<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Community:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/85" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/85</id>
  <updated>2013-05-24T12:54:35Z</updated>
  <dc:date>2013-05-24T12:54:35Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Evaluasi Pemanfaatan Database Pubmed Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37488" />
    <author>
      <name>Adelia, Dewi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37488</id>
    <updated>2013-05-20T08:48:28Z</updated>
    <published>2013-05-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Adelia, Dewi
Advisors: Ishak; Samosir, Zurni Zahara
Abstract (other language): Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2009-2011 yang aktif mengikuti perkuliahan sebanyak 1.257 orang dengan jumlah sampel 92 orang yang ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Untuk menentukan sampel yang menjadi responden penelitian digunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner, kemudian data diolah dan disajikan dengan pengukuran distribusi frekuensi. Interpretasi data dilakukan berdasarkan besar persentase dari setiap jawaban responden.&#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi kunjungan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2009-2011 ke database PubMed rata-rata 1 seminggu (58,7%) dan menghabiskan waktu kurang dari 1 jam (39,2%) dalam sekali penelusuran. Rata-rata responden menggunakan layanan internet Perpustakaan USU cabang Fakultas Kedokteran, laptop/wifi dan warnet luar kampus sebagai media tempat mengakses database. Proses penerimaan data dalam menelusur database PubMed cukup cepat (53,3%). Untuk memperoleh informasi yang telah ditemukan responden sering mendownload (59,8%), dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kuliah (76,1%). Sebagian besar informasi yang terdapat di database PubMed sudah muktahir (63,1%), beragam (63%), dan sudah akurat (66,3%). Pada umumnya responden mudah mengakses database PubMed (46,7%) dan menilai antar muka database PubMed sudah bagus (70,6%) sehingga responden dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Informasi yang terdapat pada database hanya sebagian saja yang dapat memenuhi kebutuhan informasi responden (59,8%).</summary>
    <dc:date>2013-05-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Adelia, Dewi</dc:creator>
    <dc:description>Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2009-2011 yang aktif mengikuti perkuliahan sebanyak 1.257 orang dengan jumlah sampel 92 orang yang ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Untuk menentukan sampel yang menjadi responden penelitian digunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner, kemudian data diolah dan disajikan dengan pengukuran distribusi frekuensi. Interpretasi data dilakukan berdasarkan besar persentase dari setiap jawaban responden.&#xD;
	Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi kunjungan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2009-2011 ke database PubMed rata-rata 1 seminggu (58,7%) dan menghabiskan waktu kurang dari 1 jam (39,2%) dalam sekali penelusuran. Rata-rata responden menggunakan layanan internet Perpustakaan USU cabang Fakultas Kedokteran, laptop/wifi dan warnet luar kampus sebagai media tempat mengakses database. Proses penerimaan data dalam menelusur database PubMed cukup cepat (53,3%). Untuk memperoleh informasi yang telah ditemukan responden sering mendownload (59,8%), dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan kuliah (76,1%). Sebagian besar informasi yang terdapat di database PubMed sudah muktahir (63,1%), beragam (63%), dan sudah akurat (66,3%). Pada umumnya responden mudah mengakses database PubMed (46,7%) dan menilai antar muka database PubMed sudah bagus (70,6%) sehingga responden dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Informasi yang terdapat pada database hanya sebagian saja yang dapat memenuhi kebutuhan informasi responden (59,8%).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Bentuk, Fungsi dan Makna Feng Shui Bagi Kehidupan Masyarakat Tionghoa Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37455" />
    <author>
      <name>Depari, Yoan Gaby Angela Sembiring</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37455</id>
    <updated>2013-05-20T04:46:51Z</updated>
    <published>2013-05-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Depari, Yoan Gaby Angela Sembiring
Advisors: Bangun, Nurcahaya
Abstract: The title of the paper is “Bentuk, Fungsi Dan Makna Feng Shui Bagi Masyarakat Tionghoa di Kota Medan”.  In this paper, the writer hope to reveal the form, function, and meaning of  Feng Shui such as interior, exterior, and the rule for using Feng Shui thing. The methodology of this paper is Qualitative Descripitive, where it focusing to the function and meaning of Feng Shui for poeple who use it. The function is when Feng Shui give a positive situation and a better life for people when they using Feng Shui. The purpose of the research in this paper is refers to how a science of China still exist and meaningfull for humanity, especially in Medan.</summary>
    <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Depari, Yoan Gaby Angela Sembiring</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penggunaan Kata Bantu Aspek “了” (Le) Dan “ 过”  (Guo)  Dalam Kalimat Bahasa Mandarin</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37413" />
    <author>
      <name>Hutasoit, Rika Ariandini</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37413</id>
    <updated>2013-05-16T05:41:22Z</updated>
    <published>2013-05-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hutasoit, Rika Ariandini
Advisors: Harahap, Nurhayati
Abstract: The title of this thesis is “Penggunaan Kata Bantu Aspek “了” (le) dan “ 过” (guo) dalam Kalimat Bahasa Mandarin”. Researcher analyses the use of aspect  particle “了”(le) and “过” (guo) in Chinese sentences. Generally, students usually make errors in using aspect  particle of Mandarin as well. Students don’t have understanding about when and where to use both words. The aim of this writing is to find out the using, similarities and the differences of aspect particle. Theory used in the thesis is Chinese structure to know the using, similarities and differences of aspect  particle “了” (le) and “过” (guo) in Chinese sentences. The methodology on the  thesis is descriptive method. The result of the analysis is to find out the using, similarities and differences of aspect particle in Chinese sentences. The main using of aspect particle “了”(le) and “过” (guo) is used after verb and adjective. The similarities of le and guo used after verb and adjective. The difference of “了” (le) and “过” (guo) is in tense. Aspect particle “了” (le) used in past, present, and future. But, aspect  particle “过” (guo) only used in past.</summary>
    <dc:date>2013-05-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hutasoit, Rika Ariandini</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Putroe Neng Karya Ayi Jufridar: &#xD;
Kajian Strukturalisme Genetik</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37412" />
    <author>
      <name>Agustina, Cut Ida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37412</id>
    <updated>2013-05-16T05:27:35Z</updated>
    <published>2013-05-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Agustina, Cut Ida
Advisors: Tantawi, Isma
Abstract (other language): Kisah sejarah bukanlah karya sastra tetapi karya sastra dapat kisah sejarah. Artinya karya sastra dapat kisah atau peristiwa yang benar-benar pernah terjadi. Begitulah makna mimetis secara sempit. Penelitian ini berjudul Putroe Neng Karya Ayi jufridar: Kajian Strukturalisme Genetik. Latar belakang penelitian ini beranjak dari ketertarikan terhadap karya sastra yang berlatar sejarah. Meskipun sejarah yang dimaksud tidak dapat dilacak dalam buku-buku sejarah namun dapat dilacak pada masyarakat pemilik sejarah itu. ada empat hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) strukturasi, (2) subjek kolektif, (3) pandangan dunia, dan (4) fakta kemanusiaan. Tujuan penelitian adalah melacak, mengungkapkan, dan mendeskripsikan keempat masalah tersebut secara utuh. Adapun manfaatnya adalah memberikan gambaran yang padu mengenai keempat masalah sampai muncul gambaran genetis (asal-usul) lahirnya karya sastra berjudul Putroe Neng. Teori atau alat bedah penelitian ini adalah strukturalisme genetik yaitu gabungan antara struktural dan aspek eksternal yang diperkenalkan oleh Goldmann. Karya sastra di samping otonom juga memiliki latar belakang sejarah yang menjadi unsur ekstrinsik. Setelah membongkar unsur dalam baru beranjak ke pembedahan struktur luar karya sastra yang meliputi pengarang dan masyarakat yang disebutkan dalam karya sastra tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu data-data berbentuk deskripsi dan bukan angka-angka. Hasil penelitian menunjukkan beberapa simpulan: (1) strukturasi novel Putroe Neng menunjukkan beberapa data yang merupakan fakta (dapat dilacak kebenaran dan keberadaannya) seperti subjek kolektif dan latar tempat, (2) subjek kolektif Putroe Neng ada masyarakat Peureulak, masyarakat Indra Purba, dan masyarakat keturunan Tiongkok (berkedudukan di Seudu), (3) ada tiga pandangan dunia yang dihadirkan oleh pengarang berdasarkan subjek kolektifnya, (4) ada nilai-nilai, norma, budaya, dan filosofi yang bergeser antara pandangan dunia dengan fakta kemanusiaan.</summary>
    <dc:date>2013-05-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Agustina, Cut Ida</dc:creator>
    <dc:description>Kisah sejarah bukanlah karya sastra tetapi karya sastra dapat kisah sejarah. Artinya karya sastra dapat kisah atau peristiwa yang benar-benar pernah terjadi. Begitulah makna mimetis secara sempit. Penelitian ini berjudul Putroe Neng Karya Ayi jufridar: Kajian Strukturalisme Genetik. Latar belakang penelitian ini beranjak dari ketertarikan terhadap karya sastra yang berlatar sejarah. Meskipun sejarah yang dimaksud tidak dapat dilacak dalam buku-buku sejarah namun dapat dilacak pada masyarakat pemilik sejarah itu. ada empat hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) strukturasi, (2) subjek kolektif, (3) pandangan dunia, dan (4) fakta kemanusiaan. Tujuan penelitian adalah melacak, mengungkapkan, dan mendeskripsikan keempat masalah tersebut secara utuh. Adapun manfaatnya adalah memberikan gambaran yang padu mengenai keempat masalah sampai muncul gambaran genetis (asal-usul) lahirnya karya sastra berjudul Putroe Neng. Teori atau alat bedah penelitian ini adalah strukturalisme genetik yaitu gabungan antara struktural dan aspek eksternal yang diperkenalkan oleh Goldmann. Karya sastra di samping otonom juga memiliki latar belakang sejarah yang menjadi unsur ekstrinsik. Setelah membongkar unsur dalam baru beranjak ke pembedahan struktur luar karya sastra yang meliputi pengarang dan masyarakat yang disebutkan dalam karya sastra tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yaitu data-data berbentuk deskripsi dan bukan angka-angka. Hasil penelitian menunjukkan beberapa simpulan: (1) strukturasi novel Putroe Neng menunjukkan beberapa data yang merupakan fakta (dapat dilacak kebenaran dan keberadaannya) seperti subjek kolektif dan latar tempat, (2) subjek kolektif Putroe Neng ada masyarakat Peureulak, masyarakat Indra Purba, dan masyarakat keturunan Tiongkok (berkedudukan di Seudu), (3) ada tiga pandangan dunia yang dihadirkan oleh pengarang berdasarkan subjek kolektifnya, (4) ada nilai-nilai, norma, budaya, dan filosofi yang bergeser antara pandangan dunia dengan fakta kemanusiaan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Dampak Perubahan Masyarakat Agraris Ke Industri Terhadap Lansia Di Jepang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37392" />
    <author>
      <name>Hardiansyah, Romi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37392</id>
    <updated>2013-05-15T03:05:54Z</updated>
    <published>2013-05-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hardiansyah, Romi
Advisors: Zulnaidi
Abstract (other language): Di Jepang, istilah yang dipakai untuk lansia adalah(roujin). Karakter kanji (rou) berarti berumur atau tua, sedangkan karakter kanji (jin) berarti orang. Jadi, roujin secara harafiah berarti orang tua atau orang yang sudah berumur. Seiring dengan meningkatnya populasi roujin ini dan berkembangnya masalah roujin, untuk menghindari kesan suram dari istilah digunakan istilah koreisha yang secara harafiah berarti orang yang berusia tinggi atau lanjut. Dewasa ini masyarakat Jepang dikenal dengan koureika shakai (masyarakat yang menua).&#xD;
Perubahan besar dan cepat terjadi dalam kehidupan keluarga di Jepang khususnya sesudah perang. Industrialisasi mempercepat perubahan struktur keluarga. Perubahan struktur keluarga di sini adalah struktur keluarga Jepang dalam konsep ie menjadi struktur keluarga kaku kazoku (keluarga inti). Selain industrialisasi, penyebab lainnya adalah dengan dihapuskannya sistem ie, konsep keluarga inti menjadi konsep keluarga baru di Jepang. Berbeda dengan sistem keluarga tradisional ie dimana anggota keluarga terdiri dari kerabat dan nonkerabat dan memungkinkan dua atau tiga generasi tinggal bersama, keluarga inti hanya beranggotakan ayah,ibu, dan anak-anak yang belum menikah.&#xD;
Sistem keluarga ie berubah mengikuti perkembangan zaman menjadi kaku kazoku yaitu keluarga nuklir. Sistem ini telah berhasil menggeser pola perawaatan lansia dari yang tadinya di rumah dengan penuh kehangatan kasih sayang anak, menantu dan cucu, kini beralih menuju roujinhomu atau panti jompo. &#xD;
	Di dalam sistem keluarga tradisional ie, orang tua dihari tuanya menjadi tanggung jawab chonan yaitu anak sulung laki-laki atau anak laki-laki satu satunya di dalam keluarga bersama-sama dengan menantunya di rumah, tapi tidak demikian halnya zaman sekarang, chonan dan keluarganya sulit bisa diharapkan untuk merawat orang tuanya.&#xD;
Sementara itu, jika orang tua tadi tetap di rumah, tidak dititipkan di panti jompo, maka sebagai pengganti anggota keluarga yang bisa diharapkan untuk membantu merawat orang tua tadi adalah houmon kango yaitu perawat yang datang ke rumah, atau houmu herupa yaitu pembantu yang datang untuk merawat lansia di rumah dibantu oleh peralatan yang serba mengandalkan kecanggihan teknologi.&#xD;
		Dalam perawatan lansia timbul berbagai macam masalah diantaranya adalah sulitnya para lansia diurus karena faktor umur, dan dari diri perawat sendiri yang merasa lelah dalam merawat para lansia tersebut.&#xD;
	Banyak masyarakat yang lebih cendrung menitipkan para orang tuanya ke tempat penitipan lansia apabila mereka sibuk bekerja. Hal lain yang dilakukan adalah dengan mengundang perawat ke rumah ataupun merawat orang tuanya itu sendiri di rumah bersama keluarganya.&#xD;
Perekonomian Jepang setelah perang meningkat dengan pesat sejak tahun 1950-an sampai tahun 1960-an. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi, sejak pertengahan tahun 1960-an seluruh keluarga mulai berurbanisasi ke kota, menjual atau meninggalkan seluruh harta kekayaannya. Salah satu alasan urbanisasi ini adalah perkembangan ekonomi yang cepat dan standar hidup yang tinggi, menyebabkan para petani tidak mampu menggarap tanah pertaniannya dengan biaya yang tinggi. Faktor ini telah mendorong petani miskin untuk meninggalkan pekerjaan warisan nenek moyangnya dan pergi ke kota.&#xD;
Dengan kata lain, setelah sistem ie dihapuskan dan sejalan dengan perkembangan teknologi dan industrialisasi, struktur rumah tangga Jepang mengalami perubahan dengan pesat. Konsep ie dalam struktur rumah tangga diganti dengan konsep family (keluarga) seperti di Barat.&#xD;
Selain berubahnya sistem keluarga ini, jumlah anggota keluarga juga cenderung menurun. Sebelum perang, rata-rata jumlah anak dalam keluarga adalah lima orang dan anak berfungsi sebagai tenaga kerja pertanian. Akan tetapi, setelah perang, jumlah anak cenderung menurun. Meningkatnya jumlah keluarga inti dan berkurangnya jumlah anggota keluarga disertai dengan meningkatnya usia harapan hidup menimbulkan permasalahan terhadap pemeliharaan dan perawatan lansia . Banyak orang Jepang sekarang yang mencemaskan nasibnya dalam menghadapi hari tuanya kelak.&#xD;
Masalah perawatan lansia mulai mendapat perhatian sejak tahun 1975. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambah panjangnya usia harapan hidup orang Jepang. Sebelum perang, usia harapan hidup rata-rata orang Jepang kurang dari 55 tahun, dan setiap keluarga mempunyai beberapa anak. Akan tetapi, setelah perang, usia harapan hidup orang Jepang meningkat dengan tajam.&#xD;
Penyebab terbesar dari bertambah besarnya jumlah penduduk yang menua lainnya adalah menurunnya angka kelahiran dan kematian. Menurunnya angka kelahiran menyebabkan bawah dari piramida penduduk menyempit. Selanjutnya, menurunnya angka kematian menyebabkan meningkatnya persentase orang mencapai usia tua, memperbesar piramida penduduk bagian atas. Dengan sendirinya sedikit tingkat kelahiran dan kematian ini menyebabkan meningkatnya penduduk yang menua.&#xD;
Dengan meningkatnya jumlah lansia dan bertambah panjangnya usia harapan hidupnya, tanggung jawab merawat orang tua yang dulu menjadi tanggung jawab keluarga serta kerabat saat ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Masyarakat dan pemerintah turut berpartisipasi dalam menanganinya. Tidak dapat disangkal, dengan panjangnya usia harapan hidup ini, timbul industri dan pekerjaan baru yang berhubungan dengan perawatan lansia.</summary>
    <dc:date>2013-05-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hardiansyah, Romi</dc:creator>
    <dc:description>Di Jepang, istilah yang dipakai untuk lansia adalah(roujin). Karakter kanji (rou) berarti berumur atau tua, sedangkan karakter kanji (jin) berarti orang. Jadi, roujin secara harafiah berarti orang tua atau orang yang sudah berumur. Seiring dengan meningkatnya populasi roujin ini dan berkembangnya masalah roujin, untuk menghindari kesan suram dari istilah digunakan istilah koreisha yang secara harafiah berarti orang yang berusia tinggi atau lanjut. Dewasa ini masyarakat Jepang dikenal dengan koureika shakai (masyarakat yang menua).&#xD;
Perubahan besar dan cepat terjadi dalam kehidupan keluarga di Jepang khususnya sesudah perang. Industrialisasi mempercepat perubahan struktur keluarga. Perubahan struktur keluarga di sini adalah struktur keluarga Jepang dalam konsep ie menjadi struktur keluarga kaku kazoku (keluarga inti). Selain industrialisasi, penyebab lainnya adalah dengan dihapuskannya sistem ie, konsep keluarga inti menjadi konsep keluarga baru di Jepang. Berbeda dengan sistem keluarga tradisional ie dimana anggota keluarga terdiri dari kerabat dan nonkerabat dan memungkinkan dua atau tiga generasi tinggal bersama, keluarga inti hanya beranggotakan ayah,ibu, dan anak-anak yang belum menikah.&#xD;
Sistem keluarga ie berubah mengikuti perkembangan zaman menjadi kaku kazoku yaitu keluarga nuklir. Sistem ini telah berhasil menggeser pola perawaatan lansia dari yang tadinya di rumah dengan penuh kehangatan kasih sayang anak, menantu dan cucu, kini beralih menuju roujinhomu atau panti jompo. &#xD;
	Di dalam sistem keluarga tradisional ie, orang tua dihari tuanya menjadi tanggung jawab chonan yaitu anak sulung laki-laki atau anak laki-laki satu satunya di dalam keluarga bersama-sama dengan menantunya di rumah, tapi tidak demikian halnya zaman sekarang, chonan dan keluarganya sulit bisa diharapkan untuk merawat orang tuanya.&#xD;
Sementara itu, jika orang tua tadi tetap di rumah, tidak dititipkan di panti jompo, maka sebagai pengganti anggota keluarga yang bisa diharapkan untuk membantu merawat orang tua tadi adalah houmon kango yaitu perawat yang datang ke rumah, atau houmu herupa yaitu pembantu yang datang untuk merawat lansia di rumah dibantu oleh peralatan yang serba mengandalkan kecanggihan teknologi.&#xD;
		Dalam perawatan lansia timbul berbagai macam masalah diantaranya adalah sulitnya para lansia diurus karena faktor umur, dan dari diri perawat sendiri yang merasa lelah dalam merawat para lansia tersebut.&#xD;
	Banyak masyarakat yang lebih cendrung menitipkan para orang tuanya ke tempat penitipan lansia apabila mereka sibuk bekerja. Hal lain yang dilakukan adalah dengan mengundang perawat ke rumah ataupun merawat orang tuanya itu sendiri di rumah bersama keluarganya.&#xD;
Perekonomian Jepang setelah perang meningkat dengan pesat sejak tahun 1950-an sampai tahun 1960-an. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi, sejak pertengahan tahun 1960-an seluruh keluarga mulai berurbanisasi ke kota, menjual atau meninggalkan seluruh harta kekayaannya. Salah satu alasan urbanisasi ini adalah perkembangan ekonomi yang cepat dan standar hidup yang tinggi, menyebabkan para petani tidak mampu menggarap tanah pertaniannya dengan biaya yang tinggi. Faktor ini telah mendorong petani miskin untuk meninggalkan pekerjaan warisan nenek moyangnya dan pergi ke kota.&#xD;
Dengan kata lain, setelah sistem ie dihapuskan dan sejalan dengan perkembangan teknologi dan industrialisasi, struktur rumah tangga Jepang mengalami perubahan dengan pesat. Konsep ie dalam struktur rumah tangga diganti dengan konsep family (keluarga) seperti di Barat.&#xD;
Selain berubahnya sistem keluarga ini, jumlah anggota keluarga juga cenderung menurun. Sebelum perang, rata-rata jumlah anak dalam keluarga adalah lima orang dan anak berfungsi sebagai tenaga kerja pertanian. Akan tetapi, setelah perang, jumlah anak cenderung menurun. Meningkatnya jumlah keluarga inti dan berkurangnya jumlah anggota keluarga disertai dengan meningkatnya usia harapan hidup menimbulkan permasalahan terhadap pemeliharaan dan perawatan lansia . Banyak orang Jepang sekarang yang mencemaskan nasibnya dalam menghadapi hari tuanya kelak.&#xD;
Masalah perawatan lansia mulai mendapat perhatian sejak tahun 1975. Hal ini disebabkan oleh semakin bertambah panjangnya usia harapan hidup orang Jepang. Sebelum perang, usia harapan hidup rata-rata orang Jepang kurang dari 55 tahun, dan setiap keluarga mempunyai beberapa anak. Akan tetapi, setelah perang, usia harapan hidup orang Jepang meningkat dengan tajam.&#xD;
Penyebab terbesar dari bertambah besarnya jumlah penduduk yang menua lainnya adalah menurunnya angka kelahiran dan kematian. Menurunnya angka kelahiran menyebabkan bawah dari piramida penduduk menyempit. Selanjutnya, menurunnya angka kematian menyebabkan meningkatnya persentase orang mencapai usia tua, memperbesar piramida penduduk bagian atas. Dengan sendirinya sedikit tingkat kelahiran dan kematian ini menyebabkan meningkatnya penduduk yang menua.&#xD;
Dengan meningkatnya jumlah lansia dan bertambah panjangnya usia harapan hidupnya, tanggung jawab merawat orang tua yang dulu menjadi tanggung jawab keluarga serta kerabat saat ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Masyarakat dan pemerintah turut berpartisipasi dalam menanganinya. Tidak dapat disangkal, dengan panjangnya usia harapan hidup ini, timbul industri dan pekerjaan baru yang berhubungan dengan perawatan lansia.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Nuansa Makna Verba “Mawaru” Dan “Meguru” Dalam Kalimat Bahasa Jepang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37391" />
    <author>
      <name>Hasibun, Windy Natasia Febrina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37391</id>
    <updated>2013-05-15T02:48:39Z</updated>
    <published>2013-05-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hasibun, Windy Natasia Febrina
Advisors: Muliadi, Yuddi Adrian
Abstract: Bahasa adalah sarana komunikasi yang memiliki peranan penting dalam menyampaikan suatu informasi. Namun dalam berkomunikasi sering memiliki kendala.Salah satu diantaranya adalah sinonim atau perasamaan makna dalam sebuah bahasa baik berupa kata, pola kalimat, ungkapan ataupun bunyi-bunyi bahasa.&#xD;
Dua buah kata atau lebih yang memiliki salah satu imitokuchou ( semantic feature) yang sama, dapat dikatakan sebagai kata yang bersinonim. Akan tetapi walaupun beberapa kata tersebut memiliki makna yang hampir sama, hanya terjadi pada konteks-konteks tertentu saja. Sinonim terbagi atas 3 jenis yaitu:&#xD;
1. Housetsu kankei (包摂関係)&#xD;
Sinonim ini menunjukan bahwa suatu arti kata termasuk kedalam arti lain secara sempit (khusus).&#xD;
2. Shisateki Tokuchoo (示唆的特徴)&#xD;
Sinonim ini merupakan kata-kata yang sepadan /mirip dalam arti, namun memiliki perbedaan.&#xD;
3. Dougigo (同義語)&#xD;
Sinonim ini menunjukan arti yang sama / sepadan .&#xD;
Dalam penelitian ini penulis memilih verba mawaru (回る) dan meguru (巡る) sebagai tema dalam penelitian ini .Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan :&#xD;
1. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang pemakaian verba mawaru dan meguru yang bermakna berputar atau berkeliling;&#xD;
2. Untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan verba mawaru dan meguru.&#xD;
3. Untuk mengetahui sejauh mana batasan fungsi mawaru dan meguru dalam kalimat bahasa Jepang.</summary>
    <dc:date>2013-05-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hasibun, Windy Natasia Febrina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>An analysis of&#xD;
Equivalence of Culrural terms in some Cultural Articles in Indonesia’s Official Tourism&#xD;
Website</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37388" />
    <author>
      <name>Idris, Muhammad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37388</id>
    <updated>2013-05-15T01:56:22Z</updated>
    <published>2013-05-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Idris, Muhammad
Advisors: Lubis, Syahron
Abstract (other language): Skripsi ini berjudul ”An Analysis of Equivalence of Cultural Terms in Some&#xD;
Articles in Indonesia’s Official Website ”. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah&#xD;
untuk memberi gambaran tentang istilah-istilah budaya Indonesia yang&#xD;
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris sebagai bahasa target. Setelah mendapat&#xD;
data kemudian langkah selanjutnya adalah menganalisis untuk melihat metode&#xD;
yang digunakan dalam menterjemahkan istilah-istilah budaya tersebut sehingga&#xD;
dia tetap sejajar. Sumber data yang digunakan dalam skripsi ini berasal ini situs&#xD;
resmi Pariwisata Republik Indonesia sehingga melalui penelitian budaya-budaya&#xD;
Indonesia menjadi terpromosikan bagi rakyat Indonesia khususnya kalangan&#xD;
mahasiswa. Dalam menganalisis data-data tersebut, skripsi ini menggunakan&#xD;
metode kualitatif deskriptif dimana skripsi ini hanya menemukan kemudian&#xD;
menjelaskan tentang fenomena yang terjadi tanpa melibatkan perhitungan&#xD;
statistika. Dengan berdasar pada teori Equivalence in Translation dari Nida dan&#xD;
Baker hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: translation by&#xD;
cultural substitution (3 data), translation by using an idiom of similar meaning but&#xD;
dissimilar form (5 data), translation by using an idiom of similar meaning and&#xD;
form (8 data), dan translation by more general word (1 data), penelitian ini kiranya&#xD;
dapat merangsang para peneliti lain untuk meneliti bidang-bidang lainnya dari&#xD;
ilmu terjemahan karena ilmu terjemahan adalah ilmu yang memiliki prospek&#xD;
menjanjikan dalam kehidupan social masyarakat.</summary>
    <dc:date>2013-05-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Idris, Muhammad</dc:creator>
    <dc:description>Skripsi ini berjudul ”An Analysis of Equivalence of Cultural Terms in Some&#xD;
Articles in Indonesia’s Official Website ”. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah&#xD;
untuk memberi gambaran tentang istilah-istilah budaya Indonesia yang&#xD;
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris sebagai bahasa target. Setelah mendapat&#xD;
data kemudian langkah selanjutnya adalah menganalisis untuk melihat metode&#xD;
yang digunakan dalam menterjemahkan istilah-istilah budaya tersebut sehingga&#xD;
dia tetap sejajar. Sumber data yang digunakan dalam skripsi ini berasal ini situs&#xD;
resmi Pariwisata Republik Indonesia sehingga melalui penelitian budaya-budaya&#xD;
Indonesia menjadi terpromosikan bagi rakyat Indonesia khususnya kalangan&#xD;
mahasiswa. Dalam menganalisis data-data tersebut, skripsi ini menggunakan&#xD;
metode kualitatif deskriptif dimana skripsi ini hanya menemukan kemudian&#xD;
menjelaskan tentang fenomena yang terjadi tanpa melibatkan perhitungan&#xD;
statistika. Dengan berdasar pada teori Equivalence in Translation dari Nida dan&#xD;
Baker hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: translation by&#xD;
cultural substitution (3 data), translation by using an idiom of similar meaning but&#xD;
dissimilar form (5 data), translation by using an idiom of similar meaning and&#xD;
form (8 data), dan translation by more general word (1 data), penelitian ini kiranya&#xD;
dapat merangsang para peneliti lain untuk meneliti bidang-bidang lainnya dari&#xD;
ilmu terjemahan karena ilmu terjemahan adalah ilmu yang memiliki prospek&#xD;
menjanjikan dalam kehidupan social masyarakat.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kata Sapaan Dalam Bahasa Batak Toba</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37383" />
    <author>
      <name>Gorat, Ricardo</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37383</id>
    <updated>2013-05-14T08:03:57Z</updated>
    <published>2013-05-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Gorat, Ricardo
Advisors: Hasibuan, Namsyah Hot; Kudadiri, Amhar
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan bahwa Kata Sapaan Dalam Bahasa Batak toba merupakan bahasa yang sangat penting dalam masyarakat orang batak. Dalam pemakiannya, kita harus tahu menggunakan kata sapaan tersebut kapan dan dimana kita menggunakan kata sapaan tersebut. Biasanya penggunaan kata sapaan yang paling sering ditemukan pada saat memulai perkenalan dengan orang yang kita tida kenal. Metode penelitian yang digunakan ialah Metode Agih yaitu memadankan sesuatu objek yang berasal dari bahasa itu sendiri. Selanjutnya, teknik dasar yang digunakan ialah teknik ganti dan tekni sisip. Dimana teknik ganti yaitu mengganti konteks yang mendukung data itu, teknik sisip yaitu penembahan konteks kata ditengah kalimat itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa kata sapaan dalam bahasa batak toba memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat orang batak karena dasar kehidupan orang batak ialah Dalihan Na Tolu. Dari sinilah semua asal kehidupan orang batak karena inilah yang merupakan pondasi bagi orang batak. Dalihan Na Tolu terdiri dari tiga bagian, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru. Bagi orang batak, hula-hula dianggap orang yang paling di hormati karena doa dari hula-hula merupakan berkat yang diturunkan dari tuhan. Elek marboru artinya kita harus baik. Manat Mardongan tubu artinya kita harus hati-hati sesama saudara kita jangan sampai ada salah paham.</summary>
    <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Gorat, Ricardo</dc:creator>
    <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan bahwa Kata Sapaan Dalam Bahasa Batak toba merupakan bahasa yang sangat penting dalam masyarakat orang batak. Dalam pemakiannya, kita harus tahu menggunakan kata sapaan tersebut kapan dan dimana kita menggunakan kata sapaan tersebut. Biasanya penggunaan kata sapaan yang paling sering ditemukan pada saat memulai perkenalan dengan orang yang kita tida kenal. Metode penelitian yang digunakan ialah Metode Agih yaitu memadankan sesuatu objek yang berasal dari bahasa itu sendiri. Selanjutnya, teknik dasar yang digunakan ialah teknik ganti dan tekni sisip. Dimana teknik ganti yaitu mengganti konteks yang mendukung data itu, teknik sisip yaitu penembahan konteks kata ditengah kalimat itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa kata sapaan dalam bahasa batak toba memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat orang batak karena dasar kehidupan orang batak ialah Dalihan Na Tolu. Dari sinilah semua asal kehidupan orang batak karena inilah yang merupakan pondasi bagi orang batak. Dalihan Na Tolu terdiri dari tiga bagian, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru. Bagi orang batak, hula-hula dianggap orang yang paling di hormati karena doa dari hula-hula merupakan berkat yang diturunkan dari tuhan. Elek marboru artinya kita harus baik. Manat Mardongan tubu artinya kita harus hati-hati sesama saudara kita jangan sampai ada salah paham.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Asa, Malaikat Mungilku karya Astuti J.Syahban: Analisis Sosiologi sastra</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37382" />
    <author>
      <name>Fadlansyah, Reza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37382</id>
    <updated>2013-05-14T07:56:51Z</updated>
    <published>2013-05-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fadlansyah, Reza
Advisors: Isa, Syahrial; Sitepu, Gustaf
Abstract (other language): Karya sastra yang tercipta merupakan proses kreatifitas dari seorang pengarang terhadap kenyataan hidup social pengarangnya. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat mencerminkan zaman serta situasi yang berlaku dalam masyarakat melalui proses kreatifitas pengarang terhadap realita kehidupan social. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran bagaimana bentuk-bentuk proses sosial yang terdapat dalam novel Asa, Malaikat Mungilku karya Astuti J. Syahban. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis telah menelaah novel tersebut dan telah menerapkan teori structural dan teori sosiologi sastra untuk mencari hubungan antara struktur karya sastra dengan bentuk proses sosial yang meliputi kerja sama, komunikasi sosial dan kontak sosial. Dan struktur pembangun krya sastra yang meliputi penokohan, alur, latar dan tema. Manfaat pengkajian ini untuk memperkaya pengapresiasian karya sastra Indonesia. Dapat memahami bentuk-bentuk proses sosial yang terdapat dalam novel tersebut. Metode yang digunakan adalah metode membaca heuristik dan hernmeneutik. Kerja sama dalam novel Asa, Malaikat Mungilku dapat kita lihat usaha yang dilakukan para keluarga dan sahabat untuk membantu proses penyembuhan penyakit yang diderita Asa, yaitu penyakit lupus. Penyakit ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya.</summary>
    <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fadlansyah, Reza</dc:creator>
    <dc:description>Karya sastra yang tercipta merupakan proses kreatifitas dari seorang pengarang terhadap kenyataan hidup social pengarangnya. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat mencerminkan zaman serta situasi yang berlaku dalam masyarakat melalui proses kreatifitas pengarang terhadap realita kehidupan social. Penulisan skripsi ini dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran bagaimana bentuk-bentuk proses sosial yang terdapat dalam novel Asa, Malaikat Mungilku karya Astuti J. Syahban. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis telah menelaah novel tersebut dan telah menerapkan teori structural dan teori sosiologi sastra untuk mencari hubungan antara struktur karya sastra dengan bentuk proses sosial yang meliputi kerja sama, komunikasi sosial dan kontak sosial. Dan struktur pembangun krya sastra yang meliputi penokohan, alur, latar dan tema. Manfaat pengkajian ini untuk memperkaya pengapresiasian karya sastra Indonesia. Dapat memahami bentuk-bentuk proses sosial yang terdapat dalam novel tersebut. Metode yang digunakan adalah metode membaca heuristik dan hernmeneutik. Kerja sama dalam novel Asa, Malaikat Mungilku dapat kita lihat usaha yang dilakukan para keluarga dan sahabat untuk membantu proses penyembuhan penyakit yang diderita Asa, yaitu penyakit lupus. Penyakit ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (Stie)-Alwashliyah Sibolga (1986-1999)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37277" />
    <author>
      <name>Efendi, Chairul</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37277</id>
    <updated>2013-05-04T01:52:21Z</updated>
    <published>2013-05-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Efendi, Chairul
Advisors: Simanjuntak, Peninna
Abstract (other language): Pendidikan adalah usaha sadar ataupun proses pembelajaran agar dapat mengembangkan potensi diri. Pendidikan sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia, karena pendidikan merupakan sarana untuk mengubah kehidupan seorang individu menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Melalui pendidikan akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Suatu individu, komunitas dan bangsa akan memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran melalui pendidikan yang maju dan berkualitas. Pendidikan harus dimulai sejak usia dini, dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai tingkat perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi kualitas hidup yang dapat dicapainya. &#xD;
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Washliyah merupakan ikon Perguruan Tinggi di Sibolga, Sekolah Tinggi ini didirikan pada tahun 1986 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang pada awalnya hanya sebatas Sekolah Menengah Atas saja. Dengan didirikannya sekolah ini, sedikit banyak berdampak pada kehidupan masyarakat di Sibolga. Adapun tujuan dilakukannya penulisan tentang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Washliyah ini adalah, untuk mengetahui bagaimana awal dan perkembangan dari STIE-Alwashliyah Sibolga serta bagaimana dampaknya terhadap masyarakat di Sibolga. &#xD;
Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah yang diawali dengan tahap heuristik, kemudian dilanjutkan dengan verifikasi atau kritik sumber, tahap selanjutnya adalah interpretasi. Setelah semua telah terkumpul daan dianalisa kemudian dilakukan tahap akhir yakni penulisan secara kronologis (historigrafi).</summary>
    <dc:date>2013-05-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Efendi, Chairul</dc:creator>
    <dc:description>Pendidikan adalah usaha sadar ataupun proses pembelajaran agar dapat mengembangkan potensi diri. Pendidikan sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia, karena pendidikan merupakan sarana untuk mengubah kehidupan seorang individu menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Melalui pendidikan akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Suatu individu, komunitas dan bangsa akan memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran melalui pendidikan yang maju dan berkualitas. Pendidikan harus dimulai sejak usia dini, dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai tingkat perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi kualitas hidup yang dapat dicapainya. &#xD;
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Washliyah merupakan ikon Perguruan Tinggi di Sibolga, Sekolah Tinggi ini didirikan pada tahun 1986 bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang pada awalnya hanya sebatas Sekolah Menengah Atas saja. Dengan didirikannya sekolah ini, sedikit banyak berdampak pada kehidupan masyarakat di Sibolga. Adapun tujuan dilakukannya penulisan tentang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Washliyah ini adalah, untuk mengetahui bagaimana awal dan perkembangan dari STIE-Alwashliyah Sibolga serta bagaimana dampaknya terhadap masyarakat di Sibolga. &#xD;
Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah yang diawali dengan tahap heuristik, kemudian dilanjutkan dengan verifikasi atau kritik sumber, tahap selanjutnya adalah interpretasi. Setelah semua telah terkumpul daan dianalisa kemudian dilakukan tahap akhir yakni penulisan secara kronologis (historigrafi).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Banquet Sebagai Pendukung Pelayanan Food And Beverage Service Di Hotel Asean Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37272" />
    <author>
      <name>KaroKaro, Efim Handy</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37272</id>
    <updated>2013-05-03T03:49:24Z</updated>
    <published>2013-05-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: KaroKaro, Efim Handy
Advisors: Nasution, Rizky Hadi; Manday, Marzani
Abstract (other language): Suatu hotel akan dinilai masyarakat ataupun tamu yang berkunjung dari fasilitas yang dimiliki oleh hotel tersebut. Salah satu fasilitas yang sering dinilai oleh tamu hotel adalah Banquet yang dimiliki hotel tersebut. Dalam bisnis hotel istilah banquet digunakan untuk suatu kegiatan operasional dari suatu pesta khusus yang telah direncanakan sebelumnya, dan kegiatan ini umumnya terpisah dari kegiatan makan dan minum yang terdapat di restoran dan bar yang juga terdapat di hotel. Dalam penulisan kertas karya ini saya membahas mengenai banquet dengan mangangkat judul “Peranan  Banquet Sebaga Pendukung PelayananFood  And  Beverage Service  di Hotel  Asean Medan” yang menjelaskan secara rinci mengenai peranaan banquet dalam pelayanan F &amp; B service, uraian kegiatan banquet, masalah masalah yang di hadapi oleh banquet section ketika beroprasional dan upaya peningkatan pelayanan banquet, karena banquet juga merupakan salah satu sumber pendapatan hotel.</summary>
    <dc:date>2013-05-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>KaroKaro, Efim Handy</dc:creator>
    <dc:description>Suatu hotel akan dinilai masyarakat ataupun tamu yang berkunjung dari fasilitas yang dimiliki oleh hotel tersebut. Salah satu fasilitas yang sering dinilai oleh tamu hotel adalah Banquet yang dimiliki hotel tersebut. Dalam bisnis hotel istilah banquet digunakan untuk suatu kegiatan operasional dari suatu pesta khusus yang telah direncanakan sebelumnya, dan kegiatan ini umumnya terpisah dari kegiatan makan dan minum yang terdapat di restoran dan bar yang juga terdapat di hotel. Dalam penulisan kertas karya ini saya membahas mengenai banquet dengan mangangkat judul “Peranan  Banquet Sebaga Pendukung PelayananFood  And  Beverage Service  di Hotel  Asean Medan” yang menjelaskan secara rinci mengenai peranaan banquet dalam pelayanan F &amp; B service, uraian kegiatan banquet, masalah masalah yang di hadapi oleh banquet section ketika beroprasional dan upaya peningkatan pelayanan banquet, karena banquet juga merupakan salah satu sumber pendapatan hotel.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sistem Pengawasan Pada House Keeping Untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Di Hotel Asean Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37271" />
    <author>
      <name>Warongan, Ade Soraya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37271</id>
    <updated>2013-05-03T03:26:30Z</updated>
    <published>2013-05-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Warongan, Ade Soraya
Advisors: Putra, Naimuddin Deli
Abstract (other language): House keeping department merupakan bagian yang sangat penting kedudukannya di dalam bertugas dan bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan,kerapian,keindahan, dan kenyamanan seluruh di seluruh areal hotel,baik di dalam maupun luar gedung,termasuk kamar-kamar maupun ruangan-ruangan yang disewa oleh para tamu .maka di lakukan suatu pengawasan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada bagian House Keeping khusus nya di Hotel Asean Medan yang membutuhkan tenaga-tenaga yang terampil dan professional dalam melaksanakan nya. Di samping itu yang dimaksud dengan pengawasan adalah suatu proses kegiatan untuk mengetahui serta mengevaluasi hasil suatu pekerjaan sudah selesai direncanakan atau gagal,apabila diperlukan dapat diambil tindakan koreksi.tujuan dilakukannya pengawasan adalah agar standart yang telah ditetapkan oleh hotel dapat terjadi dan berkelanjutan, oleh karena itu pengawasan harus dilakukan secara continue(berkelanjutan) dan ketat,oleh karena itu,pengawasan House Keeping sangat penting peranan nya mingingat kinerja yang baik merupakan aset suatu hotel.</summary>
    <dc:date>2013-05-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Warongan, Ade Soraya</dc:creator>
    <dc:description>House keeping department merupakan bagian yang sangat penting kedudukannya di dalam bertugas dan bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan,kerapian,keindahan, dan kenyamanan seluruh di seluruh areal hotel,baik di dalam maupun luar gedung,termasuk kamar-kamar maupun ruangan-ruangan yang disewa oleh para tamu .maka di lakukan suatu pengawasan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada bagian House Keeping khusus nya di Hotel Asean Medan yang membutuhkan tenaga-tenaga yang terampil dan professional dalam melaksanakan nya. Di samping itu yang dimaksud dengan pengawasan adalah suatu proses kegiatan untuk mengetahui serta mengevaluasi hasil suatu pekerjaan sudah selesai direncanakan atau gagal,apabila diperlukan dapat diambil tindakan koreksi.tujuan dilakukannya pengawasan adalah agar standart yang telah ditetapkan oleh hotel dapat terjadi dan berkelanjutan, oleh karena itu pengawasan harus dilakukan secara continue(berkelanjutan) dan ketat,oleh karena itu,pengawasan House Keeping sangat penting peranan nya mingingat kinerja yang baik merupakan aset suatu hotel.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kehidupan Sosial Ekonomi Petani Kopi Di Desa Sidiangkat Kabupaten Dairi (1985-2000)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37250" />
    <author>
      <name>Sianturi, Martogi  Y</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37250</id>
    <updated>2013-05-02T03:18:04Z</updated>
    <published>2013-05-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sianturi, Martogi  Y
Advisors: Tarigan, Samsul
Abstract (other language): Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kehidupan sosial ekonomi keluarga petani kopi di Desa Sidiangkat Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Fokus permasalahan yang diangkat adalah: latar belakang pertanian kopi, kemudian proses rehabilitasi pertanian kopi, kehidupan petani kopi dan hubungan sosial petani kopi dengan sekitarnya. &#xD;
	Dalam penulisan ini metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan jenis penulisan berupa deskriptif analisis.Dalam penelitian juga digunakan metode pengalaman individu (life history) sebagai metode wawancara berfokus dengan mengungkapkan sejarah hidup petani kopi.Sumber data diperoleh dari sumber – sumber tertulis (buku, dokumentasi, arsip, dll) informan, peristiwa dan aktivitas.Pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi kadang kala, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian dilakukan tahapan kritik sumber dengan membandingkan data – data  yang ada lalu melakukan tahapan interpretasi sebelum dilanjutkan dalam tahapan penulisan.&#xD;
	Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan: (1). Pola kehidupan petani kopi Desa Sidiangkat sebagian besar sudah cukup mapan namun sebagian lagi masih tergolong pas – pasan, terlihat dari pendapan mereka sehari – hari, (2). Secara sosial petani Desa Sidiangkat masih kental dengan sentiment yang tinggi mencirikan masyarakat pedesaan, (3). Secara ekonomi, dengan menanam kopi dapat meningkatkan penghasilan mereka yang dulunya pernah terpuruk dan mampu memenuhi berbagai kebutuhan yang salah satunya mampu menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi.&#xD;
	Dalam kehidupan pertanian, petani tidak lepas dari kendala seperti, kekurangan modal, seringnya para pedagang melakukan permainan dalam mengatur harga terhadap penjualan hasil pertanian mereka.Sehingga diharapkan nantinya mereka bisa keluar dari masalah yang dihadapi.</summary>
    <dc:date>2013-05-02T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sianturi, Martogi  Y</dc:creator>
    <dc:description>Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kehidupan sosial ekonomi keluarga petani kopi di Desa Sidiangkat Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Fokus permasalahan yang diangkat adalah: latar belakang pertanian kopi, kemudian proses rehabilitasi pertanian kopi, kehidupan petani kopi dan hubungan sosial petani kopi dengan sekitarnya. &#xD;
	Dalam penulisan ini metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan jenis penulisan berupa deskriptif analisis.Dalam penelitian juga digunakan metode pengalaman individu (life history) sebagai metode wawancara berfokus dengan mengungkapkan sejarah hidup petani kopi.Sumber data diperoleh dari sumber – sumber tertulis (buku, dokumentasi, arsip, dll) informan, peristiwa dan aktivitas.Pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi kadang kala, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian dilakukan tahapan kritik sumber dengan membandingkan data – data  yang ada lalu melakukan tahapan interpretasi sebelum dilanjutkan dalam tahapan penulisan.&#xD;
	Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan: (1). Pola kehidupan petani kopi Desa Sidiangkat sebagian besar sudah cukup mapan namun sebagian lagi masih tergolong pas – pasan, terlihat dari pendapan mereka sehari – hari, (2). Secara sosial petani Desa Sidiangkat masih kental dengan sentiment yang tinggi mencirikan masyarakat pedesaan, (3). Secara ekonomi, dengan menanam kopi dapat meningkatkan penghasilan mereka yang dulunya pernah terpuruk dan mampu memenuhi berbagai kebutuhan yang salah satunya mampu menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi.&#xD;
	Dalam kehidupan pertanian, petani tidak lepas dari kendala seperti, kekurangan modal, seringnya para pedagang melakukan permainan dalam mengatur harga terhadap penjualan hasil pertanian mereka.Sehingga diharapkan nantinya mereka bisa keluar dari masalah yang dihadapi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Parmalim Di Kota Medan (1963-2006)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37245" />
    <author>
      <name>Silaen, Julianto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37245</id>
    <updated>2013-05-01T08:32:31Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Silaen, Julianto
Advisors: Simajuntak, eninna
Abstract (other language): Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif naratif untuk menggambarkan dan menganalisis sejarah PARMALIM DI KOTA MEDAN  TAHUN 1963-2006. Kajian ini secara khusus membahas tentang sejarah migrasi dan perkembagan Parmalim di Kota Medan. Parmalim sebagai salah satu aliran kepercayaan yang ada di Indonesia yang sudah mulai tergerus oleh zaman. Kemuduran Parmalim didalangi oleh sejumlah faktor sejarah dan politik. Parmalim dalam tata kenegaraan Indonesia hanya diakui sebagai kelompok aliran kepercayaan. Konsekwensi pengelompokkan Parmalim sebagai aliran kepercayaan menciptakan sejumlah distorsi dalam kehidupan Parmalim di Kota Medan. Parmalim sering di identikkan dengan kerbelakangan, namun seiring bertambahnya waktu penganut aliran kepercayaan ini telah berubah dan menyamai perkembangan penganut agama modern di Indonesia. &#xD;
	Perkembangan Parmalim dalam dunia pendidikan membawa Parmalim untuk mencari penghidupan baru dengan jalan bermigrasi. Medan adalah salah satu kota tujuan migrasi Parmalim. Migrasi Parmalim sudah sejak lama ke Medan, namun mengidentifikasi mereka dapat dimulai sejak terbentuknya Punguan Parmalim Kota Medan tahun 1963. Di Kota Medan Parmalim harus menyesuaikan diri dengan pola kehidupan yang berkembang di Kota Medan. Dengan ajaran hamalimon yang menjadi dogma dalam ajaran Ugamo Malim mampu membawa Parmalim bertahan di Kota Medan. Karakter sebagai Orang Batak dan memiliki pantangan yang sama dengan Orang Islam adalah dua hal yang sangat membantu Parmalim, dalam bersosialisasi di Kota Medan. Parmalim dengan kepercayaanya memberikan warna baru tentang budaya Batak Toba di Kota Medan, dimana umumnya Orang Batak Toba identik dengan agama Kristen sebagai agama yang dianut. &#xD;
	Metode yang digunakan dalam meneliti Parmalim di Kota Medan (1963-2006) adalah dengan metode sejarah dan untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah penulis menggunakan studi kepustakaan dan studi lapangan. Dari sumber yang diperoleh, maka disimpulkan dan menghasilkan penulisan deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian tentang Parmalim di Kota Medan (1963-2006) adalah untuk mengetahui latar belakang, proses migrasi dan perkembangan Parmalim di Kota Medan dalam rentang waktu tahun1963-2006.</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Silaen, Julianto</dc:creator>
    <dc:description>Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif naratif untuk menggambarkan dan menganalisis sejarah PARMALIM DI KOTA MEDAN  TAHUN 1963-2006. Kajian ini secara khusus membahas tentang sejarah migrasi dan perkembagan Parmalim di Kota Medan. Parmalim sebagai salah satu aliran kepercayaan yang ada di Indonesia yang sudah mulai tergerus oleh zaman. Kemuduran Parmalim didalangi oleh sejumlah faktor sejarah dan politik. Parmalim dalam tata kenegaraan Indonesia hanya diakui sebagai kelompok aliran kepercayaan. Konsekwensi pengelompokkan Parmalim sebagai aliran kepercayaan menciptakan sejumlah distorsi dalam kehidupan Parmalim di Kota Medan. Parmalim sering di identikkan dengan kerbelakangan, namun seiring bertambahnya waktu penganut aliran kepercayaan ini telah berubah dan menyamai perkembangan penganut agama modern di Indonesia. &#xD;
	Perkembangan Parmalim dalam dunia pendidikan membawa Parmalim untuk mencari penghidupan baru dengan jalan bermigrasi. Medan adalah salah satu kota tujuan migrasi Parmalim. Migrasi Parmalim sudah sejak lama ke Medan, namun mengidentifikasi mereka dapat dimulai sejak terbentuknya Punguan Parmalim Kota Medan tahun 1963. Di Kota Medan Parmalim harus menyesuaikan diri dengan pola kehidupan yang berkembang di Kota Medan. Dengan ajaran hamalimon yang menjadi dogma dalam ajaran Ugamo Malim mampu membawa Parmalim bertahan di Kota Medan. Karakter sebagai Orang Batak dan memiliki pantangan yang sama dengan Orang Islam adalah dua hal yang sangat membantu Parmalim, dalam bersosialisasi di Kota Medan. Parmalim dengan kepercayaanya memberikan warna baru tentang budaya Batak Toba di Kota Medan, dimana umumnya Orang Batak Toba identik dengan agama Kristen sebagai agama yang dianut. &#xD;
	Metode yang digunakan dalam meneliti Parmalim di Kota Medan (1963-2006) adalah dengan metode sejarah dan untuk mendapatkan sumber-sumber sejarah penulis menggunakan studi kepustakaan dan studi lapangan. Dari sumber yang diperoleh, maka disimpulkan dan menghasilkan penulisan deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian tentang Parmalim di Kota Medan (1963-2006) adalah untuk mengetahui latar belakang, proses migrasi dan perkembangan Parmalim di Kota Medan dalam rentang waktu tahun1963-2006.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>An Analysis Of The Main CHaracters Found In Jennifer Armstrongs"s Novel Steal Away</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37240" />
    <author>
      <name>Ginting, Ruth Yuun BR</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37240</id>
    <updated>2013-05-01T07:47:43Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ginting, Ruth Yuun BR
Advisors: Sembiring, Matius CA
Abstract (other language): Judul skripsi ini adalah an analysis of the main characters found in Jennifer Armstrong’s novel steal away. Skripsi ini menganalisis tentang sifat-sifat pemeran utama yang terdapat pada novel steal away. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sifat-sifat pemeran utama yang terdapat pada novel tersebut. Setelah menganalisis novel tersebut maka ditemukan bahwa terdapat dua pemeran utama yaitu Susannah dan Bethlehem. Novel ini bercerita tentang perbudakan yang ada di Virginia. Susannah adalah seorang penolong bagi budaknya yang bernama Bethlehem dalam memperjuangkan kebebasan dengan melarikan diri ke Vermont. Bethlehem adalah budak yang setia dan mempunyai ambisi untuk merdeka. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode kepustakaan, yaitu data yang diambil dari bahan tertulis. Dalam menganalisis skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan intrinsic dengan interpretasi karakter.</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ginting, Ruth Yuun BR</dc:creator>
    <dc:description>Judul skripsi ini adalah an analysis of the main characters found in Jennifer Armstrong’s novel steal away. Skripsi ini menganalisis tentang sifat-sifat pemeran utama yang terdapat pada novel steal away. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sifat-sifat pemeran utama yang terdapat pada novel tersebut. Setelah menganalisis novel tersebut maka ditemukan bahwa terdapat dua pemeran utama yaitu Susannah dan Bethlehem. Novel ini bercerita tentang perbudakan yang ada di Virginia. Susannah adalah seorang penolong bagi budaknya yang bernama Bethlehem dalam memperjuangkan kebebasan dengan melarikan diri ke Vermont. Bethlehem adalah budak yang setia dan mempunyai ambisi untuk merdeka. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode kepustakaan, yaitu data yang diambil dari bahan tertulis. Dalam menganalisis skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan intrinsic dengan interpretasi karakter.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sejarah Dan Peranan Becak Di Pematangsiantar 1960-2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37202" />
    <author>
      <name>Wirabuana, Yudha</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37202</id>
    <updated>2013-04-29T07:30:11Z</updated>
    <published>2013-04-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wirabuana, Yudha
Advisors: Hati, Lila Pelita
Abstract (other language): Becak di Kota Pematangsiantar memilki ke unikan tersendiri dibadingkan becak-becak yang ada di kota-kota Indonesia lainnya. Keunikan ini dikarenakan penggunaan sepeda motor BSA (Birmingham Small Arms) sebagai penggeraknya. Pada awalnya becak di kota pematangsiantar hanya berfungsi sebagai alat transportasi. Seiring perkembangannya, selain sebagai alat transportasi becak ternyata telah  bertambah fungsi sebagai ikon Kota Pemtangsiantar.&#xD;
Keberadaan Becak Siantar seperti yang dijelaskan diatas merupakan permasalahan yang penulis bahas. Pembahasan lebih ditekankan bagaimana sejarah Becak Siantar dan Bagaimana peran Becak Siantar terhadap masyrakat Siantar sehingga mampu menjadi ikon kota.&#xD;
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Becak Siantar dan menjelaskan bagaimana peranan Becak Siantar terhadap kehidupan masyarakat Pematangsiantar sehingga nantinya menjadi ikon kota. Dalam penelitian  ini penulis berusaha untuk menceritakan secara kronologis bagaimana keberadaan becak mulai  muncul pertama kali di Pematangsiantar, berkembang dan kemudian terancam keberadaannya. &#xD;
Agar mendapatkan fakta-fakta masa lalu tersebut penulis menggunakan metode kualitatif untuk medapatkan sumber utama dan sumber pendukung tentang Becak Siantar. Setelah fakta-fakta masa lalu tentang keberadaan becak di Pematangsiantar didapat, penulis menggunakan metode deskriptif untuk menceritakan secara kronologis awal kemunculan Becak Siantar dan perkemabangannya hingga kemudian terancam keberadaannya sebagai ikon kota Siantar&#xD;
Pada akhirnya tulisan ini berkesimpulan Becak Siantar muncul kareana ide kreatif masyarakatnya sehingga sebagai sebuah alat transportasi baru Becak Siantar mulai diterima, diakui dan diterapkan untuk memenuhi mobilitas masyarakat Siantar. Dengan segala keunikan nya becak juga mulai bertambah fungsi sebagai ikon kota dan menjadi identitas kota Pematangsiantar.</summary>
    <dc:date>2013-04-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wirabuana, Yudha</dc:creator>
    <dc:description>Becak di Kota Pematangsiantar memilki ke unikan tersendiri dibadingkan becak-becak yang ada di kota-kota Indonesia lainnya. Keunikan ini dikarenakan penggunaan sepeda motor BSA (Birmingham Small Arms) sebagai penggeraknya. Pada awalnya becak di kota pematangsiantar hanya berfungsi sebagai alat transportasi. Seiring perkembangannya, selain sebagai alat transportasi becak ternyata telah  bertambah fungsi sebagai ikon Kota Pemtangsiantar.&#xD;
Keberadaan Becak Siantar seperti yang dijelaskan diatas merupakan permasalahan yang penulis bahas. Pembahasan lebih ditekankan bagaimana sejarah Becak Siantar dan Bagaimana peran Becak Siantar terhadap masyrakat Siantar sehingga mampu menjadi ikon kota.&#xD;
Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Becak Siantar dan menjelaskan bagaimana peranan Becak Siantar terhadap kehidupan masyarakat Pematangsiantar sehingga nantinya menjadi ikon kota. Dalam penelitian  ini penulis berusaha untuk menceritakan secara kronologis bagaimana keberadaan becak mulai  muncul pertama kali di Pematangsiantar, berkembang dan kemudian terancam keberadaannya. &#xD;
Agar mendapatkan fakta-fakta masa lalu tersebut penulis menggunakan metode kualitatif untuk medapatkan sumber utama dan sumber pendukung tentang Becak Siantar. Setelah fakta-fakta masa lalu tentang keberadaan becak di Pematangsiantar didapat, penulis menggunakan metode deskriptif untuk menceritakan secara kronologis awal kemunculan Becak Siantar dan perkemabangannya hingga kemudian terancam keberadaannya sebagai ikon kota Siantar&#xD;
Pada akhirnya tulisan ini berkesimpulan Becak Siantar muncul kareana ide kreatif masyarakatnya sehingga sebagai sebuah alat transportasi baru Becak Siantar mulai diterima, diakui dan diterapkan untuk memenuhi mobilitas masyarakat Siantar. Dengan segala keunikan nya becak juga mulai bertambah fungsi sebagai ikon kota dan menjadi identitas kota Pematangsiantar.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Diet Sehat Ala Jepang "Nihonfu No Dietto"</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37192" />
    <author>
      <name>Evan, Christin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37192</id>
    <updated>2013-04-29T04:56:44Z</updated>
    <published>2013-04-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Evan, Christin
Advisors: Nandi</summary>
    <dc:date>2013-04-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Evan, Christin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Sistem Ie Dalam Kehidupan Keluarga Petani Di Jepang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37191" />
    <author>
      <name>Sari, Lala Komala</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37191</id>
    <updated>2013-04-29T04:48:29Z</updated>
    <published>2013-04-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sari, Lala Komala
Advisors: Kusdiyana, Eman</summary>
    <dc:date>2013-04-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sari, Lala Komala</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Pembentukan Nomina Dan Verba Yang Berasal Dari Adjektiva-I Bahasa Jepang : Keiyoushi Kara No Meishi To Doushi Wo Gokeisei Suru Bunseki</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37066" />
    <author>
      <name>Caniago, Ardiansyah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37066</id>
    <updated>2013-04-18T03:45:44Z</updated>
    <published>2013-04-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Caniago, Ardiansyah
Advisors: Hasibuan, Adriana; Zulnaidi
Abstract: 人間は人生の要素の中で言語と離れることができない。人間は話し言葉それとも書き言葉でコミュニケーションのための道具として、他人に意見、意志を伝えるために言語が要る。&#xD;
言語は言語学の中に学ばれる。日本語の言語学は四つの部分に分けられている。それは、音声学、形態論、統語論、意味論である。そして、日本語の言語学に社会言語学もある。&#xD;
その一つの言語学の部分は形態論である。形態論では語形の分析が中心となる。日本語の中で品詞分類は十つの部分に分けられている。それは、名詞、動詞、形容詞、形容動詞、副詞、連体詞、感動詞、接続詞、助詞、助動詞である。&#xD;
この研究の中で筆者は形容詞からの名詞と動詞を語形成する分析を選んだ。そして、この研究の目的は形容詞からの名詞と動詞を語形成するのを知るため、すべての形容詞が名詞または動詞になれるかと知るため、そのあと、別々の派生名詞と派生動詞はどう違うと知るためである。&#xD;
この論文の中で筆者は帰納法きのうほうときじゅつてきぶんせきほう記述的分析法を使っている。帰納法は資料を集め、分析したあとで結論しようときに使われている。記述的分析法は事実を説明したあとで、分析しに使われている。&#xD;
筆者が形容詞からの名詞と動詞を語形成する研究文献ぶんけん&#xD;
日本語の言語学の中で派生名詞を語形成するのは「名詞化」と呼ばれる。形容詞からの名詞を語形成するために、名詞化接尾辞「－さ」と「－み」を使われている。日本語の言語学の中で派生動詞を語形成するのは「動詞化」と呼ばれる。形容詞からの動詞を語形成するために、動詞化接尾辞「－がる」、「－む」、「－まる」、「－める」を使われている。語形成の中で形容詞からの名詞と動詞も同じフォームを持っている。それは「－い」の接尾辞を消し、そのあと形容詞語幹に名詞化接尾辞または動詞化接尾辞を付加することである。一般的にフォームはこのような派生&#xD;
により、取れる結論はこれである。&#xD;
規則きそくによってしょり&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－さ/ → 派生名詞処理することができる。&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－み/ → 派生名詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－がる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－む/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－まる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－める/ → 派生動詞&#xD;
ほとんどすべての形容詞に付加することができる「－さ」と「－がる」の接尾辞の以外に他の接尾辞はいろいろな制限を持っている。すなわち、ほかの接尾辞はすべての形容詞に勝手に付加することができない。&#xD;
両方の「－さ」と「－み」の接尾辞は名詞を派生するけれども使い分けを持っている。名詞化接尾辞「-さ」は状態・程度の抽象ちゅうしょう的な意味を表すものであるが名詞化接尾辞「－み」は状態・性質や、その状態になっているところを表すものである。すなわち、「－さ」が基本的に「すりょう数量表現」と「程度表現」に属する名詞であるが「－み」は基本的に「比喩ひゆ&#xD;
感情形容詞からの動詞を派生する「－がる」と「―む」の接尾辞は使い分けがある。「－がる」を付加したから派生動詞は体に目に見える様子の表現、感情を言葉や表情に表し、相手に伝えようとする場面によく使われるが「－む」を付加したから派生動詞は心の中だけの、目に見えない&#xD;
表現」に属する名詞である。&#xD;
事象じしょうまたはせいしんてき&#xD;
精神的な出来事によく使われる。同じ数と同じ一部の属性形容詞にしか付加されない「－まる」と「－める」の接尾辞も使い分けがある。「－まる」を付加した派生動詞は自動詞として使われるが「－める」を付加した派生動詞は他動詞として使われる。
Abstract (other language): Manusia dalam seluruh aspek kehidupannya tidak pernah lepas dari bahasa. Manusia membutuhkan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi menyalurkan aspirasi, menyampaikan ide, gagasan dan keinginannya kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan.&#xD;
Bahasa ini ditelaah dalam kajian linguistik. Kajian linguistik bahasa Jepang terbagi ke dalam beberapa kategori seperti : onseigaku atau ‘fonologi’, keitairon atau ‘morfologi’, tougoron atau ‘sintaksis’ dan imiron atau ‘semantik’. Kemudian linguistik Jepang juga mengenal istilah shakai gengogaku atau ‘sosiolinguistik’.&#xD;
Salah satu cabang linguistik yang telah disebut di atas adalah morfologi. dalam morfologi, yang menjadi pusat kajiannya adalah bentuk kata. Kata dalam bahasa Jepang terbagi atas 10 macam, yaitu : verba, adjektiva-I, adjektiva-na, nomina, adverbia, pronomina, kata sambung, kata seru, partikel dan verba bantu.&#xD;
Dalam penelitian ini penulis memilih untuk meneliti tentang pembentukan nomina dan verba yang berasal dari adjektiva-I bahasa Jepang. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui proses pembentukan kata kerja dan kata benda yang berasal dari kata sifat, Mengetahui apakah semua keiyoushi dapat mengalami perubahan bentuk kelas kata atau tidak dan Mengetahui Perbedaan antara masing-masing nomina jadian dan verba jadian hasil pembentukan tersebut.&#xD;
Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode induktif dan deskriptif analisis. metode induktif diterapkan manakala peneliti akan melakukan suatu penyimpulan setelah melakukan pengumpulan data dan analisis data. Sedangkan&#xD;
metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta- fakta yang kemudian dianalisis.&#xD;
Berdasarkan penelitian kepustakaan yang telah dilakukan penulis terhadap pembentukan nomina dan verba yang berasal dari adjektiva bahasa Jepang, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :&#xD;
Pembentukan nomina jadian dalam bahasa Jepang disebut 名詞化meishika. Akhiran yang digunakan untuk membentuk nomina jadian dari adjektiva adalah akhiran /–sa/ dan /–mi/. Sedangkan pembentukan verba jadian dalam bahasa Jepang diistilahkan dengan kata 動詞化doushika. Dan akhiran yang digunakan untuk membentuk verba jadian dari adjektiva adalah akhiran /–garu/, /-mu/, /-maru/ dan /–meru/. Dalam proses pembentukannya, baik nomina maupun verba yang berasal dari adjektiva, dilakukan dengan menghilangkan akhiran /-i/ dan kemudian menambahkan akhiran pembentuk nomina dan verba tersebut setelah gokan dari adjektivanya. Dengan rumus umum sebagai berikut :&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－さ/ → 派生名詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－み/ → 派生名詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－がる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－む/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－まる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－める/ → 派生動詞&#xD;
Selain penambahan pada akhiran /–sa/ dan /–garu/ yang dapat ditambahkan pada hampir semua adjektiva bahasa Jepang, semua akhiran ini memiliki batasan terhadap adjektiva atau keiyoushi tertentu, artinya tidak dapat ditambahkan pada sembarang adjektiva.&#xD;
Akhiran /–sa/ dan /–mi/, meskipun sama-sama menghasikan nomina jadian tetap memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Akhiran /–sa/ digunakan sebagai ungkapan yang menunjukkan jumlah dan derajat/volume, sedangkan akhiran /–mi/ digunakan untuk mengkongkritkan atau metafora terhadap suatu keadaan.&#xD;
Akhiran /–garu/ dan /–mu/ yang membentuk verba jadian dari kanjou keiyoushi juga memiliki perbedaan dalam pengunaannya. Verba jadian yang dibentuk dengan akhiran /–garu/ cenderung digunakan untuk keadaan yang terlihat dan terjadi pada tubuh dan pengungkapan perasaan pada lawan bicara, sedangkan verba jadian yang dibentuk dengan akhiran /–mu/ digunakan untuk keadaan yang tidak terlihat dan sesuatu yang terjadi secara mental atau dari dalam. Demikian juga akhiran /–maru/ dan /–meru/ yang sama-sama bisa ditambahakan hanya pada zokusei keiyoushi dengan jumlah dan kata-kata yang sama pun memiliki perbedaan. Penambahan akhiran /–maru/ menghasilkan verba intransitif (jidoushi) sedangkan penambahan akhiran /–meru/ menghasilkan verba transitif (tadoushi).</summary>
    <dc:date>2013-04-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Caniago, Ardiansyah</dc:creator>
    <dc:description>Manusia dalam seluruh aspek kehidupannya tidak pernah lepas dari bahasa. Manusia membutuhkan bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi menyalurkan aspirasi, menyampaikan ide, gagasan dan keinginannya kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan.&#xD;
Bahasa ini ditelaah dalam kajian linguistik. Kajian linguistik bahasa Jepang terbagi ke dalam beberapa kategori seperti : onseigaku atau ‘fonologi’, keitairon atau ‘morfologi’, tougoron atau ‘sintaksis’ dan imiron atau ‘semantik’. Kemudian linguistik Jepang juga mengenal istilah shakai gengogaku atau ‘sosiolinguistik’.&#xD;
Salah satu cabang linguistik yang telah disebut di atas adalah morfologi. dalam morfologi, yang menjadi pusat kajiannya adalah bentuk kata. Kata dalam bahasa Jepang terbagi atas 10 macam, yaitu : verba, adjektiva-I, adjektiva-na, nomina, adverbia, pronomina, kata sambung, kata seru, partikel dan verba bantu.&#xD;
Dalam penelitian ini penulis memilih untuk meneliti tentang pembentukan nomina dan verba yang berasal dari adjektiva-I bahasa Jepang. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui proses pembentukan kata kerja dan kata benda yang berasal dari kata sifat, Mengetahui apakah semua keiyoushi dapat mengalami perubahan bentuk kelas kata atau tidak dan Mengetahui Perbedaan antara masing-masing nomina jadian dan verba jadian hasil pembentukan tersebut.&#xD;
Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode induktif dan deskriptif analisis. metode induktif diterapkan manakala peneliti akan melakukan suatu penyimpulan setelah melakukan pengumpulan data dan analisis data. Sedangkan&#xD;
metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta- fakta yang kemudian dianalisis.&#xD;
Berdasarkan penelitian kepustakaan yang telah dilakukan penulis terhadap pembentukan nomina dan verba yang berasal dari adjektiva bahasa Jepang, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :&#xD;
Pembentukan nomina jadian dalam bahasa Jepang disebut 名詞化meishika. Akhiran yang digunakan untuk membentuk nomina jadian dari adjektiva adalah akhiran /–sa/ dan /–mi/. Sedangkan pembentukan verba jadian dalam bahasa Jepang diistilahkan dengan kata 動詞化doushika. Dan akhiran yang digunakan untuk membentuk verba jadian dari adjektiva adalah akhiran /–garu/, /-mu/, /-maru/ dan /–meru/. Dalam proses pembentukannya, baik nomina maupun verba yang berasal dari adjektiva, dilakukan dengan menghilangkan akhiran /-i/ dan kemudian menambahkan akhiran pembentuk nomina dan verba tersebut setelah gokan dari adjektivanya. Dengan rumus umum sebagai berikut :&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－さ/ → 派生名詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－み/ → 派生名詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－がる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－む/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－まる/ → 派生動詞&#xD;
形容詞語幹 ＋ /－める/ → 派生動詞&#xD;
Selain penambahan pada akhiran /–sa/ dan /–garu/ yang dapat ditambahkan pada hampir semua adjektiva bahasa Jepang, semua akhiran ini memiliki batasan terhadap adjektiva atau keiyoushi tertentu, artinya tidak dapat ditambahkan pada sembarang adjektiva.&#xD;
Akhiran /–sa/ dan /–mi/, meskipun sama-sama menghasikan nomina jadian tetap memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Akhiran /–sa/ digunakan sebagai ungkapan yang menunjukkan jumlah dan derajat/volume, sedangkan akhiran /–mi/ digunakan untuk mengkongkritkan atau metafora terhadap suatu keadaan.&#xD;
Akhiran /–garu/ dan /–mu/ yang membentuk verba jadian dari kanjou keiyoushi juga memiliki perbedaan dalam pengunaannya. Verba jadian yang dibentuk dengan akhiran /–garu/ cenderung digunakan untuk keadaan yang terlihat dan terjadi pada tubuh dan pengungkapan perasaan pada lawan bicara, sedangkan verba jadian yang dibentuk dengan akhiran /–mu/ digunakan untuk keadaan yang tidak terlihat dan sesuatu yang terjadi secara mental atau dari dalam. Demikian juga akhiran /–maru/ dan /–meru/ yang sama-sama bisa ditambahakan hanya pada zokusei keiyoushi dengan jumlah dan kata-kata yang sama pun memiliki perbedaan. Penambahan akhiran /–maru/ menghasilkan verba intransitif (jidoushi) sedangkan penambahan akhiran /–meru/ menghasilkan verba transitif (tadoushi).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efektifitas Sistem Temu Kembali Informasi Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Koleksi :(Studi Kasus Pemustaka Pada Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35670" />
    <author>
      <name>Alwi, Muhammad Yafizham</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35670</id>
    <updated>2013-04-13T02:05:07Z</updated>
    <published>2013-04-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Alwi, Muhammad Yafizham
Advisors: Ishak; Pangaribuan, Syakirin
Abstract (other language): Muhammad Yafizham Alwi. 2012. Efektifitas Sistem Temu Kembali Informasi Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Koleksi (Studi Kasus Pemustaka Pada Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan). Medan: Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat keefektifan Sistem Temu Kembali dalam meningkatkan pemanfaatan koleksi bahan pustaka oleh mahasiswa/i pada Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan.&#xD;
Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan pada bulan Oktober 2012. Penelitian ini adalah penellitian deskriptif dengan metode survei yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada sampel penelitian. Populasi penelitian adalah Mahasiswa yang menjadi anggota perpustakaan terdiri dari 3 jurusan atau bidang studi yang terdapat pada STMIK Potensi Utama Medan berjumlah 2560 orang. Penentuan sampel menggunakan pendapat Gay dalam Sevilla dkk, di peroleh sampel 256 mahasiswa/i. Teknik Pengambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling.&#xD;
Hasil Penelitian Menunjukkan bahwa koleksi bahan pustaka di perpustakaan STMIK Potensi Utama telah terautomasi dengan menggunakan aplikasi sistem temu kembali informasi berbasis web yakni senayan. ini rendahnya frekuensi kunjungan dan frekuensi penggunaan sistem temu kembali informasi yang menggunakan senayan tersebut. Selain itu, rendahnya kemutakhiran koleksi bahan pustaka dan juga rendahnya kesesuaian bahan pustaka yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Sehingga mempengaruhi keefektifitasan pemanfaatan koleksi pada perpustakaan tersebut.</summary>
    <dc:date>2013-04-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Alwi, Muhammad Yafizham</dc:creator>
    <dc:description>Muhammad Yafizham Alwi. 2012. Efektifitas Sistem Temu Kembali Informasi Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Koleksi (Studi Kasus Pemustaka Pada Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan). Medan: Program Studi Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat keefektifan Sistem Temu Kembali dalam meningkatkan pemanfaatan koleksi bahan pustaka oleh mahasiswa/i pada Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan.&#xD;
Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan STMIK Potensi Utama Medan pada bulan Oktober 2012. Penelitian ini adalah penellitian deskriptif dengan metode survei yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada sampel penelitian. Populasi penelitian adalah Mahasiswa yang menjadi anggota perpustakaan terdiri dari 3 jurusan atau bidang studi yang terdapat pada STMIK Potensi Utama Medan berjumlah 2560 orang. Penentuan sampel menggunakan pendapat Gay dalam Sevilla dkk, di peroleh sampel 256 mahasiswa/i. Teknik Pengambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling.&#xD;
Hasil Penelitian Menunjukkan bahwa koleksi bahan pustaka di perpustakaan STMIK Potensi Utama telah terautomasi dengan menggunakan aplikasi sistem temu kembali informasi berbasis web yakni senayan. ini rendahnya frekuensi kunjungan dan frekuensi penggunaan sistem temu kembali informasi yang menggunakan senayan tersebut. Selain itu, rendahnya kemutakhiran koleksi bahan pustaka dan juga rendahnya kesesuaian bahan pustaka yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Sehingga mempengaruhi keefektifitasan pemanfaatan koleksi pada perpustakaan tersebut.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Perbandingan Konsep Daur Hidup Pada Masyarakat Jepang Dan Batak Toba</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35661" />
    <author>
      <name>Simanullang, Victor Julianto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35661</id>
    <updated>2013-04-12T03:18:37Z</updated>
    <published>2013-04-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanullang, Victor Julianto
Advisors: Situmorang, Hamzon; Kusdiyana, Eman
Abstract: 人間は必ず『ライフサイクル』という&#xD;
かてい&#xD;
,過程を経験している。&#xD;
『ライフサイクル』というのは人間が世界に生まれてから、大人になって、&#xD;
そして老人になってきて、最後は死ぬまでという過程である。日本社会で&#xD;
『ライフサイクル』は『つかぎれい』と言う。『つか』は『&#xD;
だんかい&#xD;
,段階』&#xD;
という意味で『&#xD;
ぎれい&#xD;
,儀礼』は『儀式』という意味であり、『&#xD;
つかぎれい&#xD;
,塚儀礼』&#xD;
とは生まれてきてから神になるまでによく行われている&#xD;
ぎしき&#xD;
,儀式&#xD;
日本社会によっては、『ライフサイクル』が日本人の&#xD;
という意&#xD;
味である。&#xD;
れい&#xD;
,霊と関係&#xD;
があるそうであり、&#xD;
ぶっきょう&#xD;
,仏教と&#xD;
しんとう&#xD;
,神道に&#xD;
えいきょう&#xD;
,影響されている伝統的&#xD;
な考えという意味である。大人になるまでに日本人がよく行われてい&#xD;
る&#xD;
ぎしきるい&#xD;
,儀式類は『&#xD;
しゅっさん&#xD;
,出産（生まれることの儀式）』とか『なずけ祝&#xD;
い（名前をあげること）』とか『おくいぞめ（始めに食べ物をあげるこ&#xD;
と）』で、おくいぞめとは子供の&#xD;
ねんれい&#xD;
,年齢は１００日になってきたらよ&#xD;
く行われている儀式ということであり、そして『&#xD;
はったんじょう&#xD;
,八誕生（最初の&#xD;
誕生日）』。この『八誕生』で子供の将来を選ぶことは最初にやれる。そ&#xD;
して『七五三（７歳、５歳、３歳の子供）』。この儀式で７歳、５歳、３&#xD;
歳の子供たちのために１１月１５日にお寺を訪問されている&#xD;
ぎしき&#xD;
,儀式&#xD;
そちら時代を自然に過ごしてから、誰かが&#xD;
であ&#xD;
る。最後は『大人になるまでの儀式（２０歳）。この儀式で、１月１５日&#xD;
にちょうど２０歳になった人々のためによく行われている儀式である。&#xD;
けっこんせいかつ&#xD;
,結婚生活を入&#xD;
り始めた。この時には人間の&#xD;
れい&#xD;
,霊の状態は&#xD;
あんてい&#xD;
,安定となった。そして、&#xD;
結婚生活に入ってから、よく行われている特別な儀式は『&#xD;
やくどし&#xD;
,厄年』の 一つである。『厄年』とはその年に危ない年齢に入ってしまった人々のた&#xD;
めに行われている儀式であり、例えば、４２歳（男）と３３歳（女）であ&#xD;
る。他の祝いは『年祝い』というお祝いである。年祝いとは６６歳（がれ&#xD;
き）、７０歳（こうき）、８８歳（まいじゅ）、９９歳（はっじゅく）の&#xD;
人々のために行われているお祝いである。&#xD;
『死ぬ』とは霊が体を残していったという意味であって人間の体は&#xD;
命がもうなくなってきた。人間がもう死亡するか&#xD;
きぜつ&#xD;
,気絶だけかを決める&#xD;
ために&#xD;
でんとうしゃかい&#xD;
,伝統社会は霊が体に&#xD;
もど&#xD;
,戻&#xD;
そして、『たまよばい』をやっても、死亡した人間の霊を戻らなか&#xD;
ったら、その人が本当に死亡したと決められた。その人がもう死亡したら&#xD;
他の家族や近所の人に知らせてあげる。&#xD;
れるように『たまよばい』とい&#xD;
う霊の呼びかけの儀式を行い始める。『たまよばい』または『もがり』は&#xD;
人間がもう死亡したかどうか決めるために行われている儀式という意味で&#xD;
ある。『もがり』の基本的な考えは人間の霊は体を残していったら、人が&#xD;
死亡することになったけど、その霊はまだ遠く行かないなら、また呼んで&#xD;
くることができるそうである。&#xD;
葬式をやってから、死亡したに対する残されていた家族が大切な儀&#xD;
式を行うことになって、それは７日目の儀式（はつなのかと言う）、３５&#xD;
日目の儀式（三十五日）、４９日目の儀式（しじゅくにち）という。&#xD;
そして、４９日目の後で、霊が&#xD;
じゅんけつ&#xD;
,純潔になるように、&#xD;
ぎしき&#xD;
,儀式&#xD;
を行われる。その儀式の方法は４９日目の儀式の方法とほとんど同じ&#xD;
で、&#xD;
さいしょ&#xD;
,最初の&#xD;
しぼうたんじょうび&#xD;
,死亡誕生日『&#xD;
いっしゅうき&#xD;
,一周忌』の時に行われて、&#xD;
３年後の儀式『&#xD;
さんかいき&#xD;
,三回忌』、７年後の儀式『七回忌』、１３年後の儀&#xD;
式『十三回忌』、１７年後の儀式『十七回忌』、それから３３年後の儀式&#xD;
『三十三回忌』。霊を&#xD;
きよ&#xD;
,清めるための儀式で、祖先になると信じられる まで、死亡した霊に『&#xD;
くよう&#xD;
,供養&#xD;
バタクトバの人々がよく行われている&#xD;
』をあげて、仏教によると３３歳であり、&#xD;
神道によると５０歳である。&#xD;
でんとうぎしき&#xD;
,伝統儀式は&#xD;
たいじ&#xD;
,胎児&#xD;
の中から、&#xD;
しゅっさん&#xD;
,出産、&#xD;
ちばな&#xD;
,乳離れをすること、病気、&#xD;
ひがい&#xD;
,被害、そして&#xD;
死亡するまでである。ライフの段階からの移動するたびに特別な伝統儀式&#xD;
をよくやっている。その伝統儀式の目的は社会が災害を&#xD;
さ&#xD;
,避けることがで&#xD;
きたり、神様が&#xD;
めぐ&#xD;
,恵みを&#xD;
あた&#xD;
,与えたり、&#xD;
けんこう&#xD;
,健康や&#xD;
あんぜん&#xD;
,安全&#xD;
出産のことが習慣になった場合はさらに長男か長女がもうすぐ生ま&#xD;
れる時には御妻の両親と他の家族は食物を持ちながら、訪問に来てくれる。&#xD;
この訪問は『Mangindrak』と言い、『もっともっと頑張る』という意味で&#xD;
ある。&#xD;
なことを与え&#xD;
たりするためである。これはバタクトバの人々が伝統儀式をよくやるとい&#xD;
う理由の一つである。&#xD;
長い時間に待っていた子供が生まれたら、時々その幸せな家族の家&#xD;
で皆と一緒に飲食することもあり、それは『Mangraohani』と言い、子供&#xD;
に対して『ようこそ』という意味である。しかし、時々『Mamboan Aek Si&#xD;
Unte』と呼ぶことも多くて、母乳を早く動かすと信じられている。&#xD;
アニミズムの時代の時には『Bona Pasogit』という場所で『Martutu&#xD;
Aek』という伝統儀式を行われて、『泉で赤ちゃんを浴びてあげること』&#xD;
という意味である。旧式の医師という人が決められた日であり、それは朝、&#xD;
太陽が出てきたばかりである。&#xD;
１０歳代の時、人間が大人になった場合は、彼または彼女がメンタ&#xD;
ルトレーニングをまた受けて、アニミズムの時代の時には『Mangalontik&#xD;
Ipon』と呼ばれて、彼らは教会でキリスト教に入ったり、１年間ぐらいキ&#xD;
リスト教の勉強に関する試験を取り受けなければならない。 死亡した場合は、キリスト教のバタク人が葬式に大きな興味を与え&#xD;
る。バタクトバの人々にとって、葬式とは世界で生きてから、他の世界に&#xD;
まだ他の生活があるそうである。バタクトバの人々の信用で、全世界は３&#xD;
類に『Banua』という分割があり、それは『Banua Ginjang&#xD;
（上）』、&#xD;
じゅんけつ&#xD;
,純潔な&#xD;
れい&#xD;
,霊&#xD;
生きているものと死亡した人との関係に対してバタクトバの人々の&#xD;
信用では死亡する人と死亡した人に対してよく行われている伝統儀式から&#xD;
見られる。例えば、『Manulangi』という儀式で、『手でもうすぐ死亡す&#xD;
る人に食物をあげること』という意味であり、『Hamatean』、『死亡す&#xD;
ること』という意味であり、それで、『Mangongkal Holi 』、『死亡した&#xD;
人の骨をお&#xD;
が住んでいる『Mulajadi na bolon』という一&#xD;
番いい場所であり、『Banua Tonga（中）』、人間や他の生き物が住んで&#xD;
いる場所であり、『Banua Toru（下）』、悪い霊が住んでいる場所という&#xD;
ことである。&#xD;
はか&#xD;
,墓に&#xD;
ほうむ&#xD;
,葬ること』という意味であり、最後&#xD;
は&#xD;
しぼうきねんとう&#xD;
,死亡記念塔を建てる儀式と&#xD;
とうぞく&#xD;
,塔族の建ての儀式である。こ&#xD;
のすべては、バタクトバの人々にとって伝統儀式を行うために基本的な考&#xD;
えになってきた。
Abstract (other language): Setiap manusia mengalami hal atau proses yang disebut daur hidup, yaitu&#xD;
proses dimana seseorang mulai lahir, menjadi dewasa, tua dan akhirnya&#xD;
meninggal. Daur hidup dalam masyarakat Jepang disebut Tsuka Girei. Tsuka yang&#xD;
artinya bertahap atau tahapan sedangkan Girei artinya upacara atau perayaan,&#xD;
sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari Tsuka Girei adalah&#xD;
perayaan-;perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran&#xD;
sampai menjadi dewa.&#xD;
Daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan&#xD;
akan roh orang Jepang, yaitu pandangan tradisional yang di pengaruhi oleh Shinto&#xD;
dan Budha. Adapun acara yang dilakukan yaitu seperti acara-acara menuju&#xD;
kedewasaan yang disebut Shussan (acara kelahiran), Nazuke Iwai (pemberian&#xD;
nama) Okuizome (pemberian makan pertama) yaitu setelah anak berusia seratus&#xD;
hari, Hattanjou (ulang tahun pertama) di sini dilakukan pemilihan masa depan&#xD;
anak, Shichigosan (acara 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun) yaitu acara untuk mendatangi&#xD;
kuil pada tanggal 15 November bagi anak umur 3, 5 dan 7 tahun, dan acara&#xD;
kedewasaan (20 tahun) pada tanggal 15 Januari bagi semua anak yang berusia 20&#xD;
tahun pada tahun tersebut.&#xD;
Setelah masa kekotoran berlalu seseorang tersebut memasuki kehidupan&#xD;
perkawinan. Pada masa ini, roh seseorang tersebut berada dalam keadaan stabil.&#xD;
Kemudian ada acara khusus setelah memasuki kehidupan dalam pernikahan&#xD;
misalnya, Yakudoshi yaitu acara bagi orang yang memasuki usia bahaya pada&#xD;
tahun tersebut, misalnya usia 42 pada laki-laki dan usia 33 bagi wanita. Toshi&#xD;
88&#xD;
Iwai bagi orang yang berusia 66 tahun (Gareki), usia 70 tahun (Kouki), usia 88&#xD;
(Maiju), dan usia 99 (Hakuju).&#xD;
Kematian diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak&#xD;
bernyawa dan rohnya pergi meninggalkan tubuhnya untuk selamanya. Untuk&#xD;
memastikan apakah seseorang telah mati atau hanya pingsan (hansi), masyarakat&#xD;
tradisional melakukan upacara pemanggilan roh agar kembali lagi ke jasad&#xD;
(tamayobai). Tamayobai disebut juga Mogari, yaitu suatu acara untuk&#xD;
menentukan seseorang tidak hidup lagi. Dasar pemikiran mogari adalah manusia&#xD;
meninggal karena rohnya pergi meninggalkan badan kemudian pergi ke dunia&#xD;
sana, apabila belum terlalu jauh, maka masih dapat dipanggil kembali.&#xD;
Kemudian setelah acara tamayobai dilakukan, tetapi orang yang telah&#xD;
pergi rohnya itu tidak hidup lagi, maka orang tersebut dipastikan telah mati.&#xD;
Setelah dipastikan seseorang itu mati, maka diumumkan kepada seluruh keluarga,&#xD;
kerabat dan tetangga bahwa orang tersebut telah meninggal.&#xD;
Setelah seluruh upacara kematian selesai dilaksanakan, keluarga yang&#xD;
diitinggalkan melakukan ritus peringatan terhadap orang yang telah meninggal&#xD;
yaitu pada hari ke-7 (hatsunanoka), upacara hari ke-35 (sanjugonichi), sampai&#xD;
upacara hari ke-49 (shijukunichi).&#xD;
Kemudian dilakukan upacara penyucian roh setelah hari ke-49. Yaitu&#xD;
upacara peringatan kematian yang perlakuannya sama dengan upacara hari ke-49&#xD;
dilakukan pada ulang tahun kematian yang pertama (isshuki), acara 3 tahun&#xD;
(sankaiki), acara 7 tahun (nanakaiki), acara 13 tahun (jusankaiki), acara 17 tahun&#xD;
(junanakaiki), kemudian 33 tahun (sanjusaikaiki). Dalam upacara penyucian roh&#xD;
89&#xD;
dilakukan pemberian kuyou kepada roh leluhur yang telah meninggal sampai roh&#xD;
yang telah meninggal dipercaya telah menjadi sousen yaitu pada usia kematian 33&#xD;
tahun dalam konsep budha atau 50 tahun pada konsep Shinto.&#xD;
Kebiasaan-kebiasaan suku Batak Toba yaitu berupa upacara adat dimulai&#xD;
dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, penyakit, malapetaka, hingga&#xD;
kematian. Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu&#xD;
upacara adat khusus. Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/celaka&#xD;
yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah&#xD;
satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Batak&#xD;
Toba.&#xD;
Pada saat kelahiran sudah merupakan kebiasaan, apalagi menjelang&#xD;
lahirnya anak pertama, orang tua dari si isteri disertai rombongan kecil kaum&#xD;
kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya;&#xD;
salah satu istilah untuk kunjungan ini ialah mangirdak, yang artinya&#xD;
membangkitkan “semangat”.&#xD;
Sesudah lahir anak yang dinanti-nantikan itu adakalanya diadakan lagi&#xD;
makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu, dinamai&#xD;
mangharoani, artinya “menyambut tibanya (sang anak)”. Ada juga yang&#xD;
menyebutnya mamboan aek si unte, karena pihak hula-hula membawa makanan&#xD;
yang akan memperlancar air susu sang ibu.&#xD;
Pada zaman animisme di bona pasogit mengikuti suatu upacara yang&#xD;
dinamai martutu aek, yakni dipermandikan sang bayi ke mata air. Pada hari yang&#xD;
telah ditentukan oleh datu (dukun), pagi-pagi waktu matahari baru terbit.&#xD;
90&#xD;
Pada umur belasan tahun, yaitu pada pada waktu seorang pemuda atau&#xD;
pemudi mencapai tahap pubertas, ia harus lagi menempuh ujian mental yang di&#xD;
zaman animisme dinamai mangalontik ipon, sesudah memeluk agama kristen&#xD;
gereja mengharuskan pemuda dan pemudi menempuh ujian setelah mendapat&#xD;
pelajaran agama selama kira-kira satu tahun.&#xD;
Pada saat meninggal, orang Batak pra-kristen memberikan perhatian&#xD;
yang sangat besar kepada peristiwa kematian. Upacara kematian pada masyarakat&#xD;
Batak Toba itu sendiri juga merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan&#xD;
lain dibalik kehidupan di dunia ini. Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba,&#xD;
alam dibagi atas tiga banua, yaitu : banua ginjang (atas) merupakan banua kuasa&#xD;
kemuliaan Mulajadi Na Bolon, yang dihuni oleh roh-roh suci. Banua tonga&#xD;
(tengah) merupakan alam raya yang dihuni oleh manusia dan makhluk hidup&#xD;
lainnya. Banua toru (bawah) merupakan alam bawah yang penuh penderitaan&#xD;
yang dihuni oleh roh-roh jahat.&#xD;
Keyakinan masyarakat Batak akan adanya hubungan antara orang yang&#xD;
hidup dengan roh orang mati, tercermin dalam berbagai upacara adat yang&#xD;
dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah mati, seperti: manulangi&#xD;
(menyulangi orang yang akan mati), hamatean (kematian), mangongkal holi&#xD;
(menggali tulang belulang), dan pesta pendirian tugu serta pesta tahunan di tugutugu&#xD;
marga. Keyakinan ini merupakan dasar utama bagi diselenggarakannya&#xD;
upacara adat.</summary>
    <dc:date>2013-04-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanullang, Victor Julianto</dc:creator>
    <dc:description>Setiap manusia mengalami hal atau proses yang disebut daur hidup, yaitu&#xD;
proses dimana seseorang mulai lahir, menjadi dewasa, tua dan akhirnya&#xD;
meninggal. Daur hidup dalam masyarakat Jepang disebut Tsuka Girei. Tsuka yang&#xD;
artinya bertahap atau tahapan sedangkan Girei artinya upacara atau perayaan,&#xD;
sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari Tsuka Girei adalah&#xD;
perayaan-;perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran&#xD;
sampai menjadi dewa.&#xD;
Daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan&#xD;
akan roh orang Jepang, yaitu pandangan tradisional yang di pengaruhi oleh Shinto&#xD;
dan Budha. Adapun acara yang dilakukan yaitu seperti acara-acara menuju&#xD;
kedewasaan yang disebut Shussan (acara kelahiran), Nazuke Iwai (pemberian&#xD;
nama) Okuizome (pemberian makan pertama) yaitu setelah anak berusia seratus&#xD;
hari, Hattanjou (ulang tahun pertama) di sini dilakukan pemilihan masa depan&#xD;
anak, Shichigosan (acara 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun) yaitu acara untuk mendatangi&#xD;
kuil pada tanggal 15 November bagi anak umur 3, 5 dan 7 tahun, dan acara&#xD;
kedewasaan (20 tahun) pada tanggal 15 Januari bagi semua anak yang berusia 20&#xD;
tahun pada tahun tersebut.&#xD;
Setelah masa kekotoran berlalu seseorang tersebut memasuki kehidupan&#xD;
perkawinan. Pada masa ini, roh seseorang tersebut berada dalam keadaan stabil.&#xD;
Kemudian ada acara khusus setelah memasuki kehidupan dalam pernikahan&#xD;
misalnya, Yakudoshi yaitu acara bagi orang yang memasuki usia bahaya pada&#xD;
tahun tersebut, misalnya usia 42 pada laki-laki dan usia 33 bagi wanita. Toshi&#xD;
88&#xD;
Iwai bagi orang yang berusia 66 tahun (Gareki), usia 70 tahun (Kouki), usia 88&#xD;
(Maiju), dan usia 99 (Hakuju).&#xD;
Kematian diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak&#xD;
bernyawa dan rohnya pergi meninggalkan tubuhnya untuk selamanya. Untuk&#xD;
memastikan apakah seseorang telah mati atau hanya pingsan (hansi), masyarakat&#xD;
tradisional melakukan upacara pemanggilan roh agar kembali lagi ke jasad&#xD;
(tamayobai). Tamayobai disebut juga Mogari, yaitu suatu acara untuk&#xD;
menentukan seseorang tidak hidup lagi. Dasar pemikiran mogari adalah manusia&#xD;
meninggal karena rohnya pergi meninggalkan badan kemudian pergi ke dunia&#xD;
sana, apabila belum terlalu jauh, maka masih dapat dipanggil kembali.&#xD;
Kemudian setelah acara tamayobai dilakukan, tetapi orang yang telah&#xD;
pergi rohnya itu tidak hidup lagi, maka orang tersebut dipastikan telah mati.&#xD;
Setelah dipastikan seseorang itu mati, maka diumumkan kepada seluruh keluarga,&#xD;
kerabat dan tetangga bahwa orang tersebut telah meninggal.&#xD;
Setelah seluruh upacara kematian selesai dilaksanakan, keluarga yang&#xD;
diitinggalkan melakukan ritus peringatan terhadap orang yang telah meninggal&#xD;
yaitu pada hari ke-7 (hatsunanoka), upacara hari ke-35 (sanjugonichi), sampai&#xD;
upacara hari ke-49 (shijukunichi).&#xD;
Kemudian dilakukan upacara penyucian roh setelah hari ke-49. Yaitu&#xD;
upacara peringatan kematian yang perlakuannya sama dengan upacara hari ke-49&#xD;
dilakukan pada ulang tahun kematian yang pertama (isshuki), acara 3 tahun&#xD;
(sankaiki), acara 7 tahun (nanakaiki), acara 13 tahun (jusankaiki), acara 17 tahun&#xD;
(junanakaiki), kemudian 33 tahun (sanjusaikaiki). Dalam upacara penyucian roh&#xD;
89&#xD;
dilakukan pemberian kuyou kepada roh leluhur yang telah meninggal sampai roh&#xD;
yang telah meninggal dipercaya telah menjadi sousen yaitu pada usia kematian 33&#xD;
tahun dalam konsep budha atau 50 tahun pada konsep Shinto.&#xD;
Kebiasaan-kebiasaan suku Batak Toba yaitu berupa upacara adat dimulai&#xD;
dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, penyakit, malapetaka, hingga&#xD;
kematian. Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu&#xD;
upacara adat khusus. Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/celaka&#xD;
yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah&#xD;
satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Batak&#xD;
Toba.&#xD;
Pada saat kelahiran sudah merupakan kebiasaan, apalagi menjelang&#xD;
lahirnya anak pertama, orang tua dari si isteri disertai rombongan kecil kaum&#xD;
kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya;&#xD;
salah satu istilah untuk kunjungan ini ialah mangirdak, yang artinya&#xD;
membangkitkan “semangat”.&#xD;
Sesudah lahir anak yang dinanti-nantikan itu adakalanya diadakan lagi&#xD;
makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu, dinamai&#xD;
mangharoani, artinya “menyambut tibanya (sang anak)”. Ada juga yang&#xD;
menyebutnya mamboan aek si unte, karena pihak hula-hula membawa makanan&#xD;
yang akan memperlancar air susu sang ibu.&#xD;
Pada zaman animisme di bona pasogit mengikuti suatu upacara yang&#xD;
dinamai martutu aek, yakni dipermandikan sang bayi ke mata air. Pada hari yang&#xD;
telah ditentukan oleh datu (dukun), pagi-pagi waktu matahari baru terbit.&#xD;
90&#xD;
Pada umur belasan tahun, yaitu pada pada waktu seorang pemuda atau&#xD;
pemudi mencapai tahap pubertas, ia harus lagi menempuh ujian mental yang di&#xD;
zaman animisme dinamai mangalontik ipon, sesudah memeluk agama kristen&#xD;
gereja mengharuskan pemuda dan pemudi menempuh ujian setelah mendapat&#xD;
pelajaran agama selama kira-kira satu tahun.&#xD;
Pada saat meninggal, orang Batak pra-kristen memberikan perhatian&#xD;
yang sangat besar kepada peristiwa kematian. Upacara kematian pada masyarakat&#xD;
Batak Toba itu sendiri juga merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan&#xD;
lain dibalik kehidupan di dunia ini. Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba,&#xD;
alam dibagi atas tiga banua, yaitu : banua ginjang (atas) merupakan banua kuasa&#xD;
kemuliaan Mulajadi Na Bolon, yang dihuni oleh roh-roh suci. Banua tonga&#xD;
(tengah) merupakan alam raya yang dihuni oleh manusia dan makhluk hidup&#xD;
lainnya. Banua toru (bawah) merupakan alam bawah yang penuh penderitaan&#xD;
yang dihuni oleh roh-roh jahat.&#xD;
Keyakinan masyarakat Batak akan adanya hubungan antara orang yang&#xD;
hidup dengan roh orang mati, tercermin dalam berbagai upacara adat yang&#xD;
dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah mati, seperti: manulangi&#xD;
(menyulangi orang yang akan mati), hamatean (kematian), mangongkal holi&#xD;
(menggali tulang belulang), dan pesta pendirian tugu serta pesta tahunan di tugutugu&#xD;
marga. Keyakinan ini merupakan dasar utama bagi diselenggarakannya&#xD;
upacara adat.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Perbandingan Konsep Daur Hidup Pada Masyarakat Jepang Dan Batak Toba</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35587" />
    <author>
      <name>Simanullang, Victor Julianto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35587</id>
    <updated>2013-04-06T03:09:07Z</updated>
    <published>2013-04-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanullang, Victor Julianto
Advisors: Situmorang, Hamzon; Kusdiyana, Eman
Abstract (other language): Setiap manusia mengalami hal atau proses yang disebut daur hidup, yaitu&#xD;
proses dimana seseorang mulai lahir, menjadi dewasa, tua dan akhirnya&#xD;
meninggal. Daur hidup dalam masyarakat Jepang disebut Tsuka Girei. Tsuka yang&#xD;
artinya bertahap atau tahapan sedangkan Girei artinya upacara atau perayaan,&#xD;
sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari Tsuka Girei adalah&#xD;
perayaan-;perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran&#xD;
sampai menjadi dewa.&#xD;
Daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan&#xD;
akan roh orang Jepang, yaitu pandangan tradisional yang di pengaruhi oleh Shinto&#xD;
dan Budha. Adapun acara yang dilakukan yaitu seperti acara-acara menuju&#xD;
kedewasaan yang disebut Shussan (acara kelahiran), Nazuke Iwai (pemberian&#xD;
nama) Okuizome (pemberian makan pertama) yaitu setelah anak berusia seratus&#xD;
hari, Hattanjou (ulang tahun pertama) di sini dilakukan pemilihan masa depan&#xD;
anak, Shichigosan (acara 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun) yaitu acara untuk mendatangi&#xD;
kuil pada tanggal 15 November bagi anak umur 3, 5 dan 7 tahun, dan acara&#xD;
kedewasaan (20 tahun) pada tanggal 15 Januari bagi semua anak yang berusia 20&#xD;
tahun pada tahun tersebut.&#xD;
Setelah masa kekotoran berlalu seseorang tersebut memasuki kehidupan&#xD;
perkawinan. Pada masa ini, roh seseorang tersebut berada dalam keadaan stabil.&#xD;
Kemudian ada acara khusus setelah memasuki kehidupan dalam pernikahan&#xD;
misalnya, Yakudoshi yaitu acara bagi orang yang memasuki usia bahaya pada&#xD;
tahun tersebut, misalnya usia 42 pada laki-laki dan usia 33 bagi wanita. ToshiIwai bagi orang yang berusia 66 tahun (Gareki), usia 70 tahun (Kouki), usia 88&#xD;
(Maiju), dan usia 99 (Hakuju).&#xD;
Kematian diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak&#xD;
bernyawa dan rohnya pergi meninggalkan tubuhnya untuk selamanya. Untuk&#xD;
memastikan apakah seseorang telah mati atau hanya pingsan (hansi), masyarakat&#xD;
tradisional melakukan upacara pemanggilan roh agar kembali lagi ke jasad&#xD;
(tamayobai). Tamayobai disebut juga Mogari, yaitu suatu acara untuk&#xD;
menentukan seseorang tidak hidup lagi. Dasar pemikiran mogari adalah manusia&#xD;
meninggal karena rohnya pergi meninggalkan badan kemudian pergi ke dunia&#xD;
sana, apabila belum terlalu jauh, maka masih dapat dipanggil kembali.&#xD;
Kemudian setelah acara tamayobai dilakukan, tetapi orang yang telah&#xD;
pergi rohnya itu tidak hidup lagi, maka orang tersebut dipastikan telah mati.&#xD;
Setelah dipastikan seseorang itu mati, maka diumumkan kepada seluruh keluarga,&#xD;
kerabat dan tetangga bahwa orang tersebut telah meninggal.&#xD;
Setelah seluruh upacara kematian selesai dilaksanakan, keluarga yang&#xD;
diitinggalkan melakukan ritus peringatan terhadap orang yang telah meninggal&#xD;
yaitu pada hari ke-7 (hatsunanoka), upacara hari ke-35 (sanjugonichi), sampai&#xD;
upacara hari ke-49 (shijukunichi).&#xD;
Kemudian dilakukan upacara penyucian roh setelah hari ke-49. Yaitu&#xD;
upacara peringatan kematian yang perlakuannya sama dengan upacara hari ke-49&#xD;
dilakukan pada ulang tahun kematian yang pertama (isshuki), acara 3 tahun&#xD;
(sankaiki), acara 7 tahun (nanakaiki), acara 13 tahun (jusankaiki), acara 17 tahun&#xD;
(junanakaiki), kemudian 33 tahun (sanjusaikaiki). Dalam upacara penyucian rohdilakukan pemberian kuyou kepada roh leluhur yang telah meninggal sampai roh&#xD;
yang telah meninggal dipercaya telah menjadi sousen yaitu pada usia kematian 33&#xD;
tahun dalam konsep budha atau 50 tahun pada konsep Shinto.&#xD;
Kebiasaan-kebiasaan suku Batak Toba yaitu berupa upacara adat dimulai&#xD;
dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, penyakit, malapetaka, hingga&#xD;
kematian. Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu&#xD;
upacara adat khusus. Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/celaka&#xD;
yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah&#xD;
satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Batak&#xD;
Toba.&#xD;
Pada saat kelahiran sudah merupakan kebiasaan, apalagi menjelang&#xD;
lahirnya anak pertama, orang tua dari si isteri disertai rombongan kecil kaum&#xD;
kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya;&#xD;
salah satu istilah untuk kunjungan ini ialah mangirdak, yang artinya&#xD;
membangkitkan “semangat”.&#xD;
Sesudah lahir anak yang dinanti-nantikan itu adakalanya diadakan lagi&#xD;
makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu, dinamai&#xD;
mangharoani, artinya “menyambut tibanya (sang anak)”. Ada juga yang&#xD;
menyebutnya mamboan aek si unte, karena pihak hula-hula membawa makanan&#xD;
yang akan memperlancar air susu sang ibu.&#xD;
Pada zaman animisme di bona pasogit mengikuti suatu upacara yang&#xD;
dinamai martutu aek, yakni dipermandikan sang bayi ke mata air. Pada hari yang&#xD;
telah ditentukan oleh datu (dukun), pagi-pagi waktu matahari baru terbit.Pada umur belasan tahun, yaitu pada pada waktu seorang pemuda atau&#xD;
pemudi mencapai tahap pubertas, ia harus lagi menempuh ujian mental yang di&#xD;
zaman animisme dinamai mangalontik ipon, sesudah memeluk agama kristen&#xD;
gereja mengharuskan pemuda dan pemudi menempuh ujian setelah mendapat&#xD;
pelajaran agama selama kira-kira satu tahun.&#xD;
Pada saat meninggal, orang Batak pra-kristen memberikan perhatian&#xD;
yang sangat besar kepada peristiwa kematian. Upacara kematian pada masyarakat&#xD;
Batak Toba itu sendiri juga merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan&#xD;
lain dibalik kehidupan di dunia ini. Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba,&#xD;
alam dibagi atas tiga banua, yaitu : banua ginjang (atas) merupakan banua kuasa&#xD;
kemuliaan Mulajadi Na Bolon, yang dihuni oleh roh-roh suci. Banua tonga&#xD;
(tengah) merupakan alam raya yang dihuni oleh manusia dan makhluk hidup&#xD;
lainnya. Banua toru (bawah) merupakan alam bawah yang penuh penderitaan&#xD;
yang dihuni oleh roh-roh jahat.&#xD;
Keyakinan masyarakat Batak akan adanya hubungan antara orang yang&#xD;
hidup dengan roh orang mati, tercermin dalam berbagai upacara adat yang&#xD;
dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah mati, seperti: manulangi&#xD;
(menyulangi orang yang akan mati), hamatean (kematian), mangongkal holi&#xD;
(menggali tulang belulang), dan pesta pendirian tugu serta pesta tahunan di tugutugu&#xD;
marga. Keyakinan ini merupakan dasar utama bagi diselenggarakannya&#xD;
upacara adat.</summary>
    <dc:date>2013-04-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanullang, Victor Julianto</dc:creator>
    <dc:description>Setiap manusia mengalami hal atau proses yang disebut daur hidup, yaitu&#xD;
proses dimana seseorang mulai lahir, menjadi dewasa, tua dan akhirnya&#xD;
meninggal. Daur hidup dalam masyarakat Jepang disebut Tsuka Girei. Tsuka yang&#xD;
artinya bertahap atau tahapan sedangkan Girei artinya upacara atau perayaan,&#xD;
sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari Tsuka Girei adalah&#xD;
perayaan-;perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran&#xD;
sampai menjadi dewa.&#xD;
Daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan&#xD;
akan roh orang Jepang, yaitu pandangan tradisional yang di pengaruhi oleh Shinto&#xD;
dan Budha. Adapun acara yang dilakukan yaitu seperti acara-acara menuju&#xD;
kedewasaan yang disebut Shussan (acara kelahiran), Nazuke Iwai (pemberian&#xD;
nama) Okuizome (pemberian makan pertama) yaitu setelah anak berusia seratus&#xD;
hari, Hattanjou (ulang tahun pertama) di sini dilakukan pemilihan masa depan&#xD;
anak, Shichigosan (acara 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun) yaitu acara untuk mendatangi&#xD;
kuil pada tanggal 15 November bagi anak umur 3, 5 dan 7 tahun, dan acara&#xD;
kedewasaan (20 tahun) pada tanggal 15 Januari bagi semua anak yang berusia 20&#xD;
tahun pada tahun tersebut.&#xD;
Setelah masa kekotoran berlalu seseorang tersebut memasuki kehidupan&#xD;
perkawinan. Pada masa ini, roh seseorang tersebut berada dalam keadaan stabil.&#xD;
Kemudian ada acara khusus setelah memasuki kehidupan dalam pernikahan&#xD;
misalnya, Yakudoshi yaitu acara bagi orang yang memasuki usia bahaya pada&#xD;
tahun tersebut, misalnya usia 42 pada laki-laki dan usia 33 bagi wanita. ToshiIwai bagi orang yang berusia 66 tahun (Gareki), usia 70 tahun (Kouki), usia 88&#xD;
(Maiju), dan usia 99 (Hakuju).&#xD;
Kematian diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak&#xD;
bernyawa dan rohnya pergi meninggalkan tubuhnya untuk selamanya. Untuk&#xD;
memastikan apakah seseorang telah mati atau hanya pingsan (hansi), masyarakat&#xD;
tradisional melakukan upacara pemanggilan roh agar kembali lagi ke jasad&#xD;
(tamayobai). Tamayobai disebut juga Mogari, yaitu suatu acara untuk&#xD;
menentukan seseorang tidak hidup lagi. Dasar pemikiran mogari adalah manusia&#xD;
meninggal karena rohnya pergi meninggalkan badan kemudian pergi ke dunia&#xD;
sana, apabila belum terlalu jauh, maka masih dapat dipanggil kembali.&#xD;
Kemudian setelah acara tamayobai dilakukan, tetapi orang yang telah&#xD;
pergi rohnya itu tidak hidup lagi, maka orang tersebut dipastikan telah mati.&#xD;
Setelah dipastikan seseorang itu mati, maka diumumkan kepada seluruh keluarga,&#xD;
kerabat dan tetangga bahwa orang tersebut telah meninggal.&#xD;
Setelah seluruh upacara kematian selesai dilaksanakan, keluarga yang&#xD;
diitinggalkan melakukan ritus peringatan terhadap orang yang telah meninggal&#xD;
yaitu pada hari ke-7 (hatsunanoka), upacara hari ke-35 (sanjugonichi), sampai&#xD;
upacara hari ke-49 (shijukunichi).&#xD;
Kemudian dilakukan upacara penyucian roh setelah hari ke-49. Yaitu&#xD;
upacara peringatan kematian yang perlakuannya sama dengan upacara hari ke-49&#xD;
dilakukan pada ulang tahun kematian yang pertama (isshuki), acara 3 tahun&#xD;
(sankaiki), acara 7 tahun (nanakaiki), acara 13 tahun (jusankaiki), acara 17 tahun&#xD;
(junanakaiki), kemudian 33 tahun (sanjusaikaiki). Dalam upacara penyucian rohdilakukan pemberian kuyou kepada roh leluhur yang telah meninggal sampai roh&#xD;
yang telah meninggal dipercaya telah menjadi sousen yaitu pada usia kematian 33&#xD;
tahun dalam konsep budha atau 50 tahun pada konsep Shinto.&#xD;
Kebiasaan-kebiasaan suku Batak Toba yaitu berupa upacara adat dimulai&#xD;
dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, penyakit, malapetaka, hingga&#xD;
kematian. Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu&#xD;
upacara adat khusus. Upacara adat dilakukan agar terhindar dari bahaya/celaka&#xD;
yang akan menimpa, memperoleh berkat, kesehatan dan keselamatan. Inilah salah&#xD;
satu prinsip yang terdapat di balik pelaksanaan setiap upacara adat suku Batak&#xD;
Toba.&#xD;
Pada saat kelahiran sudah merupakan kebiasaan, apalagi menjelang&#xD;
lahirnya anak pertama, orang tua dari si isteri disertai rombongan kecil kaum&#xD;
kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya;&#xD;
salah satu istilah untuk kunjungan ini ialah mangirdak, yang artinya&#xD;
membangkitkan “semangat”.&#xD;
Sesudah lahir anak yang dinanti-nantikan itu adakalanya diadakan lagi&#xD;
makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu, dinamai&#xD;
mangharoani, artinya “menyambut tibanya (sang anak)”. Ada juga yang&#xD;
menyebutnya mamboan aek si unte, karena pihak hula-hula membawa makanan&#xD;
yang akan memperlancar air susu sang ibu.&#xD;
Pada zaman animisme di bona pasogit mengikuti suatu upacara yang&#xD;
dinamai martutu aek, yakni dipermandikan sang bayi ke mata air. Pada hari yang&#xD;
telah ditentukan oleh datu (dukun), pagi-pagi waktu matahari baru terbit.Pada umur belasan tahun, yaitu pada pada waktu seorang pemuda atau&#xD;
pemudi mencapai tahap pubertas, ia harus lagi menempuh ujian mental yang di&#xD;
zaman animisme dinamai mangalontik ipon, sesudah memeluk agama kristen&#xD;
gereja mengharuskan pemuda dan pemudi menempuh ujian setelah mendapat&#xD;
pelajaran agama selama kira-kira satu tahun.&#xD;
Pada saat meninggal, orang Batak pra-kristen memberikan perhatian&#xD;
yang sangat besar kepada peristiwa kematian. Upacara kematian pada masyarakat&#xD;
Batak Toba itu sendiri juga merupakan pengakuan bahwa masih ada kehidupan&#xD;
lain dibalik kehidupan di dunia ini. Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba,&#xD;
alam dibagi atas tiga banua, yaitu : banua ginjang (atas) merupakan banua kuasa&#xD;
kemuliaan Mulajadi Na Bolon, yang dihuni oleh roh-roh suci. Banua tonga&#xD;
(tengah) merupakan alam raya yang dihuni oleh manusia dan makhluk hidup&#xD;
lainnya. Banua toru (bawah) merupakan alam bawah yang penuh penderitaan&#xD;
yang dihuni oleh roh-roh jahat.&#xD;
Keyakinan masyarakat Batak akan adanya hubungan antara orang yang&#xD;
hidup dengan roh orang mati, tercermin dalam berbagai upacara adat yang&#xD;
dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah mati, seperti: manulangi&#xD;
(menyulangi orang yang akan mati), hamatean (kematian), mangongkal holi&#xD;
(menggali tulang belulang), dan pesta pendirian tugu serta pesta tahunan di tugutugu&#xD;
marga. Keyakinan ini merupakan dasar utama bagi diselenggarakannya&#xD;
upacara adat.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Pesan Moral Dalam Komik One Piece Karya Eiichiro Oda</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35361" />
    <author>
      <name>Syafitri, Muhammad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35361</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:30Z</updated>
    <published>2013-03-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Syafitri, Muhammad
Advisors: Pujiono; Kusdiyana, Eman
Abstract: Sastra adalah ekspresi diri kehidupan dengan media bahasa yang khas. Sastra merupakan tulisan bernilai seni mengenai suatu objek, khususnya kehidupan manusia dalam suatu negeri pada suatu masa. Suatu karya sastra selain mengandung unsur hiburan, juga mengandung unsur pendidikan dan pengajaran. Sebuah karya sastra fiksi ditulis oleh pengarang anatara lain untuk menawarkan model kehidupan yang diidealkan. Karya sastra dibedakan atas puisi, drama, dan prosa. Prosa merupakan jenis karya sastra bersifat paparan. Salah satu jenis prosa adalah komik.&#xD;
Komik “One Piece” karya Eiichiro Oda, yang merupakan salah satu komik yang digemari di Jepang. Komik “One Piece” menceritakan mengenai perjalanan Luffy dalam impiannya menjadi raja bajak laut ditemani beberapa anggotanya, Zoro sang pedekar pedang, Sanji sang koki, Usopp sang penembak jitu, Nami sang navigator, Chooper sang dokter, si pembuat kapal Franky, Robin sang arkeolog, dan juga Brook sang musisi.&#xD;
Komik “One Piece” ini sarat akan pesan-pesan moral. Pesan-pesan moral yang ditunjukkan dalam komik ini adalah moral hidup, yang menunjukkan sikap-sikap kepribadian moral yang kuat. Sikap kepribadian moral yang kuat ini terdapat dalam prinsip etika bushido, seperti halnya kejujuran sebagai suatu kekuatan resolusi, keberanian yang merupakan kemampuan untuk mengatasi Universitas Sumatera Utara&#xD;
setiap keadaan dengan keberanian dan keyakinan, kemurahan hati/kebajikan merupakan semangat dalam membangun pribadi kaum samurai dan mencegah mereka dalam berbuat sewenang-wenang, kesopanan yang berkenaan dengan prilaku yang pantas kepada orang lain, kesungguhan agar para samurai tidak semena-mena dalam menggunakan kekuasaan ataupun kekuatannya untuk hal-hal yang tidak wajar, kehormatan/harga diri yang mencerminkan bertambahnya pengalaman hidup dan reputasi, serta kesetiaan dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh tuannya.&#xD;
Komik tentunya mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral. Dari segi moral, sastra bisa dipelajari dan ditelaah dengan menggunakan teori moral.&#xD;
Moral menyangkut hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban dan norma. Teori moral dalam sastra bertolak dari dasar pemikiran bahwa sastra dianggap sebagai suatu medium yang paling efektif membina orang dan kepribadian suatu kelompok masyarakat. Moral pada sebuah karya sastra biasanya dilihat dari segi etika dan kenyakinan, sehingga teori ini cenderung menjerumus kepada segi-segi nilai kepercayaan/keagamaan. Salah satu moral yang mengandung nilai-nilai keagamaan adalah moral Bushido. Moral ini bersumber dari suatu kepercayaan dengan sentuhan Shinto, Zen Budhisim, dan ajaran Konfisius.&#xD;
Moral Bushido, sebagai moral yang disanjung tinggi oleh masyarakat Jepang terdiri dari 7 unsur etika moral yaitu, kejujuran, keberanian, kebajikan, kesopanan, keadilan, kehormatan, dan kesetiaan.&#xD;
Kejujuran, yaitu kekuatan pasti pada setiap langkah tanpa keragu-raguan.&#xD;
Universitas Sumatera Utara&#xD;
Membuat keputusan yang benar dengan alasan yang tepat, yaitu Luffy adalah orang yang memiliki sifat jujur dan selalu berjalan di atas jalan yang ia yakini.&#xD;
Keberanian, yaitu kemampuan untuk mengatasi setiap keadaan dengan kenyakinan yang pasti, yaitu Luffy dengan berani memutuskan untuk menyatakan perang terhadap Pemerintahan Dunia saat menyelamatkan Robin, bahkan ketika agen pemerintah CP9 menghalangi perjalanannya, sedikitpun keberaniaannya tidak ciut. Dia telah siap untuk menghadapi resiko yang akan dihadapinya nantinya.&#xD;
Kebajikan, yaitu sikap mau memberi kasih ataupun memberikan perlindungan dan membela kaum yang lemah yang diperlakukan secara tidak adil, yaitu saat Sanji menolong Gin yang kapalnya telah dihancurkan oleh bajak laut dengan memberikannya makanan, bahkan makanan tersebut diberikan dengan cuma-cuma oleh Sanji.&#xD;
Kesopanan, yaitu sikap menghormati semua orang. Menghargai orang sebagai martabat individu yang berharga, yaitu Luffy tidak pernah menganggap rendah setiap anggotanya, bahkan ia juga selalu bergantung pada anggotanya. Sekalipun Luffy telah terpandang, namun ia tetap menunjukkan sikap sopannya kepada anggotanya.&#xD;
Keadilan, yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang benar, bersikap sama kepada semua orang tanpa melihat status, yaitu Luffy menunjukkan keadilan dengan memutuskan menyelamatkan Smoker yang sebenarnya merupakan Angkatan Laut yang ingin menangkap Luffy. Universitas Sumatera Utara&#xD;
Kehormatan, yaitu penghargaan oleh hasil kerja, yaitu walaupun kalah, Zoro masih memegang kuat kehormatannyanya sebagai seorang pendekar pedang.&#xD;
Kesetiaan, yaitu sikap rela hati untuk melaksanakan tanggung jawab yaitu saat Zoro rela menggantikan nyawa Luffy, kaptennya yang telah dikalahkan oleh Kuma di Floriant Triangle. Kerelaan hatinya menunjukkan sikap setianya terhadap kaptennya yang telah dianggapnya sebagai tuannya.&#xD;
Dari hasil analisis cuplikan komik One Piece dapat disimpulkan bahwa Eiichiro Oda sebagai pengarang, melalui para tokoh ceritanya, ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi hendaknya bisa memahami pentingnya nilai-nilai kepribadian moral sehingga dengan itu, manusia akan lebih bisa bersikap baik dan benar, dan mampu menghadapi setiap hal dalam kehidupan ini secara bijak.</summary>
    <dc:date>2013-03-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Syafitri, Muhammad</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Unsur-Unsur Yang Di Perlukan Dalam Karate-Do Karatedou Ni Okeru Hitsuyouna Youso</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35332" />
    <author>
      <name>Prandana, Hiyochi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35332</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:01Z</updated>
    <published>2013-03-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Prandana, Hiyochi
Advisors: Pujiono, Muhammad
Abstract: Jepang merupakan sebuah negara industri di Asia. Tetapi Jepang bukan hanya dikenal sebagai negara industri, Jepang juga mempunyai berbagai macam budaya dan seni beladiri. Diantara bela diri yang dimaksud adalah Karate-Do, Aikido, Sumo, dan Judo. &#xD;
Jepang merupakan contoh menarik perpaduan harmonis antara modern dan tradisional. Selain itu, Jepang juga dijuluki sebagai “Negeri Matahari Terbit’’ ini tidak hanya memancarkan sinar kemajuan industri dan teknologi, melainkan juga memiliki keunikan budaya yang tidak hilang di tengah arus modernisasi. Nilai-nilai tradisional masyarakat Jepang tersebut senantiasa diaplikasikan diberbagai aspek kehidupan mereka, termasuk dalam berolahraga. Masyarakat Jepang biasanya menggunakan cara-cara khusus tradisional Jepang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berolahraga, misalnya tata cara untuk memulai suatu kegiatan olahraga.</summary>
    <dc:date>2013-03-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Prandana, Hiyochi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>An Analysis Of The Code Mixing Found In “Cewek Matre” Novel</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35331" />
    <author>
      <name>Ginting, Ellin B.R.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35331</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:55Z</updated>
    <published>2013-03-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ginting, Ellin B.R.
Advisors: Muchtar, H. Muhizar; Hanafiah, Ridwan
Abstract: Dalam skripsi yang berjudul An Analysis of the Code Mixing Found in “Cewek Matre” Novel, bertujuan menemukan komponen bahasa yang dominan digunakan dalam campuran kode bahasa Indonesia Inggris yang ada dalam novel “Cewek Matre” yang ditulis oleh Alberthiene Endah dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dianalisis dengan metode descriptif kualitatif. Kemudian hasil analisis dibuat dalam bentuk persentase berdasarkan formula Bungin (2005). Analisis hanya dipokuskan pada componen bahasa pada word, phrase, clause, sentence. Hasil dari analisis ditemukan 327 campur kode  Indonesia Inggris yaitu Word 185, Phrase 87, Clause 18, dan Sentense 37 dan setelah dipersentasikan maka hasil persentase word (56,6 %), phrase (26,6 %), clause (5,5 %), dan campur kode sentence (11,3 %). Maka campur kode yang paling dominan dalam novel Cewek Matre adalah Word (56,6%) dan diikuti Phrase (26,6%). Maka dapat dikatakan novel Cewek Matre adalah salah satu novel yang mengikuti gaya bahasa sesuai perkembangan jaman era globalisasi.</summary>
    <dc:date>2013-03-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ginting, Ellin B.R.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Anna’s Sacrifrices In Jodi Picoult’s Nover My Sister’s Keeper</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35323" />
    <author>
      <name>Reviani Furi, Ruri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35323</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:25Z</updated>
    <published>2013-03-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Reviani Furi, Ruri
Advisors: Lubis, Redita
Abstract: Skripsi ini berudul Anna’s Sacrifices in Jodi Picoult’s Novel, My Sister’s Keeper.&#xD;
Skripsi ini menganalisa tentang pengorbanan-pengorbanan yang dialami oleh tokoh&#xD;
utama, yang bernama Anna. Anna adalah seorang anak yang berusia tiga belas tahun&#xD;
yang lahir karena suatu alasan khusus yaitu untuk menyelamatkan hidup kakaknya&#xD;
Kate yang menderita leukimia akut. Anna telah mengalami operasi yang tak&#xD;
terhitung jumlahnya, transfusi dan suntikan, sehingga kakaknya Kate dapat bertahan&#xD;
dengan penyakit leukimia yang telah dideritanya sejak kecil. Setelah berumur tiga&#xD;
belas tahun, Anna ingin berhenti menjadi donor untuk kakaknya dan menuntut&#xD;
ibunya hak atas tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, walaupun Anna memenangkan&#xD;
kasus dengan pengacara yang disewanya dan merasa senang, tapi kesenangannya&#xD;
tidak berlangsung lama. Karena Anna tewas dalam kecelakaan mobil dalam&#xD;
perjalanan pulang. Dokter menyarankan agar ginjal Anna diambil untuk Kate karena&#xD;
tubuh Anna tidak merespon obat-obatan lagi. Setelah ginjal Anna diambil, akhirnya&#xD;
Anna pun meninggal dunia. Adapun metode yang dipakai penulis dalam penulisan&#xD;
skripsi ini adalah metode analisis deskriptif. Teori pendekatan sastra yang digunakan&#xD;
adalah teori intrinsik oleh Wellek dan Warren. Berdasarkan analisis yang telah&#xD;
penulis lakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Anna melakukan pengorbanan tanpa&#xD;
seorang pun yang bertanya apakah ia bersedia atau tidak, tidak ada yang&#xD;
memperdulikan perasaannya. Akhirnya, walaupun Anna telah mendapatkan hak atas&#xD;
tubuhnya sendiri, kesenangannya tidak berlangsung lama karena kecelakaan yang&#xD;
menimpanya dan berujung kematian, ginjalnya pun diambil untuk Kate. Sehingga&#xD;
walaupun telah wafat Anna tetap menjadi penyokong hidup Kate.</summary>
    <dc:date>2013-03-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Reviani Furi, Ruri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>A Short Happy Moment Of Charlie's Life In Flower For Algernon By Daniel Keyes</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35322" />
    <author>
      <name>Agustina, Rini</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35322</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:58Z</updated>
    <published>2013-03-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Agustina, Rini
Advisors: Marulafau, Siamir
Abstract: Skripsi ini berjudul A Short Happy Moment of Charlie’s Life in Daniel Keyes’s&#xD;
Novel, Flower for Algernon. Skripsi ini menganalisa tentang karakter dua tokoh&#xD;
utama dalam novel. Tokoh utama pertama bernama Charlie dan Tokoh kedua&#xD;
bernama Alice Kinnian. Charlie adalah seorang yang terlahir dengan IQ 68 berusia&#xD;
tiga puluh dua tahun dan bekerja di sebuah toko Roti. Sedangkan Alice adalah Guru&#xD;
Charlie yang mengajar khusus untuk orang yang terbelakang mental. Pendekatan&#xD;
yang digunakan adalah pendekatan intrinsik yaitu menganalisis dua tokoh utama&#xD;
dalam novel berdasarkan teori intrinsik oleh Rene Wellek. Adapun metode yang&#xD;
dipakai penulis dalam penulisan skripsi ini adalah metode analisis deskriptif yang&#xD;
bertujuan menggambarkan karakteristik dari dua tokoh utama . Berdasarkan analisis&#xD;
yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa dua karakter utama tersebut&#xD;
adalah karakter yang bermoral. Dan di akhir skripsi ini terdapat lampiran lampiran&#xD;
yang berupa biografi pengarang dan ringkasan cerita disajikan untuk memudahkan&#xD;
pembaca memahami skripsi ini.&#xD;
Universitas</summary>
    <dc:date>2013-03-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Agustina, Rini</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Upaya Partai Golkar Dalam Menarik Simpati  Rakyat Pada Pemilihan Umum Pada Tahun 1999 Dikabupaten Dairi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35316" />
    <author>
      <name>Nainggolan, Doddy .S.H</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35316</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:45Z</updated>
    <published>2013-03-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nainggolan, Doddy .S.H
Advisors: Ritonga, Timbun
Abstract: Pemilihan umum merupakan sarana demokrasi untuk menentukan wakil rakyat yang akan duduk di parlemen. Melalui pemilu diharapkan mampu membentuk suatu tatanan pemerintahan yang baru yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam Pemilu 1999 masyarakat di Kabupaten Dairi mengharapkan agar pemilu tersebut dapat berlangsung secara aman tanpa adanya intervensi dari pihak manapun&#xD;
	Golkar sebagai salah satu partai peserta pemilu mencoba bersaing dengan “wajah baru” dan paradigm baru untuk mencari simpati rakyat di Kabupaten Dairi. Awalnya, Partai Golkar diperkirakan akan mengalami kemunduran, karena ada anggapan di masyarakat yang menyatakan Partai Golkar akan jatuh seiring dengan jatuhnya orde baru. Akan tetapi anggapan tersebut mampu ditampik oleh Partai Golkar. Hal ini terbukti dari perolehan suara di Kabupaten Dairi yang menempatkan Golkar di urutan pertama dalam perolehan suaranya. &#xD;
	Dalam bidang penulisan skripsi, penulis menggunakan beberapa metode penelitian yaitu, heuristik (pengumpulan data/sumber), kritik sumber (seleksi sumber), interpretasi (analisis sumber), dan historiografi (tahapan penulisan). &#xD;
	Skripsi ini bersifat deskriptif naratif  dimana penulis mencoba mengungkapkan data maupun menceritakan keseluruhan secara mendetail mengenai UPAYA partai golkar dalam menarik simpati rakyat pada pemilu 1999 di kabupaten dairi</summary>
    <dc:date>2013-03-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nainggolan, Doddy .S.H</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Sosiologis Terhadap Tokoh Utama Dalam Novel OUT Karya Natsuo Kirino</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35313" />
    <author>
      <name>Asking</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35313</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:57Z</updated>
    <published>2013-03-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Asking
Advisors: Adrian M., Yuddi; Kusdiyana, Eman
Abstract: Sastra merupakan pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang dalam kehidupan, apa yang telah direnungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung dan kuat, yang pada hakekatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bahasa, Hardjana (2000:10).&#xD;
Demikian juga Wellek dan Warren berpendapat bahwa Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya (1995 : 94).</summary>
    <dc:date>2013-03-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Asking</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Frasa Verba Dalam Novel Sebuah Lorong Di Kotaku Karya NH. Dini : Analisis Teori X-Bar</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35312" />
    <author>
      <name>Aritonang, Sri Yohanna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35312</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:52Z</updated>
    <published>2013-03-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Aritonang, Sri Yohanna
Advisors: Gustianingsih; Mascahaya
Abstract: Penelitian ini mencoba mendeskripsikan perilaku fungsi gramatikal dalam sebuah novel Bahasa Indonesia yang berjudul Sebuah Lorong di Kotaku karya Nh.Dini dalam membentuk struktur FV dalam bahasa Indonesia. Teori yang digunakan adalah teori X-bar yang merupakan bagian dari Tata Bahasa Generatif. Dalam pengumpulan data digunakan metode metode simak yang didukung oleh teknik catat. Pada pengkajian data digunakan metode agih dengan teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung dan teknik lanjutan berupa teknik lesap, teknik ganti, dan teknik balik. Disimpulkan bahwa struktur internal frasa verba dalam novel Sebuah Lorong di Kotaku dibentuk oleh komplemen, keterangan, dan specifier. Kaidah struktur FV dalam novel Sebuah Lorong di Kotaku berjumlah 12 kaidah, yaitu:&#xD;
FV        Inti , FV        Inti + Komp , FV    Inti + Komp + Ket , FV       Asp + Inti + Komp , FV       Inti + Spec , FV       Ket + Inti + Komp , FV       Inti + Komp + Ket , FV       Ket + Inti + Ket , FV       Inti + Komp + Spec , FV       Spec + Inti + Ket + Spec , FV       Inti + Komp + Spec , FV        Spec + Inti + Komp + Ket.</summary>
    <dc:date>2013-03-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Aritonang, Sri Yohanna</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Implikatur Tindak Tutur Humor Abang Jampang di Harian SIB</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35311" />
    <author>
      <name>Manurung, Ida Vandayani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35311</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:48Z</updated>
    <published>2013-03-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Manurung, Ida Vandayani
Advisors: Siregar, Asrul; Sulaiman, Aiyub
Abstract: Penelitian ini berjudul ”Implikatur Tindak Tutur Humor Abang Jampang di Harian SIB”. Metode yang digunakan adalah  metode padan dengan menggunakan data homor Abang Jampang yang terdapat pada harian Sib. Data kemudian dianalisis dengan teori H.Paul Grice dan searle yang digunakan sebagai kerangka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan implikatur tindak tutur yang terdapat pada humor abang jampang dan menganalisis implikatur dan tindak tutur tang terdapat pada humor abang jampang.  Teori yang digunakan adalah bagian dari pragmatik yaitu teori implikatur  oleh H.Paul Grice dan tindak tutur oleh Searle. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa implikatur yang terkandung dalam bahasa homor abang jampang  cenderung mengarah pada sindiran. Selain implikatur dalam homor abang jampang juga ditemukan tindak tutur. Berdasarkan lima kategori yang di kemukakan Searle, dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan humor abang jampang cenderung kedalam ilokusi ekspresif, yaitu ilokusi yang berfungsi mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi.</summary>
    <dc:date>2013-03-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Manurung, Ida Vandayani</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisys Of The Main Character In Oliver Bowden’s Novel Assassin’s Creed Renaissance</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35297" />
    <author>
      <name>Fadillah, Tengku Danu Rizky</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35297</id>
    <updated>2013-03-16T20:19:07Z</updated>
    <published>2013-03-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fadillah, Tengku Danu Rizky
Advisors: Sembiring, Matius .C.A
Abstract: This paper entitled “The Analysis of Main Characters In Oliver Bowden’s Novel Assassin’s Creed Renaissance. This novel tells the story of a boy who did everything possible to defend the dignity of his family who had been in slander and sentenced to death. There are four main characters in the novel “Assassin’s Creed Renaissance” namely: Ezio Auditore da Firenze, Cristina Calfucci, Leonardo da Vinci, and Rodrigo Borgia. Ezio is the son of Giovanni Auditore who is the owner of the largest banks in the city of Florence and later in the know also is a member of the assassins group and the one who knew about Rodrigo’s conspiracy. Leonardo da Vinci played a major role as a good friend of Ezio and manufacturer or provider of equipment for Ezio. Cristina Calfucci is the lover of Ezio and also problem and encouragement for Ezio. Rodrigo Borgia is a man who has been looking for revenge Ezio. In the writing of this paper the author’s work using a librarian method, which is reading the novel “Assassin’s Creed Renaissance” and study books by literary theory. In addition, the author took some data from the internet about the biography of the author of the novel.
Abstract (other language): Paper ini berjudul “The Analysis of The Main Characters In Oliver Bowden’s Novel “Assassins’s Creed Renaissance”. Novel ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang berjuang demi membela harkat dan martabat keluarganya yang telah di fitnah dan di hukum mati. Ada empat tokoh utama dalam novel “Assassin’s Creed Renaissance” Yaitu : Ezio Auditore De Firenze, Cristina Calfucci, Leonardo da Vinci, dan Rodrigo Borgia. Ezio adalah anak dari Giovanni, seorang pemilik bank terbesar di kota Florence yang ternyata adalah seorang anggota assassin dan mengetahui monopoli yang dilakukan oleh Rodrigo. Leonardo da Vinci berperan besar sebagai teman baik Ezio dan pembuat atau penyedia perlengkapan untuk Ezio. Cristina Calfucci adalah kekasih Ezio yang menjadi masalah sekaligus penyemangat Ezio. Rodrigo Borgia adalah orang yang selama ini Ezio cari untuk membalaskan dendamnya. Dalam penulisan kertas karya ini penulis menggunakan metode perpustakaan, yaitu membaca novel “Assassin’s Creed renaissance” dan mempelajarinya berdasarkan buku-buku teori kesastraan. Disamping itu, penulis mengambil beberapa data dari internet mengenai biografi pengarang novel tersebut.</summary>
    <dc:date>2013-03-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fadillah, Tengku Danu Rizky</dc:creator>
    <dc:description>Paper ini berjudul “The Analysis of The Main Characters In Oliver Bowden’s Novel “Assassins’s Creed Renaissance”. Novel ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang berjuang demi membela harkat dan martabat keluarganya yang telah di fitnah dan di hukum mati. Ada empat tokoh utama dalam novel “Assassin’s Creed Renaissance” Yaitu : Ezio Auditore De Firenze, Cristina Calfucci, Leonardo da Vinci, dan Rodrigo Borgia. Ezio adalah anak dari Giovanni, seorang pemilik bank terbesar di kota Florence yang ternyata adalah seorang anggota assassin dan mengetahui monopoli yang dilakukan oleh Rodrigo. Leonardo da Vinci berperan besar sebagai teman baik Ezio dan pembuat atau penyedia perlengkapan untuk Ezio. Cristina Calfucci adalah kekasih Ezio yang menjadi masalah sekaligus penyemangat Ezio. Rodrigo Borgia adalah orang yang selama ini Ezio cari untuk membalaskan dendamnya. Dalam penulisan kertas karya ini penulis menggunakan metode perpustakaan, yaitu membaca novel “Assassin’s Creed renaissance” dan mempelajarinya berdasarkan buku-buku teori kesastraan. Disamping itu, penulis mengambil beberapa data dari internet mengenai biografi pengarang novel tersebut.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>The Analysis Of The Main Characters In Judith Cutler’s Novel “ Staying Power”</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35250" />
    <author>
      <name>Suharto, Dedy</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35250</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:11Z</updated>
    <published>2013-03-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Suharto, Dedy
Advisors: Marulafau, Siamir
Abstract: The novel is one of prose that tells a story about experiences, thoughts, feelings, ideas, spirits, and contains a spesific message to the reader.&#xD;
Judith Cutler is a famous writer from United Kingdom who has written many novels, one of which is Staying Power.The outhor chooses this novel to be analyzed because of Judith Cutler’s Novel is a masterpiece in English Literature. Judith Cutler’s Novel tells the story about Kate Power as detective . On her way home from a holiday, She meets Alan Grafton, who exports Italian leather products. A few days later Kate horrified to learn that Alan has been found hanging from a bridge, an apparent suicide victim. What Kate can’t understand is why someone so positive would kill himself. Could he has been murdered ? Effectively mixi9ng Kate’s attempts to solve this vexing case with her other personal and professional challenges, Cutler keeps readers involved in the well-crafted story while delivering nicely detailed look at cop-shop life.In working on this paper, the method pursued is the study of literature by using the books as relevant sources and information from the Internet. In analyzing the novel, the author applies an approach that focuses on text analysis.
Abstract (other language): Novel adalah salah satu karangan prosa yang besifat cerita dan yang menceritakan suatu pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, dan mengadung pesan tertentu kepada pembacanya.&#xD;
Judith cutler adalah penulis terkenal dari Inggris yang telah menuliskan banyak novel kriminal,Salah satunya adalah staying power.Penulis memilih novel ini untuk dianalisis karena novel dari judith cutler ini adalah karya besar di kesusastraan Inggris. Novel karangan judith cutler ini menceitakan tentang Kate Power, seorang detektif pembunuhan. Pada perjalanan pulang dari liburan, dia bertemu Alan Grafton, yang mengekspor produk kulit Italia.Beberapa hari kemudian Kate melihat bahwa Alan telah ditemukan tergantung di jembatan, seorang korban bunuh diri. Apa yang Kate tidak bisa mengerti adalah mengapa orang yang begitu baik akan bunuh diri. Mungkinkah ia telah dibunuh? Efektif pencampuran upaya Kate untuk menyelesaikan kasus ini berbelit dengan tantangan lainnya secara pribadi dan profesional, Cutler membuat pembaca terlibat dalam cerita yang dikarang dengan baik sementara memberikan tampilan yang baik dan rinci.Dalam mengerjakan tulisan ini, metode yang di tempuh adalah studi kepustakaan dengan memanfaatkan buku-buku sebagai sumber yang relevan serta informasi dari internet.Sedangkan untuk menganalisis novel, penulis menerapkan pendekatan yang fokus pada analisis teks.</summary>
    <dc:date>2013-03-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Suharto, Dedy</dc:creator>
    <dc:description>Novel adalah salah satu karangan prosa yang besifat cerita dan yang menceritakan suatu pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, dan mengadung pesan tertentu kepada pembacanya.&#xD;
Judith cutler adalah penulis terkenal dari Inggris yang telah menuliskan banyak novel kriminal,Salah satunya adalah staying power.Penulis memilih novel ini untuk dianalisis karena novel dari judith cutler ini adalah karya besar di kesusastraan Inggris. Novel karangan judith cutler ini menceitakan tentang Kate Power, seorang detektif pembunuhan. Pada perjalanan pulang dari liburan, dia bertemu Alan Grafton, yang mengekspor produk kulit Italia.Beberapa hari kemudian Kate melihat bahwa Alan telah ditemukan tergantung di jembatan, seorang korban bunuh diri. Apa yang Kate tidak bisa mengerti adalah mengapa orang yang begitu baik akan bunuh diri. Mungkinkah ia telah dibunuh? Efektif pencampuran upaya Kate untuk menyelesaikan kasus ini berbelit dengan tantangan lainnya secara pribadi dan profesional, Cutler membuat pembaca terlibat dalam cerita yang dikarang dengan baik sementara memberikan tampilan yang baik dan rinci.Dalam mengerjakan tulisan ini, metode yang di tempuh adalah studi kepustakaan dengan memanfaatkan buku-buku sebagai sumber yang relevan serta informasi dari internet.Sedangkan untuk menganalisis novel, penulis menerapkan pendekatan yang fokus pada analisis teks.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Gaya Bahasa Perbandingan Pada Kisah Syamsuddin Al-Mashri Dan Nuruddin Al-Masyari Pada Buku “ ألف ليلة و ليلة” /Alfu Lailatin Wa Lailatin Karya Thaha Abdul Rauf Sa’Ad</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35215" />
    <author>
      <name>Abdul Rahman S.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35215</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:31Z</updated>
    <published>2013-03-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Abdul Rahman S.
Advisors: Suri, Nur Sukma; Shaleh, Bahrum
Abstract: ى الكتاب الف ليلة وليلة الصناعة طه عبد الروف سعد.     	  	&#xD;
تحليل اْسلوب اللغة المقارنة احدى الدراسية عن يعرف استعمال اللغة و الجمال اللغوية فى عبارة ولتحصل على النتيجة معين. المسئلة التي توقيق هي كيف صيغة اْسلوب اللغة المقارنة فى قصة شمس الدين المصر و نور الدين البصر فى الكتاب الف ليلة وليلة الصناعة طه عبد الروف سعد و ان يعرف كم الجملة اسلوب المقارنة. و هذا التحقيق لهدف كيف صيغة اسلوب المقارنة فى قصة شمس الدين المصر و نورالدين البصر فى الكتاب الف ليلة و ليلة الصناعة طه عبد الروف سعد. النظرية التى فى هذه التحقيق هي عن الاْسلوب المقارنة بيراجع النظرية هنرى غنطور طريغان. و فيها تشكل التحقيق المكتبية يعنى التحقيق الذى ياْخذ عن التحقيق مواد التحقيق عن مراجع و ينصر هذا التحقيق. مقصود التحقيق يدل عن اسلوب اللغة المقارنة فى قصة شمس الدين المصر و نور الدين البصر فى الكتاب الف ليلة وليلة هي بكثرة احد و عشرون الجمل يعنى : التثبية  بقدر 6 (ستة) الجمل و  استعارة بقدر 1 ( احد ) الجملة  , و تشخيص بقدر 2 (اثنان) الجملة, و التمدية بقدر 2 (اثنان) الجملة, و حكاية رمزية بقدر 2 (اثنان) الجملة , و طباق بقدر 3 (ثلاثة) الجمل, و اطناب بقدر 3 (ثلاثة) الجمل, و توقع 2 (اثنان) الجملة  . و فى هذا التحقيق الكاتب لا يوجد عن اقسام الاْسلوب اللغة المقارنة الاْخر كاْسهاب واضراب.
Abstract (other language): Analisis gaya bahasa perbandingan merupakan suatu kajian tentang mengetahui penggunaan bahasa serta keindahan berbahasa pada suatu ungkapan dan juga untuk mendapatkan suatu efek tertentu. Permasalahan yang diteliti adalah tentang bagaimana bentuk gaya bahasa perbandingan pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri didalam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin karya Thaha Abdur Rauf Sa’ad dan juga untuk mengetahui berapa banyak jumlah gaya bahasa perbandingannya. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk gaya bahasa perbandingan dan berapa jumlah gaya bahasa perbandingan pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri di dialam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin karya Thaha Abdur Rauf Sa’ad. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori tentang gaya bahasa dengan merujuk teori Henry Guntur Tarigan, Dan juga pada penelitian ini merupakan penelitian kepustakaaan (library research) yaitu penelitian yang mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa referensi yang ada dan dapat membantu penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa perbandingan yang terdapat pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri di dialam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin adalah sebanyak 21 (dua puluh satu) kalimat, yaitu : Perumpamaan / التثبيه ada 6 (enam) kalimat, Metafora / استعارة ada 1 (satu) kalimat, Personifikasi / تشخيص ada 2 (dua) kalimat, Depersonifikasi ada 2 (dua) kalimat, Alegori  / حكاية رمزية ada 2 (dua) kalimat, Antitesis /طبا ق ada 3 (tiga) kalimat, Perifrasis /   إطنابada 3 (tiga) kalimat,  sedangkan Antisipasi /  توقّعada 2 (dua) kaliamat. Dan pada penelitian ini juga penulis tidak menemukan bahagian dari gaya bahasa perbandingan yaitu Pleonasme / اسها ب dan Koreksio / إضراب.</summary>
    <dc:date>2013-03-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Abdul Rahman S.</dc:creator>
    <dc:description>Analisis gaya bahasa perbandingan merupakan suatu kajian tentang mengetahui penggunaan bahasa serta keindahan berbahasa pada suatu ungkapan dan juga untuk mendapatkan suatu efek tertentu. Permasalahan yang diteliti adalah tentang bagaimana bentuk gaya bahasa perbandingan pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri didalam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin karya Thaha Abdur Rauf Sa’ad dan juga untuk mengetahui berapa banyak jumlah gaya bahasa perbandingannya. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk gaya bahasa perbandingan dan berapa jumlah gaya bahasa perbandingan pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri di dialam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin karya Thaha Abdur Rauf Sa’ad. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori tentang gaya bahasa dengan merujuk teori Henry Guntur Tarigan, Dan juga pada penelitian ini merupakan penelitian kepustakaaan (library research) yaitu penelitian yang mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa referensi yang ada dan dapat membantu penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa perbandingan yang terdapat pada kisah Syamsuddin Al-Mashri dan Nuruddin Al-Bashri di dialam buku ألف ليلة و ليلة / 'alfu laylatin wa laylatin adalah sebanyak 21 (dua puluh satu) kalimat, yaitu : Perumpamaan / التثبيه ada 6 (enam) kalimat, Metafora / استعارة ada 1 (satu) kalimat, Personifikasi / تشخيص ada 2 (dua) kalimat, Depersonifikasi ada 2 (dua) kalimat, Alegori  / حكاية رمزية ada 2 (dua) kalimat, Antitesis /طبا ق ada 3 (tiga) kalimat, Perifrasis /   إطنابada 3 (tiga) kalimat,  sedangkan Antisipasi /  توقّعada 2 (dua) kaliamat. Dan pada penelitian ini juga penulis tidak menemukan bahagian dari gaya bahasa perbandingan yaitu Pleonasme / اسها ب dan Koreksio / إضراب.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Realisasi Budaya Malu Masyarakat Jepang Dilihat Dari Pertanggung Jawaban Bangsa Jepang Terhadap Korban Jugun Ianfu Di Indonesia Pasca Perang Dunia II</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35205" />
    <author>
      <name>Manik, Samuel H. M.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35205</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:35Z</updated>
    <published>2013-02-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Manik, Samuel H. M.
Advisors: Zulnaidi; Kusdiyana, Eman
Abstract: Budaya adalah sesuatu yang semiotik, tidak terlihat dan bersifat abstrak. Beberapa contoh budaya Jepang adalah budaya balas budi (giri), budaya senioritas (nenkoujoretsu), budaya malu, dan sebagainya. Oleh karena itu, penulis didalam skripsi ini akan menganalisis tentang budaya malu masyarakat Jepang.&#xD;
Malu adalah suatu reaksi psikologis yang timbul karena adanya kritik dari orang lain, atau timbul pada saat ditertawakan orang lain. Rasa malu berarti mengutamakan penilaian masyarakat pada umumnya.</summary>
    <dc:date>2013-02-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Manik, Samuel H. M.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>The Analysis Of Leading Character Conflict In My Sister Keeper By Jodi Picoult</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35198" />
    <author>
      <name>Silvia, Dara</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35198</id>
    <updated>2013-03-16T20:19:05Z</updated>
    <published>2013-02-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Silvia, Dara
Advisors: Lubis, Swesana Mardia; Ganie, Rohani
Abstract: Skripsi ini berjudul “ The Analysis of Leading Character Conflict In My Sister Keeper by Jodi Picoult “. Analisis ini mengenai konflik baik proses bagaimana terjadinya konflik yang terdapat pada cerita karangan Jodi Picoult yg berjudul My Sister Keeper. Di dalam skripsi ini saya ingin menunjukkan mengapa konflik itu terjadi dan bagaimana perkembangan konflik yang ada di dalam cerita ini. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode analisis deskriptif. Hal ini dapat saya buktikan dengan menganalisis proses konflik yang terdapat dalam cerita novel My Sister Keeper.</summary>
    <dc:date>2013-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Silvia, Dara</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pantun Pada Ucapan Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Berdagai Kajian: Estetika</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35197" />
    <author>
      <name>Pinky</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35197</id>
    <updated>2013-03-16T20:19:04Z</updated>
    <published>2013-02-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pinky
Advisors: Mulyani, Rozanna; Damanik, M. Ramlan
Abstract: Penelitian ini berjudul ” Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika.” adalah untuk mengetahui struktur Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah:&#xD;
1.	Struktur  Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika.&#xD;
2.	Bagaimana nilai estetika yang terdapat dalam Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika.&#xD;
Dan adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut:&#xD;
1.	Menjelaskan struktur Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika.&#xD;
2.	Menjelaskan nilai-nilai estetika dalam Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika.&#xD;
Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif yakni untuk memaparkan segala sesuatu yang berkaitan dalam Pantun Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Melayu Serdang Bedagai, Kajian Estetika. dan metode yang digunakan dalam menganalisis data digunakan dua metode yaitu:&#xD;
1.	Metode intrinsik yakni, menganalisis data berdasarkan unsur intrinsik meliputi penganalisisan struktural batin yang meliputi nada, rima, atau pun alur.&#xD;
2.	Metode ekstrinsik yakni, menganalisis data-data ekstrinsik dari pantun tersebut yaitu nilai-nilai keindahan (estetis) yang meliputi kesatuan, keharmonisan, keseimbangan, dan fokus atau penekanan yang tepat.&#xD;
Analisis menggunakan teori Estetika, dan teori Struktural sebagai landasan penulis.adapun hasil dari penulisan skripsi ini dapat disimpulkan bahwa struktur estetika pantun pada upacara perkawinan masyarakat Melayu Serdang Bedagai antara lain:&#xD;
Diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, tema, nada, amanat, rasa.&#xD;
Sedangkan nilai estetika yang terdapat pada pantun dapat dilihat dari nilai kesatuan, nilai keharmonisan, nilai keseimbangan, dan fokus atau penekanannya.</summary>
    <dc:date>2013-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pinky</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>An Analysis Of Passive Voice Found In The Inside Sumatra Magazine</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35158" />
    <author>
      <name>Simanjuntak, Priskawati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35158</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:40Z</updated>
    <published>2013-02-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanjuntak, Priskawati
Advisors: Husni, Chairul; Tarigan, Bahagia
Abstract: Skripsi ini berjudul An analysis of Passive Voice found on the magazine of the Insede Sumatera. Penulis membahas tentang analisis tata bahasa yang berkenaan dengan penggunaan passive voice dalam suatu kalimat. Dalam analysis ini permasalahan dibatasi pada klasifiksi kalimat pasif yang tedapat pada majalah, mencoba tahu mengapa kalimat itu digunakan, tenses yang digunakan dalam kalimat Passive voice tersebut dan terakhir mencari kalimat pasif yang dominan digunakan pada pada majalah. Majalah yang dianalisis adalah The Inside Sumatera edisi February 2009 dan Oktober 2010. Dalam  penulisan skripsi ini, metode yang digunakan adalah metode kepustakaan  yaitu data tertulis yang diambil dari majalah Inside Sumatera.&#xD;
Dari analysis yang dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat 123 kalimat pasif yang 103 (83,7 %) kalimat pasif tersebut di klasifikasikan pada Non – Agentive Pasif, 53 (43,1 %) kalimat pasif tersebut menggunakan Past Tense sebagai tensesnya, dan kalimat pasif yang dominan dipakai dari majalah tersebut adalah kalimat Regular pasif 90 (73,2 %) atau kalimat pasif yang menggunakan kata kerja bentuk III (Past Participle) yang Regular.</summary>
    <dc:date>2013-02-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanjuntak, Priskawati</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>An Error Analysis Of Passive Voice&#xD;
Made By The Second Year Student Of SMA Negeri 1 Sigunung Pakpak Bharat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35094" />
    <author>
      <name>Bancin, Ermida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35094</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:35Z</updated>
    <published>2013-02-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bancin, Ermida
Advisors: Rangkuti, Rahmadsyah; Sembiring, Matius CA
Abstract: Salah satu pelajaran bahasa inggris yang harus dipelajari oleh siswa adalah&#xD;
mengenai grammar. Skripsi yang berjudul “An Error Analysis Of Passive Voice&#xD;
Made By The Second Year Student Of SMA Negeri 1 Sigunung Pakpak Bharat”. Ini&#xD;
adalah analisis terhadap kemampuan siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Pakpak Bharat&#xD;
untuk menguasai pengetahuan tentang grammar, khususnya passive voice. Tujuan&#xD;
dari analisis ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa siswa&#xD;
tersebut mengenai passive voice. Rumusan masalah dari analisis ini adalah “sejauh&#xD;
mana kemampuan siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Sigunung Pakpak Bharat menguasai&#xD;
tentang penggunaan passive voice”. Batasan dari analisis ini adalah untuk&#xD;
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa tersebut dalam penguasaan pelajaran&#xD;
passive voice serta kesalahan kesalahan dalam penulisan. Analisis ini menggunakan&#xD;
metode deskriptif quantitatif dari teori Guy, yang menggunakan sampel atau&#xD;
pengumpulan data 15%.</summary>
    <dc:date>2013-02-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bancin, Ermida</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>An Analysis of Translating Phrasal Verbs from “Fallen” by Lauren Kate into “Terkutuk” by Fanny Yuanita</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35086" />
    <author>
      <name>Mealittza, Dhea</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35086</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:28Z</updated>
    <published>2013-02-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Mealittza, Dhea
Advisors: Muchtar, Muhizar; Rangkuti, Rahmadsyah
Abstract: Skripsi ini berjudul An Analysis of Translating Phrasal Verbs from “Fallen”&#xD;
By Lauren Kate into “Terkutuk” By Fanny Yuanita. Skripsi ini menganalisis&#xD;
prosedur terjemahan yang digunakan dalam penerjemahan phrasal verbs pada novel&#xD;
Lauren Kate yang berjudul Fallen ke dalam Bahasa Indonesia “Terkutuk ”oleh&#xD;
Fanny Yuanita. Data yang ada di indentifikasikan menurut teori prosedur&#xD;
penerjemahan dari Vinay dan Dalbernet (2000:84-93). Metode penerjemahan yang&#xD;
dimaksud adalah: peminjaman (borrowing), calque, terjemahan kata-perkata (literal&#xD;
translation), transposisi (transposition), modulasi (modulation), ekuivalen&#xD;
(equivalence), dan adaptasi (adaptation). Dari penelitian yang dilakukan, telah&#xD;
ditemukan 265 phrasal verbs yang diterjemahkan melalui prosedur penerjemahan&#xD;
Vinay dan Dalbernet, dan prosedur yang paling dominan digunakan adalah prosedur&#xD;
penerjemahan ekuivalen (equivalence) sebanyak 123 phrasal verbs yaitu 46.41%.</summary>
    <dc:date>2013-02-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Mealittza, Dhea</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Upacara Dan Makna Minum Teh Bagi Masyarakat Tionghoa</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35071" />
    <author>
      <name>Ginting, Asty Perbina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35071</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:09Z</updated>
    <published>2013-02-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ginting, Asty Perbina
Advisors: Hati, Lila Pelita; Julina, Laoshi
Abstract: The  title of this research is “ Upacara dan Makna Minum Teh bagi Masyarakat Tionghoa”. In this research, the writer is trying to description tradition and meaning of Tea Ceremony in ethnic Tionghoa. Due the title, there are some concepts written in chapter two, they are ceremony, kind of tea, ethnic Tionghoa.. The theory used in this paper is function of culture and ceremony theory  that is used to analysis the function and meaning of tea ceremony in many Chinese tradition. The methodology used on the research to describe the data is descriptive. In the last chapter, the result of the analysis shows that the tea ceremony usually can be see on Chinese tradition, such as wedding ceremony,gong fu cha ceremony,dao cha ceremony, wu wo ceremony and ancestor veneration ceremony. All of the tea ceremony shows that tea ceremony is very important in chinese tradition and give some meaning.</summary>
    <dc:date>2013-02-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ginting, Asty Perbina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Kata Penghubung He (和), Gen ( 跟) Dan Yu (与) Dalam Kalimat Bahasa Mandarin</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35066" />
    <author>
      <name>Tarigan, Cicilia Aprilina Kartika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35066</id>
    <updated>2013-03-16T20:13:54Z</updated>
    <published>2013-02-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tarigan, Cicilia Aprilina Kartika
Advisors: Purba, Parlindungan; Ling, YuXue
Abstract: The tittle of this paper is “Analisis Kata Penghubung He, Gen, dan Yu  dalam Kalimat Bahasa Mandarin. Researcher analyzes the use of Chinese cunjuctions, he, gen, yu in Chinese sentences. Actually he, gen and yu have the same meaning but differently in their own characteristics. The concepts of the thesis are The methodology on the thesis is descriptive method. The author analyze about characteristic and similarities and differences of cunjuctions, hen, gen, and yu. By this, author is try to provide a reference for the students who learn Mandarin and reduces errors that occurred.</summary>
    <dc:date>2013-02-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tarigan, Cicilia Aprilina Kartika</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Business Center Dalam Meningkatkan Pendapatan Front Office Department Di Hotel Aryaduta Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35018" />
    <author>
      <name>Prawira, Dwi Ananda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35018</id>
    <updated>2013-03-16T20:13:17Z</updated>
    <published>2013-01-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Prawira, Dwi Ananda
Advisors: Tanjung, Hasrun; Manday, Marzaini
Abstract: Sebuah hotel yang baik adalah yang mampu mendapatkan keuntungan dengan memberikan kepuasan bagi para tamunya dengan memenuhi kebutuhan dan keinginannya selama berada dalam lingkungan hotel atau pada saat menginap untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan tamu tersebut. Aryaduta Hotel sesuai dengan lokasinya adalah hotel yang terletak di pusat kota ( City Hotel ), yang pusat layanananya terutama pada tamu bisnis dan pengusaha yang memerlukan fasilitas. Fasilitas yang dibutuhkannya selama menginap di hotel ialah fasilitas berupa Business Center, Business Center ialah sub-departemen dari Front Office Department, dan perannya sangat penting terutama untuk City Hotel. Karena tamu City Hotel kebanyakan berasal dari pebisnis dan pengusaha, dan mereka dapat memberikan kontribusi pendapatan hotel melalui, pemakaian internet, fotocopy, faximile, Email, telepon, penerjemah, secretariat service, dan sebagainya.</summary>
    <dc:date>2013-01-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Prawira, Dwi Ananda</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Departemen Sumber Daya Manusia Dalam Meningkatkan Efesiensi Dan Kinerja Karyawan Di Hotel JW Marriott Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35017" />
    <author>
      <name>Kemal, M. Arya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35017</id>
    <updated>2013-03-16T20:13:14Z</updated>
    <published>2013-01-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kemal, M. Arya
Advisors: Nasution, Rizky Hadi; Azhar, Ridwan
Abstract: Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di negara maju maupun negara berkembang sangat ditentukan oleh peranan dan perkembangan Departemen Sumberdaya Manusia. Fungsi utama Departemen Sumberdaya Manusia adalah melatih dan menyediakan karyawan yang kompeten dan professional yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan atau tamu. Kompetensi adalah sebuah persaingan terhadap apa yang seseorang harus lakukan ditempat dimana ia bekerja untuk menunjukkan pengetahuan, kualitas, dan keterampilan yang dimiliki sesuai standar yang ditentukan dalam mencapai tujuan umum perusahaan yaitu keuntungan. Industri hotel merupakan merupakan industry pelayanan atau Hospitality, karena segala keberhasilannya sangat ditentukan oleh kepuasan tamu yang dilayaninya. Oleh karena itu salah satu sikap yang yang harus dimiliki oleh karyawan, baik itu dari tingkat manajemen puncak hingga manajemen terbawah harus memiliki sifat melayani. Departemen Sumberdaya Manusia JW Marriott Medan harus memiliki sistem-sistem yang paripurna dalam menangani hal-hal kepegawaian yang sangat penting dalam menjalankan operasional dan meningkatkan keahlian serta kesadaran dalam melayani tamu yang sesuai dengan standard operational procedure.</summary>
    <dc:date>2013-01-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kemal, M. Arya</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Fungsi Dan Makna Kuai Zi (Sumpit) Pada Masyarakat Tionghoa Di Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35014" />
    <author>
      <name>Lestari, Nur Afdia Wulan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35014</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:49Z</updated>
    <published>2013-01-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lestari, Nur Afdia Wulan
Advisors: Takari, Muhammad; Xueling, Yu
Abstract: This thesis aims to analyze of function and meaning of chopsticks in Tionghoa Medan City culture. To analyze chopsticks’s functions in Tionghoa Medan City culture, I use functionalism theory both from Malinowski and Radcliffe-Brown. Then, to analyze meaning of chopsticks I use semiotic theory both from Saussure and Barthes. I use library research methode and technique qualitative, based on interview, observation, participant observer, and choose key informants who know very much about chinese chopsticks. The scientific conclussions are: (a)
Abstract (other language): Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis tentang fungsi dan makna sumpit pada masyarakat Tionghoa di kota Medan. Untuk menganalisis fungsi sumpit digunakan teori fungsionalismenya Malinowski dan Radcliffe-Brown. Sedangkan untuk menganalisis makna sumpit digunakan teori semiotik dari Saussure dan Barthes. Metode dan teknik yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan berdasar kepada studi kepustakaan, wawancara, observasi, pengamatan terlibat (participant observer), dan menggunakan informan kunci yang dipandang menguasai tentang penggunaan sumpit pada masyarakat Tionghoa. Temuan saintifik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (a) fungsi sumpit sebagai alat makan saat ini semakin digemari, tidak hanya oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga oleh masyarakat pribumi. Dan sudah banyak dijumpai rumah makan Indonesia di kota Medan yang menyediakan sumpit sebagai alat makan. (b) keindahan sumpit membuatnya memiliki satu fungsi baru, yaitu sebagai seni dan sebagai suatu karya seni, sumpit dapat dianggap sebagai hasil seni. (c) sumpit memiliki nilai lebih dibandingkan alat makan lain, karena karakteristiknya yang praktis, sederhana, dan mengandung ilmu pengetahuan. (d) sumpit pernah menjadi sumber inspirasi di bidang teknologi.</summary>
    <dc:date>2013-01-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lestari, Nur Afdia Wulan</dc:creator>
    <dc:description>Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis tentang fungsi dan makna sumpit pada masyarakat Tionghoa di kota Medan. Untuk menganalisis fungsi sumpit digunakan teori fungsionalismenya Malinowski dan Radcliffe-Brown. Sedangkan untuk menganalisis makna sumpit digunakan teori semiotik dari Saussure dan Barthes. Metode dan teknik yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan berdasar kepada studi kepustakaan, wawancara, observasi, pengamatan terlibat (participant observer), dan menggunakan informan kunci yang dipandang menguasai tentang penggunaan sumpit pada masyarakat Tionghoa. Temuan saintifik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (a) fungsi sumpit sebagai alat makan saat ini semakin digemari, tidak hanya oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga oleh masyarakat pribumi. Dan sudah banyak dijumpai rumah makan Indonesia di kota Medan yang menyediakan sumpit sebagai alat makan. (b) keindahan sumpit membuatnya memiliki satu fungsi baru, yaitu sebagai seni dan sebagai suatu karya seni, sumpit dapat dianggap sebagai hasil seni. (c) sumpit memiliki nilai lebih dibandingkan alat makan lain, karena karakteristiknya yang praktis, sederhana, dan mengandung ilmu pengetahuan. (d) sumpit pernah menjadi sumber inspirasi di bidang teknologi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>The Values Of Aek Sipitu Dai In Limbong For Batak Society</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34998" />
    <author>
      <name>Samosir, Fredrika Evelin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34998</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:56Z</updated>
    <published>2013-01-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Samosir, Fredrika Evelin
Advisors: Mono, Umar
Abstract: Aek Sipitu Dai is one of historical places in Samosir Island. Aek Sipitu Dai means seven tastes of water from seven springs which have been joined in one place. There are seven uses and meanings this water. Seven is the magic number for  Batak. Aek Sipitu Dai is located in Limbong, Sianjurmula-mula. The Batak tribe believe that Sianjurmula-mula is the first place occupied by The King of Batak. Aek Sipitu Dai is made by Langgat Limbong, descendant of The King of Batak. Aek Sipitu Dai has three values: Material Value, Vital Value, Spiritual Value. Aek Sipitu Dai has the own story about the meeting of Si Boru Pareme and Si Raja Lontung. Then they got married and had seven children.
Abstract (other language): Aek Sipitu Dai adalah salah satu tempat bersejarah di Pulau Samosir. Aek Sipitu Dai memiliki arti tujuh rasa dari tujuh pancur yang bergabung dalam satu tempat dan memiliki tujuh peraturan dalam penggunaannya. Aek Sipitu Dai terletak di Limbong,Sianjurmula-mula. Masyarakat Batak mempercayai bahwa Sianjurmula-mula adalah tempat pertama yang ditempati oleh Si Raja Batak. Aek Sipitu Dai dibuat oleh Langgat Limbong,keturunan dari Si Raja Batak. Bagi masyarakat sekitar Aek Sipitu Dai dipergunakan sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari bahkan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Aek Sipitu Dai memiliki cerita tentang bertemunya Si Boru Pareme dengan Si Raja Lontung. Kemudian merekan menikah dan memiliki tujuh anak.</summary>
    <dc:date>2013-01-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Samosir, Fredrika Evelin</dc:creator>
    <dc:description>Aek Sipitu Dai adalah salah satu tempat bersejarah di Pulau Samosir. Aek Sipitu Dai memiliki arti tujuh rasa dari tujuh pancur yang bergabung dalam satu tempat dan memiliki tujuh peraturan dalam penggunaannya. Aek Sipitu Dai terletak di Limbong,Sianjurmula-mula. Masyarakat Batak mempercayai bahwa Sianjurmula-mula adalah tempat pertama yang ditempati oleh Si Raja Batak. Aek Sipitu Dai dibuat oleh Langgat Limbong,keturunan dari Si Raja Batak. Bagi masyarakat sekitar Aek Sipitu Dai dipergunakan sebagai sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari bahkan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Aek Sipitu Dai memiliki cerita tentang bertemunya Si Boru Pareme dengan Si Raja Lontung. Kemudian merekan menikah dan memiliki tujuh anak.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kajian Fungsi Dan Makna Tradisi Penghormatan Leluhur Dalam Sistem Kepercayaan  Masyarakat Tionghoa Di Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34986" />
    <author>
      <name>Syafrida, Reny</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34986</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:39Z</updated>
    <published>2013-01-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Syafrida, Reny
Advisors: Takari, Muhammad
Abstract: This thesis aims to analyze of form, meaning, and function of ancestor worship in Tionghoa Medan City culture. To analyze form and meaning of ancestor worship I use semiotic theory (Barthes). Then, to analyze ancestor worship functions in context, I use functionalism theory both from Malinowski and Radcliffe-Brown. I use research method and technique qualitative, based on filed work, interview, observation, participant observer, and choose key informants who know very much about Tionghoa Ancestor worship.  The scientific conclussions are: (a) meaning of the tendency shifting religious values in young people today. Knowledge of Chinese young people who still maintain ancestral ashes is less. They are no longer paying attention in particular to honor ancestors. Ceremonies of respect they do without knowing it and understand it in depth. (b) Overall the functions it has a religious ceremony intensify social functions and promote solidarity among the members of a family or clan who reminds them that they actually are relatives who came from a common ancestor.
Abstract (other language): Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis tentang fungsi dan makna penghormatan leluhur oleh masyarakat Tionghoa di Kota Medan. Untuk mengkaji fungsi dan makna  digunakan teori semiotik (Barthes). Untuk menganalisis fungsi penghormatan leluhur dalam konteks tersebut digunakan teori fungsionalismenya Malinowski dan Radcliffe-Brown. Metode dan teknik yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan berdasar kepada penelitian lapangan, wawancara, observasi, pengamatan terlibat (participant observer), dan menggunakan informan kunci yang dipandang menguasai penghormatan leluhur.  Temuan saintifik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: makna (a) adanya kecenderungan bergesernya nilai-nilai religius pada generasi muda saat ini serta pengetahuan kaum muda Tionghoa yang masih memelihara abu leluhur sangat kurang. Mereka sudah tidak lagi menaruh perhatian secara khusus terhadap penghormatan leluhur. Upacara-upacara penghormatan mereka lakukan tanpa mengetahui dan memahaminya secara mendalam. Fungsi (b) Secara keseluruhan upacara religi ini mempunyai fungsi sosial mengintensifikasikan dan mendorong solidaritas di antara para anggota suatu keluarga atau Klen yang mengingatkan mereka bahwa mereka sebenarnya adalah kerabat yang berasal dari leluhur yang sama.</summary>
    <dc:date>2013-01-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Syafrida, Reny</dc:creator>
    <dc:description>Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis tentang fungsi dan makna penghormatan leluhur oleh masyarakat Tionghoa di Kota Medan. Untuk mengkaji fungsi dan makna  digunakan teori semiotik (Barthes). Untuk menganalisis fungsi penghormatan leluhur dalam konteks tersebut digunakan teori fungsionalismenya Malinowski dan Radcliffe-Brown. Metode dan teknik yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan berdasar kepada penelitian lapangan, wawancara, observasi, pengamatan terlibat (participant observer), dan menggunakan informan kunci yang dipandang menguasai penghormatan leluhur.  Temuan saintifik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: makna (a) adanya kecenderungan bergesernya nilai-nilai religius pada generasi muda saat ini serta pengetahuan kaum muda Tionghoa yang masih memelihara abu leluhur sangat kurang. Mereka sudah tidak lagi menaruh perhatian secara khusus terhadap penghormatan leluhur. Upacara-upacara penghormatan mereka lakukan tanpa mengetahui dan memahaminya secara mendalam. Fungsi (b) Secara keseluruhan upacara religi ini mempunyai fungsi sosial mengintensifikasikan dan mendorong solidaritas di antara para anggota suatu keluarga atau Klen yang mengingatkan mereka bahwa mereka sebenarnya adalah kerabat yang berasal dari leluhur yang sama.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Psikologi Tokoh Utama Dalam Novel “Memoirs Of A Geisha” Karya Arthur Golden</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34985" />
    <author>
      <name>Nasution, Ika Damayanti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34985</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:31Z</updated>
    <published>2013-01-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Ika Damayanti
Advisors: Sihombing, Amin; Kusdiyana, Eman
Abstract: Sastra adalah bagian dari seni karya sastra yang berkaitan dengan ekspresi dan kegiatan penciptaan. Karena karya sastra berhubungan dengan ekspresi, maka karya sastra sangat banyak mengandung unsur kemanusiaan. Karya sastra dibedakan atas prosa, puisi dan drama. Sedangkan Prosa juga terbagi lagi kedalam jenis novel, cerita pendek (cerpen) dan roman.&#xD;
Pengertian novel adalah genre sastra yang berupa cerita, mudah dibaca dan dicerna, novel juga kebanyakan mengandung unsur suspense dalam alur ceritanya yang mudah menimbulkan sikap penasaran bagi pembacanya. Jadi dalam novel terdapat bahasa sastra yang berusaha mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Begitu juga dengan novel yang berjudul Memoirs of a Geisha yang merupakan salah satu hasil karya sastra yang memaparkan dan mendeskripsikan situasi sosial yang keras pada masa itu di kota Yoroido dan Kyoto. &#xD;
Novel ini berceritakan tentang kehidupan seorang Geisha sebelum perang dunia ke-II. Kisah didalamnya merupakan perjalanan hidup seorang wanita, mulai dari kehidupan masa kecilnya yang sulit, bersaing untuk menjadi seorang Geisha profesional di Kyoto hingga pensiun dari pekerjaannya.  Pada awalnya Sayuri tidak mau menjadi seorang Geisha ketika dijual ke Kyoto. Hal ini dibuktikan ketika Sayuri mencoba melarikan diri dari Okiya, yang membuatnya terancam menjadi pelayan seumur hidup. Namun semuanya berubah ketika Sayuri bertemu dengan tuan Iwamura Ken, seorang pedagang kaya di  Kyoto. Pertemuan itu membuat Sayuri bertekad untuk menjadi Geisha.&#xD;
Konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel ini yang membuat penulis tertarik untuk menganalisa psikologis tokoh utama berdasarkan teori kepribadian Sigmund Freud melalui Id (aspek biologis), Ego (aspek psikologis) dan Super Ego (aspek sosiologis).&#xD;
Dalam hal ini penulis menggunakan dua teori pendekatan yaitu: Pendekatan Psikologi Sastra Dan Pendekatan Semiotika. Sedangkan metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kualitatif.  &#xD;
Tema yang terdapat dalam novel ini adalah tentang perjalanan hidup seorang gadis kecil dari desa hingga menjadi seorang Geisha pada zaman Showa. Dimana tokoh utama dalam novel ini adalah Sayuri, gadis dari kampung Nelayan di Yoroido yang dibawa ke Kyoto untuk dijadikan sebagai calon Geisha. Sementara yang menjadi fokus cerita dalam novel ini adalah lika-liku kehidupan dan perjuangan seorang Geisha.&#xD;
Unsur psikologis merupakan unsur pendukung dalam sebuah novel, karena adanya beban psikologis yang ditambahkan pengarang didalamnya membuat cerita dalam novel menjadi lebih menarik. Analisis konflik psikologi terhadap tokoh utama dalam novel ini berdasarkan teori Sigmund Freud adalah Sayuri termasuk tokoh yang kurang seimbang antara Id, Ego dan Super Ego. Salah satu contohnya adalah: &#xD;
Ketika Sayuri mulai menyukai Iwamura Ken yang sering dipanggil ketua, Sayuri berusaha menjadi Geisha agar bisa menjadi wanita simpanan ketua, hal ini menunjukkan adanya dorongan Id dalam diri Sayuri yaitu rasa ingin memiliki terhadap ketua. Ego juga muncul ketika Sayuri menyadari bahwa Ketua tidak akan menikahinya karena Ketua sudah menikah. Namun Sayuri tetap tidak memperdulikannya. Sayuri tetap mencoba menarik perhatian Ketua dan berusaha menghalangi Nobu agar tidak menjadi danna bagi dirinya. Struktur kepribadian Ego dalam hal ini kalah terhadap dorongan Id. Super Ego yang ditunjukkan dalam hal ini adalah Sayuri hanya akan menjadi istri simpanan dan nama keluarga Iwamura tidak bisa diwariskan kepada anaknya serta menjadi pewarisnya. &#xD;
	Selain menganalisis konflik psikologis tokoh utama dalam novel ini, penulis juga mendeskripsikan kepribadian yang dimiliki tokoh utama yaitu:&#xD;
-	Merupakan anak yang cerdas&#xD;
-	Memiliki rasa ingin tau yang tinggi&#xD;
-	Memiliki sifat pendendam&#xD;
-	Suka mengejek&#xD;
-	Suka melakukan hal-hal yang dilarang&#xD;
-	Pekerja keras.</summary>
    <dc:date>2013-01-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Ika Damayanti</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Kontrastif Konjungsi Dan, Tetapi dan Atau Bahasa Cina Dan Bahasa Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34978" />
    <author>
      <name>Sitepu, Mateus</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34978</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:36Z</updated>
    <published>2013-01-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitepu, Mateus
Advisors: Setia, Eddy; Julina
Abstract: The  title of this research is “ Analisis Kontrastif Kata Sambung Dan,  Tetapi, dan Atau dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia”. In this research, the writer is analyze the  use of conjunction dan (‘and’), tetapi (‘but’) and atau (‘or’)  in Indonesia and Mandarin languages. Due the title, there are some concepts written in chapter two, they are conjunction, structure of Mandarin and Indonesia language . The theory used in this paper is contrastive analysis that is used to analysis the diffrerence and similarities of the use of conjunctions dan, tetapi, atau in Mandarin and Indonesian languages. The methodology used on the research to describe the data is qualitative method. In the last chapter, the results of the analysis show that the use of conjunctions in Mandarin and Indonesian languages, show some  similarities and the diffrence of conjunction. The similarities ones are of words conjunctions and (‘dan’) in Mandarin and Indonesian is to connect two nouns, verbs and adjectives are not contradictory. conjunction or (‘atau) in Mandarin and  Indonesian languages have in common to connect two nouns or phrases to connect two objects and words work and its meaning opposite adjectives, and conjunctions but (‘tetapi’) has similarities to connect two clauses which refer to the subject's identity, while the predicate is two opposite adjectives. While the difference ones are conjunctions and (‘dan’) in Mandarin and Indonesian language and words in Indonesian conjunctions can connect two clauses, while the word conjunctions 和 (he) in mandarin language can not connect two clauses, conjunctions, or (‘atau’) in Indonesian state selection, while conjunctions 或者 (huòzhě) in mandarin language reveals not only the selection but can also express affirmation, but (‘tetapi’) in Indonesian conjunctions are used to connect two opposite adjectives, while the mandarin language conjunctions 而且 (érqiě) connect two adjectives that do not conflict</summary>
    <dc:date>2013-01-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitepu, Mateus</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penggunaan Partikel De Dalam Kalimat Bahasa Jepang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34877" />
    <author>
      <name>Salim, Agus</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34877</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:20Z</updated>
    <published>2012-12-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Salim, Agus
Advisors: Hasibuan, Adriana
Abstract: Menurut William A. Haviland (1988:101). Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi, bahasa salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Jika kita ingin bersosialisasi dengan baik oleh bangsa lain, kita harus menguasai bahasa mereka.&#xD;
Saat ini penggunaan bahasa Jepang sangat diperlukan di Indonesia karena banyaknya investor Jepang yang menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, sudah lama terjalin hubungan kerjasama yang erat di berbagai bidang antara bangsa Jepang dengan bangsa Indonesia. Baik dalam bidang industri,ekonomi,pendidikan dan lain-lain.</summary>
    <dc:date>2012-12-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Salim, Agus</dc:creator>
  </entry>
</feed>

