<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Community:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/81" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/81</id>
  <updated>2013-05-24T03:14:53Z</updated>
  <dc:date>2013-05-24T03:14:53Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Perbedaan Penurunan Skor Plak Antara Mengunyah Buah Apel Dan Mengunyah &#xD;
Buah Jambu Biji Pada Siswa Kelas VII &#xD;
SMP Negeri 10 Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37553" />
    <author>
      <name>Sitorus, Evawati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37553</id>
    <updated>2013-05-23T08:06:45Z</updated>
    <published>2013-05-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitorus, Evawati
Advisors: Natamiharja, Lina
Abstract (other language): Evawati Sitorus&#xD;
Perbedaan penurunan skor plak antara mengunyah buah apel dan mengunyah buah jambu biji pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Medan.&#xD;
Ix + 29 halaman&#xD;
Penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan pada masyarakat adalah karies gigi dan penyakit periodontal. Hasil survei kesehatan rumah tangga tahun 2004 oleh Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05%. Plak merupakan faktor etiologi utama terjadinya karies dan penyakit periodontal. Beberapa buah segar, setengah matang, berair, dan berserat dapat menurunkan indeks plak, seperti buah apel dan jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penurunan skor plak antara mengunyah buah apel dan mengunyah buah jambu biji dibandingkan dengan menyikat gigi.&#xD;
Rancangan penelitian adalah pre and post test group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 10 Medan Kelas VII. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, diambil sesuai kriteria inklusi yang berasal dari kelas VIIA, VIIB,  dan VIIC. Jumlah sampel adalah 60 sampel dan dibagi menjadi 3 kelompok mengunyah buah apel, kelompok mengunyah buah jambu biji dan kelompok menyikat gigi (sebagai kontrol). Yang mana masing-masing kelompok terdiri atas 20 orang.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan rerata  skor plak sebelum mengunyah buah apel adalah 1,21 ± 0,33, sesudah mengunyah buah apel 0,95 ± 0,30. Rerata skor plak sebelum mengunyah buah jambu biji adalah 1,69 ± 0,31, sesudah mengunyah buah jambu biji 1,11 ± 0,33. Rerata skor plak sebelum menyikat gigi adalah 1,92 ± 0,34, sesudah menyikat gigi 1,01 ± 0,35. Ada perbedaan yang bermakna rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel, menunyah buah jambu biji dan menyikat gigi. (p&lt;0,05).&#xD;
Selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel adalah 0,25 + 0,10, mengunyah buah jambu biji 0,57 + 0,14 dan menyikat gigi 0,90 ± 0,21. Ada perbedaan yang bermakna selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah apel dan mengunyah jambu biji (p&lt;0,001) dan ada perbedaan yang bermakna selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah apel, mengunyah jambu biji dan menyikat gigi (p&lt;0,001).&#xD;
Daftar rujukan: 29 (2002-2012)</summary>
    <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitorus, Evawati</dc:creator>
    <dc:description>Evawati Sitorus&#xD;
Perbedaan penurunan skor plak antara mengunyah buah apel dan mengunyah buah jambu biji pada siswa kelas VII SMP Negeri 10 Medan.&#xD;
Ix + 29 halaman&#xD;
Penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan pada masyarakat adalah karies gigi dan penyakit periodontal. Hasil survei kesehatan rumah tangga tahun 2004 oleh Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi di Indonesia adalah 90,05%. Plak merupakan faktor etiologi utama terjadinya karies dan penyakit periodontal. Beberapa buah segar, setengah matang, berair, dan berserat dapat menurunkan indeks plak, seperti buah apel dan jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penurunan skor plak antara mengunyah buah apel dan mengunyah buah jambu biji dibandingkan dengan menyikat gigi.&#xD;
Rancangan penelitian adalah pre and post test group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 10 Medan Kelas VII. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, diambil sesuai kriteria inklusi yang berasal dari kelas VIIA, VIIB,  dan VIIC. Jumlah sampel adalah 60 sampel dan dibagi menjadi 3 kelompok mengunyah buah apel, kelompok mengunyah buah jambu biji dan kelompok menyikat gigi (sebagai kontrol). Yang mana masing-masing kelompok terdiri atas 20 orang.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan rerata  skor plak sebelum mengunyah buah apel adalah 1,21 ± 0,33, sesudah mengunyah buah apel 0,95 ± 0,30. Rerata skor plak sebelum mengunyah buah jambu biji adalah 1,69 ± 0,31, sesudah mengunyah buah jambu biji 1,11 ± 0,33. Rerata skor plak sebelum menyikat gigi adalah 1,92 ± 0,34, sesudah menyikat gigi 1,01 ± 0,35. Ada perbedaan yang bermakna rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel, menunyah buah jambu biji dan menyikat gigi. (p&lt;0,05).&#xD;
Selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah buah apel adalah 0,25 + 0,10, mengunyah buah jambu biji 0,57 + 0,14 dan menyikat gigi 0,90 ± 0,21. Ada perbedaan yang bermakna selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah apel dan mengunyah jambu biji (p&lt;0,001) dan ada perbedaan yang bermakna selisih rerata skor plak sebelum dan sesudah mengunyah apel, mengunyah jambu biji dan menyikat gigi (p&lt;0,001).&#xD;
Daftar rujukan: 29 (2002-2012)</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Pola Makan Vegetarian Terhadap Status  Periodontal Di Maha Vihara Maitreya, Medan, Sumatera Utara.</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37549" />
    <author>
      <name>Bakar, Siti Aishah Abu</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37549</id>
    <updated>2013-05-23T07:16:36Z</updated>
    <published>2013-05-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bakar, Siti Aishah Abu
Advisors: R, Irmansyah; Pasaribu, Krisna Murthy
Abstract: Siti Aishah &#xD;
Relationship of vegetarian diet on periodontal status in Maha Vihara Maitreya, Medan, North Sumatra. &#xD;
xxxviii + 35 Pages&#xD;
Vegetarian diets have a similar basic principle diet of ‘Empat sehat lima sempurna’ diet and it only differ in the type of protein consumed. Oral hygiene was found to be better in vegetarian versus non-vegetarian. Nutritional imbalances indirectly have an influence on the development, endurance, or periodontium tissue repair. The purpose of this study was to determine the periodontal status in vegetarian group and to find out the differences in periodontal status of vegetarians and non-vegetarians in Medan.&#xD;
This is a descriptive cross-sectional research. The study was conducted on 40 vegetarians and 40 non-vegetarians in Maha Vihara Maitreya, Medan. Data retrieval is done by giving interviews and questionnaires to samples and also clinical examinations to find out the periodontal status, using OHIS index, plaque index, and gingival index. The data obtained were analyzed with Mann-Whitney test and T-test.&#xD;
The results obtained show a significant association between vegetarian diet and periodontal status. Vegetarians has a good periodontal status compare to non-vegetarians.
Abstract (other language): Siti Aishah &#xD;
Hubungan pola makan vegetarian terhadap status periodontal di Maha Vihara Maitreya, Medan, Sumatera Utara. &#xD;
xxxviii + 35 Halaman&#xD;
Pola makan vegetarian mempunyai prinsip dasar mirip dengan pola makan empat sehat lima sempurna hanya berbeda pada jenis protein yang dikonsumsi. Didapati kebersihan rongga mulut pada vegetarian lebih baik berbanding non-vegetarian. Ketidakseimbangan nutrisi secara tidak langsung memberi pengaruh terhadap perkembangan, daya tahan, atau membaiki jaringan periodonsium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status periodontal pada kelompok vegetarian dan melihat perbedaan status periodontal pada kelompok vegetarian dan non-vegetarian di Medan.&#xD;
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 40 orang vegetarian dan 40 orang non-vegetarian di Maha Vihara Maitreya, Medan. Pengambilan data dilakukan dengan memberi wawancara, pengisian kuesioner oleh sampel dan pemeriksaan klinis untuk melihat status periodontal, yaitu dengan menggunakan indeks OHIS, indeks plak, dan indeks gingiva. Data yang diperoleh dianalisa dengan uji Mann-Whitney dan uji T.&#xD;
Hasil penelitian didapat ada hubungan yang bermakna antara pola makan vegetarian dengan status periodontal dan pengamal pola makan vegetarian mempunyai status periodontal yang baik berbanding yang non-vegetarian.</summary>
    <dc:date>2013-05-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bakar, Siti Aishah Abu</dc:creator>
    <dc:description>Siti Aishah &#xD;
Hubungan pola makan vegetarian terhadap status periodontal di Maha Vihara Maitreya, Medan, Sumatera Utara. &#xD;
xxxviii + 35 Halaman&#xD;
Pola makan vegetarian mempunyai prinsip dasar mirip dengan pola makan empat sehat lima sempurna hanya berbeda pada jenis protein yang dikonsumsi. Didapati kebersihan rongga mulut pada vegetarian lebih baik berbanding non-vegetarian. Ketidakseimbangan nutrisi secara tidak langsung memberi pengaruh terhadap perkembangan, daya tahan, atau membaiki jaringan periodonsium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status periodontal pada kelompok vegetarian dan melihat perbedaan status periodontal pada kelompok vegetarian dan non-vegetarian di Medan.&#xD;
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 40 orang vegetarian dan 40 orang non-vegetarian di Maha Vihara Maitreya, Medan. Pengambilan data dilakukan dengan memberi wawancara, pengisian kuesioner oleh sampel dan pemeriksaan klinis untuk melihat status periodontal, yaitu dengan menggunakan indeks OHIS, indeks plak, dan indeks gingiva. Data yang diperoleh dianalisa dengan uji Mann-Whitney dan uji T.&#xD;
Hasil penelitian didapat ada hubungan yang bermakna antara pola makan vegetarian dengan status periodontal dan pengamal pola makan vegetarian mempunyai status periodontal yang baik berbanding yang non-vegetarian.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Berat Hasil Cetakan Bahan Cetak Alginat Tipe Normal Setting Yang Berbeda Pada Menit-Menit Awal Imbibisi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37487" />
    <author>
      <name>Nasution, Maharani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37487</id>
    <updated>2013-05-20T08:34:19Z</updated>
    <published>2013-05-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Maharani
Advisors: Rusfian
Abstract (other language): Bahan cetak alginat merupakan bahan cetak yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi. Cetakan alginat bila direndam di dalam air, maka air akan diabsorbsi dan cetakan menggembung (ekspansi) yang disebut imbibisi. Dalam American Dental Association (ADA) No 18, bahan cetak alginat dibagi II tipe antara lain Tipe 1 (Fast-Setting) dan Tipe Normal-Setting). Alginat tipe normal setting biasanya digunakan untuk pemakaian rutin dalam kedokteran gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perubahan berat hasil cetakan bahan cetak alginat tipe normal setting pada menit-menit awal imbibisi. Penelitian dilakukan pada dua bahan cetak alginat (Aroma Fine Plus Normal Set dan Cavex CA37 Normal Set) dengan 20 sampel untuk masing-masing kelompok. Sampel berbentuk balok dibuat dengan menggunakan master cast sebagai objek cetak. Setelah sampel dikeluarkan dari master cast, sampel direndam dalam air aquadest selama 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 menit dan dilakukan penimbangan pada tiap-tiap menit tersebut. Data dikumpulkan dan kemudian dianalisa statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney (p&lt;0.05) Dari hasil uji analisis statistik pada percobaan diperoleh adanya perbedaan bermakna perubahan berat sebesar 0.007 (p&lt;0.05) diantara imbibisi yang terjadi pada waktu perendaman menit 1 antara Aroma Fine Plus dengan Cavex. Dengan kesimpulan bahwa Ho ditolak (p&lt;0.05) yang artinya ada perbedaan yang bermakna antar bahan cetak alginat merek Aroma Fine Plus dengan Cavex CA37 terhadap perubahan berat hasil cetakan bahan cetak alginat tipe Normal Setting  yang berbeda pada menit-menit awal imbibisi.</summary>
    <dc:date>2013-05-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Maharani</dc:creator>
    <dc:description>Bahan cetak alginat merupakan bahan cetak yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi. Cetakan alginat bila direndam di dalam air, maka air akan diabsorbsi dan cetakan menggembung (ekspansi) yang disebut imbibisi. Dalam American Dental Association (ADA) No 18, bahan cetak alginat dibagi II tipe antara lain Tipe 1 (Fast-Setting) dan Tipe Normal-Setting). Alginat tipe normal setting biasanya digunakan untuk pemakaian rutin dalam kedokteran gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perubahan berat hasil cetakan bahan cetak alginat tipe normal setting pada menit-menit awal imbibisi. Penelitian dilakukan pada dua bahan cetak alginat (Aroma Fine Plus Normal Set dan Cavex CA37 Normal Set) dengan 20 sampel untuk masing-masing kelompok. Sampel berbentuk balok dibuat dengan menggunakan master cast sebagai objek cetak. Setelah sampel dikeluarkan dari master cast, sampel direndam dalam air aquadest selama 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 menit dan dilakukan penimbangan pada tiap-tiap menit tersebut. Data dikumpulkan dan kemudian dianalisa statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney (p&lt;0.05) Dari hasil uji analisis statistik pada percobaan diperoleh adanya perbedaan bermakna perubahan berat sebesar 0.007 (p&lt;0.05) diantara imbibisi yang terjadi pada waktu perendaman menit 1 antara Aroma Fine Plus dengan Cavex. Dengan kesimpulan bahwa Ho ditolak (p&lt;0.05) yang artinya ada perbedaan yang bermakna antar bahan cetak alginat merek Aroma Fine Plus dengan Cavex CA37 terhadap perubahan berat hasil cetakan bahan cetak alginat tipe Normal Setting  yang berbeda pada menit-menit awal imbibisi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan&#xD;
Dokter Gigi Terhadap Pencegahan &#xD;
Penyakit Menular Di Praktek &#xD;
Dokter Gigi Di Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37447" />
    <author>
      <name>Putri, Viska yolanda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37447</id>
    <updated>2013-05-18T03:58:48Z</updated>
    <published>2013-05-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Putri, Viska yolanda
Advisors: Damanik, Simson</summary>
    <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Putri, Viska yolanda</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Diet, Perilaku Membersihkan Gigi Dan Indeks Kebersihan Rongga Mulut Dengan Early Childhood Caries Pada Anak Usia 37-71 Bulan Di Kecamatan Medan Bara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37396" />
    <author>
      <name>Septiarini, Astri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37396</id>
    <updated>2013-05-15T04:20:54Z</updated>
    <published>2013-05-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Septiarini, Astri
Advisors: Roesnawi, Yati</summary>
    <dc:date>2013-05-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Septiarini, Astri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pola Asupan Nutrisi Akibat Kehilangan Sebagian Gigi Pada Masyarakat Yang &#xD;
Tidak Dan Menggunakan Gigitiruan &#xD;
Sebagian Lepasan Di Kelurahan &#xD;
Tanjung Rejo  Kecamatan &#xD;
Medan Sunggal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37395" />
    <author>
      <name>Manik, Oktavina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37395</id>
    <updated>2013-05-15T04:07:40Z</updated>
    <published>2013-05-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Manik, Oktavina
Advisors: Nasution, Ismet Danial</summary>
    <dc:date>2013-05-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Manik, Oktavina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Variasi Penjalaran Kanalis Mandibularis&#xD;
 Kiri Ditinjau Secara Radiografi &#xD;
Panoramik Pada Masyarakat&#xD;
 Di Kecamatan Medan&#xD;
 Selayang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37291" />
    <author>
      <name>Kumar, Savena A/P Bala</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37291</id>
    <updated>2013-05-06T03:12:55Z</updated>
    <published>2013-05-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kumar, Savena A/P Bala
Advisors: Boel, Trelia; Thahir, Amrin; Kartika, Dewi
Abstract (other language): Radiografi di bidang kedokteran gigi mempunyai peranan penting dalam memperoleh informasi diagnostik untuk penatalaksanaan kasus, mulai dari menegakkan diagnosis, merencanakan perawatan, menentukan prognosis, memandu dalam perawatan, mengevaluasi, dan observasi hasil perawatan. Radiografi di kedokteran gigi ada 2 macam yaitu radiografi intra oral (film di dalam mulut) dan radiografi ekstra oral (film di luar mulut). Radiografi intra oral adalah radiografi yang memperlihatkan gigi dan struktur disekitarnya. Radiografi ekstra oral merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas dari kepala dan rahang dimana film berada di luar mulut.1 Radiografi ekstra oral yang paling sering digunakan dokter gigi adalah panoramik.2&#xD;
Kanalis mandibularis dapat dilihat dari gambaran radiografi dan jenis pemeriksaan radiografi yang paling sering dipakai adalah radiografi panoramik, Computed Tomography (CT) Scan dan Conventional Tomography.3 Jenis radiografi panoramik digunakan secara meluas karena mempunyai kelebihan dalam menyediakan  gambaran kedua rahang secara keseluruhan dan dosis radiasi yang diterima oleh individu rendah serta biaya yang harus dikeluarkan lebih rendah jika dibandingkan dengan Computed Tomography Scan dan Conventional Tomography. Jadi radiografi panoramik merupakan jenis radiografi yang paling banyak dipilih dalam melihat kanalis mandibularis.</summary>
    <dc:date>2013-05-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kumar, Savena A/P Bala</dc:creator>
    <dc:description>Radiografi di bidang kedokteran gigi mempunyai peranan penting dalam memperoleh informasi diagnostik untuk penatalaksanaan kasus, mulai dari menegakkan diagnosis, merencanakan perawatan, menentukan prognosis, memandu dalam perawatan, mengevaluasi, dan observasi hasil perawatan. Radiografi di kedokteran gigi ada 2 macam yaitu radiografi intra oral (film di dalam mulut) dan radiografi ekstra oral (film di luar mulut). Radiografi intra oral adalah radiografi yang memperlihatkan gigi dan struktur disekitarnya. Radiografi ekstra oral merupakan pemeriksaan radiografi yang lebih luas dari kepala dan rahang dimana film berada di luar mulut.1 Radiografi ekstra oral yang paling sering digunakan dokter gigi adalah panoramik.2&#xD;
Kanalis mandibularis dapat dilihat dari gambaran radiografi dan jenis pemeriksaan radiografi yang paling sering dipakai adalah radiografi panoramik, Computed Tomography (CT) Scan dan Conventional Tomography.3 Jenis radiografi panoramik digunakan secara meluas karena mempunyai kelebihan dalam menyediakan  gambaran kedua rahang secara keseluruhan dan dosis radiasi yang diterima oleh individu rendah serta biaya yang harus dikeluarkan lebih rendah jika dibandingkan dengan Computed Tomography Scan dan Conventional Tomography. Jadi radiografi panoramik merupakan jenis radiografi yang paling banyak dipilih dalam melihat kanalis mandibularis.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan  Validitas Analisis Tanaka–&#xD;
Jhonston  Dan  Analisis Moyers Pada&#xD;
Mahasiswa Suku Batak Universitas&#xD;
Sumatera Utara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37290" />
    <author>
      <name>Sutan, Adicakra Satyanugraha</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37290</id>
    <updated>2013-05-06T03:02:18Z</updated>
    <published>2013-05-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sutan, Adicakra Satyanugraha
Advisors: Erliera
Abstract (other language): Estetika atau kecantikan merupakan hal yang penting bagi masyarakat modern.&#xD;
Banyak orang menganggap kecantikan adalah kebutuhan yang perlu diperhatikan.&#xD;
Susunan gigi yang rapi merupakan hal penting terhadap estetika wajah. Estetika&#xD;
merupakan bagian dari bidang kedokteran gigi.&#xD;
Pada periode gigi bercampur sering ditemukan adanya diskrepansi ruang, yaitu&#xD;
ketidakseimbangan antara ruang yang dibutuhkan (space required) dengan ruang&#xD;
yang tersedia (space available) pada lengkung alveolar.1 Diskrepansi ruang&#xD;
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu ukuran gigi dan panjang lengkung&#xD;
alveolar.1,2 Keseimbangan antara dua faktor utama tersebut akan menentukan keadaan&#xD;
pada lengkung gigi permanen.2 Jika terdapat ketidakseimbangan, maka pada&#xD;
lengkung gigi permanen dapat terjadi maloklusi dengan gigi berjejal (crowded) atau&#xD;
diastema (spacing).1,2&#xD;
Untuk mengurangi insiden maloklusi pada saat gigi permanen telah erupsi&#xD;
sempurna, terdapat analisis untuk memprediksi diskrepansi ruang yang disebut mixed&#xD;
dentition space analysis (analisis gigi bercampur).2 Analisis gigi geligi bercampur&#xD;
yang akurat merupakan aspek penting dalam menentukan rencana perawatan&#xD;
mencakup serial extraction, guidance of eruption, space maintenance, space&#xD;
regaining atau hanya observasi periodik pada pasien.3,4 Besarnya ruang yang&#xD;
dibutuhkan dapat diprediksi melalui beberapa metode seperti metode radiografi,&#xD;
metode non radiografi, atau metode gabungan.</summary>
    <dc:date>2013-05-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sutan, Adicakra Satyanugraha</dc:creator>
    <dc:description>Estetika atau kecantikan merupakan hal yang penting bagi masyarakat modern.&#xD;
Banyak orang menganggap kecantikan adalah kebutuhan yang perlu diperhatikan.&#xD;
Susunan gigi yang rapi merupakan hal penting terhadap estetika wajah. Estetika&#xD;
merupakan bagian dari bidang kedokteran gigi.&#xD;
Pada periode gigi bercampur sering ditemukan adanya diskrepansi ruang, yaitu&#xD;
ketidakseimbangan antara ruang yang dibutuhkan (space required) dengan ruang&#xD;
yang tersedia (space available) pada lengkung alveolar.1 Diskrepansi ruang&#xD;
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu ukuran gigi dan panjang lengkung&#xD;
alveolar.1,2 Keseimbangan antara dua faktor utama tersebut akan menentukan keadaan&#xD;
pada lengkung gigi permanen.2 Jika terdapat ketidakseimbangan, maka pada&#xD;
lengkung gigi permanen dapat terjadi maloklusi dengan gigi berjejal (crowded) atau&#xD;
diastema (spacing).1,2&#xD;
Untuk mengurangi insiden maloklusi pada saat gigi permanen telah erupsi&#xD;
sempurna, terdapat analisis untuk memprediksi diskrepansi ruang yang disebut mixed&#xD;
dentition space analysis (analisis gigi bercampur).2 Analisis gigi geligi bercampur&#xD;
yang akurat merupakan aspek penting dalam menentukan rencana perawatan&#xD;
mencakup serial extraction, guidance of eruption, space maintenance, space&#xD;
regaining atau hanya observasi periodik pada pasien.3,4 Besarnya ruang yang&#xD;
dibutuhkan dapat diprediksi melalui beberapa metode seperti metode radiografi,&#xD;
metode non radiografi, atau metode gabungan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Body Mass Index (Bmi) Dengan Pengalaman Karies Gigi Pada Murid &#xD;
Kelas Iii Dan Iv Sd St.Thomas 2&#xD;
Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37289" />
    <author>
      <name>Sitinjak, Chrisnatalio</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37289</id>
    <updated>2013-05-06T02:46:39Z</updated>
    <published>2013-05-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitinjak, Chrisnatalio
Advisors: Pintauli, Sondang
Abstract (other language): Kerusakan pada gigi (karies) merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada anak serta merupakan yang paling sering di seluruh dunia. Kerusakan pada gigi yang tidak diobati akan memiliki dampak terhadap kesehatan umum, kualitas hidup, produktivitas, perkembangan dan  kinerja pendidikan.1 Ada beberapa faktor  yang dapat mempengaruhi terjadinya karies, yaitu kebersihan rongga mulut, komposisi dan frekuensi diet, status sosio ekonomi, kandungan imunoglobulin dalam saliva untuk melawan bakteri, dan asupan fluoride.2  &#xD;
Berdasarkan teori Blum yang dikutip oleh Anitasari dkk, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan (fisik maupun sosial budaya), perilaku, dan pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut, perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut secara langsung. Perilaku dapat juga mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini perilaku merujuk terhadap kebiasaan pola diet.</summary>
    <dc:date>2013-05-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitinjak, Chrisnatalio</dc:creator>
    <dc:description>Kerusakan pada gigi (karies) merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada anak serta merupakan yang paling sering di seluruh dunia. Kerusakan pada gigi yang tidak diobati akan memiliki dampak terhadap kesehatan umum, kualitas hidup, produktivitas, perkembangan dan  kinerja pendidikan.1 Ada beberapa faktor  yang dapat mempengaruhi terjadinya karies, yaitu kebersihan rongga mulut, komposisi dan frekuensi diet, status sosio ekonomi, kandungan imunoglobulin dalam saliva untuk melawan bakteri, dan asupan fluoride.2  &#xD;
Berdasarkan teori Blum yang dikutip oleh Anitasari dkk, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan (fisik maupun sosial budaya), perilaku, dan pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut, perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut secara langsung. Perilaku dapat juga mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Dalam penelitian ini perilaku merujuk terhadap kebiasaan pola diet.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Posisi Foramen Mentale Regio Kanan Mandibula Ditinjau Secara Radiografi Panoramik &#xD;
Pada Masyarakat Di Kecamatan &#xD;
Medan Selayang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37288" />
    <author>
      <name>Nesyia, Wilan Dita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37288</id>
    <updated>2013-05-06T02:34:38Z</updated>
    <published>2013-05-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nesyia, Wilan Dita
Advisors: Boel, Trelia; Thahir, Amrin; Kartika, Dewi
Abstract (other language): Foramen mentale merupakan suatu foramen kecil yang terletak bilateral pada aspek anterolateral dari mandibula sampai ke margin alveolar.  Lokalisasi foramen mentale secara radiografi dapat dilihat, tetapi secara klinis sulit untuk divisualisasi atau dipalpasi.  Radiograf foramen mentale dapat dilihat sebagai suatu daerah radiolusen oval atau bulat di regio premolar.  &#xD;
Bentuk foramen mentale dapat bulat atau oval dengan diameter berkisar dari 2,5 sampai 5,5 mm.  Gershenson dkk. (1986) menemukan bahwa bentuk foramen mentale bulat dalam 34,48% kasus dengan diameter rata-rata 1,68 mm dan 65,52% oval dengan diameter panjang rata-rata 2,37 mm.  Mbajiorgu dkk. (1998) menemukan berbagai bentuk dari foramen mentale di rahang bawah pada penduduk Zimbabwe, yaitu bentuk bulat pada 14 dari 32 (43,8%) rahang dan oval pada 18 dari 32 (56,3%) rahang.  Igbigbi dan Lebona (2005) melaporkan bahwa sebagian dari bentuk foramen mentale adalah oval pada penduduk Malawi.  Fabian FM (2007) dalam penelitiannya pada individu hitam Tanzania, bentuk foramen mentale adalah oval pada 54% dan bulat 46% .  Singh dan Srivastav (2010) melaporkan dari hasil penelitiannya bahwa bentuk paling umum dari foramen mentale adalah yang bulat yang terdapat di  94% rahang.</summary>
    <dc:date>2013-05-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nesyia, Wilan Dita</dc:creator>
    <dc:description>Foramen mentale merupakan suatu foramen kecil yang terletak bilateral pada aspek anterolateral dari mandibula sampai ke margin alveolar.  Lokalisasi foramen mentale secara radiografi dapat dilihat, tetapi secara klinis sulit untuk divisualisasi atau dipalpasi.  Radiograf foramen mentale dapat dilihat sebagai suatu daerah radiolusen oval atau bulat di regio premolar.  &#xD;
Bentuk foramen mentale dapat bulat atau oval dengan diameter berkisar dari 2,5 sampai 5,5 mm.  Gershenson dkk. (1986) menemukan bahwa bentuk foramen mentale bulat dalam 34,48% kasus dengan diameter rata-rata 1,68 mm dan 65,52% oval dengan diameter panjang rata-rata 2,37 mm.  Mbajiorgu dkk. (1998) menemukan berbagai bentuk dari foramen mentale di rahang bawah pada penduduk Zimbabwe, yaitu bentuk bulat pada 14 dari 32 (43,8%) rahang dan oval pada 18 dari 32 (56,3%) rahang.  Igbigbi dan Lebona (2005) melaporkan bahwa sebagian dari bentuk foramen mentale adalah oval pada penduduk Malawi.  Fabian FM (2007) dalam penelitiannya pada individu hitam Tanzania, bentuk foramen mentale adalah oval pada 54% dan bulat 46% .  Singh dan Srivastav (2010) melaporkan dari hasil penelitiannya bahwa bentuk paling umum dari foramen mentale adalah yang bulat yang terdapat di  94% rahang.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kehilangan  Tulang  Alveolar Dikaitkan Dengan  Penyakit Periodontal Ditinjau Secara Radiografi   Panoramik   Pada Masyarakat Kecamatan Binjai Selatan Di Kelurahan Tanah Seribu, Rambung  Barat dan Rambung Dalam</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37189" />
    <author>
      <name>Sherly, Sabrina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37189</id>
    <updated>2013-04-29T04:29:21Z</updated>
    <published>2013-04-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sherly, Sabrina
Advisors: Boel, Trelia</summary>
    <dc:date>2013-04-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sherly, Sabrina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kadar Ion Kalsium Pada Saliva Perempuan Penyirih Di Lingkungan III Kelurahan Padang Bulan Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37126" />
    <author>
      <name>Juita, Lestari Putri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37126</id>
    <updated>2013-04-25T04:05:20Z</updated>
    <published>2013-04-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Juita, Lestari Putri
Advisors: R, Lisna Unita</summary>
    <dc:date>2013-04-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Juita, Lestari Putri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Dimensi Hasil Cetakan Elastomer Vinyl Polysiloxane Dalam Larutan Ekstrak Kemangi 25%</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37065" />
    <author>
      <name>Pristika, Ryanda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37065</id>
    <updated>2013-04-18T03:05:20Z</updated>
    <published>2013-04-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pristika, Ryanda
Advisors: Sumadhi, S.; Yudhit, Astrid</summary>
    <dc:date>2013-04-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pristika, Ryanda</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Ketahanan Fraktur Antara Dentin Saluran Akar Yang Diirigasi Naocl 5% Dan Edta 17% Dengan Dan Tanpa Medikasi Ca(Oh)2 (Penelitian In Vitro)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37064" />
    <author>
      <name>Yanita, Sherliana</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37064</id>
    <updated>2013-04-18T02:53:36Z</updated>
    <published>2013-04-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yanita, Sherliana
Advisors: Tarigan, Rasinta</summary>
    <dc:date>2013-04-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yanita, Sherliana</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakterisasi Simplisia &#xD;
Dan Skrining Fitokimia Serta Isolasi&#xD;
Steroid/Triterpenoid Dari Ekstrak Etanol Pucuk Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35194" />
    <author>
      <name>Tarziah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35194</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:20Z</updated>
    <published>2013-02-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tarziah
Advisors: Ginting, Herawaty; Nasution, M. Pandapotan
Abstract: One of the Cucurbitaceou plans is chayote (Sechium edule (Jacq.) Sw.). used to treat kidney stone disease, arteriosclerosis and high blood pressure that contains saponin, flavonoid, polyphenol, and steroid/triterpenoid. Simplex characterization and chemical content contained in chayote shoots are not listed in the book Materia Medika Indonesia. The purpose of this study was to determine the simplex characterization, phytochemical screening for compounds that contained in chayote shoots and isolating the compound of steroid/triterpenoid. &#xD;
This research included the simplex characterization, phytochemical screening, extraction  accomplished by maceration	 with ethanol, the extract with liquid extraction, isolated with Vacuum Liquid Chromatography, isolated with Coloumn Chromatography and the fraction with Thin Layer Chromatography , the steroidal isolation was accomplished by using the preparative Thin Layer Chromatography, the purity test by two-dimensional Thin Layer Chromatography, and the resulting isolate was identified by ultraviolet spectrophotometry and infrared spectophotometry.&#xD;
The result of simplex characterization  included the water content 3.99%, water-soluble extract content 33.45%, ethanol-soluble extract content 9.96%, total ash content 4.13%, acid-insoluble ash content 0.96%. The result of phytochemical screening of chayote shoots contain flavonoid, steroid/triterpenoid, tannin, glikosida, and saponin. The result of isolate analysis indicated that the isolate was steroid/triterpenoid Rf 0.35 red purple with Liebermann-Burchard reagent, and the resulting isolat was then analyzed by UV spectrophotometry that have maximum absorbtion at wavelength 207.5 nm to indicate the presence of chromophor  and the result of IR spectrophotometry indicated the presence of –OH and C-H , C=O, C=C, CH2, CH3, C-O functional groups.
Abstract (other language): Salah satu suku Cucurbitaceae yaitu labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.), dapat digunakan untuk mengobati penyakit batu ginjal, arteriosklerosis dan tekanan darah tinggi. Labu siam mengandung saponin, flavonoid, polifenol, dan steroid/triterpenoid. Karakterisasi simplisia serta kandungan senyawa kimia yang terkandung dalam pucuk labu siam belum tercantum di buku Materia Medika Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi simplisia, skrining fitokimia untuk senyawa yang terkandung di dalam pucuk labu siam dan mengisolasi senyawa steroid/triterpenoid.&#xD;
Penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh dilakukan ekstraksi cair-cair dengan n-heksan dan kromatografi cair vakum (KCV), isolasi dengan kromatografi kolom (KK) dan dikromatografi lapis tipis (KLT), isolasi triterpenoid dilakukan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif, uji kemurnian dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dua arah dan isolat yang diperoleh dikarakterisasi secara spektrofotometri ultraviolet (UV) dan spektrofotometri inframerah (IR).&#xD;
	Hasil karakterisasi simplisia pucuk labu siam meliputi kadar air 3,99%, kadar sari yang larut air 33,45%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,96%, kadar abu total 4,13% dan kadar abu tidak larut asam 0,96%. Hasil skrining fitokimia pucuk daun labu siam mengandung flavonoid, steroid/triterpenoid, tanin, glikosida, dan saponin. Hasil analisis isolat menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh adalah senyawa golongan steroid/triterpenoid dengan harga Rf 0,35 dengan penampak bercak Liebermann-Burchard berwarna merah ungu dan isolat yang diperoleh dianalisis secara spektrofotometri UV memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang (λ)  207,5 nm menunjukkan adanya gugus kromofor dan hasil spektrofotometri IR diketahui adanya  gugus –OH, C-H alifatis, C=O, C=C, -CH2, –CH3 dan C-O.</summary>
    <dc:date>2013-02-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tarziah</dc:creator>
    <dc:description>Salah satu suku Cucurbitaceae yaitu labu siam (Sechium edule (Jacq.) Sw.), dapat digunakan untuk mengobati penyakit batu ginjal, arteriosklerosis dan tekanan darah tinggi. Labu siam mengandung saponin, flavonoid, polifenol, dan steroid/triterpenoid. Karakterisasi simplisia serta kandungan senyawa kimia yang terkandung dalam pucuk labu siam belum tercantum di buku Materia Medika Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi simplisia, skrining fitokimia untuk senyawa yang terkandung di dalam pucuk labu siam dan mengisolasi senyawa steroid/triterpenoid.&#xD;
Penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh dilakukan ekstraksi cair-cair dengan n-heksan dan kromatografi cair vakum (KCV), isolasi dengan kromatografi kolom (KK) dan dikromatografi lapis tipis (KLT), isolasi triterpenoid dilakukan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif, uji kemurnian dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dua arah dan isolat yang diperoleh dikarakterisasi secara spektrofotometri ultraviolet (UV) dan spektrofotometri inframerah (IR).&#xD;
	Hasil karakterisasi simplisia pucuk labu siam meliputi kadar air 3,99%, kadar sari yang larut air 33,45%, kadar sari yang larut dalam etanol 9,96%, kadar abu total 4,13% dan kadar abu tidak larut asam 0,96%. Hasil skrining fitokimia pucuk daun labu siam mengandung flavonoid, steroid/triterpenoid, tanin, glikosida, dan saponin. Hasil analisis isolat menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh adalah senyawa golongan steroid/triterpenoid dengan harga Rf 0,35 dengan penampak bercak Liebermann-Burchard berwarna merah ungu dan isolat yang diperoleh dianalisis secara spektrofotometri UV memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang (λ)  207,5 nm menunjukkan adanya gugus kromofor dan hasil spektrofotometri IR diketahui adanya  gugus –OH, C-H alifatis, C=O, C=C, -CH2, –CH3 dan C-O.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Jenis Bahan Office Bleaching Hidrogen Peroksida 35% Dan Karbamid Peroksida 35% Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofil</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35186" />
    <author>
      <name>Lestari, Mahari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35186</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:04Z</updated>
    <published>2013-02-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lestari, Mahari
Advisors: Nurliza, Cut; Batubara, Fitri Yunita
Abstract: Masa sekarang estetika menjadi pertimbangan utama dalam segala aspek kehidupan. Atas dasar tersebut setiap orang berusaha untuk bisa tampil prima pada setiap kesempatan. Senyum dengan gigi geligi sehat putih cemerlang adalah senyum yang menguatkan citra positif seseorang dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.1,2 &#xD;
Keinginan masyarakat untuk mendapatkan senyum yang lebih cerah dan  lebih putih menyebabkan kebutuhan pelayanan gigi kosmetik meningkat. Salah satu bentuk pelayanan gigi kosmetik adalah pemutihan gigi (dental bleaching). Pemutihan gigi merupakan alternatif  konservatif untuk mengembalikan fungsi estetik dari gigi yang mengalami perubahan warna sehingga dapat dicapai warna  gigi yang lebih terang. Perubahan warna gigi terutama gigi permanen anterior  merupakan salah satu alasan  penderita untuk mencari perawatan gigi estetik. 3-5</summary>
    <dc:date>2013-02-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lestari, Mahari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Kualitas Hidup Lansia Dengan Edentulus Yang Memakai Dan Tidak Memakai Gigi Tiruan Penuh Di Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35182" />
    <author>
      <name>Arivayangan, Shantakumari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35182</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:55Z</updated>
    <published>2013-02-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Arivayangan, Shantakumari
Advisors: Dahar, Eddy; Ariyani
Abstract: Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk.1 Hasil positif yang telah terwujud seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional di berbagai bidang yaitu kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis dan ilmu kedokteran sehingga meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta umur harapan hidup manusia.2 Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dari tahun ke tahun.1,2 Jumlah lansia di seluruh dunia diperkirakan 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pula tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.2 &#xD;
Pasal 1 ayat (2), (3), dan (4) Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, menyatakan bahwa lansia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.1 Klasifikasi WHO mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok yaitu middle age (45-59), eldery age (60-74) dan old age (75-90). Menurut Maryam, dkk (2008) lansia dibagi menjadi lima klasifikasi, yaitu pralansia yang berusia antara 45–59 tahun, lansia berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi berusia 70 tahun atau lebih, lansia potensial yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa, lansia tidak potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.2 Di seluruh dunia penduduk lansia tumbuh dengan sangat cepat bahkan tercepat dibanding kelompok usia lainnya.1 Peningkatan jumlah lansia di Indonesia terlihat pada sensus penduduk tiap lima tahun sekali menunjukkan bahwa pada tahun 2000 jumlah lansia sebesar 7,18% dari seluruh penduduk Indonesia. Pada tahun 2005, jumlah lansia bertambah lagi menjadi 8,48% dari seluruh penduduk Indonesia.2 Proses penuaan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, yaitu sosial, ekonomi, dan kesehatan, karena dengan semakin bertambahnya usia, fungsi organ tubuh akan semakin menurun baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit.</summary>
    <dc:date>2013-02-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Arivayangan, Shantakumari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Diet, Perilaku Membersihkan Gigi Dan Indeks Kebersihan Rongga Mulut Dengan Early Childhood Caries Pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Medan Selayang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35152" />
    <author>
      <name>Nasution, Nabila</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35152</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:17Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Nabila
Advisors: Roesnawi, Yati; Ariyani
Abstract: Seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang preventive denstistry mengalami perkembangan yang signifikan. Telah ada bermacam-macam tindakan pencegahan bertujuan untuk menghindari meningkatnya prevalensi karies. Berbagai pihak telah banyak berupaya untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, baik melalui program pemerintah, media massa, iklan atau penyuluhan di pusat kesehatan, namun sebaliknya karies gigi masih menjadi salah satu dari penyakit yang paling sering dijumpai.&#xD;
Istilah Early Childhood Caries (ECC) adalah untuk menggambarkan kondisi karies pada anak-anak usia kurang dari 71 bulan dan istilah Severe Early Childhood Caries (S-ECC) untuk kondisi yang lebih parah, dijumpai pada anak usia kurang dari 3 tahun dimana terdapat smooth surface caries; pada anak usia 3-5 tahun terdapat satu atau lebih kavitas, hilang karena karies atau tumpatan pada gigi sulung anterior rahang atas; atau skor def-s ≥ 4 pada anak usia 3 tahun, skor def-s ≥ 5 pada anak usia 4 tahun dan skor def-s ≥ 6 pada anak usia 5 tahun</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Nabila</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Warna Pada Heat Cured Akrilik Resin Yang Direndam Dalam Larutan Obat Kumur Povidone Iodine 1%</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35151" />
    <author>
      <name>Putri, Aprilia Jewita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35151</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:43Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Putri, Aprilia Jewita
Advisors: Syafiar, Lasminda; Lubis, Mimi Mariana
Abstract: Bahan dasar basis gigi tiruan yang paling banyak dipakai adalah resin akrilik polimetil metakrilat jenis heat cured. Bahan basis gigi tiruan yang ideal harus memiliki ciri-ciri fisikal yang sesuai. Beberapa ciri-ciri tersebut antara lain biokompatibilitas, estetik yang baik, radiopak dan mudah diperbaiki. Basis gigi tiruan harus cukup kuat agar dapat berfungsi pada beban pengunyahan yang maksimal.1,2 Resin akrilik pada dasarnya cukup menunjang kondisi estetik suatu mahkota gigi tiruan akan tetapi resin akrilik mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu poreus, absorbsi air, mudah retak dan fraktur.3 Saat ini resin akrilik banyak digunakan secara umum untuk konstruksi gigi tiruan. Resin akrilik dipilih berdasarkan keberadaannya, kestabilan dimensi, karakteristik penanganan, warna, dan biokompatibilitas dengan jaringan lunak mulut</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Putri, Aprilia Jewita</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Antara Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Diet, Perilaku Membersihkan Gigi, dan Indeks Kebersihan Rongga Mulut Dengan Early Childhood Caries Pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Medan Barat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35150" />
    <author>
      <name>Tanjung, Dumalina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35150</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:29Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tanjung, Dumalina
Advisors: Roesnawi, Yati; Bahirrah, Siti
Abstract: Early Childhood Caries (ECC) menggambarkan kerusakan yang terjadi pada gigi desidui dengan suatu pola lesi karies yang unik pada bayi, balita dan anak prasekolah. Istilah ini menggantikan istilah karies botol atau nursing caries yang digunakan sebelumnya untuk menjelaskan suatu bentuk karies rampan pada gigi desidui yang disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya termasuk karbohidrat dalam jangka waktu yang panjang.&#xD;
Menurut American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) ECC yaitu adanya satu atau lebih karies (kavitas atau non kavitas), gigi yang hilang karena karies atau permukaan gigi desidui yang ditambal pada anak usia 71 bulan. Severe Early Childhood Caries (S-ECC) adalah adanya pengalaman karies yaitu satu atau lebih kerusakan berupa lesi kavitas, kehilangan gigi karena karies, atau adanya tambalan pada permukaan halus pada gigi apa saja untuk anak usia &lt; 3 tahun. Anak usia 3-5 tahun, S-ECC adalah pengalaman karies pada permukaan halus gigi insisivus maksila, pengalaman karies pada permukaan halus dengan skor defs ≥ 4 untuk usia 3 tahun, ≥ 5 untuk usia 4 tahun, dan ≥ 6 untuk usia 5 tahun.</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tanjung, Dumalina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Diet, Perilaku Membersihkan Gigi, dan Indeks Kebersihan Rongga Mulut Dengan Early Childhood Caries Pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Medan Petisah</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35149" />
    <author>
      <name>Elsarita, Aulia</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35149</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:32Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Elsarita, Aulia
Advisors: Octiara, Essie; H. Nazruddin
Abstract: Karies merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan di masyarakat, karies tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi dapat pula terjadi pada anak.1 Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 mendapatkan 60% dari 10 penyakit yang paling sering dikeluhkan masyarakat adalah karies dan penyakit periodontal.2&#xD;
Proses terjadinya karies dapat berkembang segera setelah gigi erupsi di dalam rongga mulut.3 Istilah Early Childhood Caries (ECC) digunakan untuk menggambarkan kondisi karies pada anak-anak usia kurang dari 71 bulan dan istilah Severe Early Childhood Caries (S-ECC) untuk kondisi yang lebih parah, dijumpai pada anak usia kurang dari 3 tahun. 2 S-ECC adalah bentuk agresif dari karies gigi pada gigi geligi desidui yang terkait dengan pola pemberian asupan makanan pada anak-anak (AAPD, 2008).4 S-ECC merupakan bentuk karies rampan yang menyerang gigi desidui dengan proses demineralisasi dimulai pada gigi insisivus rahang atas diikuti dengan gigi molar pertama rahang atas dan rahang bawah.5</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Elsarita, Aulia</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Mahasiswa Fakultas Non Kesehatan Universitas Sumatera Utara Terhadap Penyakit Mulut</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35089" />
    <author>
      <name>Salim, Ulfa Alfiya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35089</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:30Z</updated>
    <published>2013-02-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Salim, Ulfa Alfiya
Advisors: Lubis, Wilda Hafni
Abstract: Rongga mulut merupakan pintu pertama masuknya bahan-bahan makanan untuk kebutuhan pertumbuhan individu yang sempurna dan kesehatan yang optimal. Kesehatan mulut yang optimal penting karena memberikan kontribusi dalam menjaga kesehatan individu baik dari faktor fisik, emosional, maupun sosial. Perhatian individu terhadap kesehatan mulut tergantung pada pengetahuan dan sikap individu tersebut terhadap kesehatan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa Fakultas Non Kesehatan Universitas Sumatera Utara terhadap penyakit mulut agar dapat mengatasi masalah penyakit mulut dikalangan mahasiswa menjadi lebih baik lagi melalui program penyuluhan.&#xD;
	Penelitian ini dilakukan secara survei deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian sebanyak 385 mahasiswa Fakultas Non Kesehatan Universitas Sumatera Utara, terdiri dari 168 orang laki-laki dan 217 orang perempuan. Kuesioner diberikan setelah subjek penelitian dipilih berdasarkan metode pengambilan sampel yaitu systematic random sampling. Analisa data dilakukan secara deskriptif yang dihitung dalam bentuk persentase setiap pengetahuan, sikap, dan perilaku subjek penelitian. Data prevalensi disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa Fakultas Non Kesehatan Universitas Sumatera Utara terhadap penyakit mulut. &#xD;
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah persentase pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa Fakultas Non Kesehatan Universitas Sumatera Utara terhadap penyakit mulut (SAR, halitosis, dan ulser traumatik) berada pada kategori baik (61-80%). Kategori baik menggambarkan bahwa subjek penelitian mengetahui bentuk penyakit mulut, memiliki sikap yang baik terhadap cara mengatasi halitosis, serta memiliki perilaku yang baik karena subjek penelitian telah dapat mengobati sendiri penyakit mulut yang dialaminya. Jadi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa terhadap penyakit mulut, diperlukan upaya penyuluhan promotif, preventif, maupun kuratif mengenai penyakit mulut. Selain itu, diperlukan promosi mengenai peranan dokter gigi yang tidak hanya berhubungan dengan masalah gigi saja, tetapi juga terhadap masalah penyakit mulut serta rongga mulut lainnya.</summary>
    <dc:date>2013-02-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Salim, Ulfa Alfiya</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sudut Interinsisal Dengan Profil Jaringan Lunak Wajah Menurut Analisis Ricketts Pada Mahasiswa Suku Batak FKG Dan FT USU</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34671" />
    <author>
      <name>Arigato</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34671</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:35Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Arigato
Advisors: Sulistyawati, Erna; Rachmawati, Aditya
Abstract: Hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah menurut metode Ricketts pada mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU &#xD;
x + 31 halaman&#xD;
Perawatan ortodonti modern bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara hubungan oklusi yang fungsional, wajah yang estetis dan hasil perawatan yang stabil. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pemeriksaan klinis, penegakan diagnosa serta rencana perawatan yang tepat yang dapat dibantu dengan gambaran foto sefalometri. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah menurut metode Ricketts pada mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU.&#xD;
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan pengambilan data cross sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa suku Batak di FKG dan FT USU yang masih aktif dalam perkuliahan. Sampel yang digunakan adalah data sekunder berupa 40 foto selafometri lateral. Sampel diambil dengan cara purposive sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang ditentukan. Analisis data dilakukan dengan menghitung rerata dan standar deviasi sudut interinsisal dan profil jaringan lunak wajah, kemudian dilakukan uji korelasi.&#xD;
&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata sudut interinsisal mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU adalah 121,45°, nilai rerata Ls : E line adalah 0,93 mm dan nilai rerata Li : E line adalah 0,60 mm. Hasil uji korelasi Pearson`s didapat korelasi lemah dengan nilai signifikan yang tidak bermakna dan positif antara sudut interinsisal dengan profil jaringan lunak wajah pada mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU. &#xD;
Dapat disimpulkan bahwa semakin besarnya sudut interinsisal, maka semakin besar pula jarak bibir atas (Ls) dan bibir bawah (Li) terhadap garis estetis. &#xD;
Daftar rujukan : 32 (1960-2012)</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Arigato</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Evaluasi Keberhasilan Perawatan Ortodonti Piranti Cekat Pada Tahun 2006 – 2011 Dengan Menggunakan Peer Assesment Rating Index</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34559" />
    <author>
      <name>Sinaga, Billy Anderson</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34559</id>
    <updated>2012-12-20T21:31:33Z</updated>
    <published>2012-11-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sinaga, Billy Anderson
Advisors: Harahap, Nurhayati
Abstract: Para ahli ortodonti membuat suatu acuan untuk menilai hasil perawatan ortodonti, salah satunya adalah indeks PAR. Indeks PAR memberikan skor yang spesifik dalam mengevaluasi jenis maloklusi yang berbeda dengan perawatan yang berbeda pula. Indeks ini menunjukkan tingkat reliabilitas dan validitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan perawatan ortodonti pada kasus-kasus yang dirawat dengan piranti cekat menggunakan metode indeks PAR (Peer Assesment Rating) di RSGMP PPDGS Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dari tahun 2006-2011.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional. Populasi penelitian adalah model studi pasien sebelum dan sesudah perawatan ortodonti cekat pada pasien di RSGMP PPDGS Ortodonti FKG USU dari tahun 2006-2011. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, populasi terdiri dari 117 kasus pasien, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi sehingga didapatkan 80 sampel model studi. Pengukuran model studi dilakukan dengan penggaris plastik khusus yang berdasarkan acuan pengukuran indeks PAR.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat  keberhasilan  perawatan  ortodonti  cekat  pada 80 kasus terdapat 30 kasus pasien “mengalami perbaikan sangat banyak” (&gt;70%), 49 kasus pasien “mengalami perbaikan” (&gt;30%), sedangkan “tidak mengalami perbaikan atau lebih buruk” (&lt;30%) hanya 1 model studi hal ini disebabkan oleh skor maloklusi sebelum perawatannya ringan. Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan perawatan ortodonti cekat pasien yang dirawat ortodonti cekat di RSGMP PPDGS USU adalah baik dan sesuai dengan standar penilaian perawatan indeks PAR.</summary>
    <dc:date>2012-11-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sinaga, Billy Anderson</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis dan Rasa Pahit pada Perokok Kretek di Kelurahan Padang Bulan Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34540" />
    <author>
      <name>Simamora, Marlina Oktafia S.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34540</id>
    <updated>2012-12-20T21:31:13Z</updated>
    <published>2012-11-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simamora, Marlina Oktafia S.
Advisors: Primasari, Ameta
Abstract: Tongue as the sense of taste have taste buds which covers the entire surface. Taste buds contain taste receptor which are sour, salty, sweet, bitter, and umami. Sensitivity of the taste is effected by many factors, including the smoking habit which is the greatest potential cause in decreased taste sensitivity. WHO in 2008 has established Indonesia as the third largest country in the world as tobacco users. This study aims to look at the differences of taste sensitivity to sweet taste and bitter taste in the pedicab driver clove cigarette smokers with non-smokers in Medan Padang Bulan.&#xD;
This study was conducted by placing the sweet taste strips and bitter taste strips on the four taste receptors on the tongue, they are sweet, salty, sour, and bitter with increasing concentration of the solution in a sequence from the lowest concentration to the highest concentration.&#xD;
The study was designed cross sectional, which population was the pedicab driver around USU in the habit of smoking and non smoking. Total of the samples was 74 samples. Samples were taken with method of selected sampling.&#xD;
The results showed there was differences between clove cigarette smokers and non smokers on examination sweetness to the sweet taste receptor with a value of p = 0,003. There is differences between smokers and non smokers on cigarettes examination sweetness to the salty taste receptor has a value of p = 0.035. There is a difference between clove cigarette smokers and non smokers on examination bitter taste receptors for bitter taste which with the value of p = 0.001. On the clove cigarette smokers, there is no significant difference between sweet taste and bitter taste on the receptors itself.&#xD;
This study concluded non-smokers are more sensitive to sweet taste in sweet taste receptors and salt taste receptors than the clove cigarette smokers. Statistically, bitter taste sensitivity is greater in smokers than non smokers cigarettes. All taste receptors could taste sweet and bitter substances but a certain taste receptors more sensitive to certain substances taste.
Abstract (other language): Lidah sebagai indera pengecap mempunyai taste buds yang meliputi seluruh permukaannya. Taste buds mengandung beberapa reseptor rasa yaitu asam, asin, manis, pahit, dan umami. Sensitivitas indera pengecap dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah kebiasaan merokok yang merupakan potensi paling besar menyebabkan sensitivitas indera pengecap menurun. WHO pada tahun 2008 telah menetapkan Indonesia sebagai negara terbesar ke tiga sebagai pengguna rokok di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan sensitivitas indera pengecap pada rasa manis dan rasa pahit pada tukang becak perokok kretek dengan non perokok di kelurahan Padang Bulan Kota Medan.&#xD;
Untuk mengetahui adanya perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada perokok dan non perokok, pada penelitian ini dilakukan dengan cara meletakkan taste strips rasa manis dan rasa pahit di 4 reseptor rasa pada lidah yakni reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit dengan peningkatan konsentrasi larutan secara berurutan dari konsentrasi yang paling rendah ke konsentrasi yang paling tinggi.&#xD;
	Rancangan penelitian adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah tukang becak di sekitar kampus USU yang mempunyai kebiasaan merokok dan tidak merokok. Jumlah sampel adalah 74 sampel. Sampel diambil dengan metode selected sampling, pemilihan subjek berdasarkan kuesioner yang dilakukan sebelumnya dengan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.&#xD;
Hasil menunjukkan ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor rasa manis mempunyai nilai p = 0.003. Ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor rasa asin mempunyai nilai p = 0.035. Ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa pahit untuk reseptor rasa pahit dimana nilai p = 0,001. Pada perokok kretek, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasa manis dengan rasa pahit pada masing-masing reseptor rasa.&#xD;
Hasil penelitian menyimpulkan non perokok lebih peka merasakan rasa manis pada reseptor manis dan asin dibandingkan perokok kretek. Secara statistik, sensitivitas indera pengecap rasa pahit lebih besar pada non perokok dibandingkan dengan perokok kretek. Semua reseptor rasa dapat merasakan zat rasa manis dan rasa pahit yang diberikan namun reseptor rasa tertentu lebih peka terhadap zat rasa tertentu pula.</summary>
    <dc:date>2012-11-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simamora, Marlina Oktafia S.</dc:creator>
    <dc:description>Lidah sebagai indera pengecap mempunyai taste buds yang meliputi seluruh permukaannya. Taste buds mengandung beberapa reseptor rasa yaitu asam, asin, manis, pahit, dan umami. Sensitivitas indera pengecap dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah kebiasaan merokok yang merupakan potensi paling besar menyebabkan sensitivitas indera pengecap menurun. WHO pada tahun 2008 telah menetapkan Indonesia sebagai negara terbesar ke tiga sebagai pengguna rokok di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan sensitivitas indera pengecap pada rasa manis dan rasa pahit pada tukang becak perokok kretek dengan non perokok di kelurahan Padang Bulan Kota Medan.&#xD;
Untuk mengetahui adanya perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada perokok dan non perokok, pada penelitian ini dilakukan dengan cara meletakkan taste strips rasa manis dan rasa pahit di 4 reseptor rasa pada lidah yakni reseptor rasa manis, asin, asam, dan pahit dengan peningkatan konsentrasi larutan secara berurutan dari konsentrasi yang paling rendah ke konsentrasi yang paling tinggi.&#xD;
	Rancangan penelitian adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah tukang becak di sekitar kampus USU yang mempunyai kebiasaan merokok dan tidak merokok. Jumlah sampel adalah 74 sampel. Sampel diambil dengan metode selected sampling, pemilihan subjek berdasarkan kuesioner yang dilakukan sebelumnya dengan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.&#xD;
Hasil menunjukkan ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor rasa manis mempunyai nilai p = 0.003. Ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa manis untuk reseptor rasa asin mempunyai nilai p = 0.035. Ada perbedaan antara perokok kretek dengan non perokok pada pemeriksaan rasa pahit untuk reseptor rasa pahit dimana nilai p = 0,001. Pada perokok kretek, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasa manis dengan rasa pahit pada masing-masing reseptor rasa.&#xD;
Hasil penelitian menyimpulkan non perokok lebih peka merasakan rasa manis pada reseptor manis dan asin dibandingkan perokok kretek. Secara statistik, sensitivitas indera pengecap rasa pahit lebih besar pada non perokok dibandingkan dengan perokok kretek. Semua reseptor rasa dapat merasakan zat rasa manis dan rasa pahit yang diberikan namun reseptor rasa tertentu lebih peka terhadap zat rasa tertentu pula.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penatalaksanaan Protrusi Dan Open Bite Anterior Dengan Bedah Ortognatik</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34476" />
    <author>
      <name>Ramakrishan, Yogalavanya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34476</id>
    <updated>2012-12-20T21:29:31Z</updated>
    <published>2012-11-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ramakrishan, Yogalavanya
Advisors: Ketaren, Eddy
Abstract: Protrusi dan open bite anterior adalah maloklusi yang dapat terjadi secara dental atau skeletal. Secara umum, protrusi anterior maksila berarti protrusi di bagian anterior tetapi tidak melibatkan gigi-gigi posterior dan berada dalam kelas I Angle. Open bite anterior merupakan keadaan di mana terdapat celah atau ruangan atau tidak ada kontak di antara gigi-gigi atas dan gigi-gigi bawah di regio anterior. Kedua-dua maloklusi ini memiliki etiologi seperti faktor tumbuh kembang dari rahang dan kebiasaan buruk.&#xD;
Maloklusi secara skeletal dikoreksi dengan bedah ortognatik. Bedah ortognatik merupakan prosedur bedah mayor yang sering dilakukan bersama terapi ortodonti untuk mengkoreksi kelainan dentofasial atau skeletal yang parah pada maksila atau mandibula. Bedah ortognatik menyediakan metode mengkoreksi kelainan skeletal dan mengikuti fase pra bedah dari perawatan ortodonti untuk memperbaiki komponen dentoalveolar.&#xD;
Teknik bedah ortognatik yang diaplikasikan pada protrusi adalah osteotomi segmental anterior manakala bagi kasus open bite anterior adalah osteotomi mandibular subapikal anterior. Sebelum pembedahan, pemeriksaan fisik, rencana perawatan, serta persetujuan pasien adalah hal penting untuk membantu keberhasilan suatu pembedahan.&#xD;
Setelah operasi, pemakaian bahan fiksasi pada mandibula atau maksila dilakukan untuk menstabilkan hasil pembedahan tersebut dan  membantu proses penyembuhan. Pasien diberi edukasi mengenai cara penjagaan makanan, kebersihan rongga mulut yang baik dan kontrol yang berkala untuk mencapai hasil yang baik.&#xD;
Komplikasi pembedahan yang lazim terjadi pada bedah secara umum meliputi pendarahan, kegagalan segmen, kehilangan pasokan darah, komplikasi saraf, infeksi mikroorganisme dan terjadi juga komplikasi jalan napas.</summary>
    <dc:date>2012-11-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ramakrishan, Yogalavanya</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) sebagai Alternatif Medikamen Saluran Akar terhadap Porphyromonas gingivalis (Secara In-Vitro)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34406" />
    <author>
      <name>Amalia, Sarah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34406</id>
    <updated>2012-12-20T21:28:52Z</updated>
    <published>2012-11-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Amalia, Sarah
Advisors: Yanti, Nevi; Farahanny, Wandania
Abstract: Perawatan endodonti dengan kasus bakteri resisten, adanya eksudat dan rasa sakit sehingga tidak bisa selesai dalam sekali kunjungan memerlukan bahan medikamen seperti Ca(OH)2 yang tidak memiliki pereda nyeri. Porphyromonas gingivalis salah satu bakteri yang sering menyebabkan flare up endodonti. Pegagan bersifat antibakteri, antiinflamasi dan anti nyeri sehingga diharapkan dapat dikembangkan menjadi alternatif bahan medikamen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek antibakteri pegagan terhadap Porphyromonas gingivalis dengan mencari Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM).&#xD;
Ekstraksi pegagan sebanyak 3 kg dikeringkan dan dihaluskan menjadi 390 gram, dilarutkan dengan 12 liter pelarut etanol 96% dan diuapkan dengan rotavapor menjadi ekstrak kental 98 gram. Ekstrak etanol pegagan diencerkan dalam Mueller Hinton Broth (MHB) dengan metode dilusi sampai konsentrasi 100%,50%,25%,12,5%,6,25% dan 3,125%. Kemudian ditambahkan 1 ml suspensi bakteri, diinkubasi 24 jam pada inkubator CO2, amati kekeruhan dan bandingkan dengan kontrol untuk mendapatkan KHM. Kemudian tiap konsentrasi dicampur, diambil 50 μl diteteskan ke dalam Mueller Hinton Agar (MHA), direplikasi 4x, diinkubasi dan dihitung jumlah bakteri untuk mendapatkan KBM.&#xD;
Untuk penentuan KBM, pada konsentrasi 100%,50% dan 25% menunjukkan hasil steril (0). Konsentrasi 12,5%,6,25% dan 3,125% menunjukkan pertumbuhan bakteri yang subur (TBUD). Pada konsentrasi 22,5% didapat jumlah bakteri dengan rata-rata 3,24 x 1015 CFU/ml, konsentrasi 15%,17,5% dan 20% ialah TBUD. Nilai KHM tidak diketahui karena tidak ada tabung yang mulai berubah menjadi jernih.&#xD;
Kesimpulan dari penelitian, ekstrak etanol pegagan memiliki efek antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis dengan nilai KBM 25%. Nilai KHM tidak diketahui karena tidak bisa dibedakan kekeruhan yang terjadi.</summary>
    <dc:date>2012-11-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Amalia, Sarah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kombinasi Penggunaan Arch Bar Dan Lag Screw Dalam Penatalaksanaan Fraktur Mandibula Anterior</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34224" />
    <author>
      <name>Siregar, Hafsyah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34224</id>
    <updated>2012-12-20T21:25:24Z</updated>
    <published>2012-10-24T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Hafsyah
Advisors: Mariani, Mimi
Abstract: Penulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi efikasi dari menggunakan lag screw tunggal dikombinasikan dengan arch bar di pengelolaan fraktur mandibula anterior dan untuk membandingkan metode ini dengan  aplikasi penggunaan dua  lag screw.&#xD;
Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula, yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur dibuka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plat osteosintesis. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadang-kadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Salah satu prosedur kombinasi dalam penatalaksanaan fraktur mandibula adalah kombinasi penggunaan arch bar dengan lag screw.&#xD;
&#xD;
Hasil dari penggunaan kombinasi arch bar dan lag screw adalah pemeriksaan klinis menunjukkan fiksasi yang stabil tanpa mobilitas atau infeksi pada pasien. Hubungan oklusal pretraumatik dari pasien telah dibentuk kembali. Pasca operasi, gambaran radiografi menunjukkan segmen fraktur berkurang dengan penyembuhan tulang secara bertahap.&#xD;
Penggunaan satu lag screw dalam hubungannya dengan arch bar di garis fraktur adalah rigid dan cukup stabil untuk mengelola fraktur mandibula anterior tanpa membutuhkan tambahan intermaksilari fiksasi. Penggunaan satu lag screw menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan dengan penggunaan tradisional dari 2 lag screw. Keuntungan ini termasuk penurunan biaya, penggunaan bahan, waktu penyembuhan, dan resiko terkait morbiditas.</summary>
    <dc:date>2012-10-24T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Hafsyah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) sebagai Alternatif Medikamen Saluran Akar terhadap Enterococcus faecalis (Secara In vitro)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34122" />
    <author>
      <name>Fitri, Atika Resti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34122</id>
    <updated>2012-12-20T21:23:26Z</updated>
    <published>2012-10-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fitri, Atika Resti
Advisors: Yanti, Nevi; Batubara, Fitri Yunita
Abstract: Perawatan saluran akar bertujuan untuk menghilangkan bakteri serta produknya dari saluran akar terinfeksi. Pemberian medikamen intrakanal untuk mengeliminasi bakteri di saluran akar yang tidak bisa dicapai oleh proses chemomechanical cleansing. Beberapa medikamen dapat bersifat toksik sehingga diperlukan bahan yang berasal dari bahan alami, salah satunya adalah pegagan yang bersifat biokompatibel, memiliki efek antibakteri, antiinflamasi, serta antinosiseptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etanol pegagan terhadap E.faecalis dengan melihat nilai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM).&#xD;
Tanaman pegagan yang dikeringkan (390 gram), diekstraksi dengan etanol 96% sampai diperoleh ekstrak kental 98 gram. Pengujian antibakteri menggunakan metode dilusi dengan mengencerkan ekstrak pegagan dalam Mueller Hinton Broth, diperoleh konsentrasi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25% dan 3,125% masing-masing 4 sampel. Tiap konsentrasi diambil 1 ml, tambahkan 1 ml suspensi bakteri, dicampur dengan vorteks, diinkubasi pada 37°C selama 24 jam dalam inkubator CO2. Amati perubahan kekeruhan, bandingkan dengan kontrol Mc. Farland untuk mendapatkan nilai KHM. Tiap kelompok dicampur dengan vorteks, diambil 50 µl, diteteskan pada Mueller Hinton Agar, direplikasi 4 kali, diinkubasi dan jumlah koloni bakteri dihitung untuk menentukan nilai KBM. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 100%,50%, 25% seluruh bakteri mati, sementara konsentrasi 12,5%,6,25%, 3,125% dijumpai pertumbuhan bakteri yang subur. Lalu dilakukan pengujian pada konsentrasi 15%, 17,5%, 20%, 22,5% dan diperoleh hasil pada semua konsentrasi tersebut seluruh bakteri mati.&#xD;
Dengan demikian, disimpulkan bahwa ekstrak etanol pegagan memiliki efek antibakteri terhadap E. faecalis dengan KBM 15%. Sedangkan, nilai KHM pada penelitian ini tidak dapat diketahui karena hasil tidak representatif untuk mengukur nilai KHM.</summary>
    <dc:date>2012-10-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fitri, Atika Resti</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penyakit Periodontal Pada Penderita Sindroma Down</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34096" />
    <author>
      <name>Margaretha, Eva</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34096</id>
    <updated>2012-12-20T21:23:15Z</updated>
    <published>2012-10-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Margaretha, Eva
Advisors: Zulkarnain; Rangkuti, Irmansyah
Abstract: Sindroma Down merupakan penyakit kongenital yang disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom, ditandai dengan keadaan fisik khas dan retardasi  mental dengan faktor etiologi yang belum diketahui secara pasti. Namun diduga risiko memiliki anak dengan sindroma Down akan semakin meningkat dengan semakin tua usia ibu pada saat hamil.&#xD;
Penderita sindroma Down pada umumnya mempunyai gambaran klinis yang khas, sangat mirip antara satu orang dengan lainnya disamping itu terlihat tanda kelainan klinis neurologik antara lain berupa hipotonia otot dan retardasi mental. Selain itu penderita sindroma Down juga mempunyai beberapa kelainan sistemik seperti kelainan kardiovaskuler yang penting untuk diperhatikan dokter gigi.&#xD;
Dalam bidang Periodonsia, banyak penyakit – penyakit atau kondisi sistemik yang berkaitan dengan penyakit periodontal, diantaranya sindroma Down. Pada umumnya penderita sindroma Down mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya penyakit periodontal. Ada dua faktor pencetus yang mempengaruhi tingginya prevalensi penyakit periodontal pada penderita ini yaitu faktor lokal dan faktor sistemik.  Faktor lokal meliputi oral hygiene, kalkulus,otot wajah dan leher lemah , anomali gigi dan jaringan gingiva,  saliva dan faktor sistemik seperti respon imun host, integritas jaringan, mediator inflamatori, enzim proteolitik dan faktor endokrin serta nutrisi.&#xD;
Walaupun hingga saat ini belum ada penelitian jangka panjang tentang keberhasilan atau kegagalan perawatan pada penderita sindroma Down, namun penderita sindroma Down ini memerlukan perawatan yang efektif dan efisien untuk mengatasi penyakit periodontal yang dialaminya. Ada hal –hal yang harus diperhatikan oleh dokter gigi sebelum melakukan perawatan pada penderita Sindroma Down seperti sleep apnea dan penanganan tingkah laku. Perawatan periodontal pada penderita ini harus dilakukan secara dini, agresif dan inovatif. Perawatan – perawatan yang dilakukan diantaranya adalah: perawatan preventif, terapi antimikroba dan cangkok tulang.</summary>
    <dc:date>2012-10-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Margaretha, Eva</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Orangtua Dengan Status Bebas Karies Pada Anak Usia 7-11 Tahun</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33762" />
    <author>
      <name>Sihite, Johan H.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33762</id>
    <updated>2013-01-04T19:06:34Z</updated>
    <published>2012-09-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sihite, Johan H.
Advisors: Natamiharja, Lina
Abstract: Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui prevalensi bebas karies, pengalaman karies, hubungan tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan orangtua dengan prevalensi bebas karies pada anak usia 7-11 tahun.&#xD;
	Populasi pada penelitian ini adalah anak berusia 7-11 tahun di SD Negeri 101817 Pancur Batu dan SD Swasta Santo Thomas 5 Medan. Besar sampel adalah 200 anak, 100 anak di SD Negeri 101817 Pancur Batu dan 100 anak SD Swasta Santo Thomas 5 Medan yang diambil secara stratified random sampling. Pengumpulan data tentang karies gigi dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan klinis dengan menggunakan indeks Klein. Data mengenai pendidikan dan pekerjaan orangtua diperoleh secara sekunder dari buku induk siswa.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukkan 49% anak mengalami karies gigi dan DMFT rata-rata 1,01. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah dengan prevalensi bebas karies gigi anak (p=0,007), antara tingkat pendidikan ibu dengan prevalensi bebas karies gigi anak (p=0,000) dan antara jenis pekerjaan ayah dengan prevalensi bebas karies gigi anak (p=0,001). Namun tidak terlihat adanya kecenderungan makin meningkatnya pekerjaan ibu dengan prevalensi bebas karies pada anak (p=0,229).</summary>
    <dc:date>2012-09-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sihite, Johan H.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penatalaksanaan Osteosarkoma Pada Mandibula</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33727" />
    <author>
      <name>Harahap, Dessy Nandasari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33727</id>
    <updated>2012-12-20T21:16:17Z</updated>
    <published>2012-09-24T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Dessy Nandasari
Advisors: Ketaren, Anwar
Abstract: Osteosarkoma merupakan neoplasma ganas pada tulang dimana susunan sel- sel dan jaringannya berada pada stadium yang berbeda pada perkembangan tulang. Pada tulang rahang disamping tulang dan periosteum, sarkoma juga berkembang dari periodontal membrane dan dari jaringan osseus sinus maksilaris.&#xD;
Secara klinis, osteosarkoma pada tulang ini menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan yang mengakibatkan wajah menjadi asimetris, kehilangan gigi, parastesi, bahkan menyebabkan pendarahan dan obstruksi nasal. Secara radiografi, osteosarkoma kemungkinan memperlihatkan gambaran radiografi radiolusen secara keseluruhan, campuran radiolusen dan radiopak, atau sedikit radiopak serta adanya gambaran berupa sunburst atau sunray, serta tanda-tanda lain dari kerusakan tulang. .&#xD;
Perawatan yang dilakukan melalui radical surgery ternyata berhasil menyelamatkan pasien sebanyak 80%. Dalam kasus keterlibatan tulang panjang, sering sekali amputasi merupakan pilihan yang paling tepat terutama jika dapat bermetastase sampai ke jaringan tubuh yang lain. Perawatan yang paling umum dilakukan adalah dengan pembedahan yang sering dikombinasikan dengan pemakaian kemoterapi.</summary>
    <dc:date>2012-09-24T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Dessy Nandasari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Profil Lateral Wajah Berdasarkan Jenis Kelamin pada Mahasiswa USU Ras Deutro-Melayu</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33726" />
    <author>
      <name>Wihary, Fransisca</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33726</id>
    <updated>2013-01-04T19:06:33Z</updated>
    <published>2012-09-24T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wihary, Fransisca
Advisors: Sofyanti, Ervina
Abstract: Penentuan profil lateral wajah merupakan salah satu pemeriksaan ortodonti untuk keperluan diagnosis dan rencana perawatan. Hasil perawatan ortodonti yang bertujuan untuk memperoleh susunan gigi geligi yang rapi akan mempengaruhi penampilan wajah dari samping. Perbaikan profil jaringan lunak wajah juga menjadi salah satu ukuran keberhasilan perawatan. Tipe profil lateral wajah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, jenis kelamin dan ras. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat profil lateral wajah pada ras Deutro-Melayu usia 18-25 tahun dan melihat perbedaan profil lateral wajah antara laki-laki dan perempuan.&#xD;
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan foto profil lateral mahasiswa USU ras Deutro-Melayu sebanyak 46 foto yang terdiri dari 23 foto subjek laki-laki dan 23 foto subjek perempuan. Pada sampel dilakukan pengukuran menggunakan analisis dari Rakosi (1982) yang menggunakan 3 titik anatomis yaitu glabella, labialis superior, dan pogonion.&#xD;
Hasil penelitian diperoleh rerata profil lateral wajah lurus (straight), cembung (convex), dan cekung (concave) pada mahasiswa USU ras Deutro-Melayu usia 18-25 tahun secara berturut-turut adalah 0%; 100%; 0%. Distribusi profil lateral wajah pada subjek laki-laki dan perempuan adalah sama yaitu lurus (0%), cembung (100%), dan cekung (0%).&#xD;
Kesimpulannya adalah profil lateral wajah subjek laki-laki dan perempuan pada masa gigi permanen dewasa muda usia 18-25 tahun pada ras Deutro-Melayu adalah cembung (convex). Dari hasil analisis uji Crosstabs pengukuran profil lateral wajah terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara profil lateral wajah laki-laki dan perempuan.</summary>
    <dc:date>2012-09-24T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wihary, Fransisca</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Deteksi Binder's Syndrome Melalui Gambaran Radiografi Di Rongga Mulut</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33718" />
    <author>
      <name>Munisamy, Yogeswaran</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33718</id>
    <updated>2012-12-20T21:16:28Z</updated>
    <published>2012-09-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Munisamy, Yogeswaran
Advisors: Tahir, Amrin
Abstract: Binder’s syndrome adalah salah satu kelainan kongenital yang terjadi pada manusia akibat pertumbuhan dan perkembangan tulang wajah yang abnormal. Hipoplasia nasomaksilaris pada penderita sindrom binder menyebabkan profil wajah terlihat cekung dan sama dengan profil wajah penderita maloklusi klas III. Oleh karena itu, penderita sindrom binder umumnya mengalami maloklusi klas III.&#xD;
	Penegakan diagnosa sindrom binder dapat dievaluasi melalui pemeriksaan klinis dan radiografi. Pada pemeriksaan klinis ditemukan maksila yang retrusi, lubang hidung yang berbentuk semilunar, hidung yang datar, bibir atas cembung dengan filtrum yang besar, columella yang pendek, maloklusi klas III dan profil wajah yang cekung. Pemeriksaan radiografi sefalometri lateral dan computed tomography (CT) dapat membantu penegakan diagnosa melalui bentuk wajah yang abnormal,antara lain nasal spinal anterior yang tidak ada,relasi molar klas III dan beberapa ukuran morfologis di tulang tengkorak.&#xD;
	Perawatan penderita sindrom binder antara lain perbaikan hidung (meliputi meninggikan hidung dan columella), augmentasi maksila, ortodonti, bone dan cartilage graft serta osteotomi.Tujuan perawatan sindrom binder adalah untuk memperbaiki profil wajah penderita dan bersifat estetis.</summary>
    <dc:date>2012-09-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Munisamy, Yogeswaran</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengamatan Zona Hambat Minyak Atsiri Bawang Putih, Cengkeh dan Jintan Hitam Terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33716" />
    <author>
      <name>Dian Hidayati S</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33716</id>
    <updated>2012-12-20T21:16:16Z</updated>
    <published>2012-09-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Dian Hidayati S
Advisors: Nasution, Minasari
Abstract: Minyak atsiri bawang putih, cengkeh dan jintan hitam mempunyai daya hambat terhadap pertumbuan Streptococcus mutans. Minyak atsiri bawang putih memiliki senyawa aktif yaitu allicin yang akan menghambat sintesis RNA dan DNA sel. Minyak atsiri cengkeh memiliki senyawa aktif berupa eugenol yang dapat merusak langsung membran sel bakteri. Thymoquinone yang merupakan bahan aktif dari minyak atsiri jintan hitam mampu menghambat sintesis protein dan menyebabkan gangguan fungsi sel. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan daya hambat minyak atsiri bawang putih, cengkeh dan jintan hitam terhadap Streptococcus mutans.&#xD;
Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan desain Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel yang digunakan adalah bakteri Streptococcus mutans dari stamp. Uji daya hambat menggunakan teknik Disc Diffusion Test dengan bahan coba minyak atsiri bawang putih, cengkeh, jintan hitam dan aquades, etanol 96% sebagai kontrol. Minyak atsiri bahan coba dibuat dengan metode penyulingan uap dan air dan setiap bahan coba dilakukan 7 kali pengulangan. Zona hambat yang terbentuk diukur menggunakan kaliper digital dengan ketelitian 0,01. Data dianalisa dengan uji Oneway ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Komparansi Ganda.&#xD;
Hasil menunjukkan rata-rata zona hambat aquades 0 mm, etanol 96% 8,237 mm, minyak atsiri bawang putih dengan 17,248 mm, minyak atsiri cengkeh dengan 21,171 mm dan minyak atsiri jintan hitam dengan 16,295 mm. Hasil pengamatan rata-rata zona hambat setiap bahan coba kecuali aquades, mempunyai daya hambat terhadap Streptococcus mutans dengan kemampuan yang berbeda. Hasil uji analisis Oneway ANOVA dan Komparasi Ganda menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (P&lt;0,05) antara rata-rata zona hambat kelompok perlakuan bahan coba. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri cengkeh memiliki daya hambat terbesar dibandingkan dengan bahan coba lain. Minyak atsiri bawang putih memiliki daya hambat terbesar ke dua dan yang terakhir minyak atsiri jintan hitam memiliki daya hambat terkecil dibandingkan minyak atsiri cengkeh dan bawang putih.</summary>
    <dc:date>2012-09-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Dian Hidayati S</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ukuran dan Bentuk Lengkung Gigi Rahang Bawah pada Mahasiswa Suku Batak Fakultas Kedokteran Gigi dan Teknik USU</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33647" />
    <author>
      <name>Jesika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33647</id>
    <updated>2012-09-15T19:05:28Z</updated>
    <published>2012-09-10T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Jesika
Advisors: Bahirrah, Siti
Abstract: Raberin menyatakan bahwa salah satu syarat utama dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan ortopedi dentofasial adalah susunan gigi pada lengkung rahang bawah. Lengkung gigi rahang bawah merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam mempertahankan stabilitas hasil perawatan ortodonti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU. Penelitian ini  menggunakan 50 model studi gigi yang diperoleh dari mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU yang diseleksi terlebih dahulu. Model studi yang diperoleh diukur dalam arah transversal dan sagital berdasarkan metode Raberin. Setelah dilakukan pengukuran, diperoleh rerata ukuran lengkung gigi rahang bawah mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU dalam arah transversal (lebar interkaninus, intermolar pertama, intermolar kedua) adalah sebagai berikut, 26,8086; 46,7562; 55,4858, sedangkan dalam arah sagital (kedalaman kaninus, molar pertama, molar kedua)                                     adalah 4,3658; 23,7278; 39,6344. Distribusi bentuk lengkung gigi rahang bawah mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU adalah sebagai berikut, narrow (32%),    flat (26%), mid (20%), wide (18%), dan pointed (4%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk lengkung gigi rahang bawah pada mahasiswa suku Batak FKG dan FT USU pada umumnya berbentuk narrow dengan persentase 32%. Hal ini disebabkan karena nilai persentase devasi relatif perbandingan L31/L33, L61/L66, L71/L77 hasilnya positif.</summary>
    <dc:date>2012-09-10T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Jesika</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Perendaman Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas dalam Ekstrak Bonggol Nanas Queen dan Rebusan Daun Sirih terhadap Pertumbuhan Candida albicans</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33569" />
    <author>
      <name>Astrina, Ika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33569</id>
    <updated>2012-09-16T19:00:24Z</updated>
    <published>2012-08-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Astrina, Ika
Advisors: Dahar, Eddy; Nasution, Hubban
Abstract: Bahan basis gigitiruan yang umumnya dipergunakan dalam pembuatan gigitiruan adalah resin akrilik polimerisasi panas, tetapi bahan ini memiliki kelemahan yaitu pada porositas dan kekasaran permukaan sehingga permukaan basis gigitiruan yang tidak dipoles seperti bagian yang menghadap ke jaringan dapat mempermudah melekatnya sisa makanan dan apabila tidak dibersihkan dengan baik maka akan menjadi tempat berkembangnya spesies mikroba, hal ini akan menimbulkan denture stomatitis, yang diakibatkan jamur Candida albicans. Perendaman gigitiruan ke dalam bahan pembersih dianjurkan sebagai perawatan tambahan pada denture stomatitis. Tanaman obat tradisional yang diketahui berkhasiat sebagai antiseptik, antifungi, desinfektan adalah nanas dan daun sirih. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh perendaman bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak bonggol nanas Queen dan rebusan daun sirih terhadap pertumbuhan Candida albicans. Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan sampel penelitian menggunakan resin akrilik polimerisasi panas yang dibuat dalam bentuk lempeng uji dengan ukuran 10x10x1 mm sebanyak 30 buah, dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 10 buah. Penentuan jumlah koloni Candida albicans dilakukan dengan mengkontaminasi lempeng uji dengan suspensi Candida albicans selama 24 jam pada suhu 370 C. Setelah 24 jam, tiap satu lempeng uji dimasukkan ke dalam satu tabung reaksi yang berisi ekstrak bonggol nanas Queen dan rebusan daun sirih masing-masing selama 5 menit, kemudian lempeng uji dikeluarkan dan dibilas dengan Phosphate Buffered Saline sebanyak dua kali. Lempeng uji dimasukkan ke dalam Sabouraud’s Broth 10 ml, digetarkan dengan vortex selama 30 detik, kemudian dilakukan pembenihan 0,1 ml Sabouraud’s Broth pada Sabouraud Dextrose Agar (SDA), lalu diinkubasi selama 48 jam dilakukan penghitungan koloni Candida albicans dengan satuan CFU/ml dalam 100 mm3&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh perendaman bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak bonggol nanas Queen dan rebusan daun sirih terhadap pertumbuhan Candida albicans. Nilai rerata dan simpangan baku jumlah koloni Candida albicans pada kelompok yang direndam dalam ekstrak bonggol nanas Queen adalah 7770,00 ± 4091,740, kelompok yang direndam dalam rebusan daun sirih adalah 19780.00 ± 7530.648 sedangkan kelompok yang direndam dalam larutan NaCl 0,9% sebagai kontrol adalah 106140.00 ± 55418.693. Hasil uji LSD (Least Significant Differences) menunjukkan bahwa pada α=0,05 perendaman bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak bonggol nanas Queen dan rebusan daun sirih tidak berbeda secara signifikan (p&gt;0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak bonggol nanas Queen lebih efektif dari rebusan daun sirih terhadap pertumbuhan Candida albicans, walaupun perbedaannya tidak signifikan (p&gt;0,05).</summary>
    <dc:date>2012-08-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Astrina, Ika</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Alergi Penggunaan Natural Rubber Latex (NRL) pada Kedokteran Gigi Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33566" />
    <author>
      <name>Chantiora, Yua</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33566</id>
    <updated>2012-09-15T19:03:51Z</updated>
    <published>2012-08-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Chantiora, Yua
Advisors: T. Hermina M
Abstract: Paparan terhadap natural rubber latex (NRL) di klinik telah meningkat secara signifikan sejak pertengahan tahun 1980, karena kekhawatiran atas penyebaran infeksi virus seperti human immunodeficiency virus (HIV) dan hepatitis.&#xD;
Peningkatan pemakaian bahan NRL di klinik telah disertai dengan peningkatan kejadian alergi NRL pada pekerja kesehatan dan pasien. Oleh karena itu, dihasilkan sarung tangan pelindung dari bahan NRL yang dipakai secara rutin untuk prosedur klinis.&#xD;
Prevalensi alergi lateks pada umumnya rendah, namun risiko berkembangnya alergi lateks lebih tinggi terhadap tingkat paparan lateks, seperti pada pekerja kesehatan, anak-anak dengan spina bifida, atopi dan hand eczema.&#xD;
Reaksi alergi lateks yang ditimbulkannya dapat berupa dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi dan hipersensitivitas&#xD;
tipe I. Reaksi kulit timbul akibat efek dari bahan lateks yang dapat menyebabkan hipersensitivitas.&#xD;
Alergi lateks dapat didiagnosis dengan riwayat klinis, pemeriksaan fisik dan uji kulit. Pencegahannya dilakukan dengan menghindari paparan terhadap alergen lateks dan melakukan perawatan yang tepat terhadap reaksi alergi yang timbul.</summary>
    <dc:date>2012-08-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Chantiora, Yua</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Terjadinya Stomatitis Nikotina Pada Pegawai Non-Akademik Universitas Sumatera Utara.</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33565" />
    <author>
      <name>Kang, Kwa Zheng</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33565</id>
    <updated>2012-09-15T19:03:41Z</updated>
    <published>2012-08-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kang, Kwa Zheng
Advisors: Hasibuan, Sayuti
Abstract: Penggunaan tembakau akan membawa efek negatif baik secara sistemik maupun secara lokal. Perubahan jaringan lunak dalam rongga mulut yang signifikan meliputi leukoplakia, stomatitis nikotina, smoker’s melanosis, hairy tongue, median rhomboid glossitis, kandidiasis, infeksi bakteri, gingivitis ulseratif nekrosis akut, periodontitis, tobacco keratosis dan kanker mulut.&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dilakukan dengan rancangan cross sectional untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efeknya yaitu kebiasaan merokok dengan terjadinya stomatitis nikotina. Penelitian ini dilakukan dalam lingkungan Universitas Sumatera Utara, Medan Indonesia selama dua bulan yaitu pada bulan Desember 2011 dan bulan Januari 2012. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 85 orang perokok dari pegawai non-akademik USU.&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan terjadinya stomatitis nikotina. Namun, intensitas merokok merupakan faktor predisposisi yang menonjol dalam penelitian ini (P=0,017). Dari 85 orang pegawai yang diperiksa, hanya terdapat 2 orang yang mempunyai lesi stomatitis nikotina (2,35%).&#xD;
Kesimpulannya, tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan terjadinya stomatitis nikotina tetapi adanya hubungan yang signifikan antara jumlah rokok yang dihisap per hari dengan terjadinya stomatitis nikotina (P=0,017).</summary>
    <dc:date>2012-08-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kang, Kwa Zheng</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Lebar Enam Gigi Anterior Rahang Atas dengan Jarak Interkantal dan Jarak Bizigomatik pada Mahasiswa Indonesia FKG USU Angkatan 2008-2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33384" />
    <author>
      <name>Sasmita, Rora</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33384</id>
    <updated>2012-09-15T19:00:55Z</updated>
    <published>2012-08-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sasmita, Rora
Advisors: Putranti, Dwi T.; Nasution, Hubban
Abstract: Estetis merupakan salah satu alasan utama pasien mendapatkan perawatan prostodontik, dan salah satu permasalahan estetis gigitiruan adalah penentuan ukuran gigi anterior rahang atas. Faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan ukuran anasir gigitiruan anterior rahang atas adalah lebar gigi. Bermacam petunjuk telah disarankan untuk menentukan lebar gigi geligi anterior rahang atas, diantaranya jarak interkantal dan jarak bizigomatik. Jarak bizigomatik dibagi 3,3 diperkirakan sama dengan lebar enam gigi geligi anterior rahang atas, sementara jarak interkantal dapat digunakan untuk memperkirakan lebar enam gigi geligi anterior rahang atas  dengan cara mengalikan jarak interkantal  dengan 1,35. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan antara lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interantal dan jarak bizigomatik, melihat perbedaan perbandingan  lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal, serta melihat hubungan antara perbandingan lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal dan jarak bizigomatik pada mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2008-2011 berdasarkan suku dan jenis kelamin.&#xD;
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan mengumpulkan data lebar enam gigi anterior rahang atas, jarak interkantal dan jarak bizigomatik, dilanjutkan dengan studi analitik untuk melihat perbedaan perbandingan lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal dan jarak bizigomatik berdasarkan ras dan jenis kelamin, serta melihat hubungan perbandingan tersebut. Sampel penelitian adalah mahasiswa Indonesia FKG USU angkatan 2008-2011 yang memenuhi kriteria. &#xD;
	Nilai perbandingan jumlah lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal tertinggi pada pria suku Deutro-Melayu yaitu 1:0,7865 dan terendah pada wanita suku Proto-Melayu yaitu 1:0,7128. Nilai perbandingan jumlah lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak bizigomatik tertinggi pada pria suku Deutro-Melayu yaitu 1:2,9069 dan terendah pada wanita suku Deutro-Melayu yaitu 1:2,8180. Uji analisis t-test menunjukkan perbedaan yang signfikan hanya didapat pada perbandingan jumlah lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal pada suku Deutro-Melayu berdasarkan jenis kelamin. Hubungan antara perbandingan jumlah lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal dan jarak bizigomatik pada suku Deutro-Melayu dan Proto-Melayu secara keseluruhan  serta pada wanita suku Proto-Melayu menunjukkan korelasi yang signifikan. &#xD;
 &#xD;
	Kesimpulan penelitian ini adalah perbandingan antara jumlah lebar enam gigi anterior rahang atas dengan jarak interkantal dan jarak bizigomatik tidak bisa dipakai secara individual pada pria dan wanita suku Deutro-Melayu serta pada pria suku Proto-Melayu. Sementara itu, perbandingan tersebut dapat dipakai secara individual pada wanita suku Proto-Melayu.</summary>
    <dc:date>2012-08-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sasmita, Rora</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Radiografis Cemento Ossifying Fibroma Pada Mandibula</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33332" />
    <author>
      <name>Pandiangan, Chandra PH.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33332</id>
    <updated>2012-12-20T20:44:58Z</updated>
    <published>2012-07-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pandiangan, Chandra PH.
Advisors: Boel, Trelia
Abstract: Cemento Ossifying Fibroma merupakan suatu neoplasma fibro osseus  benigna yang tumbuh lambat mengenai tulang, bersifat asimtomatik dan sering ditemukan pada dekade kedua dan keempat dari kehidupan, biasanya terjadi pada penderita usia muda. &#xD;
	Secara radiografi Cemento Ossifying Fibroma terlihat berupa lesi unilokular dan multilokular yang berbatas jelas. Terdapat tiga pola batas dari gambaran radiografi Cemento Ossifying Fibroma yaitu gambaran lesi tanpa batas sklerotik, gambaran lesi dengan batas sklerotik, dan lesi dengan batas tidak jelas. &#xD;
Cemento Ossifying Fibroma mempunyai massa berkapsul sehingga mudah dipisahkan dari tulang normal sekitarnya. Perawatan dilakukan dengan cermat berdasarkan pemeriksaan klinis, biopsi dan radiografis sebagai pemeriksaan penunjang sehingga diagnosa yang tepat dapat ditegakkan dan memperkecil timbulnya keadaan patologis di kemudian hari.</summary>
    <dc:date>2012-07-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pandiangan, Chandra PH.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Krioterapi Terhadap Pembengkakan, Nyeri dan Trismus Setelah Odontektomi Molar Tiga</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33223" />
    <author>
      <name>Wulandari, Nur Suri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33223</id>
    <updated>2012-06-28T02:54:11Z</updated>
    <published>2012-06-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wulandari, Nur Suri
Advisors: Abdullah
Abstract: Pembengkakan, nyeri dan trismus adalah konsekuensi yang tidak diinginkan dari pasca-odontektomi. Nyeri dan pembengkakan dapat dikurangi dengan menggunakan krioterapi (terapi kompres dingin atau terapi es). Tujuan penulisan ini adalah mengevaluasi efektifitas krioterapi dalam terapi dingin untuk mengurangi konsekuensi setelah operasi.&#xD;
Krioterapi adalah penghancuran terkontrol dan ditargetkan dari jaringan yang sakit dengan penerapan suhu rendah. Respon fisiologi pertama dari jaringan pada krioterapi adalah penurunan suhu lokal yang menyebabkan metabolisme sel berkurang. Reseptor suhu terangsang oleh perubahan kecepatan metabolik yang disebabkan oleh suhu. Krioterapi akan menurunkan suhu jaringan yang rusak melalui pertukaran panas dan menyempitkan pembuluh darah, hal ini memperlambat metabolisme dan konsumsi oksigen sehingga mengurangi kerusakan sel. Perawatan setelah odontektomi untuk mengurangi ketidak nyamanan pasien terhadap komplikasi setelah odontektomi adalah dengan teknik krioterapi. Krioterapi adalah metode yang sangat sederhana, murah biaya dan mudah dilakukan.</summary>
    <dc:date>2012-06-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wulandari, Nur Suri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Erosi gigi dan kebiasaan mengonsumsi minuman ringan pada siswa/i kelas VIII SMP Dharma Pancasila Kecamatan Medan Baru dan SMP Negeri 34 Medan, Kecamatan Medan Maimun</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33089" />
    <author>
      <name>Visvanathan, AlliRani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33089</id>
    <updated>2012-12-20T20:37:58Z</updated>
    <published>2012-05-31T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Visvanathan, AlliRani
Advisors: Yanti, Gema Nazri
Abstract: Erosi gigi diakibatkan oleh suatu proses kimia dimana terjadi hilangnya mineral gigi yang umumnya disebabkan oleh zat asam. Minuman yang bersifat asam seperti minuman karbonat merupakan salah satu faktor penyebab erosi.Usia pertama kali terlihat adanya erosi pada gigi permanen sekitar 14 tahun. Menurut penelitian di Mashhad, dinyatakan prevalensi erosi gigi sebanyak 38,10% pada 483 siswa yang berumur 12 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara frekuensi minum minuman ringan dengan erosi gigi pada siswa/i Kelas VIII SMP Dharma Pancasila dan SMP Negeri 34 Medan.Populasi adalah seluruh siswa/i kelas VIII SMP Dharma Pancasila, Kecamatan Medan Baru adalah 91 siswa/i dan SMP Negeri 34 Medan, Kecamatan Medan Maimun adalah 127 siswa/i.Seluruh populasi dijadikan sampel (total sampling). Jumlah sampel seluruhnya adalah 218 siswa/i.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner serta pemeriksaan klinis yang sederhana. Hasil penelitian menunjukkan seluruh responden mempunyai kebiasaan minum minuman ringan, jenis minuman yang paling sering konsumsi adalah minuman berupa manis (teh,sirup,minuman jelly) sebanyak 61,50%, diikuti minuman jus 20,20% dan minuman karbonat 18,30%. Bedasarkan hasil uji statistik, tidak dijumpai perbedaan yang signifikan antara frekuensi minum minuman ringan dengan erosi gigi diantara kedua sekolah ini (p=0,430). Perlu diberikan program edukasi kesehatan gigi kepada siswa/i SMP Dharma Pancasila dan SMP Negeri 34 tentang bahaya konsumsi minum minuman ringan yang berlebihan terhadap kesehatan serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kerusakan gigi akibat minuman ringan. Serta perlu diberikan informasi kepada pihak pengurusan sekolah tentang efek konsumsi minuman ringan yang berlebihan terhadap kesehatan dan diharapkan sekolah membatasi penyediaan minuman ringan di kantin sekolah.</summary>
    <dc:date>2012-05-31T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Visvanathan, AlliRani</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peran orangtua terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak dan status kesehatan gigi dan mulut anak kelas II SD St. Yoseph 1 Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33087" />
    <author>
      <name>Halim, Margaret P</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33087</id>
    <updated>2012-12-20T20:39:37Z</updated>
    <published>2012-05-31T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Halim, Margaret P
Advisors: Natamiharja, Lina
Abstract: Masalah utama dalam rongga mulut anak baik di negara maju maupun di negara berkembang adalah karies gigi. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004 prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. Penelitian Natalina Hutabarat mendapat ada hubungan peran orangtua dengan status kesehatan gigi dan mulut anak yaitu rata-rata deft, OHIS dan gingivitis.&#xD;
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran ayah dan ibu dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut anak, status kesehatan gigi dan mulut anak serta hubungan antara peran orangtua dengan status kesehatan gigi dan mulut anak pada siswa kelas II SD St. Yoseph 1 Medan.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas II SD St. Yoseph 1 Medan. Selain siswa, orangtua siswa juga menjadi sampel penelitian. Jumlah sampel adalah 167 siswa. Pengumpulan data status kesehatan gigi anak dilakukan dengan pemeriksaan secara langsung dalam rongga mulut dengan menggunakan indeks debris menurut Greene dan Vermillion, indeks deft menurut Klein dan indeks gingivitis menurut Ramfjord. Sedangkan pengumpulan data peran orangtua dilakukan dengan memberikan angket.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan ayah masih kurang berperan dalam mengajari anak cara menyikat gigi sejak usia 2 tahun, memberitahukan waktu menyikat gigi, membawa anak ke dokter gigi dan memeriksa kesehatan gigi dan mulut anak, namun sudah baik dalam mengawasi anak menyikat gigi sampai sekarang, menyediakan sikat gigi dan pasta gigi yang sesuai untuk anak dan dalam memelihara kebiasaan makan anak. Ibu masih kurang berperan dalam mengajari anak cara menyikat gigi sejak usia 2 tahun, memberitahukan waktu menyikat gigi, membawa anak ke dokter gigi dan memeriksa kesehatan gigi dan mulut anak, namun sudah baik dalam mengawasi anak menyikat gigi sampai sekarang, menyediakan sikat gigi dan pasta gigi yang sesuai untuk anak dan dalam memelihara kebiasaan makan anak. Rata-rata deft anak adalah 4,20 ± 3,25, OHIS 0,39 ± 0,55 dan gingivitis 0,03 ± 0,06. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara peran orangtua dengan rata-rata deft, OHIS dan gingivitis anak. Peran orangtua dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut anak dapat mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut anak.</summary>
    <dc:date>2012-05-31T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Halim, Margaret P</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Tensile Bond Strength Antara Resin Komposit Berbasis Methacrylate Dan Silorane Dengan Menggunakan Sistem Adhesif Yang Berbeda Pada Restorasi Klas I Insisivus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33086" />
    <author>
      <name>Merry Yunita P</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33086</id>
    <updated>2012-12-20T20:39:19Z</updated>
    <published>2012-05-31T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Merry Yunita P
Advisors: Nurliza, Cut
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tensile bond strength antara resin komposit yang berbasis methacrylate dan silorane menggunakan sistem adhesif yang berbeda pada restorasi klas I insisivus.&#xD;
Jenis penelitian adalah eksperimental laboratorium. Sampel berjumlah 32 buah gigi insisivus satu rahang atas disimpan dalam larutan saline sebelum waktu perlakuan, terdiri atas dua kelompok perlakuan yaitu kelompok I yang menggunakan resin komposit silorane dan sistem adhesif silorane dan kelompok II yang menggunakan resin komposit methacrylate dan sistem adhesif self-etch primer methacrylate. Semua sampel ditanam dalam tabung plastik berdiameter 13 mm dan tinggi 15 mm berisi self curing acrylic. Sampel diuji tarik menggunakan alat uji tarik Torsee’s Electron System Universal Testing dengan beban maksimal 200 kgf (kilogram force) dan kecepatan 1 mm/ menit. Dari 32 sampel yang diuji terlihat 4 sampel restorasi resin komposit utuh, 11 sampel restorasi lepas sebagian (cohesive failure) dan 17 sampel restorasi lepas seluruhnya (adhesive failure). Dari dua kelompok perlakuan, kelompok I (Filtek P90 dengan Sistem Adhesif Silorane) memiliki tensile bond strength lebih besar dibandingkan dengan kelompok II (Filtek P60 dengan Adper SE Plus), yaitu sebesar 504,08 ± 76,24.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis secara statistik dengan uji-T tidak ada perbedaan bermakna nilai tensile bond strength antara resin komposit berbasis methacrylate dan silorane dengan menggunakan sistem adhesif yang berbeda pada restorasi klas I insisivus. ( p &gt; 0,05).</summary>
    <dc:date>2012-05-31T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Merry Yunita P</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Tensile Bond Strength Resin Komposit Berbasis Silorane dengan Menggunakan Sistem Adhesif yang Berbeda pada Restorasi Klas I</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33085" />
    <author>
      <name>Sary, Bunga Indah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33085</id>
    <updated>2012-12-20T20:38:54Z</updated>
    <published>2012-05-31T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sary, Bunga Indah
Advisors: Nurliza, Cut
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tensile bond strength dari resin komposit berbasis silorane terhadap dentin dengan menggunakan bahan adhesif self-etch two-step yang berbeda (Silorane System Adhesive dan Adper SE Plus) pada restorasi klas I premolar bawah.&#xD;
Sampel berjumlah 32 buah gigi premolar satu dan dua rahang bawah yang diekstraksi untuk keperluan ortodonti, terdiri dari dua kelompok perlakuan yaitu kelompok I diaplikasikan sistem adhesif self-etch two-step (Silorane System Adhesive) dengan resin komposit berbasis silorane. Kelompok II diaplikasikan sistem adhesif self-etch two-step (Adper SE Plus) dengan resin komposit berbasis silorane. Gigi direstorasi di permukaan oklusal, gigi dipotong sampai batas servikal. Permukaan oklusal sampel ditumpat dengan resin komposit menggunakan sistem adhesif sesuai kelompok. Semua sampel ditanam dalam tabung plastik berdiameter 13 mm dan tinggi 17 mm berisi self curing acrylic. Sampel uji tarik dengan menggunakan alat uji tarik Torsee`s Electronic System Universal Testing Machine (2tf “Senstar”, SC-2-DE, Tokyo - Japan) dengan beban maksimal 200 kgf, dengan kecepatan regangan 1 mm/detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan tensile bond strength resin komposit berbasis silorane dengan menggunakan bahan adhesif self-etch two-step yang berbeda (Silorane System Adhesive dan Adper SE Plus).</summary>
    <dc:date>2012-05-31T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sary, Bunga Indah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penatalaksanaan Fraktur Arkus Zigomatikus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33009" />
    <author>
      <name>Lubis, Siti Maryam</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33009</id>
    <updated>2012-12-20T20:37:13Z</updated>
    <published>2012-05-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lubis, Siti Maryam
Advisors: Hanafiah, Olivia Avriyanti
Abstract: Arkus zigomatikus merupakan sepasang tulang di daerah muka. Ada tiga tulang yang mendukung arkus zigomatikus yaitu tulang maksila dibagian depan, tulang frontal di superior dan tulang temporal di belakang. Fraktur arkus zigomatikus dapat terjadi secara terpisah atau kombinasi dari fraktur tulang zigoma. Fraktur arkus zigoma sendiri hanya terjadi 10% dari fraktur tulang zigoma.&#xD;
Fraktur arkus zigomatikus dapat terjadi karena kecelakaan lalu-lintas. Kecelakaan kerja, kecelakaan akibat olah raga, kecelakaan akibat perkelahian dan juga akibat tindakan kekerasan, tetapi paling banyak adalah akibat kecelakaan lalu-lintas. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan yaitu 4:1.&#xD;
Fraktur arkus zigomatikus ditangani sesuai dengan pola fraktur yang ditemui, karena sebagian besar fraktur yang dijumpai adalah fraktur yang tidak berpindah, penanganan biasanya konservatif dengan langkah-langkah observasi. Fraktur arkus zigomatikus umumnya ditangani dengan reduksi tertutup atau reduksi terbuka. Reduksi dapat dilakukan dengan metode Gillies dan metode intra oral.</summary>
    <dc:date>2012-05-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lubis, Siti Maryam</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Deteksi Bifid Mandibular Canal Melalui Gambaran Radiografi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32818" />
    <author>
      <name>Cheng, Chong Met</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32818</id>
    <updated>2012-12-20T20:29:12Z</updated>
    <published>2012-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Cheng, Chong Met
Advisors: Thahir, Amrin
Abstract: Bifid mandibular canal merupakan suatu penyimpangan pada kanalis mandibularis yang bercabang dua dan dapat terlihat melalui gambaran radiografi. Kasus bifid mandibular canal yang dijumpai dalam praktek dokter gigi berkisar antara 0,08-15,6%, menurut beberapa penelitian dari tahun 1985-2010. Hal ini penting dalam melakukan prosedur operasi berupa anestesi, implan, pembedahan molar tiga, fraktur mandibula dan sebagainya. Ini karena pengetahuan tentang bifid mandibular canal dapat membantu dalam pekerjaan terhadap tindakan operasi yang membutuhkan anestesi pada nervus-nersus tertentu sehingga tidak terjadi kegagalan pada operasi.&#xD;
Secara radiografi, kondisi bifid mandibular canal dapat dideteksi melalui gambaran radiografi panoramik dan mandibular half-arch yang memberi gambaran dua dimensi serta foto CT dari pandangan aksial, sagital dan cross-sectional yang menampilkan gambaran tiga dimensi. Kegagalan dokter gigi mendeteksi kehadiran bifid mandibular canal dapat mengakibatkan komplikasi-komplikasi seperti luka nervus, perdarahan, paratesia dan sebagainya.</summary>
    <dc:date>2012-05-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Cheng, Chong Met</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Rekonstruksi Celah Bibir Bilateral dengan Metode Barsky</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31860" />
    <author>
      <name>Manickam, M. Vignesvary</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31860</id>
    <updated>2012-12-20T20:49:26Z</updated>
    <published>2012-03-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Manickam, M. Vignesvary
Advisors: Osmani, Shaukat Hasbi
Abstract: Celah bibir dengan atau tanpa celah langitan merupakan kelainan kongenital atau cacat bawaan yang cukup banyak di jumpai di Indonesia. Terbentuknya celah wajah ini disebabkan kegagalan prosesus facialis untuk bersatu pada masa perkembangan embrio, sedangkan upaya untuk mengoreksi terhadap kelainan tersebut terus dikembangkan dengan berbagai metode. Terdapat banyak metode dalam koreksi celah bibir lapioplasti dengan masing-masing kekurangan dan kelebihannya. Metode yang biasa digunakan untuk koreksi celah bibir bilateral antara lain: Millard, Manchester, Straight line closure, dan Barsky.&#xD;
	Metode Barsky merupakan metode yang umumnya digunakan untuk penutupan prolabium yang pendek sehingga menghasilkan koreksi bibir yang tidak natural seperti; terjadinya pemanjangan bibir secara vertikal, ada tarikan satu sisi yang lain, terbentuk seperti pulau pada prolabium di tengah bibir dan biasanya tidak terbentuk miring (cupid bow).&#xD;
	Celah bibir dapat terjadi pada satu sisi (unilateral) maupun kedua sisi (bilateral) secara simetris atau tidak simetris. Keadaan ini semua tergantung tingkat keparahan gangguan dalam proses pertumbuhan pembentukan embrional.&#xD;
	Cacat tetap bila tidak dilakukan rekontruksi, akan menyebabkan masa depan yang suram dan rendah diri selamanya. Tujuan operasi celah bibir adalah untuk menutup celah pada bibir sehingga didapatkan bibir yang mendekati normal baik dalam fungsi  maupun bentuk untuk memperbaiki penampilan. Pedomen utama dalam melakukan operasi bibir sumbing adalah dengan sesedikit mungkin membuang jaringan dan mempertahankan miring (Cupid’s bow).&#xD;
Keberhasilan suatu tindakan setelah operasi tidak hanya tergantung dari operatornya tetapi juga oleh kepedulian pasien, keluarga pasien dan juga obat-obatan dalam pemyembuahan luka.</summary>
    <dc:date>2012-03-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Manickam, M. Vignesvary</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penatalaksanaan Lipoma Pada Dasar Mulut</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31578" />
    <author>
      <name>Sari, Afriza Kumala</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31578</id>
    <updated>2012-12-20T20:17:44Z</updated>
    <published>2012-03-10T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sari, Afriza Kumala
Advisors: Hasbi, Shaukat Osmani
Abstract: Lipoma adalah neoplasma jinak dari sel-sel lemak dan kebanyakan berasal&#xD;
dari lapisan lemak bukal yang konsistensinya lunak, sering mempunyai kapsul,&#xD;
kadang-kadang dapat tumbuh infiltratif. Ada beberapa kemungkinan etiologi dari&#xD;
lipoma menurut MS tan dan B Singh yaitu lipoblastic embryonic cell nest in origin,&#xD;
metafase sel otot, degenerasi lemak, hereditar, hormonal, trauma, infeksi, iritasi&#xD;
kronis.&#xD;
Perawatan lipoma pada dasar mulut adalah pembedahan dengan eksisi.&#xD;
Pembedahan yang dilakukan harus mempertimbangkan lokasi tumor dan hasil&#xD;
kosmetik yang diinginkan. Eksisi dilakukan meliputi jaringan sehat di sekitar lesi&#xD;
untuk mencegah rekurensi.</summary>
    <dc:date>2012-03-10T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sari, Afriza Kumala</dc:creator>
  </entry>
</feed>

