<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>USU-IR Community: Psikologia</title>
    <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/147</link>
    <description>Psikologia</description>
    <pubDate>Sat, 18 May 2013 19:22:23 GMT</pubDate>
    <dc:date>2013-05-18T19:22:23Z</dc:date>
    <image>
      <title>USU-IR Community: Psikologia</title>
      <url>http://repository.usu.ac.id:80/retrieve/33244/Psikologia.png</url>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/147</link>
    </image>
    <item>
      <title>Dinamika Faktor-Faktor Psikososial Pada Residivis Remaja Pria (Studi Kasus Residivis Remaja Pria Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Gusta Medan)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15726</link>
      <description>Authors: Hamaria Mendrofa Simatupang; Irmawati
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika faktor-faktor psikososial yang melatarbelakangi terjadinya pengulangan tindak kejahatan oleh seorang residivis remaja pria. Penelitian ini menggambarkan bagaimana dinamika dari faktor-faktor psikososiaasdl yang dialami oleh residivis remaja pria yang berada di LP anak Tanjung Gusta Medan dengan menggunakan teori Antisocial by Young People yang dikemukakan oleh Michael Rutter, Henri Giller, dan Ann Hagell (1998). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek. Dalam pengumpulan data digunakan metode wawancara serta observasi yang sifatnya non-partisipan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 2 orang yang memiliki karakteristik sebagai seorang residivis pria dan berusia remaja yaitu 17 tahun dan 18 tahun.Hasil penelitian menunjukkan dinamika faktor-faktor psikososial dalam hal pengaruh keluarga, teman sebaya, pengangguran, serta efek perilaku timbal balik dengan lingkungan terhadap perilaku antisosial kedua subjek.
Abstract (other language): The purpose of this research is to describe the dynamic of the psychosocial features that caused repetition of criminality by young male recidivist. This research describe how the dynamic of psychosocial features of young male recidivist in Tanjung Gusta Medan prison for children, based on Antisocial by Young People Theory from Michaell Rutter, Henri Giller &amp; Ann Hogell (1998). This research used a qualitative approach because by this method we can understand the phenomenon of psychosocial feature where subjects have been through. Data of research had been collected through interview and non participant observation. The subjects were 2 (two) young male with characteristic, they are 17th years old and 18th years old. The result indicates many dynamic factor such as family, friends, jobless and behavior have causal effect toward antisocial behavior of the subjects.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15726</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hamaria Mendrofa Simatupang</dc:creator>
      <dc:creator>Irmawati</dc:creator>
      <dc:description>The purpose of this research is to describe the dynamic of the psychosocial features that caused repetition of criminality by young male recidivist. This research describe how the dynamic of psychosocial features of young male recidivist in Tanjung Gusta Medan prison for children, based on Antisocial by Young People Theory from Michaell Rutter, Henri Giller &amp; Ann Hogell (1998). This research used a qualitative approach because by this method we can understand the phenomenon of psychosocial feature where subjects have been through. Data of research had been collected through interview and non participant observation. The subjects were 2 (two) young male with characteristic, they are 17th years old and 18th years old. The result indicates many dynamic factor such as family, friends, jobless and behavior have causal effect toward antisocial behavior of the subjects.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Perbedaan Penanganan Kemarahan Pada Situasi Konflik Dalam Keluarga Suku Jawa, Batak Dan Minangkabau</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15725</link>
      <description>Authors: Irna Minauli; Nilva Desriani; Yossetta MR Tuapattinaya
Abstract: Stereotipe menyatakan bahwa suku Jawa dianggap lebih menekankan pada keharmonisan sehingga cenderung menghindarkan konflik. Berbeda dengan suku Batak yang terkenal spontan dan tidak takut berkonflik dengan orang lain. Sedangkan suku Minangkabau memiliki keunikan sendiri dalam budaya matrilinealnya. Penelitian lintas budaya selama ini selalu mengambil suku Jawa sebagai representasi dari Indonesia. Padahal Indonesia memiliki beragam suku yang memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lainnya. Penelitian ini dilakukan pada 119 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (untuk suku Jawa), 207 mahasiswa Universitas Sumatera Utara (untuk suku Batak) dan 276 mahasiswa Universitas Andalas (untuk suku Minangkabau). Hasilnya menunjukkan bahwa ternyata tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara orang Jawa, Batak dan Minangkabau dalam menghadapi situasi konflik dalam keluarga. Yang menarik adalah ternyata laki-laki lebih peaceful dibandingkan perempuan dalam menghadapi konflik dalam keluarga. Dalam masalah target kemarahan saudara kandung, ternyata suku Minangkabau menunjukkan penanganan yang lebih peaceful dibandingkan suku Jawa dan Batak. Bahkan laki-laki suku Minangkabau menunjukkan rasio peaceful yang paling tinggi di antara suku Batak dan Jawa. Penelitian ini nyata memberi hasil yang berbeda dengan pemahaman selama ini mengenai suku Jawa maupun perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Abstract (other language): The stereotypic about Javanese considered that they were mentioned on the harmony, they tend to refuse conflict. It is totally different with Bataknese. They were known as spontaneous and tend to make a conflict with other people. Minangkabau’s stereotype has their own uniqueness with their matrilineal culture. Cross-cultural studies always use Javanese as a representative of Indonesians. In fact, Indonesia has varied tribes with their own characteristics. The subject of this study is 199 students of University of Gadjah Mada (for Javanese), 207 students from University of North Sumatra (for Bataknese) and 276 students from University of Andalas (for Minangkabau).The result showed that there is no significant differences between Javanese, Bataknese and Minangkabau due to their handling anger in conflict situation within family. The interesting thing is that male students are more peaceful compared with female. Due to the siblings as anger target, the Minangkabau’s male students showed that they are more peaceful compared with Bataknese and Javanese. This study gives different result with our understanding about Javanese and the differentiation between male and female.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15725</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Irna Minauli</dc:creator>
      <dc:creator>Nilva Desriani</dc:creator>
      <dc:creator>Yossetta MR Tuapattinaya</dc:creator>
      <dc:description>The stereotypic about Javanese considered that they were mentioned on the harmony, they tend to refuse conflict. It is totally different with Bataknese. They were known as spontaneous and tend to make a conflict with other people. Minangkabau’s stereotype has their own uniqueness with their matrilineal culture. Cross-cultural studies always use Javanese as a representative of Indonesians. In fact, Indonesia has varied tribes with their own characteristics. The subject of this study is 199 students of University of Gadjah Mada (for Javanese), 207 students from University of North Sumatra (for Bataknese) and 276 students from University of Andalas (for Minangkabau).The result showed that there is no significant differences between Javanese, Bataknese and Minangkabau due to their handling anger in conflict situation within family. The interesting thing is that male students are more peaceful compared with female. Due to the siblings as anger target, the Minangkabau’s male students showed that they are more peaceful compared with Bataknese and Javanese. This study gives different result with our understanding about Javanese and the differentiation between male and female.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Efektivitas Art Therapy Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial  Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Perilaku Efektivitas Art Therapy Untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial  Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Perilaku</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15724</link>
      <description>Authors: Desvi Yanti Mukhtar; Noor Rochman Hadjam
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas art therapy dalam meningkatkan keterampilan sosial pada anak yang mengalami gangguan perilaku.&#xD;
Subjek penelitian adalah 31 satu anak yang memiliki karakteristik berikut: duduk di kelas IV – VI SD, mengalami gangguan perilaku kategori sedang sampai sangat tinggi, dan memiliki keterampilan sosial kategori rendah sampai sangat rendah. Subjek penelitian diperoleh melalui skrining dengan menggunakan Skala Gangguan Perilaku dan Skala Keterampilan Sosial. Subjek penelitian dibagi secara acak dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen (n=16) dan kelompok kontrol (n=15). Kelompok eksperimen mendapat perlakuan berupa art therapy yang diberikan dalam 6 kali pertemuan, masing-masing pertemuan membutuhkan waktu 120 menit.&#xD;
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Skala Gangguan Perilaku dan Skala Keterampilan Sosial yang disusun oleh peneliti, observasi, wawancara, dan hasil lukisan subjek. Skala Keterampilan Sosial digunakan untuk mengungkap perubahan yang terjadi setelah pemberian perlakuan dan diuji dengan menggunakan uji-t sampel berpasangan dan analisis varians within subject.&#xD;
Hasil uji-t berpasangan menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen terdapat perbedaan yang signifikan antara skor keterampilan sosial pada saat post test 1 dan post test 2 dibandingkan dengan saat pretest (t hitung &gt; t tabel 2,131 dan p &lt; 0.05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan skor yang signifikan. Hasil anava menunjukkan nilai ratio F interaksi waktu dan kelompok (2,58) = 2,243 dan p &gt; 0.05. Ini berarti, perbedaan skor keterampilan sosial antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tidak signifikan. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa art therapy efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial pada anak yang mengalami gangguan tidak terbukti. Hasil analisis data individual menunjukkan bahwa beberapa orang subjek mengalami peningkatan keterampilan sosial dan rasa percaya diri.
Abstract (other language): The research was aimed to investigate the effectiveness of art therapy in promoting social skills of children with behavioral problem.&#xD;
The subject of this research were 31 children who have characteristics: in grade IV – VI elementary school, have moderate until very highly behavioral problem, and have poor until very poor social skills. The subjects were screened with Behavior Problem Scale and Social Skills Scale. The subjects were randomly assigned to the following group: experiment group (n=16) and control group (n=15). The experiment group was given art therapy in 6 sessions, each being held in 120 minutes.&#xD;
Data was collected by using Behavior Problem Scale and Social Skills Scale that maked by researcher, observation, interview and subject’s drawing. The Social Skills Scale was used to reveal changes in social skills after the treatment was given and was analyzed by using t-paired sample and Anova within subject technique.&#xD;
The result of the paired t showed that score of post test 1 and 2 of social skills experiment group significantly different with score of pretest (t obtained &gt; t critical 2,131 and p  0,05. It’s mean, the difference score of social skills between experiment group and control group is not significant. So, the hypothesis is not proven. The art therapy was not effective to promoting social skills of children with behavioral problem. Individually analyzed data showed that some subject has increasing score of social skills and self respect.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15724</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Desvi Yanti Mukhtar</dc:creator>
      <dc:creator>Noor Rochman Hadjam</dc:creator>
      <dc:description>The research was aimed to investigate the effectiveness of art therapy in promoting social skills of children with behavioral problem.&#xD;
The subject of this research were 31 children who have characteristics: in grade IV – VI elementary school, have moderate until very highly behavioral problem, and have poor until very poor social skills. The subjects were screened with Behavior Problem Scale and Social Skills Scale. The subjects were randomly assigned to the following group: experiment group (n=16) and control group (n=15). The experiment group was given art therapy in 6 sessions, each being held in 120 minutes.&#xD;
Data was collected by using Behavior Problem Scale and Social Skills Scale that maked by researcher, observation, interview and subject’s drawing. The Social Skills Scale was used to reveal changes in social skills after the treatment was given and was analyzed by using t-paired sample and Anova within subject technique.&#xD;
The result of the paired t showed that score of post test 1 and 2 of social skills experiment group significantly different with score of pretest (t obtained &gt; t critical 2,131 and p  0,05. It’s mean, the difference score of social skills between experiment group and control group is not significant. So, the hypothesis is not proven. The art therapy was not effective to promoting social skills of children with behavioral problem. Individually analyzed data showed that some subject has increasing score of social skills and self respect.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Organizational Citizenship Behavior Karyawan Ditinjau Dari Persepsi Terhadap Kualitas Interaksi Atasan-Bawahan Dan Persepsi Terhadap Dukungan Organisasional</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15723</link>
      <description>Authors: Ferry Novliadi
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan dan persepsi terhadap dukungan organisasional dengan Organizational Citizenship Behavior karyawan. Subyek penelitian adalah karyawan Universitas Nasional di Jakarta, dengan sampel berjumlah 89 subyek yang diambil dengan metode purposive sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan, skala persepsi terhadap dukungan organisasional dan skala Organizational Citizenship Behavior. Berdasarkan analisis regresi, ditemukan: 1) ada hubungan antara persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan dan persepsi terhadap dukungan organisasional secara bersama-sama dengan Organizational Citizenship Behavior karyawan, diketahui dari R = 0,427 dan p = 0,000; 2) persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan berhubungan positif sangat signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior karyawan, diketahui dari r-parsial = 0,378 dan p = 0,001; dan 3) tidak ada hubungan antara persepsi terhadap dukungan organisasional dengan Organizational Citizenship Behavior karyawan, diketahui dari r-parsial = -0,006 dan p = 0,955. Persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior karyawan dengan sumbangan efektif (SE) sebesar 18,062 %. Semakin tinggi persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan maka semakin tinggi Organizational Citizenship Behavior karyawan, sedangkan persepsi terhadap dukungan organisasional tidak berhubungan dengan Organizational Citizenship Behavior karyawan.
Abstract (other language): This research was conducted to investigate the relationship between perceived of leader-member interaction quality and perceived of organizational support on employee’s organizational citizenship behavior. The subjects were National University’s employee in Jakarta, with 89 subjects which collected by purposive sampling method. The data were collected by using perceived of leader-member interaction quality scales, perceived of organizational support scales and organizational citizenship behavior scales. Based on regression analysis, found that 1) there were correlation between perceived of leader-member interaction quality and perceived of organizational support collectively on employee’s organizational citizenship behavior, R = 0,427 and p = 0,000; 2) perceived of leader-member interaction quality positively correlated on employee’s organizational citizenship behavior, r-partial = 0,378 and p = 0,001; and 3) there was no positive correlation between perceived of organizational support on employee’s organizational citizenship behavior, r-partial = - 0,006 and p = 0,955. Perceived of leader-member interaction quality was one of many factors which influenced employee’s organizational citizenship behavior, with effective contribution = 18,062 %. The higher perceived of leader-member interaction quality will be followed by the higher employee’s organizational citizenship behavior. On the other way, perceived of organizational support did not influence employee’s organizational citizenship behavior.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15723</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ferry Novliadi</dc:creator>
      <dc:description>This research was conducted to investigate the relationship between perceived of leader-member interaction quality and perceived of organizational support on employee’s organizational citizenship behavior. The subjects were National University’s employee in Jakarta, with 89 subjects which collected by purposive sampling method. The data were collected by using perceived of leader-member interaction quality scales, perceived of organizational support scales and organizational citizenship behavior scales. Based on regression analysis, found that 1) there were correlation between perceived of leader-member interaction quality and perceived of organizational support collectively on employee’s organizational citizenship behavior, R = 0,427 and p = 0,000; 2) perceived of leader-member interaction quality positively correlated on employee’s organizational citizenship behavior, r-partial = 0,378 and p = 0,001; and 3) there was no positive correlation between perceived of organizational support on employee’s organizational citizenship behavior, r-partial = - 0,006 and p = 0,955. Perceived of leader-member interaction quality was one of many factors which influenced employee’s organizational citizenship behavior, with effective contribution = 18,062 %. The higher perceived of leader-member interaction quality will be followed by the higher employee’s organizational citizenship behavior. On the other way, perceived of organizational support did not influence employee’s organizational citizenship behavior.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Antara Penyesuaian Diri Anak Di Sekolah Dengan Prestasi Belajar</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15722</link>
      <description>Authors: Laily Safura; Sri Supriyantini
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara penyesuaian diri anak di sekolah dengan prestasi belajar pada siswa kelas 1 SMP Gajah Mada Medan. Selain itu juga, untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara penyesuaian diri anak di sekolah dengan prestasi belajar berdasarkan jenis kelamin dan usia subjek penelitian. Penelitian ini didasarkan pada 7 karakteristik penyesuaian diri yang dikemukakan oleh Schneiders (1964). Penelitian ini menggunakan subjek yang berjumlah 55 orang. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala penyesuaian diri anak di sekolah dan dokumentasi berupa nilai rata-rata rapor di kelas 1.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara penyesuaian diri anak di sekolah dengan prestasi belajar dengan rxy = 0.405; p = 0.01. Berdasarkan analisis lebih lanjut, terdapat hubungan positif yang signifikan antara penyesuaian diri anak di sekolah dengan prestasi belajar pada subjek laki-laki dan ada hubungan positif yang sangat signifikan pada subjek yang berusia 13 tahun. Kemudian juga diketahui bahwa tidak ada hubungan positif antara penyesuaian diri anak di sekolah dengan prestasi belajar pada subjek perempuan dan subjek yang berusia 12, 14, dan 15 tahun
Abstract (other language): The purpose of this study is to know whether there is a positive correlation between student adjustment at school and academic achievement in the first year at Gajah Mada Junior High School, Medan. Moreover this study is also like to know whether there is a positive correlation between children adjustment at school and academic achievement according to student’s sex and age. This research based on Schneider’s seven characteristics of adjustment.&#xD;
The subject in this research are 55 students. Measurement instrument which were use in this research were children adjustment at school scale and documentation in the form of school grade’s mean in the first year.&#xD;
The result shows that there is significant positive correlation between student’s adjustment at school and academic achievement (rxy = 0,405; p = 0,01). Based on further analysis, there is significant positive correlation between children adjustment at school and academic achievement in male subjects and very significant correlation between children adjustment at school and academic achievement in 13 years old subjects. Furthermore, the result shows no positive correlation between children adjustment at school and academic achievement in female, 12, 14 and 15 years old students.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15722</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Laily Safura</dc:creator>
      <dc:creator>Sri Supriyantini</dc:creator>
      <dc:description>The purpose of this study is to know whether there is a positive correlation between student adjustment at school and academic achievement in the first year at Gajah Mada Junior High School, Medan. Moreover this study is also like to know whether there is a positive correlation between children adjustment at school and academic achievement according to student’s sex and age. This research based on Schneider’s seven characteristics of adjustment.&#xD;
The subject in this research are 55 students. Measurement instrument which were use in this research were children adjustment at school scale and documentation in the form of school grade’s mean in the first year.&#xD;
The result shows that there is significant positive correlation between student’s adjustment at school and academic achievement (rxy = 0,405; p = 0,01). Based on further analysis, there is significant positive correlation between children adjustment at school and academic achievement in male subjects and very significant correlation between children adjustment at school and academic achievement in 13 years old subjects. Furthermore, the result shows no positive correlation between children adjustment at school and academic achievement in female, 12, 14 and 15 years old students.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Dinamika Faktor-Faktor Psikososial Pada Residivis Remaja Pria (Studi Kasus Residivis Remaja Pria Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Gusta Medan)</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15721</link>
      <description>Authors: Hamaria Mendrofa Simatupang; Irmawati
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika faktor-faktor psikososial yang melatarbelakangi terjadinya pengulangan tindak kejahatan oleh seorang residivis remaja pria. Penelitian ini menggambarkan bagaimana dinamika dari faktor-faktor psikososiaasdl yang dialami oleh residivis remaja pria yang berada di LP anak Tanjung Gusta Medan dengan menggunakan teori Antisocial by Young People yang dikemukakan oleh Michael Rutter, Henri Giller, dan Ann Hagell (1998). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek. Dalam pengumpulan data digunakan metode wawancara serta observasi yang sifatnya non-partisipan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 2 orang yang memiliki karakteristik sebagai seorang residivis pria dan berusia remaja yaitu 17 tahun dan 18 tahun.Hasil penelitian menunjukkan dinamika faktor-faktor psikososial dalam hal pengaruh keluarga, teman sebaya, pengangguran, serta efek perilaku timbal balik dengan lingkungan terhadap perilaku antisosial kedua subjek.
Abstract (other language): The purpose of this research is to describe the dynamic of the psychosocial features that caused repetition of criminality by young male recidivist. This research describe how the dynamic of psychosocial features of young male recidivist in Tanjung Gusta Medan prison for children, based on Antisocial by Young People Theory from Michaell Rutter, Henri Giller &amp; Ann Hogell (1998). This research used a qualitative approach because by this method we can understand the phenomenon of psychosocial feature where subjects have been through. Data of research had been collected through interview and non participant observation. The subjects were 2 (two) young male with characteristic, they are 17th years old and 18th years old. The result indicates many dynamic factor such as family, friends, jobless and behavior have causal effect toward antisocial behavior of the subjects.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15721</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hamaria Mendrofa Simatupang</dc:creator>
      <dc:creator>Irmawati</dc:creator>
      <dc:description>The purpose of this research is to describe the dynamic of the psychosocial features that caused repetition of criminality by young male recidivist. This research describe how the dynamic of psychosocial features of young male recidivist in Tanjung Gusta Medan prison for children, based on Antisocial by Young People Theory from Michaell Rutter, Henri Giller &amp; Ann Hogell (1998). This research used a qualitative approach because by this method we can understand the phenomenon of psychosocial feature where subjects have been through. Data of research had been collected through interview and non participant observation. The subjects were 2 (two) young male with characteristic, they are 17th years old and 18th years old. The result indicates many dynamic factor such as family, friends, jobless and behavior have causal effect toward antisocial behavior of the subjects.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Efektivitas Pelatihan Perilaku Keibuan Guna Memperbaiki Gangguan Kelekatan</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15720</link>
      <description>Authors: Eka Ervika
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan perilaku keibuan guna memperbaiki gangguan kelekatan pada anak.&#xD;
Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki anak yang mengalami gangguan kelekatan. Ada 14 orang subjek penelitian yang terdiri dari ibu-ibu yang berdomisili di kota Medan.&#xD;
Pengumpulan data dilakukan dengan metode purposive sampling. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala kelekatan yang disusun oleh peneliti, lembar catatan harian, lembar target, lembar evaluasi, observasi, dan wawancara.&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan dengan memberikan perlakuan berupa pelatihan perilaku keibuan pada kelompok eksperimen. Disain yang digunakan adalah pretest-posttest group design. Metode analisis data yang digunakan adalah statistik nonparametrik, dengan menggunakan uji Mann-Whitney U Test dan Wilcoxon T –Test untuk membandingkan penurunan skor gangguan kelekatan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.&#xD;
Hasil uji Mann-Whitney U test menunjukkan bahwa pelatihan perilaku keibuan secara nyata tidak efektif dalam memperbaiki gangguan kelekatan dari kategori tinggi dan sedang menjadi kategori rendah (p= 1.000 saat pretest; p= 0.805 saat posttest). Hasil uji Wilcoxon T-Test pada kelompok eksperimen juga menunjukkan bahwa tidak terjadi penurunan gangguan kelekatan secara signifikan (p=0.092). Secara umum pemberian perlakuan berupa pelatihan perilaku keibuan pada kelompok eksperimen tidak mampu mengubah status gangguan kelekatan yang dialami anak.
Abstract (other language): The research is intended to examine the effectiveness of maternal behavior training in order to decrease attachment disorder of children.&#xD;
Subject of study is mother who has children with attachment disorder. There were 14 subject consisted of mother were recruited from Medan city&#xD;
The collecting data is based on purposive sampling. The process of data collecting done by using attachment scale that maked by researches, diary sheets, target sheets, evaluation sheets, observation and interview.&#xD;
The study is carried out by experimental by giving treatment maternal behavior training to experimental group. Design of research which is used is pretest-posttest control group design. Data analysis technique which is used is non parametric analysis by using of T test Wilcoxon and U Mann-Whitney to compare experimental and control group decrease of attachment disorder.The result of the Mann-Withney U Test showed that maternal behavior training was not significantly effective in order to decrease attachment disorder from high and fair category into poor category (p= 0.209 in pretest ; p= 0.902 in post test). The result of Wilcoxon T-Test to experimental group showed that the decrease of attachment disorder were not significant (p=0.865). Overall treatment given (maternal behavior training) to experimental group did not make any significant change in attachment disorder of children.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15720</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Eka Ervika</dc:creator>
      <dc:description>The research is intended to examine the effectiveness of maternal behavior training in order to decrease attachment disorder of children.&#xD;
Subject of study is mother who has children with attachment disorder. There were 14 subject consisted of mother were recruited from Medan city&#xD;
The collecting data is based on purposive sampling. The process of data collecting done by using attachment scale that maked by researches, diary sheets, target sheets, evaluation sheets, observation and interview.&#xD;
The study is carried out by experimental by giving treatment maternal behavior training to experimental group. Design of research which is used is pretest-posttest control group design. Data analysis technique which is used is non parametric analysis by using of T test Wilcoxon and U Mann-Whitney to compare experimental and control group decrease of attachment disorder.The result of the Mann-Withney U Test showed that maternal behavior training was not significantly effective in order to decrease attachment disorder from high and fair category into poor category (p= 0.209 in pretest ; p= 0.902 in post test). The result of Wilcoxon T-Test to experimental group showed that the decrease of attachment disorder were not significant (p=0.865). Overall treatment given (maternal behavior training) to experimental group did not make any significant change in attachment disorder of children.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Respons Emosi Musikal Dalam Gamelan Jawa</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15719</link>
      <description>Authors: Djohan Salim
Abstract: Penelitian dasar ini merupakan hasil eksperimen yang menggunakan teknik pengukuran continuous response yang menguji pengaruh stimulasi elemen tempo dan timbre gamelan Jawa terhadap respon emosi musikal pendengar. Subjek yang terdiri dari musisi (N=16) dan non-musisi (N=16) mendengarkan setiap gendhing sebanyak empat kali melalui pemutar CD baik dalam tempo asli dengan timbre besi maupun perunggu, dan dalam tempo modifikasi dengan timbre besi dan perunggu pula. Saat mendengarkan gendhing, subjek diminta untuk menekan tombol pada papan kibor komputer bila gendhing yang didengar terasa janggal atau berbeda dari biasa. Kemudian mereka diminta mengisi skala laporan diri tentang Respons Emosi Musikal di akhir gendhing. Penandaan akan terekam secara langsung di monitor komputer melalui piranti lunak Sound Forge 6.0. Hasil analisis statistik dan diskusi kelompok terpadu secara signifikan menunjukkan pengaruh dan perbedaan respons emosi musikal antara musisi dan non-musisi. Secara keseluruhan hasil penelitian ini melengkapi penelitian terdahulu pada musik Barat yang menunjukkan bahwa elemen tempo lebih penting dari elemen timbre. Hal tersebut terbukti bahwa respons emosi musikal pendengar gamelan Jawa secara signifikan lebih dipengaruhi oleh elemen tempo dari pada timbre.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15719</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Djohan Salim</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Sikap Terhadap Lingkungan Dan Religiusitas</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15718</link>
      <description>Authors: Ari Widiyanta
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat religiusitas dengan sikap terhadap lingkungan alam. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan beragama Islam. Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 90 orang. Data penelitian dikumpulkan melalui skala religiusitas, skala sikap ekosentris terhadap lingkungan alam, skala sikap antroposentris dan skala sikap apatis terhadap lingkungan alam Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik korelasi product moment dari Pearson. Hasil analisis data menunjukkan besarnya koefisien korelasi (rxy) = 0.290 untuk hipotesis pertama. Artinya, ada hubungan positif yang sangat signifikan antara tingkat religiusitas dengan sikap ekosentris terhadap lingkungan alam. Koefisien korelasi (rxy) = 0.247 untuk hipotesis kedua. Artinya ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan sikap antroposentris terhadap lingkungan alam. Koefisien korelasi (rxy) = -0.537 untuk hipotesis ketiga. Artinya, ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara tingkat religiusitas dengan sikap apatis terhadap lingkungan alam.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15718</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Ari Widiyanta</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Gambaran Tipe-Tipe Konflik Intrapersonal Waria Ditinjau Dari Identitas Gender</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15717</link>
      <description>Authors: Stevanus Colonne; Rika Eliana
Abstract: Waria adalah laki-laki yang menunjukan karakteristik penampilan dan tingkah laku dari jenis kelamin yang berbeda (Graham, 2004). Waria mengalami penyimpangan identitas gender dari laki-laki ke perempuan dan hal ini bertentangan dengan harapan masyarakat tentang identitas gender yang sesuai bagi seorang laki-laki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk melihat gambaran tipe-tipe konflik intrapersonal pada waria ditinjau dari identitas gender berdasarkan teori Lapangan Kurt Lewin. Hasil penelitian menunjukkan ada dua responden yang mengalami tipe-tipe konflik intrapersonal yang berkaitan dengan identitas gender mereka. Tipe-tipe konflik intrapersonal yang mereka alami terjadi dalam wilayah kehidupan yang berbeda-beda seperti wilayah fisiologis, wilayah rasa aman, wilayah cinta dan rasa memiliki serta wilayah aktualisasi diri. Sedangkan satu responden lagi lebih kepada konflik interpersonal. Tipe-tipe konflik yang di alami oleh ketiga responden mencakup konflik mendekat-mendekat dan konflik mendekat-menjauh.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15717</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Stevanus Colonne</dc:creator>
      <dc:creator>Rika Eliana</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Respon Emosi Musikal Dalam Gamelan Jawa</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15716</link>
      <description>Authors: Djohan Salim
Abstract: Penelitian dasar ini merupakan hasil eksperimen yang menggunakan teknik pengukuran continuous response yang menguji pengaruh stimulasi elemen tempo dan timbre gamelan Jawa terhadap respon emosi musikal pendengar. Subjek yang terdiri dari musisi (N=16) dan non-musisi (N=16) mendengarkan setiap gendhing sebanyak empat kali melalui pemutar CD baik dalam tempo asli dengan timbre besi maupun perunggu, dan dalam tempo modifikasi dengan timbre besi dan perunggu pula. Saat mendengarkan gendhing, subjek diminta untuk menekan tombol pada papan kibor komputer bila gendhing yang didengar terasa janggal atau berbeda dari biasa. Kemudian mereka diminta mengisi skala laporan diri tentang Respons Emosi Musikal di akhir gendhing. Penandaan akan terekam secara langsung di monitor komputer melalui piranti lunak Sound Forge 6.0. Hasil analisis statistik dan diskusi kelompok terpadu secara signifikan menunjukkan pengaruh dan perbedaan respons emosi musikal antara musisi dan non-musisi. Secara keseluruhan hasil penelitian ini melengkapi penelitian terdahulu pada musik Barat yang menunjukkan bahwa elemen tempo lebih penting dari elemen timbre. Hal tersebut terbukti bahwa respons emosi musikal pendengar gamelan Jawa secara signifikan lebih dipengaruhi oleh elemen tempo dari pada timbre.
Abstract (other language): This basic research reports the results of an experiment using continuous response measurement tehnique that tested the effects of tempo and timbre stimuli in Javanese gamelan music on the musical emotional responses of listeners. Musicians (N=16) and non-musicians (N=16) listened to each song four times through CD’s player which are in original tempo with bronze’s and iron’s and then in modified tempo with bronze’s and iron’s too. Listeners were asked to push the button on the computer keyboard in real time when they feel that the song they hear is somehow strange and different from what they use to hear. Thereafter, the listeners will be asked to fill out the self report scale on Musical Emotional Responses at the end of each song. Marking will directly recorded at the computer through the Sound Forge 6.0 software. A statistical analysis and the result of focus group discussion showed that there were significant effects and differences on musical emotional responses between musicians and non-musicians. This entire experiment adjoin previous studies on Western music that tempo is a more important musical element than timbre. It was shown by evidence that musical emotional responses of the Javanese gamelan listener are significantly more affected by the tempo element compared to the timbre element.</description>
      <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15716</guid>
      <dc:date>2009-06-03T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Djohan Salim</dc:creator>
      <dc:description>This basic research reports the results of an experiment using continuous response measurement tehnique that tested the effects of tempo and timbre stimuli in Javanese gamelan music on the musical emotional responses of listeners. Musicians (N=16) and non-musicians (N=16) listened to each song four times through CD’s player which are in original tempo with bronze’s and iron’s and then in modified tempo with bronze’s and iron’s too. Listeners were asked to push the button on the computer keyboard in real time when they feel that the song they hear is somehow strange and different from what they use to hear. Thereafter, the listeners will be asked to fill out the self report scale on Musical Emotional Responses at the end of each song. Marking will directly recorded at the computer through the Sound Forge 6.0 software. A statistical analysis and the result of focus group discussion showed that there were significant effects and differences on musical emotional responses between musicians and non-musicians. This entire experiment adjoin previous studies on Western music that tempo is a more important musical element than timbre. It was shown by evidence that musical emotional responses of the Javanese gamelan listener are significantly more affected by the tempo element compared to the timbre element.</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Asertivitas Dan Kreativitas Pada Karyawan Yang Bekerja Di Multi Level Marketing</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15715</link>
      <description>Authors: Muhammad Rafki Syukri; Zulkarnain
Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti hubungan antara Asertivitas dengan Kreativitas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data penelitian diperoleh dari skala Asertivitas dan Tes Kreativitas Figural. Subjek dalam penelitian ini adalah para pekerja di Multi Level Marketing. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 83 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang positif antara Asertivitas dengan Kreativitas (rxy = 0.75, p &lt; 0.01). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat asertivitas maka semakin tinggi tingkat kreativitas. Dari penelitian ini juga ditemukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kreativitas berdasarkan jenis kelamin (F = 0.043, p&gt; 0.05) dan Usia (F = 0.179, p&gt;0.05).</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15715</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Muhammad Rafki Syukri</dc:creator>
      <dc:creator>Zulkarnain</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Perbedaan Asertivitas Remaja Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15714</link>
      <description>Authors: Liza Marini; Elvi Andriani
Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan asertivitas remaja ditinjau dari pola asuh orang tua. Perilaku asertif remaja diperlukan untuk menghadapi kuatnya pengaruh teman sebaya. Penelitian ini didasarkan pada teori Pola Asuh Orang Tua dari Baumrind yang mengasumsikan bahwa ada 4 tipe Pola Asuh Orang Tua yaitu Authoritative, Authoritarian, Permissive dan Uninvolved. Teori asertif yang digunakan didasarkan pada teori Asertivitas dari Eisler, Miller &amp; Hersen, Johnson &amp; Pinkton (dalam Martin &amp; Poland, 1980). Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, data dikumpulkan dengan menggunakan skala Pola Asuh dan Skala Asertivitas. Subjek penelitian adalah remaja madya berusia15-18 tahun sebanyak 100 orang yang merupakan siswa-siswi SMUN 1 Medan yang masih memiliki orang tua lengkap. Subjek dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Data penelitian diolah dengan menggunakan analisis varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam asertivitas remaja ditinjau dari pola asuh orang tua (F=2.951, p&lt;0.05), subjek dengan pola asuh Authoritative lebih asertif daripada subjek dengan pola asuh Authoritarian, Permissive dan Uninvolved (mean = 115.727 Sd = 7.492).</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15714</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Liza Marini</dc:creator>
      <dc:creator>Elvi Andriani</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Antara Stres Dan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-Laki</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15713</link>
      <description>Authors: Hasnida; Indri Kemala
Abstract: Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Hipotesis penelitian ini adalah bahwa ada hubungan positif antara stres dan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Penelitian ini melibatkan 98 orang siswa SMA Negri I Medan dan SMA Swasta Mehodist I Medan dengan karakteristik sampel berjenis kelamin laki-laki, usia 15-18 tahun dan berperilaku merokok. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Stres dan Skala Perilaku Merokok. Teknik analisa data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment.. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara stres dan perilaku merokok pada remaja dengan koefisien korelasi sebesar 0.792,(p &lt; 0.01) yang artinya apabila tingkat stres pada remaja laki-laki tinggi maka semakin tinggi kecenderungan perilaku merokok pada remaja laki-laki. Juga dapat diketahui bahwa sumbangan efektif variabel stres terhadap peningkatan perilaku merokok adalah sebesar 63 %.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15713</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Hasnida</dc:creator>
      <dc:creator>Indri Kemala</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Hubungan Persepsi Tentang Kompetensi Profesional Guru Matematika Dengan Motivasi Belajar Matematika Pada Siswa SMA</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15712</link>
      <description>Authors: Annisa Fitri Rangkuti; Filia Dina Anggaraeni
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi tentang kompetensi profesional guru matematika dengan motivasi belajar matematika pada siswa kelas I SMA Negeri 1 Medan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara persepsi tentang kompetensi profesional guru matematika dengan motivasi belajar matematika pada siswa kelas I SMA Negeri 1 Medan. Data diukur dengan menggunakan Skala Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Profesional Guru Matematika dan Skala Motivasi Belajar Matematika. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SMA Negeri 1 Medan dengan jumlah 118 orang. Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara persepsi tentang kompetensi profesional guru matematika dengan motivasi belajar matematika pada siswa kelas I SMA Negeri 1 Medan, dengan r = 0.244 dan p = 0.004 (p&lt;0.05). Dari hasil kategorisasi data empirik variabel persepsi tentang kompetensi profesional guru matematika diketahui bahwa sebagian besar subyek berada pada kategori persepsi tidak tergolongkan, sedangkan dari hasil kategorisasi data empirik variabel motivasi belajar matematika diketahui bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori motivasi sedang.</description>
      <pubDate>Tue, 02 Jun 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15712</guid>
      <dc:date>2009-06-02T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Annisa Fitri Rangkuti</dc:creator>
      <dc:creator>Filia Dina Anggaraeni</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Fenomena Jatuh Cinta Pada Mahasiswi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15711</link>
      <description>Authors: Juliana Irmayanti Saragih; Irmawati
Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan atau menggambarkan kondisi mahasiswi yang sedang jatuh cinta. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, secara umum digunakan teori Triangular Theory of Love yang dikembangkan oleh Robert J. Stenberg. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif, karena dengan metode ini dapat dipahami tingkah laku individu menurut pemahaman dan sudut pandang si petaku. Untuk pengambilan data&#xD;
digunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pandangan tentang cinta sifatnya subjektif dan&#xD;
tergantung kepada individu yang mengalami dan pengalaman cinta itu sendiri Dalam cinta terkandung rasa suka, namun ada perbedaan antara cinta dan rasa suka; (2) Mahasiswi yang sedangjatuh cinta akan mengalami beberapa perasaan, tidak hanya pengalaman fisik namun juga psikologis, selain itu mereka juga akan memperlihatkan tingkah laku khusus untuk menunjukkan rasa cinta pada pasangannya yang tidak pernah mereka lakukan pada orang lain; (3) Faktor-&#xD;
faktor yang mempengaruhi para mahasiswi ini jatuh cinta dengan pasangannya adalah daya tarik fisik dan kesamaan diantara mereka; dan (4) Pengaruh cinta secara umum terhadap para mahasiswi dalam penelitian ini dapat menimbulkan kebahagiaan namun juga menyebabkan&#xD;
munculnya emosi-emosi negatif.</description>
      <pubDate>Sat, 30 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15711</guid>
      <dc:date>2009-05-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Juliana Irmayanti Saragih</dc:creator>
      <dc:creator>Irmawati</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Pengambilan Keputusan Membeli Ditinjau Dari &#xD;
Gaya Hidup Value Minded</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15710</link>
      <description>Authors: Eka Danta Jaya Ginting; Betaria Octavina Sianturi
Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana hubungan antara Gaya Hidup Value Minded dengan Pengambilan Keputusan dalam Membeli. Penelitian ini berbentuk penelitian lapangan dimana hipotesanya adalah semakin seseorang menganut gaya hidup Value Midned, maka pengambilan keputusan dalam membelinya semakin terbatas (limited). Subyek penelitian adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang tinggal tidak bersama orangtua/keluarga dengan biaya hidup yang mereka terima rata-rata Rp. 300.000 – 500.000/bulannya. Subyek penelitian berjumlah 100 orang, dengan perincian Laki-laki 32 orang dan Perempuan 68 orang. Pengukuran dengan menggunakan Skala Pengambilan Keputusan membeli menunjukkan sebanyak 17 orang memiliki tipe pengambilan keputusan yang bersifat Terbatas (Limited), 72 orang tipe pengambilan keputusan Sedang (Midrange) dan 11 orang tipe pengambilan keputusan Diperluas (Extended). Hasil penelitian menunjukkan ada korelasi negative antara gaya Hidup Value Minded dan Pengambilan Keputusan Membeli (rxy= -0.202, p &lt; 0.05). Artinya semakin seseorang menganut gaya hidup Value Minded maka pengambilan keputusan membelinya mengarah pada tipe Terbatas (limited). Hasil penelitian tambahan juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan membeli. (F = 2.837, p &gt; 0.05)</description>
      <pubDate>Sat, 30 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15710</guid>
      <dc:date>2009-05-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Eka Danta Jaya Ginting</dc:creator>
      <dc:creator>Betaria Octavina Sianturi</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Kesiapan Bersekolah Ditinjau Dari Jenis Pendidikan Pra Sekolah Anak Dan Tingkat Pendidikan Orangtua</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15709</link>
      <description>Authors: Wiwik Sulistyaningsih
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesa perbedaan antara: (1). Kesiapan bersekolah anak di Taman Kanak-Kanak (TK) full day dan TK Biasa; (2). Kesiapan bersekolah anak yang orangtuanya berpendidikan tinggi dan menengah. Penelitian ini juga akan menguji apakah ada interaksi antara jenis pendidikan prasekolah anak dan tingkat pendidikan orangtua. Subyek penelitian ini adalah 116 orang anak dari TK. Bhakti Mulia, TK. Mu’adz bin Jabal dan TK. Budi Mulia II di Yogyakarta pada tahun akademik 1997/1998. Subyek diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Kesiapan bersekolah diukur dengan menggunakan Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST) sedangkan data tingkat pendidikan orangtua diperoleh melalui dokumentasi sekolah. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis varians dua jalur. Hasil analisis adalah: (1). Tidak ada perbedaan kesiapan bersekolah antara anak TK full-day dan TK biasa; (2). Ada perbedaan kesiapan bersekolah antara anak yang orangtuanya berpendidikan tinggi dan menengah; (3). Ada interaksi antara jenis pendidikan prasekolah anak dan tingkat pendidikan orangtua dalam membentuk kesiapan bersekolah anak.</description>
      <pubDate>Fri, 29 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15709</guid>
      <dc:date>2009-05-29T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Wiwik Sulistyaningsih</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Peran Pola Asuh Orang Tua Dalam Motivasi Berprestasi</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15708</link>
      <description>Authors: Lili Garliah; Fatma Kartika Sary Nasution
Abstract (other language): The aim of this research is to study the effect of parenting on achievement motivation in North Sumatra University students. This research is based on parenting style theory from Hersey &amp; Blanchard. Hersey &amp; Blanchard assumed that parenting is a form of leadership. There is four parenting style, telling, selling, participating and delegating. Motivation theory used in this research is based on achievement motivation theory from McClelland. The sample comprised 100 students of North Sumatera University (age 19-24 year) and still have both complete parent. Sample is selected using stratified cluster sampling technique. A specially design questionnaires were constructed to measure parenting style and achievement motivation. Data obtained in this research is processed with analysis variance ( ANOVA). The result of this research indicate that there are significant difference (F= 2.979, p</description>
      <pubDate>Sat, 30 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15708</guid>
      <dc:date>2009-05-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Lili Garliah</dc:creator>
      <dc:creator>Fatma Kartika Sary Nasution</dc:creator>
      <dc:description>The aim of this research is to study the effect of parenting on achievement motivation in North Sumatra University students. This research is based on parenting style theory from Hersey &amp; Blanchard. Hersey &amp; Blanchard assumed that parenting is a form of leadership. There is four parenting style, telling, selling, participating and delegating. Motivation theory used in this research is based on achievement motivation theory from McClelland. The sample comprised 100 students of North Sumatera University (age 19-24 year) and still have both complete parent. Sample is selected using stratified cluster sampling technique. A specially design questionnaires were constructed to measure parenting style and achievement motivation. Data obtained in this research is processed with analysis variance ( ANOVA). The result of this research indicate that there are significant difference (F= 2.979, p</dc:description>
    </item>
    <item>
      <title>Prestasi Belajar Ditinjau Dari Persepsi Siswa Terhadap Iklim Kelas Pada Siswa Yang Mengikuti Program Percepatan Belajar</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15707</link>
      <description>Authors: Tarmidi; Lita Hadiati Wulandari
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi siswa terhadap iklim kelas dengan prestasi belajar pada siswa yang mengikuti program percepatan belajar di SMU Negeri 1 Medan. Data diperoleh dari 28 siswa yang mengikuti program percepatan belajar. Untuk iklim kelas digunakan Adult Classroom Environment Scale (ACES) dari Darkenwald dan Valentine (1997) dimana dimensinya meliputi afiliasi, dukungan dari guru, orientasi pada tugas, pencapaian tujuan pribadi, pengorganisasian dan kejelasan, pengaruh teman sekelas dan keterlibatan siswa. Hasil menunjukkan ada hubungan antara persepsi siswa terhadap iklim kelas dan prestasi belajar (rxy= -0.202). Oleh karena penelitian ini adalah penelitian terhadap populasinya, maka level signifikansi tidak digunakan. Dapat juga disimpulkan bahwa hanya 4% prestasi belajar dipengaruhi oleh iklim kelas.</description>
      <pubDate>Sat, 30 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15707</guid>
      <dc:date>2009-05-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Tarmidi</dc:creator>
      <dc:creator>Lita Hadiati Wulandari</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <title>Stres Ditinjau Dari Harga Diri Pada Ibu Yang Memiliki Anak Penyandang Retardasi Mental</title>
      <link>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15706</link>
      <description>Authors: Bania Maulina; Raras Sutatminingsih
Abstract: Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara harga diri dan stress pada ibu yang memiliki anak penyandang retardasi metal. Hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara harga diri dan stress yang artinya semakin ibu memiliki harga diri yang negatif maka semakin kuat stress yang dimilikinya. Penelitian ini berbentuk penelitian lapangan dimana data dikumpulkan dengan menggunakan skala. Adapun subyek penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak yang menyandang retardasi mental sebanyak 40 orang, dimana 28 diantaranya memiliki anak dengan retardasi mental taraf ringan dan 12 lainnya memiliki anak retardasi mental taraf menengah. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif antara harga diri dan stress pada ibu yang memiliki anak penyandang cacat mental (rxy = 0.601, p &lt; 0.05). Dengan demikian hipotesa penelitian ini diterima.</description>
      <pubDate>Sat, 30 May 2009 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/15706</guid>
      <dc:date>2009-05-30T00:00:00Z</dc:date>
      <dc:creator>Bania Maulina</dc:creator>
      <dc:creator>Raras Sutatminingsih</dc:creator>
    </item>
  </channel>
</rss>

