio of broiler, and the conclution of this research showed that the husk of marquisa fermented could be used until level 4%
Abstract (other language): Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Jl. Dr. A. Sofyan no. 3 Medan, dilaksanakan selama dua bulan dimulai dari bulan Desember 2004 sampai dengan bulan Januari 2005. Penelitian ini bertujuan untuk menguji respon pemberian tepung kulit buah markisa yang di fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum terhadap performans ayam broiler.&#xD;
Kulit buah markisa merupakan salah satu limbah industri pertanian yang sampai saat ini belum umum digunakan untuk pakan unggas karena mempunyai beberapa faktor pembatas seperti kadar protein yang rendah dan kadar serat kasar yang tinggi. Melalui proses fermentasi, faktor pembatas ini diharapkan dapat dikurangi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan lima perlakuan, empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor DOC. Adapun ransum perlakuan yang diberikan adalah : Ro (ransum kontrol), Ri (ransum dengan 4% kulit buah markisa fermentasi), R2 (ransum dengan 8% kulit buah markisa fermentasi), R3 (ransum dengan 12% kulit buah markisa fermentasi), R, (ransum dengan 16% kulit buah markisa fermentasi). Penelitian ini yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan berat badan, dan konversi pakan (FCR)&#xD;
Hasil penelitian diperoleh konsumsi ransum berturut-turut (g/ekor/minggu) adalah .(714.95; 697.12; 691.38; 681.78 dan 677.22) dengan rataan sebesar 692.49 g/ekor/minggu, dan pengaruh yang didapat dari parameter konsumsi pada penelitian ini adalah nyata menurunkan (P&lt;0.05). sedangkan pertambahan bobot badan (g/ekor/minggu) adalah: (365.50; 321.53; 298.76; 293.27 dan 269.11) dengan rataan sebesar 309.63 (g/ekor/minggu) dan pengaruh yang didapat pada parameter pertambahan berat badan adalah sangat nyata menurunkan (P&lt;0.01). Hasil dari feed conversi ratio : (2.60; 2.45; 2.33; 2.25; dan 1.94) dengan rataan sebesar 2.31, dan pengaruh yang didapat pada parameter penelitian FCR adalah tidak nyata (P&gt;0.05).&#xD;
Dari hasil penelitian ini didapat bahwa pemberian tepung kulit buah markisa fermentasi pada tingkat 4%-16% dalam ransum menurunkan pertambahan bobot badan, konsumsi, dan meningkatkan konversi. Kesimpulan dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tepung kulit buah markisa fermentasi dapat diberikan sampai pada level 4%.</description>
      <pubDate>Sat, 20 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37076</guid>
      <dc:date>2013-04-20T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siswanto</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Jl. Dr. A. Sofyan no. 3 Medan, dilaksanakan selama dua bulan dimulai dari bulan Desember 2004 sampai dengan bulan Januari 2005. Penelitian ini bertujuan untuk menguji respon pemberian tepung kulit buah markisa yang di fermentasi dengan Aspergillus niger dalam ransum terhadap performans ayam broiler.&#xD;
Kulit buah markisa merupakan salah satu limbah industri pertanian yang sampai saat ini belum umum digunakan untuk pakan unggas karena mempunyai beberapa faktor pembatas seperti kadar protein yang rendah dan kadar serat kasar yang tinggi. Melalui proses fermentasi, faktor pembatas ini diharapkan dapat dikurangi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan lima perlakuan, empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor DOC. Adapun ransum perlakuan yang diberikan adalah : Ro (ransum kontrol), Ri (ransum dengan 4% kulit buah markisa fermentasi), R2 (ransum dengan 8% kulit buah markisa fermentasi), R3 (ransum dengan 12% kulit buah markisa fermentasi), R, (ransum dengan 16% kulit buah markisa fermentasi). Penelitian ini yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan berat badan, dan konversi pakan (FCR)&#xD;
Hasil penelitian diperoleh konsumsi ransum berturut-turut (g/ekor/minggu) adalah .(714.95; 697.12; 691.38; 681.78 dan 677.22) dengan rataan sebesar 692.49 g/ekor/minggu, dan pengaruh yang didapat dari parameter konsumsi pada penelitian ini adalah nyata menurunkan (P&lt;0.05). sedangkan pertambahan bobot badan (g/ekor/minggu) adalah: (365.50; 321.53; 298.76; 293.27 dan 269.11) dengan rataan sebesar 309.63 (g/ekor/minggu) dan pengaruh yang didapat pada parameter pertambahan berat badan adalah sangat nyata menurunkan (P&lt;0.01). Hasil dari feed conversi ratio : (2.60; 2.45; 2.33; 2.25; dan 1.94) dengan rataan sebesar 2.31, dan pengaruh yang didapat pada parameter penelitian FCR adalah tidak nyata (P&gt;0.05).&#xD;
Dari hasil penelitian ini didapat bahwa pemberian tepung kulit buah markisa fermentasi pada tingkat 4%-16% dalam ransum menurunkan pertambahan bobot badan, konsumsi, dan meningkatkan konversi. Kesimpulan dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tepung kulit buah markisa fermentasi dapat diberikan sampai pada level 4%.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Pemberian Berbagai Level Bangku* Inti Sawit Fermentasi Phanerochaete chrysosporiuin Dalam Ransum Terhadap Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Broiler Umur 6 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37074</link>
      <description>Authors: Sitanggang, Roslin
Advisors: Roeswandy; Yunilas
Abstract: The purpuse of this experiment is knowing, the effects of feeding various levels of Palm Kernel jVfeal Fermented {Phanerochaete chrysosporium) in feeds to carcas weight, carcass percentage, abdominal fats, intestinum lenght and income over feed cost (IOFC) in six weeks old broiler. The experiment using 175 broilers Hubbard Strain.&#xD;
The design used in the experiment is complettelly randornmized design (RAL) with five treatments R0, Rl, R2, R3, and R4, with the Palm Kernel Meal Fermented levels respectively 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, and 20 %. Each treatment consist of five broiler. The parameter measured is : carcas weight, carcass percentage, abdominal fats, intestinum lenght and income over feed cost (IOFC).The experiment: showed that giving Palm Kernel Meal Fermented in broiler feed can be given until 15 % level.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai level bungkil inti sawit fermentasi (Phanerochaete chrysosporium) dalam ransum terhadap bobot karkas, Jrersentase karkas, lemak abdominal, panjang usus dan Income Over Feed Cosi (IOFC) pada broiler umur 6 minggu. Penelitian ini menggunakan 175 ekor broiler strain Hubbard. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) lima perlakuan R0, RI, R2, R3 dan R4, dengan level bungkil inti sawit fermentasi masing-masing 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, 20 %. Setiap perlakuam terdiri dari tujuh ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah : bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal, panjang usus dan Income Over Feed Cost (IOFC).&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai level bungkil inti sawit fermentasi berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap panjang usus tetapi tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal dan Income Over Feed Cost (IOFC). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian bungkil inti sawit fermentasi Phanerochaete chrysosporium dalam ransum dapat diberikan pada broiler sampai level 15 %</description>
      <pubDate>Fri, 19 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37074</guid>
      <dc:date>2013-04-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sitanggang, Roslin</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai level bungkil inti sawit fermentasi (Phanerochaete chrysosporium) dalam ransum terhadap bobot karkas, Jrersentase karkas, lemak abdominal, panjang usus dan Income Over Feed Cosi (IOFC) pada broiler umur 6 minggu. Penelitian ini menggunakan 175 ekor broiler strain Hubbard. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) lima perlakuan R0, RI, R2, R3 dan R4, dengan level bungkil inti sawit fermentasi masing-masing 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, 20 %. Setiap perlakuam terdiri dari tujuh ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah : bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal, panjang usus dan Income Over Feed Cost (IOFC).&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai level bungkil inti sawit fermentasi berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap panjang usus tetapi tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal dan Income Over Feed Cost (IOFC). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian bungkil inti sawit fermentasi Phanerochaete chrysosporium dalam ransum dapat diberikan pada broiler sampai level 15 %</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perbandingan antara Keluwih (Artocarpw communis) dan Sukun (Artocarpus altilis) Terhadap Kualitas Abon Sapi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37073</link>
      <description>Authors: Sibarani, Prissa Negara
Advisors: Wahyuni, Tri Hesti; Rivai, Juharaomi
Abstract: Penelitian ini dilaksanakan di LaboratoriumTeknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bahan substitusi dan perbandingan level substitusi yang tepat terhadap kualitas abon sapi.&#xD;
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor yaitu faktor S (bahan substitusi) dimana So = daging sapi + keluwih dan Si = daging sapi + sukun dan faktor L (perbandingan level substitusi) dimana Lo = 100% : 0%, Li = 75% : 25%, L2 = 50% : 50% dan L3 = 25%: 75%. kombinasi perlakuan sebanyak 2x4 dengan 3 ulangan.&#xD;
Hasil penelitian diperoleh bahwa bahan substitusi yang berbeda berpengaruh menaikkan kadar air (%) (10.03, 11.00), kadar protein (%) (28.68, 30.77) dan menurunkan rasa (numerik) (2.78, 2.41), warna (numerik) (2.87, 2.51) dan.tekstur (numerik) (2.72,2.28) tetapi tidak mempengaruhi kadar lemak.&#xD;
Perbandingan level substitusi yang berbeda berpengaruh menurunkan kadar air (%) (12.70, 11.83, 10.17, 7.67), kadar protein (%) (38.65, 35.15, 29.05, 16.03), rasa (numerik) (3.01, 2.92, 2.40, 2.05), warna (numerik) (2.87, 2.83, 2.69, 2.36) dan tekstur (numerik) (2.94,2.68,2.33,2.06) tetapi menaikkan kadar lemak (%) ( 18.25, 20.86,25.74,28.45).&#xD;
Interaksi antara bahan substitusi dan perbandingan level substitusi yang berbeda berpengaruh menurunkan kadar protein (%) (38.40, 34.50, 25.75, 16.53 / 38.90, 35.80, 32.83, 15.53), rasa (numerik) (3.13,2.97, 2.58, 2.44 / 2.89, 2.86, 2.22, 1.66), warna (numerik) (3.02, 2.97, 2.80, 2.69 / 2.72, 2.69, 2.58, 2.03). dan tekstur (numerik) (3.13, 2.72, 2.52, 2.50 / 2.75, 2.63, 2.13, 1.61) tetapi tidak mempengaruhi kadar air dan kadar lemak.&#xD;
Keluwih dapat digunakan sebagai bahan substitusi karena memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan dengan sukun dengan level substitusi yang terbaik adalah 25%.</description>
      <pubDate>Fri, 19 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37073</guid>
      <dc:date>2013-04-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sibarani, Prissa Negara</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Tepung Eceng Gondok {Eichornia crassipes) dan Paku Air (Azolla pinnatd) Fermentasi {Aspergillus niger) Dalam Ransum Terhadap Persentase Karkas Broiler</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35699</link>
      <description>Authors: Afrita, Meri
Advisors: Saleh, Eniza; Bachari, Irawati
Abstract: The objective of this experiment was to study the effect of utilization of fermented water hyacinth dan axis water with Aspergillus niger on the broiler carcass percentage eight weeks. One hundred broiler were used in a completely randomized design with five treatment RO, Rl, R2, R3, and R4, differing in the level of fermented water hyacinth + axis water (0%' 5%+20%, 10%+15%, 15%+10%, 20%+5%, respectively), each treatment consisted of four replication and each replication consist of five broiler. The parameters measured were carcass weight, carcass percentage, abdominal fat percentage, intestine length, heart weigth, gizard weigth and liver weigth. The result indicated that to carcass percentage was significant different (P&gt;0.05) (67.55, 67.83, 65.43, 64.57, 62.76, respectively), but there are not significant different on the carcass weigth (g) (1215.00, 1174.58, 1141.25, 1120.42,1103.33, respectively), abdominal fat percentage (%) (1.12, 1.08, 1.16, 1.03, 1.13, respectively),intestine length (cm) (199.25, 191.50, 197.42, 198.33, 207.17, respectively), heart weigth (g) (9.13, 9.73, 9.66, 9.16, 8.65, respectively), gizard weigth (g) (35.89, 35.93, 36.08, 36.92, 37.82, respectively) and liver weigth (g) (44.78, 45.67, 41.68, 40.55, 37.89, respectively). It is concluded that fermented water hyacinth and axis water with Aspergillus niger used to broiler on level 5% and 20%.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk menjajaki pemanfaatan tepung eceng gondok (Eichornia crassipes) dan paku air (Azolla pinnata) yang difermentasi dengan Aspergillus niger terhadap persentase karkas broiler umur 8 minggu. Penelitian ini menggunakan seratus ekor broiler. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan R0, RI, R2, R3, dan R4, dengan level Eichornia crassipes + Azolla pinnata yang telah difermentasi masing-masing (0%, 5%+20%, 10%+15%, 15%+10%, 20%+5%). Setiap perlakuan terdiri dan empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah: bobot karkas, persentase karkas, persentase lemak abdominal, Panjang usus, bobot jantung, bobot gizard dan bobot hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (P&gt;0.05) terhadap persentase karkas (%) (67.55, 67.83, 65.43, 64.57, 62.76), akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot karkas (g) (1215.00, 1174.58, 1141.25, 1120.42,1103.33), persentase lemak abdominal (/o) (1.12, 1.08, 1.16, 1.03, 1.13), panjang usus (cm) (199.25, 191.50 197.42, 198.33, 207.17), bobot jantung (g) (9.13, 9.73, 9.66, 9.16, 8.65) bobot gizard (g) (35.89, 35.93, 36.08, 36.92, 37.82) dan bobot hati (g) (44.78, 45.67, 41.68, 40.55, 37.89). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tepung Eichornia crassipes dan Azolla pinnata yang difermentasi dengan Aspergillus niger efektif diberikan pada broiler pada level 5% dan 20%.</description>
      <pubDate>Tue, 16 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35699</guid>
      <dc:date>2013-04-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Afrita, Meri</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk menjajaki pemanfaatan tepung eceng gondok (Eichornia crassipes) dan paku air (Azolla pinnata) yang difermentasi dengan Aspergillus niger terhadap persentase karkas broiler umur 8 minggu. Penelitian ini menggunakan seratus ekor broiler. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan R0, RI, R2, R3, dan R4, dengan level Eichornia crassipes + Azolla pinnata yang telah difermentasi masing-masing (0%, 5%+20%, 10%+15%, 15%+10%, 20%+5%). Setiap perlakuan terdiri dan empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari lima ekor broiler. Parameter yang diukur adalah: bobot karkas, persentase karkas, persentase lemak abdominal, Panjang usus, bobot jantung, bobot gizard dan bobot hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (P&gt;0.05) terhadap persentase karkas (%) (67.55, 67.83, 65.43, 64.57, 62.76), akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot karkas (g) (1215.00, 1174.58, 1141.25, 1120.42,1103.33), persentase lemak abdominal (/o) (1.12, 1.08, 1.16, 1.03, 1.13), panjang usus (cm) (199.25, 191.50 197.42, 198.33, 207.17), bobot jantung (g) (9.13, 9.73, 9.66, 9.16, 8.65) bobot gizard (g) (35.89, 35.93, 36.08, 36.92, 37.82) dan bobot hati (g) (44.78, 45.67, 41.68, 40.55, 37.89). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tepung Eichornia crassipes dan Azolla pinnata yang difermentasi dengan Aspergillus niger efektif diberikan pada broiler pada level 5% dan 20%.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Lumpur Sawit Fermentasi (Aspergillus niger) Dalam Ransum Terhadap Bobot Karkas Ayam Broiler Umur 6 Minggu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35698</link>
      <description>Authors: Lubis, Maysarah
Advisors: Roeswandy; Bachari, Irawati
Abstract: The present research was carried out in the Livestock Biological Laboratory of Animal Farming Faculty of State University of North Sumatra since September to October 2004.&#xD;
The design used in the present research included Completed Randomized Design with 5 treatments and 4 replications in which every replication consisted of 5 broilers and the carcass samples involved 3 broilers per plot that the total samples included 60 broilers. Each treatment included ; Mo = Commercial rations as a control, Ml : 5% fermented oil palm sludge in rations, M2: 10% fermented oil palm sludge in rations, M3 : 15% fermented oil palm sludge in rations and M4 ;20% oil palm sludge in rations. There were two types of rations applied ; starter and finisher rations.&#xD;
The parameters for observation included ; carcass weight (g), carcass percentage (%), abdominal fat (g) and intestinal length (cm)&#xD;
The findings of the research included ; the highest weight of carcass was found at MO treatment of 1321.60 gs/ broiler and the lowest weight found at M4 of 1216.76 gs/broiler and the average carcass weight were Ml (1257.49 gs), M2 ( 1242.50 gs) and M3 ( 1231.88 gs), respectively. The highest percentage of carcass was found at M0 as of 72.97% and the lowest at M4 as of 67.73% and the average percentage of carcass were found at Ml (70.67%), M2 ( 69.05%), and M3 ( 68.35%), respectively. The highest abdominal fat content was found at Ml treatment as of 33.12 gs and the lowest at M4 as of 27.55 gs and the average abdominal fat content were Ml (29.30 gs), M2 ( 28.85 gs) and M3 ( 28.30 gs). Whereas the highest intestinal length was found at M4 as of 186.92 cms and the lowest at MO as of 150.33 cms and the average intestinal length were Ml ( 169.33 cms), M2 (175.42 cms) and M3 (177.50 cms), respectively&#xD;
The result of research showed that the use of fermented oil palm sludge in rations has insignificantly effect (p &lt; 0.05) on weight and percentage of carcass and abdominal fat content. Whereas the intestinal length has a very significant effect (p &gt; 0.01).
Abstract (other language): Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, yang dimulai pada bulan September sampai bulan Oktober 2004.&#xD;
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, dimana setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam dan sebagai sampel karkas diambil 3 ekor per plot sehingga total keseluruhan sampel adalah 60 ekor. Masing-masing perlakuan yaitu MO: Ransum komersil sebagai ransum kontrol, Ml: 5% lumpur sawit fermentasi dalam ransum, M2: 10% lumpur sawit fermentasi dalam ransum, M3: 15% lumpur sawit fermentasi dalam ransum dan M4: 20% lumpur sawit dalam ransum. Ransum yang diberikan terdiri atas dua macam yaitu ransum starter dan ransum finisher.&#xD;
Parameter yang diamati adalah : Bobot karkas (g), Persentase karkas (%), Lemak abdominal (g) dan Panjang usus (cm).&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh hasil untuk bobot karkas tertinggi ada pada perlakuan MO sebesar 1321.60 g/ekor dan yang terendah ada pada perlakuan M4 sebesar 1216.76 g/ekor serta rataan bobot karkas Ml (1257.49 g), M2 (1242.50 g) dan M3 (1231.88 g). Persentase karkas tertinggi ada pada perlakuan MO sebesar 72.97% dan yang terendah pada perlakuan M4 sebesar 67.73% serta rataan persentase karkas Ml (70 67%), M2 (69.05%) dan M3 (68.35%). Untuk lemak</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35698</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Lubis, Maysarah</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, yang dimulai pada bulan September sampai bulan Oktober 2004.&#xD;
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, dimana setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam dan sebagai sampel karkas diambil 3 ekor per plot sehingga total keseluruhan sampel adalah 60 ekor. Masing-masing perlakuan yaitu MO: Ransum komersil sebagai ransum kontrol, Ml: 5% lumpur sawit fermentasi dalam ransum, M2: 10% lumpur sawit fermentasi dalam ransum, M3: 15% lumpur sawit fermentasi dalam ransum dan M4: 20% lumpur sawit dalam ransum. Ransum yang diberikan terdiri atas dua macam yaitu ransum starter dan ransum finisher.&#xD;
Parameter yang diamati adalah : Bobot karkas (g), Persentase karkas (%), Lemak abdominal (g) dan Panjang usus (cm).&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh hasil untuk bobot karkas tertinggi ada pada perlakuan MO sebesar 1321.60 g/ekor dan yang terendah ada pada perlakuan M4 sebesar 1216.76 g/ekor serta rataan bobot karkas Ml (1257.49 g), M2 (1242.50 g) dan M3 (1231.88 g). Persentase karkas tertinggi ada pada perlakuan MO sebesar 72.97% dan yang terendah pada perlakuan M4 sebesar 67.73% serta rataan persentase karkas Ml (70 67%), M2 (69.05%) dan M3 (68.35%). Untuk lemak</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Studi Kerapatan Jaringan Jalan Hutan di PT. Andalas Merapi Timber Propinsi Sumatera Barat</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35697</link>
      <description>Authors: Tampubolon, Dumohar I. H.
Advisors: Ilyas, Didim; Muhdi
Abstract: The aims of mis research were to know about the efficiency of forest road in harvesting activities and to know how large forest road density across in the area of HPH PT. Andalas Merapi Timber. This research is done in Sungai Barikan production area under PT. Andalas Merapi Timber, Padang Sumatera Barat forest management district at June 2005 until the end of July 2005. The research was done with the describe method. Which done by forest road design on the operation area map of PT. Andalas Merapi Timber. The gather of forest road design data are the length of the road and wide of the area will be opened. And also compare it with several forest road designs as another alternative in forest exploitation activities.There was a perception that more longer the road in forest area then more larger the forest harvesting activity (the increase of forest productions which use in forest industry activities such as log and plywood). More informations were needed and supported so that in the next decision concepts in forest plan results a good decision for sustainable forest productivities.
Abstract (other language): Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi jaringan jalan sarad di dalam kegiatan pemanenan kayu dan mengetahui seberapa besar kerapatan jalan hutan yang terdapat di dalam areal HPH PT. Andalas Merapi Timber. Penelitian ini dilakukan di areal produksi Sungai B arikan dalam kawasan pengelolaan hutan di PT. Andalas Merapi Timber Padang, Sumatera Barat pada bulan Juni 2005 hingga Juli 2005. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Dengan melakukan perencanaan jaringan jalan hutan di dalam peta areal kerja PT. Andalas Merapi Timber. Pengumpulan data perencanaan jaringan jalan yang dilakukan oleh perusahaan berupa panjang jalan dan luas kawasan hutan yang akan dibuka. Serta membandingkannya dengan beberapa perencanaan jalan hutan sebagai alternatif lain dalam kegiatan pembukaan wilayah hutan. Adanya persepsi bahwa semakin panjang jalan di dalam kawasan hutan maka semakin besar kegiatan pemanenan hutan (meningkatnya produktivitas pemanenan kayu yang digunakan untuk kegiatan industri kehutanan baik berupa log maupun plywood). Sehingga dibutuhkan informasi yang lebih banyak dan mendukung agar dalam pengambilan kebijakan selanjutnya dalam perencanaan hutan dapat menghasilkan keputusan yang tepat untuk keberlangsungan produktivitas kawasan hutan.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35697</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tampubolon, Dumohar I. H.</dc:creator>
      <dc:description>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi jaringan jalan sarad di dalam kegiatan pemanenan kayu dan mengetahui seberapa besar kerapatan jalan hutan yang terdapat di dalam areal HPH PT. Andalas Merapi Timber. Penelitian ini dilakukan di areal produksi Sungai B arikan dalam kawasan pengelolaan hutan di PT. Andalas Merapi Timber Padang, Sumatera Barat pada bulan Juni 2005 hingga Juli 2005. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Dengan melakukan perencanaan jaringan jalan hutan di dalam peta areal kerja PT. Andalas Merapi Timber. Pengumpulan data perencanaan jaringan jalan yang dilakukan oleh perusahaan berupa panjang jalan dan luas kawasan hutan yang akan dibuka. Serta membandingkannya dengan beberapa perencanaan jalan hutan sebagai alternatif lain dalam kegiatan pembukaan wilayah hutan. Adanya persepsi bahwa semakin panjang jalan di dalam kawasan hutan maka semakin besar kegiatan pemanenan hutan (meningkatnya produktivitas pemanenan kayu yang digunakan untuk kegiatan industri kehutanan baik berupa log maupun plywood). Sehingga dibutuhkan informasi yang lebih banyak dan mendukung agar dalam pengambilan kebijakan selanjutnya dalam perencanaan hutan dapat menghasilkan keputusan yang tepat untuk keberlangsungan produktivitas kawasan hutan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakteristik Pengunjung Rekreasi dan Obyek Wisata di Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta, Padang, Provinsi Sumatera Barat</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35696</link>
      <description>Authors: Daulay, Dini Novalanty
Advisors: Pian, Zainal Abidin; Rahmawaty
Abstract: The aims of the study were to identify domestic visitors characteristics, to identify resort characteristics and to identify visitors views about resort at Great Park Forest of Dr. Mohammad Hatta, Padang City, West Sumatera. The study was conducted at Great Park Forest of Dr. Mohammad Hatta, Padang City, West Sumatera Province since 2004 May 1st until 31 st. Object of the study was visitors who people come to Great Park Forest of Dr. Mohammad Hatta, Padang City, West Sumatera.&#xD;
Primary data was obtained with distribute questionnaire to respondents, interview and observation direct in the field. Sampling derivation was done purposive sampling. Data derivation was done at 09.00-15.00 o'clock as long as 7 days (Monday-Sunday). Domestic visitors characteristics, resort and visitor views about resort was analyzed descriptive and was worked in percentage and table forms. Connection between visitors characteristics with demand of recreation was tested Chi-Square test, visitors views about resort used Likert Scale and aspects received opinion was bigger than other aspects from visitors views about resort at Great Park Forest of Dr. Mohammad Hatta used Friedman test. Recreation visitors characteristics at Tahura Dr. Mohammad Hatta shown that the most dominant visitors characteristics, male, ages 18-25 years, academy/college graduated and their vacation as students, income &lt; Rp. 500.000,00, expenditure &gt; Rp. 100.000,00/visit, assuming rate of entrance fee at the place is moderate, coming from Padang and its surroundings, and after-work leisure time at 5-7 hours have, 5-8 days in one month days off, and 0-12 days for holiday leisure time. The most of visitors were generally have motivation to enjoy panorama, and also prefer activity enjoy panorama during at Tahura Dr. Mohammad Hatta. Tahura Dr. Mohammad Hatta was natural protected area with large about 240 ha, light surging topography (5-15 %), rather steep (15-30 %) until precipitous and hilly (30-70 %), altitude at 300-700 asl m and fresh and cold climate had, and also interesting nature were consist of mountain, dales, rivers, view scenic and flora and fauna diversity of West Sumatera.&#xD;
Opinion of visitors that resort in Tahura Dr. Mohammad Hatta was easy to reached with good road condition, while panorama around Tahura Dr. Mohammad Hatta was beautiful. Environmental security around Tahura was pertained safety, They feel interested with this resort. Knowledge of respondents about Tahura Dr. Mohammad Hatta as natural protected area and the rules were good, respondents general never done vandalism of flora/fauna and saw people done vandalism of flora/fauna in Tahura. Services, explainations and informations from the guide were good, condition of the facilities in Tahura was complete. The most of respondents were opinion that existence of the facilities need to addition .
Abstract (other language): Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan wisata, maka diperlukan suatu usaha mencari terobosan-terobosan baru guna mengoptimalkan potensi ekowisata yang ada. Mengingat pangsa pasar yang terbatas dengan kelompok target yang spesifik, maka diperlukan upaya khusus untuk menarik pengunjung datang ke lokasi tersebut dalam jumlah dan frekuensi yang tertentu. Untuk itu, perlu diketahui berbagai karakteristik pengunjung dan karakteristik obyek wisata serta tingkat permintaan rekreasi sehingga dapat menjangkau pemasaran yang lebih luas dan dapat meningkatkan daya tarik dari obyek wisata tersebut (Hidayati dkk., 2003).&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengunjung domestik, mengetahui karakteristik obyek wisata dan mengetahui tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata di Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat selama satu bulan, mulai tanggal 1 s/d 31 Mei 2004. Obyek penelitian adalah para pengunjung yang datang berkunjung ke lokasi wisata Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Sumatera Barat.&#xD;
Pengumpulan data primer dilakukan dengan membagikan kuisioner kepada responden, wawancara serta pengamatan langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan pada pukul 09.00-15.00 WIB selama 7 hari (Senin-Minggu). Data karakteristik pengunjung rekreasi dan obyek wisata, serta tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata dianalisis secara deskriptif dan diolah dalam bentuk persentase dan tabel. Hubungan antara karakteristik dengan permintaan rekreasi diuji dengan uji Chi-Square, tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata menggunakan Skala Likert dan aspek mana yang mendapat penilaian lebih besar dibandingkan dengan aspek lainnya dari tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata Tahura Dr. Mohammad Hatta menggunakan uji Friedman.&#xD;
Karakteristik pengunjung rekreasi di Tahura Dr. Mohammad Hatta menunjukkan sebagian besar pengunjung antara lain, laki-laki, berusia 18-25 tahun, tingkat pendidikan adalah akademi/perguruan tinggi dan pekerjaannya sebagai pelajar/mahasiswa, memiliki tingkat pendapatan &lt; Rp. 500.000,00, biaya rekreasi &gt; Rp. 100.000,00/kunjungan, menganggap harga karcis masuk tergolong sedang, berasal dari Padang dan sekitarnya, serta memiliki waktu luang sebanyak 5-7 jam pada hari kerja, memiliki 5-8 hari libur/bulan, dan memiliki 0-12 hari/tahun untuk cuti/pakansi. Sebagian besar pengunjung juga umumnya memiliki motivasi rekreasi untuk menikmati keindahan alam, serta lebih menyukai kegiatan menikmati pemandangan selama di Tahura Dr. Mohammad Hatta.&#xD;
Tahura Dr. Mohammad Hatta adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki hiasan sebesar 240 ha, dengan topografi bergelombang ringan (5-15 %), agak curam (15-30 %) sampai terjal dan berbukit-bukit (30-70 %), berada pada&#xD;
 &#xD;
ketinggian 300-700 m dpi dan memiliki hawa/iklim yang sejuk dan segar serta bentang alam yang menarik berupa pegunungan, lembah, sungai, pemandangan indah dan keanekaragaman flora dan fauna khas Sumatera Barat.&#xD;
Pengunjung menilai obyek wisata di Tahura Dr. Mohammad Hatta mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang baik, sedangkan pemandangan alam di sekitar kawasan Tahura Dr. Mohammad Hatta indah. Keamanan lingkungan di sekitar Tahura tergolong aman sehingga mereka merasa tertarik terhadap kawasan obyek wisata ini. Pengetahuan responden bahwa Tahura Dr. Mohammad Hatta merupakan kawasan pelestarian alam dan terhadap peraturan yang ada cukup baik, Responden pada umumnya tidak pernah melakukan perusakan flora/fauna dan melihat orang melakukan perusakan flora/fauna di Tahura. Pelayanan, penerangan dan informasi dari petugas kepada pengunjung dinilai baik, keadaan fasilitas-fasilitas rekreasi yang ada di kawasan Tahura ini lengkap. Sebagian besar responden menganggap perlu dilakukannya penambahan jumlah fasilitas di kawasan Tahura Dr. Mohammad Hatta.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35696</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Daulay, Dini Novalanty</dc:creator>
      <dc:description>Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan wisata, maka diperlukan suatu usaha mencari terobosan-terobosan baru guna mengoptimalkan potensi ekowisata yang ada. Mengingat pangsa pasar yang terbatas dengan kelompok target yang spesifik, maka diperlukan upaya khusus untuk menarik pengunjung datang ke lokasi tersebut dalam jumlah dan frekuensi yang tertentu. Untuk itu, perlu diketahui berbagai karakteristik pengunjung dan karakteristik obyek wisata serta tingkat permintaan rekreasi sehingga dapat menjangkau pemasaran yang lebih luas dan dapat meningkatkan daya tarik dari obyek wisata tersebut (Hidayati dkk., 2003).&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengunjung domestik, mengetahui karakteristik obyek wisata dan mengetahui tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata di Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat selama satu bulan, mulai tanggal 1 s/d 31 Mei 2004. Obyek penelitian adalah para pengunjung yang datang berkunjung ke lokasi wisata Tahura Dr. Mohammad Hatta, Kota Padang, Sumatera Barat.&#xD;
Pengumpulan data primer dilakukan dengan membagikan kuisioner kepada responden, wawancara serta pengamatan langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan pada pukul 09.00-15.00 WIB selama 7 hari (Senin-Minggu). Data karakteristik pengunjung rekreasi dan obyek wisata, serta tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata dianalisis secara deskriptif dan diolah dalam bentuk persentase dan tabel. Hubungan antara karakteristik dengan permintaan rekreasi diuji dengan uji Chi-Square, tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata menggunakan Skala Likert dan aspek mana yang mendapat penilaian lebih besar dibandingkan dengan aspek lainnya dari tanggapan pengunjung terhadap obyek wisata Tahura Dr. Mohammad Hatta menggunakan uji Friedman.&#xD;
Karakteristik pengunjung rekreasi di Tahura Dr. Mohammad Hatta menunjukkan sebagian besar pengunjung antara lain, laki-laki, berusia 18-25 tahun, tingkat pendidikan adalah akademi/perguruan tinggi dan pekerjaannya sebagai pelajar/mahasiswa, memiliki tingkat pendapatan &lt; Rp. 500.000,00, biaya rekreasi &gt; Rp. 100.000,00/kunjungan, menganggap harga karcis masuk tergolong sedang, berasal dari Padang dan sekitarnya, serta memiliki waktu luang sebanyak 5-7 jam pada hari kerja, memiliki 5-8 hari libur/bulan, dan memiliki 0-12 hari/tahun untuk cuti/pakansi. Sebagian besar pengunjung juga umumnya memiliki motivasi rekreasi untuk menikmati keindahan alam, serta lebih menyukai kegiatan menikmati pemandangan selama di Tahura Dr. Mohammad Hatta.&#xD;
Tahura Dr. Mohammad Hatta adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki hiasan sebesar 240 ha, dengan topografi bergelombang ringan (5-15 %), agak curam (15-30 %) sampai terjal dan berbukit-bukit (30-70 %), berada pada&#xD;
 &#xD;
ketinggian 300-700 m dpi dan memiliki hawa/iklim yang sejuk dan segar serta bentang alam yang menarik berupa pegunungan, lembah, sungai, pemandangan indah dan keanekaragaman flora dan fauna khas Sumatera Barat.&#xD;
Pengunjung menilai obyek wisata di Tahura Dr. Mohammad Hatta mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang baik, sedangkan pemandangan alam di sekitar kawasan Tahura Dr. Mohammad Hatta indah. Keamanan lingkungan di sekitar Tahura tergolong aman sehingga mereka merasa tertarik terhadap kawasan obyek wisata ini. Pengetahuan responden bahwa Tahura Dr. Mohammad Hatta merupakan kawasan pelestarian alam dan terhadap peraturan yang ada cukup baik, Responden pada umumnya tidak pernah melakukan perusakan flora/fauna dan melihat orang melakukan perusakan flora/fauna di Tahura. Pelayanan, penerangan dan informasi dari petugas kepada pengunjung dinilai baik, keadaan fasilitas-fasilitas rekreasi yang ada di kawasan Tahura ini lengkap. Sebagian besar responden menganggap perlu dilakukannya penambahan jumlah fasilitas di kawasan Tahura Dr. Mohammad Hatta.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Beberapa Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Terhadap Teknologi Anjuran Pada Budidaya Tanaman Bawang Merah di Desa Simanindo Sangkal, Kecamatan Simanindo, Kab.Samosir</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35695</link>
      <description>Authors: Tampubolon, Daniel Martin
Advisors: Siregar, Friston; Butar-Burar, Hasudungan
Abstract: Metode sampling yang digunakan adalah secara stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 dan terdiri dari 3 strata luas lahan, strata I Hias lahan &lt; 0,5 ha, Strata II luas lahan 0,5 - 1 ha dan strata III luas lahan &gt; 1 ha. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, analisis tabulasi skor dan analisis deskriptif. Memperoleh hasil penelitian sebagai berikut:&#xD;
1.	Tingkat adopsi petani terhadap teknologi anjuran pada budidaya tanaman bawang merah sedang.&#xD;
2.	Ada pengaruh nyata faktor sosial (Pendidikan, umur, pengalaman dan frekwensi mengikuti penyuluhan) terhadap adopsi teknologi pada budidaya tanaman bawang merah.&#xD;
3.	Ada pengaruh sangat nyata faktor ekonomi (Pendapatan usaha tani, jumlah tanggungan dan luas lahan) terhadap adopsi teknologi pada budidaya tanaman bawang merah.&#xD;
4.	Ada masalah-masalah yang terjadi yaitu sebelum mengadopsi teknologi pada budidaya tanaman bawang merah. Bibit yang kurang tersedia dan sulit&#xD;
 &#xD;
diperoleh, musim yang tidak menentu, harga bibit yang mahal, modal petani yang kecil, letak geografis daearah penelitian yang berbukit, kurangnya informasi tentang teknologi budidaya bawang merah. Sedangkan masalah yang terjadi setelah mengadopsi teknologi anjuran pada budidaya tanaman bawang merah : harga bawang merah yang murah, serangan hama dan penyakit yang tersebar luas ke seluruh areal pertanaman bawang merah, kurangnya peralatan yang lebih maju yang. 5. Ada upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam sebelum mengadopsi teknologi pada budidaya tanaman bawang merah yaitu: PPL memberikan ataupun menyediakan bibit yang bersertifikat, PPL harus sering memberikan informasi tentang informasi cuaca, PPL melakukan pengontrolan ke pasar dalam hal harga bibit, pemerintah memberi bantuan kredit berupa pinjaman, Pemerintah memberikan bantuan peralatan pengolahan lahan dan berupa pompa air, PPL senantiasa memberikan penyuluhan tentang teknologi anjuran pada tanaman bawang merah, sedangkan setelah mengadopsi teknologi anjuran pada budidaya tanaman bawang merah yaitu : ada kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta dalam upaya meningkatkan harga bawang merah, PPL harus cepat merespon terhadap serangan hama dan penyakit dan menyarankan petani untuk melalaikan rotasi tanaman, menggunakan alat pengairan yang tradisional disamping menunggu bantuan dari pemerintah.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35695</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tampubolon, Daniel Martin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Peranan Penyuluh Perikanan Terhadap Peningkatan Sosial Ekonomi Nelayan Di Kabupaten Asahan ( Studi Kasus: Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Asahan)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35693</link>
      <description>Authors: Anggraeni, Yenny
Advisors: Hutajulu, Asmi Tiurland; Maryunianta, Yusak
Abstract: Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2004 di Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Asahan, Propinsi Sumatera Utara yang ditentukan secara purposive. Daerah penelitian ditentukan secara purposive dengan dasar bahwa daerah tersebut merupakan salah satu desa pantai yang memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tenaga penyuluh perikanan (PPL). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis uji beda rata-rata (T-test).&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:&#xD;
1.	Karakteristik sosial ekonomi penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian adalah sebagai berikut:&#xD;
&#xD;
a.	Umur penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian rata-rata 42,33 tahun.&#xD;
b.	Lama pendidikan formal penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian rata-rata 15 tahun.&#xD;
c.	Pengalaman bekerja penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian rata-rata 21 tahun.&#xD;
d.	Pendapatan/gaji penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian rata-rata Rp 1,208,333.&#xD;
e.	Jumlah tanggungan keluarga penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian rata-rata 4,67 jiwa.&#xD;
2.	Kegiatan penyuluhan perikanan yang telah dilaksanakan oleh penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian antara lain kegiatan/pelatihan permesinan (bongkar pasang mesin), kegiatan/pelatihan pengawetan alat tangkap (jaring), kegiatan/pelatihan pengolahan hasil perikanan (ikan olahan/ikan asin).&#xD;
3.	Ada perbedaan pengetahuan dan keterampilan antara nelayan binaan penyuluh perikanan (PPL) dengan nelayan non binaan penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian. Nelayan binaan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih banyak dibandingkan dengan nelayan non binaan. Hal ini disebabkan karena nelayan binaan merupakan nelayan yang dibina oleh PPL dan mengikuti kegiatan/pelatihan yang diberikan oleh penyuluh perikanan (PPL).&#xD;
4.	Ada perbedaan pendapatan antara nelayan binaan penyuluh perikanan (PPL) dengan nelayan non binaan penyuluh perikanan (PPL) di daerah penelitian. Rata-rata pendapatan/bulan nelayan binaan (Rp 2,814,391.54) lebih besar daripada rata-rata pendapatan/bulan nelayan non binaan (Rp 1,615,597.40).&#xD;
5.	Masalah-masalah yang dihadapi nelayan di daerah penelitian antara lain musim dan keadaan alam yang tidak menentu, kurangnya kesadaran dan rasa ingin tahu serta pengetahuan para nelayan tentang jalur-jalur penangkapan ikan yang benar dan pemakaian alat tangkap sesuai anjuran, kurangnya&#xD;
 &#xD;
kesadaran dan pengetahuan para nelayan untuk memanfaatkan limbah hasil perikanan.&#xD;
6.	Masalah-masalah yang dihadapi penyuluh perikanan (PPL) dalam melaksanakan tugasnya di daerah penelitian antara lain masalah uang operasional lapangan yang kadangkala terlambat diberikan kepada PPL, kurangnya pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada PPL, kurangnya koordinasi antar sesama penyuluh khususnya dalam hal pemberian program atau pelatihan-pelatihan yang akan diberikan kepada para nelayan dan kurangnya kesesuaian waktu antara waktu penyuluhan dengan waktu luang nelayan untuk menghadiri kegiatan penyuluhan yang diadakan.&#xD;
7.	Upaya-upaya yang dilakukan penyuluh perikanan (PPL) untuk mengatasi masalah-masalah dalam melaksanakan tugasnya di daerah penelitian antara lain penyuluh perikanan (PPL) menggunakan uang pribadinya terlebih dahulu untuk sementara waktu sampai uang operasional tersebut diberikan kepadanya, penyuluh perikanan (PPL) berusaha untuk belajar sendiri dengan cara membaca buku-buku yang ada di kantor/instansi terkait dan kadangkala PPL berusaha untuk membeli buku sendiri apabila memiliki uang pribadi yang sedikit berlebih guna menambah pengetahuan mereka, mengadakan pertemuan di BPP untuk membicarakan hal-hal yang harus dilakukan oleh penyuluh berkenaan dengan kegiatan/pelatihan yang akan diberikan kepada para nelayan dan keluarganya agar koordinasi antar sesama penyuluh dapat berlangsung baik, dan penyuluh perikanan (PPL) berusaha untuk meluangkan sedikit waktunya apabila ada nelayan-nelayan yang ingin menjumpainya di rumah karena ingin menanyakan informasi atau meminta saran apabila mereka ada menghadapi masalah-masalah dalam hal bernelayan atau dapat menjumpai penyuluh pada acara perwiritan yang diadakan di desa.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35693</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Anggraeni, Yenny</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Beberapa Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Keputusan  Petani Dalam  Sawi dan Jenis Sayur Lainnya (Studi Kasus : Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35689</link>
      <description>Authors: Siagian, Wiwin Puspa Megariawati
Advisors: Ginting, Meneth; Butar - Butar, Hasudungan
Abstract: 1.	Jumlah petani sawi, luas lahan pertanaman sawi dan produksi sawi selama 3 tahun terakhir (2002,2003,2004) meningkat yaitu untuk jumlah petani sawi peningkatan sebesar 4,95%, untuk luas lahan meningkat sebesar 2 % dan untuk produksi sawi meningkat sebesar 2,29%.&#xD;
2.	Dari hasil penelitian analisis x2 atau Chi. Square diperoleh :&#xD;
&#xD;
a.	karakteristik sosial petani yaitu tingkat pendidikan petani, lama bertani, pengetahuan mengenai informasi pasar tidak ada pengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk memilih menanam atau tidak menanam sawi sebagai usaha taninya.&#xD;
b.	karakteristik sosial petani yaitu tingkat kosmopolitan petani berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani untuk memilih menanam atau tidak menanam sawi sebagai usaha taninya, hal ini disebabkan karena seringnya petani mengikuti kegiatan penyuluhan dan banyak memperoleh informasi mengenai usaha taninya dari orang lain maupun dari beberapa media.&#xD;
3.	Dari hasil penelitian analisis x2 atau Chi. Square diperoleh :&#xD;
a. karakteristik ekonomi petani yaitu luas lahan sawi, harga jual sayur sawi dan potensi tenaga kerja keluarga tidak ada pengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk memilih menanam atau tidak menanam sawi sebagai usaha taninya, hal ini juga disebabkan beralihnya mata&#xD;
 &#xD;
pencaharian petani yang dulunya adalah sebagian besar buruh kerja menjadi petani sayur, b. karakteristik ekonomi petani yaitu jumlah anggota keluarga petani dan total pendapatan keluarga petani berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk memilih menanam atau tidak menanam sawi sebagai usaha taninya, hal ini disebabkan karena jumlah anggota keluarga dan total pendapatan petani mempengaruhi secara nyata terhadap kelangsungan hidup keluarga petani.&#xD;
4.	Faktor-faktor lain penyebab petani menanam sawi selain menguntungkan karena pemanenan yang relatif cepat juga ketersediaan lahan yang mendukung bagi petani.&#xD;
5.	Masalah-masalah yang dihadapi petani untuk memutuskan menanam sawi adalah:&#xD;
&#xD;
a.	kurang baiknya sarana jalan yang langsung ke lahan mereka&#xD;
b.	keadaan cuaca dan iklim yang berubah-ubah&#xD;
c.	hama dan penyakit sayur&#xD;
d.	penyimpanan sayur setelah pemanenan yang terbatas akibat sawi mudah busuk&#xD;
e.	fluktuasi harga sawi.&#xD;
6.	Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah dihadapi petani adalah :&#xD;
a. dengan memperbaiki jalan yaitu membiayai secara bersama-sama dengan menambah pasir dan batu-batu ke arah lahan mereka masing-masing&#xD;
 &#xD;
b.	melihat dan mendengarkan berita tentang perkiraan cuaca dari TV untuk memperkirakan masa-masa penanaman sawi yang baik&#xD;
c.	untuk mengatasi masalah hama dan penyakit dengan melakukan penyemprotan pestisida dan herbisida dan pembuatan sanitasi sanitasi atau dapat dijadikan pakan ternak&#xD;
d.	untuk penyimpanan sayur sawi sebagian kecil petani hanya dapat menyimpan sawi dalam kapasitas yang sedikit dilemari es&#xD;
e.	untuk upaya fluktuasi harga sawi yang tidak stabil petani melakukan pengaturan pola tanam sawi dengan sayur lainnya.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35689</guid>
      <dc:date>2013-04-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siagian, Wiwin Puspa Megariawati</dc:creator>
    </item>
  </channel>
</rss>

