<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>USU-IR Community: PhD Dissertations</title>
    <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21</link>
    <description>PhD Dissertations</description>
    <pubDate>Sun, 19 May 2013 01:16:31 GMT</pubDate>
    <dc:date>2013-05-19T01:16:31Z</dc:date>
    <item>
      <title>Relasi dan Peran Gramatikal Bahasa Pakpak Dairi : Kajian Tipologi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37323</link>
      <description>Authors: Basaria, Ida
Advisors: Sibarani, Robert; Setia, Eddy; Jufrizal
Abstract: This research’s title is the relational and grammatical roles of Pakpak Dairi Language (PDL). It focuses to find out: (1) how is the relational and the grammatical roles of PDL; (2) how is the predication system and argument structure of PDL; (3) how is grammatical typology of PDL and its diathesis possibility existing in PDL. This theoretical framework of linguistic typology through using qualitative descriptive method focused on phenomenological study in order to discover the answers of research questions. Typologically analysis of data brought this research into finding that sintactically, PDL treats S with the same way as Agent (A), and different treatment is given to Pasient (P). (S=A,#P). Based on theoretical framework of pivot test, the unity of two clauses coordinatively and subordinatively or even in adverbial clause, the omission of Noun Phrase (NP) can be done directly if NP functions as S or A, but if NP functions as P, then the omission cannot be done directly. The omission can be allowed if one of the clauses is changed into passive. This means that PDL works as S/A pivot . As a language which has syntactically accusative typology, PDL has active-passive diathesis. Active diathesis has been characterized by verb-predicate affixes such as /meN-, /-ken/, but passive diathesis has been characterized by verb-predicate affixes /ter-/,/i/ and /ni-/. Besides, in PDL has also been found the construction medial diathesis characterized by verb-predicate affixes /i-/,/mer/,/mersi-en/ and zero verb affix. Based on the comparison of A and P properties in intransitive clauses related to S semantically, PDL has subgroup of S, namely Sa ( S which is marked similar to A) and Sp ( S which is marked similar to P ). This is an indication that PDL has the split S-system and fluid S-system. This strengthens conclusion that PDL has a characteristic of ergative language. However, to treat PDL as an accusative language is more proper. If it is connected to pragmatic function, PDL constitutes language with neither subject prominent nor topic prominence, because it fulfills grammatical condition as predicate-subject construction as underlying structure of PDL. Eventhough PDL can topicalize patient/object, it does not mean the construction is underlying construction. The topicalization is PDL constitutes alternative and derivative construction. The topicalization belongs that to clause structure is marked in PDL which is also the same as left-localization. The Predicate-Subject construction constitutes unmarked clause structure in PDL.
Abstract (other language): Penelitian Relasi dan Peran Gramatikal Bahasa Pakpak-Dairi secara khusus bertujuan untuk (1) bagaimana relasi dan peran gramatikal Bahasa Pakpak Dairi ; (2) bagaimana sistem predikasi dan struktur argumen BPD; (3) bagaimana tipologi gramatikal BPD dan sekaligus diatesis yang mungkin ada pada BPD. Melalui kerangka kerja teori tipologi linguistik dan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berorientasi kepada studi fenomenologis diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas. Penelaahan data secara tipologis menghantarkan penelitian ini pada kesimpulan bahwa secara sintaksis BPD termasuk ke dalam kelompok bahasa nominatif-akusatif yang memperlakukan S sama dengan A, dan perlakuan yang berbeda diberikan untuk P (S=A, #P). Berdasarkan kerangka kerja uji pivot, penggabungan dua klausa secara kordinatif dan subordinatif maupun pada klausa adverbial, pelesapan FN dapat dilakukan secara langsung apabila FN ada dalam fungsi S atau A , tetapi apabila FN berada dalam fungsi P maka pelesapan tidak dapat secara langsung tapi salah satu klausa harus dipasifkan terlebih dahulu agar pelesapan FN diizinkan. Hal ini berarti bahwa BPD bekerja dengan pivot S/A. Sebagai salah satu bahasa bertipologi akusatif secara sintaksis, BPD mengenal diatesis aktif-pasif. Diatesis aktif dimarkahi oleh predikat verba berafiks /meN-/,/-ken/ dan diatesis pasif dimarkahi oleh predikat verba berprefiks /ter-/ dan /i-/dan /ni-/; Di samping itu pada BPD juga ditemukan konstruksi berdiatesis medial yang dimarkahi oleh predikat verba berafiks /i-/, /mer-/, /mersi-en/ dan verba berafiks zero. Pada pengamatan terhadap perilaku A dan P klausa intransitif dan jika dikaitkan dengan S secara semantis dalam konteks pemakaiannya, BPD mempunyai sistem S-Terpilah dan S-Alir. Sebab S dalam bahasa ini ada yang dimarkahi sama dengan A dan ada pula yang dimarkahi sama dengan P. BPD termasuk bahasa yang mengenal Sa dan Sp sebagai subbagian dari S . Ada indikasi bahwa BPD memiliki kalimat dengan pola ergatif, walaupun pemberlakuan sebagai bahasa akusatif lebih sesuai terhadap BPD. Jika dikaitkan dengan fungsi pragmatis, BPD merupakan bahasa yang tidak menonjolkan subjek dan tidak menonjolkan topik . Meskipun BPD dapat mentopikkan pasien/objek, akan tetapi konstruksi tersebut bukan konstruksi dasar. Pentopikalan dalam BPD merupakan konsruksi alternatif dan turunan. Pentopikalan termasuk struktur kalimat tertanda dalam BPD, sama halnya dengan pelepasan ke kiri. Sedangkan konstruksi predikat-subjek merupakan struktur kalimat tak tertanda.</description>
      <pubDate>Wed, 08 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37323</guid>
      <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Basaria, Ida</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian Relasi dan Peran Gramatikal Bahasa Pakpak-Dairi secara khusus bertujuan untuk (1) bagaimana relasi dan peran gramatikal Bahasa Pakpak Dairi ; (2) bagaimana sistem predikasi dan struktur argumen BPD; (3) bagaimana tipologi gramatikal BPD dan sekaligus diatesis yang mungkin ada pada BPD. Melalui kerangka kerja teori tipologi linguistik dan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berorientasi kepada studi fenomenologis diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian di atas. Penelaahan data secara tipologis menghantarkan penelitian ini pada kesimpulan bahwa secara sintaksis BPD termasuk ke dalam kelompok bahasa nominatif-akusatif yang memperlakukan S sama dengan A, dan perlakuan yang berbeda diberikan untuk P (S=A, #P). Berdasarkan kerangka kerja uji pivot, penggabungan dua klausa secara kordinatif dan subordinatif maupun pada klausa adverbial, pelesapan FN dapat dilakukan secara langsung apabila FN ada dalam fungsi S atau A , tetapi apabila FN berada dalam fungsi P maka pelesapan tidak dapat secara langsung tapi salah satu klausa harus dipasifkan terlebih dahulu agar pelesapan FN diizinkan. Hal ini berarti bahwa BPD bekerja dengan pivot S/A. Sebagai salah satu bahasa bertipologi akusatif secara sintaksis, BPD mengenal diatesis aktif-pasif. Diatesis aktif dimarkahi oleh predikat verba berafiks /meN-/,/-ken/ dan diatesis pasif dimarkahi oleh predikat verba berprefiks /ter-/ dan /i-/dan /ni-/; Di samping itu pada BPD juga ditemukan konstruksi berdiatesis medial yang dimarkahi oleh predikat verba berafiks /i-/, /mer-/, /mersi-en/ dan verba berafiks zero. Pada pengamatan terhadap perilaku A dan P klausa intransitif dan jika dikaitkan dengan S secara semantis dalam konteks pemakaiannya, BPD mempunyai sistem S-Terpilah dan S-Alir. Sebab S dalam bahasa ini ada yang dimarkahi sama dengan A dan ada pula yang dimarkahi sama dengan P. BPD termasuk bahasa yang mengenal Sa dan Sp sebagai subbagian dari S . Ada indikasi bahwa BPD memiliki kalimat dengan pola ergatif, walaupun pemberlakuan sebagai bahasa akusatif lebih sesuai terhadap BPD. Jika dikaitkan dengan fungsi pragmatis, BPD merupakan bahasa yang tidak menonjolkan subjek dan tidak menonjolkan topik . Meskipun BPD dapat mentopikkan pasien/objek, akan tetapi konstruksi tersebut bukan konstruksi dasar. Pentopikalan dalam BPD merupakan konsruksi alternatif dan turunan. Pentopikalan termasuk struktur kalimat tertanda dalam BPD, sama halnya dengan pelepasan ke kiri. Sedangkan konstruksi predikat-subjek merupakan struktur kalimat tak tertanda.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Fungsi dan Implikasi Makna Logis Pantun Melayu Deli</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35620</link>
      <description>Authors: Mulyani, Rozanna
Advisors: Sinar, T. Silvana; Saragih, Amrin; Lubis, Syahron
Abstract: The title of this study is “Function and Implication of Logical Meaning of pantun Melayu Deli and Serdang”. This study employed Functional Systemic Linguistics (FSL) theory developed by Halliday (2004) and adapted by Saragih (2006) and Sinar (2008).  &#xD;
There were four research questions to be answered in this study such as (1) how the logical function is materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, (2) which pattern of logical function is used in the social context of the users of pantun Melayu Deli and Serdang, (3) what implication of logical meaning is found in pantun Melayu Deli and Serdang, and (4) why the logical function occurred in pantun Melayu Deli?&#xD;
The purpose of this study, in general, was to explore the form of cultural discourse of Melayu Deli such as pantun, and the result of this study is expected to be a contribution to maintain local culture as part of national culture. In particular, the purpose of this study was to describe the logical function materialized in pantun Melayu Deli and Serdang, to formulate the pattern of logical function used in pantun Melayu Deli and Serdang, and to interprete the implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang.&#xD;
This is a qualitative descriptive study, the answers to the four research questions will be an informative materials about the function and implication of logical meaning of pantun Melayu Deli and Serdang. For that purpose, the writer collected the data of written pantun consisting of 20 (twenty) pantun for children (PAA), 20 (twenty) pantun for young people (POM), and 20 (twenty) pantun for old people (POT). Each pantun consists of 4 (four) complex clauses and all of them are 239 clauses. Then the data of oral pantun (exchanging pantun) consisted of 10 (ten) stanzas, and pantun for traditional marriage ceremony comprised 12 (twelve) stanzas.&#xD;
The result of this study showed that in the logical relationship of sampiran (1) – (2) in PAA, POM, and POT which consisted of 20 (twenty) complex clauses respectively, and all together there were 60 complex clauses, after being materialized there were 10 kinds of logical functions, and it was found out that there were two dominant logical functions (logical relationships), namely, multiple Hypotactic (αxβ), and Extension Paratactic, both of them were 21 (35%). In the logical relationship of sampiran (1) – (2) and content (3) – (4), there were 4 (four) kinds of “empty” logical relationships, namely, Paratactic Locution (1”2), Hypotactic Locution (α”β), Paratactic Idea (1’2), Hypotactic Idea (α’β). In the logical relationship of sampiran and content (1) –(3) of pantun Melayu Deli and Serdang, it was found out that the dominant logical function (logical relationship) of PAA, POM and POT was Extension Paratactic (1 + 2) (54 = 90%) consisting of 19 PAA, 16 POM, and 19 POT. In the logical relationship of sampiran and content (2) – (4) of pantun Melayu Deli and Serdang, it was found out that the dominant logical function (logical relationship) of PAA, POM and POT was Extension Paratactic (1 + 2) (53 = 88.33%) consisting of 19 PAA, 16 POM, and 18 POT.&#xD;
In the traits of logical relationship of Explicit Sampiran (1) – (2), only 5 (five) logical relationship traits were found in POM, such as, multiple Hypotactic (αxβ) marked with real conjunction such as dari, kalau, kalaupun. In POT, only 1 (one) logical relationship trait was found, namely multiple Hypotactic (αxβ). While in PAA, no trait of logical relationship of Explicit Sampiran (1) – (2) was found. In the traits of logical relationship of Implicit Isi (Content) (3) – (4), conjunction as logical function was unreal, but its existence was understandable. The traits of logical relationship of Explicit Sampiran were found in PAA such as Paratactic Elaboration (1x2), Paratactic Extension, Multiple Paratictic (1x2), and Multiple Hypotactic (αxβ). In POM, Paratactic Extension (1+2), Multiple Paratactic (1x2), and multiple Hypotactic (αxβ) were found. In the traits of implicit logical relationship, all of the clauses used conjunction, especially conjunction “dan”.&#xD;
In the traits of logical relationship of Explicit Sampiran and Isi (Content) (1) – (3), the traits of external logical relationship were found in Paratactic Extension (1+2) in PAA (3, 7, 11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) which all of them used conjunction “dan”. Paratactic Extension (1+2) was also found in POM (167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239) which all of them also used conjunction “dan”. Multiple Hypotactic (αxβ) (163) was with conjunction αxβ.&#xD;
In the traits of internal logical relationship of Sampiran and Content (2) – (4), a Paratactic Extension (1+2) was found in PAA (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) which all of them used conjunction “dan”, Multiple Hypotactic (αxβ) (36) was with conjunction “untuk”. Paratactic Extension (1+2) was also found in POM (84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (αxβ) (140, 144, 156).  Paratactic Extension (1+2) was also found in POT (168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280) which all of them used conjunction “dan”, and Multiple Hypotactic (1x2) (192, 164).&#xD;
In the analysis of Process and Circumstance of PAA, POM, and POT line (1) – (2), the dominant process found in PAA was Material Process, and the dominant circumstance was Location of Circumstance: The dominant location of Process and Circumstance in lines (3) – (4) was Mental Process and the dominant Circumstance was Circumstance of Cause. In the Process and Circumstance lines (1) – (2) in POM, it was found out that the highest dominant process wa Material Process , and the highest Circumstance was the Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Time, Place, Circumstance of Way, and Circumstance of Thing. In the Process and Circumstance in lines (1) – (2) of POT, the dominant Process was Material Process, and the highest Circumstance was Circumstance of Location: Place. In the Process and Circumstance in lines (3) – (4), the dominant Process was Mental Process, and the dominant Circumstance was Circumstance of Thing.&#xD;
In the context of Oral Pantun (Exchanging Pantun), it was found out that the pantun readers were not ready with their pantuns; they felt very nervous that they forgot the pantuns they would deliver to the other contestants. While in the pantun for marriage ceremony, even though the pantun readers were faced to their opponents, the rule of the pantun was well maintained. Its ab-ab rhyme was well maintained. It was also found out that the pantuns for marriage ceremony were either phonological logogenetic or ethnographical phylogenetic in nature.&#xD;
Pantun is conceptually a local wisdom of Melayu Deli and Serdang community.
Abstract (other language): Penelitian ini memilih judul “Fungsi dan Implikasi Makna Logis pantun Melayu Deli dan Serdang”, sebagai judulnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), yang digagas oleh Halliday (2004), dan diadaptasi oleh Saragih (2006), dan Sinar (2008).&#xD;
Ada empat masalah yang akan diberikan jawabannya dalam penelitian ini. Masalahnya adalah : (1) bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada pantun Melayu Deli dan Serdang, (2) pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam konteks sosial pengguna pantun Melayu Deli dan Serdang, (3) bagaimanakah implikasi makna logis dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, (4) mengapa fungsi  logis terjadi di dalam pantun Melayu Deli dan Serdang.&#xD;
	Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun, dan kajian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah (lokal) sebagai bagian dari kebudayaan Nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi fungsi logis yang direalisasikan pantun Melayu Deli dan Serdang, merumuskan pola fungsi logis yang digunakan dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, menganalisis implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang, dan menginterpretasi implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang.&#xD;
	Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, hasil pemerian sebagai jawaban terhadap keempat masalah penelitian tersebut akan menjadi bahan informatif tentang fungsi dan implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang. Untuk itu penulis mengumpulkan data pantun tertulis, yang terdiri atas dua puluh pantun anak – anak (PAA), dua puluh pantun orang muda (POM), dan dua puluh pantun orang tua (POT). Tiap – tiap pantun terdiri dari empat klausa kompleks, semuanya berjumlah 239 klausa. Kemudian data pantun lisan (berbalas pantun) berjumlah sepuluh (10) bait pantun, dan pantun adat pernikahan berjumlah dua belas (12) bait.&#xD;
	Hasil penelitan ini menemukan bahwa pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dalam PAA, POM, dan POT yang terdiri atas masing – masing 20 klausa kompleks, dan semuanya berjumlah 60 klausa kompleks, setelah direalisasikan 10 jenis fungsi logis, didapati bahwa fungsi logis (hubungan logis) yang dominan ada dua, yaitu Ganda Hipotaktik (α×β), dan Ekstensi Parataktik, yaitu sama – sama berjumlah 21 (35%). Pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dan isi (3) – (4) ada empat jenis hubungan logis yang kosong, yaitu lokusi Parataktik (1”2), lokusi Hipotaktik (α”β), ide Parataktik (1’2), dan ide Hipotaktik (α’β). Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (1) – (3) PMD didapati bahwa PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu 54 (90%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 19. Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (2) – (4) didapati bahwa pada PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2), yaitu 53 (88,33%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 18.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2) hanya sedikit dijumpai sifat hubungan logis, yaitu 5 pada POM, yaitu ganda Hipotaktik (α×β) sifat hubungan logis Eksplisit ini ditandai dengan konjungsi yang nyata yaitu dari, kalau, kalaupun,. Pada POT sifat hubungan logis Eksplisit sampiran hanya 1, yaitu ganda Hipotaktik (α×β). Sedangkan pada PAA tidak dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2). Pada Sifat hubungan logis Implisit Isi (3) – (4) ini, konjungsi sebagai fungsi logis tidak nyata, akan tetapi keberadaannya dapat dipahami. Pada PAA dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran, seperti Elaborasi Parataktik (1×2), Ekstensi Parataktik, Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2), Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada sifat hubungan logis Implisit semua klausa menggunakan konjungsi, terutama konjungsi dan.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) Sifat hubungan logis Eksternal pada PAA didapati pada Ekstensi Parataktik (1+2) pada PAA (3, 7,11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) semuanya menggunakan konjungsi dan. Pada POM juga dijumpai Ekstesi Parataktik (1+2), yaitu 167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239, seluruhnya menggunakan konjungsi dan. Ganda Hipotaktik (α×β) 163 dengan konjungsi α×β.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis internal Sampiran dan Isi (2) – (4) pada PAA dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β) yaitu (36) menggunakan konjungsi untuk. Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β), yaitu (140, 144, 156). Pada POT dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (1×2), yaitu 192, 164.&#xD;
	Pada analisis Proses dan Sirkumstan PAA, POM, dan POT baris (1) – (2), dijumpai PAA proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang dominan Sirkumstan Lokasi : Tempat Proses dan Sirkumstan pada baris (3) dan (4) yang dominan adalah Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Sebab. Pada POM Proses dan Sirkumstan baris (1) – (2) didapati proses yang dominanpaling tinggi adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Tempat . Pada Proses dan Sirkumstan pada baris (3) – (4), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan  Lokasi : Waktu, tempat, Sirkumstan Cara, dan Sirkumstan Hal. Pada POT Proses dan Sirkumstan Baris (1) – (2), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan tang tertinggi Sirkumstan lokasi : Tempat. Proses dan Sirkumstan Baris (3) – (4), Proses yang dominan Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Hal.&#xD;
	Pada konteks situasi Pantun Lisan (berbalas pantun) didapati bahwa pemantun tidak siap dengan pantun – pantunnya, pemantun banyak gugup dan lupa akan pantun yang dijualnya. Sedangkan pada pantun perkawinan, walau pemantun dihadapkan dengan lawan pantunnya, aturan pantun tetap terjaga. Rumus ab-ab nya terjaga baik. Pada pantun perkawinan didapati bahwa di samping bersifat logogenetik fonologis juga bersifat filogenetik etnografis.&#xD;
	Pantun yang merupakan kearifan lokal secara konseptual merupakan kebijaksanaan masyarakat Melayu Deli dan Serdang.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35620</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Mulyani, Rozanna</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini memilih judul “Fungsi dan Implikasi Makna Logis pantun Melayu Deli dan Serdang”, sebagai judulnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF), yang digagas oleh Halliday (2004), dan diadaptasi oleh Saragih (2006), dan Sinar (2008).&#xD;
Ada empat masalah yang akan diberikan jawabannya dalam penelitian ini. Masalahnya adalah : (1) bagaimanakah fungsi logis direalisasikan pada pantun Melayu Deli dan Serdang, (2) pola fungsi logis apakah yang digunakan dalam konteks sosial pengguna pantun Melayu Deli dan Serdang, (3) bagaimanakah implikasi makna logis dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, (4) mengapa fungsi  logis terjadi di dalam pantun Melayu Deli dan Serdang.&#xD;
	Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun, dan kajian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah (lokal) sebagai bagian dari kebudayaan Nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi fungsi logis yang direalisasikan pantun Melayu Deli dan Serdang, merumuskan pola fungsi logis yang digunakan dalam pantun Melayu Deli dan Serdang, menganalisis implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang, dan menginterpretasi implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang.&#xD;
	Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, hasil pemerian sebagai jawaban terhadap keempat masalah penelitian tersebut akan menjadi bahan informatif tentang fungsi dan implikasi makna logis pantun Melayu Deli dan Serdang. Untuk itu penulis mengumpulkan data pantun tertulis, yang terdiri atas dua puluh pantun anak – anak (PAA), dua puluh pantun orang muda (POM), dan dua puluh pantun orang tua (POT). Tiap – tiap pantun terdiri dari empat klausa kompleks, semuanya berjumlah 239 klausa. Kemudian data pantun lisan (berbalas pantun) berjumlah sepuluh (10) bait pantun, dan pantun adat pernikahan berjumlah dua belas (12) bait.&#xD;
	Hasil penelitan ini menemukan bahwa pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dalam PAA, POM, dan POT yang terdiri atas masing – masing 20 klausa kompleks, dan semuanya berjumlah 60 klausa kompleks, setelah direalisasikan 10 jenis fungsi logis, didapati bahwa fungsi logis (hubungan logis) yang dominan ada dua, yaitu Ganda Hipotaktik (α×β), dan Ekstensi Parataktik, yaitu sama – sama berjumlah 21 (35%). Pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dan isi (3) – (4) ada empat jenis hubungan logis yang kosong, yaitu lokusi Parataktik (1”2), lokusi Hipotaktik (α”β), ide Parataktik (1’2), dan ide Hipotaktik (α’β). Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (1) – (3) PMD didapati bahwa PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu 54 (90%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 19. Pada hubungan logis Sampiran dan Isi (2) – (4) didapati bahwa pada PAA, POM, dan POT fungsi logis (hubungan logis) yang dominan adalah Ekstensi Parataktik (1+2), yaitu 53 (88,33%) terdiri atas PAA 19, POM 16, POT 18.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2) hanya sedikit dijumpai sifat hubungan logis, yaitu 5 pada POM, yaitu ganda Hipotaktik (α×β) sifat hubungan logis Eksplisit ini ditandai dengan konjungsi yang nyata yaitu dari, kalau, kalaupun,. Pada POT sifat hubungan logis Eksplisit sampiran hanya 1, yaitu ganda Hipotaktik (α×β). Sedangkan pada PAA tidak dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran (1) – (2). Pada Sifat hubungan logis Implisit Isi (3) – (4) ini, konjungsi sebagai fungsi logis tidak nyata, akan tetapi keberadaannya dapat dipahami. Pada PAA dijumpai sifat hubungan logis Eksplisit Sampiran, seperti Elaborasi Parataktik (1×2), Ekstensi Parataktik, Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2), Ganda Parataktik (1×2), Ganda Hipotaktik (α×β). Pada sifat hubungan logis Implisit semua klausa menggunakan konjungsi, terutama konjungsi dan.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis Eksternal Sampiran dan Isi (1) – (3) Sifat hubungan logis Eksternal pada PAA didapati pada Ekstensi Parataktik (1+2) pada PAA (3, 7,11, 15, 19, 23, 27, 31, 35, 39, 43, 47, 51, 59, 63, 67, 71, 75, 79) semuanya menggunakan konjungsi dan. Pada POM juga dijumpai Ekstesi Parataktik (1+2), yaitu 167, 175, 179, 183, 187, 191, 195, 199, 203, 207, 211, 215, 219, 223, 227, 231, 235, 239, seluruhnya menggunakan konjungsi dan. Ganda Hipotaktik (α×β) 163 dengan konjungsi α×β.&#xD;
	Pada sifat hubungan logis internal Sampiran dan Isi (2) – (4) pada PAA dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu (4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 40, 44, 48, 52, 56, 60, 64, 68, 72, 76, 80) seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β) yaitu (36) menggunakan konjungsi untuk. Pada POM dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 84, 88, 92, 96, 100, 104, 108, 112, 116, 120, 124, 128, 132, 148, 152, 160, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (α×β), yaitu (140, 144, 156). Pada POT dijumpai Ekstensi Parataktik (1+2) yaitu : 168, 172, 176, 180, 188, 196, 200, 204, 208, 212, 216, 220, 224, 228, 236, 280, seluruhnya menggunakan konjungsi dan, ganda Hipotaktik (1×2), yaitu 192, 164.&#xD;
	Pada analisis Proses dan Sirkumstan PAA, POM, dan POT baris (1) – (2), dijumpai PAA proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang dominan Sirkumstan Lokasi : Tempat Proses dan Sirkumstan pada baris (3) dan (4) yang dominan adalah Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Sebab. Pada POM Proses dan Sirkumstan baris (1) – (2) didapati proses yang dominanpaling tinggi adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan Lokasi : Tempat . Pada Proses dan Sirkumstan pada baris (3) – (4), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan yang tertinggi, Sirkumstan  Lokasi : Waktu, tempat, Sirkumstan Cara, dan Sirkumstan Hal. Pada POT Proses dan Sirkumstan Baris (1) – (2), Proses yang dominan adalah Proses Material, Sirkumstan tang tertinggi Sirkumstan lokasi : Tempat. Proses dan Sirkumstan Baris (3) – (4), Proses yang dominan Proses Mental, Sirkumstan yang dominan adalah Sirkumstan Hal.&#xD;
	Pada konteks situasi Pantun Lisan (berbalas pantun) didapati bahwa pemantun tidak siap dengan pantun – pantunnya, pemantun banyak gugup dan lupa akan pantun yang dijualnya. Sedangkan pada pantun perkawinan, walau pemantun dihadapkan dengan lawan pantunnya, aturan pantun tetap terjaga. Rumus ab-ab nya terjaga baik. Pada pantun perkawinan didapati bahwa di samping bersifat logogenetik fonologis juga bersifat filogenetik etnografis.&#xD;
	Pantun yang merupakan kearifan lokal secara konseptual merupakan kebijaksanaan masyarakat Melayu Deli dan Serdang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Model Perilaku Adherensi (Adherence) dan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Pasien Asma di Kota Medan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35618</link>
      <description>Authors: Wahyuni, Arlinda Sari
Advisors: Hamid, Rozaimah Zain; Syafiuddin, Tamsil; Bachtiar, Adang
Abstract: Asthma is an airway chronic disease that is due to inflammatory process. It is considered as a worldwide serious health problem. Asthma problems are often linked to treatment management factors which include non-maximal behaviours of the patients and doctors. Bauman (2005) produced a concept of adherence to treatment as an accurate breakthrough for asthma management. Adherence is defined as the patient adhering behaviour towards the doctor’s advices accompanied with a such understanding of the disease aspects related to the disease management/treatment, so that the patients adhere their doctor's advice consistently. The adherence concept emphasizes on a strong commitment between physicians and patients to achieve maximum behaviour towards the treatment. Good adherence of patients with asthma will improve the lung function and their quality of life. This is in accordance to the goal of asthma management itself, a controlled asthma. The purpose of this study was to construct a model of adherence to treatment of patients with asthma and its association with the quality of life. In addition, this study also aimed to set a valid and reliable adherence and the quality of life measurement tool that might be applied to patients with asthma, particularly those who live in Medan.&#xD;
The study utilized qualitative and quantitative approach as the methodology. The qualitative approach was conducted to develop research instruments in which the patient, specialists, general practitioners, and pharmacologists as the source of information. The quantitative research employed a cross sectional approach. The samples were 200 adult patients with asthma who receive standard asthma medications, patients with stable condition and do not suffer from severe asthma or other comorbidities such as heart disease, hypertension, diabetes mellitus, liver and kidney disease. The study performed a consecutive sampling as the technique which was obtained from physicians’ data (general/lung specialist). Data were analyzed by performing univariate, bivariate and multivariate analysis, through SEM analysis (Structural Equation Modelling).&#xD;
As the result, the study produced a measurement model of asthma patients adherence to the treatment among those who live in Medan. The study found that the asthma patients who live in Medan have a good psychometric values (valid, reliable and fit to model): adherence I (beliefs, knowledge, and attitudes), adherence II (doctor-patient communication, actions, family support), and the quality of life (activity, emotional, physical, and environmental,). It is concluded that there is an association between adherence and quality of life among patients with asthma in Medan.
Abstract (other language): Asma adalah penyakit kronis saluran napas yang didasari oleh proses inflamasi dan merupakan masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia. Permasalahan penyakit asma sering dikaitkan faktor penatalaksanaan dimana perilaku pengobatan dari pasien asma dan dokternya belum maksimal. Bauman (2005) mengeluarkan konsep adherensi (adherence) pengobatan sebagai terobosan yang tepat dalam penatalaksanaan asma. Adherensi adalah perilaku kepatuhan pasien terhadap anjuran dokternya, yang disertai pemahaman tentang seluk beluk  penyakitnya berkaitan dengan penatalaksanaan penyakitnya, sehingga ia mengikuti anjuran dokter secara konsisten. Pada konsep adherensi ini ditekankan komitmen yang tinggi di antara dokter dan pasien dalam mencapai perilaku pengobatan yang maksimal. Adherensi pengobatan yang baik pada pasien asma akan meningkatkan fungsi paru dan kualitas hidup pasien asma, sesuai dengan tujuan penatalaksanaan asma, yaitu asma yang terkontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model adherensi pengobatan pasien asma dan kaitannya dengan kualitas hidup. Selain itu penelitian ini juga untuk mendapatkan alat ukur adherensi dan kualitas hidup yang valid dan reliabel pada pasien asma khususnya di kota Medan. &#xD;
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan instrumen penelitian dengan sumber informasi dari pasien, dokter ahli, dokter umum, dan ahli farmakologi. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan pendekatan crossecsional. Sampel adalah 200 pasien asma dewasa yang menggunakan obat asma standar, pasien asma stabil dan tidak menderita asma berat atau penyakit penyerta lainnya seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, hati dan ginjal. Teknik sampling adalah consecutive sampling data dokter praktek (umum/spesialis paru). Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat yaitu analisis SEM (Structural Equation Modelling).&#xD;
Hasil penelitian pada penelitian ini adalah terbentuknya model pengukuran adherensi pengobatan pasien asma di kota Medan yang memiliki nilai psikometrik yang baik (valid, reliabel dan pemodelan fit), yaitu adherensi I (kepercayaan, pengetahuan, dan sikap), adherensi II (komunikasi dokter pasien, tindakan, dan dukungan keluarga), kualitas hidup (aktivitas, emosi, kesehatan, dan lingkungan). Ada hubungan adherensi dengan kualitas hidup pasien asma di Kota Medan.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35618</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Wahyuni, Arlinda Sari</dc:creator>
      <dc:description>Asma adalah penyakit kronis saluran napas yang didasari oleh proses inflamasi dan merupakan masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia. Permasalahan penyakit asma sering dikaitkan faktor penatalaksanaan dimana perilaku pengobatan dari pasien asma dan dokternya belum maksimal. Bauman (2005) mengeluarkan konsep adherensi (adherence) pengobatan sebagai terobosan yang tepat dalam penatalaksanaan asma. Adherensi adalah perilaku kepatuhan pasien terhadap anjuran dokternya, yang disertai pemahaman tentang seluk beluk  penyakitnya berkaitan dengan penatalaksanaan penyakitnya, sehingga ia mengikuti anjuran dokter secara konsisten. Pada konsep adherensi ini ditekankan komitmen yang tinggi di antara dokter dan pasien dalam mencapai perilaku pengobatan yang maksimal. Adherensi pengobatan yang baik pada pasien asma akan meningkatkan fungsi paru dan kualitas hidup pasien asma, sesuai dengan tujuan penatalaksanaan asma, yaitu asma yang terkontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model adherensi pengobatan pasien asma dan kaitannya dengan kualitas hidup. Selain itu penelitian ini juga untuk mendapatkan alat ukur adherensi dan kualitas hidup yang valid dan reliabel pada pasien asma khususnya di kota Medan. &#xD;
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan instrumen penelitian dengan sumber informasi dari pasien, dokter ahli, dokter umum, dan ahli farmakologi. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan pendekatan crossecsional. Sampel adalah 200 pasien asma dewasa yang menggunakan obat asma standar, pasien asma stabil dan tidak menderita asma berat atau penyakit penyerta lainnya seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, hati dan ginjal. Teknik sampling adalah consecutive sampling data dokter praktek (umum/spesialis paru). Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat yaitu analisis SEM (Structural Equation Modelling).&#xD;
Hasil penelitian pada penelitian ini adalah terbentuknya model pengukuran adherensi pengobatan pasien asma di kota Medan yang memiliki nilai psikometrik yang baik (valid, reliabel dan pemodelan fit), yaitu adherensi I (kepercayaan, pengetahuan, dan sikap), adherensi II (komunikasi dokter pasien, tindakan, dan dukungan keluarga), kualitas hidup (aktivitas, emosi, kesehatan, dan lingkungan). Ada hubungan adherensi dengan kualitas hidup pasien asma di Kota Medan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Laleks Polystyrena Graft Maleat Anhidrida Dan Lateks Polyester Tak Jenuh Yukalac 157 BQTN-EX dengan Lateks Pekat Karet  Alam Sebagai Perekat Material Jalan (Soil Stabilizer)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35616</link>
      <description>Authors: Sukatik
Advisors: Wirjosentono, Basuki; Thamrin; Eddyanto
Abstract: The research about polystyrene graft maleic anhydride (PS-g-MA) latexes and polyester latexes with natural rubber latexes (NRL) as a road material adhesive (soil stabilizer) has been carried out. The PS-g-MA and polyester have the polar groups. The PS-g-MA latexes or polyester latexes can homogeny if mixed with NRL by addition of the emulsifier. The mixture of liquid natural rubber latexes with PS-g-MA latexes called thermoplastic soil stabilizer (SSTP), and with polyester latexes called thermoset soil stabilizer (SSTS). The booth of soil stabilizer used to stabilize the sandy soil and can interact with the sandy soil particles as the road materials.&#xD;
The grafting process of polystyrene (PS) with maleic anhydride (MA) carried out in the internal mixer, using benzoic peroxide (BPO) as the initiator, at temperature 2400C . the ratio of PS, MA and BPO were 100 : 2 : 3 and characterized the function groups by FTIR. The PS-g-MA latexes made by dissolve in toluene and mixed with water using emulsifier ALS 10%.  The polyester latexes ware made by dissolve in the dichloromethane, and then added water using emulsifier SLS 20%. The characterizations of latexes include stability test and the particle size test. The mixing between natural rubber latexes (NRL) and the PS-g-MA latexes called thermoplastic soil stabilizer (SSTP) or polyester latexes called thermoset soil stabilizer (SSTS) at room temperature and characterized by the morphology test and the thermal test. The sample of mixing SSTP or SSTS with the sandy soil aggregate done at the various ratio, the speed of mixing was 10 – 50 rpm. Then the mixture formed according to ASTM D – 1559 – 76 and ASTM D – 790. The characterization of soil stabilized include mechanical properties test, adsorbs of water test, the morphology test by SEM and thermal test by DTA.&#xD;
The results show that the grafting polystyrene with maleic anhydride was success. The FTIR spectra show there was peak at wave number 1874,81 cm-1, and 1377,22 – 1026,13 cm-1 indicate the carbonyl groups and the C – O from maleic anhydride. The particle size of the latexes at about 1,333 – 3,1 µm. The SSTP and SSTS were homogeny until the 28 th at 90/10 ratio, the density of SSTP was 0,998 gr/ml and the density of SSTS was 1, 077 gr/ml. The maximum rupture strength of the composite at the composition of 25% SSTP was 63 kgf/cm2, the MoE = 4546, and the SSTS 35% was 31,2 kgf/cm2, the MoE = 1014. The maximum compressive strength of the composite was at SSTP 30% composition = 64,2 kgf/cm2 and SSTS 25% = 37,3 kgf/cm2. The minimum of the water adsorbs was at the composition of SSTP 35% = 6,8 %, and SSTS 35%  = 6,6 %. From the thermal test there were shift of the peak of melting point and decomposition point of the NR, PS-g-MA, SSTP,  soil stabilized with SSTP and NR, polyester, SSTS, soil stabilized with SSTS.
Abstract (other language): Telah dilakukan penelitian tentang soil stabilizer hasil campuran lateks polistirena graft maleat anhidrida (PS-g-MA) maupun lateks polyester tak jenuh Yukalac 157 BQTN-EX dengan lateks pekat karet alam (LPKA). PS-g-MA dan polyester memiliki gugus polar. Lateks PS-g-MA maupun polyester dapat dicampur dengan LPKA dan homogen dengan bantuan emulsifier. Campuran lateks PS-g-MA dengan LPKA disebut soil stabilizer termoplast (SSTP) dan campuran lateks polyester dengan LPKA disebut soil stabilizer termoset (SSTS) digunakan sebagai penstabil tanah pasir dan dapat berinteraksi dengan partikel tanah pasir sebagai material jalan. &#xD;
Grafting polystirena dengan maleat anhidrida (MA) dilakukan dalam internal mixer menggunakan benzoil peroksida (BPO) sebagai inisiator pada suhu 240 0 C. , dengan perbandingan PS, MA dan BPO adalah 100 : 2 : 3.  Hasil yang diperoleh dikarakterisasi dengan FTIR. Lateks PS-g-MA  dibuat dengan cara melarutkan dalam toluena dan dicampur dengan air menggunakan emulsifier ALS 10% dengan kecepatan pengadukan 200 – 400 rpm. Lateks polyester dibuat dengan cara melarutkan polyester dalam dichlorometana (DCM) dan dicampur dengan air pada komposisi yang bervariasi dengan bantuan emulsifier SLS 20%. Karakterisasi lateks meliputi uji kestabilan (densitas), dan uji ukuran pertikel. Pencampuran  lateks pekat karet alam (LPKA) dengan lateks PS-g-MA disebut dengan soil stabilizer termoplas (SSTP) maupun dengan lateks polyester disebut soil stabilizer termoset (SSTS) dilakukan pada komposisi bervariasi dengan kecepatan putaran 200 – 400 rpm. Karakterisasi soil stabilizer meliputi uji morfologi dengan SEM, dan uji termal dengan DTA. Pencampuran SSTP maupun SSTS  dengan agregat tanah pasir dilakukan pada komposisi bervariasi dengan kecepatan pengadukan 10 – 50 rpm, selanjutnya dicetak sesuai ASTM D 1559 – 76 dan ASTM D - 790. Karakterisasi komposit hasil campuran soil stabilizer dengan tanah pasir meliputi uji sifat mekanis, uji fisika, uji morfologi permukaan dan uji termal.                                                                                            &#xD;
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa grafting PS dengan MA dapat membentuk PS-g-MA, pada spektrum FTIR sampel PS-g-MA sebelum dan setelah dimurnikan muncul puncak pada bilangan gelombang =1874,81 cm-1  yang mengindikasikan adanya gugus C=O dan didukung adanya puncak pada (ν) =1373,32 -  1026,13 cm -1  merupakan ikatan C-O dari maleat anhydrida. Ukuran partikel kedua emulsi berkisar antara  1,333 – 3,1 mm. SSTP = 90/10 homogen sampai hari ke 28, densitas 0,998 gr/ml,  sedangkan SSTS= 90/10 homogen sampai hari ke 28, densitas 1,073 gr/ml. Hasil uji mekanis komposit diperoleh kuat lentur maksimum yaitu 63,1 kgf/cm2, pada 25% SSTP, MoE = 4546 dan 31 kgf/cm2 pada 35% SSTS, MoE = 1014. Kuat tekan maksimum pada  SSTP 30% = 64,2 kgf/cm2 dan SSTS 25% = 37,3 kgf/cm2. Daya serap air minimum pada SSTP 35% = 6,8%, dan SSTS 35% = 6,6 %. Hasil uji termal terdapat pergeseran puncak dari PS-g-MA, SSTP dan komposit campuran SSTP dengan tanah pasir, demikian juga dengan polyester, SSTS dan komposit campuran SSTS dengan tanah pasir.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35616</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sukatik</dc:creator>
      <dc:description>Telah dilakukan penelitian tentang soil stabilizer hasil campuran lateks polistirena graft maleat anhidrida (PS-g-MA) maupun lateks polyester tak jenuh Yukalac 157 BQTN-EX dengan lateks pekat karet alam (LPKA). PS-g-MA dan polyester memiliki gugus polar. Lateks PS-g-MA maupun polyester dapat dicampur dengan LPKA dan homogen dengan bantuan emulsifier. Campuran lateks PS-g-MA dengan LPKA disebut soil stabilizer termoplast (SSTP) dan campuran lateks polyester dengan LPKA disebut soil stabilizer termoset (SSTS) digunakan sebagai penstabil tanah pasir dan dapat berinteraksi dengan partikel tanah pasir sebagai material jalan. &#xD;
Grafting polystirena dengan maleat anhidrida (MA) dilakukan dalam internal mixer menggunakan benzoil peroksida (BPO) sebagai inisiator pada suhu 240 0 C. , dengan perbandingan PS, MA dan BPO adalah 100 : 2 : 3.  Hasil yang diperoleh dikarakterisasi dengan FTIR. Lateks PS-g-MA  dibuat dengan cara melarutkan dalam toluena dan dicampur dengan air menggunakan emulsifier ALS 10% dengan kecepatan pengadukan 200 – 400 rpm. Lateks polyester dibuat dengan cara melarutkan polyester dalam dichlorometana (DCM) dan dicampur dengan air pada komposisi yang bervariasi dengan bantuan emulsifier SLS 20%. Karakterisasi lateks meliputi uji kestabilan (densitas), dan uji ukuran pertikel. Pencampuran  lateks pekat karet alam (LPKA) dengan lateks PS-g-MA disebut dengan soil stabilizer termoplas (SSTP) maupun dengan lateks polyester disebut soil stabilizer termoset (SSTS) dilakukan pada komposisi bervariasi dengan kecepatan putaran 200 – 400 rpm. Karakterisasi soil stabilizer meliputi uji morfologi dengan SEM, dan uji termal dengan DTA. Pencampuran SSTP maupun SSTS  dengan agregat tanah pasir dilakukan pada komposisi bervariasi dengan kecepatan pengadukan 10 – 50 rpm, selanjutnya dicetak sesuai ASTM D 1559 – 76 dan ASTM D - 790. Karakterisasi komposit hasil campuran soil stabilizer dengan tanah pasir meliputi uji sifat mekanis, uji fisika, uji morfologi permukaan dan uji termal.                                                                                            &#xD;
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa grafting PS dengan MA dapat membentuk PS-g-MA, pada spektrum FTIR sampel PS-g-MA sebelum dan setelah dimurnikan muncul puncak pada bilangan gelombang =1874,81 cm-1  yang mengindikasikan adanya gugus C=O dan didukung adanya puncak pada (ν) =1373,32 -  1026,13 cm -1  merupakan ikatan C-O dari maleat anhydrida. Ukuran partikel kedua emulsi berkisar antara  1,333 – 3,1 mm. SSTP = 90/10 homogen sampai hari ke 28, densitas 0,998 gr/ml,  sedangkan SSTS= 90/10 homogen sampai hari ke 28, densitas 1,073 gr/ml. Hasil uji mekanis komposit diperoleh kuat lentur maksimum yaitu 63,1 kgf/cm2, pada 25% SSTP, MoE = 4546 dan 31 kgf/cm2 pada 35% SSTS, MoE = 1014. Kuat tekan maksimum pada  SSTP 30% = 64,2 kgf/cm2 dan SSTS 25% = 37,3 kgf/cm2. Daya serap air minimum pada SSTP 35% = 6,8%, dan SSTS 35% = 6,6 %. Hasil uji termal terdapat pergeseran puncak dari PS-g-MA, SSTP dan komposit campuran SSTP dengan tanah pasir, demikian juga dengan polyester, SSTS dan komposit campuran SSTS dengan tanah pasir.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>“Analisis Pengaruh Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Terhadap Good Governance dan&#xD;
Pembangunan Daerah Pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35082</link>
      <description>Authors: Harahap, Dumasari
Advisors: Miraza, Bachtiar Hassan; Ramli; Lubis, Suwardi
Abstract: Reform of human resources empowerment known as a very important role&#xD;
tasks during the government of increasingly complex future. In general, the&#xD;
demands and expectations of society for human resources very large, as the&#xD;
provinces in Sumatera Utara North Sumatera province if the government can be a&#xD;
pillar implementation of regional autonomy in the creation of regional&#xD;
development, a visionary Good Governance.&#xD;
. The research objective was to determine the effect of the Human&#xD;
Resources Empowerment Against the Good Governance and Local Development in&#xD;
the North Sumatera Provincial Government. Research will be conducted by&#xD;
eksplanatory quantitative approach which would explain the influence of&#xD;
government officials through the empowerment of human resources planning and&#xD;
quality performance of the apparatur of the Good Governance and Local&#xD;
Development. The data were then analysed using multiple linier regression and&#xD;
simple regression with the Program SPSS. The sample size was 78 respondents.&#xD;
The study suggests that the effect of human resource development towards&#xD;
Good Governance Reform significant, Apparatur influence on the quality of&#xD;
human resource development plan is significant, Apparatur significant influence&#xD;
human resource development negatively on the performance of the apparatur. The&#xD;
variable quality of planning and performance of the apparatur no significant effect&#xD;
on Good Governance. Variable empowerment of human resources the government&#xD;
apparatur, the quality of planning and performance of the apparatur have a&#xD;
significant effect on Good Governance. Variable empowerment of human&#xD;
resources the government apparatur, the quality of planning and performance of&#xD;
the apparatur have a significant effect on regional development. Variable&#xD;
empowerment of human resources the government apparatur, the quality of&#xD;
planning, personnel performance and good governance have a significant effect on&#xD;
regional development.&#xD;
The conclusion of this research is the empowerment of human resources&#xD;
affects the good governance and regional development in the North Sumatra&#xD;
provincial government.&#xD;
Advice necessary to significantly increase the empowerment of human&#xD;
resources for the implementation of good governance and regional development in&#xD;
the North Sumatra Provincial Government, especially in terms of quality and&#xD;
performance planning apparatur.
Abstract (other language): Pemberdayaan sumber daya manusia yang dimaksud pada judul disertasi ini&#xD;
adalah SDM aparatur pemerintah yang mempunyai peran sangat penting mengingat&#xD;
tugas-tugas pemerintah yang makin kompleks dimasa mendatang. Pada umumnya,&#xD;
tuntutan dan harapan masyarakat terhadap sumber daya manusia aparaturnya sangat&#xD;
besar, sebagai Provinsi Sumatera Utara kiranya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara&#xD;
dapat menjadi pilar pelaksanaan otonomi daerah dalam mewujudkan pembangunan&#xD;
daerah, yang berwawasan good governance.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberdayaan Sumber&#xD;
Daya Manusia Terhadap Good Governance dan Pembangunan Daerah pada&#xD;
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan&#xD;
eksplanatory kuantitatif yang akan menjelaskan pengaruh dari Pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur pemerintah melalui kualitas perencanaan dan kinerja aparatur terhadap Good&#xD;
Governance dan Pembangunan Daerah. Metode analisis menggunakan analisis&#xD;
regresi sederhana dan regresi berganda dengan program SPSS. Besar sampel adalah&#xD;
78 responden.&#xD;
Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa variabel pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur berpengaruh signifikan terhadap Good Governance, Variabel pemberdayaan&#xD;
SDM aparatur mempunyai hubungan signifikan terhadap kualitas perencanaan,&#xD;
Variabel pemberdayaan SDM Aparatur mempunyai hubungan signifikan negatif&#xD;
terhadap kinerja aparatur. Variabel kualitas perencanaan dan kinerja aparatur tidak&#xD;
berpengaruh signifikan terhadap good governance.. Variabel pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur pemerintah, kualitas perencanaan dan kinerja aparatur berpengaruh&#xD;
signifikan terhadap good governance Pemberdayaan SDM aparatur pemerintah,&#xD;
kualitas perencanaan dan kinerja aparatur berpengaruh signifikan terhadap&#xD;
pembangunan daerah dengan. Variabel pemberdayaan SDM aparatur pemerintah,&#xD;
kualitas perencanaan, kinerja aparatur dan good governance berpengaruh signifikan&#xD;
terhadap pembangunan daerah&#xD;
Kesimpulan pemberdayaan sumber daya manusia berpengaruh terhadap good&#xD;
governance dan pembangunan daerah pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.&#xD;
Saran diperlukan peningkatan secara signifikan pemberdayaan sumber daya manusia&#xD;
terhadap pelaksanaan good governance dan pembangunan daerah pada Pemerintah&#xD;
Provinsi Sumatera Utara terutama dalam hal kualitas perencanaan dan kinerja&#xD;
aparatur.</description>
      <pubDate>Mon, 11 Feb 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35082</guid>
      <dc:date>2013-02-11T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Harahap, Dumasari</dc:creator>
      <dc:description>Pemberdayaan sumber daya manusia yang dimaksud pada judul disertasi ini&#xD;
adalah SDM aparatur pemerintah yang mempunyai peran sangat penting mengingat&#xD;
tugas-tugas pemerintah yang makin kompleks dimasa mendatang. Pada umumnya,&#xD;
tuntutan dan harapan masyarakat terhadap sumber daya manusia aparaturnya sangat&#xD;
besar, sebagai Provinsi Sumatera Utara kiranya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara&#xD;
dapat menjadi pilar pelaksanaan otonomi daerah dalam mewujudkan pembangunan&#xD;
daerah, yang berwawasan good governance.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberdayaan Sumber&#xD;
Daya Manusia Terhadap Good Governance dan Pembangunan Daerah pada&#xD;
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan&#xD;
eksplanatory kuantitatif yang akan menjelaskan pengaruh dari Pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur pemerintah melalui kualitas perencanaan dan kinerja aparatur terhadap Good&#xD;
Governance dan Pembangunan Daerah. Metode analisis menggunakan analisis&#xD;
regresi sederhana dan regresi berganda dengan program SPSS. Besar sampel adalah&#xD;
78 responden.&#xD;
Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa variabel pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur berpengaruh signifikan terhadap Good Governance, Variabel pemberdayaan&#xD;
SDM aparatur mempunyai hubungan signifikan terhadap kualitas perencanaan,&#xD;
Variabel pemberdayaan SDM Aparatur mempunyai hubungan signifikan negatif&#xD;
terhadap kinerja aparatur. Variabel kualitas perencanaan dan kinerja aparatur tidak&#xD;
berpengaruh signifikan terhadap good governance.. Variabel pemberdayaan SDM&#xD;
aparatur pemerintah, kualitas perencanaan dan kinerja aparatur berpengaruh&#xD;
signifikan terhadap good governance Pemberdayaan SDM aparatur pemerintah,&#xD;
kualitas perencanaan dan kinerja aparatur berpengaruh signifikan terhadap&#xD;
pembangunan daerah dengan. Variabel pemberdayaan SDM aparatur pemerintah,&#xD;
kualitas perencanaan, kinerja aparatur dan good governance berpengaruh signifikan&#xD;
terhadap pembangunan daerah&#xD;
Kesimpulan pemberdayaan sumber daya manusia berpengaruh terhadap good&#xD;
governance dan pembangunan daerah pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.&#xD;
Saran diperlukan peningkatan secara signifikan pemberdayaan sumber daya manusia&#xD;
terhadap pelaksanaan good governance dan pembangunan daerah pada Pemerintah&#xD;
Provinsi Sumatera Utara terutama dalam hal kualitas perencanaan dan kinerja&#xD;
aparatur.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Polimorfisme Gen TNFα Pada Posisi -308 Dan -238 Dengan Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35075</link>
      <description>Authors: Tarigan, Amira Permatasari
Advisors: Syafiuddin, Tamsil; Yunus, Faisal; Suradi
Abstract: Latar belakang&#xD;
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa 85-90% dari kasus PPOK disebabkan oleh merokok. Namun demikian, hanya 15-20% dari perokok berat kronik yang akan mengalami PPOK. Hal ini mengindikasikan kerentanan yang berbeda terhadap kerusakan akibat merokok yang kemungkinan berhubungan dengan faktor genetik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronik dari jalur peranan polimorfisme -308G/A dan -238G/A gen TNFα pada perokok.&#xD;
Metode&#xD;
Penelitian case control, membandingkan genetik sekelompok orang yang menderita PPOK (kasus) dan sekelompok orang yang tidak menderita PPOK (kontrol) dengan riwayat merokok yang sama. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai Januari 2011 sampai Maret 2012 dibeberapa lokasi antara lain :Poliklinik Paru RSUP.H.Adam Malik , RS.Pirngadi, RS. Tembakau Deli, RS. Siti Hajar di Medan dan beberapa Puskesmas di kota Medan. Pemeriksaan faal paru dilakukan dengan menggunakan spirometri dan analisis gen dengan teknik PCR-RFLP.&#xD;
Hasil&#xD;
Dari 227 orang diperoleh jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi dan penyetaraan umur dan riwayat merokok sebanyak 186 orang (93 orang sebagai kelompok kasus dan 93 orang sebagai kelompok kontrol). Hasil perhitungan frekuensi genotip -308 TNFα pada kelompok kasus PPOK, yaitu 75 GG, 8 GA, 10 AA dan pada kontrol yaitu 60 GG, 25 GA, 8 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 145 (78%), sedangkan pada kelompok kasus PPOK sebesar 158 (85%). Alel A pada kelompok kontrol sebesar 41 (22%) dan pada kelompok kasus PPOK sebesar 28 (15%).&#xD;
Hasil perhitungan frekuensi genotip -238TNFα pada kelompok kasus PPOK yaitu 85 GG, 4 GA, 4 AA dan pada kelompok kontrol yaitu 89 GG, 1 GA, 3 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 179 (96,2%) dan pada kasus PPOK yakni sebesar 174 (93,5%). Alel A pada kontrol adalah sebesar 7 (3,8%) dan pada kasus PPOK adalah sebesar 12 (6,5%). Untuk polimorfisme -308G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 18 pada kasus dan 33 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 75 pada kasus dan 60 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 0,436 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,224 - 0,850. Nilai p sama dengan Universitas Sumatera Utara&#xD;
0,014 maka perbedaan ini secara statistik bermakna. Untuk polimorfisme -238G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 8 pada kasus dan 4 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 85 pada kasus dan 89 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 2,094 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,608 - 7,211. Nilai p sama dengan 0,241 maka perbedaan ini secara statistik tidak bermakna.&#xD;
Simpulan&#xD;
Polimorfisme -308G/A gen TNFα terbukti sebagai faktor protektif terjadinya PPOK. Polimorfisme -238G/A gen TNFα tidak terbukti sebagai faktor resiko terjadinya PPOK.
Abstract (other language): Latar belakang&#xD;
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa 85-90% dari kasus PPOK disebabkan oleh merokok. Namun demikian, hanya 15-20% dari perokok berat kronik yang akan mengalami PPOK. Hal ini mengindikasikan kerentanan yang berbeda terhadap kerusakan akibat merokok yang kemungkinan berhubungan dengan faktor genetik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronik dari jalur peranan polimorfisme -308G/A dan -238G/A gen TNFα pada perokok.&#xD;
Metode&#xD;
Penelitian case control, membandingkan genetik sekelompok orang yang menderita PPOK (kasus) dan sekelompok orang yang tidak menderita PPOK (kontrol) dengan riwayat merokok yang sama. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai Januari 2011 sampai Maret 2012 dibeberapa lokasi antara lain :Poliklinik Paru RSUP.H.Adam Malik , RS.Pirngadi, RS. Tembakau Deli, RS. Siti Hajar di Medan dan beberapa Puskesmas di kota Medan. Pemeriksaan faal paru dilakukan dengan menggunakan spirometri dan analisis gen dengan teknik PCR-RFLP.&#xD;
Hasil&#xD;
Dari 227 orang diperoleh jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi dan penyetaraan umur dan riwayat merokok sebanyak 186 orang (93 orang sebagai kelompok kasus dan 93 orang sebagai kelompok kontrol). Hasil perhitungan frekuensi genotip -308 TNFα pada kelompok kasus PPOK, yaitu 75 GG, 8 GA, 10 AA dan pada kontrol yaitu 60 GG, 25 GA, 8 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 145 (78%), sedangkan pada kelompok kasus PPOK sebesar 158 (85%). Alel A pada kelompok kontrol sebesar 41 (22%) dan pada kelompok kasus PPOK sebesar 28 (15%).&#xD;
Hasil perhitungan frekuensi genotip -238TNFα pada kelompok kasus PPOK yaitu 85 GG, 4 GA, 4 AA dan pada kelompok kontrol yaitu 89 GG, 1 GA, 3 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 179 (96,2%) dan pada kasus PPOK yakni sebesar 174 (93,5%). Alel A pada kontrol adalah sebesar 7 (3,8%) dan pada kasus PPOK adalah sebesar 12 (6,5%). Untuk polimorfisme -308G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 18 pada kasus dan 33 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 75 pada kasus dan 60 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 0,436 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,224 - 0,850. Nilai p sama dengan Universitas Sumatera Utara&#xD;
0,014 maka perbedaan ini secara statistik bermakna. Untuk polimorfisme -238G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 8 pada kasus dan 4 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 85 pada kasus dan 89 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 2,094 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,608 - 7,211. Nilai p sama dengan 0,241 maka perbedaan ini secara statistik tidak bermakna.&#xD;
Simpulan&#xD;
Polimorfisme -308G/A gen TNFα terbukti sebagai faktor protektif terjadinya PPOK. Polimorfisme -238G/A gen TNFα tidak terbukti sebagai faktor resiko terjadinya PPOK.</description>
      <pubDate>Wed, 06 Feb 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35075</guid>
      <dc:date>2013-02-06T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tarigan, Amira Permatasari</dc:creator>
      <dc:description>Latar belakang&#xD;
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa 85-90% dari kasus PPOK disebabkan oleh merokok. Namun demikian, hanya 15-20% dari perokok berat kronik yang akan mengalami PPOK. Hal ini mengindikasikan kerentanan yang berbeda terhadap kerusakan akibat merokok yang kemungkinan berhubungan dengan faktor genetik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronik dari jalur peranan polimorfisme -308G/A dan -238G/A gen TNFα pada perokok.&#xD;
Metode&#xD;
Penelitian case control, membandingkan genetik sekelompok orang yang menderita PPOK (kasus) dan sekelompok orang yang tidak menderita PPOK (kontrol) dengan riwayat merokok yang sama. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai Januari 2011 sampai Maret 2012 dibeberapa lokasi antara lain :Poliklinik Paru RSUP.H.Adam Malik , RS.Pirngadi, RS. Tembakau Deli, RS. Siti Hajar di Medan dan beberapa Puskesmas di kota Medan. Pemeriksaan faal paru dilakukan dengan menggunakan spirometri dan analisis gen dengan teknik PCR-RFLP.&#xD;
Hasil&#xD;
Dari 227 orang diperoleh jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, eksklusi dan penyetaraan umur dan riwayat merokok sebanyak 186 orang (93 orang sebagai kelompok kasus dan 93 orang sebagai kelompok kontrol). Hasil perhitungan frekuensi genotip -308 TNFα pada kelompok kasus PPOK, yaitu 75 GG, 8 GA, 10 AA dan pada kontrol yaitu 60 GG, 25 GA, 8 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 145 (78%), sedangkan pada kelompok kasus PPOK sebesar 158 (85%). Alel A pada kelompok kontrol sebesar 41 (22%) dan pada kelompok kasus PPOK sebesar 28 (15%).&#xD;
Hasil perhitungan frekuensi genotip -238TNFα pada kelompok kasus PPOK yaitu 85 GG, 4 GA, 4 AA dan pada kelompok kontrol yaitu 89 GG, 1 GA, 3 AA. Alel G pada kelompok kontrol sejumlah 179 (96,2%) dan pada kasus PPOK yakni sebesar 174 (93,5%). Alel A pada kontrol adalah sebesar 7 (3,8%) dan pada kasus PPOK adalah sebesar 12 (6,5%). Untuk polimorfisme -308G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 18 pada kasus dan 33 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 75 pada kasus dan 60 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 0,436 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,224 - 0,850. Nilai p sama dengan Universitas Sumatera Utara&#xD;
0,014 maka perbedaan ini secara statistik bermakna. Untuk polimorfisme -238G/A dijumpai genotip GA dan AA sebanyak 8 pada kasus dan 4 pada kontrol. Sedangkan untuk genotip GG sebanyak 85 pada kasus dan 89 pada kontrol. Jika dihitung secara statistik diperoleh nilai oods ratio (OR) = 2,094 dan tingkat kepercayaan (confidence interval / CI) = 0,608 - 7,211. Nilai p sama dengan 0,241 maka perbedaan ini secara statistik tidak bermakna.&#xD;
Simpulan&#xD;
Polimorfisme -308G/A gen TNFα terbukti sebagai faktor protektif terjadinya PPOK. Polimorfisme -238G/A gen TNFα tidak terbukti sebagai faktor resiko terjadinya PPOK.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran ACTH4-10PRO8-GLY9-PRO10 Dan Inhibitor HMG-COA Reduktase Dalam Peningkatan BCL-2 Dan BDNF Terhadap Hasil Akhir Klinis Penderita Kontusio Serebri</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35070</link>
      <description>Authors: Indharty, Rr. Suzy
Advisors: Japardi, Iskandar; RM Padmosantjojo; Tann, Gino
Abstract: Background: Traumatic brain injury (TBI) is a major public health concern in developing and developed countries. Treatment and improvement of clinical outcome are still a challenge in medical science. Apoptosis in secondary brain injury process involves in elaboration of brain damage. Bcl-2 (B Cell Lymphoma-2) and BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) proteins have an important role in modulating apoptosis process. Bcl-2 and BDNF level escalation will give anti-apoptotic effect and brain plasticity escalation.&#xD;
&#xD;
Purpose: To compare the effect between standard therapy, standard therapy with ACTH4-10Pro8Gly9Pro10, and standard therapy with HMG CoA reductase inhibitor of serum Bcl-2 and BDNF level, clinical outcome and length of stay.&#xD;
&#xD;
Methods: This research is a true experimental study pre-post test control group design with single blind that conducted at Department of Neurosurgery and Department of Clinical Pathology University of Sumatera Utara/ H. Adam Malik Hospital with 60 patients with moderate head injury and severe head injury which did not have any indication for surgery. Serum Bcl-2 and BDNF measurements have been done with ELISA method.&#xD;
&#xD;
Results: The subjects were divided into two groups of moderate head injury and severe head injury. Both of the groups divided again into 3 groups according to the treatment which contain 20 subjects in each groups. Serum was taken from each respondent on day one and day five for Bcl-2 and BDNF level measurement.&#xD;
Moderate head injury subjects, Bcl-2 level on day one (standard: 1.68   1,34ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,93  1.35ng/mL;  inhibitor HMG CoA reductase: 1.83   1,15ng/mL) and day five (standard: 1.66  1.06ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:3.81  1.0ng/mL, inhibitor HMG CoA reductase: 2.13  0.56ng/mL). BDNF level on day one (standard: 866,79 ± 478,52 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 955,81 ± 445,68 pg/mL;  inhibitor HMG CoA reductase: 1015,71 ± 493,34 pg/mL) and day five (standard: 1026,19 ± 546,66 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1764,69 ± 559,69 pg/mL, inhibitor HMG CoA reductase: 1179,02 ± 417,22 pg/mL).&#xD;
Severe head injury subjects, Bcl-2 level on day one (standard: 1,49 ± 1,00 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,72 1.40ng/mL;  inhibitor HMG CoA reductase: 1,55 ± 0,98 ng/mL) and day five (standard: 1,64 ± 0,61 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:4,02 ± 1,119 ng/mL, inhibitor HMG CoA reductase: 2,00 ± 0,91 ng/mL). BDNF level on day one (standard: 941,39  ± 486,84 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 990,30 ± 454,03pg/mL;  inhibitor HMG CoA reductase: 953,83 ± 459,50 pg/mL) and day five (standard: 1028,45 ± 564,51 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1769,80 ± 597,48 pg/mL, inhibitor HMG CoA reductase: 1221.73  ± 390,66 pg/mL).&#xD;
This research found weak correlation between Bcl-2 and BDNF with Barthel index and Mini Mental Score Examination (MMSE), but there is significant difference length of stay between three groups of treatment. The shortest length of stay on moderate head injury and severe head injury is group with ACTH4-10Pro8Gly9Pro10 therapy (p&lt;0,05; CI 95%).&#xD;
&#xD;
Conclusion: ACTH4-10Pro8Gly9Pro10 therapy significantly increased Bcl-2 and BDNF serum level compared with standard group and HMG CoA reductase inhibitor group on moderate head injury and severe head injury. ACTH4-10Pro8Gly9Pro10 therapy also significantly decrease length of stay.
Abstract (other language): Latar belakang: Cedera kepala merupakan masalah kesehatan utama di negara maju dan berkembang. Pengobatan dan peningkatan hasil akhir pada penderita cedera kepala masih menjadi tantangan dalam bidang kedokteran.Apoptosis pada proses cedera kepala sekunder berperan dalam perluasan kerusakan jaringan otak. Protein Bcl-2 dan BDNF mempunyai peran penting dalam memodulasi proses apoptosis. Peningkatan kadar Bcl-2 an BDNF akan memberikan efek anti-apoptosisdan meningkatkan plastisitas otak.Efek ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10dan HMG CoA reduktase pada cedera kepala masih belum diketahui.&#xD;
&#xD;
Tujuan: Untuk menganalisis peran ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10 dan inhibitor HMG CoA reduktase dalam peningkatan Bcl-2dan BDNF terhadap hasil akhir klinis penderita kontusio serebri.&#xD;
&#xD;
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental study pre-post test control group design dengan single blind yang di lakukan di Departemen Bedah Saraf dan Departemen Patologi Klinik FK-USU/RS HAM.Penelitianini dilakukan pada 60 penderita cedera kepala sedang (CKS) dan 60 penderita cedera kepala berat (CKB) yang tidak diindikasikan tindakan operasi.Pemeriksaan Bcl-2 dan BDNF serum dilakukan dengan metode ELISA.&#xD;
&#xD;
Hasil: Subjek terpilih terdiri dari kelompok CKS dan CKB. Kedua kelompok ini dibagi lagi berdasarkan perlakuan dalam tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari 20 orang. Serum diambil dari semua subjek pada hari pertama dan kelima untuk dilakukan pemeriksaan kadar Bcl-2 dan BDNF. &#xD;
Pada penderita CKS, kadar Bcl-2 hari pertama (standar: 1.68   1,34ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,93   1.35ng/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1.83   1,15ng/mL) dan hari kelima (standar: 1.66  1.06ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:3.81  1.0ng/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 2.13  0.56ng/mL). Kadar BDNF hari pertama (standar: 866,79 ± 478,52 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 955,81 ± 445,68 pg/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1015,71 ± 493,34 pg/mL) dan hari kelima (standar: 1026,19 ± 546,66 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1764,69 ± 559,69 pg/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 1179,02 ± 417,22 pg/mL). &#xD;
Pada penderita CKB, kadar Bcl-2 hari pertama (standar: 1,49 ± 1,00 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,72 1.40ng/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1,55 ± 0,98 ng/mL) dan hari kelima (standar: 1,64 ± 0,61 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:4,02 ± 1,119 ng/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 2,00 ± 0,91 ng/mL). Kadar BDNF hari pertama (standar: 941,39  ± 486,84 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 990,30 ± 454,03pg/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 953,83 ± 459,50 pg/mL) dan hari kelima (standar: 1028,45 ± 564,51 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1769,80 ± 597,48 pg/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 1221.73  ± 390,66 pg/mL). Berdasarkan perhitungan statistik terdapat peningkatan kadar Bcl-2 dan BDNF yang signifikan pada kelompok perlakuan ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10 dibandingkan dengan perlakuan standar dan inhibitor HMG CoA reduktase.&#xD;
Pada penelitian ini didapati korelasi yang lemah antara kadar Bcl-2 dan BDNF dengan Barthel indeks dan Mini Mental Score Examination (MMSE), tetapi dijumpai perbedaan lama rawatan antara ketiga kelompok perlakuan. Lama rawatan paling singkat adalah pada kelompok ACTH4-10Pro8Gly9Pro10,baik pada CKS maupun CKB (p&lt;0,05; CI 95%). &#xD;
&#xD;
Kesimpulan: Pemberian ACTH4-10Pro8Gly9Pro10secara signifikan meningkatkan kadar serum Bcl-2 dan BDNF dibandingkan dengan kelompok standar dan kelompok inhibitor HMG CoA reduktase baik pada CKS dan CKB. Pemberian ACTH4-10Pro8Gly9Pro10secara signifikan juga menurunkan lama rawatan di rumah sakit.</description>
      <pubDate>Mon, 04 Feb 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35070</guid>
      <dc:date>2013-02-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Indharty, Rr. Suzy</dc:creator>
      <dc:description>Latar belakang: Cedera kepala merupakan masalah kesehatan utama di negara maju dan berkembang. Pengobatan dan peningkatan hasil akhir pada penderita cedera kepala masih menjadi tantangan dalam bidang kedokteran.Apoptosis pada proses cedera kepala sekunder berperan dalam perluasan kerusakan jaringan otak. Protein Bcl-2 dan BDNF mempunyai peran penting dalam memodulasi proses apoptosis. Peningkatan kadar Bcl-2 an BDNF akan memberikan efek anti-apoptosisdan meningkatkan plastisitas otak.Efek ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10dan HMG CoA reduktase pada cedera kepala masih belum diketahui.&#xD;
&#xD;
Tujuan: Untuk menganalisis peran ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10 dan inhibitor HMG CoA reduktase dalam peningkatan Bcl-2dan BDNF terhadap hasil akhir klinis penderita kontusio serebri.&#xD;
&#xD;
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental study pre-post test control group design dengan single blind yang di lakukan di Departemen Bedah Saraf dan Departemen Patologi Klinik FK-USU/RS HAM.Penelitianini dilakukan pada 60 penderita cedera kepala sedang (CKS) dan 60 penderita cedera kepala berat (CKB) yang tidak diindikasikan tindakan operasi.Pemeriksaan Bcl-2 dan BDNF serum dilakukan dengan metode ELISA.&#xD;
&#xD;
Hasil: Subjek terpilih terdiri dari kelompok CKS dan CKB. Kedua kelompok ini dibagi lagi berdasarkan perlakuan dalam tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari 20 orang. Serum diambil dari semua subjek pada hari pertama dan kelima untuk dilakukan pemeriksaan kadar Bcl-2 dan BDNF. &#xD;
Pada penderita CKS, kadar Bcl-2 hari pertama (standar: 1.68   1,34ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,93   1.35ng/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1.83   1,15ng/mL) dan hari kelima (standar: 1.66  1.06ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:3.81  1.0ng/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 2.13  0.56ng/mL). Kadar BDNF hari pertama (standar: 866,79 ± 478,52 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 955,81 ± 445,68 pg/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1015,71 ± 493,34 pg/mL) dan hari kelima (standar: 1026,19 ± 546,66 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1764,69 ± 559,69 pg/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 1179,02 ± 417,22 pg/mL). &#xD;
Pada penderita CKB, kadar Bcl-2 hari pertama (standar: 1,49 ± 1,00 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1,72 1.40ng/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 1,55 ± 0,98 ng/mL) dan hari kelima (standar: 1,64 ± 0,61 ng/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10:4,02 ± 1,119 ng/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 2,00 ± 0,91 ng/mL). Kadar BDNF hari pertama (standar: 941,39  ± 486,84 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 990,30 ± 454,03pg/mL;  inhibitor HMG CoA reduktase: 953,83 ± 459,50 pg/mL) dan hari kelima (standar: 1028,45 ± 564,51 pg/mL; ACTH4-10Pro8Gly9Pro10: 1769,80 ± 597,48 pg/mL, inhibitor HMG CoA reduktase: 1221.73  ± 390,66 pg/mL). Berdasarkan perhitungan statistik terdapat peningkatan kadar Bcl-2 dan BDNF yang signifikan pada kelompok perlakuan ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10 dibandingkan dengan perlakuan standar dan inhibitor HMG CoA reduktase.&#xD;
Pada penelitian ini didapati korelasi yang lemah antara kadar Bcl-2 dan BDNF dengan Barthel indeks dan Mini Mental Score Examination (MMSE), tetapi dijumpai perbedaan lama rawatan antara ketiga kelompok perlakuan. Lama rawatan paling singkat adalah pada kelompok ACTH4-10Pro8Gly9Pro10,baik pada CKS maupun CKB (p&lt;0,05; CI 95%). &#xD;
&#xD;
Kesimpulan: Pemberian ACTH4-10Pro8Gly9Pro10secara signifikan meningkatkan kadar serum Bcl-2 dan BDNF dibandingkan dengan kelompok standar dan kelompok inhibitor HMG CoA reduktase baik pada CKS dan CKB. Pemberian ACTH4-10Pro8Gly9Pro10secara signifikan juga menurunkan lama rawatan di rumah sakit.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Stress Oksidatif Marker Malonildialdehyde Dan Redox Enzyme Gluthathion Peroxidase Dengan Progresifitas Syaraf Optik Paska Pemberian Ginkgo Biloba Pada Penderita Glaukoma Sudut Terbuka Primer</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35065</link>
      <description>Authors: Sari, Masitha Dewi
Advisors: Sihotang, Aslim D; Lelo, Aznan; Rahman, Ropilah Abdul
Abstract: Background : Glaucoma is a group of disease optic neuropathy with decrease of visual field and increase intra ocular pressure as a important factor. Glaucoma can caused blindness if there is not treat immediately. Oxidative stress is one of pathogenesis of glaucoma. Many trial of antioxidant and neuroprotective in glaucoma, but the result not satisfaction.&#xD;
&#xD;
Objective : To investigate correlation between oxidative stress marker malonildialdehyde and redox enzyme gluthathion peroxidation with optic nerve progression after given ginkgo biloba in primary open angle glaucoma. &#xD;
&#xD;
Methods : An experimental study, prospective, double blind , with control, had been conducted including laboratory examination of MDA and GPx level with spektrofotometry, visual field with Optopol 910, retinal thickness with Stratus OCT to measured glaucoma progression after ginkgo biloba treatment. &#xD;
&#xD;
Result : The subjects were divided into two groups, standard + GB group ang standard + placebo group. Standard + GB group consist of 20 subject (27 eyes) and standard + placebo group consist of 20 subject (26 eyes).  Laboratory examination of MDA level, GPx level,visual field examination, retinal nerve fiber layer and optic nerve head examination was done at the beginning, three month and six month exam. Research showed mean value MDA level at the beginning exam for standard + GB and standard + plasebo group were 2,50  ± 0,66  and 2,23 ± 0,62. Mean value GPx level at the beginning exam for standard + GB and standard + plasebo group were 24,75 ± 3,24  and 24,50 ± 3,28. Research showed decreased of MDA level and increased of GPx level at three month and six month exam for the group with ginkgo biloba treatment (p&lt;0,05).  Mean value of visual field (MD and PSD) at the beginning examination for standard + GB group and standard + placebo group were 0,14 ± 0,04, 0,97 ± 0,26 and 0,18 ± 0,06, 0,94 ± 0,23. Treatment of ginkgo biloba showed increase of visual field  (p&lt;0,05). Mean value of superior RNFL, nasal RNFL, inferior RNFL, temporal RNFL at the beginning examination for standard + GB group and standard + placebo group were  89,00 ± 8,60, 46,74 ± 5,58, 92,04 ± 4,58, 47,52 ± 3,03 and 92,96 ± 8,37, 50,92 ± 58,00, 95,58 ± 7,58, 49,65 ±7,42. Mean value of optic nerve head (DA, CA, RA, CDR, CDRV, CV) for standard + GB group and standard + placebo group were 2,50 ± 0,62, 1,52 ±0,37, 0,93 ± 0,02, 0,72 ± 0,14, 0,73 ± 0,14, 0,44 ± 0,10 and 2,60 ± 0,68, 1,43 ±0,38, 1,03 ± 0,02, 0,70 ± 0,14, 0,75 ± 0,12, 0,44 ± 0,18. Treatment of ginkgo biloba also showed increase of retinal nerve fiber layer (p&lt;0,05) and showed an alterate optic nerve head (p&lt;0,05). With one way anova statistic, showed a significant difference MDA in group with ginkgo biloba treatment, but in GPx showed a significant difference for the two groups. Visual field showed a significant difference in group with  ginkgo biloba treatment. .Mean value of retinal thickness  showed a significant difference in the two groups (p&lt;0,05). In optic nerve head, mean value of rim area, cup disc ratio and cup disc ratio vertical showed a significant difference in group with ginkgo biloba treatment (p&lt;0,05). Correlation result showed there was a correlation between MDA and visual field (MD and PSD), intra ocular pressure, optic nerve head and there was a correlation between GPx with retinal nerve fiber layer and optic nerve head. &#xD;
&#xD;
Conclusion : Ginkgo biloba can alterate MDA level and GPx level, decreased glaucoma progression, and showed a correlation between MDA and GPx with glaucoma progression after ginkgo biloba treatment.
Abstract (other language): Latar Belakang : Glaukoma merupakan kumpulan penyakit dengan neuropati optik yang ditandai dengan penurunan lapang pandangan dan peningkatan tekanan intraokuli sebagai faktor resiko utama. Glaukoma ini dapat menyebabkan kebutaan apabila tidak ditangani dengan segera. Berbagai patogenesis dikemukakan yang berhubungan dengan  terjadinya glaukoma, salah satunya adalah keterlibatan radikal bebas dan redox enzyme. Berbagai antioksidan dan neuroprotektif telah dicoba pada penderita glaukoma tetapi hasilnya belium memuaskan. &#xD;
&#xD;
Tujuan : Membuktikan hubungan stress oksidatif marker malonildialdehyde dan redox enzyme gluthathion peroxidase dengan progresifitas syaraf optik paska pemberian ginkgo biloba.&#xD;
&#xD;
Metode : Sebuah studi eksperimental, prospektif, double blind, dengan kontrol  telah dilakukan meliputi pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan kadar plasma MDA dan sel darah merah GPx dengan spektrofotometri,  pemeriksaan ketebalan retina dan optic nerve head dengan Stratus OCT, pemeriksaan lapang pandangan dengan Optopol 910 dalam menilai progresifitas syaraf optik paska pemberian ginkgo biloba. &#xD;
&#xD;
Hasil : Subjek terpilih terdiri dari dua kelompok standar + GB dan standar + plasebo. Kelompok standar + GB terdiri dari 20 orang (27 mata) dan kelompok standar + plasebo terdiri dari 20 orang (26 mata). Pemeriksaan kadar plasma MDA dan sel darah merah GPx, tekanan intra okuli, lapang pandangan (MD dan PSD), lapisan serabut syaraf retina, optic nerve head dilakukan pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian. Pada awal penelitian, nilai rerata kadar MDA pada kelompok standar + GB adalah 2,50 ± 0,66 nmol/l dan nilai rerata kadar MDA pada kelompok standar + plasebo adalah 2,23 ± 0,82 nmol/l, nilai rerata kadar GPx pada kelompok standar + GB adalah 24,78 ± 3,24 μ/gHb dan nilai rerata kadar GPx pada kelompok standar + plasebo adalah 24,50 ±3,26 μ/gHb.  Tampak penurunan kadar MDA dan peningkatan kadar GPx pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan bulan keenam (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata MD dan PSD pada kelompok standar + GB masing –masing adalah 0,14 ± 0,04 dan 0,97 ±0,26, dan nilai rerata MD dan PSD pada kelompok standar + plasebo masing –masing adalah 0,18 ± 0,06 dan 0,94 ± 0,23. Tampak peningkatan lapang pandangan (MD dan PSD) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan keenam (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata LSSR superior, nasal, inferior, temporal pada kelompok standar + GB masing-masing adalah 89,00 ± 8,60, 46,74 ± 5,58, 92,04 ± 4,58 dan 47,52 ±3,03 dan nilai rerata LSSR superior nasal, inferior, temporal pada kelompok standar + plasebo masing-masing adalah 92,96 ± 8,37, 50,92 ± 8,00, 95,58 ± 7,58 dan 49,65 ±7,42. Tampak perubahan ketebalan LSSR yang signifikan secara statistika pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan bulan keenam penelitian (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata disc area (DA), cup area (CA), rim area (RA), cup disc ratio (CDR), cup disc ratio vertical (CDRV) dan cup volume (CV) pada kelompok standar + GB masing-masing adalah 2,50 ± 0,62, 1,52 ±0,37, 0,93 ± 0,02, 0,72 ± 0,14, 0,73 ± 0,14, 0,44 ± 0,10 dan nilai rerata disc area (DA), cup area (CA), rim area (RA), cup disc ratio (CDR), cup disc ratio vertical (CDRV) dan cup volume (CV) pada kelompok standar + plasebo masing-masing adalah 2,60 ± 0,68, 1,43 ±0,38, 1,03 ± 0,02, 0,70 ± 0,14, 0,75 ± 0,12, 0,44 ± 0,18. Tampak perubahan nilai optic nerve head ( RA, CDR, CDRV, CV) yang signifikan secara statistika pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05). Dengan menggunakan one way anova untuk menilai kadar MDA pada masing-masing kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05), sedangkan kadar GPx pada kedua kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keeenam dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Tekanan intraokuli pada kedua kelompok  pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Lapang pandangan pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05). Ketebalan LSSR pada kedua kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Rim area, cup disc area dan cup disc ratio vertical pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Hasil korelasi memperlihatkan adanya hubungan antara MDA dengan fungsi lapang pandangan (MD dan PSD), tekanan intra okuli dan optic nerve head (disc area dan cup area) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba dan tampak adanya hubungan antara GPx dengan ketebalan LSSR inferior dan optic nerve head (cup disc ratio vertical dan cup volume) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba.&#xD;
Kesimpulan : Ginkgo biloba dapat merubah kadar stress oksidatif marker MDA dan redox enzyme GPx serta menurunkan progresifitas glaukoma dan ditemukan adanya hubungan antara stress oksidatif marker MDA dan redox enzyme GPx dengan progresifitas glaukoma paska pemberian ginkgo biloba.</description>
      <pubDate>Mon, 04 Feb 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35065</guid>
      <dc:date>2013-02-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sari, Masitha Dewi</dc:creator>
      <dc:description>Latar Belakang : Glaukoma merupakan kumpulan penyakit dengan neuropati optik yang ditandai dengan penurunan lapang pandangan dan peningkatan tekanan intraokuli sebagai faktor resiko utama. Glaukoma ini dapat menyebabkan kebutaan apabila tidak ditangani dengan segera. Berbagai patogenesis dikemukakan yang berhubungan dengan  terjadinya glaukoma, salah satunya adalah keterlibatan radikal bebas dan redox enzyme. Berbagai antioksidan dan neuroprotektif telah dicoba pada penderita glaukoma tetapi hasilnya belium memuaskan. &#xD;
&#xD;
Tujuan : Membuktikan hubungan stress oksidatif marker malonildialdehyde dan redox enzyme gluthathion peroxidase dengan progresifitas syaraf optik paska pemberian ginkgo biloba.&#xD;
&#xD;
Metode : Sebuah studi eksperimental, prospektif, double blind, dengan kontrol  telah dilakukan meliputi pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan kadar plasma MDA dan sel darah merah GPx dengan spektrofotometri,  pemeriksaan ketebalan retina dan optic nerve head dengan Stratus OCT, pemeriksaan lapang pandangan dengan Optopol 910 dalam menilai progresifitas syaraf optik paska pemberian ginkgo biloba. &#xD;
&#xD;
Hasil : Subjek terpilih terdiri dari dua kelompok standar + GB dan standar + plasebo. Kelompok standar + GB terdiri dari 20 orang (27 mata) dan kelompok standar + plasebo terdiri dari 20 orang (26 mata). Pemeriksaan kadar plasma MDA dan sel darah merah GPx, tekanan intra okuli, lapang pandangan (MD dan PSD), lapisan serabut syaraf retina, optic nerve head dilakukan pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian. Pada awal penelitian, nilai rerata kadar MDA pada kelompok standar + GB adalah 2,50 ± 0,66 nmol/l dan nilai rerata kadar MDA pada kelompok standar + plasebo adalah 2,23 ± 0,82 nmol/l, nilai rerata kadar GPx pada kelompok standar + GB adalah 24,78 ± 3,24 μ/gHb dan nilai rerata kadar GPx pada kelompok standar + plasebo adalah 24,50 ±3,26 μ/gHb.  Tampak penurunan kadar MDA dan peningkatan kadar GPx pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan bulan keenam (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata MD dan PSD pada kelompok standar + GB masing –masing adalah 0,14 ± 0,04 dan 0,97 ±0,26, dan nilai rerata MD dan PSD pada kelompok standar + plasebo masing –masing adalah 0,18 ± 0,06 dan 0,94 ± 0,23. Tampak peningkatan lapang pandangan (MD dan PSD) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan keenam (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata LSSR superior, nasal, inferior, temporal pada kelompok standar + GB masing-masing adalah 89,00 ± 8,60, 46,74 ± 5,58, 92,04 ± 4,58 dan 47,52 ±3,03 dan nilai rerata LSSR superior nasal, inferior, temporal pada kelompok standar + plasebo masing-masing adalah 92,96 ± 8,37, 50,92 ± 8,00, 95,58 ± 7,58 dan 49,65 ±7,42. Tampak perubahan ketebalan LSSR yang signifikan secara statistika pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada bulan ketiga dan bulan keenam penelitian (p&lt;0,05). Pada awal penelitian, nilai rerata disc area (DA), cup area (CA), rim area (RA), cup disc ratio (CDR), cup disc ratio vertical (CDRV) dan cup volume (CV) pada kelompok standar + GB masing-masing adalah 2,50 ± 0,62, 1,52 ±0,37, 0,93 ± 0,02, 0,72 ± 0,14, 0,73 ± 0,14, 0,44 ± 0,10 dan nilai rerata disc area (DA), cup area (CA), rim area (RA), cup disc ratio (CDR), cup disc ratio vertical (CDRV) dan cup volume (CV) pada kelompok standar + plasebo masing-masing adalah 2,60 ± 0,68, 1,43 ±0,38, 1,03 ± 0,02, 0,70 ± 0,14, 0,75 ± 0,12, 0,44 ± 0,18. Tampak perubahan nilai optic nerve head ( RA, CDR, CDRV, CV) yang signifikan secara statistika pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05). Dengan menggunakan one way anova untuk menilai kadar MDA pada masing-masing kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05), sedangkan kadar GPx pada kedua kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keeenam dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Tekanan intraokuli pada kedua kelompok  pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Lapang pandangan pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba (p&lt;0,05). Ketebalan LSSR pada kedua kelompok pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Rim area, cup disc area dan cup disc ratio vertical pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba pada awal, bulan ketiga dan bulan keenam penelitian dijumpai perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Hasil korelasi memperlihatkan adanya hubungan antara MDA dengan fungsi lapang pandangan (MD dan PSD), tekanan intra okuli dan optic nerve head (disc area dan cup area) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba dan tampak adanya hubungan antara GPx dengan ketebalan LSSR inferior dan optic nerve head (cup disc ratio vertical dan cup volume) pada kelompok yang mendapat terapi ginkgo biloba.&#xD;
Kesimpulan : Ginkgo biloba dapat merubah kadar stress oksidatif marker MDA dan redox enzyme GPx serta menurunkan progresifitas glaukoma dan ditemukan adanya hubungan antara stress oksidatif marker MDA dan redox enzyme GPx dengan progresifitas glaukoma paska pemberian ginkgo biloba.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Faktor Pendorong Dan Penarik Pada Komuter Terhadap Pengembangan Wilayah</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34790</link>
      <description>Authors: Rahmadana, M.Fitri
Advisors: Miraza, Bachtiar Hassan; Ramli; Sirojuzilam
Abstract: The city is often considered to be something interesting, beautiful,&#xD;
promising, and civilized. Significance of city life has been a source of heated&#xD;
debate and attracts a lot of parties. In inherent is something that the terms with the&#xD;
effects of the all good (positive), while others view the city as the situation is&#xD;
completely uncertain and completely bad (negative). Commuting is a behavior&#xD;
that arise from the perspective of those with all its consequences, both&#xD;
individually and interventions. Based on the above problems, it needs an in-depth&#xD;
study of the influence of push and pull factors in commuting to the Development&#xD;
Area.&#xD;
This study aims to explain the push and pull factors in the development of&#xD;
the commuter. The study is useful for decision makers in planning and diversify&#xD;
regional planning theory. The research was conducted with explanatory approach&#xD;
using primary data. Samples were taken as many as 384 respondents in proportion&#xD;
random sampling with snowball sampling method. Analysis of the data was used&#xD;
a correlation, regression and structural equation model.&#xD;
The results showed that the driving factors and pull factors significantly&#xD;
influence the development of the region. Dependency ratio and income&#xD;
significantly influence the allocation of partner income commuters to the area of&#xD;
origin and quality of life. Income, accessibility of destinations and employment&#xD;
significantly influence the allocation of revenues to the regions of origin and&#xD;
quality of life for commuters.
Abstract (other language): Kota sering dianggap sesuatu yang menarik, indah, menjanjikan, dan&#xD;
berperadaban. Signifikansi kehidupan kota telah menjadi sumber perdebatan&#xD;
sengit dan menarik banyak pihak. Secara inhern adalah sesuatu yang syarat&#xD;
dengan efek-efek yang serba baik (positif), sementara yang lainnya memandang&#xD;
kota sebagai situasi yang serba tidak menentu dan serba buruk (negatif). Komuter&#xD;
adalah prilaku yang muncul akibat dari perspektif tersebut dengan segala&#xD;
konsekuensinya baik secara individu maupun kewilayahan.&#xD;
Berdasarkan&#xD;
permasalahan diatas, maka perlu suatu kajian yang mendalam mengenai&#xD;
Pengaruh Faktor Pendorong dan Penarik pada Komuter terhadap&#xD;
Pengembangan Wilayah.&#xD;
Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor pendorong dan penarik pada&#xD;
komuter terhadap pengembangan wilayah. Penelitian ini bermanfaat bagi&#xD;
pengambil keputusan di bidang perencanaan dan memberikan variasi teori&#xD;
perencanaan wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksplanatori&#xD;
menggunakan data primer. Sampel diambil sebanyak 384 responden secara&#xD;
proporsional trandom sampling dengan metode snowball sampling. Analisis data&#xD;
yang digunakan adalah korelasi, regresi dan structural equation model.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong dan faktor penarik&#xD;
berpengaruh secara signifikan terhadap pengembangan wilayah. Rasio&#xD;
ketergantungan dan pendapatan pasangan berpengaruh signifikan terhadap alokasi&#xD;
pendapatan ke daerah asal komuter dan kualitas hidup. Pendapatan, aksesibilitas&#xD;
daerah tujuan dan kesempatan kerja berpengaruh signifikan terhadap alokasi&#xD;
pendapatan ke daerah asal komuter dan kualitas hidup.</description>
      <pubDate>Sat, 15 Dec 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34790</guid>
      <dc:date>2012-12-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rahmadana, M.Fitri</dc:creator>
      <dc:description>Kota sering dianggap sesuatu yang menarik, indah, menjanjikan, dan&#xD;
berperadaban. Signifikansi kehidupan kota telah menjadi sumber perdebatan&#xD;
sengit dan menarik banyak pihak. Secara inhern adalah sesuatu yang syarat&#xD;
dengan efek-efek yang serba baik (positif), sementara yang lainnya memandang&#xD;
kota sebagai situasi yang serba tidak menentu dan serba buruk (negatif). Komuter&#xD;
adalah prilaku yang muncul akibat dari perspektif tersebut dengan segala&#xD;
konsekuensinya baik secara individu maupun kewilayahan.&#xD;
Berdasarkan&#xD;
permasalahan diatas, maka perlu suatu kajian yang mendalam mengenai&#xD;
Pengaruh Faktor Pendorong dan Penarik pada Komuter terhadap&#xD;
Pengembangan Wilayah.&#xD;
Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor pendorong dan penarik pada&#xD;
komuter terhadap pengembangan wilayah. Penelitian ini bermanfaat bagi&#xD;
pengambil keputusan di bidang perencanaan dan memberikan variasi teori&#xD;
perencanaan wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksplanatori&#xD;
menggunakan data primer. Sampel diambil sebanyak 384 responden secara&#xD;
proporsional trandom sampling dengan metode snowball sampling. Analisis data&#xD;
yang digunakan adalah korelasi, regresi dan structural equation model.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong dan faktor penarik&#xD;
berpengaruh secara signifikan terhadap pengembangan wilayah. Rasio&#xD;
ketergantungan dan pendapatan pasangan berpengaruh signifikan terhadap alokasi&#xD;
pendapatan ke daerah asal komuter dan kualitas hidup. Pendapatan, aksesibilitas&#xD;
daerah tujuan dan kesempatan kerja berpengaruh signifikan terhadap alokasi&#xD;
pendapatan ke daerah asal komuter dan kualitas hidup.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Mimikri dan Hibriditas Novel Hindia Belanda: Kajian Poskolonialisme</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34786</link>
      <description>Authors: Rosliani
Advisors: Nasution, Ikhwanuddin; Saragih, Amrin; Sikana, Mana
Abstract: The title of the dissertation is “Mimicry and Hybridity of Dutch Indies Novels: A Post-colonialism Study”. The materials of the research are taken from Max Havelaar written by Multatuli (1839-1887), Berpacu Nasib di Kebun Karet written by M.H. Székely-Lulofs (1899-1958), Manusia Bebas written by Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), and Oeroeg written by Hella S. Haasse (1918-2011). The results of the identification are problems relating to the structure of the narratation, mimicry, ambivalence, hybridity, and syncretism. Of the five problems, ambivalence occurs due to the infirmness of mimicry and syncretism occurs due to the flexibility of Western and Eastern hybridization.&#xD;
Post-colonialism theory and narrative structure theory are used in the analysis by using constructivism paradigm. The aim of using the theories and methodology is to reveal Dutch Indie’s lifestyle as fiction reality and historical event underlying it as a historical reality. For that reason, the study uses text study and library research in justifying description and comparative reality of the fiction and historical reality of colonial nation’s life and colonized country in Dutch-Indie.&#xD;
Based on the narrative structure, fiction reality of Dutch-Indies novels are chronologically described based on plot, physical structure, race and gender relation, space and time structure, and narration transmission structure. The description of historical reality is focused on the author and the problem faced by bureaucratic elite such as the government, education, and plantation. Fiction reality in the novel is based on the historical reality, such as the practice of corruption, nepotism and Westernization, in accordance to the historical context or the historical context which has moved or disguised the locations and the names of the actors.&#xD;
 The appearance of western and eastern civilization clash in Dutch-Indies novels causes mimicry and hybridity problem to the Dutch and Indonesian. Mimicry in lifestyle which is accepted in Dutch-Indie, such as forming ambivalent personality of colonized nation (Indonesia) and colonial nation (Dutch). The mimicry and the ambivalence place structural and cultural hybridity focused on model and form of leadership. Leadership hybridity causes religious syncretism between Christian Western people and Eastern people who have various religions. The mimicry and hybridity problem in fiction reality and historical reality of Dutch-Indie’s novels are the focus of this post-colonialism research so that it can give a clear description to the roof of the problem of Indonesian nationality which puts forward its local genius in facing the global era.
Abstract (other language): Disertasi ini berjudul “Mimikri dan Hibriditas Novel Hindia Belanda: Kajian Poskolonialisme”. Novel yang dijadikan bahan penelitian adalah Max Havelaar karya Multatuli (1839-1887), Berpacu Nasib di Kebun Karet M.H. Székely-Lulofs (1899-1958), Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), dan Oeroeg karya Hella S. Haasse (1918-2011). Hasil identifikasi terhadap novel tersebut ditemukan masalah yang berkaitan dengan struktur penceritaan, mimikri, ambivalensi, hibriditas dan sinkretisme. Dari kelima masalah, ambivalensi muncul akibat ketidakpastian mimikri dan sinkretisme muncul akibat fleksibelitas hibridisasi Barat dan Timur. &#xD;
Di dalam penganalisisan digunakan teori poskolonialisme dan teori struktur naratif dengan paradigma konstruktivisme. Penggunaan teori dan metodologi penelitian ini untuk mengungkap gaya hidup Hindia Belanda sebagai realitas fiksi dan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya sebagai realitas historis. Untuk itu, penelitian ini menggunakan uji teks dan uji pustaka dalam membenarkan deskripsi dan komparasi realitas fiksi dan realitas historis kehidupan bangsa penjajah dan bangsa terjajah di Hindia Belanda.&#xD;
Secara struktur naratif, realitas fiksi novel Hindia Belanda dideskripsikan secara kronologis berdasarkan struktur plot, struktur fisik, ras, dan relasi gender, struktur ruang dan waktu, serta struktur transmisi narasi. Realitas fiksi ini diikuti pendeskripsian realitas historis dengan fokus pada riwayat hidup pengarang dan masalah yang dihadapi elite birokrasi, baik pemerintahan, pendidikan, maupun perkebunan. Hasilnya, realitas fiksi dalam novel didasarkan pada realitas historis, seperti praktik KKN dan pembaratan, baik sesuai konteks historisnya maupun konteks historis yang dipindahkan dan disamarkan lokasi serta nama pelakunya.&#xD;
Pemunculan benturan peradaban Barat dan Timur dalam novel Hindia Belanda memunculkan masalah mimikri dan hibriditas bagi bangsa Belanda dan Indonesia. Mimikri dalam gaya hidup yang berterima di Hindia Belanda, misalnya, membentuk ambivalensi kepribadian bangsa yang terjajah (Indonesia) dan bangsa yang menjajah (Belanda). Mimikri dan ambivalensi tersebut menempatkan hibriditas struktural dan kultural yang berpusat pada model dan wujud kepemimpinan. Hibriditas kepemimpinan memunculkan sinkretisme religi di mana Barat yang Kristen bertemu dengan Timur yang memiliki keanekaragaman religi. Persoalan mimikri dan hibriditas dalam realitas fiksi dan realitas historis novel Hindia Belanda tersebut menjadi fokus penelitian poskolonial ini sehingga memberi gambaran yang jelas terhadap akar persoalan kebangsaan Indonesia yang tetap mengedepankan local geniusnya menghadapi era globalisasi.</description>
      <pubDate>Sat, 15 Dec 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34786</guid>
      <dc:date>2012-12-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rosliani</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini berjudul “Mimikri dan Hibriditas Novel Hindia Belanda: Kajian Poskolonialisme”. Novel yang dijadikan bahan penelitian adalah Max Havelaar karya Multatuli (1839-1887), Berpacu Nasib di Kebun Karet M.H. Székely-Lulofs (1899-1958), Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), dan Oeroeg karya Hella S. Haasse (1918-2011). Hasil identifikasi terhadap novel tersebut ditemukan masalah yang berkaitan dengan struktur penceritaan, mimikri, ambivalensi, hibriditas dan sinkretisme. Dari kelima masalah, ambivalensi muncul akibat ketidakpastian mimikri dan sinkretisme muncul akibat fleksibelitas hibridisasi Barat dan Timur. &#xD;
Di dalam penganalisisan digunakan teori poskolonialisme dan teori struktur naratif dengan paradigma konstruktivisme. Penggunaan teori dan metodologi penelitian ini untuk mengungkap gaya hidup Hindia Belanda sebagai realitas fiksi dan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya sebagai realitas historis. Untuk itu, penelitian ini menggunakan uji teks dan uji pustaka dalam membenarkan deskripsi dan komparasi realitas fiksi dan realitas historis kehidupan bangsa penjajah dan bangsa terjajah di Hindia Belanda.&#xD;
Secara struktur naratif, realitas fiksi novel Hindia Belanda dideskripsikan secara kronologis berdasarkan struktur plot, struktur fisik, ras, dan relasi gender, struktur ruang dan waktu, serta struktur transmisi narasi. Realitas fiksi ini diikuti pendeskripsian realitas historis dengan fokus pada riwayat hidup pengarang dan masalah yang dihadapi elite birokrasi, baik pemerintahan, pendidikan, maupun perkebunan. Hasilnya, realitas fiksi dalam novel didasarkan pada realitas historis, seperti praktik KKN dan pembaratan, baik sesuai konteks historisnya maupun konteks historis yang dipindahkan dan disamarkan lokasi serta nama pelakunya.&#xD;
Pemunculan benturan peradaban Barat dan Timur dalam novel Hindia Belanda memunculkan masalah mimikri dan hibriditas bagi bangsa Belanda dan Indonesia. Mimikri dalam gaya hidup yang berterima di Hindia Belanda, misalnya, membentuk ambivalensi kepribadian bangsa yang terjajah (Indonesia) dan bangsa yang menjajah (Belanda). Mimikri dan ambivalensi tersebut menempatkan hibriditas struktural dan kultural yang berpusat pada model dan wujud kepemimpinan. Hibriditas kepemimpinan memunculkan sinkretisme religi di mana Barat yang Kristen bertemu dengan Timur yang memiliki keanekaragaman religi. Persoalan mimikri dan hibriditas dalam realitas fiksi dan realitas historis novel Hindia Belanda tersebut menjadi fokus penelitian poskolonial ini sehingga memberi gambaran yang jelas terhadap akar persoalan kebangsaan Indonesia yang tetap mengedepankan local geniusnya menghadapi era globalisasi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi dan Ekologi terhadap Produksi Kopi Arabika Spesialti dalam Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Simalungun</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34415</link>
      <description>Authors: Saragih, Jef Rudiantho
Advisors: Sirojuzilam; Lubis, Suwardi; Damanik, Sengli J.
Abstract: The objective of this research is to know the influence of socioeconomic and&#xD;
ecological factors on production of specialty Arabica coffee in Simalungun District.&#xD;
In addition, research also examined the benefit of coffee certification program, land&#xD;
use and analysis of policy and program need. This studies underlying model of local&#xD;
economic development (LED) based on agribusiness of specialty Arabica coffee.&#xD;
Selection of the sample area is carried out by multi-stage cluster sampling (MSCS)&#xD;
while the determination of the sample of households using probability-proportionalto-&#xD;
size and simple random sampling for 79 units certified coffee farms and 210 units&#xD;
non-certified coffee farms. Farms data was analyzed with multiple linear regression&#xD;
model. The role of Arabica coffee in LED examined in correlation coefficient, share&#xD;
analysis, scenario analysis, policy review and need assessment.&#xD;
Increased production and productivity of specialty arabica coffee is done with&#xD;
intensification strategy through: (1) increased of suitable fertilizer recommendations,&#xD;
(2) facilitation of specialty arabica coffee farm credit, (3) optimization of&#xD;
land use (intercropping or coffee multistrata), (4) optimization of the use of family&#xD;
labour, (5) application of good agricultural practices (shade tree, organic fertilizer,&#xD;
coffee pruning, land conservation, and control of coffee berry borer). While the&#xD;
efforts of extensification should be conducted if an effort of intensification have&#xD;
shown an increase in production and productivity. Ecological factors have an&#xD;
important role in the development of specialty arabica coffee in the highlands of&#xD;
Simalungun. An increase in the application of ecological variables at the level of&#xD;
farming will double role in improving productivity, quality coffee and support the&#xD;
sustainability of the coffee production by ecologically.&#xD;
Productivity of certified arabica coffee is lower (8%) than productivity of noncertificate&#xD;
coffee. While certified coffee price is only slightly higher (3.57%) than&#xD;
non-certified coffee price. It takes an effort to raise the premium coffee price to 26%&#xD;
for higher income of certified coffee by 25% as compared to the non-certified coffee.&#xD;
Specialty arabica coffee farming is highly prospective and strategic to achieving the&#xD;
purpose of the local economic development. Specialty arabica coffee farming&#xD;
contributed 3.27% in the regional income and 8.29% of the total workforce in&#xD;
Simalungun District. Local economic development policy are assessed relevant for&#xD;
the development of specialty arabica coffee commodities, but SKPD programs are&#xD;
not optimal, even less focused. Therefore, the results of this study recommend 14&#xD;
programs to support Model of LED based on Agribusiness of Specialty Arabica&#xD;
Coffee in the Simalungun Highlands. In addition, the model that is developed must&#xD;
be supported by spatial detail a specialty arabica coffee production region as well as&#xD;
accelerating the revision of Decree of Ministry of Forestry No. 44/2005.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sosial ekonomi dan&#xD;
ekologi terhadap produksi kopi arabika spesiati di Kabupaten Simalungun. Selain&#xD;
itu, dikaji manfaat program sertifikasi kopi, tata guna lahan, dan analisis kebutuhan&#xD;
kebijakan dan program. Kajian-kajian ini mendasari rekomendasi model&#xD;
pengembangan ekonomi lokal (PEL) berbasis agribisnis kopi arabika spesialti.&#xD;
Pemilihan sampel wilayah dilakukan dengan multi-stage cluster sampling (MSCS)&#xD;
sementara penentuan sampel rumah tangga menggunakan teknik probabilityproportional-&#xD;
to-size (PPS) dan sampel acak sederhana untuk 79 unit usahatani kopi&#xD;
sertifikat dan 210 usahatani kopi non-sertifikat. Data usahatani dianalisis dengan&#xD;
model regresi linier berganda. Peran komoditas kopi arabika dalam PEL dikaji&#xD;
dengan koefisien korelasi, analisis pangsa, analisis skenario, kajian kebijakan dan&#xD;
analisis kebutuhan.&#xD;
Peningkatan produksi dan produktivitas kopi arabika spesialti dilakukan dengan&#xD;
strategi intensifikasi melalui: (1) peningkatan jumlah pupuk sesuai rekomendasi, (2)&#xD;
fasilitasi kredit usahatani kopi arabika spesialti, (3) optimalisasi pemanfaatan lahan&#xD;
(tumpangsari atau kopi multistrata), (4) optimalisasi penggunaan tenaga kerja&#xD;
keluarga, (5) penerapan praktik pertanian yang baik (pohon pelindung, pupuk&#xD;
organik, pemangkasan tanaman kopi, konservasi lahan, dan pengendalian PBKo).&#xD;
Sementara upaya ekstensifikasi (perluasan lahan) sebaiknya dilakukan apabila upaya&#xD;
intensifikasi telah menunjukkan peningkatan produksi dan produktivitas. Faktor&#xD;
ekologi memiliki peran penting dalam pengembangan kopi arabika spesialti di&#xD;
dataran tinggi Simalungun. Peningkatan penerapan variabel ekologi di tingkat&#xD;
usahatani akan berperan ganda dalam meningkatkan produktivitas, kualitas kopi&#xD;
serta mendukung keberlanjutan produksi kopi secara ekologis.&#xD;
Produktivitas kopi arabika sertifikat lebih rendah (8%) dari produktivitas kopi&#xD;
arabika non-sertifikat. Sementara harga kopi sertifikat hanya sedikit lebih tinggi&#xD;
(3,57%) daripada harga kopi non-sertifikat. Diperlukan upaya untuk meningkatkan&#xD;
harga premium kopi menjadi 26% agar pendapatan petani kopi sertifikat lebih tinggi&#xD;
sebesar 25% dibandingkan dengan pendapatan petani non-sertifikat. Usahatani kopi&#xD;
arabika spesialti sangat prospektif dan strategis untuk mencapai tujuan&#xD;
pengembangan ekonomi lokal. Usahatani kopi arabika spesialti memberikan&#xD;
kontribusi 3,27% dalam pendapatan wilayah dan 8,29% dalam penyerapan tenaga&#xD;
kerja total Kabupaten Simalungun. Kebijakan pengembangan ekonomi lokal dinilai&#xD;
gayut untuk pengembangan komoditas kopi arabika spesialti, namun program SKPD&#xD;
dinilai belum optimal, bahkan kurang fokus. Oleh karena itu, hasil penelitian ini&#xD;
merekomendasi 14 program untuk mendukung Model PEL berbasis Agribisnis Kopi&#xD;
Arabika Spesialti di dataran tinggi Simalungun. Disamping itu, model yang&#xD;
dikembangkan harus didukung tata ruang rinci sentra produksi kopi arabika spesialti&#xD;
serta percepatan revisi SK Menteri Kehutanan No. 44/2005.</description>
      <pubDate>Mon, 19 Nov 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34415</guid>
      <dc:date>2012-11-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Saragih, Jef Rudiantho</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sosial ekonomi dan&#xD;
ekologi terhadap produksi kopi arabika spesiati di Kabupaten Simalungun. Selain&#xD;
itu, dikaji manfaat program sertifikasi kopi, tata guna lahan, dan analisis kebutuhan&#xD;
kebijakan dan program. Kajian-kajian ini mendasari rekomendasi model&#xD;
pengembangan ekonomi lokal (PEL) berbasis agribisnis kopi arabika spesialti.&#xD;
Pemilihan sampel wilayah dilakukan dengan multi-stage cluster sampling (MSCS)&#xD;
sementara penentuan sampel rumah tangga menggunakan teknik probabilityproportional-&#xD;
to-size (PPS) dan sampel acak sederhana untuk 79 unit usahatani kopi&#xD;
sertifikat dan 210 usahatani kopi non-sertifikat. Data usahatani dianalisis dengan&#xD;
model regresi linier berganda. Peran komoditas kopi arabika dalam PEL dikaji&#xD;
dengan koefisien korelasi, analisis pangsa, analisis skenario, kajian kebijakan dan&#xD;
analisis kebutuhan.&#xD;
Peningkatan produksi dan produktivitas kopi arabika spesialti dilakukan dengan&#xD;
strategi intensifikasi melalui: (1) peningkatan jumlah pupuk sesuai rekomendasi, (2)&#xD;
fasilitasi kredit usahatani kopi arabika spesialti, (3) optimalisasi pemanfaatan lahan&#xD;
(tumpangsari atau kopi multistrata), (4) optimalisasi penggunaan tenaga kerja&#xD;
keluarga, (5) penerapan praktik pertanian yang baik (pohon pelindung, pupuk&#xD;
organik, pemangkasan tanaman kopi, konservasi lahan, dan pengendalian PBKo).&#xD;
Sementara upaya ekstensifikasi (perluasan lahan) sebaiknya dilakukan apabila upaya&#xD;
intensifikasi telah menunjukkan peningkatan produksi dan produktivitas. Faktor&#xD;
ekologi memiliki peran penting dalam pengembangan kopi arabika spesialti di&#xD;
dataran tinggi Simalungun. Peningkatan penerapan variabel ekologi di tingkat&#xD;
usahatani akan berperan ganda dalam meningkatkan produktivitas, kualitas kopi&#xD;
serta mendukung keberlanjutan produksi kopi secara ekologis.&#xD;
Produktivitas kopi arabika sertifikat lebih rendah (8%) dari produktivitas kopi&#xD;
arabika non-sertifikat. Sementara harga kopi sertifikat hanya sedikit lebih tinggi&#xD;
(3,57%) daripada harga kopi non-sertifikat. Diperlukan upaya untuk meningkatkan&#xD;
harga premium kopi menjadi 26% agar pendapatan petani kopi sertifikat lebih tinggi&#xD;
sebesar 25% dibandingkan dengan pendapatan petani non-sertifikat. Usahatani kopi&#xD;
arabika spesialti sangat prospektif dan strategis untuk mencapai tujuan&#xD;
pengembangan ekonomi lokal. Usahatani kopi arabika spesialti memberikan&#xD;
kontribusi 3,27% dalam pendapatan wilayah dan 8,29% dalam penyerapan tenaga&#xD;
kerja total Kabupaten Simalungun. Kebijakan pengembangan ekonomi lokal dinilai&#xD;
gayut untuk pengembangan komoditas kopi arabika spesialti, namun program SKPD&#xD;
dinilai belum optimal, bahkan kurang fokus. Oleh karena itu, hasil penelitian ini&#xD;
merekomendasi 14 program untuk mendukung Model PEL berbasis Agribisnis Kopi&#xD;
Arabika Spesialti di dataran tinggi Simalungun. Disamping itu, model yang&#xD;
dikembangkan harus didukung tata ruang rinci sentra produksi kopi arabika spesialti&#xD;
serta percepatan revisi SK Menteri Kehutanan No. 44/2005.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Model Pengelolaan Eco-Museum Kawasan Padanglawas Melalui Pemanfaatan Peninggalan Budaya</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34410</link>
      <description>Authors: Setianingsih, Rita Margaretha
Abstract: Padanglawas is a hinterland of Sumatera has cultural and natural resources. The cultural resources are cultural remains such as temples, inscriptions, reliefs and statues. So the natural resources know from diversity of flora and fauna.&#xD;
The cultural and natural resources have an important value for the culture, economy, science and tourism. The cultural and natural resource empower to understand the diversity, strengthen national authenticity, makes the pride of national, and strengthen national unity.&#xD;
Recently in Padanglawas area, the method use of land became changed. Lands cultivated for the Elaeisguineensis, and the change of lands could be influence the cultural and natural resources. The cultivated of Elaeisguineensis use a huge and heavy tractors could make the artifacts in the surface or inside the soil become destroyed. This threat which could be destroyed the sites in Padanglawas should be avoid through ecomuseum management concept.&#xD;
Model ecomuseum management could be use for preserving Padanglawas which consists of area, natural environment, and local community. Model ecomuseum management could be establishing Padanglawas area become Padanglawas cultural heritage area. This could be increase empowerment community with utilization in cultural, economy, science, and tourism aspects.&#xD;
Through understanding of Padanglawas Area Ecomusueum Management Concept with take note of aspects of the cultural remains; of nature resource; and community resources nowadays, so establish a framework of model ecomuseum management Padanglawas Cultural Heritage Area. The purposes of Model ecomuseum management Padanglawas Cultural Heritage Area are to preserve area, to develop ecotourism, and to upgrade research area.
Abstract (other language): Padanglawas adalah daerah di pedalaman Sumatera yang mempunyai sumberdaya budaya dan alam. Sumberdaya budaya yang dimiliki berupa tinggalan budaya yakni bangunan candi, prasasti, relief dan arca. Begitu pula dengan sumberdaya alam ditandai dengan adanya flora dan fauna yang beragam.&#xD;
Tinggalan budaya dan alam tersebut mempunyai nilai penting bagi kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kepariwisataan. Sumberdaya budaya dan alam di Padanglawas banyak diberdayakan untuk menanamkan pemahaman kebhinekaan, memperkokoh jati diri bangsa, menumbuhkan kebanggaan nasional, dan mempererat persatuan bangsa.&#xD;
Pada saat ini di daerah Padanglawas terjadi perubahan tata guna lahan. Banyak lahan digunakan untuk menanam kelapa sawit, dan perubahan tata guna lahan ini dikuatirkan akan mempengaruhi keberadaan tinggalan budaya dan alam yang ada. Pengolahan kebun kelapa sawit dengan menggunakan kendaraan berat dan besar akan merusak temuan artefak, baik yang ada di permukaan maupun yang masih berada di dalam tanah. Ancaman yang merusak keberadaan situs di daerah Padanglawas harus diupayakan dihindarkan melalui suatu bentuk pengelolaan menggunakan pendekatan ekomuseum.&#xD;
Model pengelolaan ekomuseum dapat dijadikan salah satu upaya melestarikan daerah Padanglawas yang terdiri atas kawasan; lingkungan alam; dan komuniti lokal. Model pengelolaan ekomuseum memungkinkan penetapan daerah Padanglawas menjadi Kawasan Cagar Budaya Padanglawas. Hal ini dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkannya dalam aspek-aspek kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kepariwisataan.&#xD;
Melalui pemahaman konsep pengelolaan ekomuseum Kawasan Padanglawas dengan memperhatikan aspek-aspek sumberdaya budaya masa lalu, sumberdaya alam, dan sumberdaya masyarakat masa kini, maka ditetapkan model pengelolaan ekomuseum dalam kerangka pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Padanglawas. Model pengelolaan ekomuseum dalam kerangka pemanfaatan Cagar Budaya Kawasan Padanglawas bertujuan untuk melestarikan kawasan; melestarikan budaya lokal; mengembangkan ekowisata; dan mengembangkan area penelitian.</description>
      <pubDate>Mon, 19 Nov 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34410</guid>
      <dc:date>2012-11-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Setianingsih, Rita Margaretha</dc:creator>
      <dc:description>Padanglawas adalah daerah di pedalaman Sumatera yang mempunyai sumberdaya budaya dan alam. Sumberdaya budaya yang dimiliki berupa tinggalan budaya yakni bangunan candi, prasasti, relief dan arca. Begitu pula dengan sumberdaya alam ditandai dengan adanya flora dan fauna yang beragam.&#xD;
Tinggalan budaya dan alam tersebut mempunyai nilai penting bagi kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kepariwisataan. Sumberdaya budaya dan alam di Padanglawas banyak diberdayakan untuk menanamkan pemahaman kebhinekaan, memperkokoh jati diri bangsa, menumbuhkan kebanggaan nasional, dan mempererat persatuan bangsa.&#xD;
Pada saat ini di daerah Padanglawas terjadi perubahan tata guna lahan. Banyak lahan digunakan untuk menanam kelapa sawit, dan perubahan tata guna lahan ini dikuatirkan akan mempengaruhi keberadaan tinggalan budaya dan alam yang ada. Pengolahan kebun kelapa sawit dengan menggunakan kendaraan berat dan besar akan merusak temuan artefak, baik yang ada di permukaan maupun yang masih berada di dalam tanah. Ancaman yang merusak keberadaan situs di daerah Padanglawas harus diupayakan dihindarkan melalui suatu bentuk pengelolaan menggunakan pendekatan ekomuseum.&#xD;
Model pengelolaan ekomuseum dapat dijadikan salah satu upaya melestarikan daerah Padanglawas yang terdiri atas kawasan; lingkungan alam; dan komuniti lokal. Model pengelolaan ekomuseum memungkinkan penetapan daerah Padanglawas menjadi Kawasan Cagar Budaya Padanglawas. Hal ini dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkannya dalam aspek-aspek kebudayaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kepariwisataan.&#xD;
Melalui pemahaman konsep pengelolaan ekomuseum Kawasan Padanglawas dengan memperhatikan aspek-aspek sumberdaya budaya masa lalu, sumberdaya alam, dan sumberdaya masyarakat masa kini, maka ditetapkan model pengelolaan ekomuseum dalam kerangka pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Padanglawas. Model pengelolaan ekomuseum dalam kerangka pemanfaatan Cagar Budaya Kawasan Padanglawas bertujuan untuk melestarikan kawasan; melestarikan budaya lokal; mengembangkan ekowisata; dan mengembangkan area penelitian.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Model Daya Dukung Ketersediaan Air Dengan Koefisien Stabilitas(Studi Kasus Pada Kawasan Industri Sei Mangkei Kabupaten Simalungun</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33699</link>
      <description>Authors: Nababan, Esther Sorta Mauli
Advisors: Matondang, A. Rahim; Syahrin, Alvi; Muluk, Chairul
Abstract: Water resource management system requires a measurement instrument for carrying capacity of water availabilit conditions. This study develops a model of the carrying capacity of water availability with the stability of the availability of water as a parameter that can be used to predict the maximum water use on temporal scale basis. The observation variabels are processing capacity of fresh fruit bunch, the volume of water consumption for processing fresh fruit bunches, and discharge of water use per unit of time. The relationship between variables is evaluated by conducting statistical analysis and simulation experiments performed with four different scenarios of water resources for each time scale. Component of stability assessed is balance of the water availability. Carrying capacity of water availability models indicate the presence of a significantly positive relationship between the stability of water availability with the carrying capacity of water availability. Water outflow rate is significantly positive associated with the depletion of water availability, and significantly negative related to the stability of water availability. Stability of the availability of water can be used as a control parameter in maintaining the carrying capacity of water availability. Carrying capacity of the model's accuracy can be improved by evaluating the probability of deviations or errors that occur in each of the components involved in water supply systems in the region, and includes hydrological studies, particularly the prediction of changes in the hydrological system. The results showed that stability of water availability in Sei Mangkei Industrial Zone on the existing conditions is above equlibrium point of the carrying capacity of water availability, which is within the safe limit of the carrying capacity of water availability. The use of recycled wastewater to meet water needs for industry can improve stability of water availability as 0.029 per day, and at 0.031 per month, or $ 0.026 per year. Accuracy of measurement on stability of water availability can be improved by evaluating the components of stability in a holistic manner, which includes a factor of persistence, resilience, and resistance.
Abstract (other language): Sistem pengelolaan sumberdaya air memerlukan instrumen pengukuran kondisi daya dukung ketersediaan air. Penelitian ini mengembangkan model daya dukung ketersediaan air dengan stabilitas ketersediaan air sebagai parameter yang dapat digunakan untuk memprediksi batas maksimum penggunaan air per skala waktu harian, bulanan dan tahunan. Variabel probabilistik penelitian adalah kapasitas pengolahan Tandan Buah Segar, volume konsumsi air untuk pengolahan per ton tandan buah segar, dan debit pemakaian air per satuan waktu. Pengujian hipotesis hubungan antar variabel dilakukan dengan mengadakan percobaan simulasi pada 4 skenario sumber air yang berbeda untuk setiap skala waktu. Komponen stabilitas ketersediaan air yang dikaji adalah keimbangan ketersediaan air. Model daya dukung ketersediaan air menunjukkan terdapatnya hubungan positif secara signifikan antara stabilitas ketersediaan air dengan daya dukung ketersediaan air. Laju outflow air berhubungan positif secara signifikan dengan deplesi ketersediaan air, dan berhubungan negatif signifikan dengan stabilitas ketersediaan air. Stabilitas ketersediaan air dapat difungsikan sebagai parameter kendali dalam memelihara daya dukung ketersediaan air. Akurasi model daya dukung ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan mengevaluasi probabilitas penyimpangan atau error yang terjadi pada setiap komponen yang terlibat dalam sistem ketersediaan air di kawasan, dan menyertakan kajian hidrologi, khususnya prediksi perubahan sistem hidrologi di kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koesifien stabilitas ketersediaan air di Kawasan Industri Sei Mangkei pada kondisi existing dalam skala harian, bulanan, dan tahunan berada diatas titik equlibrium daya dukung ketersediaan air, yaitu berada dalam wilayah batas aman daya dukung ketersediaan air. Pemanfaatan daur ulang limbah cair dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk industri perpabrikan dapat meningkatkan koefisien stabilitas ketersediaan air sebesar 0,029 per hari, dan sebesar 0,031 per bulan, atau sebesar 0,026 per tahun. Akurasi pengukuran stabilitas daya dukung ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan mengevaluasi komponen stabilitas secara holistik, yaitu menyertakan faktor persistensi, resilien, dan resistensi.</description>
      <pubDate>Tue, 18 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33699</guid>
      <dc:date>2012-09-18T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nababan, Esther Sorta Mauli</dc:creator>
      <dc:description>Sistem pengelolaan sumberdaya air memerlukan instrumen pengukuran kondisi daya dukung ketersediaan air. Penelitian ini mengembangkan model daya dukung ketersediaan air dengan stabilitas ketersediaan air sebagai parameter yang dapat digunakan untuk memprediksi batas maksimum penggunaan air per skala waktu harian, bulanan dan tahunan. Variabel probabilistik penelitian adalah kapasitas pengolahan Tandan Buah Segar, volume konsumsi air untuk pengolahan per ton tandan buah segar, dan debit pemakaian air per satuan waktu. Pengujian hipotesis hubungan antar variabel dilakukan dengan mengadakan percobaan simulasi pada 4 skenario sumber air yang berbeda untuk setiap skala waktu. Komponen stabilitas ketersediaan air yang dikaji adalah keimbangan ketersediaan air. Model daya dukung ketersediaan air menunjukkan terdapatnya hubungan positif secara signifikan antara stabilitas ketersediaan air dengan daya dukung ketersediaan air. Laju outflow air berhubungan positif secara signifikan dengan deplesi ketersediaan air, dan berhubungan negatif signifikan dengan stabilitas ketersediaan air. Stabilitas ketersediaan air dapat difungsikan sebagai parameter kendali dalam memelihara daya dukung ketersediaan air. Akurasi model daya dukung ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan mengevaluasi probabilitas penyimpangan atau error yang terjadi pada setiap komponen yang terlibat dalam sistem ketersediaan air di kawasan, dan menyertakan kajian hidrologi, khususnya prediksi perubahan sistem hidrologi di kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koesifien stabilitas ketersediaan air di Kawasan Industri Sei Mangkei pada kondisi existing dalam skala harian, bulanan, dan tahunan berada diatas titik equlibrium daya dukung ketersediaan air, yaitu berada dalam wilayah batas aman daya dukung ketersediaan air. Pemanfaatan daur ulang limbah cair dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk industri perpabrikan dapat meningkatkan koefisien stabilitas ketersediaan air sebesar 0,029 per hari, dan sebesar 0,031 per bulan, atau sebesar 0,026 per tahun. Akurasi pengukuran stabilitas daya dukung ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan mengevaluasi komponen stabilitas secara holistik, yaitu menyertakan faktor persistensi, resilien, dan resistensi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Model Pengendalian Perumahan Sederhana Dalam Sistem Perumahan Berkelanjutan Perkotaan Berbasis Rendah Emisi CO2</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33596</link>
      <description>Authors: Siahaan, Nelson
Advisors: Syahrin, Alvi; Sudjono, Priana; Aulia, Dwira
Abstract: Since it was built in 1995, the period between 2000 until 2009 approximately 89 percent of houses have been doing various home renewal in the form of restoration, renovation, or reconstruction of buildings. The whole house renewal resulted in CO2 emissions through activities; pre-construction, construction and post construction. Various studies show that the generation of CO2 emission was not only generated from the construction process itself but also by all aspects of the utilization of space in the housing. To prevent and control the impact of greenhouse gas emissions then the policy of controlling CO2 emissions is done by studying the dynamics of systems of housing and urban life in the Simple Housing Griya Martubung IMe dan. Qualitative research conducted to gain knowledge about the various components of the design of housing related to CO2 emissions generation. Each component of a simple housing system at Griya Martubung I Medan is investigated through fenomenological analysis by conducting in-depth interviews, observation, and discussion of the various stakeholders. From the analysis of the components obtained knowledge that the generation of CO2 emissions in the Griya Martubung I housing system is influenced by the interactions the various components; sub-systems environment supporting low-income housing, sub-systems environment life support low-income housing, and sub-system of residential life norms. From the diagram of the interaction between the components of the three sub-systems, it is obtained a causal relationships diagram model causal relationships, interaction logic and character of each components. Next, the chart models can be transformed into a simple model of urban housing policy of low CO2 emissions. Implementation of control policy model is expected to be a significant advance in the practice of sustainable urban design of low-income housing low CO 2 emissions.
Abstract (other language): Sejak dibangun tahun 1995, kurun waktu antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 kurang lebih 89 persen rumah telah melakukan berbagai perombakan rumah baik berupa restorasi, renovasi, ataupun rekonstruksi bangunan. Seluruh perombakan rumah ini menghasilkan emisi CO2 melalui aktifitas-aktifitas; pra-kontruksi, konstruksi dan pasca konstruksi. Berbagai studi menunjukkan bahwa timbulan CO2 ternyata tidak hanya dihasilkan dari proses konstruksi semata tetapi juga oleh seluruh aspek pemanfaatan ruang pada perumahan. Untuk pencegahan dan penanggulangan dampak emisi gas rumah kaca ini maka kebijakan pengendalian emisi CO2 dilakukan dengan mempelajari dinamika sistem penyelenggaraan perumahan dan kehidupan perkotaan di Perumahan Sederhana Griya Martubung I Medan. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai komponen perancangan perumahan yang berhubungan dengan timbulan emisi CO2. Masing-masing komponen sistem perumahan sederhana diteliti melalui fenomenologikal analisis dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan diskusi terhadap berbagai pemangku kepentingan. Dari analisa komponen diperoleh pengetahuan bahwa timbulan emisi CO2 dalam sistem perumahan Griya Martubung I dipengaruhi oleh interaksi-interaksi berbagai komponen; sub-sistem lingkungan penunjang perumahan sederhana, sub-sistem lingkungan penunjang kehidupan perumahan sederhana, dan sub-sistem norma kehidupan perumahan sederhana. Dari bagan interaksi antar komponen ketiga sub-sistem diperoleh model bagan hubungan sebab-akibat serta logika interaksi dan karakter masing-masing komponen. Selanjutnya bagan model yang ada dapat ditransformasikan kedalam model kebijakan pengendalian perumahan sederhana perkotaan rendah emisi CO2. Implementasi dari model kebijakan pengendalian ini diharapkan dapat dikembangkan dalam praktek perancangan perumahan sederhana berkelanjutan perkotaan rendah emisi CO2.</description>
      <pubDate>Tue, 04 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33596</guid>
      <dc:date>2012-09-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siahaan, Nelson</dc:creator>
      <dc:description>Sejak dibangun tahun 1995, kurun waktu antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 kurang lebih 89 persen rumah telah melakukan berbagai perombakan rumah baik berupa restorasi, renovasi, ataupun rekonstruksi bangunan. Seluruh perombakan rumah ini menghasilkan emisi CO2 melalui aktifitas-aktifitas; pra-kontruksi, konstruksi dan pasca konstruksi. Berbagai studi menunjukkan bahwa timbulan CO2 ternyata tidak hanya dihasilkan dari proses konstruksi semata tetapi juga oleh seluruh aspek pemanfaatan ruang pada perumahan. Untuk pencegahan dan penanggulangan dampak emisi gas rumah kaca ini maka kebijakan pengendalian emisi CO2 dilakukan dengan mempelajari dinamika sistem penyelenggaraan perumahan dan kehidupan perkotaan di Perumahan Sederhana Griya Martubung I Medan. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang berbagai komponen perancangan perumahan yang berhubungan dengan timbulan emisi CO2. Masing-masing komponen sistem perumahan sederhana diteliti melalui fenomenologikal analisis dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan diskusi terhadap berbagai pemangku kepentingan. Dari analisa komponen diperoleh pengetahuan bahwa timbulan emisi CO2 dalam sistem perumahan Griya Martubung I dipengaruhi oleh interaksi-interaksi berbagai komponen; sub-sistem lingkungan penunjang perumahan sederhana, sub-sistem lingkungan penunjang kehidupan perumahan sederhana, dan sub-sistem norma kehidupan perumahan sederhana. Dari bagan interaksi antar komponen ketiga sub-sistem diperoleh model bagan hubungan sebab-akibat serta logika interaksi dan karakter masing-masing komponen. Selanjutnya bagan model yang ada dapat ditransformasikan kedalam model kebijakan pengendalian perumahan sederhana perkotaan rendah emisi CO2. Implementasi dari model kebijakan pengendalian ini diharapkan dapat dikembangkan dalam praktek perancangan perumahan sederhana berkelanjutan perkotaan rendah emisi CO2.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Model Lingkungan Pengelolaan Sampah Perkotaan (Studi Kasus Kota Medan)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33579</link>
      <description>Authors: Rahman, Haikal
Advisors: Syahrin, Alvi; Matondang, A. Rahim; Muluk, Chairul
Abstract: This study aims to develop an environmental model of municipalities solid waste management, which is then elaborated operationally to : (1) analyze the community preferences toward the solid waste management system in Medan Municipalities(2) determine municipalities solid waste management alternative technologies that synergizes with the community preferences and the Act No. 18 of 2008 regarding Waste Management, (3) develop model and analyze the environmental contribution of the municipalities solid waste which managed by the formal sector and informal sector. The study results showed that : (1) the community assessment towards solid waste management system in Medan Municipalities that based on the municipalities solid waste management aspect is fall under the preference scale of good enough with an average score = 2.73 and the bivariate correlation values = -0.706 that correlate to the preference scale of not good, (2) the alternative technologies of municipalities solid waste management that synergizes with the community preferences which based on the municipalities solid waste management aspects, consist of: (1) AD-MBT with the eigenvector value = 0.240, (2) Gasification with the eigenvector value = 0.165 and (3) Incineration with the eigenvector value = 0.145, (3) Through the development of models and analysis towards the environmental and economic contribution value that generated by the formal and informal sector in managing the municipalities solid waste, it is known that the model which can manage the sustainable solid waste management is the model that: (1) improving recyclable waste management activities which currently is still around 19% of the available potential recyclable waste in Medan Municipalities along with involving the informal sector and the community, (2) applying AD-MBT technologies towards the final processing of municipalities solid waste; (3) maintaining the growth rate of SI in managing municipalities recyclable waste in the range of 8.022%.
Abstract (other language): Studi ini bertujuan untuk mengembangkan model lingkungan pengolahan sampah perkotaan yang secara operasional dielaborasi untuk : (1) Menganalisis preferensi masyarakat kota Medan terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan di kota Medan; (2) Menentukan alternatif teknologi pengelolaan sampah perkotaan yang bersinergi dengan preferensi masyarakat dan Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; (3) Membangun model dan menganalisis kontribusi dari sampah perkotaan yang dikelola oleh sektor formal dan sektor informal terhadap lingkungan. Hasil studi memperlihatkan : (1) Penilaian masyarakat secara menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan di Kota Medan yang dilaksanakan oleh sektor formal dengan berdasarkan aspek-aspek pengelolaan sampah perkotaan termasuk dalam kategori belum baik dengan skor rata-rata sebesar 2.73 serta nilai korelasi sebesar -0,706 terhadap rentang penilaian Tidak Baik; (2) Alternatif teknologi pengelolaan sampah perkotaan yang bersinergi dengan preferensi masyarakat dan UUPS yang didasarkan atas kriteria aspek pengelolaan sampah perkotaan terdiri atas : (1) AD-MBT dengan nilai eigenvector = 0,240; (2) Gasification dengan nilai eigenvector = 0,165 dan (3) Inceneration dengan nilai eigenvector = 0,145; (3) Melalui pengembangan model dan analisis kontribusi lingkungan dan nilai ekonomis yang dihasilkan oleh sektor formal dan sektor informal dalam mengelola sampah perkotaan, diketahui bahwa model yang dapat mengelola sampah perkotaan di Kota Medan secara berkelanjutan adalah model yang : (1) meningkatkan aktifitas pengelolaan sampah daur ulang yang saat ini masih berkisar 19% dari potensi SDU yang tersedia di Kota Medan baik dengan cara melibatkankan sektor informal maupun masyarakat umum; (2) menerapkan alternatif teknologi pengelolaan AD–MBT pada tahapan pemrosesan akhir sampah perkotaan.; (3) menjaga laju pertumbuhan SI dalam mengelola sampah daur ulang perkotaan pada kisaran 8,022%.</description>
      <pubDate>Mon, 03 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33579</guid>
      <dc:date>2012-09-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rahman, Haikal</dc:creator>
      <dc:description>Studi ini bertujuan untuk mengembangkan model lingkungan pengolahan sampah perkotaan yang secara operasional dielaborasi untuk : (1) Menganalisis preferensi masyarakat kota Medan terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan di kota Medan; (2) Menentukan alternatif teknologi pengelolaan sampah perkotaan yang bersinergi dengan preferensi masyarakat dan Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; (3) Membangun model dan menganalisis kontribusi dari sampah perkotaan yang dikelola oleh sektor formal dan sektor informal terhadap lingkungan. Hasil studi memperlihatkan : (1) Penilaian masyarakat secara menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan di Kota Medan yang dilaksanakan oleh sektor formal dengan berdasarkan aspek-aspek pengelolaan sampah perkotaan termasuk dalam kategori belum baik dengan skor rata-rata sebesar 2.73 serta nilai korelasi sebesar -0,706 terhadap rentang penilaian Tidak Baik; (2) Alternatif teknologi pengelolaan sampah perkotaan yang bersinergi dengan preferensi masyarakat dan UUPS yang didasarkan atas kriteria aspek pengelolaan sampah perkotaan terdiri atas : (1) AD-MBT dengan nilai eigenvector = 0,240; (2) Gasification dengan nilai eigenvector = 0,165 dan (3) Inceneration dengan nilai eigenvector = 0,145; (3) Melalui pengembangan model dan analisis kontribusi lingkungan dan nilai ekonomis yang dihasilkan oleh sektor formal dan sektor informal dalam mengelola sampah perkotaan, diketahui bahwa model yang dapat mengelola sampah perkotaan di Kota Medan secara berkelanjutan adalah model yang : (1) meningkatkan aktifitas pengelolaan sampah daur ulang yang saat ini masih berkisar 19% dari potensi SDU yang tersedia di Kota Medan baik dengan cara melibatkankan sektor informal maupun masyarakat umum; (2) menerapkan alternatif teknologi pengelolaan AD–MBT pada tahapan pemrosesan akhir sampah perkotaan.; (3) menjaga laju pertumbuhan SI dalam mengelola sampah daur ulang perkotaan pada kisaran 8,022%.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perubahan Demografi dan Transformasi Struktural Ekonomi Wilayah Kabupaten Deli Serdang</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33562</link>
      <description>Authors: Rujiman
Advisors: Ramli; Sirojuzilam; Rahmanta
Abstract: The success of regional economic Development indicated by the increasing of real percapita income in the long run. Percapita income increased always be followed by the economic structural transformation and an increasing of population development index as a mirror an of improvement  of human resources. Consistent with the improvement of three cases mention above, the population growth will be lower as well.&#xD;
This research aims is to analyze the economic development and economic structural transformation in Kabupaten Deli Serdang during 2004-2009. And also to find out the correlation between the increasing income  with the proportion of primary goods consumption, secondary and tertiery goods as well. Analysing effect of education, goverment civil official, migration and number of household on income. Analysing effect of education, goverment civil official, social interaction, age of 1st marriage, migration, family planning and income on the fertility change. Analysing industrialization and fertility on the economic growth. The economic growth is a representation of the regional development.&#xD;
The applied data  are primary and secondary data. The analysis tools are shift share analysis, correlation and multiple regression. &#xD;
The results showed that, during 2004-2009, there was an economic development followed by transformation of economic structural  in Deli Serdang. There  are significant negatively correlation between  income and primary goods consumption proportion   and significant positively correlation between income and secondary goods consumption proportion, and tertiery as well. Educational level had a significantly positive effect on population income of Deli Serdang, while migration had a significantly negative effect on the population income of Deli Serdang. Level of education and age of 1st marriage had a negatively significant effect on the fertility change. Civil service and income had a positively significant effect on the fertility change. Industrualization had a positively significant effect on regional development.&#xD;
Deli Serdang regional government policy encourage industrial sector as priority. It is preferable for local government of Deli Serdang and Medan, both of region develop simultaneously cross border spatial cooperation.
Abstract (other language): Keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah ditunjukkan dengan meningkatnya pendapatan perkapita riil dalam jangka panjang. Kenaikan pendapatan per kapita akan diikuti oleh terjadinya transformasi struktural ekonomi meningkatnya indeks pembangunan manusia, sebagai cerminan dari membaiknya sumber daya manusia. Seiring dengan membaiknya ke tiga hal tersebut, terjadi pula pertumbuhan penduduk yang rendah.  &#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pembangunan ekonomi dan transformasi strukutural ekonomi wilayah Kabupaten Deli Serdang selama periode 2004-2009. Menganalisis korelasi antara kenaikan pendapatan dengan proporsi konsumsi barang primer, sekunder dan tertier. Menganalisis pengaruh pendidikan, pegawai negeri sipil, migrasi dan jumlah keluarga terhadap pendapatan. Menganalisis pengaruh pendidikan, pegawai negeri sipil, interaksi sosial, umur kawin pertama, migrasi, keluarga berencana dan pendapatan terhadap fertilitas. Menganalisis industrialisasi dan fertilitas  terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan representasi dari pengembangan wilayah. &#xD;
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Alat analisis menggunakan shift share analisis, korelasi dan regresi ganda. &#xD;
Hasil yang diperoleh adalah, selama periode 2004-2009 telah terjadi pembangunan ekonomi disertai Transformasi Struktural ekonomi wilayah Deli Serdang. Ada korelasi negatif yang signifikan diantara pendapatan dengan proporsi konsumsi barang primer dan korelasi positif dan signifikan antara pendapatan dengan proporsi konsumsi barang sekunder dan tertier.&#xD;
Tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan penduduk Kabupaten Deli Serdang, sedangkan migrasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan penduduk Kabupaten Deli Serdang.&#xD;
Tingkat pendidikan dan umur kawin pertama berpengaruh negatif dan signifikan terhadap fertilitas sebaliknya pegawai negeri sipil dan pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap fertilitas.  &#xD;
Fertilitas tidak berpengaruh terhadap pengembangan wilayah Deli Serdang. Industrialiasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah.  &#xD;
Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah Deli Serdang adalah memprioritaskan pengembangan sektor industri. Disamping itu karena Deli Serdang merupakan daerah yang bertetangga dengan Medan, agar kedua daerah dapat maju secara bersama, maka perlu kerjasama antar wilayah dalam penataan ruang dan aktivitas pembangunan wilayah.</description>
      <pubDate>Mon, 27 Aug 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33562</guid>
      <dc:date>2012-08-27T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rujiman</dc:creator>
      <dc:description>Keberhasilan pembangunan ekonomi wilayah ditunjukkan dengan meningkatnya pendapatan perkapita riil dalam jangka panjang. Kenaikan pendapatan per kapita akan diikuti oleh terjadinya transformasi struktural ekonomi meningkatnya indeks pembangunan manusia, sebagai cerminan dari membaiknya sumber daya manusia. Seiring dengan membaiknya ke tiga hal tersebut, terjadi pula pertumbuhan penduduk yang rendah.  &#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pembangunan ekonomi dan transformasi strukutural ekonomi wilayah Kabupaten Deli Serdang selama periode 2004-2009. Menganalisis korelasi antara kenaikan pendapatan dengan proporsi konsumsi barang primer, sekunder dan tertier. Menganalisis pengaruh pendidikan, pegawai negeri sipil, migrasi dan jumlah keluarga terhadap pendapatan. Menganalisis pengaruh pendidikan, pegawai negeri sipil, interaksi sosial, umur kawin pertama, migrasi, keluarga berencana dan pendapatan terhadap fertilitas. Menganalisis industrialisasi dan fertilitas  terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan representasi dari pengembangan wilayah. &#xD;
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Alat analisis menggunakan shift share analisis, korelasi dan regresi ganda. &#xD;
Hasil yang diperoleh adalah, selama periode 2004-2009 telah terjadi pembangunan ekonomi disertai Transformasi Struktural ekonomi wilayah Deli Serdang. Ada korelasi negatif yang signifikan diantara pendapatan dengan proporsi konsumsi barang primer dan korelasi positif dan signifikan antara pendapatan dengan proporsi konsumsi barang sekunder dan tertier.&#xD;
Tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan penduduk Kabupaten Deli Serdang, sedangkan migrasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan penduduk Kabupaten Deli Serdang.&#xD;
Tingkat pendidikan dan umur kawin pertama berpengaruh negatif dan signifikan terhadap fertilitas sebaliknya pegawai negeri sipil dan pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap fertilitas.  &#xD;
Fertilitas tidak berpengaruh terhadap pengembangan wilayah Deli Serdang. Industrialiasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah.  &#xD;
Kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah Deli Serdang adalah memprioritaskan pengembangan sektor industri. Disamping itu karena Deli Serdang merupakan daerah yang bertetangga dengan Medan, agar kedua daerah dapat maju secara bersama, maka perlu kerjasama antar wilayah dalam penataan ruang dan aktivitas pembangunan wilayah.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Ekstrak Bunga Brokoli (Brassica Oleracea L. Var. Italica Plenck) Terhadap Penghambatan Penuaan Kulit Dini (Photoaging): Kajian Pada Ekspresi Matriks Metalloproteinase-1 Dan Prokolagen Tipe 1 Secara In Vitro Pada Fibroblas Kulit Manusia</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33561</link>
      <description>Authors: Jusuf, Nelva Karmila
Advisors: Soebono, Hardyanto; Hadisahputra, Sumadio; Bachtiar, Adang
Abstract: Background : Aging is a physiologic process which occurs in all organs&#xD;
including the skin. Ultraviolet (UV) irradiation is the major external factor&#xD;
that cause photoaging by generating reactive oxygen species that&#xD;
increase Matrix Metalloproteinase – 1 (MMP-1) and decrease synthesis of&#xD;
type I procollagen. Indonesia as one of a biodiversity country is very&#xD;
potential to produce herbal richest antioxidants that act as skin antiaging&#xD;
agent. Broccoli (Brassica oleracea L. var. italica Plenck) is a cruciferae&#xD;
group vegetables which has a great amount of antioxidant.&#xD;
Objectives : To investigate broccoli flower extract (BFE) as an effective&#xD;
and safe skin anti photoaging agent in vitro.&#xD;
Methods : An experimental (in vitro) study had been conducted including&#xD;
phytochemical test of BFE, photoaging inhibition test and cytotoxicity test.&#xD;
Phytochemical test had been done by qualitative identification of chemical&#xD;
compound of BFE. Photoaging inhibition test based on quantification of&#xD;
MMP-1 and type I procollagen expression at mRNA and protein level in&#xD;
ultraviolet B (UVB) irradiated human skin fibroblast culture. The mRNA&#xD;
assay had been done by Real time RT – PCR while the protein assay&#xD;
done by ELISA/EIA. The cytotoxicity test had been done by MTT assay to&#xD;
determine the cell viability by BFE exprosure&#xD;
Result : Phytochemical test showed BFE contains alkaloids, glicosides,&#xD;
steroids/triterpenoids, saponin and flavonoids. The mean value of mRNA&#xD;
MMP-1 expression were 116.233 and 124.800g/ml at 50 and 100mJ/cm2&#xD;
UVB irradiation. Treatment of BFE with 25, 50 and 100g/ml decreased&#xD;
the mRNA MMP-1 expression to 110.900, 48.300, and 20.167g/mL at&#xD;
50mJ/cm2 UVB irradiation and 91.700, 77.600 and 55.333g/ml at&#xD;
100mJ/cm2. The mean value of protein MMP-1 expression were 19.474&#xD;
and 19.510ng/ml at 50 and 100mJ/cm2 UVB irradiation. Treatment of BFE&#xD;
25, 50 and 100g/ml decreased the protein MMP-1 expression to 18.996,&#xD;
18.711, 13.105ng/ml at 50mJ/cm2 UVB irradiation and 17.974, 17.342,&#xD;
16.578g/ml at 100mJ/cm2. The mean value of mRNA type I procollagen&#xD;
expression were 30.167 and 22.633g/ml at 50 and 100mJ/cm2 UVB&#xD;
irradiation.Treatment of BFE 25, 50 and 100g/ml increased the mRNA&#xD;
type I procollagen expression to 43.767, 46.667, 48.600g/ml at 50mJ/cm2&#xD;
UVB irradiation and 32.467, 51.433, 60.867g/ml at 100mJ/cm2. The&#xD;
mean value of protein type I procollagen expression were 163.878 and&#xD;
132.329ng/ml at 50 and 100mJ/cm2. Treatment of BFE with 25, 50 and 100g/ml increased the protein type I procollagen expression to 179.434,&#xD;
195.972, 336.342ng/ml at 50mJ/cm2 UVB irradiation and 135.624,&#xD;
137.177, 168.969ng/ml at 100mJ/cm2. By Anova two ways we found there&#xD;
were significant differences of the mean value of between mRNA MMP-1,&#xD;
protein MMP-1, mRNA type I procollagen and protein type I procollagen&#xD;
expression based on irradiation dose (p &lt; 0.05) and BFE concentration&#xD;
(p &lt; 0.05). There were also an interaction between irradiation dose and&#xD;
BFE concentration (p &lt; 0.05). By Spearman’s correlation test there were&#xD;
significant negative correlation between BFE concentration with mRNA&#xD;
MMP-1 expression (r = - 0.972, p &lt; 0.01) at 50mJ/cm2 UVB irradition and&#xD;
at 100mJ/cm2 (r = - 0.972, p &lt; 0.01), as well as BFE concentration and&#xD;
protein MMP-1 expression at 50mJ/cm2 irradiation (r = - 0.973, p &lt; 0.01)&#xD;
and at 100mJ/cm2 (r = - 0.972, p &lt; 0.01). There were significant positive&#xD;
correlation between BFE concentration and mRNA procollagen type I&#xD;
expression at 50mJ/cm2 UVB irradiation (r = 0.972, p &lt; 0.01) and at&#xD;
100mJ/cm2 (r = 0.972, p &lt; 0.01), as well as BFE concentration with protein&#xD;
procollagen type I expression at 50 mJ/cm2 UVB irradiation (r = 0.975,&#xD;
p &lt; 0.01) and at 100 mJ/cm2 (r = 0.973, p &lt; 0.01). By Spearman’s&#xD;
correlation test there were significant positive correlation between MMP-1&#xD;
expression at mRNA level with protein level at 50 mJ/cm2 (r = 0.911,&#xD;
p &lt; 0.01) and at 100mJ/cm2 UVB irradiation (r = 0.972, p &lt; 0.01). By&#xD;
Spearman’s correlation test there were significant positive correlation&#xD;
between type I procollagen expression at mRNA level with protein level at&#xD;
50mJ/cm2 (r = 0.975, p &lt; 0.01) and at 100 mJ/cm2 UVB irradiation&#xD;
(r = 0.956, p &lt; 0.01). The cytotoxicity test showed BFE until 1000g/ml did&#xD;
not cytotoxic to human skin fibroblast. The mean value of viability cell was&#xD;
111.79 %.&#xD;
Conclusion : BFE contains alkaloids, glicosides, steroids/triterpenoids,&#xD;
saponin and flavonoids. BFE decrease MMP-1 expression and increase&#xD;
type I procollagen expression both at mRNA and protein level. There were&#xD;
correlations between BFE concentration with MMP-1 and type I&#xD;
procollagen expression at mRNA and protein level. There were&#xD;
correlations between MMP-1 and type I procollagen expression at mRNA&#xD;
level with protein level. BFE did not cytotoxic to human skin fibroblast.&#xD;
Therefore BFE has been proved as an effective and safe skin anti&#xD;
photoaging agent in cellular as well as molecular level, in vitro. Finally it is&#xD;
suggested further investigation involving animal and human subjects could&#xD;
be carried out in the future.
Abstract (other language): Latar belakang : Proses penuaan adalah proses fisiologis yang terjadi&#xD;
pada seluruh organ tubuh termasuk kulit. Sinar ultraviolet (UV) merupakan&#xD;
faktor luar yang paling berperan sebagai penyebab penuaan kulit dini&#xD;
(photoaging) melalui produksi spesies oksigen reaktif yang selanjutnya&#xD;
dapat menyebabkan peningkatan Matriks Metalloproteinase-1 (MMP-1)&#xD;
dan penurunan sintesis prokolagen tipe I. Indonesia sebagai negara&#xD;
dengan keanekaragaman hayati sangat potensial menghasilkan&#xD;
antioksidan herbal yang mampu bekerja menghambat proses penuaan&#xD;
kulit. Brokoli (Brassica oleracea L. var. italica Plenck) merupakan salah&#xD;
satu jenis tanaman kubis-kubisan yang kaya akan antioksidan.&#xD;
Tujuan : Membuktikan ekstrak bunga brokoli (EBB) sebagai obat herbal&#xD;
baru yang efektif dan aman sebagai anti penuaan kulit dini (photoaging)&#xD;
secara in vitro.&#xD;
Metode : Sebuah studi eksperimen laboratorium telah dilakukan meliputi&#xD;
uji kandungan fitokimia dari EBB, uji penghambatan penuaan kulit dini&#xD;
(photoaging) secara in vitro, dan uji sitotoksisitas. Uji fitokimia dilakukan&#xD;
dengan identifikasi secara kualitatif golongan senyawa yang terkandung&#xD;
dalam EBB. Uji penghambatan photoaging dilakukan dengan pengukuran&#xD;
ekspresi MMP-1 dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA dan tingkat&#xD;
protein pada kultur fibroblas kulit manusia yang dipajan sinar ultraviolet B&#xD;
(UVB). Pemeriksaan mRNA dilakukan dengan Real time RT-PCR&#xD;
sedangkan pemeriksaan protein dengan metode ELISA/EIA. Uji&#xD;
sitotoksitas dilakukan dengan uji MTT untuk menilai viabilitas sel fibroblas&#xD;
terhadap paparan EBB.&#xD;
Hasil : Uji fitokimia menunjukkan bahwa EBB mengandung alkaloid,&#xD;
glikosida, steroid/triterpenoid, saponin, dan flavonoid. Nilai rerata ekspresi&#xD;
mRNA MMP-1 pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 116,233&#xD;
dan 124,800g/ml. Pemberian EBB dengan konsentrasi 25, 50 dan&#xD;
100g/ml mampu menurunkan ekspresi mRNA MMP-1 masing-masing&#xD;
menjadi 110,900, 48,300, 20,167g/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan&#xD;
91,700, 77,600, 55,333g/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata&#xD;
ekspresi protein MMP-1 pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah&#xD;
19,474 dan 19,510ng/ml. Pemberian EBB 25, 50 dan 100g/ml&#xD;
menurunkan ekspresi protein MMP-1 menjadi 18,996, 18,711,&#xD;
13,105ng/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan menjadi 17,974, 17,342,&#xD;
16,578ng/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata ekspresi mRNA prokolagen tipe I pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 30,167&#xD;
dan 22,633g/ml. Pemberian EBB 25, 50, dan 100g/ml dapat&#xD;
meningkatkan ekspresi mRNA prokolagen tipe I menjadi 43,767, 46,667,&#xD;
48,600g/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan 32,467, 51,433, 60,867g/ml&#xD;
pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata ekspresi protein prokolagen&#xD;
tipe I pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 163,878 dan&#xD;
132,329ng/ml. Pemberian EBB 25, 50 dan 100g/ml mampu&#xD;
meningkatkan ekspresi protein prokolagen tipe I menjadi 179,434,&#xD;
195,972, 336,342ng/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan 135,624, 137,177,&#xD;
168,969ng/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Dengan Uji Anova two ways&#xD;
terdapat perbedaan bermakna rerata ekspresi mRNA MMP-1, protein&#xD;
MMP-1, mRNA prokolagen tipe I dan protein prokolagen tipe I&#xD;
berdasarkan dosis penyinaran (p &lt; 0,05) dan konsentrasi ekstrak (p &lt;&#xD;
0,05) dan terdapat interaksi antara dosis penyinaran dan konsentrasi&#xD;
ekstrak (p &lt; 0,05). Dengan uji korelasi Spearman’s terdapat hubungan&#xD;
negatif yang bermakna antara konsentrasi EBB dengan ekspresi mRNA&#xD;
MMP-1 pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = - 0,972, p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2&#xD;
(r = - 0,972, p &lt; 0,01). Demikian pula antara konsentrasi EBB dengan&#xD;
ekspresi protein MMP-1 pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = - 0,973, p &lt; 0,01)&#xD;
dan 100mJ/cm2 (r = - 0,972, p &lt; 0,01). Terdapat hubungan positif yang&#xD;
bermakna antara konsentrasi EBB dengan ekspresi mRNA prokolagen&#xD;
tipe I pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,972, p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2 (r&#xD;
= 0,972, p &lt; 0,01). Demikian pula antara konsentrasi EBB dengan&#xD;
ekspresi protein prokolagen tipe I pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,975,&#xD;
p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2 (r = 0,973, p &lt; 0,01). Dengan uji korelasi&#xD;
Spearman’s terdapat hubungan searah yang bermakna antara ekspresi&#xD;
MMP-1 pada tingkat mRNA dan tingkat proteinnya pada penyinaran&#xD;
50mJ/cm2 (r = 0,911, p &lt; 0,01) ataupun penyinaran 100mJ/cm2 (r = 0,972,&#xD;
p &lt; 0,01). Dengan uji korelasi Spearman’s terdapat hubungan searah&#xD;
yang bermakna antara ekspresi prokolagen tipe I pada tingkat mRNA&#xD;
dengan tingkat proteinnya pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,975, p &lt; 0,01)&#xD;
maupun 100mJ/cm2 (r = 0,956, p &lt; 0,01).&#xD;
Simpulan : EBB mengandung alkaloid, glikosida, steroid/ triterpenoid,&#xD;
saponin, dan flavonoid. EBB dapat menurunkan ekspresi MMP-1 dan&#xD;
meningkatkan ekspresi prokolagen tipe I baik pada tingkat mRNA maupun&#xD;
tingkat protein. Ada hubungan konsentrasi EBB dengan ekspresi MMP-1&#xD;
dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA ataupun protein. Ada hubungan&#xD;
hasil ekspresi MMP-1 dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA dengan&#xD;
tingkat proteinnya. EBB tidak menimbulkan efek sitotoksik terhadap sel&#xD;
fibroblas kulit manusia. Dengan demikian, EBB terbukti efektif dan aman&#xD;
sebagai anti penuaan kulit dini (photoaging) pada tingkat seluler dan&#xD;
molekuler secara in vitro. Selanjutnya diharapkan dapat diteliti pada&#xD;
hewan coba dan manusia.</description>
      <pubDate>Mon, 27 Aug 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33561</guid>
      <dc:date>2012-08-27T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Jusuf, Nelva Karmila</dc:creator>
      <dc:description>Latar belakang : Proses penuaan adalah proses fisiologis yang terjadi&#xD;
pada seluruh organ tubuh termasuk kulit. Sinar ultraviolet (UV) merupakan&#xD;
faktor luar yang paling berperan sebagai penyebab penuaan kulit dini&#xD;
(photoaging) melalui produksi spesies oksigen reaktif yang selanjutnya&#xD;
dapat menyebabkan peningkatan Matriks Metalloproteinase-1 (MMP-1)&#xD;
dan penurunan sintesis prokolagen tipe I. Indonesia sebagai negara&#xD;
dengan keanekaragaman hayati sangat potensial menghasilkan&#xD;
antioksidan herbal yang mampu bekerja menghambat proses penuaan&#xD;
kulit. Brokoli (Brassica oleracea L. var. italica Plenck) merupakan salah&#xD;
satu jenis tanaman kubis-kubisan yang kaya akan antioksidan.&#xD;
Tujuan : Membuktikan ekstrak bunga brokoli (EBB) sebagai obat herbal&#xD;
baru yang efektif dan aman sebagai anti penuaan kulit dini (photoaging)&#xD;
secara in vitro.&#xD;
Metode : Sebuah studi eksperimen laboratorium telah dilakukan meliputi&#xD;
uji kandungan fitokimia dari EBB, uji penghambatan penuaan kulit dini&#xD;
(photoaging) secara in vitro, dan uji sitotoksisitas. Uji fitokimia dilakukan&#xD;
dengan identifikasi secara kualitatif golongan senyawa yang terkandung&#xD;
dalam EBB. Uji penghambatan photoaging dilakukan dengan pengukuran&#xD;
ekspresi MMP-1 dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA dan tingkat&#xD;
protein pada kultur fibroblas kulit manusia yang dipajan sinar ultraviolet B&#xD;
(UVB). Pemeriksaan mRNA dilakukan dengan Real time RT-PCR&#xD;
sedangkan pemeriksaan protein dengan metode ELISA/EIA. Uji&#xD;
sitotoksitas dilakukan dengan uji MTT untuk menilai viabilitas sel fibroblas&#xD;
terhadap paparan EBB.&#xD;
Hasil : Uji fitokimia menunjukkan bahwa EBB mengandung alkaloid,&#xD;
glikosida, steroid/triterpenoid, saponin, dan flavonoid. Nilai rerata ekspresi&#xD;
mRNA MMP-1 pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 116,233&#xD;
dan 124,800g/ml. Pemberian EBB dengan konsentrasi 25, 50 dan&#xD;
100g/ml mampu menurunkan ekspresi mRNA MMP-1 masing-masing&#xD;
menjadi 110,900, 48,300, 20,167g/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan&#xD;
91,700, 77,600, 55,333g/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata&#xD;
ekspresi protein MMP-1 pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah&#xD;
19,474 dan 19,510ng/ml. Pemberian EBB 25, 50 dan 100g/ml&#xD;
menurunkan ekspresi protein MMP-1 menjadi 18,996, 18,711,&#xD;
13,105ng/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan menjadi 17,974, 17,342,&#xD;
16,578ng/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata ekspresi mRNA prokolagen tipe I pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 30,167&#xD;
dan 22,633g/ml. Pemberian EBB 25, 50, dan 100g/ml dapat&#xD;
meningkatkan ekspresi mRNA prokolagen tipe I menjadi 43,767, 46,667,&#xD;
48,600g/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan 32,467, 51,433, 60,867g/ml&#xD;
pada penyinaran 100mJ/cm2. Nilai rerata ekspresi protein prokolagen&#xD;
tipe I pada penyinaran UVB 50 dan 100mJ/cm2 adalah 163,878 dan&#xD;
132,329ng/ml. Pemberian EBB 25, 50 dan 100g/ml mampu&#xD;
meningkatkan ekspresi protein prokolagen tipe I menjadi 179,434,&#xD;
195,972, 336,342ng/ml pada penyinaran 50mJ/cm2 dan 135,624, 137,177,&#xD;
168,969ng/ml pada penyinaran 100mJ/cm2. Dengan Uji Anova two ways&#xD;
terdapat perbedaan bermakna rerata ekspresi mRNA MMP-1, protein&#xD;
MMP-1, mRNA prokolagen tipe I dan protein prokolagen tipe I&#xD;
berdasarkan dosis penyinaran (p &lt; 0,05) dan konsentrasi ekstrak (p &lt;&#xD;
0,05) dan terdapat interaksi antara dosis penyinaran dan konsentrasi&#xD;
ekstrak (p &lt; 0,05). Dengan uji korelasi Spearman’s terdapat hubungan&#xD;
negatif yang bermakna antara konsentrasi EBB dengan ekspresi mRNA&#xD;
MMP-1 pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = - 0,972, p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2&#xD;
(r = - 0,972, p &lt; 0,01). Demikian pula antara konsentrasi EBB dengan&#xD;
ekspresi protein MMP-1 pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = - 0,973, p &lt; 0,01)&#xD;
dan 100mJ/cm2 (r = - 0,972, p &lt; 0,01). Terdapat hubungan positif yang&#xD;
bermakna antara konsentrasi EBB dengan ekspresi mRNA prokolagen&#xD;
tipe I pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,972, p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2 (r&#xD;
= 0,972, p &lt; 0,01). Demikian pula antara konsentrasi EBB dengan&#xD;
ekspresi protein prokolagen tipe I pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,975,&#xD;
p &lt; 0,01) dan 100mJ/cm2 (r = 0,973, p &lt; 0,01). Dengan uji korelasi&#xD;
Spearman’s terdapat hubungan searah yang bermakna antara ekspresi&#xD;
MMP-1 pada tingkat mRNA dan tingkat proteinnya pada penyinaran&#xD;
50mJ/cm2 (r = 0,911, p &lt; 0,01) ataupun penyinaran 100mJ/cm2 (r = 0,972,&#xD;
p &lt; 0,01). Dengan uji korelasi Spearman’s terdapat hubungan searah&#xD;
yang bermakna antara ekspresi prokolagen tipe I pada tingkat mRNA&#xD;
dengan tingkat proteinnya pada penyinaran 50mJ/cm2 (r = 0,975, p &lt; 0,01)&#xD;
maupun 100mJ/cm2 (r = 0,956, p &lt; 0,01).&#xD;
Simpulan : EBB mengandung alkaloid, glikosida, steroid/ triterpenoid,&#xD;
saponin, dan flavonoid. EBB dapat menurunkan ekspresi MMP-1 dan&#xD;
meningkatkan ekspresi prokolagen tipe I baik pada tingkat mRNA maupun&#xD;
tingkat protein. Ada hubungan konsentrasi EBB dengan ekspresi MMP-1&#xD;
dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA ataupun protein. Ada hubungan&#xD;
hasil ekspresi MMP-1 dan prokolagen tipe I pada tingkat mRNA dengan&#xD;
tingkat proteinnya. EBB tidak menimbulkan efek sitotoksik terhadap sel&#xD;
fibroblas kulit manusia. Dengan demikian, EBB terbukti efektif dan aman&#xD;
sebagai anti penuaan kulit dini (photoaging) pada tingkat seluler dan&#xD;
molekuler secara in vitro. Selanjutnya diharapkan dapat diteliti pada&#xD;
hewan coba dan manusia.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengaruh Pola Hidup Medisdengan Plasebo Dibandingkanpola Hidup Medis Dengan Metformin Terhadap Parameter Kardiometabolik Chemerinpadasindroma Metabolik</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32596</link>
      <description>Authors: Lindarto, Dharma
Advisors: Tjokroprawiro, Askandar; Lubis, Harun Rasyid; Kasiman, Sutomo
Abstract: In the Metabolic Syndrome (Mets) inflammatory adipocytes are the most important factor as a cause of cardiometabolic disease. Indeed, adipocytes release a variety of inflammatory adipokines affecting cardiometabolic riks factors,  including the newly found chemerin. Lifestyle modifications may improve the adipocytes.This study was conducted to analyze the influence of lifestyle modification with or without metformin for 12 weeks, on cardiometabolic risk factors in Mets. A randomized double blind clinical trial was conducted where 45  subjects with Mets were recruited and randomized into either lifestyle modification group with placebo or life style modification group with metformin. Cardiometabolic risk factors (chemerin, Adiponectin, ADMA, hs-CRP, insulin, A1C, HOMA-R, lipid profile, sd-LDL, fasting and prandial blood sugar, Apo-B, blood pressure, bodyweight, waist circumference and BMI) were examined at week 0 and after week 12. After 12 weeks the group with lifestyle modification with placebo showed a significant reduction in chemerin, as well as in sd-LDL, LDL-C, systolic and diastolic blood pressure, bodyweight, waist circumference and BMI, whereas lifestyle modification with metformin group showed a significant reduction in chemerin, as well as in adiponectin, sd LDL,  systolic and diastolic blood pressure, bodyweight, waist circumference and BMI. Comparison of both groups, only differed in the decrease of bodyweight, waist circumference and BMI, which were significantly greater in those with metformin,  whereas inADMA, Apo-B, A1C, chemerin, hs-CRP, 2-h post prandial blood sugar, and systolic blood pressure, the decreases were not  statistically significant. There is no correlation between the decrease in chemerin and other cardiometabolic risk factors in each group.In conclusion prescribing metformin to patients with Mets on lifestyle modification for 12 weeks decreased further  bodyweight, waist circumference and BMI, but not other cardiometabolic factors including chemerin.
Abstract (other language): Inflamasi adiposit pada sindroma metabolik (simet), merupakan faktor penting yang menyebabkan penyakit kardiometabolik.Pada inflamasi adiposit, akan dikeluarkan adipokin-adipokin termasuk adipokin chemerin yang baru ditemukan. Dengan melaksanakan pola hidup medis (PHM)  yang terdiri dari diet dan latihan jasmani dapat memperbaiki inflamasi adiposit. Penelitian dilakukan untuk  menganalisa pengaruh pola hidup medis dengan plasebo (PHMP) dibandingkan pola hidup medis dengan metformin (PHMM) terhadap chemerin dan parameter kardiometabolik lainnya selama 12 minggu.Terhadap empat puluh lima subjek simet dilakukan randomized double-blind clinical trial, untuk menentukan kelompok PHMP atau PHMM. Pemeriksaan chemerin dan faktor risiko kardiometabolik lain (Adiponektin, ADMA, hs-CRP, insulin, A1C, HOMA-R, profil lipid, sd-LDL, GDP, GD2jPP, Apo-B, TDS, TDD, BB, LP dan IMT dilakukan pada minggu 0 dan sesudah minggu ke-12. Setelah minggu ke-12 pada kelompok PHMP menunjukan penurunan yang signifikan terhadap chemerin,  sd-LDL, GDP, LDL, TDS, TDD, BB, LP, dan IMT. Sedangkan  pada kelompok PHMM  menunjukan penurunan yang signifikan terhadap chemerin, adiponektin, sd-LDL, TDD, BB, LP, dan IMT.  Perbandingan kedua kelompok setelah minggu ke-12, pada kelompok PHMM faktor BB, IMT, dan LP yang lebih menurun secara signifikan, sedangkan faktor risiko kardiometabolik lain ADMA,Apo-B, A1C, chemerin, hs-CRP, GD2jPP, dan TDS,  menurun tetapi tidak signifikan. Tidak ada korelasi penurunan chemerin dengan penurunan faktor risiko kardiometabolik lain pada kedua kelompok. Simpulan bahwa pola hidup medis dengan metformin selama 12 minggu, lebih menurunkan BB, LP, dan IMT, sedangkan faktor risiko kardiometabolik lain tidak menurun secara signifikan termasuk chemerin.</description>
      <pubDate>Wed, 25 Apr 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32596</guid>
      <dc:date>2012-04-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Lindarto, Dharma</dc:creator>
      <dc:description>Inflamasi adiposit pada sindroma metabolik (simet), merupakan faktor penting yang menyebabkan penyakit kardiometabolik.Pada inflamasi adiposit, akan dikeluarkan adipokin-adipokin termasuk adipokin chemerin yang baru ditemukan. Dengan melaksanakan pola hidup medis (PHM)  yang terdiri dari diet dan latihan jasmani dapat memperbaiki inflamasi adiposit. Penelitian dilakukan untuk  menganalisa pengaruh pola hidup medis dengan plasebo (PHMP) dibandingkan pola hidup medis dengan metformin (PHMM) terhadap chemerin dan parameter kardiometabolik lainnya selama 12 minggu.Terhadap empat puluh lima subjek simet dilakukan randomized double-blind clinical trial, untuk menentukan kelompok PHMP atau PHMM. Pemeriksaan chemerin dan faktor risiko kardiometabolik lain (Adiponektin, ADMA, hs-CRP, insulin, A1C, HOMA-R, profil lipid, sd-LDL, GDP, GD2jPP, Apo-B, TDS, TDD, BB, LP dan IMT dilakukan pada minggu 0 dan sesudah minggu ke-12. Setelah minggu ke-12 pada kelompok PHMP menunjukan penurunan yang signifikan terhadap chemerin,  sd-LDL, GDP, LDL, TDS, TDD, BB, LP, dan IMT. Sedangkan  pada kelompok PHMM  menunjukan penurunan yang signifikan terhadap chemerin, adiponektin, sd-LDL, TDD, BB, LP, dan IMT.  Perbandingan kedua kelompok setelah minggu ke-12, pada kelompok PHMM faktor BB, IMT, dan LP yang lebih menurun secara signifikan, sedangkan faktor risiko kardiometabolik lain ADMA,Apo-B, A1C, chemerin, hs-CRP, GD2jPP, dan TDS,  menurun tetapi tidak signifikan. Tidak ada korelasi penurunan chemerin dengan penurunan faktor risiko kardiometabolik lain pada kedua kelompok. Simpulan bahwa pola hidup medis dengan metformin selama 12 minggu, lebih menurunkan BB, LP, dan IMT, sedangkan faktor risiko kardiometabolik lain tidak menurun secara signifikan termasuk chemerin.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pemilihan Bahasa dan Sikap Bahasa dalam Komunikasi Politik oleh Partai Politik Lokal di Pemerintahan Aceh</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32004</link>
      <description>Authors: Hanafiah, Ridwan
Advisors: Siregar, Bahren Umar; Sibarani, Robert; Setia, Eddy
Abstract: The title of this dissertation is “The Language Choice and Language Attitude of Language in the Political Communication by the Local Political Parties in Aceh Administration.” This dissertation is based on the finding of field reseach conducted in Bireuen District and City of Langsa. This study focused on language choice  and language attitude by local political parties in political communication in The Aceh Administration  and how language choice and language attitude are related to social cohesion in the political communication among the local political parties in Aceh Administration.&#xD;
The population of the samples for this study was the officials of local political parties who represent their parties in the Legislative Assembly of the City of Langsa and Bireuen District. Of the six local political parties, only three parties, namely Partai Aceh (PA), Partai Bersatu Atjeh (PBA), and Partai Suara Independent Rakyat Aceh (SIRA), which were employed as the sample population. The samples population is 15 samples from the City of Langsa Legislative Assembly and 15 from Bireuen District Legislative Assembly.&#xD;
This study employed the theory of sociolinguistics and theory of political communication. The theory of sociolinguistics by Bernard Spolsky (2008) to look at the application of language in the political communication of the officials of local political parties in Aceh Administration while the theory of the political communication was used to look at the process of communication with its implication or consequence on political activity through the choice and attitude of Aceh Administration. The hypothesis of this study, there is no influence of the language and language attitude in the social cohesion. &#xD;
The result of this study is that the language chosen by the local political parties in their political communication in Aceh Administration such as in their internal party meetings, political campaign, internal interaction among the parties’ officials, communicating with community members in general, discussing political strategy, in discussing about the development and empowerment of their parties, and in communicating with the members of the same or different local political parties in the Legislative Assembly, is Acehnese (47.36%). The local political parties that chose to used BA (Acehnese) and BI (Indonesian) (code mixing) with a dominant position of BA (52.63%) when they were discussing the strategy to empower the local parties, the 2009-2014 Indonesian president and vice president election, in political communication discussing about the Governor and Vice Governor election, Head of District and Deputy Head of District election, the 2011-2016 City Mayor and Deputy City Mayor election, discussing about District and City Budget, and during the hearing session with government.  &#xD;
The choice of language done by the officials of local political parties in political communication is mostly or dominantly based on their being proud and happy to use that language (73.60 %), their habit and fluency to communicate in that language (15.78 %), and their satisfaction (5.52%) and their being closely (5.10 %) by choice BA and BA/BI.In terms of language attitude, the officials of local political parties do agree that Acehnese functions as the ethnic identity, the identity of local political parties, as a medium to express their political ideas, as a medium of inter-community communication (66.66%). The local political parties also agree that Acehnese can spread and deliver their political messages in Aceh, Indonesian as the unifying forces of the people of Indonesia, and feel comfort using Acehnese instead of Indonesian during the party meeting (33.33%). The social cohesion is (50 %) comfortable and strongly comfortable (50 %) by choicing BA and BA/BI with BA at dominant position.&#xD;
Based on coeficiency, the result of language choice is 0,676 and the reason of language choice is -0,664, whereas language attitude is 0,460. Coeficiency of language choice and  reason of language choice is close to -1, and coeficiency of language attitude is close to 0. So, it means that the two variables have moderate correlation. And based on significancy point, the result of language choice and reason of language choice related to social cohesion is 0,000, whereas language attitude is 0,010, &#xD;
Viewed from the comparison value at t-count with value of t table, t-count is  2,05 and t-table value is 1,70. It can get that the value of t-count and t table (t count 2,05 &gt; t table 1,70). This result showed that there is a significant relation between acclamation language use, cause of acclamation language use by social cohesion t-count since value greater than t table value, and thus, this research refuse hypothesis nol (H0), and received of the alternative hypotheses (Ha) at α 0,05 or 95%.
Abstract (other language): Disertasi ini berjudul “Pemilihan Bahasa dan Sikap Bahasa dalam Komunikasi Politik oleh Partai Politik Lokal di Pemerintahan Aceh.” Disertasi ini berdasarkan temuan hasil riset lapangan yang dilakukan di Kabupaten Bireuen dan Kota Langsa. Penelitian ini difokuskan pada pemilihan bahasa dan sikap bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik di Pemerintahan Aceh, dan bagaimana pemilihan bahasa dan sikap bahasa dalam  hubungannya dengan kohesi sosial dalam komunikasi politik pengurus partai politik lokal di Pemerintahan Aceh. &#xD;
Populasi sampel penelitian adalah pengurus partai lokal di Pemerintahan Aceh yang mempunyai wakilnya di DPRK Kota Langsa dan Kabupaten Bireuen. Dari 6 (enam) partai lokal yang ada, hanya 3 (tiga) partai lokal saja yang menjadi sampel populasi, yaitu Partai Aceh (PA), Partai Bersatu Atjeh (PBA), dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), masing-masing 15 orang dari populasi partai lokal di Kabupaten Bireuen dan Kota Langsa. &#xD;
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik dan teori komunikasi politik. Teori sosiolinguistik yang digunakan dalam penelitian ini  adalah teori Bernard Spolsky (2008), yaitu untuk melihat bagaimana pemilihan bahasa dalam komunikasi politik oleh partai politik lokal di Pemerintahan Aceh dan teori komunikasi politik digunakan untuk melihat suatu proses komunikasi dalam aktivitas politik partai politik lokal. Hipotesis penelitian ini adalah hipotesis nol, yaitu tidak ada hubungan antara pemilihan bahasa dan sikap bahasa dengan kohesi sosial. &#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik di Pemerintahan Aceh memilih bahasa Aceh (BA) (47,36%) dalam rapat internal partai, dalam kampanye politik, dalam interaksi sesama pengurus partai, dalam komunikasi dengan masyarakat umum, dalam membahas strategi politik, dalam hal membahas pembangunan dan pemberdayaan partai, serta dalam komunikasi di DPRK dengan sesama pengurus partai politik lokal, baik dengan partai lokal yang sama ataupun dengan pengurus partai politik lokal yang berbeda. Partai politik lokal yang memilih menggunakan BA/BI (campur kode) dengan posisi BA yang dominan dengan persentase 52,63 % yaitu dalam aktivitas membahas strategi pemberdayaan partai, dalam membahas pemilihan presiden dan wakil presiden RI periode 2009-2014, dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota periode 2011-2016, serta dalam membahas APBD dan dengar pendapat dengan pemerintah. &#xD;
	Alasan pemilihan bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik kebanyakan atau dominan disebabkan karena bangga dan senang (73,60%); selanjutnya yang memilih karena disebabkan oleh kebiasaan dan fasih dalam berkomunikasi (15,78%); yang memilih karena puas hati (5,52%); dan, memilih bahasa karena merasa akrab memilih BA dan BA/BI (5,10%). Di dalam sikap bahasa, pengurus partai politik lokal memiliki sikap sangat setuju terhadap BA sebagai identitas suku/etnik, sebagai identitas partai politik lokal, sebagai alat penyampaian gagasan politik, dan sebagai alat komunikasi masyarakat adalah 66,66%. Sikap bahasa partai politik lokal sangat setuju BA dan BI sama kedudukannya dalam partai, BI sebagai identitas bangsa Indonesia, BA dan BI merupakan alat komunikasi politik di Aceh, dan partai politik lokal bersikap setuju BA dapat menyampaikan pesan politik di Aceh, dan BI sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia adalah 33,33%. Dari aspek kohesi sosial, masyarakat yang menyatakan senang adalah 50% dan yang menyatakan sangat senang 50% dalam memilih BA dan BA/BI dengan BA yang dominan.&#xD;
	Hasil nilai koefisiensi pemilihan bahasa adalah -0,676 dan nilai alasan pemilihan bahasa adalah -0,664, nilai sikap bahasa adalah 0,460. Nilai koefiensi pemilihan bahasa, alasan pemilihan bahasa mendekati -1, dan nilai sikap bahasa mendekati 0, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki korelasi koefiensi yang moderat. Dilihat dari rumusan signifikansi, nilai pemilihan bahasa dan alasan pemilihan bahasa dihubungkan dengan nilai kohesi sosial adalah 0,000 sedangkan nilai signifikansi antara sikap bahasa dengan kohesi sosial adalah 0,010. &#xD;
	Dilihat dari perbandingan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel adalah t-hitung adalah 2,05 dan nilai t-tabel adalah 1,70. Hal ini dapat kita artikan bahwa nilai t-hitung &gt; t-tabel ( t-hitung 2,05 &gt; t-tabel 1,70 ). Hasil ini dapat menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemilihan bahasa, alasan pemilihan bahasa dengan kohesi sosial karena nilai t-hitung lebih besar daripada nilai t-tabel. Maka dengan demikian, penelitian ini menolak hipotesis nol (H0), dan menerima hipotesis alternatif (Ha) pada taraf α = 0,05 atau 95 %.</description>
      <pubDate>Sat, 24 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32004</guid>
      <dc:date>2012-03-24T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hanafiah, Ridwan</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini berjudul “Pemilihan Bahasa dan Sikap Bahasa dalam Komunikasi Politik oleh Partai Politik Lokal di Pemerintahan Aceh.” Disertasi ini berdasarkan temuan hasil riset lapangan yang dilakukan di Kabupaten Bireuen dan Kota Langsa. Penelitian ini difokuskan pada pemilihan bahasa dan sikap bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik di Pemerintahan Aceh, dan bagaimana pemilihan bahasa dan sikap bahasa dalam  hubungannya dengan kohesi sosial dalam komunikasi politik pengurus partai politik lokal di Pemerintahan Aceh. &#xD;
Populasi sampel penelitian adalah pengurus partai lokal di Pemerintahan Aceh yang mempunyai wakilnya di DPRK Kota Langsa dan Kabupaten Bireuen. Dari 6 (enam) partai lokal yang ada, hanya 3 (tiga) partai lokal saja yang menjadi sampel populasi, yaitu Partai Aceh (PA), Partai Bersatu Atjeh (PBA), dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), masing-masing 15 orang dari populasi partai lokal di Kabupaten Bireuen dan Kota Langsa. &#xD;
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik dan teori komunikasi politik. Teori sosiolinguistik yang digunakan dalam penelitian ini  adalah teori Bernard Spolsky (2008), yaitu untuk melihat bagaimana pemilihan bahasa dalam komunikasi politik oleh partai politik lokal di Pemerintahan Aceh dan teori komunikasi politik digunakan untuk melihat suatu proses komunikasi dalam aktivitas politik partai politik lokal. Hipotesis penelitian ini adalah hipotesis nol, yaitu tidak ada hubungan antara pemilihan bahasa dan sikap bahasa dengan kohesi sosial. &#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik di Pemerintahan Aceh memilih bahasa Aceh (BA) (47,36%) dalam rapat internal partai, dalam kampanye politik, dalam interaksi sesama pengurus partai, dalam komunikasi dengan masyarakat umum, dalam membahas strategi politik, dalam hal membahas pembangunan dan pemberdayaan partai, serta dalam komunikasi di DPRK dengan sesama pengurus partai politik lokal, baik dengan partai lokal yang sama ataupun dengan pengurus partai politik lokal yang berbeda. Partai politik lokal yang memilih menggunakan BA/BI (campur kode) dengan posisi BA yang dominan dengan persentase 52,63 % yaitu dalam aktivitas membahas strategi pemberdayaan partai, dalam membahas pemilihan presiden dan wakil presiden RI periode 2009-2014, dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota periode 2011-2016, serta dalam membahas APBD dan dengar pendapat dengan pemerintah. &#xD;
	Alasan pemilihan bahasa oleh partai politik lokal dalam komunikasi politik kebanyakan atau dominan disebabkan karena bangga dan senang (73,60%); selanjutnya yang memilih karena disebabkan oleh kebiasaan dan fasih dalam berkomunikasi (15,78%); yang memilih karena puas hati (5,52%); dan, memilih bahasa karena merasa akrab memilih BA dan BA/BI (5,10%). Di dalam sikap bahasa, pengurus partai politik lokal memiliki sikap sangat setuju terhadap BA sebagai identitas suku/etnik, sebagai identitas partai politik lokal, sebagai alat penyampaian gagasan politik, dan sebagai alat komunikasi masyarakat adalah 66,66%. Sikap bahasa partai politik lokal sangat setuju BA dan BI sama kedudukannya dalam partai, BI sebagai identitas bangsa Indonesia, BA dan BI merupakan alat komunikasi politik di Aceh, dan partai politik lokal bersikap setuju BA dapat menyampaikan pesan politik di Aceh, dan BI sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia adalah 33,33%. Dari aspek kohesi sosial, masyarakat yang menyatakan senang adalah 50% dan yang menyatakan sangat senang 50% dalam memilih BA dan BA/BI dengan BA yang dominan.&#xD;
	Hasil nilai koefisiensi pemilihan bahasa adalah -0,676 dan nilai alasan pemilihan bahasa adalah -0,664, nilai sikap bahasa adalah 0,460. Nilai koefiensi pemilihan bahasa, alasan pemilihan bahasa mendekati -1, dan nilai sikap bahasa mendekati 0, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki korelasi koefiensi yang moderat. Dilihat dari rumusan signifikansi, nilai pemilihan bahasa dan alasan pemilihan bahasa dihubungkan dengan nilai kohesi sosial adalah 0,000 sedangkan nilai signifikansi antara sikap bahasa dengan kohesi sosial adalah 0,010. &#xD;
	Dilihat dari perbandingan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel adalah t-hitung adalah 2,05 dan nilai t-tabel adalah 1,70. Hal ini dapat kita artikan bahwa nilai t-hitung &gt; t-tabel ( t-hitung 2,05 &gt; t-tabel 1,70 ). Hasil ini dapat menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemilihan bahasa, alasan pemilihan bahasa dengan kohesi sosial karena nilai t-hitung lebih besar daripada nilai t-tabel. Maka dengan demikian, penelitian ini menolak hipotesis nol (H0), dan menerima hipotesis alternatif (Ha) pada taraf α = 0,05 atau 95 %.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Perencanaan Peruntukan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Untuk Pengembangan Wilayah di Kawasan Pesisir Kabupaten Serdang Bedagai</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31919</link>
      <description>Authors: Purwoko, Agus
Advisors: Sirojuzilam; Sumono; Supriana, Tavi
Abstract: Analysis of Allotment and Management Planning of Mangrove Ecosystem for Regional Development in Coastal Area of Serdang Bedagai Regency. Agus Purwoko, supervised by Prof. Dr. Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE., Co-promotor Prof. Dr. Ir. Sumono, MS. and Dr. Ir. Tavi Supriana, M.Si.&#xD;
&#xD;
Mangrove represents the main ecosystem in coastal area of Serdang Bedagai Regency.  In term of regional development mangrove ecosystem is one of main pillar in this area, therefore it requires to be studied and planned properly in both management and utilization. This research was aimed to analyze; 1) the damage of mangrove ecosystem along coastal; 2) land suitability of mangrove ecosystem along coastal; 3) factors that effect on the level of mangrove ecosystem’s damage and land suitability; 4) the influence of damage and land suitability level of mangrove ecosystem into regional development of coastal; and 5) the strategy of mangrove ecosystem management in supporting regional economic development of coastal area of Serdang Bedagai Regency.&#xD;
The result of this research indicated that generally  mangrove ecosystem in coastal area of Serdang Bedagai Regency was on the category between medium to damaged  range (score 2.4). The land suitability of mangrove ecosystem was also in  medium to unsuitable range (score 2.6).  Some factors such as security intensity, mangrove harvesting, brackish culture, plantation activity, utilizing of non wood forest product, extension and socialization, the existence of mangrove wood processing industry, the existence both of society group and  non government organization, and society understanding to mangrove ecosystem that all together showed a significant effect on the damage and land suitability level of the mangrove ecosystem. Another result showed partially: a) only factors of security activity intensity, harvesting of mangrove wood activity, brackish culture, agricultural activity, the existence of society group and the society understanding to mangrove ecosystem effected on the damage of mangrove ecosystem in coastal area; b) only factors of security activity intensity, harvesting of mangrove wood activity, agricultural activity, the existence of society group and the society understanding to the mangrove ecosystem effected on the damage of mangrove ecosystem in coastal area. Furthermore, both damage and land suitability level of mangrove ecosystem effected on regional development in coastal area. However, partially only the land suitability level of mangrove ecosystem effected on regional development in coastal area and represent the significant result. Thereby, intensity of security activity, harvesting of mangrove wood activity, brackish culture activity, agricultural activity, the existence of society group and the society understanding to the mangrove ecosystem can be used as regional development prediction value in coastal area of Serdang Bedagai Regency through land suitability level of mangrove ecosystem.  Among all quadrant of strategies, the chosen one as priority strategy is overcoming weakness and threat (WT), to develop effective collaborative management institution in dealing with environmental education function and mangrove ecosystem conservation in supporting regional development of coastal area.
Abstract (other language): Analisis Perencanaan Peruntukan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Untuk Pengembangan Wilayah di Kawasan Pesisir Kabupaten Serdang Bedagai, Agus Purwoko dengan Promotor Prof. Dr. Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE., Ko-promotor Prof. Dr. Ir. Sumono, MS. dan Dr. Ir. Tavi Supriana, M.Si.&#xD;
Mangrove merupakan ekosistem utama di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.  Ekosistem mangrove merupakan salah satu pilar utama pengembangan wilayah di kawasan ini, oleh karena itu perlu dikaji dan direncanakan dengan baik pengelolaan/pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk; 1) menganalisis kerusakan ekosistem mangrove yang terjadi di kawasan pesisir; 2) menganalisis kesesuaian peruntukkan lahan mangrove yang terjadi di kawasan pesisir; 3) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove; dan 4) menganalisis pengaruh kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove terhadap pengembangan wilayah di kawasan pesisir; dan 5) mengkaji strategi pengelolaan ekosistem mangrove yang mendukung pengembangan perekonomian wilayah pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.  &#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum telah terjadi kerusakan ekosistem mangrove pada desa-desa di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai dengan kategori kerusakan rata-rata antara sedang – rusak (skor 2.4).  Adapun tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove juga berada pada kategori rata-rata antara sedang - tidak sesuai (skor 2.6).  Faktor-faktor seperti intensitas pengamanan, penebangan kayu bakau, kegiatan pertambakan, kegiatan perkebunan, pemanfaatan hasil hutan non kayu, intensitas penyuluhan/sosialisasi, kedekatan dengan industri pengolahan kayu bakau, keberadaan kelompok swadaya masyarakat, keberadaan lembaga swadaya masyarakat, tingkat pemahaman masyarakat terhadap lingkungan secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove di Kabupaten Serdang Bedagai.  Adapun secara parsial ; a) hanya faktor-faktor intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertambakan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove yang terbukti berpengaruh secara nyata terhadap kerusakan ekosistem mangrove, b) hanya faktor-faktor intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove  yang terbukti berpengaruh secara nyata terhadap kesesuaian peruntukan ekosistem mangrove di kawasan.  Tingkat kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap pengembangan wilayah di kawasan. Akan tetapi secara parsial hanya tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove yang berpengaruh secara nyata terhadap pengembangan wilayah di kawasan pesisir dan merupakan jalur yang signifikan.  Dengan demikian, intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertambakan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove bisa digunakan sebagai penduga pengembangan wilayah di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai melalui jalur tingkat kesesuaian peruntukan ekosistem mangrove.  Dari semua kuadran strategi, strategi yang terpilih sebagai prioritas adalah strategi mengatasi/menanggulangi kelemahan dan ancaman (WT) yaitu mengembangkan kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove kolaboratif yang efektif dalam melaksanakan fungsi pendidikan lingkungan dan pengamanan/pelestarian ekosistem mangrove yang mendukung pengembangan wilayah pesisir.</description>
      <pubDate>Mon, 19 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31919</guid>
      <dc:date>2012-03-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Purwoko, Agus</dc:creator>
      <dc:description>Analisis Perencanaan Peruntukan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Untuk Pengembangan Wilayah di Kawasan Pesisir Kabupaten Serdang Bedagai, Agus Purwoko dengan Promotor Prof. Dr. Lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE., Ko-promotor Prof. Dr. Ir. Sumono, MS. dan Dr. Ir. Tavi Supriana, M.Si.&#xD;
Mangrove merupakan ekosistem utama di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.  Ekosistem mangrove merupakan salah satu pilar utama pengembangan wilayah di kawasan ini, oleh karena itu perlu dikaji dan direncanakan dengan baik pengelolaan/pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk; 1) menganalisis kerusakan ekosistem mangrove yang terjadi di kawasan pesisir; 2) menganalisis kesesuaian peruntukkan lahan mangrove yang terjadi di kawasan pesisir; 3) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove; dan 4) menganalisis pengaruh kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove terhadap pengembangan wilayah di kawasan pesisir; dan 5) mengkaji strategi pengelolaan ekosistem mangrove yang mendukung pengembangan perekonomian wilayah pesisir Kabupaten Serdang Bedagai.  &#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum telah terjadi kerusakan ekosistem mangrove pada desa-desa di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai dengan kategori kerusakan rata-rata antara sedang – rusak (skor 2.4).  Adapun tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove juga berada pada kategori rata-rata antara sedang - tidak sesuai (skor 2.6).  Faktor-faktor seperti intensitas pengamanan, penebangan kayu bakau, kegiatan pertambakan, kegiatan perkebunan, pemanfaatan hasil hutan non kayu, intensitas penyuluhan/sosialisasi, kedekatan dengan industri pengolahan kayu bakau, keberadaan kelompok swadaya masyarakat, keberadaan lembaga swadaya masyarakat, tingkat pemahaman masyarakat terhadap lingkungan secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove di Kabupaten Serdang Bedagai.  Adapun secara parsial ; a) hanya faktor-faktor intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertambakan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove yang terbukti berpengaruh secara nyata terhadap kerusakan ekosistem mangrove, b) hanya faktor-faktor intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove  yang terbukti berpengaruh secara nyata terhadap kesesuaian peruntukan ekosistem mangrove di kawasan.  Tingkat kerusakan dan kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap pengembangan wilayah di kawasan. Akan tetapi secara parsial hanya tingkat kesesuaian peruntukkan ekosistem mangrove yang berpengaruh secara nyata terhadap pengembangan wilayah di kawasan pesisir dan merupakan jalur yang signifikan.  Dengan demikian, intensitas kegiatan pengamanan, kegiatan penebangan, kegiatan pertambakan, kegiatan pertanian, keberadaan/peranan kelompok swadaya masyarakat dan tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem mangrove bisa digunakan sebagai penduga pengembangan wilayah di kawasan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai melalui jalur tingkat kesesuaian peruntukan ekosistem mangrove.  Dari semua kuadran strategi, strategi yang terpilih sebagai prioritas adalah strategi mengatasi/menanggulangi kelemahan dan ancaman (WT) yaitu mengembangkan kelembagaan pengelolaan ekosistem mangrove kolaboratif yang efektif dalam melaksanakan fungsi pendidikan lingkungan dan pengamanan/pelestarian ekosistem mangrove yang mendukung pengembangan wilayah pesisir.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Inkorporasi Asam Askorbat pada Pembentukan&#xD;
Selulosa Bakteri Dengan Menggunakan&#xD;
Acetobacter xylinum</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31915</link>
      <description>Authors: Yusak, Yuniarti
Advisors: Marpaung, Harlem; Wirjosentono, Basuki; Silalahi, Jansen
Abstract: Incorporation of ascorbic acid at forming bacterial cellulose by using Acetobacter xylinum. Coconut water  as a substance, use  for making  bacterial cellulose  thrugh phosphate  pentose pathway with  juice  Acetobacter xylinum  bacteria  and it was used for making starter. And starter  of  coconut water  used to  synthesize  bacterial cellulose . Making of bacterial  cellulose  by ascorbic acid  various 0, 0,5, 1,0 ,1,5 and  2,0  gram from  cellulose  for  fourteen days. The product  was  produced and then analyzed with  qualitative and quantitative.  The optimum result   can be obtained  by  the addition of  1 g  ascorbic acid which the thickness was 0,935 cm, ash concentration resut  1,57 %, water concentration  86,73 %,fiber concentration 3,55 %.  Analysis  of vitamin ( ascorbic acid) by iodometry method and the result  got increasingly ascorbic acid  concentration and reached vitamin C with high concentration. The analysis to be continued with infrared spectrophotometric to analysis  absorption peak of carbonyl group and the surface  of particle of  bacterial cellulose was analyzed by scanning electrone microscopy(SEM). From the result of research  can produce a sheap product, natural, and healthy used for  a supplement food.
Abstract (other language): Air kelapa  sebagai bahan dasar, digunakan untuk pembuatan selulosa bakteri, melalui jalur pentosa fosfat dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum   dan bakteri ini, mula-mula digunakan untuk pembuatan starter. Starter air kelapa inilah yang  kemudian,  digunakan  untuk  mensintesis  selulosa bakteri.  Pembuatan selulosa  bakteri   dengan menvariasikan  asam askorbat  dari 0,0,5, 1,0,  1,5  dan 2,0 g ,membentuk  selulosa  bakteri  selama 14  hari.Produk yang dihasilkan   kemudian dianalisa secara kualitatif  dan kuantitatif.  Pada penambahan asam askorbat  1 g , didapat hasil yang optimum  dimana didapat ketebalan sebesar 0,935 cm, kadar abu 1,57 %,  kadar air  86,73 % dan kadar serat  3,55 %,  dan kadar vitamin C makin bertambah jumlah vitamin C, kadar vitamin C makin meningkat.Analisa  dilanjutkan dengan spektrofotometri inframerah  untuk mengetahui  terjadinya inkorporasi   dengan  adanya  pergeseran gugus karbnilnya, .Kemudian dianalisa dengan SEM  untuk mengetahui partikel-partikel permukaan dari selulosa bakteri tersebut.Hasil penelitian ini, diharapkan dapat menghasilkan produk yang murah,sehat  dan alami untuk digunakan sebagai tambahan makanan .</description>
      <pubDate>Mon, 19 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31915</guid>
      <dc:date>2012-03-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Yusak, Yuniarti</dc:creator>
      <dc:description>Air kelapa  sebagai bahan dasar, digunakan untuk pembuatan selulosa bakteri, melalui jalur pentosa fosfat dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum   dan bakteri ini, mula-mula digunakan untuk pembuatan starter. Starter air kelapa inilah yang  kemudian,  digunakan  untuk  mensintesis  selulosa bakteri.  Pembuatan selulosa  bakteri   dengan menvariasikan  asam askorbat  dari 0,0,5, 1,0,  1,5  dan 2,0 g ,membentuk  selulosa  bakteri  selama 14  hari.Produk yang dihasilkan   kemudian dianalisa secara kualitatif  dan kuantitatif.  Pada penambahan asam askorbat  1 g , didapat hasil yang optimum  dimana didapat ketebalan sebesar 0,935 cm, kadar abu 1,57 %,  kadar air  86,73 % dan kadar serat  3,55 %,  dan kadar vitamin C makin bertambah jumlah vitamin C, kadar vitamin C makin meningkat.Analisa  dilanjutkan dengan spektrofotometri inframerah  untuk mengetahui  terjadinya inkorporasi   dengan  adanya  pergeseran gugus karbnilnya, .Kemudian dianalisa dengan SEM  untuk mengetahui partikel-partikel permukaan dari selulosa bakteri tersebut.Hasil penelitian ini, diharapkan dapat menghasilkan produk yang murah,sehat  dan alami untuk digunakan sebagai tambahan makanan .</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengolahan Zeolit Alam Sebagai Bahan Pengisi Nano Komposit Polipropilena Dan Karet Alam   SIR -20 Dengan Kompatibeliser Anhidrida Maleat- Grafted-Polipropilena</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31767</link>
      <description>Authors: Bukit, Nurdin
Advisors: Wirjosentono, Basuki; Eddiyanto; Ginting, Masno
Abstract: Natural zeolites have been carried out preparation of the North Tapanuli Pahae North Sumatra Province in the form of slabs with the grinding be sized 200 mesh (74μm) of natural zeolite is stiffened process of purification and calcination at a temperature of 600 0C for 1 hour without calcination and refining as well as calcination and processed into nano particles of natural zeolite with the ball mill for 10 hours. The results of the preparation process of nano-particle zeolite and calcining without the calcination and the characterization performed by XRF chemical content, to determine the size of the nano with the Partikel Size Aanalizer (PSA), morphology (SEM) and XRD.the result preparation is used as filler material at the nano composite mixture of natural rubber SIR -20 with polypropylene (PP) using compatibelizer polypropylene - maleic anhydride (PP-g-MA). The method is carried out in research in the preparation of composite nano making compound SIR-20 with two roll mixing mill equipment, with materials natural rubber SIR -20 mixed with antioxidants, sulfur, antidegrand, carbon black and then made the manufacture of an activator of nano composites made by mixing nano partilel natural zeolite calcination and without calcination results in a mixture of polypropylene (PP), PP-g-MA and compound SIR-20 and in the internal mixer with a temperature of 180 0C laboplastomill a rate of 60 rpm for 10 minutes, with the composition of the compound SIR -20 and PP (70/30), PP-g-MA (5) wt%, nano-particles of natural zeolite calcination and without calcination with composition (0,2,4,6)% wt. The nano composite of the internal mixer in a granular form of printing press made hot and cold  for 10 minutes, then made specimens for each test sample in accordance with standard sizes ASTM and JIS –k 6781  for dumbbell tensile strength .&#xD;
The results of nano-composite specimens performed the characterization of mechanical properties (tensile strength, elongation break and Young's Modulus), morphological analysis by SEM and XRD analysis, thermal analysis with DSC, TGA-DTA.&#xD;
From the analysis of natural zeolite preparation obtained particle size of 190.2 nm for calcination of natural zeolite, without calcination to 148.8 nm. The results of the chemical content analysis for nano-particles of natural zeolite calcination element of SiO2 (71.06)%, Al2O3 (17:29)% while the natural zeolite nano-particles without calcination obtained levels of SiO2 (80.30)%, Al2O3 (14.19)%, the results of analysis of morphology seen happen clumping and no cavity in accordance with the structure of zeolite, the results of XRD analysis of the natural zeolite types mordenit. The results of nano-composite mixture of PP / PPMA / nano particles of natural zeolite is obtained as follows. From the results of thermal analysis by DSC for the composition of natural zeolite nano calcination 0%wt, Tg -51.52 0C there was an increase to 2% wt composition of Tg - 53.19 0C while the melting point there is also increased, without the nano zeolite 168.66 0C, to 2% wt composition of natural zeolite nano calcination  171.55 0C ,the composition of 2%wt natural zeolite nano without calcination 170.80 0C. and the results of X- ray analysis Difraction (XRD) obtained is an increase of the spacing of the matrix polymer polypropylene and show the intercalation between the polymer with fillers for PP d = 5.2677 (Å) nano-particles of natural zeolite calcined 2% wt, d = 5.3044 (Å), 4% wt d = 5, 2918 (Å), 6% wt d = 5, 2606 (Å) zeolite nano particles without calcination 2% wt d = 5.2730 (Å), 4% wt d = 5.2730 (Å), 6% wt d = 5.3170 (Å), the results tensile test obtained an increase in the presence of natural zeolite nano, on komosisi 2% wt zeolite calcination of nano particles of 24.6 MPa and 2% wt zeolite without calcination 23.8 MPa, while without the nano-particle zeolite tensile strength 23.6 MPa. For nano-composite mixture of PP / PPMA / SIR-20 compound, obtained from XRD analisisis is an increase of the spacing of the polypropylene matrix and show intercalation between the polymer with nano particles of natural zeolite calcination d = 5.2577 (Å), 0% wt, d = 5.2730 (Å), 2% wt, d = 5.2730 (Å), 4% wt, d = 5.2660 (Å), 6% wt zeolite nano without calcination d = 5.2730 (Å) , 2% wt, d = 5.2918 (Å), 4% wt, d = 5.2270 (Å), 6% wt. tensile test results obtained in the presence of nano particles increase in natural zeolite, the composition of 2% wt, for 8 MPa and 6% wt without calcination 7.7 MPa, while without the nano zeolite 6.6 MPa tensile strength, Thermal Analysis of an increase in melting point and decomposition temperature on the composition of natural zeolite nano particles calcination  without calcination.
Abstract (other language): Telah dilakukan preparasi zeolit alam dari daerah Pahae Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara dalam bentuk bongkahan dengan proses pengerusan menjadi ukuran 200 mesh(74μm)  dikakukan  proses pemurnian dan kalsinasi pada suhu 600 0C selama 1 jam kalsinasi dan tanpa pemurnian dan tanpa  kalsinasi  dan diolah menjadi  nano partikel dengan proses ball mill selama 10 jam. Hasil dari proses preparasi nano patikel zeolit alam proses pemurnian dan kalsinasi serta tanpa kalsinasi  dilakukan karakterisasi kandungan kimia  dengan XRF, untuk menentukan ukuran nano dengan PSA, morfologi (SEM ) dan XRD.Hasil preparasi  ini digunakan sebagai bahan pengisi pada nano komposit campuran karet alam SIR -20 dengan polipropilena  (PP )  dengan menggunakan kompatibeliser polipropilena - maleic anhidrida (PP-g-MA) .Metode yang dilakukan dalam pembuatan nano komposit yakni :  pembuatan kompon SIR-20 dengan peralatan  two roll mixing  mill ,dengan bahan  Karet  SIR -20 dicampur    dengan bahan antioksidan , sulfur , antidegrand , carbon black dan aktivator kemudian dilakukan  pembuatan nano komposit dengan cara mencampurkan nano partilel zeolit alam pada campuran polipropilena (PP )   ,  PP-g-MA dan kompon SIR- 20 dan dalam internal mixer   laboplastomill dengan suhu 180 0C dengan laju 60 rpm selama 10 menit, dengan komposisi kompon SIR -20 dan PP (70/30 ), PP-g-MA(5)% wt ,nano partikel zeolit alam kalsinasi dan tanpa kalsinasi  dengan komposisi (0,2,4,6) % wt .Hasil nano komposit dari internal Mixer dalam bentuk granular dilakukan cetak tekan panas dan tekan dingin selama 10 menit  , kemudian dibuat spesimen untuk masing-masing sampel pengujian sesuai dengan ukuran  standar   ASTM dan JIS K 6781 untuk dumbell kekuatan tarik  . &#xD;
Hasil spesimen nano komposit   dilakukan karakterisasi yakni sifat mekanik (Kekuatan tarik, perpanjangan putus dan Modulus Young’s ) , analisis morfologi dengan SEM dan analisis  XRD ,  analisa termal dengan DSC ,  TGA-DTA.&#xD;
Dari hasil analisis preparasi zeolit alam diperoleh ukuran partikel 190,2 nm untuk zeolit alam kalsinasi, untuk zeolit tanpa kalsinasi 148,8 nm  . Hasil analisis kandungan kimia  untuk nano partikel  zeolit alam kalsinasi unsur  SiO2 (71.06) %,Al2O3 (17.29)% sedangkan  nano partikel zeolit alam tanpa kalsinasi  diperoleh kadar SiO2 (80.30) %,Al2O3 ( 14,19) %, hasil analisis morfologi terlihat terjadi penggumpalan dan ada rongga sesuai dengan struktur zeolit, hasil dari analisis XRD zeolit alam jenis mordenit . Hasil nano komposit campuran PP/PPMA /nano partikel zeolit alam diperoleh sebagai berikut. Dari hasil analisis termal dengan DSC untuk komposisi nano zeolit alam kalsinasi  0%wt , Tg -51,52 0C ada peningkatan ke komposisi 2 %wt sebesar Tg  - 53,19 0C sedangkan titik leleh  juga ada peningkatan , tanpa nano zeolit 168,66 0C,  untuk komposisi 2 % wt nano zeolit alam kalsinasi  171,55 0C ,  komposisi 2 %wt  nano zeolit alam  tanpa kalsinasi  170,80 0C .dan hasil analisis X-Ray Difraction (XRD)  diperoleh adalah terjadinya peningkatan  terhadap jarak spasi dari matrik polimer polipropilena  dan menunjukkan adanya interkalasi diantara polimer dengan bahan pengisi  untuk PP  d = 5,2677  (Å)  nano partikel  zeolit alam kalsinasi 2 % wt, d =  5,3044 (Å)   , 4 % wt  d =  5, 2918 (Å)  ,6 % wt d =  5, 2606 (Å)       nano partikel  zeolit tanpa kalsinasi   2 % wt d = 5,2730 (Å)   , 4 %wt d = 5,2730 (Å), 6 %wt d = 5,3170 (Å) ,  hasil uji tarik diperoleh peningkatan dengan adanya nano zeolit alam ,pada komosisi 2 % wt nano partikel zeolit kalsinasi sebesar 24,6 Mpa dan 2 %wt zeolit tanpa kalsinasi 23,8 Mpa, Sedangkan tanpa nano partikel zeolit kekuatan tarik 23,6 MPa . Untuk nano komposit campuran PP/PPMA/ kompon SIR-20 ,diperoleh dari analisisis  XRD adalah terjadinya peningkatan terhadap jarak spasi dari matrik polipropilena dan menunjukkan interkalasi diantara polimer dengan nano partikel zeolit alam  kalsinasi  d =  5,2577(Å)  , 0 % wt, d = 5,2730 (Å) , 2 % wt, d= 5,2730 (Å)  ,4 %wt, d= 5,2660 (Å)  ,6 % wt  nano zeolit tanpa kalsinasi  d =  5,2730(Å)  , 2 % wt, d = 5,2918 (Å) , 4 %wt , d= 5,2270 (Å)  ,6 %wt  .Hasil uji tarik diperoleh peningkatan dengan adanya nano partikel zeolit alam ,pada komposisi 2 %wt, sebesar 8 Mpa dan 6 %wt tanpa kalsinasi 7,7 Mpa, Sedangkan tanpa nano zeolit kekuatan tarik 6,6 MPa , dari  Analisis Termal adanya peningkatan titik leleh dan suhu dekomposisi terhadap komposisi nano partikel zeolit alam kalsinasi maupun tanpa kalsinasi .</description>
      <pubDate>Thu, 15 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31767</guid>
      <dc:date>2012-03-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Bukit, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Telah dilakukan preparasi zeolit alam dari daerah Pahae Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara dalam bentuk bongkahan dengan proses pengerusan menjadi ukuran 200 mesh(74μm)  dikakukan  proses pemurnian dan kalsinasi pada suhu 600 0C selama 1 jam kalsinasi dan tanpa pemurnian dan tanpa  kalsinasi  dan diolah menjadi  nano partikel dengan proses ball mill selama 10 jam. Hasil dari proses preparasi nano patikel zeolit alam proses pemurnian dan kalsinasi serta tanpa kalsinasi  dilakukan karakterisasi kandungan kimia  dengan XRF, untuk menentukan ukuran nano dengan PSA, morfologi (SEM ) dan XRD.Hasil preparasi  ini digunakan sebagai bahan pengisi pada nano komposit campuran karet alam SIR -20 dengan polipropilena  (PP )  dengan menggunakan kompatibeliser polipropilena - maleic anhidrida (PP-g-MA) .Metode yang dilakukan dalam pembuatan nano komposit yakni :  pembuatan kompon SIR-20 dengan peralatan  two roll mixing  mill ,dengan bahan  Karet  SIR -20 dicampur    dengan bahan antioksidan , sulfur , antidegrand , carbon black dan aktivator kemudian dilakukan  pembuatan nano komposit dengan cara mencampurkan nano partilel zeolit alam pada campuran polipropilena (PP )   ,  PP-g-MA dan kompon SIR- 20 dan dalam internal mixer   laboplastomill dengan suhu 180 0C dengan laju 60 rpm selama 10 menit, dengan komposisi kompon SIR -20 dan PP (70/30 ), PP-g-MA(5)% wt ,nano partikel zeolit alam kalsinasi dan tanpa kalsinasi  dengan komposisi (0,2,4,6) % wt .Hasil nano komposit dari internal Mixer dalam bentuk granular dilakukan cetak tekan panas dan tekan dingin selama 10 menit  , kemudian dibuat spesimen untuk masing-masing sampel pengujian sesuai dengan ukuran  standar   ASTM dan JIS K 6781 untuk dumbell kekuatan tarik  . &#xD;
Hasil spesimen nano komposit   dilakukan karakterisasi yakni sifat mekanik (Kekuatan tarik, perpanjangan putus dan Modulus Young’s ) , analisis morfologi dengan SEM dan analisis  XRD ,  analisa termal dengan DSC ,  TGA-DTA.&#xD;
Dari hasil analisis preparasi zeolit alam diperoleh ukuran partikel 190,2 nm untuk zeolit alam kalsinasi, untuk zeolit tanpa kalsinasi 148,8 nm  . Hasil analisis kandungan kimia  untuk nano partikel  zeolit alam kalsinasi unsur  SiO2 (71.06) %,Al2O3 (17.29)% sedangkan  nano partikel zeolit alam tanpa kalsinasi  diperoleh kadar SiO2 (80.30) %,Al2O3 ( 14,19) %, hasil analisis morfologi terlihat terjadi penggumpalan dan ada rongga sesuai dengan struktur zeolit, hasil dari analisis XRD zeolit alam jenis mordenit . Hasil nano komposit campuran PP/PPMA /nano partikel zeolit alam diperoleh sebagai berikut. Dari hasil analisis termal dengan DSC untuk komposisi nano zeolit alam kalsinasi  0%wt , Tg -51,52 0C ada peningkatan ke komposisi 2 %wt sebesar Tg  - 53,19 0C sedangkan titik leleh  juga ada peningkatan , tanpa nano zeolit 168,66 0C,  untuk komposisi 2 % wt nano zeolit alam kalsinasi  171,55 0C ,  komposisi 2 %wt  nano zeolit alam  tanpa kalsinasi  170,80 0C .dan hasil analisis X-Ray Difraction (XRD)  diperoleh adalah terjadinya peningkatan  terhadap jarak spasi dari matrik polimer polipropilena  dan menunjukkan adanya interkalasi diantara polimer dengan bahan pengisi  untuk PP  d = 5,2677  (Å)  nano partikel  zeolit alam kalsinasi 2 % wt, d =  5,3044 (Å)   , 4 % wt  d =  5, 2918 (Å)  ,6 % wt d =  5, 2606 (Å)       nano partikel  zeolit tanpa kalsinasi   2 % wt d = 5,2730 (Å)   , 4 %wt d = 5,2730 (Å), 6 %wt d = 5,3170 (Å) ,  hasil uji tarik diperoleh peningkatan dengan adanya nano zeolit alam ,pada komosisi 2 % wt nano partikel zeolit kalsinasi sebesar 24,6 Mpa dan 2 %wt zeolit tanpa kalsinasi 23,8 Mpa, Sedangkan tanpa nano partikel zeolit kekuatan tarik 23,6 MPa . Untuk nano komposit campuran PP/PPMA/ kompon SIR-20 ,diperoleh dari analisisis  XRD adalah terjadinya peningkatan terhadap jarak spasi dari matrik polipropilena dan menunjukkan interkalasi diantara polimer dengan nano partikel zeolit alam  kalsinasi  d =  5,2577(Å)  , 0 % wt, d = 5,2730 (Å) , 2 % wt, d= 5,2730 (Å)  ,4 %wt, d= 5,2660 (Å)  ,6 % wt  nano zeolit tanpa kalsinasi  d =  5,2730(Å)  , 2 % wt, d = 5,2918 (Å) , 4 %wt , d= 5,2270 (Å)  ,6 %wt  .Hasil uji tarik diperoleh peningkatan dengan adanya nano partikel zeolit alam ,pada komposisi 2 %wt, sebesar 8 Mpa dan 6 %wt tanpa kalsinasi 7,7 Mpa, Sedangkan tanpa nano zeolit kekuatan tarik 6,6 MPa , dari  Analisis Termal adanya peningkatan titik leleh dan suhu dekomposisi terhadap komposisi nano partikel zeolit alam kalsinasi maupun tanpa kalsinasi .</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penggunaan    Anhidrida     Maleat  –  Grafted -Polopropilena  (AM-g-PP) Dan Anhidrida Maleat-Grafted- Karet Alam (AM-g-KA) PadaTermoplastik Elastomer (TPE) Berbasis Polipropilena,Kompon Karet  Alam SIR-20 Dan Serbuk Ban Bekas</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31764</link>
      <description>Authors: Frida, Erna
Abstract: Has been conducted by making material thermoplastic elastomer (TPE) based on polypropylene (PP), SIR-20 Compound, crumb rubber by using materials of maleic anhydride grafted polypropylene compatibilizer (AM-g-PP) and maleic anhydride grafted natural rubber (AM-g-KA ) preparation was done in several stages: first the preparation of maleic anhydride grafted natural rubber with the addition of dicumil peroxide as an initiator of materials and using the internal mixer equipment. Second, preparation of compound SIR-20 which performed for 23 minutes with two roll mixing mill equipment, with SIR -20 rubber material mixed with antioxidants, sulfur, antidegrand, carbon black and activator.Fase into three composite preparation is done by mixing polypropylene, SIR-20 compound, the crumb rubber with AM-g-PP and AM-g -KA as the material compatibilizer and the addition dicumil peroxide (DCP) in an internal mixer with a temperature of 180 0C laboplastomill, the rate of 60 rpm for 10 minutes, the composition of the compound SIR -20 and PP (70/30), AM-g-PP (5)% wt, crumb rubber for every size of 30%, 40%, 50% wt and DCP 2% wt. Composites results from the internal mixer in a granular form of printing press made hot and cold tap for 10 minutes, then made specimens for each sample testing in accordance with ASTM and JIS standard size K 6781. The results of grafting were characterized by FTIR, compound characterized tensile strength, hardness. The results of the characterization of the specimens made of composite mechanical properties (tensile strength, elongation of break, Young's Modulus, Tear Strength, Hardness, Impact Strength, Swelling), morphological analysis by SEM, XRD analysis and thermal analysis by DSC. From the FTIR results showed good natural rubber to interact with maleic anhydride. From the results obtained that characterize the mechanical properties of materials are influenced by the composition, size and filler materials.With compatibilizer the addition of filler material composition will improve the mechanical properties of composites. The smaller the size of the filler material then there is a good interfacial interaction between fillers and matrix so that good mechanical properties obtained. From the results of morphological analysis with  crumb rubber size 60 mesh, the composition of 40% and compatibilizer AM-g-PP is better than AM-g-KA. From the X-ray diffraction analysis showed the presence of additional compatibilizer AM-g-PP and additional crumb rubber will increase the crystallization composites, but no visible change in position so as not to affect the pattern of PP. Composite materials by using compatibilizer AM-g-KA has a low degree of crystallinity compared to the level of crystallinity of PP, this is because the addition of AM-g-KA can decrease the regularity of the crystal structure that makes the process of crystallization to be disrupted. The degree of crystallization of the composite (Xcom) using compatibilizer AM-g-PP is 7.3891 A and a composite that uses compatibilizer AM-g-KA is a 7.2371 A . From the results of thermal analysis of composite PP / Compound SIR-20/crumb rubber / AM-g-PP showed the melting point of each composition of 160.20 ° C; 159.98 ° C, and 161.35 ° C is close to the melting point of polypropylene. Thermal analysis of composites PP / Compound SIR-20/crumb rubber / AM-g-KA on the composition of the c 30% rumb rubber and 40% respectively showed the existence of two melting point is at a temperature of 162.26 ° C and at a temperature of 202.33 ° C , 161.44 and 220.19 oC.
Abstract (other language): Telah dilakukan pembuatan bahan termoplastik elastomer (TPE) berbasis polipropilena (PP),Kompon SIR-20,serbuk ban bekas  dengan menggunakan bahan  kompatibiliser  anhidrida maleat grafted polipropilena (AM-g-PP)  dan  anhidrida maleat grafted karet alam (AM-g-KA) .Preparasi dilakukan dalam beberapa tahap yaitu : pertama  preparasi anhidrida maleat grafted  karet alam dengan penambahan dicumil peroksida sebagai bahan inisiator  dan menggunakan peralatan internal mixer  .Kedua,  dilakukan pembuatan kompon SIR-20  yang dilakukan selama 23 menit dengan peralatan  two roll mixing  mill ,dengan bahan  karet SIR -20 dicampur    dengan bahan antioksidan , sulfur , antidegrand , carbon black dan aktivator.Tahap ke tiga ialah pembuatan komposit yang  dilakukan dengan cara mencampurkan polipropilena ,kompon SIR-20  ,serbuk ban bekas dengan AM-g-PP  dan AM-g-KA sebagai bahan kompatibiliser  dan  penambahan dicumil peroksida (DCP)  dalam internal mixer   laboplastomill dengan suhu 180 0C , laju 60 rpm selama 10 menit ,komposisi  kompon SIR -20 dan PP (70/30 ), AM-g-PP (5)% wt ,serbuk ban bekas untuk setiap ukuran  30%,40%,50% wt dan DCP 2% wt .Hasil  komposit dari internal Mixer dalam bentuk granular dilakukan cetak tekan panas dan tekan dingin selama 10 menit  , kemudian dibuat spesimen untuk masing-masing sampel pengujian sesuai dengan ukuran  standar   ASTM dan JIS K 6781. Hasil  grafting dikarakterisasi dengan FTIR , kompon dikarakterisasi kekuatan tarik,kekerasan . Hasil spesimen komposit   dilakukan karakterisasi yakni sifat mekanik (Kekuatan tarik, Perpanjangan putus , Modulus Young’s,Kekuatan Sobek,Kekerasan ,Kekuatan Impak ,Pengembangan ) , analisis morfologi dengan SEM , analisis  XRD dan  analisis termal dengan DSC . Dari hasil FTIR menunjukan karet alam berinteraksi dengan baik terhadap anhidrida maleat. Dari hasil karakterisasi diperoleh bahwa sifat mekanis bahan dipengaruhi oleh komposisi,ukuran bahan pengisi dan bahan kompatibiliser yang digunakan.Dengan penambahan komposisi bahan pengisi akan meningkatkan sifat mekanis komposit .Semakin kecil ukuran bahan pengisi maka terjadi interaksi antar muka yang baik antara bahan pengisi dan matrik sehingga diperoleh sifat mekanis yang baik. Dari hasil analisis morfologi dengan ukuran serbuk ban bekas 60 mesh ,komposisi 40% dan kompatibiliser AM-g-PP lebih baik dari pada AM-g-KA. Dari analisis difraksi sinar-X menunjukkan dengan adanya penambahan kompatibiliser AM-g-PP dan penambahan serbuk ban bekas akan meningkatkan kristalisasi komposit, namun tidak terlihat perubahan posisi sehingga tidak mempengaruhi pola PP. Komposit dengan menggunakan bahan kompatibiliser AM-g-KA mempunyai derajat kristalinitas yang rendah dibandingkan dengan tingkat kristalinitas dari PP,hal ini disebabkan karena penambahan AM-g-KA dapat menurunkan  keteraturan susunan kristal yang membuat proses kristalisasi menjadi terganggu. Derajat kristalisasi komposit (Xkom) dengan menggunakan kompatibiliser AM-g-PP adalah 7,3891Ao dan dengan  komposit yang menggunakan   kompatibiliser AM-g-KA adalah 7,2371Ao.. Dari hasil analisis termal  komposit PP/Kompon SIR-20/Serbuk Ban Bekas/AM-g-PP  menunjukkan titik leleh masing- masing komposisi 160,20 oC ;159,98oC ; dan 161,35 oC yang mendekati titik leleh polipropilena. Analisis termal komposit PP/Kompon SIR-20/Serbuk Ban Bekas/AM-g-KA  pada komposisi serbuk ban bekas 30% dan 40% masing –masing menunjukkan adanya dua titik leleh yaitu pada suhu 162,26 oC dan pada suhu 202,33oC, 161,44oC dan 220,19oC  .</description>
      <pubDate>Wed, 14 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31764</guid>
      <dc:date>2012-03-14T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Frida, Erna</dc:creator>
      <dc:description>Telah dilakukan pembuatan bahan termoplastik elastomer (TPE) berbasis polipropilena (PP),Kompon SIR-20,serbuk ban bekas  dengan menggunakan bahan  kompatibiliser  anhidrida maleat grafted polipropilena (AM-g-PP)  dan  anhidrida maleat grafted karet alam (AM-g-KA) .Preparasi dilakukan dalam beberapa tahap yaitu : pertama  preparasi anhidrida maleat grafted  karet alam dengan penambahan dicumil peroksida sebagai bahan inisiator  dan menggunakan peralatan internal mixer  .Kedua,  dilakukan pembuatan kompon SIR-20  yang dilakukan selama 23 menit dengan peralatan  two roll mixing  mill ,dengan bahan  karet SIR -20 dicampur    dengan bahan antioksidan , sulfur , antidegrand , carbon black dan aktivator.Tahap ke tiga ialah pembuatan komposit yang  dilakukan dengan cara mencampurkan polipropilena ,kompon SIR-20  ,serbuk ban bekas dengan AM-g-PP  dan AM-g-KA sebagai bahan kompatibiliser  dan  penambahan dicumil peroksida (DCP)  dalam internal mixer   laboplastomill dengan suhu 180 0C , laju 60 rpm selama 10 menit ,komposisi  kompon SIR -20 dan PP (70/30 ), AM-g-PP (5)% wt ,serbuk ban bekas untuk setiap ukuran  30%,40%,50% wt dan DCP 2% wt .Hasil  komposit dari internal Mixer dalam bentuk granular dilakukan cetak tekan panas dan tekan dingin selama 10 menit  , kemudian dibuat spesimen untuk masing-masing sampel pengujian sesuai dengan ukuran  standar   ASTM dan JIS K 6781. Hasil  grafting dikarakterisasi dengan FTIR , kompon dikarakterisasi kekuatan tarik,kekerasan . Hasil spesimen komposit   dilakukan karakterisasi yakni sifat mekanik (Kekuatan tarik, Perpanjangan putus , Modulus Young’s,Kekuatan Sobek,Kekerasan ,Kekuatan Impak ,Pengembangan ) , analisis morfologi dengan SEM , analisis  XRD dan  analisis termal dengan DSC . Dari hasil FTIR menunjukan karet alam berinteraksi dengan baik terhadap anhidrida maleat. Dari hasil karakterisasi diperoleh bahwa sifat mekanis bahan dipengaruhi oleh komposisi,ukuran bahan pengisi dan bahan kompatibiliser yang digunakan.Dengan penambahan komposisi bahan pengisi akan meningkatkan sifat mekanis komposit .Semakin kecil ukuran bahan pengisi maka terjadi interaksi antar muka yang baik antara bahan pengisi dan matrik sehingga diperoleh sifat mekanis yang baik. Dari hasil analisis morfologi dengan ukuran serbuk ban bekas 60 mesh ,komposisi 40% dan kompatibiliser AM-g-PP lebih baik dari pada AM-g-KA. Dari analisis difraksi sinar-X menunjukkan dengan adanya penambahan kompatibiliser AM-g-PP dan penambahan serbuk ban bekas akan meningkatkan kristalisasi komposit, namun tidak terlihat perubahan posisi sehingga tidak mempengaruhi pola PP. Komposit dengan menggunakan bahan kompatibiliser AM-g-KA mempunyai derajat kristalinitas yang rendah dibandingkan dengan tingkat kristalinitas dari PP,hal ini disebabkan karena penambahan AM-g-KA dapat menurunkan  keteraturan susunan kristal yang membuat proses kristalisasi menjadi terganggu. Derajat kristalisasi komposit (Xkom) dengan menggunakan kompatibiliser AM-g-PP adalah 7,3891Ao dan dengan  komposit yang menggunakan   kompatibiliser AM-g-KA adalah 7,2371Ao.. Dari hasil analisis termal  komposit PP/Kompon SIR-20/Serbuk Ban Bekas/AM-g-PP  menunjukkan titik leleh masing- masing komposisi 160,20 oC ;159,98oC ; dan 161,35 oC yang mendekati titik leleh polipropilena. Analisis termal komposit PP/Kompon SIR-20/Serbuk Ban Bekas/AM-g-KA  pada komposisi serbuk ban bekas 30% dan 40% masing –masing menunjukkan adanya dua titik leleh yaitu pada suhu 162,26 oC dan pada suhu 202,33oC, 161,44oC dan 220,19oC  .</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Predikasi Sintaksis Bahasa Angkola</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31756</link>
      <description>Authors: Siregar, Tiornalis
Advisors: Siregar, Bahren Umar; Sibarani, Robert; Sinar, T. Silvana
Abstract: This dissertation is about the predication in Angkola Language. The study area includes the City of Padangsidimpuan, North Padang Lawas District, Padang Lawas District, South Tapanuli District, and Mandailing Natal District. The study is based on the theory of Functional Grammar developed by Simon Cornelis Dik (1940-1995). It focuses on the elements of the predicate, the predicate frame, the valency in the predication, the predication, and the relationship between the predication and the states of affairs. This study aims to discover and analyze the elements of the predicate, the predicate frame, the valency in the predication, the predication, and the relationship between the predication and the states of affairs. The data for this study are obtained from several sources which comprise of two types of data, i.e. spoken and written. The spoken data were two types, i.e. fiction and non-fiction. The written data were also from the same types. In addition, intuitive data from the native speaker were also used as secondary data. The descriptive qualitative method was used to collect and process the data, that is to utilize the collected data and to focus on the interpretation of the data. The data were transcribed into clauses before using them as the research corpus. The result shows that the Angkola language has verbal, nominal, adjectival, and adpositional predicates. The predicate frame can be obtained from the predicate formation rules. The valency in the predication can be one, two, and three place predication. It may also undergo either valency addition or reduction. The predication includes the nucleus, core, and expanded predication. As the state of affairs is the conception of something which can be the case in some world, it is not only designated by what is expressed but also by the way the expression is formed into the predicate frame.
Abstract (other language): Penelitian ini berjudul Predikasi Sintaksis Bahasa Angkola. Wilayah Penelitian meliputi Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten Mandailing Natal. Teori yang digunakan ialah teori Tata Bahasa Fungsional yang dikembangkan oleh Simon Cornelis Dik (1940-1995). Masalah penelitian ini ialah unsur predikat dalam bahasa Angkola, kerangka predikat, daya ikat predikat terhadap unsur-unsur lainnya dalam predikasi bahasa Angkola, predikasi dan hubungan predikasi dengan Perikeadaan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis unsur predikat dalam bahasa Angkola, menentukan dan menganalisis kerangka predikat bahasa Angkola, menentukan daya ikat predikat terhadap unsur-unsur predikasi lainnya dalam bahasa Angkola, menganalisis predikasi bahasa Angkola, menganalisis hubungan predikasi dan prikeadaan. Data untuk penelitian ini diambil dari beberapa sumber, yang terbagi dalam dua jenis yaitu, data lisan dan tulisan. Data lisan dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu jenis data lisan yang bersifat non-fiksi dan data lisan fiksi. Untuk data tulisan juga terbagi dua bagian, yaitu data tulisan non-fiksi dan data tulisan fiksi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data intuitif penutur jati sebagai data sekunder. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan dan memproses data ialah metode deskriptif kualitatif, yaitu memanfaatkan data yang sudah ada sehingga interpretasi terhadap data yang dikumpulkan menjadi fokus utama kajian. Setelah data diperoleh, data kemudian ditranskripsi ke dalam klausa-klausa sebagai korpus penelitian. Hasil analisis data menunjukkan jenis predikat verbal, predikat nominal, predikat adjektival, dan predikat adposisional. Kerangka predikat dalam bahasa Angkola bisa diperoleh melalui kaidah pembentukan predikat. Daya ikat dalam bahasa Angkola bervalensi satu, dua, dan tiga, juga terdapat perluasan valensi dan pengurangan valensi. Predikasi dalam bahasa Angkola meliputi predikasi inti, predikasi pokok dan predikasi perluasan. Prikeadaan adalah konsepsi tentang sesuatu yang terjadi di dunia. Perikeadaan tidak saja ditentukan oleh apa yang diungkapkan tetapi juga oleh bagaimana apa yang diungkapkan itu dibentuk ke dalam kerangka predikat.</description>
      <pubDate>Wed, 14 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31756</guid>
      <dc:date>2012-03-14T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siregar, Tiornalis</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini berjudul Predikasi Sintaksis Bahasa Angkola. Wilayah Penelitian meliputi Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten Mandailing Natal. Teori yang digunakan ialah teori Tata Bahasa Fungsional yang dikembangkan oleh Simon Cornelis Dik (1940-1995). Masalah penelitian ini ialah unsur predikat dalam bahasa Angkola, kerangka predikat, daya ikat predikat terhadap unsur-unsur lainnya dalam predikasi bahasa Angkola, predikasi dan hubungan predikasi dengan Perikeadaan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis unsur predikat dalam bahasa Angkola, menentukan dan menganalisis kerangka predikat bahasa Angkola, menentukan daya ikat predikat terhadap unsur-unsur predikasi lainnya dalam bahasa Angkola, menganalisis predikasi bahasa Angkola, menganalisis hubungan predikasi dan prikeadaan. Data untuk penelitian ini diambil dari beberapa sumber, yang terbagi dalam dua jenis yaitu, data lisan dan tulisan. Data lisan dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu jenis data lisan yang bersifat non-fiksi dan data lisan fiksi. Untuk data tulisan juga terbagi dua bagian, yaitu data tulisan non-fiksi dan data tulisan fiksi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data intuitif penutur jati sebagai data sekunder. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan dan memproses data ialah metode deskriptif kualitatif, yaitu memanfaatkan data yang sudah ada sehingga interpretasi terhadap data yang dikumpulkan menjadi fokus utama kajian. Setelah data diperoleh, data kemudian ditranskripsi ke dalam klausa-klausa sebagai korpus penelitian. Hasil analisis data menunjukkan jenis predikat verbal, predikat nominal, predikat adjektival, dan predikat adposisional. Kerangka predikat dalam bahasa Angkola bisa diperoleh melalui kaidah pembentukan predikat. Daya ikat dalam bahasa Angkola bervalensi satu, dua, dan tiga, juga terdapat perluasan valensi dan pengurangan valensi. Predikasi dalam bahasa Angkola meliputi predikasi inti, predikasi pokok dan predikasi perluasan. Prikeadaan adalah konsepsi tentang sesuatu yang terjadi di dunia. Perikeadaan tidak saja ditentukan oleh apa yang diungkapkan tetapi juga oleh bagaimana apa yang diungkapkan itu dibentuk ke dalam kerangka predikat.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Fungsionalisasi Polipropilena Terdegradasi Menggunakan Benzoil Peroksida, Anhidrida Maleat Dan Divinil Benzena Sebagai Bahan Perekat Papan Partikel Kayu Kelapa Sawit</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31285</link>
      <description>Authors: Nasution, Darwin Yunus
Advisors: Wirjosentono, Basuki; Herawan, Tyahjono; Eddyanto
Abstract: Telah dilakukan penelitian tentang penggunaan polipropilena terdegradasi-graft-anhidrida maleat (PPd-g-AM ), benzoil peroksida dan divinil benzena sebagai perekat papan partikel kayu kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan tiga tahap. Tahap pertama adalah mendegradasi polipropilena pada suhu pengolahannya (170 0C) dengan benzoil peroksida sebagai inisiator dengan berbagai variasi konsentrasi untuk memperoleh polipropilena terdegradasi, yang disingkat dengan PPd. Pengujian yang dilakukan terhadap PPd ini meliputi penentuan viskositas intrinsik, bobot molekul, dan titik leleh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PPd mempunyai bobot molekul – bobot molekul dan viskositas intrinsik- viskositas intrinsik yang lebih rendah dari pada polipropilena sedangkan titik lelehnya tidak mengalami perubahan. PPd yang mempunyai viskositas intrinsik 1,55 dan bobot molekul 194,894 g/mol dipilih untuk difungsionalisasi.. Pada tahap kedua adalah fungsionalisasi PPd dengan anhidrida maleat pada berbagai bervariasi konsentrasi dengan benzoil peroksida sebagai inisiator. Pada ini dihasilkan polipropilena terdegradsi-graft-anhidrida maleat, yang disebut PPd-g-AM. Pengujian yang dilakukan terhadap PPd-g-AM adalah penentuan derajat grafting, titik leleh dan analisis FTIR. PPd-g-AM yang mempunyai derajat grafting tertinggi (9,73 %) digunakan sebagai bahan perekat pembuatan papan partikel. Tahap ketiga adalah pembuatan papan partikel menggunakan campuran PPd-g-AM, benzoil peroksida dan divinil benzena sebagai bahan perekatnya. Pada tahap ini ada 2 macam komposisi papan partikel, yaitu komposisi 1 dan komposisi 2. Pengujian sifat-sifat fisik dan mekanik terhadap papan partikel yang meliputi sifat fisik dan mekanik, yaitu uji kerapatan, daya serap air, modulus of rupture (MoR) dan modulus of elasticity (MoE) didasarkan pada SNI 03-2105-2006 dan pengujian terhadap interaksi kimia dengan Fourer Transform Infra Merah (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil menunjukkan bahwa papan partikel dengan perbandingan serbuk kayu kelapa sawit : PPd-g-AM : divinil benzena : benzoil peroksida : polipropilena 60 : 30 : 10 : 2 : 10 merupakan papan partikel yang paling memenuhi syarat dalam komposisi 2 menurut SNI 03-2105-2006 dengan harga MoR = 182,40 kgf/cm2, MoE = 22798,12 kgf/cm2, kerapatan = 0,68 g/cm3, daya serap air = 0,64 % dan pengembangan tebal 1,89 % sedangkan papan partikel dengan perbandingan serbuk kayu kelapa sawit : PPd-g-AM : divinil benzena : benzoil peroksida 60 : 30 : 10 : 2 merupakan papan partikel yang paling optimum pada komposisi 1 dengan harga MoR = 176,22 kgf/cm2, MoE = 72298,02 kgf/cm2, kerapatan = 0,67 g/cm3, daya serap air = 0,80 % dan pengembangan tebal 2,09 %, akan tetapi papan partikel ini belum memenuhi syarat menurut SNI 03-2105-2006 bila ditinjau dari harga MoE yang masih dibawah persyaratan.
Abstract (other language): Fungsionalisasi Polipropilena Terdegradasi Menggunakan Benzoil Peroksida, Anhidrida Maleat Dan Divinil Benzena Sebagai Bahan Perekat Papan Partikel Kayu Kelapa Sawit</description>
      <pubDate>Thu, 01 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31285</guid>
      <dc:date>2012-03-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nasution, Darwin Yunus</dc:creator>
      <dc:description>Fungsionalisasi Polipropilena Terdegradasi Menggunakan Benzoil Peroksida, Anhidrida Maleat Dan Divinil Benzena Sebagai Bahan Perekat Papan Partikel Kayu Kelapa Sawit</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perbandingan Kandungan Lemak Trans Pada Pembuatan Coating Fat Dari Minyak Inti Sawit Melalui Reaksi Hidrogenasi Parsial, Interesterifikasi Dan Metode Blending</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31280</link>
      <description>Authors: Tjeng, Melissa
Advisors: Marpaung, Harlem; Kaban, Jamaran; Wirjosentono, Basuki
Abstract: In an effort to protect consumer health , it is needed minimal trans fat. The&#xD;
development of the coating fat with partial hydrogenation , interesterification and&#xD;
blending methods. Minimal trans fatty acid was obtained through a simple&#xD;
reaction process of partial hydrogenation with nickel catalyst which the advantage&#xD;
of cheap, simple and availability. Blending methods produce zero trans fat , is&#xD;
safe for consumption where as with the interesterification reaction the fatty acid&#xD;
composition is not change before and after reaction.&#xD;
Partial hydrogenation is one of the most important part of the modification&#xD;
process for increase physical and chemical properties of oils and fats. Industries&#xD;
are now relying more on hydrogenation process to produce low trans fats, and this&#xD;
fat was used to many product such as coating fat , cocoa butter substitute etc.&#xD;
However the partial process of hydrogenation with low temperature and high&#xD;
pressure was applied to minimize trans fatty acid. The Solid Fat Content (SFC) ,&#xD;
melting point (MP) ,Fatty Acid Composition (FAC), Iodine Value (IV) and trans&#xD;
fatty acid (TFA) were determined of fat obtained by the hydrogenation process.&#xD;
Partial hydrogenation process reduced low solid fat content and result a good&#xD;
product with melting point ( 32-35 oC). It was solid in room temperature and melts&#xD;
at body temperature by minimizing trans fatty acid and safe to be consumed.&#xD;
Blending process was used to reduce trans fatty acid by replacing hydrogenation&#xD;
process. Blending RBDHPKO (Refined Bleached Deodorized Hydrogenated Palm&#xD;
Kernel Oil) with RBDPKO (Refined Bleached Deodorized Palm kernel Oil) with&#xD;
the ratio 10:90 yield good coating fat.
Abstract (other language): Dalam upaya untuk melindungi kesehatan konsumen, dibutuhkan kadar &#xD;
lemak trans yang sangat rendah. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan&#xD;
coating fat dengan metode hidrogenasi parsial , interesterifikasi dan metode&#xD;
blending untuk memperoleh kadar lemak trans yang rendah. Metode hidrogenasi&#xD;
parsial dengan katalis nikel yang lebih murah dan ketersediaan (availability)&#xD;
menghasilkan minimal asam lemak trans sedangkan metode blending&#xD;
menghasilkan zero trans fat yang aman untuk dikonsumsi. Melalui metode reaksi&#xD;
interesterifikasi komposisi asam lemak trans tidak berubah sebelum dan sesudah&#xD;
reaksi.&#xD;
Hidrogenasi parsial adalah salah satu cara proses modifikasi untuk&#xD;
meningkatkan sifat fisika dan kimia minyak dan lemak. Hidrogenasi banyak&#xD;
digunakan oleh industri untuk menghasilkan lemak pengganti kakao dan pada saat&#xD;
ini sudah diaplikasi keberbagai produk seperti coating fat , lemak pengganti coklat&#xD;
dan sebagainya. Proses hidrogenasi parsial dengan suhu rendah dan tekanan tinggi&#xD;
akan menghasilkan minimal asam lemak trans. Kandungan lemak padat (SFC) ,&#xD;
titik leleh (MP) , komposisi asam lemak (FAC), angka yodium (IV) dan asam&#xD;
lemak trans (TFA) ditentukan dari hasil reaksi. Proses hidrogenasi parsial&#xD;
menurunkan kandungan lemak padat yang rendah dan titik leleh (32-35 oC).&#xD;
Lemak hasil reaksi akan berbentuk padat pada suhu ruang dan mencair pada suhu&#xD;
tubuh dengan minimal asam lemak trans yang aman untuk dikonsumsi. Proses&#xD;
blending banyak digunakan oleh industri untuk menggantikan proses hidrogenasi&#xD;
dalam menurunkan asam lemak trans. Blending antara RBDHPKO (Refined&#xD;
Bleached Deodorized Hydrogenated Palm Kernel Oil) dengan RBDPKO (Refined&#xD;
Bleached Deodorized Palm Kernel Oil), ratio perbandingan (10:90), adalah&#xD;
perbandingan yang baik untuk coating fat dengan zero trans fat yang aman untuk&#xD;
dikonsumsi.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31280</guid>
      <dc:date>2012-03-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tjeng, Melissa</dc:creator>
      <dc:description>Dalam upaya untuk melindungi kesehatan konsumen, dibutuhkan kadar &#xD;
lemak trans yang sangat rendah. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan&#xD;
coating fat dengan metode hidrogenasi parsial , interesterifikasi dan metode&#xD;
blending untuk memperoleh kadar lemak trans yang rendah. Metode hidrogenasi&#xD;
parsial dengan katalis nikel yang lebih murah dan ketersediaan (availability)&#xD;
menghasilkan minimal asam lemak trans sedangkan metode blending&#xD;
menghasilkan zero trans fat yang aman untuk dikonsumsi. Melalui metode reaksi&#xD;
interesterifikasi komposisi asam lemak trans tidak berubah sebelum dan sesudah&#xD;
reaksi.&#xD;
Hidrogenasi parsial adalah salah satu cara proses modifikasi untuk&#xD;
meningkatkan sifat fisika dan kimia minyak dan lemak. Hidrogenasi banyak&#xD;
digunakan oleh industri untuk menghasilkan lemak pengganti kakao dan pada saat&#xD;
ini sudah diaplikasi keberbagai produk seperti coating fat , lemak pengganti coklat&#xD;
dan sebagainya. Proses hidrogenasi parsial dengan suhu rendah dan tekanan tinggi&#xD;
akan menghasilkan minimal asam lemak trans. Kandungan lemak padat (SFC) ,&#xD;
titik leleh (MP) , komposisi asam lemak (FAC), angka yodium (IV) dan asam&#xD;
lemak trans (TFA) ditentukan dari hasil reaksi. Proses hidrogenasi parsial&#xD;
menurunkan kandungan lemak padat yang rendah dan titik leleh (32-35 oC).&#xD;
Lemak hasil reaksi akan berbentuk padat pada suhu ruang dan mencair pada suhu&#xD;
tubuh dengan minimal asam lemak trans yang aman untuk dikonsumsi. Proses&#xD;
blending banyak digunakan oleh industri untuk menggantikan proses hidrogenasi&#xD;
dalam menurunkan asam lemak trans. Blending antara RBDHPKO (Refined&#xD;
Bleached Deodorized Hydrogenated Palm Kernel Oil) dengan RBDPKO (Refined&#xD;
Bleached Deodorized Palm Kernel Oil), ratio perbandingan (10:90), adalah&#xD;
perbandingan yang baik untuk coating fat dengan zero trans fat yang aman untuk&#xD;
dikonsumsi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Studi Pemanfaatan Bahan Pengemulsi Berbasis Minyak Kelapa Untuk Produk Film Lateks &#xD;
Pekat Karet Alam Dengan Agen Vulkanisasi Sulfur Dan Dikumil Peroksida</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31279</link>
      <description>Authors: Muis, Yugia
Advisors: Wirjosentono, Basuki; Marpongahtun; Bhuana, Krishna Surya
Abstract: Emulsifying ingredient commonly used for latex on rubber plantations is ammonium laurate (AL). Unfortunately, this agent had to be imported from abroad with the high price. The usage of AAL combined with ALS as an emulsifier for natural rubber latex has already been done. Both of the chemicals were added to the concentrated latex with the various concentration of 0 v/v.%; 0,03 v/v.%; 0,05 v/v.%; 0.07  v/v.% and  0.09 v/v.% with the storage time of 0; 5;10; 15; 20 and 25 days. In this work, AL is used as standard. The use of this emulsifier on the concentrated latex material provided optimum value of MST at concentration of 0.07 v/v.% with storage time of  10-25 days and the outcome is in compliance with ASTM standards and ISO 2004. Natural rubber latex films used in this work were vulcanised using sulfur by drying it at a temperature of 1000C for 30 minutes. At the same treatment the films were vulcanised   using dicumil peroxide at 1300C. The resulting film are characterised in term of their mechanical properties, morphology (SEM), swelling index, as well as FTIR. The results of mechanical tests showed that the optimum tensile strength was obtained at the addition of emulsifiers AL at 0.07 0 v/w.% of 1.09 MPa and the elongation at break of 783%. Swelling index test decreased on the addition of emulsifiers AL and AAL until a minimum value of 1.80 mm and 1.79 mm. Morphological characteristics showed that without the addition of emulsifiers formed aggregate increases. This result is different when compared with the addition of emulsifiers. FTIR spectra did not show any chemical interaction between the molecules of rubber and  emulsifying agent and there is no significant change in structure.
Abstract (other language): Bahan pengemulsi lateks yang biasa digunakan pada perkebunan karet adalah amonium laurat (AL). Amonium laurat ini diimpor dari mancanegara dengan harga yang tinggi. Pada penelitian ini telah dilakukan penggunaan amida asam lemak campuran berbasis minyak kelapa (AAL) dan amonium lauril sulfat (ALS) sebagai bahan pengemulsi alternatif pada lateks karet alam. AAL dan ALS tersebut ditambahkan pada lateks pekat dengan konsentrasi 0 v/v.%; 0,03 v/v.%; 0,05 v/v.%; 0.07 v/v.% dan  0.09  v/v.% dengan waktu penyimpanan 0; 5;10; 15; 20 dan 25 hari. Standar yang digunakan adalah amonimum laurat (AL). Penggunaan bahan pengemulsi pada lateks pekat adalah memberikan nilai optimum  MST pada konsentrasi 0,07 v/v.% dengan waktu penyimpanan 10-25 hari dan hasil ini  memenuhi standar ASTM D.1076 dan ISO 2004. Film lateks karet alam yang digunakan  divulkanisasi dengan sulfur dengan cara mengeringkannya pada suhu 100oC selama 30 menit. Pada suhu 130oC film lateks karet alam  divulkanisasi dengan menggunakan dikumil peroksida selama 30 menit. Hasil yang diperoleh diamati dengan pengujian sifat-sifat mekanis, morfologi (SEM), uji swelling indeks and FTIR. Hasil uji mekanik menunjukkan bahwa kekuatan tarik optimum diperoleh pada penambahan bahan pengemulsi AL 0,07 v/v.% sebesar 1,09 MPa dan perpanjangan putus 783%. Uji swelling indeks menurun pada penambahan bahan pengemulsi AAL dan AL sampai nilai minimum sebesar 1,80 mm and 1,79 mm. Karakter morfologi memperlihatkan bahwa tanpa penambahan bahan pengemulsi agregat yang terbentuk meningkat dibandingkan dengan penambahan bahan pengemulsi. Kemudian analisis spectrum FTIR tidak menujukkan adanya interaksi kimia antara molekul karet dengan bahan pengemulsi sehingga tidak ditemukan perubahan struktur  secara signifikan.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31279</guid>
      <dc:date>2012-03-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Muis, Yugia</dc:creator>
      <dc:description>Bahan pengemulsi lateks yang biasa digunakan pada perkebunan karet adalah amonium laurat (AL). Amonium laurat ini diimpor dari mancanegara dengan harga yang tinggi. Pada penelitian ini telah dilakukan penggunaan amida asam lemak campuran berbasis minyak kelapa (AAL) dan amonium lauril sulfat (ALS) sebagai bahan pengemulsi alternatif pada lateks karet alam. AAL dan ALS tersebut ditambahkan pada lateks pekat dengan konsentrasi 0 v/v.%; 0,03 v/v.%; 0,05 v/v.%; 0.07 v/v.% dan  0.09  v/v.% dengan waktu penyimpanan 0; 5;10; 15; 20 dan 25 hari. Standar yang digunakan adalah amonimum laurat (AL). Penggunaan bahan pengemulsi pada lateks pekat adalah memberikan nilai optimum  MST pada konsentrasi 0,07 v/v.% dengan waktu penyimpanan 10-25 hari dan hasil ini  memenuhi standar ASTM D.1076 dan ISO 2004. Film lateks karet alam yang digunakan  divulkanisasi dengan sulfur dengan cara mengeringkannya pada suhu 100oC selama 30 menit. Pada suhu 130oC film lateks karet alam  divulkanisasi dengan menggunakan dikumil peroksida selama 30 menit. Hasil yang diperoleh diamati dengan pengujian sifat-sifat mekanis, morfologi (SEM), uji swelling indeks and FTIR. Hasil uji mekanik menunjukkan bahwa kekuatan tarik optimum diperoleh pada penambahan bahan pengemulsi AL 0,07 v/v.% sebesar 1,09 MPa dan perpanjangan putus 783%. Uji swelling indeks menurun pada penambahan bahan pengemulsi AAL dan AL sampai nilai minimum sebesar 1,80 mm and 1,79 mm. Karakter morfologi memperlihatkan bahwa tanpa penambahan bahan pengemulsi agregat yang terbentuk meningkat dibandingkan dengan penambahan bahan pengemulsi. Kemudian analisis spectrum FTIR tidak menujukkan adanya interaksi kimia antara molekul karet dengan bahan pengemulsi sehingga tidak ditemukan perubahan struktur  secara signifikan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Pembangunan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Sektor Wilayah Kota Medan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29729</link>
      <description>Authors: Tarmizi, Hasan Basri
Advisors: Matondang, A. Rahim; Ramli; Afifuddin, Syaad
Abstract: Economic Development Analysis On The Development of Inter-Sector Regional Inequality Medan by Hasan Basri Tarmizi. Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, MSIE, the Promoter, Prof.Dr.Ramli and Prof. MS. Dr.Syaad Afifuddin, MEC are the Co Promoters. &#xD;
	The economic development result, undertaken by the Government will more meaningful if it followed by equal distribution result. In fact the result of the development does not always balanced and evenly distributed, and this course income inequality among society. &#xD;
	This study purpose at (a) analyzing the agricultural, industrial, trade and financial sector’s growth effect on employment activities (2) analyze agricultural, industrial, trade and financial sectors growth and the number of employment opportunities effect on economic growth, (3) analyze the growth of the agricultural, industrial, trade, financial sector, the employment opportunity, and the economic growth, sectors effect on the development imbalance, (4) to analyze the level of direct and indirect effect of the total growth of agricultural sector, industrial sector, trade and financial sector, the number of employment opportunities and economic growth of regional combination of economic sector that representing the best structural equation model of economic growth for Medan City, and (6) to analyze the progress of people’s income level between the agricultural, trade and financial sectors.&#xD;
	Sampling method was conducted by using purposive sampling. Total sample taken of 200 peoples which is evenly distributed to agricultural, trade and financial sector’s consist of 50 people’s each. Data analysis using path analysis with structural equation and the Gini Coefficient.&#xD;
	The results showed: a) The growth of industrial sector, the growth of trade and financial sectors significantly influence the number of employment opportunities, where the value t count&gt; t-table, the industrial sector (12.625&gt; 1.980), trade (2.009&gt; 1.980), financial sector (2.906 &lt;-1.980) for α = 5%; b) Growth in the industrial sector, financial sector and the number of employment opportunities significantly influence economic growth in the city of Medan, where the value t count&gt; t-table, the industrial sector (7.784&gt; 1.980), trade (-2.741 &lt;-1.980), the financial sector (5.958&gt; 1.980) and total employment (4.840&gt; 1.980) for α = 5%; c) Growth in the agricultural sector, financial sector, the number of employment opportunities, economic growth significantly influence income distribution index, where the value t count&gt; t-table, the agricultural sector (2.810&gt; 1.980), the financial sector (12.545&gt; 1.980), total employment (2.017&gt; 1.980) and economic growth (-3.930 &lt;- 1.980) for α = 5%; d) Directly affecting the income distribution index is the financial sector growth (positive) with a coefficient of 1.318 is indirectly the financial sector through a number of employment opportunities and economic growth has positive influence on the index of income distribution with a coefficient of 0.054 , in total financial sector, the number of employment opportunities and economic growth negatively affect income distribution index coefficient = -0.870, e) Combination of the best economic sector is the financial sector, the number of employment opportunities  economic growth  income distribution index, and f) Gini Coefficient people working in Medan for the agricultural sector = 0.14; industrial sector = 0.25, the trade = 0.28; = 0.20 while the financial sector to all sectors = 0.29.
Abstract (other language): Analisis Pembangunan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Sektor Wilayah Kota Medan oleh Hasan Basri Tarmizi. Promotor Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, MSIE, Co-Promotor : Prof.Dr.Ramli, MS dan Prof. Dr.Syaad Afifuddin, MEc.&#xD;
	Hasil pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah akan lebih berarti apabila diikuti oleh pemerataan atas hasil pembangunan tersebut. Namun kenyataannya hasil pembangunan selalu tidak berlangsung secara seimbang dan merata, akibatnya terjadi ketidakmerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat.&#xD;
		Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan berpengaruh terhadap jumlah kesempatan kerja ; (2) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan serta jumlah kesempatan kerja berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ; (3) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, sektor pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap ketimpangan pembangunan ; (4) menganalisis tingkat pengaruh langsung, tidak langsung, pengaruh total pertumbuhan sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan pembangunan wilayah Kota Medan; (5) menganalisis kombinasi sektor ekonomi yang mana yang dapat menggambarkan model persamaan struktural pertumbuhan ekonomi yang terbaik wilayah Kota Medan; dan (6) menganalisis tingkat kemajuan pendapatan masyarakat antar sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor perdagangan dan sektor keuangan.&#xD;
	Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purpossive sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 200 orang dibagi atas 50 orang untuk sektor pertanian, 50 orang untuk sektor perindustrian, 50 orang  untuk sektor perdagangan dan 50 orang untuk sektor keuangan. Analisis data menggunakan analisis jalur dengan persamaan struktural dan koefisien gini.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan : a) Pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan sektor keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kesempatan kerja, dimana nilai t-hitung &gt; t-tabel, sektor industri (12,625&gt;1,980), sektor perdagangan (2,009&gt;1,980), sektor keuangan (2,906&lt;-1,980) untuk α=5% ; b) Pertumbuhan sektor perindustrian, sektor keuangan dan jumlah kesempatan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Medan, dimana nilai t-hitung&gt;t-tabel, sektor perindustrian (7,784&gt;1,980), sektor perdagangan (-2,741&lt;-1,980), sektor keuangan (5,958&gt;1,980) dan jumlah kesempatan kerja (4,840&gt;1,980) untuk α=5% ; c) Pertumbuhan sektor pertanian, sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap indeks distribusi pendapatan, dimana nilai t-hitung &gt; t-tabel, sektor pertanian (2,810&gt;1,980), sektor keuangan (12,545&gt;1,980), jumlah kesempatan kerja (2,017&gt;1,980) dan pertumbuhan ekonomi (-3,930&lt;-1,980) untuk α=5% ; d) Secara langsung yang berpengaruh terhadap indeks distribusi pendapatan adalah pertumbuhan sektor keuangan (positif) dengan koefisien 1,318 secara tidak langsung adalah sektor keuangan melalui jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap indeks distribusi pendapatan dengan koefisien 0,054, secara total sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap indeks distribusi pendapatan dengan koefisien = -0,870, e) Kombinasi sektor ekonomi yang terbaik adalah sektor keuangan  jumlah kesempatan kerja  pertumbuhan ekonomi  indeks distribusi pendapatan, dan f) Koefisien Gini masyarakat Medan untuk yang bekerja di sektor pertanian = 0,14 ; sektor industri = 0,25 ; sektor perdagangan = 0,28 ; sektor keuangan = 0,20 sedangkan untuk semua sektor = 0,29.</description>
      <pubDate>Mon, 24 Oct 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29729</guid>
      <dc:date>2011-10-24T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tarmizi, Hasan Basri</dc:creator>
      <dc:description>Analisis Pembangunan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pembangunan Antar Sektor Wilayah Kota Medan oleh Hasan Basri Tarmizi. Promotor Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang, MSIE, Co-Promotor : Prof.Dr.Ramli, MS dan Prof. Dr.Syaad Afifuddin, MEc.&#xD;
	Hasil pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah akan lebih berarti apabila diikuti oleh pemerataan atas hasil pembangunan tersebut. Namun kenyataannya hasil pembangunan selalu tidak berlangsung secara seimbang dan merata, akibatnya terjadi ketidakmerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat.&#xD;
		Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan berpengaruh terhadap jumlah kesempatan kerja ; (2) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan serta jumlah kesempatan kerja berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ; (3) menganalisis pertumbuhan sektor pertanian, pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan pertumbuhan sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, sektor pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap ketimpangan pembangunan ; (4) menganalisis tingkat pengaruh langsung, tidak langsung, pengaruh total pertumbuhan sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi terhadap ketimpangan pembangunan wilayah Kota Medan; (5) menganalisis kombinasi sektor ekonomi yang mana yang dapat menggambarkan model persamaan struktural pertumbuhan ekonomi yang terbaik wilayah Kota Medan; dan (6) menganalisis tingkat kemajuan pendapatan masyarakat antar sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor perdagangan dan sektor keuangan.&#xD;
	Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purpossive sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 200 orang dibagi atas 50 orang untuk sektor pertanian, 50 orang untuk sektor perindustrian, 50 orang  untuk sektor perdagangan dan 50 orang untuk sektor keuangan. Analisis data menggunakan analisis jalur dengan persamaan struktural dan koefisien gini.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan : a) Pertumbuhan sektor industri, pertumbuhan sektor perdagangan dan sektor keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kesempatan kerja, dimana nilai t-hitung &gt; t-tabel, sektor industri (12,625&gt;1,980), sektor perdagangan (2,009&gt;1,980), sektor keuangan (2,906&lt;-1,980) untuk α=5% ; b) Pertumbuhan sektor perindustrian, sektor keuangan dan jumlah kesempatan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Medan, dimana nilai t-hitung&gt;t-tabel, sektor perindustrian (7,784&gt;1,980), sektor perdagangan (-2,741&lt;-1,980), sektor keuangan (5,958&gt;1,980) dan jumlah kesempatan kerja (4,840&gt;1,980) untuk α=5% ; c) Pertumbuhan sektor pertanian, sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap indeks distribusi pendapatan, dimana nilai t-hitung &gt; t-tabel, sektor pertanian (2,810&gt;1,980), sektor keuangan (12,545&gt;1,980), jumlah kesempatan kerja (2,017&gt;1,980) dan pertumbuhan ekonomi (-3,930&lt;-1,980) untuk α=5% ; d) Secara langsung yang berpengaruh terhadap indeks distribusi pendapatan adalah pertumbuhan sektor keuangan (positif) dengan koefisien 1,318 secara tidak langsung adalah sektor keuangan melalui jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap indeks distribusi pendapatan dengan koefisien 0,054, secara total sektor keuangan, jumlah kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap indeks distribusi pendapatan dengan koefisien = -0,870, e) Kombinasi sektor ekonomi yang terbaik adalah sektor keuangan  jumlah kesempatan kerja  pertumbuhan ekonomi  indeks distribusi pendapatan, dan f) Koefisien Gini masyarakat Medan untuk yang bekerja di sektor pertanian = 0,14 ; sektor industri = 0,25 ; sektor perdagangan = 0,28 ; sektor keuangan = 0,20 sedangkan untuk semua sektor = 0,29.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pergeseran Makna Tekstual Dalam Terjemahan Teks Populer “See You At The Top”  (Bahasa Inggris Dan Bahasa Indonesia)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29113</link>
      <description>Authors: Risnawaty
Advisors: Saragih, Amrin; Sinar, T. Silvana; Tou, Asrudin B
Abstract: This dissertation deals with the analysis of the textual meaning displacement in a popular textbook entitled “See You at the Top” and its translation version in bahasa Indonesia. The theories used in analysisng the textual meaning are, firstly in identifying the theme-rheme and cohesion it is used Halliday (1994; 2004), Halliday and Hasan (1980); secondly, in the translation itself, especially those that are related to translation displacement, it is used Catford (1996); Nida and Taber (1969); Larson (1984); and Zellermeyer (1987). The research methodology used is descriptive qualitative by adopting Miles and Huberman (1994) especially in the process of data analysis. Some aspects are discussed and analysed, such as the displacement in (1) grammatical cohesions and their comparison, (2) lexical cohesions especially displacement in (i) synonimy; (ii) collocation; (iii) meronymy; (iv) hyponymy; (3) transposition; (4) conjunction; (5) theme and rheme. Besides, the impact of the displacement are also discussed, such as the equivalence, meaning wideness, narrowing meaning, and the assessment of the translation. The results of the research are as the following. There are 10 textual meaning displacement, especially in (1) single meaning in source language (SL) to be a single form in target language (TL); (2) Replacement on adjectives repetition in SL and TL; (3) Replacement of ellipsis; (4) Replacement of substitution; (5) Replacement of reference and addition; (6) Replacement of cohesion that consists of (i) synonym; (ii) antonym; (iii) collocations; (iv) meronymy; and (v) hyponym; (7) transposition displacement; (8) Stuctural displacement; (9) Conjunction displacement, and the last one is (10) Theme and rheme displacement.There are three factors caused the displacement namely, (1) lexical difference factors; (2) semantic factors, (3) lingustic factors. The grammatical lexicon difference displacement from ellipsis is about 367 and from addition is about 712; and substitution is 65. For the concluding remarks can be said that the additional elements to be dominant on the textual meaning displacement.
Abstract (other language): Disertasi ini membahas tentang analisis pergeseran makna tekstual yang terdapat dalam sebuah buku teks dengan judul “See you at the Top” dan versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Teori yang digunakan untuk menganalisis makna tekstual terjemahan buku tersebut, yang pertama digunakan teori Halliday (1994; 2004) dan Halliday dan Hassan (1980) khususnya yang hubungkait dengan pengidentifikasian tema-rema dan kohesi; yang kedua digunakan teori Catford (1996); Nida dan Taber (1969); Larson (1984); dan Zellermeyer (1987), untuk analisis pergeseran dalam penerjemahan. Metode riset yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan mengadopsi usulan Miles dan Huberman (1994) khususnya dalam tahapan dalam penganalisisan data. Aspek-aspek yang dianalisis adalah pergeseran dalam bidang (1) kohesi gramatikan dan bandingannya; (2) kohesi leksikal terutama yang berkaitan dengan (i) sinonimi; (ii) kolokasi; (iii) meronimi; (iv) hyponim; (3) Transposisi, (4) konjungsi’ (5) tema-rema. Di samping itu, dampak dari pergeseran dalam penerjemahan, khususnya ekivalensi, perluasan medan makna, penyempitan makna, dan penilaian hasil penerjemahan. Terdapat 10 pergeseran makna tekstual, terutama sekali dalam (1) makna tunggal dalam BS menjadi makna tunggal juga dalam BT, (2) penggantian pengulangan adjektiva dalam BS dan BT, (3) penggantial elipsis, (4) penggantian substitusi, (5) penggantian referen dan penambahan (addition); (6) penggantian dalam aspek kohesi meliputi (i) sinonimi; (ii) antonimi; (iii) kolokasi; (iv) meronimi, (v) hiponimi, (vi) pergeseran transposisi; (8) pergeseran struktural; (9) pergeseran konjungsi; dan (10) pergeseran dalam tema-rema. Ada 3 faktor yang menyebabkan pergesaran, yaitu (1) faktor leksikal, (2) faktor semantik, (3) faktor linguistik. Pergeseran dalam perbedaan leksikon gramatikal dari elipsis sekitar 367 dan dari penambahan (addition) sekitar 712; dan substitusi sekitar 65. Sebagi simpulan bahwa unsur-unsur penambahan lebih mendominasi pergeseran makna tekstual.</description>
      <pubDate>Sat, 24 Sep 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29113</guid>
      <dc:date>2011-09-24T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Risnawaty</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini membahas tentang analisis pergeseran makna tekstual yang terdapat dalam sebuah buku teks dengan judul “See you at the Top” dan versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Teori yang digunakan untuk menganalisis makna tekstual terjemahan buku tersebut, yang pertama digunakan teori Halliday (1994; 2004) dan Halliday dan Hassan (1980) khususnya yang hubungkait dengan pengidentifikasian tema-rema dan kohesi; yang kedua digunakan teori Catford (1996); Nida dan Taber (1969); Larson (1984); dan Zellermeyer (1987), untuk analisis pergeseran dalam penerjemahan. Metode riset yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan mengadopsi usulan Miles dan Huberman (1994) khususnya dalam tahapan dalam penganalisisan data. Aspek-aspek yang dianalisis adalah pergeseran dalam bidang (1) kohesi gramatikan dan bandingannya; (2) kohesi leksikal terutama yang berkaitan dengan (i) sinonimi; (ii) kolokasi; (iii) meronimi; (iv) hyponim; (3) Transposisi, (4) konjungsi’ (5) tema-rema. Di samping itu, dampak dari pergeseran dalam penerjemahan, khususnya ekivalensi, perluasan medan makna, penyempitan makna, dan penilaian hasil penerjemahan. Terdapat 10 pergeseran makna tekstual, terutama sekali dalam (1) makna tunggal dalam BS menjadi makna tunggal juga dalam BT, (2) penggantian pengulangan adjektiva dalam BS dan BT, (3) penggantial elipsis, (4) penggantian substitusi, (5) penggantian referen dan penambahan (addition); (6) penggantian dalam aspek kohesi meliputi (i) sinonimi; (ii) antonimi; (iii) kolokasi; (iv) meronimi, (v) hiponimi, (vi) pergeseran transposisi; (8) pergeseran struktural; (9) pergeseran konjungsi; dan (10) pergeseran dalam tema-rema. Ada 3 faktor yang menyebabkan pergesaran, yaitu (1) faktor leksikal, (2) faktor semantik, (3) faktor linguistik. Pergeseran dalam perbedaan leksikon gramatikal dari elipsis sekitar 367 dan dari penambahan (addition) sekitar 712; dan substitusi sekitar 65. Sebagi simpulan bahwa unsur-unsur penambahan lebih mendominasi pergeseran makna tekstual.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Ujaran Interpersonal dalam Wacana Kelas&#xD;
(Analisis Linguistik Sistemik Fungsional)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28991</link>
      <description>Authors: Andriany, Liesna
Advisors: Sinar, T. Silvana; Saragih, Amrin; Ansari, Khairil
Abstract: This research studies the interpersonal utterances in classroom discourse. This research aims to describ the form of modus system, mood structure, modality and interpretation of social context in classroom  discourse. The analysis is conducted by studying the text according to the lexicogramatical units that realize the interpersonal utterances by using the discourse analysis approach in theory of Systemic Functional Linguistic.&#xD;
	This research is a qualitative research that supported by quantitative data. The results of quantitative analysis is described in the form of simplest statistic form such as table and percentage of using the studied problem elements and use the diagram to see the comparison level visually. The data are collected from 6 teachers and 232 students from 3 schools in Medan .&#xD;
	The results of this research that the interpersonal meaning of classroom discourse text is studied and realized by lexicogramatical units, i.e. Subject, predicate, complement and adjunct. The results of research indicates that the representation of interpersonal meaning lexicogramatical in the studied text by clause system focus indicates that the using of modus (modus of IND-DEK, IND-INT, IMP and PEN) on each text that realized either by teachers or the students.  Modus of IND-DEK is used as a consequence of the function of teacher as the giver of information/knowledge so the information that related to any knowledge aspect especially Bahasa can be accepted by the student. The consequences of the using of IND-INT modus, increasing the participation of students in learning and teaching activity, establishing students’ interest and desire to the discussed topic, developing a pattern and method of learning and teaching activity, because thinking itself actually is asking and focusing the concentration of the students to the discussed issue. The IMP modus is used to establish the motivation and encourage the students to do anything that cause their readiness to begin the action or deed in achieving the certain goal. PEN modus which is used is persuasive. The using of ellipsis caused by the desire to make the pronunciation efficient and also for the teachers who control the interaction. In fact, the teachers more make the pronunciation function is the reflection of the ideology that teacher is the managerial power holder in the class, as well as the knowledge authority holder.&#xD;
	Related to the mood structure found that mood structure variation can be classified become eight groups; (a) subject finite, (b) subject ^[...]^ Finite, (c) subject^Adjunct Mood^Finite, (d) Finite, Subject^Finite^[...]^Adjunct Mood, (e) Adjunct Mood^Finite, (f) Adjunct Mood^Subject^Finite^[...]Adjunct Mood, (h)Finite^[...]^Subject.&#xD;
	The most dominant mood structure is Subject^Finite caused by the decision making by the  speaker related to the topic of issue which is presented usually done without a doubt. As well as the using of polarity which almost all are positive because the teacher and student have a positive behavior to the presented issue.&#xD;
	Related to the modality issue found that the probability modality with the high and medium degree is more used by the teachers than another  type and modality values. This is such behavior caused by teachers’ trust on the certainty or rightness to the happening information revealed. On the other hand, the students more use probability modality with the middle to the lower indicates that certainty level and rightness which happen in certainty and rightness on middle level to lower. The using of modality that dominated by an obligatory with the middle degree and higher more used by the teachers with imperative tone and instructive because the teachers pose themselves as the higher party than the students. From the all modality, the most dominant is obligatory modality with the middle and high degree.&#xD;
	In the social context found that in the issue of the status shows the inequality status among the parties (teacher-student). In a contact, shows the participation level (intensity) among each parties very intent or the frequency is high because its routine and in the legal and formal situation. From the affect side that has a role to show the speaker’s emotive behavior to the speaking partner shows positive affect.
Abstract (other language): Penelitian ini mengkaji ujaran interpersonal dalam wacana kelas dengan  tujuan menjelaskan terjadinya sistem modus, struktur mood, modalitas, dan interpretasi konteks sosial dalam wacana kelas. Analisis dilakukan dengan mengkaji teks menurut satuan leksikogramatika yang merealisasikan ujaran interpersonal dengan menggunakan pendekatan analisis wacana di bawah payung teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). &#xD;
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dibantu dengan data kuantitatif. Hasil analisis kuantitatif diuraikan dalam bentuk statistik sederhana berupa tabel dan persentase penggunaan unsur-unsur masalah yang diteliti, juga digunakan diagram untuk melihat tingkat perbandingan secara visual. Sumber data diperoleh dari  6 orang guru dan 232 siswa dari 3 sekolah di kota Medan. &#xD;
Temuan penelitian menunjukkan bahwa satuan leksikogramatika unsurnya dibangun dari subjek, predikator, komplemen, dan keterangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi  leksikogramatika ujaran interpersonal dalam teks-teks yang diteliti menunjukkan bahwa seluruh modus (modus IND-DEK, IND-INT, IMP, dan PEN) ditemukan pada setiap teks baik direalisasikan guru maupun siswa. Modus DEK merupakan modus yang paling dominan digunakan. Penggunaan modus IND-DEK didorong oleh fungsi guru sebagai pemberi informasi/ilmu berkeinginan agar informasi tentang ilmu pengetahuan dapat sampai kepada siswa. Peringkat kedua yang dominan digunakan adalah modus IND-INT. Penggunaan modus IND-INT memotivasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu yang sedang dibicarakan, mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa, dan memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Urutan ketiga yang dominan digunakan adalah modus IMP. Modus IMP memotivasi siswa untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan kesiapannya memulai serangkaian aksi atau perbuatan dalam mencapai tujuan tertentu. Modus keempat yang dominan digunakan adalah modus PEN. Penggunaan modus PEN bersifat persuasif. Pada kenyataannya guru lebih banyak membuat fungsi ujar (IND-DEK, IND-INT, IMP, dan PEN) merupakan cerminan ideologi bahwa guru adalah pemegang kekuasaan manajerial di kelas, juga pemegang otoritas keilmuan.&#xD;
Variasi struktur Mood dapat diklasifikasikan menjadi delapan kelompok, yaitu (a) Subjek^Finit, (b) Subjek^[...]^Finit, (c) Subjek^Keterangan Mood^Finit, (d) Subjek^Finit^[...]^Keterangan Mood, (e) Keterangan Mood^Finit,  (f) Keterangan Mood^Subjek^Finit, (g) Finit^[...]^Keterangan Mood, (h) Finit^[...]^subjek. Struktur Mood yang paling dominan adalah Subjek^Finit. Penggunaan Subjek^Finit didorong oleh pengambilan keputusan terkait dengan pokok persoalan yang disajikan cenderung dilakukan tanpa ragu-ragu. Begitu juga penggunaan polaritas yang sebagian besar positif disebabkan oleh guru dan siswa mempunyai sikap positif terhadap pokok persoalan yang disajikan. &#xD;
Modalitas yang ditemukan adalah  modalisasi kemungkinan dengan derajat menengah dan tinggi mendominasi jenis dan nilai modalisasi lain. Sikap seperti ini didorong oleh keyakinan guru atas kepastian atau kebenaran terjadinya informasi yang diungkapkan. Sementara itu, siswa lebih banyak menggunakan modalisasi-kemungkinan dengan derajat menengah ke bawah. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kepastian dan kebenaran yang terjadi berada pada tingkat menengah ke bawah. Penggunaan modulasi yang didominasi oleh keharusan dengan derajat menengah dan tinggi banyak digunakan oleh guru yang bernada imperatif dan instruktif. Modalitas ini didorong oleh posisi guru sebagai pihak yang lebih tinggi daripada siswa. &#xD;
Pada wilayah konteks sosial ditemukan bahwa dalam hal  status menunjukkan ketidaksetaraan status antar pelibat (guru – siswa). Dalam hal kontak, menunjukkan tingkat keterlibatan (intensitas) antara sesama pelibat sangat inten atau frekuensinya tinggi, bersifat rutin dan dalam suasana resmi dan formal. Dari segi afek yang berperan menunjukkan sikap emotif pembicara kepada mitra bicara menunjukkan afek positif.</description>
      <pubDate>Mon, 19 Sep 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28991</guid>
      <dc:date>2011-09-19T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Andriany, Liesna</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini mengkaji ujaran interpersonal dalam wacana kelas dengan  tujuan menjelaskan terjadinya sistem modus, struktur mood, modalitas, dan interpretasi konteks sosial dalam wacana kelas. Analisis dilakukan dengan mengkaji teks menurut satuan leksikogramatika yang merealisasikan ujaran interpersonal dengan menggunakan pendekatan analisis wacana di bawah payung teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). &#xD;
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dibantu dengan data kuantitatif. Hasil analisis kuantitatif diuraikan dalam bentuk statistik sederhana berupa tabel dan persentase penggunaan unsur-unsur masalah yang diteliti, juga digunakan diagram untuk melihat tingkat perbandingan secara visual. Sumber data diperoleh dari  6 orang guru dan 232 siswa dari 3 sekolah di kota Medan. &#xD;
Temuan penelitian menunjukkan bahwa satuan leksikogramatika unsurnya dibangun dari subjek, predikator, komplemen, dan keterangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi  leksikogramatika ujaran interpersonal dalam teks-teks yang diteliti menunjukkan bahwa seluruh modus (modus IND-DEK, IND-INT, IMP, dan PEN) ditemukan pada setiap teks baik direalisasikan guru maupun siswa. Modus DEK merupakan modus yang paling dominan digunakan. Penggunaan modus IND-DEK didorong oleh fungsi guru sebagai pemberi informasi/ilmu berkeinginan agar informasi tentang ilmu pengetahuan dapat sampai kepada siswa. Peringkat kedua yang dominan digunakan adalah modus IND-INT. Penggunaan modus IND-INT memotivasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu yang sedang dibicarakan, mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa, dan memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Urutan ketiga yang dominan digunakan adalah modus IMP. Modus IMP memotivasi siswa untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan kesiapannya memulai serangkaian aksi atau perbuatan dalam mencapai tujuan tertentu. Modus keempat yang dominan digunakan adalah modus PEN. Penggunaan modus PEN bersifat persuasif. Pada kenyataannya guru lebih banyak membuat fungsi ujar (IND-DEK, IND-INT, IMP, dan PEN) merupakan cerminan ideologi bahwa guru adalah pemegang kekuasaan manajerial di kelas, juga pemegang otoritas keilmuan.&#xD;
Variasi struktur Mood dapat diklasifikasikan menjadi delapan kelompok, yaitu (a) Subjek^Finit, (b) Subjek^[...]^Finit, (c) Subjek^Keterangan Mood^Finit, (d) Subjek^Finit^[...]^Keterangan Mood, (e) Keterangan Mood^Finit,  (f) Keterangan Mood^Subjek^Finit, (g) Finit^[...]^Keterangan Mood, (h) Finit^[...]^subjek. Struktur Mood yang paling dominan adalah Subjek^Finit. Penggunaan Subjek^Finit didorong oleh pengambilan keputusan terkait dengan pokok persoalan yang disajikan cenderung dilakukan tanpa ragu-ragu. Begitu juga penggunaan polaritas yang sebagian besar positif disebabkan oleh guru dan siswa mempunyai sikap positif terhadap pokok persoalan yang disajikan. &#xD;
Modalitas yang ditemukan adalah  modalisasi kemungkinan dengan derajat menengah dan tinggi mendominasi jenis dan nilai modalisasi lain. Sikap seperti ini didorong oleh keyakinan guru atas kepastian atau kebenaran terjadinya informasi yang diungkapkan. Sementara itu, siswa lebih banyak menggunakan modalisasi-kemungkinan dengan derajat menengah ke bawah. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kepastian dan kebenaran yang terjadi berada pada tingkat menengah ke bawah. Penggunaan modulasi yang didominasi oleh keharusan dengan derajat menengah dan tinggi banyak digunakan oleh guru yang bernada imperatif dan instruktif. Modalitas ini didorong oleh posisi guru sebagai pihak yang lebih tinggi daripada siswa. &#xD;
Pada wilayah konteks sosial ditemukan bahwa dalam hal  status menunjukkan ketidaksetaraan status antar pelibat (guru – siswa). Dalam hal kontak, menunjukkan tingkat keterlibatan (intensitas) antara sesama pelibat sangat inten atau frekuensinya tinggi, bersifat rutin dan dalam suasana resmi dan formal. Dari segi afek yang berperan menunjukkan sikap emotif pembicara kepada mitra bicara menunjukkan afek positif.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pencegahan Keracunan Timbal Kronis Pada Pekerja Dewasa Dengan Suplemen Kalsium Dalam Upaya Pengembangan Kebijakan Di Bidang Kesehatan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28194</link>
      <description>Authors: Hasan, Wirsal
Advisors: Matondang, A. Rahim; Syahrin, Alvi; Wahyuni, Chatarina U.
Abstract: Lead pollution in the air the city of Medan has been a problem because it is exceeded the specified threshold value. It is know that lead may cause health problems in humans, although the levels are lower than the maximum levels allowed in the blood. One of the community groups that have a high risk of chronic lead poisoning from the ambient air are workers who work on the side of the highway. Until now there is no health policies for prevention and treatment of chronic lead poisoning to workers who are at high risk.&#xD;
This study aimed to determine the effects of calcium supplements to decrease blood lead levels (BLL) of adult workers are at high risk for chronic lead poisoning and found a health policy in the prevention of lead poisoning from the ambient air. This research uses quasi-experimental design with a clinical trial design in which subjects were divided into two groups that performed at random, one group as control and one more group was treated by giving calcium supplements with a dose of 500 mg three times daily peroral for three months and after three months measured again their BLL as the final result.&#xD;
The research showed that: (1) BLL of rickshaw drivers, machine rickshaw drivers and street vendors are: initial BLL in the control group was 6.11 ± 3.57μg / dl and after the experiment was 4.16 ± 1.46 μg / dl (p = 0.002). Initial BLL in the treatment group was 10.35 ± 3.36 μg / dl after treatment was 3.2 ± 1.58 μg / dl. (2) Treatment with calcium at a dose of 3 x 500 mg daily peroral to workers who are at high risk for chronic lead poisoning during the three months can reduce BLL significantly (p = 0.000) at CI = 95%. (3) In addition to treatment with calcium, other factors that influence BLL of workers is a place to rest during the day whether in the street or at home (p = 0.025). (4) BLL prediction models on rickshaw drivers and machine rickshaw drivers and street vendors in the form of regression equation: Y = 3446 to 0.727 (resting place) + 0.892 (calcium treatment) (5) Obtained a policy of “treatment with calcium at a dose of 3 x 500 mg peroral daily during the threemonth period” to workers who are at high risk for chronic lead poisoning.&#xD;
Suggested to Medan City Health Department in order to develop health policies, especially to workers who are at high risk for chronic lead poisoning. that is calcium treatment using doses of 3 x 500 mg peroral daily during the 3 months period.
Abstract (other language): Pencemaran timbal di udara kota Medan sudah merupakan masalah karena sudah melewati Nilai Ambang Batas. Timbal dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia walaupun dalam kadar yang lebih rendah dari kadar maksimum dalam darah yang diperbolehkan. Salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi terhadap keracunan timbal kronis dari udara ambien adalah pekerja yang bekerja di pinggir jalan raya. Sampai saat ini belum ada kebijakan bidang kesehatan untuk pencegahan keracunan timbal kronis pada pekerja yang beresiko tinggi ini.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek suplemen kalsium terhadap penurunan kadar timbal dalam darah pekerja dewasa dalam upaya mengembangkan kebijakan bidang kesehatan. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan clinical trial design dimana subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yang dilakukan secara acak, satu kelompok sebagai kontrol dan satu kelompok lagi diberi perlakuan dengan memberikan suplemen kalsium dengan dosis 3 kali 500 mg perhari selama tiga bulan dan setelah tiga bulan diukur kembali kadar timbal darahnya.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kadar timbal dalam darah (KTD) penarik becak dayung, penarik becak mesin dan pedagang pinggir jalan adalah: KTD awal pada kelompok kontrol 6,11±3,57 μg/dl dan KTD akhir 4,16±1,46 μg/dl (p=0,002). KTD awal pada kelompok perlakuan 10,35±3,36 μg/dl dan KTD akhir 3,2±1,58 μg/dl. (2) Pemberian Kalsium dengan dosis 3 x 500 mg sehari peroral selama 3 bulan dapat menurunkan KTD secara bermakna (p=0,000) pada CI=95%. (3) Faktor lain yang turut mempengaruhi KTD adalah tempat pekerja beristirahat  pada siang hari apakah di pinggir jalan atau di rumah (p=0,025). (4) Didapat model prediksi KTD pada pekerja dewasa yang beresiko terhadap keracunan timbal kronis berupa persamaan regresi: Y = 3.446-0,727 (tempat istirahat) + 0,892 (pemberian kalsium). (5) Didapat rekomendasi kebijakan dalam mengelola dampak lingkungan yang diakibatkan oleh polusi timbal sebagai berikut: Pemberian Kalsium dengan dosis 3 x 500 mg sehari peroral selama tiga bulan pada pekerja yang telah terpapar pada polusi timbal.&#xD;
Disarankan agar dapat dikembangkan kebijakan bidang kesehatan khususnya untuk pekerja yang beresiko tinggi terhadap keracunan timbal kronis dengan pemberian kalsium dengan dosis 3 x 500 mg peroral sehari selama 3 bulan</description>
      <pubDate>Tue, 02 Aug 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28194</guid>
      <dc:date>2011-08-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hasan, Wirsal</dc:creator>
      <dc:description>Pencemaran timbal di udara kota Medan sudah merupakan masalah karena sudah melewati Nilai Ambang Batas. Timbal dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia walaupun dalam kadar yang lebih rendah dari kadar maksimum dalam darah yang diperbolehkan. Salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi terhadap keracunan timbal kronis dari udara ambien adalah pekerja yang bekerja di pinggir jalan raya. Sampai saat ini belum ada kebijakan bidang kesehatan untuk pencegahan keracunan timbal kronis pada pekerja yang beresiko tinggi ini.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek suplemen kalsium terhadap penurunan kadar timbal dalam darah pekerja dewasa dalam upaya mengembangkan kebijakan bidang kesehatan. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen dengan clinical trial design dimana subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yang dilakukan secara acak, satu kelompok sebagai kontrol dan satu kelompok lagi diberi perlakuan dengan memberikan suplemen kalsium dengan dosis 3 kali 500 mg perhari selama tiga bulan dan setelah tiga bulan diukur kembali kadar timbal darahnya.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kadar timbal dalam darah (KTD) penarik becak dayung, penarik becak mesin dan pedagang pinggir jalan adalah: KTD awal pada kelompok kontrol 6,11±3,57 μg/dl dan KTD akhir 4,16±1,46 μg/dl (p=0,002). KTD awal pada kelompok perlakuan 10,35±3,36 μg/dl dan KTD akhir 3,2±1,58 μg/dl. (2) Pemberian Kalsium dengan dosis 3 x 500 mg sehari peroral selama 3 bulan dapat menurunkan KTD secara bermakna (p=0,000) pada CI=95%. (3) Faktor lain yang turut mempengaruhi KTD adalah tempat pekerja beristirahat  pada siang hari apakah di pinggir jalan atau di rumah (p=0,025). (4) Didapat model prediksi KTD pada pekerja dewasa yang beresiko terhadap keracunan timbal kronis berupa persamaan regresi: Y = 3.446-0,727 (tempat istirahat) + 0,892 (pemberian kalsium). (5) Didapat rekomendasi kebijakan dalam mengelola dampak lingkungan yang diakibatkan oleh polusi timbal sebagai berikut: Pemberian Kalsium dengan dosis 3 x 500 mg sehari peroral selama tiga bulan pada pekerja yang telah terpapar pada polusi timbal.&#xD;
Disarankan agar dapat dikembangkan kebijakan bidang kesehatan khususnya untuk pekerja yang beresiko tinggi terhadap keracunan timbal kronis dengan pemberian kalsium dengan dosis 3 x 500 mg peroral sehari selama 3 bulan</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Perencanaan Dan Pembangunan Wilayah  Terhadap Pendapatan Masyarakat Di Kota Medan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28086</link>
      <description>Authors: Joni, Harmes
Advisors: Miraza, Bachtiar Hassan; Ramli; Sirojuzilam
Abstract: Commonly development is purposed to increase community welfare in the future that will be better than now on. To reach that development, Medan City government has done many planning that based on vision and mission of Medan City that included in many main planning documents. In real fact, Medan City development has showed good results, but it is not affected on community welfare (paradox of growth). Base on that situation, so it is needed to make analyze about Regional Planning and Development Analyze on Community Income in Medan City. &#xD;
	The purpose of this research is to explain the effect of development planning on income. The significant of this research is to give suggestion to decision planning maker and to give new or variety color about regional development theory. This research is done by explanatory approach that uses primer data with random stratified sampling, where the analyze that is used is path-analysis and regression, and to measure income of Medan City community is by using World Bank criteria. &#xD;
The result of this research is to show that regional planning and development effects positively and significantly on income. Regional planning and development effects negatively and not significantly on income by agglomeration. Regional planning and development effects positively and significantly on income by accessibility treasure institution. Regional planning and development effects positively and significantly on income by demography. Regional planning and development effects positively and significantly on income by work opportunity. Regional planning and development effects positively and significantly on income by saving.  Regional planning and development effects positively but not significant on income by education.  Regional planning and development effects positively and significantly on income by residence location. It is proved that agglomeration, financial institution accessibility, demography, works opportunity, saving, education and residence location are effect positively and significantly on income. Income distribution disparity in Medan City is in the middle position.
Abstract (other language): Pembangunan pada dasarnya bertujuan  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada masa yang akan datang yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Dalam upaya merealisasikan tujuan pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Medan telah melakukan berbagai perencanaan pembangunan yang didasarkan pada visi dan misi kota yang tertuang dalam berbagai dokumen induk perencanaan. Dalam pelaksanaannya, pembangunan Kota Medan telah menunjukkan hasil-hasil yang cukup baik, namun tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Medan (paradox of growth).  Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu suatu kajian mendalam mengenai  Analisis Perencanaan dan Pembangunan Wilayah terhadap Pendapatan Masyarakat di Kota Medan. &#xD;
Tujuan penelitian untuk menjelaskan pengaruh berbagai perencanaan pembangunan terhadap pendapatan. Manfaat penelitian ini dapat memberi masukan kepada pengambil keputusan di bidang perencanaan dan memberikan warna atau variasi tentang teori perencanaan wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksplanatori menggunakan data primer dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling, dimana analisis data yang digunakan path-analysis dan regresi, serta untuk mengukur pendapatan masyarakat Kota Medan dengan menggunakan kriteria Bank Dunia. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap pendapatan melalui aglomerasi. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui aksesibilitas lembaga keuangan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui demografi. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui kesempatan kerja. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui tabungan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif tetapi tidak signifikan terhadap pendapatan melalui pendidikan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan  terhadap pendapatan melalui lokasi tempat tinggal. Secara serentak variabel aglomerasi, aksesibilitas lembaga keuangan, demografi, kesempatan kerja, tabungan, pendidikan, lokasi tempat tinggal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Distribusi pendapatan Kota Medan tidak merata dengan ketimpangan sedang.</description>
      <pubDate>Thu, 28 Jul 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/28086</guid>
      <dc:date>2011-07-28T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Joni, Harmes</dc:creator>
      <dc:description>Pembangunan pada dasarnya bertujuan  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada masa yang akan datang yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi sekarang. Dalam upaya merealisasikan tujuan pembangunan tersebut, Pemerintah Kota Medan telah melakukan berbagai perencanaan pembangunan yang didasarkan pada visi dan misi kota yang tertuang dalam berbagai dokumen induk perencanaan. Dalam pelaksanaannya, pembangunan Kota Medan telah menunjukkan hasil-hasil yang cukup baik, namun tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Medan (paradox of growth).  Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu suatu kajian mendalam mengenai  Analisis Perencanaan dan Pembangunan Wilayah terhadap Pendapatan Masyarakat di Kota Medan. &#xD;
Tujuan penelitian untuk menjelaskan pengaruh berbagai perencanaan pembangunan terhadap pendapatan. Manfaat penelitian ini dapat memberi masukan kepada pengambil keputusan di bidang perencanaan dan memberikan warna atau variasi tentang teori perencanaan wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksplanatori menggunakan data primer dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling, dimana analisis data yang digunakan path-analysis dan regresi, serta untuk mengukur pendapatan masyarakat Kota Medan dengan menggunakan kriteria Bank Dunia. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap pendapatan melalui aglomerasi. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui aksesibilitas lembaga keuangan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui demografi. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui kesempatan kerja. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pendapatan melalui tabungan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif tetapi tidak signifikan terhadap pendapatan melalui pendidikan. Perencanaan dan pembangunan wilayah berpengaruh secara positif dan signifikan  terhadap pendapatan melalui lokasi tempat tinggal. Secara serentak variabel aglomerasi, aksesibilitas lembaga keuangan, demografi, kesempatan kerja, tabungan, pendidikan, lokasi tempat tinggal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Distribusi pendapatan Kota Medan tidak merata dengan ketimpangan sedang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Hasil Hidrolisis Dan Alkoksilasi&#xD;
Dengan Gliserol Dari  Epoksida Minyak&#xD;
Kemiri Sebagai Sumber Poliol Untuk&#xD;
Pembuatan Poliuretan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27644</link>
      <description>Authors: Ginting, Mimpin
Advisors: Barus, Tonel; Silalahi, Jansen; Wirjosentono, Basuki
Abstract: Polyurethane can be produced by polymerisation  of diisocyanate with  polyol. Polyol can be produced by oxidation of unsaturated fatty acid with peracid followed by  hydrolysis  or alkoxylation  of cyclic epoxyde..The purpose of this research was to synthesize polyurethane using unsaturated fatty acid from candlenut oil as the raw material to produce polyol. Materials and reagents used were candlenut oil’s, performic acid  obtained from reaction of formic acid and hydrogen peroxide, toluene diisocyanate (TDI), glycerol  and dichloromethane as a solvent.&#xD;
This research was conducted through epoxidation of unsaturated fatty acid followed by hydrolysis (PHHEM) and alkoxylation with glycerol (PHAGEM) in propanone to obtain two kinds of polyol derivatives from candlenut oil. Synthesis of polyurethane was carried out by reacting toluene diisosyanate with various ratio of polyol.  Reaction was carried out   by reflux  with dichloromethane as  a solvent. The product  was characterized with saveral parameters such as morphology characterization, gel content, tensile strength, elasticity and also functional group characterization with FT-IR spectroscopy.&#xD;
The result of FT-IR spectroscopy analysis towards the yield of the polymerization produced spectrum which could indicate  that the yield of the reaction is polyurethane with the accurance of vibration peak on the wave numbers of 3400- 3300 cm-1, 1730- 1710, 1640-1600 and 1590- 1540 cm-1, proved that there was a urethane group (-NHCOO-) present. The highest value  of tensile strength (σt) on obtained  polyurethane  was on the polyol/TDI ratio = 7/3 (v/v)  using PHHEM = 6.0 MPa ( elasticity,ε = 47.54%, gel content, Q = 81.77%, adhesive), PHAGEM = 7.95 MPa (ε = 36.33%, Q  = 80.63%, adhesive) and PEG – 1000 = 9.15 MPa (ε = 28.79%, Q = 98.31%. foam). The highest Q could be found with the use of PHHEM on the 5/5 (v/v) ratio = 97.72% (σt = 0.35, ε = 9.57. hard), PHAGEM on 4/6 (v/v) ratio = 97.52% (σt = 0.18, ε = 9.52%, hard) and PEG – 1000 on 6/4 (v/v) ratio = 98,68% (σt = 5.57 MPa, ε = 41.06%, foam). Furthermore, the result of this research could give information that by using the mixture of PHHEM or PHAGEM polyol with PEG- 1000 could increase, both the value of tensile strength or percentage of gel content of formed  polyurethane.
Abstract (other language): Poliuretan dapat diperoleh  melalui polimerisasi dari  diisosianat dengan poliol. Poliol dapat dihasilkan melalui oksidasi  asam lemak tidak jenuh menggunakan oksidator  peracid diikuti hidrolisis atau alkoksilasi dari cincin epoksida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mensintesis  poliuretan dengan memanfaatkan asam lemak tidak  jenuh dari minyak kemiri sebagai bahan dasar pembuatan poliol. Bahan-bahan pereaksi yang digunakan adalah minyak kemiri, asam ferformat hasil reaksi  asam formiat dengan hidrogen peroksida, toluen diisosianat, gliserol serta pelarut diklormetan&#xD;
Penelitian ini dilakukan melalui epoksidasi asam lemak tidak jenuh diikuti hidrolisis (PHHEM) atau  alkoksilasi dengan gliserol (PHAGEM) dalam pelarut propanon  untuk memperoleh dua  jenis poliol turunan minyak kemiri. Sintesis poliuretan dikerjakan dengan mereaksikan toluen diisosianat dengan poliol dengan berbagai perbandingan. Reaksi dikerjakan pada kondisi refluks dalam pelarut diklormetan. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan  berbagai parameter yakni bentuk fisik, kandungan gel, daya tarik dan kemuluran serta karakterisasi  gugus fungsi melalui analisis  spektroskopi FT-IR.&#xD;
Hasil analisis spektroskopi FT-IR menghasilkan spektrum bahwa hasil reaksi adalah poliuretan yang ditandai dengan munculnya puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3400-3300 cm-1 , 1730-1710, 1640-1600 dan 1590-1540 cm-1, merupakan karakteristik gugus fungsi uretan. Dari berbagai rasio pencampuran yang digunakan diperoleh  nilai kekuatan tarik (σt ) poliuretan yang tertinggi  pada rasio (v/v) Poliol/TDI=7/3 dengan menggunakan PHHEM= 6,0 Mpa (ε = 47,54%, Q=81,77%, adesive), PHAGEM = 7,95 Mpa (ε=36,33%, Q=80,63%, adesive) dan PEG-1000 =9,15 Mpa( ε=28,79%, Q=98,31%, foam). Selanjutnya nilai kandungan gel tetinggi dijumpai dengan menggunakan PHHEM pada rasio (v/v) 5/5= 97,72% (σt=0,35 Mpa, ε = 9,57%, keras), PHAGEM pada rasio 4/6 = 97,52% (σt=0,18 Mpa, ε = 9,52%, keras) dan PEG-1000 pada rasio 6/4 = 8,68%(σt=5,57 Mpa, ε = 41,06%, foam). Selanjutnya juga dari hasil penelitian memberikan  hasil bahwa dengan menggunakan campuran PHHEM maupun PHAGEM dengan PEG-1000 dapat meningkatkan baik nilai kekuatan tarik maupun % kandungan gel  dari PU yang terbentuk.</description>
      <pubDate>Sat, 16 Jul 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27644</guid>
      <dc:date>2011-07-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ginting, Mimpin</dc:creator>
      <dc:description>Poliuretan dapat diperoleh  melalui polimerisasi dari  diisosianat dengan poliol. Poliol dapat dihasilkan melalui oksidasi  asam lemak tidak jenuh menggunakan oksidator  peracid diikuti hidrolisis atau alkoksilasi dari cincin epoksida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mensintesis  poliuretan dengan memanfaatkan asam lemak tidak  jenuh dari minyak kemiri sebagai bahan dasar pembuatan poliol. Bahan-bahan pereaksi yang digunakan adalah minyak kemiri, asam ferformat hasil reaksi  asam formiat dengan hidrogen peroksida, toluen diisosianat, gliserol serta pelarut diklormetan&#xD;
Penelitian ini dilakukan melalui epoksidasi asam lemak tidak jenuh diikuti hidrolisis (PHHEM) atau  alkoksilasi dengan gliserol (PHAGEM) dalam pelarut propanon  untuk memperoleh dua  jenis poliol turunan minyak kemiri. Sintesis poliuretan dikerjakan dengan mereaksikan toluen diisosianat dengan poliol dengan berbagai perbandingan. Reaksi dikerjakan pada kondisi refluks dalam pelarut diklormetan. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan  berbagai parameter yakni bentuk fisik, kandungan gel, daya tarik dan kemuluran serta karakterisasi  gugus fungsi melalui analisis  spektroskopi FT-IR.&#xD;
Hasil analisis spektroskopi FT-IR menghasilkan spektrum bahwa hasil reaksi adalah poliuretan yang ditandai dengan munculnya puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3400-3300 cm-1 , 1730-1710, 1640-1600 dan 1590-1540 cm-1, merupakan karakteristik gugus fungsi uretan. Dari berbagai rasio pencampuran yang digunakan diperoleh  nilai kekuatan tarik (σt ) poliuretan yang tertinggi  pada rasio (v/v) Poliol/TDI=7/3 dengan menggunakan PHHEM= 6,0 Mpa (ε = 47,54%, Q=81,77%, adesive), PHAGEM = 7,95 Mpa (ε=36,33%, Q=80,63%, adesive) dan PEG-1000 =9,15 Mpa( ε=28,79%, Q=98,31%, foam). Selanjutnya nilai kandungan gel tetinggi dijumpai dengan menggunakan PHHEM pada rasio (v/v) 5/5= 97,72% (σt=0,35 Mpa, ε = 9,57%, keras), PHAGEM pada rasio 4/6 = 97,52% (σt=0,18 Mpa, ε = 9,52%, keras) dan PEG-1000 pada rasio 6/4 = 8,68%(σt=5,57 Mpa, ε = 41,06%, foam). Selanjutnya juga dari hasil penelitian memberikan  hasil bahwa dengan menggunakan campuran PHHEM maupun PHAGEM dengan PEG-1000 dapat meningkatkan baik nilai kekuatan tarik maupun % kandungan gel  dari PU yang terbentuk.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Penggunaan  Lahan Di Daerah  Tangkapan Air Danau Toba Berdasarkan  Model  Answers  Untuk Fungsi Daerah Aliran Sungai&#xD;
Yang Berkelanjutan (Study Kasus Sub DAS Aek Silang Hulu)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27375</link>
      <description>Authors: Sianturi, Hotmauli
Advisors: Nasution, Zulkifli; Sutarman; Widhiastuti, Retno
Abstract: Lake Toba Catchment Area (LTCA) is the upstream of Asahan Toba Watershed that consist of 7 administration area which are namely Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, Simalungun and Tapanuli Utara.  LTCA has several importan functions for farming and pasturing, water sources, fishering, tour destiny, water power generating of PT. INALUM etc. On the other hand LTCA has suffering severe degradation that indicated by drought in dry season, water flood during rainy season especially along riverside, decreasing interception, depletion of water table and increasing of erosion/ sedimentation and finally decreasing of land productivity. &#xD;
In line with the LTCA degradation, it is needed to study biophisical characteristic,  land utilization, land coverage, river system, etc in order to understand what happen in the area that caused those problems. Survey was done in Aek Silang Sub Watershed- Lake Toba catchment area, North Sumatera Province. The objective of the research is to analyze the combination of land utilization that result optimum hydrologic functions of the watershed with minimum erosion and sediment.  &#xD;
       Simulation was done by using model ANSWERS with the highest rainfall data input during the survey conducted which altered several scenarios. ANSWERS has proven able to predict erosion and surface run off  in Aek Silang sub watershed. Direct run off predicted by ANSWERS are not significantly different compared to direct measurement  with  correlation value of R2 : 0,94 and 0,98.&#xD;
      Based on simulation of several land utilization, the best combination of land utilization in Aek Silang Sub Watershed is intensif agriculture on flat area (land capability IIe) of 7.919 hectares, agroforestry technique on 9.262,3 hectares of land capability grade IIIe and 1.218,3 hectares of land capability grade IVe (either by agroforestry or pure forest). &#xD;
Based on survey done using Analitical Hierarchy Process(AHP) method, it is needed a propher institution  in order to enact the principle of sustainable function of watershed in LTCA. This institution should be raised to the higher level in accordance with decentralization sissue that enable the surrounding area of LTCA to obey and harmonized  their development programmes, such as by President Decree as the LTCA has been declared as a National Strategic Area.
Abstract (other language): Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba merupakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Asahan Toba yang terdiri dari 7 wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara.  Danau Toba mempunyai fungsi yang penting bagi pertanian dan peternakan, sumber air bagi kehidupan masyarakat, perikanan, transportasi antar wilayah, jasa pariwisata, pemutar turbin untuk menghasilkan listrik PT. Inalum (terutama untuk penyediaan pasokan listrik bagi industri peleburan biji aluminium di Kuala Tanjung serta pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat), dan lain-lain.&#xD;
Di sisi lain DTA Danau Toba telah mengalami kerusakan lahan/lingkungan yang dicirikan dengan adanya kekeringan pada musim kemarau tetapi pada musim penghujan seringkali terjadi banjir terutama di daerah hilir seperti Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai, intersepsi yang semakin menurun, penurunan muka air tanah, meningkatnmya erosi/sedimentasi dan penurunan tingkat produktivitas lahan pertanian.&#xD;
Sejalan dengan terjadinya degradasi lahan di DTA Danau Toba, maka perlu dipahami karakteristik biofisik dari daerah ini seperti penggunaan dan penutupan lahan, sistem jaringan sungai, topograpi, jenis tanah samapi tingkat bahaya erosinya.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa penggunaan lahan yang dapat menghasilkan fungsi hidrologis yang optimum melalui indikator tingkat erosi/sedimentasi dan aliran permukaan yang terjadi apabila terjadi  hujan.&#xD;
Simulasi penggunaan lahan dilakukan dengan model ANSWERS dengan memasukkan data curah hujan tertinggi yang terjadi selama penelitian berlangsung dengan beberapa skenario penggunaan lahan.  Model ANSWERS terbukti dapat memprediksi tingkat erosi/sedimentasi beserta aliran permukaan yang terjadi di Sub DAS Aek Silang dengan nilai korelasi R2 masing-masing 0,94 dan 0,98, tidak berbeda nyata dibandingkan dengan hasil pengukuran langsung di lapangan.&#xD;
Berdasarkan simulasi beberapa skenario penggunaan lahan, maka diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling optimal di Sub DAS Aek Silang adalah pertanian intensif pada lahan datar dengan kelas kemampuan IIe seluas 7.919 ha, dikombinasikan dengan teknik agroforestry pada lahan kelas kemampuan IIIe seluas 9.262,3 ha dan hutan pada lahan kelas kemampuan IVe seluas 1.218,3 ha.&#xD;
Analisa kelembagaan dengan menggunakan metode Analithycal Hierarchy Process (AHP) menghasilkan  perlu lembaga khusus pengelola DTA Danau Toba yang bersifat lintas administrasi pemerintahan agar selaras dengan penetapan DTA Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).</description>
      <pubDate>Tue, 12 Jul 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27375</guid>
      <dc:date>2011-07-12T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sianturi, Hotmauli</dc:creator>
      <dc:description>Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba merupakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Asahan Toba yang terdiri dari 7 wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kabupaten Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara.  Danau Toba mempunyai fungsi yang penting bagi pertanian dan peternakan, sumber air bagi kehidupan masyarakat, perikanan, transportasi antar wilayah, jasa pariwisata, pemutar turbin untuk menghasilkan listrik PT. Inalum (terutama untuk penyediaan pasokan listrik bagi industri peleburan biji aluminium di Kuala Tanjung serta pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat), dan lain-lain.&#xD;
Di sisi lain DTA Danau Toba telah mengalami kerusakan lahan/lingkungan yang dicirikan dengan adanya kekeringan pada musim kemarau tetapi pada musim penghujan seringkali terjadi banjir terutama di daerah hilir seperti Kabupaten Asahan dan Kota Tanjung Balai, intersepsi yang semakin menurun, penurunan muka air tanah, meningkatnmya erosi/sedimentasi dan penurunan tingkat produktivitas lahan pertanian.&#xD;
Sejalan dengan terjadinya degradasi lahan di DTA Danau Toba, maka perlu dipahami karakteristik biofisik dari daerah ini seperti penggunaan dan penutupan lahan, sistem jaringan sungai, topograpi, jenis tanah samapi tingkat bahaya erosinya.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa penggunaan lahan yang dapat menghasilkan fungsi hidrologis yang optimum melalui indikator tingkat erosi/sedimentasi dan aliran permukaan yang terjadi apabila terjadi  hujan.&#xD;
Simulasi penggunaan lahan dilakukan dengan model ANSWERS dengan memasukkan data curah hujan tertinggi yang terjadi selama penelitian berlangsung dengan beberapa skenario penggunaan lahan.  Model ANSWERS terbukti dapat memprediksi tingkat erosi/sedimentasi beserta aliran permukaan yang terjadi di Sub DAS Aek Silang dengan nilai korelasi R2 masing-masing 0,94 dan 0,98, tidak berbeda nyata dibandingkan dengan hasil pengukuran langsung di lapangan.&#xD;
Berdasarkan simulasi beberapa skenario penggunaan lahan, maka diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling optimal di Sub DAS Aek Silang adalah pertanian intensif pada lahan datar dengan kelas kemampuan IIe seluas 7.919 ha, dikombinasikan dengan teknik agroforestry pada lahan kelas kemampuan IIIe seluas 9.262,3 ha dan hutan pada lahan kelas kemampuan IVe seluas 1.218,3 ha.&#xD;
Analisa kelembagaan dengan menggunakan metode Analithycal Hierarchy Process (AHP) menghasilkan  perlu lembaga khusus pengelola DTA Danau Toba yang bersifat lintas administrasi pemerintahan agar selaras dengan penetapan DTA Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>The Structure Of The Toba Batak Conversations</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26766</link>
      <description>Authors: Pardede, Hilman
Advisors: Saragih, Amrin; Sinar, Tengku Silvana; Sibarani, Robert
Abstract: This disertation focuses on Conversation Analysis (CA) regarding the structure of Adjecancy Pair (AP) and Turn-Taking in Toba Batak (TB) conversations. The aims of the research are to explain: a) how the AP of TB conversation operates, b) how the end of turn is grammatically, intonationally, and semantically projected, and c) how the Turn-Taking in TB conversation operates. The main theory used is CA theory by Sacks, Schegloff, and Jefferson (1974). This theory assumes that there are four basic assumptions in conversation, they are: a) conversation is structurally organized, b) conversation is jointly produced among participants, c) conversation is contextual, and d) conversation is locally managed. Since conversation is structurally organized and sequentially constrained, there can be found structural approach, that is, adjacency pairs. This exemplifies structural organization as well as orderly sequence of interaction in  conversation. Adjacency pairs give slot to  the next position whether responded  or not. When the  first is not  responded, the  second would be  noticeably absent, that leads to a repair actions. As the joint production among  participants, recipients show his or her intersubjectivity as the understanding and  inferences of the the speaker’s utterance. Again, when recipients do not show his or her intersubjectivity, the speaker may reply with repair work  in the next slot, which is called the third position repair. Since conversation is locally managed, it implies that  turn-by-turn  organization of conversation are analyzed. &#xD;
The research was conducted using qualitative method. The data were collected based on  audio recording and video recording of mundane conversation or casual talk which constitute fifty texts of conversations. These texts are categorized into two, they are forty texts dealing with Adjecancy Pair and ten texts dealing with Turn-Taking. The analysis is based on CA, that is sequential analysis.&#xD;
The results of the research are: 1) AP of question-answer in TB conversation is not a basic component in selecting the next speaker, 2) Noticably absent, other than showing a device to make a repair, it is used to show AP of greeting-greeting, 3) AP of question-answer shows greeting-greeting when the answer to the question is not informative, 4) AP of greeting-greeting, horas-horas is unique and typical as it is a basic component and able to perform as congratulation-response, leavetaking-leavetaking, 5) AP of summon-answer shows greeting-greeting since the summon is not responded by an answer, 6) APs of question-answer, greeting-greeting, and summon-answer are related, 7) Post-offer occurs in TB conversation, 8) AP of invitation embody three kinds of sequence: pre-expansion, post-expansion, inserted-sequence, 9) APs of offer and invitation are related, 10) The AP of accusation has a denial response in SPP as preferred, 11) AP of compliment in TB conversation has a downgrading response in SPP, 12) AP of complaint has a denial response in SPP as preferred. It is formulated in disafiliation, 13) APs of acquisition, compliment, and complaint are related, 14) The first rule of turn-taking (CSSN) is not always applicable in TB conversation, 15) Long silence occurs in lapse, 16) The ends of turn which are grammatically, intonationally, and semantically projected occur in TB conversation, 17) The rules of Turn-Taking and the organization such as silence, overlapping talk, and repair are applicable in TB conversation, 18) Turn-taking are not culturally bound. &#xD;
The findings imply that learning the adjacency pairs of foreign language can not  depend only on the mechanical structure, but on the ritual constraint, and this is also effective in the first language (TB). On the other hand, there is a room for turn-taking to be further studied based on ritual constraint.&#xD;
It is concluded that there are negative cases in AP and turn-taking of TB.
Abstract (other language): Disertasi ini berfokus pada analisis percakapan yang mengkaji struktur pasangan berdekatan dan gilir berbicara dalam percakapan bahasa Batak Toba. Tujuan penelitian ini adalah untuk memerikan: a) bagaimana pasangan berdekatan dalam percakapan bahasa Batak Toba dipraktekkan, b) bagaimana akhir gilir bicara diproyeksikan secara gramatikal, intonasional, dan semantikal, dan c) bagaimana gilir bicara dalam percakapan bahasa Batak Toba (PBBT) dipraktekkan. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis percakapan oleh Sacks, Schegloff, dan Jefferson (1974). Terdapat 4 asumsi dasar dalam percakapan berdasarkan teori ini: a) percakapan terorganisasikan secara struktur, b) percakapan merupakan hasil produksi sesama partisipan, c) percakapan kontekstual, dan d) percakapan di kelola secara lokal. Karena percakapan itu terorganisir secara struktur dan dihadapkan pada urutan (sequence), maka ditemukan suatu pendekatan struktur yang disebut sebagai pasangan berdekatan. Ini menunjukkan organisasi struktur serta urutan interaksi yang teratur dalam percakapan. Pasangan berdekatan memberikan tempat kepada posisi/urutan berikutnya yang dapat direspon maupun tidak. Apabila yang pertama tidak direspon, yang kedua dapat dipertanggung jawabkan dan menimbulkan tindakan perbaikan. Sebagai produksi sesama partisipan, pendengar akan menunjukkan keterlibatannya karena mengerti ujaran pembicara. Apabila pendengar tidak menunjukkan keterlibatannya, pembicara akan melakukan tindakan perbaikan pada tempat berikutnya, yang disebut dengan perbaikan pada posisi ketiga. Karena percakapan dikelola secara lokal, hal ini mengimplikasikan adanya analisis giliran per giliran dalam percakapan.&#xD;
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metoda kualitatif. Data dikumpulkan dengan merekam secara audio dan video melalui percakapan kasual. Data yang dianalisis ada 50 data yang terdiri dari 2 bagian: 40 data digunakan untuk menganalis pasangan berdekatan, dan 10 data digunakan untuk menganalisis gilir bicara. Data dianalisis berdasarkan analisis percakapan, yaitu analisis sekuensial.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban dalam PBBT bukan merupakan komponen dasar dalam menentukan pembicara berikutnya, 2) Kealpaan jawaban, disamping berfungsi untuk melakukan perbaikan, ia juga digunakan untuk mengidentifikasi pasangan berdekatan salam-salam, 3) pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban berubah menjadi salam-salam apabila jawaban kepada pertanyaan tidak informatif, 4) Pasangan berdekatan salam-salam yang dibangun oleh struktur horas-horas merupakan struktur yang unik dan tipikal karena merupakan komponen yang mendasar yang mampu bertindak sebagai pasangan selamat-selamat, berpisah-berpisah, 5) Pasangan berdekatan panggilan-jawaban berubah menjadi salam-salam apabila panggilan tidak direspon dengan jawaban, 6) Pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban, salam-salam, dan panggilan-jawaban adalah berhubungan, 7) Pasangan post-penawaran terjadi dalam percakapan bahasa Batak Toba, 8) Pasangan undangan mencakup tiga sekuen: perluasan awal, perluasan akhir, dan sekuen sisipan, 9) Pasangan tawaran dan undangan adalah berhubungan, 10) Pasangan tuduhan memiliki respon penolakan pada pasangan kedua sebagai yang diinginkan, 11) Pasangan pujian mempunyai respon penolakan yang dihaluskan pada pasangan kedua, 12) Pasangan keluhan mempunyai respon penolakan pada pasangan kedua sebagai yang diinginkan, diformulasikan dalam bentuk ketidakberpihakan, 13) Pasangan tuduhan, pujian, dan keluhan adalah berhubungan, 14) Kaidah pertama gilir-bicara (pembicara sekarang memilih pembicara berikut) tidak selalu dapat diaplikasikan dalam percakapan bahasa Batak Toba, 15) Kesenyapan panjang terjadi dalam percakapan yang terhenti sementara, 16) Akhir dari giliran yang diproyeksikan secara gramatikal, intonasional, dan semantikal terjadi dalam percakapan bahasa Batak Toba, 17) Kaidah gilir bicara dan organisasi seperti kesenyapan, percakapan tumpang tindih dan perbaikan dapat diaplikasikan dalam bahasa Batak Toba, 18) Gilir bicara tidak terikat secara kultural.&#xD;
Implikasi temuan ini adalah bahwa belajar pasangan berdekatan bahasa asing dan bahasa pertama tidak dapat hanya tergantung pada struktur mekanis, tetapi juga harus tergantung pada hambatan ritual. Pada sisi lain, terbuka wacana untuk mengkaji gilir bicara berdasarkan hambatan ritual.&#xD;
Dapat disimpulkan bahwa, terdapat kasus-kasus negatif yang menjadi temuan pada penelitian ini.</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26766</guid>
      <dc:date>2011-06-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pardede, Hilman</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini berfokus pada analisis percakapan yang mengkaji struktur pasangan berdekatan dan gilir berbicara dalam percakapan bahasa Batak Toba. Tujuan penelitian ini adalah untuk memerikan: a) bagaimana pasangan berdekatan dalam percakapan bahasa Batak Toba dipraktekkan, b) bagaimana akhir gilir bicara diproyeksikan secara gramatikal, intonasional, dan semantikal, dan c) bagaimana gilir bicara dalam percakapan bahasa Batak Toba (PBBT) dipraktekkan. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis percakapan oleh Sacks, Schegloff, dan Jefferson (1974). Terdapat 4 asumsi dasar dalam percakapan berdasarkan teori ini: a) percakapan terorganisasikan secara struktur, b) percakapan merupakan hasil produksi sesama partisipan, c) percakapan kontekstual, dan d) percakapan di kelola secara lokal. Karena percakapan itu terorganisir secara struktur dan dihadapkan pada urutan (sequence), maka ditemukan suatu pendekatan struktur yang disebut sebagai pasangan berdekatan. Ini menunjukkan organisasi struktur serta urutan interaksi yang teratur dalam percakapan. Pasangan berdekatan memberikan tempat kepada posisi/urutan berikutnya yang dapat direspon maupun tidak. Apabila yang pertama tidak direspon, yang kedua dapat dipertanggung jawabkan dan menimbulkan tindakan perbaikan. Sebagai produksi sesama partisipan, pendengar akan menunjukkan keterlibatannya karena mengerti ujaran pembicara. Apabila pendengar tidak menunjukkan keterlibatannya, pembicara akan melakukan tindakan perbaikan pada tempat berikutnya, yang disebut dengan perbaikan pada posisi ketiga. Karena percakapan dikelola secara lokal, hal ini mengimplikasikan adanya analisis giliran per giliran dalam percakapan.&#xD;
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metoda kualitatif. Data dikumpulkan dengan merekam secara audio dan video melalui percakapan kasual. Data yang dianalisis ada 50 data yang terdiri dari 2 bagian: 40 data digunakan untuk menganalis pasangan berdekatan, dan 10 data digunakan untuk menganalisis gilir bicara. Data dianalisis berdasarkan analisis percakapan, yaitu analisis sekuensial.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban dalam PBBT bukan merupakan komponen dasar dalam menentukan pembicara berikutnya, 2) Kealpaan jawaban, disamping berfungsi untuk melakukan perbaikan, ia juga digunakan untuk mengidentifikasi pasangan berdekatan salam-salam, 3) pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban berubah menjadi salam-salam apabila jawaban kepada pertanyaan tidak informatif, 4) Pasangan berdekatan salam-salam yang dibangun oleh struktur horas-horas merupakan struktur yang unik dan tipikal karena merupakan komponen yang mendasar yang mampu bertindak sebagai pasangan selamat-selamat, berpisah-berpisah, 5) Pasangan berdekatan panggilan-jawaban berubah menjadi salam-salam apabila panggilan tidak direspon dengan jawaban, 6) Pasangan berdekatan pertanyaan-jawaban, salam-salam, dan panggilan-jawaban adalah berhubungan, 7) Pasangan post-penawaran terjadi dalam percakapan bahasa Batak Toba, 8) Pasangan undangan mencakup tiga sekuen: perluasan awal, perluasan akhir, dan sekuen sisipan, 9) Pasangan tawaran dan undangan adalah berhubungan, 10) Pasangan tuduhan memiliki respon penolakan pada pasangan kedua sebagai yang diinginkan, 11) Pasangan pujian mempunyai respon penolakan yang dihaluskan pada pasangan kedua, 12) Pasangan keluhan mempunyai respon penolakan pada pasangan kedua sebagai yang diinginkan, diformulasikan dalam bentuk ketidakberpihakan, 13) Pasangan tuduhan, pujian, dan keluhan adalah berhubungan, 14) Kaidah pertama gilir-bicara (pembicara sekarang memilih pembicara berikut) tidak selalu dapat diaplikasikan dalam percakapan bahasa Batak Toba, 15) Kesenyapan panjang terjadi dalam percakapan yang terhenti sementara, 16) Akhir dari giliran yang diproyeksikan secara gramatikal, intonasional, dan semantikal terjadi dalam percakapan bahasa Batak Toba, 17) Kaidah gilir bicara dan organisasi seperti kesenyapan, percakapan tumpang tindih dan perbaikan dapat diaplikasikan dalam bahasa Batak Toba, 18) Gilir bicara tidak terikat secara kultural.&#xD;
Implikasi temuan ini adalah bahwa belajar pasangan berdekatan bahasa asing dan bahasa pertama tidak dapat hanya tergantung pada struktur mekanis, tetapi juga harus tergantung pada hambatan ritual. Pada sisi lain, terbuka wacana untuk mengkaji gilir bicara berdasarkan hambatan ritual.&#xD;
Dapat disimpulkan bahwa, terdapat kasus-kasus negatif yang menjadi temuan pada penelitian ini.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Konstruk Kepemimpinan Dengan Kualitas Hidup Penderita HIV/AIDS Di Rumah Sakit Rujukan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26765</link>
      <description>Authors: Ginting, Daniel
Advisors: Kasiman, Sutomo; Bachtiar, Adang; Sarumpaet, Sorimuda
Abstract: Quality of life in HIV/AIDS patients was determined by many factors, one of which is the factor of availability of facilities, infrastructure to support of the sufferers medical treatment HIV/AIDS at the hospital. The role of hospital leaders from the lowest to the highest level is to support the service with: a) Maintain the availability of adequate and continuous drug, b) able to increase the dedication of frontline employees with HIV/AIDS, c) created HIV/AIDS service affordable. Leadership styles used by leaders in hospitals played a role determining the achievement the aim of organizational goals HIV/AIDS service with a subordinate for: Focus to serve patients, increase  the quality of human resources, run all the standard rules (SOP) and service quality evaluation (the concept of Total quality management). Accordingly, this study formulates the problem: Is there a relationship construct a model of leadership with the encouragement improved quality of life HIV /AIDS patients in referral hospital HIV/AIDS services in Sumatra Utara. &#xD;
 The framework of this study used 2 stage methods that is Phase I: Qualitative explorative by identified variable and  leadership construcs in RSU Adam Malik and RSU Siantar, in this stage carried out in depth interviews and observation so that  construct models of leadership. Phase II: Quantitative konfirmatif. Namely: construct models of leadership confirmed at 5 referral hospitals in Medan. &#xD;
 Constructs leadership styles in this research affect the quality of life HIV/ AIDS patients through the quality of human resources, customer focus, process management and quality evaluation (TQM). Increasingly leadership style then increasingly good the TQM that was pointed increase quality of life.&#xD;
Characteristic constructs of leadership styles in Referral Hospital environment obtained in this study were: a) The leader who can become an idol, commendable behavior is described as a king, b) Authoritative leader if necessary with the help of supra naturally caused a lot of support and care to HIV services, but such support was only lip service, c) The leader must be able to maintain position in every way (smart politics, nepotism, always ask for the blessing of the boss, supported by third parties).
Abstract (other language): Kualitas hidup penderita HIV/AIDS ditentukan banyak faktor, salah satu diantaranya adalah faktor ketersedian sarana, prasarana pendukung pengobatan penderita HIV/AIDS di rumah sakit. Peran pemimpin rumah sakit dari tingkat paling bawah sampai tertinggi adalah mendukung pelayanan dengan: a) Menjaga ketersediaan obat yang cukup dan kontinu, b) Mampu meningkatkan dedikasi petugas pelayanan HIV/AIDS, c) Menciptakan pelayanan HIV/AIDS yang terjangkau.&#xD;
Gaya kepemimpinan yang digunakan pemimpin di rumah sakit berperan menentukan pencapaian tujuan organisasi pelayanan HIV/AIDS dengan membawa bawahan agar fokus melayani penderita, meningkatkan kualitas SDM, menjalankan semua aturan baku (Protap) dan evaluasi mutu pelayanan (konsep manajemen mutu terpadu). Sehubungan dengan itu maka penelitian ini merumuskan masalah: Apakah ada hubungan model konstruk kepemimpinan dengan dorongan perbaikan kualitas hidup penderita HIV/AIDS di rumah sakit rujukan pelayanan HIV/AIDS di Sumatera Utara.&#xD;
Kerangka kerja penelitian ini menggunakan 2 metode tahapan yaitu tahap I: Kualitatif exploratif dengan mengidentifikasi konstruk dan variabel kepemimpinan &#xD;
di RSU Adam Malik dan RSU Pematang Siantar, pada tahap ini dilaksanakan wawancara yang mendalam dan observasi sehingga didapatkanlah sebuah model konstruk kepemimpinan. Tahap II: Kuantitatif konfirmatif, yaitu: Model konstruk kepemimpinan tersebut dikonfirmasikan pada 5 rumah sakit rujukan di Kota Medan. &#xD;
Konstruk kepemimpinan dalam penelitian ini mempengaruhi kualitas hidup penderita HIV/AIDS melalui kualitas SDM, fokus pelanggan, manajemen proses dan evaluasi mutu (MMT) semakin baik gaya kepemimpinan maka semakin baik penerapan MMT yang berujung dengan peningkatan kualitas hidup.&#xD;
Konstruk gaya kepemimpinan yang karakteristik terdapat di lingkungan RSU rujukan yang didapat dalam penelitian ini adalah: a) Pemimpin yang bisa menjadi idola, perilaku terpuji digambarkan sebagai seorang raja, b) Pemimpin berwibawa kalau perlu dengan bantuan supranatural disebabkan banyak dukungan dan kepedulian terhadap pelayanan HIV, namun dukungan tersebut ternyata hanya &#xD;
di bibir saja, c) Pemimpin harus bisa mempertahankan jabatan dengan segala cara (pintar berpolitik, nepotisme, selalu meminta restu atasan, didukung oleh pihak III).</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26765</guid>
      <dc:date>2011-06-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ginting, Daniel</dc:creator>
      <dc:description>Kualitas hidup penderita HIV/AIDS ditentukan banyak faktor, salah satu diantaranya adalah faktor ketersedian sarana, prasarana pendukung pengobatan penderita HIV/AIDS di rumah sakit. Peran pemimpin rumah sakit dari tingkat paling bawah sampai tertinggi adalah mendukung pelayanan dengan: a) Menjaga ketersediaan obat yang cukup dan kontinu, b) Mampu meningkatkan dedikasi petugas pelayanan HIV/AIDS, c) Menciptakan pelayanan HIV/AIDS yang terjangkau.&#xD;
Gaya kepemimpinan yang digunakan pemimpin di rumah sakit berperan menentukan pencapaian tujuan organisasi pelayanan HIV/AIDS dengan membawa bawahan agar fokus melayani penderita, meningkatkan kualitas SDM, menjalankan semua aturan baku (Protap) dan evaluasi mutu pelayanan (konsep manajemen mutu terpadu). Sehubungan dengan itu maka penelitian ini merumuskan masalah: Apakah ada hubungan model konstruk kepemimpinan dengan dorongan perbaikan kualitas hidup penderita HIV/AIDS di rumah sakit rujukan pelayanan HIV/AIDS di Sumatera Utara.&#xD;
Kerangka kerja penelitian ini menggunakan 2 metode tahapan yaitu tahap I: Kualitatif exploratif dengan mengidentifikasi konstruk dan variabel kepemimpinan &#xD;
di RSU Adam Malik dan RSU Pematang Siantar, pada tahap ini dilaksanakan wawancara yang mendalam dan observasi sehingga didapatkanlah sebuah model konstruk kepemimpinan. Tahap II: Kuantitatif konfirmatif, yaitu: Model konstruk kepemimpinan tersebut dikonfirmasikan pada 5 rumah sakit rujukan di Kota Medan. &#xD;
Konstruk kepemimpinan dalam penelitian ini mempengaruhi kualitas hidup penderita HIV/AIDS melalui kualitas SDM, fokus pelanggan, manajemen proses dan evaluasi mutu (MMT) semakin baik gaya kepemimpinan maka semakin baik penerapan MMT yang berujung dengan peningkatan kualitas hidup.&#xD;
Konstruk gaya kepemimpinan yang karakteristik terdapat di lingkungan RSU rujukan yang didapat dalam penelitian ini adalah: a) Pemimpin yang bisa menjadi idola, perilaku terpuji digambarkan sebagai seorang raja, b) Pemimpin berwibawa kalau perlu dengan bantuan supranatural disebabkan banyak dukungan dan kepedulian terhadap pelayanan HIV, namun dukungan tersebut ternyata hanya &#xD;
di bibir saja, c) Pemimpin harus bisa mempertahankan jabatan dengan segala cara (pintar berpolitik, nepotisme, selalu meminta restu atasan, didukung oleh pihak III).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kesepadanan dan Pergeseran dalam Teks Terjemahan Fiksi Halilian dari Bahasa Angkola ke Bahasa Indonesia</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26678</link>
      <description>Authors: Harahap, Rosmawaty
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah-masalah kesepadanan dan pergeseran dalam teks terjemahan fiksi Halilian Angkola-Indonesia. Secara teoretis diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti bahasa dan budaya, karena dalam teks terdapat kekhasan bahasa dan budaya yang dapat digunakan sebagai pembanding teori gramatika universal. Dan sebagai pengajar, kajian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk melakukan kajian teks terjemahan. Bagi para mahasiswa Jurusan Bahasa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan kajian terhadap bentuk lingual yang dimiliki budaya tertentu. Secara praktis, diharapkan dapat memberikan kontribusi tentang pentingnya memahami dan melestarikan budaya melalui bahasa terutama bagi generasi penerus supaya nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tidak sampai luntur. Hal ini berkaitan dengan penggunaan bahasa daerah apakah keunikan atau kekhasan bahasa daerah tersebut memiliki kewibawaan bagi generasi selanjutnya.&#xD;
	Data penelitian terdiri tiga teks fiksi terjemahan dalam bahasa angkola yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia yaitu; teks 1) NPR pertama sekali memang dalam bentuk lengkap/penuh, yang terdiri atas 521 klausa, 2) teks BNH terdiri atas 206 klausa, 3) teks Bittot Van De Longas terdiri atas 46,76%, teks BNH kepadatan klausa 18,49%  dan teks BVD kepadatan klausa 34%.&#xD;
	Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilandasi oleh kerangka teori yang bersifat plural dan elektik (text-based theory dan translator-based theory) di satu sisi dan di sisi lain form-based translation dan meaning-based translation yang diterapkan secara manasuka, parsial, atau simultan mengingat hakekat terjemahan sebagai suatu bidang ilmu terapan dan kompleksitas fenomena penerjemahan itu sendiri.&#xD;
	Fokus kajian terletak pada kesepadanan dan pergeseran makna pada teks fiksi Halilian Angkola-Indonesia ini, teori semantik sebagai pisau analisis termasuk: (1) reference theory yang bisa mengungkapkan hubungan antar kata dengan entitas melalui cara tertentu; (2) relasi makna atau meaning postulates yang bisa menangani hubungan kemiripan dan keberbedaan antar konsep, dan (3) componential analysis yang mampu melihat tipe kesepadanan lintas bahasa dan pergeseran makna sebagai akibat dari proses pemadanan.&#xD;
	Pergeseran terjadi akibat adanya kesenjangan bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa target. Dalam pemadaman ketiga teks sumber terjadi secara bersamaan penyesuaian berupa pergeseran dari suatu sistem linguistik dan sistem sosio-kultural (Angkola) ke dalam sistem linguistik dan sistem sosio-kultural yang lain (Indonesia). Fenomena penyesuaian berwujud (1) pergeseran mikro (micro shift) dan (2) pergeseran makro (macro shift). Pergeseran mikro muncul sebagai pergeseran vertikal yang mengarah ke atas di mana unit bahasa sumber disubsitusi dengan unit yang lebih tinggi rank-nya dalam bahasa target dan sebaliknya pergeseran yang mengarah ke bawah, unit bahasa sumber disubsitusi dengan unit yang lebih rendah rank-nya dalam bahasa serta pergeseran horizontal atau pergeseran intrasistem (intta system shift) yang berwujud realisasi padanan yang berbeda dari suatu unit bahasa sumber dalam bahasa target dalam rank yang sama. Pergeseran makro terjadi dalam kawasan ranah teks yang melibatkan semua variabel tekstur, konteks (situasi dan sosio-budaya), dan gaya dan muncul dipermukaan sebagai pergeseran semantik dan pragmatik. Pergeseran semantik yang muncul berupa perluasan, penyempitan dan penyimpangan makna leksikal berupa pergeseran sudut pandang, atau perspektif. Pergeseran pragmatik yang terjadi pada dasarnya menyangkut pergeseran kohesi (hubungan kohesi intrakalimat atau hubungan lokal) dan koherensi (hubungan kohesif antarkalimat atau hubungan global) yang bersifat tekstual seperti misalnya acuan (references), elipsis.</description>
      <pubDate>Mon, 27 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26678</guid>
      <dc:date>2011-06-27T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Harahap, Rosmawaty</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah-masalah kesepadanan dan pergeseran dalam teks terjemahan fiksi Halilian Angkola-Indonesia. Secara teoretis diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi peneliti bahasa dan budaya, karena dalam teks terdapat kekhasan bahasa dan budaya yang dapat digunakan sebagai pembanding teori gramatika universal. Dan sebagai pengajar, kajian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk melakukan kajian teks terjemahan. Bagi para mahasiswa Jurusan Bahasa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan kajian terhadap bentuk lingual yang dimiliki budaya tertentu. Secara praktis, diharapkan dapat memberikan kontribusi tentang pentingnya memahami dan melestarikan budaya melalui bahasa terutama bagi generasi penerus supaya nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tidak sampai luntur. Hal ini berkaitan dengan penggunaan bahasa daerah apakah keunikan atau kekhasan bahasa daerah tersebut memiliki kewibawaan bagi generasi selanjutnya.&#xD;
	Data penelitian terdiri tiga teks fiksi terjemahan dalam bahasa angkola yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia yaitu; teks 1) NPR pertama sekali memang dalam bentuk lengkap/penuh, yang terdiri atas 521 klausa, 2) teks BNH terdiri atas 206 klausa, 3) teks Bittot Van De Longas terdiri atas 46,76%, teks BNH kepadatan klausa 18,49%  dan teks BVD kepadatan klausa 34%.&#xD;
	Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilandasi oleh kerangka teori yang bersifat plural dan elektik (text-based theory dan translator-based theory) di satu sisi dan di sisi lain form-based translation dan meaning-based translation yang diterapkan secara manasuka, parsial, atau simultan mengingat hakekat terjemahan sebagai suatu bidang ilmu terapan dan kompleksitas fenomena penerjemahan itu sendiri.&#xD;
	Fokus kajian terletak pada kesepadanan dan pergeseran makna pada teks fiksi Halilian Angkola-Indonesia ini, teori semantik sebagai pisau analisis termasuk: (1) reference theory yang bisa mengungkapkan hubungan antar kata dengan entitas melalui cara tertentu; (2) relasi makna atau meaning postulates yang bisa menangani hubungan kemiripan dan keberbedaan antar konsep, dan (3) componential analysis yang mampu melihat tipe kesepadanan lintas bahasa dan pergeseran makna sebagai akibat dari proses pemadanan.&#xD;
	Pergeseran terjadi akibat adanya kesenjangan bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa target. Dalam pemadaman ketiga teks sumber terjadi secara bersamaan penyesuaian berupa pergeseran dari suatu sistem linguistik dan sistem sosio-kultural (Angkola) ke dalam sistem linguistik dan sistem sosio-kultural yang lain (Indonesia). Fenomena penyesuaian berwujud (1) pergeseran mikro (micro shift) dan (2) pergeseran makro (macro shift). Pergeseran mikro muncul sebagai pergeseran vertikal yang mengarah ke atas di mana unit bahasa sumber disubsitusi dengan unit yang lebih tinggi rank-nya dalam bahasa target dan sebaliknya pergeseran yang mengarah ke bawah, unit bahasa sumber disubsitusi dengan unit yang lebih rendah rank-nya dalam bahasa serta pergeseran horizontal atau pergeseran intrasistem (intta system shift) yang berwujud realisasi padanan yang berbeda dari suatu unit bahasa sumber dalam bahasa target dalam rank yang sama. Pergeseran makro terjadi dalam kawasan ranah teks yang melibatkan semua variabel tekstur, konteks (situasi dan sosio-budaya), dan gaya dan muncul dipermukaan sebagai pergeseran semantik dan pragmatik. Pergeseran semantik yang muncul berupa perluasan, penyempitan dan penyimpangan makna leksikal berupa pergeseran sudut pandang, atau perspektif. Pergeseran pragmatik yang terjadi pada dasarnya menyangkut pergeseran kohesi (hubungan kohesi intrakalimat atau hubungan lokal) dan koherensi (hubungan kohesif antarkalimat atau hubungan global) yang bersifat tekstual seperti misalnya acuan (references), elipsis.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Deiksis Dalam Bahasa Mandailing</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26665</link>
      <description>Authors: Hasibuan, Namsyah Hot
Advisors: Siregar, Bahren Umar; Sibarani, Berlin; Gurning, Busmin
Abstract: Deixis in bahasa Mandailing had specifically been selected an object of this research. To the best of my knowledge there hasn’t been research specifically on the same topic. Apart from this background deixis as the focus of the study is viewed to have an important function in language use. It is predictable that to describe something will be difficult if we do not use deictic expressions such as pronouns, demonstratives, terms of address. Deixis as it is perceived as an act of referring to entities by using  certain linguistic expressions (deictic expression), has three main functions. Firstly, to represent the referent intended by the speaker into his utterance. Secondly, to specify the intended referent among possible referents, and the third one is, to direct the addressee’s attenton to the speaker’s intended referent. &#xD;
	There are three abbreviated questions as the focus pertaining with deixis in bahasa Mandailing, and the answers for them expected from this research. The questions are: (1) how is deictic expressions respectively used, (2) how do the linguistic deictic expressions in every kind of it emerge, and (3) what kind of  uniqueness can be found in every kind of deixis. &#xD;
	Due to the qualitative-descriptive feature of this research, descriptive answers to those three questions would be a special informative source of deixis in bahasa Mandailing, and an additional information for pragmatic study of language. Data collection in obtaining the descriptions about the five kinds of deixis (personal, spacial, temporal, social, and discourse deixis) had been carried out. The last two kinds of deixis make this study different from the previous ones. &#xD;
	The process of data analysis was firstly conducted by classifying the kind of deixis according to the theoretical frame work. Linguistic elements classified theoretically as deixis expressions, then how they are used according to the field observation and the informant’s descriptions are described. The result of analysis showed that there are tendencies that the use of personal pronoun can not be separated from it’s term of kinship. Refering by using personal pronoun is influenced by the use of term of kinship. The use of personal pronoun is suggested to be accompanied by appropriate term of kinship, but the use of term of kinship does not need to be accompanied by personal pronoun. The numbers of bound forms of personal pronoun in bahasa Mandailing are more than that of it’s free forms. This occurs because of the existence of a number of free forms with more than one bound form. &#xD;
	In spacial deixis of bahasa Mandailing, not all of the spacial expressions can directly be stated as deictic expressions. Therefore, criteria to define whether they are deictic are needed based on the speaker’s perspective. In addition, a symmetrical relation is found between the same kinds of it’s demonstratives in stating relative distance between the referent and the speaker, or between the referent to both speaker and the addressee.  &#xD;
	In terms of temporal deixis, the use of expression is the same as that in spacial deixis. The temporal expression will be deictic if the speaker is centre of deixis when he or she refers to something. There are three days before and after the day of referring which cannot be referred to with the names of the day because bahasa Mandailing has special deictic terms in referring to those days. &#xD;
	In terms of social deixis, the dominant use of kinship terms is found in referring to the addressee. It is possible to ignore the use of other terms if the terms used to refer consist of kinship terms. Referring to the addressee, kinship terms also  informs the kinship relation between the addressee and the speaker. There are also several sole kinship terms that can be used to refer to different person. In practice, several phrasal kinship terms can be shortened only by using it’s nuclei. &#xD;
	In terms of discourse deixis, one certain deictic expression can be used to refer to a part of discourse which is being or will be refered. To know it’s referent, we need to understand it’s utterance context. If there is no part of discourse after it, it refers to the part of discourse being uttered.
Abstract (other language): Penelitian ini secara khusus memilih deiksis dalam bahasa Mandailing sebagai objeknya. Sejauh yang penulis ketahui, belum ditemukan adanya penelitian khusus sebelumnya dengan topik yang sama. Deiksis sebagai pilihan objek penelitian, selain hal yang baru disebutkan, didasarkan juga pada pentingnya fungsi yang dimilikinya dalam penggunaan bahasa. Dapat diperkirakan, akan ditemukan kendala dalam menerangkan sesuatu apabila pelibatan deiksis (seperti penggunaan pronomina, demonstrativa, bentuk sapaan) tidak terdapat di dalamnya. Deiksis yang dapat dipersepsi sebagai tindak pengacuan terhadap sesuatu dengan unsur lingual tertentu (deictic expression)  memiliki tiga fungsi penting. Yang pertama adalah menghadirkan acuan yang dimaksud oleh penutur ke dalam tuturannya. Kedua, menspesifikasi acuan tertentu dari sejumlah kemungkinan acuan, dan yang ketiga, untuk menggiring perhatian mitra tutur kepada acuan yang dimaksudkan oleh penutur. &#xD;
	Tiga masalah berkenaan dengannya telah dirumuskan sebagai fokus untuk dicarikan jawabannya melalui penelitian ini. Masalahnya adalah: (1) bagaimana setiap ekspresi deiksis digunakan, (2) bagaimana perwujudan lingual ekspresi deiksis dalam setiap jenisnya dimunculkan, dan (3) keunikan apa yang ditemukan dalam setiap jenis deiksis. &#xD;
	Oleh karena penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif, hasil pemerian, sebagai jawaban terhadap ketiga masalah tersebut akan menjadi bahan informatif tentang deiksis bahasa Mandailing pada khususnya, dan kajian pragmatik pada umumnya. Sebagai upaya untuk diperolehnya hasil informatif tersebut, telah dilakukan pengumpulan data dari lima jenis deiksis, yang meliputi deiksis persona, deiksis ruang, deiksis waktu, deiksis sosial, dan deiksis wacana. Penyertaan dua jenis terakhir merupakan hal yang membuat hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian tentang deiksis sebelumnya. &#xD;
	Proses analisis data diawali melalui metode klasifikasi menurut masing-masing jenis deiksisnya dalam kerangka teori. Unsur lingual yang diklasifikasi sebagai ekspresi deiksis berdasarkan kerangka teoretis yang digunakan, selanjutnya, diperikan, bagaimana masing-masing digunakan berdasarkan pengamatan lapangan dan informasi dari para informan. Dari paparan dan analisis, diperoleh hasil bahwa dalam deiksis persona, penggunaan pronomina untuk mengacu orang tidak lepas dari pengaruh dominan penggunaan istilah kekerabatan. Pengacuan dengan pronomina persona dipengaruhi oleh penggunaan istilah kekerabatan. Penggunaan pronomina persona menghendaki adanya pengombinasian dengan istilah kekerabatan yang sesuai, tetapi penggunaan istilah kekerabatan tidak menghendaki pengombinasiannya dengan pronomina persona. Bentuk terikat pronomina persona bahasa Mandailing lebih banyak daripada bentuk bebasnya. Hal demikian disebabkan terdapatnya sejumlah bentuk bebas dengan kepemilikan bentuk terikat lebih dari satu.&#xD;
	Dalam deiksis ruang bahasa Mandailing tidak semua ekspresi ruang secara langsung dapat dinyatakan bersifat deiktis. Oleh karenanya diperlukan kriteria penetapan kedeiktisan dengan mendasarkan penggunaannya pada perspektif penutur. Hal lain yang ditemukan adalah, adanya hubungan bersifat simetris di antara sesama jenis demonstrativanya dalam menyatakan jarak relatif antara acuan dengan penutur atau antara acuan dengan penutur dan mitra tuturnya. &#xD;
	Dalam deiksis waktunya, masalah kedeiktisan sama halnya dengan yang terdapat dalam deiksis ruang. Ekspresi lingual pengungkap waktu deiktis sifatnya apabila yang menjadi pusat deiksis dalam pengacuan adalah penuturnya.  Terdapat tiga hari sebelum dan sesudah hari tuturan, dalam bahasa Mandailing, yang tidak dapat diacu dengan menyebut nama harinya karena terdapat ekspresi deiksis khusus untuk mengacu masing-masing hari tersebut. &#xD;
	Dalam deiksis sosial dominasi penggunaan istilah kekerabatan tetap ditemukan dalam mengacu mitra tutur. Istilah-istilah lain di luar istilah kekerabatan dapat diabaikan penggunaannya asalkan yang digunakan untuk mengacu atau menyapa mitra tutur itu adalah istilah kekerabatan. Terhadap orang yang menjadi mitra tutur, pengacuannya dengan ekspresi deiksis berupa istilah kekerabatan adalah penginformasian sekaligus hubungan kekerabatan yang terdapat antara mitra tutur dengan penutur. Di samping itu, ditemukan sejumlah istilah kekerabatan tunggal yang dapat digunakan untuk menyapa mitra tutur dalam hubungan kekerabatan yang berbeda. Hal demikian disebabkan oleh terdapatnya sejumlah isilah kekerabatan dalam bentuk frasa dengan inti yang sama, sehingga yang dijadikan sebagai pengacu atau menyapa adalah bagian intinya. &#xD;
	Dalam deiksis wacananya, terdapat penggunaan ekspresi deiksis yang sama untuk mengacu bagian wacana yang berbeda. Untuk mengetahui bagian wacana yang menjadi acuannya diperlukan pemahaman konteks. Apabila bagian wacana tidak ditemukan sesudahnya, yang menjadi acuan adalah tuturan terdapatnya ekspresi deiksis tersebut pada saat pengacuan.</description>
      <pubDate>Mon, 27 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26665</guid>
      <dc:date>2011-06-27T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hasibuan, Namsyah Hot</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini secara khusus memilih deiksis dalam bahasa Mandailing sebagai objeknya. Sejauh yang penulis ketahui, belum ditemukan adanya penelitian khusus sebelumnya dengan topik yang sama. Deiksis sebagai pilihan objek penelitian, selain hal yang baru disebutkan, didasarkan juga pada pentingnya fungsi yang dimilikinya dalam penggunaan bahasa. Dapat diperkirakan, akan ditemukan kendala dalam menerangkan sesuatu apabila pelibatan deiksis (seperti penggunaan pronomina, demonstrativa, bentuk sapaan) tidak terdapat di dalamnya. Deiksis yang dapat dipersepsi sebagai tindak pengacuan terhadap sesuatu dengan unsur lingual tertentu (deictic expression)  memiliki tiga fungsi penting. Yang pertama adalah menghadirkan acuan yang dimaksud oleh penutur ke dalam tuturannya. Kedua, menspesifikasi acuan tertentu dari sejumlah kemungkinan acuan, dan yang ketiga, untuk menggiring perhatian mitra tutur kepada acuan yang dimaksudkan oleh penutur. &#xD;
	Tiga masalah berkenaan dengannya telah dirumuskan sebagai fokus untuk dicarikan jawabannya melalui penelitian ini. Masalahnya adalah: (1) bagaimana setiap ekspresi deiksis digunakan, (2) bagaimana perwujudan lingual ekspresi deiksis dalam setiap jenisnya dimunculkan, dan (3) keunikan apa yang ditemukan dalam setiap jenis deiksis. &#xD;
	Oleh karena penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif, hasil pemerian, sebagai jawaban terhadap ketiga masalah tersebut akan menjadi bahan informatif tentang deiksis bahasa Mandailing pada khususnya, dan kajian pragmatik pada umumnya. Sebagai upaya untuk diperolehnya hasil informatif tersebut, telah dilakukan pengumpulan data dari lima jenis deiksis, yang meliputi deiksis persona, deiksis ruang, deiksis waktu, deiksis sosial, dan deiksis wacana. Penyertaan dua jenis terakhir merupakan hal yang membuat hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian tentang deiksis sebelumnya. &#xD;
	Proses analisis data diawali melalui metode klasifikasi menurut masing-masing jenis deiksisnya dalam kerangka teori. Unsur lingual yang diklasifikasi sebagai ekspresi deiksis berdasarkan kerangka teoretis yang digunakan, selanjutnya, diperikan, bagaimana masing-masing digunakan berdasarkan pengamatan lapangan dan informasi dari para informan. Dari paparan dan analisis, diperoleh hasil bahwa dalam deiksis persona, penggunaan pronomina untuk mengacu orang tidak lepas dari pengaruh dominan penggunaan istilah kekerabatan. Pengacuan dengan pronomina persona dipengaruhi oleh penggunaan istilah kekerabatan. Penggunaan pronomina persona menghendaki adanya pengombinasian dengan istilah kekerabatan yang sesuai, tetapi penggunaan istilah kekerabatan tidak menghendaki pengombinasiannya dengan pronomina persona. Bentuk terikat pronomina persona bahasa Mandailing lebih banyak daripada bentuk bebasnya. Hal demikian disebabkan terdapatnya sejumlah bentuk bebas dengan kepemilikan bentuk terikat lebih dari satu.&#xD;
	Dalam deiksis ruang bahasa Mandailing tidak semua ekspresi ruang secara langsung dapat dinyatakan bersifat deiktis. Oleh karenanya diperlukan kriteria penetapan kedeiktisan dengan mendasarkan penggunaannya pada perspektif penutur. Hal lain yang ditemukan adalah, adanya hubungan bersifat simetris di antara sesama jenis demonstrativanya dalam menyatakan jarak relatif antara acuan dengan penutur atau antara acuan dengan penutur dan mitra tuturnya. &#xD;
	Dalam deiksis waktunya, masalah kedeiktisan sama halnya dengan yang terdapat dalam deiksis ruang. Ekspresi lingual pengungkap waktu deiktis sifatnya apabila yang menjadi pusat deiksis dalam pengacuan adalah penuturnya.  Terdapat tiga hari sebelum dan sesudah hari tuturan, dalam bahasa Mandailing, yang tidak dapat diacu dengan menyebut nama harinya karena terdapat ekspresi deiksis khusus untuk mengacu masing-masing hari tersebut. &#xD;
	Dalam deiksis sosial dominasi penggunaan istilah kekerabatan tetap ditemukan dalam mengacu mitra tutur. Istilah-istilah lain di luar istilah kekerabatan dapat diabaikan penggunaannya asalkan yang digunakan untuk mengacu atau menyapa mitra tutur itu adalah istilah kekerabatan. Terhadap orang yang menjadi mitra tutur, pengacuannya dengan ekspresi deiksis berupa istilah kekerabatan adalah penginformasian sekaligus hubungan kekerabatan yang terdapat antara mitra tutur dengan penutur. Di samping itu, ditemukan sejumlah istilah kekerabatan tunggal yang dapat digunakan untuk menyapa mitra tutur dalam hubungan kekerabatan yang berbeda. Hal demikian disebabkan oleh terdapatnya sejumlah isilah kekerabatan dalam bentuk frasa dengan inti yang sama, sehingga yang dijadikan sebagai pengacu atau menyapa adalah bagian intinya. &#xD;
	Dalam deiksis wacananya, terdapat penggunaan ekspresi deiksis yang sama untuk mengacu bagian wacana yang berbeda. Untuk mengetahui bagian wacana yang menjadi acuannya diperlukan pemahaman konteks. Apabila bagian wacana tidak ditemukan sesudahnya, yang menjadi acuan adalah tuturan terdapatnya ekspresi deiksis tersebut pada saat pengacuan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Optimasi  Pembuatan Asam Stearat Berbasis Refined Bleached Deodorized Palm Stearin (RBDPS)Yang Stabil Sesuai Standar Mutu</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26433</link>
      <description>Authors: Ritonga, Muhammad Yusuf.
Advisors: Marpaung, Harlem; Wirjosentono, Basuki; Herawan, Tjahjono
Abstract: The optimization of  stearic  acid production  with the stable quality had been done in this research. The back ground this research to produce and purify “stearic acid -1840 base on RBDPS on comercial scale was it standar quality of distilled Stearic Acid (DAS) could not be produced normaly and stable by distillation. Heat stability quality DAS was so freqwent out off specs than quality standar, eventhough was produced with the same intermediate raw material HSRBDPSFA (Hydrogenated Splitted RBPS Fatty Acid) with : iodine value 0,80 g/100 g, feed capacity was only 5.5 ton/hr, the average production yield DAS was only 85.0 % and with the bottom main distiller temperature reached 213 oC, light end (lower boiling point) production yield reached 5 %  and residue (higher boiling point) production yield, reached 10 % of usage feed rate. Separation and reduction of chemicals substance impurities such as odor, color bodies, double bond and fatty acid with the chain of atom carbon lower or same with C14 that was so sensitive to oxidize and changing of temperature/heat , so effect to fatty acid heat stability, it’s a general basic for this research . Base on this the effect of reduction iodine value (IV) of Crude Stearic Acid feed, increament of feed flow (F) and bottom main distiller (B MD) temperature was optimised to produced DAS according to quality standard. A factorial design with 3 independent variables (3 X 2 X 3) also Statistical Process Control (SPC) was applied to study and observe the effects and the trend of changing  of production yield, IV dan h/s DAS, acid (AV) also residue production yield. The experiment was done at plant scale on PT. Flora Sawita Chemindo distillation plant’s. The optimum  distillation process condition was found on feed IV 0,60 g/100 g at feed F  6,0 ton/jam, B MD temperature 222 oC, DAS, residue and distillate -2 production yield was found for each 90,783 %, 4,96 % and 2.54 %, that  produce  DAS with stable quality on IV and heat stability DAS 0.175 g/100 g and 0.6 R/5.45 Y for each (&lt; maximum standard). DAS quality was met the standar quality that was settled and met the stabilization criteria of Statistic Process Control (SPC). The results of this optimization had produced stearic acid distillate with the stable quality by a simple methode, saw as a good finding to produce stearic acid base on RBDPS.
Abstract (other language): Optimasi produksi asam starat dengan mutu stabil dari BDPS telah dilakukan dalam penelitian ini. Hal ini dilatar belakangi, pada pembuatan dan pemurnian “asam stearat -1840 berbasis RBDPS” pada skala komersial, mutu Distillat Asam Stearat (DAS) yang sesuai standar belum dapat diproduksi secara normal dan stabil dari proses distillasi. Parameter mutu heat stability (h/s) atau kestabilan warna DAS sering tidak memenuhi standar mutu, walau dibuat dengan mutu bahan baku intermediate HSRBDPSFA (Hydrogenated Splitted RBPS Fatty Acid) yang relatif sama dengan : bilangan iodium (IV) 0,80 g/100 g, kapasitas umpan 5,5 ton/jam, rerata tingkat produksi DAS hanya 85,0 %,  dengan suhu bagian bawah kolom pemisah utama turun mencapai 213 oC, tingkat produksi fraksi ringan (lower boiling point), hingga 5 % dan residue (higher boiling point), hingga 10 % dari total bahan baku yang digunakan. Pemisahan dan pengurangan bahan – bahan kimia pengotor (impurities) berupa bahan penyebab bau (odor), warna (color bodies), ikatan rangkap dan asam lemak berantai atom karbon yang lebih pendek mulai dari C14 yang sensitif  pada oksidasi dan perubahan suhu/panas, sangat berpengaruh pada kestabilan warna asam lemak, menjadi prinsip dasar percobaan dan penelitian yang dilakukan. Atas dasar ini pengaruh penurunan bilangan iodium (IV) dan kecepatan alir (F) Umpan serta dan suhu bottom main distiller (B MD) dioptimasi untuk memproduksi DAS dengan mutu yang sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Rancangan percobaan menggunakan metode Eksperimen Faktorial 3 x 2 x 3, model tetap dengan ulangan 2 kali serta Statistical Process Control (SPC) dalam mengamati kecenderungan perubahan tingkat produksi, IV dan h/s DAS, bilangan asam (AV) serta tingkat produksi residue. Optimasi dilakukan dengan skala pabrik pada fasilitas pabrik PT. Flora Sawita Chemindo. Fakta hasil optimasi menunjukkan ketiga faktor yang dioptimasi berpengaruh pada kestabilan warna/heat stability atau mutu DASA. Kondisi optimum proses distillasi didapatkan pada IV umpan 0,60 g/100 g pada F umpan 6,0 ton/jam, suhu B MD 222 oC, tingkat produksi DAS, residue dan distillat -2 yang diperoleh masing – masing 90,783 %, 4,96 % dan 2,54 %, yang menghasilkan DAS dengan mutu yang  stabil  pada IV dan heat stability DAS masing –masing 0,175 g/100g dan 0,6 R/5,45 Y (&lt; harga standar maksimum), Mutu DAS yang diperoleh memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan memenuhi kriteria kestabilan Statistic Process Control (SPC). Hasil optimasi ini telah menghasilkan distillat asam stearat dengan mutu stabil dengan metode sederhana, merupakan suatu sumbangan bagai pembuatan asam stearat dari RBDPS.</description>
      <pubDate>Wed, 22 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26433</guid>
      <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ritonga, Muhammad Yusuf.</dc:creator>
      <dc:description>Optimasi produksi asam starat dengan mutu stabil dari BDPS telah dilakukan dalam penelitian ini. Hal ini dilatar belakangi, pada pembuatan dan pemurnian “asam stearat -1840 berbasis RBDPS” pada skala komersial, mutu Distillat Asam Stearat (DAS) yang sesuai standar belum dapat diproduksi secara normal dan stabil dari proses distillasi. Parameter mutu heat stability (h/s) atau kestabilan warna DAS sering tidak memenuhi standar mutu, walau dibuat dengan mutu bahan baku intermediate HSRBDPSFA (Hydrogenated Splitted RBPS Fatty Acid) yang relatif sama dengan : bilangan iodium (IV) 0,80 g/100 g, kapasitas umpan 5,5 ton/jam, rerata tingkat produksi DAS hanya 85,0 %,  dengan suhu bagian bawah kolom pemisah utama turun mencapai 213 oC, tingkat produksi fraksi ringan (lower boiling point), hingga 5 % dan residue (higher boiling point), hingga 10 % dari total bahan baku yang digunakan. Pemisahan dan pengurangan bahan – bahan kimia pengotor (impurities) berupa bahan penyebab bau (odor), warna (color bodies), ikatan rangkap dan asam lemak berantai atom karbon yang lebih pendek mulai dari C14 yang sensitif  pada oksidasi dan perubahan suhu/panas, sangat berpengaruh pada kestabilan warna asam lemak, menjadi prinsip dasar percobaan dan penelitian yang dilakukan. Atas dasar ini pengaruh penurunan bilangan iodium (IV) dan kecepatan alir (F) Umpan serta dan suhu bottom main distiller (B MD) dioptimasi untuk memproduksi DAS dengan mutu yang sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Rancangan percobaan menggunakan metode Eksperimen Faktorial 3 x 2 x 3, model tetap dengan ulangan 2 kali serta Statistical Process Control (SPC) dalam mengamati kecenderungan perubahan tingkat produksi, IV dan h/s DAS, bilangan asam (AV) serta tingkat produksi residue. Optimasi dilakukan dengan skala pabrik pada fasilitas pabrik PT. Flora Sawita Chemindo. Fakta hasil optimasi menunjukkan ketiga faktor yang dioptimasi berpengaruh pada kestabilan warna/heat stability atau mutu DASA. Kondisi optimum proses distillasi didapatkan pada IV umpan 0,60 g/100 g pada F umpan 6,0 ton/jam, suhu B MD 222 oC, tingkat produksi DAS, residue dan distillat -2 yang diperoleh masing – masing 90,783 %, 4,96 % dan 2,54 %, yang menghasilkan DAS dengan mutu yang  stabil  pada IV dan heat stability DAS masing –masing 0,175 g/100g dan 0,6 R/5,45 Y (&lt; harga standar maksimum), Mutu DAS yang diperoleh memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan memenuhi kriteria kestabilan Statistic Process Control (SPC). Hasil optimasi ini telah menghasilkan distillat asam stearat dengan mutu stabil dengan metode sederhana, merupakan suatu sumbangan bagai pembuatan asam stearat dari RBDPS.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Tematisasi Dalam Translasi Dwibahasa: Teks Bahasa Indonesia-Inggris</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26421</link>
      <description>Authors: Muchtar, Muhizar
Advisors: Sinar, T. Silvana; Saragih, Amrin; Tou, 3.	Asruddin Barori
Abstract: This research that uses Linguistics Systemic Functional (LSF) and Larson’s and Catford’s theories of translation is basically to observe the fronting idea and modeling in translation. Fronting idea can be seen from the theme and the shift of theme when translating. This theme and rheme system is as part of LSF theory, whilst the ways or systems of translation are seen from Larson’s and Catford’s theories. As a result, by combining these two theories it can be yielded a new rule in translating English as a source language and Indonesian as the target one. &#xD;
	There are five different texts as the samples of the research through text identification. They are (1) The British Council, consists of (a) “Dari Nonton Bal sampai Rindu Sambal” and (b)” Pasar Kerja Alumni”; (2) Political Speech: Masalah Luar Negeri: Timur Tengah tetap Vital bagi Kepentingan AS; (3) Text: Coming to Terms with Technology in Connexions; (4) Text: (a) the importance of English in Indonesia,(b) Folktale, (c) book entitled; (5) Text:  Islamic Speech. Each of the text is identified of its Theme and Rheme wether Marked Theme, Unmarked Theme, Simple Theme, Complex Theme, in both singular or plural types. From this identification it can be known the shift of theme in translation and how they are happened. From the identification, it can be also known the factors caused the shifts of the theme. &#xD;
	The results of the analysis of the five texts in their translations, it is known that first of all, Plural Topical Marked Theme is the dominant theme in both languages. Secondly, there are seven types of theme shift in both languages, i.e. (1) the shift in simple theme becomes complex or vice versa, (2) the shift in singular theme becomes plural or vice versa, (3) the shift in marked theme becomes unmarked ones or vice versa, (4) the shift in theme position, (5) additional theme, (6) omission, and (7) changing theme. Thirdly, the factors that influence the theme shifts in translation are caused by shifts of language units from theme or rheme or vice versa. Besides, it is also found that the additional of language units from English to Indonesian or vice versa, such as conjunctions, circumstance of place, manner, and time. On the contrary, it can also be caused by the existence of omission of language unit from English to Indonesian or vice versa. The shifts, additions, and omissions of language units cause and influence the forms, types, and the number of themes from Singular theme becomes Plural ones and vice versa, and from Simple theme becomes the comples ones or vice versa.
Abstract (other language): Penelitian yang menggunakan teori Systemic Functional Linguistics serta teori Translasi Larson dan Cadford ini pada dasarnya untuk melihat pengedepanan ide  dan pemodelan dalam translasi. Pengedepanan ide ini dilihat dari Tema dan pergeseran Tema saat penerjemahan. Sistem Tema dan Rema inilah yang merupakan bagian dari teori Linguistik Sistemik Fungsional. Sedangkan tata cara atau sistem penerjemahan itu sendiri dilihat dari teori Translasi Larson dan Cadford. Maka, dengan penggabungan dua teori ini akan menghasilkan kaidah penerjemahan  bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber atau sebagai bahasa sasaran. &#xD;
	Lima jenis teks yang berbeda menjadi sample penelitian melalui uji teks atau identifikasi teks. Kelima teks tersebut adalah (1) British Council, yang meliputi  (a) “Dari Nonton Bal sampai Rindu Sambal” dan (b) “Pasar Kerja Alumni” ; (2) Pidato Politik: Masalah Luar Negeri: Timur Tengah tetap Vital bagi Kepentingan AS; (3) Majalah Connexions: Merangkul Teknologi; (4) Majalah Pelangi yang meliputi (a) “Pentingnya Bahasa Inggris di Indonesia”, (b) Dongeng, (c) Kotak Surat; (5) Ceramah: Mempedulikan Nasib Kemanusiaan. Setiap teks diidentifikasi atas Tema dan Rema, baik Tema Bermarkah, Tema Tak Bermarkah, Tema Sederhana, Tema Kompleks, Tema Tunggal, maupun Tema Majemuk. Dari hasil identifikasi inilah diketahui adanya pergeseran tema dalam translasi dan bagaimana terjadinya pergeseran tema dalam translasi. Dari identifikasi ini juga diketahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran Tema.&#xD;
	Hasil Penelitian terhadap kelima teks ini dalam translasinya diketahui, pertama, Tema Topikal Majemuk bermarkah merupakan tema dominan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kedua, terdapat tujuh jenis pergeseran tema dalam dwibahasa Inggris-Indonesia, yaitu (1) pergeseran tema sederhana menjdi kompleks atau sebaliknya, (2) pergeseran tema tunggal menjdi majemuk atau sebaliknya, (3) pergeseran tema  bermarkah menjadi tak bermarkah atau sebaliknya, (4) pergeseran  posisi tema, (5) penambahan tema, (6)  pelesapan, dan (7) perubahan tema. Ketiga, faktor yang mempengaruhi pergeseran tema dalam translasi disebabkan oleh pergeseran unit bahasa dari Tema ke Rema atau sebaliknya. Selain itu juga ditemukan penambahan unit bahasa dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya seperti konjungsi, sirkumstan tempat, cara, dan waktu. Sebaliknya juga dapat disebabkan adanya pelesapan suatu unit bahasa dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya. Pergeseran, penambahan dan pelesapan unit-unit bahasa tersebut menyebabkan dan mempengaruhi bentuk, jenis, dan jumlah tema dari Tema Tunggal menjadi Tema Majemuk dan sebaliknya, dan dari Tema Sederhana menjadi Tema Kompleks dan sebaliknya.</description>
      <pubDate>Wed, 22 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26421</guid>
      <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Muchtar, Muhizar</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian yang menggunakan teori Systemic Functional Linguistics serta teori Translasi Larson dan Cadford ini pada dasarnya untuk melihat pengedepanan ide  dan pemodelan dalam translasi. Pengedepanan ide ini dilihat dari Tema dan pergeseran Tema saat penerjemahan. Sistem Tema dan Rema inilah yang merupakan bagian dari teori Linguistik Sistemik Fungsional. Sedangkan tata cara atau sistem penerjemahan itu sendiri dilihat dari teori Translasi Larson dan Cadford. Maka, dengan penggabungan dua teori ini akan menghasilkan kaidah penerjemahan  bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber atau sebagai bahasa sasaran. &#xD;
	Lima jenis teks yang berbeda menjadi sample penelitian melalui uji teks atau identifikasi teks. Kelima teks tersebut adalah (1) British Council, yang meliputi  (a) “Dari Nonton Bal sampai Rindu Sambal” dan (b) “Pasar Kerja Alumni” ; (2) Pidato Politik: Masalah Luar Negeri: Timur Tengah tetap Vital bagi Kepentingan AS; (3) Majalah Connexions: Merangkul Teknologi; (4) Majalah Pelangi yang meliputi (a) “Pentingnya Bahasa Inggris di Indonesia”, (b) Dongeng, (c) Kotak Surat; (5) Ceramah: Mempedulikan Nasib Kemanusiaan. Setiap teks diidentifikasi atas Tema dan Rema, baik Tema Bermarkah, Tema Tak Bermarkah, Tema Sederhana, Tema Kompleks, Tema Tunggal, maupun Tema Majemuk. Dari hasil identifikasi inilah diketahui adanya pergeseran tema dalam translasi dan bagaimana terjadinya pergeseran tema dalam translasi. Dari identifikasi ini juga diketahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran Tema.&#xD;
	Hasil Penelitian terhadap kelima teks ini dalam translasinya diketahui, pertama, Tema Topikal Majemuk bermarkah merupakan tema dominan baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kedua, terdapat tujuh jenis pergeseran tema dalam dwibahasa Inggris-Indonesia, yaitu (1) pergeseran tema sederhana menjdi kompleks atau sebaliknya, (2) pergeseran tema tunggal menjdi majemuk atau sebaliknya, (3) pergeseran tema  bermarkah menjadi tak bermarkah atau sebaliknya, (4) pergeseran  posisi tema, (5) penambahan tema, (6)  pelesapan, dan (7) perubahan tema. Ketiga, faktor yang mempengaruhi pergeseran tema dalam translasi disebabkan oleh pergeseran unit bahasa dari Tema ke Rema atau sebaliknya. Selain itu juga ditemukan penambahan unit bahasa dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya seperti konjungsi, sirkumstan tempat, cara, dan waktu. Sebaliknya juga dapat disebabkan adanya pelesapan suatu unit bahasa dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya. Pergeseran, penambahan dan pelesapan unit-unit bahasa tersebut menyebabkan dan mempengaruhi bentuk, jenis, dan jumlah tema dari Tema Tunggal menjadi Tema Majemuk dan sebaliknya, dan dari Tema Sederhana menjadi Tema Kompleks dan sebaliknya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penggunaan Petanda Biokimia Asam Hialuronat Serum Dan CTX-II Urin  Terhadap Penilaian Hasil Pengobatan Osteoartritis Lutut</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26002</link>
      <description>Authors: Marpaung, Blondina
Advisors: Sjah, OK Moehad; Tehupeiory, Edu S; Lim, Hadyanto
Abstract: Background&#xD;
Knee osteoarthritis (OA)  is the most common form of arthritis and often leads to chronic disabilities. The etiopathogenesis of OA is not known completely. It was suggested that inflammatory had a  role in OA.  Joint space narrowing measurable by radiographs tends to occur late in the disease. Another way of assessing structural changes in OA is by measuring biomarkers. Several biomarkers of bone, cartilage, and synovium which are indicative of OA may be useful for identifying patients at high risk for progression of the disease and for assessing therapeutic responses, as they show changes more rapidly than radiographic assessmement. None of the studies have used  biomarkers to evaluate therapeutic outcomes of knee OA&#xD;
&#xD;
Objective&#xD;
To assess therapeutic outcomes of OA using both biological markers serum hyaluronic acid (sHA) and urinary CTX-II ( uCTX-II) .&#xD;
&#xD;
Methods&#xD;
This is an experimental prospective study, randomized, double blind, placebo controlled and parallel  12 weeks clinical trials with follow-up. Forty four (44) patients with knee osteoarthritis (according to ACR criteria 2000) were divided into 2 groups, 22 patients were with diacerein and 22 patients without diacerein. The following characteristics were reported at baseline: demographic data (age, sex), body mass index, duration of OA, severity of OA classified by Kellgren Lawrence grading system, VAS (Visual Analogue Scale) used to assess pain during daily activities, Lequesne’s index (LI) to assess functional disability and two biomarkers serum hyaluronic acid (sHA) and urinary C-Terminal Crosslinking Telopeptides of Collagens type II &#xD;
( uCTX-II). After 12 weeks of treatment VAS, LI, sHA and uCTX-II were measured to evaluate therapeutic progression. Basic characteristics at the baseline and the end of study were analyzed in terms of mean ± standard deviation by independent t test. T paired test for VAS, LI, sHA and uCTX-II show the difference between baseline to the end of treatment for both group I and II. The Pearson and Spearmen’s correlation test are used to assess association between variable for both group I and II. at baseline to the end of treatment. A p value &lt;0.05 is considered as statistically significant. All analyses were carried out with SPSS Software for windows version 15.0.&#xD;
&#xD;
Results&#xD;
Basic characteristics were compared between the two treatment groups. There was no significant difference between the groups at baseline (p&gt;0.05). All patients completed  12 weeks of treatment and both the two treatment groups showed statistically significant lowering of both the VAS and LI compared to the baseline (p=0.0001and p=0.0001, respectively and p=0.002 and p=0.0001, respectively). SHA and uCTX-II were reduced significantly compared to the baseline in the group receiving diacerein  (p=0.005 and p=0.001, respectively). The value of sHA and uCTX-II were reduced compared to the baseline in the group without the diacerein but not statistically significant (p= 0.832 and p= 0.146, respectively). At the end of the treatment, the addition of diacerein gives a statistically significant difference on the symptomatic modification effect assessed using endline VAS and LI compared to the group without diacerein ( p values respectively = 0.015 and 0.0001 .) The addition of diacerein had not given statistically significant difference on molecular modification effect assessed using sHA and uCTX-II compared to the group without diacerein  (respective p value = 0.511 and 0.248). There was a statistically significant positive correlation using Pearson correlation test between clinical improvement assessed with  VAS and LI with molecular improvement assessed with biological marker sHA (VAS : r=0.671;p =0.001 and LI : r=0.546; p=0.009) as well as uCTX-II ( VAS: r=0.493; p =0.020 and LI: r=0.409;p=0.05) on the diacerein group at the end of the treatment.&#xD;
&#xD;
Conclusions&#xD;
This study show that sHA and uCTX-II are useful as biomarkers in OA for monitoring the therapeutic outcomes of knee OA. The addition of diacerein has not given significant changes on the molecular modifying effect in the treatment of OA. The addition of diecerein has given significant changes on the symptom modifying effect of the treatment of OA. A positive correlation can be derived between the clinical improvement (VAS and LI ) with molecular improvement (sHA and uCTX-II) on the group treated with diacerein at the end of the study.
Abstract (other language): LATAR BELAKANG&#xD;
Osteoartritis lutut merupakan salah satu artritis yang paling sering ditemukan dan sering menimbulkan disabilitas kronis. Etiopatogenesis OA belum sepenuhnya diketahui. Inflamasi diduga berperan dalam patogenesis OA. Penyempitan  celah sendi yang diukur secara radiografi cenderung terjadi pada penyakit yang sudah lanjut. Cara lain untuk menilai perubahan struktural pada OA adalah dengan penggunaan petanda biologis. Bermacam-macam petanda biologis tulang, kartilago dan sinovial yang menggambarkan OA dapat dipakai untuk mengidentifikasi pasien dengan resiko progresifitas OA yang tinggi dan untuk menilai kemajuan pengobatan karena petanda biologis menunjukkan perubahan yang lebih cepat dibanding radiografi. Belum ada satu studi pun yang menggunakan petanda biologis dalam menilai hasil pengobatan OA.&#xD;
&#xD;
TUJUAN&#xD;
Untuk menilai hasil pengobatan OA lutut dengan menggunakan petanda biologis asam hialuronat serum dan CTX-II urin.&#xD;
&#xD;
METODE&#xD;
Studi ini merupakan prospektif eksperimental, acak, tersamar ganda , plasebo kontrol dan paralel yang difollow-up selama12 minggu. Empat puluh empat orang pasien OA lutut (berdasarkan kriteria ACR 2000) dibagi atas 2 grup terapi  yaitu tanpa diacerein dan diacerein masing-masing berjumlah 22 orang. Karakteristik dasar berikut dicatat pada awal dan akhir studi yaitu demografi (usia, jenis kelamin), 	indeks massa tubuh, lama menderita OA, derajat OA berdasarkan klassifikasi Kellgren Lawrence, Visual Analogue Scale (VAS) untuk menilai nyeri selama aktivitas sehari-hari, Lequesne’s index (LI) untuk menilai disabilitas fungsional dan pengukuran dua petanda biologis yaitu asam hialuronat serum (AHs) dan CTX-II urin (CTX-IIu). Sesudah 12 minggu pengobatan VAS, LI, AHs, dan CTX-IIu diukur kembali untuk mengevaluasi hasil pengobatan. Karakteristik dasar dianalisis dengan mean± SD menggunakan uji t independent. Uji t berpasangan untuk sampel yang berpasangan untuk membandingkan nilai VAS, LI, AHs,CTX-IIu pada awal dan akhir penelitian pada kelompok I dan II. Uji korelasi Pearson dan Spearman’s untuk menilai hubungan antar variabel pada awal dan akhir penelitian pada kelompok I dan II.  Nilai p &lt; 0.05 dianggap signifikan. Seluruh data dianalisis dengan SPSS versi 15.0.&#xD;
HASIL&#xD;
Karakteristik dasar dibandingkan diantara kedua grup terapi. Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kedua grup pada awal penelitian (p&gt;0.05). Semua pasien menyelesaikan terapi selama 12 minggu lengkap, Tampak penurunan yang signifikan terhadap nilai VAS dan LI pada kedua grup terapi dibanding dengan awal penelitian (nilai p masing-masing grup= 0.0001). dan LI (p=0.011 dan 0.0001). Penurunan signifikan secara statistik kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu pada grup terapi diacerein pada akhir penelitian dibanding dengan  awal penelitian (nilai p masing-masing p= 0.022 dan p=0.007). Tidak terdapat penurunan yang signifikan secara statistik kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu pada grup terapi tanpa diacerein pada akhir  penelitian dibanding dengan awal penelitian (nilai p= 0.871 dan nilai p=0.146). Penambahan diacerein memberikan perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap efek modifikasi secara simptomatik yang dinilai dengan penurunan nilai VAS dan LI dibanding kelompok tanpa diacerein pada akhir penelitian (masing-masing nilai p = 0.015 dan 0.0001).  Penambahan diacerein belum memberikan perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap efek modifikasi secara molekuler yang dinilai dengan penurunan kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu dibanding kelompok tanpa diacerein pada akhir penelitian (masing-masing nilai p = 0.511 dan 0.248). Terdapat korelasi positif yang signifikan secara statistik dengan uji korelasi Pearson antara perbaikan klinis yang dinilai dengan VAS dan LI dengan perbaikan secara molekuler yang dinilai dengan petanda biologis AHs pada kelompok diacerein pada akhir penelitian masing-masing (r=0.671; p=0.001 dan r=0.546; p=0.009) dan dengan petanda biologis CTX-IIu pada kelompok diacerein pada akhir penelitian masing-masing (r=0.493; p=0.020 dan r=0.409; p=0.05).&#xD;
&#xD;
KESIMPULAN&#xD;
Penelitian ini membuktikan bahwa AHs dan CTX-IIu dapat digunakan sebagai petanda biologis yang berguna dalam memonitor hasil pengobatan OA lutut. Penambahan diacerein belum memberikan hasil yang signifikan terhadap efek modifikasi molekuler dibanding tanpa diacerein dalam pengobatan OA lutut. Penambahan diacerein memberikan hasil yang signifikan terhadap efek modifikasi simptomatik dibanding tanpa diacerein dalam pengobatan OA lutut. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara perbaikan klinis (VAS dan LI) dan perbaikan molekuler (AHs dan CTX-IIu) pada kelompok diacerein pada akhir penelitian.</description>
      <pubDate>Mon, 13 Jun 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26002</guid>
      <dc:date>2011-06-13T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Marpaung, Blondina</dc:creator>
      <dc:description>LATAR BELAKANG&#xD;
Osteoartritis lutut merupakan salah satu artritis yang paling sering ditemukan dan sering menimbulkan disabilitas kronis. Etiopatogenesis OA belum sepenuhnya diketahui. Inflamasi diduga berperan dalam patogenesis OA. Penyempitan  celah sendi yang diukur secara radiografi cenderung terjadi pada penyakit yang sudah lanjut. Cara lain untuk menilai perubahan struktural pada OA adalah dengan penggunaan petanda biologis. Bermacam-macam petanda biologis tulang, kartilago dan sinovial yang menggambarkan OA dapat dipakai untuk mengidentifikasi pasien dengan resiko progresifitas OA yang tinggi dan untuk menilai kemajuan pengobatan karena petanda biologis menunjukkan perubahan yang lebih cepat dibanding radiografi. Belum ada satu studi pun yang menggunakan petanda biologis dalam menilai hasil pengobatan OA.&#xD;
&#xD;
TUJUAN&#xD;
Untuk menilai hasil pengobatan OA lutut dengan menggunakan petanda biologis asam hialuronat serum dan CTX-II urin.&#xD;
&#xD;
METODE&#xD;
Studi ini merupakan prospektif eksperimental, acak, tersamar ganda , plasebo kontrol dan paralel yang difollow-up selama12 minggu. Empat puluh empat orang pasien OA lutut (berdasarkan kriteria ACR 2000) dibagi atas 2 grup terapi  yaitu tanpa diacerein dan diacerein masing-masing berjumlah 22 orang. Karakteristik dasar berikut dicatat pada awal dan akhir studi yaitu demografi (usia, jenis kelamin), 	indeks massa tubuh, lama menderita OA, derajat OA berdasarkan klassifikasi Kellgren Lawrence, Visual Analogue Scale (VAS) untuk menilai nyeri selama aktivitas sehari-hari, Lequesne’s index (LI) untuk menilai disabilitas fungsional dan pengukuran dua petanda biologis yaitu asam hialuronat serum (AHs) dan CTX-II urin (CTX-IIu). Sesudah 12 minggu pengobatan VAS, LI, AHs, dan CTX-IIu diukur kembali untuk mengevaluasi hasil pengobatan. Karakteristik dasar dianalisis dengan mean± SD menggunakan uji t independent. Uji t berpasangan untuk sampel yang berpasangan untuk membandingkan nilai VAS, LI, AHs,CTX-IIu pada awal dan akhir penelitian pada kelompok I dan II. Uji korelasi Pearson dan Spearman’s untuk menilai hubungan antar variabel pada awal dan akhir penelitian pada kelompok I dan II.  Nilai p &lt; 0.05 dianggap signifikan. Seluruh data dianalisis dengan SPSS versi 15.0.&#xD;
HASIL&#xD;
Karakteristik dasar dibandingkan diantara kedua grup terapi. Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kedua grup pada awal penelitian (p&gt;0.05). Semua pasien menyelesaikan terapi selama 12 minggu lengkap, Tampak penurunan yang signifikan terhadap nilai VAS dan LI pada kedua grup terapi dibanding dengan awal penelitian (nilai p masing-masing grup= 0.0001). dan LI (p=0.011 dan 0.0001). Penurunan signifikan secara statistik kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu pada grup terapi diacerein pada akhir penelitian dibanding dengan  awal penelitian (nilai p masing-masing p= 0.022 dan p=0.007). Tidak terdapat penurunan yang signifikan secara statistik kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu pada grup terapi tanpa diacerein pada akhir  penelitian dibanding dengan awal penelitian (nilai p= 0.871 dan nilai p=0.146). Penambahan diacerein memberikan perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap efek modifikasi secara simptomatik yang dinilai dengan penurunan nilai VAS dan LI dibanding kelompok tanpa diacerein pada akhir penelitian (masing-masing nilai p = 0.015 dan 0.0001).  Penambahan diacerein belum memberikan perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap efek modifikasi secara molekuler yang dinilai dengan penurunan kadar petanda biologis AHs dan CTX-IIu dibanding kelompok tanpa diacerein pada akhir penelitian (masing-masing nilai p = 0.511 dan 0.248). Terdapat korelasi positif yang signifikan secara statistik dengan uji korelasi Pearson antara perbaikan klinis yang dinilai dengan VAS dan LI dengan perbaikan secara molekuler yang dinilai dengan petanda biologis AHs pada kelompok diacerein pada akhir penelitian masing-masing (r=0.671; p=0.001 dan r=0.546; p=0.009) dan dengan petanda biologis CTX-IIu pada kelompok diacerein pada akhir penelitian masing-masing (r=0.493; p=0.020 dan r=0.409; p=0.05).&#xD;
&#xD;
KESIMPULAN&#xD;
Penelitian ini membuktikan bahwa AHs dan CTX-IIu dapat digunakan sebagai petanda biologis yang berguna dalam memonitor hasil pengobatan OA lutut. Penambahan diacerein belum memberikan hasil yang signifikan terhadap efek modifikasi molekuler dibanding tanpa diacerein dalam pengobatan OA lutut. Penambahan diacerein memberikan hasil yang signifikan terhadap efek modifikasi simptomatik dibanding tanpa diacerein dalam pengobatan OA lutut. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara perbaikan klinis (VAS dan LI) dan perbaikan molekuler (AHs dan CTX-IIu) pada kelompok diacerein pada akhir penelitian.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Transformasi Asam Oleat, Risinoleat Dan Linoleat  Menjadi Dimetil Ester Dengan Katalis PdCl2 Dan Kokatalis CuCl2 Untuk Bahan Aditif Biosolar</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24814</link>
      <description>Authors: Bangun, Nimpan
Advisors: Sembiring, SeriBima; Barus, Tonel; Kaban, Jamaran
Abstract: Crude Palm oil contains various chemicals. Triglycride is a major komponen that has high potensial for many purposes. Triglycride was transesterified using KOH as a catalyst to give fatty methyl ester (FAME) along with glycrol and trace mono and di glycride. To obtine the pure FAME free from glycride, therefore the mixture product was distilled at 170oC under vacuum. The destilate contais rich oleic and palmitic but linoleic presence are  in trace.&#xD;
Attampt to isolation oleic and linoleic as high purity, then the ester mixture was treated with a stabililizer under vacuum destilation. From the residu, oleic was found as 70% after separation the stabilizer. A further work , the oleic was  recrystalized under solution urea-metanol several times. Purity oleic acid was 83-95% and also containing linoleic acid. To study on biodiesel energy  material, the FAME destilate containing oleic 70% obtained from destillation at 170oC, was carbonylated using  PdCl2/CuCl2  as catalyst for 20 hours resulting branched chain dimethyl ester named DMEB. The reaction proceeds for 12 hours with 100% oleic acid converted.  The product DMEB 210 ml was mixed with the FAME 390 ml called DMEB Mix,  was analysed using chromatograpy gas. The DMEB Mix was blended with petrodiesel as 20 : 80 % in volume said DMEB Mix 20 used as a diesel fuel. The results show, reduce fuel consumption 7%, gases emission CO 0,1% and no NO was detected.
Abstract (other language): Minyak kelapa sawit (CPO) mengandung beraneka ragam komponen kimia. Komponen utama adalah trigliserida yang mempunyai nilai potensi tinggi untuk didayagunakan sebagai bahan kimia maupun sebagai energi. Proses transesterifikasi dari trigliserida ini dapat menghasilkan metil ester campuran dan gliserol serta sedikit digliserida dan monogliserida. Untuk mendapatkan metil ester campuran bebas gliserida maka hasil transesterifikasi didestilasi pada vakum 10 cm Hg sampai 170o C. Destilat ini mengandung kaya oleat dan palmitat serta sedikit linoleat.&#xD;
Isolasi oleat dan linoleat telah dilakukan dengan mendestilasi lanjutan bertingkat dalam campuran bahan pemantap. Residu yang diperoleh makin kaya oleat, kemudian diekstraksi sehingga terpisah dari bahan pemantap. Kadar oleat diperoleh di atas 70%.  Campuran ini dimurnikan lebih lanjut dengan fraksinasi rekristalisasi menggunakan urea-metanol dan selanjutnya metil oleat ini diubah menjadi asam oleat dan dimurnikan dengan rekristalisasi urea-metanol. Hasil oleat didapat 83 – 95% dan mengandung 9,5% linoleat. &#xD;
Fraksi destilate 170oC diubah dalam bentuk asam organik, telah dikarbonilasi dengan katalis PdCl2/CuCl2 selama 20 jam menghasilkan dimetil ester rantai bercabang (DMEB). Reaksi katalisis menjadi 12 jam dengan konversi asam oleat 100% dengan penambahan SiO2 aerosil kedalam sistim katalis. Bahan  DMEB 210 ml dicampur FAME (70% oleat) sebanyak 390 ml disebut DMEB Mix , kemudian dianalisis dengan gas kromatografi. Bahan DMEB Mix  ini sebanyak 20% dicampur dengan petrodiesel 80% dinamai DMEB Mix 20. Uji performance mesin memakai bakar biosolar ini lebih hemat 7% dari  bahan bakar solar serta, memberikan emisi gas CO 0,1% dan NOx adalah nol.</description>
      <pubDate>Mon, 23 May 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24814</guid>
      <dc:date>2011-05-23T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Bangun, Nimpan</dc:creator>
      <dc:description>Minyak kelapa sawit (CPO) mengandung beraneka ragam komponen kimia. Komponen utama adalah trigliserida yang mempunyai nilai potensi tinggi untuk didayagunakan sebagai bahan kimia maupun sebagai energi. Proses transesterifikasi dari trigliserida ini dapat menghasilkan metil ester campuran dan gliserol serta sedikit digliserida dan monogliserida. Untuk mendapatkan metil ester campuran bebas gliserida maka hasil transesterifikasi didestilasi pada vakum 10 cm Hg sampai 170o C. Destilat ini mengandung kaya oleat dan palmitat serta sedikit linoleat.&#xD;
Isolasi oleat dan linoleat telah dilakukan dengan mendestilasi lanjutan bertingkat dalam campuran bahan pemantap. Residu yang diperoleh makin kaya oleat, kemudian diekstraksi sehingga terpisah dari bahan pemantap. Kadar oleat diperoleh di atas 70%.  Campuran ini dimurnikan lebih lanjut dengan fraksinasi rekristalisasi menggunakan urea-metanol dan selanjutnya metil oleat ini diubah menjadi asam oleat dan dimurnikan dengan rekristalisasi urea-metanol. Hasil oleat didapat 83 – 95% dan mengandung 9,5% linoleat. &#xD;
Fraksi destilate 170oC diubah dalam bentuk asam organik, telah dikarbonilasi dengan katalis PdCl2/CuCl2 selama 20 jam menghasilkan dimetil ester rantai bercabang (DMEB). Reaksi katalisis menjadi 12 jam dengan konversi asam oleat 100% dengan penambahan SiO2 aerosil kedalam sistim katalis. Bahan  DMEB 210 ml dicampur FAME (70% oleat) sebanyak 390 ml disebut DMEB Mix , kemudian dianalisis dengan gas kromatografi. Bahan DMEB Mix  ini sebanyak 20% dicampur dengan petrodiesel 80% dinamai DMEB Mix 20. Uji performance mesin memakai bakar biosolar ini lebih hemat 7% dari  bahan bakar solar serta, memberikan emisi gas CO 0,1% dan NOx adalah nol.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penilaian Kualitas Perairan Pesisir Dengan Mengembangkan Indeks Sebagai Upaya Perlindungan Dan Pengelolaan Berkelanjutan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24182</link>
      <description>Authors: Hidayati
Advisors: Syahrin, Alvi; Sudjono, Priana; Tarigan, Ahmad Perwira Mulia
Abstract: Declining water quality, low production of fisheries captures, poverty of fisherman, conversion of mangrove land and sedimentation is a problem of ecological, social and economic in coastal waters. &#xD;
	Solving these problems require a comprehensive value that can describe the actual condition of the waters. This study aims to build environmental quality assessment instrument with the development index and water status in order to set policies and manage the protection of coastal waters that furthermore applied in Belawan waters.&#xD;
	Development of index done by selection indicator, quantifying indicators, weighting and calculating a composite indicator based on the index. Status of coastal waters is determined based on the range of index values developed using visual basic 6.0 program and set policies based on the index value and status that have been determined.&#xD;
	These instruments are called coastal waters index (IPP) that is accumulation of water quality index, the index of well-being of fisherman and potential index of coastal biological resources.  Protection policies and management of coastal waters based on the index and status of development of water pollution prevention policy and damage policy, maintenance and improvement of internal potential, pollution prevention policy and the damage, repair and recovery policies, and reform policies and relocation system. &#xD;
	Application of index instruments in the waters of coastal waters of Belawan is very appropriate because its flexibility and the indicators is accordance with the condition of Belawan waters.  The value of index of Belawan Coastal waters (IPP) is 30,58  during high tide and 29.55 during low tide. This status is considered as “bad”. The appropriate policy is to “repair and recovery”, in an effort to achieve the development of sustainable Belawan waters, with a strategy based on the integrated coastal management, conduct a study patterns of hydrodynamics for Belawan waters, strengthening community participation, and implementation of management actions and protection of coastal water.
Abstract (other language): Menurunnya kualitas air, rendahnya produksi perikanan tangkap, kemiskinan nelayan, konversi lahan mangrove, dan sedimentasi merupakan permasalahan ekologi, sosial dan ekonomi di perairan pesisir. Pemecahan masalah membutuhkan suatu nilai yang konprehensif yang dapat menggambarkan kondisi perairan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk pembangunan instrumen penilaian kualitas lingkungan dengan pengembangan indeks dan status perairan sehingga dapat ditetapkan kebijakan perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir. Selanjutnya diterapkan di perairan Belawan. &#xD;
         Pengembangan indeks dilakukan dengan melakukan pemilihan indikator, mengkuantifikasikan indikator, pembobotan, dan melakukan perhitungan komposit indikator berdasarkan indeksnya. Status perairan pesisir ditentukan berdasarkan range nilai indeks yang dikembangkan menggunakan program visual basic 6,0, serta kebijakan ditetapkan berdasarkan nilai indeks dan status yang telah ditentukan.&#xD;
         Instrumen tersebut adalah Indeks  Perairan pesisir  (IPP) merupakan akumulasi dari indeks kualitas air, indeks kesejahteraan  nelayan dan indeks potensi sumber daya hayati pesisir. Kebijakan  perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir berdasarkan pengembangan indeks dan status perairan terdiri dari kebijakan pencegahan pencemaran dan kerusakan, kebijakan pemeliharaan dan peningkatan potensi internal, kebijakan penanggulangan pencemaran dan kerusakan, kebijakan perbaikan dan pemulihan, serta kebijakan perombakan sistem dan relokasi.&#xD;
Penerapan penggunaan instrumen indeks perairan pesisir di perairan Belawan adalah sangat tepat, karena memiliki indikator yang fleksibel dan sesuai dengan kondisi perairan Belawan. Nilai indeks perairan pesisir (IPP) Belawan adalah sebesar 30,58 saat pasang dan 29,55 saat surut yaitu dengan status “buruk”.  Kebijakan yang sesuai adalah “perbaikan dan pemulihan” dalam upaya mencapai pembangunan perairan Belawan berkelanjutan dilakukan strategi berbasis kepada Pengelolaan pesisir terpadu, melakukan kajian pola hidrodinamika perairan Belawan, penguatan partisipasi masyarakat, serta penerapan aksi perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir. &#xD;
           Aplikasi di perairan Belawan menunjukkan bahwa  indeks perairan pesisir merupakan instrumen  yang memberikan informasi yang akurat dalam  perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir menuju pembangunan berkelanjutan.</description>
      <pubDate>Thu, 12 May 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24182</guid>
      <dc:date>2011-05-12T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hidayati</dc:creator>
      <dc:description>Menurunnya kualitas air, rendahnya produksi perikanan tangkap, kemiskinan nelayan, konversi lahan mangrove, dan sedimentasi merupakan permasalahan ekologi, sosial dan ekonomi di perairan pesisir. Pemecahan masalah membutuhkan suatu nilai yang konprehensif yang dapat menggambarkan kondisi perairan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk pembangunan instrumen penilaian kualitas lingkungan dengan pengembangan indeks dan status perairan sehingga dapat ditetapkan kebijakan perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir. Selanjutnya diterapkan di perairan Belawan. &#xD;
         Pengembangan indeks dilakukan dengan melakukan pemilihan indikator, mengkuantifikasikan indikator, pembobotan, dan melakukan perhitungan komposit indikator berdasarkan indeksnya. Status perairan pesisir ditentukan berdasarkan range nilai indeks yang dikembangkan menggunakan program visual basic 6,0, serta kebijakan ditetapkan berdasarkan nilai indeks dan status yang telah ditentukan.&#xD;
         Instrumen tersebut adalah Indeks  Perairan pesisir  (IPP) merupakan akumulasi dari indeks kualitas air, indeks kesejahteraan  nelayan dan indeks potensi sumber daya hayati pesisir. Kebijakan  perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir berdasarkan pengembangan indeks dan status perairan terdiri dari kebijakan pencegahan pencemaran dan kerusakan, kebijakan pemeliharaan dan peningkatan potensi internal, kebijakan penanggulangan pencemaran dan kerusakan, kebijakan perbaikan dan pemulihan, serta kebijakan perombakan sistem dan relokasi.&#xD;
Penerapan penggunaan instrumen indeks perairan pesisir di perairan Belawan adalah sangat tepat, karena memiliki indikator yang fleksibel dan sesuai dengan kondisi perairan Belawan. Nilai indeks perairan pesisir (IPP) Belawan adalah sebesar 30,58 saat pasang dan 29,55 saat surut yaitu dengan status “buruk”.  Kebijakan yang sesuai adalah “perbaikan dan pemulihan” dalam upaya mencapai pembangunan perairan Belawan berkelanjutan dilakukan strategi berbasis kepada Pengelolaan pesisir terpadu, melakukan kajian pola hidrodinamika perairan Belawan, penguatan partisipasi masyarakat, serta penerapan aksi perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir. &#xD;
           Aplikasi di perairan Belawan menunjukkan bahwa  indeks perairan pesisir merupakan instrumen  yang memberikan informasi yang akurat dalam  perlindungan dan pengelolaan perairan pesisir menuju pembangunan berkelanjutan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>An Empirical Analysis Of Asymmetric Duopoly In The Indonesian Crude Palm Oil Industry</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23997</link>
      <description>Authors: Chalil, Diana
Advisors: Esfahani, Fredoun Ahmadi; de Roos, Nicolas
Abstract: The apparent increase in market concentration and vertical integration in the Indonesian crude palm oil (CPO) industry has led to concerns about the presence of market power. For the Indonesian CPO industry, such concerns attract more attention because of the importance of this sector to the Indonesian economy. CPO is used as the main raw material for cooking oil (which is an essential commodity in Indonesia) and it contributes significantly to export earnings and employment. However, dominant producers argue that the increase in economies of scale and scope lead to an increase in the efficiency, which eventually will be beneficial for the end consumers and export earnings. This research seeks to examine whether the dominant producers do behave competitively and pass the efficiency gains to the end consumers, or they enhance inefficiency through market power instead.&#xD;
&#xD;
In order to identify the most suitable model to measure market power in the Indonesian CPO industry, different market power models are explored. These models can be divided into static and dynamic models. In general, all of them accept the price–cost margins as a measure of market power. However, static models fail to reveal the dynamic behaviour that determines market power; hence the dynamic models are likely to be more appropriate to modelling market power. Among these dynamic models, the adjustment model with a linear quadratic specification is considered to be a more appropriate model to measure market power in the Indonesian CPO industry.&#xD;
&#xD;
In the Indonesian CPO industry, producers can be divided into three groups, namely the public estates, private companies and smallholders. However, based on their ability to influence market price, smallholders are not considered as one of the dominant groups. By using the adjustment cost model, the market power of the dominant groups is estimated. The model is estimated using a Bayesian technique annual data spanning 1968–2003. The public estates and private companies are assumed to engage in a noncooperative game. They are assumed to use Markovian strategies, which permit firms to respond to changes in the state vector. In this case, the vector comprises the firms and their rivals’ previous action, implying that firms respond to changes in their rivals’ previous action.&#xD;
&#xD;
The key contribution of this thesis is the relaxation of the symmetry assumption in the estimation process. Although the existence of an asymmetric condition often complicates the estimation process, the different characteristics of the public estates and private companies lead to a need for relaxing such an assumption. In addition, the adjustment system—which can be seen as a type of reaction function—is not restricted to have downward slopes. Negative reaction functions are commonly assumed for a quantity setting game. However, the reverse may occur in particular circumstances. Without such restrictions, the analysis could reveal the type of interaction between the public estates and private companies. In addition, it provides insights into empirical examples of conditions that might lead to the positive reaction function. Furthermore, the analysis adds to the understanding of the impact of positive reaction functions to avoid the complicated estimation of the asymmetric case.&#xD;
&#xD;
As expected, the public estates act as the leader, while the private companies are the follower. Interestingly, results indicate that as well as the private companies, public estates do exert some degree of market power. Moreover, the public estates enjoy even higher market power than the private companies, as indicated by market power indices of -0.46 and -0.72, respectively. The exertion of market power by both the public estates and&#xD;
the private companies cast some doubts about the effectiveness of some current policies in the Indonesian CPO industry. With market power, the underlying assumption of a perfectly competitive market condition—that serves as the basis for the government interventions—is no longer applicable. Hence, many government interventions are unlikely to have the desired effect.&#xD;
&#xD;
The Indonesian competition law that has been imposed since 1999 might be effective in preventing firms to sign collusive contracts. In fact, even without such an agreement, firms in the CPO industry are likely to exert some degree of market power. As an alternative, eliminating the ‘sources’ of market power might be a better solution. If the public estates have the aim of maximising welfare, privatisation might improve their efficiency, hence they have ability to suppress the private companies’ market power. However, if in fact, the public estates deliberately reduce output to gain higher profit, privatisation might increase the degree of market power of both groups of companies even further. In such a condition, addressing the long term barriers of entry stemming from the requirement of high investment might be a better alternative to address the market power problem in the CPO industry.</description>
      <pubDate>Tue, 10 May 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23997</guid>
      <dc:date>2011-05-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Chalil, Diana</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pembentukan Kata Bahasa Indonesia Yang Berasal Dari Bahasa Arab : Kajian Morfologi Generatif</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23992</link>
      <description>Authors: Nasution, Khairina
Advisors: Sibarani, Robert; Kholil, Syukur; Ansari, Khairil
Abstract: The research describes the Arabic-based Indonesian word formation based on generative morphology theory. The problems found deal with functions and meanings of affix morphemes in inflection and derivation morphological construction, the Arabic-based Indonesian morphophonemic, the Arabic-based Indonesian morphological typology, word formation based on generative morphology study, and the potential forms found in the Arabic-based Indonesian. The research objective is to describe the problems found in the research problems. The data originate from oral and written ones. The documentation method and the Simak method are adopted to collect the data, whereas the distributional method and the Padan method are applied in the data analysis. The data analysis results are described by employing informal method. &#xD;
	The research result shows verb-forming affixes comprising affixes   {meN-], {-an}, {ber-}, {ter-}, {meN-kan}, and {meN-i}. The meanings of the affixes are ‘activity relating to’; ‘process’; ‘mutuality’; ‘being in the condition’; ‘possessive’; ‘can be (passive)’; ‘having been (passive)’; ‘causative’; ‘resultative’; ‘intensive’; and ‘continuative’. Noun-forming affixes embody affixes {se-}, {-in}, {-at}, {peN-an}, {ke-an}, and {per-an}. The meanings arised by the affixes are ‘of the same degree or level’; ‘the same’; ‘being in the condition’; ‘plural agent (feminine)’; ‘plural agent (masculine)’; ‘ways’; and ‘matter’. Adjective-forming affixes contain affixes {-i}, {-iah}, {-ah}, and {wi-}. The meaning arised by the affixes are ‘relating to’; ‘frequency’; ‘tool’; and ‘agent’. The morphophonemic rules (morphophonology) found in Indonesian from Arabic include (1) assimilation rules {meN-} which assimilate obstruent sounds following them (2) adding semivowel /y/ (3) adding vocal /ə/ and (4) deleting obstruent consonants /p, t, s/ and deleting consonant /r/.&#xD;
	To morphological typology point of view, the Arabic-based Indonesian word formation, in general, belongs to the mixtyped language because on the affixation and reduplication level the Arabic-based Indonesian word formation is agglutination-typed, and on the compound level includes in the language which is incorporation-typed and tends to collect a number of lexical morphemes and to combine them into one word. The Arabic-based Indonesian word formation processes, to the generative morphology point of view, consist of four components: (1) list of morphemes containing free base morphemes, bound base morphemes, affixes, reduplication and compounding (2) word formulation rules processing all contents of the morpheme list so that they result in accepted forms and unaccepted ones (3) a filter which functions to attach phonological idiosyncrasy, lexical idiosyncrasy and semantic idiosyncrasy and (4) a dictionary embracing words slipping out of the filter in the form of free base morphemes, base, derivative forms, and the forms given idiosyncrasy. Some potential forms found obtain phonological idiosyncrasy, such as /mensyarkan/ and /mensyirkan/, semantic idiosyncrasy, like /ambia/, /ya qawiyyu/, /sekaten/ and /haulan/, and lexical idiosyncrasy, as /bermuhasabah/, /mentausiahkan/, and /syawalan/.
Abstract (other language): Penelitian ini mendeskripsikan pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab berdasarkan teori morfologi generatif. Masalah yang ditemukan berkaitan dengan fungsi dan makna morfem afiks dalam konstruksi morfologis derivasi dan infleksi, morfofonemik BI dari BA, tipologi morfologis BI dari BA, pembentukan kata berdasarkan kajian morfologi generatif, dan bentuk potrnsial yang ditemukan dalam BI dari BA. Tujuan penelitian ini menjelaskankan hal-hal yang terdapat pada masalah penelitian. Data bersumber dari data lisan dan tulisan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan metode simak, sedangkan metode analisis data menggunakan metode distribusional dan metode padan. Hasil analisis data dipaparkan dengan menggunakan metode informal. &#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afiks-afiks pembentuk verba terdiri dari afiks {meN-], {-an}, {ber-}, {ter-}, {meN-kan}, dan {meN-i}. Makna afiks-afiks tersebut adalah ‘kegiatan yang bersangkutan dengan’; ‘proses’; ‘saling’; ‘berada dalam keadaan’; ‘memiliki’; ‘dapat di’; ‘sudah di’; ‘kausatif’; ‘resultatif’; ‘intensif; dan ‘kontinuatif’. Afiks-afiks pembentuk nomina terdiri dari afiks {se-}, {-in}, {-at},    {peN-an}, {ke-an}, dan {per-an}. Makna yang ditimbulkan oleh afiks-afiks ini adalah ‘sederajat’; ‘sama’; ‘dalam keadaan’; ‘pelaku jamak (feminin)’; ‘pelaku jamak (maskulin)’; ‘cara’; dan ‘hal’.Afiks-afiks pembentuk adjektiva terdiri dari afiks {-i}, {-iah}, {-ah}, dan {wi-}. Makna yang ditimbulkan oleh afiks-afiks ini adalah ‘berkaitan dengan’; ‘frekuensi’; ‘alat’; dan ‘pelaku’. Kaidah morfofonemik (morfofonologi) yang ditemukan di dalam bahasa Indonesia dari bahasa Arab terdiri dari (1) kaidah asimilasi {meN-}yang mengasimilasi bunyi obstruen yang mengikutinya (2) penambahan semivokal /y/ (3) penambahan vokal /ə/  (4) pelesapan konsonan obstruen /p, t, s/ dan pelesapan konsonan /r/.	&#xD;
	Ditinjau dari tipologi morfologis secara umum pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab termasuk ke dalam bahasa yang bertipe campuran (mixtyped), karena pada level afiksasi dan reduplikasi kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab bertipe aglutinasi dan pada level pemajemukan berperilaku sebagai bahasa yang bertipe inkorporasi dan cenderung mengumpulkan sejumlah morfem leksikal dan menggabungkannya menjadi kata tunggal. Proses pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab ditinjau dari morfologi generatif terdiri dari empat komponen: (1) daftar morfem yang memuat morfem dasar bebas, morfem dasar terikat, afiks, reduplikasi dan kata majemuk (2) kaidah pembentukan kata yang memeroses semua muatan daftar morfem, sehingga menghasilkan bentuk yang berterima dan tidak berterima (3) saringan yang bertugas menempelkan idiosinkresi fonologis, idiosinkresi leksikal dan idiosinkresi semantik dan (4) kamus berisi kata-kata yang telah lolos dari saringan yang berupa bentuk dasar bebas, bentuk dasar, bentuk turunan, dan bentuk-bentuk yang terkena idiosinkresi. Beberapa bentuk potensial yang ditemukan ada yang mengalami idiosinkresi fonologis, seperti /mensyarkan/ dan /mensyirkan/; ada yang mengalami idiosinkresi semantik, seperti /ambia/, /ya qawiyyu/, /sekaten/ dan /haulan/, dan idiosinkresi leksikal, seperti /bermuhasabah/, /mentausiahkan/, dan /syawalan/.</description>
      <pubDate>Tue, 10 May 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23992</guid>
      <dc:date>2011-05-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nasution, Khairina</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini mendeskripsikan pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab berdasarkan teori morfologi generatif. Masalah yang ditemukan berkaitan dengan fungsi dan makna morfem afiks dalam konstruksi morfologis derivasi dan infleksi, morfofonemik BI dari BA, tipologi morfologis BI dari BA, pembentukan kata berdasarkan kajian morfologi generatif, dan bentuk potrnsial yang ditemukan dalam BI dari BA. Tujuan penelitian ini menjelaskankan hal-hal yang terdapat pada masalah penelitian. Data bersumber dari data lisan dan tulisan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan metode simak, sedangkan metode analisis data menggunakan metode distribusional dan metode padan. Hasil analisis data dipaparkan dengan menggunakan metode informal. &#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afiks-afiks pembentuk verba terdiri dari afiks {meN-], {-an}, {ber-}, {ter-}, {meN-kan}, dan {meN-i}. Makna afiks-afiks tersebut adalah ‘kegiatan yang bersangkutan dengan’; ‘proses’; ‘saling’; ‘berada dalam keadaan’; ‘memiliki’; ‘dapat di’; ‘sudah di’; ‘kausatif’; ‘resultatif’; ‘intensif; dan ‘kontinuatif’. Afiks-afiks pembentuk nomina terdiri dari afiks {se-}, {-in}, {-at},    {peN-an}, {ke-an}, dan {per-an}. Makna yang ditimbulkan oleh afiks-afiks ini adalah ‘sederajat’; ‘sama’; ‘dalam keadaan’; ‘pelaku jamak (feminin)’; ‘pelaku jamak (maskulin)’; ‘cara’; dan ‘hal’.Afiks-afiks pembentuk adjektiva terdiri dari afiks {-i}, {-iah}, {-ah}, dan {wi-}. Makna yang ditimbulkan oleh afiks-afiks ini adalah ‘berkaitan dengan’; ‘frekuensi’; ‘alat’; dan ‘pelaku’. Kaidah morfofonemik (morfofonologi) yang ditemukan di dalam bahasa Indonesia dari bahasa Arab terdiri dari (1) kaidah asimilasi {meN-}yang mengasimilasi bunyi obstruen yang mengikutinya (2) penambahan semivokal /y/ (3) penambahan vokal /ə/  (4) pelesapan konsonan obstruen /p, t, s/ dan pelesapan konsonan /r/.	&#xD;
	Ditinjau dari tipologi morfologis secara umum pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab termasuk ke dalam bahasa yang bertipe campuran (mixtyped), karena pada level afiksasi dan reduplikasi kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab bertipe aglutinasi dan pada level pemajemukan berperilaku sebagai bahasa yang bertipe inkorporasi dan cenderung mengumpulkan sejumlah morfem leksikal dan menggabungkannya menjadi kata tunggal. Proses pembentukan kata bahasa Indonesia dari bahasa Arab ditinjau dari morfologi generatif terdiri dari empat komponen: (1) daftar morfem yang memuat morfem dasar bebas, morfem dasar terikat, afiks, reduplikasi dan kata majemuk (2) kaidah pembentukan kata yang memeroses semua muatan daftar morfem, sehingga menghasilkan bentuk yang berterima dan tidak berterima (3) saringan yang bertugas menempelkan idiosinkresi fonologis, idiosinkresi leksikal dan idiosinkresi semantik dan (4) kamus berisi kata-kata yang telah lolos dari saringan yang berupa bentuk dasar bebas, bentuk dasar, bentuk turunan, dan bentuk-bentuk yang terkena idiosinkresi. Beberapa bentuk potensial yang ditemukan ada yang mengalami idiosinkresi fonologis, seperti /mensyarkan/ dan /mensyirkan/; ada yang mengalami idiosinkresi semantik, seperti /ambia/, /ya qawiyyu/, /sekaten/ dan /haulan/, dan idiosinkresi leksikal, seperti /bermuhasabah/, /mentausiahkan/, dan /syawalan/.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Bahasa Batak Toba Di Kota Medan (Kajian Interferensi Dan Sikap Bahasa)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22090</link>
      <description>Authors: Marice
Advisors: Sibarani, Robert; Naibaho, Sugiyono
Abstract: This dissertation deals with interference in Batak Toba language (BT) related to the    language attitudes of bilingual BT speakers living in Medan.BT language is interferenced due to the intervention of the element of Bahasa Indonesia (BI) system that there is a deviation in   standard  BT. The  deviation  is  clearly   revealed  in   the   phonological, grammatical,and lexical levels.Theinterference in this language is related to the language attitudes of bilingual BT speakers.&#xD;
          The purposes of this study are to a) to describe interferences found in BT, b) to describe the language attitudes of BT speakers based on the variables of sex,age,language use,and length of stay,c) to describe the relationship between the language attitudes of BT speakers and interference, and d) to describe the current use of BT in Medan.&#xD;
          The main theories are used in this dissertation such as a) the languages in contact theory by Weinreich (1968) describing that interference in the relocation of language element into the other languages and the deviation of the use of rules and norms of language,  b) language   attitude   by  Anderson  (1974)   arguing   that   attitude  is   a belief system related to the language which lasts relatively long about a language object which makes someone tend to act in a certain way he/she likes.Garvin and Mathiot (1968) argued that there are three characteristics of language attitude such as language loyalty, language pride, and the awareness of language norms. The application of structural theory of this study is to discuss the comparison of BT – BI systems.&#xD;
	  This study employed qualitative and quantitative methods. The data for this study were collected by a passive participatory observation technique, questionnaire, and test as well   as  recording  technique. The  speech   interference  data   were  analyzed   through comparative descriptive techniques, while the data of language attitude were   statistically tested   through   t-test   and  ANOVA  test. The  statistic  result of the speakers language attitude  were  correlated  with the result  of  the  test of  interference  in  BT by using the Product Moment by Pearson.&#xD;
	   The result of the study showed that in Medan BT has been interferenced by BI in the   phonological  aspect in the forms of phoneme alteration  and assimilation, morphological interference in the forming of noun and verb, interference in the aspect of   syntaxe on the use of particles ni, na,on the marker of topic sentence do, ma, pe, dope, and be, and phrase construction pattern. Interference of the lexical aspect is found in noun, verb, adjective, and adverb. The result of the language attitudes of BT speakers in Medan showed a positive attitude toward BT.The relationship between language attitude with the interference of BT speakers showed a significant negative relationship which means that if the attitudes of BT speakers are more increased,the phenomenon of interference in BT will be decreasing.
Abstract (other language): Disertasi ini merupakan kajian tentang bahasa Batak Toba (BT) yang mengalami interferensi dan dikaitkan dengan sikap bahasa penutur BT bilingual yang tinggal di Medan.  Bahasa BT mengalami interferensi disebabkan masuknya unsur sistem bahasa Indonesia (BI), sehingga terjadi penyimpangan dalam bahasa BT baku. Penyimpangan tersebut tampak pada tataran fonologis, gramatikal, dan leksikal. Interferensi dalam bahasa ini dihubungkan dengan sikap bahasa penutur BT yang bilingual. &#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) mendeskripsikan interferensi yang terdapat dalam bahasa BT, (b) mengukur sikap bahasa penutur BT berdasarkan variabel jenis kelamin, usia, pemakaian bahasa, dan lamanya tinggal, (c) melihat bentuk hubungan sikap bahasa penutur BT dengan interferensi, dan (d) mendeskripsikan pemakaian bahasa BT di Medan sekarang ini.&#xD;
	Dalam disertasi ini digunakan tiga teori utama yaitu teori kontak bahasa (Languages in Contact) oleh Weinreich (1968) yang mengungkapkan bahwa interferensi merupakan pemindahan unsur-unsur bahasa ke dalam bahasa lain dan penyimpangan penggunaan kaidah dan norma-norma bahasa, teori sikap bahasa (Languages Attitudes) oleh Anderson (1974) yang menyebutkan bahwa sikap merupakan  tata keyakinan yang berhubungan dengan bahasa yang berlangsung relatif lama, tentang suatu objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu yang disukainya. Terdapat  tiga ciri sikap bahasa seperti yang diungkapkan Garvin dan Mathiot (1968) yakni kesetiaan bahasa, sikap kebanggaan bahasa, dan sikap kesadaran terhadap norma-norma bahasa. Penerapan teori struktural dalam penelitian ini untuk membahas perbandingan sistem BT-BI. Dalam teori struktural ada dikotomi yang dapat dijadikan landasan pemecahan masalah, misalnya dikotomi signifié (bentuk) dan signifiant (makna) dan dikotomi yang mengacu pada hubungan paradigmatik dan sintagmatik.&#xD;
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi partisipatoris yang bersifat pasif, teknik angket dan tes, serta teknik rekam.. Data interferensi dari tuturan dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif, sedangkan data sikap bahasa diuji secara statistik dengan uji-t dan uji Anova. Hasil uji statistik sikap bahasa penutur dikorelasikan dengan hasil tes interferensi dalam BT dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment oleh Pearson. &#xD;
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bahasa BT di Medan terinterferensi BI pada aspek fonologis berupa alternasi dan asimilasi fonem, interferensi morfologis dalam pembentukan nomina dan verba, interferensi aspek sintaksis pada penggunaan partikel ni, na, pada pemarkah topik kalimat do, ma, pe, dope, nama, dan be, dan pola konstruksi frasa. Interferensi pada aspek leksikal terdapat dalam kata kelas nomina, kelas verba, kelas ajektiva, dan kelas adverbial. Hasil  sikap bahasa penutur BT di Medan memperlihatkan sikap positif terhadap BT. Hubungan sikap bahasa dengan interferensi penutur BT memperlihatkan bentuk hubungan negatif yang signifikan yang bermakna bahwa bila sikap penutur BT terhadap bahasa BT semakin ditingkatkan, maka fenomena interferensi dalam BT akan semakin menurun.</description>
      <pubDate>Wed, 16 Feb 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22090</guid>
      <dc:date>2011-02-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Marice</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini merupakan kajian tentang bahasa Batak Toba (BT) yang mengalami interferensi dan dikaitkan dengan sikap bahasa penutur BT bilingual yang tinggal di Medan.  Bahasa BT mengalami interferensi disebabkan masuknya unsur sistem bahasa Indonesia (BI), sehingga terjadi penyimpangan dalam bahasa BT baku. Penyimpangan tersebut tampak pada tataran fonologis, gramatikal, dan leksikal. Interferensi dalam bahasa ini dihubungkan dengan sikap bahasa penutur BT yang bilingual. &#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) mendeskripsikan interferensi yang terdapat dalam bahasa BT, (b) mengukur sikap bahasa penutur BT berdasarkan variabel jenis kelamin, usia, pemakaian bahasa, dan lamanya tinggal, (c) melihat bentuk hubungan sikap bahasa penutur BT dengan interferensi, dan (d) mendeskripsikan pemakaian bahasa BT di Medan sekarang ini.&#xD;
	Dalam disertasi ini digunakan tiga teori utama yaitu teori kontak bahasa (Languages in Contact) oleh Weinreich (1968) yang mengungkapkan bahwa interferensi merupakan pemindahan unsur-unsur bahasa ke dalam bahasa lain dan penyimpangan penggunaan kaidah dan norma-norma bahasa, teori sikap bahasa (Languages Attitudes) oleh Anderson (1974) yang menyebutkan bahwa sikap merupakan  tata keyakinan yang berhubungan dengan bahasa yang berlangsung relatif lama, tentang suatu objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu yang disukainya. Terdapat  tiga ciri sikap bahasa seperti yang diungkapkan Garvin dan Mathiot (1968) yakni kesetiaan bahasa, sikap kebanggaan bahasa, dan sikap kesadaran terhadap norma-norma bahasa. Penerapan teori struktural dalam penelitian ini untuk membahas perbandingan sistem BT-BI. Dalam teori struktural ada dikotomi yang dapat dijadikan landasan pemecahan masalah, misalnya dikotomi signifié (bentuk) dan signifiant (makna) dan dikotomi yang mengacu pada hubungan paradigmatik dan sintagmatik.&#xD;
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi partisipatoris yang bersifat pasif, teknik angket dan tes, serta teknik rekam.. Data interferensi dari tuturan dianalisis dengan teknik deskriptif komparatif, sedangkan data sikap bahasa diuji secara statistik dengan uji-t dan uji Anova. Hasil uji statistik sikap bahasa penutur dikorelasikan dengan hasil tes interferensi dalam BT dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment oleh Pearson. &#xD;
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bahasa BT di Medan terinterferensi BI pada aspek fonologis berupa alternasi dan asimilasi fonem, interferensi morfologis dalam pembentukan nomina dan verba, interferensi aspek sintaksis pada penggunaan partikel ni, na, pada pemarkah topik kalimat do, ma, pe, dope, nama, dan be, dan pola konstruksi frasa. Interferensi pada aspek leksikal terdapat dalam kata kelas nomina, kelas verba, kelas ajektiva, dan kelas adverbial. Hasil  sikap bahasa penutur BT di Medan memperlihatkan sikap positif terhadap BT. Hubungan sikap bahasa dengan interferensi penutur BT memperlihatkan bentuk hubungan negatif yang signifikan yang bermakna bahwa bila sikap penutur BT terhadap bahasa BT semakin ditingkatkan, maka fenomena interferensi dalam BT akan semakin menurun.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pertumbuhan Dan Produksi Empat Varietas Unggul Padi Sawah (Oryza Sativa L) Terhadap Berbagai Tingkat Genangan Air Pada Berbagai Jarak Tanam</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22086</link>
      <description>Authors: Sesbany
Advisors: Oeliem, T. M. Hanafiah; Nisa B., T. Chairun; Damanik, N. Sengli J.
Abstract: Laju peningkatan produktivitas padi sawah secara nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung melandai. Pelandaian produktivitas padi terjadi karena kurangnya ketersediaan teknologi spesifik lokasi dan tingkat adopsi teknologi anjuran yang masih relatif rendah. Penerapan teknologi di tingkat petani umumnya dari tahun ke tahun tidak berbeda, sehingga banyak komponen teknologi budidaya padi sawah perlu diperbaiki. Perbaikan teknologi dimaksud adalah pengelolaan air irigasi, penggunaan varietas unggul spesifik lokasi dan pengaturan jarak tanam yang optimal. Telah dilakukan penelitian Respon Pertumbuhan Dan Produksi Empat Varietas Unggul Padi Sawah (Oryza Sativa L) Terhadap Berbagai Tingkat Genangan Air Pada Berbagai Jarak Tanam.&#xD;
Hasil penelitian I menunjukkan bahwa Pada kondisi air macak-macak pertumbuhan tanaman lebih baik, karena menghasilkan tanaman yang lebih kokoh (tidak terjadi perpanjangan ruas batang yang abnormal), jumlah anakan yang lebih banyak, pertumbuhan akar yang baik (tidak terdapatnya jaringan aerenchyma), tekanan turgor yang tinggi sehingga dapat menyerap hara lebih banyak, dan kandungan prolin yang rendah dibandingkan pada kondisi air dalam keadaan tergenang. Akhirnya pada kondisi air macak-macak menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibandingkan pada kondisi air&#xD;
tergenang. Varietas unggul Diah Suci, Ciherang dan Cimelati menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak, pertumbuhan akar yang lebih baik ditandai dengan berat akar kering yang tinggi, tekanan turgor yang tinggi dan kandungan prolin yang rendah dibandingkan dengan varietas Cilosari. Ketiga varietas unggul (Diah Suci, Ciherang dan Cimelati) menghasilkan produksi tertinggi dibandingkan varietas Cilosari. Semakin lebar jarak tanam (25 x 25 cm) menghasilkan anakan yang lebih banyak, pertumbuhan akar yang lebih baik ditandai dengan berat kering akar yang tinggi, tekanan turgor yang tinggi, dan kandungan prolin yang rendah dibandingkan dengan jarak tanam 20 x 20 cm dan 15 x 15 cm. Produksi padi tertinggi dihasilkan dengan jarak tanam 25 x 25 cm.&#xD;
Hasil penelitian II menunjukkan bahwa Pada kondisi air macak-macak, produksi tanaman padi memberikan hasil yang tertinggi dibandingkan dengan kondisi penggenangan air pada kedalaman 5 cm dan 10 cm. Varietas unggul Diah Suci, Ciherang dan Cimelati memberikan produksi/hasil gabah yang tertinggi dibandingkan dengan varietas Cilosari. Varietas tersebut sangat cocok dikembangkan petani. Peningkatan produksi hasil yang tinggi dengan sistem tanam legowo dibandingkan dengan system tegel (25 cm x 25 cm).</description>
      <pubDate>Wed, 16 Feb 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22086</guid>
      <dc:date>2011-02-16T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sesbany</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Implementasi Prinsip Kehati-Hatian Dalam Penerapan Good Corporate Governance &#xD;
Pada Badan Usaha Milik Negara</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21954</link>
      <description>Authors: Jahja, Juni Sjafrien
Advisors: Nasution, Bismar; Juwana, Hikmahanto; Sitompul, Zulkarnain
Abstract: Research conducted in this dissertation are intended to reveal matters related to the application of the precautionary principle (prudential) and supported by the principle of adherence (compliance) in order to implement good corporate governance principles in State Owned Enterprises. &#xD;
In managing State-owned Enterprise, it is quite frequent to get contravention of prudential principles because it breaks values of prudential principles due to negligence of the philosophy inherent in the prudential namely “fiduciary duty” at the beginning and “transparency” during in doing activities by State-owned Enterprises board. &#xD;
	It turns out to be a guidance and an encouragement at the human resources to optimize their good governance role in the respective field. Therefore prudential principles as well as good corporate governance, which basically consist of transparency, accountability, responsibility, independency and fairness do not only applicable for banking business but also able to be guidance  in code of corporation of company limited, public company, other private sectors and also government. In doing business activities, be obliged to ethic business is the spirit of good corporate governance.&#xD;
	In order to get the good governance by implementing the prudential principle, therefore the three pillars which are government, business and citizens should create the favorable situation in applying the good governance. The function of these pillars influence and support each other to achieve good corporate governance as well good and clean government.
Abstract (other language): Penelitian yang dilakukan dalam disertasi ini dimaksudkan untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan prinsip kehati-hatian (prudential) dan didukung oleh prinsip kepatuhan (compliance) dalam rangka penerapan good corporate governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).&#xD;
Dalam pengelolaan  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap ditemukan pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian disebabkan diabaikannya filosofis yang terkandung dalam prinsip kehati-hatian yaitu “amanah” pada awal tugas dan “transparansi” pada saat melaksanakan kegiatan oleh setiap pengelola, demikian juga menjadikannya sebagai pedoman sekaligus pendorong bagi  sumber daya manusia yang tersedia agar berperan optimal dalam tata kelola di bidang tugas masing-masing. Oleh karena itu prinsip kehati-hatian dan asas good corporate governance yang berintikan transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan kewajaran bukan hanya diperuntukkan kepada bisnis perbankan saja  tetapi juga dapat dijadikan pedoman dalam tata kelola perusahaan berbentuk Persero, Perum dan juga dalam sektor pemerintahan maupun swasta. Dalam  menjalankan suatu aktivitas bisnis haruslah didasari oleh etika bisnis berupa moral dan etika yang merupakan roh dan jiwa  Good Corporate Governance.&#xD;
Upaya mengefektifkan prinsip kehati-hatian dalam rangka  tercapainya  tata  kelola yang baik (good governance), maka ketiga pilar yaitu Negara, dunia usaha dan masyarakat harus menciptakan situasi kondusif  pelaksanaan Good Governance, dimana ketiga pilar mempunyai fungsi saling berpengaruh dan saling menunjang, guna mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik dan kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.</description>
      <pubDate>Wed, 09 Feb 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21954</guid>
      <dc:date>2011-02-09T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Jahja, Juni Sjafrien</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian yang dilakukan dalam disertasi ini dimaksudkan untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan penerapan prinsip kehati-hatian (prudential) dan didukung oleh prinsip kepatuhan (compliance) dalam rangka penerapan good corporate governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).&#xD;
Dalam pengelolaan  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kerap ditemukan pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian disebabkan diabaikannya filosofis yang terkandung dalam prinsip kehati-hatian yaitu “amanah” pada awal tugas dan “transparansi” pada saat melaksanakan kegiatan oleh setiap pengelola, demikian juga menjadikannya sebagai pedoman sekaligus pendorong bagi  sumber daya manusia yang tersedia agar berperan optimal dalam tata kelola di bidang tugas masing-masing. Oleh karena itu prinsip kehati-hatian dan asas good corporate governance yang berintikan transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan kewajaran bukan hanya diperuntukkan kepada bisnis perbankan saja  tetapi juga dapat dijadikan pedoman dalam tata kelola perusahaan berbentuk Persero, Perum dan juga dalam sektor pemerintahan maupun swasta. Dalam  menjalankan suatu aktivitas bisnis haruslah didasari oleh etika bisnis berupa moral dan etika yang merupakan roh dan jiwa  Good Corporate Governance.&#xD;
Upaya mengefektifkan prinsip kehati-hatian dalam rangka  tercapainya  tata  kelola yang baik (good governance), maka ketiga pilar yaitu Negara, dunia usaha dan masyarakat harus menciptakan situasi kondusif  pelaksanaan Good Governance, dimana ketiga pilar mempunyai fungsi saling berpengaruh dan saling menunjang, guna mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik dan kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Sistem Dan Struktur Percakapan Dalam Bahasa Karo</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21950</link>
      <description>Authors: Ginting, Siti Aisah
Advisors: Saragih, Amrin; Sibarani, Robert; Sibarani, Berlin
Abstract: This research is aimed at discovering the conversational systems and structures of the Karonese language. Besides, it  attempts to find out the causes of how such system and structure are realized. This study is based on  a descriptive qualitative research that applies ethno-methodological approach. The data are utterances produced in (1) typical contexts of situation covering weddings and other ordinary events   and (2) uncommon contexts of situation such as moving in to a new house and mourning. The data were collected through participant observation. The instrument was the researcher herself equipped with observation sheets, handycams, recorders, and questions for interview. The data obtained were analyzed into two ways: syntagmatically and paradigmatically. The former was done to find out the systems and the latter to determine the structures.  &#xD;
The results revealed that there were two conversational systems, namely, of typical and uncommon contexts. In both contexts there were speakers who are not permitted to do a direct talk, and hence, they had to speak via another person or an object. As a consequence, the speakers had to choose specific linguistic features in the communication. Specifically in the uncommon context of moving in to a new house, No interactions were found whilst in the context of mourning situation, an interaction between a speaker and the corpse took place where the speaker projected himself/herself as the dead. In the conversational structures, as the realizations of conversational systems, it was found some marked structures. These marked structures were expanded from the common ones. Normally, the structures of giving and asking for information are represented by k1 and k2, but in Karonese language there are other representations, namely k1(a2) and k2(2). In addition, there exist complex structures which were resulted not only from challenges, clarifications, confirmations, etc. but also from the relationships of tenors and contexts of situation. Metaphors in Karonese language were not merely found in grammatical and lexical aspects  but in mood, move,  and  contextual elements as well. &#xD;
The interaction  of tenors as one of the  situational context elements and culture as one of the  cultural context elements simultaneously affect the Karonese conversational systems and structures.  &#xD;
The  conversational systems and structures greatly contribute to social science in general and to linguistic systemic functional theory in particular, which implies the necessity to preserve the ethnic language.
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji  sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo. Fokus penelitian adalah menemukan sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo serta menemukan realisasi metafora di dalam sitem dan struktur tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnometodologi. Data penelitian ini adalah ujaran-ujaran  yang terdapat dalam (1)  kegiatan konteks situasi biasa mencakup situasi  perkawinan, dan situasi  sehari-hari   dan  (2) dalam konteks situasi yang tidak biasa yang mencakupi memasuki rumah baru dan kematian.  Data diperoleh dengan cara  pengamatan berperan serta. Instrumen penelitian adalah peneliti sebagai   instrumen utama dilengkapi dengan lembar observasi, alat rekam gambar dan suara, lembar butir pertanyaan/ wawancara.  Data yang diperoleh dianalisis secara paradigmatik untuk menemukan sistem percakapan dan secara sintagmatik untuk menemukan struktur percakapan berdasarkan teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF).&#xD;
Dalam  tataran sistem percakapan ditemukan tiga jejaring percakapan, yaitu jejaring percakapan dalam konteks biasa dan jejaring percakapan dalam konteks tidak biasa  mencakup jejaring percakapan  memasuki rumah baru dan jejaring  percakapan kematian.Baik dalam konteks biasa dan tidak biasa  terdapat penutur tertentu yang tidak dapat berbicara langsung  sehingga pembicaraan dilakukan dengan perantara  manusia atau benda mati. Akibatnya, penutur melakukan pilihan  linguistik dalam berkomunikasi.  Dalam konteks tidak biasa, yaitu dalam acara memasuki rumah baru tidak terdapat interaksi verbal sedangkan  dalam acara kematian  ditemukan  interaksi antara penutur dan orang mati di mana penutur memproyeksikan dirinya sebagai orang mati.  Dalam tataran struktur percakapan sebagai  realisasi dari sistem percakapan ditemukan sebagian struktur percakapan yang bermarkah/berbeda dan struktur pengembangan yaitu   pengembangan dari struktur yang tidak bermarkah. Lazimnya struktur percakapan  memberi dan meminta informasi adalah k1 dan k2,   dalam bahasa Karo  selain kedua  struktur tersebut terdapat struktur percakapan k1(a2) dan k2(a2) dalam memberi dan meminta  informasi. Selain itu,  terdapat struktur percakapan yang kompleks yang tidak hanya disebabkan oleh  dinamika percakapan  tetapi juga disebabkan oleh hubungan tenor dan konteks  situasi. Metapora dalam bahasa Karo tidak hanya terdapat pada tataran   gramatika dan leksis, tetapi juga  terdapat dalam aspek lain, yakni metafora modus, metafora langkah dan  metafora kontekstual dengan jenis pelibat.&#xD;
Hubungan tenor sebagai   unsur penentu   konteks situasi dan budaya sebagai salah satu unsur dari konteks sosial  secara bersama-sama mempengaruhi sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo.  &#xD;
Sistem dan struktur percakapan yang bermarkah ini  memberi sumbangan terhadap khasanah ilmu pengetahuan khususnya  kepada pengembangan teori LSF sehingga LSF dengan kajian sosial lainnya perlu dipelihara dan dipertahankan .</description>
      <pubDate>Wed, 09 Feb 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21950</guid>
      <dc:date>2011-02-09T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ginting, Siti Aisah</dc:creator>
      <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji  sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo. Fokus penelitian adalah menemukan sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo serta menemukan realisasi metafora di dalam sitem dan struktur tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnometodologi. Data penelitian ini adalah ujaran-ujaran  yang terdapat dalam (1)  kegiatan konteks situasi biasa mencakup situasi  perkawinan, dan situasi  sehari-hari   dan  (2) dalam konteks situasi yang tidak biasa yang mencakupi memasuki rumah baru dan kematian.  Data diperoleh dengan cara  pengamatan berperan serta. Instrumen penelitian adalah peneliti sebagai   instrumen utama dilengkapi dengan lembar observasi, alat rekam gambar dan suara, lembar butir pertanyaan/ wawancara.  Data yang diperoleh dianalisis secara paradigmatik untuk menemukan sistem percakapan dan secara sintagmatik untuk menemukan struktur percakapan berdasarkan teori Linguistik Sistemik Fungsional (LSF).&#xD;
Dalam  tataran sistem percakapan ditemukan tiga jejaring percakapan, yaitu jejaring percakapan dalam konteks biasa dan jejaring percakapan dalam konteks tidak biasa  mencakup jejaring percakapan  memasuki rumah baru dan jejaring  percakapan kematian.Baik dalam konteks biasa dan tidak biasa  terdapat penutur tertentu yang tidak dapat berbicara langsung  sehingga pembicaraan dilakukan dengan perantara  manusia atau benda mati. Akibatnya, penutur melakukan pilihan  linguistik dalam berkomunikasi.  Dalam konteks tidak biasa, yaitu dalam acara memasuki rumah baru tidak terdapat interaksi verbal sedangkan  dalam acara kematian  ditemukan  interaksi antara penutur dan orang mati di mana penutur memproyeksikan dirinya sebagai orang mati.  Dalam tataran struktur percakapan sebagai  realisasi dari sistem percakapan ditemukan sebagian struktur percakapan yang bermarkah/berbeda dan struktur pengembangan yaitu   pengembangan dari struktur yang tidak bermarkah. Lazimnya struktur percakapan  memberi dan meminta informasi adalah k1 dan k2,   dalam bahasa Karo  selain kedua  struktur tersebut terdapat struktur percakapan k1(a2) dan k2(a2) dalam memberi dan meminta  informasi. Selain itu,  terdapat struktur percakapan yang kompleks yang tidak hanya disebabkan oleh  dinamika percakapan  tetapi juga disebabkan oleh hubungan tenor dan konteks  situasi. Metapora dalam bahasa Karo tidak hanya terdapat pada tataran   gramatika dan leksis, tetapi juga  terdapat dalam aspek lain, yakni metafora modus, metafora langkah dan  metafora kontekstual dengan jenis pelibat.&#xD;
Hubungan tenor sebagai   unsur penentu   konteks situasi dan budaya sebagai salah satu unsur dari konteks sosial  secara bersama-sama mempengaruhi sistem dan struktur percakapan dalam bahasa Karo.  &#xD;
Sistem dan struktur percakapan yang bermarkah ini  memberi sumbangan terhadap khasanah ilmu pengetahuan khususnya  kepada pengembangan teori LSF sehingga LSF dengan kajian sosial lainnya perlu dipelihara dan dipertahankan .</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kesinambungan Topik dalam Kaba Klasik Minangkabau</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21888</link>
      <description>Authors: Deliana
Advisors: Sinar, T.Silvana; Sibarani, Berlin; Gurning, Busmin
Abstract: This dissertation deals with a study of the grammatical devices, such as zero-anaphora, third-person, possessive pronoun, relative pronoun, definite pronouns, and indefinite pronoun which are used to express topics in discourse especially in classic kaba of Minangkabau language named Anggun Nan Tongga. The goal of  this study to find out :  a) the degree of topic continuity in the sixth pronouns, b) the degree of topic continuity in grammatical function, c) the degree of topic continuity in humanness factor, d) the role of  each topics to create topic continuity, and e) the degree of topic continuity in classic kaba of Minangkabau language.&#xD;
	This research used the quantitative approached, pioneered by Givon (1983). He declares a) the greater the distance, the less continuous the topic, b) the more persistence a referent, the more topic continuous it is,  c) the less potential interference, the more topic continuity.&#xD;
	The method of research was qualitative-descriptive methods. Collecting the data was used documentation method and the technique was note-taking  technique. &#xD;
	The results are as follows : 1) zero-anaphore encode the most continuous topic and indefinite pronoun the less continuous topic, 2) topic function as subject  is the most continuous and  topic function as others is the less continuous, )  3) topic [human] is more continuous than topic [non-human], 4) the topics which is functioned  as introducing topic are definite pronoun, indefinite pronoun and relative pronoun  and the topics which is functioned as connecting topic are zero-anaphora, possessive pronoun, and third person pronoun, 5)  The highest degree of topic hierarchy are started from zero-anaphora,  third person pronoun,  possessive pronoun, relative pronoun,  definite pronoun, and the lowest hierarchy is  indefinite pronoun.
Abstract (other language): Disertasi ini berhubungan dengan perangkat-perangkat gramatikal, seperti pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif, pronomina relatif, pronomina posesif, pronomina definit dan pronomina indefinit yang terdapat dalam teks kaba klasik bahasa Minangkabau, yang berjudul Anggun Nan Tongga. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan a) tingkat kesinambungan keenam bentuk topik, b) menemukan tingkat kesinambungan fungsi gramatikal topik, c) menemukan tingkat kesinambungan faktor keinsanan topik, d) menemukan peran setiap bentuk topik dan e) menemukan derajat kesinambungan topik dalam kaba klasik Minangkabau.&#xD;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang dipelopori oleh  Givon (1983). Dia menyatakan a) semakin jauh jarak rujuk topik, semakin rendah kesinambungannya, b) semakin berlanjut keberterusan topik, semakin tinggi kesinambungannya, dan c) semakin sedikit gangguan dari topik lain, semakin  tinggi kesinambungan topik. &#xD;
Metode penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca-catat.&#xD;
Hasil penelitian adalah 1) pronomina kosong memiliki tinggkat kesinambungan topik yang paling tinggi  dan pronomina tak takrif memiliki tingkat kesinambungan topik yang paling rendah. 2) topik yang berfungsi sebagai subjek memiliki kesinambungan topik tertinggi dan topik yang berfungsi sebagai Dan lain-lain memiliki kesinambungan topik terendah. 3) topik [+insan] memiliki kesinambungan topik lebih tinggi daripada topik [-insan]. 4) topik yang berperan sebagai alat pembuka adalah pronomina takrif, pronomina tak takrif, pronomina relatif dan topik yang berperan sebagai alat penghubung adalah pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif. 5) derajat kesinambungan topik tertinggi (hirarki paling atas) dimulai dari pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif, pronomina relatif, pronomina takrif dan terakhir (hirarki paling bawah) pronomina tak takrif.</description>
      <pubDate>Fri, 04 Feb 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21888</guid>
      <dc:date>2011-02-04T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Deliana</dc:creator>
      <dc:description>Disertasi ini berhubungan dengan perangkat-perangkat gramatikal, seperti pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif, pronomina relatif, pronomina posesif, pronomina definit dan pronomina indefinit yang terdapat dalam teks kaba klasik bahasa Minangkabau, yang berjudul Anggun Nan Tongga. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan a) tingkat kesinambungan keenam bentuk topik, b) menemukan tingkat kesinambungan fungsi gramatikal topik, c) menemukan tingkat kesinambungan faktor keinsanan topik, d) menemukan peran setiap bentuk topik dan e) menemukan derajat kesinambungan topik dalam kaba klasik Minangkabau.&#xD;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang dipelopori oleh  Givon (1983). Dia menyatakan a) semakin jauh jarak rujuk topik, semakin rendah kesinambungannya, b) semakin berlanjut keberterusan topik, semakin tinggi kesinambungannya, dan c) semakin sedikit gangguan dari topik lain, semakin  tinggi kesinambungan topik. &#xD;
Metode penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca-catat.&#xD;
Hasil penelitian adalah 1) pronomina kosong memiliki tinggkat kesinambungan topik yang paling tinggi  dan pronomina tak takrif memiliki tingkat kesinambungan topik yang paling rendah. 2) topik yang berfungsi sebagai subjek memiliki kesinambungan topik tertinggi dan topik yang berfungsi sebagai Dan lain-lain memiliki kesinambungan topik terendah. 3) topik [+insan] memiliki kesinambungan topik lebih tinggi daripada topik [-insan]. 4) topik yang berperan sebagai alat pembuka adalah pronomina takrif, pronomina tak takrif, pronomina relatif dan topik yang berperan sebagai alat penghubung adalah pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif. 5) derajat kesinambungan topik tertinggi (hirarki paling atas) dimulai dari pronomina kosong, pronomina orang ketiga, pronomina posesif, pronomina relatif, pronomina takrif dan terakhir (hirarki paling bawah) pronomina tak takrif.</dc:description>
    </item>
  </channel>
</rss>

