<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/682" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/682</id>
  <updated>2013-05-21T08:43:40Z</updated>
  <dc:date>2013-05-21T08:43:40Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Percepatan Swasembada Protein Hewani Asal Domba:&#xD;
Pemanfaatan Hasil Samping Perkebunan&#xD;
Dengan Penambahan Mineral dan Hidrolisat Bulu Ayam</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20616" />
    <author>
      <name>Siregar, Zulfikar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20616</id>
    <updated>2011-09-13T21:30:19Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Zulfikar
Abstract: Standar kecukupan protein hewani yang dikeluarkan oleh Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (LIPI, 1989) adalah 6 g/kapita/hari setara dengan daging 10,3 kg, telur 6,5 kg dan susu 7,2 kg/kapita/tahun. Konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia sekarang ini sebesar 4,19 g/kapita/ hari setara dengan daging sebesar 5,25 kg, telur 3,5 kg, dan susu 5,5 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi protein hewani masyarakat Sumatera Utara adalah daging 9,2 kg, telur 6,56 kg dan susu 0,37 kg/ kapita/tahun. Sumatera Utara baru dapat memenuhi standar kebutuhan telur, sedangkan susu sangat rendah konsumsinya. (Dinas Peternakan, Sumatera Utara, 2007). Populasi penduduk Sumatera Utara ± 12 juta orang membutuhkan ketersediaan pangan asal hewan/ternak yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) untuk dikonsumsi. Mengingat bahwa kebutuhan protein asal daging masyarakat Sumatera Utara baru tercapai 89,32%, jelas terlihat ada kesenjangan sebesar 10,68% masih merupakan tantangan yang harus dihadapi guna memenuhinya. Kondisi yang diinginkan di masa yang akan datang adalah terpenuhinya standar konsumsi daging dan telur, khusus untuk konsumsi susu diharapkan meningkat, walaupun belum dapat memenuhi standar. Untuk percepatan tercapainya target swasembada protein hewani 2010, berbagai kebijakan telah dicanangkan yaitu gerakan mandiri PROTEINA 2001, kebijakan DIRJEN peternakan swasembada daging 2005 melalui peningkatan produktivitas dan populasi ternak ruminansia, termasuk domba. Target pemenuhan protein hewani ini tercapai apabila sumber daya, baik alam maupun manusia diupayakan. Berlakunya UU Otonomi Daerah No. 22/1999, daerah dapat memberdayakan potensi yang ada dan hasilnya digunakan untuk kemakmuran dan kemajuan daerah. Potensi Propinsi Sumatera Utara untuk mendukung pengembangan domba adalah hasil samping perkebunan yang sangat melimpah.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Zulfikar</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Estetika Sastra Melayu Tradisi Perekat&#xD;
Persahabatan Dengan Berbilang Bangsa</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20615" />
    <author>
      <name>Syaifuddin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20615</id>
    <updated>2011-09-13T21:29:16Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Syaifuddin
Abstract: Masyarakat yang hidup di zaman modern dan global ini, mungkin merasa bahwa sastra tradisi yang sarat dengan naratif ketahyulan, khayalan, mitos, dongeng, dan tidak rasional sudah tidak relevan lagi. Tabrani (2006:9) menyatakan modernisme mengajar agar bersifat realistis dan membuang sesuatu yang bertentangan dengan ciri dan nilai realitas serta keilmiahan. Namun, sadar ataupun tidak sadar masyarakat pada zaman pascamodern pun telah membawa kita kembali ke zaman silam. Unsur tahyul, khayalan, mitos, dongeng, dan tidak rasional itu telah menjadi sumber dan hipogram lahirnya beberapa teks kreatif yang baru. Contohnya lahir karya-karya bercorak realisme magis, yaitu kombinasi antara realisme dan unrealisme. Habermas (Lubis, 2006:3) dalam melahirkan teori kritisnya juga mengungkapkan bahwa kemiskinan dunia kehidupan sebagai akibat dominasi rasionalitas. Dengan kata lain, yang klasik, tradisional, dan lama senantiasa mempunyai makna, walaupun ada yang harus diubah atau diperbaharui menurut tuntutan zaman. Umpamanya, mengubah atau mengganti unsur mitos dan dongeng yang membangun bahwa raja atau penguasa sebagai titisan dewa. Oleh karena itu, Sikana (2007:7) menyatakan bahwa sesungguhnya warisan sastra Melayu tradisi adalah akar tunggang dan citra jati diri bangsa. Rahman (Arasyid, dkk., 2008:19) juga menyatakan beberapa pengkaji dan budayawan Melayu kerap menyatakan bahwa wujudnya perubahan zaman, kepercayaan terhadap tradisi juga turut mengalami perubahan. Umpamanya, dari segi kosmologi kalau dahulu masyarakat Melayu lebih berpegang kepada tradisi mitos, kini ia digantikan oleh tradisi kosmologi yang bercorak material dan empiris. Namun, kenyataan dari pandangan para sarjana dan cendikia di atas tidak sepenuhnya berlaku di dalam realitas perkembangan dunia sastra Melayu tradisi. Di dalam khazanah sastra Melayu tradisi, walaupun tidak dapat dikatakan terikat sepenuhnya, tetapi ia tidak pernah lepas secara mutlak dari arti dan fungsi makna filosofis wacana awal yang kerap menyertai karya-karya tradisi Melayu yang berkaitan dengan sejarah, adab, dan perilaku dalam kehidupan.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Syaifuddin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengembangan Ide Individualisasi&#xD;
Pemidanaan Dalam Pembinaan&#xD;
Narapidana Wanita</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20614" />
    <author>
      <name>Suwarto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20614</id>
    <updated>2011-09-13T21:26:05Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Suwarto
Abstract: Kejahatan bukan merupakan bawaan sejak lahir dan juga bukan merupakan warisan biologis, namun dapat disebabkan oleh faktor sosiologis.1 Kejahatan merupakan kenyataan sosial, sebagaimana yang dikemukakan oleh Arif Gosita bahwa masalah kriminilitas merupakan suatu kenyataan sosial yang tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya, sebagai fenomena yang ada dalam masyarakat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Bila dilihat dari sisi jenis kelamin pelakunya, kejahatan tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, tetapi juga dilakukan oleh kaum wanita. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya faktor ekonomi. Namun pelaku kejahatan wanita sering tidak terungkap atau tidak dilaporkan ke Polisi karena beberapa hal, seperti adanya rasa malu terhadap dirinya dan keluarga, sehingga hal tersebut tidak diproses lebih lanjut. Ada dua alasan yang muncul dalam menjelaskan mengapa tindak pidana yang pelakunya wanita adalah “underreported” yaitu: &#xD;
a. Karena mereka sering tidak tersidik (less often detected), sebab ciri &#xD;
terselubung (masked character) dari kejahatannya (seperti abortus,&#xD;
pencurian uang dari kantong atau dompet langgangan oleh seorang&#xD;
pelacur, kejahatan kesusilaan terhadap anak).&#xD;
b. Karena wanita yang tertangkap sering mendapat perlakuan yang lebih&#xD;
ringan dibanding pelaku pria (mungkin untuk menghindari stigma&#xD;
sosial).3&#xD;
Sehubungan dengan itu Dadang Hawari mengemukakan teori yang populer&#xD;
disebut dengan istilah “teori gunung es”, di mana fakta yang ada minimal&#xD;
harus dikali sepuluh yang artinya jika ada lima pelaku kejahatan wanita&#xD;
yang terlibat secara faktual, maka ada empat puluh lima lagi pelaku&#xD;
kejahatan yang tidak terungkap.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Suwarto</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Disparitas Ekonomi Regional&#xD;
dan Perencanaan Wilayah</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20613" />
    <author>
      <name>Sirojuzilam</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20613</id>
    <updated>2010-10-22T10:50:29Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sirojuzilam
Abstract: Tujuan pembangunan ekonomi (bersifat multidimensional) adalah menciptakan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan (disparity), dan pengangguran (Todaro, 2000). Sejalan dengan hal tersebut, maka pembangunan ekonomi daerah menghendaki adanya kerjasama diantara pemerintah, privat sektor, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang dimiliki oleh wilayah tersebut dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja seluas-luasnya. Indikator keberhasilan pembangunan ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya ketimpangan baik di dalam distribusi pendapatan penduduk maupun antar wilayah. Berbagai masalah timbul dalam kaitan dengan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi wilayah, dan terus mendorong perkembangan konsep-konsep pertumbuhan ekonomi wilayah. Dalam kenyataannya banyak fenomena tentang pertumbuhan ekonomi wilayah. Kesenjangan (ketimpangan) wilayah dan pemerataan pembangunan menjadi permasalahan utama dalam pertumbuhan wilayah, bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi wilayah tidak akan bermanfaat dalam pemecahan masalah kemiskinan. Beberapa perbedaan antara wilayah dapat dilihat dari beberapa persoalan seperti, potensi wilayah, pertumbuhan ekonomi, investasi (domestik dan asing), luas wilayah, konsentrasi industri, transportasi, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Kajian terhadap ekonomi dan pembangunan wilayah (regional) memang sudah dilakukan sejak lama, terutama di Eropa yang ditandai oleh pemikiran Von Thunen (1826), Alfred Weber (1929), dan August Loch (1939). Akan tetapi secara keilmuan Walter Isard (1956), telah meletakkan kerangka dasar tentang prinsip-prinsip yang termasuk dalam lingkup regional science. Perkembangan ilmu ini di Indonesia mulai dirasakan pada awal tahun 1970-an yang didasarkan bahwa urgensi pembangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional yang tak terpisahkan.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sirojuzilam</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Potensi Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai&#xD;
Pusat Pengembangan Sapi Potong Dalam&#xD;
Merevitalisasi dan Mengakselerasi&#xD;
Pembangunan Peternakan Berkelanjutan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20612" />
    <author>
      <name>Umar, Sayed</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20612</id>
    <updated>2011-09-13T21:27:39Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Umar, Sayed
Abstract: Pembangunan peternakan sebagai bagian integral dari pembangunan pertanian sebagaimana yang tercantum dalam arah dan kebijakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak dalam rangka memenuhi kebutuhan daging nasional dan dapat mengurangi impor daging, dengan perkataan lain dapat menghemat devisa. Produksi daging dalam negeri belum memenuhi kebutuhan konsumsi, konsumsi daging sapi tahun 2006 baru mencapai 0,82 kg/kapita/tahun. Menurut Ditjen Peternakan tingkat konsumsi daging secara nasional masih sangat kecil sekitar 1,72 kg/kapita/tahun (Ditjen Peternakan, 2003). Menurut Dwiyanto et al. (2006) konsumsi daging sapi penduduk Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sekitar 2-3 kali lipat dari rata-rata konsumsi saat ini kurang dari 2 kg/kapita/tahun (Muladno, 2006) Populasi sapi potong yang ada sekarang di Indonesia menurut data statistik Ditjen Peternakan sekitar 10,5 juta ekor (Boediayana, 2007). Kondisi populasi dan produktivitas sapi di Indonesia masih rendah belum dapat memenuhi kebutuhan permintaan daging dan saat ini masih harus diimpor daging dan sapi bakalan sekitar 30% dari total konsumsi nasional (Diwyanto,2006). Data impor sapi mencapai 380 ribu ekor sapi bakalan dan daging/jeroan sebanyak 50 ribu ton pertahun (Boediyana, 2007 dan Quierke, D. at. al, 2003). Kondisi Provinsi Sumatera utara konsumsi daging sapi baru mencapai 0,58 kg/kapita/tahun (Statistik Peternakan Sumatera Utara, 2007). Menurut Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara, untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih harus mengimpor sapi dari Australia sekitar 7790 ekor setiap tahunnya.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Umar, Sayed</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kajian atas Pengelolaan Risiko&#xD;
Dalam Mencapai Keberhasilan&#xD;
Organisasi/Perusahaan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20611" />
    <author>
      <name>Rismayani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20611</id>
    <updated>2011-09-13T21:27:07Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rismayani
Abstract: Berbicara tentang risiko tidak terlepas dalam kehidupan dan kegiatan sehari-hari, baik disadari maupun tidak disadari, dan pada dasarnya, timbulnya risiko, karena apa yang dihadapi penuh dengan kemungkinan dan ketidakpastian. Sehubungan dengan hal ini, maka baik individu maupun organisasi/ perusahaan yang profit oriented atau non profit oriented, bisnis atau non bisnis tetap tidak akan terlepas dari risiko, jika ingin mencapai keberhasilan. Semakin besar keberhasilan yang ingin dicapai semakin besar pula risiko yang akan dihadapi. Jika difokuskan pada pengelolaan organisasi/perusahaan dalam pelaksanaan kegiatannya terdapat berbagai kemungkinan dan ketidakpastian sehingga menimbulkan risiko. Bagaimana mengelola risiko dalam mencapai keberhasilan, dan apakah semua risiko harus dikelola dalam kegiatan organisasi/perusahaan.  Pada dasarnya siapapun tidak ingin berisiko dalam kehidupan juga kegiatannya, karena risiko berakibat yang kurang baik dan merugikan, begitu pula dengan pengelolaan organisasi/perusahaan. Risiko tidak terpisahkan dari dunia bisnis dan perusahan harus berupaya mengoptimalkan profil risiko/hasil mereka (Lam, 2007). Vaugham (1978) dalam Darmawi (2005) menyatakan bahwa: 1). Risiko adalah kans kerugian, 2). Risiko adalah kemungkinan kerugian, 3). Risiko adalah ketidakpastian, 4). Risiko adalah hasil aktual dari hasil yang diharapkan, dan 5). Risiko adalah profitabilitas sesuatu outcome yang berbeda dengan outcome yang diharapkan. Jika diperhatikan memang risiko tidak dapat dihindari tetapi tentunya dapat diperkecil, dan untuk memperkecil risiko perlu pengelolaan yang sebaikbaiknya, serta memperhatikan risiko yang harus dihadapi dan ditangani (handle) karena tidak semua risiko perlu penanganan secara keseluruhan meskipun tanggung jawab pengelolaan risiko di hadapan pemegang saham, berada pada pimpinan dan juga pekerja dalam organisasi/perusahaan. Sebagaimana yang dinyatakan Darmawi (2005) bahwa: pegawai dan direktur dunia usaha mempunyai tanggung jawab hukum terhadap pemegang saham atau pemilik perusahaan bagi pengelolaan risiko murni.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rismayani</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemanfaatan Bahan Pengawet&#xD;
dan Antioksidan Alami pada&#xD;
Industri Bahan Makanan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20610" />
    <author>
      <name>Barus, Pina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20610</id>
    <updated>2011-09-13T21:25:04Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Barus, Pina
Abstract: Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia di samping pendidikan, kesehatan dan sandang lainnya. Kebutuhan bahan pangan ini akan terus meningkat sesuai dengan laju pertumbuhan penduduk. Secara garis besar masalah pangan dan sistem pangan umumnya dibagi atas sub sistem produksi, pengadaan dan konsumsi. Bahan pangan tersebut akan mengalami perubahan-perubahan yang tidak diinginkan antara lain pembusukan dan ketengikan. Proses pembusukan dan ketengikan disebabkan oleh adanya reaksi kimia yang bersumber dari dalam dan dari luar bahan pangan tersebut. Dari segi ilmu kimia, komponen utama dari bahan pangan terdiri dari protein, karbohidrat, dan lemak. Kerusakan bahan pangan ini umumnya disebabkan oleh mikroorganisme melalui proses enzimates dan oksidasi, terutama yang mengandung protein dan lemak sementara karbohidrat mengalami dekomposisi. Dalam rangka menghambat proses kerusakan pangan, oleh beberapa pengusaha digunakan bahan pengawet dan antioksidan sintetis seperti formalin, asam benzoat, BHA (Butilated Hydroxyanisol), BHT (Butylated Hidroxytoluene) dan TBHQ (Tertier Butylated Hydroxyanisole) terutama untuk bahan makanan semi basah seperti tahu, mie, bakso, ikan, daging serta minyak/lemak. Dari segi ilmu kimia, komponen utama dari bahan pangan terdiri dari protein, karbohidrat, dan lemak. Kerusakan bahan pangan ini umumnya disebabkan oleh mikroorganisme melalui proses enzimates dan oksidasi, terutama yang mengandung protein dan lemak sementara karbohidrat mengalami dekomposisi. Dalam rangka menghambat proses kerusakan pangan, oleh beberapa pengusaha digunakan bahan pengawet dan antioksidan sintetis seperti formalin, asam benzoat, BHA (Butilated Hydroxyanisol), BHT (Butylated Hidroxytoluene) dan TBHQ (Tertier Butylated Hydroxyanisole) terutama untuk bahan makanan semi basah seperti tahu, mie, bakso, ikan, daging serta minyak/lemak.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Barus, Pina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prospek dan Tantangan Ilmu Administrasi&#xD;
Dalam Implementasi Otonomi Daerah&#xD;
di Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20609" />
    <author>
      <name>Sihombing, Marlon</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20609</id>
    <updated>2010-10-22T10:31:05Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sihombing, Marlon
Abstract: Perkembangan ilmu administrasi sebagai disiplin ilmu tidak terlepas dari hakekat manusia sebagai mahkluk yang bersifat inquisitive, yang selalu berfikir untuk mencari dan menemukan kebenaran dari waktu ke waktu, from cradle to cradle manusia berusaha menemukan kebenaran baru. Karenanya sosok ilmu administrasi menjadi amat dinamis sejalan dengan upaya dan penemuan kebenaran baru tersebut. Pada masa-masa lalu, ilmu administrasi dipandang sebagai normative science yang menekankan “what should be”, namun perkembangan saat ini, pandangan tadi mengalami demistifikasi, dan para pakar melihat ilmu administrasi sebagai policy science yang menggabungkan pertanyaan “what should be” dengan “what is” dalam bentuk pertanyaan “what is probable” demikian selanjutnya; Moeljarto (2003; 11). Selain alasan itu ilmu administrasi sebagaimana dengan ilmu-ilmu sosial lainya memiliki sifat iconoclastic, bahwa setiap keberadaan teori senantiasa akan mendapatkan kritikan untuk mencapai tingkat validitas dan relevansi yang lebih tinggi. Untuk melihat perkembangan ini Irfan Islamy: mengkatagorikan aspek perkembangan ilmu administrasi atas “administrative technology vs administrative ideology”. Dalam perkembangannya kedua aspek administrasi ini sangat jelas mengalami ketimpangan. Kita telah merasakan laris manisnya ilmu administrasi yang berkosentrasi pada administrative technology yang lebih bersifat applied seperti: human resourches management, e-commerce, e-government, organization learning, strategic planning, balance score card, benchmarking (Irfan Islamy; 2006). Dalam proses meningkatkan kinerja administrasi, perkembangan ini tidak salah, tetapi pelu perhatian pada keseimbangannya dengan administrative ideology sebagai pure science yang lebih ideologi dan filosofis, seperti: government ethics, democratic public administration, welfare economics dan lain-lain.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sihombing, Marlon</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan&#xD;
Serangga Hama Dalam Agroekosistem</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20608" />
    <author>
      <name>Tobing, Maryani Cyccu</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20608</id>
    <updated>2010-10-22T10:27:08Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tobing, Maryani Cyccu
Abstract: Ekosistem pertanian (agroekosistem) memegang faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa. Keanekaragaman hayati (biodiversiy) yang merupakan semua jenis tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang ada dan berinteraksi dalam suatu ekosistem sangat menentukan tingkat produktivitas pertanian. Namun demikian dalam kenyataannya pertanian merupakan penyederhanaan dari keanekaragaman hayati secara alami menjadi tanaman monokultur dalam bentuk yang ekstrim. Hasil akhir pertanian adalah produksi ekosistem buatan yang memerlukan perlakuan oleh pelaku pertanian secara konstan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berupa masukan agrokimia (terutama pestisida dan pupuk) telah menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang tidak dikehendaki (Altieri, 1999). Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian, diantaranya jasa penyerbukan, jasa penguraian, dan jasa pengendali hayati (predator, parasitoid, dan patogen) untuk mengendalikan hama, sangatlah penting bagi pertanian berkelanjutan. Dengan adanya kemajuan pertanian modern, prinsip ekologi telah diabaikan secara berkesinambungan, akibatnya agroekosistem menjadi tidak stabil. Perusakan-perusakan tersebut menimbulkan munculnya hama secara berulang dalam sistem pertanian, salinisasi, erosi tanah, pencemaran air, timbulnya penyakit dan sebagainya (Van Emden &amp; Dabrowski, 1997). Memburuknya masalah hama ini sangat berhubungan dengan perluasan monokultur dengan mengorbankan keragaman tanaman, yang merupakan komponen bentang alam (landscape) yang penting dalam menyediakan sarana ekologi untuk perlindungan tanaman dan serangga-serangga berguna. Salah satu masalah penting dari sistem pertanian homogen adalah menurunnya ketahanan tanaman terhadap serangga hama, terutama disebabkan oleh penggunaan pestisida yang tidak bijaksana (Altieri &amp; Nicholls, 2004).</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tobing, Maryani Cyccu</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sastra dan Globalisasi:&#xD;
Tantangan bagi Estetika Dalam Dunia Kritik&#xD;
Sastra di Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20607" />
    <author>
      <name>Nasution, Ikhwanuddin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20607</id>
    <updated>2011-09-13T21:20:19Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Ikhwanuddin
Abstract: Pada dasarnya, karya sastra (sastra) merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari sosial-budaya dan kehidupan masyakarat yang digambarkannya. Karya sastra ditulis atau diciptakan oleh sastrawan bukan untuk dibaca sendiri, melainkan ada ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca. Dengan harapan, apa yang disampaikan itu menjadi masukan, sehingga pembaca dapat mengambil kesimpulan dan menginterpretasikannya sebagai sesuatu yang dapat berguna bagi perkembangan hidupnya. Hal ini membuktikan, bahwa karya sastra dapat mengembangkan kebudayaan. Dengan kalimat lain, karya sastra selalu bermuatan sosial budaya. Hal itu terjadi, karena sastrawan juga mengalami pengaruh lingkungan dan zamannya dalam menciptakan karya. Damono (1998:234) mengatakan bahwa karya sastra adalah benda budaya; ia tidak jatuh dari langit, tetapi diciptakan manusia yang merupakan individu sekaligus bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya. Bradbury (Damono, 1999:62) menjelaskan bahwa karya sastra pada dasarnya merupakan rangsangan bagi kebebasan yang ada dalam diri pembaca, karya sastra menyajikan kebebasan yang ingin diungkapkan oleh pembaca. Itulah sebabnya pada saat-saat tertentu masyarakat harus memberikan toleransi yang semakin besar terhadap karya sastra. Karya sastra itu mendidik, memperluas pengetahuan tentang kehidupan, meningkatkan kepekaan perasaan, dan membangkitkan kesadaran pembaca (bdk. Wellek dan Austin, 1990:112; Goldmann, 1981:97).</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Ikhwanuddin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Potensi Tempe Kedelai Dalam Terapi Nutrisi Medik&#xD;
pada Obesitas Dewasa Dengan Komorbid</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20606" />
    <author>
      <name>Damanik, Harun Alrasyid</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20606</id>
    <updated>2010-10-22T10:08:19Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Damanik, Harun Alrasyid
Abstract: Judul ini saya pilih dengan pertimbangan bahwa beberapa penelitian terdahulu telah memperlihatkan dampak kelebihan berat badan berupa manifestasi risiko penyakit kronis. Dalam kaitan ini kegemukan atau obesitas dengan segala permasalahannya telah pula mencapai proporsi epidemi di dunia, kondisi mana juga telah mencuat di Indonesia.Keberadaan obesitas di tengah-tengah masyarakat usia dewasa khususnya, tidak dapat lagi dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan belaka, mengingat kondisi ini telah digolongkan pada diagnosa suatu penyakit, bahkan WHO telah menyatakan bahwa obesitas adalah suatu penyakit kronis.3 Beberapa fakta yang mendukung diantaranya adalah survei morbiditas dan disabilitas sebagai bagian dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 di Indonesia (kecuali daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Maluku, dan Papua) yang telah memperlihatkan munculnya gangguan kesehatan dalam kelompok usia 35 – 65 tahun berdasarkan kadar kolesterol-total &gt; 200 mg% disertai kecenderungan kenaikan prevalensi obesitas pada wanita sejalan dengan pertambahan usia (mencapai 41% - 50% pada usia di atas 55 tahun), lebih tinggi daripada pria.4 Data ini memperlihatkan kenaikan prevalensi obesitas yang cukup tajam di Indonesia dibanding hasil riset sebelumnya yang juga dilaksanakan oleh Depkes RI di mana ditemukan kelebihan berat badan (overweight) 17,5% dan obesitas 4,7% dengan presentase wanita tetap lebih besar daripada pria pada kedua kelompok. Lebih lanjut, studi epidemiologis oleh Indonesian Society for the Study of Obesity (ISSO, HISOBI) pada tujuh kota besar di Indonesia termasuk Medan melibatkan 6318 subjek pria dan wanita usia 20 tahun ke atas dari berbagai suku memperlihatkan prevalensi kumulatif overweight (menggunakan batasan IMT 23 – 24,9 kg/m2) dan obesitas (IMT ≥25 kg/m2) pada rerata 46,45%.5 Sebagai perbandingan, data prevalensi kombinasi overweight dan obesitas pada orang dewasa di negara tetangga Malaysia tahun 2002 misalnya, berkisar antara 26% – 53% (rerata 39%).6 Data ini menggambarkan prevalensi obesitas yang cukup tinggi di regional ASEAN. Mengingat berbagai penyulit yang mungkin timbul maka dalam melaksanakan asessment obesitas sebaiknya diperiksa apakah telah ditemukan manifestasi penyulit terkait seperti diabetes tipe-2, dislipidemia, sindrom metabolik, low back pain, osteoartritis, gout/ hiperurisemia, sleep apnoe, penyakit kandung empedu, hipertensi, penyakit kardiovaskular maupun sindroma ovarium polikistik pada wanita. Kajian epidemiologis telah memperlihatkan terjadinya peningkatan insiden beberapa penyakit kronis dimaksud yang dihubungkan dengan kenaikan indeks massa tubuh (IMT). Lebih lanjut diketahui bahwa distribusi lemak sentral tubuh dibandingkan dengan perifer, berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Damanik, Harun Alrasyid</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kitosan Sebagai Bio Immunizer Tanaman Untuk&#xD;
Meningkatkan Produksi Hasil Pertanian&#xD;
Yang Ramah Lingkungan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20605" />
    <author>
      <name>Agusnar, Harry</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20605</id>
    <updated>2011-09-13T21:18:43Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Agusnar, Harry
Abstract: Perhatian masyarakat terhadap soal pertanian dan lingkungan beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat. Keadaan ini disebabkan semakin dirasakannya dampak negatif yang cukup besar terhadap lingkungan akibat penggunaan bahan kimia pada tanaman. Bahan–bahan kimia yang selalu digunakan untuk alasan produktivitas dan ternyata lebih banyak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Penggunaan bahan kimia pada tanaman secara terus menerus dapat mengakibatkan kerusakan biota tanah, daya tahan hama dan penyakit, serta dapat merubah kandungan vitamin dan mineral pada tanaman dan buah. Hal ini jika dibiarkan lebih lanjut akan berpengaruh total bagi siklus kelangsungan kehidupan pada tanaman. Selain tanaman yang rusak akibat penggunaan bahan kimia, tanah juga terkena pengaruh yang paling parah. Untuk tanah-tanah marjinal maupun tanah perkebunan yang menggunakan bahan kimia secara terus-menerus di dalam penyekatan tanah maupun dalam pemberantasan gulmanya, maka kandungan mikrobia tanah sangat terbatas. Dengan terbatasnya kandungan mikrobia tanah, maka penggunaan bahan kimia yang diberikan ke tanaman tidak terserap secara optimal. Akumulasi sisa-sisa bahan kimia yang tidak terserap oleh tanaman, lama kelamaan akan meracuni tanah dan tanaman. Akhirnya tanaman menjadi kurus dan tidak dapat berproduksi secara optimal, begitu pula pengaruhnya ke tanah.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Agusnar, Harry</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Keanekaragaman Herbisida Dalam&#xD;
Pengendalian Gulma Mengatasi Populasi&#xD;
Gulma Resisten dan Toleran Herbisida</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20604" />
    <author>
      <name>Purba, Edison</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20604</id>
    <updated>2011-09-13T21:16:34Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Purba, Edison
Abstract: Topik ini sangat penting bagi kita karena menyangkut industri pertanian secara luas, terutama di daerah-daerah pertanian dimana tenaga kerja merupakan faktor pembatas dalam proses produksi. Gulma atau sering juga disebut ‘tumbuhan pengganggu’ selalu dikendalikan oleh petani atau pekebun karena mengganggu kepentingan petani/pekebun tersebut. Gulma mengganggu karena bersaing dengan tanaman utama terhadap kebutuhan sumberdaya (resources) yang sama yaitu unsur hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh. Sebagai akibat dari persaingan tersebut, produksi tanaman menjadi tidak optimal atau dengan kata lain ada kehilangan hasil dari potensi hasil yang dimiliki tanaman. Kehilangan hasil tanaman sangat bervariasi, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain kemampuan tanaman berkompetisi (beda jenis/kultivar berbeda kemampuan bersaing), jenis-jenis gulma, umur tanaman dan umur gulma, teknik budidaya, dan durasi mereka berkompetisi. Kehilangan tersebut terbagi dua kategori, langsung dan tidak langsung. Gulma berpengaruh langsung terhadap tanaman utama dengan adanya kompetisi terhadap nutrient, air, dan cahaya. Gray dan Hew (1968) melaporkan bahwa Mikania micrantha HBK menyebabkan kehilangan hasil tanaman kelapa sawit sebesar 20% selama lima tahun. Pengendalian Ischaemum muticum L., jenis gulma rerumputan tahunan, mampu meningkatkan berat tandan buah segar sekitar 10 ton/ha dalam waktu tiga tahun (Teo et al. 1990). Penurunan produksi pada jagung RR tanpa pengendalian gulma dilaporkan sekitar 31% (Purba dan Desmarwansyah, 2008). Pengaruh tidak langsung gulma terhadap tanaman dapat menyebabkan terhambatnya aksesibilitas sehingga berakibat buruk terhadap efisiensi dan efektivitas pemupukan, sulitnya pengendalian hama/penyakit dan pekerjaan-pekerjaan lain. Pada tanaman perkebunan, terutama kelapa sawit, pengendalian gulma sangat penting tidak saja karena terjadinya kehilangan produksi sebagai akibat dari persaingan tanaman-gulma terhadap sumberdaya (unsur hara, air, cahaya) tetapi juga karena adanya kehilangan hasil tidak langsung. Kehadiran gulma pada piringan (circle) kelapa sawit menyebabkan kesulitan penghitungan buah jatuh (brondolan) sebelum panen untuk menentukan kriteria panen. Sedangkan pada saat panen, brondolan yang tersembunyi diantara gulma di piringan sulit untuk dikumpulkan sehingga membutuhkan tenaga kerja tinggi atau akan terbuang percuma, dan kemudian malah dapat tumbuh menjadi gulma. Lebih dari itu, manajemen pemanenan, pemupukan, dan pengawasan lainnya juga akan terganggu jika gulma tidak dikendalikan dengan baik.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Purba, Edison</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prospek Keanekaragaman Hayati Mikroba&#xD;
(Microbial Bioprospecting) Sumatera Utara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20603" />
    <author>
      <name>Suryanto, Dwi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20603</id>
    <updated>2011-09-13T21:14:25Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Suryanto, Dwi
Abstract: Sebagai salah satu negara yang memiliki biodiversitas sangat besar, Indonesia menyediakan banyak sumberdaya alam hayati yang tak ternilai harganya, dari bakteri hingga jamur, tumbuhan, dan hewan. Pencarian isolat dan jenis organisme yang potensial untuk digunakan dalam bidang industri, pertanian, dan kesehatan merupakan pekerjaan yang harus terus dilakukan. Potensi yang tersimpan ini dapat diangkat untuk tujuan pengembangan industri dalam negeri. Sesuai dengan bidang yang saya tekuni, saya memilih bekerja dengan strain-strain bakteri yang diisolasi terutama dari daerah Sumatera Utara untuk melihat pemanfaatannya sebagai sel atau produk sel seperti protein dan enzim. Telaah-telaah yang dilakukan pada gilirannya diharapkan memberikan informasi tentang&#xD;
potensi (bioprospecting) sumberdaya hayati yang ada di Indonesia, khususnya Sumatera sebagai model bagi upaya pengelolaan dan pelestarian sumberdaya hayati. Disebabkan oleh karena tidak glamour dan kesulitan mengakses, orang awam tidak mengetahui nilai penting keanekaragaman mikroba. Banyak dari kita menyangka bahwa semua bakteri menyebabkan penyakit. Sesungguhnya hanya sebagian kecil saja yang memiliki potensi patogen, selebihnya dapat dimanfaatkan untuk tujuan kesejahteraan manusia. Pengetahuan tentang keanekaragaman biologi mikroba berhubungan dengan kekayaan jenis, distribusi lokal dan global, dan fungsi dalam ekosistem terlihat belum lengkap (Bull et al 2000). Berapa sesungguhnya jumlah jenis mikroba sampai saat ini belum diketahui. Dalam forum-forum resmi keanekaragaman mikroba sering terabaikan (Bull &amp; Hardman 1991), padahal mikroba mengkatalisis transformasi unik dan murah dalam siklus biogeokimia dalam biosfer, memproduksi komponen-komponen penting dalam atmosfer bumi, dan mewakili bagian yang besar dari keanekaragaman genetik organisme (Whitman et al 1998). Disamping itu secara khusus mikroba telah digunakan untuk tujuan lain misalnya sebagai agen pengendali hama dan penyakit, agen bioremediasi dan biodegaradasi bahan pencemar, agen penghasil protein dan enzim-enzim penting yang telah dimanfaatkan dunia, agen-agen dalam bioteknologi modern, dan digunakan untuk menguak rahasia kehidupan bumi dan jagad raya. Karena nilai penting yang berhubungan langsung sebagai sumber utama dalam pengembangan bioteknologi, pelestarian microbial gene pools merupakan hal yang sangat mendesak untuk dikerjakan (Bull &amp; Hardman 1991).</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Suryanto, Dwi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Optimalisasi Pengelolaan Lahan Pertanian&#xD;
Hubungannya Dengan Upaya Memitigasi Banjir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20602" />
    <author>
      <name>Rauf, Abdul</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20602</id>
    <updated>2010-10-22T09:26:54Z</updated>
    <published>2010-10-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rauf, Abdul
Abstract: Sedikit orang menyadari bahwa dunia pertanian, termasuk di dalamnya perkebunan, perikanan, peternakan, dan bahkan hutan tanaman (silvikultur), memiliki banyak fungsi (multifungsi), selain fungsi utamanya sebagai penyedia (produk nyata) pangan dan serat. Fungsi lain yang tidak kalah pentingnya diperankan oleh dunia pertanian adalah fungsi lingkungan, ketahanan pangan, sosial-ekonomi dan budaya, yang secara rinci disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa dunia pertanian sedikitnya memiliki 15 fungsi aktual (fungsi nyata) dari tiga fungsi utama yang dapat dirasakan tidak hanya oleh petani, tetapi oleh semua lapisan masyarakat di tingkat lokal dan global, bahkan tidak sedikit pula orang yang mendapat manfaat (keuntungan) luar biasa dari keberadaan dunia pertanian sebagai ladang usahanya (agribisnis) jauh melebihi keuntungan yang diperoleh oleh petani (pelaku dunia pertanian) itu sendiri.</summary>
    <dc:date>2010-10-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rauf, Abdul</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Urgensi dan Kontribusi Riset Dasar Fisika Dalam Bidang&#xD;
Teknologi Informasi: Efek Giant Magnetoresistance (GMR)&#xD;
Dalam Head Read Device</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20549" />
    <author>
      <name>Sembiring, Timbangen</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20549</id>
    <updated>2011-09-13T19:44:55Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sembiring, Timbangen
Abstract: Ilmu fisika (physics), di samping ilmu kimia (chemistry) dan matematika (mathematics), adalah salah satu ilmu tertua dalam sejarah peradaban manusia setelah ilmu astronomi (perbintangan). Ilmu fisika mempelajari tentang struktur dan perilaku dari fenomena/gejala yang ada di jagad raya (universe) dalam lingkungan ruang dan waktu, yang terdiri dari unsur-unsur elementer/partikel; mencari hubungan-hubungan sesama fenomena/gejala alam; serta memanfaatkannya untuk menunjang aktivitas manusia. Dalam mengungkap rahasia alam ini perlu dilakukan melalui serangkaian proses seperti pengamatan (observation), pengukuran (measurement), dan pengembangan teori-teori (theoretical development) secara ilmiah (sistematis, logis, dan berkelanjutan). Seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang dimulai dari zaman batu (Age Stone) hingga era teknologi informasi kini, peranan materi sangat dominan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Sebagai contoh kecil dapat dilihat dari penggunaan berbagai jenis batuan, logam, kayu, dan lain sebagainya pada zaman prasejarah hingga penggunaan berbagai jenis rekayasa materi berskala nanometer dalam bidang teknologi informasi. Berbagai produk teknologi berbasis material magnetik dan elektronik yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti komputer, internet, laser, GPS (Global Positioning System), jaringan serat optik pita lebar, tomografi komputer dan lain sebagainya adalah merupakan produk teknologi nyata dari kegiatan riset dasar fisika dalam kurun waktu 40-50 tahun terakhir. Laju lompatan yang spektakuler di bidang teknologi informasi dan komunikasi modern saat ini tidak terlepas dari gencarnya riset di bidang Fisika Material (Mikroelektronika) seperti penemuan metodemetode baru dan pembuatan material semikonduktor dengan kemurnian&#xD;
tinggi, berbagai jenis transistor dengan kinerja tinggi, integrasi komponen menjadi chip tunggal, laser semikonduktor, media penyimpan data dengan densitas tinggi, dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa teknologi menjadi tenaga penggerak (driving force) dalam perubahan perilaku manusia dari masyarakat industri menjadi masyarakat berbasis pengetahuan dan informasi (knowledge and information based society).</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sembiring, Timbangen</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Etika Pembangunan: Kajian Alternatif Dalam Studi&#xD;
Pembangunan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20548" />
    <author>
      <name>Subhilhar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20548</id>
    <updated>2012-03-16T19:30:23Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Subhilhar
Abstract: Studi pembangunan adalah suatu studi multidisiplin (ekonomi, politik, sosiologi, psikologi, budaya, sejarah, dan lain-lain) dengan fokus perhatian kepada negara-negara berkembang dan interaksi negara berkembang dengan negara maju dan di antara negara berkembang itu sendiri. Sejak akhir tahun 1940-an pembangunan telah menjadi perhatian bagi penelitian akademik dan pengajaran yang penting terutama di negara-negara yang baru merdeka (post colonial states). Sejak itu istilah pembangunan diasosiasikan dengan kondisi dan situasi ekonomi, politik, dan perubahan sosial di negara-negara baru merdeka. Dapat dikatakan bahwa studi pembangunan adalah ilmu sosial terapan. Perkembangan studi pembangunan pada masa kini menjadi lebih relevan mengingat semakin kompleksnya permasalahan pembangunan, tidak saja di negara-negara berkembang namun juga di negara maju. Permasalahan klasik pembangunan adalah kemiskinan, kesenjangan, dan ketidakadilan (injustice) yang masih terus terjadi. Tantangan studi pembangunan adalah menjembatani kesenjangan dan ketidakadilan, mempromosikan penanganan konflik dengan jalan yang damai, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai teori pembangunan yang muncul pun seolah-olah tak mampu mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat dunia. Teori-teori ekonomi sejak dari neo-klasik ekonomi konvensional sampai liberalisasi dan deregulasi juga tidak membuat bangsa-bangsa di dunia menjadi sejahtera seperti apa yang dicita-citakan.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Subhilhar</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Struktur Pasar dan Karakteristik&#xD;
Industri Turunan Kelapa Sawit Serta&#xD;
Pengembangan Ekonomi Wilayah Sumatera Utara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20547" />
    <author>
      <name>Afifuddin, Sya’ad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20547</id>
    <updated>2011-09-13T19:40:54Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Afifuddin, Sya’ad
Abstract: Peran penting sektor pertanian dalam pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional sudah tidak perlu diragukan lagi. Indonesia memiliki sumberdaya dasar pertanian seperti iklim tropis yang memungkinkan budidaya sepanjang tahun, serta keanekaragaman hayati (bodiversity) nomor dua terbesar di dunia. Apalagi ini masih didukung oleh budaya masyarakat Indonesia yang memang sebagian besar adalah agraris. Dengan kekayaan sumberdaya ini Indonesia mampu menghasilkan komoditas yang tak terhingga ragam dan jumlahnya. Karena kekayaan inilah sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa lain yang menginginkan kelimpahan hasil pertanian Indonesia untuk tumpuan ekonominya. Sejarah juga mencatat bahwa setelah merdeka, keberhasilan yang dicapai pembangunan nasional selama tiga puluh tahun, seperti pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,2% per tahun, laju inflasi yang terkendali, terjaganya keamanan pangan, pemupukan cadangan devisa dan meningkatnya pendapatan per kapita dari US$ 70 (tahun 1969) menjadi US$ 1026 (tahun 1996) juga dimungkinkan oleh kontribusi sektor pertanian. Selama tiga dasawarsa ini, sektor pertanian telah berhasil memberikan kontribusi yang dominan dalam penyerapan tenaga kerja (45%), sumbangan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional (18%), serta tercapainya swasembada beras pada tahun 1984.&#xD;
Ketangguhan peran sektor pertanian juga terbukti saat menjadi penyelamat perekonomian nasional ketika kita dilanda krisis moneter dan ekonomi yang puncaknya terjadi pada tahun 1997 yang lalu. Pengalaman saat krisis menunjukkan bahwa di saat penyerapan tenaga kerja oleh sektor di luar pertanian menurun dari 50,62 juta orang tahun 1997 menjadi 48,26 juta orang tahun 1998, namun pada periode yang sama penyerapan tenaga kerja pertanian justru naik dari 34,79 juta orang menjadi 39,41 juta orang. Demikian juga pada pertumbuhan ekonomi, di mana saat pertumbuhan ekonomi nasional anjlok dari 7,82% pada tahun 1996 menjadi 4,91% tahun 1997 dan (-)13,68% tahun 1998, namun pada periode yang sama sektor pertanian hanya turun sedikit yakni dari 3,14% tahun 1996 menjadi 0,70% tahun 1997 dan 0,22% tahun 1998. Dengan kata lain, kuatnya fundamental perekonomian nasional sampai saat ini antara lain karena kontribusi sektor pertanian nasional.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Afifuddin, Sya’ad</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi&#xD;
Dalam Menghadapi Masalah Etis dan Moral&#xD;
di Era Global dan Teknik Informasi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20546" />
    <author>
      <name>Sinulingga, Risnawaty</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20546</id>
    <updated>2011-09-13T19:40:20Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sinulingga, Risnawaty
Abstract: Pidato ini saya awali dengan mengutip prestasi dan sikap hidup dua ilmuwan yang terkenal padat prestasi. Blaise Pascal, ilmuwan, matematikawan Perancis (1623–1662). Dia sangat terkenal dengan Hukum Pascal di bidang hidrostatika. Di usia 12 tahun ia sudah kuasai semua dalil matematika dan fisika, usia 16 tahun ia menemukan dalil baru yang hingga hari ini bermanfaat untuk berbagai ilmu mulai dari kedokteran sampai astronautika, usia 19 tahun menjadi orang pertama yang menemukan sistem kalkulator digital, usia 21 tahun menemukan barometer, pompa hidrolik, dan alat suntik.1 Seorang ilmuwan lain Albert Enstein (1879–1955), fisikawan Amerika Serikat, kelahiran Jerman, yang pada zamannya menjadi tokoh intelektual paling kreatif. Dia menerima hadiah nobel Fisika pada tahun 1921. Rumusnya tentang kesetaraan antara massa (m) dan energi (E) yang sangat pendek tetapi menggoncangkan dunia adalah E = mc2 .Yang mau saya katakan lewat kedua contoh tokoh ini adalah bahwa mereka sebagai ilmuwan yang begitu padat prestasi dalam ilmu pengetahuan tidaklah meremehkan fungsi agama, tetapi sangat menyadari pentingnya agama dan pendidikan agama itu dalam kehidupan manusia. Blaise Pascal terkenal tidak saja sebagai ilmuwan dan matematikawan tetapi sebagai seorang agamawan dan juga penulis buku keagamaan. Begitu banyak bukunya tentang agama sehingga sebagian baru diterbitkan setelah ia meninggal dunia. Sedangkan Albert Einstein, yang menegaskan bahwa kebenaran ilmiahlah yang harus dianggap sebagai kebenaran teruji karena terlepas dari faktor manusiawi, ternyata menolak atheisme. Malah dikatakannya “Science without religion is lame and religion without science is blind”.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sinulingga, Risnawaty</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Keanekaragaman dan Konservasi Vegetasi Hutan Gunung&#xD;
Sinabung Untuk Pembangunan Berkelanjutan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20545" />
    <author>
      <name>Widhiastuti, Retno</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20545</id>
    <updated>2012-07-22T19:18:37Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Widhiastuti, Retno
Abstract: Secara administratif hutan Gunung Sinabung terletak di desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, dan secara geografis hutan gunung Sinabung terletak pada 03o 11”- 03o 12” LU dan 98o 22”- 98o 24” BT. Dari Berastagi berjarak ± 27 km atau 86 km dari Medan. Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung tertinggi di Sumatera Utara dengan ketinggian 2.451 m di atas permukaan laut. Hutan Gunung Sinabung dikenal secara lokal, nasional, maupun internasional sebagai kawasan ekowisata yang banyak dikunjungi oleh pencinta alam. Menurut laporan Eksplorasi Flora Nusantara yang dikemukakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2003) hutan Gunung Sinabung yang berbatasan dengan tanah-tanah pertanian milik masyarakat memiliki kondisi yang masih bagus. Hal tersebut ditunjukkan dengan variasi flora yang relatif masih cukup tinggi. Tingginya keanekaragaman vegetasi hutan Gunung Sinabung perlu dilakukan konservasi agar fungsi ekologis, dan ekonomis bagi masyarakat sekitar melalui ekowita dapat berkelanjutan.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Widhiastuti, Retno</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Dalam Pembangunan&#xD;
Ekonomi Wilayah Pesisir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20544" />
    <author>
      <name>Ramli</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20544</id>
    <updated>2012-07-22T19:17:49Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ramli
Abstract: Provinsi Sumatera Utara berdasarkan topografi mempunyai wilayah Dataran Tinggi Kawasan Bukit Barisan yang umumnya menghasilkan produksi sayurmayur, dan Wilayah Dataran Rendah Pesisir yang umumnya meng menghasilkan produksi ikan. Produksi kedua wilayah ini sebagai pusat pemasok kebutuhan perkotaan, tetapi sebagian penduduk di wilayah ini masih dibelenggu oleh lingkaran kemiskinan yang tak berunjung pangkal dan sebagian wilayahnya menjadi kantong-kantong kemiskinan. Fenomena kesenjangan ekonomi di wilayah Dataran Tinggi dan Dataran Rendah Sumatera Utara menjadi isu pokok dan tantangan bagi pembangunan ekonomi Sumatera Utara. Strategi pembangunan ekonomi Provinsi Sumatera Utara ke depan, dalam rangka mengatasi kemiskinan dan pemerataan pembangunan di wilayah Dataran Tinggi Bukit Barisan dan wilayah Dataran Rendah Pesisir pantai Timur dan Barat melalui pendekatan Wilayah dengan program:&#xD;
1. Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan (Nota kesepakatan&#xD;
pemerintah daerah tanggal 28 September 2002 yang dituangkan&#xD;
dalam peraturan Gubernur No 050/286k, tanggal 26 April 2005).&#xD;
Tentang Pembentukan Badan Koordinasi dan Tim Teknis Program&#xD;
Pembangunan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan&#xD;
Sumatera Utara.&#xD;
2. Agromerinepolitan daerah pesisir (Mulai diprogramkan tahun 2007,&#xD;
berdasarkan SK BAPPEDA Provinsi Sumatera Utara No:&#xD;
521/669B/BPSV/II/2007 tentang Pembentukan Kelompok Kerja&#xD;
Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit&#xD;
Barisan dan Agromerine Dataran Rendah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil&#xD;
dan Pulau Terluas Sumatera Utara).</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ramli</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Data Warehouse dan Data Mining&#xD;
untuk Sistem Pendukung Manajemen</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20543" />
    <author>
      <name>Sitompul, Opim Salim</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20543</id>
    <updated>2012-07-22T19:16:08Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitompul, Opim Salim
Abstract: Data warehousing dan data mining merupakan dasar-dasar arsitektural bagi sistem-sistem pendukung keputusan. Keduanya memiliki hubungan simbiotik dimana data warehouse menyiapkan tahapan untuk kegiatan data mining yang efektif. Teknologi data warehouse telah memungkinkan sebuah organisasi untuk mengelola dan menyimpan data bisnis dalam volume yang sangat besar dalam bentuk yang dapat dianalisa. Kematangan dalam bidang kecerdasan buatan telah pula menciptakan sekumpulan teknik machine learning (mesin pembelajaran) yang berguna untuk mengotomatisasi kegiatan-kegiatan penting dan melelahkan guna mengungkapkan pola-pola dalam database. Dalam pidato ini, akan diperkenalkan konsep data warehouse dan data mining sebagai teknologi dalam sistem pendukung keputusan. Dalam implementasinya, teknik-teknik ini dapat diterapkan di lingkungan perguruan tinggi sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi efisiensi dan efektifitas pengelolaan dalam rangka meningkatkan mutu universitas.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitompul, Opim Salim</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Ortodonti pada Perawatan Kelainan Susunan&#xD;
Gigi Geligi yang tidak Teratur (Maloklusi)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20542" />
    <author>
      <name>Nazruddin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20542</id>
    <updated>2012-07-22T19:15:39Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nazruddin
Abstract: Ortodonti merupakan cabang ilmu dari Kedokteran Gigi yang meliputi preventif, interseptif dan korektif maloklusi dan kelainan lain dari daerah dento-facial. Maloklusi dapat didefinisikan sebagai ketidakteraturan gigi geligi di luar ambang normal yang masih dapat diterima. Sebagian besar maloklusi berasal dari gangguan herediter, walaupun beberapa faktor lingkungan seperti kebiasaan mengisap, pressure (intraurine atau posisi tidur), bernafas melalui mulut, kehilangan gigi akibat kerusakan, endokrin yang tidak seimbang, kekurangan nutrisi, pencabutan gigi yang tidak terencana juga ikut berperan penting. Maloklusi merupakan variasi dari keadaan normal dan cerminan dari variasi biologi. Variasi biologi ini dapat terlihat pada bagian tubuh manapun tetapi ketidakteraturan kecil mudah terlihat pada gigi geligi sehingga menarik perhatian untuk dirawat. Susunan gigi yang normal tidak hanya mendukung kesehatan mulut tetapi juga secara keseluruhan akan meningkatkan self esteem dan self image dari seseorang di dalam kehidupannya. Posisi gigi geligi yang baik&#xD;
merupakan faktor yang penting untuk estetis, fungsi, dan memelihara atau memperbaiki kesehatan gigi. Adakalanya maloklusi itu tidak menimbulkan gangguan pada kesehatan seseorang tetapi dapat menimbulkan gangguan fungsi yang tidak diinginkan dan ketidakseimbangan estetis. Maloklusi dapat menimbulkan penampilan wajah seseorang menjadi kurang baik, di samping itu susunan gigi yang tidak teratur akan menyebabkan pemeliharaan oral-hygiene menjadi sukar dan akibat selanjutnya akan memudahkan terjadinya peningkatan karies gigi dan penyakit periodontal. Sebagai tambahan, gigi geligi yang mempunyai posisi abnormal ini akan dapat menyebabkan traumatik oklusi yang juga berperan terhadap kerusakan jaringan pendukung gigi. Dalam melakukan perawatan ortodonti perlu diperhatikan beberapa hal seperti oral-hygiene yang baik dan sistem direct bonding yang dipakai.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nazruddin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Eksposisi Analytic Hierarchy Process Dalam Riset&#xD;
Operasi: Cara Efektif untuk Pengambilan Keputusan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20541" />
    <author>
      <name>Iryanto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20541</id>
    <updated>2012-07-22T19:14:59Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Iryanto
Abstract: Sejak lama manusia berusaha untuk mendapatkan metode yang tepat dalam melakukan peramalan yang lebih efektif. Setelah menggunakan logika berpikir yang sistematis, manusia akhirnya menemukan metode yang terbukti secara empiris dan selalu mendekati kebenaran. Ilmu matematika akhirnya menjadi salah satu pedoman manusia dalam menentukan kebijakan keputusannya. Salah satu bidang ilmu yang menyatukan matematika dan logika dalam kerangka pemecahan masalah adalah Riset Operasi (Operation Research). Konsep Riset Operasi telah mulai berkembang dalam kemiliteran pada Perang Dunia I. Di Inggris, pada tahun 1914-1915, F.W. Lanchester mencoba merumuskan operasi militer secara kuantitatif dengan menurunkan persamaan-persamaan yang menunjukkan hubungan relatif antara hasil perang dengan kekuatan pertempuran dan kekuatan senjatanya. Selama periode tersebut, yaitu ketika Lanchester merintis Riset Operasi militer di Inggris, Thomas Alva Edison di Amerika Serikat sedang mempelajari proses perang anti kapal selam. Edison mengumpulkan data yang digunakan untuk menganalisis gerakan kapal selam agar kapal laut mampu menghancurkannya. Ia merancang suatu permainan perang yang digunakan untuk mensimulasi persoalan pergerakan yang berhubungan dengan lautan. Ia bahkan menganalisis taktik ”Zig-Zag” dari kapal-kapal dagang dalam menghindari bahaya dari kapal selam. Di bidang  engawasan persediaan atau inventori, model-model ekonomi dalam berbagai ukuran yang dikenal sekarang mempunyai silsilah yang panjang. Model dan ukuran persediaan ekonomi yang pertama kali dipublikasikan, disusun oleh Ford W. Harris pada tahun 1915. Selanjutnya pada tahun 1917, A.K. Erlang, seorang ahli matematika Denmark yang bekerja di sebuah perusahaan telepon di Kopenhagen, menerbitkan karya pentingnya, ”Pemecahan Beberapa Persoalan dalam Teori Probabilitas Yakni tentang Pentingnya Pola Pemanggilan Telepon secara Otomatis”. Tulisannya tersebut berisi formula waktu tunggu yang telah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip statistik. Formula ini sekarang dikenal sebagai dasar yang penting bagi teori lalu lintas telepon. Penggunaan statistik inferensi dan teori probabilitas ditopang oleh karyakarya  H.F. Dodge dan H.G. Romig, rekan Shewhart di laboratorium Bell Telephone. Mereka mengembangkan teknik pemeriksaan sampling dalam hubungannya dengan pengawasan kualitas, dan mempublikasikan statistik tabel sampling yang meskipun pada mulanya sulit diterima, tetapi sekarang telah digunakan secara luas.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Iryanto</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemberdayaan Kearifan Lokal&#xD;
Melalui Pendekatan Psikologi Ulayat&#xD;
untuk Pembangunan Bangsa</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20540" />
    <author>
      <name>Irmawati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20540</id>
    <updated>2012-07-22T19:14:16Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Irmawati
Abstract: Saat ini tidak terbantahkan bahwa Ilmu Psikologi di Indonesia telah demikian populer dan sangat diminati. Kajian berbagai kekhususan dalam Ilmu Psikologi pun telah berkembang seiring dengan berkembangnya tuntutan dari masyarakat. Namun tidak dapat dipungkiri, adanya permasalahan di masyarakat yang tidak dapat diselesaikan dengan konsepkonsep psikologi yang selama ini sudah dikenal secara baku. Sebagai contoh, konflik-konflik antar kelompok di tengah masyarakat Indonesia yang pada tahun 1998 melanda daerah Poso dan Maluku. Bahkan lama sebelumnya juga sudah terjadi konflik di daerah Aceh maupun Papua. Menurut Simatupang (2002), konflik-konflik tersebut ada yang lebih bernuansa politik (Aceh dan Papua), antar suku-suku bangsa (Kalimantan&#xD;
Barat), antar agama dan primordial (Poso, Maluku, dan Lombok). Bahkan ada sebagian kecil orang yang membuat konflik dengan cara mengancam atau melakukan tindakan teror terhadap orang lain. Fenomena di atas, memperlihatkan adanya kebutuhan kajian yang lebih khusus untuk mengenali sebab-akibat dan mendalami dinamika dari konflik atau mungkin kesalah-pengertian yang berproses terus menerus. Berbagai konflik tersebut, dalam konteks Psikologi termasuk dalam ranah Psikologi Sosial. Berry (1999) menyatakan bahwa psikologi sosial yang seyogyanya kita ciptakan harus memiliki suatu keaslian dalam realitas kita sendiri. Setiap fenomen harus dipandang menurut konteks, dipapar, dan ditafsirkan secara relatif berdasarkan situasi budaya dan ekologi, tempat fenomen berlangsung.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Irmawati</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemberdayaan Masyarakat untuk&#xD;
Mewujudkan Indonesia Sehat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20539" />
    <author>
      <name>Yustina, Ida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20539</id>
    <updated>2011-09-13T19:27:55Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yustina, Ida
Abstract: Kemandirian masyarakat dalam memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya merupakan cita-cita bangsa Indonesia selaras dengan Paradigma Indonesia Sehat yang telah digulirkan menyusul berlangsungnya reformasi dalam sistem kesehatan. Dengan masyarakat yang sehat, bangsa Indonesia diharapkan dapat berkarya untuk menghadapi bangsa lain di era globalisasi yang penuh dengan persaingan ini. Adapun sehat yang dimaksudkan dalam hal ini diartikan dalam perspektif luas, tidak sebatas pada kondisi fisikal yang prima, melainkan juga sehat rohani, mental, intelektual, dan sosial. Upaya mewujudkan kemandirian dimaksud tentu saja tidaklah mudah, mengingat kondisi masyarakat kita yang mayoritas kualifikasinya masih relatif rendah, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Menyangkut kualifikasi manusia Indonesia, sesuai dengan laporan United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 2007, posisi Human Development Index (HDI) Indonesia berada di 107. Berdasarkan kedudukan tersebut, tentunya bangsa Indonesia harus bekerja keras agar kualifikasi manusianya meningkat, baik dari aspek ekonomi, pendidikan dan kesehatan, yang menjadi indikator utama untuk menentukan HDI.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yustina, Ida</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi&#xD;
(Sebuah Studi Terhadap Jaminan Kepastian Hukum Dalam&#xD;
Usaha Bongkar Muat Pelabuhan di Indonesia)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20538" />
    <author>
      <name>Siregar, Hasnil Basri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20538</id>
    <updated>2011-09-13T19:26:17Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Hasnil Basri
Abstract: Pelabuhan memainkan peran yang sangat strategis dalam kebijakan ekonomi yang mengandalkan surplus perdagangan luar negeri (ekspor) dari sektor non-migas. Dilihat dari berbagai perspektif, pelabuhan memainkan fungsi strategis seperti: as an industry, as a service to trade, as a security dan fungsinya sebagai a market for subsidiary services.1 Peran strategis pelabuhan juga dapat dilihat dalam menciptakan efisiensi usaha melalui kontribusi pelabuhan dalam melakukan penekanan terhadap distribution cost yang akan berdampak pada daya beli, daya saing, dan multiplier effect terhadap pertumbuhan dan pendapatan nasional. Pelabuhan merupakan sarana penghubung utama antara pusat distribusi, produksi dan pasar baik untuk skala global maupun regional. Pemisahan yang tegas antara fungsi produksi dengan distribusi dan transportasi yang mengarah pada spesialisasi akan dapat meningkatkan daya saing produk. Konsentrasi masing-masing bidang sesuai dengan kompetensi keahlian akan menjadikan sistem produksi, distribusi dan transportasi menjadi lebih efisien, cepat, terkoordinir dan efektif, sehingga barang dapat diterima tepat waktu.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Hasnil Basri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula&#xD;
pada Budidaya Kedelai di Lahan Kering</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20537" />
    <author>
      <name>Hapsoh</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20537</id>
    <updated>2012-07-22T19:11:48Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hapsoh
Abstract: Bagi Indonesia, kedelai termasuk komoditas pangan yang penting. Banyak produk-produk pangan yang menjadi menu sehari-hari masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan yang terbuat dari kedelai seperti tempe, tahu, kecap dan tauco. Bahan pangan ini selain mempunyai rasa yang enak, juga mengandung gizi dan harga yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kebutuhan kedelai secara nasional saat ini mencapai 2,2 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi kebutuhan 35- 40%, sehingga kekurangannya dipenuhi dari import. Naiknya harga kedelai di pasaran dunia akhir-akhir ini berdampak pada kenaikan harga kedelai di dalam negeri dari Rp 3.500,- per kilogram pada tahun 2007 menjadi Rp 7.500,- per kilogram di awal tahun 2008. Keadaan ini membuat banyak industri-industri olahan kedelai terutama industri-industri kecil seperti pengrajin tempe dan tahu menjadi gulung tikar, karena ketidakmampuan membeli bahan baku. Pada tahun 2006 produksi kedelai di Indonesia sebesar 1,28 ton/ha, dan pada tahun 2007 produksi kedelai di Indonesia tidak mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 1,29 ton/ha (http://www.Food Crops Statistic.htm,2007). Untuk dapat meningkatkan produksi kedelai dalam negeri maka perlu dilakukan upaya-upaya seperti peningkatan luas areal pertanaman (ekstensifikasi) dan juga penerapan teknologi budidaya kedelai yang dapat meningkatkan produktivitasnya (intensifikasi). Selain pada lahan sawah, pertanaman kedelai di Indonesia dibudidayakan pada lahan kering. Luas lahan kering untuk pertanian di Indonesia diperkirakan mencapai 55,6 juta ha (Hidayat &amp; Mulyani, 2002). Sebaran lahan kering tersebut meliputi 41% di Sumatera, 28% di Kalimantan, dan 24% di Sulawesi dan Jawa, dan kira-kira 24,3% lahan kering tersebut didominasi oleh podsolik merah kuning (ultisol). Menurut Marschner (1995) dan Hidayat dan Mulyani (2002) tanah podsolik merah kuning (ultisol) mempunyai tingkat kemasaman tinggi, kandungan hara makro dan mikro rendah. Selain itu sering terjadi kekurangan air terutama pada musim kemarau yang menyebabkan terjadinya cekaman kekeringan. Keadaan ini akan mempengaruhi perkembangan morfologi dan proses fisiologi tanaman kedelai sehingga menyebabkan rendahnya hasil. Untuk mengatasi keadaan tersebut dapat dilakukan berbagai usaha antara lain dengan cara budidaya dan mengadakan seleksi terhadap genotipe kedelai untuk tanah masam dan tahan kondisi kering. Alternatif lain untuk mengatasi pengaruh kekeringan adalah penggunaan fungi mikoriza arbuskula (FMA).</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hapsoh</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Menoleh Budaya Malu Masyarakat Jepang&#xD;
Untuk Lebih Mengenal Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20536" />
    <author>
      <name>Situmorang, Hamzon</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20536</id>
    <updated>2011-09-13T19:15:42Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Situmorang, Hamzon
Abstract: Kita sering mendengar bahwa tidak ada satu bangsa manapun di dunia ini yang hidup di atas kebudayaannya sendiri tanpa pengaruh budaya bangsa lainnya. Terlebih dalam zaman modern sekarang, interaksi antar bangsa atau antar suku bangsa semakin tinggi. Dalam interaksi tersebut mengakibatkan persentuhan budaya dan saling mempengaruhi satu sama lain. Setiap bangsa ingin selalu mempertahankan kebudayaannya, namun hal tersebut tidak selamanya dapat dilakukan. Kemudian dalam kebudayaan tidak berlaku hukum air yaitu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Tetapi sebaliknya ada kalanya kebudayaan dari bangsa yang belum maju dapat mengalir kepada bangsa yang lebih maju. Contohnya, makanan dan musik suatu bangsa yang belum maju dapat saja diterima oleh bangsa yang lebih maju. Dalam interaksi antar budaya berikut ini saya menunjukkan landasan teoretisnya. Landasan teoretis, pertama-tama yang harus kita ketahui adalah bahwa pengertian dari budaya dan kebudayaan sangat beragam menurut sarjananya. Tetapi pada kali ini untuk dasar pemikiran sementara dalam tulisan ini saya mengikuti pemikiran yang membedakan pengertian budaya dengan kebudayaan. Budaya adalah sesuatu yang semiotik, tidak kentara atau laten. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang konkrit, berwujud, dan dapat dijamah. Contoh budaya Jepang adalah budaya rasa malu, budaya balas budi (giri) dan sebagainya. Sedangkan contoh kebudayaan Jepang adalah Karate, Ikebana dan sebagainya. Di dalam kebudayaan Karate atau Ikebana tersebut sudah berisi budaya rasa malu dan budaya balas budi orang Jepang. Dimana budaya rasa malu tersebut ukurannya adalah budaya rasa malu yang berlaku pada masyarakat tersebut pada waktu Karate atau Ikebana tersebut tercipta. Di sisi lain Inega Saburo (1991:1) membedakan pengertian kebudayaan dalam arti sempit dan kebudayaan dalam arti luas. Kebudayaan dalam arti luas adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (人間の生活の営み方) oleh karena itu kebudayaan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas yaitu adalah membedakan dengan alam. Contohnya, ikan adalah alami, tetapi begitu ikan diolah menjadi Arsik atau menjadi Pepes atau menjadi Sashimi maka itu adalah kebudayaan. Sementara kebudayaan dalam arti sempit menurut Ienaga Saburo meliputi tradisi dan sistem kepercayaan atau kira-kira sama dengan defenisi budaya di atas.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Situmorang, Hamzon</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Potensi Air Terjun Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga&#xD;
Minihidro (PLTMH) di Sumatera Utara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20535" />
    <author>
      <name>Napitupulu, Farel Hasiholan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20535</id>
    <updated>2012-07-22T19:11:04Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Napitupulu, Farel Hasiholan
Abstract: Bahan bakar minyak sebagai sumber utama energi dunia saat ini mempunyai cadangan yang terbatas dengan tingkat konsumsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Demikianlah halnya dengan Indonesia yang dulunya dikenal sebagai negara pengekspor bahan bakar minyak, telah berubah menjadi negara pengimpor bahan bakar ini. Untuk mengatasi krisis energi yang terjadi di negara ini, maka tidak ada pilihan selain meningkatkan pemanfaatan energi alternatif sebagaimana yang dilakukan negara-negara lain di dunia ini, baik itu negara berkembang maupun negara maju, antara lain peningkatan pemanfaatan energi&#xD;
terbarukan (renewabel energi) Energi terbarukan adalah energi non-fosil yang berasal dari alam dan dapat diperbaharui secara berkesinambungan dan bila dikelola dengan baik energi ini tidak akan habis, antara lain energi surya fotovoltaik, energi surya termal, energi biomasa/biogas, energi bio etanol, energi bio diesel, energi panas bumi, sel bahan bakar (fuel cell), energi samudra (energi panas laut, energi pasang surut, dan energi gelombang), energi angin, energi nuklir, dan energi air. Di Indonesia pemanfaatan energi terbarukan dapat digolongkan dalam tiga kategori. Kategori yang pertama adalah energi yang sudah dikembangkan secara komersial, seperti energi biomassa/biogas, energi panas bumi, dan energi air. Kategori yang kedua adalah energi yang sudah dikembangkan tetapi masih terbatas pemanfaatannya seperti energi surya dan energi angin. Kategori yang ketiga adalah energi yang sudah dikembangkan tetapi baru sampai tahap penelitian seperti energi samudra.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Napitupulu, Farel Hasiholan</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Beberapa Indikasi Bank Likuidasi:&#xD;
Peringatan (Warning) bagi (Calon)&#xD;
Nasabah dan Investor</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20534" />
    <author>
      <name>Fachrudin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20534</id>
    <updated>2011-09-13T19:17:58Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fachrudin
Abstract: Perusahaan-perusahaan yang bangkrut, ditutup, dan dilikuidasi sudah merupakan suatu fenomena di dunia bisnis. Di dalam perusahaan-perusahaan, sudah termasuk bank-bank. Sebagai contoh bank-bank yang bangkrut antara lain: Di Amerika Serikat ada 1.300 bank ditutup pada tahun 1930, lebih 2.000 bank ditutup pada tahun 1931 dan hampir 5.700 bank ditutup pada tahun 1932 (Gordon, 2001). Di Turki ada 12 bank yang ditutup pada tahun 2000 (Frantz, 2001), sedang di Jepang pemerintah menyediakan 17 triliun Yen setara 1530 triliun Rupiah untuk menyelamatkan bank-bank yang bangkrut (Rowley, 1998). Selain itu ada juga bank ditutup di Jerman (Andrews, 2001), di Thailand (Crispin, 2000), di Bosnia (Gall, 2000). Di Indonesia juga tidak ketinggalan, antara lain ada 37 bank umum swasta nasional yang dilikuidasi pada tahun 1999. Dampak dari ditutupnya suatu bank sangat besar bagi nasabah dan investor. Bagi bank-bank besar jika ditutup akan mempunyai dampak yang besar dan luas bagi perekonomian. Itulah sebabnya ada istilah too big to fail (terlalu besar untuk gagal), di mana jika ada bank besar mempunyai indikasi untuk bangkrut atau ditutup, banyak pihak, terutama pemerintah akan berusaha agar bank tersebut tidak ditutup. Nasabah dan investor tentu tidak menginginkan bank di mana ia menyimpan atau menanamkan uangnya mengalami kebangkrutan, dilikuidasi atau ditutup. Sedangkan calon nasabah dan calon investor, tentu akan mencari informasi agar tidak menyimpan atau menanamkan dananya pada bank yang berpotensi untuk bangkrut, dilikuidasi atau ditutup. Untuk itu, mereka memerlukan informasi mengenai indikasi-indikasi penting agar mereka tidak mengalami kerugian. Kajian mengenai perusahaan-perusahaan yang bangkrut, gagal, ditutup, dilikuidasi telah banyak dilakukan, antara lain, kajian Beaver (1966), Altman (1968), Argenti (1976), Altman, Haldeman dan Narayanan (1977), Kaveri (1980), Taffler (1982), Dhanani (1991), Meyer dan Pifer (1980), Sinkey (1975), dan Spahr (1989). Kesemua kajian-kajian di atas dilakukan dengan membandingkan kelompok perusahaan yang bangkrut, ditutup atau dilikuidasi dan kelompok perusahaan yang bertahan hidup.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fachrudin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kepastian Hukum dan Implikasinya Terhadap&#xD;
Pertumbuhan Investasi di Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20533" />
    <author>
      <name>Ginting, Budiman</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20533</id>
    <updated>2012-07-22T19:09:18Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ginting, Budiman
Abstract: Berbicara tentang kepastian hukum berarti tidak terlepas dari makna apa tujuan hukum itu sebenarnya. Kepastian hukum adalah salah satu dari tujuan hukum, di samping yang lainnya yakni kemanfaatan dan keadilan bagi setiap insan manusia selaku anggota masyarakat yang plural dalam interaksinya dengan insan yang lain tanpa membedakan asal usul dari mana dia berada.1 Kepastian hukum sebagai salah satu tujuan hukum tidak akan terlepas dari fungsi hukum itu sendiri. Fungsi hukum yang terpenting adalah tercapainya keteraturan dalam kehidupan manusia dalam masyarakat. Keteraturan ini yang menyebabkan orang dapat hidup dengan berkepastian, artinya orang dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat karena ia dapat mengadakan perhitungan atau prediksi tentang apa yang akan terjadi atau apa yang bisa ia harapkan. Dalam dunia usaha, kepastian hukum sangat diperlukan untuk menjamin ketenangan dan kepastian berusaha. Pengaturan tentang kegiatan penanaman modal di Indonesia diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a, disebutkan bahwa kegiatan penanaman modal diselenggarakan berdasarkan asas kepastian hukum. Sementara itu yang dimaksud dengan “asas kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang meletakkan hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalam setiap kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan kepastian hukum adalah adanya konsistensi peraturan dan penegakan hukum di Indonesia. Konsistensi peraturan ditunjukkan dengan adanya peraturan yang tidak saling bertentangan antara satu peraturan dengan peraturan yang lain, dan dapat dijadikan pedoman untuk suatu jangka waktu yang cukup, sehingga tidak terkesan setiap pergantian pejabat selalu diikuti pergantian peraturan yang&#xD;
bisa saling bertentangan. Di Indonesia kegiatan penanaman modal baik dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ginting, Budiman</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemodelan Algoritma Gerakan Berdimensi:&#xD;
Satu Tinjauan Metode Komputasi&#xD;
Dalam Fisika</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20532" />
    <author>
      <name>Zarlis, Muhammad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20532</id>
    <updated>2012-07-22T19:08:49Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zarlis, Muhammad
Abstract: Untuk dapat lebih memahami suatu gejala fisis dan untuk pengembangan ilmu fisika, perlu dilakukan sesuatu eksperimen. Eksperimen adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan dalam bidang fisika, karena eksperimen adalah hakim kebenaran dalam fisika. Eksperimen selalu diperlukan untuk pengujian teori dan pengembangan teori-teori baru, di samping itu dalam proses belajar mengajar eksperimen juga dapat membantu untuk lebih memahami hukum-hukum fisika. Namun demikian, dalam melakukan suatu eksperimen di lapangan selalu ditemukan kendala-kendala, antara lain disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:&#xD;
1. Gejala fisika yang diteliti prosesnya relatif cepat sehingga sukar diukur&#xD;
dan diamati visualisasinya.&#xD;
2. Ukuran benda yang akan diteliti relatif kecil (mikro) sehingga sukar&#xD;
diukur.&#xD;
3. Gejala yang diteliti cenderung berbahaya.&#xD;
4. Peralatan yang diperlukan untuk analisis suatu gejala relatif mahal atau&#xD;
sukar dioperasikan.&#xD;
5. Data hasil eksperimen yang diperoleh cukup besar dan tidak linear&#xD;
sehingga sukar dianalisis.&#xD;
Kendala-kendala di atas menyebabkan karakteristik suatu gejala fisis tidak dapat terungkap secara tuntas, hal ini tentunya akan menyebabkan informasi dan akan mengganggu perkembangan ilmu fisika itu sendiri. Dalam hal lain pada pembahasan fisika teoretis hukum-hukum fisika diformulasikan dalam bentuk bahasa matematis. Hubungan suatu besaran fisis lainnya dalam suatu sistem pada umumnya dapat dinyatakan dalam bentuk model matematis (Bender, 1980). Model matematis tersebut disusun secara deduktif berdasarkan hukum-hukum alam yang telah teruji kebenarannya. Berdasarkan model matematis suatu sistem fisis, dapat diketahui karakteristik sistem fisis tersebut, dan melalui karakteristik sistem fisis dapat diramalkan hal-hal yang akan terjadi bila sistem diberi suatu perlakuan tertentu.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zarlis, Muhammad</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Strategi Pencegahan Stroke Primer</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20531" />
    <author>
      <name>Nasution, Darulkutni</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20531</id>
    <updated>2012-07-22T19:07:36Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Darulkutni
Abstract: Menurut definisi WHO, stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Gejala klinis stroke sangat tergantung kepada daerah otak yang terganggu aliran darahnya dan fungsi daerah otak yang mengalami gangguan aliran darah tersebut. Manifestasi klinik pada umumnya adalah kelumpuhan sebelah badan, gangguan perasaan sebelah badan, bicara terganggu bisa tidak dapat berbicara atau tidak mengerti pembicaraan, gangguan menelan, mulut mencong, gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan sampai kesadaran menurun, kemudian pasca-stroke bisa terjadi antara lain epilepsi, demensia atau pelupa dan depresi. Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab kematian sesudah penyakit jantung pada sebahagian besar negara di dunia, sedangkan di negara Barat yang telah maju, stroke menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian sesudah penyakit jantung dan kanker. Stroke adalah penyebab kedua kecacatan berat di seluruh dunia pada usia di atas 60 tahun dan biaya perawatan stroke sangatlah besar, pada tahun 2004 diperkirakan 53,6 miliar dolar Amerika. Diperkirakan insidens stroke di Amerika Serikat kira-kira lebih 700.000 tiap tahun dan meninggal lebih 160.000 per tahunnya dengan kira-kira 4,8 juta penderita stroke yang hidup saat ini. Dikatakan bahwa setiap menit ada 1 orang menderita stroke dan hampir 20 orang akan meninggal tiap jam. Untuk setiap 100 yang selamat, 10 mampu kembali bekerja tanpa kecacatan, 30 mengalami kecacatan residual yang ringan, 50 mengalami kecacatan yang lebih berat yang membutuhkan perawatan khusus di rumah dan 10 membutuhkan perawatan institusional yang permanen.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Darulkutni</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Mendengkur “The Silent Killer” dan Upaya Penanganannya&#xD;
Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20530" />
    <author>
      <name>Saragih, Abdul Rachman</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20530</id>
    <updated>2012-07-22T19:07:03Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Saragih, Abdul Rachman
Abstract: Tidur adalah suatu proses fundamental yang dibutuhkan oleh manusia. Manusia dewasa memerlukan tidur rata-rata 6-8 jam/hari. Gangguan tidur lebih sering ditemukan pada pria, mulai dari sleep walking, sleep paralysis, insomnia, narkolepsi, sampai sleep apnea. Bentuk gangguan tidur yang paling sering ditemukan adalah sleep apnea (henti nafas pada waktu tidur), dan gejala yang paling sering timbul pada sleep apnea adalah mendengkur. Mendengkur (snoring) adalah suara bising yang disebabkan oleh aliran udara melalui sumbatan parsial saluran nafas pada bagian belakang hidung dan mulut yang terjadi saat tidur. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot dilator saluran nafas atas melakukan stabilisasi jalan nafas pada saat tidur. Gangguan tidur dengan gelaja utamanya mendengkur adalah Obstructive Sleep Apnoea (OSA). Semua orang dapat mendengkur pada waktu-waktu tertentu, tetapi biasanya hilang dengan sendirinya. Pada pasien OSA, kondisi ini tidak dapat dikoreksi tanpa terbangun. OSA ditandai dengan kolaps berulang dari saluran nafas atas, baik komplet atau parsial selama tidur. Akibatnya aliran udara berkurang atau berhenti sehingga terjadi desaturasi oksigen dan penderita berkali-kali terbangun (arousal). Arousal dan desaturasi oksigen mengakibatkan penderita OSA sering mengalami kantuk yang berlebihan pada siang hari, kelelahan, iritabilitas, gangguan perhatian, dan konsentrasi. Mendengkur merupakan masalah sosial dan masalah kesehatan. Mendengkur merupakan masalah yang mengganggu pasangan tidur, menyebabkan terganggunya pergaulan, menurunnya produktivitas, peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas4 dan peningkatan biaya kesehatan pada penderita&#xD;
OSA. Pendengkur berat lebih mudah menderita hipertensi, stroke dan penyakit jantung dibandingkan orang yang tidak mendengkur dengan umur dan berat badan yang sama</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Saragih, Abdul Rachman</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemahaman Indikator-Indikator Dini&#xD;
Dalam Menentukan Prognosa Cedera Kepala Berat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20529" />
    <author>
      <name>Sastrodiningrat, Abdul Gofar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20529</id>
    <updated>2012-07-22T19:06:24Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sastrodiningrat, Abdul Gofar
Abstract: Menentukan prognosa pada penderita-penderita dengan cedera kepala berat seringkali sulit, sedangkan sebuah prognosa yang akurat sangat penting untuk&#xD;
membuat suatu keputusan apakah informed consent diberikan atau tidak. Demikian juga halnya dengan sejawat di unit gawat darurat dan para spesialis yang bekerja di unit perawatan intensif ingin mengetahui bila suatu tindakan penunjang secara agresif harus dilaksanakan atau hanya sekedar perawatan berdasarkan faktor kemanusiaan. Kenyataannya walau dokter-dokter yang paling berpengalaman pun sulit untuk menentukan prognosa akhir segera setelah cedera kepala. Hal ini disebabkan karena keterbatasan penilaian klinik (clinical assessment) awal, lamanya penyembuhan pada penderita cedera kepala berat, serta banyaknya faktor dan variabel yang mempengaruhi prognosa penderita cedera kepala berat. Aforisme Hippocrates di atas adalah cermin ketidakpastian apa sesungguhnya yang bakal terjadi setelah cedera kepala. Masih merupakan hal yang mustahil untuk mengatakan secara pasti apa yang bakal terjadi pada seseorang penderita cedera kepala berat, akan tetapi penelitian yang intensif selama dua dekade terakhir ini telah memungkinkan kita menjadi lebih yakin dalam menilai apa yang bakal terjadi, dan mempertimbangkan prognosa sebagai suatu kemungkinan (probability) ketimbang sebagai suatu ramalan (prophecy).</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sastrodiningrat, Abdul Gofar</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemberdayaan Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian&#xD;
Sengketa di Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20528" />
    <author>
      <name>Runtung</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20528</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:53Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Runtung
Abstract: Satu persoalan besar yang sedang dihadapi bangsa kita adalah dilema yang terjadi di bidang penegakan hukum. Di satu sisi kuantitas dan kualitas sengketa yang terjadi dalam masyarakat cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sedangkan di sisi lain, pengadilan negara yang memegang kewenangan mengadili menurut undang-undang mempunyai kemampuan yang relatif terbatas. Terlebih-lebih lagi akhir-akhir ini pengadilan negara sedang dilanda krisis kepercayaan. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terjadi berlarut-larut, karena cukup potensial memicu terjadinya tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) atau peradilan massa, yang dapat menimbulkan kekacauan (chaos) dalam masyarakat. Solusinya pengembangan penyelesaian sengketa alternatif di Indonesia merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Penyelesaian sengketa alternatif atau alternative dispute resolution (ADR), adalah suatu bentuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan kata sepakat (konsensus) yang dilakukan oleh para pihak yang bersengketa baik tanpa ataupun dengan bantuan pihak ketiga yang netral.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Runtung</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Indonesia Dalam Menghadapi Persaingan Internasional</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20527" />
    <author>
      <name>Sirait, Ningrum Natasya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20527</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:11Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sirait, Ningrum Natasya
Abstract: Pada saat ini tidak ada satupun negara yang terbebas dari permasalahan yang menyangkut politik, ekonomi dan upaya demokratisasi, walaupun tingkat problematikanya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Topik yang menarik adalah bagaimana mencapai tujuan menjadi negara yang adil, demokratis dan sejahtera terlepas dari sistem ekonomi bagaimana yang diterapkan.2 Dari berbagai sistem ekonomi yang ada, maka setiap negara akan menerapkan sistem yang dianggap tepat dan sesuai dengan kepentingan nasional negara tersebut. Pada awalnya kapitalisme murni3 dianggap cukup atraktif karena sistem versi Adam Smith ini diyakini akan mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Adam Smith dalam The Wealth of Nation mendeskripsikan bahwa sistem harga akan bekerja dan bagaimana ekonomi yang bebas dan berkompetisi akan berfungsi tanpa adanya campur tangan dari pemerintah – melalui pengalokasian sumber daya dengan cara yang effsien. Smith memperkenalkan isitilah “invisible hand” yang akan membuat tujuan produksi, kebutuhan masyarakat sesuai dengan tujuan sosial sehingga akan menghindarkan terjadinya efek yang tidak diinginkan dalam alokasi penggunaan sumber daya</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sirait, Ningrum Natasya</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Dampak Karies Gigi dan Penyakit Periodontal&#xD;
Terhadap Kualitas Hidup</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20526" />
    <author>
      <name>Tampubolon, Nurmala Situmorang</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20526</id>
    <updated>2011-03-10T19:03:57Z</updated>
    <published>2010-10-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tampubolon, Nurmala Situmorang
Abstract: Sejak awal era kehidupan manusia, dijumpai banyak catatan yang menunjukkan organ gigi adalah penting dalam kehidupan. Dalam Kitab Perjanjian Lama, penderitaan yang sangat berat digambarkan sebagai gigi-gigi remuk bagaikan makan kerikil (Ratapan 3:16). Mematahkan gigi musuh juga melambangkan kemenangan dalam peperangan (Mazmur 3:8). Gigi juga sesuatu yang sangat berharga sehingga tidak dapat digantikan dengan organ lain, seperti tertulis “mata ganti mata dan gigi ganti gigi” (Keluaran 21:24). Catatan mengenai gigi juga dapat dilihat pada dunia era primitif, seperti bangsa Maya (sekitar Guatemala dan Honduras saat ini). Mereka mempunyai keahlian yang tinggi dalam seni preparasi gigi dan mengisinya dengan berbagai ornamen batu-batuan indah. Seni ini berhubungan dengan kosmetik maupun religi mereka.</summary>
    <dc:date>2010-10-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tampubolon, Nurmala Situmorang</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Aspek Biofarmasi Mekanisme Absorpsi Obat: Peranan Monocarboxlic Acid Transporter-1 (MCT-1) Terhadap Absorpsi Obat Dalam Usus Halus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/757" />
    <author>
      <name>Simanjuntak, Matheus Timbul</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/757</id>
    <updated>2012-03-06T19:01:54Z</updated>
    <published>2008-08-30T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanjuntak, Matheus Timbul
Abstract: Biofarmasi merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik dari sifat fisika kimia obat, bentuk sediaan di mana obat diberikan, dan cara pemberian terhadap laju dan jumlah absorpsi obat secara sistemik. Sehingga biofarmasi meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi (1) perlindungan terhadap aktivitas obat dalam sediaan obat, (2) pelepasan obat dari sediaan obat, (3) laju disolusi obat pada tempat absorpsi dan absorpsi sistemik dari obat. Pada absorpsi sistemik, obat harus melewati tempat absorpsi yang terdiri dari satu atau lebih lapisan sel dan permiabilitas obat berhubungan erat dengan struktur molekul obat serta sifat secara fisika dan biokimia membran sel. Sehingga pengetahuan tentang lokasi dari transporter protein pada membran dan fungsinya untuk transpor obat sangat dibutuhkan dalam melakukan penelitian dalam ruang lingkup biofarmasi.&#xD;
Dalam lapangan biofarmasi absorpsi mempunyai bermacam macam arti yang khusus. Dalam tubuh, absorpsi adalah proses dengan cara bagaimana sel atau organ mengambil (up take) suatu bahan atau molekul. Dalam saluran pencernaan, absorpsi adalah up take makanan (atau bahan lain) dari saluran pencernaan.&#xD;
Salah satu bahagian yang penyusun saluran pencernaan adalah usus yang terdiri dari usus halus dan usus besar. Pada lapisan terluar usus ditemukan epitelium usus yang merupakan suatu pintu masuk, yang mengendalikan masuknya bahan nutrisi dan xenobiotik (contoh, obat obatan). Pengetahuan tentang absorpsi dan metabolisme dari bahan tersebut sangat penting, sebab berhubungan dengan ketersediaan hayati obat dalam tubuh dan definisi ketersediaan hayati (bioavaibilitas) obat melalui oral dinyatakan sebagai fraksi dari dosis oral yang mencapai sirkulasi sistemik.&#xD;
Telah lama diketahui bahwa absorpsi obat pada usus halus merupakan suatu proses transfer yang kompleks melalui bentangan usus halus, yang meliputi difusi pasif melalui daerah paraseluler dan/atau sel yang bersifat mengabsorpsi pada membran. Transpor ini mungkin atau tidak mungkin diperantarai-receptor (atau diperantarai-transporter), memerlukan up take melalui daerah apikal yang diikuti dengan difusi pasif ke daerah basolateral. Setiap mekanisne transpor tergantung pada sifat fisikokimia dari senyawa yang diabsorbsi, seperti stereokimia, partisi ke dalam membran, berat molekul dan/atau ukuran, volume molekul, pKa, kelarutan, stabilitas secara kimia dan muatan distribusi. Selain hal tersebut, faktor-faktor fisiologi seperti pengosongan lambung, motilitas saluran cerna, pH usus halus, aliran darah, aliran limfa, keadaan patologi, interaksi obat, nutrisi, dan disolusi atau pengikatan mukus, perlu dan harus juga dipertimbangkan saat mengevaluasi absorpsi bahan atau senyawa dalam usus halus.</summary>
    <dc:date>2008-08-30T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanjuntak, Matheus Timbul</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Deteksi Dini Dan Penatalaksanaan Kanker Usus Besar</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/752" />
    <author>
      <name>Siregar, Gontar Alamsyah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/752</id>
    <updated>2010-04-12T08:12:14Z</updated>
    <published>2008-08-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Gontar Alamsyah
Abstract: Kanker usus besar (KUB) ditujukan pada tumor ganas yang ditemukan di kolon dan rektum. Kolon dan rektum adalah bagian dari usus besar pada sistem pencernaan yang disebut juga traktus gastrointestinal. Lebih jelasnya kolon berada di bagian proksimal usus besar dan rektum di bagian distal sekitar 5-7 cm di atas anus. Kolon dan rektum merupakan bagian dari saluran pencernaan atau saluran gastrointestinal di mana fungsinya adalah untuk menghasilkan energi bagi tubuh dan membuang zat-zat yang tidak berguna.1&#xD;
Kanker merupakan suatu proses pembelahan sel-sel (proliferasi) yang tidak mengikuti aturan baku proliferasi yang terdapat dalam tubuh (proliferasi abnormal). Proliferasi ini dibagi atas non-neoplastik dan neoplastik, non- neoplastik dibagi atas:2&#xD;
a. Hiperplasia adalah proliferasi sel yang berlebihan. Hal ini dapat normal karena bertujuan untuk perbaikan dalam kondisi fisiologis tertentu misalnya kehamilan.&#xD;
b. Hipertrofi adalah peningkatan ukuran sel yang menghasilkan pembesaran organ tanpa ada pertambahan jumlah sel.&#xD;
c. Metaplasia adalah perubahan dari satu jenis tipe sel yang membelah menjadi tipe yang lain, biasanya dalam kelas yang sama tapi kurang terspesialisasi.&#xD;
d. Displasia adalah kelainan perkembangan selular, produksi dari sel abnormal yang mengiringi hiperplasia dan metaplasia. Perubahan yang termasuk dalam hal ini terdiri dari bertambahnya mitosis, produksi dari sel abnormal pada jumlah besar dan tendensi untuk tidak teratur.</summary>
    <dc:date>2008-08-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Gontar Alamsyah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Manajemen Seksio Sesarea Emergensi; Masalah dan Tantangan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/756" />
    <author>
      <name>Sibuea, Daulat Hasiholan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/756</id>
    <updated>2012-07-22T19:03:21Z</updated>
    <published>2008-08-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sibuea, Daulat Hasiholan
Abstract: Seksio sesarea (caesarean delivery) adalah satu cara melahirkan janin melalui sayatan dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi).1&#xD;
Kaisar Numa Pompilius dari kerajaan Romawi pada abad kedelapan SM mengesahkan undang-undang yang mengizinkan tindakan seksio sesarea segera pada ibu-ibu hamil tua yang baru saja meninggal untuk menyelamatkan janin.&#xD;
Diduga sejak terbitnya undang-undang tersebut, istilah “Caesarean Delivery” atau “Caesarean Section” atau seksio sesarea mulai dipakai untuk persalinan operatif melalui luka sayatan dinding abdomen (perut) dan dinding uterus (rahim).&#xD;
Di negara-negara sedang membangun, seksio sesarea adalah merupakan pilihan terakhir untuk menyelamatkan ibu dan janin pada saat kehamilan dan atau persalinan yang kritis.Seksio sesarea yang diputuskan mendadak, tanpa perawatan pre-operatif yang memadai, dan tanpa direncanakan sebelumnya disebut seksio sesarea emergensi.</summary>
    <dc:date>2008-08-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sibuea, Daulat Hasiholan</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kajian Struktur Bangunan di Kota Medan Terhadap Gaya Gempa di Masa yang Akan Datang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/754" />
    <author>
      <name>Tarigan, Johannes</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/754</id>
    <updated>2012-07-22T19:03:19Z</updated>
    <published>2008-08-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tarigan, Johannes
Abstract: Gempa dahsyat yang melanda Indonesia tiga tahun terakhir yang telah&#xD;
menimbulkan korban terhadap manusia dan harta benda yang cukup besar&#xD;
adalah sbb:&#xD;
• Gempa/Tsunami Aceh 26 Desember 2004 dengan besaran 9 Skala&#xD;
Richter&#xD;
• Gempa Nias 28 Maret 2005 dengan besaran 8,7 Skala Richter&#xD;
• Gempa Yogyakarta 26 Mei 2006 dengan besaran 5,9 Skala Richter&#xD;
• Gempa Bengkulu 12 September 2007 dengan besaran 7,9 Skala Richter.&#xD;
Saat ini ada peraturan yang terbaru untuk mendesain Gempa di Indonesia&#xD;
yakni SNI 1726, yang diterbitkan pada tahun 2002, sedangkan sebelumnya&#xD;
adalah SKBI-2.3.53.1987 yang diterbitkan tahun 1987.&#xD;
Melihat kejadian gempa mulai tahun 2004 dan peraturan gempa Indonesia&#xD;
tahun 2002 apakah struktur bangunan di Medan yang didirikan sebelum&#xD;
tahun 2004 masih aman terhadap Gempa yang akan datang?</summary>
    <dc:date>2008-08-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tarigan, Johannes</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemahaman Indikator-Indikator Dini Dalam Menentukan Prognosa Cedera Kepala Berat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/753" />
    <author>
      <name>Sastrodiningrat, Abdul Gofar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/753</id>
    <updated>2012-03-06T19:09:12Z</updated>
    <published>2008-08-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sastrodiningrat, Abdul Gofar
Abstract: Menentukan prognosa pada penderita-penderita dengan cedera kepala berat seringkali sulit, sedangkan sebuah prognosa yang akurat sangat penting untuk membuat suatu keputusan apakah informed consent diberikan atau tidak. Demikian juga halnya dengan sejawat di unit gawat darurat dan para spesialis yang bekerja di unit perawatan intensif ingin mengetahui bila suatu tindakan penunjang secara agresif harus dilaksanakan atau hanya sekedar perawatan berdasarkan faktor kemanusiaan. Kenyataannya walau dokter-dokter yang paling berpengalaman pun sulit untuk menentukan prognosa akhir segera setelah cedera kepala. Hal ini disebabkan karena keterbatasan penilaian klinik (clinical assessment) awal, lamanya penyembuhan pada penderita cedera kepala berat, serta banyaknya faktor dan variabel yang mempengaruhi prognosa penderita cedera kepala berat.1,2</summary>
    <dc:date>2008-08-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sastrodiningrat, Abdul Gofar</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Demam Rematik Dan Penyakit Jantung Rematik Permasalahan Indonesia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/750" />
    <author>
      <name>Siregar, Abdullah Afif</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/750</id>
    <updated>2012-03-06T19:09:12Z</updated>
    <published>2008-09-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Abdullah Afif
Abstract: Demam rematik dan penyakit jantung rematik telah lama dikenal. Demam&#xD;
rematik (DR) dan atau Penyakit jantung rematik (PJR) eksaserbasi akut&#xD;
adalah suatu sindroma klinik penyakit akibat infeksi kuman Streptokokus&#xD;
? hemolitik grup A pada tenggorokan yang terjadi secara akut ataupun&#xD;
berulang dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu poliartritis migrans&#xD;
akut, karditis, korea, nodul subkutan dan eritema marginatum.
Abstract (other language): Penyakit Jantung rematik (PJR) adalah penyakit jantung sebagai akibat&#xD;
adanya gejala sisa (sekuele) dari DR, yang ditandai dengan terjadinya cacat&#xD;
katup jantung.&#xD;
Demam rematik terjadi sebagai sekuele lambat radang non supuratif&#xD;
sistemik yang dapat melibatkan sendi, jantung, susunan saraf pusat,&#xD;
jaringan subkutan dan kulit dengan frekuensi yang bervariasi.&#xD;
Jauh sebelum T. Duckett Jones pada tahun 1944 mengemukakan kriteria&#xD;
Jones untuk menegakkan diagnosis demam rematik, beberapa tulisan sejak&#xD;
awal abad ke 17 telah melaporkan mengenai gejala penyakit tersebut.&#xD;
Epidemiologis dari Perancis de Baillou adalah yang pertama menjelaskan&#xD;
rheumatism artikuler akut dan membedakannya dari gout 1,7 dan kemudian&#xD;
Sydenham dari London menjelaskan korea, tetapi keduanya tidak&#xD;
menghubungkan kedua gejala tersebut dengan penyakit jantung. Pada&#xD;
tahun 1761 Morgagni, seorang patolog dari Itali menjelaskan adanya&#xD;
kelainan katup pada penderita penyakit tersebut dan deskripsi klinis PJR&#xD;
dijelaskan setelah didapatinya stetoskop pada tahun 1819 oleh Laennec.&#xD;
Pada tahun 1886 dan 1889 Walter Butletcheadle mengemukakan&#xD;
“rheumatic fever syndrome” yang merupakan kombinasi artritis akut,&#xD;
penyakit jantung, korea dan belakangan termasuk manifestasi yang jarang&#xD;
ditemui yaitu eritema marginatum dan nodul subkutan sebagai komponen&#xD;
sindroma tersebut. Pada tahun 1931, Coburn mengusulkan hubungan&#xD;
infeksi Streptokokus grup A dengan demam rematik dan secara perlahanlahan&#xD;
diterima oleh Jones dan peneliti lainnya. Pada tahun 1944 Jones&#xD;
mengemukakan suatu kriteria untuk menegakkan diagnosis demam&#xD;
rematik. Kriteria ini masih digunakan sampai saat ini untuk menegakkan&#xD;
diagnosis dan telah beberapa mengalami modifikasi dan revisi, karena&#xD;
dirasakan masih mempunyai kelemahan untuk menegakkan diagnosis&#xD;
secara tepat, akurat dan cepat.</summary>
    <dc:date>2008-09-02T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Abdullah Afif</dc:creator>
    <dc:description>Penyakit Jantung rematik (PJR) adalah penyakit jantung sebagai akibat&#xD;
adanya gejala sisa (sekuele) dari DR, yang ditandai dengan terjadinya cacat&#xD;
katup jantung.&#xD;
Demam rematik terjadi sebagai sekuele lambat radang non supuratif&#xD;
sistemik yang dapat melibatkan sendi, jantung, susunan saraf pusat,&#xD;
jaringan subkutan dan kulit dengan frekuensi yang bervariasi.&#xD;
Jauh sebelum T. Duckett Jones pada tahun 1944 mengemukakan kriteria&#xD;
Jones untuk menegakkan diagnosis demam rematik, beberapa tulisan sejak&#xD;
awal abad ke 17 telah melaporkan mengenai gejala penyakit tersebut.&#xD;
Epidemiologis dari Perancis de Baillou adalah yang pertama menjelaskan&#xD;
rheumatism artikuler akut dan membedakannya dari gout 1,7 dan kemudian&#xD;
Sydenham dari London menjelaskan korea, tetapi keduanya tidak&#xD;
menghubungkan kedua gejala tersebut dengan penyakit jantung. Pada&#xD;
tahun 1761 Morgagni, seorang patolog dari Itali menjelaskan adanya&#xD;
kelainan katup pada penderita penyakit tersebut dan deskripsi klinis PJR&#xD;
dijelaskan setelah didapatinya stetoskop pada tahun 1819 oleh Laennec.&#xD;
Pada tahun 1886 dan 1889 Walter Butletcheadle mengemukakan&#xD;
“rheumatic fever syndrome” yang merupakan kombinasi artritis akut,&#xD;
penyakit jantung, korea dan belakangan termasuk manifestasi yang jarang&#xD;
ditemui yaitu eritema marginatum dan nodul subkutan sebagai komponen&#xD;
sindroma tersebut. Pada tahun 1931, Coburn mengusulkan hubungan&#xD;
infeksi Streptokokus grup A dengan demam rematik dan secara perlahanlahan&#xD;
diterima oleh Jones dan peneliti lainnya. Pada tahun 1944 Jones&#xD;
mengemukakan suatu kriteria untuk menegakkan diagnosis demam&#xD;
rematik. Kriteria ini masih digunakan sampai saat ini untuk menegakkan&#xD;
diagnosis dan telah beberapa mengalami modifikasi dan revisi, karena&#xD;
dirasakan masih mempunyai kelemahan untuk menegakkan diagnosis&#xD;
secara tepat, akurat dan cepat.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Laparoskopi Operatif</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/751" />
    <author>
      <name>Hadibroto, Budi R.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/751</id>
    <updated>2012-03-06T19:08:59Z</updated>
    <published>2008-08-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hadibroto, Budi R.
Abstract: Laparoskopi adalah suatu instrumen untuk melihat rongga peritoneum. Struktur rongga pelvik dan dapat juga dipakai untuk tindakan operatif. Sejak pertama kali dicatat melihat rongga abdomen dengan alat optik dengan dilakukannya incisi kuldotomi pada tahun 1901, konsep visualisasi rongga pelvis baik untuk prosedur diagnostik maupun operatif mengalami perkembangan yang pesat.&#xD;
Endoskopi ginekologi di Indonesia mulai berkembang mulai sekitar tahun 1990-an, sedangkan di dunia internasional dimulai pada tahun 1970-an. Di Indonesia sekarang sudah mulai pesat perkembangannya terutama di pusat-pusat kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, dan Yogyakarta. Apalagi telah terbentuk Indonesian Gynecologic Endoscopy Society (IGES), dan Satgas Endoskopi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).&#xD;
Dunia endoskopi sudah sangat pesat perkembangannya sesuai dengan hasil kongres di Chicago pada tahun 2001 dan terakhir kongres di Berlin pada tahun 2002. Teknik-teknik operasi laparoskopi sudah amat tinggi, yang terutama sekarang operasi-operasi pada rongga pelvis antara lain bedah rekonstruksi dan uroginekologi.</summary>
    <dc:date>2008-08-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hadibroto, Budi R.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Era Reformasi (1998)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/747" />
    <author>
      <name>Tarigan, Robinson</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/747</id>
    <updated>2012-03-06T19:08:47Z</updated>
    <published>2008-09-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tarigan, Robinson
Abstract: Setelah krisis ekonomi pada tahun 1997, maka laju pertumbuhan ekonomi Indonesia turun (-13,16%) pada 1998, bertumbuh sedikit (0,62%) pada tahun 1999 dan setelah itu makin membaik. Laju pertumbuhan tahunan 1999 – 2005 berturut-turut sbb.: 0,62%, 4,6%, 3,83%, 4,38%, 4,88%, 5,13% dan 5,69%. Ekonomi kita bertumbuh dari hanya 0,62% berangsur membaik pada kisaran 4% antara tahun 2000 s.d. 2003 dan mulai tahun 2004 sudah masuk pada kisaran 5%. Pemerintah pada mulanya menargetkan pertumbuhan ekonomi 2006 adalah 6,2% tetapi kemudian dalam APBN-P 2006 merubah targetnya menjadi 5,8%; namun BI memperkirakan laju pertumbuhan 2006 adalah 5,5% lebih rendah dari laju pertumbuhan 2005. Patut diduga bahwa laju pertumbuhan tahun 2007 akan lebih rendah lagi karena investasi riil tahun 2006 lebih rendah dari tahun 2005. Laju pertumbuhan ekonomi kita dari tahun 1999 s.d. 2005 mencapai rata-rata 4,15%. Dari data di atas kelihatannya ekonomi kita memiliki prospek membaik yaitu terus meningkatnya laju pertumbuhan di masa depan. Namun apabila diteliti lebih mendalam akan terlihat adanya permasalahan dalam pertumbuhan ekonomi tersebut. Sektor ekonomi dapat dikelompokkan atas dua kategori yaitu sektor riil dan sektor non-riil. Sektor riil adalah sektor penghasil barang seperti: pertanian, pertambangan, dan industri ditambah kegiatan yang terkait dengan pelayanan wisatawan internasional. Sektor non-riil adalah sektor lainnya seperti: listrik, bangunan, perdagangan, pengangkutan, keuangan, dan jasa-jasa (pemerintahan, sosial, perorangan). Kegiatan yang melayani wisatawan internasional masuk pada beberapa sektor non-riil sehingga tidak dapat dipisahkan. Antara tahun 1999 s.d. 2005 sektor riil bertumbuh 3,33% sedangkan sektor non-riil bertumbuh 5,1%. Pertumbuhan ini adalah pincang karena semestinya sektor non-riil bertumbuh untuk melayani sektor riil yang bertumbuh. Antara tahun 1999 s.d. 2005 sektor pertanian bertumbuh 3,11%, pertambangan -0,8%, dan sektor industri bertumbuh 5,12%. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah dari tahun 2002 s.d. 2005 laju pertumbuhan sektor riil cenderung melambat. Hal ini berarti pertumbuhan ekonomi keseluruhan sejak 2002 adalah karena pertumbuhan sektor non-riil yang melaju 2 kali lipat dari sektor riil. Pada 2 tahun terakhir sektor yang tinggi pertumbuhannya adalah: pengangkutan, keuangan, bangunan, dan perdagangan. Pada saat yang sama tingkat pengangguran terbuka pada mulanya turun tetapi sejak tahun 2002 cenderung naik. Menurut perhitungan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi tingkat pengangguran pada tahun 2004 sebesar 10,3 juta meningkat menjadi 11,2 juta pada tahun 2005 dan diperkirakan sebesar 12,2 juta pada tahun 2006 (Harian Kompas, tgl. 7 Agustus 2006, hal. 15). Hal ini sangat ironis karena pertumbuhan ekonomi pada kurun waktu yang sama berada di atas 5%. Persentase orang miskin pada mulanya juga terus menurun, tetapi sejak tahun 2005 sudah mulai bertambah. Hal ini disebabkan oleh sektor yang bertumbuh itu adalah sektor non-riil. Ini adalah kondisi serius dan perlu dikaji lebih mendalam.</summary>
    <dc:date>2008-09-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tarigan, Robinson</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kelainan Sistem Muskuloskeletal Pada Lanjut Usia</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/748" />
    <author>
      <name>Hanafiah, Hafas</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/748</id>
    <updated>2010-04-12T08:16:16Z</updated>
    <published>2008-09-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hanafiah, Hafas
Abstract: Sistem Muskuloskeletal merupakan cakupan Ilmu Bedah Orthopaedi. Apa&#xD;
yang disebut dengan Ilmu Bedah Orthopaedi sampai saat ini belum dipahami&#xD;
dengan benar, baik di kalangan kedokteran maupun khalayak umum.&#xD;
Dokter Bedah Orthopaedi dikenal sebagai spesialis bedah tulang, walaupun&#xD;
persoalan tidak selalu masalah tulang saja.Bahwa kelainan-kelainan dan penyakit yang termasuk dalam Ilmu Bedah&#xD;
Orthopaedi telah ditangani sejak beribu tahun sebelum masehi, seperti&#xD;
penggunaan bidai (splint) telah dipakai pada 9000 BC, amputasi tungkai&#xD;
sudah dikerjakan pada 5000 BC, di Mesir pemakaian tongkat tompang&#xD;
ketiak (crutch) telah dilakukan 2000 BC dan reposisi sendi bahu telah&#xD;
dikerjakan oleh Hippocrates pada abad kelima BC, yang sampai sekarang&#xD;
cara reposisi sendi bahu masih digunakan. Namun istilah Orthopaedi baru&#xD;
dipakai sejak 1741 oleh Nicolas Andre di Perancis.&#xD;
Nicholas Andre membuat definisi sebagai berikut:&#xD;
“L’orthopedie ou l’art de prevenir et de corriger dans les enfants deformites&#xD;
du corps”. Artinya: Orthopaedi adalah kiat untuk memperbaiki dan&#xD;
mencegah kelainan bentuk tubuh anak.&#xD;
Orthopaedi berasal dari bahasa Yunani yaitu orthos berarti lurus dan&#xD;
paedion/pais berarti anak. Masa itu ruang lingkup yang dicakup terbatas&#xD;
dan menyangkut perkembangan sistem otot kerangka (sistem muskuloskeletal)&#xD;
yaitu mencegah dan memperbaiki kelainan bentuk pada anak-anak dan&#xD;
dianggap bahwa kelainan bentuk pada orang dewasa umumnya berasal dari&#xD;
kelainan pada waktu anak-anak. Pandangan ini bertahan selama dua abad.&#xD;
Mengatur tumbuh kembang yang baik dalam rangka perkembangan anak&#xD;
sebagai manusia seutuhnya, tidak selalu berhasil dengan sempurna tanpa&#xD;
tindakan operatif.&#xD;
Maka pada 1953 oleh American Board of Surgery membuat definisi sebagai&#xD;
berikut:&#xD;
“Orthopaedic Surgery is that branch of surgery speciality concerned with the&#xD;
prevention and restoration of the function of the skeletal system, it&#xD;
articulation and associated structures.“ Jadi ilmu bedah orthopedi adalah&#xD;
suatu cabang ilmu bedah.&#xD;
Kemudian pada 1960 oleh American Academic of Orthopaedic Surgery&#xD;
diubah sebagai berikut:&#xD;
“Orthopaedic is the medical speciality that includes the investigation,&#xD;
prevention, restoration and development of the form and function of the&#xD;
extremities, spine, and associated structures by medical, surgical and&#xD;
physical method.” Jadi Orthopaedi adalah “medical speciality.”</summary>
    <dc:date>2008-09-02T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hanafiah, Hafas</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Ruangan Perawatan Intensif (ICU) Dalam Memberikan Pelayanan Di Rumah sakit</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/745" />
    <author>
      <name>Hanafie, Achsanuddin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/745</id>
    <updated>2012-03-06T19:09:14Z</updated>
    <published>2008-08-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hanafie, Achsanuddin
Abstract: Dari waktu ke waktu keberadaan institusi rumah sakit semakin dituntut untuk memberikan pelayanan prima dalam bidang kesehatan kepada masyarakat. Kebutuhan ini sejalan dengan dua hal penting, yaitu semakin ketatnya kompetisi sektor rumah sakit dan seiring dengan peningkatan kesadaran serta tuntutan pasien terhadap kualitas pelayanan rumah sakit.&#xD;
Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan Intensive Care Unit (ICU). Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu disfungsi/gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain. Ilmu yang diaplikasikan dalam pelayanan ICU, pada dekade terakhir ini telah berkembang sedemikian rupa sehingga telah menjadi cabang ilmu kedokteran tersendiri yaitu ”Intensive Care Medicine”. Meskipun pada umumnya ICU hanya terdiri dari beberapa tempat tidur, tetapi sumber daya tenaga (dokter dan perawat terlatih) yang dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di Indonesia sangat terbatas.</summary>
    <dc:date>2008-08-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hanafie, Achsanuddin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Peranan Tanaman Kelapa Sawit Pada Konservasi Tanah Dan Air</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/742" />
    <author>
      <name>Harahap, Erwin Masrul</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/742</id>
    <updated>2010-04-26T19:01:48Z</updated>
    <published>2008-08-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Erwin Masrul
Abstract: Kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia sejak Pelita I telah berhasil meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Kalau pada awal Pelita I (1968) pendapatan per kapita bangsa Indonesia hanya US $ 70, maka pada tahun kelima Pelita VI (1997) telah melebihi US $ 1000 (Pidato Presiden RI di depan sidang DPR, 1997), tetapi akibat krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1998 pendapatan per kapita telah turun lagi menjadi US $ 735. jumlah penduduk miskin yang sudah berkurang dari 40 juta orang (14% dari penduduk Indonesia) pada tahun 1997, karena krisis ekonomi dan moneter, penduduk miskin sudah melebihi 60 juta orang pada tahun 1999.&#xD;
Faktor-faktor yang menyebabkan mereka ini miskin dan kekurangan makanan antara lain adalah produktivitas lahan rendah, lahan pertaniannya sempit, harga hasil pertanian rendah dan kesempatan kerja di luar usaha tani atau pendapatan di luar usaha tani sangat terbatas. Petani miskin di lahan yang miskin akan terus saling memiskinkan apabila faktor penyebabnya tidak dibenahi. Situasi di daerah pertanian yang miskin tersebut terkesan gerah, tidak teratur, dan tidak produktif. Keadaan ini dapat dijumpai hampir di seluruh Indonesia terutama di pertanian lahan kering. Sistem pertanian dan pengelolaannya yang kurang sesuai di lahan kering tidak hanya menurunkan produktivitasnya tetapi juga meningkatkan erosi yang pada gilirannya mengakibatkan lahan tidak produktif atau lahan kritis.&#xD;
Erosi tersebut tidak hanya mengakibatkan berkurangnya lahan produktif tetapi juga merusak fungsi hidrologis bagian hulu yang selanjutnya mengakibatkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau di bagian hilir. Hal ini telah menjadi fenomena umum di DAS-DAS yang sudah rusak terutama di Pulau Jawa. Pada akhir tahun 2006 tepatnya di bulan Desember kita telah mencatat terjadinya banjir di banyak tempat di Indonesia terutama DAS-DAS yang sudah rusak bagian hulunya dan beberapa bulan kemudian sudah mengalami kekeringan yang jelas akan menimbulkan malapetaka bagi petani miskin.</summary>
    <dc:date>2008-08-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Erwin Masrul</dc:creator>
  </entry>
</feed>

