<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>USU-IR Community: Lecture Papers</title>
    <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/18</link>
    <description>Lecture Papers</description>
    <pubDate>Sat, 25 May 2013 12:48:33 GMT</pubDate>
    <dc:date>2013-05-25T12:48:33Z</dc:date>
    <item>
      <title>Identifikasi Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Bagi Anak Di Kota Tanjungbalai</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37329</link>
      <description>Authors: Harahap, R. Hamdani
Abstract (other language): Persoalan pekerja anak semakin menjadi perhatian berbagai pihak di tingkat internasional hingga daerah. Ini mengindikasikan bahwa persoalan pekerja anak merupakan masalah serius dan membutuhkan penanganan yang komprehensif. Terutama sejak dikeluarkannya Konvensi Hak Anak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada pasal 32 Konvensi Hak Anak (KHA) menyebutkan bahwa pekerja anak berhak dilindungi dari pekerjaan yang membahayakan kesehatan fisik, mental, spritual, moral maupun perkembangan sosial atau mengganggu pendidikan mereka. Dari pasal tersebut tampak ada pengakuan bahwa persoalan pekerja anak harus didekati sebagai persoalan kesejahteraan dan perkembangan anak. Suatu cara pandang yang mendukung gerakan pro pekerja anak disertai pemenuhan hak mereka atas pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk menjamin  kesejahteraannya.</description>
      <pubDate>Fri, 10 May 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37329</guid>
      <dc:date>2013-05-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Harahap, R. Hamdani</dc:creator>
      <dc:description>Persoalan pekerja anak semakin menjadi perhatian berbagai pihak di tingkat internasional hingga daerah. Ini mengindikasikan bahwa persoalan pekerja anak merupakan masalah serius dan membutuhkan penanganan yang komprehensif. Terutama sejak dikeluarkannya Konvensi Hak Anak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada pasal 32 Konvensi Hak Anak (KHA) menyebutkan bahwa pekerja anak berhak dilindungi dari pekerjaan yang membahayakan kesehatan fisik, mental, spritual, moral maupun perkembangan sosial atau mengganggu pendidikan mereka. Dari pasal tersebut tampak ada pengakuan bahwa persoalan pekerja anak harus didekati sebagai persoalan kesejahteraan dan perkembangan anak. Suatu cara pandang yang mendukung gerakan pro pekerja anak disertai pemenuhan hak mereka atas pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk menjamin  kesejahteraannya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Standar Perpustakaan Umum Colorado 2011</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35619</link>
      <description>Authors: Pangaribuan, Syakirin
Abstract: Revisi Standar Komite Perpustakaan Umum Colorado telah disimpan dalam prinsip-prinsip pikiran berikut seperti kita bekerja pada Standar Perpustakaan Public Colorado (CPLS):&#xD;
♣ Pertimbangan peran perpustakaan umum dalam mempertahankan masyarakat yang beradab&#xD;
♣ Nilai perpustakaan umum dalam perannya sebagai sumber daya masyarakat&#xD;
♣ Memahami peran perpustakaan umum sebagai refleksi dari warisan budaya kami&#xD;
♣ Mengakui keragaman dan keunikan dari perpustakaan di seluruh negara bagian&#xD;
♣ Memahami kebutuhan masyarakat kita&#xD;
♣ Nilai akses informasi dan kebebasan intelektual&#xD;
♣ Mengakui keterampilan, bakat, dan kontribusi dari staf perpustakaan&#xD;
Tujuan Tujuan dari standar adalah:&#xD;
1) Untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan kepada semua Coloradans.&#xD;
2) Untuk menginformasikan kepada masyarakat pengguna tentang apa yang bisa mereka harapkan dari perpustakaan mereka.&#xD;
3) Untuk membantu perpustakaan dalam hubungannya dengan masyarakat yang mereka layani.&#xD;
4) Untuk memberikan administrator perpustakaan dokumen yang otoritatif dan pendukung untuk mungkin merujuk ketika membenarkan permintaan dana.&#xD;
5) Untuk membantu dalam perencanaan dan pelatihan.&#xD;
Cara Menggunakan Dokumen Standar telah ditulis sebagai rangkaian seluruh unit. Standar masing-masing memiliki bagian pengantar pendek yang diikuti dengan checklist. Ketika yang bersangkutan dengan tabel telah dimasukkan dalam pengantar untuk menyediakan informasi perpustakaan yang telah dikumpulkan dari Laporan Tahunan Perpustakaan Umum Colorado, dan bila tersedia, Laporan Umum Perpustakaan Nasional. Sebagai bantuan dalam perencanaan, checklist menyediakan sarana agar stakeholder perpustakaan dapat mendiskusikan dan menentukan bagaimana perpustakaan mereka telah menjawab atau harus mengatasi Standar. Dalam beberapa kasus, perpustakaan akan melampaui rekomendasi; pada sisi lain, perpustakaan mungkin menemukan cara lain untuk mengatasi rekomendasi tersebut; pada sisi lain, perpustakaan dapat memutuskan rekomendasi yang tidak relevan atau bermakna dalam komunitas mereka.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35619</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Standar dan Pedoman Perpustakaan Umum Australia</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35617</link>
      <description>Authors: Pangaribuan, Syakirin
Abstract: Dokumen ini adalah panduan berbasis bukti untuk pengembangan layanan perpustakaan umum di Australia. Perpustakaan Nasional Negara Australasia (NSLA) menggunakan pemeriksaan tahunan statistik negara bagian dan teritori sebagai bukti dasar, dan dibangun di atas karya sebelumnya pada standar dan pedoman yang dilakukan oleh Perpustakaan Negara New South Wales dan Queensland. Standar adalah tingkat kualitas - tujuan untuk dicapai, dan disajikan pada tingkat dasar dan tingkat layanan pengiriman ditingkatkan. Pedoman dokumen praktek terbaik dan dimaksudkan sebagai saran untuk meningkatkan kinerja operasional perpustakaan. Dalam edisi pertama ada 12 standar dan 20 pedoman. sebagai berikut:&#xD;
Standar&#xD;
S1 S2 S3 S4 S5 S6&#xD;
Pengeluaran Perpustakaan per kapita per tahun Anggota sebagai persentase dari populasi Kunjungan per kapita per tahun Rasio staf untuk populasi yang dilayani Rasio staf Berkualitas untuk populasi yang dilayani Pengeluaran bahan perpustakaan per kapita per tahun&#xD;
S7 S8 S9 S10 S11 S12&#xD;
Item koleksi dalam per kapita Usia koleksi (lima tahun terakhir) Sirkulasi (pinjaman) per kapita per tahun Perputaran stok koleksi - pinjaman per volume Penyediaan komputer Internet Standar untuk kepuasan pelanggan&#xD;
Ringkasan Standar disajikan di bawah ini. Standar juga disajikan dalam konteks di dalam teks utama dari Pedoman. Pedoman&#xD;
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7 G8 G9 G10&#xD;
Manajemen dan Operasi Perpustakaan Staf Gedung Perpustakaan Jam Buka Koleksi Perpustakaan Teknologi Informasi Layanan Informasi Pinjaman Antar Perpustakaan Program Pelayanan Pelanggan&#xD;
G11 G12 G13 G14 G15 G16 G17 G18 G19 G20&#xD;
Pemasaran dan Hubungan Masyarakat Handphone Perpustakaan Koleksi dan Layanan Studi Lokal Layanan Literacy Layanan untuk Penduduk Asli Australia Layanan untuk masyarakat budaya beragam Layanan untuk para penyandang cacat Layanan bagi kaum muda Layanan untuk orang tua Layanan Perpustakaan Rumah&#xD;
Diharapkan pengelola perpustakaan akan menggunakan standar dan pedoman dalam hubungannya dengan informasi berbasis negara bagian dan teritori yang lebih rinci, dan bahwa hal tersebut akan diterapkan dalam konteks tantangan dan peluang lokal. ALIA akan memastikan bahwa standar dan pedoman yang terus up to date sebagai dasar bukti mereka berkembang.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35617</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Bunga Rampai Pelayanan Referensi Elektronik (e-Reference)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35613</link>
      <description>Authors: Pangaribuan, Syakirin
Abstract: Perpustakaan dan profesi informasi menghadapi tantangan zaman yang telah ditransformasikan oleh teknologi elektronik. Kemajuan dalam teknologi informasi telah membawa perubahan yang luar biasa di hampir setiap aspek layanan Informasi. Layanan referensi juga tidak terkecuali. Menurut sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1999 oleh Association of Research Library (ARL) bahwa 78 dari 122 perpustakaan anggota ARL telah menawarkan beberapa jenis layanan referensi elektronik mulai dari e-mail, chatting, e-commerce Web. Kemudian pada tahun 2000 Perpustakaan University of California, Irvine (UCI) dan UCLA College Library mulai menguji software Webline dan eGain untuk layanan referensi 24/7. Perpustakaan UCI membaut formulir pertanyaan e-mail yang disebut “Ask A Librarian” pada halaman depan situs Webnya. Tim Layanan Referensi Elektronik yang beranggotakan 6 orang ditugaskan untuk menanggapi dan menjawab semua pertanyaan yang masuk paling lama dalam waktu 24 jam.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35613</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Crew : Manual Penyiangan Koleksi&#xD;
Perpustakaan Modern</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35610</link>
      <description>Authors: Larson, Jeanette; Pangaribuan, Syakirin
Abstract: Kerja Perpustakaan merupakan campuran program rumit layanan dan koleksi bahan perpustakaan. Penting mengakui bahwa Penyiangan hanyalah salah satu bagian dari proses pengembangan koleksi yang pada gilirannya merupakan bagian dari totalitas pekerjaan yang kita lakukan untuk membuat sebuah perpustakaan merupakan bagian penting dari masyarakat. Koleksi perpustakaan adalah bagian paling nyata dari layanan perpustakaan ini. Dasar dari koleksi perpustakaan serta bagaimana dikembangkan dan dipelihara bersandar pada misi dan prioritas layanan yang telah ditetapkan melalui proses perencanaan formal atau informal. Banyak perpustakaan menggunakan proses perencanaan the Public Library Association’s (PLA) setidaknya sampai batas tertentu, dan mengacu pada proses tentang konsep “respon pelayanan”. Meskipun poin-poin tanggapan pelayanan yang dikemukakan oleh PLA direvisi pada tahun 2007, konsep di balik label-label tersebut tetap sangat mirip dengan yang lebih tua yang mungkin lebih akrab bagi staf perpustakaan. Apakah perpustakaan menggambarkan salah satu dari respon layanan utama seperti “Dapatkan Fakta Cepat”, label baru atau lebih tua dari "informasi umum” bahan pustaka dalam koleksi akan perlu untuk mendukung layanan dan kebutuhan yang masuk ke prioritas pelayanan. Sebuah perpustakaan yang berusaha untuk menyediakan arus membaca bahan pustaka dan informasi umum harus memiliki koleksi yang up-to-date dan mudah digunakan. Prinsip-prinsip manajemen perpustakaan yang baik dimulai dengan proses perencanaan dan analisis kebutuhan masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. Apakah anda menggunakan proses Perencanaan seperti the Public Library Association’s Planning for Results1 atau proses perencanaan lain, mengetahui di mana perpustakaan dan kemana Anda ingin pergi adalah langkah pertama dalam penyiangan.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35610</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Larson, Jeanette</dc:creator>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Konsorsium Perpustakaan Digital UGC INFONET</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35607</link>
      <description>Authors: Pangaribuan, Syakirin
Abstract: Kerjasama antara lembaga-lembaga perpustakaan untuk berbagi sumber daya mereka sedang dipraktekkan pada dekade ini. Secara tradisional, tujuan utama pembentukan konsorsium perpustakaan adalah untuk berbagi sumber daya fisik termasuk buku dan majalah di antara anggota. Namun, modus kerjasama telah berkembang di bawah transformasi dengan infus teknologi informasi baru dari media cetak menjadi lingkungan berbasis digital. Dengan munculnya Internet, khususnya Web, World Wide Web (WWW) sebagai media baru penyampaian informasi memicu proliferasi sumber daya fulltext berbasis online web.&#xD;
Meningkatnya jumlah penerbit yang menggunakan Internet sebagai cara global untuk menawarkan publikasi mereka kepada masyarakat ilmuwan internasional. Teknologi ini memberikan media penyampaian informasi tak tertandingi dengan kecepatan yang lebih besar dan ekonomis. Perpustakaan dan pusat informasi, sebagai konsumen berat jurnal elektronik dan database online, memperoleh manfaat besar dari revolusi teknologi. Ketersediaan informasi elektronik berbasis produk-IT yang mengerahkan tekanan pada perpustakaan terus meningkat, yang pada gilirannya akan melakukan bagian-bagian yang lebih besar dari alokasi anggaran mereka baik untuk pengadaan atau mengakses web online berbasis fulltext, layanan pencarian, produk CD ROM dan database online.&#xD;
Perpustakaan dengan mengurangi alokasi keuangan statis harus mempertimbangkan cara-cara baru yang terbaik untuk mengkonsolidasikan sumber daya global di antara mereka dalam rangka untuk memaksimalkan sumber daya keuangan mereka yang terbatas. Kombinasi perkembangan telah menghasilkan dalam pengembangan "berlangganan bersama" atau "Konsorsium berbasis langganan" untuk jurnal apa saja yang terbit di dunia.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35607</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Isu Kunci Pengembangan Koleksi Elektronk :&#xD;
Panduan Untuk Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35605</link>
      <description>Authors: Pangaribuan, Syakirin; Johnson, Sharon; Evensen, Ole Gunnar; Gelfand, Julia; Sipe, Lynn; Zilper, Nadia
Abstract: Sumber daya elektronik merupakan komponen yang semakin penting dari kegiatan pengembangan koleksi perpustakaan. "Sumberdaya elektronik" mengacu pada bahan-bahan yang memerlukan akses komputer, baik melalui komputer pribadi, mainframe, atau perangkat genggam mobile. Sumberdaya elektronik tersebut juga dapat diakses dari jarak jauh melalui internet atau secara lokal. Beberapa dari jenis yang paling sering ditemui adalah:&#xD;
 E-jurnal&#xD;
 E-buku&#xD;
 Database Fulltext (agregat)&#xD;
 Database Pengindeksan dan Abstrak&#xD;
 Database Referensi (biografi, kamus, direktori, ensiklopedia, dll)&#xD;
 Database Statistik dan Numeric&#xD;
 E-images&#xD;
 Sumber E-audio/visual&#xD;
Panduan ini secara eksklusif memfokuskan pada sumber daya elektronik apakah diperoleh melalui pembelian atau lisensi, bebas dari web, lahir digital atau bahan format ganda (misalnya, CD-ROM dikombinasikan dengan buku). Sumber daya elektronik menyajikan sejumlah tantangan yang tidak ditemui pada seleksi dan akuisisi bahan analog tradisional dan itu dianjurkan untuk perpustakaan untuk mengembangkan kebijakan dan proses yang jelas untuk seleksi dan pengelolaan sumberdaya tersebut. Hal ini akan memberikan kejelasan kepada staf dan memastikan bahwa sumber daya elektronik dalam perpustakaan dikembangkan dengan mempertimbangkan kendala biaya, kelayakan teknis, perizinan, akses dan persyaratan pelestarian.</description>
      <pubDate>Mon, 08 Apr 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35605</guid>
      <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pangaribuan, Syakirin</dc:creator>
      <dc:creator>Johnson, Sharon</dc:creator>
      <dc:creator>Evensen, Ole Gunnar</dc:creator>
      <dc:creator>Gelfand, Julia</dc:creator>
      <dc:creator>Sipe, Lynn</dc:creator>
      <dc:creator>Zilper, Nadia</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pembelajaran Anak Usia Prasekolah</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34053</link>
      <description>Authors: Rola, Fasti
Abstract (other language): Berbicara tentang anak TK, hingga saat ini, kita kerapkali mendengar polemik mengenai boleh tidaknya mengharuskan anak-anak TK untuk bisa membaca dan menulis. Pendapat yang mengharuskan anak TK bisa baca tulis, biasanya dilatar belakangi oleh keinginan untuk bisa masuk SD dengan mudah karena pada saat tes masuk SD, ada banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Sedangkan pendapat yang berlawanan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa mengharuskan anak TK bisa membaca dan menulis, berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Hal ini membuat aktivitas bermain anak yang seyogyanya dominan untuk usia mereka, menjadi berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan anak secara optimal kelak kemudian hari. &#xD;
Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti, karena masing-masing pendapat, tampak memiliki alasan yang cukup kuat (Purbo, dalam http://www.parentsguide.co.id/smf/index.php?topic=320.0;wap2).</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34053</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rola, Fasti</dc:creator>
      <dc:description>Berbicara tentang anak TK, hingga saat ini, kita kerapkali mendengar polemik mengenai boleh tidaknya mengharuskan anak-anak TK untuk bisa membaca dan menulis. Pendapat yang mengharuskan anak TK bisa baca tulis, biasanya dilatar belakangi oleh keinginan untuk bisa masuk SD dengan mudah karena pada saat tes masuk SD, ada banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Sedangkan pendapat yang berlawanan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa mengharuskan anak TK bisa membaca dan menulis, berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Hal ini membuat aktivitas bermain anak yang seyogyanya dominan untuk usia mereka, menjadi berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan anak secara optimal kelak kemudian hari. &#xD;
Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti, karena masing-masing pendapat, tampak memiliki alasan yang cukup kuat (Purbo, dalam http://www.parentsguide.co.id/smf/index.php?topic=320.0;wap2).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perhitungan Penyusutan (Depresiasi)Pada Modal Tetap Sebagai Strategi Keberlanjutan Usahatani</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34052</link>
      <description>Authors: Emalisa
Abstract (other language): Usahatani sebagaimana jenis-jenis usaha ekonomi lainnya membutuhkan modal untuk menjalankannya, namun sangat disayangkan sebagian petani di Indonesia sering mengalami masalah dalam penyediaan modal tersebut. Setiap akan memulai suatu kegiatan usahatani petani selalu bingung mencari modal. Meskipun usahatani dikatakan sebagai suatu kegiatan ekonomi sesuai dengan pembentuk kalimatnya ”usaha” dan ”tani”, namun usahatani tidak berbadan hukum dan ini berdampak terhadap sulit bahkan tidak memungkinkannya seorang petani yang memiliki suatu usahatani mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan seperti ke Bank atau lembaga kredit berbadan hukum lainnya atas nama usahatani yang dimilikinya.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34052</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Emalisa</dc:creator>
      <dc:description>Usahatani sebagaimana jenis-jenis usaha ekonomi lainnya membutuhkan modal untuk menjalankannya, namun sangat disayangkan sebagian petani di Indonesia sering mengalami masalah dalam penyediaan modal tersebut. Setiap akan memulai suatu kegiatan usahatani petani selalu bingung mencari modal. Meskipun usahatani dikatakan sebagai suatu kegiatan ekonomi sesuai dengan pembentuk kalimatnya ”usaha” dan ”tani”, namun usahatani tidak berbadan hukum dan ini berdampak terhadap sulit bahkan tidak memungkinkannya seorang petani yang memiliki suatu usahatani mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan seperti ke Bank atau lembaga kredit berbadan hukum lainnya atas nama usahatani yang dimilikinya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Gambaran Radiologis Pada Hepatocelular Carcinoma</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34051</link>
      <description>Authors: Sipahutar, Henny Maisara
Abstract (other language): Hepatocelluler Carcinoma (HCC) atau hepatoma merupakan tumor hepar yang  ganas dan fatal, terdapat  85 % atau lebih dari seluruh tumor ganas hepar primer. Hepatoma ini biasanya berhubungan dengan penyakit hati kronik seperti sirosis, hepatitis kronis aktif, ataupun hemokromatosis.(1) Pasien hepatoma biasanya tidak mempunyai keluhan khusus sehingga menyebabkan pasien datang terlambat dan sudah dalam keadaan gagal hati terminal. (1,2) Angka kejadian dari hepatoma ini dipengaruhi oleh letak geografis dari suatu wilayah. Di Indonesia dan asia penyakit ini sering ditemukan dan paling banyak disebabkan oleh hepatitis B dan C, sedangkan di negara barat sirosis alkoholik merupakan penyebab tersering terjadinya hepatoma. Pasien dengan hepatitis C disertai dengan sirosis hati 25% - 30% dapat berlanjut menjadi hepatoma. Pasien yang terinfeksi hepatitis B dan C secara bersamaan merupakan resiko tinggi terjadinya hepatoma. (2,3,4)</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34051</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sipahutar, Henny Maisara</dc:creator>
      <dc:description>Hepatocelluler Carcinoma (HCC) atau hepatoma merupakan tumor hepar yang  ganas dan fatal, terdapat  85 % atau lebih dari seluruh tumor ganas hepar primer. Hepatoma ini biasanya berhubungan dengan penyakit hati kronik seperti sirosis, hepatitis kronis aktif, ataupun hemokromatosis.(1) Pasien hepatoma biasanya tidak mempunyai keluhan khusus sehingga menyebabkan pasien datang terlambat dan sudah dalam keadaan gagal hati terminal. (1,2) Angka kejadian dari hepatoma ini dipengaruhi oleh letak geografis dari suatu wilayah. Di Indonesia dan asia penyakit ini sering ditemukan dan paling banyak disebabkan oleh hepatitis B dan C, sedangkan di negara barat sirosis alkoholik merupakan penyebab tersering terjadinya hepatoma. Pasien dengan hepatitis C disertai dengan sirosis hati 25% - 30% dapat berlanjut menjadi hepatoma. Pasien yang terinfeksi hepatitis B dan C secara bersamaan merupakan resiko tinggi terjadinya hepatoma. (2,3,4)</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Gambaran Radiologis Pada Abses Paru</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34048</link>
      <description>Authors: Sipahutar, Henny Maisara
Abstract (other language): Abses paru adalah lesi paru berupa supurasi dan nekrosis jaringan.(1) Pada daerah abses, terdapat suatu daerah lokal nekrosis supurativa di dalam parenkim paru, yang menyebabkan terbentuknya satu atau lebih kavitas yang besar. Kemajuan ilmu kedokteran saat ini menyebabkan kejadian abses paru menurun karena adanya perbaikan risiko terjadinya abses paru seperti teknik operasi dan anastesi yang lebih baik dan penggunaan antibiotik lebih dini, kecuali pada kondisi-kondisi yang memudahkan untuk terjadinya aspirasi dan pada populasi dengan daya tahan tubuh yang menurun (immunocompromised).(2)</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34048</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Sipahutar, Henny Maisara</dc:creator>
      <dc:description>Abses paru adalah lesi paru berupa supurasi dan nekrosis jaringan.(1) Pada daerah abses, terdapat suatu daerah lokal nekrosis supurativa di dalam parenkim paru, yang menyebabkan terbentuknya satu atau lebih kavitas yang besar. Kemajuan ilmu kedokteran saat ini menyebabkan kejadian abses paru menurun karena adanya perbaikan risiko terjadinya abses paru seperti teknik operasi dan anastesi yang lebih baik dan penggunaan antibiotik lebih dini, kecuali pada kondisi-kondisi yang memudahkan untuk terjadinya aspirasi dan pada populasi dengan daya tahan tubuh yang menurun (immunocompromised).(2)</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakteristik  Bakso  Dari Campuran  Tepung Kedele Dan Tepung Tempe  Dengan Daging Sapi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34045</link>
      <description>Authors: Nurminah, Mimi
Abstract (other language): Perbaikan  cara pengolahan sumber-sumber protein yang ada dan membuat makanan baru yang terbuat dari bahan pangan yang mudah tersedia, murah dan bergizi tinggi serta dapat diterima oleh masyarakat merupakan cara-cara mengatasi masalah kekurangan protein yang terjadi di masyarakat. Untuk itu kami membuat bakso dari tepung kedele dan tepung tempe dari kedele lokal dan kedele impor. Perlakuan terdiri dari 2 faktor, yaitu tepung protein (pencampuran tepung tempe dan tepung kedele) dan persentase daging sapi yang ditambahkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tepung protein memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar lemak  dan organoleptik aroma bakso, pengaruh persentase daging sapi memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar lemak, organoleptik rasa dan aroma bakso, pengaruh kombinasi tepung protein dengan persentase daging sapi memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,05) terhadap kadar lemak, semakin tinggi persentase tepung protein yang digunakan maka semakin rendah nilai organoleptik rasa.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34045</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nurminah, Mimi</dc:creator>
      <dc:description>Perbaikan  cara pengolahan sumber-sumber protein yang ada dan membuat makanan baru yang terbuat dari bahan pangan yang mudah tersedia, murah dan bergizi tinggi serta dapat diterima oleh masyarakat merupakan cara-cara mengatasi masalah kekurangan protein yang terjadi di masyarakat. Untuk itu kami membuat bakso dari tepung kedele dan tepung tempe dari kedele lokal dan kedele impor. Perlakuan terdiri dari 2 faktor, yaitu tepung protein (pencampuran tepung tempe dan tepung kedele) dan persentase daging sapi yang ditambahkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh tepung protein memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar lemak  dan organoleptik aroma bakso, pengaruh persentase daging sapi memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar lemak, organoleptik rasa dan aroma bakso, pengaruh kombinasi tepung protein dengan persentase daging sapi memberi pengaruh berbeda sangat nyata (p&lt;0,05) terhadap kadar lemak, semakin tinggi persentase tepung protein yang digunakan maka semakin rendah nilai organoleptik rasa.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Remaja</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34043</link>
      <description>Authors: Siregar, Ade Rahmawati
Abstract (other language): Istilah remaja berasal dari kata latin adolescere ( kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Saat ini adolesence mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental,emosional, sosial dan fisik.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34043</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siregar, Ade Rahmawati</dc:creator>
      <dc:description>Istilah remaja berasal dari kata latin adolescere ( kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 1999). Saat ini adolesence mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental,emosional, sosial dan fisik.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Tumor Otak Metastasis</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34042</link>
      <description>Authors: Fitri, Fasihah Irfani
Abstract (other language): Tumor otak metastasis merupakan lesi otak yang cukup sering dijumpai.1-3 Metastasis ke otak merupakan komplikasi sistemik kanker yang paling ditakuti dan merupakan tumor intrakranial yang paling umum pada orang dewasa.4 Sekitar 15-20% pasien kanker akan didiagnosis dengan tumor otak metastasis. Insiden dari tumor ini diperkirakan 4.1-11.1 per 100.000 populasi/tahun. Insiden tumor otak metastasis meningkat sejalan dengan semakin majunya terapi sistemik yang memperpanjang angka harapan hidup, semakin banyaknya populasi lanjut usia, meningkatnya insiden kanker paru dan melanoma dan kemampuan MRI dalam mendeteksi metastasis berukuran kecil.1,5,6 Pada orang dewasa, sumber metastasis utama adalah kanker paru, payudara dan melanoma.Metastasis ke parenkim otak merupakan bentuk keterlibatan SSP yang tersering dari kanker sistemik. Penyebaran terutama secara hematogen. Selain itu penyebaran ke parenkim bisa juga terjadi sebagai akibat perluasan dari metastasis tulang yang berdekatan. Metastasis cenderung berada di gray-white matter junction karena pada daerah ini pembuluh darah berubah ukuran sehingga emboli metastatik dapat terperangkap.1,3 Penatalaksanaan tumor otak metastasis hingga saat ini masih terus menjadi tantangan karena asal metastasis otak yang sangat beragam dan waktu survival yang relatif singkat. 5</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34042</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Fitri, Fasihah Irfani</dc:creator>
      <dc:description>Tumor otak metastasis merupakan lesi otak yang cukup sering dijumpai.1-3 Metastasis ke otak merupakan komplikasi sistemik kanker yang paling ditakuti dan merupakan tumor intrakranial yang paling umum pada orang dewasa.4 Sekitar 15-20% pasien kanker akan didiagnosis dengan tumor otak metastasis. Insiden dari tumor ini diperkirakan 4.1-11.1 per 100.000 populasi/tahun. Insiden tumor otak metastasis meningkat sejalan dengan semakin majunya terapi sistemik yang memperpanjang angka harapan hidup, semakin banyaknya populasi lanjut usia, meningkatnya insiden kanker paru dan melanoma dan kemampuan MRI dalam mendeteksi metastasis berukuran kecil.1,5,6 Pada orang dewasa, sumber metastasis utama adalah kanker paru, payudara dan melanoma.Metastasis ke parenkim otak merupakan bentuk keterlibatan SSP yang tersering dari kanker sistemik. Penyebaran terutama secara hematogen. Selain itu penyebaran ke parenkim bisa juga terjadi sebagai akibat perluasan dari metastasis tulang yang berdekatan. Metastasis cenderung berada di gray-white matter junction karena pada daerah ini pembuluh darah berubah ukuran sehingga emboli metastatik dapat terperangkap.1,3 Penatalaksanaan tumor otak metastasis hingga saat ini masih terus menjadi tantangan karena asal metastasis otak yang sangat beragam dan waktu survival yang relatif singkat. 5</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Attention Deficit/Hyperactivity Disorder&#xD;
(ADHD)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34038</link>
      <description>Authors: Siregar, Ade Rahmawati
Abstract (other language): Attention Deficit/Hyperactivity Disorder atau yang dikenal luas dengan istilah ADHD merupakan gangguan yang cukup banyak terjadi pada anak-anak selama kurun waktu satu abad. Pada masa lalu para ahli klinis  menyebut ADHD dengan istilah organic drivennes, minimal brain dysfunction, hyperkinetic syndrome atau attention deficit disorder (Conners &amp; Jett, 2001).</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34038</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Siregar, Ade Rahmawati</dc:creator>
      <dc:description>Attention Deficit/Hyperactivity Disorder atau yang dikenal luas dengan istilah ADHD merupakan gangguan yang cukup banyak terjadi pada anak-anak selama kurun waktu satu abad. Pada masa lalu para ahli klinis  menyebut ADHD dengan istilah organic drivennes, minimal brain dysfunction, hyperkinetic syndrome atau attention deficit disorder (Conners &amp; Jett, 2001).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran Komunikasi Bagi Pustakawan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34037</link>
      <description>Authors: Junaida
Abstract (other language): Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikan kepada penerima berupa suara, tulisan, atau simbol. Kata komunikasi berasal dari communication (bahasa Inggris), communis, communico, communicare (bahasa Latin) berarti membuat sama atau to make common. Melalui komunikasi yang baik diharapkan mampu memperluas informasi, meningkatkan pengetahuan, melestarikan warisan budaya, dan membangun peradaban. Dengan ketrampilan komunikasi seseorang akan mampu mengembangkan diri secara optimal dalam bidang atau karir tertentu.</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34037</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Junaida</dc:creator>
      <dc:description>Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikan kepada penerima berupa suara, tulisan, atau simbol. Kata komunikasi berasal dari communication (bahasa Inggris), communis, communico, communicare (bahasa Latin) berarti membuat sama atau to make common. Melalui komunikasi yang baik diharapkan mampu memperluas informasi, meningkatkan pengetahuan, melestarikan warisan budaya, dan membangun peradaban. Dengan ketrampilan komunikasi seseorang akan mampu mengembangkan diri secara optimal dalam bidang atau karir tertentu.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Keratoakantoma</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34035</link>
      <description>Authors: Hazlianda, Cut Putri
Abstract (other language): Keratoakantoma merupakan tumor epithelial yang umum dijumpai pada kulit dengan karakteristik pertumbuhan yang cepat, gambaran histopatologis yang mirip dengan karsinoma sel skuamosa dan dapat regresi spontan.1 Keratoakantoma merupakan keganasan tingkat rendah yang berasal dari kelanjar pilosebaseus dan gambaran patologi mirip dengan karsinoma sel skuamosa.2,3 Namun disebutkan juga sebagai varian dari karsinoma sel skuamosa karena berpotensi metastase dan merusak jaringan apabila tidak ditangani.1-3</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34035</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hazlianda, Cut Putri</dc:creator>
      <dc:description>Keratoakantoma merupakan tumor epithelial yang umum dijumpai pada kulit dengan karakteristik pertumbuhan yang cepat, gambaran histopatologis yang mirip dengan karsinoma sel skuamosa dan dapat regresi spontan.1 Keratoakantoma merupakan keganasan tingkat rendah yang berasal dari kelanjar pilosebaseus dan gambaran patologi mirip dengan karsinoma sel skuamosa.2,3 Namun disebutkan juga sebagai varian dari karsinoma sel skuamosa karena berpotensi metastase dan merusak jaringan apabila tidak ditangani.1-3</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Trombosis Pada Kanker</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34034</link>
      <description>Authors: Pase, M. Aron
Abstract (other language): Trombosis adalah proses pembentukan bekuan darah didalam pembuluh darah atau ruang jantung. Bekuan darah disebut thrombus, yang berakibat pada gangguan aliran darah ke jaringan atau organ.(1)&#xD;
&#xD;
Trombosis telah diidentifikasi akibat komplikasi dari kanker oleh Trousseau pada tahun 1865 dan kombinasi dari kedua kondisi ini masih sering disebut “Trousseau’s syndrom”. Ironisya Trousseau sendiri terkena DVT pada tahun Januari 1867 dan meninggal karena kanker lambung pada Juni 1867. Trombosis vena yang paling sering terkena dibandingkan arteri akibat komplikasi ini. Dan kadangkala menjadi petanda dari kanker. Karena ditemukan 20% pasien yang datang dengan sumbatan pada vena dalam (DVT) atau emboli paru, ternyata dikemudian hari menjadi kanker.(2)</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34034</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pase, M. Aron</dc:creator>
      <dc:description>Trombosis adalah proses pembentukan bekuan darah didalam pembuluh darah atau ruang jantung. Bekuan darah disebut thrombus, yang berakibat pada gangguan aliran darah ke jaringan atau organ.(1)&#xD;
&#xD;
Trombosis telah diidentifikasi akibat komplikasi dari kanker oleh Trousseau pada tahun 1865 dan kombinasi dari kedua kondisi ini masih sering disebut “Trousseau’s syndrom”. Ironisya Trousseau sendiri terkena DVT pada tahun Januari 1867 dan meninggal karena kanker lambung pada Juni 1867. Trombosis vena yang paling sering terkena dibandingkan arteri akibat komplikasi ini. Dan kadangkala menjadi petanda dari kanker. Karena ditemukan 20% pasien yang datang dengan sumbatan pada vena dalam (DVT) atau emboli paru, ternyata dikemudian hari menjadi kanker.(2)</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kelainan Sistem Gastrointestinal Pada Infeksi HIV</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34032</link>
      <description>Authors: Pase, M. Aron
Abstract (other language): Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh human innunodeficiency virus, yang disebut HIV. Pada umumnya AIDS disebabkan oleh HIV-1. Transmisi virus terjadi melalui cairan tubuh yang terinfeksi seperti hubungan sexual, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, tranfusi darah atau produk darah dan bayi yang ditularkan secara vertical dari ibu yang menderita penyakit ini.(1)</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34032</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pase, M. Aron</dc:creator>
      <dc:description>Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh human innunodeficiency virus, yang disebut HIV. Pada umumnya AIDS disebabkan oleh HIV-1. Transmisi virus terjadi melalui cairan tubuh yang terinfeksi seperti hubungan sexual, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, tranfusi darah atau produk darah dan bayi yang ditularkan secara vertical dari ibu yang menderita penyakit ini.(1)</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Infeksi Parasit Pada Paru</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34031</link>
      <description>Authors: Pase, M. Aron
Abstract (other language): Infeksi parasit paru lebih sering muncul di Negara tropis, hal ini dilaporkan semakin meningkat di beberapa negara akibat globalisasi dan perjalanan antar benua. Hal ini diakibatkan juga munculnya infeksi HIV/AIDS, keseringan penggunaan obat imunosupresiv pada berbagai penyakit dan bertambahnya jumlah transplantasi organ.(1,2)&#xD;
Infeksi parasit baik disebabkan protozoa dan cacing (heminth/worm) umum terjadi didaerah tropis dengan sanitasi yang buruk. (3) Infeksi parasit paru umumnya akan menginduksi darah dan jaringan eosinofil. Sedangkan infeksi protozoa umumnya tidak menyebabkan eosinofilia.(1)&#xD;
Masyarakat yang terkena infeksi parasit paru juga akan mencari pengobatan karena satu dari lebih gejala umum paru berupa batuk, nyeri dada dan sesak napas. Mungkin juga tidak dapat dijelaskan dari abnormalitas laboratorium, termasuk eosinofilia dan nodul paru.(2,3)&#xD;
Pada reading ini akan dijelaskan penyakit parasit yang penting dan umum menyebabkan infeksi ke paru mulai dari pathogenesis, gambaran klinis dan radiologis (foto thoraks dan CT scan dada), diagnosis dan manajemen pengobatan baik yang disebabkan oleh protozoa (Entamoeba, Plasmodium, Leishmania, Toxoplasma, Babesia) dan cacing (Cestoda, Treamatoda, Nematoda).</description>
      <pubDate>Mon, 15 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34031</guid>
      <dc:date>2012-10-15T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Pase, M. Aron</dc:creator>
      <dc:description>Infeksi parasit paru lebih sering muncul di Negara tropis, hal ini dilaporkan semakin meningkat di beberapa negara akibat globalisasi dan perjalanan antar benua. Hal ini diakibatkan juga munculnya infeksi HIV/AIDS, keseringan penggunaan obat imunosupresiv pada berbagai penyakit dan bertambahnya jumlah transplantasi organ.(1,2)&#xD;
Infeksi parasit baik disebabkan protozoa dan cacing (heminth/worm) umum terjadi didaerah tropis dengan sanitasi yang buruk. (3) Infeksi parasit paru umumnya akan menginduksi darah dan jaringan eosinofil. Sedangkan infeksi protozoa umumnya tidak menyebabkan eosinofilia.(1)&#xD;
Masyarakat yang terkena infeksi parasit paru juga akan mencari pengobatan karena satu dari lebih gejala umum paru berupa batuk, nyeri dada dan sesak napas. Mungkin juga tidak dapat dijelaskan dari abnormalitas laboratorium, termasuk eosinofilia dan nodul paru.(2,3)&#xD;
Pada reading ini akan dijelaskan penyakit parasit yang penting dan umum menyebabkan infeksi ke paru mulai dari pathogenesis, gambaran klinis dan radiologis (foto thoraks dan CT scan dada), diagnosis dan manajemen pengobatan baik yang disebabkan oleh protozoa (Entamoeba, Plasmodium, Leishmania, Toxoplasma, Babesia) dan cacing (Cestoda, Treamatoda, Nematoda).</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran Perpustakaan Dalam Membina Minat Baca</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33972</link>
      <description>Authors: Junaida
Abstract (other language): Minat baca seseorang diartikan sebagai kecendrungan hati kepada suatu sumber bacaan tertentu.  Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat.</description>
      <pubDate>Tue, 09 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33972</guid>
      <dc:date>2012-10-09T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Junaida</dc:creator>
      <dc:description>Minat baca seseorang diartikan sebagai kecendrungan hati kepada suatu sumber bacaan tertentu.  Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Abses Serebri Pada Tetralogy Of Fallot</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33970</link>
      <description>Authors: Fitri, Fasihah Irfani
Abstract (other language): Lesi intrakranial sering terjadi berkaitan dengan  malformasi jantung kongenital1 dan dapat muncul nyata pada saat lahir atau bermanifestasi pada usia dewasa.2 Dua komplikasi pada susunan saraf pusat yang paling serius yang berkaitan dengan penyakit jantung bawaan (PJB) adalah trombosis serebral dan abses serebri.1,2 Abses serebri adalah infeksi intraserebral fokal yang muncul sebagai area serebritis lokal dan berkembang menjadi kumpulan pus yang dikelilingi oleh kapsul yang bervaskularisasi baik.1 Abses sereri adalah infeksi parenkim otak yang relatif jarang dijumpai namun dapat bersifat fatal.3,4 Abses serebri dapat berasal dari (1) penyebaran langsung dari infeksi jaringan non-neuronal di sekitarnya seperti sinusitis paranasal, otitis media, mastoiditis, atau infeksi gigi; (2) penyebaran hematogen dari tempat infeksi yang jauh seperti endokarditis, infeksi paru, infeksi gastrointestinal; (3) akibat trauma kepala atau tindakan pembedahan yang menyebabkan infeksi langsung pada otak. 4-6 Faktor predisposisi untuk terjadinya abses serebri mencakup penyakit jantung bawaaan (PJB) dengan right-to-left shunt; infeksi telinga tengah, mastoid, sinus paranasal dan jaringan lunak pada wajah, orbita atau scalp; luka tembus atau fraktur tulang tengkorak; pembedahan intrakranial; dan abnormalitas sistem imun.3,4</description>
      <pubDate>Tue, 09 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33970</guid>
      <dc:date>2012-10-09T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Fitri, Fasihah Irfani</dc:creator>
      <dc:description>Lesi intrakranial sering terjadi berkaitan dengan  malformasi jantung kongenital1 dan dapat muncul nyata pada saat lahir atau bermanifestasi pada usia dewasa.2 Dua komplikasi pada susunan saraf pusat yang paling serius yang berkaitan dengan penyakit jantung bawaan (PJB) adalah trombosis serebral dan abses serebri.1,2 Abses serebri adalah infeksi intraserebral fokal yang muncul sebagai area serebritis lokal dan berkembang menjadi kumpulan pus yang dikelilingi oleh kapsul yang bervaskularisasi baik.1 Abses sereri adalah infeksi parenkim otak yang relatif jarang dijumpai namun dapat bersifat fatal.3,4 Abses serebri dapat berasal dari (1) penyebaran langsung dari infeksi jaringan non-neuronal di sekitarnya seperti sinusitis paranasal, otitis media, mastoiditis, atau infeksi gigi; (2) penyebaran hematogen dari tempat infeksi yang jauh seperti endokarditis, infeksi paru, infeksi gastrointestinal; (3) akibat trauma kepala atau tindakan pembedahan yang menyebabkan infeksi langsung pada otak. 4-6 Faktor predisposisi untuk terjadinya abses serebri mencakup penyakit jantung bawaaan (PJB) dengan right-to-left shunt; infeksi telinga tengah, mastoid, sinus paranasal dan jaringan lunak pada wajah, orbita atau scalp; luka tembus atau fraktur tulang tengkorak; pembedahan intrakranial; dan abnormalitas sistem imun.3,4</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengemasan Informasi Pada Pengguna Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33869</link>
      <description>Authors: Junaida
Abstract (other language): Informasi yang tersedia saat ini sangat melimpah memudahkan pengguna untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Namun, informasi yang tersedia tersebut kadang dapat menyulitkan pengguna dalam memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Informasi kadang juga disajikan sepotong-potong, kurang lengkap, bersifat umum atau kurang spesifik, atau  menggunakan istilah yang sulit dipahami oleh masyarakat umum. Akibatnya, pengguna informasi, sulit memperoleh informasi yang tepat atau langsung dapat dimanfaatkan, sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya dan kemampuannya.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33869</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Junaida</dc:creator>
      <dc:description>Informasi yang tersedia saat ini sangat melimpah memudahkan pengguna untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Namun, informasi yang tersedia tersebut kadang dapat menyulitkan pengguna dalam memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Informasi kadang juga disajikan sepotong-potong, kurang lengkap, bersifat umum atau kurang spesifik, atau  menggunakan istilah yang sulit dipahami oleh masyarakat umum. Akibatnya, pengguna informasi, sulit memperoleh informasi yang tepat atau langsung dapat dimanfaatkan, sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya dan kemampuannya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran Pustakawan Terhadap Pengguna Dalam Menelusur Informasi Di Layanan Referensi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33865</link>
      <description>Authors: Junaida
Abstract (other language): Pelayanan referensi adalah salah satu kegiatan pokok yang dilakukan diperpustakaan yang khusus melayankan atau menyanjikan koleksi referensi kepada para pemakai atau pengunjung perpustakaan. Serta dapat membantu para pemakai pengunjung menemukan informasi dengan cara antara lain menerima pertanyaan-pertanyaan dari para pemakai atau pengunjung perpustakaan dan kemudian menjawab dengan menggunakan koleksi referensi, dimana bimbingan untuk menemukan koleksi referensi dan mencari informasi yang dibutuhkan, dimana bimbingan kepada para pemakai tentang pengguna bahan pustaka koleksi referensi.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33865</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Junaida</dc:creator>
      <dc:description>Pelayanan referensi adalah salah satu kegiatan pokok yang dilakukan diperpustakaan yang khusus melayankan atau menyanjikan koleksi referensi kepada para pemakai atau pengunjung perpustakaan. Serta dapat membantu para pemakai pengunjung menemukan informasi dengan cara antara lain menerima pertanyaan-pertanyaan dari para pemakai atau pengunjung perpustakaan dan kemudian menjawab dengan menggunakan koleksi referensi, dimana bimbingan untuk menemukan koleksi referensi dan mencari informasi yang dibutuhkan, dimana bimbingan kepada para pemakai tentang pengguna bahan pustaka koleksi referensi.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Acute Disseminated Encephalomyelitis</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33862</link>
      <description>Authors: Fitri, Fasihah Irfani
Abstract (other language): Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) merupakan salah satu penyakit demielinasi inflamasi idiopatik pada susunan saraf pusat (SSP) yang diperantarai oleh sistem imun dan sering muncul setelah infeksi atau vaksinasi.1-3 Penyakit demielinasi inflamasi idiopatik terdiri dari sejumlah kelainan SSP yang diduga bersifat autoimun dan terdiri dari ADEM, multiple sclerosis (MS), Devic’s disease, myelitis transversalis dan neuritis optik.3-5 Acute disseminated encephalomyelitis sering mengenai anak-anak dengan usia dibawah 10 tahun dengan rentang usia 5-8 tahun.1,3 Diagnosis ADEM cukup sering ditegakkan di negara-negara tropis dimana kejadian infeksi masih tinggi.6</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33862</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Fitri, Fasihah Irfani</dc:creator>
      <dc:description>Acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) merupakan salah satu penyakit demielinasi inflamasi idiopatik pada susunan saraf pusat (SSP) yang diperantarai oleh sistem imun dan sering muncul setelah infeksi atau vaksinasi.1-3 Penyakit demielinasi inflamasi idiopatik terdiri dari sejumlah kelainan SSP yang diduga bersifat autoimun dan terdiri dari ADEM, multiple sclerosis (MS), Devic’s disease, myelitis transversalis dan neuritis optik.3-5 Acute disseminated encephalomyelitis sering mengenai anak-anak dengan usia dibawah 10 tahun dengan rentang usia 5-8 tahun.1,3 Diagnosis ADEM cukup sering ditegakkan di negara-negara tropis dimana kejadian infeksi masih tinggi.6</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Sistem Informasi Manajemen Pada Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33857</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Sistem informasi telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan terbukti sangat berperan dalam kegiatan perekonomian dan strategi penyelenggaraan pelayanan. Keberadaan sistem informasi mendukung kinerja peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi perpustakaan dan dunia usaha, serta mendorong pewujudan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sistem informasi yang dibutuhkan, dimanfaatkan, dan dikembangkan bagi keperluan perpustakaan  adalah sistem informasi yang terutama diarahkan untuk menunjang pelayanan. Hal ini perlu diingat karena telah terjadi perubahan paradigma menuju pelayanan perpustakaan yang prima di berbagai aspek. &#xD;
	Dengan adanya Sistem Informasi dan Manajemen pada perpustakan ini, diharapkan dapat menata berbagai aspek data perencanaan secara terintegrasi dan komprehensif, baik dalam hal struktur, jenis maupun format data untuk perencanaan.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33857</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Sistem informasi telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan terbukti sangat berperan dalam kegiatan perekonomian dan strategi penyelenggaraan pelayanan. Keberadaan sistem informasi mendukung kinerja peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi perpustakaan dan dunia usaha, serta mendorong pewujudan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sistem informasi yang dibutuhkan, dimanfaatkan, dan dikembangkan bagi keperluan perpustakaan  adalah sistem informasi yang terutama diarahkan untuk menunjang pelayanan. Hal ini perlu diingat karena telah terjadi perubahan paradigma menuju pelayanan perpustakaan yang prima di berbagai aspek. &#xD;
	Dengan adanya Sistem Informasi dan Manajemen pada perpustakan ini, diharapkan dapat menata berbagai aspek data perencanaan secara terintegrasi dan komprehensif, baik dalam hal struktur, jenis maupun format data untuk perencanaan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perpustakaan Pasca Terbitnya Undang-Undang RI &#xD;
Nomor 43  Tahun 2007 Tentang Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33856</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka tidak ada alasan lagi bagi kita bangsa indonesia untuk tidak mendukung undang-undang ini, karena selama ini masih adanya diskriminasi layanan kebutuhan akan informasi, misalnya sebagai contoh masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih banyak memperoleh jasa informasi daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan, karena sumber informasi seperti perpustakaan yang ada hanya di perkotaan. Undang-Undang Nomor  43 tanggal 1 Nopember 2007  mengatur hak antara lain dalam Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33856</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka tidak ada alasan lagi bagi kita bangsa indonesia untuk tidak mendukung undang-undang ini, karena selama ini masih adanya diskriminasi layanan kebutuhan akan informasi, misalnya sebagai contoh masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih banyak memperoleh jasa informasi daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan, karena sumber informasi seperti perpustakaan yang ada hanya di perkotaan. Undang-Undang Nomor  43 tanggal 1 Nopember 2007  mengatur hak antara lain dalam Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pengolahan Bahan Pustaka</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33855</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Dengan berkembangnya teknologi informasi, perpustakaan juga telah mengalami perkembangan yang sedemikian pesatnya. Perkembangan perpustakaan dalam beberapa dasawarsa ini telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan keberadaan teknologi informasi. Sebagai salah satu lembaga yang berperan dalam pengumpulan, pengolahan, pendokumentasian, penyimpanan dan pendistribusian informasi mau tidak mau harus berhadapan dengan apa yang dinamakan teknologi informasi ini. Tanpa adanya sentuhan teknologi informasi, perpustakaan dianggap sebagai sebuah instutisi yang ketinggalan jaman, kuno dan tidak berkembang.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33855</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Dengan berkembangnya teknologi informasi, perpustakaan juga telah mengalami perkembangan yang sedemikian pesatnya. Perkembangan perpustakaan dalam beberapa dasawarsa ini telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan keberadaan teknologi informasi. Sebagai salah satu lembaga yang berperan dalam pengumpulan, pengolahan, pendokumentasian, penyimpanan dan pendistribusian informasi mau tidak mau harus berhadapan dengan apa yang dinamakan teknologi informasi ini. Tanpa adanya sentuhan teknologi informasi, perpustakaan dianggap sebagai sebuah instutisi yang ketinggalan jaman, kuno dan tidak berkembang.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pedoman Pengembangan Bahan Pustaka</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33854</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam bentuk buku memaksa pustakawan bekerja keras untuk melaksanakan pemilihan atau menyeleksi buku dalam kegiatan pengadaan disebuah perpustakaan. Dalam hal ini pustakawan harus mampu menyediakan buku-buku yang diminati oleh penggunanya. Khususnya berhubungan dengan pendidikan dan keilmuan karena perpustakaan bertindak selaku penyimpan khazanah ilmu pengetahuan dan berperan dalam proses transformasi informasi. Perpustakaan dikatakan berhasil jika dapat memenuhi kebutuhan informasi yang relevan dengan permintaan pemakai.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33854</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam bentuk buku memaksa pustakawan bekerja keras untuk melaksanakan pemilihan atau menyeleksi buku dalam kegiatan pengadaan disebuah perpustakaan. Dalam hal ini pustakawan harus mampu menyediakan buku-buku yang diminati oleh penggunanya. Khususnya berhubungan dengan pendidikan dan keilmuan karena perpustakaan bertindak selaku penyimpan khazanah ilmu pengetahuan dan berperan dalam proses transformasi informasi. Perpustakaan dikatakan berhasil jika dapat memenuhi kebutuhan informasi yang relevan dengan permintaan pemakai.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Pembinaan Karier Pegawai Negeri Sipil Jabatan Fungsional Pustakawan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33853</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya dan kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 53649/MPK/1998 dan Nomor 15/SE/1998. Tujuan diciptakaannya jabatan fungsional tersebut yaitu agar para pustakawan dapat meningkatkan karirnya sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimilikinya.</description>
      <pubDate>Mon, 01 Oct 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33853</guid>
      <dc:date>2012-10-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya dan kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 53649/MPK/1998 dan Nomor 15/SE/1998. Tujuan diciptakaannya jabatan fungsional tersebut yaitu agar para pustakawan dapat meningkatkan karirnya sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimilikinya.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Manajemen Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33766</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Untuk mengelola sebuah perpustakaan diperlukan kemampuan manajemen yang baik, agar arah kegiatan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Kemampuan manajemen itu juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan tujuan-tujuan yang berbeda dan mampu dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pengetahuan dasar dalam mengelola perpustakaan agar berjalan dengan baik adalah ilmu manajemen, karena manajemen sangat diperlukan dalam berbagai kehidupan untuk mengatur langkah-langkah yang harus dilaksanakan oleh seluruh elemen dalam suatu perpustakaan. Oleh karena itu dalam proses manajemen diperlukan adanya proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership), dan pengendalian (controlling). Di samping itu, manajemen juga dimaksudkan agar elemen yang terlibat dalam perpustakaan mampu melakukan tugas dan pekerjaannya dengan baik dan benar.</description>
      <pubDate>Tue, 25 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33766</guid>
      <dc:date>2012-09-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Untuk mengelola sebuah perpustakaan diperlukan kemampuan manajemen yang baik, agar arah kegiatan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Kemampuan manajemen itu juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan tujuan-tujuan yang berbeda dan mampu dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pengetahuan dasar dalam mengelola perpustakaan agar berjalan dengan baik adalah ilmu manajemen, karena manajemen sangat diperlukan dalam berbagai kehidupan untuk mengatur langkah-langkah yang harus dilaksanakan oleh seluruh elemen dalam suatu perpustakaan. Oleh karena itu dalam proses manajemen diperlukan adanya proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leadership), dan pengendalian (controlling). Di samping itu, manajemen juga dimaksudkan agar elemen yang terlibat dalam perpustakaan mampu melakukan tugas dan pekerjaannya dengan baik dan benar.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Karakter Pustakawan Sebagai Pelayanan Publik Dan Implementasinya Pada Perpustakkaan USU</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33764</link>
      <description>Authors: Salmi, Nurdin
Abstract (other language): Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi yang sangat pesat, kebutuhan pengguna akan jasa perpustakaan menjadi semakin meningkat dan semakin kompleks, maka dibutuhkan pustakawan yang dapat mengemas informasi tersebut secara professional guna untuk dipersembahkan kepada masyarakat pengguna. Pustakawan harus lebih tanggap dan lebih cermat dalam mengidentifikasi kebutuhan informasi dari pengguna, harus aktif dalam pelayanan untuk menawarkan informasi yang sesuai dengan minat mereka, sebagai pelayan tentunya harus menempatkan kepentingan pengguna diatas segalanya atau user oriented.</description>
      <pubDate>Tue, 25 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33764</guid>
      <dc:date>2012-09-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Salmi, Nurdin</dc:creator>
      <dc:description>Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi yang sangat pesat, kebutuhan pengguna akan jasa perpustakaan menjadi semakin meningkat dan semakin kompleks, maka dibutuhkan pustakawan yang dapat mengemas informasi tersebut secara professional guna untuk dipersembahkan kepada masyarakat pengguna. Pustakawan harus lebih tanggap dan lebih cermat dalam mengidentifikasi kebutuhan informasi dari pengguna, harus aktif dalam pelayanan untuk menawarkan informasi yang sesuai dengan minat mereka, sebagai pelayan tentunya harus menempatkan kepentingan pengguna diatas segalanya atau user oriented.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perubahan Paradigma Layanan Perpustakaan&#xD;
Untuk Generasi Digital Immigrant dan Generasi Digital Native</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33644</link>
      <description>Authors: Murniaty
Abstract (other language): Perkembangan perpustakaan dalam dua dasa warsa terakhir menunjukkan perubahan yang sangat besar, antara lain dipicu oleh perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat setelah munculnya internet pada tahun 1990-an. Perubahan yang terjadi cukup signifikan, yaitu dari perpustakaan manual menjadi digital atau perpustakaan hybrid, yaitu paduan antara perpustakaan dengan koleksi cetak dan koleksi digital.&#xD;
Selain merubah proses transfer informasi, teknologi informasi juga telah menyebabkan munculnya generasi baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya, yaitu dari generasi digital immigrants ke generasi digital native. Kata native, dalam bahasa Inggris yang berarti ‘asli’ sehingga cukup menjelaskan bahwa digital-native adalah orang-orang yang hidup pada jaman digital sejak lahir. Jadi, ketika mereka lahir, sudah ada komputer, handphone, internet dan perangkat-perangkat digital lainnya. Mereka tumbuh dalam dunia World Wide Web.</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33644</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
      <dc:description>Perkembangan perpustakaan dalam dua dasa warsa terakhir menunjukkan perubahan yang sangat besar, antara lain dipicu oleh perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat setelah munculnya internet pada tahun 1990-an. Perubahan yang terjadi cukup signifikan, yaitu dari perpustakaan manual menjadi digital atau perpustakaan hybrid, yaitu paduan antara perpustakaan dengan koleksi cetak dan koleksi digital.&#xD;
Selain merubah proses transfer informasi, teknologi informasi juga telah menyebabkan munculnya generasi baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya, yaitu dari generasi digital immigrants ke generasi digital native. Kata native, dalam bahasa Inggris yang berarti ‘asli’ sehingga cukup menjelaskan bahwa digital-native adalah orang-orang yang hidup pada jaman digital sejak lahir. Jadi, ketika mereka lahir, sudah ada komputer, handphone, internet dan perangkat-perangkat digital lainnya. Mereka tumbuh dalam dunia World Wide Web.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran CONSAL Dalam Mengembangkan Profesionalisme Pustakawan di Asia Tenggara</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33642</link>
      <description>Authors: Murniaty
Abstract (other language): Indonesia akan menjadi tuan rumah Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara ke 15 (CONSAL XV) yang akan diadakan di Denpasar, Bali pada tanggal 28 – 31 Mei 2012. Dalam kongres tersebut akan berkumpul pustakawan se-Asia Tenggara untuk menginformasikan berbagai hal terbaru di dunia perpustakaan dan kepustakawanan. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai ajang promosi bidang perpustakaan di Indonesia sekaligus ajang promosi kesenian dan budaya Indonesia. Pertemuan para pustakawan biasanya luput dari perhatian masyarakat umumnya dan media massa khususnya. Padahal peran pustakawan dan perpustakaan bagi masyarakat sangat penting. Jika dibandingkan dengan profesi lain, seperti dokter misalnya, maka pertemuan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pasti akan banyak dipublikasikan oleh media massa.</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33642</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
      <dc:description>Indonesia akan menjadi tuan rumah Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara ke 15 (CONSAL XV) yang akan diadakan di Denpasar, Bali pada tanggal 28 – 31 Mei 2012. Dalam kongres tersebut akan berkumpul pustakawan se-Asia Tenggara untuk menginformasikan berbagai hal terbaru di dunia perpustakaan dan kepustakawanan. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai ajang promosi bidang perpustakaan di Indonesia sekaligus ajang promosi kesenian dan budaya Indonesia. Pertemuan para pustakawan biasanya luput dari perhatian masyarakat umumnya dan media massa khususnya. Padahal peran pustakawan dan perpustakaan bagi masyarakat sangat penting. Jika dibandingkan dengan profesi lain, seperti dokter misalnya, maka pertemuan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pasti akan banyak dipublikasikan oleh media massa.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Peran Public Relations Dalam Organisasi Perpustakaan dan Manfaatnya Bagi Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33640</link>
      <description>Authors: Murniaty</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33640</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pelayanan Perpustakaan Tolak Ukur Keberhasilan Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33639</link>
      <description>Authors: Murniaty
Abstract (other language): Pelayanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama sebuah perpustakaan termasuk perpustakaan umum yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung dengan pengguna jasa perpustakaan. Layanan perpustakaan umum diberikan kepada masyarakat umum dengan tidak memandang perbedaan ras, usia, jenis kelamin, dan dasar pendidikan. Karena itu cakupan koleksinya luas sekali. Ini dimaksudkan agar perpustakaan dapat memberikan kepuasan kepada mereka yang berasal dari berbagai tingkatan masyarakat. Juga tingkat kedalaman materi koleksi begitu luas dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33639</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
      <dc:description>Pelayanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama sebuah perpustakaan termasuk perpustakaan umum yang dilakukan baik langsung maupun tidak langsung dengan pengguna jasa perpustakaan. Layanan perpustakaan umum diberikan kepada masyarakat umum dengan tidak memandang perbedaan ras, usia, jenis kelamin, dan dasar pendidikan. Karena itu cakupan koleksinya luas sekali. Ini dimaksudkan agar perpustakaan dapat memberikan kepuasan kepada mereka yang berasal dari berbagai tingkatan masyarakat. Juga tingkat kedalaman materi koleksi begitu luas dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Mengembangkan Layanan Open Access USU Repository Memanfaatkan Open Source DSpace</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33638</link>
      <description>Authors: Murniaty
Abstract (other language): Sumberdaya informasi berkembang dengan sangat cepat. Perkembangan informasi ini didukung oleh perkembangan yang pesat di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Aplikasi TIK memunculkan sistem akses dan temu-balik terhadap informasi menjadi semakin cepat. Transfer informasi dari sumber (lokasi) ke pengguna (end user) menjadi cepat. Situasi ini menjadikan akses informasi digital semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi, tanpa mengabaikan akses informasi secara konvensional yang telah berlangsung selama ini. Akses terhadap sumberdaya informasi digital semakin mudah karena dapat diakses secara terbuka, multi user, unlimited access, dan dapat diakses dari jarak jauh (remote access) tanpa harus hadir ke perpustakaan secara fisik.</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33638</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
      <dc:description>Sumberdaya informasi berkembang dengan sangat cepat. Perkembangan informasi ini didukung oleh perkembangan yang pesat di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Aplikasi TIK memunculkan sistem akses dan temu-balik terhadap informasi menjadi semakin cepat. Transfer informasi dari sumber (lokasi) ke pengguna (end user) menjadi cepat. Situasi ini menjadikan akses informasi digital semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi, tanpa mengabaikan akses informasi secara konvensional yang telah berlangsung selama ini. Akses terhadap sumberdaya informasi digital semakin mudah karena dapat diakses secara terbuka, multi user, unlimited access, dan dapat diakses dari jarak jauh (remote access) tanpa harus hadir ke perpustakaan secara fisik.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kontribusi USU Repository Dalam Pemeringkatan USU Pada Webometrics</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33637</link>
      <description>Authors: Murniaty
Abstract (other language): Suatu perguruan tinggi dikatakan baik apabila sarana perguruan tinggi dapat menunjang tujuan utama perguruan tinggi tersebut. Salah satu sarana penunjang bagi keberhasilan program atau tujuan utama perguruan tinggi adalah perpustakaan. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan pusat dokumentasi dan informasi serta sumber literatur yang menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Ini berarti keberadaan perpustakaan perguruan tinggi tidak hanya untuk membantu kegiatan pendidikan tetapi juga untuk menunjang kegiatan penelitian (riset) dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil-hasil penelitian dari sivitas akademika itu sendiri merupakan sumber daya informasi yang sangat bernilai.</description>
      <pubDate>Mon, 10 Sep 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33637</guid>
      <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Murniaty</dc:creator>
      <dc:description>Suatu perguruan tinggi dikatakan baik apabila sarana perguruan tinggi dapat menunjang tujuan utama perguruan tinggi tersebut. Salah satu sarana penunjang bagi keberhasilan program atau tujuan utama perguruan tinggi adalah perpustakaan. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan pusat dokumentasi dan informasi serta sumber literatur yang menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Ini berarti keberadaan perpustakaan perguruan tinggi tidak hanya untuk membantu kegiatan pendidikan tetapi juga untuk menunjang kegiatan penelitian (riset) dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil-hasil penelitian dari sivitas akademika itu sendiri merupakan sumber daya informasi yang sangat bernilai.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penanganan Keloid Pada Telinga Dengan Teknik Debulking Dan Ditutup Dengan Flap Dari Kulit Keloid Serta Injeksi Triamsinolon Asetonid Intralesi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32043</link>
      <description>Authors: Hazlianda, Cut Putri
Abstract (other language): Keloid merupakan hasil dari sintesis yang tidak terkontrol dan deposisi yang berlebihan dari kolagen pada kulit setelah trauma dermis dan penyembuhan luka.1 Terjadi pertumbuhan berlebihan dari jaringan fibrosa.2 Tipe skar sebagian besar terdiri dari kolagen tipe I dan kolagen tipe III yang menghasilkan pertumbuhan jaringan yang berlebihan.3 Keloid memiliki bentuk yang melebihi batas luka sebenarnya, tidak regresi secara spontan, tumbuh seperti gambaran tumor dan cenderung kambuh setelah eksisi.1,2</description>
      <pubDate>Mon, 26 Mar 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32043</guid>
      <dc:date>2012-03-26T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hazlianda, Cut Putri</dc:creator>
      <dc:description>Keloid merupakan hasil dari sintesis yang tidak terkontrol dan deposisi yang berlebihan dari kolagen pada kulit setelah trauma dermis dan penyembuhan luka.1 Terjadi pertumbuhan berlebihan dari jaringan fibrosa.2 Tipe skar sebagian besar terdiri dari kolagen tipe I dan kolagen tipe III yang menghasilkan pertumbuhan jaringan yang berlebihan.3 Keloid memiliki bentuk yang melebihi batas luka sebenarnya, tidak regresi secara spontan, tumbuh seperti gambaran tumor dan cenderung kambuh setelah eksisi.1,2</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Sejarah Ringkas Perkembangan USU Repository: Upaya yang Telah Dilakukan, dan Kontribusinya Bagi USU</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30930</link>
      <description>Authors: Rasiman
Abstract: Koleksi Deposit Universitas Sumatera Utara (USU Repository) adalah karya ilmiah berupa Disertasi, Tesis, Skripsi, Tugas Akhir, dan/atau Kertas Karya yang dihasilkan oleh mahasiswa, dan karya ilmiah yang dihasilkan dosen berupa artikel dan laporan penelitian. Koleksi ini sifatnya adalah un‐published sehingga pemanfaatannya terbatas karena tidak dapat dipinjam ke luar dari gedung perpustakaan dan jumlahnya hanya satu eksemplar per judul</description>
      <pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30930</guid>
      <dc:date>2012-02-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rasiman</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Mengoptimalkan Penggunaan MS Word untuk Administrasi Perkantoran</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30929</link>
      <description>Authors: Rasiman
Abstract: Microsoft Word (MS Word) merupakan program aplikasi pengolah kata (word processing) yang biasa digunakan untuk membuat dokumen seperti laporan, surat, proposal, surat kabar, label surat, membuat tabel pada dokumen, dan tentunya masih banyak lagi dukumen lain yang bisa dibuat dengan menggunakan MS Word. Tetapi masih banyak juga pengguna yang hanya menggunakan MS Word apa adanya, tidak memanfaatkan fitur yang disediakan secara optimal sehingga kadang kala dokumen yang dihasilkan juga tidak memadai bahkan lebih parah lagi dapat menyulitkan orang lain untuk mengedit atau memperbaiki karena tidak menggunakan perintah-perintah standar misalnya. Padahal Microsoft sudah membuat MS Word dengan segala kecanggihan fiturnya. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa mengoptimalkan MS Word supaya hal-hal seperti di atas menjadi lebih sempurna</description>
      <pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30929</guid>
      <dc:date>2012-02-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rasiman</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Digitalisasi Local Content Perpustakaan USU</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30928</link>
      <description>Authors: Rasiman
Abstract: Sebuah perpustakaan sering dikatakan sebagai jantung informasi dalam setiap institusi,&#xD;
bahkan konon dengan melihat perpustakaannya kita sudah dapat melihat kualitas&#xD;
pendidikan yang diberikan oleh institusi tersebut. Dalam perkembangannya perpustakaan&#xD;
tidak lepas dari teknologi informasi. Tantangan baru teknologi informasi khususnya untuk&#xD;
para penyedia informasi adalah bagaimana menyalurkan informasi dengan cepat, tepat dan&#xD;
global. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi yang keberadaannya sangat&#xD;
penting di dunia pendidikan, mau tidak mau harus memikirkan kembali bentuk yang tepat&#xD;
untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya adalah dengan mewujudkan perpustakaan&#xD;
digital yang terhubung dengan jaringan internet tentunya dengan menyediakan koleksi&#xD;
(resources) dalam bentuk digital</description>
      <pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30928</guid>
      <dc:date>2012-02-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rasiman</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Panduan Operasional Program Aplikasi DSpace untuk Pengelolaan USU Repository</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30927</link>
      <description>Authors: Rasiman
Abstract: Koleksi Deposit USU atau USU Repository adalah karya ilmiah berupa disertasi, tesis, skripsi, tugas akhir, dan/atau kertas karya yang dihasilkan oleh mahasiswa, dan karya ilmiah yang dihasilkan dosen berupa artikel, laporan penelitian, dan karya lainnya tentang universitas. Koleksi ini sifatnya adalah un-published sehingga pemanfaatannya terbatas karena tidak dapat dipinjam ke luar dari perpustakaan dan jumlahnya juga hanya satu eksemplar per judul. Saat ini ada dua bentuk koleksi tersebut, yaitu bentuk tercetak disebut Deposit USU, dan bentuk elektronik disebut USU Repository</description>
      <pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30927</guid>
      <dc:date>2012-02-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rasiman</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Digitalisasi Local Content: Perluasan Pemanfaatan dan Akses Layanan Perpustakaan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30926</link>
      <description>Authors: Rasiman
Abstract: Sebuah perpustakaan sering dikatakan sebagai jantung informasi dalam setiap institusi, bahkan konon dengan melihat perpustakaannya kita sudah dapat melihat kualitas pendidikan yang diberikan oleh institusi tersebut. Dalam perkembangannya perpustakaan juga tidak lepas dari teknologi informasi. Tantangan baru teknologi informasi khususnya untuk para penyedia informasi adalah bagaimana menyalurkan informasi dengan cepat, tepat, akurat dan global. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi yang keberadaannya sangat penting di dunia pendidikan, mau tidak mau harus memikirkan kembali bentuk yang tepat untuk menjawab tantangan ini. Salah satunya adalah dengan mewujudkan perpustakaan digital yang terhubung dengan jaringan internet tentunya dengan menyediakan koleksi dalam bentuk digital.</description>
      <pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30926</guid>
      <dc:date>2012-02-01T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Rasiman</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pengobatan Sifilis Dengan Azitromisin</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30468</link>
      <description>Authors: Paramita, Deryne Anggia
Abstract (other language): Sifilis adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum,1 suatu spirokaeta mikroaerofilik yang hanya menginfeksi manusia dan primata lainnya.2 Sifilis dikatakan unik karena diantara infeksi menular seksual lainnya, sifilis dapat menyebabkan manifestasi sistemik yang luas.3&#xD;
 Infeksi biasanya didapat melalui kontak seksual dengan lesi yang terinfeksi atau cairan tubuh, yang jarang, dapat melalui transplasental dari ibu ke janin atau dari transfusi darah, inokulasi dari kecelakaan, atau tusukan dari benda yang terkontaminasi seperti yang digunakan untuk mentato. Transmisi melalui seks oral terjadi pada lebih kurang 13 persen dan seperlima atau sepertiga pada pria yang berhubungan seksual dengan pria.2,3   &#xD;
Frekuensi sifilis di seluruh dunia bervariasi sesuai wilayah, tingkat insidensi tertinggi adalah pada Asia Tenggara dan Asia Selatan, yang diikuti dengan Afrika SubSahara. Wilayah berikutnya adalah di Amerika Latin dan Karibia.4&#xD;
Penyakit sifilis yang tidak diobati dibagi menjadi sifilis primer, sekunder, laten dini, dan sifilis tingkat lanjut, yaitu sifilis tersier, benigna, sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis.1 Sifilis awal atau early termasuk didalamnya sifilis primer (chancre) dan sekunder (lesi mukokutaneus dan/atau limfadenopati dengan atau tidak keterlibatan organ). Sifilis laten dibagi menjadi laten dini (kurang dari 1 tahun) dan lanjut (1 tahun atau lebih). Sifilis tersier dapat dijumpai keterlibatan pada jantung, saraf dan bentuk benigna.2</description>
      <pubDate>Wed, 30 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30468</guid>
      <dc:date>2011-11-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Paramita, Deryne Anggia</dc:creator>
      <dc:description>Sifilis adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum,1 suatu spirokaeta mikroaerofilik yang hanya menginfeksi manusia dan primata lainnya.2 Sifilis dikatakan unik karena diantara infeksi menular seksual lainnya, sifilis dapat menyebabkan manifestasi sistemik yang luas.3&#xD;
 Infeksi biasanya didapat melalui kontak seksual dengan lesi yang terinfeksi atau cairan tubuh, yang jarang, dapat melalui transplasental dari ibu ke janin atau dari transfusi darah, inokulasi dari kecelakaan, atau tusukan dari benda yang terkontaminasi seperti yang digunakan untuk mentato. Transmisi melalui seks oral terjadi pada lebih kurang 13 persen dan seperlima atau sepertiga pada pria yang berhubungan seksual dengan pria.2,3   &#xD;
Frekuensi sifilis di seluruh dunia bervariasi sesuai wilayah, tingkat insidensi tertinggi adalah pada Asia Tenggara dan Asia Selatan, yang diikuti dengan Afrika SubSahara. Wilayah berikutnya adalah di Amerika Latin dan Karibia.4&#xD;
Penyakit sifilis yang tidak diobati dibagi menjadi sifilis primer, sekunder, laten dini, dan sifilis tingkat lanjut, yaitu sifilis tersier, benigna, sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis.1 Sifilis awal atau early termasuk didalamnya sifilis primer (chancre) dan sekunder (lesi mukokutaneus dan/atau limfadenopati dengan atau tidak keterlibatan organ). Sifilis laten dibagi menjadi laten dini (kurang dari 1 tahun) dan lanjut (1 tahun atau lebih). Sifilis tersier dapat dijumpai keterlibatan pada jantung, saraf dan bentuk benigna.2</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Penatalaksanaan Kusta Dengan Regimen Rifampisin, Ofloksasin Dan Minosiklin</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30431</link>
      <description>Authors: Paramita, Deryne Anggia
Abstract (other language): Kusta atau yang juga dikenal dengan penyakit Hansen’s adalah penyakit granulomatos kronik yang menyerang saraf tepi dan kulit. Penyebabnya adalah bakteri tahan asam Mycobacterium leprae yang pertama sekali ditemukan oleh peneliti dari Jerman, Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1873.1,2 Penyebarannya yang lambat dan terdapat hubungan kekeluargaan pada penderitanya mengusulkan bahwa penyakit ini diturunkan.3 Sebagai konsekwensinya beberapa kultur daerah setempat menganggap penderita kusta (dan seringnya anggota keluarganya) sebagai “tidak bersih” atau sebagai “lepra” dan membuat peraturan bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan masyarakat yang tidak menderita. Terkadang penderita diwajibkan untuk memakai pakaian khusus dan membunyikan bel sehingga yang tidak menderita dapat menghindari mereka.4&#xD;
Kusta atau lepra berasal dari kata latin Lepros yang mengandung arti pengotoran. Faktanya kusta telah menjadi penyakit yang sukar disembuhkan yang juga menyebabkan deformitas parah dan kelumpuhan, telah membuat stigmata yang buruk. Walaupun telah didokumentasikan sejak jaman dahulu kala, kusta tetap menjadi endemis pada beberapa negara berkembang di dunia.2</description>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30431</guid>
      <dc:date>2011-11-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Paramita, Deryne Anggia</dc:creator>
      <dc:description>Kusta atau yang juga dikenal dengan penyakit Hansen’s adalah penyakit granulomatos kronik yang menyerang saraf tepi dan kulit. Penyebabnya adalah bakteri tahan asam Mycobacterium leprae yang pertama sekali ditemukan oleh peneliti dari Jerman, Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1873.1,2 Penyebarannya yang lambat dan terdapat hubungan kekeluargaan pada penderitanya mengusulkan bahwa penyakit ini diturunkan.3 Sebagai konsekwensinya beberapa kultur daerah setempat menganggap penderita kusta (dan seringnya anggota keluarganya) sebagai “tidak bersih” atau sebagai “lepra” dan membuat peraturan bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan masyarakat yang tidak menderita. Terkadang penderita diwajibkan untuk memakai pakaian khusus dan membunyikan bel sehingga yang tidak menderita dapat menghindari mereka.4&#xD;
Kusta atau lepra berasal dari kata latin Lepros yang mengandung arti pengotoran. Faktanya kusta telah menjadi penyakit yang sukar disembuhkan yang juga menyebabkan deformitas parah dan kelumpuhan, telah membuat stigmata yang buruk. Walaupun telah didokumentasikan sejak jaman dahulu kala, kusta tetap menjadi endemis pada beberapa negara berkembang di dunia.2</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Politik Lokal Dan Desentralisasi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30430</link>
      <description>Authors: Berlianti
Abstract (other language): Setelah puluhan tahun Negara kita dikelola secara sentral oleh pemerintah pusat, tiba saatnya pengelola negara bergeser ke desentralisasi. Dan otonomi daerah yang dibutuhkan sekarang memerlukan pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah . (Emil Salim, 2000:104)&#xD;
Desentralisasi adalah menunjukkan kepada proses pendelegasian daripada tanggungjawab terhadap sebagian dari administrasi negara kepada badan-badan (korporasi-korporasi) otonom bukan kepada jabatan dan tidak hanya mengenai kewenangan dari suatu urusan tertentu (Prajudi Atmosudirdjo S.H)</description>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30430</guid>
      <dc:date>2011-11-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Berlianti</dc:creator>
      <dc:description>Setelah puluhan tahun Negara kita dikelola secara sentral oleh pemerintah pusat, tiba saatnya pengelola negara bergeser ke desentralisasi. Dan otonomi daerah yang dibutuhkan sekarang memerlukan pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah . (Emil Salim, 2000:104)&#xD;
Desentralisasi adalah menunjukkan kepada proses pendelegasian daripada tanggungjawab terhadap sebagian dari administrasi negara kepada badan-badan (korporasi-korporasi) otonom bukan kepada jabatan dan tidak hanya mengenai kewenangan dari suatu urusan tertentu (Prajudi Atmosudirdjo S.H)</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Kebijakan Privatisasi BUMN Di Indonesia</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30429</link>
      <description>Authors: Berlianti
Abstract (other language): Istilah kebijakan dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk suatu kegiatan  yang mempunyai maksud yang berbeda. Penjelasan maksud kebijakan publik  mempunyai penekanan yang berbeda-beda , suatu definisi yang menekankan tidak hanya  apa yang diusulkan pemerintah, tetapi juga mencakup  pula arah  tindakan atau  apa yang dilakukan oleh pemerintah  Dalam formulasi kebijakan , para pejabat merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat perlunya membuat perintah   salah satunya adalah perintah eksekutif.  Kebijakan publik  yang merupakan arah tidakan yang dilakukan oleh pemerintah dan mempunyai pengaruh terhadap kepentingan masyarakat secara luas, seperti halnya dengan  kebijakan privatisasi BUMN.</description>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30429</guid>
      <dc:date>2011-11-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Berlianti</dc:creator>
      <dc:description>Istilah kebijakan dalam kehidupan sehari-hari sering digunakan untuk suatu kegiatan  yang mempunyai maksud yang berbeda. Penjelasan maksud kebijakan publik  mempunyai penekanan yang berbeda-beda , suatu definisi yang menekankan tidak hanya  apa yang diusulkan pemerintah, tetapi juga mencakup  pula arah  tindakan atau  apa yang dilakukan oleh pemerintah  Dalam formulasi kebijakan , para pejabat merumuskan alternatif kebijakan untuk mengatasi masalah. Alternatif kebijakan melihat perlunya membuat perintah   salah satunya adalah perintah eksekutif.  Kebijakan publik  yang merupakan arah tidakan yang dilakukan oleh pemerintah dan mempunyai pengaruh terhadap kepentingan masyarakat secara luas, seperti halnya dengan  kebijakan privatisasi BUMN.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) Pengelola PAUD &#xD;
(Pendidikan Anak Usia Dini) Di Kecamatan Medan Johor, Kota Medan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30428</link>
      <description>Authors: Nuryawan, Arif; Hakim, Luthfi
Abstract (other language): Laporan akhir kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) ini berisi paparan latar belakang kegiatan ini dilaksanakan hingga hasil dan evaluasi kegiatan PPM yang berupa penerapan ipteks (ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni ini) telah berjalan. &#xD;
Kegiatan PPM dimaksud adalah penerapan ipteks pembuatan meja lipat untuk pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.&#xD;
Secara umum penerapan ipteks ini berhasil, dengan indikator-indikator :&#xD;
1.	Penerimaan yang baik dan antusias oleh pengelola kedua PAUD (baik di PAUD “Khoiru Ummah” maupun PAUD “Mutiara Ummat”) atas penerapan ipteks pembuatan meja lipat untuk keperluan sarana belajar mengajar&#xD;
2.	Ada keterlibatan mahasiswa untuk penelitian penerapan ipteks bagi masyarakat yang bernama Abdul Hakim Pranata NIM 081203003 sehingga kegiatan PPM ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, lebih lanjut kegiatan ini dikembangkan untuk skripsi mahasiswa tersebut.&#xD;
3.	Hasil pengujian mutu kayu dan tripleks yang digunakan untuk bahan baku meja lipat oleh Laboratorium Keteknikan Kayu Fakultas Kehutanan IPB Bogor menunjukkan hasil yang baik setelah dibandingkan dengan berat badan ideal balita (yaitu berat badan anak usia PAUD), artinya meja lipat untuk anak-anak PAUD dapat dibuat dengan menggunakan kayu sengon dan tripleks.&#xD;
4.	Telah berhasil dibuat contoh meja lipat sebanyak 17 (tujuh belas) buah untuk contoh (PAUD “Khoiru Ummah” mendapatkan 12 unit dan PAUD “Mutiara Ummat” mendapatkan 5 unit) sehingga di kemudian hari masing-masing pengelola PAUD dapat membuat sendiri meja lipat sesuai kebutuhannya berdasarkan contoh tersebut.&#xD;
5.	Hasil analisis pengujian dan perhitungan menunjukkan meja lipat yang dihasilkan mampu menopang berat badan ideal (BBI) anak usia PAUD hingga 5 tahun.</description>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30428</guid>
      <dc:date>2011-11-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Nuryawan, Arif</dc:creator>
      <dc:creator>Hakim, Luthfi</dc:creator>
      <dc:description>Laporan akhir kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) ini berisi paparan latar belakang kegiatan ini dilaksanakan hingga hasil dan evaluasi kegiatan PPM yang berupa penerapan ipteks (ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni ini) telah berjalan. &#xD;
Kegiatan PPM dimaksud adalah penerapan ipteks pembuatan meja lipat untuk pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.&#xD;
Secara umum penerapan ipteks ini berhasil, dengan indikator-indikator :&#xD;
1.	Penerimaan yang baik dan antusias oleh pengelola kedua PAUD (baik di PAUD “Khoiru Ummah” maupun PAUD “Mutiara Ummat”) atas penerapan ipteks pembuatan meja lipat untuk keperluan sarana belajar mengajar&#xD;
2.	Ada keterlibatan mahasiswa untuk penelitian penerapan ipteks bagi masyarakat yang bernama Abdul Hakim Pranata NIM 081203003 sehingga kegiatan PPM ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, lebih lanjut kegiatan ini dikembangkan untuk skripsi mahasiswa tersebut.&#xD;
3.	Hasil pengujian mutu kayu dan tripleks yang digunakan untuk bahan baku meja lipat oleh Laboratorium Keteknikan Kayu Fakultas Kehutanan IPB Bogor menunjukkan hasil yang baik setelah dibandingkan dengan berat badan ideal balita (yaitu berat badan anak usia PAUD), artinya meja lipat untuk anak-anak PAUD dapat dibuat dengan menggunakan kayu sengon dan tripleks.&#xD;
4.	Telah berhasil dibuat contoh meja lipat sebanyak 17 (tujuh belas) buah untuk contoh (PAUD “Khoiru Ummah” mendapatkan 12 unit dan PAUD “Mutiara Ummat” mendapatkan 5 unit) sehingga di kemudian hari masing-masing pengelola PAUD dapat membuat sendiri meja lipat sesuai kebutuhannya berdasarkan contoh tersebut.&#xD;
5.	Hasil analisis pengujian dan perhitungan menunjukkan meja lipat yang dihasilkan mampu menopang berat badan ideal (BBI) anak usia PAUD hingga 5 tahun.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Infeksi Virus Pada Kulit Manusia</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30427</link>
      <description>Authors: Amelia, Sri
Abstract (other language): Poxvirus adalah virus yang terbesar dan paling kompleks. Famili Poxvirus meliputi suatu kelompok besar penyebab infeksi yang morfologinya mirip dan memiliki antigen nukleoprotein yang sama. Infeksi yang disebabkan pox virus umumnya ditandai dengan adanya ruam, walaupun lesi yang diinduksi oleh beberapa anggota famili Poxvirus ini sangat proliferatif. Virus variola, penyebab penyakit cacar, masuk ke dalam kelompok ini. Dahulu penyakit ini banyak menyerang manusia, namun penyakit ini telah berhasil diberantas dari muka bumi sejak tahun 1977 setelah kampanye intensif yang dikoordinasikan oleh WHO.</description>
      <pubDate>Fri, 25 Nov 2011 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30427</guid>
      <dc:date>2011-11-25T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Amelia, Sri</dc:creator>
      <dc:description>Poxvirus adalah virus yang terbesar dan paling kompleks. Famili Poxvirus meliputi suatu kelompok besar penyebab infeksi yang morfologinya mirip dan memiliki antigen nukleoprotein yang sama. Infeksi yang disebabkan pox virus umumnya ditandai dengan adanya ruam, walaupun lesi yang diinduksi oleh beberapa anggota famili Poxvirus ini sangat proliferatif. Virus variola, penyebab penyakit cacar, masuk ke dalam kelompok ini. Dahulu penyakit ini banyak menyerang manusia, namun penyakit ini telah berhasil diberantas dari muka bumi sejak tahun 1977 setelah kampanye intensif yang dikoordinasikan oleh WHO.</dc:description>
    </item>
  </channel>
</rss>

