<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Community:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/66" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/66</id>
  <updated>2013-05-25T08:59:49Z</updated>
  <dc:date>2013-05-25T08:59:49Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Ekspresi mRNA mammaglobin pada darah penderita kanker&#xD;
payudara dengan metastase di Kotamadya Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37476" />
    <author>
      <name>Rimbun, Surjadi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37476</id>
    <updated>2013-05-20T04:25:15Z</updated>
    <published>2013-05-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rimbun, Surjadi
Advisors: Yahwardiah; Emir T.
Abstract: Breast cancer is a major problem among females all over the world. Despite apparent curative resection, subsequent development of metastatic spread presents a major clinical problem in about 30% of all breast cancer patients.&#xD;
The aim of this study was to investigate the clinical reliability of mammaglobin m-RNA (MAG m-RNA) as a marker of circulating cancer cells in breast cancer patients and to study the relevance of its expression in blood. To define better the potential and limits of the marker for diagnostic purposes, blood positivity was analyzed in relation to clinical and pathological characteristics.&#xD;
This study was conducted on 29 breast cancer patients divided into two groups, 13 breast cancer patients with metastase and 16 patients with non metastase. Most of the breast cancer patients were of the invasive ductal carcinoma type and 28 of them had associated areas of intraductal carcinoma with 1 was invasive lobular carcinoma type. Breast cancer patients were reclassified according to the histologic grade into grade I (5 patients),grade II (4 patients) and grade III (13 patients). All individuals included in this study were subjected to detection of MAG m-RNA in circulating tumor cells in peripheral blood using RT-PCR technique.&#xD;
Positivity for mammaglobin in blood samples was observed in 38% of patients with metastatic but not in the non metatstatic patients. The presence of mammaglobin was correlated with metastatic tumor (P = 0.011).&#xD;
MAG overexpression in breast tissue was significantly positive in low grade tumors (I and II) than in high grade ones (III).&#xD;
MAG is a promising specific tumor marker of breast cancer that could predict the prognosis of breast cancer and Our results indicate that the marker could represent a potentially useful noninvasive tool to detect metatstatic breast cancer.
Abstract (other language): Kanker payudara adalah salah satu masalah utama pada wanita di seluruh dunia. Meskipun reseksi kuratif jelas, penyebaran metatasis selanjutnya menjadi masalah klinis utama pada sekitar 30% dari semua pasien kanker payudara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keandalan klinis m-RNA mammaglobin sebagai penanda sirkulasi sel kanker pada pasien kanker payudara dan untuk mempelajari relevansi ekspresinya dalam darah. Untuk menentukan baik potensi dan batas-batas penanda untuk tujuan diagnostik, darah yang positif dianalisa dalam kaitannya dengan karakteristik klinis dan patologis.&#xD;
Penelitian ini dilakukan terhadap 29 pasien kanker payudara yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 13 pasien kanker payudara dengan metastase dan 16 pasien kanker payudara tanpa metastase. 28 pasien kanker payudara adalah jenis karsinoma duktal invasif dengan 1 pasien berjenis karsinoma lobular invasif adalah. Pasien kanker payudara telah direklasifikasi sesuai dengan kelas histologis ke kelas I (5 pasien), kelas II (4 pasien) dan kelas III (13 pasien). Semua individu dalam studi ini menjadi sasaran deteksi MAG m-RNA dalam sirkulasi sel tumor dalam darah perifer menggunakan tehnik RT-PCR.&#xD;
Hasil positif untuk mammaglobin dalam sampel darah terlihat pada 38%(5/13) pasien dengan metastasis tetapi tidak pada pasien non metatstatik. Ekspresi m-RNA mammaglobin berkorelasi dengan tumor metastatik (P = 0,011).MAG berlebih pada jaringan payudara secara signifikan positif pada tumor grade rendah (I dan II) dibandingkan yang grade tinggi (III).&#xD;
Mammaglobin adalah penanda tumor spesifik kanker payudara yang dapat memprediksi prognosis kanker payudara dan hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penanda bisa sebagai pemeriksaan yang kurang-invasif dalam mendeteksi kanker payudara metastase.</summary>
    <dc:date>2013-05-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rimbun, Surjadi</dc:creator>
    <dc:description>Kanker payudara adalah salah satu masalah utama pada wanita di seluruh dunia. Meskipun reseksi kuratif jelas, penyebaran metatasis selanjutnya menjadi masalah klinis utama pada sekitar 30% dari semua pasien kanker payudara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keandalan klinis m-RNA mammaglobin sebagai penanda sirkulasi sel kanker pada pasien kanker payudara dan untuk mempelajari relevansi ekspresinya dalam darah. Untuk menentukan baik potensi dan batas-batas penanda untuk tujuan diagnostik, darah yang positif dianalisa dalam kaitannya dengan karakteristik klinis dan patologis.&#xD;
Penelitian ini dilakukan terhadap 29 pasien kanker payudara yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 13 pasien kanker payudara dengan metastase dan 16 pasien kanker payudara tanpa metastase. 28 pasien kanker payudara adalah jenis karsinoma duktal invasif dengan 1 pasien berjenis karsinoma lobular invasif adalah. Pasien kanker payudara telah direklasifikasi sesuai dengan kelas histologis ke kelas I (5 pasien), kelas II (4 pasien) dan kelas III (13 pasien). Semua individu dalam studi ini menjadi sasaran deteksi MAG m-RNA dalam sirkulasi sel tumor dalam darah perifer menggunakan tehnik RT-PCR.&#xD;
Hasil positif untuk mammaglobin dalam sampel darah terlihat pada 38%(5/13) pasien dengan metastasis tetapi tidak pada pasien non metatstatik. Ekspresi m-RNA mammaglobin berkorelasi dengan tumor metastatik (P = 0,011).MAG berlebih pada jaringan payudara secara signifikan positif pada tumor grade rendah (I dan II) dibandingkan yang grade tinggi (III).&#xD;
Mammaglobin adalah penanda tumor spesifik kanker payudara yang dapat memprediksi prognosis kanker payudara dan hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penanda bisa sebagai pemeriksaan yang kurang-invasif dalam mendeteksi kanker payudara metastase.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan usia tulang pada remaja&#xD;
di pedesaan dan perkotaan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37440" />
    <author>
      <name>Arto, Karina Sugih</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37440</id>
    <updated>2013-05-18T02:28:30Z</updated>
    <published>2013-05-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Arto, Karina Sugih
Advisors: Deliana, Melda; Ali, Muhammad
Abstract: Background. The previous studies was recommended to make the next study about the relationship between the change of body composition and the development of puberty. In recent study, no known how the relationship between Body Mass Index (BMI) and sexual maturity stage of adolescent boys in Indonesia.&#xD;
Objective. To investigate the relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys.&#xD;
Methods. A cross sectional study was performed to determine the relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys 9 to 14 year old. This study was conducted on August 2009 in Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sexual maturity stage was determined the measurement of penile lenght and testical volume.&#xD;
Results. One hundred and eight (64.7%) participants were eligible which consist of 64 students of primary schools and 44 students of junior high schools. The mean of age 11.69 year old (SD 1.62); Body Weight 35.16 kg (SD 8.48); Body Height 1.41 m (SD 0.11); BMI 17.47 kg/m2 (SD 2.34); penile lenght 4.46 cm (SD 1.25); and testical volume 3.58 ml (SD 1.20). The relationship between BMI and penile length was showed by level of Pearson correlation coefficient (r) = -0.25; P = 0.06. The relationship between BMI and testis volume was showed by level of r = -0.21; P = 0.09.&#xD;
Conclusion. There was no significant relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys.
Abstract (other language): Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.&#xD;
Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis.&#xD;
Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09.&#xD;
Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</summary>
    <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Arto, Karina Sugih</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.&#xD;
Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis.&#xD;
Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09.&#xD;
Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara Kadar Prolaktin Serum Penderita Psoriasis Vulgaris dengan Skor Psoriasis Area and Severity Index</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37372" />
    <author>
      <name>Natali, Oliviti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37372</id>
    <updated>2013-05-14T03:05:46Z</updated>
    <published>2013-05-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Natali, Oliviti
Advisors: Tanjung, Chairiyah
Abstract: Psoriasis is a common chronic and  inflammatory skin disease characterized by hyperproliferation of keratinocytes. Its etiology is not completely known. However it seems that genetic, immune defect, environmental and hormonal play a role in  this disease. It has been hypothesized that prolactin may modulate the skin immune system and may be involved in the pathogenesis of psoriasis.
Abstract (other language): Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.</summary>
    <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Natali, Oliviti</dc:creator>
    <dc:description>Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Manfaat Omeprazol Sebagai Pengobatan&#xD;
Sakit Perut Berulang pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37360" />
    <author>
      <name>Yudiyanto, Ade Rahcmat</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37360</id>
    <updated>2013-05-14T02:02:53Z</updated>
    <published>2013-05-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yudiyanto, Ade Rahcmat
Advisors: Supriatmo; Deliana, Melda
Abstract: Background Recurrent abdominal pain is common among adolescents. Absenteeism from school and lower quality of life were associated with the severity of symptoms. Omeprazole is one of alternative treatment in recurrent abdominal pain.&#xD;
Objective To investigate the effectiveness of omeprazole as a treatment of recurrent abdominal pain among adolescent.&#xD;
Methods We conducted a randomized, single blind, controlled trial on August 2009 until November 2009. Adolescents with recurent abdominal pain and met inclusion criteria were eligibled for the study. Simple randomization done to divided in two groups. Each group was received 20 mg of omeprazole or placebo once a day for 14 days. Pain frequency was measured in abdominal pain episode per month, duration was measured in minute and pain intensity was measured by Pain Rating Scale. Evaluation was measured before and after intervention at 1st, 2nd dan 3rd month.&#xD;
Results One hundred twenty three recurrent abdominal pain patients were enrolled to the study, with simple randomization divided in two group with each group was fifty nine patients and sixty four patients. There was statistically significant difference on frequency before and after intervention at 1st, 2nd and 3rd month P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) but there were no statistically significant difference on the duration and degree of abdominal pain (P&gt;0.05).&#xD;
Conclusion Omeprazole is not more effective than placebo as the treatment of recurrent abdominal pain among adolescents.
Abstract (other language): Latar belakang Sakit perut berulang umumnya dapat dijumpai pada remaja. Ketidakhadiran di sekolah dan kualitas hidup yang rendah berhubungan dengan berat gejala yang terjadi. Omeprazol merupakan salah satu alternatif pengobatan pada sakit perut berulang.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat omeprazol sebagai pengobatan sakit perut berulang remaja.&#xD;
Metode Penelitian uji klinis randomisasi dilakukan secara acak tersamar tunggal sejak Agustus sampai November 2009. Remaja yang sakit perut berulang yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok mendapat 20 mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari, selama 14 hari. Frekuensi sakit diukur dengan jumlah banyaknya serangan sakit perut setiap bulan, durasi sakit diukur dalam menit dan tingkatan sakit diukur dengan pain rating scale. Penilaian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian pengobatan&#xD;
Hasil Seratus dua puluh tiga penderita sakit perut berulang diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 59 orang dan 64 orang. Masing-masing kelompok diberi 20mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari selama 14 hari. Dijumpai perbedaan bermakna secara statistik frekuensi sebelum dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) tetapi tidak dijumpai perbedaan pada durasi dan tingkatan sakit saat awal dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga antara kedua kelompok (P&gt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Omeprazol tidak lebih efektif dibandingkan plasebo sebagai pengobatan sakit perut berulang pada remaja.</summary>
    <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yudiyanto, Ade Rahcmat</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Sakit perut berulang umumnya dapat dijumpai pada remaja. Ketidakhadiran di sekolah dan kualitas hidup yang rendah berhubungan dengan berat gejala yang terjadi. Omeprazol merupakan salah satu alternatif pengobatan pada sakit perut berulang.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat omeprazol sebagai pengobatan sakit perut berulang remaja.&#xD;
Metode Penelitian uji klinis randomisasi dilakukan secara acak tersamar tunggal sejak Agustus sampai November 2009. Remaja yang sakit perut berulang yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok mendapat 20 mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari, selama 14 hari. Frekuensi sakit diukur dengan jumlah banyaknya serangan sakit perut setiap bulan, durasi sakit diukur dalam menit dan tingkatan sakit diukur dengan pain rating scale. Penilaian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian pengobatan&#xD;
Hasil Seratus dua puluh tiga penderita sakit perut berulang diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 59 orang dan 64 orang. Masing-masing kelompok diberi 20mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari selama 14 hari. Dijumpai perbedaan bermakna secara statistik frekuensi sebelum dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) tetapi tidak dijumpai perbedaan pada durasi dan tingkatan sakit saat awal dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga antara kedua kelompok (P&gt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Omeprazol tidak lebih efektif dibandingkan plasebo sebagai pengobatan sakit perut berulang pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efektifitas Alat Pemanas Pelurus Rambut Dalam Penanganan Pedikulosis Kapitis</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37359" />
    <author>
      <name>Sinaga, Riana Miranda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37359</id>
    <updated>2013-05-14T02:03:29Z</updated>
    <published>2013-05-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sinaga, Riana Miranda
Advisors: Tanjung, Chairiyah; Simanungkalit, Rointan
Abstract: Background : Pediculosis capitis (PK) is the head lice infestations caused by Pediculus humanus capitis. Prevalence and incidence of PK in the world is quite high, resistance of  treatment has been found, and the treatment also gives adverse effects  on people with PK. It is said that heating devices like hair straightener heaters can be used as an alternative in the treatment of PK which is safe, chemical free, easy to obtain and use, inexpensive, effective, and not easy to be resistant with respect to the physical properties of lice and nits.&#xD;
&#xD;
Objective : To determine the effectiveness of a hair straightener heater in treating pediculosis capitis&#xD;
 Subject and method : The study is a clinical trial,  involving 25 persons with pediculosis capitis. Hair straightener heaters therapy were performed once on hair of a part of the head, then  hair was combed. Lice from  hair combing result were counted after 3 hours and nits after10 days. Hair of another part of the head was used as  compared , and only combed, then lice and nits were counted. Lice and nits before and after heaters were compared. &#xD;
Result : Clinically, hair straightener heater can kill nits with effectiveness 88.19% and kill lice with effectiveness 46.07%.&#xD;
Conclusion : There were statistically significant differences in the number of  lice and nits who lived before and after heating (p &lt;0.05).
Abstract (other language): Latar belakang : Pedikulosis kapitis (PK) adalah infestasi kutu kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus capitis. Prevalensi dan insidensi PK di seluruh dunia cukup tinggi. Telah banyak terjadi resistensi dalam pengobatannya serta menimbulkan efek samping terhadap penderita PK. Dikatakan alat pemanas seperti alat pemanas pelurus rambut dapat digunakan sebagai alternatif dalam  pengobatan PK yaitu suatu penanganan yang aman, bebas bahan kimia, mudah diperoleh dan digunakan, tidak mahal, efektif, dan tidak mudah menjadi resisten.&#xD;
Tujuan  : Untuk mengetahui apakah alat pemanas pelurus rambut efektif dalam  penanganan pedikulosis kapitis.&#xD;
Subyek dan metode : Penelitian bersifat uji klinis, melibatkan 25 orang penderita pedikulosis kapitis, pada pasien 1 bagian rambut kepalanya dilakukan terapi dengan menggunakan alat pemanas pelurus rambut. Tindakan terapi dilakukan hanya 1 kali saja dan kemudian dilakukan penyisiran. Hasil penyisiran yaitu berupa kutu dan telur kutu, dilakukan penghitungan kutu setelah 3 jam dan telur kutu setelah 10 hari. 1 bagian rambut lainnya hanya sebagai pembanding dan hanya dilakukan penyisiran, kemudian dilakukan penghitungan jumlah kutu dan telur kutunya. Setelah itu  dilakukan perbandingan jumlah kutu dan telur kutu sebelum dengan setelah pemanasan. &#xD;
Hasil : Secara klinis alat pemanas pelurus rambut dapat membunuh telur kutu dengan efektifitas sebesar 88,19% dan membunuh kutu dengan efektifitas sebesar 46,07%.  &#xD;
Kesimpulan : Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna jumlah kutu &amp; telur kutu yang hidup sebelum dan setelah pemanasan (p&lt;0,05).</summary>
    <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sinaga, Riana Miranda</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Pedikulosis kapitis (PK) adalah infestasi kutu kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus capitis. Prevalensi dan insidensi PK di seluruh dunia cukup tinggi. Telah banyak terjadi resistensi dalam pengobatannya serta menimbulkan efek samping terhadap penderita PK. Dikatakan alat pemanas seperti alat pemanas pelurus rambut dapat digunakan sebagai alternatif dalam  pengobatan PK yaitu suatu penanganan yang aman, bebas bahan kimia, mudah diperoleh dan digunakan, tidak mahal, efektif, dan tidak mudah menjadi resisten.&#xD;
Tujuan  : Untuk mengetahui apakah alat pemanas pelurus rambut efektif dalam  penanganan pedikulosis kapitis.&#xD;
Subyek dan metode : Penelitian bersifat uji klinis, melibatkan 25 orang penderita pedikulosis kapitis, pada pasien 1 bagian rambut kepalanya dilakukan terapi dengan menggunakan alat pemanas pelurus rambut. Tindakan terapi dilakukan hanya 1 kali saja dan kemudian dilakukan penyisiran. Hasil penyisiran yaitu berupa kutu dan telur kutu, dilakukan penghitungan kutu setelah 3 jam dan telur kutu setelah 10 hari. 1 bagian rambut lainnya hanya sebagai pembanding dan hanya dilakukan penyisiran, kemudian dilakukan penghitungan jumlah kutu dan telur kutunya. Setelah itu  dilakukan perbandingan jumlah kutu dan telur kutu sebelum dengan setelah pemanasan. &#xD;
Hasil : Secara klinis alat pemanas pelurus rambut dapat membunuh telur kutu dengan efektifitas sebesar 88,19% dan membunuh kutu dengan efektifitas sebesar 46,07%.  &#xD;
Kesimpulan : Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna jumlah kutu &amp; telur kutu yang hidup sebelum dan setelah pemanasan (p&lt;0,05).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efikasi Mebendazole Dan Kombinasi Mebendazole Dengan Pyrantel Pamoate Pada Infeksi Soil&#xD;
Trasmitted Helminth</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37358" />
    <author>
      <name>Amelia, Fereza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37358</id>
    <updated>2013-05-14T02:04:53Z</updated>
    <published>2013-05-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Amelia, Fereza
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background Soil-Transmitted Helminthiasis (STH) is the most common infection in developing countries. Although it causes high morbidity, it’s still difficult to find the efficacy dose of antihelmintics for it’s treatment.&#xD;
Objective To determine the efficacy of mebendazole and mebendazole-pyrantel pamoate in treating STH infection in children. &#xD;
Methods We conducted a randomized, open labeled, control trial between July and September 2009 in Secanggang, Kabupaten Langkat, North Sumatera province, in primary school aged children. Before the interventions, data on age, sex, nutritional status and STH infection status were collected. The children were divided into two groups by simple randomization. Group I received mebendazole 500 mg and group II received mebendazole combined with pyrantel pamoate. We examined the patient’s stool on day 7, 14, 21, and 28 after treatment in both groups. Statistical analysis was performed by Chi-square and student t test with confidence interval of 95% and P value of &lt; 0.05 was considered significant.&#xD;
Results We found that the cure rate were 95.4%, 78.5% and 89.3% for A. lumbricoides, T. trichiura and mixed (A. lumbricoides and T. trichiura) infection, respectively on mebendazole group. On the mebendazole-pyrantel pamoate group the cure rate were 98.5%, 89.2% and 90.2% for A. lumbricoides, T. trichiura and mixed infection, respectively. The total EPG (egg per gram) reduce were significant different for both infection A. lumbricoides and T. trichiura (P = 0.001 and P = 0.002).&#xD;
Conclusion Mebendazole and its combination with pyrantel pamoate has the same efficacy in treatment of STH.
Abstract (other language): Latar belakang Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan infeksi yang paling sering terjadi di negara berkembang. Walaupun tingkat morbiditasnya tinggi, masih sulit untuk menemukan regimen pengobatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi infeksi tersebut. &#xD;
Tujuan Untuk membandingkan efikasi mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate dalam pengobatan infeksi STH&#xD;
Metode Penelitian ini merupakan uji klinis acak terbuka yang dilakukan pada Juli sampai September 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Data usia, jenis kelamin, status nutrisi dan derajat infeksi STH dikumpulkan sebelum penelitian. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, menggunakan tabel angka random. Kelompok I mendapatkan terapi mebendazole 500 mg dan kelompok II mendapat terapi kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate. Pemeriksaan tinja dilakukan pada hari ke 7, 14, 21, dan 28 setelah pengobatan. Untuk melihat hubungan antihelmintik dengan kesembuhan digunakan uji kai-kuadrat (x2). Sedangkan untuk melihat hubungan antihelmintik degan jumlah telur, digunakan uji t-independen. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 14.0 dengan tingkat kemaknaan P &lt; 0.05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil Tidak dijumpai perbedaan bermakna untuk angka kesembuhan di antara kedua kelompok, dimana angka kesembuhan untuk kelompok I 95.4%, 78.5% dan 89.3% untuk infeksi A. lumbricoides, T. trichiura dan infeksi campuran. Sedangkan untuk kelompok II sebesar 98.5%, 89.2% dan 90.2%. Dijumpai adanya perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada penurunan jumlah total EPG (egg per gram) untuk kedua infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura (P = 0.001 dan P = 0.002).&#xD;
Kesimpulan mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate mempunyai efikasi sama dalam pengobatan infeksi STH.</summary>
    <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Amelia, Fereza</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan infeksi yang paling sering terjadi di negara berkembang. Walaupun tingkat morbiditasnya tinggi, masih sulit untuk menemukan regimen pengobatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi infeksi tersebut. &#xD;
Tujuan Untuk membandingkan efikasi mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate dalam pengobatan infeksi STH&#xD;
Metode Penelitian ini merupakan uji klinis acak terbuka yang dilakukan pada Juli sampai September 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Data usia, jenis kelamin, status nutrisi dan derajat infeksi STH dikumpulkan sebelum penelitian. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, menggunakan tabel angka random. Kelompok I mendapatkan terapi mebendazole 500 mg dan kelompok II mendapat terapi kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate. Pemeriksaan tinja dilakukan pada hari ke 7, 14, 21, dan 28 setelah pengobatan. Untuk melihat hubungan antihelmintik dengan kesembuhan digunakan uji kai-kuadrat (x2). Sedangkan untuk melihat hubungan antihelmintik degan jumlah telur, digunakan uji t-independen. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 14.0 dengan tingkat kemaknaan P &lt; 0.05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil Tidak dijumpai perbedaan bermakna untuk angka kesembuhan di antara kedua kelompok, dimana angka kesembuhan untuk kelompok I 95.4%, 78.5% dan 89.3% untuk infeksi A. lumbricoides, T. trichiura dan infeksi campuran. Sedangkan untuk kelompok II sebesar 98.5%, 89.2% dan 90.2%. Dijumpai adanya perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada penurunan jumlah total EPG (egg per gram) untuk kedua infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura (P = 0.001 dan P = 0.002).&#xD;
Kesimpulan mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate mempunyai efikasi sama dalam pengobatan infeksi STH.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengukuran Kadar Antibodi Anti Pgl-1 Penderita Kusta (Studi Banding Antara Sampel Darah Finger Prick Dengan Menggunakan Kertas Saring dan Sampel &#xD;
Serum Darah Tanpa Kertas Saring)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37332" />
    <author>
      <name>Fajar, Ahmad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37332</id>
    <updated>2013-05-10T02:42:59Z</updated>
    <published>2013-05-10T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fajar, Ahmad
Advisors: R. Lubis, Syahril; Ganie, Ratna Akbari
Abstract: Kendala studi serologi kusta berskala besar adalah mendapatkan sampel darah secara mudah, tanpa perlakuan khusus dan murah. Pengumpulan darah lewat pungsi vena kubiti memiliki beberapa masalah pada prakteknya, terutama jika harus dikirim ke laboratorium pusat karena perlu dilakukan sentrifugasi, cara penyimpanannya serta pengiriman sampel darah tidaklah mudah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pada daerah yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan serologi untuk membandingkan pemeriksaan sampel serum darah dari vena kubiti dengan sampel darah dari finger prick dengan kertas saring pada penderita kusta di Medan
Abstract (other language): Main problem in leprosy serologic study is obtain blood sample in practise easily without special intervention and inexpensive. Collect blood sample by vena cubiti blood have many problem, especially when the sample has to transfer to laboratory, because need sentrifugation, saving and transfer. Study to compare between finger prick blood sample with paper filter and vena cubiti blood sample without paper filter is needed in area with limited facility in serology test</summary>
    <dc:date>2013-05-10T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fajar, Ahmad</dc:creator>
    <dc:description>Main problem in leprosy serologic study is obtain blood sample in practise easily without special intervention and inexpensive. Collect blood sample by vena cubiti blood have many problem, especially when the sample has to transfer to laboratory, because need sentrifugation, saving and transfer. Study to compare between finger prick blood sample with paper filter and vena cubiti blood sample without paper filter is needed in area with limited facility in serology test</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Histopatologi Tumor Phyllodes Dengan Pulasan Van Gieson Di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dan Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan Tahun 2010-2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37322" />
    <author>
      <name>Lubis, Lokot Donna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37322</id>
    <updated>2013-05-08T05:58:49Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lubis, Lokot Donna
Advisors: Lukito, Joko S; Chrestella, Jessy
Abstract: Tumor phyllodes adalah tumor berbatas tegas dengan komponen&#xD;
bifasik dengan karakteristik komponen epitel dibentuk oleh dua lapis sel yang&#xD;
tersusun dalam celah-celah yang dikelilingi oleh komponen mesenkim&#xD;
hiperselular dan tumbuh berlebihan yang akan membentuk struktur seperti daun.&#xD;
Diagnosis tumor phyllodes harus selalu menyertakan subklasifikasi sebagai tumor&#xD;
yang jinak, low grade malignant (borderline) atau high grade malignant.&#xD;
Perbedaan diantara ketiganya berdasarkan gambaran histologis dan merupakan&#xD;
faktor prediktif terhadap perjalanan klinis tumor ini. Sampai saat ini sering&#xD;
dijumpai kesulitan untuk mendiagnosis tumor phyllodes karena subklasifikasi&#xD;
jinak yang menyerupai fibroadenoma dan terdapat berbagai variasi gambaran&#xD;
histologis yang dijumpai pada komponen stroma dan epitel tumor phyllodes.
Abstract (other language): Phyllodes tumor is a group of circumscribed biphasic tumors,&#xD;
characterized by a double layered epithelial component arranged in clefts&#xD;
surrounded by an overgrowing hypercellular mesenchymal components typically&#xD;
organized in leaf-like structures. Phyllodes tumors must be used with the&#xD;
adjunctions subclassifications as benign, low malignant potential (borderline) or&#xD;
malignant. The differences between these subclassifications based on its&#xD;
histological characteristics and have been useful in predicting biologic behaviour&#xD;
of the tumor. There are difficulties distinguishing phyllodes tumor from&#xD;
fibroadenomas and problems related to various stromal and glandular epithelium&#xD;
variations.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lubis, Lokot Donna</dc:creator>
    <dc:description>Phyllodes tumor is a group of circumscribed biphasic tumors,&#xD;
characterized by a double layered epithelial component arranged in clefts&#xD;
surrounded by an overgrowing hypercellular mesenchymal components typically&#xD;
organized in leaf-like structures. Phyllodes tumors must be used with the&#xD;
adjunctions subclassifications as benign, low malignant potential (borderline) or&#xD;
malignant. The differences between these subclassifications based on its&#xD;
histological characteristics and have been useful in predicting biologic behaviour&#xD;
of the tumor. There are difficulties distinguishing phyllodes tumor from&#xD;
fibroadenomas and problems related to various stromal and glandular epithelium&#xD;
variations.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengukuran Kadar Antibodi Ig M Anti PGL-1 pada Penderita Kusta : Suatu Studi Banding antara Sampel Darah Kapiler Cuping Telinga dengan Kertas Saring dan Sampel Darah Vena Mediana Kubiti dengan dan Tanpa Kertas Saring</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37321" />
    <author>
      <name>Khairina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37321</id>
    <updated>2013-05-08T05:50:17Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Khairina
Advisors: Lubis, Syahril R; Nadeak, Kristina
Abstract: Untuk menetapkan diagnosis kusta yang lebih akurat, diperlukan pemeriksaan tambahan salah satunya adalah pemeriksaan serologi yaitu ELISA. Pengumpulan darah lewat pungsi vena mediana kubiti untuk pemeriksaan serologi memiliki beberapa masalah, sehingga dipertimbangkan pengambilan sampel darah pada daerah cuping telinga karena merupakan tempat yang umum dilakukan pemeriksaan bakteriologis.
Abstract (other language): To establish diagnosis of leprosy accurately, additional examination such as serologic examination with ELISA is required. Taking blood samples from median cubital vein puncture for serology had some problems, therefore blood sampling is considered to be performed on the ear lobe region which is common site for bacteriological examination.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Khairina</dc:creator>
    <dc:description>To establish diagnosis of leprosy accurately, additional examination such as serologic examination with ELISA is required. Taking blood samples from median cubital vein puncture for serology had some problems, therefore blood sampling is considered to be performed on the ear lobe region which is common site for bacteriological examination.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Antara Obat Anti Epilepsi Dengan Kognitif Dan Behavior Pada Pasien Epilepsi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37320" />
    <author>
      <name>Tambunan, Siska Imelda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37320</id>
    <updated>2013-05-08T05:36:12Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tambunan, Siska Imelda
Advisors: Sjahrir, Hasan
Abstract: Latar Belakang dan Tujuan: Epilepsi adalah penyakit kronis yang merupakan masalah medik dan sosial, dimana masalah medik bisa berdampak pada gangguan kognitif dan mental. Di lain pihak, obat anti epilepsi dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan behavior dengan menekan eksitabilitas neuron atau meningkatkan neurotransmiter inhibitor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara obat anti epilepsi dengan kognitif dan behavior pada pasien epilepsi.
Abstract (other language): Backgound and Purpose: Epilepsy is a chronic disease which is a medical and social problem, where medical problems can affect the cognitive and mental disorder. On the other hand, antiepileptic drugs can adversely affect cognitive function and behavior by suppressing neuronal excitability or enhancing inhibitory neurotransmission. The aim of this study is to determine the association between antiepileptic drugs with cognitive and behavior in epilepsy patient.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tambunan, Siska Imelda</dc:creator>
    <dc:description>Backgound and Purpose: Epilepsy is a chronic disease which is a medical and social problem, where medical problems can affect the cognitive and mental disorder. On the other hand, antiepileptic drugs can adversely affect cognitive function and behavior by suppressing neuronal excitability or enhancing inhibitory neurotransmission. The aim of this study is to determine the association between antiepileptic drugs with cognitive and behavior in epilepsy patient.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Tekanan Darah Pada Pasien Retinopati Hipertensi dengan Stadium Retinopati Hipertensi&#xD;
Di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37304" />
    <author>
      <name>Erfitrina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37304</id>
    <updated>2013-05-08T02:41:18Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Erfitrina
Advisors: Delfi; Sihotang, Aslim D; Lubis, Abdurrahim Rasyid
Abstract: Hipertensi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas paling sering di seluruh dunia. Kelainan pembuluh darah ini dapat berdampak langsung ataupun tidak langsung terhadap sistem organ tubuh, termasuk mata. Retinopati hipertensi adalah kondisi dengan karakteristik  perubahan vaskularisasi retina pada populasi yang menderita hipertensi.
Abstract (other language): Hypertensive retinopathy has long been regarded as a risk indicator for systemic morbidity and mortality. Based studies show that hypertensive retinopathy caused direct or indirect to organs system and eye is one of them. These data support the concept that an assessment of retina vascular changes may provide further information for vascular risk stratification in persons with hypertension.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Erfitrina</dc:creator>
    <dc:description>Hypertensive retinopathy has long been regarded as a risk indicator for systemic morbidity and mortality. Based studies show that hypertensive retinopathy caused direct or indirect to organs system and eye is one of them. These data support the concept that an assessment of retina vascular changes may provide further information for vascular risk stratification in persons with hypertension.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat-Klindamisin Dengan Kinin-Klindamisin Pada Pengobatan Malaria Fasiparum Tanpa Komplikasi Pada Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37303" />
    <author>
      <name>Panjaitan, Erika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37303</id>
    <updated>2013-05-08T02:19:18Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Panjaitan, Erika
Advisors: Pasaribu, Syahril
Abstract: Latar belakang. Saat ini kombinasi antimalaria termasuk artemisinin sering tidak sesuai secara farmakokinetika sehingga berpotensi untuk resistensi. Untuk itu penilaian terhadap kombinasi artemisinin dengan obat yang mempunyai waktu paruh yang pendek diperlukan dalam  pengobatan Malaria Falciparum tanpa komplikasi pada anak.
Abstract (other language): Currently, antimalaria drug combination that include artemisinin are pharmacokinetically unmatched, therefore it could potentially increase resistance. That’s why we need to assess the potential  value combination artemisinin based combination therapy with a short elimination half life drug for the treatment of uncomplicated falciparum malaria in children</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Panjaitan, Erika</dc:creator>
    <dc:description>Currently, antimalaria drug combination that include artemisinin are pharmacokinetically unmatched, therefore it could potentially increase resistance. That’s why we need to assess the potential  value combination artemisinin based combination therapy with a short elimination half life drug for the treatment of uncomplicated falciparum malaria in children</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Derajat Skor CURB-65 Saat Awal Masuk Pada Pasien Pneumonia Komunitas Terhadap Nilai Antithrombin III (AT-III)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37302" />
    <author>
      <name>Andriani, Sari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37302</id>
    <updated>2013-05-08T02:07:30Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Andriani, Sari
Advisors: Abidin, Alwinsyah; Keliat
Abstract: Latar Belakang&#xD;
Pada penderita pneumonia komunitas, melakukan penilaian derajat keparahan pada awal pasien masuk sangat penting sebab akan menentukan beratnya penyakit dan rencana tatalaksana selanjutnya. Antithrombin III sebagai biomarker koagulasi yang berguna untuk menilai tingkat keparahan PK pada saat awal masuk Antithrombin III dapat berperan dalam diagnosis, memutuskan pemberian antibiotik dan prognosis penderita PK.
Abstract (other language): Background&#xD;
The assessment of level severity in patient with community acquired pneumonia (CAP) is very important to determine the next management of disease. Antithrombin III is known as one of biomarker coagulation may be helpful in predicting the severity of CAP at the early admission in hospital.The application of Antithrombin III is known to be used in diagnosis, to help clinician to decide antibiotic treatment and to make prognosis.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Andriani, Sari</dc:creator>
    <dc:description>Background&#xD;
The assessment of level severity in patient with community acquired pneumonia (CAP) is very important to determine the next management of disease. Antithrombin III is known as one of biomarker coagulation may be helpful in predicting the severity of CAP at the early admission in hospital.The application of Antithrombin III is known to be used in diagnosis, to help clinician to decide antibiotic treatment and to make prognosis.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ganguan Pendengaran Akibat Pemakaian Kemoterapi Platinum pada Tumor Padat Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37232" />
    <author>
      <name>Edward, Eka Destianti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37232</id>
    <updated>2013-05-01T03:50:15Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Edward, Eka Destianti
Advisors: Rosdiana, Nelly; Farhat
Abstract: Background Platinum-based chemotherapy cisplatin and carboplatin is widely use in several types of solid tumor. The treatment has side effects including hearing loss.&#xD;
&#xD;
Objectives The aim of this study was to evaluate the prevalence and to identify risk factor of platinum-related hearing loss.&#xD;
&#xD;
Methods  A cross-sectional study was performed in Adam Malik Hospital Medan between April and July 2012. Twenty-two subjects, who fulfilled the eligibility criteria, underwent a through otoacoustic emission evaluation. Eleven children had received cisplatin and eleven treated with carboplatin. The median age was 5.7 years. The Median cumulative dose was 390/m² for cisplatin and 615/m² for carboplatin. The association between hearing loss and covariates were assessed using Fisher’s exact test and Pearson Chi-Square. 	&#xD;
&#xD;
Result  Seven of 22 subjects with hearing loss were identified, 5 patients (71%) had cisplatin and 2 patients (29%) had carboplatin. There was no stastically significant difference between carboplatin and cisplatin associated hearing loss (P = 0.361). No influence of sex (P = 0.452) and age (P = 0.212) related hearing loss. A trend for higher cumulative dose of cisplatin &gt;600/m² and carboplatin &gt;1800/m² to be associated with hearing loss (P = 0.022 and P = 0.004, respectively).&#xD;
&#xD;
Conclusion Patients who had higher cumulative dose platinum-based chemotherapy are at risk for developing hearing loss.
Abstract (other language): Latar belakang. Kemoterapi platinum cisplatin dan carboplatin digunakan secara luas dalam terapi berbagai tumor padat pada anak. Akan tetapi platinum mempunyai efek samping yang merugikan diantaranya gangguan pendengaran&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi gangguan pendengaran yang disebabkan kemoterapi platinum serta faktor risiko yang ikut berperan.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat potong lintang dilaksanakan di Rumah sakit Adam Malik pada bulan April 2012 sampai Juli 2012. Duapuluh dua subjek yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 11 orang mendapat kemoterapi cisplatin dan 11 orang mendapat carboplatin. Seluruh sampel dilakukan pemeriksan OAE (otoacoustic emission).&#xD;
Hasil. Dari 22 orang subjek, 7 orang diantaranya mengalami gangguan pendengaran 5 (71%) dengan kemoterapi cisplatin dan 2 (29%) dengan terapi carboplatin. Tidak dijumpai perbedaan  signifikan antara cisplatin dan carboplatin  yang berhubungan dengan gangguan pendengaran (P=0.361). Demikian juga dengan jenis kelamin (P=0.452) dan umur (P=0.212). Sebaliknya dijumpai hubungan antara gangguan pendengaran dengan dosis kumulatif. Cisplatin menimbulkan gangguan pendengaran pada dosis kumulatif diatas 600 mg/m2  (P=0.022) dan carboplatin diatas 1800 mg/m2 (P=0.004).&#xD;
Kesimpulan. Pemakaian kemoterapi platinum tumor padat dengan kumulatif dosis tinggi  merupakan faktor risiko untuk mendapatkan gangguan pendengaran.</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Edward, Eka Destianti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Kemoterapi platinum cisplatin dan carboplatin digunakan secara luas dalam terapi berbagai tumor padat pada anak. Akan tetapi platinum mempunyai efek samping yang merugikan diantaranya gangguan pendengaran&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi gangguan pendengaran yang disebabkan kemoterapi platinum serta faktor risiko yang ikut berperan.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat potong lintang dilaksanakan di Rumah sakit Adam Malik pada bulan April 2012 sampai Juli 2012. Duapuluh dua subjek yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 11 orang mendapat kemoterapi cisplatin dan 11 orang mendapat carboplatin. Seluruh sampel dilakukan pemeriksan OAE (otoacoustic emission).&#xD;
Hasil. Dari 22 orang subjek, 7 orang diantaranya mengalami gangguan pendengaran 5 (71%) dengan kemoterapi cisplatin dan 2 (29%) dengan terapi carboplatin. Tidak dijumpai perbedaan  signifikan antara cisplatin dan carboplatin  yang berhubungan dengan gangguan pendengaran (P=0.361). Demikian juga dengan jenis kelamin (P=0.452) dan umur (P=0.212). Sebaliknya dijumpai hubungan antara gangguan pendengaran dengan dosis kumulatif. Cisplatin menimbulkan gangguan pendengaran pada dosis kumulatif diatas 600 mg/m2  (P=0.022) dan carboplatin diatas 1800 mg/m2 (P=0.004).&#xD;
Kesimpulan. Pemakaian kemoterapi platinum tumor padat dengan kumulatif dosis tinggi  merupakan faktor risiko untuk mendapatkan gangguan pendengaran.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor yang Berhubungan dengan Gagal Konversi Pasien TB Paru Kategori I pada Akhir Pengobatan Fase Intensif di Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37231" />
    <author>
      <name>Nainggolan, Helena Rugun Nauli</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37231</id>
    <updated>2013-05-01T03:07:00Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nainggolan, Helena Rugun Nauli
Advisors: Amir, Zainuddin
Abstract: Mycobacterium tuberculosis infects one-third of the world's population and is a major public health problem in the world including in Indonesia. a background study was to determine the factors associated with failed conversion category I pulmonary tuberculosis patients at the end of the intensive phase of treatment in the city of Medan, where the method of research is observational analytic cross sectional approach, the cases were pulmonary tuberculosis patients who have received treatment at the end of the intensive phase of community health centers in Medan city, H.Adam Malik Hospital and clinic of Jemadi in December-February, 2013, the pointed as 114. The results, 36 people (31.6%) occurred the conversion failed. Eight factors associated conversion failed by Chi-Square test is less income level (p-value 0.001), lower education (p-value 0.011), malnutrition status (p-value 0.022), smoking (p-value 0.05), co-morbidities (p-value 0.007), treatment compliance (p-value 0.000), the role of PMO (p-value 0.000) and health workers (p-value 0.000), whereas two other factors: age (p-value 0.932 &gt; 0.05) and sex (p-value 0.965) was not associated with the incidence of failed conversion. Multivariate logistic regression analysis: the dominant factor influencing the conversion was unsuccessful PMO and treatment compliance.&#xD;
Conclusion: Risk factors affecting conversion failure is less income level, lower education, malnutrition status, smoking, co-morbidities, treatment compliance, the role of PMO and health workers, and dominant affecting conversion failure is the PMO with PR 65.478 (95% CI: 11.306 to 379.219) and treatment compliance with PR 13.51 (95% CI: 2.439 to 74.836), so advised to avoid conversion failure, pulmonary TB patients seeking treatment need for health education on the importance of regularity of medication during treatment, the role of the PMO needs to be improved and given training.
Abstract (other language): Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia dan merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di tingkat dunia maupun di Indonesia, menjadi latarbelakang penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan gagal konversi pasien TB paru kategori I pada akhir pengobatan fase intensif di kota Medan, dimana metode penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan Cross sectional, kasus diambil dari penderita tuberkulosis paru yang sudah mendapat pengobatan akhir fase intensif di puskesmas kota Medan, RSHAM dan Klinik Jemadi pada Desember-Februari 2013, jumlah sampel sebanyak 114. Hasil penelitian, dari 114 responden, 36 orang (31,6%) terjadi gagal konversi. Delapan faktor berhubungan gagal konversi berdasarkan uji Chi-Square yaitu tingkat pendapatan kurang (p-value 0,001), pendidikan rendah (p-value 0,011), status gizi kurang (p-value 0,022), kebiasaan merokok (p-value 0,05), penyakit penyerta (p-value 0,007), kepatuhan berobat (p-value 0,000), peran PMO (p-value 0,000) dan petugas kesehatan (p-value 0,000), sedangkan dua faktor lain yang diteliti yaitu umur (p-value 0,932 &gt; 0.05) dan jenis kelamin (p-value 0,965) tidak berhubungan dengan kejadian gagal konversi. Analisa multivariat regresi logistic:faktor yang dominan mempengaruhi gagal konversi adalah PMO dan kepatuhan berobat.&#xD;
Kesimpulan: Faktor risiko yang mempengaruhi kegagalan konversi penderita TB paru kategori I pada fase akhir intensif adalah tingkat pendapatan, pendidikan, status gizi, rokok, penyakit penyerta, kepatuhan berobat, PMO, petugas kesehatan dan fakor risiko yang paling dominan mempengaruhi gagal konversi adalah PMO dengan PR 65,478 (95% C.I.: 11,306-379,219) dan kepatuhan berobat dengan PR 13,51 (95% C.I.: 2,439-74,836), jadi disarankan agar tidak terjadi kegagalan konversi, penderita TB paru yang berobat perlu adanya pendidikan kesehatan tentang pentingnya keteraturan minum obat selama pengobatan, peran PMO perlu ditingkatkan dan diberikan pelatihan.</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nainggolan, Helena Rugun Nauli</dc:creator>
    <dc:description>Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia dan merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di tingkat dunia maupun di Indonesia, menjadi latarbelakang penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan gagal konversi pasien TB paru kategori I pada akhir pengobatan fase intensif di kota Medan, dimana metode penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan Cross sectional, kasus diambil dari penderita tuberkulosis paru yang sudah mendapat pengobatan akhir fase intensif di puskesmas kota Medan, RSHAM dan Klinik Jemadi pada Desember-Februari 2013, jumlah sampel sebanyak 114. Hasil penelitian, dari 114 responden, 36 orang (31,6%) terjadi gagal konversi. Delapan faktor berhubungan gagal konversi berdasarkan uji Chi-Square yaitu tingkat pendapatan kurang (p-value 0,001), pendidikan rendah (p-value 0,011), status gizi kurang (p-value 0,022), kebiasaan merokok (p-value 0,05), penyakit penyerta (p-value 0,007), kepatuhan berobat (p-value 0,000), peran PMO (p-value 0,000) dan petugas kesehatan (p-value 0,000), sedangkan dua faktor lain yang diteliti yaitu umur (p-value 0,932 &gt; 0.05) dan jenis kelamin (p-value 0,965) tidak berhubungan dengan kejadian gagal konversi. Analisa multivariat regresi logistic:faktor yang dominan mempengaruhi gagal konversi adalah PMO dan kepatuhan berobat.&#xD;
Kesimpulan: Faktor risiko yang mempengaruhi kegagalan konversi penderita TB paru kategori I pada fase akhir intensif adalah tingkat pendapatan, pendidikan, status gizi, rokok, penyakit penyerta, kepatuhan berobat, PMO, petugas kesehatan dan fakor risiko yang paling dominan mempengaruhi gagal konversi adalah PMO dengan PR 65,478 (95% C.I.: 11,306-379,219) dan kepatuhan berobat dengan PR 13,51 (95% C.I.: 2,439-74,836), jadi disarankan agar tidak terjadi kegagalan konversi, penderita TB paru yang berobat perlu adanya pendidikan kesehatan tentang pentingnya keteraturan minum obat selama pengobatan, peran PMO perlu ditingkatkan dan diberikan pelatihan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Proporsi Hiperurisemia pada Populasi Hipertensi&#xD;
Essensial Suku Aceh di Kabupaten Aceh Utara</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37230" />
    <author>
      <name>Abida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37230</id>
    <updated>2013-05-01T02:53:39Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Abida
Advisors: Lubis, Harun Rasyid; Bustami, Zulhelmi; Lubis, Abdurrahim Rasyid
Abstract: Background&#xD;
Hyperuricemia (HU) can be the consequence of increased uric acid production and/or decreased renal capacity to excrete uric acid. Prevalence of essential hypertension (EH) in Aceh Utara district ± 30.6% with both geographical and demographical factors of the original Acehnese uniqueness and they have been known to be consumptive of both high salt and high purine diet.&#xD;
Objective&#xD;
The aim of this research was to assess the role of serum uric acid (SUA) level and HU in EH population of Acehnese at Aceh Utara district and to evaluate correlations between SUA level and systolic/diastolic blood pressure (SBP/DBP), severity and duration of EH, creatinine and estimated glomerular filtration rate (eGFR).&#xD;
Methods&#xD;
This research was an analytical observational study using cross-sectional approach. It had been done at the internal medicine outpatient clinic Cut Meutia Hospital Lhok Seumawe and public health centre at Aceh Utara district from December 2010-January 2011 after being approved by the Ethics Committee of Health Research Medical Faculty University of Sumatera Utara. The Subjects were enrolled using consecutive sampling method with inclusion and exclusion criteria. The Subjects filled-out a short informed consent sheet and their weight, height, and blood pressurewere measured.Blood sample were taken to assess SUA level, lipid profile, urea, creatinine, and eGFR. There were 137 samples and were divided into 2 groups consisting of 69 patients in the EH group and 68 healthy subjects in the normotensive (NT) group. The data analysis was carried out with the 15.0 version of the SPSS program. A p value &lt; 0.05 was considered to be statistically significant.&#xD;
Results&#xD;
The mean of SUA level in both men and women were higher significantly in the EH group(7.71 ± 0.74 mg/dl and 6.85 ± 0.67 mg/dl, respectively) than the NT group(5.79 ± 0.94 mg/dl and 4.6 ± 1.04 mg/dl respectively, p=0.0001). The HU proportion in the EH group were also higher significantly than the NT group (87.2% and 12.8% respectively, p=0.0001). The EH patient had 5.4 times higher risk to experience HU than the NT subject (OR=5.4, 95% CI=2.52-11.54, p= 0.0001). The mean of SUA levelwere higher significantlyas level of SBPincreased in men (p=0.016). The mean of SUA level were higher significantlyas level of DBP increased in both men and women (p= 0.0001 and p=0.007, respectively).The HU proportion were also higher significantly as level of DBP increased (p=0.001). There were significant positive correlations between SBP and SUA (r = 0.587 ; p = 0.0001), DBP and SUA (r = 0.650; p = 0.0001), creatinine and SUA (r = 0.749 ; p = 0.0001),and significant negative correlation between SUA and eGFR (r= -0.407; p=0.001).&#xD;
Conclusion&#xD;
The mean of SUA level and HU proportion were significantly higher in EH group. We found significant correlation between EH and HU. The SUA levelhad significant positive correlations with severity of EH and creatinine, and significant negative correlation with eGFR. TheSUA level seemed to be a major risk factor for cardiovascular and renal damage in EH
Abstract (other language): Latar Belakang&#xD;
Hiperurisemia (HU) terjadi akibat peningkatan produksi asam urat (AU) dan/atau menurunnya kapasitas ginjal dalam mengekskresikan AU. Prevalensi hipertensi essensial di Aceh Utara ± 30.6% dengan karakteristik faktor geografis dan demografis suku Aceh asli yang khas diketahui sering mengkonsumsi diet tinggi garam dan purin.&#xD;
Tujuan Penelitian&#xD;
Untuk menilai peranankadar asam urat serum (AUS) dan HU pada populasi HE suku Aceh di kabupaten Aceh Utara dan menilai hubungan antara kadar AUS dengan tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), beratnya hipertensi, lama menderita hipertensi, kadar kreatinin dan laju filtrasi ginjal (LFG).&#xD;
Metode Penelitian&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilaksanakan di Poliklinik penyakit dalam RSUD Cut Meutia dan puskesmas jejaring di kabupaten Aceh Utara propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada bulan Desember 2010 –Januari 2011 setelah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan FK USU. Sampel diperoleh menggunakan sistem consecutive sampling dengan beberapa kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian mengisi lembar informed consent kemudian diukur berat dan tinggi badan serta tekanan darah. Peneliti memeriksa sampel darah dan urine untuk mengetahui kadar AUS, profil lemak, ureum, kreatin, LFG. Penelitian ini telah mengikutsertakan 137 sampel yang telah dianalisis yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 69 sampel kelompok hipertensi essensial (HE) dan 68 sampel kelompok normotensi (NT). Data dianalisis melalui program SPSS 15.0 for Windows, nilai p signifikan bila &lt; 0.05.&#xD;
Hasil Penelitian&#xD;
Rerata kadar AUS pria dan wanita pada kelompok HE(masing masing adalah7.71 ± 0.74 mg/dl dan 6.85 ± 0.67 mg/dl)signifikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok NT (masing masing adalah5.79 ± 0.94 mg/dl dan 4.6 ± 1.04 mg/dl, p= 0.0001). Proporsi HU signifikan lebih tinggipada kelompok HE dibanding dengan kelompok NT (masing masing adalah 87.2% dan 12.8%, p=0.0001). Pasien dengan HE memiliki risiko 5.4 kali lebih besar untuk mengalami HU dibanding subjek NT (OR=5.4, CI 95% = 2.52-11.54, p= 0.0001). Rerata kadar AUS pria signifikan lebih tinggi sesuai dengan derajat hipertensi TDS (p=0.016). Rerata kadar AUS pria dan wanita lebih tinggi signifikan sesuai dengan derajat hipertensi TDD (p=0.0001 dan p=0.007). Proporsi HU signifikan lebih tinggi sesuai dengan derajat hipertensi TDD (p=0.001). Terdapat korelasi positif yang signifikan antara TDS dengan kadar AUS (r = 0.587 ; p=0.0001), antara TDD dengan kadar AUS (r= 0.650 ; p = 0.0001, antara kadar kreatinin dengan kadar AUS (r = 0.749 ; p = 0.0001) dan korelasi negatif yang signifikan secara statistik antara LFG dengan kadar AUS (r = - 0.323 ; p = 0.007).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Rerata kadar AUS dan proporsi HU signifikan lebih tinggi secara statistik pada kelompok HE. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara HE dengan kadar AUS. Kadar AUS berkorelasi positif signifikan dengan TDS, TDDdan kadar kreatinin, dan berkorelasi negatif dengan LFG. Kadar AUS tampaknyadapatberperansebagaifaktorrisiko mayor terhadap penyakit kardiovaskuler dan kerusakan ginjal pada HE</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Abida</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang&#xD;
Hiperurisemia (HU) terjadi akibat peningkatan produksi asam urat (AU) dan/atau menurunnya kapasitas ginjal dalam mengekskresikan AU. Prevalensi hipertensi essensial di Aceh Utara ± 30.6% dengan karakteristik faktor geografis dan demografis suku Aceh asli yang khas diketahui sering mengkonsumsi diet tinggi garam dan purin.&#xD;
Tujuan Penelitian&#xD;
Untuk menilai peranankadar asam urat serum (AUS) dan HU pada populasi HE suku Aceh di kabupaten Aceh Utara dan menilai hubungan antara kadar AUS dengan tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), beratnya hipertensi, lama menderita hipertensi, kadar kreatinin dan laju filtrasi ginjal (LFG).&#xD;
Metode Penelitian&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilaksanakan di Poliklinik penyakit dalam RSUD Cut Meutia dan puskesmas jejaring di kabupaten Aceh Utara propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada bulan Desember 2010 –Januari 2011 setelah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan FK USU. Sampel diperoleh menggunakan sistem consecutive sampling dengan beberapa kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian mengisi lembar informed consent kemudian diukur berat dan tinggi badan serta tekanan darah. Peneliti memeriksa sampel darah dan urine untuk mengetahui kadar AUS, profil lemak, ureum, kreatin, LFG. Penelitian ini telah mengikutsertakan 137 sampel yang telah dianalisis yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 69 sampel kelompok hipertensi essensial (HE) dan 68 sampel kelompok normotensi (NT). Data dianalisis melalui program SPSS 15.0 for Windows, nilai p signifikan bila &lt; 0.05.&#xD;
Hasil Penelitian&#xD;
Rerata kadar AUS pria dan wanita pada kelompok HE(masing masing adalah7.71 ± 0.74 mg/dl dan 6.85 ± 0.67 mg/dl)signifikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok NT (masing masing adalah5.79 ± 0.94 mg/dl dan 4.6 ± 1.04 mg/dl, p= 0.0001). Proporsi HU signifikan lebih tinggipada kelompok HE dibanding dengan kelompok NT (masing masing adalah 87.2% dan 12.8%, p=0.0001). Pasien dengan HE memiliki risiko 5.4 kali lebih besar untuk mengalami HU dibanding subjek NT (OR=5.4, CI 95% = 2.52-11.54, p= 0.0001). Rerata kadar AUS pria signifikan lebih tinggi sesuai dengan derajat hipertensi TDS (p=0.016). Rerata kadar AUS pria dan wanita lebih tinggi signifikan sesuai dengan derajat hipertensi TDD (p=0.0001 dan p=0.007). Proporsi HU signifikan lebih tinggi sesuai dengan derajat hipertensi TDD (p=0.001). Terdapat korelasi positif yang signifikan antara TDS dengan kadar AUS (r = 0.587 ; p=0.0001), antara TDD dengan kadar AUS (r= 0.650 ; p = 0.0001, antara kadar kreatinin dengan kadar AUS (r = 0.749 ; p = 0.0001) dan korelasi negatif yang signifikan secara statistik antara LFG dengan kadar AUS (r = - 0.323 ; p = 0.007).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Rerata kadar AUS dan proporsi HU signifikan lebih tinggi secara statistik pada kelompok HE. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara HE dengan kadar AUS. Kadar AUS berkorelasi positif signifikan dengan TDS, TDDdan kadar kreatinin, dan berkorelasi negatif dengan LFG. Kadar AUS tampaknyadapatberperansebagaifaktorrisiko mayor terhadap penyakit kardiovaskuler dan kerusakan ginjal pada HE</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara Kadar Prolaktin Serum Penderita Psoriasis Vulgaris dengan Skor Psoriasis Area and Severity Index</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37093" />
    <author>
      <name>Natali, Oliviti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37093</id>
    <updated>2013-04-23T05:11:14Z</updated>
    <published>2013-04-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Natali, Oliviti
Advisors: Tanjung, Chairiyah; Nababan, Kristo A
Abstract: Background&#xD;
Psoriasis is a common chronic and  inflammatory skin disease characterized by hyperproliferation of keratinocytes. Its etiology is not completely known. However it seems that genetic, immune defect, environmental and hormonal play a role in  this disease. It has been hypothesized that prolactin may modulate the skin immune system and may be involved in the pathogenesis of psoriasis.&#xD;
Aim&#xD;
To evaluate the correlation between serum prolactin levels and Psoriasis Area and Severity Index (PASI) score.&#xD;
Methods&#xD;
This study included 30 patients with psoriasis vulgaris, attending the outpatient clinic of Dermatology and Venereology Department in RSUP H. Adam Malik. Full history taking and clinical examination was done. Clinical severity of psoriasis were assessed by using the PASI score. Serum prolactin levels were measured with chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA) methods.&#xD;
Results&#xD;
A significant positive correlation was found between prolactin serum levels and PASI score  (r = 0,73; P &lt; 0,05).&#xD;
Conclusions&#xD;
These results indicate that prolactin seems to have a role in the pathogenesis of psoriasis and it may serve as a biological marker of psoriatic disease activity.
Abstract (other language): Latar belakang&#xD;
Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengetahui hubungan antara kadar prolaktin serum pada penderita psoriasis vulgaris dengan skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI).&#xD;
Metode&#xD;
Tiga puluh orang penderita psoriasis vulgaris yang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan turut serta dalam penelitian ini. Dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Derajat keparahan psoriasis diukur dengan menggunakan skor PASI. Pemeriksaan prolaktin serum dilakukan dengan menggunakan metode chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA).&#xD;
Hasil &#xD;
Terdapat korelasi positif yang signifikan (kuat) diantara kadar prolaktin serum dengan skor PASI (r = 0,73; P &lt; 0,05).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tampaknya prolaktin memiliki peranan dalam etiopatogenesis psoriasis serta dapat dijadikan penanda biologik untuk memantau aktivitas penyakit.</summary>
    <dc:date>2013-04-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Natali, Oliviti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang&#xD;
Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengetahui hubungan antara kadar prolaktin serum pada penderita psoriasis vulgaris dengan skor Psoriasis Area and Severity Index (PASI).&#xD;
Metode&#xD;
Tiga puluh orang penderita psoriasis vulgaris yang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan turut serta dalam penelitian ini. Dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Derajat keparahan psoriasis diukur dengan menggunakan skor PASI. Pemeriksaan prolaktin serum dilakukan dengan menggunakan metode chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA).&#xD;
Hasil &#xD;
Terdapat korelasi positif yang signifikan (kuat) diantara kadar prolaktin serum dengan skor PASI (r = 0,73; P &lt; 0,05).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tampaknya prolaktin memiliki peranan dalam etiopatogenesis psoriasis serta dapat dijadikan penanda biologik untuk memantau aktivitas penyakit.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Usia Penderita Dengan Gambaran Histopatologi Kanker Ovarium Di Kota Medan Tahun 2010-2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37092" />
    <author>
      <name>Waruwu, Dahliani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37092</id>
    <updated>2013-04-23T05:02:56Z</updated>
    <published>2013-04-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Waruwu, Dahliani
Advisors: Alferraly, T.Ibnu; Intan, T. Kemala
Abstract (other language): Latar belakang: Tumor ovarium merupakan salah satu neoplasma yang dijumpai pada&#xD;
sistem genitalia wanita. Peningkatan insidensi kanker ovarium erat hubungannya dengan&#xD;
semakin meningkatnya usia, jumlah paritas dan penggunaan oral kontrasepsi pada negara&#xD;
berkembang. Menurut data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar&#xD;
4% dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian&#xD;
akibat kanker. Menurut data terbaru insidensi kanker ovarium dari Surveillance Epidemiology&#xD;
and End Result 10 tahun terakhir kanker ovarium berada pada urutan ke lima penyebab&#xD;
kematian pada kanker ginekologi wanita. Di Indonesia, kanker ovarium menduduki urutan ke&#xD;
enam dan penelitian di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (1989-1995) didapatkan&#xD;
kanker ovarium jenis epitel 55,98% dan kanker ovarium non epitel 44,02%. Menurut Iqbal&#xD;
(2002-2006) dalam penelitian di Medan menemukan 105 kasus kanker ovarium yaitu 84&#xD;
kasus (80%) jenis epitel dan 21 kasus(20%) kanker ovarium non epitel. Menurut Rezkini&#xD;
penelitian yang dilakukan di departemen Patologi Anatomi FKUI/RSUPN-CM pada tahun&#xD;
1997-2006 didapatkan tumor ovarium sebanyak 2266 kasus, dimana jenis epitel sebanyak&#xD;
1592 kasus(70,26%), di ikuti jenis Germ cell sebanyak 578 kasus(25,5%), sex cord sebanyak&#xD;
96 kasus(4,24%) dan usia termuda 0-9 tahun dan tertua 80-89 tahun.&#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui jumlah penderita kanker ovarium, usia termuda, tertua, rata-rata&#xD;
usia penderita dari masing-masing jenis histopatologi kanker ovarium dan bagaimana&#xD;
hubungan usia penderita kanker ovarium dengan ke empat jenis histopatologi kanker&#xD;
ovarium.&#xD;
Metode: Rancangan penelitian bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif dan&#xD;
pengambilan sample dengan metode consecutive sampling. Seluruh sample penelitian&#xD;
sebanyak 172 sample( yang memenuhi kriteria inklusi) periode Januari 2010-Desember 2011&#xD;
di kota Medan, kemudian dilakukan slide review oleh peneliti dan dua ahli Patologi Anatomi&#xD;
dalam waktu yang berbeda, kemudian di kelompokan berdasarkan kelompok usia dan jenis&#xD;
histopatologi kanker ovarium.&#xD;
Kesimpulan: Hasil penelitian usia rata-rata penderita kanker ovarium di kota medan tahun&#xD;
2010-2011 adalah 41tahun, usia termuda 8tahun dan tertua 76tahun. Jenis paling banyak&#xD;
adalah jenis surface epithelial stroma tumor, terbanyak kedua adalah jenis germ cell stroma&#xD;
tumor, terbanyak ketiga jenis sex-cord stroma tumor dan metastasis tumor. Dengan uji&#xD;
statistik Anova diperoleh nilai p=0.0001, semakin tua usia seorang wanita maka semakin&#xD;
besar kemungkinan menderita kanker ovarium.</summary>
    <dc:date>2013-04-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Waruwu, Dahliani</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Tumor ovarium merupakan salah satu neoplasma yang dijumpai pada&#xD;
sistem genitalia wanita. Peningkatan insidensi kanker ovarium erat hubungannya dengan&#xD;
semakin meningkatnya usia, jumlah paritas dan penggunaan oral kontrasepsi pada negara&#xD;
berkembang. Menurut data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar&#xD;
4% dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian&#xD;
akibat kanker. Menurut data terbaru insidensi kanker ovarium dari Surveillance Epidemiology&#xD;
and End Result 10 tahun terakhir kanker ovarium berada pada urutan ke lima penyebab&#xD;
kematian pada kanker ginekologi wanita. Di Indonesia, kanker ovarium menduduki urutan ke&#xD;
enam dan penelitian di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (1989-1995) didapatkan&#xD;
kanker ovarium jenis epitel 55,98% dan kanker ovarium non epitel 44,02%. Menurut Iqbal&#xD;
(2002-2006) dalam penelitian di Medan menemukan 105 kasus kanker ovarium yaitu 84&#xD;
kasus (80%) jenis epitel dan 21 kasus(20%) kanker ovarium non epitel. Menurut Rezkini&#xD;
penelitian yang dilakukan di departemen Patologi Anatomi FKUI/RSUPN-CM pada tahun&#xD;
1997-2006 didapatkan tumor ovarium sebanyak 2266 kasus, dimana jenis epitel sebanyak&#xD;
1592 kasus(70,26%), di ikuti jenis Germ cell sebanyak 578 kasus(25,5%), sex cord sebanyak&#xD;
96 kasus(4,24%) dan usia termuda 0-9 tahun dan tertua 80-89 tahun.&#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui jumlah penderita kanker ovarium, usia termuda, tertua, rata-rata&#xD;
usia penderita dari masing-masing jenis histopatologi kanker ovarium dan bagaimana&#xD;
hubungan usia penderita kanker ovarium dengan ke empat jenis histopatologi kanker&#xD;
ovarium.&#xD;
Metode: Rancangan penelitian bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif dan&#xD;
pengambilan sample dengan metode consecutive sampling. Seluruh sample penelitian&#xD;
sebanyak 172 sample( yang memenuhi kriteria inklusi) periode Januari 2010-Desember 2011&#xD;
di kota Medan, kemudian dilakukan slide review oleh peneliti dan dua ahli Patologi Anatomi&#xD;
dalam waktu yang berbeda, kemudian di kelompokan berdasarkan kelompok usia dan jenis&#xD;
histopatologi kanker ovarium.&#xD;
Kesimpulan: Hasil penelitian usia rata-rata penderita kanker ovarium di kota medan tahun&#xD;
2010-2011 adalah 41tahun, usia termuda 8tahun dan tertua 76tahun. Jenis paling banyak&#xD;
adalah jenis surface epithelial stroma tumor, terbanyak kedua adalah jenis germ cell stroma&#xD;
tumor, terbanyak ketiga jenis sex-cord stroma tumor dan metastasis tumor. Dengan uji&#xD;
statistik Anova diperoleh nilai p=0.0001, semakin tua usia seorang wanita maka semakin&#xD;
besar kemungkinan menderita kanker ovarium.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ekspresi mRNA mammaglobin pada darah penderita kanker payudara dengan metastase di Kotamadya Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37087" />
    <author>
      <name>Rimbun, Surjadi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37087</id>
    <updated>2013-04-23T04:03:01Z</updated>
    <published>2013-04-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rimbun, Surjadi
Advisors: Siregar, Yahwardiah; Pasaribu, Emir T.
Abstract: Breast cancer is a major problem among females all over the world. Despite apparent curative resection, subsequent development of metastatic spread presents a major clinical problem in about 30% of all breast cancer patients.&#xD;
The aim of this study was to investigate the clinical reliability of mammaglobin m-RNA (MAG m-RNA) as a marker of circulating cancer cells in breast cancer patients and to study the relevance of its expression in blood. To define better the potential and limits of the marker for diagnostic purposes, blood positivity was analyzed in relation to clinical and pathological characteristics.&#xD;
This study was conducted on 29 breast cancer patients divided into two groups, 13 breast cancer patients with metastase and 16 patients with non metastase. Most of the breast cancer patients were of the invasive ductal carcinoma type and 28 of them had associated areas of intraductal carcinoma with 1 was invasive lobular carcinoma type. Breast cancer patients were reclassified according to the histologic grade into grade I (5 patients),grade II (4 patients) and grade III (13 patients). All individuals included in this study were subjected to detection of MAG m-RNA in circulating tumor cells in peripheral blood using RT-PCR technique.&#xD;
Positivity for mammaglobin in blood samples was observed in 38% of patients with metastatic but not in the non metatstatic patients. The presence of mammaglobin was correlated with metastatic tumor (P = 0.011).&#xD;
MAG overexpression in breast tissue was significantly positive in low grade tumors (I and II) than in high grade ones (III).&#xD;
MAG is a promising specific tumor marker of breast cancer that could predict the prognosis of breast cancer and Our results indicate that the marker could represent a potentially useful noninvasive tool to detect metatstatic breast cancer.
Abstract (other language): Kanker payudara adalah salah satu masalah utama pada wanita di seluruh dunia. Meskipun reseksi kuratif jelas, penyebaran metatasis selanjutnya menjadi masalah klinis utama pada sekitar 30% dari semua pasien kanker payudara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keandalan klinis m-RNA mammaglobin sebagai penanda sirkulasi sel kanker pada pasien kanker payudara dan untuk mempelajari relevansi ekspresinya dalam darah. Untuk menentukan baik potensi dan batas-batas penanda untuk tujuan diagnostik, darah yang positif dianalisa dalam kaitannya dengan karakteristik klinis dan patologis.&#xD;
Penelitian ini dilakukan terhadap 29 pasien kanker payudara yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 13 pasien kanker payudara dengan metastase dan 16 pasien kanker payudara tanpa metastase. 28 pasien kanker payudara adalah jenis karsinoma duktal invasif dengan 1 pasien berjenis karsinoma lobular invasif adalah. Pasien kanker payudara telah direklasifikasi sesuai dengan kelas histologis ke kelas I (5 pasien), kelas II (4 pasien) dan kelas III (13 pasien). Semua individu dalam studi ini menjadi sasaran deteksi MAG m-RNA dalam sirkulasi sel tumor dalam darah perifer menggunakan tehnik RT-PCR.&#xD;
Hasil positif untuk mammaglobin dalam sampel darah terlihat pada 38%(5/13) pasien dengan metastasis tetapi tidak pada pasien non metatstatik. Ekspresi m-RNA mammaglobin berkorelasi dengan tumor metastatik (P = 0,011).MAG berlebih pada jaringan payudara secara signifikan positif pada tumor grade rendah (I dan II) dibandingkan yang grade tinggi (III).&#xD;
Mammaglobin adalah penanda tumor spesifik kanker payudara yang dapat memprediksi prognosis kanker payudara dan hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penanda bisa sebagai pemeriksaan yang kurang-invasif dalam mendeteksi kanker payudara metastase.</summary>
    <dc:date>2013-04-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rimbun, Surjadi</dc:creator>
    <dc:description>Kanker payudara adalah salah satu masalah utama pada wanita di seluruh dunia. Meskipun reseksi kuratif jelas, penyebaran metatasis selanjutnya menjadi masalah klinis utama pada sekitar 30% dari semua pasien kanker payudara.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai keandalan klinis m-RNA mammaglobin sebagai penanda sirkulasi sel kanker pada pasien kanker payudara dan untuk mempelajari relevansi ekspresinya dalam darah. Untuk menentukan baik potensi dan batas-batas penanda untuk tujuan diagnostik, darah yang positif dianalisa dalam kaitannya dengan karakteristik klinis dan patologis.&#xD;
Penelitian ini dilakukan terhadap 29 pasien kanker payudara yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 13 pasien kanker payudara dengan metastase dan 16 pasien kanker payudara tanpa metastase. 28 pasien kanker payudara adalah jenis karsinoma duktal invasif dengan 1 pasien berjenis karsinoma lobular invasif adalah. Pasien kanker payudara telah direklasifikasi sesuai dengan kelas histologis ke kelas I (5 pasien), kelas II (4 pasien) dan kelas III (13 pasien). Semua individu dalam studi ini menjadi sasaran deteksi MAG m-RNA dalam sirkulasi sel tumor dalam darah perifer menggunakan tehnik RT-PCR.&#xD;
Hasil positif untuk mammaglobin dalam sampel darah terlihat pada 38%(5/13) pasien dengan metastasis tetapi tidak pada pasien non metatstatik. Ekspresi m-RNA mammaglobin berkorelasi dengan tumor metastatik (P = 0,011).MAG berlebih pada jaringan payudara secara signifikan positif pada tumor grade rendah (I dan II) dibandingkan yang grade tinggi (III).&#xD;
Mammaglobin adalah penanda tumor spesifik kanker payudara yang dapat memprediksi prognosis kanker payudara dan hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penanda bisa sebagai pemeriksaan yang kurang-invasif dalam mendeteksi kanker payudara metastase.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Profil Kadar Prolaktin Serum pada Berbagai Deraajat Keparahan Psoriasis Vulgaris di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37071" />
    <author>
      <name>Natali, Oliviti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37071</id>
    <updated>2013-04-18T07:25:42Z</updated>
    <published>2013-04-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Natali, Oliviti
Advisors: Tanjung, Chairiyah; Nababan, Kristo A
Abstract (other language): Latar belakang&#xD;
Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengetahui profil kadar prolaktin serum penderita psoriasis vulgaris pada berbagai derajat keparahan.&#xD;
Metode&#xD;
Tiga puluh orang penderita psoriasis vulgaris yang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan turut serta dalam penelitian ini. Dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Derajat keparahan psoriasis diukur dengan menggunakan skor PASI. Pemeriksaan prolaktin serum dilakukan dengan menggunakan metode chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA).&#xD;
Hasil &#xD;
Dari penelitian ini didapatkan nilai rerata prolaktin serum tertinggi terdapat pada kelompok psoriasis derajat berat yaitu 18,61 ng/mL, kemudian diikuti dengan nilai rerata prolaktin serum pada kelompok psoriasis derajat sedang yaitu 14,60 ng/mL dan nilai rerata terendah terdapat pada kelompok psoriasis derajat ringan yaitu 7,57 ng/mL.&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tampaknya prolaktin memiliki peranan dalam etiopatogenesis psoriasis.</summary>
    <dc:date>2013-04-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Natali, Oliviti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang&#xD;
Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi kulit kronik yang ditandai dengan terjadinya hiperproliferasi keratinosit. Etiologi psoriasis belum dimengerti sepenuhnya, namun tampaknya faktor genetik, defek imun, lingkungan, dan hormonal berperan pada terjadinya penyakit ini. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa prolaktin dapat memodulasi sistem imun kulit dan mungkin terlibat dalam patogenesis psoriasis.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengetahui profil kadar prolaktin serum penderita psoriasis vulgaris pada berbagai derajat keparahan.&#xD;
Metode&#xD;
Tiga puluh orang penderita psoriasis vulgaris yang berobat ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan turut serta dalam penelitian ini. Dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Derajat keparahan psoriasis diukur dengan menggunakan skor PASI. Pemeriksaan prolaktin serum dilakukan dengan menggunakan metode chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA).&#xD;
Hasil &#xD;
Dari penelitian ini didapatkan nilai rerata prolaktin serum tertinggi terdapat pada kelompok psoriasis derajat berat yaitu 18,61 ng/mL, kemudian diikuti dengan nilai rerata prolaktin serum pada kelompok psoriasis derajat sedang yaitu 14,60 ng/mL dan nilai rerata terendah terdapat pada kelompok psoriasis derajat ringan yaitu 7,57 ng/mL.&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tampaknya prolaktin memiliki peranan dalam etiopatogenesis psoriasis.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ekspresi Imunohistokimia Ki-67 pada Tumor Payudara tikus Wistar yang Diinokulasi Kanker&#xD;
Terinduksi Benzo(α)pyrene dengan Pemberian Ekstrak Benalu Teh</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35702" />
    <author>
      <name>Anggraini, Dwi Rita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35702</id>
    <updated>2013-04-17T04:10:33Z</updated>
    <published>2013-04-17T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Anggraini, Dwi Rita
Advisors: Delyuzar; Ilyas, Syafruddin
Abstract: Background. Breast cancer is the second largest cause of deaths after lung cancer in&#xD;
women. The WHO data shows 1.2 million people have been diagnosed with breast&#xD;
cancer. The data from the National Cancer Registration Board Association of&#xD;
Physician Specialists Pathology Indonesia, breast cancer was second ranks to cervical&#xD;
cancer. Breast cancer therapies include surgery, radiation, hormonal and&#xD;
chemotherapy, has not been satisfactory success depends on the stage of the disease.&#xD;
Therapy is often not affordable by the community, then looking for a traditional&#xD;
medicine for the treatment of cancer. There are several advantages of the use of&#xD;
traditional medicine, the price is cheaper because it can be cultivated, easily available&#xD;
and are expected to more minimal side effects than synthetic anticancer drug. Parasite&#xD;
tea species Scurrula atropurpurea since ancient times has been used to prevent&#xD;
various diseases. Effects parasite tea (Scurrula atropurpurea) as an anti-cancer has&#xD;
been widely proven to the molecular level, but the majority done in vitro.&#xD;
Objective. This study aims to prove the proliferative activity of breast cancer cells&#xD;
were inoculated Wistar rats induced cancer by administering extracts&#xD;
benzoalphapyrene Scurrula atropurpurea.&#xD;
Methods. This study is purely experimental with post-test only control group design.&#xD;
Wistar rats used in this study was divided into 5 (five) groups. Benzoalphapyrene&#xD;
compound used to induce breast cancer in rat. Extract Scurrula atropurpurea&#xD;
inoculations given at a dose of 1.5g/kg body weight/day for 3 weeks and after the&#xD;
onset of tumors with 2 doses storied as 1.5g/kg body weight/day for 3 weeks and&#xD;
3g/kg body weight/day for 3 weeks. Tumor onset observed with palpation and&#xD;
observed under a microscope, and stained with HE and Ki-67 staining. Data were&#xD;
obtained from all groups treated with the SPSS 10.0 statistical test performed nonparametric&#xD;
Kruskal Wallis test followed by Mann-Whitney.&#xD;
Results. There was a decrease of Ki-67 expression between the control group with&#xD;
the treatment. Parasite tea extracts can reduce tumor cell proliferation activity if given&#xD;
the time of inoculation or after inoculation of cancer, although statistically not show&#xD;
significant difference (p = 0.343) and (p = 0330).&#xD;
Conclusion. Effect of inhibition of tumor cell proliferation activity by a given&#xD;
parasite tea extract after inoculation better than low-dose graded doses.
Abstract (other language): Latar belakang. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker&#xD;
paru yang menyebabkan kematian pada wanita. Data WHO menunjukkan 1,2 juta&#xD;
orang telah didiagnosis menderita kanker payudara. Data nasional dari Badan&#xD;
Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia, kanker&#xD;
payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker servik. Terapi kanker payudara&#xD;
meliputi pembedahan, radiasi, hormonal dan kemoterapi, kesuksesannya belum&#xD;
memuaskan tergantung pada stadium penyakit. Terapi tersebut sering tidak&#xD;
terjangkau oleh masyarakat, maka dicari obat tradisional untuk pengobatan kanker.&#xD;
Ada beberapa kelebihan penggunaan obat tradisional, harganya lebih murah karena&#xD;
dapat dibudidayakan, mudah didapat dan diharapkan efek samping lebih minimal&#xD;
dibanding obat antikanker sintetik. Benalu teh dari spesies Scurrula atropurpurea&#xD;
sejak zaman dahulu telah digunakan untuk mencegah berbagai penyakit. Efek benalu&#xD;
teh (Scurrula atropurpurea) sebagai anti kanker telah banyak dibuktikan hingga&#xD;
tingkat molekuler, namun sebagian besar dilakukan secara in vitro.&#xD;
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan aktivitas proliferasi sel kanker&#xD;
payudara tikus Wistar yang diinokulasi kanker terinduksi benzoalphapyrene dengan&#xD;
pemberian ekstrak Scurrula atropurpurea.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan post test only control&#xD;
group design. Tikus Wistar digunakan pada penelitian ini dibagi ke dalam 5 (lima)&#xD;
kelompok. Senyawa benzoalphapyrene digunakan untuk induksi terjadinya kanker&#xD;
payudara pada tikus. Ekstrak Scurrula atropurpurea diberikan saat inokulasi dosis&#xD;
1,5g/kgBB/hari selama 3 minggu dan setelah timbulnya tumor dengan 2 dosis&#xD;
bertingkat, yakni 1,5g/kgBB/hari dan 3g/kgBB/hari selama 3 minggu. Timbulnya&#xD;
tumor diamati dengan palpasi dan diamati dibawah mikroskop, serta diwarnai dengan&#xD;
pewarnaan HE dan Ki-67. Data yang diperoleh dari semua kelompok diolah dengan&#xD;
program SPSS 10.0 dilakukan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis dan&#xD;
dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney.&#xD;
Hasil. Terjadi penurunan ekspresi Ki-67 antara kelompok kontrol dengan perlakuan.&#xD;
Ekstrak benalu teh mampu menurunkan aktivitas proliferasi sel tumor jika diberi saat&#xD;
inokulasi maupun setelah inokulasi kanker, walaupun secara statistik tidak&#xD;
menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,343) dan (p=0.330).&#xD;
Kesimpulan. Efek inhibisi aktivitas proliferasi sel tumor dengan ekstrak benalu teh&#xD;
yang diberikan setelah inokulasi lebih baik pada dosis bertingkat dibandingkan dosis&#xD;
rendah.</summary>
    <dc:date>2013-04-17T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Anggraini, Dwi Rita</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker&#xD;
paru yang menyebabkan kematian pada wanita. Data WHO menunjukkan 1,2 juta&#xD;
orang telah didiagnosis menderita kanker payudara. Data nasional dari Badan&#xD;
Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia, kanker&#xD;
payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker servik. Terapi kanker payudara&#xD;
meliputi pembedahan, radiasi, hormonal dan kemoterapi, kesuksesannya belum&#xD;
memuaskan tergantung pada stadium penyakit. Terapi tersebut sering tidak&#xD;
terjangkau oleh masyarakat, maka dicari obat tradisional untuk pengobatan kanker.&#xD;
Ada beberapa kelebihan penggunaan obat tradisional, harganya lebih murah karena&#xD;
dapat dibudidayakan, mudah didapat dan diharapkan efek samping lebih minimal&#xD;
dibanding obat antikanker sintetik. Benalu teh dari spesies Scurrula atropurpurea&#xD;
sejak zaman dahulu telah digunakan untuk mencegah berbagai penyakit. Efek benalu&#xD;
teh (Scurrula atropurpurea) sebagai anti kanker telah banyak dibuktikan hingga&#xD;
tingkat molekuler, namun sebagian besar dilakukan secara in vitro.&#xD;
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan aktivitas proliferasi sel kanker&#xD;
payudara tikus Wistar yang diinokulasi kanker terinduksi benzoalphapyrene dengan&#xD;
pemberian ekstrak Scurrula atropurpurea.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan post test only control&#xD;
group design. Tikus Wistar digunakan pada penelitian ini dibagi ke dalam 5 (lima)&#xD;
kelompok. Senyawa benzoalphapyrene digunakan untuk induksi terjadinya kanker&#xD;
payudara pada tikus. Ekstrak Scurrula atropurpurea diberikan saat inokulasi dosis&#xD;
1,5g/kgBB/hari selama 3 minggu dan setelah timbulnya tumor dengan 2 dosis&#xD;
bertingkat, yakni 1,5g/kgBB/hari dan 3g/kgBB/hari selama 3 minggu. Timbulnya&#xD;
tumor diamati dengan palpasi dan diamati dibawah mikroskop, serta diwarnai dengan&#xD;
pewarnaan HE dan Ki-67. Data yang diperoleh dari semua kelompok diolah dengan&#xD;
program SPSS 10.0 dilakukan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis dan&#xD;
dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney.&#xD;
Hasil. Terjadi penurunan ekspresi Ki-67 antara kelompok kontrol dengan perlakuan.&#xD;
Ekstrak benalu teh mampu menurunkan aktivitas proliferasi sel tumor jika diberi saat&#xD;
inokulasi maupun setelah inokulasi kanker, walaupun secara statistik tidak&#xD;
menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,343) dan (p=0.330).&#xD;
Kesimpulan. Efek inhibisi aktivitas proliferasi sel tumor dengan ekstrak benalu teh&#xD;
yang diberikan setelah inokulasi lebih baik pada dosis bertingkat dibandingkan dosis&#xD;
rendah.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kaitan Glasgow Coma Score Awal Dan Jarak Waktu Setelah Cedera Kepala Sampai Dilakukan Operasi Pada Pasien Perdarahan Subdural Akut Dengan Glasgow Outcome Scale</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35615" />
    <author>
      <name>Darmawan, M. Eri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35615</id>
    <updated>2013-04-08T04:28:00Z</updated>
    <published>2013-04-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Darmawan, M. Eri
Advisors: Sastrodiningrat, Gofar
Abstract (other language): Objektif : Perdarahan subdural akut merupakan salah satu penyakit bedah syaraf yang mempunyai mortalitas relative tinggi apakah penderita dioperasi atau tidak. Oleh karena itu perdarahan subdural perlu mendapat perhatian baik di dalam pengetahuan patofisiologinya maupun di dalam penguasaan tindakan menanggulanginya. Aykut karasu dkk di Istambul Turki mengatakan bahwa faktor prognostik terpenting terpenting pada pasien SDH akut yang di operasi adalah GCS pada awal masuk, sedangkan  Seeling dkk di Jerman mengatakan bahwa pasien SDH akut yang dilakukan operasi dalam waktu &lt; 4 jam mempunyai mortalitas 30 % dan jika lebih &gt; 4 jam mempunyai mortalitas 90 %.&#xD;
Bahan dan Cara kerja : Seluruh pasien SDH akut yang dilakukan operasi dilakukan pencatatan GCS pada saat awal masuk dan jarak waktu cedera kepala sampai dilakukan operasi, kemudian dinilai Glasgow outcome scale pasca Operasi pada saat pasien dipulangkan.&#xD;
Hasil : Dari 23 kasus SDH akut yang dioperasi, secara statistik hubungan antara GCS saat awal masuk dengan nilai GOS adalah lemah dan tidak bermakna (p = 0,06; r = 0,41) dan hubungan antara jarak waktu setelah cedera kepala sampai dilakukan operasi dengan nilai GOS adalah sangat kuat dan signifikan (p = 0,001; r = (-)0,66) ,  dimana semakin cepat penderita perdarahan subdural akut dilakukan tindakan operasi, maka semakin baik prognosisnya. &#xD;
&#xD;
Simpulan : Jarak waktu setelah cedera kepala sampai dilakukan operasi diperkirakan dapat digunakan sebagai prediktor prognosis penderita perdarahan subdural akut.</summary>
    <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Darmawan, M. Eri</dc:creator>
    <dc:description>Objektif : Perdarahan subdural akut merupakan salah satu penyakit bedah syaraf yang mempunyai mortalitas relative tinggi apakah penderita dioperasi atau tidak. Oleh karena itu perdarahan subdural perlu mendapat perhatian baik di dalam pengetahuan patofisiologinya maupun di dalam penguasaan tindakan menanggulanginya. Aykut karasu dkk di Istambul Turki mengatakan bahwa faktor prognostik terpenting terpenting pada pasien SDH akut yang di operasi adalah GCS pada awal masuk, sedangkan  Seeling dkk di Jerman mengatakan bahwa pasien SDH akut yang dilakukan operasi dalam waktu &lt; 4 jam mempunyai mortalitas 30 % dan jika lebih &gt; 4 jam mempunyai mortalitas 90 %.&#xD;
Bahan dan Cara kerja : Seluruh pasien SDH akut yang dilakukan operasi dilakukan pencatatan GCS pada saat awal masuk dan jarak waktu cedera kepala sampai dilakukan operasi, kemudian dinilai Glasgow outcome scale pasca Operasi pada saat pasien dipulangkan.&#xD;
Hasil : Dari 23 kasus SDH akut yang dioperasi, secara statistik hubungan antara GCS saat awal masuk dengan nilai GOS adalah lemah dan tidak bermakna (p = 0,06; r = 0,41) dan hubungan antara jarak waktu setelah cedera kepala sampai dilakukan operasi dengan nilai GOS adalah sangat kuat dan signifikan (p = 0,001; r = (-)0,66) ,  dimana semakin cepat penderita perdarahan subdural akut dilakukan tindakan operasi, maka semakin baik prognosisnya. &#xD;
&#xD;
Simpulan : Jarak waktu setelah cedera kepala sampai dilakukan operasi diperkirakan dapat digunakan sebagai prediktor prognosis penderita perdarahan subdural akut.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35614" />
    <author>
      <name>Hasibuan, Mangain</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35614</id>
    <updated>2013-04-08T04:19:24Z</updated>
    <published>2013-04-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hasibuan, Mangain
Advisors: Nursiah, Siti; Aliandri
Abstract: Introduction: Prevalens of chronic rhinosinusitis in Indonesia is high and many research explain about chronic rhinosinusitis that had performed Functional Endoscopic Sinus Surgery. This study is aimed to know profile of patient with chronic rinosinucitis that had performed Functional Endoscopic Sinus Surgery. &#xD;
Purpose: To know the profile of patient with chronic rhinosinusitis in Adam Malik General Hospital since 2008-2011.&#xD;
Method: This research is a descriptive with case series design. The research use secondary data obtained from medical records of patients in Adam Malik General Hospital since 2008 untill 2011.&#xD;
Result: Out of 111 patients, the most common gender are  men (52,3%), the most prevalent in age group 15-24 years, the most common symptom is nasal obstruction (98,7%), the most common symptom period is under one year (43,2%); the most common nasoendoscopy is oedema/mucosa obstructive in middle meatus (88,3%), maxilla sinus is  the most common sinus that attached infection (95,5%) dan multisinusitis is the most common sinus involement (63,1%).&#xD;
Conclusion :  Profile of patient with chronic rhinosinusitis in Adam Malik General Hospital, the most common gender are men with the most prevalent in age group 15-24 years, and the most common symptom is nasal obstruction.
Abstract (other language): Pendahuluan : Prevalensi  rinosinusitis kronik di Indonesia cukup tinggi dan banyak penelitian tentang rinosinusitis dan bedah sinus endoskopik yang telah dilakukan. Peneliti tertarik untuk mengetahui profil rinosinusitis kronik yang menjalani Bedah Sinus Endoskopik Fungsional. &#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP H. Adam Malik Medan mulai tahun 2008-2011.&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan design case series. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pencatatan rekam medis penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011.&#xD;
Hasil Penelitian: Didapatkan 111 penderita, dimana distribusi frekuensi penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional terbanyak pada laki-laki (52,3%); kelompok umur 15-24 tahun, gejala tersering adalah hidung tersumbat sebesar 93,7%; lama keluhan terbanyak &lt;1 tahun (43,2%); hasil nasoendoskopi terbanyak adalah edema/obstruksi mukosa meatus media (88,3%), lokasi sinus paranasal terbanyak di sinus maksila (95,5%) dan jumlah sinus terbanyak yang terlibat adalah multisinusitis (63,1%).&#xD;
Kesimpulan : Profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional Di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011 adalah lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada kelompok usia 15-24 tahun, hidung tersumbat merupakan gejala tersering.</summary>
    <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hasibuan, Mangain</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan : Prevalensi  rinosinusitis kronik di Indonesia cukup tinggi dan banyak penelitian tentang rinosinusitis dan bedah sinus endoskopik yang telah dilakukan. Peneliti tertarik untuk mengetahui profil rinosinusitis kronik yang menjalani Bedah Sinus Endoskopik Fungsional. &#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP H. Adam Malik Medan mulai tahun 2008-2011.&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan design case series. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pencatatan rekam medis penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011.&#xD;
Hasil Penelitian: Didapatkan 111 penderita, dimana distribusi frekuensi penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional terbanyak pada laki-laki (52,3%); kelompok umur 15-24 tahun, gejala tersering adalah hidung tersumbat sebesar 93,7%; lama keluhan terbanyak &lt;1 tahun (43,2%); hasil nasoendoskopi terbanyak adalah edema/obstruksi mukosa meatus media (88,3%), lokasi sinus paranasal terbanyak di sinus maksila (95,5%) dan jumlah sinus terbanyak yang terlibat adalah multisinusitis (63,1%).&#xD;
Kesimpulan : Profil penderita rinosinusitis kronik yang menjalani tindakan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional Di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2008-2011 adalah lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan pada kelompok usia 15-24 tahun, hidung tersumbat merupakan gejala tersering.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Profil Lipid Serum Pada Penderita Batu Kandung Empedu Di RSUP Haji Adam Malik Medan Dan RS Jejaring FK-USU</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35612" />
    <author>
      <name>Satria, Bayu Irvia</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35612</id>
    <updated>2013-04-08T03:57:28Z</updated>
    <published>2013-04-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Satria, Bayu Irvia
Advisors: Sirait, Liberti
Abstract (other language): Objektif: Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di negara barat dan telah berubah selama beberapa dekade terkahir di negara-negara Asia, dengan peningkatan menonjol dalam prevalensi batu kandung empedu kolesterol. Trend ini terjadi akibat dari meningkatnya konsumsi lemak, diet rendah serat, dan peningkatan gaya hidup sedentarian dalam populasi Asia&#xD;
&#xD;
Metode Penelitian: Seluruh pasien di RSUP H Adam Malik Medan dan RS jejaring selama periode dari bulan April 2012 sampai dengan Juli 2012 yang didiagnosa batu kandung empedu dengan pencitraan ultrasonografi atau CT Scan abdomen dilakukan pemeriksaan profil lipid serum (kolesterol total, trigliserida, HDL dan LDL).&#xD;
&#xD;
Hasil: Dijumpai 52 penderita batu kandung empedu dengan jumlah penderita yang sama antara jenis kelamin perempuan dengan laki-laki. Kelompok usia terbanyak adalah pada kelompok usia 41 – 50 tahun dengan rata-rata usia  adalah 49 ± 13,17 tahun. BMI rata-rata penderita adalah 25,2 ± 2,4 kg/m2. Dari hasil pemeriksaan profil lipid serum didapatkan rata-rata kolesterol total adalah 207,48 ± 44,78 mg/dL, rata-rata trigliserida adalah 191,03 ± 56,18 mg/dL, rata-rata HDL adalah 64,57 ± 17,27 mg/dL, dan rata-rata LDL adalah 136,79 ± 31,34 mg/dL. Perbandingan profil lipid serum antara kelompok perempuan dengan laki-laki   menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05). Perbandingan profil lipid serum antara kelompok perempuan ≤45 tahun dengan &gt;45 tahun menunjukkan perbedaan yang bermakna (Kolesterol total (p=0.011), Trigliserida (p=0,033), HDL (p=0,033), LDL (p=0,024). &#xD;
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna profil lipid serum penderita batu kandung empedu antara kelompok perempuan dengan laki-laki, sementara terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perempuan ≤45 tahun dengan &gt;45 tahun. Didapatkan nilai profil lipid serum lebih tinggi pada kelompok perempuan &gt;45 tahun penderita batu kandung empedu dibanding dengan kelompok perempuan ≤45 tahun.</summary>
    <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Satria, Bayu Irvia</dc:creator>
    <dc:description>Objektif: Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di negara barat dan telah berubah selama beberapa dekade terkahir di negara-negara Asia, dengan peningkatan menonjol dalam prevalensi batu kandung empedu kolesterol. Trend ini terjadi akibat dari meningkatnya konsumsi lemak, diet rendah serat, dan peningkatan gaya hidup sedentarian dalam populasi Asia&#xD;
&#xD;
Metode Penelitian: Seluruh pasien di RSUP H Adam Malik Medan dan RS jejaring selama periode dari bulan April 2012 sampai dengan Juli 2012 yang didiagnosa batu kandung empedu dengan pencitraan ultrasonografi atau CT Scan abdomen dilakukan pemeriksaan profil lipid serum (kolesterol total, trigliserida, HDL dan LDL).&#xD;
&#xD;
Hasil: Dijumpai 52 penderita batu kandung empedu dengan jumlah penderita yang sama antara jenis kelamin perempuan dengan laki-laki. Kelompok usia terbanyak adalah pada kelompok usia 41 – 50 tahun dengan rata-rata usia  adalah 49 ± 13,17 tahun. BMI rata-rata penderita adalah 25,2 ± 2,4 kg/m2. Dari hasil pemeriksaan profil lipid serum didapatkan rata-rata kolesterol total adalah 207,48 ± 44,78 mg/dL, rata-rata trigliserida adalah 191,03 ± 56,18 mg/dL, rata-rata HDL adalah 64,57 ± 17,27 mg/dL, dan rata-rata LDL adalah 136,79 ± 31,34 mg/dL. Perbandingan profil lipid serum antara kelompok perempuan dengan laki-laki   menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05). Perbandingan profil lipid serum antara kelompok perempuan ≤45 tahun dengan &gt;45 tahun menunjukkan perbedaan yang bermakna (Kolesterol total (p=0.011), Trigliserida (p=0,033), HDL (p=0,033), LDL (p=0,024). &#xD;
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna profil lipid serum penderita batu kandung empedu antara kelompok perempuan dengan laki-laki, sementara terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perempuan ≤45 tahun dengan &gt;45 tahun. Didapatkan nilai profil lipid serum lebih tinggi pada kelompok perempuan &gt;45 tahun penderita batu kandung empedu dibanding dengan kelompok perempuan ≤45 tahun.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Kemampuan Fungsional Anak Penderita Hemofilia dengan Anak yang Normal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35611" />
    <author>
      <name>Kosman, Andy Sance</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35611</id>
    <updated>2013-04-08T03:37:36Z</updated>
    <published>2013-04-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kosman, Andy Sance
Advisors: Lubis, Bidasari; Rosdiana, Nelly
Abstract: Background. Recurrent joint bleedings in hemophilia patients can lead to joint damage and disabilities, causing problems in daily living. Specialized instruments such as the Functional Independence Score in Hemophilia (FISH) can be used to assess the functional abilities of hemophila patients.&#xD;
Objective. To compare the functional abilities of hemophilia patients using the FISH instrument with their normal peers.&#xD;
Method. A cross-sectional study was conducted at the H. Adam Malik Hospital in November till December 2012 on children with hemophilia and their normal peers as control. Each group was assessed using the FISH instrument. We use t-independent test and Spearman correlation test to compare the results of hemophilia patients with their peers.&#xD;
Results. A total of 42 children were enrolled in this study with 21 children in each group. FISH scores in hemophilia children were significantly lower compared to their normal peers in dressing, standing up from chair, squatting, walking and climbing stairs. There was a strong correlation between the level of F VIII and F IX, and the children’s age with the disability in hemophilia children.&#xD;
Conclusion. The functional abilities of hemophilia children were poorer compared to their normal peers.
Abstract (other language): Latar Belakang. Perdarahan sendi yang berulang pada penderita hemofilia menyebabkan kerusakan dan kecacatan sendi, sehingga mengganggu kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Penilaian fungsional ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus seperti Functional Independence Score in Hemophilia (FISH)&#xD;
Tujuan. Untuk menilai kemampuan fungsional anak penderita hemofilia dengan menggunakan instrumen FISH dibanding dengan anak yang normal.&#xD;
Metode. Sebuah studi cross sectional dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan November dan Desember 2012 terhadap anak penderita hemofilia dan anak yang normal sebagai kontrol. Masing-masing kelompok dinilai kemampuan fungsionalnya dengan menggunakan instrumen FISH. Hasil kedua kelompok dibandingkan dengan menggunakan uji t independen dan uji korelasi Spearman.&#xD;
Hasil. Empat puluh dua orang anak dimasukkan dalam studi ini (kelompok hemofilia n=21, kelompok kontrol n=21). Nilai FISH anak penderita hemofilia berbeda secara signifikan di aktivitas berpakaian, berdiri dari kursi, jongkok, jalan dan naik tangga. Dijumpai korelasi yang kuat antara kadar F VIII atau F IX, dan usia penderita dengan kemampuan fungsional anak penderita hemofilia.&#xD;
Kesimpulan. Kemampuan fungsional anak penderita hemofilia lebih rendah dibanding dengan anak yang normal.</summary>
    <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kosman, Andy Sance</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Perdarahan sendi yang berulang pada penderita hemofilia menyebabkan kerusakan dan kecacatan sendi, sehingga mengganggu kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Penilaian fungsional ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus seperti Functional Independence Score in Hemophilia (FISH)&#xD;
Tujuan. Untuk menilai kemampuan fungsional anak penderita hemofilia dengan menggunakan instrumen FISH dibanding dengan anak yang normal.&#xD;
Metode. Sebuah studi cross sectional dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan November dan Desember 2012 terhadap anak penderita hemofilia dan anak yang normal sebagai kontrol. Masing-masing kelompok dinilai kemampuan fungsionalnya dengan menggunakan instrumen FISH. Hasil kedua kelompok dibandingkan dengan menggunakan uji t independen dan uji korelasi Spearman.&#xD;
Hasil. Empat puluh dua orang anak dimasukkan dalam studi ini (kelompok hemofilia n=21, kelompok kontrol n=21). Nilai FISH anak penderita hemofilia berbeda secara signifikan di aktivitas berpakaian, berdiri dari kursi, jongkok, jalan dan naik tangga. Dijumpai korelasi yang kuat antara kadar F VIII atau F IX, dan usia penderita dengan kemampuan fungsional anak penderita hemofilia.&#xD;
Kesimpulan. Kemampuan fungsional anak penderita hemofilia lebih rendah dibanding dengan anak yang normal.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35528" />
    <author>
      <name>Zakiah, Washli</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35528</id>
    <updated>2013-03-28T03:15:47Z</updated>
    <published>2013-03-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zakiah, Washli
Advisors: Sembiring, Tiangsa; Irsa, Lily
Abstract: Background. The most common nutritional problems affecting the pediatric population in developing country is protein energy malnutrition (PEM). The nutritional problem may cause by various factors, most of which related to unsatisfactory food intake and infection. One of the highest morbidity and mortality in endemic area is malaria. Malaria infection and nutritional status is interrelated&#xD;
Objective. To determine relationship between nutritional status and malaria infection in children&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted in October and November 2010 among primary school children at Panyabungan City, North Sumatera Province. Peripheral thick and thin blood smear examination was done to confirm the diagnose of malaria. Participants divided in two groups (infected and uninfected malaria group) by consecutive sampling. Nutritional status was determined by body weight and height measurements based on CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Mild and moderate malnutrition classification divided in stunted and wasted is based on NCHS/WHO 2007. Chi-quadrat was used to determine the relationship between nutritional status and malaria infection. Data was processed by SPSS 14.0&#xD;
Results.  There was 126 children in each group. The findings showed that a significant differences between mild and moderate malnutritional status in both groups of infected and uninfected malaria ( 23.8% and 46.8%  respectively; P= 0.011) and there was a significant differences malnutrition type was stunted and stunted-wasted in both groups of mild and moderate malnutrition&#xD;
Conclusions. There was a significant relation between mild and moderate malnutrition and malaria infection in children. Malnutrition was most common in uninfected malaria
Abstract (other language): Latar Belakang.Masalah nutrisi yang paling sering dijumpai pada populasi anak di negara berkembang adalah protein energi malnutrition (PEM). Hal  ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu yang paling mempengaruhi adalah asupan makan yang tidak cukup dan infeksi. Penyakit malaria merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi didaerah endemis. Infeksi malaria dan status nutrisi saling mempengaruhi satu sama lain.&#xD;
Tujuan.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2010 terhadap anak sekolah dasar di Kota Panyabungan, Propinsi Sumatera Utara. Diagnosis malaria dengan pemeriksaan apusan slide darah tebal dan tipis. Subjek dibagi dua kelompok ( kelompok yang terinfeksi dan tidak terinfeksi malaria) dengan metode consecutive sampling. Status nutrisi ditentukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan berdasarkan grafik CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Tipe malnutrisi ringan-sedang dibagi atas pendek dan kurus diukur berdasarkan standar baku NCHS/WHO 2007. Dilakukan uji kai-kuadrat untuk menentukan hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria. Data kemudian diolah dengan SPSS 14.0. &#xD;
Hasil. Tiap kelompok terdiri dari 126 anak. Hasil dari penelitian ini menemukan adanya perbedaan bermakna status malnutrisi ringan-sedang antara anak dengan infeksi dan tanpa infeksi malaria yaitu 23.8% vs 46.8%  (P= 0.011)  Pada anak dengan malnutrisi ringan-sedang dijumpai perbedaan bermakna tipe malnutrisi pendek dan pendek-kurus pada kedua kelompok. &#xD;
Kesimpulan.Terdapat hubungan bermakna antara status malnutrisi ringan-sedang dengan infeksi malaria pada anak. Namun malnutrisi paling sering terjadi pada anak yang tidak terinfeksi</summary>
    <dc:date>2013-03-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zakiah, Washli</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang.Masalah nutrisi yang paling sering dijumpai pada populasi anak di negara berkembang adalah protein energi malnutrition (PEM). Hal  ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu yang paling mempengaruhi adalah asupan makan yang tidak cukup dan infeksi. Penyakit malaria merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi didaerah endemis. Infeksi malaria dan status nutrisi saling mempengaruhi satu sama lain.&#xD;
Tujuan.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2010 terhadap anak sekolah dasar di Kota Panyabungan, Propinsi Sumatera Utara. Diagnosis malaria dengan pemeriksaan apusan slide darah tebal dan tipis. Subjek dibagi dua kelompok ( kelompok yang terinfeksi dan tidak terinfeksi malaria) dengan metode consecutive sampling. Status nutrisi ditentukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan berdasarkan grafik CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Tipe malnutrisi ringan-sedang dibagi atas pendek dan kurus diukur berdasarkan standar baku NCHS/WHO 2007. Dilakukan uji kai-kuadrat untuk menentukan hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria. Data kemudian diolah dengan SPSS 14.0. &#xD;
Hasil. Tiap kelompok terdiri dari 126 anak. Hasil dari penelitian ini menemukan adanya perbedaan bermakna status malnutrisi ringan-sedang antara anak dengan infeksi dan tanpa infeksi malaria yaitu 23.8% vs 46.8%  (P= 0.011)  Pada anak dengan malnutrisi ringan-sedang dijumpai perbedaan bermakna tipe malnutrisi pendek dan pendek-kurus pada kedua kelompok. &#xD;
Kesimpulan.Terdapat hubungan bermakna antara status malnutrisi ringan-sedang dengan infeksi malaria pada anak. Namun malnutrisi paling sering terjadi pada anak yang tidak terinfeksi</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Rasio Neutrofil Imatur Dengan Neutrofil Total Dalam Menegakkan Diagnosis Dini Sepsis Bakterialis Pada Neonatus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35525" />
    <author>
      <name>Darnifayanti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35525</id>
    <updated>2013-03-27T04:47:50Z</updated>
    <published>2013-03-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Darnifayanti
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Rusdidjas
Abstract: Background. Bacterial sepsis is the main cause morbidity and mortality in neonates. Early diagnostic and appropriate treatment can reduce the mortality rate. Gold standard to diagnose bacterial sepsis is blood culture, but it needed 3-5 day for the results, but the disease may progress rapidly in neonates. Examination of ratio immature to total neutrophil in peripheral blood smear is a quick and cheaper method to diagnose sepsis bacterial in neonates. Some studies found that sensitivity of ratio immature to total neutrophil is between 88%-90%. &#xD;
&#xD;
Objective. To determine whether  ratio immature to total neutrophil (IT ratio) can be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted in February to March 2011. The sample were collected by consecutive sampling. We used diagnostic test in this study. Fifty three neonates suspected for bacterial sepsis in perinatology unit H. Adam Malik hospital underwent blood culture and peripheral blood smear for neutrophil count. All statistical analyses were conducted with SPSS (version 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Result. Of 53 neonates, twenty six neonates had bacterial sepsis based on blood culture. Ratio immature to total neutrophil has a sensitivity 88.46%,positive predictive value 82.14%, and negative predictive value 88%. ROC curve showed cut off point 0.833 (95%CI 0.713-0.953). &#xD;
&#xD;
Conclusion. Ratio of immature to total neutrophil could be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis
Abstract (other language): Latar belakang. Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total  (IT rasio) pada darah tepi merupakan cara yang cepat dan murah dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas IT rasio sekitar 88%-90%. &#xD;
Tujuan. Untuk menentukan bahwa rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2011. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling. 53 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan kultur darah dan sediaan apusan darah tepi utuk menghitung IT rasio. Analisa statistic dengan menggunakan SPSS (versi 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 53 neonatus, 26 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total mempunyai sensitivitas 88.46%, spesifisitas 81.84%, positif predictive value 82.14% dan negative predictive value 88%. Cut of point dengan kurva ROC 0.833 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Rasio neutrofil imatur dengan netrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</summary>
    <dc:date>2013-03-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Darnifayanti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total  (IT rasio) pada darah tepi merupakan cara yang cepat dan murah dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas IT rasio sekitar 88%-90%. &#xD;
Tujuan. Untuk menentukan bahwa rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2011. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling. 53 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan kultur darah dan sediaan apusan darah tepi utuk menghitung IT rasio. Analisa statistic dengan menggunakan SPSS (versi 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 53 neonatus, 26 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total mempunyai sensitivitas 88.46%, spesifisitas 81.84%, positif predictive value 82.14% dan negative predictive value 88%. Cut of point dengan kurva ROC 0.833 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Rasio neutrofil imatur dengan netrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Protein Creatinine Ratio (PCR) terhadap Protein Urin 24 Jam pada Nefropati Diabetik</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35256" />
    <author>
      <name>Naibaho, Pantas Tandi H.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35256</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:13Z</updated>
    <published>2013-03-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Naibaho, Pantas Tandi H.
Advisors: Lubis, Zulfikar; Nasution, Salli Roseffi
Abstract (other language): Tes urin dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit-penyakit pada manusia. Ini membuktikan bahwa urin merupakan suatu medium tes yang ideal bagi para dokter, karena tes ini non invasive, dan hasil dari pemeriksaan dapat diperoleh beberapa menit. Proteinuria dan albuminuria merupakan faktor utama penentu terjadinya perburukan fungsi ginjal yang telah dibuktikan dengan beberapa penelitian. Proteinuria akibat kerusakan glomerulus, ditandai oleh adanya protein dengan berat molekul tinggi dalam urin. Pada banyak kasus proteinuria seperti Nefropati Diabetik maupun Nefropati Non Diabetik para klinisi tidak cukup puas dengan pemeriksaan proteinuria kwalitatif. Sampai saat ini pemeriksaan Protein Urin 24 jam masih merupakan gold standard untuk mengetahui jumlah total protein yang diekskresikan. Belakangan ini muncul laporan pemeriksaan Protein to Creatinine Ratio (PCR) yaitu membandingkan kadar protein urin dengan kreatinin urin.pada sampel urin spot sehingga lebih mudah tingkat kepatuhan pasien dan kesalahan (error) sampel hampir tidak ada.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa kuat korelasi antara nilai PCR terhadap Protein Urin 24 jam pada pasien Nefropati Diabetik. Dengan mengetahui korelasi antara PCR terhadap protein urin 24 jam pada pasien Nefropati Diabetik, pemeriksaan PCR dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan protein urin 24 jam. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional, dengan jumlah penderita ND 35 orang yang berasal dari poliklinik Nefrologi Departemen Penyakit Dalam RSUP Haji Adam Malik Medan. Sebagai kelompok pembanding adalah individu normal tanpa bukti adanya Nefropati Diabetik. Seluruh penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni 2011 sampai September 2011. Pemeriksaan protein urin kuantitatif pada spot random dan protein urin 24 jam menggunakan metode Turbidimetric dan kreatinin urin metode enzymatic colorimetric (Roche). Pada uji korelasi dengan Korelasi Spearman’s gambar 4 didapati nilai korelasi yang bermakna antara PCR dan protein urin 24 jam dengan p = 0,0001. Koefisien korelasi ( r ) sebesar 0.679. Dari gambar 5 limits agreement merupakan nilai rata-rata (mean) perbedaan kedua tes dengan ± 1.96 standart deviasi. Pada penelitian ini nilai mean = 0,5 serta Lower limit agreement -3.3375 dan Upper limit agreement 4.2644 Dari hasil analisa Receiver Operating Characteristic (ROC) gambar 7 diperoleh cut off PCR 0,7 untuk PU &gt; 150 mg / 24 jam yang berarti sensitifitas 97 % dan spesifisitas 100%. PCR dengan cut off 0.7 mempunyai AUC 0.98 yang berarti terdapat perbedaan diantara kelompok Nefropati Diabetik dengan pembanding normal sebesar 98% menggunakan tes PCR.</summary>
    <dc:date>2013-03-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Naibaho, Pantas Tandi H.</dc:creator>
    <dc:description>Tes urin dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit-penyakit pada manusia. Ini membuktikan bahwa urin merupakan suatu medium tes yang ideal bagi para dokter, karena tes ini non invasive, dan hasil dari pemeriksaan dapat diperoleh beberapa menit. Proteinuria dan albuminuria merupakan faktor utama penentu terjadinya perburukan fungsi ginjal yang telah dibuktikan dengan beberapa penelitian. Proteinuria akibat kerusakan glomerulus, ditandai oleh adanya protein dengan berat molekul tinggi dalam urin. Pada banyak kasus proteinuria seperti Nefropati Diabetik maupun Nefropati Non Diabetik para klinisi tidak cukup puas dengan pemeriksaan proteinuria kwalitatif. Sampai saat ini pemeriksaan Protein Urin 24 jam masih merupakan gold standard untuk mengetahui jumlah total protein yang diekskresikan. Belakangan ini muncul laporan pemeriksaan Protein to Creatinine Ratio (PCR) yaitu membandingkan kadar protein urin dengan kreatinin urin.pada sampel urin spot sehingga lebih mudah tingkat kepatuhan pasien dan kesalahan (error) sampel hampir tidak ada.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa kuat korelasi antara nilai PCR terhadap Protein Urin 24 jam pada pasien Nefropati Diabetik. Dengan mengetahui korelasi antara PCR terhadap protein urin 24 jam pada pasien Nefropati Diabetik, pemeriksaan PCR dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan protein urin 24 jam. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional, dengan jumlah penderita ND 35 orang yang berasal dari poliklinik Nefrologi Departemen Penyakit Dalam RSUP Haji Adam Malik Medan. Sebagai kelompok pembanding adalah individu normal tanpa bukti adanya Nefropati Diabetik. Seluruh penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni 2011 sampai September 2011. Pemeriksaan protein urin kuantitatif pada spot random dan protein urin 24 jam menggunakan metode Turbidimetric dan kreatinin urin metode enzymatic colorimetric (Roche). Pada uji korelasi dengan Korelasi Spearman’s gambar 4 didapati nilai korelasi yang bermakna antara PCR dan protein urin 24 jam dengan p = 0,0001. Koefisien korelasi ( r ) sebesar 0.679. Dari gambar 5 limits agreement merupakan nilai rata-rata (mean) perbedaan kedua tes dengan ± 1.96 standart deviasi. Pada penelitian ini nilai mean = 0,5 serta Lower limit agreement -3.3375 dan Upper limit agreement 4.2644 Dari hasil analisa Receiver Operating Characteristic (ROC) gambar 7 diperoleh cut off PCR 0,7 untuk PU &gt; 150 mg / 24 jam yang berarti sensitifitas 97 % dan spesifisitas 100%. PCR dengan cut off 0.7 mempunyai AUC 0.98 yang berarti terdapat perbedaan diantara kelompok Nefropati Diabetik dengan pembanding normal sebesar 98% menggunakan tes PCR.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Atropi Papil Di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35145" />
    <author>
      <name>Hidayati, Musda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35145</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:23Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hidayati, Musda
Advisors: Sihotang, Aslim D; Suratmin; Ramses, Bobby
Abstract (other language): Atropi papil merupakan suatu kerusakan pada saraf optik yang mengakibatkan degenerasi pada saraf optik  yang terjadi sebagai hasil akhir dari suatu proses patologik yang merusak akson pada sistem penglihatan anterior ,dapat terjadi akibat iskemia,inflamasi,infiltrasi kompresi dan demielinasi.Saraf optik terdiri dari ribuan serabut saraf kecil (akson).Jika terjadi kerusakan serabut saraf akibat suatu penyakit,maka otak tidak dapat menerima sinyal cahaya dan pandangan menjadi kabur. Atropi papil dapat terjadi pada 1 atau 2 mata,keparahannya bergantung pada penyebab (Skuta et al,2010).</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hidayati, Musda</dc:creator>
    <dc:description>Atropi papil merupakan suatu kerusakan pada saraf optik yang mengakibatkan degenerasi pada saraf optik  yang terjadi sebagai hasil akhir dari suatu proses patologik yang merusak akson pada sistem penglihatan anterior ,dapat terjadi akibat iskemia,inflamasi,infiltrasi kompresi dan demielinasi.Saraf optik terdiri dari ribuan serabut saraf kecil (akson).Jika terjadi kerusakan serabut saraf akibat suatu penyakit,maka otak tidak dapat menerima sinyal cahaya dan pandangan menjadi kabur. Atropi papil dapat terjadi pada 1 atau 2 mata,keparahannya bergantung pada penyebab (Skuta et al,2010).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Panjang Telapak Kaki Dan Tinggi Badan Ibu Dengan Ukuran Pintu Atas Panggul</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35143" />
    <author>
      <name>Ginting, Hendri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35143</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:44Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ginting, Hendri
Advisors: Pasaribu, Hotma Partogi; Sitepu, Makmur
Abstract: Objective : To determine the association between maternal foot length and height&#xD;
with pelvic inlet size based on radiological pelvimetry&#xD;
Study design : Cross sectional study&#xD;
Material and Method: Clinical pelvimetry before or after cesarean section and&#xD;
radiological pelvimetry after cesarean section was conducted to assess the pelvic size&#xD;
in patients operated due to contracted pelvis or cephalopelvic disproportion either&#xD;
elective or emergency cesarean section at H. Adam Malik and Dr. Pirngadi Hospital&#xD;
Medan since June 2011 that fulfilled inclusion and exclusion criteria. Relationship&#xD;
between maternal foot length and height with the pelvic size of the radiological&#xD;
pelvimetry was analyzed.&#xD;
Results : It was found that out of 42 samples, the majority had conjugata vera&#xD;
measuring &lt;10 cm that were categorized as contracted pelvic equal to 61.9% . The&#xD;
mean maternal height and foot length on contracted pelvic group were 148.81 cm&#xD;
and 21:48 cm respectively. No significant relationship was established between&#xD;
maternal height and foot length with pelvic inlet size (p &gt; 0.05). It was observed that&#xD;
contracted pelvis proportion in women with height of ≤ 150 cm and foot length of &lt;&#xD;
22 cm were 61% and 55.5% respectively&#xD;
Conclusion : No significant relationship was found between maternal height and foot&#xD;
length with pelvic inlet size but it was shown that women with height of ≤ 150 cm and&#xD;
foot length of &lt; 22 cm had more proportion of contracted pelvis.
Abstract (other language): Tujuan : Untuk melihat hubungan antara ukuran panjang telapak kaki dan tinggi&#xD;
badan ibu dengan kesempitan ukuran pintu atas panggul berdasarkan pelvimetri&#xD;
radiologis.&#xD;
Rancangan Penelitian: Studi potong lintang&#xD;
Bahan dan Cara: Pelvimetri klinis sebelum atau setelah seksio sesaria dan pelvimetri&#xD;
radiologis setelah seksio sesaria dilakukan untuk menilai pintu atas panggul pada&#xD;
pasien seksio sesaria atas indikasi panggul sempit atau disproporsi sefalopelvik baik&#xD;
yang diseksio secara elektif maupun emergensi di RSUP. H. Adam Malik Medan dan&#xD;
RSUD. Dr. Pirngadi Medan sejak bulan Juni 2011 yang memenuhi kriteria inklusi&#xD;
dan eksklusi.. Hubungan antara ukuran panjang telapak kaki dan tinggi badan ibu&#xD;
dengan ukuran pelvimetri radiologi pintu atas panggulnya dianalisa dengan&#xD;
computer.&#xD;
Hasil : Dari penelitian ini didapatkan bahwa dari 42 subjek penelitian, kebanyakan&#xD;
memiliki konjugata vera &lt;10 cm yang dikategorikan sebagai panggul sempit yaitu&#xD;
sebesar 61,9%. Rerata tinggi badan dan panjang telapak kaki pada panggul sempit&#xD;
adalah berturut-turut 148,81 cm dan 21.48 cm. Dengan menggunakan uji Fisher&#xD;
didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tinggi badan dan ukuran&#xD;
panjang telapak kaki dengan kesempitan pintu atas panggul (p&gt;0,05) namun&#xD;
didapatkan proporsi panggul sempit yang lebih besar pada kelompok wanita dengan&#xD;
tinggi badan ≤ 150 cm dan ukuran panjang telapak kaki &lt; 22 cm berturut-turut 61%&#xD;
dan 55,5%&#xD;
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ukuran panjang&#xD;
telapak kaki dan tinggi badan dengan kesempitan pintu atas panggul berdasarkan&#xD;
pelvimetri radiologis namun proporsi panggul sempit lebih besar pada wanita dengan&#xD;
tinggi badan ≤ 150 cm dan ukuran panjang telapak kaki &lt; 22 cm</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ginting, Hendri</dc:creator>
    <dc:description>Tujuan : Untuk melihat hubungan antara ukuran panjang telapak kaki dan tinggi&#xD;
badan ibu dengan kesempitan ukuran pintu atas panggul berdasarkan pelvimetri&#xD;
radiologis.&#xD;
Rancangan Penelitian: Studi potong lintang&#xD;
Bahan dan Cara: Pelvimetri klinis sebelum atau setelah seksio sesaria dan pelvimetri&#xD;
radiologis setelah seksio sesaria dilakukan untuk menilai pintu atas panggul pada&#xD;
pasien seksio sesaria atas indikasi panggul sempit atau disproporsi sefalopelvik baik&#xD;
yang diseksio secara elektif maupun emergensi di RSUP. H. Adam Malik Medan dan&#xD;
RSUD. Dr. Pirngadi Medan sejak bulan Juni 2011 yang memenuhi kriteria inklusi&#xD;
dan eksklusi.. Hubungan antara ukuran panjang telapak kaki dan tinggi badan ibu&#xD;
dengan ukuran pelvimetri radiologi pintu atas panggulnya dianalisa dengan&#xD;
computer.&#xD;
Hasil : Dari penelitian ini didapatkan bahwa dari 42 subjek penelitian, kebanyakan&#xD;
memiliki konjugata vera &lt;10 cm yang dikategorikan sebagai panggul sempit yaitu&#xD;
sebesar 61,9%. Rerata tinggi badan dan panjang telapak kaki pada panggul sempit&#xD;
adalah berturut-turut 148,81 cm dan 21.48 cm. Dengan menggunakan uji Fisher&#xD;
didapatkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tinggi badan dan ukuran&#xD;
panjang telapak kaki dengan kesempitan pintu atas panggul (p&gt;0,05) namun&#xD;
didapatkan proporsi panggul sempit yang lebih besar pada kelompok wanita dengan&#xD;
tinggi badan ≤ 150 cm dan ukuran panjang telapak kaki &lt; 22 cm berturut-turut 61%&#xD;
dan 55,5%&#xD;
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ukuran panjang&#xD;
telapak kaki dan tinggi badan dengan kesempitan pintu atas panggul berdasarkan&#xD;
pelvimetri radiologis namun proporsi panggul sempit lebih besar pada wanita dengan&#xD;
tinggi badan ≤ 150 cm dan ukuran panjang telapak kaki &lt; 22 cm</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kejadian Infeksi Klamidia Trakomatis Di Serviks Dan Tuba Pada Pasien Kehamilan Ektopik Terganggu Di RSUP. H. Adam Malik Medan Dan RS. JEJARING FK-USU”</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35135" />
    <author>
      <name>Saputra, Hendry Adi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35135</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:24Z</updated>
    <published>2013-02-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Saputra, Hendry Adi
Advisors: Siregar, Henry Salim; Siregar, M. Fidel Ganis
Abstract: Background : Chlamydia Trachomatis is one of the most common causative agents of sexual transmitting diseases (STD) world wide, and is probably one of the most frequent occuring diseases in USA. Approximately 4 million cases of chlamydia trachomatis are confronted anually. In 1994, a substantial amount of expences was reported in USA due to untreated cases of chlamydia trachomatis infections. Chlamydia trachomatis is a intracellular obligat microorganisme containing  cellular membranes similar to negative gram bacterias. Like gonorrhea, chlamydia trachomatis spreads through the urogenital tract from either the cervix or urethra, taking on an ascending course, causing  a number of serious sequeles especially in females, due to the ascending nature of chlamydia trachomatis infections that results in bacterial colonization in the endometrium and fallopian tube mucose. Clinical symptoms of female pelvic inflamatory disease are frequently asymptomatic. Subclinical chlamydia trachomatis infections on the upper genital tract often emerge due inadequate detetection and early medication, resulting in both acute and chronic infection that would eventually cause ectopic pregancies and inferility. In the past two decades, the insidence of ectopic pregancies has increased substantially in most developing countries. Approximateley 98% of ectopic pregancies occur in the fallopian tube, where severel studies have suggested that chlamydia trachomatis infections causes tubal pregnancies in 7-30% of these cases.&#xD;
&#xD;
Objective : To determine the insidence of cervical and tubal chlamydia trachomatis infections by means of polymerase chain reaction (PCR) assay methods, together with the charecteristics of disturbed ectopic pregnancies based on marital age; education; number of sexual partners; history of contraceptive agent use, abortions, pelciv/genital tract infections, and previous surgical procedures and it's association with both cervical and tubal Chlamydia Trachomatis infections in patients diagnosed with disturbed ectopic pregancies at Haji Adam Malik General Hospital, Medan and Network Hospital Medicine Faculty North Sumatera University. &#xD;
&#xD;
Design : This research is an observational study with a cross sectional approach conducted on chlamydia trachomatis patients diagnosed with disturbed ectopic pregnancies.&#xD;
&#xD;
Material and Methods :  This research was conducted between March 1st until September 30th, 2012  or until an amount of 25 subjects fulfilling the inclusion criteria or who have previously underwent a laparatomic or laparascopic surgical procedure (salphyngectomy/tuba extraction) were obtained. All the subjects involved were required to fill the following written permits: an informed consent, a questionnaire based on a history taking and gynecologic examination, followed by collecting cervical swab and tubal tissue samples in order to detect chlamydia trachomatis  by means of PCR assays.&#xD;
&#xD;
Result and Conclusion : Prevalence rates of cervical and tubal chlamydia trachomatis infected patients diagnosed with Ectopic Pregnancies reached 36% (9/25) and 12% (3/25), respectively. Even though these following results are considered statistically irrelevant, history taking and physical examinations concluded a tendency towards an increased risk of chlamydia trachomatis infections up to 64% in subjects married between 20-35 years old (16 patients out of 25 patients), reaching 72% in patients with confirmed history of leucorrhea (18 out of 25 patients), and 56% in subjects with a confirmed history of genital tract/pelvic infections (14 out of 25 patients).
Abstract (other language): Latar Belakang : Klamidia trakomatis merupakan salah satu penyebab penyakit menular seksual yang paling sering di dunia, dan mungkin merupakan penyakit menular seksual dengan prevalensi paling tinggi di Amerika Serikat. Lebih kurang 4 juta kasus infeksi klamidia trakomatis dijumpai setiap tahun. Pada tahun 1994 komplikasi yang disebabkan oleh infeksi klamidia trakomatis yang tidak diobati telah menelan biaya sangat besar di Amerika Seri¬kat.  Klamidia trakomatis adalah suatu mikroorganisme obligat intraseluler yang memiliki dinding sel yang sama dengan bakteri gram negatif. Seperti gonorrhea, penjalaran klamidia trakoma¬tis pada saluran urogenital dimulai dari serviks ataupun uretra ke atas, dan infeksi klamidia dapat menimbulkan "cacat" (sequelle) yang serius terutama pada perempuan, karena infeksi klamidia yang ascending dari saluran genitalia dapat menyebabkan kolonisasi bakteri di endometrium dan mukosa tuba falopii. Gejala klinis dari penyakit inflamasi panggul pada wanita sering bersifat asimptomatis. Bentuk sub-klinis dari infeksi klamidia trakomatis pada saluran genital bagian atas sering timbul dengan kurangnya pendeteksian dan pengobatan dini, dan perjalanan pe¬nyakitnya menimbulkan infeksi akut maupun kronis sehingga dapat menyebabkan kehamilan ektopik dan  infertilitas. &#xD;
Selama dua dekade terakhir insiden ke¬hamilan ektopik juga semakin bertambah  banyak di negara berkembang. Sebanyak 98% kehamilan ektopik adalaah kehamilan tuba, dan dari beberapa penelitian, infeksi klamidia trakomatis merupakan penyebab kehamilan tuba pada 7 – 30% kasus. &#xD;
&#xD;
Tujuan: Mengetahui kejadian infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba dengan menggunakan metode pemeriksaan Polymerase chain reaction (PCR), dan bersamaaan dengan itu dicoba untuk mengetahui karakteristik kehamilan ektopik terganggu berdasarkan usia menikah, pendidikan, jumlah pasangan seksual, kontrasepsi, riwayat keputihan, riwayat merokok, riwayat abortus, riwayat infeksi saluran kemih / panggul, serta riwayat operasi sebelumnya dan mengetahui hubungan infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba pada pasien kehamilan ektopik terganggu di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring FK-USU&#xD;
&#xD;
Desain: Penelitian ini merupakan studi observational dengan pendekatan cress sectional pada pasien infeksi klamidia trakomatis dengan kehamilan ektopik terganggu. &#xD;
&#xD;
Bahan dan Cara : Penelitian ini memiliki dilakukan dari tanggal 1 Maret 2012 hinngga 30 September 2012 atau sampai jumlah sampel terpenuhi terhadap 25 subyek penelitian yang memenuhi criteria inklusi dan menjalani operasi laparatomi (salpingektomi / pengangkataan tuba) atau laparaskopi di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring FK-USU. Semua subyek penelitian mengisi formulir persetujuan, melakukan pengisian kuesioner berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologis, kemudian dilakukan pengambilan swab serviks dan sampel jaringan tuba untuk dilakukan deteksi infeksi klamidia trakomatis dengan menggunakan PCR.&#xD;
&#xD;
Hasil dan Kesimpulan : Didapatkan angka kejadian infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba pada pasien kehamilan ektopik terganggu adalah 36% (9/25) dan 12% (3/25). Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat dating, didapatkan kecenderungan peningkatan risiko infeksi klamidia trakomatis pada  rentang usia menikah antara 20 – 35 tahun sekitar 64% (16 penderita dari total sampel 25 penderita), adanya riwayat keputihan sekitar 72% (18 penderita dari total sampel 25 penderita), dan adanya riwayat infeksi saluran kemih / panggul sekitar 56% (14 penderita dari total sampel 25 penderita).  Walaupun secara statistik didapatkan tidak bermakna.</summary>
    <dc:date>2013-02-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Saputra, Hendry Adi</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang : Klamidia trakomatis merupakan salah satu penyebab penyakit menular seksual yang paling sering di dunia, dan mungkin merupakan penyakit menular seksual dengan prevalensi paling tinggi di Amerika Serikat. Lebih kurang 4 juta kasus infeksi klamidia trakomatis dijumpai setiap tahun. Pada tahun 1994 komplikasi yang disebabkan oleh infeksi klamidia trakomatis yang tidak diobati telah menelan biaya sangat besar di Amerika Seri¬kat.  Klamidia trakomatis adalah suatu mikroorganisme obligat intraseluler yang memiliki dinding sel yang sama dengan bakteri gram negatif. Seperti gonorrhea, penjalaran klamidia trakoma¬tis pada saluran urogenital dimulai dari serviks ataupun uretra ke atas, dan infeksi klamidia dapat menimbulkan "cacat" (sequelle) yang serius terutama pada perempuan, karena infeksi klamidia yang ascending dari saluran genitalia dapat menyebabkan kolonisasi bakteri di endometrium dan mukosa tuba falopii. Gejala klinis dari penyakit inflamasi panggul pada wanita sering bersifat asimptomatis. Bentuk sub-klinis dari infeksi klamidia trakomatis pada saluran genital bagian atas sering timbul dengan kurangnya pendeteksian dan pengobatan dini, dan perjalanan pe¬nyakitnya menimbulkan infeksi akut maupun kronis sehingga dapat menyebabkan kehamilan ektopik dan  infertilitas. &#xD;
Selama dua dekade terakhir insiden ke¬hamilan ektopik juga semakin bertambah  banyak di negara berkembang. Sebanyak 98% kehamilan ektopik adalaah kehamilan tuba, dan dari beberapa penelitian, infeksi klamidia trakomatis merupakan penyebab kehamilan tuba pada 7 – 30% kasus. &#xD;
&#xD;
Tujuan: Mengetahui kejadian infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba dengan menggunakan metode pemeriksaan Polymerase chain reaction (PCR), dan bersamaaan dengan itu dicoba untuk mengetahui karakteristik kehamilan ektopik terganggu berdasarkan usia menikah, pendidikan, jumlah pasangan seksual, kontrasepsi, riwayat keputihan, riwayat merokok, riwayat abortus, riwayat infeksi saluran kemih / panggul, serta riwayat operasi sebelumnya dan mengetahui hubungan infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba pada pasien kehamilan ektopik terganggu di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring FK-USU&#xD;
&#xD;
Desain: Penelitian ini merupakan studi observational dengan pendekatan cress sectional pada pasien infeksi klamidia trakomatis dengan kehamilan ektopik terganggu. &#xD;
&#xD;
Bahan dan Cara : Penelitian ini memiliki dilakukan dari tanggal 1 Maret 2012 hinngga 30 September 2012 atau sampai jumlah sampel terpenuhi terhadap 25 subyek penelitian yang memenuhi criteria inklusi dan menjalani operasi laparatomi (salpingektomi / pengangkataan tuba) atau laparaskopi di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring FK-USU. Semua subyek penelitian mengisi formulir persetujuan, melakukan pengisian kuesioner berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologis, kemudian dilakukan pengambilan swab serviks dan sampel jaringan tuba untuk dilakukan deteksi infeksi klamidia trakomatis dengan menggunakan PCR.&#xD;
&#xD;
Hasil dan Kesimpulan : Didapatkan angka kejadian infeksi klamidia trakomatis di serviks dan tuba pada pasien kehamilan ektopik terganggu adalah 36% (9/25) dan 12% (3/25). Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat dating, didapatkan kecenderungan peningkatan risiko infeksi klamidia trakomatis pada  rentang usia menikah antara 20 – 35 tahun sekitar 64% (16 penderita dari total sampel 25 penderita), adanya riwayat keputihan sekitar 72% (18 penderita dari total sampel 25 penderita), dan adanya riwayat infeksi saluran kemih / panggul sekitar 56% (14 penderita dari total sampel 25 penderita).  Walaupun secara statistik didapatkan tidak bermakna.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Retinopati Diabteik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode Juli 2011 – Juni 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35134" />
    <author>
      <name>Fitriani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35134</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:21Z</updated>
    <published>2013-02-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fitriani
Advisors: Sihotang, Aslim D
Abstract (other language): Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Prevalensi diabetes melitus untuk Indonesia cukup besar menurut RIKESDAS; sebesar 14,7% populasi dikawasan urban terancam DM. Jika di proyeksikan, sebanyak 8,2 juta penduduk di urban dan 5,5 juta penduduk rural area Indonesia mengalami diabetes yang artinya akan terjadi penambahan jumlah penderita retinopati diabetik yang signifikan (JEC, 2011).</summary>
    <dc:date>2013-02-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fitriani</dc:creator>
    <dc:description>Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Prevalensi diabetes melitus untuk Indonesia cukup besar menurut RIKESDAS; sebesar 14,7% populasi dikawasan urban terancam DM. Jika di proyeksikan, sebanyak 8,2 juta penduduk di urban dan 5,5 juta penduduk rural area Indonesia mengalami diabetes yang artinya akan terjadi penambahan jumlah penderita retinopati diabetik yang signifikan (JEC, 2011).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Kadar Zinc Plasma pada Penderita Kandidiasis Vulvovaginalis Rekuren di RSUP Haji Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35132" />
    <author>
      <name>Paramita, Deryne Anggia</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35132</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:20Z</updated>
    <published>2013-02-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Paramita, Deryne Anggia
Advisors: Hutapea, Richard; Nadeak, Kristina
Abstract (other language): Latar belakang : Kandidiasis vulvovaginal rekuren (KVVR) adalah episode KVV  4 kali atau lebih dalam 12 bulan, beberapa faktor patogenik eksogen dan tuan rumah yang diketahui berhubungan dengan KVVR antara lain, hormon seks, kontrasepsi, obesitas, respon imun selular termasuk didalam nya dipengaruhi oleh zinc&#xD;
Tujuan  : Untuk mengetahui perbedaan antara kadar zinc plasma penderita kandidiasis vulvovaginalis rekuren dengan kontrol sehat&#xD;
Subyek dan metode : Penelitian bersifat cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Agustus– September 2012, melibatkan 30 orang penderita KVVR dan 30 orang kontrol sehat. Setiap subyek penelitian dilakukan pemeriksaan pulasan vagina dan diambil darah untuk mengukur kadar zinc, hasil kemudian di bandingkan&#xD;
Hasil : Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai rerata kadar zinc plasma pada kelompok kasus (22,85 цg/L) lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (22,96 цg/L). Namun perbedaan tersebut ternyata tidak bermakna secara statistik (p = 0,270).&#xD;
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan zinc plasma antara penderita kandidiasis vulvovaginalis rekuren dengan kontrol sehat</summary>
    <dc:date>2013-02-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Paramita, Deryne Anggia</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Kandidiasis vulvovaginal rekuren (KVVR) adalah episode KVV  4 kali atau lebih dalam 12 bulan, beberapa faktor patogenik eksogen dan tuan rumah yang diketahui berhubungan dengan KVVR antara lain, hormon seks, kontrasepsi, obesitas, respon imun selular termasuk didalam nya dipengaruhi oleh zinc&#xD;
Tujuan  : Untuk mengetahui perbedaan antara kadar zinc plasma penderita kandidiasis vulvovaginalis rekuren dengan kontrol sehat&#xD;
Subyek dan metode : Penelitian bersifat cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Agustus– September 2012, melibatkan 30 orang penderita KVVR dan 30 orang kontrol sehat. Setiap subyek penelitian dilakukan pemeriksaan pulasan vagina dan diambil darah untuk mengukur kadar zinc, hasil kemudian di bandingkan&#xD;
Hasil : Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai rerata kadar zinc plasma pada kelompok kasus (22,85 цg/L) lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (22,96 цg/L). Namun perbedaan tersebut ternyata tidak bermakna secara statistik (p = 0,270).&#xD;
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan zinc plasma antara penderita kandidiasis vulvovaginalis rekuren dengan kontrol sehat</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Imunoekspresi Ki-67 Pada Tumor Payudara Tikus Wistar Yang Diinokulasi Tumor Terinduksi Benzo(Α)Pyrene Dan Diberikan Ekstrak Daun Sirsak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35054" />
    <author>
      <name>Sitorus, Mega Sari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35054</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:06Z</updated>
    <published>2013-01-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitorus, Mega Sari
Advisors: Lukito, Joko S; Ilyas, Syafruddin
Abstract: Background: Increased cell population as result of proliferation increasing or&#xD;
decreased of death or differentiation cell. Tumors, mainly cancers which has higher&#xD;
proliferation activity, show prognostic factor and tumor aggressiveness.&#xD;
Annonaceous acetogenins(ACGs) which are the active agent of soursop leaves have&#xD;
a potential cytotoxic (antitumor) effect through inhibiting work on NADHubiqiunone&#xD;
oxidireductase (NADH-dehydrogenase or complex I). The purpose of&#xD;
this research to explore the impact of soursop leaves extract (anonna muricata)&#xD;
against tumor growth based on Ki-67 immunoexpression.&#xD;
Methods: This study used Wistar rats inoculated cancer, were divided into five&#xD;
groups C1, T1, C2, T2 and T3.T1 and T2 group was given soursop extract with&#xD;
dose of 2mg/day and T3 with dose of 4 mg/day. Meanwhile C1 and C2 group only&#xD;
feed by standart diet. The mass from rat is incised and prepared to slide&#xD;
histopathologic. Immunohistochemical with Ki-67 were performed.&#xD;
Result: There is significance expression within five groups with Kruskal-Wallis&#xD;
test p=0,02 (P&lt;0,05). Mean–Whitnet test between C1 and T1 showed there is a&#xD;
significance difference expression with p=0,04 (p&lt;0,05). There is also a&#xD;
significance difference Ki-67 expression in C2 and T2 group p=0,017 (P&lt;0,05).&#xD;
Conclusion: Soursop leaves at 2 mg/day and 4 mg/day doses can be used to inhibit&#xD;
tumour growth.
Abstract (other language): Latar Belakang: Meningkatnya jumlah sel dalam populasi tertentu dapat terjadi&#xD;
karena peningkatan proliferasi ataupun karena penurunan kematian atau&#xD;
diferensiasi sel. Proliferasi yang tinggi pada suatu tumor, khususnya kanker dapat&#xD;
menunjukkan prognosis dan agresifitas tumor. Bahan aktif daun sirsak yaitu&#xD;
Annonaceous acetogenins(ACGs) diteliti memiliki sifat sitotoksik (antitumor)&#xD;
akibat inhibisi kerja NADH-ubiqiunone oxidireductase (NADH-dehydrogenase&#xD;
atau complex I). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eskstrak daun&#xD;
sirsak terhadap pertumbuhan tumor yang dinilai berdasarkan imunoekspresi Ki-67.&#xD;
Metode: Penelitian ini menggunakan tikus Wistar yang telah diinokulasikan&#xD;
kanker, dan dibagi dalam 5 kelompok, yaitu C1, T1, C2, T2 dan T3. Kelompok&#xD;
T1dan T2 diberikan ekstrak daun sirsak 2 mg/hr, dan kelompok T3 dengan dosis 4&#xD;
mg/hr. Sedangkan kelompok C1 dan C2 merupakan kelompok kontrol, hanya&#xD;
diberikan diet standar. Tumor yang tumbuh diambil, dibuat sediaan HE dan dipulas&#xD;
dengan pulasan imunohistokimia Ki-67.&#xD;
Hasil: Dengan uji Kruskal-Wallis didapati perbedaan bermakna antara kelima&#xD;
kelompok yaitu p=0,02 (P&lt;0,05). Dilanjutkan dengan uji Mean-Whitney antara&#xD;
C1 dan T1 didapati perbedaan bermakna imunoekspresi dengan p=0,04 (P&lt;0,05).&#xD;
Terdapat perbedaan bermakna imunoekspresi Ki-67 pada kelompok C2 dan T2&#xD;
yaitu p=0,017 (P&lt;0,05).&#xD;
Kesimpulan: Daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan tumor dosis 2 mg/hari&#xD;
dan 4 mg/hari.</summary>
    <dc:date>2013-01-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitorus, Mega Sari</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang: Meningkatnya jumlah sel dalam populasi tertentu dapat terjadi&#xD;
karena peningkatan proliferasi ataupun karena penurunan kematian atau&#xD;
diferensiasi sel. Proliferasi yang tinggi pada suatu tumor, khususnya kanker dapat&#xD;
menunjukkan prognosis dan agresifitas tumor. Bahan aktif daun sirsak yaitu&#xD;
Annonaceous acetogenins(ACGs) diteliti memiliki sifat sitotoksik (antitumor)&#xD;
akibat inhibisi kerja NADH-ubiqiunone oxidireductase (NADH-dehydrogenase&#xD;
atau complex I). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eskstrak daun&#xD;
sirsak terhadap pertumbuhan tumor yang dinilai berdasarkan imunoekspresi Ki-67.&#xD;
Metode: Penelitian ini menggunakan tikus Wistar yang telah diinokulasikan&#xD;
kanker, dan dibagi dalam 5 kelompok, yaitu C1, T1, C2, T2 dan T3. Kelompok&#xD;
T1dan T2 diberikan ekstrak daun sirsak 2 mg/hr, dan kelompok T3 dengan dosis 4&#xD;
mg/hr. Sedangkan kelompok C1 dan C2 merupakan kelompok kontrol, hanya&#xD;
diberikan diet standar. Tumor yang tumbuh diambil, dibuat sediaan HE dan dipulas&#xD;
dengan pulasan imunohistokimia Ki-67.&#xD;
Hasil: Dengan uji Kruskal-Wallis didapati perbedaan bermakna antara kelima&#xD;
kelompok yaitu p=0,02 (P&lt;0,05). Dilanjutkan dengan uji Mean-Whitney antara&#xD;
C1 dan T1 didapati perbedaan bermakna imunoekspresi dengan p=0,04 (P&lt;0,05).&#xD;
Terdapat perbedaan bermakna imunoekspresi Ki-67 pada kelompok C2 dan T2&#xD;
yaitu p=0,017 (P&lt;0,05).&#xD;
Kesimpulan: Daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan tumor dosis 2 mg/hari&#xD;
dan 4 mg/hari.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Kejadian Astigmatisma  Pasca Operasi Katarak Dengan Menggunakan Tehnik Fakoemulsifikasi Dan Small Incision Cataract Surgery</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35045" />
    <author>
      <name>Marlinda, Sri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35045</id>
    <updated>2013-03-16T20:13:38Z</updated>
    <published>2013-01-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Marlinda, Sri
Advisors: Delfi; Siregar, Nurchaliza H
Abstract: Backgraund	: 	Astigmatism change after cataract surgery is common, but if the astigmatism is too high it can effect the visual acuity. The astigmatism change depends on the incision methods, sclera rigidity, and age &#xD;
&#xD;
Objective	:	To compare the astigmatism change between scleral on the SICS and clearcorneal incision methods on facoemulsification after cataract surgery and intraocular lens implantation.&#xD;
&#xD;
Method	:	Sixty patients after cataract surgery with IOL implantation were evaluated. Keratometry examination was perfomed pre operative, 2 weeks, 4 weeks, 6 weeks, and 8 weeks post operative. 30 patients were performed scleral incision, and 30 patients were performed clearcorneal incision. All of them was not sutured.&#xD;
&#xD;
Research Results	:	The clearcorneal incision induced astigmatism were 0.5-1.22 D, while the sclera was 0.6 – 1.10 D. The mean of the facoemulsification group 2 week post operative was 2,403±1,258 D; 4 weeks was 2,056±0,658 D; 6 weeks was 1,513±0,477 D; and 8 weeks post op was 1,101±0,425 D, while the astigmatism of the SICS group 2 week post operative was 2,020±1,203 D; 4 weeks was 2,072±0,698 D; 6 weeks was 1,687±0,623 D; and 8 weeks post op was 1,354±0,827 D, There is no statistical significant difference between the clearcorneal incision and sclera incision&#xD;
&#xD;
Conclusion	: 	The mean astigmatism 2 weeks, 4 weeks, 6 weeks and 8 weeks after operation was decreased in both methods of incisions. Despite no statistical significant difference, the mean astigmatism was lower clearcorneal incison method
Abstract (other language): Pendahuluan	:	Astigmatisma pasca bedah katarak biasa terjadi, tetapi astigmatisma yang tinggi dapat mengganggu tajam penglihatan. Besarnya astigmat tergantung pada metode insisi yang dipakai, rigiditas sklera, dan umur.&#xD;
&#xD;
Tujuan 	: 	Membandingkan perubahan astigmatisma pasca bedah katarak dengan metode insisi skleral pada SICS dan insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi dengan pemasangan lensa intraokuler&#xD;
&#xD;
Metode	:	Enam puluh pasien pasca bedah katarak dengan pemasangan lensa intraokuler sejak bulan April sampai Juni 2012, dievaluasi dalam penelitian ini, pemeriksaan keratometri dilakukan sebelum bedah katarak, 2 minggu pasca bedah, 4 minggu pasca bedah, 6 minggu pasca bedah dan 8 minggu pasca bedah. 30 pasien menjalani bedah katarak dengan cara insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi, sedang 30 pasien menjalani bedah katarak dengan irisan skleral dengan metode SICS. Pada keduanya tidak dilakukan penjahitan.&#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian	:	Pada metode irisan clearcornea, astigmat yang terjadi antara 0.5-1.22 D, sedangkan irisan skleral antara 0.6 – 1.10 D. Rerata astigmatisme pada  kelompok fakoemulsifikasi 2 minggu pasca operasi adalah 2,403±1,258 D, 4 minggu adalah 2,056±0,658 D, 6 minggu adalah 1,513±0,477 D, dan 8 minggu adalah 1,101±0,425 D. Rerata astigmatisme kelompok SICS  2 minggu pasca operasi adalah 2,020±1,203 D, 4 minggu adalah 2,072±0,698 D, 6 minggu adalah 1,687±0,623 D , dan 8 minggu pasca bedah adalah 1,354±0,827 D. Berdasarkan analisa statistic, tidak ada perbedaan bermakna antara rerata astigmatisma kelompok irisan clearcorneal dan skleral.&#xD;
	 &#xD;
Kesimpulan	: 	Terdapat penurunan rerata keratometri 2 minggu pasca operasi, 4 minggu pasca operasi, 6 minggu pasca operasi dan 8 minggu pasca operasi baik pada metode irisan clearcorneal pada fakoemulsifikasi maupun irisan skleral pada SICS. Walaupun secara statistik tidak berbeda bermakna, namun rerata astigmatisme lebih rendah pada metode irisan clearcorneal</summary>
    <dc:date>2013-01-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Marlinda, Sri</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan	:	Astigmatisma pasca bedah katarak biasa terjadi, tetapi astigmatisma yang tinggi dapat mengganggu tajam penglihatan. Besarnya astigmat tergantung pada metode insisi yang dipakai, rigiditas sklera, dan umur.&#xD;
&#xD;
Tujuan 	: 	Membandingkan perubahan astigmatisma pasca bedah katarak dengan metode insisi skleral pada SICS dan insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi dengan pemasangan lensa intraokuler&#xD;
&#xD;
Metode	:	Enam puluh pasien pasca bedah katarak dengan pemasangan lensa intraokuler sejak bulan April sampai Juni 2012, dievaluasi dalam penelitian ini, pemeriksaan keratometri dilakukan sebelum bedah katarak, 2 minggu pasca bedah, 4 minggu pasca bedah, 6 minggu pasca bedah dan 8 minggu pasca bedah. 30 pasien menjalani bedah katarak dengan cara insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi, sedang 30 pasien menjalani bedah katarak dengan irisan skleral dengan metode SICS. Pada keduanya tidak dilakukan penjahitan.&#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian	:	Pada metode irisan clearcornea, astigmat yang terjadi antara 0.5-1.22 D, sedangkan irisan skleral antara 0.6 – 1.10 D. Rerata astigmatisme pada  kelompok fakoemulsifikasi 2 minggu pasca operasi adalah 2,403±1,258 D, 4 minggu adalah 2,056±0,658 D, 6 minggu adalah 1,513±0,477 D, dan 8 minggu adalah 1,101±0,425 D. Rerata astigmatisme kelompok SICS  2 minggu pasca operasi adalah 2,020±1,203 D, 4 minggu adalah 2,072±0,698 D, 6 minggu adalah 1,687±0,623 D , dan 8 minggu pasca bedah adalah 1,354±0,827 D. Berdasarkan analisa statistic, tidak ada perbedaan bermakna antara rerata astigmatisma kelompok irisan clearcorneal dan skleral.&#xD;
	 &#xD;
Kesimpulan	: 	Terdapat penurunan rerata keratometri 2 minggu pasca operasi, 4 minggu pasca operasi, 6 minggu pasca operasi dan 8 minggu pasca operasi baik pada metode irisan clearcorneal pada fakoemulsifikasi maupun irisan skleral pada SICS. Walaupun secara statistik tidak berbeda bermakna, namun rerata astigmatisme lebih rendah pada metode irisan clearcorneal</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor Prognostik Yang Mempengaruhi &#xD;
Mortalitas Dan Morbiditas Pasien Sindroma Koroner Akut Periode Januari 2011 – Desember 2011 Di RSUP. H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34964" />
    <author>
      <name>Simanjuntak, Mutiara Margaretha</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34964</id>
    <updated>2013-03-16T20:12:18Z</updated>
    <published>2013-01-07T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanjuntak, Mutiara Margaretha
Advisors: Siregar, A. Afif; Hutajulu, Nora C.
Abstract (other language): Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di negara maju dan diperkirakan akan terjadi di negara berkembang pada tahun 2020 (Tunstall dkk,1994). Diantaranya, penyakit jantung koroner (PJK) merupakan manifestasi terbesar dan dikaitkan dengan penyebab utama angka kematian serta morbiditas yang tinggi. Gambaran klinis PJK termasuk iskemia tanpa gejala, angina pektoris stabil, angina tidak stabil, infark miokard, gagal jantung dan kematian mendadak. Pasien dengan keluhan nyeri dada mewakili jumlah pasien terbanyak dari seluruh perawatan medis akut di Eropa (PERKI,2012). Nyeri dada angina merupakan manifestasi klinis dari aterosklerosis koroner. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 6 juta pasien setiap tahunnya datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri dada. Sekitar 335.000 orang meninggal dalam setahun oleh karena PJK di unit gawat darurat atau sebelum tiba di rumah sakit. Banyak pasien yang meminta pertolongan dari dokter keluarga untuk memberikan terapi namun seringkali terlambat (Katz dkk, 2006).</summary>
    <dc:date>2013-01-07T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanjuntak, Mutiara Margaretha</dc:creator>
    <dc:description>Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di negara maju dan diperkirakan akan terjadi di negara berkembang pada tahun 2020 (Tunstall dkk,1994). Diantaranya, penyakit jantung koroner (PJK) merupakan manifestasi terbesar dan dikaitkan dengan penyebab utama angka kematian serta morbiditas yang tinggi. Gambaran klinis PJK termasuk iskemia tanpa gejala, angina pektoris stabil, angina tidak stabil, infark miokard, gagal jantung dan kematian mendadak. Pasien dengan keluhan nyeri dada mewakili jumlah pasien terbanyak dari seluruh perawatan medis akut di Eropa (PERKI,2012). Nyeri dada angina merupakan manifestasi klinis dari aterosklerosis koroner. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 6 juta pasien setiap tahunnya datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri dada. Sekitar 335.000 orang meninggal dalam setahun oleh karena PJK di unit gawat darurat atau sebelum tiba di rumah sakit. Banyak pasien yang meminta pertolongan dari dokter keluarga untuk memberikan terapi namun seringkali terlambat (Katz dkk, 2006).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Lama Terpapar Dan Jarak Monitor       Komputer Terhadap Gejala Computer Vision Syndrome Pada Pegawai Negeri Sipil Di Kantor Pemerintah Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34860" />
    <author>
      <name>Zubaidah, T Siti Harilza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34860</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:00Z</updated>
    <published>2012-12-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zubaidah, T Siti Harilza
Advisors: Pulungan, Pinto Y; Arma, Abdul Jalil Amri
Abstract: Introduction 	The computer forms one of the most important technological invention in the 20th century. Almost all the work can be accomplished using the computer. The needs for the computers is rapidly increasing during the years. Along with this more and more time is spent by computer users for their daily tasks. Without realising this will cause suffering of the computer users due to facing the computers for hours. A number of research has shown that there is an effect of computer use period on the severity of the dry eye syndrome, but it is not stated clearly which method of computer use will cause the effect, as well as the effect of distance to the eye of computer users that will give rise to it. Based on this, the author is interested to study whether there is any effect of computer use period and distance of the monitor to the eye on the symptom of computer vision syndrome.&#xD;
Method   The research uses the cross sectionsl design with 41 government employees as the respondents at a government office in Medan. Data were collected by anquettes using questionaire as the instrument, recording private data and 15 symptoms of computer vision syndrome. Data were analysed with the correlation test.&#xD;
Result	   Result showed highly significant correlation between the time period of computer use and the number of computer vision syndrome symptoms suffered by the employees ( r = 0,90 ). On the other hand a non significant correlation was found between the distance of the monitor from the eye and the severity of computer vision syndrome ( r = 0,18 ).&#xD;
Discussion	Based on this results, the employees of this ofice should be instructed to give rest to their eyes after using the computer for hours, eventhough there is still much work to be done. At least, this is an effort to minimize the symptom of computer vision syndrome, so that it will increase the working quality.
Abstract (other language): Pendahuluan   Komputer merupakan salah satu penemuan teknologi terpenting pada abad ke-20 ini. Hampir seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan komputer. Kebutuhan akan penggunaan komputer semakin marak dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan meningkatnya waktu yang diperlukan oleh para pengguna komputer didalam menyelesaikan pekerjaaan mereka sehari-hari. Tanpa disadari hal ini akan mengakibatkan keluhan para pengguna komputer dikarenakan mereka berhadapan langsung dengan komputer selama berjam jam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama terpapar dengan keparahan gejala sindroma mata kering tetapi tidak jelas dikatakan penggunaan komputer yang bagaimana yang bisa menimbulkan efek tersebut dan mengenai jarak komputer terhadap mata pengguna komputer yang seukuran apa yang dapat menyebabkan gejala kelelahan itu muncul. Atas latar belakang inilah, Penulis tertarik untuk meneliti guna mencari tahu apakah ada pengaruh lama terpapar dan jarak monitor komputer terhadap gejala computer vision syndrome. &#xD;
Metode   Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 41 orang Pegawai Negeri Sipil di salah satu kantor pemerintah kota Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pembagian angket  dengan instrumen kuesioner yang berisi data-data pribadi disertai 15 gejala computer vision syndrome. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi.&#xD;
Hasil   Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara lama terpapar komputer dengan jumlah gejala computer vision syndrome yang dialami para pegawai (r = 0,90). Sebaliknya tidak nyata dijumpai adanya hubungan antara jarak mnitor komputer dengan beratnya derajat keparahan computer vision syndrome (r = 0,18).&#xD;
Diskusi   Berdasarkan penelitian ini, perlu dilakukan sosialisasi ataupun pengarahan oleh kantor pemerintah kepada para pegawai yang bekerja di kantor tersebut untuk mengistirahatkan mata setelah menggunakan komputer selama berjam-jam meskipun banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Setidaknya hal ini penting sebagai upaya untuk meminimalisasi timbulnya gejala computer vision syndrome sehingga bisa meningkatkan kualitas kerja dari para pegawai yang  menggunakan komputer.</summary>
    <dc:date>2012-12-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zubaidah, T Siti Harilza</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan   Komputer merupakan salah satu penemuan teknologi terpenting pada abad ke-20 ini. Hampir seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan komputer. Kebutuhan akan penggunaan komputer semakin marak dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan meningkatnya waktu yang diperlukan oleh para pengguna komputer didalam menyelesaikan pekerjaaan mereka sehari-hari. Tanpa disadari hal ini akan mengakibatkan keluhan para pengguna komputer dikarenakan mereka berhadapan langsung dengan komputer selama berjam jam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama terpapar dengan keparahan gejala sindroma mata kering tetapi tidak jelas dikatakan penggunaan komputer yang bagaimana yang bisa menimbulkan efek tersebut dan mengenai jarak komputer terhadap mata pengguna komputer yang seukuran apa yang dapat menyebabkan gejala kelelahan itu muncul. Atas latar belakang inilah, Penulis tertarik untuk meneliti guna mencari tahu apakah ada pengaruh lama terpapar dan jarak monitor komputer terhadap gejala computer vision syndrome. &#xD;
Metode   Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 41 orang Pegawai Negeri Sipil di salah satu kantor pemerintah kota Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pembagian angket  dengan instrumen kuesioner yang berisi data-data pribadi disertai 15 gejala computer vision syndrome. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi.&#xD;
Hasil   Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara lama terpapar komputer dengan jumlah gejala computer vision syndrome yang dialami para pegawai (r = 0,90). Sebaliknya tidak nyata dijumpai adanya hubungan antara jarak mnitor komputer dengan beratnya derajat keparahan computer vision syndrome (r = 0,18).&#xD;
Diskusi   Berdasarkan penelitian ini, perlu dilakukan sosialisasi ataupun pengarahan oleh kantor pemerintah kepada para pegawai yang bekerja di kantor tersebut untuk mengistirahatkan mata setelah menggunakan komputer selama berjam-jam meskipun banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Setidaknya hal ini penting sebagai upaya untuk meminimalisasi timbulnya gejala computer vision syndrome sehingga bisa meningkatkan kualitas kerja dari para pegawai yang  menggunakan komputer.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kadar Procalcitonin sebagai marker dan hubungannya dengan derajat keparahan sepsis.</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34848" />
    <author>
      <name>Purba, Donald Boy P</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34848</id>
    <updated>2012-12-20T21:36:55Z</updated>
    <published>2012-12-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Purba, Donald Boy P
Advisors: Ginting, Yosia; Ginting, Franciscus
Abstract: Background : The mortality on sepsis is still high. It’s because of delayed ofthe treatment resulted from the diagnosis of sepsis estabilished more frequently  imprecise.  The inflammatory makers as c reactive protein and leucocyte apparently have high sensitivity and specifity where do contemn whereas blood culture  examination required so long time and the result of culture often negatively. Research on Procalcitonin (PCT) formering have important of the  role for the establishment  diagnosis of sepsis because it’s utilized as sepsis marker and in reference to severity sepsis’degree . &#xD;
&#xD;
Objective: To determine whether procalcitonin can be used as sepsis marker and  severity  of  sepsis.&#xD;
 &#xD;
Method : Patients were assigned as 2 groups, sepsis and without sepsis with their consisting of 21 samples respectively. In the sepsis subgroup separated as sepsis only (8 samples), severe sepsis (6 samples) and sepsis shock (7 samples). All of them were examined by procalcitonin, C reactive protein, blood culture and white blood cell count.&#xD;
 &#xD;
Result  : The fourty two of sample were examined (21 samples for sepsis and 21 samples for without sepsis). In the sepsis group were found rate of average PCT'S  and CRP rate 18,44±27,60 ng/ml and 64942,80±41199,36 mg/l, respectively. In without sepsis were found average PCT'S and CRP rate  1,33±1,50 ng/ml and 49214,28±38193,31 mg/l,respectively. The subgroup of  sepsis separated as  sepsis only ( 8 samples), severe sepsis ( 6 samples) and sepsis shock (7 samples) were found rate of average PCT’S 4,5±1,65, 6,34±0,74 and 44,72±36,41 ng/ml, respectively. &#xD;
A p value &lt;0,05 is considered statistically significant.&#xD;
&#xD;
Conclusion : The inflammatory marker of procalcitonin can be used as sepsis marker and determined severity of sepsis. This findings showed that PCT́́́́´S rate have  positively correlation with  severity of  sepsis.
Abstract (other language): Latar belakang : Angka kematian pada sepsis masih tinggi. Hal ini dikarenakan kerterlambatan dalam penatalaksanaan oleh karena penegakan diagnose sepsis sering tidak tepat.  Marker inflamasi seperti C-reactive protein dan leukosit ternyata memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah sedangkan pemeriksaan kultur membutuhkan waktu yang lama dan hasil yang didapatkan sering negative. Procalcitonin (PCT) pada penelitian-penelitian terdahulu memiliki peran yang penting dalam penegakan diagnose sepsis oleh karena dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berhubungan dengan derajat keparahan sepsis.&#xD;
&#xD;
Tujuan : Untuk mengetahui apakah Kadar Procalcitonin dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berhubungan dengan derajat keparahan sepsis. &#xD;
&#xD;
Metode : Pasien yang memenuhi kriteria dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu sepsis dan non sepsis dengan masing-masing terdiri dari 21 orang sampel. Khusus untuk kelompok sepsis dibagi lagi menjadi sepsis (8 sampel), sepsis berat (6 sampel) dan syok sepsis (7 sampel). Kemudian dilakukan pemeriksaan kadar Procalcitonin, C-reactive protein, kultur  dan darah lengkap. &#xD;
&#xD;
Hasil : Terdapat 42 sampel yang diperiksa (21 sepsis dan 21 non sepsis). Dari kelompok sepsis secara keseluruhan didapatkan rerata kadar PCT dan CRP masing-masing 18,44±27,60 ng/ml  dan 64942,80±41199,36 mg/l. Kelompok non sepsis didapatkan rerata kadar PCT dan CRP 1,33±1,50 ng/ml dan 49214,28±38193,31 mg/l secara berurutan. Pasien sepsis yang terbagi atas sepsis ( 8 orang), sepsis berat  ( 6 orang) dan syok sepsis (7 orang) didapatkan rata-rata PCT 4,5±1,65 , 6,34±0,74 dan 44,72±36,41 ng/ml secara berurutan. Hal ini bermakna secara statistik, p&lt;0,05.&#xD;
Kesimpulan : Kadar Procalcitonin dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berkorelasi positif  dengan derajat keparahan sepsis.</summary>
    <dc:date>2012-12-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Purba, Donald Boy P</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Angka kematian pada sepsis masih tinggi. Hal ini dikarenakan kerterlambatan dalam penatalaksanaan oleh karena penegakan diagnose sepsis sering tidak tepat.  Marker inflamasi seperti C-reactive protein dan leukosit ternyata memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah sedangkan pemeriksaan kultur membutuhkan waktu yang lama dan hasil yang didapatkan sering negative. Procalcitonin (PCT) pada penelitian-penelitian terdahulu memiliki peran yang penting dalam penegakan diagnose sepsis oleh karena dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berhubungan dengan derajat keparahan sepsis.&#xD;
&#xD;
Tujuan : Untuk mengetahui apakah Kadar Procalcitonin dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berhubungan dengan derajat keparahan sepsis. &#xD;
&#xD;
Metode : Pasien yang memenuhi kriteria dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu sepsis dan non sepsis dengan masing-masing terdiri dari 21 orang sampel. Khusus untuk kelompok sepsis dibagi lagi menjadi sepsis (8 sampel), sepsis berat (6 sampel) dan syok sepsis (7 sampel). Kemudian dilakukan pemeriksaan kadar Procalcitonin, C-reactive protein, kultur  dan darah lengkap. &#xD;
&#xD;
Hasil : Terdapat 42 sampel yang diperiksa (21 sepsis dan 21 non sepsis). Dari kelompok sepsis secara keseluruhan didapatkan rerata kadar PCT dan CRP masing-masing 18,44±27,60 ng/ml  dan 64942,80±41199,36 mg/l. Kelompok non sepsis didapatkan rerata kadar PCT dan CRP 1,33±1,50 ng/ml dan 49214,28±38193,31 mg/l secara berurutan. Pasien sepsis yang terbagi atas sepsis ( 8 orang), sepsis berat  ( 6 orang) dan syok sepsis (7 orang) didapatkan rata-rata PCT 4,5±1,65 , 6,34±0,74 dan 44,72±36,41 ng/ml secara berurutan. Hal ini bermakna secara statistik, p&lt;0,05.&#xD;
Kesimpulan : Kadar Procalcitonin dapat digunakan sebagai marker sepsis dan berkorelasi positif  dengan derajat keparahan sepsis.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara phase angle pada pemeriksaan bioelectrical impedance analysis dengan skor Child Pugh pada penderita sirosis hati.</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34756" />
    <author>
      <name>Meliala, Terang</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34756</id>
    <updated>2012-12-20T21:34:55Z</updated>
    <published>2012-12-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Meliala, Terang
Advisors: Zain, Lukman Hakim; Sembiring, Juwita
Abstract: Background:&#xD;
Malnutrition, commonly suffered by patients with liver cirrhosis, has impact on survival, quality of life and complication of cirrhosis. Assessment on the nutritional status in liver cirrhosis based on anthropometric measurement is not ideal and objective measurement like albumin serum is influenced by many factors. Examination by bioelectrical impedance analysis in chronic disease has been studied to assess the nutritional status and the phase angle as the prognostic parameters.&#xD;
Objectives:&#xD;
To determine the correlation between the phase angle and the Child Pugh score on patients with liver cirrhosis.&#xD;
Material and Methods:&#xD;
Observational study was conducted using the cross-sectional measurement method. Patients with liver cirrhosis were examined for the anthropometric measurement, blood examination, abdomen ulstrasound and the Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) as well. Nutritional status was assessed by BMI, albumin and BIA parameters. Then phase angle as one of the BIA parameters was correlated statistically with the Child Pugh score using the Pearson correlation.&#xD;
Results:&#xD;
Of the 33 subjects of research, malnutrition based on the albumin serum &lt;3.5 gr/dl was found on 25 patients (73.53%) with the percentage of Child Pugh A (3.68 ± 0.40 gr/dl) was only 25%, percentage of Child Pugh B (2.75 ± 0.52 gr/dl) was 82.26 % and 100% Child Pugh C (2.14 ± 0.4 gr/dl). The mean value of phase angle of Child Pugh A (6.53) was higher than those of Child Pugh B (5.24) and C (4.16) with a significant difference between Child Pugh A and C (p=0.003). On the Pearson correlation test, a significant negative correlation between the Child Pugh score and the phase angle value (r=0.522, p=0.002) was obtained. &#xD;
Conclusion:&#xD;
The lower the phase angle value is, the higher the Child Pugh score will be. The prevalence on the malnutrition is still high on outpatients or hospitalized patients with liver cirrhosis at H. Adam Malik hospital.
Abstract (other language): Latar Belakang&#xD;
Malnutrisi sering dijumpai pada pasien sirosis hati yang berdampak pada harapan hidup, kualitas hidup dan komplikasi sirosis. Penilaian status nutrisi pada sirosis hati dengan pengukuran antropometrik kurang ideal dan pengukuran objektif seperti albumin serum dipengaruhi banyak faktor. Pemeriksaan bioelectrical impedance analysis (BIA) telah diteliti pada penyakit kronik dalam menilai status nutrisi dan phase angle sebagai salah satu parameter prognosis. &#xD;
Tujuan :&#xD;
Untuk mengetahui hubungan antara phase angle dengan skor Child Pugh pada pasien penderita sirosis hati&#xD;
Bahan dan Cara :&#xD;
Penelitian observasional dengan metode pengukuran cross-sectional. Subjek dengan sirosis hati, dilakukan pengukuran antropometrik,  pemeriksaan darah dan ultrasonografi abdomen serta pemeriksaan bioelectrical impedance analysis. Status nutrisi dinilai dengan BMI, albumin dan parameter BIA. Phase angle sebagai salah satu parameter BIA kemudian dikorelasikan secara statistik dengan Skor Child Pugh dengan korelasi Pearson. &#xD;
Hasil : &#xD;
Dari 34 subjek penelitian dijumpai malnutrisi berdasarkan kadar albumin &lt;3.5 gr/dl sebanyak 25 pasien (73.53%) dengan klassifikasi Child Pugh A (3.68 ± 0.40 gr/dl) hanya 25%, Child Pugh B (2.75 ± 0.52 gr/dl) sebesar 82.36 % dan semua Child Pugh C  (2.14 ± 0.40 gr/dl). Rerata nilai phase angle Child Pugh A (6.53) lebih besar dari  B (5.24) dan  C (4.16) dengan perbedaan yang signifikan antara Child Pugh A dan C (p=0.003). Pada uji korelasi Pearson diperoleh hubungan negatif yang signifikan antara skor Child Pugh dengan nilai phase angle (r= 0.522, p= 0,002). &#xD;
Kesimpulan :&#xD;
Semakin rendah nilai phase angle maka semakin tinggi skor Child Pugh. Prevalensi malnutrisi masih tinggi pada pasien sirosis hati rawat jalan dan rawat inap RSUP. H. Adam Malik.</summary>
    <dc:date>2012-12-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Meliala, Terang</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang&#xD;
Malnutrisi sering dijumpai pada pasien sirosis hati yang berdampak pada harapan hidup, kualitas hidup dan komplikasi sirosis. Penilaian status nutrisi pada sirosis hati dengan pengukuran antropometrik kurang ideal dan pengukuran objektif seperti albumin serum dipengaruhi banyak faktor. Pemeriksaan bioelectrical impedance analysis (BIA) telah diteliti pada penyakit kronik dalam menilai status nutrisi dan phase angle sebagai salah satu parameter prognosis. &#xD;
Tujuan :&#xD;
Untuk mengetahui hubungan antara phase angle dengan skor Child Pugh pada pasien penderita sirosis hati&#xD;
Bahan dan Cara :&#xD;
Penelitian observasional dengan metode pengukuran cross-sectional. Subjek dengan sirosis hati, dilakukan pengukuran antropometrik,  pemeriksaan darah dan ultrasonografi abdomen serta pemeriksaan bioelectrical impedance analysis. Status nutrisi dinilai dengan BMI, albumin dan parameter BIA. Phase angle sebagai salah satu parameter BIA kemudian dikorelasikan secara statistik dengan Skor Child Pugh dengan korelasi Pearson. &#xD;
Hasil : &#xD;
Dari 34 subjek penelitian dijumpai malnutrisi berdasarkan kadar albumin &lt;3.5 gr/dl sebanyak 25 pasien (73.53%) dengan klassifikasi Child Pugh A (3.68 ± 0.40 gr/dl) hanya 25%, Child Pugh B (2.75 ± 0.52 gr/dl) sebesar 82.36 % dan semua Child Pugh C  (2.14 ± 0.40 gr/dl). Rerata nilai phase angle Child Pugh A (6.53) lebih besar dari  B (5.24) dan  C (4.16) dengan perbedaan yang signifikan antara Child Pugh A dan C (p=0.003). Pada uji korelasi Pearson diperoleh hubungan negatif yang signifikan antara skor Child Pugh dengan nilai phase angle (r= 0.522, p= 0,002). &#xD;
Kesimpulan :&#xD;
Semakin rendah nilai phase angle maka semakin tinggi skor Child Pugh. Prevalensi malnutrisi masih tinggi pada pasien sirosis hati rawat jalan dan rawat inap RSUP. H. Adam Malik.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi  Tumor  Orbita Di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2009 - 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34740" />
    <author>
      <name>Hidayat, Ruly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34740</id>
    <updated>2012-12-20T21:34:52Z</updated>
    <published>2012-12-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hidayat, Ruly
Advisors: Suratmin; Sihotang, Aslim. D
Abstract (other language): Pendahuluan : Tumor orbita adalah tumor yang terletak di rongga orbita. Tumor terdiri  dari primer, sekunder yang merupakan penyebaran dari struktur sekitarnya, atau metastase.  Angka kejadian tumor mata terhitung kecil yaitu hanya 1 % diantara penyakit keganasan lainnya.&#xD;
Tujuan Penelitian : Mengetahui angka tumor orbita di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2009 – 2011. &#xD;
&#xD;
Metode : Suatu penelitian  retrospektif yang bersifat non – eksperimental. Populasi penelitian sebanyak 213 kasus dan besar sampel adalah 64 kasus.&#xD;
Hasil Penelitian : Prevalensi tumor orbita dijumpai paling tinggi pada kelompok usia 15-30 tahun yaitu 31 orang dari 64 orang atau 48,4 %, tumor orbita banyak   diderita oleh perempuan yaitu 34 orang atau 53,1 % sedangkan laki-laki 30 orang atau 46,9 %, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya dalah suku batak berjumlah 29 orang (45,3 %), bahwa penderita tumor orbita banyak terdapat pada tingkat pendidikan sekolah dasar yaitu 19 orang ( 29,7 %), distribusi unilateral merupakan persentasi tertinggi sebanyak 60 orang (93,7 %), tumor sekunder adalah jenis tumor yang terbanyak yaitu 49 orang (76,6 %) dan tindakan ekstraksi tumor adalah tindakan operasi yang paling sering dilakukan yaitu 35 orang (54,7 %).&#xD;
Kesimpulan : Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap penderita tumor orbita.</summary>
    <dc:date>2012-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hidayat, Ruly</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan : Tumor orbita adalah tumor yang terletak di rongga orbita. Tumor terdiri  dari primer, sekunder yang merupakan penyebaran dari struktur sekitarnya, atau metastase.  Angka kejadian tumor mata terhitung kecil yaitu hanya 1 % diantara penyakit keganasan lainnya.&#xD;
Tujuan Penelitian : Mengetahui angka tumor orbita di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2009 – 2011. &#xD;
&#xD;
Metode : Suatu penelitian  retrospektif yang bersifat non – eksperimental. Populasi penelitian sebanyak 213 kasus dan besar sampel adalah 64 kasus.&#xD;
Hasil Penelitian : Prevalensi tumor orbita dijumpai paling tinggi pada kelompok usia 15-30 tahun yaitu 31 orang dari 64 orang atau 48,4 %, tumor orbita banyak   diderita oleh perempuan yaitu 34 orang atau 53,1 % sedangkan laki-laki 30 orang atau 46,9 %, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya dalah suku batak berjumlah 29 orang (45,3 %), bahwa penderita tumor orbita banyak terdapat pada tingkat pendidikan sekolah dasar yaitu 19 orang ( 29,7 %), distribusi unilateral merupakan persentasi tertinggi sebanyak 60 orang (93,7 %), tumor sekunder adalah jenis tumor yang terbanyak yaitu 49 orang (76,6 %) dan tindakan ekstraksi tumor adalah tindakan operasi yang paling sering dilakukan yaitu 35 orang (54,7 %).&#xD;
Kesimpulan : Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap penderita tumor orbita.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kadar Serum Laktat Sebelum Dan Sesudah EGDT Pada Pasien Peritonitis Difusa Yang Disertai Sepsis Berat Di Rumah Sakit Haji Adam Malik</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34725" />
    <author>
      <name>Tarigan, M. H. Martanta</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34725</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:53Z</updated>
    <published>2012-12-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tarigan, M. H. Martanta
Advisors: Asrul S
Abstract (other language): Kadar Serum Laktat Sebelum Dan Sesudah Egdt Pada Pasien Peritonitis Difusa Yang Disertai Sepsis Berat Di Rumah Sakit Haji Adam Malik</summary>
    <dc:date>2012-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tarigan, M. H. Martanta</dc:creator>
    <dc:description>Kadar Serum Laktat Sebelum Dan Sesudah Egdt Pada Pasien Peritonitis Difusa Yang Disertai Sepsis Berat Di Rumah Sakit Haji Adam Malik</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemeriksaan Imunohistokimia CD 10 Dibandingkan Dengan Pemeriksaan Mikroskopis Histopatologi Konvensional Dalam Menilai Jenis Kista Coklat Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34695" />
    <author>
      <name>Chrestella, Jessy</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34695</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:46Z</updated>
    <published>2012-12-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Chrestella, Jessy
Advisors: Soekimin; Lukito, Joko S.
Abstract: Background : Because endometriotic ovarian cysts and hemorrhagic corpus&#xD;
luteum cysts both contain blood products, they commonly have an&#xD;
overlapping appearance. Hence, it’s not uncommon to find&#xD;
discrepancies between clinical and pathological diagnosis, resulting in&#xD;
over or under treatment of the cysts. The purpose of this study were to&#xD;
investigate CD10 immunoreactivity compared to conventional routine&#xD;
histopathology in differentiating endometriotic cysts from hemorrhagic&#xD;
corpus luteum cysts.&#xD;
Methods : Formalin-fixed and paraffin-embedded tissues from 44&#xD;
hemorrhagic cysts of the ovary were included in this study. Among&#xD;
them are 22 cases of endometriotic cysts and another 22 cases of&#xD;
corpus luteum cysts. They were retrieved by hematoxylin-eosin&#xD;
examination in the initial pathologic diagnosis and were evaluated by&#xD;
immunohistocemistry with CD 10 antibody.&#xD;
Results : CD 10 immunohistochemistry were found to have improved&#xD;
diagnostic sensitivity for endometriosis in the ovary by 72,27% with&#xD;
specificity about 77,27% if compared to conventional routine&#xD;
histopathology findings in assessing chocolate cysts of the ovaries.&#xD;
Statistically, there are significant difference between them (p value =&#xD;
0,001).&#xD;
Conclusions : CD10 immunostaining may play a useful role in assessing&#xD;
the differential diagnosis between endometriotic ovarian cysts and&#xD;
hemorrhagic corpus luteum cysts.
Abstract (other language): Latar belakang : Dalam penegakan diagnosis histopatologi kista coklat atau&#xD;
endometriosis pada ovarium, tidak jarang ditemukan adanya&#xD;
diskrepansi antara klinis dengan patologi. Kista lutein berdarah yang&#xD;
secara klinis mirip dengan kista endometriosis juga sering disalah&#xD;
diagnosis sehingga penanganan kista-kista tersebut menjadi tidak&#xD;
optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan&#xD;
pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan histopatologi&#xD;
konvensional dalam membedakan kista endometriosis dengan kista&#xD;
lutein berdarah.&#xD;
Metode : Terhadap 44 kasus sediaan kista ovarium yang telah didiagnosis&#xD;
awal dengan pemeriksaan histopatologi konvensional H&amp;E, masingmasing&#xD;
22 spesimen kista endometriosis dan 22 kista lutein berdarah,&#xD;
dilakukan pemeriksaan imunohistokimia CD 10 untuk melihat adanya&#xD;
ekspresi positif pada sel-sel stroma endometrium.&#xD;
Hasil : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan&#xD;
pemeriksaan histopatologi konvensional untuk menilai kista&#xD;
endometriosis ovarium memiliki sensitivitas sebesar 72,27% dan&#xD;
spesifisitas sebesar 77,27%. Secara statistik terdapat perbedaan&#xD;
yang bermakna antara pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan&#xD;
histopatologi konvensional (p= 0,001).&#xD;
Kesimpulan : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 bermanfaat dalam&#xD;
penegakan diagnosis kista endometriosis yang akurat dan&#xD;
membedakannya dengan kista lutein berdarah.</summary>
    <dc:date>2012-12-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Chrestella, Jessy</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Dalam penegakan diagnosis histopatologi kista coklat atau&#xD;
endometriosis pada ovarium, tidak jarang ditemukan adanya&#xD;
diskrepansi antara klinis dengan patologi. Kista lutein berdarah yang&#xD;
secara klinis mirip dengan kista endometriosis juga sering disalah&#xD;
diagnosis sehingga penanganan kista-kista tersebut menjadi tidak&#xD;
optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan&#xD;
pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan histopatologi&#xD;
konvensional dalam membedakan kista endometriosis dengan kista&#xD;
lutein berdarah.&#xD;
Metode : Terhadap 44 kasus sediaan kista ovarium yang telah didiagnosis&#xD;
awal dengan pemeriksaan histopatologi konvensional H&amp;E, masingmasing&#xD;
22 spesimen kista endometriosis dan 22 kista lutein berdarah,&#xD;
dilakukan pemeriksaan imunohistokimia CD 10 untuk melihat adanya&#xD;
ekspresi positif pada sel-sel stroma endometrium.&#xD;
Hasil : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dibandingkan dengan&#xD;
pemeriksaan histopatologi konvensional untuk menilai kista&#xD;
endometriosis ovarium memiliki sensitivitas sebesar 72,27% dan&#xD;
spesifisitas sebesar 77,27%. Secara statistik terdapat perbedaan&#xD;
yang bermakna antara pemeriksaan imunohistokimia CD 10 dengan&#xD;
histopatologi konvensional (p= 0,001).&#xD;
Kesimpulan : Pemeriksaan imunohistokimia CD 10 bermanfaat dalam&#xD;
penegakan diagnosis kista endometriosis yang akurat dan&#xD;
membedakannya dengan kista lutein berdarah.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Infeksi Helicobacter pylori pada lesi gastritis yang didiagnosa dengan Pewarnaan Histokimia Giemsa dan Imunohistokimia Helicobacter pylori di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34694" />
    <author>
      <name>Betty</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34694</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:16Z</updated>
    <published>2012-12-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Betty
Advisors: Delyuzar; Soekimin
Abstract: Background: Infection by Helicobacter pylori has been established as the major cause&#xD;
of chronic gastritis, and is important in the pathogenesis of other gastroduodenal&#xD;
diseases such as peptic ulceration, gastric lymphoma, and gastric cancer.&#xD;
Methods: Histological sections from 42 gastric biopsies from patients were stained with&#xD;
the two stainning methods (histochemical Giemsa and anti-H pylori antibody&#xD;
immunostain or immunohistochemical H. pylori) and these were assessed blindly and&#xD;
independently by two observers.&#xD;
Results: The 42 cases recruited in this study were aged between 16 and 75 (mean age of&#xD;
51,05). There were 28 males and 14 females giving a male to female sex ratio of 2 : 1.&#xD;
Twenty cases of Helicobacter pylori were demonstrated by both techniques and ten&#xD;
cases are not identified by the two staining methods. Of the 42 cases, 12 cases&#xD;
histochemistry stain could not demonstrate the bacteria, but they were identified with&#xD;
anti-H pylori antibody immunostain. And the remaining 12 cases had result negative in&#xD;
histochemical Giemsa, but positive in immunohistochemical H. pylori stain.&#xD;
Interobserver agreement was the immunohistochemical H. pylori or antibody method&#xD;
(76,2%) better than Giemsa (47,6%). The sensitivity of the both staining methods was&#xD;
100%, while the specificity of immunohistochemistry H. pylori was 45,4%.&#xD;
Conclusions: When H pylori are present, careful examination will almost always reveal&#xD;
them, whichever of these stains is used. However, the Giemsa stain is the method of&#xD;
choice because it is sensitive, cheap and easy to perform.
Abstract (other language): Latar belakang: Infeksi Helicobacter pylori, sekarang dianggap sebagai penyebab&#xD;
utama gastritis antral aktif dan banyak penelitian yang menguhbungkan mikroba ini&#xD;
sebagai etiologi tukak duodenum dan kanker lambung.&#xD;
Metode: Sediaan histologi dari 42 biopsi lambung pasien diwarnai dengan dua metode&#xD;
pewarnaan (histokimia Giemsa dan anti-H pylori antibody immunostain /&#xD;
imunohistokimia H. pylori) dan dinilai secara „blinded‟dan secara terpisah oleh dua&#xD;
orang pemeriksa.&#xD;
Hasil: Ada 42 kasus yang dimasukkan dalam penelitian ini yang berumur anatara 16-75&#xD;
tahun (umur rata-rata 51,05). Dua puluh delapan diantaranya adalah laki-laki,&#xD;
sedangakan wanita 14 orang, dengan perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2 :&#xD;
1. Dua puluh kasus dengan Helicobacter pylori tertapil dengn kedua tehnik pewarnaan,&#xD;
dan sepuluh kasus tidak teridentifikasi pada kedua metode pewarnaan ini, baik dengan&#xD;
pewarnaan histokimia Giemsa, maupun anti-H pylori antibody immunostain or&#xD;
immunohistokimia H. pylori. Dari ke-42 kasus ini, 12 kasus diantaranya menunjukkan&#xD;
hasil yang negatif dengan pewarnaan histokimia Giemsa, namun pada pewarnaan&#xD;
immunohistokimia H. pylori menunjukkan hasil yang positif. Kedua pemeriksa&#xD;
menyetujui bahwa metode pewarnaan imunohistokimia H. pylori (76,2%) lebih baik&#xD;
dibandingkan pewarnaan histokimia Giemsa (47,6%). Sensitifitas dari kedua metode&#xD;
pewarnaan adalah 100%, sementara spesifisitas imunohistokimia H. pylori 45,4%.&#xD;
Kesimpulan: Bila dijumpai H pylori, pemeriksaan yang teliti hampir selalu&#xD;
menggunakan pewarnaan ini. Dan pewarnaan Giemsa merupakan metode yang dipilih&#xD;
karena sensitive, lebih muran dan mudah untuk dilakukan.</summary>
    <dc:date>2012-12-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Betty</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Infeksi Helicobacter pylori, sekarang dianggap sebagai penyebab&#xD;
utama gastritis antral aktif dan banyak penelitian yang menguhbungkan mikroba ini&#xD;
sebagai etiologi tukak duodenum dan kanker lambung.&#xD;
Metode: Sediaan histologi dari 42 biopsi lambung pasien diwarnai dengan dua metode&#xD;
pewarnaan (histokimia Giemsa dan anti-H pylori antibody immunostain /&#xD;
imunohistokimia H. pylori) dan dinilai secara „blinded‟dan secara terpisah oleh dua&#xD;
orang pemeriksa.&#xD;
Hasil: Ada 42 kasus yang dimasukkan dalam penelitian ini yang berumur anatara 16-75&#xD;
tahun (umur rata-rata 51,05). Dua puluh delapan diantaranya adalah laki-laki,&#xD;
sedangakan wanita 14 orang, dengan perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2 :&#xD;
1. Dua puluh kasus dengan Helicobacter pylori tertapil dengn kedua tehnik pewarnaan,&#xD;
dan sepuluh kasus tidak teridentifikasi pada kedua metode pewarnaan ini, baik dengan&#xD;
pewarnaan histokimia Giemsa, maupun anti-H pylori antibody immunostain or&#xD;
immunohistokimia H. pylori. Dari ke-42 kasus ini, 12 kasus diantaranya menunjukkan&#xD;
hasil yang negatif dengan pewarnaan histokimia Giemsa, namun pada pewarnaan&#xD;
immunohistokimia H. pylori menunjukkan hasil yang positif. Kedua pemeriksa&#xD;
menyetujui bahwa metode pewarnaan imunohistokimia H. pylori (76,2%) lebih baik&#xD;
dibandingkan pewarnaan histokimia Giemsa (47,6%). Sensitifitas dari kedua metode&#xD;
pewarnaan adalah 100%, sementara spesifisitas imunohistokimia H. pylori 45,4%.&#xD;
Kesimpulan: Bila dijumpai H pylori, pemeriksaan yang teliti hampir selalu&#xD;
menggunakan pewarnaan ini. Dan pewarnaan Giemsa merupakan metode yang dipilih&#xD;
karena sensitive, lebih muran dan mudah untuk dilakukan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan penggunaan kontrasepsi oral dengan timbulnya penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34681" />
    <author>
      <name>Abdullah, Mars Nashrah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34681</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:23Z</updated>
    <published>2012-12-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Abdullah, Mars Nashrah
Advisors: Salim, Muhammad; Deliana, Melda
Abstract: Background Congenital heart disease (CHD) represent some of the more prevalent malformations among live births and remain the leading cause of death from congenital malformations. Conotruncal anomalies comprise a diverse group of congenital heart defects involving the outflow tracts of the heart and the great vessels. Oral contraceptive exposure before pregnancy is one of the risk factor for conotruncal type CHD.&#xD;
&#xD;
Objective To evaluate the effect of hormonal exposure due to oral contraceptive before pregnancy in the risk of conotruncal type CHD to the child.&#xD;
&#xD;
Methods A case control study was conducted from July 2010 until July 2011 in Haji Adam Malik Hospital. Subjects with congenital heart defect were divided into two groups. Conotruncal type CHD as case group and non conotruncal type as control. Both of groups with or without history of oral contraceptive use before pregnancy. Parents were interviewed using a questionnaire. All statistical analyses were assessed using Chi Square test, Student t test and Mann Whitney test.&#xD;
&#xD;
Results A total of 80 subjects were eligible, 40 subjects in each group. Exposure to oral contraceptive among conotruncal and non conotruncal type CHD were 62% and 60%, respectively (OR 0.82; 95% CI 0.33 to 1.98). The duration of oral contraceptive before pregnancy was 19.1 month for cases and 18.8 for controls (P=0.87).&#xD;
&#xD;
Conclusions Oral contraceptive exposure before pregnancy does not appear to increase the risk of conotruncal type CHD.
Abstract (other language): Latar Belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) memberikan beberapa gambaran kelainan pada bayi dan merupakan penyebab kematian yang sering terjadi diantara malformasi kongenital. Kelainan konotrunkal adalah bagian PJB yang meliputi masalah outflow tract dan pembuluh darah besar. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.&#xD;
Tujuan. Untuk menilai efek paparan hormonal kontrasepsi oral sebelum kehamilan terhadap timbulnya risiko PJB tipe konotunkal. &#xD;
Metode. Studi case control dilakukan mulai Juli 2010 sampai Juli 2011 di RSUP H. Adam Malik. Sampel diambil secara randomisasi dan dibagi ke dalam dua kelompok. Penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal sebagai kelompok kasus dan tipe non konotrunkal sebagai kontrol. Kedua kelompok mempunyai ibu dengan atau tanpa riwayat menggunakan kontrasepsi oral sebelum kehamilan. Orang tua mengisi kuisioner dan juga diwawancarai. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square, t test independent, dan uji Mann Whitney.&#xD;
Hasil. Besar sampel sebanyak 80 orang dengan 40 orang tiap kelompok. Paparan kontrasepsi oral pada tipe konotrunkal diketahui sebanyak 62% dan 60% pada kelompok non konotrunkal,dengan OR 0.82; IK 95% 0.33 - 1.98. Lama penggunaan kontrasepsi oral sebelum kehamilan adalah 19.1 bulan pada kelompok kasus dan 18.8 bulan pada kontrol (P=0.87).&#xD;
Kesimpulan. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan tidak meningkatkan risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.</summary>
    <dc:date>2012-12-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Abdullah, Mars Nashrah</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) memberikan beberapa gambaran kelainan pada bayi dan merupakan penyebab kematian yang sering terjadi diantara malformasi kongenital. Kelainan konotrunkal adalah bagian PJB yang meliputi masalah outflow tract dan pembuluh darah besar. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.&#xD;
Tujuan. Untuk menilai efek paparan hormonal kontrasepsi oral sebelum kehamilan terhadap timbulnya risiko PJB tipe konotunkal. &#xD;
Metode. Studi case control dilakukan mulai Juli 2010 sampai Juli 2011 di RSUP H. Adam Malik. Sampel diambil secara randomisasi dan dibagi ke dalam dua kelompok. Penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal sebagai kelompok kasus dan tipe non konotrunkal sebagai kontrol. Kedua kelompok mempunyai ibu dengan atau tanpa riwayat menggunakan kontrasepsi oral sebelum kehamilan. Orang tua mengisi kuisioner dan juga diwawancarai. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square, t test independent, dan uji Mann Whitney.&#xD;
Hasil. Besar sampel sebanyak 80 orang dengan 40 orang tiap kelompok. Paparan kontrasepsi oral pada tipe konotrunkal diketahui sebanyak 62% dan 60% pada kelompok non konotrunkal,dengan OR 0.82; IK 95% 0.33 - 1.98. Lama penggunaan kontrasepsi oral sebelum kehamilan adalah 19.1 bulan pada kelompok kasus dan 18.8 bulan pada kontrol (P=0.87).&#xD;
Kesimpulan. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan tidak meningkatkan risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Terapi Hemodialisis Reguler Terhadap Kejadian Hipertensi Pulmonal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34554" />
    <author>
      <name>Susilo, Theresia</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34554</id>
    <updated>2012-12-20T21:31:09Z</updated>
    <published>2012-11-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Susilo, Theresia
Advisors: Hasan, Refli; Safri, Zainal; Lubis, Abdurrahim Rasyid
Abstract: Introduction :&#xD;
End stage renal disease (ESRD) on regular haemodialysis (HD) has some cardiovascular complications, one of them is pulmonal hypertension (PHT) with mortality rate 30.8%. There are several factors affecting PHT in this group of patient, including arteriovenous fistula, cardiac output increase, anaemia, etc.  PHT is an independent predictor of mortality in ESRD patients.&#xD;
Aim :&#xD;
The aim of this study were to evaluate the influence of regular HD therapy and the  relation of regular HD duration with the incidence of PHT.&#xD;
Methods :&#xD;
This was a quasi experimental study in 30 patients with Chronic Kidney Disease (CKD) stage 5 regular HD and 30 patients with CKD stage 5 conservative (non HD). The first group was divided base on HD of duration (HD ≤12 month and &gt;12 month). PHT was measured by Echocardiography Doppler by a single operator. Statistical analysis by using SPSS 11.5.&#xD;
Results :&#xD;
From 30 subjects in group HD, 14 patients (46.67%) were men with mean of age 47.83±10.93 years old within subgroup HD ≤12 month, there were 3 men (37.5%) with mean of age 51.37±10.65 years old and subgroup &gt;12 month, there were 11 men (50%) with mean of age 46.54±10.98 years old, while in conservative group, there were 17 men (56.67%) with  mean of age 51.33±10.36 years old in.           We found 5 subjects (62.5%) in ≤12 month subgroup with increase level of pulmonary arterial pressure (PAP) &gt;35mmHg, 21 subjects (95.4%) in &gt;12month subgroup, and there is no increase in PAP level in conservative group. HD group have a higher level of pulmonary artery systolic pressure (PASP) compare to conservative group. PHT in patient with regular HD was found in 26 subjects (86.67%), but no PHT in non HD group. The incidence number of PHT on regular HD more than 12 months was significantly higher (p=0.019). There was no relation between anaemia with PHT (p=0.466).&#xD;
Conclusion :&#xD;
It can be concluded that there was an influence of regular HD therapy in incidence of PHT and the high incidence of PHT especially occurs in patient on regular HD &gt;12 month.
Abstract (other language): Pendahuluan&#xD;
Penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) yang menjalani hemodialisis (HD) reguler memiliki beberapa komplikasi kardiovaskular, salah satunya adalah hipertensi pulmonal (HTP) dengan angka mortalitas 30.8%. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya HTP pada kelompok ini, misalnya penggunaan arteriovenous fistula, peningkatan cardiac output, anemia, dll. HTP merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pasien PGTA.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengevaluasi pengaruh terapi HD reguler dan hubungan lamanya HD reguler dengan kejadian HTP.&#xD;
Metode&#xD;
Penelitian dilakukan dengan kuasi ekperimental terhadap 30 pasien penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5-D reguler dan 30 pasien PGK stadium 5 yang konservatif (non-HD). Grup PGK stadium 5-D reguler dibagi berdasarkan durasi HD, yaitu subgrup HD ≤12bulan dan HD &gt;12bulan. HTP ditegakkan dengan ekokardiografi doppler oleh satu orang pemeriksa.        &#xD;
Hasil&#xD;
Dari 30 subjek pada grup HD, 14 orang (46,67%) adalah laki-laki dengan rerata usia 47.83±10.93 tahun dimana pada subgrup HD ≤12 bulan didapatkan 3        laki-laki (37.5%) dengan rerata usia 51.37±10.65 tahun dan pada grup HD &gt;12 bulan didapatkan 11 laki-laki (50%) dengan rerata usia 46.54±10.98 tahun sedangkan pada grup konservatif didapatkan 17 laki-laki (56.67%) dengan rerata usia 51.33±10.36 tahun. Subgrup HD ≤12 bulan didapatkan 5 orang (62.5%) yang memiliki tekanan arteri pulmonalis (TAP) &gt;35mmHg, pada subgroup &gt;12 bulan didapatkan 21 orang (95.4%) dan tidak dijumpai peningkatan TAP pada grup konservatif. Pada grup HD memiliki nilai pulmonary artery systolic pressure (PASP) yang lebih tinggi dibandingkan pada grup konservatif (p=0.0001). HTP pada HD reguler ditemukan pada 26 pasien (86.67%), pada PGK non HD tidak ditemukan adanya HTP. Angka kejadian HTP pada yang menjalani HD reguler &gt;12 bulan signifikan lebih tinggi (p= 0.019). Tidak ditemukan adanya hubungan antara anemia dengan hipertensi pulmonal (p=0.466).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Disimpulkan bahwa adanya pengaruh HD reguler terhadap kejadian HTP dan tingginya kejadian HTP pada pasien yang menjalani HD reguler lebih &gt;12 bulan.</summary>
    <dc:date>2012-11-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Susilo, Theresia</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan&#xD;
Penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) yang menjalani hemodialisis (HD) reguler memiliki beberapa komplikasi kardiovaskular, salah satunya adalah hipertensi pulmonal (HTP) dengan angka mortalitas 30.8%. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya HTP pada kelompok ini, misalnya penggunaan arteriovenous fistula, peningkatan cardiac output, anemia, dll. HTP merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pasien PGTA.&#xD;
Tujuan&#xD;
Untuk mengevaluasi pengaruh terapi HD reguler dan hubungan lamanya HD reguler dengan kejadian HTP.&#xD;
Metode&#xD;
Penelitian dilakukan dengan kuasi ekperimental terhadap 30 pasien penyakit ginjal kronik (PGK) stadium 5-D reguler dan 30 pasien PGK stadium 5 yang konservatif (non-HD). Grup PGK stadium 5-D reguler dibagi berdasarkan durasi HD, yaitu subgrup HD ≤12bulan dan HD &gt;12bulan. HTP ditegakkan dengan ekokardiografi doppler oleh satu orang pemeriksa.        &#xD;
Hasil&#xD;
Dari 30 subjek pada grup HD, 14 orang (46,67%) adalah laki-laki dengan rerata usia 47.83±10.93 tahun dimana pada subgrup HD ≤12 bulan didapatkan 3        laki-laki (37.5%) dengan rerata usia 51.37±10.65 tahun dan pada grup HD &gt;12 bulan didapatkan 11 laki-laki (50%) dengan rerata usia 46.54±10.98 tahun sedangkan pada grup konservatif didapatkan 17 laki-laki (56.67%) dengan rerata usia 51.33±10.36 tahun. Subgrup HD ≤12 bulan didapatkan 5 orang (62.5%) yang memiliki tekanan arteri pulmonalis (TAP) &gt;35mmHg, pada subgroup &gt;12 bulan didapatkan 21 orang (95.4%) dan tidak dijumpai peningkatan TAP pada grup konservatif. Pada grup HD memiliki nilai pulmonary artery systolic pressure (PASP) yang lebih tinggi dibandingkan pada grup konservatif (p=0.0001). HTP pada HD reguler ditemukan pada 26 pasien (86.67%), pada PGK non HD tidak ditemukan adanya HTP. Angka kejadian HTP pada yang menjalani HD reguler &gt;12 bulan signifikan lebih tinggi (p= 0.019). Tidak ditemukan adanya hubungan antara anemia dengan hipertensi pulmonal (p=0.466).&#xD;
Kesimpulan&#xD;
Disimpulkan bahwa adanya pengaruh HD reguler terhadap kejadian HTP dan tingginya kejadian HTP pada pasien yang menjalani HD reguler lebih &gt;12 bulan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tampilan imunohistokimia p63 pada lesi jinak dan ganas prostat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34403" />
    <author>
      <name>Laksmi, Lidya Imelda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34403</id>
    <updated>2012-12-20T21:28:10Z</updated>
    <published>2012-11-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Laksmi, Lidya Imelda
Advisors: Lukito, Joko S.; Soekimin
Abstract: Examination p63 Imunohistochemistry use when some pathologist may not feel comfortable&#xD;
to diagnose as prostate carcinoma, even thought the serology PSA (prostate specific antigen)&#xD;
have higher level as a suspicion of prostate carcinoma. A serum PSA level greater then 4&#xD;
ng/mL is consider abnormal condition.&#xD;
The aim of this research is to prove the elevation of PSA serum can make determine benign&#xD;
and malignant prostate lesions include histopathology examination (H and E staining) and&#xD;
next step examination with imunohistochemistry p63, references said that elevated serum&#xD;
PSA lacks sensitivity and specificity for diagnose prostat carcinoma.&#xD;
This reseach give us information that PSA serum can not determine malignant process,&#xD;
because some nonmalignant condition also increase the serum PSA level, and this condition&#xD;
can make prove with immunohistochemistry p63 examination.Some nonmalignant condition,&#xD;
example: benign prostate hyperplasia (BPH), inflammation, infarction, instrumentation, and&#xD;
ejaculation, also increase the serum PSA level.
Abstract (other language): Pemeriksaan imunohistokimia p63 digunakan pada kasus karsinoma prostat yang meragukan,&#xD;
dengan hasil pemeriksaan serum PSA (prostate specific antigen) yang mendukung untuk&#xD;
diagnosa keganasan prostat. Serum PSA lebih dari 4 ng/mL merupakan suatu keadaan yang&#xD;
abnormal.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan peningkatan serum PSAdalam menentukan&#xD;
lesi jinak dan ganas prostat, yang dibuktikan dari hasil pemeriksaan histoptologi rutin dengan&#xD;
pewarnaan H dan E (Hematoksilin-Eosin) dan dilanjutkan dengan pewarnaan&#xD;
imunohistokimia p63, mengingat dibeberapa literatur menyatakan bahwaserum PSA kurang&#xD;
sensitif dan spesifik untuk menentukan keganasan prostat.&#xD;
Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa dari hasil pemeriksaan serum PSA belum&#xD;
dapat menentukan suatu proses keganasan dikarenakan pada beberapa kasus dengan PSA&#xD;
yang tinggi dijumpai sebagai suatu lesi yang jinak dan keadaan ini dibuktikan dengan&#xD;
pemeriksaan imunohistokimia p63. Keadaan ini disebabkan karena pada beberapa kasus non&#xD;
malignansi dapat dijumpai peningkatan PSA, seperti: benign prostatic hyperplasia (BPH),&#xD;
inflamasi, infark, instrumentation dan ejakulasi.</summary>
    <dc:date>2012-11-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Laksmi, Lidya Imelda</dc:creator>
    <dc:description>Pemeriksaan imunohistokimia p63 digunakan pada kasus karsinoma prostat yang meragukan,&#xD;
dengan hasil pemeriksaan serum PSA (prostate specific antigen) yang mendukung untuk&#xD;
diagnosa keganasan prostat. Serum PSA lebih dari 4 ng/mL merupakan suatu keadaan yang&#xD;
abnormal.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan peningkatan serum PSAdalam menentukan&#xD;
lesi jinak dan ganas prostat, yang dibuktikan dari hasil pemeriksaan histoptologi rutin dengan&#xD;
pewarnaan H dan E (Hematoksilin-Eosin) dan dilanjutkan dengan pewarnaan&#xD;
imunohistokimia p63, mengingat dibeberapa literatur menyatakan bahwaserum PSA kurang&#xD;
sensitif dan spesifik untuk menentukan keganasan prostat.&#xD;
Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa dari hasil pemeriksaan serum PSA belum&#xD;
dapat menentukan suatu proses keganasan dikarenakan pada beberapa kasus dengan PSA&#xD;
yang tinggi dijumpai sebagai suatu lesi yang jinak dan keadaan ini dibuktikan dengan&#xD;
pemeriksaan imunohistokimia p63. Keadaan ini disebabkan karena pada beberapa kasus non&#xD;
malignansi dapat dijumpai peningkatan PSA, seperti: benign prostatic hyperplasia (BPH),&#xD;
inflamasi, infark, instrumentation dan ejakulasi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemeriksaan Imunohistokimia CD 20 pada Kasus-kasus Limfoma di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34402" />
    <author>
      <name>Delyuzar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34402</id>
    <updated>2012-12-20T21:27:50Z</updated>
    <published>2012-11-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Delyuzar
Advisors: Lukito, Joko S.; Soekimin
Abstract: Advances in immunology and molecular biology led to the discovery is important in&#xD;
determining the origin and function of lymphocytes. This situation led to a change in the&#xD;
concept of naming and classification of lymphoma. For the diagnosis of Hodgkin's lymphoma&#xD;
classification is no longer enough to just see the picture of the cells due to differences in&#xD;
lymphocyte populations in morphology, but requires special techniques such as molecular and&#xD;
cytogenetic pathology. Immunophenotype diagnosis is important in making therapeutic target.&#xD;
The purpose of this study was to obtain data on the characteristics of patients with&#xD;
lymphoma and histopathologic description and types of lymphoma by WHO classification with&#xD;
immunohistochemical examination of CD 20 in the department of Pathology Installation&#xD;
H.Adam Malik Medan/Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan in 2011.&#xD;
This is a descriptive study with patients with lymphoma who presented data&#xD;
histopathologic examination, followed by immunohistochemical examination of CD 20 in the&#xD;
department of Pathology Installation H.Adam Malik / FK USU Medan from January to&#xD;
December in 2011.&#xD;
The results show Sex Lymphoma is the most patient man: 9 people (56.25%), the&#xD;
highest age group is over 50 years old (43.75%), diagnosis most patients are: Non-Hodgkin's&#xD;
Lymphoma 15: 16 = 93, 75%,. Examination IHC CD 20 +, 12 patients were classified as B-cell&#xD;
Lilmfoma for CD 20 positive (75%), 1 case of precursor B cells but CD 20 negative results and Bcell&#xD;
lymphoma that is not in 3 cases ( 18.75%). Found in CD 20 positive immunohistochemical&#xD;
examination: Burkitt's Lymphoma in 2 patients (12.5%), Diffus large B cell lymphoma in 3&#xD;
patients (18.75%), Follicular Lymphoma also in 3 patients (18.75%), Mantle cell Lymphoma 2&#xD;
cases (12.5%), MALT Lymphoma 1 case (6.25%). Hodgkin lymphoma was found in 1 case with&#xD;
CD 20 + (6.25%). CD Case 20 - each 1 case (6.25%), Anaplastic large B cell Lymphoma and&#xD;
Lymphoblastic Lymphoma (precursor B ALL/lymphoma), 2 cases were found in Peripheral T-cell&#xD;
lymphoma (12.5%).
Abstract (other language): Kemajuan dalam immunologi dan biologi molekuler menghasilkan penemuan&#xD;
penting dalam menentukan asal dan fungsi limfosit. Keadaan ini menyebabkan&#xD;
terjadinya perubahan konsep dalam penamaan dan klasifikasi limfoma. Untuk diagnosis&#xD;
limfoma klasifikasi limfoma tidak cukup lagi dengan hanya melihat gambaran sel&#xD;
karena perbedaan populasi limfosit secara morfologi , tetapi membutuhkan teknik&#xD;
khusus seperti patologi molekuler dan sitogenetik. Diagnosis immunophenotype penting&#xD;
dalam melakukan terapi target.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang karakteristik&#xD;
penderita limfoma dan gambaran histopatologi dan jenis limfoma berdasarkan&#xD;
klasifikasi WHO dengan pemeriksaan immunohistokimia CD 20 di Instalasi Patologi&#xD;
Anatomi RSUP H.Adam Malik/FK USU Medan di tahun 2011&#xD;
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan memaparkan data penderita limfoma&#xD;
yang dilakukan pemeriksaan histopatologi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan&#xD;
immunohistokimia CD 20 di Instalasi Patologi Anatomi RSUP H.Adam Malik/ FK USU&#xD;
Medan dari bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2011.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan Jenis kelamin terbanyak penderita Limfoma&#xD;
adalah laki-laki : 9 orang (56,25%), Kelompok umur terbanyak adalah diatas 50 tahun&#xD;
(43,75 %), Diagnosa penderita terbanyak adalah : Non Hodgkin Lymphoma 15 : 16 =&#xD;
93,75%. Pemeriksaan IHC CD 20 + , 12 pasien yang digolongkan sebagai Limfoma sel&#xD;
B karena CD 20 positif (75%) , 1 kasus precursor sel B tapi hasil CD 20 negatif dan&#xD;
limfoma yang bukan sel B 3 kasus (18,75%). Ditemukan pada pemeriksaan&#xD;
Immunohistokimia CD 20 positif : Burkitt Lymphoma pada 2 penderita (12,5%), Diffus&#xD;
large B cell lymphoma pada 3 penderita (18,75%), Follicular Lymphoma juga pada 3&#xD;
penderita (18,75%), Mantle cell Lymphoma 2 kasus (12,5%), MALT Lymphoma 1&#xD;
kasus (6,25%). Hodgkin Lymphoma didapatkan pada 1 kasus dengan CD 20 + (6,25%).&#xD;
Kasus CD 20- masing-masing 1 kasus (6,25%),Anaplastic large B cell Lymphoma dan&#xD;
Lymphoblastic Lymphoma (precursor B ALL/Lymphoma) , 2 kasus didapatkan pada&#xD;
Peripheral T-cell Lymphoma (12,5%).</summary>
    <dc:date>2012-11-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Delyuzar</dc:creator>
    <dc:description>Kemajuan dalam immunologi dan biologi molekuler menghasilkan penemuan&#xD;
penting dalam menentukan asal dan fungsi limfosit. Keadaan ini menyebabkan&#xD;
terjadinya perubahan konsep dalam penamaan dan klasifikasi limfoma. Untuk diagnosis&#xD;
limfoma klasifikasi limfoma tidak cukup lagi dengan hanya melihat gambaran sel&#xD;
karena perbedaan populasi limfosit secara morfologi , tetapi membutuhkan teknik&#xD;
khusus seperti patologi molekuler dan sitogenetik. Diagnosis immunophenotype penting&#xD;
dalam melakukan terapi target.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang karakteristik&#xD;
penderita limfoma dan gambaran histopatologi dan jenis limfoma berdasarkan&#xD;
klasifikasi WHO dengan pemeriksaan immunohistokimia CD 20 di Instalasi Patologi&#xD;
Anatomi RSUP H.Adam Malik/FK USU Medan di tahun 2011&#xD;
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan memaparkan data penderita limfoma&#xD;
yang dilakukan pemeriksaan histopatologi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan&#xD;
immunohistokimia CD 20 di Instalasi Patologi Anatomi RSUP H.Adam Malik/ FK USU&#xD;
Medan dari bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2011.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan Jenis kelamin terbanyak penderita Limfoma&#xD;
adalah laki-laki : 9 orang (56,25%), Kelompok umur terbanyak adalah diatas 50 tahun&#xD;
(43,75 %), Diagnosa penderita terbanyak adalah : Non Hodgkin Lymphoma 15 : 16 =&#xD;
93,75%. Pemeriksaan IHC CD 20 + , 12 pasien yang digolongkan sebagai Limfoma sel&#xD;
B karena CD 20 positif (75%) , 1 kasus precursor sel B tapi hasil CD 20 negatif dan&#xD;
limfoma yang bukan sel B 3 kasus (18,75%). Ditemukan pada pemeriksaan&#xD;
Immunohistokimia CD 20 positif : Burkitt Lymphoma pada 2 penderita (12,5%), Diffus&#xD;
large B cell lymphoma pada 3 penderita (18,75%), Follicular Lymphoma juga pada 3&#xD;
penderita (18,75%), Mantle cell Lymphoma 2 kasus (12,5%), MALT Lymphoma 1&#xD;
kasus (6,25%). Hodgkin Lymphoma didapatkan pada 1 kasus dengan CD 20 + (6,25%).&#xD;
Kasus CD 20- masing-masing 1 kasus (6,25%),Anaplastic large B cell Lymphoma dan&#xD;
Lymphoblastic Lymphoma (precursor B ALL/Lymphoma) , 2 kasus didapatkan pada&#xD;
Peripheral T-cell Lymphoma (12,5%).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prokalsitonin sebagai marker dalam menegakkan diagnosis sepsis pada neonatus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34387" />
    <author>
      <name>Nelly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34387</id>
    <updated>2012-12-20T21:28:10Z</updated>
    <published>2012-11-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nelly
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Hakimi
Abstract: Background Bacterial sepsis is the main cause of morbidity and mortality in neonates. Early diagnostic and appropriate treatment can reduce the mortality rate. Gold standard to diagnose bacterial sepsis is blood culture, but it needs 3-5 days for the results, but the disease may progress rapidly in neonates. Examination of procalcitonin is a quick and better method to diagnose sepsis bacterial in neonates. Some studies found that the sensitivity of procalcitonin is between 92%-100%&#xD;
&#xD;
Objective To determine whether procalcitonin can be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis&#xD;
&#xD;
Methods A cross sectional study was conducted in October 2011 to February 2012. Fourty three neonates suspected for bacterial sepsis in perinatology unit H. Adam Malik hospital underwent routine blood count, C-reactive protein, blood culture and procalcitonin. The samples were collected by consecutive sampling. We used diagnostic test in this study. All statistical analyses were conducted with computerized software. &#xD;
&#xD;
Results Of 43 neonates, thirty six neonates had bacterial sepsis based on blood culture. The procalcitonin sensitivity was 100%, specificity was 85.71%, positive predictive value was 97.29%  and negative predictive value was 100%, ROC curve showed cut off point 0.929 (95% CI 0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Conclusions Procalcitonin could be used as an early diagnostic tool of bacterial  neonatal sepsis.
Abstract (other language): Latar belakang Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan prokalsitonin merupakan cara yang cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas prokalsitonin sekitar 92%-100%. &#xD;
&#xD;
Tujuan Untuk menentukan bahwa pemeriksaan prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai Oktober 2012. 43 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan darah rutin, C-reactive protein, kultur darah dan pemeriksaan prokalsitonin. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling.  Analisa statistik dengan menggunakan program komputerisasi.&#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 43 neonatus, 36 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Prokalsitonin mempunyai sensitivitas 100%, spesifisitas 85.71%, positif predictive value 97.29% dan negative predictive value100%. Cut of point dengan kurva ROC 0.929 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan  Prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</summary>
    <dc:date>2012-11-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nelly</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan prokalsitonin merupakan cara yang cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas prokalsitonin sekitar 92%-100%. &#xD;
&#xD;
Tujuan Untuk menentukan bahwa pemeriksaan prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai Oktober 2012. 43 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan darah rutin, C-reactive protein, kultur darah dan pemeriksaan prokalsitonin. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling.  Analisa statistik dengan menggunakan program komputerisasi.&#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 43 neonatus, 36 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Prokalsitonin mempunyai sensitivitas 100%, spesifisitas 85.71%, positif predictive value 97.29% dan negative predictive value100%. Cut of point dengan kurva ROC 0.929 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan  Prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Status Nutrisi antara Anak dengan dan tanpa Infeksi Soil Transmitted Helminths</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34363" />
    <author>
      <name>Simarmata, Nelly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34363</id>
    <updated>2012-12-20T21:27:31Z</updated>
    <published>2012-11-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simarmata, Nelly
Advisors: Sembiring, Tiangsa; Ali, Muhammad
Abstract: Background. Soil Transmitted Helminthiasis (STH) are still public health problem in developing country. The prevalence is high mainly in rural population with low socioeconomic level. Soil transmitted helminths as a single or mixed infection rarely cause death but can affect nutrition, growth, cognitive development and human health.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional study was done on June 2010 in 3 schools in Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Faecal examination by Kato-Katz method was done to diagnose STH infection. We divided participants into two groups (positive and negative helminths). Data was collected with consecutive sampling. Classification of nutritional status determined by measurement of body weight and body height based on WHO NCHS CDC 2000. All statistical analyses were conducted with SPSS (Version 14.0 for Windows). All catagorical data were analyzed by using chi-square test. We also used chi-square test to assess the association between intensity of STH infection and nutritional status of STH infected children.&#xD;
&#xD;
Results. Two hundred and eighty children enrolled in this study (140 infected children and 140 uninfected children). Statistically, there was a significant association between nutritional status and STH infection.  We also found a significant difference between intensity of a single or mixed STH infection and nutritional status.&#xD;
&#xD;
Conclusions. There was a significant difference on nutritional status between STH infected and uninfected children. We also found a significant differences on intensity of STH infection and nutritional status.
Abstract (other language): Latar Belakang. Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang. Prevalensinya tinggi terutama pada daerah pedesaan dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Infeksi STH dapat tunggal ataupun campuran, dimana jarang menyebabkan kematian namun dapat mempengaruhi status nutrisi, pertumbuhan, perkembangan kognitif dan kesehatan.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Juni 2010 di 3 sekolah dasar di Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Pemeriksaan feses berupa metode Kato-Katz dilakukan untuk menegakkan diagnosis infeksi STH. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive yaitu 140 anak dengan infeksi STH dan 141 anak tanpa infeksi STH. Penentuan klasifikasi status nutrisi berdasarkan NCHS WHO CDC 2000. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan SPSS versi 14.0.  Untuk melihat hubungan antara infeksi STH dan status nutrisi digunakan uji chi-square. Uji chi-square ini juga digunakan untuk melihat hubungan antara derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak.&#xD;
&#xD;
Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH. Pada penilaian terhadap derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak, didapati bahwa derajat intensitas infeksi STH  baik yang tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak  &#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH.  Derajat intensitas infeksi STH  baik pada infeksi tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak.</summary>
    <dc:date>2012-11-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simarmata, Nelly</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang. Prevalensinya tinggi terutama pada daerah pedesaan dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Infeksi STH dapat tunggal ataupun campuran, dimana jarang menyebabkan kematian namun dapat mempengaruhi status nutrisi, pertumbuhan, perkembangan kognitif dan kesehatan.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Juni 2010 di 3 sekolah dasar di Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Pemeriksaan feses berupa metode Kato-Katz dilakukan untuk menegakkan diagnosis infeksi STH. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive yaitu 140 anak dengan infeksi STH dan 141 anak tanpa infeksi STH. Penentuan klasifikasi status nutrisi berdasarkan NCHS WHO CDC 2000. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan SPSS versi 14.0.  Untuk melihat hubungan antara infeksi STH dan status nutrisi digunakan uji chi-square. Uji chi-square ini juga digunakan untuk melihat hubungan antara derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak.&#xD;
&#xD;
Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH. Pada penilaian terhadap derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak, didapati bahwa derajat intensitas infeksi STH  baik yang tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak  &#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH.  Derajat intensitas infeksi STH  baik pada infeksi tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Keberhasilan Obat Kumur Ketamin dan Aspirin dalam Mencegah Nyeri Tenggorok dan Suara Serak Akibat Intubasi Endotrakeal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34304" />
    <author>
      <name>Kulsum</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34304</id>
    <updated>2012-12-20T21:26:45Z</updated>
    <published>2012-11-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kulsum
Advisors: Harto, Soejat; Solihat, Yutu
Abstract: Background. Post Operative Sore Throat (POST) and hoarseness are common complications of general anaesthesia with endotracheal intubation that affects patient satisfaction. Various non-pharmacological and pharmacological methods have been used to prevent these complications, but some have it own advantages and disadvantages. We compared the efficacy of ketamine gargle with aspirin gargle for prevention of POST and hoarseness after using endotracheal tube.&#xD;
Methods. We studied 84 patients 18 – 60 years old, ASA I or II, Mallampati Class I or II with endotracheal intubation supine position with the periode surgery 60 – 240 minutes. In double blind randomized, divided into two equalgroups. First group received 40 mg ketamine gargle in 30 ml normal saline and 300 mg aspirin gargle in 20 ml normal saline. Patients were asked to gargle during 30 seconds  before induction of anesthesia. Premedication using midazolam 0,05 mg/kgBB and fentanyl 2 ug/kg. Tracheal intubation was facilitated by rocuronium 1 mg/kgBB. Anesthesia was maintained with N2O : O2 = 2:2 and isofluran 1%. Evaluation of POST and hoarseness were done at 0, 2, 24 hours postoperative with Visual Analogue Score.&#xD;
Results. At the end of study 84 completed  the study. The withdrawal 8 patients. Incident sorethroat after endotracheal intubation ketamine group of found sorethroat 38,1%,  no sorethroat 61,9%. In the aspirin group found sorethroat 45,2%, no sorethroat 54,8% with a value of P&gt; 0,05  is not significantly different then the incidence of sorethroat in the two groups.  Incidence of hoarseness after endotracheal intubation ketamine group found 11,9%, no hoarseness 88,1%. In the aspirin group found hoarseness 21,4%, no hoarseness 78,6% with a value of P&gt; 0,05 is not significantly different then the incidence of hoarseness in the two groups. Ketamine group found no sorethroat and no hoarseness 59,5%, sorethroat and hoarseness 28,6%, not 2,4% sorethroat and hoarseness, sorethroat and hoarseness 9,5%. In the aspirin group found no sorethroat and no hoarseness 50%, sorethroat and hoarseness 28,6,%, not 4,8% sorethroat and hoarseness, sorethroat and hoarseness 6,3% of the value of P&gt;0,05 is not significantly different comparison sorethroat and hoarseness between two groups. &#xD;
Conclusions. There are no outcome differences between ketamine and aspirin in reducing pain in throat and hoarseness after endotracheal intubation.</summary>
    <dc:date>2012-11-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kulsum</dc:creator>
  </entry>
</feed>

