<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/318" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/318</id>
  <updated>2013-06-19T01:22:48Z</updated>
  <dc:date>2013-06-19T01:22:48Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Perbedaan Retinal Nerve Fiber Layer Thickness Dengan Optical Coherence Tomography Pada Pasien Tuberkulosis Sebelum Dan Susudah Mendapat Etambutol Di RSUP.H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37637" />
    <author>
      <name>Yusriani, Syarifah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37637</id>
    <updated>2013-05-28T05:39:12Z</updated>
    <published>2013-05-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yusriani, Syarifah
Advisors: Delfi; Sihotang, Aslim D; Siagian, Parluhutan
Abstract: Background : Pulmonary tuberculoses is a chronic inefectious disease cased by mycobacterium tuberculoses. Etambutol hidroclorida is one of antituberculosis drugs in which toxicity that affected the eye&#xD;
Purpose :To evaluate the difference Retinal Nerve Fiber Layer thickness before and after taking etambutol at Adam Malik hospital&#xD;
Methode : The design was quasi experimental .The comparison group pre-test /post test design in Tuberculosa patient of 23 subject (46 eyes). All patient underwent an examination including visual acquity, color vision and RNFL thickness. Stratus OCT was performed on both eyes of each patient using the Retinal Nerve Fibre Layer analysis protocol.&#xD;
Result :In this study found decrease visual aquity was 8 eyes (5/6;5/8;5/10) and the difference color vision finding was 3 eyes (tritanomali). The RNFL thickness before/after taking etambutol was superior quadrant 129.26±19.719/125.43±17.032, inferior quadrant 131,13±28.946/125.52±25.968, temporal quadrant 76.09±24.070/77. 78±25.232, nasal qudrant 97.9637±37.085/ 90.26±37.456 and average 108.43±12.940/104.70±12.629&#xD;
Conclusion : A decrease in RNFL thickness is observed in superior ,inferior and nasal quadrant and slight increase in the temporal quadrant. Althought not statistically significant in temporal quadrant.
Abstract (other language): Latar Belakang :Tuberkulosis paru adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Etambutol hidroklorida merupakan salah satu obat anti tuberkulosis dimana organ yang dapat terkena toksisitas adalah mata .&#xD;
Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan Retinal Nerve Fiber Layer sebelum dan sesudah pemakaian etambutol di RSUP. H. Adam Malik Medan&#xD;
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan perlakuan tungal one group pre and post test design. Kuasi experimental di maksudkan adalah terhadap subjek yang di teliti tidak dilakukan random tetapi berdasarkan kriteria klinis.&#xD;
Hasil Penelitian : Dari penelitian ini di dapatkan penurunan penglihatan pada 8 mata(5/6;5/8;5/10) dan perubahan penglihatan warna dijumpai 3 mata(tritanomali). ketebalan RNFL kuadran superior sebelum terapi 129.26±19.719 dan setelah terapi 125.43±17.032. Kuadran inferior sebelum terapi 131.13±28.946 dan setelah terapi 125.52±25.968. Kuadran temporal sebelum terapi 76.09±24.070 dan sesudah terapi 77.78±25.232 dan rata-rata sebelum terapi 108.43±12.940 dan sesudah terapi 104.70±12.629&#xD;
Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan retinal nerve fiber layer pada kuadran superior ,inferior dan nasal dan sedikit peningkatan pada kuadran temporal walaupun secara statistik tidak signifikan</summary>
    <dc:date>2013-05-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yusriani, Syarifah</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang :Tuberkulosis paru adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Etambutol hidroklorida merupakan salah satu obat anti tuberkulosis dimana organ yang dapat terkena toksisitas adalah mata .&#xD;
Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan Retinal Nerve Fiber Layer sebelum dan sesudah pemakaian etambutol di RSUP. H. Adam Malik Medan&#xD;
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan perlakuan tungal one group pre and post test design. Kuasi experimental di maksudkan adalah terhadap subjek yang di teliti tidak dilakukan random tetapi berdasarkan kriteria klinis.&#xD;
Hasil Penelitian : Dari penelitian ini di dapatkan penurunan penglihatan pada 8 mata(5/6;5/8;5/10) dan perubahan penglihatan warna dijumpai 3 mata(tritanomali). ketebalan RNFL kuadran superior sebelum terapi 129.26±19.719 dan setelah terapi 125.43±17.032. Kuadran inferior sebelum terapi 131.13±28.946 dan setelah terapi 125.52±25.968. Kuadran temporal sebelum terapi 76.09±24.070 dan sesudah terapi 77.78±25.232 dan rata-rata sebelum terapi 108.43±12.940 dan sesudah terapi 104.70±12.629&#xD;
Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan retinal nerve fiber layer pada kuadran superior ,inferior dan nasal dan sedikit peningkatan pada kuadran temporal walaupun secara statistik tidak signifikan</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Tekanan Darah Pada Pasien Retinopati Hipertensi dengan Stadium Retinopati Hipertensi&#xD;
Di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37304" />
    <author>
      <name>Erfitrina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37304</id>
    <updated>2013-05-08T02:41:18Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Erfitrina
Advisors: Delfi; Sihotang, Aslim D; Lubis, Abdurrahim Rasyid
Abstract: Hipertensi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas paling sering di seluruh dunia. Kelainan pembuluh darah ini dapat berdampak langsung ataupun tidak langsung terhadap sistem organ tubuh, termasuk mata. Retinopati hipertensi adalah kondisi dengan karakteristik  perubahan vaskularisasi retina pada populasi yang menderita hipertensi.
Abstract (other language): Hypertensive retinopathy has long been regarded as a risk indicator for systemic morbidity and mortality. Based studies show that hypertensive retinopathy caused direct or indirect to organs system and eye is one of them. These data support the concept that an assessment of retina vascular changes may provide further information for vascular risk stratification in persons with hypertension.</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Erfitrina</dc:creator>
    <dc:description>Hypertensive retinopathy has long been regarded as a risk indicator for systemic morbidity and mortality. Based studies show that hypertensive retinopathy caused direct or indirect to organs system and eye is one of them. These data support the concept that an assessment of retina vascular changes may provide further information for vascular risk stratification in persons with hypertension.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Atropi Papil Di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35145" />
    <author>
      <name>Hidayati, Musda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35145</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:23Z</updated>
    <published>2013-02-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hidayati, Musda
Advisors: Sihotang, Aslim D; Suratmin; Ramses, Bobby
Abstract (other language): Atropi papil merupakan suatu kerusakan pada saraf optik yang mengakibatkan degenerasi pada saraf optik  yang terjadi sebagai hasil akhir dari suatu proses patologik yang merusak akson pada sistem penglihatan anterior ,dapat terjadi akibat iskemia,inflamasi,infiltrasi kompresi dan demielinasi.Saraf optik terdiri dari ribuan serabut saraf kecil (akson).Jika terjadi kerusakan serabut saraf akibat suatu penyakit,maka otak tidak dapat menerima sinyal cahaya dan pandangan menjadi kabur. Atropi papil dapat terjadi pada 1 atau 2 mata,keparahannya bergantung pada penyebab (Skuta et al,2010).</summary>
    <dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hidayati, Musda</dc:creator>
    <dc:description>Atropi papil merupakan suatu kerusakan pada saraf optik yang mengakibatkan degenerasi pada saraf optik  yang terjadi sebagai hasil akhir dari suatu proses patologik yang merusak akson pada sistem penglihatan anterior ,dapat terjadi akibat iskemia,inflamasi,infiltrasi kompresi dan demielinasi.Saraf optik terdiri dari ribuan serabut saraf kecil (akson).Jika terjadi kerusakan serabut saraf akibat suatu penyakit,maka otak tidak dapat menerima sinyal cahaya dan pandangan menjadi kabur. Atropi papil dapat terjadi pada 1 atau 2 mata,keparahannya bergantung pada penyebab (Skuta et al,2010).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Retinopati Diabteik Di RSUP H. Adam Malik Medan Periode Juli 2011 – Juni 2012</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35134" />
    <author>
      <name>Fitriani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35134</id>
    <updated>2013-03-16T20:15:21Z</updated>
    <published>2013-02-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fitriani
Advisors: Sihotang, Aslim D
Abstract (other language): Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Prevalensi diabetes melitus untuk Indonesia cukup besar menurut RIKESDAS; sebesar 14,7% populasi dikawasan urban terancam DM. Jika di proyeksikan, sebanyak 8,2 juta penduduk di urban dan 5,5 juta penduduk rural area Indonesia mengalami diabetes yang artinya akan terjadi penambahan jumlah penderita retinopati diabetik yang signifikan (JEC, 2011).</summary>
    <dc:date>2013-02-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fitriani</dc:creator>
    <dc:description>Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Prevalensi diabetes melitus untuk Indonesia cukup besar menurut RIKESDAS; sebesar 14,7% populasi dikawasan urban terancam DM. Jika di proyeksikan, sebanyak 8,2 juta penduduk di urban dan 5,5 juta penduduk rural area Indonesia mengalami diabetes yang artinya akan terjadi penambahan jumlah penderita retinopati diabetik yang signifikan (JEC, 2011).</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Kejadian Astigmatisma  Pasca Operasi Katarak Dengan Menggunakan Tehnik Fakoemulsifikasi Dan Small Incision Cataract Surgery</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35045" />
    <author>
      <name>Marlinda, Sri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35045</id>
    <updated>2013-03-16T20:13:38Z</updated>
    <published>2013-01-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Marlinda, Sri
Advisors: Delfi; Siregar, Nurchaliza H
Abstract: Backgraund	: 	Astigmatism change after cataract surgery is common, but if the astigmatism is too high it can effect the visual acuity. The astigmatism change depends on the incision methods, sclera rigidity, and age &#xD;
&#xD;
Objective	:	To compare the astigmatism change between scleral on the SICS and clearcorneal incision methods on facoemulsification after cataract surgery and intraocular lens implantation.&#xD;
&#xD;
Method	:	Sixty patients after cataract surgery with IOL implantation were evaluated. Keratometry examination was perfomed pre operative, 2 weeks, 4 weeks, 6 weeks, and 8 weeks post operative. 30 patients were performed scleral incision, and 30 patients were performed clearcorneal incision. All of them was not sutured.&#xD;
&#xD;
Research Results	:	The clearcorneal incision induced astigmatism were 0.5-1.22 D, while the sclera was 0.6 – 1.10 D. The mean of the facoemulsification group 2 week post operative was 2,403±1,258 D; 4 weeks was 2,056±0,658 D; 6 weeks was 1,513±0,477 D; and 8 weeks post op was 1,101±0,425 D, while the astigmatism of the SICS group 2 week post operative was 2,020±1,203 D; 4 weeks was 2,072±0,698 D; 6 weeks was 1,687±0,623 D; and 8 weeks post op was 1,354±0,827 D, There is no statistical significant difference between the clearcorneal incision and sclera incision&#xD;
&#xD;
Conclusion	: 	The mean astigmatism 2 weeks, 4 weeks, 6 weeks and 8 weeks after operation was decreased in both methods of incisions. Despite no statistical significant difference, the mean astigmatism was lower clearcorneal incison method
Abstract (other language): Pendahuluan	:	Astigmatisma pasca bedah katarak biasa terjadi, tetapi astigmatisma yang tinggi dapat mengganggu tajam penglihatan. Besarnya astigmat tergantung pada metode insisi yang dipakai, rigiditas sklera, dan umur.&#xD;
&#xD;
Tujuan 	: 	Membandingkan perubahan astigmatisma pasca bedah katarak dengan metode insisi skleral pada SICS dan insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi dengan pemasangan lensa intraokuler&#xD;
&#xD;
Metode	:	Enam puluh pasien pasca bedah katarak dengan pemasangan lensa intraokuler sejak bulan April sampai Juni 2012, dievaluasi dalam penelitian ini, pemeriksaan keratometri dilakukan sebelum bedah katarak, 2 minggu pasca bedah, 4 minggu pasca bedah, 6 minggu pasca bedah dan 8 minggu pasca bedah. 30 pasien menjalani bedah katarak dengan cara insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi, sedang 30 pasien menjalani bedah katarak dengan irisan skleral dengan metode SICS. Pada keduanya tidak dilakukan penjahitan.&#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian	:	Pada metode irisan clearcornea, astigmat yang terjadi antara 0.5-1.22 D, sedangkan irisan skleral antara 0.6 – 1.10 D. Rerata astigmatisme pada  kelompok fakoemulsifikasi 2 minggu pasca operasi adalah 2,403±1,258 D, 4 minggu adalah 2,056±0,658 D, 6 minggu adalah 1,513±0,477 D, dan 8 minggu adalah 1,101±0,425 D. Rerata astigmatisme kelompok SICS  2 minggu pasca operasi adalah 2,020±1,203 D, 4 minggu adalah 2,072±0,698 D, 6 minggu adalah 1,687±0,623 D , dan 8 minggu pasca bedah adalah 1,354±0,827 D. Berdasarkan analisa statistic, tidak ada perbedaan bermakna antara rerata astigmatisma kelompok irisan clearcorneal dan skleral.&#xD;
	 &#xD;
Kesimpulan	: 	Terdapat penurunan rerata keratometri 2 minggu pasca operasi, 4 minggu pasca operasi, 6 minggu pasca operasi dan 8 minggu pasca operasi baik pada metode irisan clearcorneal pada fakoemulsifikasi maupun irisan skleral pada SICS. Walaupun secara statistik tidak berbeda bermakna, namun rerata astigmatisme lebih rendah pada metode irisan clearcorneal</summary>
    <dc:date>2013-01-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Marlinda, Sri</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan	:	Astigmatisma pasca bedah katarak biasa terjadi, tetapi astigmatisma yang tinggi dapat mengganggu tajam penglihatan. Besarnya astigmat tergantung pada metode insisi yang dipakai, rigiditas sklera, dan umur.&#xD;
&#xD;
Tujuan 	: 	Membandingkan perubahan astigmatisma pasca bedah katarak dengan metode insisi skleral pada SICS dan insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi dengan pemasangan lensa intraokuler&#xD;
&#xD;
Metode	:	Enam puluh pasien pasca bedah katarak dengan pemasangan lensa intraokuler sejak bulan April sampai Juni 2012, dievaluasi dalam penelitian ini, pemeriksaan keratometri dilakukan sebelum bedah katarak, 2 minggu pasca bedah, 4 minggu pasca bedah, 6 minggu pasca bedah dan 8 minggu pasca bedah. 30 pasien menjalani bedah katarak dengan cara insisi clearcorneal pada fakoemulsifikasi, sedang 30 pasien menjalani bedah katarak dengan irisan skleral dengan metode SICS. Pada keduanya tidak dilakukan penjahitan.&#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian	:	Pada metode irisan clearcornea, astigmat yang terjadi antara 0.5-1.22 D, sedangkan irisan skleral antara 0.6 – 1.10 D. Rerata astigmatisme pada  kelompok fakoemulsifikasi 2 minggu pasca operasi adalah 2,403±1,258 D, 4 minggu adalah 2,056±0,658 D, 6 minggu adalah 1,513±0,477 D, dan 8 minggu adalah 1,101±0,425 D. Rerata astigmatisme kelompok SICS  2 minggu pasca operasi adalah 2,020±1,203 D, 4 minggu adalah 2,072±0,698 D, 6 minggu adalah 1,687±0,623 D , dan 8 minggu pasca bedah adalah 1,354±0,827 D. Berdasarkan analisa statistic, tidak ada perbedaan bermakna antara rerata astigmatisma kelompok irisan clearcorneal dan skleral.&#xD;
	 &#xD;
Kesimpulan	: 	Terdapat penurunan rerata keratometri 2 minggu pasca operasi, 4 minggu pasca operasi, 6 minggu pasca operasi dan 8 minggu pasca operasi baik pada metode irisan clearcorneal pada fakoemulsifikasi maupun irisan skleral pada SICS. Walaupun secara statistik tidak berbeda bermakna, namun rerata astigmatisme lebih rendah pada metode irisan clearcorneal</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Lama Terpapar Dan Jarak Monitor       Komputer Terhadap Gejala Computer Vision Syndrome Pada Pegawai Negeri Sipil Di Kantor Pemerintah Kota Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34860" />
    <author>
      <name>Zubaidah, T Siti Harilza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34860</id>
    <updated>2012-12-20T21:37:00Z</updated>
    <published>2012-12-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zubaidah, T Siti Harilza
Advisors: Pulungan, Pinto Y; Arma, Abdul Jalil Amri
Abstract: Introduction 	The computer forms one of the most important technological invention in the 20th century. Almost all the work can be accomplished using the computer. The needs for the computers is rapidly increasing during the years. Along with this more and more time is spent by computer users for their daily tasks. Without realising this will cause suffering of the computer users due to facing the computers for hours. A number of research has shown that there is an effect of computer use period on the severity of the dry eye syndrome, but it is not stated clearly which method of computer use will cause the effect, as well as the effect of distance to the eye of computer users that will give rise to it. Based on this, the author is interested to study whether there is any effect of computer use period and distance of the monitor to the eye on the symptom of computer vision syndrome.&#xD;
Method   The research uses the cross sectionsl design with 41 government employees as the respondents at a government office in Medan. Data were collected by anquettes using questionaire as the instrument, recording private data and 15 symptoms of computer vision syndrome. Data were analysed with the correlation test.&#xD;
Result	   Result showed highly significant correlation between the time period of computer use and the number of computer vision syndrome symptoms suffered by the employees ( r = 0,90 ). On the other hand a non significant correlation was found between the distance of the monitor from the eye and the severity of computer vision syndrome ( r = 0,18 ).&#xD;
Discussion	Based on this results, the employees of this ofice should be instructed to give rest to their eyes after using the computer for hours, eventhough there is still much work to be done. At least, this is an effort to minimize the symptom of computer vision syndrome, so that it will increase the working quality.
Abstract (other language): Pendahuluan   Komputer merupakan salah satu penemuan teknologi terpenting pada abad ke-20 ini. Hampir seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan komputer. Kebutuhan akan penggunaan komputer semakin marak dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan meningkatnya waktu yang diperlukan oleh para pengguna komputer didalam menyelesaikan pekerjaaan mereka sehari-hari. Tanpa disadari hal ini akan mengakibatkan keluhan para pengguna komputer dikarenakan mereka berhadapan langsung dengan komputer selama berjam jam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama terpapar dengan keparahan gejala sindroma mata kering tetapi tidak jelas dikatakan penggunaan komputer yang bagaimana yang bisa menimbulkan efek tersebut dan mengenai jarak komputer terhadap mata pengguna komputer yang seukuran apa yang dapat menyebabkan gejala kelelahan itu muncul. Atas latar belakang inilah, Penulis tertarik untuk meneliti guna mencari tahu apakah ada pengaruh lama terpapar dan jarak monitor komputer terhadap gejala computer vision syndrome. &#xD;
Metode   Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 41 orang Pegawai Negeri Sipil di salah satu kantor pemerintah kota Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pembagian angket  dengan instrumen kuesioner yang berisi data-data pribadi disertai 15 gejala computer vision syndrome. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi.&#xD;
Hasil   Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara lama terpapar komputer dengan jumlah gejala computer vision syndrome yang dialami para pegawai (r = 0,90). Sebaliknya tidak nyata dijumpai adanya hubungan antara jarak mnitor komputer dengan beratnya derajat keparahan computer vision syndrome (r = 0,18).&#xD;
Diskusi   Berdasarkan penelitian ini, perlu dilakukan sosialisasi ataupun pengarahan oleh kantor pemerintah kepada para pegawai yang bekerja di kantor tersebut untuk mengistirahatkan mata setelah menggunakan komputer selama berjam-jam meskipun banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Setidaknya hal ini penting sebagai upaya untuk meminimalisasi timbulnya gejala computer vision syndrome sehingga bisa meningkatkan kualitas kerja dari para pegawai yang  menggunakan komputer.</summary>
    <dc:date>2012-12-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zubaidah, T Siti Harilza</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan   Komputer merupakan salah satu penemuan teknologi terpenting pada abad ke-20 ini. Hampir seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan komputer. Kebutuhan akan penggunaan komputer semakin marak dari tahun ke tahun. Hal ini seiring dengan meningkatnya waktu yang diperlukan oleh para pengguna komputer didalam menyelesaikan pekerjaaan mereka sehari-hari. Tanpa disadari hal ini akan mengakibatkan keluhan para pengguna komputer dikarenakan mereka berhadapan langsung dengan komputer selama berjam jam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama terpapar dengan keparahan gejala sindroma mata kering tetapi tidak jelas dikatakan penggunaan komputer yang bagaimana yang bisa menimbulkan efek tersebut dan mengenai jarak komputer terhadap mata pengguna komputer yang seukuran apa yang dapat menyebabkan gejala kelelahan itu muncul. Atas latar belakang inilah, Penulis tertarik untuk meneliti guna mencari tahu apakah ada pengaruh lama terpapar dan jarak monitor komputer terhadap gejala computer vision syndrome. &#xD;
Metode   Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 41 orang Pegawai Negeri Sipil di salah satu kantor pemerintah kota Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pembagian angket  dengan instrumen kuesioner yang berisi data-data pribadi disertai 15 gejala computer vision syndrome. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi.&#xD;
Hasil   Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara lama terpapar komputer dengan jumlah gejala computer vision syndrome yang dialami para pegawai (r = 0,90). Sebaliknya tidak nyata dijumpai adanya hubungan antara jarak mnitor komputer dengan beratnya derajat keparahan computer vision syndrome (r = 0,18).&#xD;
Diskusi   Berdasarkan penelitian ini, perlu dilakukan sosialisasi ataupun pengarahan oleh kantor pemerintah kepada para pegawai yang bekerja di kantor tersebut untuk mengistirahatkan mata setelah menggunakan komputer selama berjam-jam meskipun banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Setidaknya hal ini penting sebagai upaya untuk meminimalisasi timbulnya gejala computer vision syndrome sehingga bisa meningkatkan kualitas kerja dari para pegawai yang  menggunakan komputer.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi  Tumor  Orbita Di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2009 - 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34740" />
    <author>
      <name>Hidayat, Ruly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34740</id>
    <updated>2012-12-20T21:34:52Z</updated>
    <published>2012-12-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hidayat, Ruly
Advisors: Suratmin; Sihotang, Aslim. D
Abstract (other language): Pendahuluan : Tumor orbita adalah tumor yang terletak di rongga orbita. Tumor terdiri  dari primer, sekunder yang merupakan penyebaran dari struktur sekitarnya, atau metastase.  Angka kejadian tumor mata terhitung kecil yaitu hanya 1 % diantara penyakit keganasan lainnya.&#xD;
Tujuan Penelitian : Mengetahui angka tumor orbita di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2009 – 2011. &#xD;
&#xD;
Metode : Suatu penelitian  retrospektif yang bersifat non – eksperimental. Populasi penelitian sebanyak 213 kasus dan besar sampel adalah 64 kasus.&#xD;
Hasil Penelitian : Prevalensi tumor orbita dijumpai paling tinggi pada kelompok usia 15-30 tahun yaitu 31 orang dari 64 orang atau 48,4 %, tumor orbita banyak   diderita oleh perempuan yaitu 34 orang atau 53,1 % sedangkan laki-laki 30 orang atau 46,9 %, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya dalah suku batak berjumlah 29 orang (45,3 %), bahwa penderita tumor orbita banyak terdapat pada tingkat pendidikan sekolah dasar yaitu 19 orang ( 29,7 %), distribusi unilateral merupakan persentasi tertinggi sebanyak 60 orang (93,7 %), tumor sekunder adalah jenis tumor yang terbanyak yaitu 49 orang (76,6 %) dan tindakan ekstraksi tumor adalah tindakan operasi yang paling sering dilakukan yaitu 35 orang (54,7 %).&#xD;
Kesimpulan : Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap penderita tumor orbita.</summary>
    <dc:date>2012-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hidayat, Ruly</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan : Tumor orbita adalah tumor yang terletak di rongga orbita. Tumor terdiri  dari primer, sekunder yang merupakan penyebaran dari struktur sekitarnya, atau metastase.  Angka kejadian tumor mata terhitung kecil yaitu hanya 1 % diantara penyakit keganasan lainnya.&#xD;
Tujuan Penelitian : Mengetahui angka tumor orbita di RSUP H. Adam Malik Medan periode 2009 – 2011. &#xD;
&#xD;
Metode : Suatu penelitian  retrospektif yang bersifat non – eksperimental. Populasi penelitian sebanyak 213 kasus dan besar sampel adalah 64 kasus.&#xD;
Hasil Penelitian : Prevalensi tumor orbita dijumpai paling tinggi pada kelompok usia 15-30 tahun yaitu 31 orang dari 64 orang atau 48,4 %, tumor orbita banyak   diderita oleh perempuan yaitu 34 orang atau 53,1 % sedangkan laki-laki 30 orang atau 46,9 %, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya dalah suku batak berjumlah 29 orang (45,3 %), bahwa penderita tumor orbita banyak terdapat pada tingkat pendidikan sekolah dasar yaitu 19 orang ( 29,7 %), distribusi unilateral merupakan persentasi tertinggi sebanyak 60 orang (93,7 %), tumor sekunder adalah jenis tumor yang terbanyak yaitu 49 orang (76,6 %) dan tindakan ekstraksi tumor adalah tindakan operasi yang paling sering dilakukan yaitu 35 orang (54,7 %).&#xD;
Kesimpulan : Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap penderita tumor orbita.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Retinopati Diabetik pada Penderita Diabetes Melitus di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33676" />
    <author>
      <name>Virgayanti, Vanda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33676</id>
    <updated>2012-09-15T19:06:02Z</updated>
    <published>2012-09-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Virgayanti, Vanda
Advisors: Sihotang, Aslim D; Lelo, Aznan
Abstract (other language): Retinopati Diabetik (RD) adalah salah satu penyebab kebutaan yang ditemukan di seluruh dunia. WHO dengan program Vision 2020 the right to sight pun memasukkan RD sebagai salah satu programnya. Disadari bahwa selama ini kesadaran akan bahaya RD ini masih rendah, baik pada dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Spesialis Mata maupun pada penderita Diabetes Melitus sendiri.1,2 &#xD;
	Berdasarkan National Programme for Control of Blindness (NPCB) 1992, kebutaan akibat kelainan retina menempati urutan keempat (6,3%) setelah katarak, kelainan kornea, dan optik atrofi. Menurut Andrha Padesh Eye Disease Study (APEDS) kebutaan akibat kelainan retina menempati urutan kedua (22,4%) setelah katarak .2,3</summary>
    <dc:date>2012-09-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Virgayanti, Vanda</dc:creator>
    <dc:description>Retinopati Diabetik (RD) adalah salah satu penyebab kebutaan yang ditemukan di seluruh dunia. WHO dengan program Vision 2020 the right to sight pun memasukkan RD sebagai salah satu programnya. Disadari bahwa selama ini kesadaran akan bahaya RD ini masih rendah, baik pada dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Spesialis Mata maupun pada penderita Diabetes Melitus sendiri.1,2 &#xD;
	Berdasarkan National Programme for Control of Blindness (NPCB) 1992, kebutaan akibat kelainan retina menempati urutan keempat (6,3%) setelah katarak, kelainan kornea, dan optik atrofi. Menurut Andrha Padesh Eye Disease Study (APEDS) kebutaan akibat kelainan retina menempati urutan kedua (22,4%) setelah katarak .2,3</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Penderita Miopia  Di Poliklinik Refraksi RSUP.H.Adam Malik Medan Tahun 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33675" />
    <author>
      <name>Siregar, Nurchaliza Hazaria</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33675</id>
    <updated>2012-09-15T19:05:57Z</updated>
    <published>2012-09-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Nurchaliza Hazaria
Advisors: Pulungan, Pinto Y; Wahyuni, Arlinda Sari
Abstract (other language): Pendahuluan: Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar – sinar sejajar garis pandang pada keadaan mata tidak berakomodasi difokuskan di depan retina. Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan penglihatan di seluruh dunia dan menjadi penyebab kedua kebutaan yang dapat diatasi. Miopia sebagai kelainan refraksi, hampir selalu menduduki urutan teratas dibandingkan dengan kelainan refraksi lainnya.&#xD;
&#xD;
Tujuan Penelitian: Mengetahui karakteristik penderita miopia di poliklinik refraksi RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011.&#xD;
&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskiptif dengan desain case series, populasi penelitian adalah penderita miopia sebanyak 329 kasus dan besar sampel adalah seluruh kasus tersebut. &#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian: Proporsi penderita miopia tertinggi adalah pada kelompok umur 16 - 30 tahun  yakni sebanyak 165 orang atau 50,2 %, miopia  banyak diderita oleh perempuan yaitu 185  orang atau 56,2 %, sedangkan laki-laki 144 orang atau 43,8%, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya adalah suku Karo berjumlah 137 orang (41,6%), bahwa penderita miopia banyak terdapat pada tingkat  pendidikan Sekolah Menengah Umum yaitu berjumlah 157 orang( 47,7%), pekerjaan penderita miopia  persentase yang tertinggi ditemukan pada sampel yang mempunyai pekerjaan sebagai pelajar sebanyak 136 orang (41,6%), dan hasil koreksi pada miopia  persentase yang tertinggi ditemukan pada sampel dengan hasil koreksi penuh sebanyak 215 orang (65,3%) sedangkan 114 orang dengan persentase 34,7% adalah hasil koreksi tidak penuh&#xD;
&#xD;
Kesimpulan: Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan dan pemahaman terhadap pasien tentang miopia sehingga penderita-penderita myopia yang datang berobat memperoleh koreksi yang penuh untuk penglihatan yang lebih baik</summary>
    <dc:date>2012-09-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Nurchaliza Hazaria</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan: Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar – sinar sejajar garis pandang pada keadaan mata tidak berakomodasi difokuskan di depan retina. Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan penglihatan di seluruh dunia dan menjadi penyebab kedua kebutaan yang dapat diatasi. Miopia sebagai kelainan refraksi, hampir selalu menduduki urutan teratas dibandingkan dengan kelainan refraksi lainnya.&#xD;
&#xD;
Tujuan Penelitian: Mengetahui karakteristik penderita miopia di poliklinik refraksi RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011.&#xD;
&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskiptif dengan desain case series, populasi penelitian adalah penderita miopia sebanyak 329 kasus dan besar sampel adalah seluruh kasus tersebut. &#xD;
&#xD;
Hasil Penelitian: Proporsi penderita miopia tertinggi adalah pada kelompok umur 16 - 30 tahun  yakni sebanyak 165 orang atau 50,2 %, miopia  banyak diderita oleh perempuan yaitu 185  orang atau 56,2 %, sedangkan laki-laki 144 orang atau 43,8%, sebagian besar penderita yang diperiksa sukunya adalah suku Karo berjumlah 137 orang (41,6%), bahwa penderita miopia banyak terdapat pada tingkat  pendidikan Sekolah Menengah Umum yaitu berjumlah 157 orang( 47,7%), pekerjaan penderita miopia  persentase yang tertinggi ditemukan pada sampel yang mempunyai pekerjaan sebagai pelajar sebanyak 136 orang (41,6%), dan hasil koreksi pada miopia  persentase yang tertinggi ditemukan pada sampel dengan hasil koreksi penuh sebanyak 215 orang (65,3%) sedangkan 114 orang dengan persentase 34,7% adalah hasil koreksi tidak penuh&#xD;
&#xD;
Kesimpulan: Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan dan pemahaman terhadap pasien tentang miopia sehingga penderita-penderita myopia yang datang berobat memperoleh koreksi yang penuh untuk penglihatan yang lebih baik</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Katarak Kongenital Poli Mata RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33624" />
    <author>
      <name>Aldy, Fithria</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33624</id>
    <updated>2012-09-15T19:04:57Z</updated>
    <published>2012-09-07T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Aldy, Fithria
Advisors: Sihotang, Aslim D; Lelo, Aznan
Abstract (other language): Kata Katarak berasal dari bahasa Latin, cataracta, atau dalam bahasa Yunani, kataraktes, yang artinya terjun seperti air. Istilah ini dipakai orang Arab sebab orang – orang dengan kelainan ini mempunyai penglihatan yang seolah – olah terhalang oleh air terjun.1&#xD;
Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa yang timbul sejak lahir, dan merupakan salah satu penyebab kebutaan pada anak yang sering dijumpai.  ˡ&#xD;
Menurut organisasi Kesehatan sedunia ( WHO ), 1,5 juta anak di dunia mengalami kebutaan dan 1 juta di antaranya terdapat di Asia dan sekitar 10% - 40% kebutaan itu disebabkan oleh katarak kongenital. ²’³&#xD;
Hasil penelitian Haider dkk tahun 2008, 60% pasien yang dijumpai dengan leukokoria adalah katarak kongenital ( 18% unilateral dan 42% bilateral ), penyebab lainnya seperti retinoblastoma ( 11% unilateral dan 74% bilateral ), retinal detachment (2,8% unilateral dan 1,4% bilateral), Persistent Hyperplasia Primary Vitreous  ( PHPV )  bilateral 4,2%. ²</summary>
    <dc:date>2012-09-07T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Aldy, Fithria</dc:creator>
    <dc:description>Kata Katarak berasal dari bahasa Latin, cataracta, atau dalam bahasa Yunani, kataraktes, yang artinya terjun seperti air. Istilah ini dipakai orang Arab sebab orang – orang dengan kelainan ini mempunyai penglihatan yang seolah – olah terhalang oleh air terjun.1&#xD;
Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa yang timbul sejak lahir, dan merupakan salah satu penyebab kebutaan pada anak yang sering dijumpai.  ˡ&#xD;
Menurut organisasi Kesehatan sedunia ( WHO ), 1,5 juta anak di dunia mengalami kebutaan dan 1 juta di antaranya terdapat di Asia dan sekitar 10% - 40% kebutaan itu disebabkan oleh katarak kongenital. ²’³&#xD;
Hasil penelitian Haider dkk tahun 2008, 60% pasien yang dijumpai dengan leukokoria adalah katarak kongenital ( 18% unilateral dan 42% bilateral ), penyebab lainnya seperti retinoblastoma ( 11% unilateral dan 74% bilateral ), retinal detachment (2,8% unilateral dan 1,4% bilateral), Persistent Hyperplasia Primary Vitreous  ( PHPV )  bilateral 4,2%. ²</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Penderita Keratitis Infektif&#xD;
Di RS H. Adam Malik Medan Tahun 2010-2011</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33583" />
    <author>
      <name>Albar, Marina Yusnita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33583</id>
    <updated>2012-09-16T19:00:23Z</updated>
    <published>2012-09-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Albar, Marina Yusnita
Abstract: Introduction: Infectious keratitis is one of the diseases that are common in almost all countries and a problem that causes high morbidity and lowers patient’s quality of life. The prevalence of infectious keratitis in tropical countries, including Indonesia, is quite high.&#xD;
Aim: To investigate the characteristics of infectious keratitis patients in H. Adam Malik General Hospital, Medan in 2010-2011 period.&#xD;
Methods: This is a descriptive study with a case series design. Population of this research is the data of 78 patients’ eyes with diagnosis of infectious keratitis (bacterial, fungal, or viral). Data were obtained from patients’ medical records at Adam Malik Hospital.&#xD;
Results: The proportion of patients with infectious keratitis is highest at the 28–35 year-old group with occurrence of 29,5%, 18-year-old group  93,6%, with the proportion of male 61,5% and female 38,5%, farmer profession 26,9%, bacterial keratitis 51,3%, and medical therapy 97,4%. Chi-square test was not performed because there were more than two cells with expected value less than five.&#xD;
Conclusion: H Adam Malik Hospital needs to raise public awareness about infectious keratitis through public seminars and warn the highest risk groups about this disease.
Abstract (other language): Pendahuluan: Keratitis infektif merupakan salah satu penyakit mata yang sering dijumpai di Negara tropis dan menjadi masalah yang menyebabkan morbiditas dan biaya kesehatan yang cukup tinggi. Prevalensi keratitis infektif di negara tropis cukup tinggi.&#xD;
Tujuan Penelitian: Mengetahui karakteristik penderita keratitis infektif RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010-2011.&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain case series, populasi penelitian adalah penderita keratitis infektif sebanyak 78 kasus dan besar sampel adalah seluruh kasus tersebut. &#xD;
Hasil Penelitian: Proporsi penderita keratitis infektif tertinggi pada kelompok umur 28–35 tahun 29,5%, umur di atas 18 tahun 93,6%, dengan proporsi laki-laki 61,5% dan perempuan 38,5%, pekerjaan petani 26,9%, keratitis bakterial 51,3%,, medikamentosa 97,4%. Uji statistik chi-square tidak dapat dilakukan karena terdapat dua sel dengan nilai di bawah lima.&#xD;
Kesimpulan: Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan dan pemahaman terhadap pasien tentang keratitis infektif dan.</summary>
    <dc:date>2012-09-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Albar, Marina Yusnita</dc:creator>
    <dc:description>Pendahuluan: Keratitis infektif merupakan salah satu penyakit mata yang sering dijumpai di Negara tropis dan menjadi masalah yang menyebabkan morbiditas dan biaya kesehatan yang cukup tinggi. Prevalensi keratitis infektif di negara tropis cukup tinggi.&#xD;
Tujuan Penelitian: Mengetahui karakteristik penderita keratitis infektif RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010-2011.&#xD;
Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain case series, populasi penelitian adalah penderita keratitis infektif sebanyak 78 kasus dan besar sampel adalah seluruh kasus tersebut. &#xD;
Hasil Penelitian: Proporsi penderita keratitis infektif tertinggi pada kelompok umur 28–35 tahun 29,5%, umur di atas 18 tahun 93,6%, dengan proporsi laki-laki 61,5% dan perempuan 38,5%, pekerjaan petani 26,9%, keratitis bakterial 51,3%,, medikamentosa 97,4%. Uji statistik chi-square tidak dapat dilakukan karena terdapat dua sel dengan nilai di bawah lima.&#xD;
Kesimpulan: Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan agar perlu dilakukan penyuluhan dan pemahaman terhadap pasien tentang keratitis infektif dan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Kelumpuhan Okular Motor di RSUP H.Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33581" />
    <author>
      <name>Sitepu, Bobby Ramses Erguna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33581</id>
    <updated>2012-09-15T19:04:23Z</updated>
    <published>2012-09-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sitepu, Bobby Ramses Erguna
Advisors: Sihotang, Aslim D; Suratmin
Abstract: AIM&#xD;
To determine characteristic of ocular motor palsy in RSUP. H. Adam Malik Medan in 2011.&#xD;
METHODS&#xD;
The study was design as deskriptive observational with retrospective chart review. It perform by medical record from Neuro-Ophthalmology department of Poliklinik Mata Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan in 2011.&#xD;
RESULT&#xD;
There were 24 patients with ocular motor palsy. Third nerve palsy was present in 10 patients (41,6%), sixth nerve palsy in 9 patients (37,5%), and multiple cranial nerve palsy in 9 patients (37,5%). None fourth nerve palsy without accompanying by third nerve palsy and sixth nerve palsy, which mean multipel cranial nerve palsy in 5 patients (20,8). The main cause is head trauma (50%), followed by neoplasm (20,8%) dan aneurysme (29,1%).&#xD;
CONCLUSION&#xD;
Ocular motor cranial nerve palsies consist of third, fourth, and sixth nerve palsies. The cause were include head trauma, neoplasm and aneurysm.
Abstract (other language): TUJUAN	&#xD;
Untuk mengetahui karakteristik kelumpuhan okular motor yang ada di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2011.&#xD;
METODE &#xD;
Penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif observasional, dengan menggunakan catatan rekam medis Poliklinik Mata Sub Bagian Neuro-oftalmologi Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan tahun 2011.		&#xD;
HASIL		&#xD;
Kelumpuhan okular motor berjumlah 24 pasien. 10 orang (41,6%) diantaranya mengalami kelumpuhan nervus III, 9 orang (37,5%) mengalami kelumpuhan nervus VI,  dan 5 orang (20,8%) mengalami kelumpuhan multiple nervus kranial. Kelainan nervus IV selalu disertai kelumpuhan nervus III dan nervus VI. Penyebabnya yang terbanyak disebabkan oleh trauma kepala (50%), selanjutnya oleh neoplasma (20,8%) dan aneurisma (29,1%).&#xD;
KESIMPULAN	&#xD;
Kelumpuhan okular motor terdiri dari kelumpuhan nervus III, IV dan VI. Yang termasuk penyebabnya adalah trauma kepala, neoplasma, dan aneurisma.</summary>
    <dc:date>2012-09-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sitepu, Bobby Ramses Erguna</dc:creator>
    <dc:description>TUJUAN	&#xD;
Untuk mengetahui karakteristik kelumpuhan okular motor yang ada di RSUP. H. Adam Malik Medan tahun 2011.&#xD;
METODE &#xD;
Penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif observasional, dengan menggunakan catatan rekam medis Poliklinik Mata Sub Bagian Neuro-oftalmologi Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan tahun 2011.		&#xD;
HASIL		&#xD;
Kelumpuhan okular motor berjumlah 24 pasien. 10 orang (41,6%) diantaranya mengalami kelumpuhan nervus III, 9 orang (37,5%) mengalami kelumpuhan nervus VI,  dan 5 orang (20,8%) mengalami kelumpuhan multiple nervus kranial. Kelainan nervus IV selalu disertai kelumpuhan nervus III dan nervus VI. Penyebabnya yang terbanyak disebabkan oleh trauma kepala (50%), selanjutnya oleh neoplasma (20,8%) dan aneurisma (29,1%).&#xD;
KESIMPULAN	&#xD;
Kelumpuhan okular motor terdiri dari kelumpuhan nervus III, IV dan VI. Yang termasuk penyebabnya adalah trauma kepala, neoplasma, dan aneurisma.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efektifitas Tetes Mata Natrium Diklofenak 0,1% Dan Deksametason 0,1% Dalam Menekan Inflamasi Pasca Bedah Katarak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33580" />
    <author>
      <name>Delfi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33580</id>
    <updated>2012-09-15T19:04:16Z</updated>
    <published>2012-09-03T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Delfi
Advisors: Sihotang, Aslim D; Lelo, Azman
Abstract (other language): Di Indonesia, sampai saat ini penyebab kebutaan yang utama adalah akibat katarak, yaitu sebesar 0,78 %. Satu-satunya pilihan dalam penanggulangan kebutaan akibat katarak adalah tindakan operasi.(1)&#xD;
		Katarak termasuk salah satu penyakit degeneratif pada usia lanjut, namun 10% - 20% buta katarak telah dialami oleh penduduk Indonesia usia 40 – 54 tahun, yang termasuk dalam kelompok usia produktif. Menurut Sirlan. F dalam penelitiannya di daerah pantai Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat mendapatkan penderita buta katarak usia produktif 14% dari seluruh buta katarak.(2)&#xD;
Buta katarak pada usia produktif ini seharusnya tidak terjadi bila diketahui faktor yang menyebabkannya, sehingga upaya penundaan dapat dilakukan sedini mungkin. Buta katarak usia produktif sangat mengkhawatirkan karena dapat mengancam sumber daya manusia produktif.(2,3)</summary>
    <dc:date>2012-09-03T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Delfi</dc:creator>
    <dc:description>Di Indonesia, sampai saat ini penyebab kebutaan yang utama adalah akibat katarak, yaitu sebesar 0,78 %. Satu-satunya pilihan dalam penanggulangan kebutaan akibat katarak adalah tindakan operasi.(1)&#xD;
		Katarak termasuk salah satu penyakit degeneratif pada usia lanjut, namun 10% - 20% buta katarak telah dialami oleh penduduk Indonesia usia 40 – 54 tahun, yang termasuk dalam kelompok usia produktif. Menurut Sirlan. F dalam penelitiannya di daerah pantai Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat mendapatkan penderita buta katarak usia produktif 14% dari seluruh buta katarak.(2)&#xD;
Buta katarak pada usia produktif ini seharusnya tidak terjadi bila diketahui faktor yang menyebabkannya, sehingga upaya penundaan dapat dilakukan sedini mungkin. Buta katarak usia produktif sangat mengkhawatirkan karena dapat mengancam sumber daya manusia produktif.(2,3)</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Gambaran  Pemeriksaan Retinopati Diabetik Dengan Optical Coherence Tomography Dalam Hubungannya Dengan Nilai Hemoglobin A1c Pada Pasien Diabetes Melitus Di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33462" />
    <author>
      <name>Nilawati, Enny</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/33462</id>
    <updated>2012-08-09T19:00:17Z</updated>
    <published>2012-08-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nilawati, Enny
Advisors: Delfi; Sihotang, Aslim D
Abstract (other language): Hari penglihatan sedunia (world sight day) diperingati oleh WHO setiap kamis kedua di bulan Oktober, dengan tujuan agar masyarakat dunia sadar akan bahaya berkurangnya penglihatan dan terjadinya kebutaan. WHO beranggapan melihat merupakan hak asasi setiap manusia di dunia. Kira-kira tiga ratus empat belas juta orang di dunia mengalami ketidakmampuan melihat. Dari angka ini, 45 juta orang benar-benar tidak dapat melihat atau mengalami kebutaan. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai dua kali lipat pada tahun 2020.1</summary>
    <dc:date>2012-08-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nilawati, Enny</dc:creator>
    <dc:description>Hari penglihatan sedunia (world sight day) diperingati oleh WHO setiap kamis kedua di bulan Oktober, dengan tujuan agar masyarakat dunia sadar akan bahaya berkurangnya penglihatan dan terjadinya kebutaan. WHO beranggapan melihat merupakan hak asasi setiap manusia di dunia. Kira-kira tiga ratus empat belas juta orang di dunia mengalami ketidakmampuan melihat. Dari angka ini, 45 juta orang benar-benar tidak dapat melihat atau mengalami kebutaan. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai dua kali lipat pada tahun 2020.1</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Kelainan Refraksi&#xD;
Di Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26416" />
    <author>
      <name>Sakti, Lesus Eko</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26416</id>
    <updated>2012-12-20T19:45:26Z</updated>
    <published>2011-06-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sakti, Lesus Eko
Advisors: Siregar, Nurchaliza H.; Gani, Abdul; Sitepu, Masang
Abstract: Terminologi kebutaan didefenisikan berbeda – beda di setiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum dan kebutaan Sosial. Publikasi WHO pada tahun 1966 memberikan 65 defenisi kebutaan. Di bidang oftalmologi, kebutaan adalah orang yang oleh karena penglihatannya menyebabkan ia tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari.1,2&#xD;
		Pada tahun 1972 WHO mendefenisikan kebutaan adalah tajam penglihatan &lt;3/60. Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter.1,2&#xD;
		Pada tahun 2008, revisi yang direkomendasikan WHO dan International  Classification of Disease ( ICD ) membagi berkurangnya penglihatan menjadi 5 kategori dengan maksimum tajam penglihatan kurang dari 6/18 Snellen, kategori 1 dan 2 termasuk pada low vision sedangkan kategori 3, 4 dan 5 disebut blindness. Pasien dengan lapang pandangan 5 – 10 ditempatkan pada kategori 3 dan lapang pandangan kurang dari 5 ditempatkan pada kategori 4 ( lihat table 1.1 ).1</summary>
    <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sakti, Lesus Eko</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Katarak Di Kabupaten Aceh Besar Nanggroe Aceh Darussalam</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26260" />
    <author>
      <name>Puspitasari, Yulia</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26260</id>
    <updated>2012-12-20T19:05:40Z</updated>
    <published>2011-06-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Puspitasari, Yulia
Advisors: Parwis, Beby
Abstract: Terminologi kebutaan didefinisikan berbeda – beda di setiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum dan kebutaan sosial. Publikasi WHO pada tahun 1966 memberikan 65 defenisi kebutaan. Di bidang oftalmologi, kebutaan adalah orang yang oleh karena penglihatannya menyebabkan ia tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari.1&#xD;
Pada tahun 1972 WHO mendefenisikan kebutaan adalah tajam penglihatan &lt;3/60. Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter. 1,2&#xD;
Pada tahun 1977, International  Classification of Disease ( ICD ) membagi berkurangnya penglihatan menjadi 5 kategori dengan maksimum tajam penglihatan kurang dari 6/18 Snellen, kategori 1 dan 2 termasuk pada low vision sedangkan kategori 3, 4 dan 5 disebut blindness. Pasien dengan lapang pandangan 5 – 10 ditempatkan pada kategori 3 dan lapang pandangan kurang dari 5 ditempatkan pada kategori 4.1,2&#xD;
Katarak adalah kekeruhan lensa. Lensa katarak memiliki ciri seperti edema, perubahan peningkatan atau penurunan protein, peningkatan proliferasi, dan kerusakan kontinuitas normal serat-serat lensa. Katarak immatur (insipient) hanya sedikit keruh. Katarak matur yang keruh total mengalami sedikit edema. Apabila kandungan air maksimum dan kapsul lensa teregang, katarak disebut mengalami intumesensi (membengkak). Pada katarak hipermatur (sangat lanjut), air telah keluar dari lensa dan meninggalkan lensa yang sangat keruh, relative mengalami dehidrasi, dengan kapsul berkeriput.3</summary>
    <dc:date>2011-06-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Puspitasari, Yulia</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Kelainan Refraksi&#xD;
Di Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26191" />
    <author>
      <name>Renardi, Cut Nori Altika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26191</id>
    <updated>2013-03-16T20:01:04Z</updated>
    <published>2011-06-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Renardi, Cut Nori Altika
Abstract: Terminologi kebutaan didefenisikan berbeda – beda di setiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum dan kebutaan Sosial. Publikasi WHO pada tahun 1966 memberikan 65 defenisi kebutaan. Di bidang oftalmologi, kebutaan adalah orang yang oleh karena penglihatannya menyebabkan ia tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari.1,2&#xD;
	Pada tahun 1972 WHO mendefenisikan kebutaan adalah tajam penglihatan &lt;3/60. Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter.1,2&#xD;
	Pada tahun 2008, revisi yang direkomendasikan WHO dan International  Classification of Disease ( ICD ) membagi berkurangnya penglihatan menjadi 5 kategori dengan maksimum tajam penglihatan kurang dari 6/18 Snellen, kategori 1 dan 2 termasuk pada low vision sedangkan kategori 3, 4 dan 5 disebut blindness. Pasien dengan lapang pandangan 5 – 10 ditempatkan pada kategori 3 dan lapang pandangan kurang dari 5 ditempatkan pada kategori 4 ( lihat table 1.1 ).1</summary>
    <dc:date>2011-06-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Renardi, Cut Nori Altika</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Katarak Di Poliklinik Mata RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2008</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24653" />
    <author>
      <name>Putra, M. Agung Eka</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24653</id>
    <updated>2011-09-14T21:00:36Z</updated>
    <published>2011-05-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Putra, M. Agung Eka
Advisors: Sihotang, Aslim D; Delfi; Parwis, Beby; Arma, Djalil Amri
Abstract: Kebutaan adalah bencana sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa 83% informasi sehari-hari masuk melalui jalur penglihatan. Gangguan fungsi penglihatan akan menurunkan kemampuan dalam kegiatan sosial dan berdampak pada penurunan potensi ekonominya.1&#xD;
		Terminologi kebutaan didefinisikan berbeda–beda di setiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum dan kebutaan sosial. Publikasi WHO pada tahun 1966 memberikan 65 definisi kebutaan. Di bidang Oftalmologi, kebutaan adalah orang yang oleh karena gangguan penglihatannya menyebabkan  tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari.2,3&#xD;
		Berdasarkan hasil survey Nasional tahun 1993 - 1996, prevalensi sebesar 1,5% penduduk  mengalami kebutaan. Berdasarkan hal-hal diatas menjadi alasan timbulnya upaya kesejagatan ”VISION 2020, The Right to Sight” untuk menanggulangi masalah tersebut dengan dasar keterpaduan upaya yang bertujuan untuk menurunkan jumlah penderita kebutaan, program ini telah diluncurkan pada tanggal 18 februari 1999 oleh direktur jenderal WHO.1 &#xD;
			Pada tahun 1972 WHO mendefinisikan kebutaan adalah tajam penglihatan &lt;3/60 (Snellen). Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter diruang terbuka. 2</summary>
    <dc:date>2011-05-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Putra, M. Agung Eka</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Kelainan Retina&#xD;
Di Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22961" />
    <author>
      <name>Rahmalita, Jenny</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22961</id>
    <updated>2012-03-28T20:07:12Z</updated>
    <published>2011-04-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rahmalita, Jenny
Advisors: Delfi; Sihotang, Aslim D
Abstract: Terminologi kebutaan didefenisikan berbeda – beda di setiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum dan kebutaan Sosial. Publikasi WHO pada tahun 1966 memberikan 65 defenisi kebutaan. Di bidang oftalmologi, kebutaan adalah orang yang oleh karena penglihatannya menyebabkan ia tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari.1,2&#xD;
			Pada tahun 1972 WHO mendefenisikan kebutaan adalah tajam penglihatan &lt;3/60. Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter. 1,2&#xD;
			Pada tahun 1977, International  Classification of Disease ( ICD ) membagi berkurangnya penglihatan menjadi 5 kategori dengan maksimum tajam penglihatan kurang dari 6/18 Snellen, kategori 1 dan 2 termasuk pada low vision sedangkan kategori 3, 4 dan 5 disebut blindness. Pasien dengan lapang pandangan 5 – 10 ditempatkan pada kategori 3 dan lapang pandangan kurang dari 5 ditempatkan pada kategori 4 ( lihat table 1.1 ). 1,2</summary>
    <dc:date>2011-04-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rahmalita, Jenny</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Insidensi Dan Derajat Dry Eye Pada Menopause &#xD;
Di RSU. H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22950" />
    <author>
      <name>Chaironika, Nur</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22950</id>
    <updated>2011-09-14T20:32:39Z</updated>
    <published>2011-04-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Chaironika, Nur
Advisors: Bachtiar; Zubaidah, Siti Harilza
Abstract: Saat ini jumlah penduduk Negara Indonesia adalah ± 230 juta jiwa dengan usia harapan hidup 62 tahun untuk pria dan 65 tahun untuk wanita. Pertambahan penduduk adalah 1,33 % per tahun, maka pada akhir tahun 2025 penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai lebih dari 263 juta jiwa,1,2 dimana jumlah penduduk usia tua akan meningkat dari 7.998.543 (5,5 %) pada tahun 1980 menjadi 29.021.128 (11,4 %) pada tahun 2020. Keberhasilan Indonesia dalam peningkatan kesejahteraan penduduknya dalam hampir 3 dekade menyebabkan terjadinya peningkatan usia harapan hidup, dan sebagai konsekuensi dari peningkatan jumlah wanita usia lanjut, maka berbagai masalah kesehatan akan lebih banyak dijumpai.3&#xD;
	Dari berbagai macam perbedaan kesehatan antara pria dan wanita, banyak yang tidak menyadari faktanya bahwa wanita lebih banyak menderita penyakit-penyakit dan kelainan-kelainan mata daripada pria. Setiap tahunnya, lebih banyak wanita daripada pria yang didiagnosa dengan berbagai macam penyakit-penyakit mata seperti glaukoma, katarak, degenerasi makula dan retinopati diabetika. Wanita dapat mengalami perubahan-perubahan pada penglihatannya dalam berbagai stadium kehidupannya termasuk masa kehamilan dan paska menopause.4,5</summary>
    <dc:date>2011-04-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Chaironika, Nur</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Hasil Operasi Pterygium Tipe Vaskular Dengan Metode Bare Sclera Dan Conjunctival Autograft</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22521" />
    <author>
      <name>Anisa, Rida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22521</id>
    <updated>2011-09-14T22:41:06Z</updated>
    <published>2011-04-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Anisa, Rida
Advisors: Bachtiar; Zubaidah, Siti Harilza
Abstract: Pterygium adalah pertumbuhan fibrovascular yang invasinya berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi ke arah kornea. Sinar Ultraviolet dianggap sebagai perangsang terjadinya kelainan ini dimana sinar ultraviolet menyebabkan kerusakan pada barier stem sel limbus sehingga terjadi konjungtivalisasi pada kornea1-13.&#xD;
	 Pterygium tersebar luas di dunia tetapi lebih sering terjadi pada daerah dengan iklim panas dan kering. Prevalensi pada daerah ekuator kira-kira 22% dan kurang 2% di daerah lintang di atas 400. Sekitar 44% lebih besar pada daerah tropis (kurang dari 300)  11 kali lebih banyak pada pekerja yang berhubungan dengan pasir, 9 kali pada pasien dengan riwayat tanpa memakai kacamata dan 2 kali pada pasien yang tidak memakai topi.2&#xD;
Tingginya kejadian berulang dan pertumbuhan progresif pada pterygium berulang masih merupakan permasalahan klinis yang menantang.2 Selain itu pterygium juga menimbulkan keluhan secara kosmetik dan berpotensi mengganggu penglihatan pada stadium lanjut yang memerlukan tindakan operasi untuk rehabilitasi penglihatan2,7,8. Berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan dengan antimetabolit atau antineoplasia ataupun tansplantasi dengan konjungtiva6,7,8.&#xD;
Eksisi pterygium bertujuan untuk mencapai gambaran permukaan mata yang licin. Indikasi operasi pterygium antara lain, terganggunya penglihatan, kosmetik, gangguan pergerakan bola mata, inflamasi yang rekuren, gangguan pada pemakaian lensa kontak, serta jarang, perubahan ke arah neoplasia3,4,5,8,9,10.&#xD;
 Ada beberapa teknik operasi yang dilakukan pada eksisi pterygium, pada dasarnya tindakan operasi yang dilakukan dengan dua cara yaitu, mengangkat pterygium dengan membiarkan luka bekas pterygium terbuka ( Bare sclera ), dan mengangkat pterygium kemudian luka pterygium ditutup dengan graft ( transplantasi )3,4,5,8,9,10.</summary>
    <dc:date>2011-04-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Anisa, Rida</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Kelainan Kornea Di Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21551" />
    <author>
      <name>Bahar, Iskandar Mirza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/21551</id>
    <updated>2011-09-14T01:12:44Z</updated>
    <published>2011-01-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bahar, Iskandar Mirza
Advisors: Sihotang, Aslim D; Bachtiar; Amra, Abdul Djalil Amri
Abstract: Berdasarkan analisa WHO, dengan jumlah penduduk dunia lebih dari 5,9 milyar jiwa, diperkirakan terdapat 45 juta orang mengalami kebutaan dan 135 juta orang dengan Low Vision atau terdapat kurang lebih 180 juta orang dengan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Objektif dari program WHO untuk pencegahan kebutaan dengan efektif dan mempertahankan penglihatan jika memungkinkan. Target global adalah harus menurunkan prevalensi kebutaan sampai &lt; 0,5 % di seluruh negara, atau kurang dari 1% pada beberapa negara.1,2,3,4&#xD;
	Vision 2020 dalam program pendekatan kesehatan primer, akan mengutamakan perkembangan Sumber Daya Manusia untuk kesehatan mata. Perhatian ditujukan kepada masyarakat menengah ke bawah yang merupakan tulang punggung Program Nasional untuk pencegahan kebutaan. Sumber Daya Manusia yang cukup terlatih merupakan komponen inti dalam pencegahan, pengobatan, dan rehabilitas kebutaan yang bisa dihilangkan.5&#xD;
	GBHN 1993 mengamanatkan antara lain bahwa pembangunan kesehatan harus memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat di seluruh wilayah tanah air, dimana setiap warga negara memperoleh kesempatan untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasilnya.5&#xD;
	Terminologi kebutaan didefinisikan berbeda-beda disetiap negara seperti kebutaan total, kebutaan ekonomi, kebutaan hukum, dan kebutaan sosial. Kira-kira 65 definisi kebutaan tertera dalam publikasi WHO tahun 1966. Di bidang Ophthalmologi, terminologi kebutaan  terbatas pada tidak dapatnya melakukan aktifitas sehari-hari sampai tidak adanya persepsi cahaya. Supaya ada perbandingan secara statistik baik nasional maupun internasional, WHO pada 1972 telah mengajukan kriteria yang seragam dan definisi kebutaan serta  tajam penglihatan yang kurang dari 3/60. (Snellen) atau yang ekuivalen dengannya. Pada 1979 WHO menambahkan dengan ketidak sanggupan hitung jari pada siang hari pada jarak 3 meter.7,8</summary>
    <dc:date>2011-01-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bahar, Iskandar Mirza</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Hasil Pengobatan Retinoblastoma&#xD;
Antara Tindakan Kemoterapi Diikuti Enukleasi Dengan Tindakan Enukleasi Diikuti Kemoterapi&#xD;
di RS H. Adam Malik Medan Periode 2008 – 2009</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20319" />
    <author>
      <name>Hidayat, Ruly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/20319</id>
    <updated>2011-09-14T00:50:30Z</updated>
    <published>2010-10-07T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hidayat, Ruly
Advisors: Zaldi; Amra, Aryani A; Sihotang, Aslim D; Arma, Abdul Djalil Amri
Abstract: Tumor Intraokular adalah tumor spektrum luas yang terdiri dari lesi jinak dan ganas yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan bahkan kematian. Salah satunya adalah Retinoblastoma yang merupakan keganasan Intraokular tersering pada anak1. Retinoblastoma mewakili sekitar 4% dari keseluruhan keganasan pada anak. Diperkirakan 250-350 kasus baru Retinoblastoma terdiagnosa di USA, 5000 kasus ditemukan di seluruh dunia. Lebih dari 95% anak dengan Retinoblastoma di USA dan di beberapa negara maju bertahan atas keganasan ini, dimana sekitar 50% bertahan di seluruh dunia. Perbedaan ini disebabkan adanya deteksi dini di USA dan negara maju dimana tumor masih berada di mata, sedangkan pada negara berkembang Retinoblastoma sering terdeteksi setelah adanya invasi ke orbita atau otak.2 	&#xD;
Kebanyakan sel secara histologis menunjukkan sel retina yang tidak berdiferensiasi dari embrio yang dinamakan Retinoblast. Hal ini dijadikan Veorhoff untuk menamainya Retinoblastoma, yang kemudian diadopsi American Ophthalmological Society pada tahun 1926 sebagai nama umum untuk kelainan ini. Veorhoff meyakini bahwa Retinoblastoma terdiri dari sel embrionik retina.3,4&#xD;
Retinoblastoma adalah tumor massa anak-anak yang jarang tetapi dapat fatal. Duapertiga kasus muncul sebelum akhir tahun ketiga; walaupun jarang, dilaporkan kasus-kasus yang timbul di segala usia. Tumor bersifat bilateral pada sekitar 30% kasus. Kasus-kasus ini bersifat herediter.1,2.3.3,4,5&#xD;
Retinoblastoma Bilateral secara khas didiagnosis pada tahun pertama kehidupan dan pada kasus sporadik unilateral didiagnosis pada umur 1–3 tahun. 1,2,4Frekuensi Retinoblastoma 1:14.000 sampai 1:20.000 kelahiran hidup.1 Pada penelitian di Amerika Serikat,ditemukan 250-500 kasus baru setiap tahunnya.¬2,6</summary>
    <dc:date>2010-10-07T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hidayat, Ruly</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Glaukoma Di Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6399" />
    <author>
      <name>Herman</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6399</id>
    <updated>2012-07-22T19:06:15Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Herman
Advisors: Dr. Mashita Dewi S, SpM.; Dr. H. Azman Tanjung, SpM</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Herman</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Tekanan Intraokuler Pria Dan Wanita Emmetropia Berusia 40 Tahun Atau Lebih Pada Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6398" />
    <author>
      <name>Zaldi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6398</id>
    <updated>2012-07-22T19:06:10Z</updated>
    <published>2008-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zaldi
Advisors: Dr. H. Azman Tanjung, SpM.; Dr. Masang Sitepu, SpM.
Abstract: Ruang Lingkup dan Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode observasi klinik non randomise terhadap 44 orang subjek penelitian yang terdiri dari 21 pria (42 mata) dan 23 wanita (46 mata) yang sesuai dengan kriteria populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan yang datang ke SMF Penyakit Mata RSUP H. Adam Malik dan RSUD. Dr. Pirngadi Medan dari tanggal 1 April 2003 sampai dengan 8 Mei 2003. Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan tekanan intraokuler dengan alat tonometer applanasi Perkins.&#xD;
Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil uji t-test dari perbedaan rata-rata tekanan intraokuler mata kanan pada pria 15,52 ± 0,87 mmHg dan pada wanita 15,61 ± 0,66 mmHg adalah p=0,719 atau p &gt; 0,05 dan rata-rata tekanan intraokuler mata kiri pada pria 15,48 ± 0,73 mmHg dan pada wanita 15,59 ± 0,81 mmHg adalah p=0,637 atau p &gt; 0,05 maka disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata tekanan intraokuler mata kanan dan kiri antara pria dan wanita pada penelitian ini.</summary>
    <dc:date>2008-05-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zaldi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Pterigium Di Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6395" />
    <author>
      <name>Laszuarni</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6395</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:56Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Laszuarni
Advisors: Dr. H. Bachtiar , SpM</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Laszuarni</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Glaukomadi Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6397" />
    <author>
      <name>Reni Puspita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6397</id>
    <updated>2012-07-22T19:06:06Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Reni Puspita
Advisors: Dr. H. Azman Tanjung, SpM.; Dr. Masitha Dewi Sari, SpM</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Reni Puspita</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Uji Schirmer I Sebelum dan Sesudah 2 Jam Menggunakan Komputer</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6396" />
    <author>
      <name>Irsad Sadri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6396</id>
    <updated>2010-07-03T19:06:02Z</updated>
    <published>2003-12-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Irsad Sadri
Abstract: Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang akhirakhir ini sebagai tuntutan globalisasi mengharuskan seseorang untuk selalu mendapat informasi</summary>
    <dc:date>2003-12-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Irsad Sadri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Departemen Hubungan Pertambahan Panjang Sumbu Bola Mata Dengan Perubahan Kekuatan Refraksi Pada Penderita Myopia Sedang Dan Berat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6393" />
    <author>
      <name>Rodiah Rahmawaty Lubis</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6393</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:43Z</updated>
    <published>2008-05-07T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Rodiah Rahmawaty Lubis
Advisors: Dr. Marsang K. Sitepu, SpM</summary>
    <dc:date>2008-05-07T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Rodiah Rahmawaty Lubis</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Tekanan Intraokuler Pria dan Wanita Emmetropia Berusia 40 Tahun Atau Lebih</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6394" />
    <author>
      <name>Zaldi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6394</id>
    <updated>2010-07-03T19:05:38Z</updated>
    <published>2003-12-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zaldi
Abstract: Dari hasil penelitian di Amerika Serikat diperkirakan 2,25 juta penduduk yang berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma sudut terbuka primer</summary>
    <dc:date>2003-12-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zaldi</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Diabetes Melitus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6392" />
    <author>
      <name>Novi Wulandari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6392</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:35Z</updated>
    <published>2008-04-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Novi Wulandari
Advisors: Prof. H. Aslim D. Sihotang SpM
Abstract: Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan Pupil Cycle Time pada penderita diabetes melitus, Metode : penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode observasi klinik non randomize untuk melihat perubahan Pupil Cycle Time pada penderita diabetes melitus. Penelitian dilakukan di SMF Mata RS Pirngadi Medan bulan Mei Juli 2002, dengan sampel semua penderita DM yang berobat ke SMF Mata RS.Pirngadi Medan sesuai dengan kriteria inklusi. Terhadap semua sampel dilakukan pemeriksaan Pupil Cycle Time dengan menggunakan slitlamp Inami L-O185 dan stopwatch pada kedua mata sebanyak 5 kali osilasi pupil.&#xD;
Hasil : Dari 48 sampel yang diamati, 43 orang adalah penderita DM tipe 2, dan 5 orang adalah penderita DM tipe I. Umur rata-rata penderita DM adalah 60,33 tahun. Nilai rata-rata Pupil Cycle Time pada kelompok kontrol adalah OD (mata kanan) 844,00 milidetik dan OS (mata kiri) 840,56 milidetik. Nilai rata-rata Pupil&#xD;
Cycle Time pada kelompok penderita OM adalah OD (mata kanan) 1142,21 milidetik dan OS (mata kiri) 1135,58 milidetik.Kesimpulan : Terjadi pemanjangan Pupil Cyal Time pada penderita diabetes melitus. Pemanjangan Pupil Cycle Time berhubungan dengan lamanya menderita diabetes melitus.</summary>
    <dc:date>2008-04-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Novi Wulandari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Diabetes Melitus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6389" />
    <author>
      <name>Novi Wulandari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6389</id>
    <updated>2010-07-03T19:04:57Z</updated>
    <published>2003-12-17T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Novi Wulandari
Abstract: Saat ini penduduk Negara Republik Indonesia adalah 210 juta orang dengan usia harapan hidup 62 tahun untuk pria dan 65 tahun untuk wanita.</summary>
    <dc:date>2003-12-17T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Novi Wulandari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Glaukoma Simpleks</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6391" />
    <author>
      <name>Tambar Malem Bangun</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6391</id>
    <updated>2011-09-13T19:03:45Z</updated>
    <published>2003-12-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tambar Malem Bangun
Abstract: Saat ini penduduk Negara Indonesia adalah 210 juta orang dengan usia harapan hidup 62 tahun untuk pria dan 65 tahun untuk wanita.</summary>
    <dc:date>2003-12-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tambar Malem Bangun</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan dan Sedang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6390" />
    <author>
      <name>Oriza Sativa</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6390</id>
    <updated>2010-07-03T19:05:09Z</updated>
    <published>2003-12-17T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Oriza Sativa
Abstract: Pengukuran tekanan intraokular merupakan pemeriksaan yang terpenting dalam pemeriksaan rutin pada kelainan mata dan merupakan salah satu tanda vital</summary>
    <dc:date>2003-12-17T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Oriza Sativa</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Trauma Mata Di Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6388" />
    <author>
      <name>Kaherma Sari</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6388</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:15Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kaherma Sari
Advisors: Dr. Suratmin, SpM.; Dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kaherma Sari</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Ukuran Pupil Dengan Miopia Derajat Sedang Dan Berat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6387" />
    <author>
      <name>Bobby Ramses Erguna Sitepu</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6387</id>
    <updated>2012-07-22T19:05:04Z</updated>
    <published>2008-07-24T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bobby Ramses Erguna Sitepu
Advisors: Dr. Masang Sitepu, Sp.M; Prof. Aslim D. Sihotang, Sp. M
Abstract: Telah dilakukan penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang terhadap 32 penderita miopia sedang dan berat yang datang ke Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi RSUP H. Adam Malik Medan selama bulan Februari sampai dengan April 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ukuran pupil dengan pertambahan kekuatan refraksi pada penderita miopia sedang dan berat.&#xD;
Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat dengan memperlihatkan secara rinci bertambahnya ukuran pupil pada miopia berat. Dengan kata lain semakin berat derajat miopia ukuran pupil cenderung bertambah besar.</summary>
    <dc:date>2008-07-24T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bobby Ramses Erguna Sitepu</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efektifitas Acetazolamide Tablet Dengan Tetes Mata Betaxolol Hcl Dalam Menurunkan Tekanan Intra-Okuli Pada Pre-Operasi Katarak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6386" />
    <author>
      <name>Siti Harilza Zubaidah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6386</id>
    <updated>2012-03-06T19:12:55Z</updated>
    <published>2008-07-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siti Harilza Zubaidah
Advisors: Dr. Beby Parwis, SpM
Abstract: Telah dilakukan penelitian terhadap 30 penderita katarak yang akan menjalani operasi di RSUP Haji Adam Malik Medan yang dibagi kedalam dua kelompok.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tetes mata Betaxolol HCl 0,5 % dibandingkan dengan tablet Acetazolamide 250 mg terhadap penurunan tekanan intra-okuli pada pre-operasi katarak.&#xD;
	Analisa statistik dengan menggunakan uji t berpasangan antara dua kelompok pengamatan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.&#xD;
	Pemberian tetes mata Betaxolol HCl 0,5 % 2x1 tetes sama efektifnya dengan pemberian tablet Acetazolamide 3x250 mg didalam menurunkan tekanan intra-okuli pada pre-operasi katarak.&#xD;
	Bila ditinjau dari segi harga, 1 botol Betaxolol HCl 0,5 % dijual dengan harga Rp. 35.000 berisi 5 ml, ekuivalen dengan 100 tetes. Jadi biaya setiap penetesan adalah Rp.350 (2 x penetesan = Rp.750). Sedangkan 1 tablet Acetazolamide 250 mg dijual dengan harga Rp. 2.300 (3 x pemberian = Rp. 6.900).&#xD;
Tablet Acetazolamide tersedia bagi penderita pemegang kartu Askes dan Askeskin sedangkan tetes mata Betaxolol HCl tidak demikian.</summary>
    <dc:date>2008-07-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siti Harilza Zubaidah</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Kelainan Kornea Di Kabupaten Langkat</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6385" />
    <author>
      <name>Bangun, Christina Y. Y.</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6385</id>
    <updated>2013-03-16T19:56:57Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bangun, Christina Y. Y.
Advisors: Bachtiar, H.; Arma, Abdul Jalil Amri</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bangun, Christina Y. Y.</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Uji Schirmer I Sebelum Dan Sesudah 2 Jam Menggunakan Komputer</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6384" />
    <author>
      <name>Irsad Sadri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6384</id>
    <updated>2012-07-22T19:04:36Z</updated>
    <published>2008-04-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Irsad Sadri
Advisors: Dr. H. Bachtiar, SpM
Abstract: Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan :&#xD;
- Tidak terdapat perbedaan sekresi air mata sebelum dan sesudah 2 jam menggunakan komputer dengan  &#xD;
  menggunakan Uji Schirmer I&#xD;
- Tidak diperlukan terapi artificial tears pada 2 jam pertama penggunaan komputer</summary>
    <dc:date>2008-04-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Irsad Sadri</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Trauma Mata Di Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6381" />
    <author>
      <name>Fithria Aldy</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6381</id>
    <updated>2012-07-22T19:04:19Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fithria Aldy
Advisors: Dr. Suratmin, SpM.; Dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, SpM</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fithria Aldy</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Rata-Rata Regiditas Okuler Pada Miopia dan Hipermetropia di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6383" />
    <author>
      <name>Hamilatussakdiah Tanjung</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6383</id>
    <updated>2010-07-03T19:03:59Z</updated>
    <published>2003-12-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hamilatussakdiah Tanjung
Abstract: Pengukuran tekanan intraokuli merupakan hal yang penting pada pemeriksaan mata, karena peningkatan tekanan intra okuli</summary>
    <dc:date>2003-12-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hamilatussakdiah Tanjung</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Rata-Rata Rigiditas Okuler Pada Miopia Dan Hipermetropia Di RSUP H. Adam Malik Medan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6382" />
    <author>
      <name>Dr. Halimatussakdiah Tanjung</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6382</id>
    <updated>2012-07-22T19:04:25Z</updated>
    <published>2008-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Dr. Halimatussakdiah Tanjung
Advisors: Dr. H. Azman Tanjung, SpM.; Dr. Masang Sitepu, SpM.</summary>
    <dc:date>2008-05-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Dr. Halimatussakdiah Tanjung</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tekanan Intraokular Pada Penderita Miopia Ringan Dan Sedang</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6380" />
    <author>
      <name>Oriza Sativa</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6380</id>
    <updated>2012-07-22T19:04:03Z</updated>
    <published>2008-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Oriza Sativa
Advisors: Dr. H. Azman Tanjung, SpM.; Dr. Masang Sitepu, SpM.</summary>
    <dc:date>2008-05-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Oriza Sativa</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Glaukoma Simpleks</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6378" />
    <author>
      <name>Tambar Malem Bangun</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6378</id>
    <updated>2012-07-22T19:03:48Z</updated>
    <published>2008-04-25T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tambar Malem Bangun
Advisors: Prof. Dr. H. Aslim D. Sihotang SpM
Abstract: Pada penelitian yang telah dilakukan terhadap penderita Glaukoma Simpleks yang datang berobat ke SMF Mata RS. H. Adam Malik Medan dapat diambil kesimpulan terjadi pemanjangan Pupil Cycle Time pada penderita Glaukoma Simpleks</summary>
    <dc:date>2008-04-25T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tambar Malem Bangun</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Atropi Papildi Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6379" />
    <author>
      <name>Virgayanti, Vanda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6379</id>
    <updated>2013-03-16T19:56:35Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Virgayanti, Vanda
Advisors: Sihotang, H. Aslim D.</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Virgayanti, Vanda</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prevalensi Kebutaan Akibat Katarak Di Kabupaten Tapanuli Selatan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6377" />
    <author>
      <name>Hutasoit, Herna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/6377</id>
    <updated>2012-07-22T19:04:33Z</updated>
    <published>2010-01-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hutasoit, Herna
Advisors: Parwis, Beby; Arma, Abdul Jalil Amri</summary>
    <dc:date>2010-01-26T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hutasoit, Herna</dc:creator>
  </entry>
</feed>

