<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/489" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/489</id>
  <updated>2013-05-20T16:12:53Z</updated>
  <dc:date>2013-05-20T16:12:53Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Dukungan Suami&#xD;
Terhadap Tindakan Ibu Dalam Melakukan Pap Smear Di Kelurahan Sitirejo I&#xD;
Kecamatan Medan Kota Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37424" />
    <author>
      <name>Melisa, Lenni</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37424</id>
    <updated>2013-05-17T02:07:49Z</updated>
    <published>2013-05-17T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Melisa, Lenni
Advisors: Maas, Linda T
Abstract: Cervical cancer is a malignant tumour which grows in the cerviks. To detect&#xD;
the exixtence of the cervical cancer earlier is through pap smear examination. Pap&#xD;
smear will be implemented well with the husband supports.&#xD;
This study aimed to determine husband supports of mothers’s action for pap&#xD;
smear in Kelurahan Sitirejo I Kecamatan Medan Kota in 2012. This study was&#xD;
descriptive quantitative. The number of respondents in this study was 87 husbands of&#xD;
productive-age couples and selected through the sampling tehnique that was sistem&#xD;
random sampling. The data presented in tabular form the frequency distribution.&#xD;
The result of this study showed that the category of characteristics of the&#xD;
highest age was in the age 40-49 years (55,2%), the highest of education was&#xD;
bachelor (62,3%) and the highest of occupation was government employees. The&#xD;
knowledge of respondents was in moderate (80,5%), the perception of respondents&#xD;
was in good (56,3%) and the action of respondents was in lacking (56,3%).&#xD;
From the above results, suggested that is needed a health promotion about&#xD;
cervical cancer and pap smear for the husbands to improve their knowledge and also&#xD;
their actions for supporting pap smear examination
Abstract (other language): Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim.&#xD;
Dan untuk mengetahui kanker leher rahim secarad ini dapat dilakukan dengan&#xD;
pemeriksaan pap smear. Pap smear akan berjalan dengan baik dengan adanya&#xD;
dukungan dari suami.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dukungan suami terhadap tindakan&#xD;
ibu dalam melakukan pap smear di Kelurahan Sitirejo I Kecamatan Medan Kota&#xD;
tahun 2012. Penelitian bersifat deskriptif kuantitatif. Jumlah responden dalam&#xD;
penelitian ini adalah sebanyak 87 orang suami dari pasangan usia subur (PUS)&#xD;
dengan tehnik pengambilan sampel yaitu sistem random sampling. Penyajian data&#xD;
dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden yaitu umur&#xD;
tertinggi berada kelompok umur 40-49 tahun (55,2%) dan pendidikan tertinggi&#xD;
adalah S1. Pengetahuan berada pada kategori sedang (80,5%), persepsi berada&#xD;
pada kategori baik (56,3%) dan tindakan berada pada kategori kurang (56,3%).&#xD;
Dari penelitian di atas penulis menyarankan agar dilakukannya promosi&#xD;
kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan tindakan responden dalam&#xD;
mendukung ibu melakukan pap smear</summary>
    <dc:date>2013-05-17T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Melisa, Lenni</dc:creator>
    <dc:description>Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim.&#xD;
Dan untuk mengetahui kanker leher rahim secarad ini dapat dilakukan dengan&#xD;
pemeriksaan pap smear. Pap smear akan berjalan dengan baik dengan adanya&#xD;
dukungan dari suami.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dukungan suami terhadap tindakan&#xD;
ibu dalam melakukan pap smear di Kelurahan Sitirejo I Kecamatan Medan Kota&#xD;
tahun 2012. Penelitian bersifat deskriptif kuantitatif. Jumlah responden dalam&#xD;
penelitian ini adalah sebanyak 87 orang suami dari pasangan usia subur (PUS)&#xD;
dengan tehnik pengambilan sampel yaitu sistem random sampling. Penyajian data&#xD;
dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden yaitu umur&#xD;
tertinggi berada kelompok umur 40-49 tahun (55,2%) dan pendidikan tertinggi&#xD;
adalah S1. Pengetahuan berada pada kategori sedang (80,5%), persepsi berada&#xD;
pada kategori baik (56,3%) dan tindakan berada pada kategori kurang (56,3%).&#xD;
Dari penelitian di atas penulis menyarankan agar dilakukannya promosi&#xD;
kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan tindakan responden dalam&#xD;
mendukung ibu melakukan pap smear</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Pemberian Mp-Asi Dini Dengan Kejadian Penyakit&#xD;
Infeksi Pada Bayi 0-6 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas&#xD;
Sindar Raya Kecamatan Raya Kahean Kabupaten&#xD;
Simalungun Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37415" />
    <author>
      <name>Harahap, Dewi Sri Nauli</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37415</id>
    <updated>2013-05-16T05:56:57Z</updated>
    <published>2013-05-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Dewi Sri Nauli
Advisors: Santi, Devi Nuraini
Abstract: Infancy is a critical period in human life. Infants of age 0-6 months can grow optimally by using breast milk for the first six months. However, in reality, before six months many babies have been given complementary breastfeeding. The purpose of this research is to know the relationship of  early  complementary breastfeeding with the infection incidence of infants 0-6 months in working area of  Sindar Raya Health Center.&#xD;
This type of research was the descriptive study with cross-sectional designs. The populations in this study were all babies aged 0-6 months. Sampling was taken with total sampling techniques. Infectious diseases in this research were the Acute Respiratory Infection (ARI) and diarrhea. The data was collected using questionnaires.&#xD;
	The results of this study showed that babies who have been given early complementary breastfeeding is 54.8% and who has been given breast milk is 45.2%. Occurrences of infectious disease in infants who have been given early complementary breastfeeding is 91.2% and who have not been given early complementary breastfeeding is 28.6%. There is a relationship between the early complementary breastfeeding with the incidence of infectious disease (p &lt;0.0001). Factors associated with the early complementary breastfeeding for infants 0-6 months is the mother’s knowledge and education, while the employment, family income and support of health workers are not related to the early complementary breastfeeding.&#xD;
	It is recommended to health workers to provide the proper feeding for infants 0-6 months when the mother is checking of her pregnancy so the mother knows morethe risks of early complementary breastfeeding. In addition, the need for mother awareness is expected to give exclusive breastfeeding to her baby.
Abstract (other language): Masa bayi adalah masa kritis dalam kehidupan manusia. Bayi usia 0-6 bulan dapat tumbuh secara optimal dengan mengandalkan ASI selama 6 bulan pertama kehidupannya. Namun kenyataanya, sebelum usia 6 bulan, banyak bayi yang sudah diberi MP-ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dini dengan kejadian penyakit infeksi pada bayi 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sindar Raya. &#xD;
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional.  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang berusia 0-6 bulan. Pengambilan sampel diambil dengan tekhnik total sampling. Kejadian penyakit infeksi pada bayi 0-6 bulan dalam penelitian ini adalah ISPA dan diare. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukan bayi yang memperoleh MP-ASI dini 54,8% dan ASI 45,2%. Kejadian penyakit infeksi pada bayi yang memperoleh MP-ASI dini 91,2% dan yang tidak memperoleh MP-ASI dini 28,6%. Terdapat hubungan antara  pemberian MP-ASI dini dengan kejadian penyakit infeksi (p&lt;0,0001). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi 0-6 bulan adalah pengetahuan ibu dan pendidikan ibu. Sedangkan pekerjaan ibu, pendapatan keluarga dan  dukungan dari petugas kesehatan tidak berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini.&#xD;
	Disarankan kepada petugas kesehatan untuk memberikan  penyuluhan pemberian makanan yang tepat bagi bayi 0-6 bulan sewaktu ibu memeriksakan kehamilan agar ibu mengetahui lebih dini risiko pemberian MP-ASI dini pada bayi.  Selain itu diharapkan perlunya kemauan ibu  untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya.</summary>
    <dc:date>2013-05-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Dewi Sri Nauli</dc:creator>
    <dc:description>Masa bayi adalah masa kritis dalam kehidupan manusia. Bayi usia 0-6 bulan dapat tumbuh secara optimal dengan mengandalkan ASI selama 6 bulan pertama kehidupannya. Namun kenyataanya, sebelum usia 6 bulan, banyak bayi yang sudah diberi MP-ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dini dengan kejadian penyakit infeksi pada bayi 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sindar Raya. &#xD;
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional.  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang berusia 0-6 bulan. Pengambilan sampel diambil dengan tekhnik total sampling. Kejadian penyakit infeksi pada bayi 0-6 bulan dalam penelitian ini adalah ISPA dan diare. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.&#xD;
	Hasil penelitian menunjukan bayi yang memperoleh MP-ASI dini 54,8% dan ASI 45,2%. Kejadian penyakit infeksi pada bayi yang memperoleh MP-ASI dini 91,2% dan yang tidak memperoleh MP-ASI dini 28,6%. Terdapat hubungan antara  pemberian MP-ASI dini dengan kejadian penyakit infeksi (p&lt;0,0001). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini pada bayi 0-6 bulan adalah pengetahuan ibu dan pendidikan ibu. Sedangkan pekerjaan ibu, pendapatan keluarga dan  dukungan dari petugas kesehatan tidak berhubungan dengan pemberian MP-ASI dini.&#xD;
	Disarankan kepada petugas kesehatan untuk memberikan  penyuluhan pemberian makanan yang tepat bagi bayi 0-6 bulan sewaktu ibu memeriksakan kehamilan agar ibu mengetahui lebih dini risiko pemberian MP-ASI dini pada bayi.  Selain itu diharapkan perlunya kemauan ibu  untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-Faktor Yang&#xD;
Berhubungan Dengan Kepatuhan ODHA Dalam Menjalani Terapi ARV Di&#xD;
RSU. dr. Pirngadi Medan Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37374" />
    <author>
      <name>Lumbanbatu, Veronica Velisitas</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37374</id>
    <updated>2013-05-14T03:31:24Z</updated>
    <published>2013-05-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lumbanbatu, Veronica Velisitas
Advisors: Maas, Linda T.
Abstract: Antiretroviral therapy was a therapy that taken by people living with HIV/AIDS&#xD;
(PLWHA) to increase their life quality. Although it hasn’t been able to cure disease&#xD;
but antiretroviral therapy could suppress viral load and increase CD4 of PLWHA.&#xD;
More of people living with HIV/AIDS who received ARV, hope their life quality be&#xD;
better if ARV was used obediently. Adherence was a patient's behavior to comply with&#xD;
the provisions given by health workers that include discipline and obedience. To&#xD;
assure adherence, it was critical for patient to receive and understand information&#xD;
about ARV, the ability/ willingness of long-term treatment, the drug-resistance, the&#xD;
side effects, the range of medicines and the time to initiate of therapy.&#xD;
This research aimed to know the associated factors of PLWHA’s adherence at&#xD;
RSU. dr. Pirngadi Medan in 2012. The design of this research was a cross sectional&#xD;
analytic with sample of 59 respondents and obtained by Accidental Sampling. The&#xD;
data analysis were used univariate and bivariate with Chi square test.&#xD;
By the univariate analysis known that respondents had a good knowledge&#xD;
(52.5%), good perception (76.3%), better health services (71.2%). Furthermore&#xD;
social support included in the medium category (57.6%) and adherence of PLHIV&#xD;
was high (57.6%). By the results of bivariate known that there was no associated&#xD;
between knowledge of ARV on adherence (p = 0.648) and there was no associated&#xD;
between perception on adherence (p = 0.231). In addition it was known that there&#xD;
was a associated between social support on adherence (p = 0.047) and there was a&#xD;
associated between health service to the perception patient undergoing ARV (p =&#xD;
0.040).&#xD;
Health services and all levels of society were expected to continue to provide&#xD;
full support to them so as instill obedience and discipline to patient during undergo&#xD;
treatment and care with antiretroviral therapy.
Abstract (other language): Terapi ARV merupakan terapi yang dijalani oleh ODHA untuk meningkatkan&#xD;
kualitas hidup mereka. Meskipun belum mampu menyembuhkan penyakit namun&#xD;
terapi ARV dapat menekan viral load dan meningkatkan CD4 penderita HIV/AIDS.&#xD;
Semakin banyak ODHA yang mendapatkan ARV, dengan harapan mutu hidup&#xD;
mereka menjadi lebih baik bila ARV tersebut dipakai secara patuh.&#xD;
Kepatuhan merupakan perilaku pasien mematuhi ketentuan yang diberikan oleh&#xD;
petugas kesehatan yang mencakup kedisiplinan dan ketaatan. Untuk menjamin&#xD;
kepatuhan, sangat penting untuk pasien menerima dan memahami informasi tentang&#xD;
ARV, kemampuan/kesanggupan pengobatan jangka panjang, resistensi obat, efek&#xD;
samping, jangkauan memperoleh obat serta saat yang tepat untuk memulai terapi.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan&#xD;
dengan kepatuhan ODHA di RSU. dr. Pirngadi Medan tahun 2012. Desain penelitian&#xD;
adalah Cross Sectional yang bersifat analitik dengan jumlah sampel 59 responden dan&#xD;
didapat dengan Accidental Sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan&#xD;
bivariat menggunakan uji Chi square.&#xD;
Hasil univariat diketahui bahwa responden memiliki pengetahuan baik (52.5%),&#xD;
persepsi baik (76.3%), pelayanan kesehatan baik (71.2%). Selain itu dukungan sosial&#xD;
termasuk dalam kategori sedang (57.6%) dan kepatuhan ODHA tergolong tinggi&#xD;
(57.6%). Hasil bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan&#xD;
tentang ARV terhadap kepatuhan (p=0.648) serta tidak ada hubungan antara persepsi&#xD;
terhadap kepatuhan (p=0.231). Selain itu diketahui juga bahwa ada hubungan antara&#xD;
dukungan sosial terhadap kepatuhan (p=0.047) serta ada hubungan antara pelayanan&#xD;
kesehatan terhadap persepsi ODHA dalam menjalani ARV (p=0.040).&#xD;
Pelayanan kesehatan dan lapisan masyarakat diharapkan untuk terus&#xD;
memberikan dukungan penuh bagi mereka sehingga dapat menanamkan ketaatan dan&#xD;
kedisiplinan pada pasien selama menjalani pengobatan dan perawatan dengan terapi&#xD;
antiretroviral.</summary>
    <dc:date>2013-05-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lumbanbatu, Veronica Velisitas</dc:creator>
    <dc:description>Terapi ARV merupakan terapi yang dijalani oleh ODHA untuk meningkatkan&#xD;
kualitas hidup mereka. Meskipun belum mampu menyembuhkan penyakit namun&#xD;
terapi ARV dapat menekan viral load dan meningkatkan CD4 penderita HIV/AIDS.&#xD;
Semakin banyak ODHA yang mendapatkan ARV, dengan harapan mutu hidup&#xD;
mereka menjadi lebih baik bila ARV tersebut dipakai secara patuh.&#xD;
Kepatuhan merupakan perilaku pasien mematuhi ketentuan yang diberikan oleh&#xD;
petugas kesehatan yang mencakup kedisiplinan dan ketaatan. Untuk menjamin&#xD;
kepatuhan, sangat penting untuk pasien menerima dan memahami informasi tentang&#xD;
ARV, kemampuan/kesanggupan pengobatan jangka panjang, resistensi obat, efek&#xD;
samping, jangkauan memperoleh obat serta saat yang tepat untuk memulai terapi.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan&#xD;
dengan kepatuhan ODHA di RSU. dr. Pirngadi Medan tahun 2012. Desain penelitian&#xD;
adalah Cross Sectional yang bersifat analitik dengan jumlah sampel 59 responden dan&#xD;
didapat dengan Accidental Sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan&#xD;
bivariat menggunakan uji Chi square.&#xD;
Hasil univariat diketahui bahwa responden memiliki pengetahuan baik (52.5%),&#xD;
persepsi baik (76.3%), pelayanan kesehatan baik (71.2%). Selain itu dukungan sosial&#xD;
termasuk dalam kategori sedang (57.6%) dan kepatuhan ODHA tergolong tinggi&#xD;
(57.6%). Hasil bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan&#xD;
tentang ARV terhadap kepatuhan (p=0.648) serta tidak ada hubungan antara persepsi&#xD;
terhadap kepatuhan (p=0.231). Selain itu diketahui juga bahwa ada hubungan antara&#xD;
dukungan sosial terhadap kepatuhan (p=0.047) serta ada hubungan antara pelayanan&#xD;
kesehatan terhadap persepsi ODHA dalam menjalani ARV (p=0.040).&#xD;
Pelayanan kesehatan dan lapisan masyarakat diharapkan untuk terus&#xD;
memberikan dukungan penuh bagi mereka sehingga dapat menanamkan ketaatan dan&#xD;
kedisiplinan pada pasien selama menjalani pengobatan dan perawatan dengan terapi&#xD;
antiretroviral.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hygiene Sanitasi dan Analisis Salmonella sp. pada Minuman Teh Susu Telur (TST) yang Dijual di Kecamatan Medan Area Kota Medan Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37220" />
    <author>
      <name>Nasution, Nila Reyhan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37220</id>
    <updated>2013-04-30T05:27:15Z</updated>
    <published>2013-04-30T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Nila Reyhan
Advisors: Santi, Devi Nuraini; Marsaulina, Irnawati
Abstract: Eggs milk tea was beverage formulated from tea, milk and eggs that become delicious drink and be able to add energy or helping to restore power to drop due to the activity. The use of eggs in these drinks create the perception that these drinks can add zing. Eggs may contain harmful food bacteria called Salmonella sp. Hygiene and sanitation in processing beverage vendors are also not too concerned, the writer deems it necessary to conduct research on the analysis of Salmonella sp. to drink milk tea eggs.&#xD;
The purpose of this study is to know about hygiene, sanitation and analysis of Salmonella sp. in eggs milk tea were sold in the District of Medan Area Medan city.&#xD;
The method used in this study was descriptive with saw the sanitation and hygiene and the laboratory analysis to determine the content of the bacteria Salmonella sp. in milk eggs tea.&#xD;
The results showed that in 10 samples of the egg mixture, sugar and milk before the tea is brewed with water, was found entirely contain the bacteria Salmonella sp. Whereas, for 10 samples batter of eggs, sugar and milk after the tea is brewed with water, whole did not reveal any bacteria Salmonella sp. To the principles of hygiene sanitary eggs milk tea were sold in District of Medan Area does not meet health requirements in accordance with Decree Kepmenkes. 942/Menkes/SK/VII/2003 about Sanitation Guidelines for Food Hygiene Requirements snacks.&#xD;
Keywords : Eggs milk tea, hygiene sanitation, Salmonella sp.&#xD;
Conclusions in this study was suggested that hygienic sanitation eggs milk tea traders did not meet health requirements. Therefore, it was expected to holding of supervision and counseling to the merchant by the Regional Government of the importance of hygiene sanitation in the processing of eggs milk tea to enhance the food and beverage restructure so that eggs milk tea received by the consumer had met the health requirements.
Abstract (other language): Teh susu telur merupakan minuman yang diracik dari teh, susu dan telur sehingga menjadi segelas minuman nikmat dan dianggap mampu menambah tenaga atau membantu memulihkan tenaga yang drop karena aktifitas. Penggunaan telur dalam minuman ini membuat persepsi bahwa minuman ini mampu menambah tenaga. Telur dapat mengandung bakteri makanan berbahaya yang disebut dengan Salmonella sp.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hygiene, sanitasi dan analisis bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur yang dijual di Kecamatan Medan Area Kota Medan. Hygiene serta sanitasi pedagang dalam mengolah minuman ini juga tidak terlalu diperhatikan, maka penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian tentang analisis bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur.&#xD;
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan melihat gambaran hygiene sanitasi dan analisis laboratorium untuk mengetahui kandungan bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 10 sampel adonan telur, gula dan susu sebelum diseduh dengan air teh, ditemukan seluruhnya mengandung bakteri Salmonella sp. Sedangkan, untuk 10 sampel adonan telur, gula dan susu setelah diseduh dengan air teh, seluruhnya tidak ditemukan adanya bakteri Salmonella sp. Untuk prinsip hygiene sanitasi minuman teh susu telur yang dijual di Kecamatan Medan Area tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No. 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.&#xD;
Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hygiene sanitasi pedagang minuman teh susu telur tidak memenuhi syarat kesehatan. Untuk itu, diharapkan perlu diadakannya pengawasan dan penyuluhan kepada pedagang oleh Pemerintah Daerah tentang pentingnya hygiene sanitasi pada pengolahan minuman teh susu telur dan untuk meningkatkan upaya penyehatan makanan dan minuman sehingga minuman teh susu telur yang diterima konsumen sudah memenuhi syarat kesehatan.</summary>
    <dc:date>2013-04-30T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Nila Reyhan</dc:creator>
    <dc:description>Teh susu telur merupakan minuman yang diracik dari teh, susu dan telur sehingga menjadi segelas minuman nikmat dan dianggap mampu menambah tenaga atau membantu memulihkan tenaga yang drop karena aktifitas. Penggunaan telur dalam minuman ini membuat persepsi bahwa minuman ini mampu menambah tenaga. Telur dapat mengandung bakteri makanan berbahaya yang disebut dengan Salmonella sp.&#xD;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hygiene, sanitasi dan analisis bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur yang dijual di Kecamatan Medan Area Kota Medan. Hygiene serta sanitasi pedagang dalam mengolah minuman ini juga tidak terlalu diperhatikan, maka penulis memandang perlu untuk melakukan penelitian tentang analisis bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur.&#xD;
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan melihat gambaran hygiene sanitasi dan analisis laboratorium untuk mengetahui kandungan bakteri Salmonella sp. pada minuman teh susu telur.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 10 sampel adonan telur, gula dan susu sebelum diseduh dengan air teh, ditemukan seluruhnya mengandung bakteri Salmonella sp. Sedangkan, untuk 10 sampel adonan telur, gula dan susu setelah diseduh dengan air teh, seluruhnya tidak ditemukan adanya bakteri Salmonella sp. Untuk prinsip hygiene sanitasi minuman teh susu telur yang dijual di Kecamatan Medan Area tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No. 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.&#xD;
Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hygiene sanitasi pedagang minuman teh susu telur tidak memenuhi syarat kesehatan. Untuk itu, diharapkan perlu diadakannya pengawasan dan penyuluhan kepada pedagang oleh Pemerintah Daerah tentang pentingnya hygiene sanitasi pada pengolahan minuman teh susu telur dan untuk meningkatkan upaya penyehatan makanan dan minuman sehingga minuman teh susu telur yang diterima konsumen sudah memenuhi syarat kesehatan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Konsentrasi Debu Dan Keluhan Kesehatan Pada Masyarakat di Sekitar Pabrik Semen di Desa Kuala Indah, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35251" />
    <author>
      <name>Khairiah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35251</id>
    <updated>2013-03-16T20:17:18Z</updated>
    <published>2013-03-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Khairiah
Advisors: Ashar, Taufik; Santi, Devi Nuraini
Abstract: The cement industry is one of the industry that can impact on air pollution especially dust. It is predicted to cause disease in the community around the cement at Kuala Indah village especially for airway disorder, skin irritations and eyes.&#xD;
The purpose of this study was to analyze the concentration of dust and health disorder in communities around the cement industry at Kuala Indah village, sub-discrit of Sei Suka, Regency of Batu Bara.&#xD;
The type of study is a descriptive that using cross-sectional design. That consist of 56 samples. Collecting data using questionnaires and dust concentration measuring device used is Haz-Dust of EPAM-5000 Model.&#xD;
The result showed that the respondents were aged ranging 21-40 years (57,1%), the highest level of education is for Senior High School (35,7%), respondents have lived more than 2 years (94,6%). The distance from respondents house to the cement industry more than 200 m (80,4%), which has a big trees in the yard (55,4%), and ventilated home area ≤ 20% which has a flour area (67,9%). Based on results of measurement that have been done on the 20 September 2012, the average dust concentration was 86,5 μg/m3 and on 20 November 2012 was 76,0 μg/m3. This indicates that the concentration of dust qualified that 150 μg/m3. Data analysis illustrates that 33,9% respondents had health disorder, the most disorder is skin irritations that 73,7%.&#xD;
Based on the results of this study concluded that the concentration of dust around a cement industry at Kuala Indah village is qualifies, however repeated exposure may cause health problems. And recommended to the cement industry, should complement the methods of controlling the environment by adding tools/equipment that can reduce pollution
Abstract (other language): Industri semen merupakan salah satu industri yang berdampak pada timbulnya pencemaran udara, khusunya debu. Keberadaan debu semen ini diprediksi akan menimbulkan penyakit pada masyarakat sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah terutama gangguan saluran pernapasan, iritasi kulit, dan iritasi mata.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi debu dan keluhan kesehatan pada masyarakat di sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara.&#xD;
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Sample dalam penelitian ini 56 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan alat pengukuran konsentrasi debu yang digunakan adalah Haz-Dust Model EPAM-5000.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berumur 21-40 tahun (57,1%), tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA/SMU (35,7%), responden telah bermukim &gt;2 tahun (94,6%). Jarak rumah terhadap pabrik semen &gt;200 m (80,4%), yang memiliki pohon besar di halamannya (55,4%), dan luas ventilasi rumah ≤20% luas lantai (67,9%). Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada tanggal 20 September 2012, konsentrasi debu rata-ratanya adalah 86,5 μg/m3 dan pada tanggal 20 November 2012 sebesar 76,0 μg/m3. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi debu memenuhi syarat (150 μg/m3). Hasil analisis data menggambarkan bahwa (33,9%) responden mengalami keluhan kesehatan, keluhan kesehatan terbanyak yaitu iritasi kulit (73,7%).&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi debu di sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah memenuhi syarat, meskipun demikian keterpaparan secara berulang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Dan disarankan kepada pihak pabrik semen, sebaiknya melengkapi cara penanggulangan lingkungan dengan menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran.</summary>
    <dc:date>2013-03-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Khairiah</dc:creator>
    <dc:description>Industri semen merupakan salah satu industri yang berdampak pada timbulnya pencemaran udara, khusunya debu. Keberadaan debu semen ini diprediksi akan menimbulkan penyakit pada masyarakat sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah terutama gangguan saluran pernapasan, iritasi kulit, dan iritasi mata.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi debu dan keluhan kesehatan pada masyarakat di sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara.&#xD;
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Sample dalam penelitian ini 56 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan alat pengukuran konsentrasi debu yang digunakan adalah Haz-Dust Model EPAM-5000.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berumur 21-40 tahun (57,1%), tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA/SMU (35,7%), responden telah bermukim &gt;2 tahun (94,6%). Jarak rumah terhadap pabrik semen &gt;200 m (80,4%), yang memiliki pohon besar di halamannya (55,4%), dan luas ventilasi rumah ≤20% luas lantai (67,9%). Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan pada tanggal 20 September 2012, konsentrasi debu rata-ratanya adalah 86,5 μg/m3 dan pada tanggal 20 November 2012 sebesar 76,0 μg/m3. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi debu memenuhi syarat (150 μg/m3). Hasil analisis data menggambarkan bahwa (33,9%) responden mengalami keluhan kesehatan, keluhan kesehatan terbanyak yaitu iritasi kulit (73,7%).&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi debu di sekitar pabrik semen di Desa Kuala Indah memenuhi syarat, meskipun demikian keterpaparan secara berulang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Dan disarankan kepada pihak pabrik semen, sebaiknya melengkapi cara penanggulangan lingkungan dengan menambah alat bantu yang dapat mengurangi pencemaran.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sanitasi Lingkungan Perumahan Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35249" />
    <author>
      <name>Pulungan, Erwin Saleh</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35249</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:33Z</updated>
    <published>2013-03-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pulungan, Erwin Saleh
Advisors: Santi, Devi Nuraini; Chahaya, Indra
Abstract: Filariasis is a chronic infectious disease which is caused by the infection of nematode parasite, lymphatic filaria transmitted by Mansonia, Anopheles and Culex mosquitos. Filariasis is also known as elephantiasis.&#xD;
The purpose of this research is to study the relation between house environment sanitation including waste drainage system, mosquitos breeding sites, mosquitos resting sites, ventilation with insect-proof gauze, room lighting, wall density, room moisture level, with the people’s behavior including knowledge, attitude and practice in Kampung Rakyat subdistrict Labuhan Batu Selatan regency 2012&#xD;
This is an analytical survey with case control design. Population for this research is the people suffering from Filariasis which are 20 persons and the control is the people who don’t suffer from Filariasis which are 20 persons.&#xD;
Results from this research show that knowledge and practice have significant relation with the incidence of Filariasis. House environment sanitasion including waste drainage system (p=0,057), mosquitos breeding sites (p=0,157), ventilation with insect-proof gauze (p=0,177), wall density (p=0,122),room lighting (p=0,500), moisture level (p=0122,) all has no significant relation with the incidence of Filariasis analysed with chi-square test, the only one that has a significant relation is mosquitos resting site (p=0,026).&#xD;
The people are suggested to wear long-sleveed clothing and trousers as self-protection when going out at night time, use mosquito-net for sleeping, promote sanitation for house environment and do a community self-help.
Abstract (other language): Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi jenis parasit nematoda atau cacing Filaria limfatik yang ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex. Penyakit Filariasis disebut penyakit kaki gajah.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan perumahan meliputi saluran pembuangan air limbah, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, kawat kasa pada ventilasi, pencahayaan pada ruang utama, kerapatan dinding, kelembaban ruang utama dan hubungan perilaku masyarakat meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan di Kecamatan Kampung Rakyat Kab.Labuhan Batu Selatan Tahun 2012.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan desain case control. Populasi penelitian adalah kasus yaitu masyarakat yang menderita Filariasis sebanyak 20 orang dan kontrol adalah masyarakat yang tidak menderita Filariasis sebanyak 20 orang.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh pengetahuan dan tindakan menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian Filariasis. Sanitasi lingkungan perumahan meliputi saluran pembuangan air limbah (p=0,057), tempat perindukan nyamuk (p=0,157), kawat kasa pada ventilasi (p=0,177), kerapatan dinding (p=0,122), pencahayaan pada ruang utama (p=0,500), kelembaban (p=0,122) seluruh sanitasi lingkungan perumahan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian Filariasis yang dianalisa dengan menggunakan uji Chi-square, yang memilki hubungan yang bermakna tempat peristirahatan nyamuk (p=0,026).&#xD;
Masyarakat disarankan memakai celana dan baju panjang sebagai pelindung diri waktu keluar rumah pada malam hari serta menggunakan kelambu sewaktu tidur. Meningkatkan kebersihan lingkungan perumahan dan melakukan gotong royong.</summary>
    <dc:date>2013-03-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pulungan, Erwin Saleh</dc:creator>
    <dc:description>Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi jenis parasit nematoda atau cacing Filaria limfatik yang ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex. Penyakit Filariasis disebut penyakit kaki gajah.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan perumahan meliputi saluran pembuangan air limbah, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, kawat kasa pada ventilasi, pencahayaan pada ruang utama, kerapatan dinding, kelembaban ruang utama dan hubungan perilaku masyarakat meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan di Kecamatan Kampung Rakyat Kab.Labuhan Batu Selatan Tahun 2012.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan desain case control. Populasi penelitian adalah kasus yaitu masyarakat yang menderita Filariasis sebanyak 20 orang dan kontrol adalah masyarakat yang tidak menderita Filariasis sebanyak 20 orang.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh pengetahuan dan tindakan menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian Filariasis. Sanitasi lingkungan perumahan meliputi saluran pembuangan air limbah (p=0,057), tempat perindukan nyamuk (p=0,157), kawat kasa pada ventilasi (p=0,177), kerapatan dinding (p=0,122), pencahayaan pada ruang utama (p=0,500), kelembaban (p=0,122) seluruh sanitasi lingkungan perumahan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian Filariasis yang dianalisa dengan menggunakan uji Chi-square, yang memilki hubungan yang bermakna tempat peristirahatan nyamuk (p=0,026).&#xD;
Masyarakat disarankan memakai celana dan baju panjang sebagai pelindung diri waktu keluar rumah pada malam hari serta menggunakan kelambu sewaktu tidur. Meningkatkan kebersihan lingkungan perumahan dan melakukan gotong royong.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti Dan Pelaksanaan 3m Plus Dengan Kejadian Penyakit Dbd Di Lingkungan XVIII KELURAHAN BINJAI &#xD;
KOTA MEDAN TAHUN 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35240" />
    <author>
      <name>Sulina Parida .S</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35240</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:45Z</updated>
    <published>2013-03-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sulina Parida .S
Advisors: Ardiani, Fitri
Abstract: Medan is one of DHF endemic area and the most endemic subdistrict is Medan Denai Subdistrict, where  the most effective way to eradicate DHF disease is with eradicating mosquito nest or PSN DBD, so that is important to know the Aedes aegypti larva existence and effectiveness of 3M Plus implementation.&#xD;
This research aims to know the relation of Aedes aegypti larva existence and 3M Plus implementation with DHF disease in Area XVIII Binjai District Medan. &#xD;
The research location is in Area XVIII Binjai District Medan Denai Subdistrict. This research samples are 100 housewive, that is taken by purposive sampling technique. This research is analytic survey with cross sectional design study using Exact Fisher test.&#xD;
Results showed that the House Index (HI) value is 5%, Container Index (CI) is 4%. 3M Plus implementation that includes to good category 78% and bad 22% . From the results, the relation of Aedes aegypti larva existence with DHF disease has p=0,002. The relation of  3M Plus implementation with DHF disease has p=0,047. From the results, it can be known that there is relation of Aedes aegypti larva existence and 3M Plus implementation with DHF disease in Area XVIII Binjai District Medan. &#xD;
It is suggested to Medan Health Department and Desa Binjai Health Service Center to socialize and motivate people to do eradicating Aedes aegypti mosquito nest or PSN DBD regularly to decrease the number of DHF disease in Binjai District especially in Area XVIII.
Abstract (other language): Kota Medan merupakan salah satu daerah endemis DBD dan kecamatan yang paling endemis adalah Kecamatan Medan Denai, di mana cara paling efektif untuk memberantas penyakit DBD adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN DBD, sehingga perlu diketahui keberadaan jentik Aedes aegypti dan keefektifan dari pelaksanaan 3M Plus.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti dan pelaksanaan 3M Plus dengan kejadian penyakit DBD di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kota Medan. &#xD;
Lokasi penelitian adalah di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai. Sampel penelitian ini adalah 100 ibu rumah tangga, yang diambil dengan teknik purposive sampling. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain studi cross sectional menggunakan uji Exact Fisher. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai House Index (HI) adalah 5%, Container Index (CI) adalah 4%. Pelaksanaan 3M Plus yang termasuk ke dalam kategori baik 78% dan kurang baik 22%. Dari hasil penelitian, hubungan keberadaan jentik dengan penyakit DBD memiliki nilai p = 0,002. Hubungan pelaksanaan 3M Plus dengan penyakit DBD memiliki nilai p = 0,047. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti dan pelaksanaan 3M Plus dengan kejadian penyakit DBD di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kota Medan. &#xD;
Disarankan agar Dinas Kesehatan Kota Medan dan Puskesmas Desa Binjai melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti atau PSN DBD secara teratur  sehingga dapat menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kelurahan Binjai terutama di Lingkungan XVIII.</summary>
    <dc:date>2013-03-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sulina Parida .S</dc:creator>
    <dc:description>Kota Medan merupakan salah satu daerah endemis DBD dan kecamatan yang paling endemis adalah Kecamatan Medan Denai, di mana cara paling efektif untuk memberantas penyakit DBD adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN DBD, sehingga perlu diketahui keberadaan jentik Aedes aegypti dan keefektifan dari pelaksanaan 3M Plus.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti dan pelaksanaan 3M Plus dengan kejadian penyakit DBD di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kota Medan. &#xD;
Lokasi penelitian adalah di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai. Sampel penelitian ini adalah 100 ibu rumah tangga, yang diambil dengan teknik purposive sampling. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain studi cross sectional menggunakan uji Exact Fisher. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai House Index (HI) adalah 5%, Container Index (CI) adalah 4%. Pelaksanaan 3M Plus yang termasuk ke dalam kategori baik 78% dan kurang baik 22%. Dari hasil penelitian, hubungan keberadaan jentik dengan penyakit DBD memiliki nilai p = 0,002. Hubungan pelaksanaan 3M Plus dengan penyakit DBD memiliki nilai p = 0,047. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti dan pelaksanaan 3M Plus dengan kejadian penyakit DBD di Lingkungan XVIII Kelurahan Binjai Kota Medan. &#xD;
Disarankan agar Dinas Kesehatan Kota Medan dan Puskesmas Desa Binjai melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat untuk ikut serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk Aedes aegypti atau PSN DBD secara teratur  sehingga dapat menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kelurahan Binjai terutama di Lingkungan XVIII.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Perencanaan Tingkat Puskesmas Di Kota Medan Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35237" />
    <author>
      <name>Dhewi, Shiska Buwana</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35237</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:37Z</updated>
    <published>2013-03-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Dhewi, Shiska Buwana
Advisors: Heldy
Abstract: The implementation of the planning to health centers in Medan is guided by the Standard Manual for Health Center. The main purpose of planning to helth center is to prevent any problems on public health, it shall be due to public health, the effort to health development or for supporting to public health. In addition, it aims to improve performance of health center in arranging the annual activities with plans for health center capable to do activities efficiently, effectively and shall be accountable.&#xD;
This research was a survey with qualitative approach witch was aimed to explain how the planning of the health centers in Medan for 2012. The primary data were collected by thorough interviews, and the secondary data were obtained from the health service Medan. The informants to this research comprised of 10 persons, one head of program and planning of the city health service in Medan, three head of health centers (Health centers of Glugur Darat, Kampung Baru, and Kedai Durian), and ten staff for health centers.&#xD;
The result of the research showed that all the informants had known the planning of the health centers in Medan city. The health centers in Medan was do or arrange it well with term POA (Plan Of Action) that has been done routinely annually. For 2012, there is not done yet any special training about the planning, it is shortage of fund reasonable, the health centers mostly aware the points of planning to execute and fortunately in generally according to four phases, such as pre-planning, analysis on situation, arrange the plan of activity and arrange the plan of implementation. For all the phases has been done properly.&#xD;
It is encouraged to all Health Centers available on Medan city more passionateto havea better official planning and do it optimally based on the problems dealth with as usual and also to improve the human resources available.
Abstract (other language): Pelaksanaan penyusunan perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan berpedoman pada Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas. Tujuan utama dari perencanaan tingkat puskesmas adalah untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di wilayah kerjanya, baik upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan maupun upaya kesehatan penunjang. Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan puskesmas dalam menyusun perencanaan kegiatan tahunan agar puskesmas mampu melaksanakan kegiatan secara efisien, efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan tahun 2012. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Medan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 10 orang, yaitu 1 orang Kepala Bidang Program dan Perencanaan dari Dinas Kesehatan Kota Medan, 3 orang kepala puskesmas (Puskesmas Glugur Darat, Kampung Baru, Kedai Durian), dan 6 orang staf puskesmas.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan telah mengetahui adanya perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan. Puskesmas yang ada di Kota Medan telah melaksanakan atau menyusun perencanaan tingkat puskesmas yang biasa disebut dengan POA (Plan Of Action) Puskesmas yang rutin dibuat setiap tahunnya. Selama tahun 2012 belum pernah ada pelatihan khusus mengenai Perencanaan Tingkat Puskesmas, selain karena keterbatasan dana, hal itu juga disebabkan karena puskesmas sudah memahami masalah perencanaan tingkat puskesmas dan sudah menjadi hal yang rutin dilaksanakan oleh semua puskesmas di Kota Medan. Dalam menyusun perencanaan tingkat puskesmas, semua sudah mengacu pada Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas. Dengan ketentuan 4 tahapan dalam Perencanaan Tingkat Puskesmas, yaitu tahap persiapan, analisis situasi, penyusunan rencana usulan kegiatan dan penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan. Dan keempat tahapan tersebut sudah dilaksanakan oleh puskesmas dengan baik.&#xD;
Diharapkan kepada puskesmas yang ada di Kota Medan dapat menyusun rencana kegiatan tahunannya secara optimal berdasarkan besarnya masalah yang dihadapi dan kemampuan sumberdaya yang ada, dengan tetap membina peran serta masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.</summary>
    <dc:date>2013-03-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Dhewi, Shiska Buwana</dc:creator>
    <dc:description>Pelaksanaan penyusunan perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan berpedoman pada Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas. Tujuan utama dari perencanaan tingkat puskesmas adalah untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di wilayah kerjanya, baik upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan maupun upaya kesehatan penunjang. Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan puskesmas dalam menyusun perencanaan kegiatan tahunan agar puskesmas mampu melaksanakan kegiatan secara efisien, efektif dan dapat dipertanggungjawabkan.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan tahun 2012. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Medan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 10 orang, yaitu 1 orang Kepala Bidang Program dan Perencanaan dari Dinas Kesehatan Kota Medan, 3 orang kepala puskesmas (Puskesmas Glugur Darat, Kampung Baru, Kedai Durian), dan 6 orang staf puskesmas.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan telah mengetahui adanya perencanaan tingkat puskesmas di Kota Medan. Puskesmas yang ada di Kota Medan telah melaksanakan atau menyusun perencanaan tingkat puskesmas yang biasa disebut dengan POA (Plan Of Action) Puskesmas yang rutin dibuat setiap tahunnya. Selama tahun 2012 belum pernah ada pelatihan khusus mengenai Perencanaan Tingkat Puskesmas, selain karena keterbatasan dana, hal itu juga disebabkan karena puskesmas sudah memahami masalah perencanaan tingkat puskesmas dan sudah menjadi hal yang rutin dilaksanakan oleh semua puskesmas di Kota Medan. Dalam menyusun perencanaan tingkat puskesmas, semua sudah mengacu pada Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas. Dengan ketentuan 4 tahapan dalam Perencanaan Tingkat Puskesmas, yaitu tahap persiapan, analisis situasi, penyusunan rencana usulan kegiatan dan penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan. Dan keempat tahapan tersebut sudah dilaksanakan oleh puskesmas dengan baik.&#xD;
Diharapkan kepada puskesmas yang ada di Kota Medan dapat menyusun rencana kegiatan tahunannya secara optimal berdasarkan besarnya masalah yang dihadapi dan kemampuan sumberdaya yang ada, dengan tetap membina peran serta masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Ibu Bayi/Balita Tentang Penyakit Diare Dan Program Pencegahan Diare Terhadap Tindakan Pencegahannya Di Desa Tanjung Anom Kecamatan Pancur Batu Tahun 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35216" />
    <author>
      <name>Astati, Indah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35216</id>
    <updated>2013-03-16T20:16:41Z</updated>
    <published>2013-03-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Astati, Indah
Advisors: Khadijah, Siti
Abstract: Mothers as caregiver who are closest to baby and children under five year old has important role to prevent the incidence of diarrhea. Based on the data from profile of Community Health Centre Pancur Batu 2012, Tanjung Anom village is as the highest incidence rank for diarrhea, namely 227 cases.&#xD;
This research was explanatory research with the objectives to describe the perception about the susceptibility to diarrhea disease, the perception about the seriousness of diarrhea disease, the perception about the use of the prevention of diarrhea, the perception about the hindrances found in the prevention of diarrhea, the perception about diarrhea prevention program to diarrhea prevention action. The population was mother with baby and children under five year old and sample taking used simple random sampling. Data analysis used multiple linier regression test with significance level 95%.&#xD;
The results of research showed that the variable with significant influence to the action of the prevention of diarrhea disease was the perception about the susceptibility of diarrhea disease (p=0,025&lt;0,05), whereas the variables without significant influence were the perception about seriousness of diarrhea disease (0,988&gt;0,05), the perception about the use of diarrhea prevention (p=0,639&gt;0,05), the perception about the hindrances found in the prevention of diarrhea disease (p=0,183&gt;0,05) and the perception about diarrhea prevention program (p=0,317&gt;0,05).&#xD;
It is suggested for health providers in Community Health Centre Pancur Batu to give counseling and guidance as well as training for the cadres and village midwifes in distributing information about diarrhea disease.
Abstract (other language): Ibu sebagai pengasuh yang terdekat dengan bayi dan balita memiliki peran besar dalam melakukan pencegahan terhadap kejadian diare. Berdasarkan data profil Puskesmas Pancur Batu pada tahun 2012 Desa Tanjung Anom merupakan urutan tertinggi untuk kasus diare untuk usia bayi/balita yaitu sebesar 227 kasus.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan persepsi tentang kerentanan penyakit diare, persepsi tentang keparahan penyakit diare, persepsi tentang manfaat pencegahan diare, persepsi tentang hambatan pencegahan diare dan persepsi tentang program pencegahan diare. Populasi adalah ibu yang memiliki bayi dan balita dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling. Analisis data menggunakan uji regresi linear berganda pada taraf kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang memunyai pengaruh signifikan terhadap tindakan pencegahan diare adalah persepsi tentang kerentanan penyakit diare (p=0,025&lt;0,05), sedangkan variabel yang tidak berpengaruh adalah persepsi tentang keparahan penyakit diare (p=0,988&gt;0,05), persepsi tentang manfaat pencegahan diare (p=0,639&gt;0,05), persepsi tentang hambatan pencegahan diare (p=0,183&gt;0,05) dan persepsi tentang program pencegahan diare (p=0,317&gt;0,05).&#xD;
Disarankan kepada petugas kesehatan Puskesmas Pancur Batu sebaiknya mengadakan kegiatan berupa penyuluhan, melakukan pendekatan dan pelatihan kepada kader dan bidan desa agar dapat membantu dalam menyebarluaskan informasi tentang penyakit diare dan melakukan penyuluhan yang berkesinambungan.</summary>
    <dc:date>2013-03-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Astati, Indah</dc:creator>
    <dc:description>Ibu sebagai pengasuh yang terdekat dengan bayi dan balita memiliki peran besar dalam melakukan pencegahan terhadap kejadian diare. Berdasarkan data profil Puskesmas Pancur Batu pada tahun 2012 Desa Tanjung Anom merupakan urutan tertinggi untuk kasus diare untuk usia bayi/balita yaitu sebesar 227 kasus.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan persepsi tentang kerentanan penyakit diare, persepsi tentang keparahan penyakit diare, persepsi tentang manfaat pencegahan diare, persepsi tentang hambatan pencegahan diare dan persepsi tentang program pencegahan diare. Populasi adalah ibu yang memiliki bayi dan balita dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling. Analisis data menggunakan uji regresi linear berganda pada taraf kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang memunyai pengaruh signifikan terhadap tindakan pencegahan diare adalah persepsi tentang kerentanan penyakit diare (p=0,025&lt;0,05), sedangkan variabel yang tidak berpengaruh adalah persepsi tentang keparahan penyakit diare (p=0,988&gt;0,05), persepsi tentang manfaat pencegahan diare (p=0,639&gt;0,05), persepsi tentang hambatan pencegahan diare (p=0,183&gt;0,05) dan persepsi tentang program pencegahan diare (p=0,317&gt;0,05).&#xD;
Disarankan kepada petugas kesehatan Puskesmas Pancur Batu sebaiknya mengadakan kegiatan berupa penyuluhan, melakukan pendekatan dan pelatihan kepada kader dan bidan desa agar dapat membantu dalam menyebarluaskan informasi tentang penyakit diare dan melakukan penyuluhan yang berkesinambungan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35166" />
    <author>
      <name>Shafwani, Rahmi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35166</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:39Z</updated>
    <published>2013-02-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Shafwani, Rahmi
Advisors: Lubis, Halinda Sari; Salmah, Umi
Abstract: The development ofanurban areahas broughta number ofimportant issues, such asthe threat offire hazard. Thecompetent authorities totacklefiresisthe fire department. The purposeof this studywas to determine theoccupational risksfaced byfirefightersin Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran(DP2K) Medanby using aqualitativeapproach. Dataobtained fromin-depthinterviewswithmembers ofthe DP2K Medan UPT I using voice recorder.&#xD;
	The results showedthat the riskoffirefightersworkmostlywhen they are on the way to the location of fire thattheriskof trafficandwhen they dueat thelocation of firein the form ofaccidentsdue toelectricity, heat, fire, working at height, equipmentoutages, explosions, backdraftandflashover,the condition ofthe buildingon fire,sharp objects, andphysical fightswithpeople. Health complaintsthattheyfeel ingeneralbecausemanyof the firesmoke inhalationsuch as cough, shortness ofbreath, nausea, vomiting, dizziness, eye irritation, as well ascoldandlimp.
Abstract (other language): Perkembangan suatu wilayah perkotaan telah membawa sejumlah persoalan penting, seperti adanya ancaman terhadap bahaya kebakaran. Adapun lembaga yang berwenang untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi adalah institusi pemadam kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko pekerjaan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan anggota regu DP2K Kota Medan UPT I menggunakan alat bantu voice recorder.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko dari pekerjaan petugas pemadam kebakaran sebagian besar terjadi pada saat mereka di perjalanan menuju lokasi kebakaran yaitu risiko lalu lintas dan ketika di lokasi kebakaran berupa kecelakaan kerja dikarenakan listrik, suhu panas, api, bekerja di ketinggian, peralatan pemadaman, ledakan, backdraft dan flashover, kondisi bangunan yang terbakar, benda tajam, dan adu fisik dengan warga. Keluhan kesehatan yang mereka rasakan di lokasi kebakaran umumnya dikarenakan banyak menghirup asap seperti batuk, sesak nafas, mual, muntah, pusing, mata perih, serta masuk angin dan lemas.</summary>
    <dc:date>2013-02-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Shafwani, Rahmi</dc:creator>
    <dc:description>Perkembangan suatu wilayah perkotaan telah membawa sejumlah persoalan penting, seperti adanya ancaman terhadap bahaya kebakaran. Adapun lembaga yang berwenang untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi adalah institusi pemadam kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko pekerjaan yang dihadapi petugas pemadam kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan anggota regu DP2K Kota Medan UPT I menggunakan alat bantu voice recorder.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko dari pekerjaan petugas pemadam kebakaran sebagian besar terjadi pada saat mereka di perjalanan menuju lokasi kebakaran yaitu risiko lalu lintas dan ketika di lokasi kebakaran berupa kecelakaan kerja dikarenakan listrik, suhu panas, api, bekerja di ketinggian, peralatan pemadaman, ledakan, backdraft dan flashover, kondisi bangunan yang terbakar, benda tajam, dan adu fisik dengan warga. Keluhan kesehatan yang mereka rasakan di lokasi kebakaran umumnya dikarenakan banyak menghirup asap seperti batuk, sesak nafas, mual, muntah, pusing, mata perih, serta masuk angin dan lemas.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Substitusi Dedak Padi Dengan Pod Kakao(Theobroma cacao L) Dipermentasi Dengan Rhizopus SP, Saccharomyces SP, Lactobacilus SP Terhadap Performans Ternak Babi Perternakan Larance Jantan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35114" />
    <author>
      <name>Bornok Venantius P.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35114</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:52Z</updated>
    <published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bornok Venantius P.
Advisors: Ginting, Nurzainah; Sembiring, Iskandar
Abstract: BORNOK VENANTIUS P: Substitution of rice bran with cacao pods fermented by Rhizopus sp, Saccharomyces sp and Lactobacillus sp to performance of male croosbred Landrace swine. Under the supervision by NURZAINNAH GINTING and ISKANDAR SEMBIRING.&#xD;
Cacao pods fermented can be used as an alternative feed a substitution of rice bran for its capacity to improve performance during growth. The objective of this research was to prove potention of cacao pods fermented, which can be seen from consumption, average daily gain (ADG) and conversion ratio. The research was performed in April 2012- June 2012 at Galang road, Kampung Baru, Pasar Melintang Village, Lubuk Pakam city, District Deli Serdang, North Sumatera, using 20 weaning male swine with initial body weight 8,64 ± 5,88 kg and was using completely randomized design (CRD) by five treatments and four replications.. The treatment is done consists offive types of rations that P1 =7,5% cacao pods fermented and 17,5% rice bran, P2 = 10% cacao pods fermented and 15% rice bran, P3 = 12,5% cacao pods fermented and 12,5% rice bran, P4 = 15% cacao pods fermented and 10% rice bran, dan P5 = 17,5% cacao pods fermented and 7,5% rice bran. Parameters measured were consumption, average daily gain (ADG) and conversion ratio.&#xD;
The result of this research showed that given of cacao pods fermented by Rhizopus sp, Saccharomyces sp, Lactobacillus sp had the different result to feed consumtion(g/head/day) P1; P2; P3; P4, and P5 for 1.035,44; 1.394,23; 1.260,48; 1.030,86; and 1.085,80, Average Daily Gain (ADG) (g/head/day) P1;&#xD;
P2; P3; P4, and P5 for (236,90; 341,07; 350,30; 244,05 and 256,03), and&#xD;
Conversion Ratio P1; P2; P3; P4, and P5 for 4,47; 4,08; 3,75; 4,28; and 4,44 The pod cacao which are fermented is a good feed. The pod cacao can be used as a substitution of bran in feed, this bran in feed of swine is about 25%, can be replaced about 12,5% cacao pods fermented and 12,5% rice bran in rations.
Abstract (other language): BORNOK VENANTIUS P: Substitusi Dedak Padi dengan Pod Kakao (Theobroma cacao L) Difermentasi dengan Rhizopus sp, Saccharomyces sp, Lactobacillus sp terhadap Performans Ternak Babi Peranakan Landrace Jantan. Dibimbing oleh NURZAINAH GINTING dan ISKANDAR SEMBIRING.&#xD;
Pod kakao fermentasi dapat digunakan sebagai pakan alternatif penganti dedak padi karena kapasitasnya dapat memperbaiki performans selama pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan potensi pod kakao fermentasi sebagai substitusi dedak padi terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Penelitian dilakukan pada bulan April - Juni 2012 di Jalan Galang, Kampung Baru, Desa Pasar Melintang, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, menggunakan 20 ekor ternak babi peranakan Landrace jantan dengan rataan bobot badan awal 8,64 ± 5,88 kg dan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dilakukan terdiri atas lima jenis ransum yaitu P1 =7,5% kakao fermentasi dan 17,5% dedak padi, P2 = 10% kakao fermentasi dan 15% dedak padi, P3 = 12,5% kakao fermentasi dan 12,5% dedak padi, P4 = 15% kakao fermentasi dan 10% dedak padi, dan P5 = 17,5% kakao fermentasi dan 7,5% dedak padi. Parameter yang diamati konsumsi pakan, pertambahan bobot badan babi (PBB), dan konversi pakan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa pod kakao yang merupakan hasil limbah pertanian dapat digunakan sebagai substitusi dedak padi pada ransum babi dengan memberikan hasil yang baik terhadap konsumsi pakan (g/ekor/hari) P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar 1.035,44; 1.394,23; 1.260,48; 1.030,86; dan 1.085,80, pertambahan bobot badan (g/ekor/hari) P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar (236,90; 341,07; 350,30; 244,05 dan 256,03 konversi pakan P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar 4,47; 4,08; 3,75; 4,28; and 4,44Pod kakao fermentasi merupakan bahan pakan ternak yang baik. Pod kakao dapat digunakan sebagai substitusi dedak padi dalam ransum dengan keberadaan dedak padi dalam ransum ternak babi sebesar 25% dapat digantikan dengan 12,5% dedak padi dan 12,5% pod kakao fermentasi dalam ransum.</summary>
    <dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bornok Venantius P.</dc:creator>
    <dc:description>BORNOK VENANTIUS P: Substitusi Dedak Padi dengan Pod Kakao (Theobroma cacao L) Difermentasi dengan Rhizopus sp, Saccharomyces sp, Lactobacillus sp terhadap Performans Ternak Babi Peranakan Landrace Jantan. Dibimbing oleh NURZAINAH GINTING dan ISKANDAR SEMBIRING.&#xD;
Pod kakao fermentasi dapat digunakan sebagai pakan alternatif penganti dedak padi karena kapasitasnya dapat memperbaiki performans selama pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan potensi pod kakao fermentasi sebagai substitusi dedak padi terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Penelitian dilakukan pada bulan April - Juni 2012 di Jalan Galang, Kampung Baru, Desa Pasar Melintang, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, menggunakan 20 ekor ternak babi peranakan Landrace jantan dengan rataan bobot badan awal 8,64 ± 5,88 kg dan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dilakukan terdiri atas lima jenis ransum yaitu P1 =7,5% kakao fermentasi dan 17,5% dedak padi, P2 = 10% kakao fermentasi dan 15% dedak padi, P3 = 12,5% kakao fermentasi dan 12,5% dedak padi, P4 = 15% kakao fermentasi dan 10% dedak padi, dan P5 = 17,5% kakao fermentasi dan 7,5% dedak padi. Parameter yang diamati konsumsi pakan, pertambahan bobot badan babi (PBB), dan konversi pakan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa pod kakao yang merupakan hasil limbah pertanian dapat digunakan sebagai substitusi dedak padi pada ransum babi dengan memberikan hasil yang baik terhadap konsumsi pakan (g/ekor/hari) P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar 1.035,44; 1.394,23; 1.260,48; 1.030,86; dan 1.085,80, pertambahan bobot badan (g/ekor/hari) P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar (236,90; 341,07; 350,30; 244,05 dan 256,03 konversi pakan P1; P2; P3; P4, dan P5 sebesar 4,47; 4,08; 3,75; 4,28; and 4,44Pod kakao fermentasi merupakan bahan pakan ternak yang baik. Pod kakao dapat digunakan sebagai substitusi dedak padi dalam ransum dengan keberadaan dedak padi dalam ransum ternak babi sebesar 25% dapat digantikan dengan 12,5% dedak padi dan 12,5% pod kakao fermentasi dalam ransum.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efek Bentuk Fisik Ransum Terhadap Efesiensi Penggunaan Protein Pada Ayam Broiler</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35112" />
    <author>
      <name>Panjaitan, Indra</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35112</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:51Z</updated>
    <published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Panjaitan, Indra
Advisors: Tafsin, Ma'ruf; Siregar, Zulfikar
Abstract: INDRA PANJAITAN: The Effect ofPhysical Form OfComplete feed On Efficiency Utilization Protein Rations on Broiler Chickens, under supervised by: MA'RUF TAFSIN and ZULFIKAR SIREGAR&#xD;
Physical form rations can influence the digestibility of broiler chickens. The objective of this research was to determine the effect of particle size ration size in the form of mash, fine crumble, crumble, crumble and coarse pellets on the efficiency of protein utilization in broiler rations. The experiment was used completely randomized design (CRD) with five treatments and three replications.&#xD;
The results of this research showed that the effect of physical form ration gives a significantly effect on the retention of the protein (P &lt; 0.05) but does not significantly affect the protein efficiency ratio (P &gt; 0.05).
Abstract (other language): INDRA PANJAITAN: Efek Bentuk Fisik Ransum Terhadap Efisiensi&#xD;
Penggunaan Protein pada Ayam Broiler, dibimbing oleh : MA'RUF TAFSIN dan ZULFIKAR SIREGAR.&#xD;
Bentuk fisik ransum dapat berpengaruh terhadap daya cerna ayam broiler. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel size ransum yang berbentuk tepung, fine crumble, crumble, coarse crumble dan pellet terhadap efisiensi penggunaan protein dalam ransum ayam broiler. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek bentuk fisik ransum memberikan pengaruh nyata (P &lt; 0,05) terhadap retensi protein tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rasio efisiensi protein (P &gt; 0,05).</summary>
    <dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Panjaitan, Indra</dc:creator>
    <dc:description>INDRA PANJAITAN: Efek Bentuk Fisik Ransum Terhadap Efisiensi&#xD;
Penggunaan Protein pada Ayam Broiler, dibimbing oleh : MA'RUF TAFSIN dan ZULFIKAR SIREGAR.&#xD;
Bentuk fisik ransum dapat berpengaruh terhadap daya cerna ayam broiler. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel size ransum yang berbentuk tepung, fine crumble, crumble, coarse crumble dan pellet terhadap efisiensi penggunaan protein dalam ransum ayam broiler. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek bentuk fisik ransum memberikan pengaruh nyata (P &lt; 0,05) terhadap retensi protein tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rasio efisiensi protein (P &gt; 0,05).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Evaluasi Dampak Program Bantuan langsung Tunai (BLT) Bagi Pengentasan Kemiskinan Di Kabupaten Toba Samosir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35111" />
    <author>
      <name>Naipospos, Tunggun M.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35111</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:54Z</updated>
    <published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Naipospos, Tunggun M.
Advisors: Sirojuzilam
Abstract: Penelitian ini berjudul Evaluasi Dampak Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Bagi Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Toba Samosir yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang keberhasilan program BLT sebagai kompensasi atas naiknya harga BBM dan juga untuk melihat bagaimana dampak program BLT tersebut bagi pengentasan kemiskinan melalui kemampuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pokok di Kabupaten Toba Samosir.&#xD;
	&#xD;
Program Bantuan Langsung Tunai ( BLT) merupakan salah satu alternatif kebijakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Program BLT ini dilaksanakan untuk mengatasi dampak krisis ekonomi yakni dampak dari kenaikan harga BBM agar keluarga miskin yang menerima bantuan dapat memenuhi kebutuhan pokok hidupnya dan menambah kesejahteraan bagi mereka.&#xD;
&#xD;
Metode / teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan uji statistik paired sample t-test (uji dua sampel berpasangan).&#xD;
&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk melihat keberhasilan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kabupaten Toba Samosir, dan juga dampaknya bagi pengentasan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan pokok. Populasi yang diambil adalah 3 kecamatan di Toba Samosir yang memiliki jumlah rumah tangga miskin terbanyak, sedang dan terkecil dengan sampel sebanyak 100 orang.&#xD;
&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data jika dilihat dari segi efektifitas dan efisiensi program maka program BLT belum bisa dikatakan berhasil karena masih banyak masalah-masalah yang terjadi di lapangan sehingga program tidak dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Namun jika dilihat dampak program BLT bagi pengentasan kemiskinan maka program ini memberi dampak yang positif karena dapat membantu pemenuhan kebutuhan pokok untuk menambah kesejahteraan, walaupun pada kenyataannya dampak yang diberikan sangatlah kecil.
Abstract (other language): This study titled Evaluation of Impact of Bantuan Langsung Tunai Program (BLT) for Poverty Alleviation in Toba Samosir regency that aimed to gain an overview of the success of BLT program to compensate for rising fuel prices and also to see how the impact of the BLT program for poverty alleviation through community capacity the fulfillment of basic needs Toba Samosir regency.&#xD;
&#xD;
Bantuan Langsung Tunai (BLT) program is one alternative to the government's policy in dealing with poverty. BLT program was implemented to address the impact of the economic crisis the impact of rising fuel prices that poor families receive assistance to meet the basic needs of life and increase their welfare.&#xD;
&#xD;
Methods / techniques of data analysis is descriptive analysis and statistical test paired sample t-test (paired two-sample test).&#xD;
&#xD;
This study aims to look at the success of Bantuan Langsung Tunai Program in Toba Samosir regency, as well as its impact on poverty alleviation through the fulfillment of basic needs. Population is taken three sub-districts in Toba Samosir which has most number of poor households, medium and smallest with a samples of 100 people.&#xD;
&#xD;
Based on the results of research and analysis of data in terms of the effectiveness and efficiency of the BLT program, the program can not be said to succeed because there are still many problems that occur in the field so that the program can not be run effectively and efficiently. However, if seen the impact of poverty alleviation programs for the BLT program had a positive impact because it can help meet the basic needs to increase welfare, despite the fact that a given effect is very small.</summary>
    <dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Naipospos, Tunggun M.</dc:creator>
    <dc:description>This study titled Evaluation of Impact of Bantuan Langsung Tunai Program (BLT) for Poverty Alleviation in Toba Samosir regency that aimed to gain an overview of the success of BLT program to compensate for rising fuel prices and also to see how the impact of the BLT program for poverty alleviation through community capacity the fulfillment of basic needs Toba Samosir regency.&#xD;
&#xD;
Bantuan Langsung Tunai (BLT) program is one alternative to the government's policy in dealing with poverty. BLT program was implemented to address the impact of the economic crisis the impact of rising fuel prices that poor families receive assistance to meet the basic needs of life and increase their welfare.&#xD;
&#xD;
Methods / techniques of data analysis is descriptive analysis and statistical test paired sample t-test (paired two-sample test).&#xD;
&#xD;
This study aims to look at the success of Bantuan Langsung Tunai Program in Toba Samosir regency, as well as its impact on poverty alleviation through the fulfillment of basic needs. Population is taken three sub-districts in Toba Samosir which has most number of poor households, medium and smallest with a samples of 100 people.&#xD;
&#xD;
Based on the results of research and analysis of data in terms of the effectiveness and efficiency of the BLT program, the program can not be said to succeed because there are still many problems that occur in the field so that the program can not be run effectively and efficiently. However, if seen the impact of poverty alleviation programs for the BLT program had a positive impact because it can help meet the basic needs to increase welfare, despite the fact that a given effect is very small.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Karakteristik, Pengetahuan dan Sikap Uni terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35110" />
    <author>
      <name>Husna, Asma Ul</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35110</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:58Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Husna, Asma Ul
Advisors: Yusad, Yusniwarti; Asfriyati
Abstract: ASI Eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah apabila bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti : susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat. Pemberian ASI Eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4 bulan, tetapi bila mungkin selama 6 bulan.Dari hasil Survei Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 bayi yang diberi ASI sampai 4 bulan sebanyak 55,1 %, sedangkan bayi yang diberi ASI sampai 6 bulan sebanyak 39,5 % dan pemberian ASI Eksklusif sampai 4 bulan sebanyak 52 %.Target nasional yang ditetapkan Departemen Kesehatan RI sesuai dengan Kepmenkes no.450/Menkes/S K/I V/2000 untuk pencapaian pemberian AST eksklusif adalah 80 %. Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai tahun 2005 bahwa cakupan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Garuda adalah 67,6 %.&#xD;
Penelitian dilakukan di Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik, pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif tahun 2006. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional (sekat silang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki bayi usia 4 sampai 12 bulan dan memiliki KMS bayi balita di Puskesmas Garuda Kecamatan Marpoyan Damai yang berjumlah 1184 orang.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh karakteristik ibu ( umur, tingkat pendidikan, status pekerjaan, paritas dan pendapatan keluarga ) terhadap pemberian ASI Eksklusif. Dan ada pengaruh pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif.&#xD;
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru untuk dapat meningkatkan promosi pemberian ASI Eksklusif kepada masyarakat dan untuk memotivasi ibu memberikan ASI secara eksklusif adalah melalui pemberdayaan petugas kesehatan dan kader posyandu.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Husna, Asma Ul</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengukuran Kadar Debu Dan Gangguan Saluran Pernafasan Pekerja Bengkel Pandai Besi Di Desa Sitampurung Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35109" />
    <author>
      <name>Sihombing, Karel F.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35109</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:50Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sihombing, Karel F.
Advisors: Marsaulma, Irnawati; Hasan, Wirsal
Abstract: Bengkel Pandai Besi merupakan industri rumah tangga yang sampai saat ini merupakan produsen terutama alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, parang, sekop, garu dan lain-lain, yang pada saat produksinya terutama pada saat pemotongan dan pembentukan besi baja banyak menghasilkan debu yang bersumber dari tungku pembakaran.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif, bertujuan untuk mengetahui tingkat kadar debu di ruang kerja dan gangguan saluran pernafasan pekerja bengkel pandai besi di desa Sitampurung. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 15 bengkel pandai besi dan seluruh pekerja sebanyak 98 orang.&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dari 15 bengkel pandai besi, 9 diantarannya tidak memenuhi syarat dengan kadar debu tertinggi pada bengkel pandai besi II yaitu 9,37 mg/m3 dan 6 bengkel pandai besi memenuhi syarat dengan kadar debu terendah pada bengkel pandai besi XV yaitu 8,96 mg/m3, jumlah pekerja yang mengalami gangguan saluran pernafasan sebanyak 38 orang (38,77%) dan yang tidak mengalami gangguan saluran pernafasan sebanyak 60 orang (61,23%). Dari 38 orang pekerja yang mengalami gangguan saluran pernafasan, 13 orang (34,21%) dengan kadar debu ruang kerja yang memenuhi syarat (&lt; 10 mg/m3) dan 25 orang3(65,79%) dengan kadar debu ruang kerja yang tidak memenuhi syarat (&gt; 10 mg/m ). Sedangkan dari 60 orang pekerja yang tidak mengalami gangguan saluran pernafasan, diantaranya 19 orang (31,67%) dengan kadar debu ruang kerja memenuhi syarat (&lt; 10 mg/m ) dan 41 orang (63,33%) dengan kadar debu ruang kerja yang tidak memenuhi syarat (&gt; 10 mg/m ).&#xD;
Sesuai hasii penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar debu ruang kerja pandai besi baik yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan pada pekerja 15 bengkel pandai besi.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sihombing, Karel F.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepemilikan dan Keadaan Jamban Keluarga Di Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2001</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35106" />
    <author>
      <name>Palneti, Dewi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35106</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:58Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Palneti, Dewi
Advisors: Sembiring, Nasap
Abstract: Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang&#xD;
dikemukakan oleh Hendrik L. Blum diantaranya adalah faktor keturunan, faktor&#xD;
pelayanan kesehatan, faktor prilaku dan faktor lingkungan.	.      . .&#xD;
Pembuangan kotoran manusia merupakan bagian penting dari sanitasi lingkungan. Permasalahan pembuangan kotoran manusia terutama di daerah pedesaan akan menjadi pelik, dimana prilaku manusia dalam pembuangan kotorannya dan juga dalam penggunaan jamban yang masih kurang saniter cenderung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor - faktor yang mempengaruhi antara lain adalah faktor pendidikan, pengetahuan, kebiasaan/tradisi, sosial ekonomi, geografi juga tersedianya fasilitas air bersih dan lain-lain.&#xD;
Peningkatan program jamban keluarga diperlukan karena jamban keluarga merupakan salah satu sarana kesehatan lingkungan yang berguna untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit yang bersumber dari kotoran manusia.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan kepemilikan dan keadaan jamban keluarga di Desa Percut Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang. Penelitian ini bersifat deskriptif Sebagai populasi adalah masyarakat Desa Percut, sampel diambil sebanyak 96 Kepala Keluarga dann pengambilan sampel terpilih dilakukan secara sistematik random sampling.&#xD;
Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemilikan dan keadaan jamban keluarga tidak memenuhi syarat kesehatan. Tingkat pendidikan responden berada pada kategori rendah (52,08%), tingkat pengetahuan rendah (39,58%), status ekonomi rendah (53,13 %), dan sikap responden buruk (44,83%).&#xD;
 &#xD;
Dari hasil analisa dengan Chi Square Test pada tingkat kepercayaan 95% menunjukan ada hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat status ekonomi dan sikap dengan kepemilikan dan keadaan jamban keluarga (p&lt;0,05).&#xD;
Disarankan agar dilakuksn peningkatan terhadap kepemilikan dan keadaan jamban keluarga dan dilakukan juga penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat tentang kepemilikan dan keadaan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dapat dilakukan dengan diadakan program arisan jamban keluarga guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Palneti, Dewi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Karakteristik Karyawan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Di Perusahaan Agung Jaya Kabupaten Deli Serdang Tahun 2000</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35104" />
    <author>
      <name>Halim, Amran</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35104</id>
    <updated>2013-03-16T20:19:00Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Halim, Amran
Advisors: Yustina, Ida
Abstract: Pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumberdaya manusia merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945. Pembangunan Nasional diarahkan pada peningkatan harkat, martabat, dan kemampuan manusia, serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, adil dan makmur baik materil maupun spirituil (Jamsostek 1998).&#xD;
  Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan nasional semakin meningkat dengan disertai berbagai tantangan dan resiko yang dihadapinya. Oleh karena itu kepada tenaga kerja perlu diberikan perlindungan / pemeliharaan kesejahteraannya, sehingga pada gilirannya akan dapat meningkatkan produktivitas nasional.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Halim, Amran</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pandangan Pasien Mengenai Iur-Biaya dan Pengaruhnya Terhadap Lama Perawatan Bagi Pasien Rawat Inap Pengguna Jasa Akses Di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2000</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35102" />
    <author>
      <name>Wilda, Suhriyani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35102</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:49Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wilda, Suhriyani
Advisors: Heldy B.Z.
Abstract: Iur biaya adalah suatu konsep pemberian imbalan jasa kepada PPK, dimana sebagian biaya pelayanan kesehatan dibayar oleh pengguna jasa pelayan kesehatan. Saat ini iur biaya merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan didalam penyelenggaraan program pembiayaan kesehatan. Hal ini disebabkan karena upaya untuk mengendalikan biaya pelayanan kesehatan telah mencapai tahap kritis&#xD;
&#xD;
Penelitian ini bersifat deskriktif analitik yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan pasien terhadap iur-biaya dan pengaruhnya terhadap lama perawatan pasien rawat inap Askes di Rumah Sakit Haji Medan. Dalam hal ini yang menjadi sampel penelitian yaitu semua populasi (seluruh pasien yang menggunakan jasa Asuransi Kesehatan yang rawat inap di Rumah Sakit Haji Medan) yaitu 40 orang .&#xD;
&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa iur-biaya perawatan kelas, iur-biaya visite dokter, iur-biaya penunjang diagnostik, dan iur biaya bahan habis pakai tidak berpengaruh terhadap lamanya perawatan. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 orang responden diperoleh lama 13-15 hari, sedang 9 - 12 hari dan sebentar 5 - 8 hari.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wilda, Suhriyani</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tinjauan Sanitasi Dasar Rumah Sakit Umum Helvetia Medan Tahun 2000</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35099" />
    <author>
      <name>Parawidian, Cut</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35099</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:31Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Parawidian, Cut
Advisors: Dharma, Surya
Abstract: Sanitasi Dasar sangat penting artinya pada suatu Rumah Sakit karena sangat mempengaruhi dalam usaha penyembuhan dan pengobatan maupun pencegahan suatu penyakit.&#xD;
Apabila sanitasi dasar rumah sakit itu baik, maka kegiatan rumah sakit dalam usaha penyembuhan maupun pencegahan penyakit akan tercapai.&#xD;
Penelitian ini bersifat deskriptif dan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan sanitasi dasar sesuai Peraturan Menteri Kesehatan nomor 986/Menkes/Per/xi/l 992.&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian sarana air bersih yang berasal dari sumur bor, sarana pembuangan sampah, toilet dan kamar mandi, sarana pembuangan air limbah serta tenaga pelaksana di rumah sakit sebagai faktor pendukung belum memenuhi persyaratan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 986/Menkes/Per/xi/1992.&#xD;
Melihat pada kenyataan diatas, di harapkan agar perbaikan terhadap sanitasi lebih ditingkatkan, begitu juga dengan petugas dan kerjasama antar instansi yang terkait di masa yang akan datang.</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Parawidian, Cut</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Keadaan Sumur Gali Di Desa Aek Nauli Kecamatan Padang Sidempuan Timur Kabupaten Tap-Sel Tahun 2000 (Ditinjau Dari Aspek Konstruksi)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35098" />
    <author>
      <name>Harahap, Chitra Elfianora</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35098</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:34Z</updated>
    <published>2013-02-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Chitra Elfianora
Advisors: Dharma, Surya; Harahap, Achsan
Abstract: Tujuan Pembangunan Nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara kesatuan Republik Indonesia.&#xD;
Pembangunan dibidang kesehatan yang merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional bertujuan untuk terciptanya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. (Departemen Penerangan R.1,1992).</summary>
    <dc:date>2013-02-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Chitra Elfianora</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pasien Terhadap Pencarian Pengobatan Tradisional Yayasan Baik Budi Pijat Refleksi Medan Tahun 1999</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35096" />
    <author>
      <name>Alkadri, Yaser</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35096</id>
    <updated>2013-03-16T20:18:53Z</updated>
    <published>2013-02-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Alkadri, Yaser
Advisors: Tukiman; Nasution, Aman
Abstract: Pengobatan tradisional pada masyarakat Indonesia sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Pijat Refleksi adalah merupakan suara bentuk dari pengobatan tradisional yang dalam wujud pelaksanaannya lebih bersifat sosial untuk membantu masyarakat dalam penyembuhan penyakit. Dalam praktek sehari-hari Yayasan Baik Budi Pijat Refleksi banyak dikunjungi oleh pasien. Objek penelitian ini adalah pasien yang datang berobat ke Yayasan Baik Budi Pijat Refleksi. Berdasarkan hal tersebut kemudian dilaksanakan penelitian mengapa masyarakat menggunakan pengobatan tradisional Pijat Refleksi pada Yayasan Biak Budi Medan.&#xD;
Metodologi penelitian ini bersifat kualitatif. Cara pengumpulan data yaitu dengan melakukan wawancara secara mendalam serta menggunakan tape recorder sebagai alat penyimpan hasil wawancara dan panduan wawancara sebagai pedoman dari proses wawancara.&#xD;
Adapun hasil yang diperoleh bahwa masyarakat menggunakan pengobatan tradisional Pijat Refleksi ini karena dari segi biaya dapat terjangkau oleh masyarakat, tidak adanya efek samping karena tanpa ada obat yang dikonsumsi, dan penyakit dapat sembuh di Pijat Refleksi, serta hal yang sangat menunjang adalah dari segi pelayanan yang dirasakan sangat baik sekali dalam melayani pasien.</summary>
    <dc:date>2013-02-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Alkadri, Yaser</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tinjauan Sanitasi Lingkungan Pada Sekolah-Sekolah Dasar Di Kecamatan batang Kuis Kabupaten Deli Serdang Tahun 2000</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35095" />
    <author>
      <name>Chairy, Paisal</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35095</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:34Z</updated>
    <published>2013-02-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Chairy, Paisal
Advisors: Sembiring, Nasap
Abstract: Sekolah merupakan tempat dimana peserta didik belajar dan meiryelesaikan masa studinya. Untuk kesehatan masyarakat sekolah arti dari kesehatan lingkungan ini sangat besar, jika kesehatan lingkungan sekolah tidak baut maka akan dapat menimbulkan penyakit bagi masyarakat sekolah dan akan mempengaruhi proses belajar dan mengajar. Karena itu perlu kiranya dilakukan pengawasan terhadap lingkungan sekolah.</summary>
    <dc:date>2013-02-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Chairy, Paisal</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengadaan Obat Dalam Pelayanan Kesehatan di Puskesmas</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35093" />
    <author>
      <name>Iqbal,Muhammad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35093</id>
    <updated>2013-03-16T20:14:26Z</updated>
    <published>2013-02-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Iqbal,Muhammad
Advisors: Heldy B.Z.; Santosa, Heru
Abstract: Pengadaan obat-obatan adalah suatu proses untuk memperoleh obat yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi pelayanan dari suatu unit pelayanan kesehatan. Puskesmas adalah salah satu unit pelayanan kesehatan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan kesehatan dan membina peran serta masyarakat serta memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu.&#xD;
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pasar Ujungbatu Kecamatan Sosa Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian ini adalah bersifat deskriptif yaitu untuk mendapatkan gambaran masalah pengadaan obat di puskesmas. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa perencanaan yang dilakukan hanya ditentukan atas pola penyakit dan sisa obat (87,5 dan 25 persen dari 40 responden yang menjadi sampel penelitian). Volume permintaan obat mencapai 5 sampai 10 kali lipat dari volume pemakaian. Sementara pemakaian hanya 30 sampai 50 persen dari obat yang tersedia. Di sisi lain ditemukan bahwa pemakaian obat tertentu persediaannya memadai tetapi pemakaian relatif sedikit dan kelompok obat yang lain persediannya relatif sedikit tetapi pemakaian cukup tinggi yang menyebabkan persediaan kelompok obat tertentu kurang.&#xD;
Keadaan stok obat yang seperti ini menyebabkan fungsi pelayanan yang dilaksanakan puskesmas kurang optimal. Hal ini perlu mendapat perhatian pimpinan puskesmas dalam mengelola dan mengawasi baik perencanaan, permintaan dan penerimaan obat yang dilakukan.</summary>
    <dc:date>2013-02-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Iqbal,Muhammad</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efektifitas Ikan Kepala Tirnah (Aplochcilus panchax) Dan Ikan Guppy (Poecelia reticula)&#xD;
Dalam Pernberantasan Jentik Anopheles</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34946" />
    <author>
      <name>Pakpahan, Julita K.A.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34946</id>
    <updated>2013-01-04T19:00:42Z</updated>
    <published>2013-01-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pakpahan, Julita K.A.
Advisors: Dharma, Surya; Cahya, Indra
Abstract: Nyamuk Anopheles salah satu jenis serangga yang merupakan vektor penularan penyakit terhadap manusia. Oleh karena itu populasi nyamuk ini harus dikendalikan sebagaimana mestinya. Salah satu cara atau metoda pengendaliannya adalah dengan memanfaatkan ikan kepala timah dan ikan guppy. Ikan kepala timah dan ikan guppy tergolong dalam satu filum, yang punya banyak kesamaan, baik morfologi maupun perikehidupannya. Hal ini dapat dilihat, baik dalam kesukaan memakan jentik Anopheles, maupun memilih habitat hidup, serta sarna-sarna mampu hidup pada kondisi air yang bervariasi.</summary>
    <dc:date>2013-01-02T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pakpahan, Julita K.A.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Zat Pengawet Pada Mie Aceh Di Beberapa Warung Makanan Jajanan Di Kelurahan Sei Sikambing B Kecamatan Medan Sunggal Kota Medan Tahun 2004</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34929" />
    <author>
      <name>Simanjuntak, Elliot Ronald P.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34929</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:36Z</updated>
    <published>2012-12-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simanjuntak, Elliot Ronald P.
Advisors: Jumirah; Nasution, Emawati
Abstract: Mie aceh merupakan makanan berbentuk khas mie yang tidak dikeringkan dan paling cepat mengalami kerusakan atau pembusukan. Pembuatannya masih merupakan industri rumah tangga, sehingga peraturan penggunaan zat pengawetnya belum tetap. Penting dilakukan penelitian untuk mengetahui jenis dan kadar zat pengawet yang digunakan apakah memenuhi ketentuan Permenkes RI No. 722IMENKES/Per/IX/1988, karena sifatnya yang mengakumulasi dikhawatirkan jika melebihi dari ketentuan tersebut zat pengawet dapat menyebabkan kanker bahkan diduga dapat merusak sistem syaraf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan kadar zat pengawet yang digunakan pada Mie Aceh.</summary>
    <dc:date>2012-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simanjuntak, Elliot Ronald P.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Beban Kerja dengan Kinerja Koordinator SP2TP di Kota Medan Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34927" />
    <author>
      <name>Tambun, Linda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34927</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:36Z</updated>
    <published>2012-12-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tambun, Linda
Advisors: Yustina, Ida; Fauzi
Abstract: Kurang baiknya kualitas laporan SP2TP tersebut mencerminkan adanya faktor penghambat atau kurang mendukung pelaksana SP2TP dalam melaksanakan tugasnya di puskesmas. Demikian juga dengan masalah kelengkapan data dan ketepatan waktu pengiriman dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Medan, masih kurang lengkap pada setiap item formulir SP2TP dan tidak sesuai dengan waktu pengiriman yang ditetapkan.&#xD;
Telah dilakukan penelitian survei tipe explanatory research terhadap 39 Koordinator SP2TP Puskesmas di Kota Medan, yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan beban kerja dengan kinerja koordinator SP2TP Puskesmas di Kota Medan. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh registrasi Dinas Kesehatan Kota Medan serta dokumen lain yang terkait dengan SP2TP. Data dianalisis data dengan menggunakan uji korelasi Spearman pada taraf a=5%.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan sebesar 64,1% responden menyatakan beban kerja pada kategori tinggi, karena merangkap jabatan lain selain sebagai koordinator SP2TP.Sebesar 59,0% data SP2TP pada kategori tidak lengkap, sebesar 51,3% waktu pengiriman laporan SP2TP pada kategori tidak tepat (lewat tanggal 10), dan sebesar 71,2% kinerja Koordinator SP2TP pada kategori tidak baik.&#xD;
Terdapat hubungan beban kerja dengan kelengkapan data SP2TP (p= 0,000 dan r - 0,725), beban kerja juga berhubungan dengan ketepatan pelaporan SP2TP (p = 0,000 dan r = 0,572). Secara keseluruhan beban kerja berhubungan dengan kinerja koordinator SP2TP puskesmas (p = 0.000 dan r = 0.827).&#xD;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel beban kerja dilihat dari ada tidaknya rangkap jabatan berhubungan dengan kinerja Koordinator SP2TP Puskesmas untuk dilihat dari kelengkapan data dan ketepatan waktu pengiriman. Disarankan kepala puskesmas meneliti kelengkapan data SP2TP puskesmas sebelum dikirim ke Dinas Kesehatan, perlu diadakan pelatihan kepada petugas pengelola SP2TP sehingga laporan SP2TP sesuai dengan pedoman yang ditetapkan.</summary>
    <dc:date>2012-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tambun, Linda</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Karakteristik Organisasi Dalam Pencapaian Pelayanan Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil Di Puskesmas Medan Deli Kota Medan Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34924" />
    <author>
      <name>Pulungan, Muhammad Ali Sumartan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34924</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:34Z</updated>
    <published>2012-12-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pulungan, Muhammad Ali Sumartan
Advisors: Yustina; Fauzi
Abstract: Rendahnya cakupan imunisasi tetanus toxoid membawa pengaruh yang buruk bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Dari 39 puskesmas di kota Medan, cakupan imunisasi toxoid ibu hamil paling rendah terdapat di Puskesmas Medan Deli yaitu cakupan tetanus toxoid -1 sebanyak 291 orang (12,0%) dan cakupan imunisasi tetanus toxoid -2 hanya 194 orang (8,0%) dari 2.428 orang ibu hamil.&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu menelaah proses-proses yang terjadi dalam variabel dalam hal ini pengaruh karakteristik organisasi terhadap kinerja dalam pencapaian imunisasi TT. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana karakteristik organisasi (kemampuan petugas, fasilitas pendukung, kepemimpinan, koordinasi) dalam pencapaian pelayanan imunisasi tetanus toxoid ibu hamil di Puskesmas Medan Deli kota Medan.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan informan dalam pencapaian imunisasi TT sudah baik. Penyuluhan mengenai Imunisasi TT bumil jarang dilakukan. Fasilitas pendukung pelayanan imunisasi TT cukup tersedia serta layak pakai. Tidak ada buku status imunisasi untuk Imunisasi TT. Pengetahuan tentang imunisasi TT masih kurang baik.&#xD;
Perlu ditingkatkan kemampuan informan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Perlu disediakan buku status imunisasi TT bagi ibu-ibu hamil. Perlu ditingkatkan kemampuan informan dalam memberikan arahan dan evaluasi program sehingga mencapai tingkat yang telah ditetapkan.</summary>
    <dc:date>2012-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pulungan, Muhammad Ali Sumartan</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Sanitasi Lingkungan Perumahan dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Penyakit Filariasis di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34922" />
    <author>
      <name>Masaefo</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34922</id>
    <updated>2013-01-05T19:01:37Z</updated>
    <published>2012-12-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Masaefo
Advisors: Marsaulina, Irnawati; Nurmaini
Abstract: Penyakit filariasis disebabkan infeksi cacing filurias dan ditularkan berbagai jenis nyamuk. Pelaksanaan program eliminasi filariasis di Indonesia dimulai tahu 2001 dan tahun 2002. Daerah Sumatera Utara merupakan daerah endemis filariasi yaitu Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Binjai. Laporan pemeriksaan darah jari ditemukan 5 orang (1,37%) di Kecamatan Teluk Mengkudu dan 6 orang (1,29%) di Kecamatan Tebing Tinggi positif menderita filariasis. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku dan sanitasi lingkungan perumhan terhadap kejadian penyakit filariasis di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2006.&#xD;
Penelitian ini adalah bersifat deskriptif berdesain Cross Sectional Study dilaksanakan di Kabupaten Serdang Bedagai. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 95 orang yang diambil dengan menggunakan metode fraksi sampel.&#xD;
Hasil penelitian, umur terbanyak adalah &lt; 20 tahun 54 orang (56,8%), jenis kelamin laki-laki yaitu 38 orang (53,7%), tingkat pendidikan rendah 57 orang (60%), bekerja di dalam/luar ruangan yaitu 48 orang (50,5%), penghasilan &gt; Rp 620.000 yaitu 54 orang (56,8%), pengetahuan kurang 61 orang (64,2%), sikap kurang 53 orang (55,8%), tindakan kurang 49 orang (51,6%), saluran pembuangan limbah tidak memenuhi syarat 55 orang (57,9%), jarak rumah ke tempat perindukan nyamuk tidak memenuhi syarat 51 orang (53,7%) dan keadaan rumah yang memenuhi syarat 54 orang (53,7%).&#xD;
Uji Chi~Square dalam penelitian menemukan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, tindakan, jarak rumah ke tempat perindukan nyamuk dan keadaan rumah (p&lt;0,05), tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, saluran pembuangan air limbah terhadap kejadian penyakit filariasis di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2006&#xD;
Berdasarkan hasil temuan perlu dilakukan kegiatan penyuluhan, pembentukan kelompok kerja (Pokja) Filariasis, peningkatan pengetahuan dan kerja sama lintas sektoral</summary>
    <dc:date>2012-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Masaefo</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Pneumonia pada Balita yang Berobat ke Puskesmas Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34920" />
    <author>
      <name>Hanum, Farida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34920</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:31Z</updated>
    <published>2012-12-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hanum, Farida
Advisors: Nasution, Rozaini; Lubis, Ria Masniari
Abstract: Penyakit Pneumonia termasuk masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Kejadian Pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Perbaungan terjadi peningkatan dari 106 pada bulan Januari-Desember 2004, meningkat menjadi 110 pada bulan Januari-Juli 2005.&#xD;
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit Pneumonia pada balita diwilayah kerja Puskesmas Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2005, dilakukan penelitian studi kasus kontrol. Sampel diambil 110 orang untuk kasus dan 110 kontrol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2005.&#xD;
Metode analisa data yang digunakan adalah uji Chi square, dengan taraf kemaknaan 0,05. untuk menguji apakah ada hubungan antara faktor internal (umur, jenis kelamin, status gizi, berat badan lahir, status ASI, status imunisasi) dan faktor eksternal (polusi asap dapur, ventilasi kamar tidur balita, dan kepadatan hunian) dengan penyakit Pneumonia pada balita.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor internal (umur, status gizi, status ASI, status imunisasi, berat badan lahir) dan faktor eksternal (polusi asap dapur, ventilasi kamar tidur balita, dan kepadatan hunian) dengan penyakit Pneumonia. Sedangkan jenis kelamin balita tidak ada hubungan dengan penyakit Pneumonia.&#xD;
Disarankan kepada petugas Puskesmas perlu memberikan penyuluhan kesehatan tentang perlunya peningkatan status gizi balita, pemberian ASI ekslusif, pemberian imunisasi lengkap, pemeriksaan kehamilan secara teratur sehingga diperoleh bayi yang sehat, penyuluhan tentang rumah sehat agar mengurangi penggunaan bahan bakar kayu/arang, minyak kompor, membuat dapur terpisah, mencukupkan ventilasi kamar tidur balita dan memperbaiki kepadatan hunian agar insidensi Pneumonia dapat menurun pada masa yang akan datang.</summary>
    <dc:date>2012-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hanum, Farida</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Faktor Penyebab Pemutusan Hubungan Kerja Pada Perusahaan-Perusahaan di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2004</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34913" />
    <author>
      <name>Sembiring, Sudiarti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34913</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:53Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sembiring, Sudiarti
Advisors: Sinaga, Mhd. Makmur; Tarigan, Lina
Abstract: Dewasa ini tenaga kerja banyak mengalami pemutusan hubungan kerja disamping karena menutut hak-hak normatif juga karena pengusaha bertindak sepihak tanpa alasan yang jelas. Pemutusan hubungan kerja merupakan pengalaman menyakitkan serta berdampak negatif sehingga mengganggu stabilitas keamanan.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin, masa kerja, sektor bidang usaha serta penyebab pemutusan hubungan kerja pada perusahaan-perusahaan di Propinsi Sumatera Utara Medan Tahun 2004.&#xD;
Jenis penelitian ini retrospective dan bersifat deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Data sekunder di peroleh dari kantor Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4-D) Propinsi Sumatera Utara Medan.&#xD;
Hasil penelitian yang diperoleh adalah pemutusan hubungan kerja paling banyak pada tenaga kerja berjenis kelamin laki-laki 78.66% (516 orang) dengan masa kerja &lt; 5 tahun 56.8% (355 kasus) penyebab paling tinggi tanpa kesalahan 38.08% (238 kasus) dan banyak terjadi pada sektor bidang usaha yayasan, jasa dan lain-lain 58.08% (363 kasus).&#xD;
Pemerintah/Depnaker hendaknya memperluas kesempatan kerja, melakukan pembinaan terhadap tenaga kerja dan menindak terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan. Pekerja/Serikat Pekerja hendaknya menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajiban, mampu menjaga ketertiban dan menyalurkan aspirasi secara demokratis serta mengembangkan keterampilan dan keahlian. Pengusaha/Organisasi Pengusaha hendaknya mampu menciptakan kemitraan dengan tenaga kerja,mengembangkan usaha, memperluas lapangan kerja serta memenuhi hak-hak normatif tenaga kerja, demokratis, berkeadilan serta menghindari pemutusan hubungan kerja secara sepihak tanpa alasan yang jelas tetapi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sembiring, Sudiarti</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Mutu Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Pematang Siantar</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34907" />
    <author>
      <name>Pinaria, Mulyana</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34907</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:30Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Pinaria, Mulyana
Advisors: Heldy. BZ; Yustina, Ida
Abstract: Sumber Daya Manusia menjadi unsur pertama dan utama dalam setiap aktivitas yang dilakukan, karena peralatan yang andal/canggih tanpa peran aktif SDM tidak berarti apa-apa tanpa didukung oleh kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik. Mutu pelayanan keperawatan rumah sakit di Indonesia sampai saat ini belum mampu melaksanakan pelayanan secara optimal, hal itu terjadi antara lain karena keterbatasan kemampuan profesional, pengaturan tugas belum efisien, dan peralatan belum memadai.&#xD;
Telah dilakukan penelitian survai yang bersifat eksplanatori terhadap 50 perawat di RSUD Pematang Siantar, bertujuan melihat pengaruh mutu sumber daya manusia terhadap kinerja tenaga keperawatan. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung. Adapun data sekunder dari laporan kegiatan serta registrasi RSUD Pematang Siantar. Analisis data dengan uji regresi berganda pada taraf a=5%.&#xD;
Sebanyak 72% responden dengan tingkat pendidikan kurang baik, sebanyak 58% responden telah mengikuti pelatihan pada kategori kurang baik, sebanyak 58% pengetahuan responden pada kategori kurang baik. Variabel pelatihan berpengaruh terhadap kinerja perawat (p=0,025, B=0,464), pengetahuan berpengaruh terhadap kinerja perawat (p=K),000, B=0,625), sedangkan variabel pendidikan tidak berpengaruh terhadap kinerja perawat (p=0,714), Hasil uji regresi berganda menunjukkan hanya variabel pelatihan, pengetahuan sebagai komponen SDM berpengaruh secara bermakna terhadap kinerja perawat. Variabel yang berpengaruh paling besar terhadap kinerja per awat adalah pengetahuan (B=0,625), diikuti variabel pelatihan (11=0,464).&#xD;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin sering mengikuti pelatihan dan tingkat pengetahuan yang baik akan meningkatkan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan keperawatan. Disarankan pihak manajemen rumah sakit membuka kesempatan kepada seluruh perawat untuk melanjutkan pendidikan serta memberikan peluang mengikuti pelatihan bidang keperawatan.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Pinaria, Mulyana</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemeriksaan Residu Pestisida Dan Telur Serta Larva Cacing Pada Seledri (Apium Greveolens L) Sebelum Dan Sesudah Dicuci Yang Dibeli Di Pasar Tradisional Medan Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34904" />
    <author>
      <name>Julianti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34904</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:30Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Julianti
Advisors: Santi, Devi Nuraini; Nurmaini
Abstract: Seledri ialah sejenis sayuran berwarna hijau yang umumnya digunakan sebagai bumbu masak atau tambahan dan taburan pada berbagai makanan masak, baik keadaan mentah maupun masak yang dikenal dengan nama Apium greveolens L .Seledri yang dibeli di pasar tradisional harus dicuci dengan air kran mengalir sampai bersih agar residu pestisida dan telur serta larva cacing yang melekat dapat terbuang sehingga seledri aman untuk dikonsumsi.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran residu pestisida dan telur serta larva cacng pada seledri sebelum dan sesudah dicuci yang dibeli di pasar tradisional Medan. Sampel yang diperoleh dari ketiga pasar tradisional kemudian diperiksa di Laboratorium Kesehatan Medan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan metode sedimentasi. Jenis penelitian yang digunakan ialah survei bersifat deskriptif.&#xD;
Hasil penelitian residu pestisida dari 9 (sembilan) sampel seledri sebelum dan sesudah dicuci yang diperiksa tidak sama tinggi atau tidak mendekati tinggi perambatan pestisida pembanding dan tidak terlihat bercak atau noda ini berarti bahwa keseluruhan sampel tidak mengandung residu pestisida, pada seledri yang belum dicuci ditemukan satu larva cacing tambang yang terdapat di pasar Sukaramai sedangkan seledri yang sudah dicuci tidak ada ditemukan telur dan larva cacing.&#xD;
Larva cacing tambang yang terdapat pada seledri jika dimakan sangatlah berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit kecacingan yang pada akhirnya menyebabkan anemia. Melihat kemugkinan yang dapat ditimbulkan bila pestisida dan telur serta larva cacing masuk ke dalam tubuh maka disarankan orang yang gemar mengkonsumsi seledri agar mencuci dengan air kran mengalir sampai bersih.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Julianti</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Keberadaan Tempat Perindukan Nyamuk Aedes Aegypti Pada Kasus Demam Berdarah Dengue Di Puskesmas Bangkinang Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34900" />
    <author>
      <name>Syafari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34900</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:38Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Syafari
Advisors: Dharma, Surya; Naria, Evi
Abstract: Salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan nasional adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), karena penyakit ini dapat menimbulkan wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk menganalisis keberadaan serta jenis tempat perindukan nyamuk Ae. aegypti pada kejadian kasus Demam Berdarah Dengue dilakukan penelitian observasional di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar Propinsi Riau dari tanggal 24 April sampai dengan tanggal 10 Juni 2006. Sampel dalam penelitian ini adalah penderita DBD yang telah didiagnosa oleh tenaga kesehatan yang datang berobat ke Puskesmas Bangkinang dan masyarakat yang bukan penderita DBD dan bertempat tinggal di desa / kelurahan yang tidak ada kasus DBD.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tempat penampungan air yang menjadi tempat perindukan nyamuk Ae. aegypti yang berada dalam rumah yaitu bak kamar mandi dan bak WC. Jenis tempat penampungan air yang berada di luar rumah yang menjadi tempat perindukan nyamuk yaitu drum. Tidak ditemukan jentik pada tempat penampungan air alami. Kepadatan dan penyebaran larva Ae.aegypti di Area penderita, kepadatan tercatat HI 71%, dan Cl 7,3% sedangkan pada Area bukan penderita kepadatan tercatat HI 29%, dan (Cl) 3%. Dari data yang ada menunjukkan bahwa masih ada jentik di wilayah kerja Puskesmas Bangkinang yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kasus DBD karena untuk desa / kelurahan endemis indeks jentik kurang dari atau sama dengan 5% hal ini bertujuan agar penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi, Angka Bebas Jentik pada Area penderita tercatat 29% dan pada Area Bukan penderita 71% sedangkan ABJ untuk Kecamatan endemis lebih dari atau sama dengan 95% dengan demikian wilayah kerja Puskesmas Bangkinang merupakan daerah dengan kategori rawan I karena masih ditemukan jentik.&#xD;
Pengawasan perlu ditingkatkan karena keberadaan larva Ae. aegypti dilikungan sangat erat hubungannya dengan praktik pelaksanaan PSN di masyarakat. Kewaspadaan dini terhadap vektor DBD perlu ditingkatkan secara berkesinambungan pada anak usia sekolah melalui program UKS tentang penyakit berbasis lingkungan. Perlu difungsikan tenaga kesehatan lingkungan dalam usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD. Kebijakan pemberantasan vektor&#xD;
 &#xD;
DBD pada daerah endemis agar lebih bermanfaat dalam usaha pengendalian dan pemberantasan vektor perlu digunakan parameter entomologi dan lingkungan. Perlu diadakan penyuluhan dan pengaktifan kader. Perlu pengkajian terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan vektor penyakit DBD dengan melakukan penelitian lebih lanjut</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Syafari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perilaku akseptor pil KB pada keluarga Prasejahtera di Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34897" />
    <author>
      <name>Astuti, Sri Budi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34897</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:35Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Astuti, Sri Budi
Advisors: Asfriyati; Arma, Abdul Jalil Amri
Abstract: Pengendalian tingkat kelahiran terutama diarahkan melalui usaha langsung yaitu peningkatan program keluarga berencana yang mengajak penduduk untuk merencanakan keluarga sehingga akan memberikan dampak pada pengendalian kelahiran. Usaha ini selanjutnya akan memberikan dampak pengendalian pertambahan penduduk, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia.&#xD;
Pil KB adalah alat kontrasepsi yang berbentuk tablet yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang mengandung hormon estrogen dan progesteron (Pil kombinasi), atau mengandung progesteron saja yang dikenal sebagai pil mini.&#xD;
Keluarga Prasejahtera adalah keluarga yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagai keluarga sejahtera I yaitu anggota keluarga melaksanakan ibadah agama, pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih, anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan berpergian, bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah, anak sakit atau Pasangan Usia Subur (PUS) ingin ber-KB dibawa kesarana kesehatan.&#xD;
Penelitian ini bersifat kualitatif, dimana tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengetahuan, sikap, dan tindakan akseptor pil KB pada keluarga prasejahtera. Informan adalah akseptor pil KB pada keluarga prasejahtera. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam (Indepth Interview) terhadap informan yang dipilih secara bola salju (Snow Balling) dengan mengunakan perekam tape recorder dan pengolahan data dilakukan menggunakan alat bantu EZ-TEXT Versi 3.06.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan informan sehubungan dengan pil KB berada pada tingkat tahu (Know), Sikap informan terhadap pil KB berada pada tingkat menerima (Receiving) dan Tindakan informan dalam penggunaan pil KB berada pada tingkat Persepsi (Perception).</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Astuti, Sri Budi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Pola Makan Dan Kejadian Anemia Gizi Besi Mahasiswi Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Lubuk Pakam Yang Tinggal Di Asrama Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34894" />
    <author>
      <name>Sitanggang, Belsasa</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34894</id>
    <updated>2012-12-20T21:15:48Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitanggang, Belsasa
Advisors: Jumirah; Simanjuntak, David H.
Abstract: Anemia menipakau salah satu masalah .gizi yang banyak dijumpai di Indonesia terutama pada wanita. Dampak anemia selain mengakibatkan daya pikir lemah, juga dapat menurunkan tingkat produktivitas kerja.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui "Gambaran Pola Makan dan Kejadian Anemia Gizi Besi Mahasiswi Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi Lubuk Pakam "Van.i Tinggal Di Asr ama Tahun 2005"&#xD;
Penelitian mi bersifat deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswi jurusan gizi yang tinggal di asrama, sedangkan pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhanana diperoleh sebanyak 50 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung terhadap responden dan kadar Hb diperoleh dengan metode cyanmethaemoglobin.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami anemia sebanyak 30%. Penerapan empat sehat lima sempurna responden sebagian besar kategori sedang. Penerapan diet responden yang menggunakan produk pelangsing sebanyak 30%. Semua responden memiliki pantangan terhadap makanan, di mana jenis makanan pantangan tersebut paling banyak pada kerang.&#xD;
Untuk meningkatkan pengetahuan responden terhadap anemia maka disarankan untuk memasukkan wacana-wacana ilmiah kesehatan serta menambah koleksi buku tentang anemia di perpustakaan. Mahasiswi sebaiknya lebih sering mencari informasi tentang masalah anemia. Disamping itu mahasiswi diharapkan harus selalu memperhatikan makanan yang dikonsumsinya yang mengarah pada pemenuhan gizi seimbang.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitanggang, Belsasa</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Persepsi Tenaga Kerja Terhadap Jamsostek di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, Cabang Medan Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34890" />
    <author>
      <name>Napitupulu, Sari Dermawati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34890</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:32Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Napitupulu, Sari Dermawati
Advisors: Tarigan, Lina; Lubis, Halinda Sari
Abstract: Persepsi merupakan pandangan seseorang terhadap suatu objek atau hal. Persepsi orang sangat berpengaruh pada perilakunya, seseorang yang memiliki persepsi yang positif umumnya memiliki perilaku yang positif. Jamsostek merupakan suatu bentuk perlindungan yang diberikan kepada tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang&#xD;
maupun pelayanan. .&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi tenaga kerja terhadap Jamsostek di PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. Cabang Medan Tahun 2006. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui persepsi tenaga kerja terhadap Jamsostek. Data primer diperoleh dengan menggunakan kuesioner pada 83 orang responden dan data sekunder diperoleh dari pihak personalia mengenai gambaran umum perusahaan. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif.&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari 83 orang responden yaitu sebanyak 31 orang (37.35 %) memiliki persepsi baik terhadap Jamsostek, 51 orang (61.45 %) memiliki persepsi kurang baik terhadap Jamsostek, dan 1 orang (1.20 %) memiliki persepsi buruk terhadap Jamsostek.&#xD;
Adanya hasil penelitian ini diharapkan agar pihak perusahaan dapat memberikan sosialisasi secara rutin informasi mengenai Jamsostek, khususnya berita terbaru mengenai Jamsostek, juga adanya pemberian buletin (leaflet) mengenai informasi Jamsostek.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Napitupulu, Sari Dermawati</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Sosiodemografi dan Sosiopsikologis terhadap Pilihan Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Pancur Batu Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34887" />
    <author>
      <name>Tampubolon, Mardingin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34887</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:30Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tampubolon, Mardingin
Advisors: Yustina, Ida; Heldy BZ
Abstract: Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Tingginya AKI dianggap sebagai tolok ukur kemampuan melakukan pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyeluruh.&#xD;
Untuk mengetahui pengaruh sosio demografi dan sosio psikologis terhadap pilihan penolong persalinan, dilakukan penelitian survey analitik {explanatory study) di wilayah kerja Puskesmas Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara. Populasinya adalah seluruh ibu yang yang bersalin terakhir yang ditolong oleh bidan dan dukun di wilayah kerja Puskesmas Pancur Batu tahun 2005 sebanyak 1676 orang. Sampel diambil secara systematic random sampling sebanyak 65 orang.&#xD;
Hasil penelitian didapat responden yang memilih bidan sebagai penolong persalinan adalah 41 orang (63,1%) dan yang memilih dukun sebanyak 24 orang (36,9%)&#xD;
Hasil analisis statistik menunjukkan ada pengaruh sosio demografi (umur, tingkat pendidikan dan rata-rata penghasilan) dan sosio psikologis (kepercayaan) ibu hamil terhadap pilihan penolong persalinan terakhir (masing-masing nilai p&lt;0,05), tetapi tidak ada pengaruh pekerjaan, persepsi dan sikap ibu hamil terhadap pilihan penolong persalinan terakhir (masing-masing nilai p&gt;0,05).&#xD;
Perlu lebih ditingkatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya ibu hamil sehingga diharapkan seluruh ibu hamil mendapatkan pelayanan persalinan oleh bidan. Apabila persalinan ditolong oleh dukun, agar selalu didampingi oleh bidan sehingga bisa mendeteksi lebih dini risiko yang mungkin timbul sewaktu persalinan, dan cepat dirujuk apabila ditemukan adanya penyulit persalinan.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tampubolon, Mardingin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemeriksaan Larva Cacing Pita pada Daging Babi(porcina) di Rumah Makan Pabi Panggang Karo Sekitar Padang Bulan-Simpang Selayang Medan Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34884" />
    <author>
      <name>Malemna, Seri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34884</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:29Z</updated>
    <published>2012-12-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Malemna, Seri
Advisors: Marsaulina, Irnawati; Dharma, Surya
Abstract: Berbagai jenis mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit pada manusia baik secara langsung maupun melalui perantaraan hewan (zoonosis), dari golongan cestoda yang termasuk parasit zoonosis yaitu Taenia solium yang ditularkan oleh daging babi dimana dapat menyebabkan Taeniasis pada manusia.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa kandungan larva cacing pita (larva Taenia solium) pada daging babi yang disajikan di Rumah Makan Babi Panggang Karo (BPK) sekitar Padang Bulan Medan. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Yayasan Sari Mutiara Medan dengan menggunakan metode kompresi otot dan metode pencernaan otot.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 sampel Rumah Makan yang diperiksa dengan menggunakan metode kompresi otot pada daging mentah diketahui 2 sampel mengandung larva cacing pita yaitu Rumah Makan C dan Rumah Makan E, setelah dilanjutkan ke metode pencernaan otot ternyata kedua larva cacing pita tersebut masih hidup ( masih infektif). Pemeriksaan dengan menggunakan metode kompresi otot pada daging babi yang berdasarkan penyajian dipanggang setengah masak yaitu pada suhu 53°C - 62°C dengan lama memanggang antara 10-15 menit diketahui diantara 5 sampel Rumah Makan yang diperiksa 1 diantaranya mengandung larva cacing pita setelah dilanjutkan ke metode pencernaan otot diketahui larva cacing pita tersebut tidak infektif lagi. Sampel daging babi berdasarkan penyajian dipanggang sampai masak yaitu pada suhu 65°C - 75°C dengan lama memanggang 20 - 30 menit diketahui tidak ada sampel yang mengandung larva cacing pita.&#xD;
Untuk memutuskan mata rantai infeksi cacing pita pada ternak babi diperlukan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan di sekitar peternakan, memasak sampai masak sempurna pakan ternak yang berasal dari sampah rumah makan (hog feeding) dan memasak terlebih dahulu pakan ternak tambahan berupa daun ubi jalar. Disamping itu kepada konsumen daging babi agar memasak sampai masak sempurna daging yang akan dikonsumsi untuk menghindari infeksi parasit.</summary>
    <dc:date>2012-12-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Malemna, Seri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pola Makan Dan Status Gizi Balita Pada Keluarga Miskin Di Desa Pematang Ganjang Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34779" />
    <author>
      <name>Harahap, Siti Ramaya</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34779</id>
    <updated>2012-12-20T21:34:49Z</updated>
    <published>2012-12-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Siti Ramaya
Advisors: Nasution, Ernawati; Devony, Eva
Abstract: Anak balita keluarga miskin umumnya mengalami masalah gizi kurang, karena pola makan dalam jumlah dan kualitas tidak memenuhi kebutuhan gizinya yang disebabkan rendahnya pendapatan keluarga. Dari 547 keluarga 254 keluarga (44,8%) penduduk Desa Pematang Ganjang Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai tingkat ekonominya rendah dengan mata pencaharian bertani, dan mempunyai pola makan yang lebih memprioritaskan kepada kepala keluarga karena merupakan pencari nafkah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola makan dan status gizi balita pada keluarga miskin di Desa Pematang Ganjang Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2006.&#xD;
&#xD;
Penilitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional, dan populasi adalah semua anak balita dari keluarga miskin usia 12-59 bulan yakni 77 anak. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling (77 anak), dan responden dalam penelitian ini adalah ibu dari anak balita. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan diolah secara manual, untuk data status gizi diolah dengan program gizikomp, kemudian disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dianalisa secara deskriptif.&#xD;
&#xD;
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pola makan anak balita menurut jenis makanan pokok yang dikonsumsi adalah nasi, lauk-pauk yang dikonsumsi adalah ikan, dan tahu/tempe, sayuran hijau, dan buah-buahan seperti jeruk, pisang dan pepaya. Sedangkan frekuensi makan nasi pada anak balita adalah &gt; 1 x dalam sehari yakni sebanyak 3 x dalam sehari dengan jumlah yang cukup. Tingkat konsumsi energi umumnya sedang, yakni 35 anak (45,4 %) dengan rata-rata konsumsi anak balita untuk golongan umur 12-36 bulan sebesar 1136 kalori dan umur 37-59 bulan sebesar 1510 kalori, begitu juga tingkat konsumsi protein umumnya sedang, yakni 31 anak (40,3 %) dan ada 1 anak ( 1,3 % ) yang tingkat konsumsi proteinnya defisit. Rata-rata konsumsi protein anak balita untuk golongan umur 12-36 bulan sebesar 21 gr dan umur 37 - 59 bulan sebesar 28 gr. Status gizi anak balita sebagian besar baik yakni 41 anak ( 53,2 % ) namun ada juga status gizi buruk sebanyak 3 anak (3,8 %).&#xD;
&#xD;
Dari uraian di atas disarankan penyuluhan, untuk lebih meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi anak balita yaitu pemilihan jenis makanan serta frekuensi makan. Dan dianjurkan kepada ibu anak balita untuk memberikan makanan selingan agar dapat memenuhi kebutuhan zat gizi yang dibutuhkannya.</summary>
    <dc:date>2012-12-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Siti Ramaya</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pelaksanaan Kegiatan Revitalisasi Posyandu di Wilayah Puskesmas Hutabaginda Kecamatan Tarutung Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34666" />
    <author>
      <name>Tambunan, Berta</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34666</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:55Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tambunan, Berta
Advisors: Simanjuntak, David H.
Abstract: Pelaksanaan kegiatan revitalisasi posyandu merupakan program Pemerintah untuk mengoptimalkan fungsi posyandu, sehingga peran posyandu dapat meningkatkan status gizi maupun kesehatan ibu dan anak.&#xD;
Agar optimalisasi fungsi posyandu dapat dicapai maka jumlah kader terlatih, kader aktif; kunjungan rumah, sarana prasarana posyandu, pemberian makanan tambahan dan kegiatan posyandu di lima meja menjadi pokok utama penelitian ini.&#xD;
Penelitian ini dilakukan pada 39 posyandu terhadap 78 responden yang mewakili seluruh kader posyandu di wilayah kerja Posyandu Hutabaginda Kecamatan Tarutung tahun 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan kegiatan revitalisasi posyandu di wilayah Puskesmas Hutabaginda Kecamatan Tarutung tahun 2006.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh peningkatan status posyandu dan status gizi. Bila pada tahun 2005 ada 34 posyandu Strata Pertama, lima Strata Madya maka pada akhir tahun 2006 diperoleh delapan Strata Pertama, 15 Strata madya, tiga Strata Purnama dan tiga Strata Mandiri. Status gizi meningkat, pada tahun 2005 gizi baik sebanyak 1.392 balita (96,73%) maka tahun 2006 gizi baik 1.479 balita (98,01%).&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa revitalisasi posyandu berdampak positif terhadap pelayanan masyarakat dalam upaya meningkatkan status gizi maupun kesehatan ibu dan anak, sehingga disarankan kepada petugas puskesmas sebagai pembina pusyandu agar dapat memotivasi dan memfasilitasi kader pada kegiatan posyandu.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tambunan, Berta</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembuangan Tinja Pada Masyarakat Ketapang Kelurahan Sibolga Ilir Kecamatan Sibolga Utara Kota Sibolga Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34665" />
    <author>
      <name>Purba, Herida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34665</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:49Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Purba, Herida
Advisors: Rochadi, Kintoko; Andayani, Lita Sri
Abstract: Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional maka pembangunan kesehatan ditujukan kepada peningkatan keadaan gizi masyarakat, pengadaan air minum, kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta penyuluhan kesehatan masyarakat untuk memasyarakatkan perilaku hidup sehat yang dimulai sedini mungkin. Diharapkan pada pembangunan kesehatan dapat tercapai kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk itu diselenggarakan pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, ditandai dengan hidup dalam lingkungan yang sehat, mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta mampu menyediakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga memiliki derajat kesehatan yang tinggi</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Purba, Herida</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perilaku Petugas Puskesmas Simalingkar Terhadap Obat Pelangsing Di Kota Medan Tahun 2006</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34664" />
    <author>
      <name>Gultom, Wati Warita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34664</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:45Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Gultom, Wati Warita
Advisors: Tukiman; Andayani, Lita Sri
Abstract: Obat pelangsing adalah obat yang membuat orang tidak nafsu makan, dan pada prinsipnya adalah membuang lemak tubuh bagi mereka yang mengalami berat tubuh berlebih. Obat pelangsing ada yang berfungsi sebagai obat pencahar, bersifat menguras perut dan merangsang pengeluaran cairan lewat usus. Obat ini digunakan untuk tujuan membuang lemak tubuh tetapi bukan lemak tubuh yang keluar melainkan cairan tubuh. Selain itu, obat golongan diuretik yang sifatnya untuk meningkatkan pengeluaran urine, pengaruh obat ini juga tidak membuang lemak karena yang keluar dari tubuh bukan lemak melainkan cairan tubuh yang mengandung air dan elektrolit. Efek samping dari kedua golongan obat ini mangakibatkan badan lemas, lesu, tidak bergairah sampai kerusakan ginjal.&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku petugas puskesmas Simalingkar terhadap obat pelangsing yang mencakup pengetahuan, sikap dan tindakan petugas puskesmas.&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam (Indepth Interview). Informan adalah orang yang mengalami berat badan lebih dipilih dengan metode kecukupan dan kesesuaian sebanyak 8 orang.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jawaban informan mengenai pengetahuan tentang obat pelangsing masih kurang yakni, 7 orang informan tahu tujuan obat pelangsing dan efeknya bagi kesehatan dan hanya 1 orang informan yang tahu obat pelangsing untuk menghancurkan lemak. Sikap informan terhadap obat pelangsing diketahui sebanyak 7 orang tidak setuju obat pelangsing dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk mengurangi berat badan hanya 1 orang yang setuju. Tindakan informan terhadap obat pelangsing diketahui sebanyak 4 orang pernah mengkonsumsi obat pelangsing dan tidak mau lagi mengkonsumsinya karena merasa tidak bermanfaat dan 4 orang informan tidak pernah mengkonsumsi obat pelangsing karena sudah tahu bahwa banyak efek samping dari obat pelangsing.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Gultom, Wati Warita</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Ibu Yang Mengalami Abortus Rawat Inap Di Rsu Padangsidimpuan Tahun 2001-2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34663" />
    <author>
      <name>Tanjung, Santi Saidah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34663</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:34Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tanjung, Santi Saidah
Advisors: Siregar, Fazidah Aguslina; Jemadi
Abstract: Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup pertumbuhannya untuk hidup. Data dari RSU Padangsidimpuan tahun 2001-2005 terdapat 127 kasus (7,84 %) dari 1.619persalinan.&#xD;
Untuk mengetahui karakteristik ibu yang mengalami abortus, dilakukan penelitian deskriptif dengan desain case series di RSU Padangsidimpuan. Populasi adalah ibu yang mengalami abortus rawat inap tahun 2001-2005 berjumlah 127 orang. Sampel adalah seluruh populasi (total sampling). Analisa yang digunakan uji chi square dan Anova.&#xD;
Hasil penelitian ditemukan penurunan frekuensi abortus menurut garis persamaan y = 26,3 - 0,3x. Karakteristik terbanyak adalah umur 20-35 tahun (67,7 %), pendidikan SLTA (38,6 %), pekerjaan ibu rumah tangga (65,4 %), status kawin (100 %), bertempat tinggal di Padangsidimpuan (56,7 %), paritas multipara (59,8 %), usia kehamilan 12-20 minggu (50,4 %), frekuensi abortus belum pernah (77,2 %), keluhan sewaktu masuk perdarahan (54,3 %), gambaran klinis abortus inkompletus (46,5 %), tingkat keparahan ringan (65,4 %), tindakan medis kuretase (62,2 %), sumber rujukan datang sendiri (50,4 %), keadaan sewaktu pulang sembuh (94,5 %), dan lama rawatan rata-rata 3,45 hari.&#xD;
Analisa perbedaan proporsi frekuensi abortus berdasarkan umur tidak dapat dilakukan karena memiliki &gt;20 % sel dengan expected count &lt;5. Hasil uji Anova, lama rawatan rata-rata berdasarkan gambaran klinis paling cepat pada abortus inkompletus (p - 0,000), lama rawatan rata-rata berdasarkan tingkat keparahan paling cepat pada tingkat keparahan ringan (p = 0,000).&#xD;
Analisa perbedaan proporsi keluhan sewaktu masuk berdasarkan riwayat kejadian abortus, tindakan medis berdasarkan tingkat keparahan, keadaan sewaktu pulang berdasarkan riwayat kejadian abortus, dan keadaan sewaktu pulang berdasarkan tingkat keparahan tidak dapat dilakukan karena memiliki sel &gt;20 % dengan expected count &lt;5.&#xD;
Membuat perencanaan perawatan pasien khususnya abortus agar lama rawatan lebih singkat. Perlu dilakukan penelitian anal it i k dengan desain case control untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus provokatus</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tanjung, Santi Saidah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Kualitas Lingkungan Fisik Rumah Pada Penderita Tuberkulosis Paru, Basil Tahan Asam Positif Di Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Propinsi Lampung Tahun 2003</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34662" />
    <author>
      <name>Saladin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34662</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:29Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Saladin
Advisors: Sembiring, Nasap; Dharma, Surya
Abstract: Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Salah satu kriteria rumah sehat antara lain ha. as memenuhi kebutuhan fisik, kenyataannya sukar dipenuhi dan sebagian besar penduduk karena faktor ekonomi dan keadaan itu biasanya terjadi pada kelompok miskin di pedesaan antara lain tempat tinggal mereka biasanya tidak adekuai untuk melindungi diri dan bahaya kesehatan. Strategi yang dapar dilakukan uniuk perlindungan /pencegahan terhadap penularan penyakit tuberkulosis paru, dilakukan dengan peningkatan kualitas rumah.&#xD;
Untuk mengetahui kualitas lingkungan fisik rumah, dilakukan penelitian yang bersifat survey deskriptif sederhana dengan checklist dan wawancara terpimpin menggunakan kuesioner kepada 56 penderita tuberkulosis paru. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran kualitas lingkungan fisik rumah berdasarkan syarat kesehatan, meliputi ventilasi, pencahayaan, kelembaban, lantai, dmdmg (untuk ru;uiu tidur dan ruang tamu), kepadatan hunian ruang tidur dan kepadaian human dalam rumah Serta diuraikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan narasi.&#xD;
Dan hasil penelitian diperoleh persentase gambaran kualitas lingkungan tisik rumah yang tidak memenuhi syarat, yaitu ventilasi ruang tidur 51,79 %, ventilasi ruang tamu 44,64 %, pencahayaan ruang tidur «2,14 %, pencahayaan ruang Uuau 66, 07 %, kelembaban ruang tidur 85,71 %,  kelembaban ruang lamu 69 64 A lantai ruang tidur 28,57 %, lantai ruang lamu 25 % dindmg mang tidur 44,64 K dinding ruang tamu 35,71 %, kepadatan hunian ruang tidur 41,07 %, kepadatan hunian dalam rumah 19,64 %. Hal ini disebabkan ventilasi tidak ada, ventilasi tidak memenuhi syarat, ventilasi tidak dibuka, rembesan bocor melalui atap/dinding, lantai tidak kedap air dan ventilasi memenuhi syarat tetapi cahaya matahari tidak masuk ke dalam rumah karena tertutup oleh pepohonan. Sedangkan kepadatan human dalam rumah dan ruang tidur, tidak sebandingnya luas lantai ruang tidur dan luas lantai dalam rumah dengan jumlah penghuni.&#xD;
Diharapkan peran puskesmas di dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya penderita baik perorangan maupun kelompok dan keluarganya. Dengan jalan penyuluhan, seperti pentingnya ventilasi untuk sifku usi udara dan tempat masuknya cahaya malahari. Serta adanya komitmen yany jelas, bukan hanya dari sektor'kesehatan semata. Untuk itu Dinas Kesehatan Tulang Bawang harus mampu menjadi ujung tombak dalam menjelaskan permasalahan 114 paru ke semua sektor.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Saladin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kesesuaian Pemberian Makanan Pasien Terhadap Standar Makanan Rumah Sakit Di Rumah Sakit Umum Kabanjahe Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34661" />
    <author>
      <name>Siregar, Silok Pardomuan</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34661</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:23Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Silok Pardomuan
Advisors: Jumirah; Simanjuntak, David H.
Abstract: Usaha pelayanan kesehatan di rumah sakit bertujuan agar tercapai kesembuhan penderita dalam waktu sesingkat mungkin. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan pengembangan pelayanan gizi rumah sakit dan sekaligus juga merupakan bagian integral dari kegiatan perbaikan gizi masyarakat. Makanan yang memenuhi kebutuhan gizi dan sesuai dengan standar makanan rumah sakit akan mempercepat proses penyembuhan dan memperpendek hari rawat yang akhirnya akan menunjang keberhasilan dan peningkatan mutu pelayanan kesehata di rumah sakit secara keseluruhan.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kesesuaian pemberian makanan pasien terhadap standar makanan rumah sakit di Rumah Sakit Umum Kabanjahc Tahun 2005. Penelitian ini bersipat deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan langsung tentang bentuk makanan, jenis diit dan komposisi makanan yang disajikan kepada pasien. Sedangkan data jumlah kalori yang disajikan dilakukan dengan cara penimbangan (Food Weighng) kemudian di conversikan kedalam DKBM. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat inap yang dirawat di ruang VIP, Kelas I, kelas JL, kelas m (Zaal), VK, ICU dan ruang anak sebanyak 216 orang. Sampel diperoleh sebanyak 30 orang yang diambil secara purposive dan proporsional.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa jumlah kalori yang disajikan kepada pasien tidak sesuai dengan standar makanan lumah sakit sebesar 86,66 % dan yang sesuai dengan standar makanan rumah sakit sebesar 13,33 %, komposisi makanan yang sesuai dengan standar makanan rumah sakit sebesar 36,66 % yang tidak sesuai dengan standar makanan rumah sakit sebesar 63,33 % dan bentuk makanan yang sesuai dengan standar makanan rumah sakit sebesar 90 % yang tidak sesuai dengan standar makanan rumah sakit sebesar 10 %.&#xD;
Berdasarkan hasil penelitian disarankan adanya pengawasan secara teliti dan terus menerus serta penambahan petugas gizi agar pembagian tugas dan koordinasi kerja dapat berjalan dengan baik dalam waktu pemberian makanan pasien sehingga pasien mendapatkan makanan sesuai dengan jumlah kalori, komposisi makanan dan bentuk makanan sesuai dengan standar makanan rumah sakit.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Silok Pardomuan</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran Gaya Hidup Penderita Hipertensi Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Langsa Tahun 2004</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34660" />
    <author>
      <name>Samsinar</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34660</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:18Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Samsinar
Advisors: Syarifah; Silaban, Murniaty
Abstract: Gaya Hidup adalah suatu kebiasaan yang diterima oleh kelompok-kelompok sosial yang teras berganti/berkembang di setiap generasi . Seiring dengan perubahan zaman, terjadi transisi epidemiologis dari penyakit infeksi dan parasit menuju ke penyakit degeneratif. Peningkatan insiden penyakit sistem sirkulasi darah memunculkan dugaan bahwa bukan tidak mungkin suatu saat di Indonesia, penyakit sistem sirkulasi darah menduduki tempat pertama penyebab kematian umum menurut pola penyakit utama, menggantikan posisi penyakit infeksi dan parasit.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang gaya hidup pasien rawat map yang menderita hipertensi di RSUD Langsa tahun 2004.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam (indepth mterview) yaitu pengolahan pendapat dan kontak langsung dengan para informan. Yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai pengaruh faktor budaya terhadap hipertensi kepada pasien.&#xD;
Hasil penelitian "menunjukkan bahwa rata-rata informan berusia di atas 40 tahun dengan pendapatan rata-rata Rp. 1.000.000 perbulan. Suku informan kebanyak Aceh, dengan jumlah pria dan wanita sama yaitu 4 orang. Pola makan informan semuanya kurang baik, konsumsi garam juga tinggi,' untuk alkohol hanya 1 orang informan yang pernah mengkonsumsi alkohol. Dari 4 orang informan pria semuanya merokok, dan wanita 1 orang yang pernah merokok. Pada olah raga hampir seluruh Informan kurang suka berolah raga Kondisi psikologis informan juga kebanyakan kurang stabil terbukti dengan seringnya mengalami stres. Riwayat keluarga informan terlihat bahwa semua informan memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi.&#xD;
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa gaya hidup seseorang yang terdiri dari pola makan, konsumsi garam, merokok, kurang olah raga, dan stres dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Sementara faktor lain seperti umur, riwayat keluarga, suku ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya hipertensi.&#xD;
Disarankan" kepada petugas Kesehatan di RSUD Langsa hendaknya memberikan penyuluhan dan konseling kepada penderita hipertensi agar dapat menabah gaya hidup yang dapat memicu terjadinya hipertensi. Kepada pasien yang menderitahipertensi hendaknya menjaga kondisi kesehatan dengan tidak melakukan gaya hidup yang dapat memicu terjadinya hipertensi seperti makan makanan berlemak, banyak mengkonsumi garam, mengkonsumsi alkohol, merokok, tidak berolah raga dan stres.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Samsinar</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Penderita Kanker Payudara Yang Rawat Inap di rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 1999-2003</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34659" />
    <author>
      <name>Siallagan, Sanni</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34659</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:57Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siallagan, Sanni
Advisors: Barus, Nerseri; Lubis, Rahayu
Abstract: Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian wanita di negara maju. Di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker servik uteri.&#xD;
Untuk mengetahui karakteristik penderita kanker payudara yang rawat inap di RSU.DR.Pirngadi Medan tahun 1999-2003 telah dilakukan penelitian deskriptif dengan desain case series, menggunakan data sekunder. Populasi 302 orang, dengan sampel 172 orang. Pengambilan sampel dua tahap yaitu proporsional berdasarkan tahun dilanjutkan dengan sistematic random sampling.&#xD;
Terjadi penurunan trend penderita kanker payudara yang berobat di RSU DR Pirngadi Medan menurut garis persamaan Y= 80.6 - 10. IX dengan persentase penurunan 48.93%, proporsi penderita kanker payudara terbanyak tahun 1999 (31.12%), umur &gt;40 tahun (77.9%), jenis kelamin perempuan (98.8%), suku Batak (54.7%), Agama Islam (57.6%), pendidikan SLTA (47.7%), pekerjaan 1RT (72.7%), status perkawinan tidak menikah (16.3%), asal kota Medan (54.1%), ada riwayat keluarga penderita kanker (47.7%), stadium 111 (50.6%), pengobatan operasi + kemoterapi (36.6%), lama rawatan &lt;12 hari (80.8%) dan pulang berobat jalan (55.2%). Hasil tabulasi silang : umur &lt;40 tahun proporsi stadium 1 (7.9%) dan umur &gt;40 tahun stadium 1 (0%); Tidak ada perbedaan proporsi lama rawatan berdasarkan umur (p=0.741); Ada perbedaan proporsi keadaan sewaktu pulang berdasarkan lama rawatan (p=0.000); Pada stadium I 100% dengan operasi+kemoterapi, stadium 11 dengan operasi+kemoterapi (87.5%), stadium UI dengan operasi+kemoterapi (50.6%), stadium IV dengan kemoterapi+radioterapi (65.2%).&#xD;
Perlu penyuluhan pentingnya SADARI kepada semua perempuan sejak masa akil balik untuk mendeteksi secara dini kanker payudara dan penelitian lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker payudara.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siallagan, Sanni</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Pemanfaatan Pelayanan Obstetri Esensial Dasar Puskesmas Di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2004</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34654" />
    <author>
      <name>Amani, Fadlun</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34654</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:31Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Amani, Fadlun
Advisors: Juanita; Heldy B.Z
Abstract: Pemanfaatan pelayanan obstetri esensial dasar puskesmas oleh ibu hamil dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor karakteristik. Azhari 2002, mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan diantaranya, yaitu : faktor sosiodemografis, yang terdiri dari umur, jenis kelamin, ras, suku bangsa, status perkawinan, jumlah keluarga, status sosial ekonomi (pendidikan, pekerjaan, penghasilan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu hamil pada pelayanan obstetri esensial dasar puskesmas di Puskesmas Terjun tahun 2004, terdiri dari tingkat pendidikan, jumlah anak, riwayat persalinan, pendapatan keluarga, status pekerjaan, dukungan suami, jarak rumah, dan umur.&#xD;
Jenis penelitian ini adalah survei analitik, yaitu melihat beberapa faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu hamil pada pelayanan obstetri esensial dasar Puskesmas di Puskesmas Terjun tahun 2004. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Terjun tahun 2004. Waktu pelaksanaan pada bulan Desember 2004 s/d Januari 2005. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Terjun yaitu berjumlah 2729 orang. Berdasarkan perhitungan diperoleh jumlah sampel sebesar 96 sampel (responden).&#xD;
Hasil dari penelitian menunjukkan ada hubungan antara dukungan suami, penolong persalinan sebelumnya, umur, pendidikan, pendapatan terhadap pemanfaatan ibu hamil pada pelayanan obstetri esensial dasar puskesmas di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan tahun 2004. Tidak ada hubungan antara pekerjaan, jumlah anak, jarak persalinan, riwayat persalinan sebelumnya, jarak rumah dengan puskesmas, terhadap pemanfaatan ibu hamil pada pelayanan obstetri esensial dasar puskesmas di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan tahun 2004&#xD;
Disarankan kepada petugas kesehatan khususnya yang menangani tentang KIA agar memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan suami tentang perlunya memanfaatkan pelayanan obstetri esensial dasar puskesmas. Perlunya meningkatkan fasilitas dan sarana kesehatan agar seluruh masyarakat khususnya ibu hamil dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan dengan baik</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Amani, Fadlun</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Pola Makan Ibu Selama Hamil Dengan Berat Badan Lahir Dan Panjang Badan Lahir Bayi Pada Golongan Keluarga Miskin Di Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2005</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34650" />
    <author>
      <name>Nurmilawati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34650</id>
    <updated>2012-12-20T21:33:18Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nurmilawati
Advisors: Nasution, Ernawati; Siregar, Mhd. Arifin
Abstract: Ibu hamil adalah salah satu kelompok rawan gizi, yang membutuhkan unsur-unsur zat gizi dalam jumlah yang lebih banyak. Pola makan ibu yang baik akan mendukung perkembangan janin dalam kandungannya.&#xD;
Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan pola konsumsi ibu selam hamil dengan berat badan lahir dan panjang badan lahir bayi pada golongan keluarga miskin di Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2005. Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 bulan dan termasuk keluarga miskin di Kecamatan Percut Sei Tuan yaitu sebanyak 28 orang.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden terbanyak berumur 24-27 tahun (46,4%), mempunyai tingkat pendidikan SD dan SMP (60,7%), bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (50,0%), mempunyai bayi yang BBLR (57,1%), panjang bayi yang normal (100,0%), mempunyai susunan makanan yang tidak lengkap (78,6%). frekuensi makan makanan pokok sering (53,6%), frekuensi makan lauk-pauk yang jarang (71,4%), frekuensi makan sayur-sayuran yang sering (57,1%), frekuensi makan buah-buahan yang jarang (67,9%) mempunyai umur 24-27 tahun dengan bayi yang BBLR (25,0%) dan mempunyai tingkat pendidikan SD dan SMP serta, mempunyai bayi yang BBLR (35,7%).&#xD;
Dari uji chi-square diperoleh hasil bahwa ada hubungan bermakna antara susunan makanan, frekuensi makan makanan pokok, frekuensi makan lauk-pauk, frekuensi makan buah-buahan dengan berat badan lahir bayi.&#xD;
Diharapkan kepada petugas agar memberikan penyuluhan tentang gizi seimbang dan peningkatan pelayanan kesehatan dan bagi responden agar melaksanakan upaya perbaikan gizi keluurga.</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nurmilawati</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Karakteristik pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan Di Puskesmas Parsoburan Pematangsiantar 2004</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34643" />
    <author>
      <name>Harianja, Herzein Maradona</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34643</id>
    <updated>2012-12-20T21:32:31Z</updated>
    <published>2012-12-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harianja, Herzein Maradona
Advisors: Asfriyati; Yusniwarti
Abstract: Salah satu permasalahan dalam pemeriksaan kehamilan di wilayah kerja Puskesmas Parsoburan Kelurahan Sukamaju Pematangsiantar adalah kurangnya kunjungan ibu dalam pemeriksaan kehamilan.&#xD;
Dengan demikian perlu diketahui apakah ada hubungan karakteristik, pengetahuan dan sikap ibu terhadap frekuensi pemeriksaan kehamilan tersebut.&#xD;
Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk menganalisa hubungan karakteristik, pengetahuan dan sikap ibu terhadap frekuensi pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Parsoburan Pematangsiantar.&#xD;
jenis Penelitian ini adalah penelitian survey yang bersifat deskriptik anal itik, populasi penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi yang berumur 0 12 bulan dan seluruh populasi ini dijadikan sample sebanyak 80 sampel.&#xD;
Hasil penelitian ini terlihat bahwa umur ibu, tingkat pendidikan,status pekerjaan, pendapatan keluarga, dukungan suami, pengetahuan dan sikap ibu berpengaruh secara signifikan terhadap frekuensi pemeriksaan kehamilan.&#xD;
Sebagai saran dalam penelitian ini adalah perlunya memberikan informasi kepada remaja puteri/calon ibu oleh petugas kesehatan agar menikah dengan usia yang ideal, meningkatkan pendidikan formal, meningkatkan pendapatan tambahan keluarga sesuai dengan keahlian yang dimiliki, perlunya dukungan dari suami kepada istri untuk memeriksakan kehamilannya, perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kehamilan, memberikan informasi tentang perawatan kehamilan untuk meningkatkan penge|ahuan ibu dan mempunyai sikap yang positif akan pemeriksaan kehamilan, untuk puskesmas Parsoburan disarankan agar meningkatkan sarana dan prasarana dalam peningkatan pelayanan kesehatan</summary>
    <dc:date>2012-12-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harianja, Herzein Maradona</dc:creator>
  </entry>
</feed>

