<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>USU-IR Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/316" />
  <subtitle />
  <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/316</id>
  <updated>2013-05-23T21:03:52Z</updated>
  <dc:date>2013-05-23T21:03:52Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Perbandingan usia tulang pada remaja&#xD;
di pedesaan dan perkotaan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37440" />
    <author>
      <name>Arto, Karina Sugih</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37440</id>
    <updated>2013-05-18T02:28:30Z</updated>
    <published>2013-05-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Arto, Karina Sugih
Advisors: Deliana, Melda; Ali, Muhammad
Abstract: Background. The previous studies was recommended to make the next study about the relationship between the change of body composition and the development of puberty. In recent study, no known how the relationship between Body Mass Index (BMI) and sexual maturity stage of adolescent boys in Indonesia.&#xD;
Objective. To investigate the relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys.&#xD;
Methods. A cross sectional study was performed to determine the relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys 9 to 14 year old. This study was conducted on August 2009 in Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sexual maturity stage was determined the measurement of penile lenght and testical volume.&#xD;
Results. One hundred and eight (64.7%) participants were eligible which consist of 64 students of primary schools and 44 students of junior high schools. The mean of age 11.69 year old (SD 1.62); Body Weight 35.16 kg (SD 8.48); Body Height 1.41 m (SD 0.11); BMI 17.47 kg/m2 (SD 2.34); penile lenght 4.46 cm (SD 1.25); and testical volume 3.58 ml (SD 1.20). The relationship between BMI and penile length was showed by level of Pearson correlation coefficient (r) = -0.25; P = 0.06. The relationship between BMI and testis volume was showed by level of r = -0.21; P = 0.09.&#xD;
Conclusion. There was no significant relationship between BMI and sexual maturity stage of adolescent boys.
Abstract (other language): Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.&#xD;
Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis.&#xD;
Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09.&#xD;
Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</summary>
    <dc:date>2013-05-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Arto, Karina Sugih</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.&#xD;
Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis.&#xD;
Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09.&#xD;
Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Manfaat Omeprazol Sebagai Pengobatan&#xD;
Sakit Perut Berulang pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37360" />
    <author>
      <name>Yudiyanto, Ade Rahcmat</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37360</id>
    <updated>2013-05-14T02:02:53Z</updated>
    <published>2013-05-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yudiyanto, Ade Rahcmat
Advisors: Supriatmo; Deliana, Melda
Abstract: Background Recurrent abdominal pain is common among adolescents. Absenteeism from school and lower quality of life were associated with the severity of symptoms. Omeprazole is one of alternative treatment in recurrent abdominal pain.&#xD;
Objective To investigate the effectiveness of omeprazole as a treatment of recurrent abdominal pain among adolescent.&#xD;
Methods We conducted a randomized, single blind, controlled trial on August 2009 until November 2009. Adolescents with recurent abdominal pain and met inclusion criteria were eligibled for the study. Simple randomization done to divided in two groups. Each group was received 20 mg of omeprazole or placebo once a day for 14 days. Pain frequency was measured in abdominal pain episode per month, duration was measured in minute and pain intensity was measured by Pain Rating Scale. Evaluation was measured before and after intervention at 1st, 2nd dan 3rd month.&#xD;
Results One hundred twenty three recurrent abdominal pain patients were enrolled to the study, with simple randomization divided in two group with each group was fifty nine patients and sixty four patients. There was statistically significant difference on frequency before and after intervention at 1st, 2nd and 3rd month P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) but there were no statistically significant difference on the duration and degree of abdominal pain (P&gt;0.05).&#xD;
Conclusion Omeprazole is not more effective than placebo as the treatment of recurrent abdominal pain among adolescents.
Abstract (other language): Latar belakang Sakit perut berulang umumnya dapat dijumpai pada remaja. Ketidakhadiran di sekolah dan kualitas hidup yang rendah berhubungan dengan berat gejala yang terjadi. Omeprazol merupakan salah satu alternatif pengobatan pada sakit perut berulang.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat omeprazol sebagai pengobatan sakit perut berulang remaja.&#xD;
Metode Penelitian uji klinis randomisasi dilakukan secara acak tersamar tunggal sejak Agustus sampai November 2009. Remaja yang sakit perut berulang yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok mendapat 20 mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari, selama 14 hari. Frekuensi sakit diukur dengan jumlah banyaknya serangan sakit perut setiap bulan, durasi sakit diukur dalam menit dan tingkatan sakit diukur dengan pain rating scale. Penilaian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian pengobatan&#xD;
Hasil Seratus dua puluh tiga penderita sakit perut berulang diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 59 orang dan 64 orang. Masing-masing kelompok diberi 20mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari selama 14 hari. Dijumpai perbedaan bermakna secara statistik frekuensi sebelum dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) tetapi tidak dijumpai perbedaan pada durasi dan tingkatan sakit saat awal dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga antara kedua kelompok (P&gt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Omeprazol tidak lebih efektif dibandingkan plasebo sebagai pengobatan sakit perut berulang pada remaja.</summary>
    <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yudiyanto, Ade Rahcmat</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Sakit perut berulang umumnya dapat dijumpai pada remaja. Ketidakhadiran di sekolah dan kualitas hidup yang rendah berhubungan dengan berat gejala yang terjadi. Omeprazol merupakan salah satu alternatif pengobatan pada sakit perut berulang.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat omeprazol sebagai pengobatan sakit perut berulang remaja.&#xD;
Metode Penelitian uji klinis randomisasi dilakukan secara acak tersamar tunggal sejak Agustus sampai November 2009. Remaja yang sakit perut berulang yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok mendapat 20 mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari, selama 14 hari. Frekuensi sakit diukur dengan jumlah banyaknya serangan sakit perut setiap bulan, durasi sakit diukur dalam menit dan tingkatan sakit diukur dengan pain rating scale. Penilaian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian pengobatan&#xD;
Hasil Seratus dua puluh tiga penderita sakit perut berulang diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 59 orang dan 64 orang. Masing-masing kelompok diberi 20mg omeprazol atau plasebo satu kali per hari selama 14 hari. Dijumpai perbedaan bermakna secara statistik frekuensi sebelum dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga P=0.045, CI 95% (0.025-2.018) tetapi tidak dijumpai perbedaan pada durasi dan tingkatan sakit saat awal dan setelah intervensi pada bulan pertama, kedua dan ketiga antara kedua kelompok (P&gt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Omeprazol tidak lebih efektif dibandingkan plasebo sebagai pengobatan sakit perut berulang pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efikasi Mebendazole Dan Kombinasi Mebendazole Dengan Pyrantel Pamoate Pada Infeksi Soil&#xD;
Trasmitted Helminth</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37358" />
    <author>
      <name>Amelia, Fereza</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37358</id>
    <updated>2013-05-14T02:04:53Z</updated>
    <published>2013-05-11T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Amelia, Fereza
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background Soil-Transmitted Helminthiasis (STH) is the most common infection in developing countries. Although it causes high morbidity, it’s still difficult to find the efficacy dose of antihelmintics for it’s treatment.&#xD;
Objective To determine the efficacy of mebendazole and mebendazole-pyrantel pamoate in treating STH infection in children. &#xD;
Methods We conducted a randomized, open labeled, control trial between July and September 2009 in Secanggang, Kabupaten Langkat, North Sumatera province, in primary school aged children. Before the interventions, data on age, sex, nutritional status and STH infection status were collected. The children were divided into two groups by simple randomization. Group I received mebendazole 500 mg and group II received mebendazole combined with pyrantel pamoate. We examined the patient’s stool on day 7, 14, 21, and 28 after treatment in both groups. Statistical analysis was performed by Chi-square and student t test with confidence interval of 95% and P value of &lt; 0.05 was considered significant.&#xD;
Results We found that the cure rate were 95.4%, 78.5% and 89.3% for A. lumbricoides, T. trichiura and mixed (A. lumbricoides and T. trichiura) infection, respectively on mebendazole group. On the mebendazole-pyrantel pamoate group the cure rate were 98.5%, 89.2% and 90.2% for A. lumbricoides, T. trichiura and mixed infection, respectively. The total EPG (egg per gram) reduce were significant different for both infection A. lumbricoides and T. trichiura (P = 0.001 and P = 0.002).&#xD;
Conclusion Mebendazole and its combination with pyrantel pamoate has the same efficacy in treatment of STH.
Abstract (other language): Latar belakang Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan infeksi yang paling sering terjadi di negara berkembang. Walaupun tingkat morbiditasnya tinggi, masih sulit untuk menemukan regimen pengobatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi infeksi tersebut. &#xD;
Tujuan Untuk membandingkan efikasi mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate dalam pengobatan infeksi STH&#xD;
Metode Penelitian ini merupakan uji klinis acak terbuka yang dilakukan pada Juli sampai September 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Data usia, jenis kelamin, status nutrisi dan derajat infeksi STH dikumpulkan sebelum penelitian. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, menggunakan tabel angka random. Kelompok I mendapatkan terapi mebendazole 500 mg dan kelompok II mendapat terapi kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate. Pemeriksaan tinja dilakukan pada hari ke 7, 14, 21, dan 28 setelah pengobatan. Untuk melihat hubungan antihelmintik dengan kesembuhan digunakan uji kai-kuadrat (x2). Sedangkan untuk melihat hubungan antihelmintik degan jumlah telur, digunakan uji t-independen. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 14.0 dengan tingkat kemaknaan P &lt; 0.05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil Tidak dijumpai perbedaan bermakna untuk angka kesembuhan di antara kedua kelompok, dimana angka kesembuhan untuk kelompok I 95.4%, 78.5% dan 89.3% untuk infeksi A. lumbricoides, T. trichiura dan infeksi campuran. Sedangkan untuk kelompok II sebesar 98.5%, 89.2% dan 90.2%. Dijumpai adanya perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada penurunan jumlah total EPG (egg per gram) untuk kedua infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura (P = 0.001 dan P = 0.002).&#xD;
Kesimpulan mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate mempunyai efikasi sama dalam pengobatan infeksi STH.</summary>
    <dc:date>2013-05-11T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Amelia, Fereza</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) merupakan infeksi yang paling sering terjadi di negara berkembang. Walaupun tingkat morbiditasnya tinggi, masih sulit untuk menemukan regimen pengobatan yang efektif dan tepat untuk mengatasi infeksi tersebut. &#xD;
Tujuan Untuk membandingkan efikasi mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate dalam pengobatan infeksi STH&#xD;
Metode Penelitian ini merupakan uji klinis acak terbuka yang dilakukan pada Juli sampai September 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Data usia, jenis kelamin, status nutrisi dan derajat infeksi STH dikumpulkan sebelum penelitian. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, menggunakan tabel angka random. Kelompok I mendapatkan terapi mebendazole 500 mg dan kelompok II mendapat terapi kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate. Pemeriksaan tinja dilakukan pada hari ke 7, 14, 21, dan 28 setelah pengobatan. Untuk melihat hubungan antihelmintik dengan kesembuhan digunakan uji kai-kuadrat (x2). Sedangkan untuk melihat hubungan antihelmintik degan jumlah telur, digunakan uji t-independen. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 14.0 dengan tingkat kemaknaan P &lt; 0.05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil Tidak dijumpai perbedaan bermakna untuk angka kesembuhan di antara kedua kelompok, dimana angka kesembuhan untuk kelompok I 95.4%, 78.5% dan 89.3% untuk infeksi A. lumbricoides, T. trichiura dan infeksi campuran. Sedangkan untuk kelompok II sebesar 98.5%, 89.2% dan 90.2%. Dijumpai adanya perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada penurunan jumlah total EPG (egg per gram) untuk kedua infeksi A. lumbricoides dan T. trichiura (P = 0.001 dan P = 0.002).&#xD;
Kesimpulan mebendazole dan kombinasi mebendazole dengan pyrantel pamoate mempunyai efikasi sama dalam pengobatan infeksi STH.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efikasi Kombinasi Artesunat-Klindamisin Dengan Kinin-Klindamisin Pada Pengobatan Malaria Fasiparum Tanpa Komplikasi Pada Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37303" />
    <author>
      <name>Panjaitan, Erika</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37303</id>
    <updated>2013-05-08T02:19:18Z</updated>
    <published>2013-05-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Panjaitan, Erika
Advisors: Pasaribu, Syahril
Abstract: Latar belakang. Saat ini kombinasi antimalaria termasuk artemisinin sering tidak sesuai secara farmakokinetika sehingga berpotensi untuk resistensi. Untuk itu penilaian terhadap kombinasi artemisinin dengan obat yang mempunyai waktu paruh yang pendek diperlukan dalam  pengobatan Malaria Falciparum tanpa komplikasi pada anak.
Abstract (other language): Currently, antimalaria drug combination that include artemisinin are pharmacokinetically unmatched, therefore it could potentially increase resistance. That’s why we need to assess the potential  value combination artemisinin based combination therapy with a short elimination half life drug for the treatment of uncomplicated falciparum malaria in children</summary>
    <dc:date>2013-05-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Panjaitan, Erika</dc:creator>
    <dc:description>Currently, antimalaria drug combination that include artemisinin are pharmacokinetically unmatched, therefore it could potentially increase resistance. That’s why we need to assess the potential  value combination artemisinin based combination therapy with a short elimination half life drug for the treatment of uncomplicated falciparum malaria in children</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ganguan Pendengaran Akibat Pemakaian Kemoterapi Platinum pada Tumor Padat Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37232" />
    <author>
      <name>Edward, Eka Destianti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/37232</id>
    <updated>2013-05-01T03:50:15Z</updated>
    <published>2013-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Edward, Eka Destianti
Advisors: Rosdiana, Nelly; Farhat
Abstract: Background Platinum-based chemotherapy cisplatin and carboplatin is widely use in several types of solid tumor. The treatment has side effects including hearing loss.&#xD;
&#xD;
Objectives The aim of this study was to evaluate the prevalence and to identify risk factor of platinum-related hearing loss.&#xD;
&#xD;
Methods  A cross-sectional study was performed in Adam Malik Hospital Medan between April and July 2012. Twenty-two subjects, who fulfilled the eligibility criteria, underwent a through otoacoustic emission evaluation. Eleven children had received cisplatin and eleven treated with carboplatin. The median age was 5.7 years. The Median cumulative dose was 390/m² for cisplatin and 615/m² for carboplatin. The association between hearing loss and covariates were assessed using Fisher’s exact test and Pearson Chi-Square. 	&#xD;
&#xD;
Result  Seven of 22 subjects with hearing loss were identified, 5 patients (71%) had cisplatin and 2 patients (29%) had carboplatin. There was no stastically significant difference between carboplatin and cisplatin associated hearing loss (P = 0.361). No influence of sex (P = 0.452) and age (P = 0.212) related hearing loss. A trend for higher cumulative dose of cisplatin &gt;600/m² and carboplatin &gt;1800/m² to be associated with hearing loss (P = 0.022 and P = 0.004, respectively).&#xD;
&#xD;
Conclusion Patients who had higher cumulative dose platinum-based chemotherapy are at risk for developing hearing loss.
Abstract (other language): Latar belakang. Kemoterapi platinum cisplatin dan carboplatin digunakan secara luas dalam terapi berbagai tumor padat pada anak. Akan tetapi platinum mempunyai efek samping yang merugikan diantaranya gangguan pendengaran&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi gangguan pendengaran yang disebabkan kemoterapi platinum serta faktor risiko yang ikut berperan.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat potong lintang dilaksanakan di Rumah sakit Adam Malik pada bulan April 2012 sampai Juli 2012. Duapuluh dua subjek yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 11 orang mendapat kemoterapi cisplatin dan 11 orang mendapat carboplatin. Seluruh sampel dilakukan pemeriksan OAE (otoacoustic emission).&#xD;
Hasil. Dari 22 orang subjek, 7 orang diantaranya mengalami gangguan pendengaran 5 (71%) dengan kemoterapi cisplatin dan 2 (29%) dengan terapi carboplatin. Tidak dijumpai perbedaan  signifikan antara cisplatin dan carboplatin  yang berhubungan dengan gangguan pendengaran (P=0.361). Demikian juga dengan jenis kelamin (P=0.452) dan umur (P=0.212). Sebaliknya dijumpai hubungan antara gangguan pendengaran dengan dosis kumulatif. Cisplatin menimbulkan gangguan pendengaran pada dosis kumulatif diatas 600 mg/m2  (P=0.022) dan carboplatin diatas 1800 mg/m2 (P=0.004).&#xD;
Kesimpulan. Pemakaian kemoterapi platinum tumor padat dengan kumulatif dosis tinggi  merupakan faktor risiko untuk mendapatkan gangguan pendengaran.</summary>
    <dc:date>2013-05-01T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Edward, Eka Destianti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Kemoterapi platinum cisplatin dan carboplatin digunakan secara luas dalam terapi berbagai tumor padat pada anak. Akan tetapi platinum mempunyai efek samping yang merugikan diantaranya gangguan pendengaran&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi gangguan pendengaran yang disebabkan kemoterapi platinum serta faktor risiko yang ikut berperan.&#xD;
Metode. Penelitian ini bersifat potong lintang dilaksanakan di Rumah sakit Adam Malik pada bulan April 2012 sampai Juli 2012. Duapuluh dua subjek yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 11 orang mendapat kemoterapi cisplatin dan 11 orang mendapat carboplatin. Seluruh sampel dilakukan pemeriksan OAE (otoacoustic emission).&#xD;
Hasil. Dari 22 orang subjek, 7 orang diantaranya mengalami gangguan pendengaran 5 (71%) dengan kemoterapi cisplatin dan 2 (29%) dengan terapi carboplatin. Tidak dijumpai perbedaan  signifikan antara cisplatin dan carboplatin  yang berhubungan dengan gangguan pendengaran (P=0.361). Demikian juga dengan jenis kelamin (P=0.452) dan umur (P=0.212). Sebaliknya dijumpai hubungan antara gangguan pendengaran dengan dosis kumulatif. Cisplatin menimbulkan gangguan pendengaran pada dosis kumulatif diatas 600 mg/m2  (P=0.022) dan carboplatin diatas 1800 mg/m2 (P=0.004).&#xD;
Kesimpulan. Pemakaian kemoterapi platinum tumor padat dengan kumulatif dosis tinggi  merupakan faktor risiko untuk mendapatkan gangguan pendengaran.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Kemampuan Fungsional Anak Penderita Hemofilia dengan Anak yang Normal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35611" />
    <author>
      <name>Kosman, Andy Sance</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35611</id>
    <updated>2013-04-08T03:37:36Z</updated>
    <published>2013-04-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Kosman, Andy Sance
Advisors: Lubis, Bidasari; Rosdiana, Nelly
Abstract: Background. Recurrent joint bleedings in hemophilia patients can lead to joint damage and disabilities, causing problems in daily living. Specialized instruments such as the Functional Independence Score in Hemophilia (FISH) can be used to assess the functional abilities of hemophila patients.&#xD;
Objective. To compare the functional abilities of hemophilia patients using the FISH instrument with their normal peers.&#xD;
Method. A cross-sectional study was conducted at the H. Adam Malik Hospital in November till December 2012 on children with hemophilia and their normal peers as control. Each group was assessed using the FISH instrument. We use t-independent test and Spearman correlation test to compare the results of hemophilia patients with their peers.&#xD;
Results. A total of 42 children were enrolled in this study with 21 children in each group. FISH scores in hemophilia children were significantly lower compared to their normal peers in dressing, standing up from chair, squatting, walking and climbing stairs. There was a strong correlation between the level of F VIII and F IX, and the children’s age with the disability in hemophilia children.&#xD;
Conclusion. The functional abilities of hemophilia children were poorer compared to their normal peers.
Abstract (other language): Latar Belakang. Perdarahan sendi yang berulang pada penderita hemofilia menyebabkan kerusakan dan kecacatan sendi, sehingga mengganggu kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Penilaian fungsional ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus seperti Functional Independence Score in Hemophilia (FISH)&#xD;
Tujuan. Untuk menilai kemampuan fungsional anak penderita hemofilia dengan menggunakan instrumen FISH dibanding dengan anak yang normal.&#xD;
Metode. Sebuah studi cross sectional dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan November dan Desember 2012 terhadap anak penderita hemofilia dan anak yang normal sebagai kontrol. Masing-masing kelompok dinilai kemampuan fungsionalnya dengan menggunakan instrumen FISH. Hasil kedua kelompok dibandingkan dengan menggunakan uji t independen dan uji korelasi Spearman.&#xD;
Hasil. Empat puluh dua orang anak dimasukkan dalam studi ini (kelompok hemofilia n=21, kelompok kontrol n=21). Nilai FISH anak penderita hemofilia berbeda secara signifikan di aktivitas berpakaian, berdiri dari kursi, jongkok, jalan dan naik tangga. Dijumpai korelasi yang kuat antara kadar F VIII atau F IX, dan usia penderita dengan kemampuan fungsional anak penderita hemofilia.&#xD;
Kesimpulan. Kemampuan fungsional anak penderita hemofilia lebih rendah dibanding dengan anak yang normal.</summary>
    <dc:date>2013-04-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Kosman, Andy Sance</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Perdarahan sendi yang berulang pada penderita hemofilia menyebabkan kerusakan dan kecacatan sendi, sehingga mengganggu kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Penilaian fungsional ini dapat dilakukan dengan menggunakan instrument khusus seperti Functional Independence Score in Hemophilia (FISH)&#xD;
Tujuan. Untuk menilai kemampuan fungsional anak penderita hemofilia dengan menggunakan instrumen FISH dibanding dengan anak yang normal.&#xD;
Metode. Sebuah studi cross sectional dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan November dan Desember 2012 terhadap anak penderita hemofilia dan anak yang normal sebagai kontrol. Masing-masing kelompok dinilai kemampuan fungsionalnya dengan menggunakan instrumen FISH. Hasil kedua kelompok dibandingkan dengan menggunakan uji t independen dan uji korelasi Spearman.&#xD;
Hasil. Empat puluh dua orang anak dimasukkan dalam studi ini (kelompok hemofilia n=21, kelompok kontrol n=21). Nilai FISH anak penderita hemofilia berbeda secara signifikan di aktivitas berpakaian, berdiri dari kursi, jongkok, jalan dan naik tangga. Dijumpai korelasi yang kuat antara kadar F VIII atau F IX, dan usia penderita dengan kemampuan fungsional anak penderita hemofilia.&#xD;
Kesimpulan. Kemampuan fungsional anak penderita hemofilia lebih rendah dibanding dengan anak yang normal.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35528" />
    <author>
      <name>Zakiah, Washli</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35528</id>
    <updated>2013-03-28T03:15:47Z</updated>
    <published>2013-03-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zakiah, Washli
Advisors: Sembiring, Tiangsa; Irsa, Lily
Abstract: Background. The most common nutritional problems affecting the pediatric population in developing country is protein energy malnutrition (PEM). The nutritional problem may cause by various factors, most of which related to unsatisfactory food intake and infection. One of the highest morbidity and mortality in endemic area is malaria. Malaria infection and nutritional status is interrelated&#xD;
Objective. To determine relationship between nutritional status and malaria infection in children&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted in October and November 2010 among primary school children at Panyabungan City, North Sumatera Province. Peripheral thick and thin blood smear examination was done to confirm the diagnose of malaria. Participants divided in two groups (infected and uninfected malaria group) by consecutive sampling. Nutritional status was determined by body weight and height measurements based on CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Mild and moderate malnutrition classification divided in stunted and wasted is based on NCHS/WHO 2007. Chi-quadrat was used to determine the relationship between nutritional status and malaria infection. Data was processed by SPSS 14.0&#xD;
Results.  There was 126 children in each group. The findings showed that a significant differences between mild and moderate malnutritional status in both groups of infected and uninfected malaria ( 23.8% and 46.8%  respectively; P= 0.011) and there was a significant differences malnutrition type was stunted and stunted-wasted in both groups of mild and moderate malnutrition&#xD;
Conclusions. There was a significant relation between mild and moderate malnutrition and malaria infection in children. Malnutrition was most common in uninfected malaria
Abstract (other language): Latar Belakang.Masalah nutrisi yang paling sering dijumpai pada populasi anak di negara berkembang adalah protein energi malnutrition (PEM). Hal  ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu yang paling mempengaruhi adalah asupan makan yang tidak cukup dan infeksi. Penyakit malaria merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi didaerah endemis. Infeksi malaria dan status nutrisi saling mempengaruhi satu sama lain.&#xD;
Tujuan.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2010 terhadap anak sekolah dasar di Kota Panyabungan, Propinsi Sumatera Utara. Diagnosis malaria dengan pemeriksaan apusan slide darah tebal dan tipis. Subjek dibagi dua kelompok ( kelompok yang terinfeksi dan tidak terinfeksi malaria) dengan metode consecutive sampling. Status nutrisi ditentukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan berdasarkan grafik CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Tipe malnutrisi ringan-sedang dibagi atas pendek dan kurus diukur berdasarkan standar baku NCHS/WHO 2007. Dilakukan uji kai-kuadrat untuk menentukan hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria. Data kemudian diolah dengan SPSS 14.0. &#xD;
Hasil. Tiap kelompok terdiri dari 126 anak. Hasil dari penelitian ini menemukan adanya perbedaan bermakna status malnutrisi ringan-sedang antara anak dengan infeksi dan tanpa infeksi malaria yaitu 23.8% vs 46.8%  (P= 0.011)  Pada anak dengan malnutrisi ringan-sedang dijumpai perbedaan bermakna tipe malnutrisi pendek dan pendek-kurus pada kedua kelompok. &#xD;
Kesimpulan.Terdapat hubungan bermakna antara status malnutrisi ringan-sedang dengan infeksi malaria pada anak. Namun malnutrisi paling sering terjadi pada anak yang tidak terinfeksi</summary>
    <dc:date>2013-03-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zakiah, Washli</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang.Masalah nutrisi yang paling sering dijumpai pada populasi anak di negara berkembang adalah protein energi malnutrition (PEM). Hal  ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu yang paling mempengaruhi adalah asupan makan yang tidak cukup dan infeksi. Penyakit malaria merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi didaerah endemis. Infeksi malaria dan status nutrisi saling mempengaruhi satu sama lain.&#xD;
Tujuan.Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria pada anak usia sekolah dasar.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2010 terhadap anak sekolah dasar di Kota Panyabungan, Propinsi Sumatera Utara. Diagnosis malaria dengan pemeriksaan apusan slide darah tebal dan tipis. Subjek dibagi dua kelompok ( kelompok yang terinfeksi dan tidak terinfeksi malaria) dengan metode consecutive sampling. Status nutrisi ditentukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan berdasarkan grafik CDC 2000 (Centers for Disease Control and Prevention). Tipe malnutrisi ringan-sedang dibagi atas pendek dan kurus diukur berdasarkan standar baku NCHS/WHO 2007. Dilakukan uji kai-kuadrat untuk menentukan hubungan antara status nutrisi dengan infeksi malaria. Data kemudian diolah dengan SPSS 14.0. &#xD;
Hasil. Tiap kelompok terdiri dari 126 anak. Hasil dari penelitian ini menemukan adanya perbedaan bermakna status malnutrisi ringan-sedang antara anak dengan infeksi dan tanpa infeksi malaria yaitu 23.8% vs 46.8%  (P= 0.011)  Pada anak dengan malnutrisi ringan-sedang dijumpai perbedaan bermakna tipe malnutrisi pendek dan pendek-kurus pada kedua kelompok. &#xD;
Kesimpulan.Terdapat hubungan bermakna antara status malnutrisi ringan-sedang dengan infeksi malaria pada anak. Namun malnutrisi paling sering terjadi pada anak yang tidak terinfeksi</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Rasio Neutrofil Imatur Dengan Neutrofil Total Dalam Menegakkan Diagnosis Dini Sepsis Bakterialis Pada Neonatus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35525" />
    <author>
      <name>Darnifayanti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/35525</id>
    <updated>2013-03-27T04:47:50Z</updated>
    <published>2013-03-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Darnifayanti
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Rusdidjas
Abstract: Background. Bacterial sepsis is the main cause morbidity and mortality in neonates. Early diagnostic and appropriate treatment can reduce the mortality rate. Gold standard to diagnose bacterial sepsis is blood culture, but it needed 3-5 day for the results, but the disease may progress rapidly in neonates. Examination of ratio immature to total neutrophil in peripheral blood smear is a quick and cheaper method to diagnose sepsis bacterial in neonates. Some studies found that sensitivity of ratio immature to total neutrophil is between 88%-90%. &#xD;
&#xD;
Objective. To determine whether  ratio immature to total neutrophil (IT ratio) can be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted in February to March 2011. The sample were collected by consecutive sampling. We used diagnostic test in this study. Fifty three neonates suspected for bacterial sepsis in perinatology unit H. Adam Malik hospital underwent blood culture and peripheral blood smear for neutrophil count. All statistical analyses were conducted with SPSS (version 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Result. Of 53 neonates, twenty six neonates had bacterial sepsis based on blood culture. Ratio immature to total neutrophil has a sensitivity 88.46%,positive predictive value 82.14%, and negative predictive value 88%. ROC curve showed cut off point 0.833 (95%CI 0.713-0.953). &#xD;
&#xD;
Conclusion. Ratio of immature to total neutrophil could be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis
Abstract (other language): Latar belakang. Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total  (IT rasio) pada darah tepi merupakan cara yang cepat dan murah dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas IT rasio sekitar 88%-90%. &#xD;
Tujuan. Untuk menentukan bahwa rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2011. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling. 53 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan kultur darah dan sediaan apusan darah tepi utuk menghitung IT rasio. Analisa statistic dengan menggunakan SPSS (versi 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 53 neonatus, 26 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total mempunyai sensitivitas 88.46%, spesifisitas 81.84%, positif predictive value 82.14% dan negative predictive value 88%. Cut of point dengan kurva ROC 0.833 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Rasio neutrofil imatur dengan netrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</summary>
    <dc:date>2013-03-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Darnifayanti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total  (IT rasio) pada darah tepi merupakan cara yang cepat dan murah dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas IT rasio sekitar 88%-90%. &#xD;
Tujuan. Untuk menentukan bahwa rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2011. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling. 53 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan kultur darah dan sediaan apusan darah tepi utuk menghitung IT rasio. Analisa statistic dengan menggunakan SPSS (versi 16.0 for window). &#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 53 neonatus, 26 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total mempunyai sensitivitas 88.46%, spesifisitas 81.84%, positif predictive value 82.14% dan negative predictive value 88%. Cut of point dengan kurva ROC 0.833 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Rasio neutrofil imatur dengan netrofil total dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan penggunaan kontrasepsi oral dengan timbulnya penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34681" />
    <author>
      <name>Abdullah, Mars Nashrah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34681</id>
    <updated>2013-01-04T19:07:23Z</updated>
    <published>2012-12-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Abdullah, Mars Nashrah
Advisors: Salim, Muhammad; Deliana, Melda
Abstract: Background Congenital heart disease (CHD) represent some of the more prevalent malformations among live births and remain the leading cause of death from congenital malformations. Conotruncal anomalies comprise a diverse group of congenital heart defects involving the outflow tracts of the heart and the great vessels. Oral contraceptive exposure before pregnancy is one of the risk factor for conotruncal type CHD.&#xD;
&#xD;
Objective To evaluate the effect of hormonal exposure due to oral contraceptive before pregnancy in the risk of conotruncal type CHD to the child.&#xD;
&#xD;
Methods A case control study was conducted from July 2010 until July 2011 in Haji Adam Malik Hospital. Subjects with congenital heart defect were divided into two groups. Conotruncal type CHD as case group and non conotruncal type as control. Both of groups with or without history of oral contraceptive use before pregnancy. Parents were interviewed using a questionnaire. All statistical analyses were assessed using Chi Square test, Student t test and Mann Whitney test.&#xD;
&#xD;
Results A total of 80 subjects were eligible, 40 subjects in each group. Exposure to oral contraceptive among conotruncal and non conotruncal type CHD were 62% and 60%, respectively (OR 0.82; 95% CI 0.33 to 1.98). The duration of oral contraceptive before pregnancy was 19.1 month for cases and 18.8 for controls (P=0.87).&#xD;
&#xD;
Conclusions Oral contraceptive exposure before pregnancy does not appear to increase the risk of conotruncal type CHD.
Abstract (other language): Latar Belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) memberikan beberapa gambaran kelainan pada bayi dan merupakan penyebab kematian yang sering terjadi diantara malformasi kongenital. Kelainan konotrunkal adalah bagian PJB yang meliputi masalah outflow tract dan pembuluh darah besar. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.&#xD;
Tujuan. Untuk menilai efek paparan hormonal kontrasepsi oral sebelum kehamilan terhadap timbulnya risiko PJB tipe konotunkal. &#xD;
Metode. Studi case control dilakukan mulai Juli 2010 sampai Juli 2011 di RSUP H. Adam Malik. Sampel diambil secara randomisasi dan dibagi ke dalam dua kelompok. Penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal sebagai kelompok kasus dan tipe non konotrunkal sebagai kontrol. Kedua kelompok mempunyai ibu dengan atau tanpa riwayat menggunakan kontrasepsi oral sebelum kehamilan. Orang tua mengisi kuisioner dan juga diwawancarai. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square, t test independent, dan uji Mann Whitney.&#xD;
Hasil. Besar sampel sebanyak 80 orang dengan 40 orang tiap kelompok. Paparan kontrasepsi oral pada tipe konotrunkal diketahui sebanyak 62% dan 60% pada kelompok non konotrunkal,dengan OR 0.82; IK 95% 0.33 - 1.98. Lama penggunaan kontrasepsi oral sebelum kehamilan adalah 19.1 bulan pada kelompok kasus dan 18.8 bulan pada kontrol (P=0.87).&#xD;
Kesimpulan. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan tidak meningkatkan risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.</summary>
    <dc:date>2012-12-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Abdullah, Mars Nashrah</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) memberikan beberapa gambaran kelainan pada bayi dan merupakan penyebab kematian yang sering terjadi diantara malformasi kongenital. Kelainan konotrunkal adalah bagian PJB yang meliputi masalah outflow tract dan pembuluh darah besar. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.&#xD;
Tujuan. Untuk menilai efek paparan hormonal kontrasepsi oral sebelum kehamilan terhadap timbulnya risiko PJB tipe konotunkal. &#xD;
Metode. Studi case control dilakukan mulai Juli 2010 sampai Juli 2011 di RSUP H. Adam Malik. Sampel diambil secara randomisasi dan dibagi ke dalam dua kelompok. Penyakit jantung bawaan tipe konotrunkal sebagai kelompok kasus dan tipe non konotrunkal sebagai kontrol. Kedua kelompok mempunyai ibu dengan atau tanpa riwayat menggunakan kontrasepsi oral sebelum kehamilan. Orang tua mengisi kuisioner dan juga diwawancarai. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi Square, t test independent, dan uji Mann Whitney.&#xD;
Hasil. Besar sampel sebanyak 80 orang dengan 40 orang tiap kelompok. Paparan kontrasepsi oral pada tipe konotrunkal diketahui sebanyak 62% dan 60% pada kelompok non konotrunkal,dengan OR 0.82; IK 95% 0.33 - 1.98. Lama penggunaan kontrasepsi oral sebelum kehamilan adalah 19.1 bulan pada kelompok kasus dan 18.8 bulan pada kontrol (P=0.87).&#xD;
Kesimpulan. Paparan kontrasepsi oral sebelum kehamilan tidak meningkatkan risiko terjadinya PJB tipe konotrunkal.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Prokalsitonin sebagai marker dalam menegakkan diagnosis sepsis pada neonatus</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34387" />
    <author>
      <name>Nelly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34387</id>
    <updated>2012-12-20T21:28:10Z</updated>
    <published>2012-11-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nelly
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Hakimi
Abstract: Background Bacterial sepsis is the main cause of morbidity and mortality in neonates. Early diagnostic and appropriate treatment can reduce the mortality rate. Gold standard to diagnose bacterial sepsis is blood culture, but it needs 3-5 days for the results, but the disease may progress rapidly in neonates. Examination of procalcitonin is a quick and better method to diagnose sepsis bacterial in neonates. Some studies found that the sensitivity of procalcitonin is between 92%-100%&#xD;
&#xD;
Objective To determine whether procalcitonin can be used as an early diagnostic tool of bacterial neonatal sepsis&#xD;
&#xD;
Methods A cross sectional study was conducted in October 2011 to February 2012. Fourty three neonates suspected for bacterial sepsis in perinatology unit H. Adam Malik hospital underwent routine blood count, C-reactive protein, blood culture and procalcitonin. The samples were collected by consecutive sampling. We used diagnostic test in this study. All statistical analyses were conducted with computerized software. &#xD;
&#xD;
Results Of 43 neonates, thirty six neonates had bacterial sepsis based on blood culture. The procalcitonin sensitivity was 100%, specificity was 85.71%, positive predictive value was 97.29%  and negative predictive value was 100%, ROC curve showed cut off point 0.929 (95% CI 0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Conclusions Procalcitonin could be used as an early diagnostic tool of bacterial  neonatal sepsis.
Abstract (other language): Latar belakang Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan prokalsitonin merupakan cara yang cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas prokalsitonin sekitar 92%-100%. &#xD;
&#xD;
Tujuan Untuk menentukan bahwa pemeriksaan prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai Oktober 2012. 43 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan darah rutin, C-reactive protein, kultur darah dan pemeriksaan prokalsitonin. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling.  Analisa statistik dengan menggunakan program komputerisasi.&#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 43 neonatus, 36 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Prokalsitonin mempunyai sensitivitas 100%, spesifisitas 85.71%, positif predictive value 97.29% dan negative predictive value100%. Cut of point dengan kurva ROC 0.929 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan  Prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</summary>
    <dc:date>2012-11-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nelly</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Sepsis bakterialis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Diagnosis dini sepsis bakterialis dan penanganan yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas. Kultur darah merupakan standar baku dalam menegakkan diagnosis sepsis bakterialis namun hasilnya membutuhkan waktu 3-5 hari, sedangkan perjalanan penyakit berlangsung sangat cepat terutama pada neonatus. Pemeriksaan prokalsitonin merupakan cara yang cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus. Beberapa penelitian menemukan sensitivitas prokalsitonin sekitar 92%-100%. &#xD;
&#xD;
Tujuan Untuk menentukan bahwa pemeriksaan prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan uji diagnostik yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai Oktober 2012. 43 neonatus yang diduga mengalami sepsis bakterialis di unit perinatologi Rumah Sakit H. Adam Malik medan dilakukan pemeriksaan darah rutin, C-reactive protein, kultur darah dan pemeriksaan prokalsitonin. Sampel penelitian dikumpulkan dengan metode consecutive sampling.  Analisa statistik dengan menggunakan program komputerisasi.&#xD;
&#xD;
Hasil. Dari 43 neonatus, 36 neonatus mengalami sepsis bakterialis berdasarkan hasil kultur darah. Prokalsitonin mempunyai sensitivitas 100%, spesifisitas 85.71%, positif predictive value 97.29% dan negative predictive value100%. Cut of point dengan kurva ROC 0.929 (95%CI0.713-0.953).&#xD;
&#xD;
Kesimpulan  Prokalsitonin dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis dini sepsis bakterialis pada neonatus.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Status Nutrisi antara Anak dengan dan tanpa Infeksi Soil Transmitted Helminths</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34363" />
    <author>
      <name>Simarmata, Nelly</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34363</id>
    <updated>2012-12-20T21:27:31Z</updated>
    <published>2012-11-08T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Simarmata, Nelly
Advisors: Sembiring, Tiangsa; Ali, Muhammad
Abstract: Background. Soil Transmitted Helminthiasis (STH) are still public health problem in developing country. The prevalence is high mainly in rural population with low socioeconomic level. Soil transmitted helminths as a single or mixed infection rarely cause death but can affect nutrition, growth, cognitive development and human health.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional study was done on June 2010 in 3 schools in Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Faecal examination by Kato-Katz method was done to diagnose STH infection. We divided participants into two groups (positive and negative helminths). Data was collected with consecutive sampling. Classification of nutritional status determined by measurement of body weight and body height based on WHO NCHS CDC 2000. All statistical analyses were conducted with SPSS (Version 14.0 for Windows). All catagorical data were analyzed by using chi-square test. We also used chi-square test to assess the association between intensity of STH infection and nutritional status of STH infected children.&#xD;
&#xD;
Results. Two hundred and eighty children enrolled in this study (140 infected children and 140 uninfected children). Statistically, there was a significant association between nutritional status and STH infection.  We also found a significant difference between intensity of a single or mixed STH infection and nutritional status.&#xD;
&#xD;
Conclusions. There was a significant difference on nutritional status between STH infected and uninfected children. We also found a significant differences on intensity of STH infection and nutritional status.
Abstract (other language): Latar Belakang. Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang. Prevalensinya tinggi terutama pada daerah pedesaan dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Infeksi STH dapat tunggal ataupun campuran, dimana jarang menyebabkan kematian namun dapat mempengaruhi status nutrisi, pertumbuhan, perkembangan kognitif dan kesehatan.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Juni 2010 di 3 sekolah dasar di Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Pemeriksaan feses berupa metode Kato-Katz dilakukan untuk menegakkan diagnosis infeksi STH. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive yaitu 140 anak dengan infeksi STH dan 141 anak tanpa infeksi STH. Penentuan klasifikasi status nutrisi berdasarkan NCHS WHO CDC 2000. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan SPSS versi 14.0.  Untuk melihat hubungan antara infeksi STH dan status nutrisi digunakan uji chi-square. Uji chi-square ini juga digunakan untuk melihat hubungan antara derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak.&#xD;
&#xD;
Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH. Pada penilaian terhadap derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak, didapati bahwa derajat intensitas infeksi STH  baik yang tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak  &#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH.  Derajat intensitas infeksi STH  baik pada infeksi tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak.</summary>
    <dc:date>2012-11-08T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Simarmata, Nelly</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang. Prevalensinya tinggi terutama pada daerah pedesaan dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Infeksi STH dapat tunggal ataupun campuran, dimana jarang menyebabkan kematian namun dapat mempengaruhi status nutrisi, pertumbuhan, perkembangan kognitif dan kesehatan.&#xD;
&#xD;
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Juni 2010 di 3 sekolah dasar di Kecamatan Kabanjahe,Kabupaten Karo. Pemeriksaan feses berupa metode Kato-Katz dilakukan untuk menegakkan diagnosis infeksi STH. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive yaitu 140 anak dengan infeksi STH dan 141 anak tanpa infeksi STH. Penentuan klasifikasi status nutrisi berdasarkan NCHS WHO CDC 2000. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan SPSS versi 14.0.  Untuk melihat hubungan antara infeksi STH dan status nutrisi digunakan uji chi-square. Uji chi-square ini juga digunakan untuk melihat hubungan antara derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak.&#xD;
&#xD;
Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH. Pada penilaian terhadap derajat intensitas infeksi dan status nutrisi anak, didapati bahwa derajat intensitas infeksi STH  baik yang tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak  &#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan status nutrisi antara anak dengan dan tanpa infeksi STH.  Derajat intensitas infeksi STH  baik pada infeksi tunggal (A.lumbricoides atau T.trichiura) maupun campuran (A.lumbricoides dan T.trichiura) dapat mempengaruhi status nutrisi anak.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan kadar serum IgE total pada anak yang terinfeksi soil transmitted helminth  dengan kejadian penyakit atopi</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34279" />
    <author>
      <name>Wijaya, Hendri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34279</id>
    <updated>2012-12-20T21:26:25Z</updated>
    <published>2012-10-31T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wijaya, Hendri
Advisors: Irsa, Lily; Supriatmo
Abstract: Background. High of total serum immunoglobulin E (IgE) level and eosinophilia are atopic markers, but other factors can also play a key role, such as intestinal parasitic infection. In tropical endemic regions total serum IgE is more often associated with soil-transmitted helminth (STH) infection and can result from actual or past parasite infection. Helminthiasis has been associated with reduced risk of atopy and asthma symptoms in areas with high prevalence of parasitic infections.&#xD;
Objective. To determine the association between total serum Ig E level and STH infection, and the association between STH infection and allergy symptoms. &#xD;
Methods. We conducted a cross-sectional study of 84 children (7 – 13 years old) collected consecutively in Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. The total serum IgE along with stool examination for soil transmitted helminth measures were done. Data of atopy or allergy symptoms were obtained by interviewing the parents.&#xD;
Results. This study showed that 42 samples with STH infection and 42 samples without infection had mean of total serum Ig E level of 1131.26 IU/ml and 744.76 IU/ml, respectively. This study demonstrated a significant difference in total serum IgE level between these two groups (P=0.029). We also found that there was association between STH infection and asthma symptoms (P=0.049) and eczema symptoms (P=0.044).&#xD;
Conclusions. Total serum IgE levels were higher in presence of STH infection and STH infection was associated with asthma and eczema symptoms.
Abstract (other language): Latar Belakang. Kadar imunoglobulin E (IgE) serum total yang tinggi dan eosinofilia merupakan petanda atopi, tapi faktor lain juga mungkin berperan seperti misalnya infeksi parasit usus. Di daerah tropis yang endemis IgE serum total yang tinggi lebih sering dikaitkan dengan infeksi soil-transmitted helminth (STH) dan bisa oleh karena infeksi parasit yang baru dialami ataupun infeksi di masa sebelumnya. Helminthiasis dikaitkan dengan penurunan risiko atopi dan gejala asma di daerah dengan prevalensi infeksi STH yang tinggi.&#xD;
Tujuan. Menentukan hubungan antara Kadar IgE serum total dengan infeksi STH, dan hubungan antara infeksi STH dan gejala alergi. &#xD;
Metode. Kami melakukan studi cross-sectional terhadap 84 anak (berusia 7 – 13 tahun) yang dikumpulkan secara konsekutif di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Dilakukan pengukuran Kadar IgE serum total dan pemeriksaan tinja untuk STH. Data atopi atau gejala alergi diperoleh dari hasil wawancara singkat dengan orangtua.&#xD;
Hasil. Studi ini menunjukkan pada 42 sampel dengan infeksi STH dan 42 sampel tanpa infeksi masing-masing memiliki rerata kadar IgE serum 1131.26 IU/ml dan 744.76 IU/ml. Studi ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada kadar IgE serum total diantara kedua grup (P=0.029), Kami juga menemukan bahwa terdapat hubungan antara infeksi STH dan gejala asma (P=0.049) dan eksim (P=0.044).&#xD;
Kesimpulan. Kadar IgE serum total lebih tinggi dengan adanya infeksi STH dan terdapat hubungan antara  infeksi STH dengan gejala asma dan eksim.</summary>
    <dc:date>2012-10-31T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wijaya, Hendri</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Kadar imunoglobulin E (IgE) serum total yang tinggi dan eosinofilia merupakan petanda atopi, tapi faktor lain juga mungkin berperan seperti misalnya infeksi parasit usus. Di daerah tropis yang endemis IgE serum total yang tinggi lebih sering dikaitkan dengan infeksi soil-transmitted helminth (STH) dan bisa oleh karena infeksi parasit yang baru dialami ataupun infeksi di masa sebelumnya. Helminthiasis dikaitkan dengan penurunan risiko atopi dan gejala asma di daerah dengan prevalensi infeksi STH yang tinggi.&#xD;
Tujuan. Menentukan hubungan antara Kadar IgE serum total dengan infeksi STH, dan hubungan antara infeksi STH dan gejala alergi. &#xD;
Metode. Kami melakukan studi cross-sectional terhadap 84 anak (berusia 7 – 13 tahun) yang dikumpulkan secara konsekutif di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Dilakukan pengukuran Kadar IgE serum total dan pemeriksaan tinja untuk STH. Data atopi atau gejala alergi diperoleh dari hasil wawancara singkat dengan orangtua.&#xD;
Hasil. Studi ini menunjukkan pada 42 sampel dengan infeksi STH dan 42 sampel tanpa infeksi masing-masing memiliki rerata kadar IgE serum 1131.26 IU/ml dan 744.76 IU/ml. Studi ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada kadar IgE serum total diantara kedua grup (P=0.029), Kami juga menemukan bahwa terdapat hubungan antara infeksi STH dan gejala asma (P=0.049) dan eksim (P=0.044).&#xD;
Kesimpulan. Kadar IgE serum total lebih tinggi dengan adanya infeksi STH dan terdapat hubungan antara  infeksi STH dengan gejala asma dan eksim.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Tekanan Darah Anak Dengan Tekanan Darah Orangtuanya</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34213" />
    <author>
      <name>Nasution, Desy Aswira</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34213</id>
    <updated>2012-12-20T21:24:59Z</updated>
    <published>2012-10-24T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Desy Aswira
Advisors: Rusdidjas; Supriatmo
Abstract: Background. Family history of hypertension is a risk factor for hypertension in children. Some studies have reported significant relationship of elevated blood pressure in children with hypertensive parents.&#xD;
Objective. To determine the relationship between blood pressure in children and &#xD;
blood pressure of their parents.&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted in 90 children aged 6 until 18 years in Baringin village, Panyabungan on May until June 2010. Sample was collected with consecutive sampling. Classification of hypertension determined by measurement of blood pressure, height, weight based on Fourth Task Force. Data were analyzed using SPSS (version 15.0) We used student t-test to analyzed numerical data. Simple linier regression was used to investigate the relationship between blood pressure of children and blood pressure of their parents.&#xD;
Results. Of ninety participants who have examined, 9 children and their parents who suffered from hypertension , 32 children and their father or mother who suffered from hypertension and 49 children and their parents  normotensive . The mean systolic (SBP), diastolic (DBP) and mean arterial blood pressure (MABP) was significantly higher in children with hypertensive parents than normotensive parents (116.67, 120.31 and 84.0 respectively ;P=0.0001 for SBP, 77.78, 80.36  and 51.87 respectively ;P=0.0001  for DBP, 90.74, 93.68 and 63.59 respectively ;P=0.0001 for MABP). There was a significant relationship between elevated SBP in boys and SBP of his father was indicated by the correlation coefficient (r=0.806;P=0.0001). &#xD;
Conclusions. The blood pressure of children was significantly higher in children with hypertensive parents than normotensive parents. There was a strong correlation between SBP in boys with SBP of his father.
Abstract (other language): Latar belakang. Riwayat hipertensi keluarga merupakan suatu faktor risiko hipertensi pada anak. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan hubungan yang signifikan kenaikan tekanan darah pada anak dengan orangtua yang hipertensi.&#xD;
Tujuan. Untuk menentukan hubungan antara tekanan darah anak dengan tekanan darah orangtuanya.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan studi  cross sectional  terhadap 90 anak berusia 6 sampai 18 tahun di desa Baringin, Panyabungan selama Mei sampai Juni 2010. Pengumpulan sampel dengan consecutive sampling. Klasifikasi hipertensi ditentukan dengan pengukuran tekanan darah, tinggi badan dan berat badan berdasarkan The Fourth Task Force. Seluruh analisa statistik dilakukan dengan SPSS versi 15. Uji student t-test untuk menganalisa data numerik. Uji simple linier regression untuk menentukan hubungan antara tekanan darah anak dengan orangtuanya.&#xD;
Hasil. Sembilan puluh anak ikut serta dalam penelitian ini. Didapatkan 9 anak dengan kedua orangtua hipertensi, 32 anak dengan salah satu orangtua hipertensi dan 49 anak dengan orangtua normotensi.. Ditemukan rerata tekanan darah sistolik (TDS),  rerata tekanan darah diastolik (TDD) dan rerata tekanan darah arteri (MAP) secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan orangtua hipertensi (kedua orangtua dan salah satu orangtua) dibandingkan anak dengan orangtua normotensi (116.67,120.31 dan 87.14 berturut ;P=0.0001  untuk TDS, 77.78, 80.36 dan 51.87 berturut ;P=0.0001  untuk TDD , 90.74, 93.68 dan 63.59 berturut ;P=0.0001 untuk MAP). Ditemukan hubungan yang signifikan antara kenaikan TDS pada anak laki-laki dengan TDS ayahnya yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi  (r=0.806;P=0.0001).&#xD;
Kesimpulan. Tekanan darah pada anak secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan orangtua hipertensi dibandingkan orangtua normotensi. Ditemukan hubungan yang kuat antara TDS anak laki-laki dengan TDS ayahnya.</summary>
    <dc:date>2012-10-24T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Desy Aswira</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Riwayat hipertensi keluarga merupakan suatu faktor risiko hipertensi pada anak. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan hubungan yang signifikan kenaikan tekanan darah pada anak dengan orangtua yang hipertensi.&#xD;
Tujuan. Untuk menentukan hubungan antara tekanan darah anak dengan tekanan darah orangtuanya.&#xD;
Metode. Penelitian ini merupakan studi  cross sectional  terhadap 90 anak berusia 6 sampai 18 tahun di desa Baringin, Panyabungan selama Mei sampai Juni 2010. Pengumpulan sampel dengan consecutive sampling. Klasifikasi hipertensi ditentukan dengan pengukuran tekanan darah, tinggi badan dan berat badan berdasarkan The Fourth Task Force. Seluruh analisa statistik dilakukan dengan SPSS versi 15. Uji student t-test untuk menganalisa data numerik. Uji simple linier regression untuk menentukan hubungan antara tekanan darah anak dengan orangtuanya.&#xD;
Hasil. Sembilan puluh anak ikut serta dalam penelitian ini. Didapatkan 9 anak dengan kedua orangtua hipertensi, 32 anak dengan salah satu orangtua hipertensi dan 49 anak dengan orangtua normotensi.. Ditemukan rerata tekanan darah sistolik (TDS),  rerata tekanan darah diastolik (TDD) dan rerata tekanan darah arteri (MAP) secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan orangtua hipertensi (kedua orangtua dan salah satu orangtua) dibandingkan anak dengan orangtua normotensi (116.67,120.31 dan 87.14 berturut ;P=0.0001  untuk TDS, 77.78, 80.36 dan 51.87 berturut ;P=0.0001  untuk TDD , 90.74, 93.68 dan 63.59 berturut ;P=0.0001 untuk MAP). Ditemukan hubungan yang signifikan antara kenaikan TDS pada anak laki-laki dengan TDS ayahnya yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi  (r=0.806;P=0.0001).&#xD;
Kesimpulan. Tekanan darah pada anak secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan orangtua hipertensi dibandingkan orangtua normotensi. Ditemukan hubungan yang kuat antara TDS anak laki-laki dengan TDS ayahnya.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara Gangguan Ginjal Akut  dan Mortalitas pada Anak dengan Penyakit Kritis &#xD;
di Unit Perawatan Intensif Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34111" />
    <author>
      <name>Amelia, Putri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34111</id>
    <updated>2012-12-20T21:22:49Z</updated>
    <published>2012-10-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Amelia, Putri
Advisors: Lubis, Munar; Mutiara, Erna
Abstract: Background The mortality from acute kidney injury (AKI) is as high as 60% in critically ill children.  This high mortality rate is influenced by the severity of the disease, organ dysfunction, and stage of acute kidney injury.  &#xD;
Objective To assess the association between AKI and mortality in critically ill children.&#xD;
Methods  A cross-sectional study was conducted in April – July 2012.  All patients aged 1 month – 18 years which admitted to PICU &gt; 24 hours were included.  The urine output and serum creatinine were evaluated daily.  Patient were categorized according to the pRIFLE criteria. Chi square Fisher Exact Test, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests were used to assess the association between AKI, mortality, PELOD score and length of stay.  Data was analyzed by computer programme with P&lt;0.05 and confidence interval 95%.&#xD;
Results  During the follow-up period, 57 children were admitted, consisted of 25 (43.9%) female and 32 (56.1%) male with median age 43 months.  The prevalance of AKI was 31.5% and classified into stage: risk 72.2%, injury 16.7% and failure 11.1%.  The prevalence of death in AKI was 16.7%.  There was no association between AKI and mortality (P=0.592).  The PELOD scores were found equal in all patients (SD 11.32 vs SD 12.23, P=0.830), and there was no association between AKI and length of stays (P=0.819).&#xD;
Conclusion There is no association between AKI and mortality at PICU in H. Adam Malik Hospital.
Abstract (other language): Latar belakang Laporan kematian gangguan ginjal akut (GnGA) masih tinggi sekitar 60% pada pasien anak dengan penyakit kritis.  Tingginya kematian ini dipengaruhi oleh derajat berat penyakit, disfungsi organ, dan derajat GnGA.  &#xD;
Tujuan  Mengetahui hubungan antara GnGA dan mortalitas pada pasien anak dengan penyakit kritis.&#xD;
Metode  Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, yang dilakukan selama bulan April 2012 – Juli 2012.  Sampel penelitian adalah semua pasien yang berusia 1 bulan – 18 tahun yang masuk ke PICU &gt; 24 jam.  Produksi urin dan kreatinin serum diperiksa setiap hari.  Pasien dikelompokkan berdasarkan kriteria pRIFLE.  Untuk menilai hubungan GnGA, mortalitas, skor PELOD, dan lama rawatan digunakan uji Chi square Fisher Exact, Mann-Whitney, dan Kruskal-Wallis.  Analisis data menggunakan program komputer, dengan batas kemaknaan P&lt;0,05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil  Subjek penelitian sebanyak 57 anak yang terdiri dari 25 (43.9%) perempuan dan 32 (56.1%)  laki-laki, rentang usia 1 – 206 bulan (median 43 bulan).  Prevalensi GnGA sebesar 31.5%, dengan GnGA derajat risk 72.2%, injury 16.7%, dan failure 11.1%.  Prevalensi kematian penderita GnGA adalah 16.7%.  Tidak ada hubungan antara GnGA dan mortalitas (P=0.592).  Rerata skor PELOD pada penderita GnGA dan non GnGA sama (10.28±11.32 vs 10.39±12.23), dan tidak ada hubungan antara GnGA dengan lama rawatan (P=0.819).&#xD;
Kesimpulan Tidak ada hubungan antara GnGA dan mortalitas di Unit Perawatan Intensif Anak RS H. Adam Malik Medan</summary>
    <dc:date>2012-10-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Amelia, Putri</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Laporan kematian gangguan ginjal akut (GnGA) masih tinggi sekitar 60% pada pasien anak dengan penyakit kritis.  Tingginya kematian ini dipengaruhi oleh derajat berat penyakit, disfungsi organ, dan derajat GnGA.  &#xD;
Tujuan  Mengetahui hubungan antara GnGA dan mortalitas pada pasien anak dengan penyakit kritis.&#xD;
Metode  Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional, yang dilakukan selama bulan April 2012 – Juli 2012.  Sampel penelitian adalah semua pasien yang berusia 1 bulan – 18 tahun yang masuk ke PICU &gt; 24 jam.  Produksi urin dan kreatinin serum diperiksa setiap hari.  Pasien dikelompokkan berdasarkan kriteria pRIFLE.  Untuk menilai hubungan GnGA, mortalitas, skor PELOD, dan lama rawatan digunakan uji Chi square Fisher Exact, Mann-Whitney, dan Kruskal-Wallis.  Analisis data menggunakan program komputer, dengan batas kemaknaan P&lt;0,05 dan interval kepercayaan 95%.&#xD;
Hasil  Subjek penelitian sebanyak 57 anak yang terdiri dari 25 (43.9%) perempuan dan 32 (56.1%)  laki-laki, rentang usia 1 – 206 bulan (median 43 bulan).  Prevalensi GnGA sebesar 31.5%, dengan GnGA derajat risk 72.2%, injury 16.7%, dan failure 11.1%.  Prevalensi kematian penderita GnGA adalah 16.7%.  Tidak ada hubungan antara GnGA dan mortalitas (P=0.592).  Rerata skor PELOD pada penderita GnGA dan non GnGA sama (10.28±11.32 vs 10.39±12.23), dan tidak ada hubungan antara GnGA dengan lama rawatan (P=0.819).&#xD;
Kesimpulan Tidak ada hubungan antara GnGA dan mortalitas di Unit Perawatan Intensif Anak RS H. Adam Malik Medan</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan EfektivitasAlbendazole &#xD;
400 mg tiga hari berturut dan satu &#xD;
hari terhadap trichuriasis</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34110" />
    <author>
      <name>Vivianna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34110</id>
    <updated>2012-12-20T21:23:37Z</updated>
    <published>2012-10-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Vivianna
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background. Trichuris trichiura is  one of the most common soil-transmitted helminths that infected school age children. Single dose albendazole showed wide variation in of cure and egg reduction rate. Some studies found repeated dose of albendazole would increase its effectiveness.&#xD;
&#xD;
Objective. To determine the effectiveness of 400 mg albendazole three consecutive days compare to 400 mg albendazole single dose against trichiuriasis.&#xD;
&#xD;
Methods. A randomized, open trial was conducted in May and June 2009 among elementary school children at Karo Municipal, North Sumatera Province. Stool samples were collected before treatment and on day 7,14, 21, and 28 after treatment using the Kato Katz method. Group I received 400 mg albendazole three consecutive days and group II received 400 mg albendazole single dose. Cure rate and egg reduction rate were compared using Chi-square and Wilcoxon rak sum test respectively.&#xD;
&#xD;
Result. Two hundred and sixty subjects enrolled in this study (group I n= 118, group II n=142). The prevalence of trichuriasis was 54.7% which 70.6% of them were co-infected with Ascaris lumbricoides.  Cure rate of 400 mg albendazole three consecutive days was statistically significant higher on day 7 and 14 (83.9% and 64.8%, P=0.0001; 96.6% and 88.7%, P=0.013, respectively). Intensity of infection is correlated with the effectiveness of the regimen used, where longer regimen gave higher cure rate on moderate trichuriasis (50% and 11.1%, P=0.001). On day 7 and 14, egg reduction rates was also statistically better in group I compared to group II (96.8% and 83.7%, P=0.001; 99.7% and 96.3%, P=0.041, respectively).&#xD;
&#xD;
Conclusion. Both regimens have high effectiveness against trichuriasis. Effectiveness is depended on the intensity of infection. On moderate infection, 400 mg albendazole three consecutive days is more effective than single dose regimen. While in light infection, both regimen are equally effective.
Abstract (other language): Latar belakang. Trichuris trichiura adalah salah satu jenis soil-transmitted helmitnhs yang paling banyak menginfeksi anak usia sekolah. Albendazole dosis tunggal menunjukkan angka kesembuhan dan penurunan telur yang bervariasi. Beberapa penelitian mendapatkan regimen albendazole dosid berulang memberikan efektivitas yang lebih baik.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efektivitas pemberian albendazole 400 mg 3 hari berturut dan satu hari terhadap trichuriasis.&#xD;
Metode. Uji klinis terbuka terhadap anak-anak usia sekolah dasar dilakukan selama Mei dan Juni 2010, di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz sebelum dan sesudah hari ke 7, 14, 21, dan 28 pemberian obat. Kelompok I mendapatkan terapi albendazole 400 mg selama 3 hari berturut dan kelompok II mendapatkan albendazole 400 mg satu hari. Uji Chi-square dan Wilcoxon rank sum digunakan untuk membandingkan angka kesembuhan dan penurunan telur diantara kedua kelompok.&#xD;
Hasil. Penelitian ini melibatkan 260 subjek (kelompok I n= 118, kelompok II n= 142). Prevalensi trichuriasis didapatkan sebesar 54.6% dengan 70.6% diantaranya berupa infeksi campuran dengan Ascaris lumbricoides. Angka kesembuhan albendazole 400 mg 3 hari berturut secara stastistik lebih tinggi pada hari ke 7 dan 14 (83.9% dan 64.8%, P=0.0001 di hari ke 7, 96.6% dan 88.7%, P=0.013 di hari ke 14). Derajat intensitas infeksi berhubungan dengan efektivitas regimen yang digunakan, regimen 3 hari berturut memberikan angka kesembuhan yang lebih tinggi pada trichuriasis derajat sedang (50% dan 11.1%, P=0.001). Angka penurunan telur di hari ke 7 dan 14 juga lebih tinggi pada kelompok I ( 96.8% dan 83.7%, P=0.001 pada hari ke 7, 99.7% dan 96.3%, P=0.041 pada hari ke 14).&#xD;
Kesimpulan. Albendazole 400 mg tiga hari berturut dan satu hari, menunjukkan efektivitas yang tinggi terhadap infeksi T. trichiura. Perbedaan intensitas infeksi akan mempengaruhi efektivitas. Pada trichuriasis derajat sedang, pemberian regimen albendazole 400 mg 3 hari berturut lebih efektif daripada albendazole 400 mg satu hari, akan tetapi tidak ada perbedaan efektivitas untuk trichuriasis intensitas ringan.</summary>
    <dc:date>2012-10-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Vivianna</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Trichuris trichiura adalah salah satu jenis soil-transmitted helmitnhs yang paling banyak menginfeksi anak usia sekolah. Albendazole dosis tunggal menunjukkan angka kesembuhan dan penurunan telur yang bervariasi. Beberapa penelitian mendapatkan regimen albendazole dosid berulang memberikan efektivitas yang lebih baik.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efektivitas pemberian albendazole 400 mg 3 hari berturut dan satu hari terhadap trichuriasis.&#xD;
Metode. Uji klinis terbuka terhadap anak-anak usia sekolah dasar dilakukan selama Mei dan Juni 2010, di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz sebelum dan sesudah hari ke 7, 14, 21, dan 28 pemberian obat. Kelompok I mendapatkan terapi albendazole 400 mg selama 3 hari berturut dan kelompok II mendapatkan albendazole 400 mg satu hari. Uji Chi-square dan Wilcoxon rank sum digunakan untuk membandingkan angka kesembuhan dan penurunan telur diantara kedua kelompok.&#xD;
Hasil. Penelitian ini melibatkan 260 subjek (kelompok I n= 118, kelompok II n= 142). Prevalensi trichuriasis didapatkan sebesar 54.6% dengan 70.6% diantaranya berupa infeksi campuran dengan Ascaris lumbricoides. Angka kesembuhan albendazole 400 mg 3 hari berturut secara stastistik lebih tinggi pada hari ke 7 dan 14 (83.9% dan 64.8%, P=0.0001 di hari ke 7, 96.6% dan 88.7%, P=0.013 di hari ke 14). Derajat intensitas infeksi berhubungan dengan efektivitas regimen yang digunakan, regimen 3 hari berturut memberikan angka kesembuhan yang lebih tinggi pada trichuriasis derajat sedang (50% dan 11.1%, P=0.001). Angka penurunan telur di hari ke 7 dan 14 juga lebih tinggi pada kelompok I ( 96.8% dan 83.7%, P=0.001 pada hari ke 7, 99.7% dan 96.3%, P=0.041 pada hari ke 14).&#xD;
Kesimpulan. Albendazole 400 mg tiga hari berturut dan satu hari, menunjukkan efektivitas yang tinggi terhadap infeksi T. trichiura. Perbedaan intensitas infeksi akan mempengaruhi efektivitas. Pada trichuriasis derajat sedang, pemberian regimen albendazole 400 mg 3 hari berturut lebih efektif daripada albendazole 400 mg satu hari, akan tetapi tidak ada perbedaan efektivitas untuk trichuriasis intensitas ringan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Reaktivitas Uji Tusuk Kulit pada Anak Atopi dengan Jumlah Saudara Kandung</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34102" />
    <author>
      <name>Siregar, Beatrix</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/34102</id>
    <updated>2012-12-20T21:22:48Z</updated>
    <published>2012-10-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Siregar, Beatrix
Advisors: Irsa, Lily; Supriatmo
Abstract: Background. Some studies have showed that low birth order was a risk factor to develop atopy although the results are still controversial. Those studies were appropriate with hygiene hypothesis which said that there was an inverse association between family numbers  and atopy. Atopy can be diagnosed from the history of individual or families’ atopy which confirmed by specific IgE allergen or positive skin prick test. &#xD;
Objective. To determine the association between skin prick test reactivity in atopic children and number of their siblings.&#xD;
Methods. A cross sectional study was conducted on May - June 2010 among elementary school children at Kampung Baru District, Medan Regency, North Sumatera. Skin prick test was done in 7-10 year children with history of asthma, rhinitis allergy or atopic dermatitis. Sample was divided into two groups. Group I was children who have &lt; 3 siblings and group II was children who have ≥ 3 siblings. Skin prick test reactivity was compared between two groups using Chi-square test.&#xD;
Results. A total of 192 subjects were enrolled in this study (group I n= 96, group II n=96). There was an association between skin prick test reactivity and number of siblings where the prevalence of positive skin prick test was statistically significant higher in children who have sibling &lt; 3 than ≥ 3 ( 75% and  64.1%, respectively; P=0.003). &#xD;
Conclusions. There was an  association between skin prick test &#xD;
reactivity in atopic children and number of their siblings
Abstract (other language): Latar Belakang. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa tingkat kelahiran yang rendah merupakan faktor risiko berkembangnya penyakit atopi, meskipun hasilnya masih menjadi pertentangan. Hal tersebut sesuai dengan hipotesis higiene yang menyatakan adanya suatu hubungan yang terbalik antara jumlah anggota keluarga dengan berkembangnya kelainan atopi. Atopi dapat didiagnosis dengan riwayat individual atau keluarga yang dikonfirmasikan dengan adanya IgE alergen spesifik atau dengan hasil uji tusuk kulit yang positif. &#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan  reaktivitas uji tusuk kulit pada anak atopi dengan jumlah saudara kandung.&#xD;
Metode. Studi cross sectional yang dilakukan pada bulan Mei - Juni 2010 pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Kampung Baru, Kotamadya Medan, Propinsi Sumatera Utara. Uji tusuk kulit dilakukan pada anak usia 7-10 tahun dengan riwayat  asma, rhinitis alergi atau dermatitis atopi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I merupakan anak dengan jumlah saudara kandung &lt; 3 orang  dan kelompok II merupakan anak dengan jumlah saudara kandung &gt; 3 orang. Reaktivitas uji tusuk kulit dibandingkan antara kedua kelompok dengan menggunakan uji chi-square.&#xD;
Hasil. Seratus sembilan puluh dua subjek dimasukkan dalam studi ini  (kelompok I n= 96,  kelompok II n=96). Terdapat hubungan antara reaktivitas uji tusuk kulit dengan jumlah saudara kandung dimana prevalensi uji tusuk kulit positif secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan saudara kandung &lt; 3 dibandingkan ≥ 3 ( 75% and  64.1%, secara berturut-turut; P=0.003). &#xD;
Kesimpulan. Terdapat hubungan antara reaktivitas uji tusuk kulit pada anak atopi dengan jumlah saudara kandung.</summary>
    <dc:date>2012-10-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Siregar, Beatrix</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa tingkat kelahiran yang rendah merupakan faktor risiko berkembangnya penyakit atopi, meskipun hasilnya masih menjadi pertentangan. Hal tersebut sesuai dengan hipotesis higiene yang menyatakan adanya suatu hubungan yang terbalik antara jumlah anggota keluarga dengan berkembangnya kelainan atopi. Atopi dapat didiagnosis dengan riwayat individual atau keluarga yang dikonfirmasikan dengan adanya IgE alergen spesifik atau dengan hasil uji tusuk kulit yang positif. &#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan  reaktivitas uji tusuk kulit pada anak atopi dengan jumlah saudara kandung.&#xD;
Metode. Studi cross sectional yang dilakukan pada bulan Mei - Juni 2010 pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Kampung Baru, Kotamadya Medan, Propinsi Sumatera Utara. Uji tusuk kulit dilakukan pada anak usia 7-10 tahun dengan riwayat  asma, rhinitis alergi atau dermatitis atopi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I merupakan anak dengan jumlah saudara kandung &lt; 3 orang  dan kelompok II merupakan anak dengan jumlah saudara kandung &gt; 3 orang. Reaktivitas uji tusuk kulit dibandingkan antara kedua kelompok dengan menggunakan uji chi-square.&#xD;
Hasil. Seratus sembilan puluh dua subjek dimasukkan dalam studi ini  (kelompok I n= 96,  kelompok II n=96). Terdapat hubungan antara reaktivitas uji tusuk kulit dengan jumlah saudara kandung dimana prevalensi uji tusuk kulit positif secara signifikan lebih tinggi pada anak dengan saudara kandung &lt; 3 dibandingkan ≥ 3 ( 75% and  64.1%, secara berturut-turut; P=0.003). &#xD;
Kesimpulan. Terdapat hubungan antara reaktivitas uji tusuk kulit pada anak atopi dengan jumlah saudara kandung.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan status gizi dengan kejadian konstipasi fungsional pada anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32840" />
    <author>
      <name>Nasution, Badai Buana</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32840</id>
    <updated>2012-12-20T20:30:40Z</updated>
    <published>2012-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nasution, Badai Buana
Advisors: Supriatmo; Hakimi
Abstract: Background. Constipation defines as difficulty of defecation with hard stool and the frequency of defecation more than once in three days. The prevalence of constipation is 22.6% at the age 4-17 years old and the high rate is the functional constipation, almost 90% - 97%. The risk factors of constipation are sex, fibre intake, fluid intake, toilet usage, and body mass index. The aim of this study is to assess the relationship between body mass index and functional constipation. Methods. A cross-sectional study from June until July 2010 was carried out in Pesantren Musthafawiyah in Panyabungan, Mandailing Natal regency, North Sumatera province. The students were given questionnaires by interviewing one by one. They were measured the body weight and height to determine the body mass index, and then were assessed the nutritional status by z score. The functional constipation was assessed with Rome III criteria. Chi-squarred test were used to find correlation between body mass index and functional constipation. Results. Thirty two students were enrolled in constipation group, and 50 students were enrolled in non constipation group. We found 11% male and 28% female in constipation group. There were significant relationship between sex and prevalence of functional constipation (P=0.0001). We had 11% children with normoweight and 28% with overweight in constipation group. At non constipation group, we had 45% children with normoweight and 13% overweight, and 4.1% underweight. There were significant relationship between overweight and functional constipation (P=0.0001). Conclusions. Our study showed a significant correlation between body mass index and functional constipation. We also found functional constipation present more frequent in girls than boys.</summary>
    <dc:date>2012-05-09T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nasution, Badai Buana</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efektivitas Albendazole 5 dan 7 hari pada Infeksi Trichuris trichiura</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32726" />
    <author>
      <name>Lubis, Aridamuriany Dwiputri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/32726</id>
    <updated>2012-12-20T20:27:13Z</updated>
    <published>2012-05-04T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Lubis, Aridamuriany Dwiputri
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background.  The worm infection is almost occurred in all of  people at all age, but the high prevelance especially age school children. Trichuris trichiura is one of the most common soil-transmitted helminths that infected school age children. Single dose albendazole showed wide variation in of cure and egg reduction rate. Some studies found repeated dose of albendazole would increase its effectiveness.&#xD;
&#xD;
Objective. To determine the effectiveness of 400 mg albendazole five consecutive days compare to 400 mg albendazole seven consecutive days against trichiuriasis.&#xD;
&#xD;
Methods. A randomized, open clinical trial was conducted between August and September 2009 among elementary school children at Jaring Halus, North Sumatera Province. Stool samples were collected before treatment and on day 7,14, 21, and 28 after treatment using the Kato Katz method. Group I received 400 mg albendazole five consecutive days and group II received 400 mg albendazole seven consecutive days. Cure rate and egg reduction rate was compared using Chi-square and Student’s t test respectively.&#xD;
&#xD;
Result. One hundred and twenty one subjects enrolled  (group I n= 61, group II n=60). Treatments for seven days resulted in significantly higher cure rate compared with five days, at first week 86,7% for seven days compared to 39,3% (P=0.001)  and second week 88,3% for seven days compared to 68,9% (P=0.017). Egg reduction rates was also statistically better in group I 6.6% (SD 11.30) compared to group II 20.3% (SD 23.77). &#xD;
&#xD;
Conclusion. Five and seven days albendazole are equally effective against trichuriasis. Albendazole for seven consecutive days has a higher effectiveness in egg reduction rate compared than five consecutive days.
Abstract (other language): Latar belakang. Infeksi cacing mengenai semua orang di segala usia, tetapi prevalensi tertinggi terutama terjadi pada anak-anak usia sekolah. Trichuris trichiura adalah salah satu cacing dari soil-transmitted helminths yang banyak menginfeksi anak sekolah. Albendazole menunjukkan beberapa variasi yang luas dalam menyembuhkan dan menurunkan jumlah telur. Beberapa penelitian menunjukkan pengulangan dosis dari albendazole akan meningkatkan keefektivannya.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efektivitas pemberian albendazole 400 mg 5 hari berturut dan tujuh hari berturut terhadap trichuriasis.&#xD;
Metode. Uji klinis terbuka terhadap anak-anak usia sekolah dasar dilakukan selama Agustus dan September 2009, di Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz sebelum dan sesudah hari ke 7, 14, 21, dan 28 pemberian obat. Kelompok I mendapatkan terapi albendazole 400 mg selama 5 hari berturut dan kelompok II mendapatkan albendazole 400 mg selama 7  hari berturut. Uji Chi-square dan Student’s t test digunakan untuk membandingkan angka kesembuhan dan penurunan telur diantara kedua kelompok.&#xD;
Hasil. Penelitian ini mengikutsertakan 121 subjek (kelompok I n= 61, kelompok II n= 60). Kesembuhan pada kelompok II menunjukkan angka yang lebih tinggi 86.7% dibandingkan pada kelompok I yaitu 39.3% (P=0.001) pada minggu pertama dan kedua yaitu 88.3% dan 68.9% (P=0.017). Penurunan telur pada kelompok II juga menunjukkan angka yang lebih tinggi  yaitu 20.3% dibandingkan kelompok I yaitu 6.6% (P=0.001).&#xD;
Kesimpulan. Albendazole 400 mg lima hari berturut dan tujuh hari menunjukkan efektivitas yang sama tinggi terhadap angka infeksi T. trichiura. Pemberian regimen albendazole 400 mg tujuh hari berturut lebih efektif daripada albendazole 400 mg lima hari dalam penurunan jumlah telur.</summary>
    <dc:date>2012-05-04T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Lubis, Aridamuriany Dwiputri</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Infeksi cacing mengenai semua orang di segala usia, tetapi prevalensi tertinggi terutama terjadi pada anak-anak usia sekolah. Trichuris trichiura adalah salah satu cacing dari soil-transmitted helminths yang banyak menginfeksi anak sekolah. Albendazole menunjukkan beberapa variasi yang luas dalam menyembuhkan dan menurunkan jumlah telur. Beberapa penelitian menunjukkan pengulangan dosis dari albendazole akan meningkatkan keefektivannya.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efektivitas pemberian albendazole 400 mg 5 hari berturut dan tujuh hari berturut terhadap trichuriasis.&#xD;
Metode. Uji klinis terbuka terhadap anak-anak usia sekolah dasar dilakukan selama Agustus dan September 2009, di Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Sampel tinja diperiksa menggunakan metode Kato-Katz sebelum dan sesudah hari ke 7, 14, 21, dan 28 pemberian obat. Kelompok I mendapatkan terapi albendazole 400 mg selama 5 hari berturut dan kelompok II mendapatkan albendazole 400 mg selama 7  hari berturut. Uji Chi-square dan Student’s t test digunakan untuk membandingkan angka kesembuhan dan penurunan telur diantara kedua kelompok.&#xD;
Hasil. Penelitian ini mengikutsertakan 121 subjek (kelompok I n= 61, kelompok II n= 60). Kesembuhan pada kelompok II menunjukkan angka yang lebih tinggi 86.7% dibandingkan pada kelompok I yaitu 39.3% (P=0.001) pada minggu pertama dan kedua yaitu 88.3% dan 68.9% (P=0.017). Penurunan telur pada kelompok II juga menunjukkan angka yang lebih tinggi  yaitu 20.3% dibandingkan kelompok I yaitu 6.6% (P=0.001).&#xD;
Kesimpulan. Albendazole 400 mg lima hari berturut dan tujuh hari menunjukkan efektivitas yang sama tinggi terhadap angka infeksi T. trichiura. Pemberian regimen albendazole 400 mg tujuh hari berturut lebih efektif daripada albendazole 400 mg lima hari dalam penurunan jumlah telur.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan pemeriksaan urin secara pewarnaan Gram dan kultur urin dalam menegakkan diagnosis Infeksi saluran kemih pada anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31250" />
    <author>
      <name>Putri, Amalia Utami</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31250</id>
    <updated>2013-01-04T19:06:22Z</updated>
    <published>2012-02-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Putri, Amalia Utami
Advisors: Rusdidjas; Ramayati, Rafita
Abstract: Background Urinary tract infection (UTI) imply invasion of urinary tract by pathogens, which may involve the upper or lower tract depending on the infection in the kidney, or bladder and urethra. UTI affects up to 10% of children and is the most common bacterial infection in infants and young children worldwide. The prevalence is 3-5% in girls and ± 1% in boys. Urine culture is the gold standard diagnostic test of urinary tract infection. Gram stained uncentrifuged urine can be done in the rural health centres and laboratories of the peripheral areas that usually lack appropriate methods of evaluation of urine specimen. Gram staining urine can prove to be an effective method of ruling out the possibility of UTI in rural health centres thus saving time and money resource poor settings.&#xD;
Objective To compare Gram staining of urine and urine culture as diagnostic test urinary tract infection.&#xD;
Methods A cross-sectional study was held in H. Adam Malik Hospital since May  until June 2010. There were 54 participants 0-to-14 years old recruited using consecutive sampling method. Urine was collected after orificium external was cleaned. A drop of urine was placed on the glass slide for Gram staining urine. The rest of the urine was put in test tube for urine culture in laboratory. Gram staining was positive if the gram negative bacteria was found on examination with light microscope.&#xD;
Results A total of 54 participants were studied. Sensitivity and specificity of Gram stain urine and urine culture were 88% and 100%, respectively. The positive predictive value (PPV) and  negative predictive value (NPV) were 100% and 90%, respectively.&#xD;
Conclusion Gram staining of  urine is a good alternative diagnostic test for urinary tract infection  in children.
Abstract (other language): Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan adanya invasi kuman patogen pada saluran kemih yang terjadi pada saluran atas atau bawah, tergantung infeksi yang terjadi di ginjal, atau kandung kemih dan uretra. ISK terjadi hampir 10% anak dan merupakan infeksi bakterial terbanyak pada bayi dan anak di seluruh dunia. Prevalensi 3-5% pada perempuan dan ± 1% pada laki-laki. Kultur urin merupakan baku emas untuk tes diagnostik dalam menegakkan ISK. Pewarnaan Gram tanpa sentrifugal dapat dilakukan pada pusat pelayanan kesehatan di daerah dan laboratorium yang terbatas dalam mengevaluasi specimen urin. Pewarnaan Gram dapat menjadi metode efektif dalam menegakkan kemungkinan ISK didaerah pedesaan  sehingga menghemat waktu dan biaya.&#xD;
Objektif. Membandingkan pewarnaan Gram dan kultur urin sebagai tes diagnostik pada infeksi saluran kemih.&#xD;
Metode. Studi cross-sectional di RSUP. H. Adam Malik  dari bulan Mei-Juni 2010. Terdapat 54 partisipan usia 0-14 tahun yang direkrut dengan metode consecutive sampling. Urin dikumpulkan setelah orificium eksternal dibersihkan. Setetes urin pada objek glas digunakan untuk pemeriksaan Gram urin. Urin yang ditampung pada tabung reaksi digunakan untuk pemeriksaan kultur urin di laboratorium. Pewarnaan Gram dikatakan positif bila pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya terdapat gram negatif.&#xD;
Hasil. Jumlah partisipan pada penelitian ini sebanyak 54 orang. Sensitifitas pewarnaan Gram sebesar 88% dengan spesifisitas 100%, nilai duga positif 100% dan nilai duga negatif 90%.&#xD;
Kesimpulan. Pewarnaan Gram merupakan tes diagnostik alternatif yang baik dalam menegakkan infeksi saluran kemih pada anak.</summary>
    <dc:date>2012-02-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Putri, Amalia Utami</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan adanya invasi kuman patogen pada saluran kemih yang terjadi pada saluran atas atau bawah, tergantung infeksi yang terjadi di ginjal, atau kandung kemih dan uretra. ISK terjadi hampir 10% anak dan merupakan infeksi bakterial terbanyak pada bayi dan anak di seluruh dunia. Prevalensi 3-5% pada perempuan dan ± 1% pada laki-laki. Kultur urin merupakan baku emas untuk tes diagnostik dalam menegakkan ISK. Pewarnaan Gram tanpa sentrifugal dapat dilakukan pada pusat pelayanan kesehatan di daerah dan laboratorium yang terbatas dalam mengevaluasi specimen urin. Pewarnaan Gram dapat menjadi metode efektif dalam menegakkan kemungkinan ISK didaerah pedesaan  sehingga menghemat waktu dan biaya.&#xD;
Objektif. Membandingkan pewarnaan Gram dan kultur urin sebagai tes diagnostik pada infeksi saluran kemih.&#xD;
Metode. Studi cross-sectional di RSUP. H. Adam Malik  dari bulan Mei-Juni 2010. Terdapat 54 partisipan usia 0-14 tahun yang direkrut dengan metode consecutive sampling. Urin dikumpulkan setelah orificium eksternal dibersihkan. Setetes urin pada objek glas digunakan untuk pemeriksaan Gram urin. Urin yang ditampung pada tabung reaksi digunakan untuk pemeriksaan kultur urin di laboratorium. Pewarnaan Gram dikatakan positif bila pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya terdapat gram negatif.&#xD;
Hasil. Jumlah partisipan pada penelitian ini sebanyak 54 orang. Sensitifitas pewarnaan Gram sebesar 88% dengan spesifisitas 100%, nilai duga positif 100% dan nilai duga negatif 90%.&#xD;
Kesimpulan. Pewarnaan Gram merupakan tes diagnostik alternatif yang baik dalam menegakkan infeksi saluran kemih pada anak.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Gangguan Ansietas dan Gangguan Depresi Terhadap Kejadian Sakit Perut Berulang Pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31237" />
    <author>
      <name>Fastralina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31237</id>
    <updated>2012-12-20T21:08:32Z</updated>
    <published>2012-02-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fastralina
Advisors: Sofyani, Sri; Simbolon, M. Joesoef
Abstract: Background: Anxiety and depression disorders affect the academic performance and social aspect of school activities. Adolescents with these disorders tend to develop recurrent abdominal pain.&#xD;
Objective: To assess the association of  anxiety and depression disorders to recurrent abdominal pain in adolescents.&#xD;
Methods: A cross sectional study was conducted at three junior  and three senior high schools in Secanggang Sub-district, Langkat District, Sumatera Utara Province from August to September 2009. The samples for this study were selected through consecutive sampling technique. The samples were instructed to fill out the CBCL form. Those with anxious/depressed score ≥ 12 for boys aged 12 to 18 years old and ≥14 for girls and those with suspected depression (CDI score ≥13) were then examined by psychiatrist. The adolescent diagnosed with anxiety and depression disorder were instructed to fill out a recurrent abdominal pain questionnaire based  on Apley and Naish criteria. We have got a number of adolescents with and without recurrent abdominal pain.&#xD;
Results: The 144 students participated in this study were divided into two groups consisting of 84 students with anxiety disorder and 60 students with depression disorder. Sixty students of the anxiety disorder group and 31 students of the depression disorder group experienced recurrent abdominal pain. The prevalence of anxiety and depression disorder was 8,7%  and 6,25% respectively. There was  a significant relationship between anxiety disorder (P=0.008) and depression disorder (P=0.04) with recurrent abdominal pain.&#xD;
Conclusion The anxiety and depression disorder were associated to recurrent abdominal pain in adolescents.
Abstract (other language): Latar belakang: Gangguan ansietas dan gangguan depresi dapat menimbulkan dampak terhadap prestasi akademik dan aspek sosial lainnya dari kehidupan sekolah sehingga cukup mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Kedua gangguan ini lebih cenderung menunjukan adanya keluhan sakit perut berulang. &#xD;
Tujuan: Menilai hubungan gangguan ansietas dan gangguan depresi terhadap kejadian sakit perut berulang pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan di 3 SLTP dan 3 SLTA Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara dari bulan Agustus sampai September 2009. Pemilihan sampel dipilih dengan cara consecutive sampling. Sampel  yang terjaring melalui formulir CBCL dengan nilai kategori anxious/depressed untuk usia 12 sampai 18 tahun untuk anak laki-laki ≥ 12 dan anak perempuan ≥ 14  dan diduga mengalami depresi anak dengan skor CDI ≥ 13, kemudian diperiksa oleh psikiater berdasarkan PPDGJ III. Anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi kemudian mengisi kuesioner sakit perut berulang sesuai kriteria Apley dan Naish. Didapati jumlah siswa yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang dan yang tidak menderita sakit perut berulang.&#xD;
Hasil: Sebanyak 144 siswa ikut berpartisipasi pada penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gangguan ansietas sebanyak 84 orang dan 60 orang  kelompok gangguan depresi, dari kedua kelompok tersebut diperoleh 60 orang kelompok gangguan ansietas dan 31 orang kelompok gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang. Didapati  prevalensi gangguan ansietas sebanyak 8.7% dan gangguan depresi 6.25% pada remaja di lokasi penelitian. Pada penelitian ini juga didapati perbedaan yang signifikan pada kelompok gangguan ansietas (P=0.008)  dan gangguan depresi (P=0.04) dengan sakit perut berulang.&#xD;
Kesimpulan: Prevalensi remaja yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi sebanyak 8.7% dan 6.25%. Gangguan ansietas dan gangguan depresi mempunyai hubungan dengan kejadian sakit perut berulang pada remaja.</summary>
    <dc:date>2012-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fastralina</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Gangguan ansietas dan gangguan depresi dapat menimbulkan dampak terhadap prestasi akademik dan aspek sosial lainnya dari kehidupan sekolah sehingga cukup mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Kedua gangguan ini lebih cenderung menunjukan adanya keluhan sakit perut berulang. &#xD;
Tujuan: Menilai hubungan gangguan ansietas dan gangguan depresi terhadap kejadian sakit perut berulang pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan di 3 SLTP dan 3 SLTA Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara dari bulan Agustus sampai September 2009. Pemilihan sampel dipilih dengan cara consecutive sampling. Sampel  yang terjaring melalui formulir CBCL dengan nilai kategori anxious/depressed untuk usia 12 sampai 18 tahun untuk anak laki-laki ≥ 12 dan anak perempuan ≥ 14  dan diduga mengalami depresi anak dengan skor CDI ≥ 13, kemudian diperiksa oleh psikiater berdasarkan PPDGJ III. Anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi kemudian mengisi kuesioner sakit perut berulang sesuai kriteria Apley dan Naish. Didapati jumlah siswa yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang dan yang tidak menderita sakit perut berulang.&#xD;
Hasil: Sebanyak 144 siswa ikut berpartisipasi pada penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gangguan ansietas sebanyak 84 orang dan 60 orang  kelompok gangguan depresi, dari kedua kelompok tersebut diperoleh 60 orang kelompok gangguan ansietas dan 31 orang kelompok gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang. Didapati  prevalensi gangguan ansietas sebanyak 8.7% dan gangguan depresi 6.25% pada remaja di lokasi penelitian. Pada penelitian ini juga didapati perbedaan yang signifikan pada kelompok gangguan ansietas (P=0.008)  dan gangguan depresi (P=0.04) dengan sakit perut berulang.&#xD;
Kesimpulan: Prevalensi remaja yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi sebanyak 8.7% dan 6.25%. Gangguan ansietas dan gangguan depresi mempunyai hubungan dengan kejadian sakit perut berulang pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan posisi saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional pada anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31236" />
    <author>
      <name>Tanjung, Fahrul Azmi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31236</id>
    <updated>2012-12-20T21:08:44Z</updated>
    <published>2012-02-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tanjung, Fahrul Azmi
Advisors: Supriatmo; Hakimi
Abstract: Background Natural posture for defecation was squatting posture and this method had been applied in the most country. One of the change that occurred due to industrial development was defecation posture alteration ussing sitting closet. Sitting posture was reported as the source of some health problem such as constipation, hemorrhoid, and diverticulitis.&#xD;
Objective To assess the relationship between children posture in defecation with functional constipation.&#xD;
Methods We conducted a cross sectional study on November 2010. The study samples were children aged 10 till 15 years old. Those who were eligible and consented to this study were divided into two groups, that is squatting and sitting group.By questioner, the samples was assessed for functional constipation criteria according to ROME III. Each groups was assessed for the  constipation occurrence. Chi squarre test was used to assess the relationship between children posture in defecating with functional constipation.&#xD;
Results Sixty five children were enrolled to the study. There were no statistically significant difference on children based characteristic. There were significant correlations between sitting posture used in defecation with functional constipation in children (P&lt;0.05).&#xD;
Conclusion The posture used in defecation correlated with functional constipation in children. Further research are required with all aspects covered to search the correlation between functional constipation with sitting posture used in defecation.
Abstract (other language): Latar belakang Posisi alamiah saat buang air besar adalah posisi jongkok dan metode ini digunakan di kebanyakan negara. Salah satu perubahan yang terjadi akibat perkembangan industri adalah perubahan posisi saat buang air besar dengan penggunaan kloset duduk. Posisi duduk dilaporkan menjadi sumber beberapa masalah kesehatan seperti konstipasi, apendisitis, hemorrhoid, dan divertikulitis&#xD;
Tujuan Untuk menilai hubungan posisi anak saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional.&#xD;
Metode Penelitian dilakukan secara cross sectional selama November 2010. Sampel penelitian adalah anak berusia 10 sampai 15 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok posisi jongkok dan duduk. Sampel melalui kuesioner dinilai kriteria konstipasi fungsional menurut kriteria ROME III. Masing-masing kelompok dinilai berapa angka kejadian konstipasi. Data dianalisis dengan uji kai-kuadrat untuk melihat hubungan posisi saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional.&#xD;
Hasil Enam puluh lima orang anak menjadi sampel penelitian ini. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada karakteristik dasar. Adanya hubungan yang bermakna antara posisi saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional pada anak (P&lt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Posisi saat buang air besar  berhubungan dengan konstipasi fungsional pada anak. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang mencakup semua aspek dalam menentukan hubungan posisi duduk saat buang air dengan konstipasi fungsional.</summary>
    <dc:date>2012-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tanjung, Fahrul Azmi</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Posisi alamiah saat buang air besar adalah posisi jongkok dan metode ini digunakan di kebanyakan negara. Salah satu perubahan yang terjadi akibat perkembangan industri adalah perubahan posisi saat buang air besar dengan penggunaan kloset duduk. Posisi duduk dilaporkan menjadi sumber beberapa masalah kesehatan seperti konstipasi, apendisitis, hemorrhoid, dan divertikulitis&#xD;
Tujuan Untuk menilai hubungan posisi anak saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional.&#xD;
Metode Penelitian dilakukan secara cross sectional selama November 2010. Sampel penelitian adalah anak berusia 10 sampai 15 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok posisi jongkok dan duduk. Sampel melalui kuesioner dinilai kriteria konstipasi fungsional menurut kriteria ROME III. Masing-masing kelompok dinilai berapa angka kejadian konstipasi. Data dianalisis dengan uji kai-kuadrat untuk melihat hubungan posisi saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional.&#xD;
Hasil Enam puluh lima orang anak menjadi sampel penelitian ini. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada karakteristik dasar. Adanya hubungan yang bermakna antara posisi saat buang air besar dengan kejadian konstipasi fungsional pada anak (P&lt;0.05).&#xD;
Kesimpulan Posisi saat buang air besar  berhubungan dengan konstipasi fungsional pada anak. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang mencakup semua aspek dalam menentukan hubungan posisi duduk saat buang air dengan konstipasi fungsional.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Efektifitas Pemberian ASI dan Non-Nutritive Sucking untuk Mengurangi Rasa Nyeri saat Prosedur Invasif Minor pada Bayi Baru Lahir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31215" />
    <author>
      <name>Marisya, Sevina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/31215</id>
    <updated>2012-12-20T21:08:06Z</updated>
    <published>2012-02-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Marisya, Sevina
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Supriatmo
Abstract: Background  Newborns endure many heel pricks and other uncomfortable invasive minor procedures during their first hospital stay.&#xD;
Objective To compare the effectiveness of breast-milk and non-nutritive sucking (NNS) in reducing pain in newborns undergoing invasive minor procedure as measured by behavioral and physiological observation.&#xD;
Methode This randomized open trial was perfomed at Haji Adam Malik Hospital on September to Desember 2009. Subjects were 98 healthy term infants who received intramuscular Hepatitis B immunization or vitamin K injection. Subjects were randomly allocated into two groups: breast milk group (N=48); NNS group (N=48). Two minutes before injection, 48 babies received two ml of breastmilk and 48 babies received NNS; and recorded by video recorder. Transcutan hearth rate, oxygen saturation, crying time were recorder, and than two observers modified PIPP scale in defferent time.&#xD;
Result Baseline characteristics of the newborns were same in both groups. In breastmilk group, there was significant reduction in PIPP scale (P=0.001), crying times (P=0.03) compared to NNS group. There were no significant difference in PIPP scale and crying time due to gender (P=0.4; P=0.5), but there was significant due to injection type (P=0.002; P=0.06) between both group. There were significant difference in elevated oxygen saturation level after 30 second of injection between both groups (P=0.001), but there was not significant in heart rate. &#xD;
Conclusion Two milliliters of breastmilk was given for two minutes before invasive minor procedure effectively in reduction pain in term neonates, shown as reduction of PIPP scale, crying time, and increased of oxygen saturation compared by NNS.</summary>
    <dc:date>2012-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Marisya, Sevina</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efikasi Gabungan Artemeter-Lumefantrin dan&#xD;
Artesunat-Amodiakuin sebagai Pengobatan Malaria&#xD;
Falsiparum Tanpa Komplikasi pada Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30363" />
    <author>
      <name>Faranita, Tri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30363</id>
    <updated>2012-12-20T20:49:42Z</updated>
    <published>2011-11-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Faranita, Tri
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background. Artesunate-amodiaquine (ASAQ) has been used as first line treatment for uncomplicated falciparum malaria in Indonesia since 2004. Its efficacy&#xD;
depends on amodiaquine resistance. Artemether-lumefantrine (AL) has high efficacy in treating uncomplicated falciparum malaria in several countries. However, there is little information on this combination in Indonesia.&#xD;
Objective. To compare the efficacy of AL and ASAQ for treating uncomplicated falciparum malaria in children.&#xD;
Methods. An open randomized controlled trial was conducted in school aged children in Mandailing Natal Regency, North Sumatera Province, Indonesia, from October to December 2010. A total of 280 uncomplicated falciparum malaria children were randomly assigned for AL or ASAQ for 3 days. Participants were followed-up on day 1, 2, 3, 7, 14, 28 and 42. The outcomes were adequate clinical and parasitological response (ACPR), parasite reduction, parasite clearance time, fever clearance time and adverse events. Analysis was based on intention to treat.&#xD;
Results. In this study, ACPR on day 42 were 86.4% and 90.7% on ASAQ and AL group, respectively (P=0.260). On day 7 and 14, AL group has higher cure rate than ASAQ group (P&lt;0.05). ETF, LTF and PF on both groups were similar. We also found faster parasite clearance time and higher parasite reduction on AL group compared to ASAQ group. But fever clearance time were shorter in ASAQ group. The incidence of adverse events such as nausea, vomit, malaise and pruritus were&#xD;
similar between two groups (P=0.441).&#xD;
Conclusion. AL has higher efficacy than ASAQ for the treatment of uncomplicated falciparum malaria in children
Abstract (other language): Latar Belakang. Gabungan artesunat-amodiakuin (ASAQ) telah digunakan sebagai&#xD;
obat lini pertama untuk anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi di Indonesia&#xD;
sejak tahun 2004. Efikasi obat ini tergantung pada resistensi terhadap amodiakuin. Artemeter-lumefantrin (AL) memiliki efikasi yang tinggi dalam mengobati Malaria Falsiparum tanpa komplikasi di beberapa negara. Namun informasi tentang&#xD;
gabungan obat ini sangat terbatas di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efikasi AL dengan ASAQ dalam mengobati anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi.&#xD;
Metode. Penelitian terbuka dilakukan pada anak usia sekolah di Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia mulai Oktober hingga Desember 2010. Secara acak 280 anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi diberi pengobatan dengan AL atau ASAQ selama 3 hari. Partisipan dipantau pada hari 1, 2, 3, 7, 14, 28 dan 42. Hasil yang dinilai berupa Adequate Clinical and&#xD;
Parasitological Response (ACPR), waktu bebas demam, waktu bebas parasit, penurunan jumlah parasit dan efek samping. Analisis penelitian ini berbasis intention to treat.&#xD;
Hasil. Pada penelitian ini didapatkan ACPR hari ke 42 pada kedua kelompok pada kelompok ASAQ 86.4% dan kelompok AL 90.7% (P=0.260). Angka kesembuhan hari ke 7 dan 14 lebih tinggi pada kelompok AL dibandingkan kelompok ASAQ. ETF, LTF dan PF pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Dijumpai waktu bebas parasit yang lebih cepat dan penurunan parasit yang lebih tinggi pada&#xD;
kelompok AL dibandingkan kelompok ASAQ. Sedangkan waktu bebas demam lebih cepat dijumpai pada kelompok ASAQ. Insiden efek samping seperti mual, muntah, malaise dan pruritus tidak berbeda pada kedua kelompok (P=0.441).&#xD;
Kesimpulan. AL memiliki efikasi yang lebih tinggi daripada ASAQ untuk pengobatan anak dengan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi.</summary>
    <dc:date>2011-11-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Faranita, Tri</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Gabungan artesunat-amodiakuin (ASAQ) telah digunakan sebagai&#xD;
obat lini pertama untuk anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi di Indonesia&#xD;
sejak tahun 2004. Efikasi obat ini tergantung pada resistensi terhadap amodiakuin. Artemeter-lumefantrin (AL) memiliki efikasi yang tinggi dalam mengobati Malaria Falsiparum tanpa komplikasi di beberapa negara. Namun informasi tentang&#xD;
gabungan obat ini sangat terbatas di Indonesia.&#xD;
Tujuan. Untuk membandingkan efikasi AL dengan ASAQ dalam mengobati anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi.&#xD;
Metode. Penelitian terbuka dilakukan pada anak usia sekolah di Kabupaten Mandailing Natal, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia mulai Oktober hingga Desember 2010. Secara acak 280 anak Malaria Falsiparum tanpa komplikasi diberi pengobatan dengan AL atau ASAQ selama 3 hari. Partisipan dipantau pada hari 1, 2, 3, 7, 14, 28 dan 42. Hasil yang dinilai berupa Adequate Clinical and&#xD;
Parasitological Response (ACPR), waktu bebas demam, waktu bebas parasit, penurunan jumlah parasit dan efek samping. Analisis penelitian ini berbasis intention to treat.&#xD;
Hasil. Pada penelitian ini didapatkan ACPR hari ke 42 pada kedua kelompok pada kelompok ASAQ 86.4% dan kelompok AL 90.7% (P=0.260). Angka kesembuhan hari ke 7 dan 14 lebih tinggi pada kelompok AL dibandingkan kelompok ASAQ. ETF, LTF dan PF pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Dijumpai waktu bebas parasit yang lebih cepat dan penurunan parasit yang lebih tinggi pada&#xD;
kelompok AL dibandingkan kelompok ASAQ. Sedangkan waktu bebas demam lebih cepat dijumpai pada kelompok ASAQ. Insiden efek samping seperti mual, muntah, malaise dan pruritus tidak berbeda pada kedua kelompok (P=0.441).&#xD;
Kesimpulan. AL memiliki efikasi yang lebih tinggi daripada ASAQ untuk pengobatan anak dengan Malaria Falsiparum tanpa komplikasi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Tingkat Maturitas Seksual pada Remaja Laki-laki</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30247" />
    <author>
      <name>Adriansyah, Rizky</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/30247</id>
    <updated>2012-12-20T20:47:22Z</updated>
    <published>2011-11-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Adriansyah, Rizky
Advisors: Hakimi, H.; Ali, Muhammad
Abstract: Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki. Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis. Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09. Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.
Abstract (other language): Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki. Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis. Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09. Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</summary>
    <dc:date>2011-11-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Adriansyah, Rizky</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang. Beberapa penelitian sebelumnya merekomendasikan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara perubahan komposisi tubuh dan tahap perkembangan pubertas. Sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki di Indonesia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki. Metode. Suatu studi cross sectional untuk menilai hubungan antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat maturitas seksual dinilai berdasarkan pengukuran panjang penis dan volume testis. Hasil. Seratus delapan orang (64.7%) memenuhi kriteria yang terdiri dari 64 orang siswa Sekolah Dasar dan 44 orang siswa Sekolah Menengah Pertama. Rerata usia 11.69 tahun (SD 1.62); Berat Badan 35.16 kg (SD 8.48); Tinggi Badan 1,41 m (SD 0.11); IMT 17.47 kg/m2 (SD 2.34); panjang penis 4.46 cm (SD 1.25); dan volume testis 3.58 ml (SD 1.20). Hubungan IMT dengan panjang penis menunjukkan nilai koefisien korelasi Pearson (r)= -0.25; P= 0.06. Hubungan IMT dengan volume testis menunjukkan r= -0.21; P=0.09. Kesimpulan. Tidak dijumpai hubungan yang bermakna antara IMT dengan tingkat maturitas seksual pada remaja laki-laki.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbedaan Gangguan Tidur Pada Remaja Urban dan Suburban</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29430" />
    <author>
      <name>Nur’aini</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/29430</id>
    <updated>2012-12-20T20:09:57Z</updated>
    <published>2011-10-12T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Nur’aini
Advisors: Sofyani, Sri; Supriatmo
Abstract: Background: Sleep disturbances commonly occur in adolescents. Disparities of family’s socioeconomic levels, life style, and urban-suburban environment have an influence on the  sleep pattern of adolescents. The modernization process in urban environment is marked by the development of information technology media and lack of parental monitoring in adolescents resulted in the incident of sleep disturbances among them. Sleep disturbances can affect physical growth, emotional, cognitive, and social development. This study was conducted considering limited studies on sleep disturbances in adolescents.&#xD;
Objective: To determine the differences on sleep disturbances in urban and suburban adolescents and to find out the most influencing factors in the incident of sleep disturbance. &#xD;
Methods: A cross-sectional study was conducted on the 12 to 15 years junior high school students in urban (n=350) and suburban (n=350) environments in the city of Medan, Sumatera Utara, who met the inclusion and exclusion criteria. The screening test for sleep disturbances screening using SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children) was done from May to June 2010. SDSC was a set questionaire filled out by the parents based on what they remember about their children’s sleep pattern for the last 6 months. The data obtained were analyzed through the independent t-test and chi square tests.&#xD;
Results: Urban adolescents experienced sleep disturbances were 133 (38%), borderline  182 (52%) and normal 35 (10%), while for the sub-urban adolescents 132 (37,7%), 180 (51,4%), 38 (10,9%) respectively (P 0.192). The most influencing factor of sleep disturbances in urban and suburban were noisy that come from the near environment (P 0.001) and drink that contain caffeine (P 0.001). Based on questionaires SDSC differences of types of sleep disordesr among urban and suburban.&#xD;
Conclusion: There were no differences in sleep disturbances between the urban and sub-urban adolescents but based on the SDSC were found diffrentences of types of sleep disorders among urban and suburban. The most influencing factor in the incident of sleep disturbances for the urban and sub-urban was noisy and caffeine.
Abstract (other language): Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan masalah yang banyak dialami oleh remaja yang dipengaruhi berbagai faktor baik medis maupun non-medis. Perbedaan tingkat sosial ekonomi keluarga, gaya hidup, dan lingkungan urban dan suburban dapat mempengaruhi pola tidur pada remaja. Proses modrenisasi di urban dimana media tehnologi informasi semakin berkembang, dan kurangnya pemantaun orangtua terhadap remaja mengakibatkan terjadinya perubahan pola tidur pada remaja, sehingga terjadi gangguan tidur. Gangguan tidur dapat mengganggu pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan perkembangan sosial. Masih terbatasnya penelitian mengenai gangguan tidur pada remaja.  &#xD;
Tujuan: Mengetahui perbedaan gangguan tidur pada remaja urban dan suburban serta faktor yang paling mempengaruhinya.&#xD;
Metode:  Suatu penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2010 di SMP Syaffiyatul Amaliyah dan GPKI (Gereja Protestan Kristen Indonesia) Kecamatan Medan Baru sebagai daerah urban dan SMPN 31 Lau chih  Kecamatan Tuntungan sebagai daerah suburban di Medan, Propinsi Sumatera Utara. Sampel dipilih secara consecutive sampling yaitu remaja SMP  usia 12 sampai 15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Gangguan tidur pada remaja  dinilai dengan menggunakan SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children) dan kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya  gangguan tidur. Analisis yang digunakan adalah uji t independen dan uji kai-kuadrat.&#xD;
Hasil: Sebanyak masing - masing 350 remaja urban dan suburban yang mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun. Pada penelitian ini didapati remaja yang mengalami gangguan tidur di urban 133(38%), borderline 182 (52%), normal atau tidak mengalami gangguan tidur 35 (10%) dan suburban  132 (37,7%), borderline 180 (51.4%), normal 38 (10.9%) dengan (P 0.195) Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya gangguan tidur di urban dan suburban adalah suara bising yang berasal dari lingkungan (P 0.001)  dan minum minuman yang mengandung kafein           (P 0.001). Berdasarkan kuesioner SDSC adanya perbedaan dari jenis gangguan tidur antara urban dan suburban.&#xD;
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan gangguan tidur antara remaja urban dan suburban tetapi berdasarkan SDSC didapati perbedaan jenis gangguan tidur antara urban dan suburban. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya gangguan tidur urban dan suburban adalah suara bising dan kafein.</summary>
    <dc:date>2011-10-12T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Nur’aini</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan masalah yang banyak dialami oleh remaja yang dipengaruhi berbagai faktor baik medis maupun non-medis. Perbedaan tingkat sosial ekonomi keluarga, gaya hidup, dan lingkungan urban dan suburban dapat mempengaruhi pola tidur pada remaja. Proses modrenisasi di urban dimana media tehnologi informasi semakin berkembang, dan kurangnya pemantaun orangtua terhadap remaja mengakibatkan terjadinya perubahan pola tidur pada remaja, sehingga terjadi gangguan tidur. Gangguan tidur dapat mengganggu pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan perkembangan sosial. Masih terbatasnya penelitian mengenai gangguan tidur pada remaja.  &#xD;
Tujuan: Mengetahui perbedaan gangguan tidur pada remaja urban dan suburban serta faktor yang paling mempengaruhinya.&#xD;
Metode:  Suatu penelitian cross sectional dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2010 di SMP Syaffiyatul Amaliyah dan GPKI (Gereja Protestan Kristen Indonesia) Kecamatan Medan Baru sebagai daerah urban dan SMPN 31 Lau chih  Kecamatan Tuntungan sebagai daerah suburban di Medan, Propinsi Sumatera Utara. Sampel dipilih secara consecutive sampling yaitu remaja SMP  usia 12 sampai 15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Gangguan tidur pada remaja  dinilai dengan menggunakan SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children) dan kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya  gangguan tidur. Analisis yang digunakan adalah uji t independen dan uji kai-kuadrat.&#xD;
Hasil: Sebanyak masing - masing 350 remaja urban dan suburban yang mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 15 tahun. Pada penelitian ini didapati remaja yang mengalami gangguan tidur di urban 133(38%), borderline 182 (52%), normal atau tidak mengalami gangguan tidur 35 (10%) dan suburban  132 (37,7%), borderline 180 (51.4%), normal 38 (10.9%) dengan (P 0.195) Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya gangguan tidur di urban dan suburban adalah suara bising yang berasal dari lingkungan (P 0.001)  dan minum minuman yang mengandung kafein           (P 0.001). Berdasarkan kuesioner SDSC adanya perbedaan dari jenis gangguan tidur antara urban dan suburban.&#xD;
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan gangguan tidur antara remaja urban dan suburban tetapi berdasarkan SDSC didapati perbedaan jenis gangguan tidur antara urban dan suburban. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya gangguan tidur urban dan suburban adalah suara bising dan kafein.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan antara lama masa rawat di rumah    &#xD;
sakit dengan derajat dehidrasi akibat diare akut pada anak-anak usia di bawah 5 tahun</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27616" />
    <author>
      <name>Ariyanto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27616</id>
    <updated>2013-01-04T19:01:34Z</updated>
    <published>2011-07-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Ariyanto
Advisors: Sinuhaji, Atan Baas; Supriatmo
Abstract: Background  Acute gastroenteritis is one of the most common illnesses affecting infants and young children. Rates of hospitalization with gastroenteritis for children younger than 5 years have been reported to be 9 per 1000 per year in the united states and 12 to 15 per 1000 in England and Australia. In developing countries, the rates of hospitalization with gastroenteritis are known to be higher (for example, 26 per 1000 per year in China). Each year in the United States, children under the age of 5 years experience &gt; 20 million episodes of diarrhea, resulting in approximately 1.5 million outpatient  visits, 200 000 hospitalizations, 400 deaths, and  $1 billion in direct medical costs. The main cause of hospitalization in children younger than 5 years with acute gastroenteritis was dehydration. Dehydration was classified into three categories by WHO ( none, some, and severe ). In the previous study it was hypothesized that dehydration categories were associated with the length of stay (LOS).&#xD;
Objective :  To determine the association between length of stay to dehydration stage due to acute diarrhea in children younger than 5 years old. &#xD;
Methods :  Analysis observational was done for 102 children age between 1 month to 5 years who had acute diarrhea with or without dehydration admitted to RSUP. H. Adam Malik, and RSU Pirngadi, Medan, North Sumatera, from June 2010 until August 2010.&#xD;
Result :  From 118 enrolment, 16 were excluded and 102 remining were studied during their admission due to acute gastroenteritis. We found 1 case (1%) none- dehydration, 89 (87.3%) some dehydration, and 12 (11.7%) severe dehydration, and the length of stay (mean ± SD),  76 ± 0 hours for none-dehydration, 65.4 ± 16.61 hours (95% CI : 61.91- 68.90) for some dehydration, and 71.17 ± 17.35 hours ( 95% CI; 60.15 – 82.19) for severe dehydration.&#xD;
Conclusion :   There was no difference significantly between length of stay and dehydration stage due to acute gastroenteritis  in children younger than 5 years old.
Abstract (other language): Latar belakang : Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang bayi dan anak-anak. Angka rawat inap akibat gastroenteritis pada anak-anak di bawah 5 tahun telah dilaporkan sebanyak 9 per 1000 pertahun di Amerika Serikat, dan 12 sampai 15 per 1000 di Inggris dan Australia. Pada negara-negara yang sedang berkembang, angka rawat inap akibat  gastroenteritis dikenal lebih tinggi (sebagai contoh, 26 per 1000 per-tahun di China). Di Amerika Serikat setiap tahun, anak-anak di bawah 5 tahun mengalami &gt; 20 juta kejadian diare, yang menyebabkan lebih kurang 1.5 juta kunjungan pada klinik berobat jalan, 200 000  rawat inap, 400 kematian, dan menghabiskan 1 miliar dollar biaya pengobatan. Penyebab utama rawat inap pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dengan gastroenteritis akut adalah dehidrasi. Dehidrasi dikelompokkan mejadi tiga kategori oleh WHO ( tanpa, ringan-sedang, berat). Pada penelitian sebelumnya dikatakan derajat dehidrasi berhubungan dengan lama masa rawat di rumah sakit.&#xD;
Tujuan :   Untuk mengetahui hubungan antara lama masa rawat di rumah sakit dengan derajat dehidrasi akibat diare akut pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. &#xD;
Metode :  Dilakukan observasional analitik pada 102 anak-anak berusia antara 1 bulan sampai 5 tahun, yang menderita diare akut dengan atau tanpa dehidrasi yang dirawat di RSUP.  H. Adam Malik dan RSU. dr. Pirngadi, Medan, Sumatera Utara, pada bulan Juni 2010 sampai bulan Agustus 2010.&#xD;
Hasil : Dari 118 kasus diare akut, dieksklusikan 16 orang dan tinggal 102 anak yang diteliti selama dirawat di rumah sakit dan dijumpai kasus diare akut tanpa dehidrasi sebanyak 1 (1%), diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang sebanyak 89 (87.3%), diare akut dengan dehidrasi berat sebanyak 12 (11.7%), dan lama masa rawat di rumah sakit atau length of stay (mean ± SD) adalah sebagai berikut, tanpa dehidrasi 76 ± 0 jam, dehidrasi ringan-sedang 65.4 ± 16.61 jam ( 95% CI: 61,91 – 68,90), dehidrasi berat 71.17 ± 17.35 jam ( 95% CI; 60,15 – 82,19). &#xD;
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan bermakna antara  lama masa rawat di rumah sakit dengan derajat dehidrasi akibat diare akut pada anak-anak usia di bawah 5 tahun .</summary>
    <dc:date>2011-07-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Ariyanto</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang bayi dan anak-anak. Angka rawat inap akibat gastroenteritis pada anak-anak di bawah 5 tahun telah dilaporkan sebanyak 9 per 1000 pertahun di Amerika Serikat, dan 12 sampai 15 per 1000 di Inggris dan Australia. Pada negara-negara yang sedang berkembang, angka rawat inap akibat  gastroenteritis dikenal lebih tinggi (sebagai contoh, 26 per 1000 per-tahun di China). Di Amerika Serikat setiap tahun, anak-anak di bawah 5 tahun mengalami &gt; 20 juta kejadian diare, yang menyebabkan lebih kurang 1.5 juta kunjungan pada klinik berobat jalan, 200 000  rawat inap, 400 kematian, dan menghabiskan 1 miliar dollar biaya pengobatan. Penyebab utama rawat inap pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dengan gastroenteritis akut adalah dehidrasi. Dehidrasi dikelompokkan mejadi tiga kategori oleh WHO ( tanpa, ringan-sedang, berat). Pada penelitian sebelumnya dikatakan derajat dehidrasi berhubungan dengan lama masa rawat di rumah sakit.&#xD;
Tujuan :   Untuk mengetahui hubungan antara lama masa rawat di rumah sakit dengan derajat dehidrasi akibat diare akut pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. &#xD;
Metode :  Dilakukan observasional analitik pada 102 anak-anak berusia antara 1 bulan sampai 5 tahun, yang menderita diare akut dengan atau tanpa dehidrasi yang dirawat di RSUP.  H. Adam Malik dan RSU. dr. Pirngadi, Medan, Sumatera Utara, pada bulan Juni 2010 sampai bulan Agustus 2010.&#xD;
Hasil : Dari 118 kasus diare akut, dieksklusikan 16 orang dan tinggal 102 anak yang diteliti selama dirawat di rumah sakit dan dijumpai kasus diare akut tanpa dehidrasi sebanyak 1 (1%), diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang sebanyak 89 (87.3%), diare akut dengan dehidrasi berat sebanyak 12 (11.7%), dan lama masa rawat di rumah sakit atau length of stay (mean ± SD) adalah sebagai berikut, tanpa dehidrasi 76 ± 0 jam, dehidrasi ringan-sedang 65.4 ± 16.61 jam ( 95% CI: 61,91 – 68,90), dehidrasi berat 71.17 ± 17.35 jam ( 95% CI; 60,15 – 82,19). &#xD;
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan bermakna antara  lama masa rawat di rumah sakit dengan derajat dehidrasi akibat diare akut pada anak-anak usia di bawah 5 tahun .</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Frekuensi Pergantian Popok Sekali Pakai dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih pada Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27597" />
    <author>
      <name>Daulay, Meirina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/27597</id>
    <updated>2012-12-20T19:21:08Z</updated>
    <published>2011-07-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Daulay, Meirina
Advisors: Rusdidjas; Supriatmo
Abstract: Background Urinary tract infection (UTI) is the most common fever cause in children. Less frequent disposable diaper changing is one of the causes of UTI in children. It happens because perineal’s area is damp so bacteria migrate from anus to orificium urethra externa.&#xD;
Objective To define the association between the frequency of disposable diaper changing and urinary tract infection in children.&#xD;
Methods Urine culture was performed in 2 months until 2 years 6 months old children with suspect of UTI, who came to Haji Adam Malik Hospital in April to June 2010 as outpatient. Sample matched for inclusion and exclusion criteria was chosen by consecutive sampling. Diagnosis of UTI was based on urine culture with bacterial count ≥105/mL Eighty children were followed in this study, divided into two groups: positive (n=40) and negative (n=40) urine culture. Defining the association between the frequency of daily disposable diapers changing in one week with the result of urine culture. Chi square was used for analysis.&#xD;
Results Frequency of daily disposable diapers changing in children: &lt;3 times (18), 3–5 times (32), ≥6 times (30). Frequency of daily disposable diaper changing in children with positive urine culture: &lt;4 times, 4–5 times, and ≥6 times were 18 (100%), 22 (68,8%), and 0 (0%) (p&lt; .0001). The most frequent bacteria finding in  urine culture on this study was Escherichia coli.&#xD;
Conclusion The frequency of  daily disposable diaper changing is associated with UTI incidence in children.
Abstract (other language): Latar belakang : Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu penyebab demam tersering pada anak. Salah satu penyebab terjadi ISK pada anak adalah akibat pemakaian popok sekali pakai yang tidak sering diganti. Hal ini terjadi karena daerah perineal yang lembab menyebabkan bakteri dapat berpindah dari anus ke orifisium uretra eksterna.&#xD;
Tujuan : Untuk menilai hubungan frekuensi pergantian popok sekali pakai dengan kejadian infeksi saluran kemih pada anak&#xD;
Metode : Kultur urin dilakukan pada anak usia 2 bulan sampai 2,5 tahun dengan sangkaan ISK yang datang ke poliklinik anak RS Haji Adam Malik, Medan pada bulan April sampai Juli 2010. Pemilihan sampel secara consecutive sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Diagnosa ISK ditegakkan berdasarkan kultur urin yaitu bila ditemukan ≥105 koloni/mL bakteri dalam urin. Sebanyak 80 anak mengikuti studi ini, terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 40 anak dengan hasil kultur urin positif dan 40 anak dengan hasil kultur urin negatif. Lalu dinilai hubungan jumlah frekuensi pemakaian popok sekali pakai setiap harinya selama 1 minggu sebelumnya dengan  hasil kutur urin. Analisa yang digunakan chi square&#xD;
Hasil : Frekuensi pergantian popok sekali pakai per hari pada anak: &lt;4x (18 anak) , 4-5 x (32 anak), ≥ 6 x (30 anak). Hasil  kultur urin positif  pada anak dengan pergantian popok sekali pakai per hari: &lt;4 x, 4-5 x, dan ≥6 x masing-masing, 18 (100%), 22 (68,8%), dan  0 (0%) (p&lt;.0001). Kuman yang paling banyak dijumpai pada kultur urin adalah Escherichia coli&#xD;
Kesimpulan : Frekuensi pergantian popok sekali pakai yang digunakan anak setiap harinya berhubungan dengan kejadian infeksi saluran kemih pada anak</summary>
    <dc:date>2011-07-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Daulay, Meirina</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang : Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu penyebab demam tersering pada anak. Salah satu penyebab terjadi ISK pada anak adalah akibat pemakaian popok sekali pakai yang tidak sering diganti. Hal ini terjadi karena daerah perineal yang lembab menyebabkan bakteri dapat berpindah dari anus ke orifisium uretra eksterna.&#xD;
Tujuan : Untuk menilai hubungan frekuensi pergantian popok sekali pakai dengan kejadian infeksi saluran kemih pada anak&#xD;
Metode : Kultur urin dilakukan pada anak usia 2 bulan sampai 2,5 tahun dengan sangkaan ISK yang datang ke poliklinik anak RS Haji Adam Malik, Medan pada bulan April sampai Juli 2010. Pemilihan sampel secara consecutive sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Diagnosa ISK ditegakkan berdasarkan kultur urin yaitu bila ditemukan ≥105 koloni/mL bakteri dalam urin. Sebanyak 80 anak mengikuti studi ini, terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 40 anak dengan hasil kultur urin positif dan 40 anak dengan hasil kultur urin negatif. Lalu dinilai hubungan jumlah frekuensi pemakaian popok sekali pakai setiap harinya selama 1 minggu sebelumnya dengan  hasil kutur urin. Analisa yang digunakan chi square&#xD;
Hasil : Frekuensi pergantian popok sekali pakai per hari pada anak: &lt;4x (18 anak) , 4-5 x (32 anak), ≥ 6 x (30 anak). Hasil  kultur urin positif  pada anak dengan pergantian popok sekali pakai per hari: &lt;4 x, 4-5 x, dan ≥6 x masing-masing, 18 (100%), 22 (68,8%), dan  0 (0%) (p&lt;.0001). Kuman yang paling banyak dijumpai pada kultur urin adalah Escherichia coli&#xD;
Kesimpulan : Frekuensi pergantian popok sekali pakai yang digunakan anak setiap harinya berhubungan dengan kejadian infeksi saluran kemih pada anak</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Kualitas Hidup Anak Penderita Talasemia dengan Saudara Penderita Talasemia yang Normal</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26797" />
    <author>
      <name>Wahyuni, Masyitah Sri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26797</id>
    <updated>2012-12-20T19:29:35Z</updated>
    <published>2011-06-30T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wahyuni, Masyitah Sri
Advisors: Lubis, Bidasari; Ali, Muhammad
Abstract: Background. Thalassemia is a chronic disease that becomes a major health problem in the world, especially in mediterranean, Malaysia, Thailand and Indonesia. This condition clearly affects the quality of life of its patient, because of the condition itself and the effect of the treatment. Assessment of the quality of life is needed to determine actions to be taken to improve the quality of life in Thallassemic children. &#xD;
&#xD;
Objective. To assess the difference of the quality of life of Thalassemic patients compare to their normal siblings.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional study was performed from May 2010 utill June 2010 in H. Adam Malik Hospital Medan and the home of one of North Sumatra POPTI member. Thalassemic children aged 5 utill 18 years old and their age and gender adjusted siblings were divided into two groups: case and control group. Parents and children were asked to fill PedsQL version 4.0 questioners. &#xD;
&#xD;
Results. There were 59 children in each group. The assessments of four quality of life domains in each group showed physical function 53.1 vs 71.5 (95% CI -21.41;-15.26, P 0.0001), emotional function 50.9 vs 62.9 (95% CI -16.82;-7.41, P 0.0001), social function 62.5 vs 72.8 (95% CI -13.50;-7.01, P 0.0001)and school function 36.2 vs 56.0 (95% CI -22.95;-16.71, P 0.0001). The total value was 50.9 vs 66.1 (95% CI -22.95;-16.71, P 0.0001). The school function was most affected.&#xD;
&#xD;
Conclusions. There was a significant difference in quality of life between the two groups; Thalassemic children have poorer quality of life compared to their normal siblings with school function being most affected domain.
Abstract (other language): Latar belakang. Talasemia merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di dunia khususnya di mediterania, Malaysia,Thailand,dan Indonesia.Penyakit ini secara nyata mempengaruhi kualitas hidup penderitanya baik akibat kondisi penyakitnya maupun efek terapi yang diberikan. Penilaian kualitas hidup diperlukan untuk menentukan tindakan yang mendukung perbaikan kualitas hidup anak penderita Talasemia. &#xD;
&#xD;
Tujuan. Menilai perbedaan kualitas hidup anak penderita Talasemia dibanding saudara penderita Talasemia yang normal.&#xD;
&#xD;
Metode. Studi cross sectional dari Mei - Juni 2010 di RSUP Haji Adam Malik Medan dan di rumah salah satu orangtua dari anak yang terdaftar anggota POPTI (Perhimpunan Orangtua Penderita Talasemia Indonesia) cabang Sumatera Utara. Anak usia 5-18 tahun yang menderita Talasemia serta saudaranya yang normal yang sudah disesuaikan umur dan jenis kelaminnya dibagi menjadi dua kelompok yakni: kelompok kasus dan kontrol. Kedua kelompok tersebut dan orangtua akan diminta mengisi kuisioner PedsQL versi 4.0. Lembaran kuisioner yang telah diisi akan dinilai dan dilakukan penilaian kualitas hidup.  &#xD;
&#xD;
Hasil. Besar sampel pada kelompok anak penderita Talasemia dan saudaranya yang normal masing-masing 59 anak. Penilaian keempat domain yang dilakukan terhadap anak penderita Talasemia dengan saudaranya yang normal didapati hasil fungsi fisik 53.1 banding 71.5 (IK 95% -21.41;-15.26, P 0.0001), fungsi emosional 50.9 banding 62.9 (IK 95% -16.82;-7.41, P 0.0001), fungsi sosial 62.5 banding 72.8 (IK 95% -13.50;-7.01, P 0.0001), fungsi sekolah 36.2 banding 56.0 (IK 95% -22.95;-16.71, P 0.0001), dan total nilai 50.9 banding 66.1(IK 95% -18.20;-13.12, P 0.0001).Dari keempat domain tersebut, fungsi sekolah menunjukkan domain yang paling terganggu 36.2 banding 56.0 (IK 95% -22.95;-16.71, P 0.0001)&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Hasil penilaian kualitas hidup yang diperoleh menunjukkan perbedaan yang bermakna antara anak penderita Talasemia dengan saudaranya yang normal dimana kualitas hidup anak penderita Talasemia terbukti lebih rendah dibanding saudaranya yang normal dengan domain penilaian kualitas hidup yang paling terganggu adalah fungsi sekolah.</summary>
    <dc:date>2011-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wahyuni, Masyitah Sri</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Talasemia merupakan penyakit kronis yang menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di dunia khususnya di mediterania, Malaysia,Thailand,dan Indonesia.Penyakit ini secara nyata mempengaruhi kualitas hidup penderitanya baik akibat kondisi penyakitnya maupun efek terapi yang diberikan. Penilaian kualitas hidup diperlukan untuk menentukan tindakan yang mendukung perbaikan kualitas hidup anak penderita Talasemia. &#xD;
&#xD;
Tujuan. Menilai perbedaan kualitas hidup anak penderita Talasemia dibanding saudara penderita Talasemia yang normal.&#xD;
&#xD;
Metode. Studi cross sectional dari Mei - Juni 2010 di RSUP Haji Adam Malik Medan dan di rumah salah satu orangtua dari anak yang terdaftar anggota POPTI (Perhimpunan Orangtua Penderita Talasemia Indonesia) cabang Sumatera Utara. Anak usia 5-18 tahun yang menderita Talasemia serta saudaranya yang normal yang sudah disesuaikan umur dan jenis kelaminnya dibagi menjadi dua kelompok yakni: kelompok kasus dan kontrol. Kedua kelompok tersebut dan orangtua akan diminta mengisi kuisioner PedsQL versi 4.0. Lembaran kuisioner yang telah diisi akan dinilai dan dilakukan penilaian kualitas hidup.  &#xD;
&#xD;
Hasil. Besar sampel pada kelompok anak penderita Talasemia dan saudaranya yang normal masing-masing 59 anak. Penilaian keempat domain yang dilakukan terhadap anak penderita Talasemia dengan saudaranya yang normal didapati hasil fungsi fisik 53.1 banding 71.5 (IK 95% -21.41;-15.26, P 0.0001), fungsi emosional 50.9 banding 62.9 (IK 95% -16.82;-7.41, P 0.0001), fungsi sosial 62.5 banding 72.8 (IK 95% -13.50;-7.01, P 0.0001), fungsi sekolah 36.2 banding 56.0 (IK 95% -22.95;-16.71, P 0.0001), dan total nilai 50.9 banding 66.1(IK 95% -18.20;-13.12, P 0.0001).Dari keempat domain tersebut, fungsi sekolah menunjukkan domain yang paling terganggu 36.2 banding 56.0 (IK 95% -22.95;-16.71, P 0.0001)&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Hasil penilaian kualitas hidup yang diperoleh menunjukkan perbedaan yang bermakna antara anak penderita Talasemia dengan saudaranya yang normal dimana kualitas hidup anak penderita Talasemia terbukti lebih rendah dibanding saudaranya yang normal dengan domain penilaian kualitas hidup yang paling terganggu adalah fungsi sekolah.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan migren terhadap terjadinya &#xD;
gangguan tidur pada remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26794" />
    <author>
      <name>Waty, Lina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26794</id>
    <updated>2012-12-20T19:31:21Z</updated>
    <published>2011-06-30T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Waty, Lina
Advisors: Saing, Bistok; Supriatmo
Abstract: Background.  Migraine is the most common headache in children. The prevalence of migraine ranges from 8% to 23% in children aged 7 and 15 years old. Both headache and sleep disorders are common problem in children, Although it is common thinking that headache and sleep disorders are related, there has been little research in this area. By finding this relation, early diagnosis and treatment could be done.&#xD;
&#xD;
Methods. A cross sectional on December 2009 was carried out in junior and senior high school in Secanggang district, Langkat regency, North Sumatera. Migraine screening was done to the students. Students who fulfilled criteria divided into 2 groups, students who suffer from migrain as case group and healthy students as control group. Questionnaires were given to the both group. Interview was also done.&#xD;
&#xD;
Results. 50 students were enrolled in case group and 50 students in control group. Students who suffer from migraine complain more frequently of sleep disorders. The most common sleep disorders in adolescents who experience migraine is parasomnia.&#xD;
&#xD;
Conclusions. Migraine headache in adolescents were associated with sleep disorders.
Abstract (other language): Latar belakang.  Migren merupakan tipe nyeri kepala yang paling sering ditemukan pada anak dengan prevalensi pada anak usia 7 tahun dan 15 tahun yaitu berkisar 8% sampai 23%. Nyeri kepala dan gangguan tidur merupakan masalah yang sering pada anak. Hubungan antara keduanya belum diketahui sepenuhnya dan penelitian mengenai hubungan antara keduanya juga masih sedikit, padahal dengan menemukan hubungan antara keduanya memungkinkan untuk dilakukan deteksi dini serta pengobatan yang dini terhadap kedua masalah tersebut.&#xD;
&#xD;
Metode. Cross sectional pada bulan Desember 2009 di SMP dan SMU di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dilakukan skrining migren pada anak sekolah kemudian diberikan kuesioner dan dilakukan wawancara mengenai pola tidur pada kelompok kasus dan kontrol.&#xD;
&#xD;
Hasil. Besar sampel pada kelompok remaja dengan migren dan remaja tanpa migren masing-masing 50 anak. Remaja penderita migren lebih sering mengalami gangguan tidur dibandingkan remaja sehat. Gangguan tidur yang paling sering dijumpai pada remaja migren adalah parasomnia.&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Migren terbukti mempunyai hubungan terhadap terjadinya gangguan tidur pada remaja.</summary>
    <dc:date>2011-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Waty, Lina</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang.  Migren merupakan tipe nyeri kepala yang paling sering ditemukan pada anak dengan prevalensi pada anak usia 7 tahun dan 15 tahun yaitu berkisar 8% sampai 23%. Nyeri kepala dan gangguan tidur merupakan masalah yang sering pada anak. Hubungan antara keduanya belum diketahui sepenuhnya dan penelitian mengenai hubungan antara keduanya juga masih sedikit, padahal dengan menemukan hubungan antara keduanya memungkinkan untuk dilakukan deteksi dini serta pengobatan yang dini terhadap kedua masalah tersebut.&#xD;
&#xD;
Metode. Cross sectional pada bulan Desember 2009 di SMP dan SMU di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dilakukan skrining migren pada anak sekolah kemudian diberikan kuesioner dan dilakukan wawancara mengenai pola tidur pada kelompok kasus dan kontrol.&#xD;
&#xD;
Hasil. Besar sampel pada kelompok remaja dengan migren dan remaja tanpa migren masing-masing 50 anak. Remaja penderita migren lebih sering mengalami gangguan tidur dibandingkan remaja sehat. Gangguan tidur yang paling sering dijumpai pada remaja migren adalah parasomnia.&#xD;
&#xD;
Kesimpulan. Migren terbukti mempunyai hubungan terhadap terjadinya gangguan tidur pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Infeksi Soil Transmitted Helminth Terhadap Kemampuan Kognitif Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26519" />
    <author>
      <name>Sari, Dewi</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26519</id>
    <updated>2013-03-16T19:31:13Z</updated>
    <published>2011-06-23T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Sari, Dewi
Advisors: Pasaribu, Syahril; Ali, Muhammad
Abstract: Background Soil transmitted helminth infection affects one quarter of world population. School age children were reported  to have the highest prevalences and intensities, which result in impaired cognitive function, malnutrition and morbidity.  &#xD;
Objective To examine the difference of cognitive function before and after treating soil transmitted helmintiasis in children. &#xD;
Methods A randomized, open labeled, clinical trial is conducted since November 2008 until March 2009 in Aek Nabara, Kabupaten Labuhan Batu, North Sumatera province, among primary school age children. Before the interventions, data on age, sex, nutritional status, soil transmitted helminthiasis status and cognitive function were collected. Subjects were divided into two groups. Group I received albendazole 400 mg and group II received placebo. Three months after interventions, we re-examine the cognitive function of the children in both groups.&#xD;
Results Cognitive tests with Weschler Intelligence Scale for Children were performed in 120 children infected with soil transmitted helminth. These children were randomly separated into two groups, 60 children received albendazole 400 mg and 60 children received placebo. Eight children were excluded in this study due to IQ score below 70 and sick during examination. Three months after the intervention, the cognitive function was evaluated and resulted in  significant cognitive improvement in group I, in comprehension (P=0.017), coding  (P=0.002), performance IQ score (P=0.004) and full IQ score (P&lt;0.001). We also found significant differrence between both groups in digit span (P=0.24) and full IQ score (P=0.027).&#xD;
Conclusion Treatment toward soil transmitted helminthiasis improves cognitive function of children in comprehension, coding and digit span test. Performance dan full IQ score is also improved after treatment.
Abstract (other language): Latar belakang Infeksi soil transmitted helminth mempengaruhi lebih dari seperempat populasi dunia. Anak usia sekolah dilaporkan mempunyai prevalensi dan intensitas tertinggi  yang mengakibatkan gangguan kognitif, malnutrisi dan morbiditas. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui pengaruh pemberian obat antihelmentik terhadap kemampuan kognitif anak dengan infeksi soil transmitted helminth.&#xD;
Metode Dilakukan uji klinis acak terbuka pada November 2008 hingga Maret 2009 di Aek Nabara, Kabupaten Labuhan Batu, provinsi Sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Sebelum intervensi, dikumpulkan data usia, jenis kelamin, status nutrisi, status infeksi  soil transmitted helminth dan kemampuan kognitif. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok I diberi Albendazole 400 mg dan kelompok II diberi plasebo. Tiga bulan setelah intervensi, dilakukakn uji kognitif ulangan pada sampel di kedua kelompok.&#xD;
Hasil Uji kognitif dengan Weschler Intelligence Scale for Children dilakukan terhadap 120 anak yang terinfeksi dengan soil transmitted helminth. Anak-anak tersebut dirandomisasi blok kemudian dibagi dalam dua kelompok, 60 anak mendapat Albendazole 400 mg dan 60 anak mendapat plasebo. Delapan anak dieksklusikan dalam penelitian ini karena memilik nilai IQ di bawah 70 dan sakit selama pemeriksaan. Tiga bulan setelah intervensi, uji kognitif diulangi dan didapatkan peningkatan kemampuan kognitif yang bermakna pada kelompok I meliputi bidang comprehension (P=0.017), coding  (P=0.002), nilai performance IQ (P=0.004) dan total IQ (P&lt;0.001). Kami juga mendapatkan peningkatan bermakna antara kedua kelompok pada bidang digit span (P=0.24) dan nilai IQ total (P=0.027).&#xD;
Kesimpulan Pengobatan terhadap infeksi soil transmitted helminth akan meningkatkan kemampuan kognitif pada bidang comprehension, coding dan digit span. Nilai IQ performance dan total juga meningkat setelah pengobatan.</summary>
    <dc:date>2011-06-23T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Sari, Dewi</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Infeksi soil transmitted helminth mempengaruhi lebih dari seperempat populasi dunia. Anak usia sekolah dilaporkan mempunyai prevalensi dan intensitas tertinggi  yang mengakibatkan gangguan kognitif, malnutrisi dan morbiditas. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui pengaruh pemberian obat antihelmentik terhadap kemampuan kognitif anak dengan infeksi soil transmitted helminth.&#xD;
Metode Dilakukan uji klinis acak terbuka pada November 2008 hingga Maret 2009 di Aek Nabara, Kabupaten Labuhan Batu, provinsi Sumatera Utara, pada anak usia sekolah dasar. Sebelum intervensi, dikumpulkan data usia, jenis kelamin, status nutrisi, status infeksi  soil transmitted helminth dan kemampuan kognitif. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok I diberi Albendazole 400 mg dan kelompok II diberi plasebo. Tiga bulan setelah intervensi, dilakukakn uji kognitif ulangan pada sampel di kedua kelompok.&#xD;
Hasil Uji kognitif dengan Weschler Intelligence Scale for Children dilakukan terhadap 120 anak yang terinfeksi dengan soil transmitted helminth. Anak-anak tersebut dirandomisasi blok kemudian dibagi dalam dua kelompok, 60 anak mendapat Albendazole 400 mg dan 60 anak mendapat plasebo. Delapan anak dieksklusikan dalam penelitian ini karena memilik nilai IQ di bawah 70 dan sakit selama pemeriksaan. Tiga bulan setelah intervensi, uji kognitif diulangi dan didapatkan peningkatan kemampuan kognitif yang bermakna pada kelompok I meliputi bidang comprehension (P=0.017), coding  (P=0.002), nilai performance IQ (P=0.004) dan total IQ (P&lt;0.001). Kami juga mendapatkan peningkatan bermakna antara kedua kelompok pada bidang digit span (P=0.24) dan nilai IQ total (P=0.027).&#xD;
Kesimpulan Pengobatan terhadap infeksi soil transmitted helminth akan meningkatkan kemampuan kognitif pada bidang comprehension, coding dan digit span. Nilai IQ performance dan total juga meningkat setelah pengobatan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Kualitas hidup remaja penderita sakit perut &#xD;
berulang sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26404" />
    <author>
      <name>Harahap, Sri Yanti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26404</id>
    <updated>2012-12-20T19:43:41Z</updated>
    <published>2011-06-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Harahap, Sri Yanti
Advisors: Supriatmo; Sofyani, Sri
Abstract: Background: Recurrent abdominal pain (RAP) is one of the most common complaint in adolescents. RAP is an attack abdominal pain that may arise at least three times within three months, and interfere with activity. Lansoprazole  effective to Gastroesophangeal Reflux Disease (GERD), but research is still needed for the RAP. &#xD;
Objective: To assess differences in quality of life (QoL) of adolescent patients with recurrent abdominal pain before and after giving lansoprazole. &#xD;
Methods: A randomized clinical trial conducted in the District Secanggang , Langkat Regency, North Sumatra, between the months of August and September 2009. Patients who meet the criteria in accordance with RAP with  Apley criteria included in the study. Subjects were divided into two groups namely group received 30 mg lansoprazole and placebo groups during the 14 days. QoL assessed before granting lansoprazole and placebo and 30 days after administration of placebo using lansoprazole and Pediatrics Quality of Life (PedsQL) version 4.0. Efficacy of treatment assessed before and after treatment. &#xD;
Results: A total of 98 adolescent was followed the study with age range 12 to 18 years, and was divided in two groups.There was no significant difference in the quality of life of health, feelings, relationships, and school on lansoprazole and placebo groups (p=0.43, 95% CI -56.97;24.32 ). There was a significant difference in the number of absences before and after the administration lansoprazole, as well as plasebo . &#xD;
Conclusion: There was no difference in QoL of adolescent patients with RAP before and after giving lansoprazole. Significant difference was found the number of absences before and after giving lansoprazole and placebo.
Abstract (other language): Latar belakang: Sakit perut berulang ( SPB ) merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada remaja. SPB adalah serangan sakit perut yang timbul sekurang-kurangnya tiga kali dalam jangka waktu tiga bulan, dan mengganggu aktivitas. Lansoprazol efektif  pada untuk Gastroesophangeal Reflux Disease (GERD), tetapi untuk SPB masih diperlukan penelitian. &#xD;
Tujuan: Menilai perbedaan kualitas hidup remaja penderita sakit perut berulang sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. &#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar tunggal dilakukan di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara antara bulan Agustus hingga September 2009. Penderita yang memenuhi kriteria SPB  sesuai dengan kriteria Apley  dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup lansoprazol mendapat 30 mg lansoprazol dan grup plasebo selama 14 hari. Kualitas hidup  dinilai sebelum pemberian lansoprazol dan plasebo dan 30 hari setelah pemberian lansoprazol dan plasebo  dengan menggunakan Pediatrics Quality of Life ( PedsQL) versi.4.0. Efikasi pengobatan dinilai sebelum dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 18 tahun, dan dibagi atas dua kelompok. Dibandingkan sebelum pengobatan,  tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup tentang kesehatan, perasaan, pergaulan,dan sekolah pada kelompok lansoprazol dan plasebo ( p=0.43,IK 95% -56.97;24.32) Terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah absensi sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol, begitu juga sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. &#xD;
Kesimpulan:  Tidak ada perbedaan kualitas hidup remaja penderita SPB sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. Didapati perbedaan yang bermakna jumlah absensi sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol dan plasebo.</summary>
    <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Harahap, Sri Yanti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Sakit perut berulang ( SPB ) merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada remaja. SPB adalah serangan sakit perut yang timbul sekurang-kurangnya tiga kali dalam jangka waktu tiga bulan, dan mengganggu aktivitas. Lansoprazol efektif  pada untuk Gastroesophangeal Reflux Disease (GERD), tetapi untuk SPB masih diperlukan penelitian. &#xD;
Tujuan: Menilai perbedaan kualitas hidup remaja penderita sakit perut berulang sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. &#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar tunggal dilakukan di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara antara bulan Agustus hingga September 2009. Penderita yang memenuhi kriteria SPB  sesuai dengan kriteria Apley  dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup lansoprazol mendapat 30 mg lansoprazol dan grup plasebo selama 14 hari. Kualitas hidup  dinilai sebelum pemberian lansoprazol dan plasebo dan 30 hari setelah pemberian lansoprazol dan plasebo  dengan menggunakan Pediatrics Quality of Life ( PedsQL) versi.4.0. Efikasi pengobatan dinilai sebelum dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 18 tahun, dan dibagi atas dua kelompok. Dibandingkan sebelum pengobatan,  tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kualitas hidup tentang kesehatan, perasaan, pergaulan,dan sekolah pada kelompok lansoprazol dan plasebo ( p=0.43,IK 95% -56.97;24.32) Terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah absensi sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol, begitu juga sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. &#xD;
Kesimpulan:  Tidak ada perbedaan kualitas hidup remaja penderita SPB sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol. Didapati perbedaan yang bermakna jumlah absensi sebelum dan sesudah pemberian lansoprazol dan plasebo.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan efektivitas kombinasi zink-probiotik dengan zink tunggal dalam mengurangi keparahan diare akut</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26339" />
    <author>
      <name>Hatta, Muhammad</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26339</id>
    <updated>2012-12-20T19:32:43Z</updated>
    <published>2011-06-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Hatta, Muhammad
Advisors: Supriatmo; Ali, Muhammad
Abstract: Bacground  The incidence of diarrhea in Indonesia has declined in the last five years, but the mortality rate in under five years old is still high, appropriate and comprehensive management is essential. Many studies described the management of diarrhea, especially zinc and probiotics. It is not yet known whether a combination of both is better than single zinc in reducing the severity of acute diarrhea. &#xD;
Objective To compare the efficacy of zinc-probiotic combination with zinc in reducing the severity of acute diarrhea.&#xD;
Methods  We conducted a randomized, open label, clinical trial from July 2009 until January 2010 in Haji Adam Malik Hospital and Pirngadi Hospital, Medan, North Sumatera, in children between 1 month old - 5 years old. Group I received  zinc sulphate &lt; 6 months 10mg/day, or ≥ 6 months 20mg/day combined with heat-killed Lactobacillus acidophilus 3x1010 CFU/day oral, for 10 days.  Group II only recieved zinc sulphate with equal dose. The establishment of severity was based on the frequency of diarrhea (times/day)  and the duration of diarrhea (hours) after drug consumption. t-Test was used in this study.&#xD;
Result  Eighty samples were enrolled and randomised into two groups, 40 children received zinc-probiotic combination and the remainder received single zinc. The result revealed significant difference in frequency of diarrhea  (2.1 vs 3.1 P = 0.001), and duration of diarrhea (52.1 vs 72.6 p = 0.001) in combination group compared to zinc group.&#xD;
Conclusion  Combination of zinc-probiotic is effective in reducing the severity of acute diarrhea among children under five years old.
Abstract (other language): Latar Belakang  Insiden diare di Indonesia semakin menurun dalam lima tahun terakhir, namun angka kematian pada balita masih tinggi, diperlukan suatu penanganan yang tepat dan komprehensif. Studi tentang penanganan diare akut telah banyak dilakukan, terutama zink dan probiotik. Namun belum diketahui apakah kombinasi keduanya lebih baik dibandingkan zink tunggal dalam mengurangi keparahan diare akut.       &#xD;
Tujuan  Membandingkan efektivitas kombinasi zink-probiotik dengan zink tunggal dalam mengurangi keparahan diare akut. &#xD;
Metode  Uji klinis acak terbuka, dilakukan pada anak usia 1 bulan sampai 5 tahun di ruang rawat inap RSUP. Haji Adam Malik dan RSU. Dr. Pirngadi, Medan, Sumatera Utara, pada Juli 2009 sampai Januari 2010.  Sampel diacak menjadi dua kelompok, kelompok I diberikan  zink sulfat 10 mg/hari untuk usia &lt; 6 bulan, dan 20 mg/hari untuk usia ≥ 6 bulan yang dikombinasi dengan probiotik (heat killed Lactobacillus sp) 3x1010 CFU/hari peroral, selama 10 hari. Kelompok II hanya diberikan zink sulfat dengan dosis yang sama. Keparahan diare ditentukan berdasarkan frekuensi diare dan lamanya diare setelah pemberian terapi. Untuk membandingkan perbedaan antara kedua kelompok digunakan uji t independen.&#xD;
Hasil  Delapan puluh anak yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi pada studi ini, kemudian diacak menjadi dua kelompok, 40 anak menerima terapi kombinasi zink-probiotik dan selebihnya menerima zink tunggal. Didapatkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Frekuensi diare setelah terapi yang lebih rendah (2.1 vs 3.1, P = 0.001), dan  lama diare yang lebih singkat pada kelompok kombinasi dibandingkan dengan kelompok zink tunggal (52.1 vs 72.6, P = 0.001). &#xD;
Kesimpulan  Kombinasi zink-probiotik lebih efektif mengurangi keparahan diare akut pada balita.</summary>
    <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Hatta, Muhammad</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang  Insiden diare di Indonesia semakin menurun dalam lima tahun terakhir, namun angka kematian pada balita masih tinggi, diperlukan suatu penanganan yang tepat dan komprehensif. Studi tentang penanganan diare akut telah banyak dilakukan, terutama zink dan probiotik. Namun belum diketahui apakah kombinasi keduanya lebih baik dibandingkan zink tunggal dalam mengurangi keparahan diare akut.       &#xD;
Tujuan  Membandingkan efektivitas kombinasi zink-probiotik dengan zink tunggal dalam mengurangi keparahan diare akut. &#xD;
Metode  Uji klinis acak terbuka, dilakukan pada anak usia 1 bulan sampai 5 tahun di ruang rawat inap RSUP. Haji Adam Malik dan RSU. Dr. Pirngadi, Medan, Sumatera Utara, pada Juli 2009 sampai Januari 2010.  Sampel diacak menjadi dua kelompok, kelompok I diberikan  zink sulfat 10 mg/hari untuk usia &lt; 6 bulan, dan 20 mg/hari untuk usia ≥ 6 bulan yang dikombinasi dengan probiotik (heat killed Lactobacillus sp) 3x1010 CFU/hari peroral, selama 10 hari. Kelompok II hanya diberikan zink sulfat dengan dosis yang sama. Keparahan diare ditentukan berdasarkan frekuensi diare dan lamanya diare setelah pemberian terapi. Untuk membandingkan perbedaan antara kedua kelompok digunakan uji t independen.&#xD;
Hasil  Delapan puluh anak yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi pada studi ini, kemudian diacak menjadi dua kelompok, 40 anak menerima terapi kombinasi zink-probiotik dan selebihnya menerima zink tunggal. Didapatkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Frekuensi diare setelah terapi yang lebih rendah (2.1 vs 3.1, P = 0.001), dan  lama diare yang lebih singkat pada kelompok kombinasi dibandingkan dengan kelompok zink tunggal (52.1 vs 72.6, P = 0.001). &#xD;
Kesimpulan  Kombinasi zink-probiotik lebih efektif mengurangi keparahan diare akut pada balita.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Uji Diagnostik Proteinuria Menggunakan Asam Sulfosalisilat 20% Dibandingkan Dengan &#xD;
Spektrofotometer</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26337" />
    <author>
      <name>Mauliddina, Jeanida</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26337</id>
    <updated>2012-12-20T19:32:20Z</updated>
    <published>2011-06-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Mauliddina, Jeanida
Advisors: Rusdidjas; Ramayati, Rafita
Abstract: Background Proteinuria is a condition when protein is found in urine and is also a common symptom we found in children with renal disorder. Proteinuria can also be found in non renal disorders and in normal children. A high sensitivity examination is needed to detect proteinuria. Spectrophotometer is a gold standard examination, however it is expensive and not avaible in primary health care. We need to find another examination which is sensitive, economic, rapid and can be done in any health service. 20% sulfosalicylic acid is expected to full fill these criterias.&#xD;
Objective To compare  20% sulfosalicylic acid  to spectrophotometer as a diagnostic of proteinuria.&#xD;
Methods A diagnostic test was held in H. Adam Malik Hospital since September 2009 until December 2009. 55 children aged 3 to 18 year old was recuired using consecutive sampling. The urine was collected for 24 hours and tested for proteinuria using 20% sulfosalicylic acid and spectrophotometer.&#xD;
Results A total of 55 cases were studied. Sensitivity and specificity of sulfosalicylic acid 20% and spectrophotometer were found 88,1% and 69,2%, With a positive predictive value and a negative predictive value 90,2% and 64,3%.&#xD;
Conclusion A 20% sulfosalisilyc acid has a low sensitivity and spesificity to detect proteinuria, but it has an advantage that 20% sulfosalisilyc acid is more practical and low cost in detecting proteinuria compare to sphectophotometry.
Abstract (other language): Latar belakang. Proteinuria adalah keadaan dimana dijumpai protein dalam urin dan merupakan gejala yang sering dijumpai pada anak dengan penyakit ginjal. Proteiuria juga dapat dijumpai pada penyakit nonrenal dan pada anak normal. Pemeriksaan proteinuria yang memiliki kepekaan yang tinggi sangat diperlukan. Spektrofotometer merupakan gold standard,  tetapi harganya mahal dan sering tidak dijumpai pada unit pelayanan tingkat dasar oleh karena itu diperlukan cara untuk mendeteksi proteinuria yang memiliki kepekaan yang tinggi, cepat, murah dan dapat dikerjakan dimanapun. Asam sufosalisilat 20% diharapkan mempuyai kepekaan yang tinggi selain harga murah dan mudah dilakukan. &#xD;
Tujuan. Membandingkan pemeriksaan proteinuria dengan menggunakan asam sulfosalisilat 20% dan spektrofotometer.&#xD;
Bahan dan cara kerja. Suatu penelitian uji diagnostik yang dilakukan sejak bulan September 2009 sampai Desember 2009, di RSUP H.Adam Malik di Medan, propinsi Sumatera Utara, dilakukan pada anak yang berusia 3 sampai 18 tahun, subjek terdiri dari 55 orang anak yang dikumpulkan secara consecutive sampling, urin dikumpulkan selama 24 jam untuk diperiksakan menggunakan asam sulfosalisilat 20%, sisanya diperiksa menggunakan spektrofotometer. &#xD;
Hasil. Dari total 55 anak yang dilakukan pemeriksaan urin diperoleh sensitifitas dan spesifisitas asam sulfosalisilat 20% dan spektrofotometer adalah 88,1% dan 69,2% dengan nilai prediksi positif dan nilai prediksi negative (90,2% dan 64,3%. &#xD;
Kesimpulan. asam sulfosalisilat 20% memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah untuk mendeteksi proteinuria namun memiliki keuntungan yaitu lebih praktis dan murah dalam mendeteksi proteinuria dibandingkan spektrofotometer.</summary>
    <dc:date>2011-06-22T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Mauliddina, Jeanida</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Proteinuria adalah keadaan dimana dijumpai protein dalam urin dan merupakan gejala yang sering dijumpai pada anak dengan penyakit ginjal. Proteiuria juga dapat dijumpai pada penyakit nonrenal dan pada anak normal. Pemeriksaan proteinuria yang memiliki kepekaan yang tinggi sangat diperlukan. Spektrofotometer merupakan gold standard,  tetapi harganya mahal dan sering tidak dijumpai pada unit pelayanan tingkat dasar oleh karena itu diperlukan cara untuk mendeteksi proteinuria yang memiliki kepekaan yang tinggi, cepat, murah dan dapat dikerjakan dimanapun. Asam sufosalisilat 20% diharapkan mempuyai kepekaan yang tinggi selain harga murah dan mudah dilakukan. &#xD;
Tujuan. Membandingkan pemeriksaan proteinuria dengan menggunakan asam sulfosalisilat 20% dan spektrofotometer.&#xD;
Bahan dan cara kerja. Suatu penelitian uji diagnostik yang dilakukan sejak bulan September 2009 sampai Desember 2009, di RSUP H.Adam Malik di Medan, propinsi Sumatera Utara, dilakukan pada anak yang berusia 3 sampai 18 tahun, subjek terdiri dari 55 orang anak yang dikumpulkan secara consecutive sampling, urin dikumpulkan selama 24 jam untuk diperiksakan menggunakan asam sulfosalisilat 20%, sisanya diperiksa menggunakan spektrofotometer. &#xD;
Hasil. Dari total 55 anak yang dilakukan pemeriksaan urin diperoleh sensitifitas dan spesifisitas asam sulfosalisilat 20% dan spektrofotometer adalah 88,1% dan 69,2% dengan nilai prediksi positif dan nilai prediksi negative (90,2% dan 64,3%. &#xD;
Kesimpulan. asam sulfosalisilat 20% memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah untuk mendeteksi proteinuria namun memiliki keuntungan yaitu lebih praktis dan murah dalam mendeteksi proteinuria dibandingkan spektrofotometer.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perubahan perilaku pada remaja penderita  &#xD;
migren setelah mendapat terapi profilaksis &#xD;
amitriptilin</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26145" />
    <author>
      <name>Trilaksono, Pranoto</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26145</id>
    <updated>2013-03-16T19:45:35Z</updated>
    <published>2011-06-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Trilaksono, Pranoto
Advisors: Lubis, Iskandar Z.; Sofyani, Sri
Abstract: Background. Migraine is a frequent phenomenon and several studies describe the personality characteristics and behaviors associated with incident migraine.&#xD;
Objective. To investigate whether therapy prophylaxis with amitriptyline has an effect on behavior of children with migraine.  &#xD;
Methode. We conducted a single-blind randomized placebo-controlled clinical trial study in Medan, province of Sumatera Utara from July 2009 until December 2009. Participants eligible for migraine according to International Headache Society criteria were included in the study. They were divided into two groups, each group was given 10 mg per day of amitriptyline or placebo for 12 weeks. Headache frequency was measured in headache days per month. Duration was measured in hours and functional disability was measured by Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). The behavior were evaluated with Child Behavior Check List (CBCL) before and 6 months after intervention.&#xD;
Results. After 6 months, A total of 98 patients, ranging in age from 12 – 19 years (mean age 15.0 years) were enrolled to the study. There was no significant difference on score between amitriptyline and placebo group after intervention. There was statistically significant decreased on internalizing, withdrawn and somatic complaint score of treatment group with amitriptyline after intervention (p&lt;0,05) and there was no significant decreased in the placebo group.&#xD;
Conclusion. There was significant decreased on internalizing, withdrawn and somatic complaint of CBCL scores in children who was on the treatment group with amitriptyline.
Abstract (other language): Latar belakang. Migren merupakan fenomena yang sering dialami dan beberapa penelitian mendeskripsikan adanya karakteristik kepribadian dan tingkah laku yang berkaitan dengan kejadian migren.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui perubahan perilaku pada  remaja  penderita migren setelah mendapat terapi propilaksis amitriptilin.&#xD;
Metode. Uji klinis acak tersamar tunggal dilaksanakan di Medan provinsi Sumatera Utara pada bulan Juli 2009 - Desember 2009. Migren ditentukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaaan  neurologi yang mendasarinya dan pemeriksaan frekuensi, durasi serta severity  migren berdasarkan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS).kemudian secara acak dibagi atas kelompok intervensi yang mendapat terapi amitriptilin 10 mg/hari dan kelompok plasebo. Terapi diberikan selama 3 bulan. Orang tua diminta untuk mengisi kuesioner Child Behavior Check List (CBCL) sebelum dan 6 bulan setelah intervensi.&#xD;
Hasil. Setelah 6 bulan, 98 anak mengikuti penelitian sampai akhir dengan umur 12-19 tahun (rata-rata 15,0 tahun). Tampak perbedaan yang bermakna pada skor T internalisasi antara kelompok amitriptilin dan plasebo (p=0.016). Perbedaan bermakna juga pada withdrawn dan somatic complaint antara kedua kelompok (p=0.015 dan p=0.001). Tidak dijumpai perbedaan proporsi anak dengan skor T &gt; 60 setelah intervensi antara kedua kelompok. Dijumpai penurunan skor T internalisasi, skor T total, withdrawn dan somatic complaint  yang bermakna secara statistik pada kelompok amitriptilin setelah intervensi (p&lt;0,05) dibandingkan sebelum intervensi dan tidak dijumpai perubahan bermakna pada kelompok plasebo.&#xD;
Kesimpulan. Pada kelompok amitriptilin didapati penurunan skor T CBCL yang bermakna setelah intervensi dibandingkan sebelumnya dalam masalah internalisasi,  withdrawn dan somatic complaint.</summary>
    <dc:date>2011-06-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Trilaksono, Pranoto</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Migren merupakan fenomena yang sering dialami dan beberapa penelitian mendeskripsikan adanya karakteristik kepribadian dan tingkah laku yang berkaitan dengan kejadian migren.&#xD;
Tujuan. Untuk mengetahui perubahan perilaku pada  remaja  penderita migren setelah mendapat terapi propilaksis amitriptilin.&#xD;
Metode. Uji klinis acak tersamar tunggal dilaksanakan di Medan provinsi Sumatera Utara pada bulan Juli 2009 - Desember 2009. Migren ditentukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaaan  neurologi yang mendasarinya dan pemeriksaan frekuensi, durasi serta severity  migren berdasarkan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS).kemudian secara acak dibagi atas kelompok intervensi yang mendapat terapi amitriptilin 10 mg/hari dan kelompok plasebo. Terapi diberikan selama 3 bulan. Orang tua diminta untuk mengisi kuesioner Child Behavior Check List (CBCL) sebelum dan 6 bulan setelah intervensi.&#xD;
Hasil. Setelah 6 bulan, 98 anak mengikuti penelitian sampai akhir dengan umur 12-19 tahun (rata-rata 15,0 tahun). Tampak perbedaan yang bermakna pada skor T internalisasi antara kelompok amitriptilin dan plasebo (p=0.016). Perbedaan bermakna juga pada withdrawn dan somatic complaint antara kedua kelompok (p=0.015 dan p=0.001). Tidak dijumpai perbedaan proporsi anak dengan skor T &gt; 60 setelah intervensi antara kedua kelompok. Dijumpai penurunan skor T internalisasi, skor T total, withdrawn dan somatic complaint  yang bermakna secara statistik pada kelompok amitriptilin setelah intervensi (p&lt;0,05) dibandingkan sebelum intervensi dan tidak dijumpai perubahan bermakna pada kelompok plasebo.&#xD;
Kesimpulan. Pada kelompok amitriptilin didapati penurunan skor T CBCL yang bermakna setelah intervensi dibandingkan sebelumnya dalam masalah internalisasi,  withdrawn dan somatic complaint.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Waktu Pengikatan Tali Pusat    &#xD;
Terhadap Viskositas Darah Bayi Baru Lahir                         &#xD;
                                                 Lahir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26144" />
    <author>
      <name>Tobing, Fellycia Trie Wardhani</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26144</id>
    <updated>2013-03-16T19:46:14Z</updated>
    <published>2011-06-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Tobing, Fellycia Trie Wardhani
Advisors: Lubis, Bidasari; Sembiring, Tiangsa
Abstract: Background. These last decades, there were new debates on optimal time to clamp the cord and its effect on neonatal. Few studies shown some advantages of delayed cord clamping One major thing that still remain a consideration is the effect of  hyperviscosity and polycythemia. &#xD;
Objective. To determine the effect of cord clamping on neonatal blood viscosity     &#xD;
Methods. Randomized clinical trial conducted on September 2008 to June 2009 in two general hospital. Infant fulfilled the inclusion criteria were randomized into two group, early and delayed cord clamping. All infants were put on mothers abdomen before cord were clamped. Hematocrit, hemoglobin, erythrocyte and erythrocyte indexes values were measure from umbilical vein 24 until 48 hours after birth.&#xD;
Results. 63 infant were included, 31 on ECC group and  32 on DCC group. Mean hematocrit values on ECC group were 47.80 (3.94)% and  53.47(2.13)% on DCC group (P=0,0001), while mean hemoglobin values were 16.23 gr% on ECC group dan 18.37 gr% on DCC group (P=0,0001). There were no polychytemia observed in the two groups. Mean MCV values on ECC group were 101,76 fL while on DCC group were 103.95 fL (P= 0.046). RBC, MCH, MCHC and RDW values between the two groups showed no significant defferences.&#xD;
Conclusion. There were significant differences on blood viscosity between ECC and DCC group and there were no polycythemia observed in the two groups.
Abstract (other language): Latar belakang.  Beberapa dekade terakhir, timbul perdebatan baru tentang waktu pengikatan tali pusat optimal dan efeknya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya keuntungan pengikatan tali pusat tertunda. Satu hal yang menjadi pertimbangan adalah efek samping polisitemia dan hiperviskositas. &#xD;
Tujuan. Mengetahui pengaruh waktu pengikatan tali pusat terhadap viskositas darah  bayi baru lahir.&#xD;
Bahan dan cara kerja. Penelitian uji klinis acak tersamar tunggal pada September 2008 sampai Juni 2009, di dua RSU Pemerintah, pada bayi baru lahir yang memenuhi kriteria, yang dibagi dua kelompok, yaitu kelompok pengikatan tali pusat dini dan tertunda. Bayi diletakkan di atas perut ibu sebelum tali pusat dipotong dan diukur kadar hematokrit, hemoglobin, eritrosit dan indeks eritrosit 24 sampai 48 jam setelah lahir. &#xD;
Hasil. Dari total 63 bayi, 31 bayi pada kelompok pengikatan tali pusat dini (kelompok I) dan 32 bayi pada kelompok pengikatan tali pusat tertunda (kelompok II). Nilai rerata hematokrit pada kelompok I 47.80% (3.94) dan 53.47% (2.13) pada kelompok II (P=0.0001) dan nilai rerata hemoglobin 16.23 gr% pada kelompok I dan 18.37 gr% pada kelompok II (P=0.0001). Tidak ditemukan adanya polisitemia pada kedua kelompok. Rerata nilai MCV pada bayi dengan pengikatan tali pusat tertunda, 103.95 fL dibandingkan 101.76 fL (P= 0.046) pada kelompok dini, sementara kadar RBC, MCH, MCHC, dan RDW pada kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna.&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna kadar viskositas darah antara pengikatan tali pusat dini dan tertunda, dan tidak ditemukan adanya efek samping polisitemia pada kedua kelompok.</summary>
    <dc:date>2011-06-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Tobing, Fellycia Trie Wardhani</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang.  Beberapa dekade terakhir, timbul perdebatan baru tentang waktu pengikatan tali pusat optimal dan efeknya. Beberapa penelitian menunjukkan adanya keuntungan pengikatan tali pusat tertunda. Satu hal yang menjadi pertimbangan adalah efek samping polisitemia dan hiperviskositas. &#xD;
Tujuan. Mengetahui pengaruh waktu pengikatan tali pusat terhadap viskositas darah  bayi baru lahir.&#xD;
Bahan dan cara kerja. Penelitian uji klinis acak tersamar tunggal pada September 2008 sampai Juni 2009, di dua RSU Pemerintah, pada bayi baru lahir yang memenuhi kriteria, yang dibagi dua kelompok, yaitu kelompok pengikatan tali pusat dini dan tertunda. Bayi diletakkan di atas perut ibu sebelum tali pusat dipotong dan diukur kadar hematokrit, hemoglobin, eritrosit dan indeks eritrosit 24 sampai 48 jam setelah lahir. &#xD;
Hasil. Dari total 63 bayi, 31 bayi pada kelompok pengikatan tali pusat dini (kelompok I) dan 32 bayi pada kelompok pengikatan tali pusat tertunda (kelompok II). Nilai rerata hematokrit pada kelompok I 47.80% (3.94) dan 53.47% (2.13) pada kelompok II (P=0.0001) dan nilai rerata hemoglobin 16.23 gr% pada kelompok I dan 18.37 gr% pada kelompok II (P=0.0001). Tidak ditemukan adanya polisitemia pada kedua kelompok. Rerata nilai MCV pada bayi dengan pengikatan tali pusat tertunda, 103.95 fL dibandingkan 101.76 fL (P= 0.046) pada kelompok dini, sementara kadar RBC, MCH, MCHC, dan RDW pada kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna.&#xD;
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna kadar viskositas darah antara pengikatan tali pusat dini dan tertunda, dan tidak ditemukan adanya efek samping polisitemia pada kedua kelompok.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan waktu, durasi, dan intensitas  &#xD;
hiperglikemia  dengan  lama rawatan dan   &#xD;
mortalitas pada pasien anak  dengan penyakit kritis di unit perawatan intensif</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26143" />
    <author>
      <name>Dewanti, Yulia Lukita</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26143</id>
    <updated>2013-03-16T19:45:51Z</updated>
    <published>2011-06-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Dewanti, Yulia Lukita
Advisors: Yoel, Chairul; Lubis, Munar
Abstract: Background Hyperglycemia in critical care populations has been shown to be a risk factor for increased morbidity and mortality. There are still controversies about the relation between time, duration and intensity of hyperglycemia with length of stay and mortality of patient in Pediatric Intensive Care Unit (PICU), especially with wide variety setting.&#xD;
Objective To evaluate relation between time, duration and intensity of hyperglicemia of critically ill children with length of stay and mortality in PICU.&#xD;
Methods An observational study was performed in PICU of Haji Adam Malik Hospital Medan on July 2009-January 2010. Consecutive samples were 1 month -18 years old non-diabetic children indicated to be treated in PICU, with blood glucose level 126 mg/dL at the time of admissions. Blood glucose examinations were performed at 12, 24, 48 hours after admission and every 24 hour until the patient discharge or death. Time of higher glucose level, duration and intensity of hyperglycemia  with length of stay and patients conditions at the end of their intensive care will be noted. &#xD;
Results 30 samples admitted from July-Januari 2009, 63% of them were death. Median of peak hyperglycemia was 237(181.2 - 301.25) mg/dL, Highest hyperglycemia happened at the first time patient admitted (53%), median duration of hyperglycemia comparing to PICU stay was 70 (25-97)%, median intensity was 186 (161.63 – 232.88) mg/dL. Only duration have significant relation with length of stay (P= 0.009) and mortality (P= 0.030).&#xD;
Conclusion Duration of hyperglycemia have significant relation to length of stay and mortality
Abstract (other language): Latar Belakang Hiperglikemia pada pasien kritis merupakan faktor risiko terhadap meningkatnya angka morbiditas dan kematian. Hubungan antara waktu terjadinya hiperglikemia, durasi dan intensitas hiperglikemia  dengan lama rawatan dan mortalitas pasien anak di unit perawatan intensif (UPI) masih merupakan kontroversi, terutama pada setting UPI dengan variabilitas pasien yang luas. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan antara waktu terjadinya hiperglikemia tertinggi, durasi serta intensitas hiperglikemia  dengan lama rawatan dan mortalitas pada pasien anak dalam keadaan kritis  di UPI Anak.&#xD;
Metode Suatu penelitian observasional dilakukan di UPI Anak RSUP. H. Adam Malik Medan sejak bulan Juli 2009 sampai Januari 2010. Sampel konsekutif adalah anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun dengan hiperglikemia non diabetik yang diindikasikan untuk rawatan UPI Anak, dengan kadar gula darah (KGD) 126 mg/dL saat pertama kali masuk. Pemeriksaan KGD dilanjutkan pada jam ke- 12, 24, 48 rawatan dan setiap 24 jam sampai pasien keluar rawatan atau meninggal. Dicatat waktu terjadinya hiperglikemia tertinggi, durasi dan intensitas hiperglikemia. &#xD;
Hasil Didapatkan 30 sampel selama periode penelitian, 63% diantaranya meninggal. Median hiperglikemia tertinggi adalah 237(181.2 - 301.25) mg/dL, hiperglikemia tertinggi terjadi pada saat pasien pertama kali pasien masuk, median durasi hiperglikemia dibandingkan dengan lamanya rawatan UPI adalah 70 (25-97)%, median intensitas adalah 186 (161.63 – 232.88). Hanya durasi yang berhubungan secara signifikan dengan lama rawatan (P= 0.009) dan mortalitas (P= 0.030).&#xD;
Kesimpulan Durasi hiperglikemia berhubungan secara signifikan dengan lama rawatan dan mortalitas.</summary>
    <dc:date>2011-06-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Dewanti, Yulia Lukita</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang Hiperglikemia pada pasien kritis merupakan faktor risiko terhadap meningkatnya angka morbiditas dan kematian. Hubungan antara waktu terjadinya hiperglikemia, durasi dan intensitas hiperglikemia  dengan lama rawatan dan mortalitas pasien anak di unit perawatan intensif (UPI) masih merupakan kontroversi, terutama pada setting UPI dengan variabilitas pasien yang luas. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan antara waktu terjadinya hiperglikemia tertinggi, durasi serta intensitas hiperglikemia  dengan lama rawatan dan mortalitas pada pasien anak dalam keadaan kritis  di UPI Anak.&#xD;
Metode Suatu penelitian observasional dilakukan di UPI Anak RSUP. H. Adam Malik Medan sejak bulan Juli 2009 sampai Januari 2010. Sampel konsekutif adalah anak berusia 1 bulan sampai 18 tahun dengan hiperglikemia non diabetik yang diindikasikan untuk rawatan UPI Anak, dengan kadar gula darah (KGD) 126 mg/dL saat pertama kali masuk. Pemeriksaan KGD dilanjutkan pada jam ke- 12, 24, 48 rawatan dan setiap 24 jam sampai pasien keluar rawatan atau meninggal. Dicatat waktu terjadinya hiperglikemia tertinggi, durasi dan intensitas hiperglikemia. &#xD;
Hasil Didapatkan 30 sampel selama periode penelitian, 63% diantaranya meninggal. Median hiperglikemia tertinggi adalah 237(181.2 - 301.25) mg/dL, hiperglikemia tertinggi terjadi pada saat pasien pertama kali pasien masuk, median durasi hiperglikemia dibandingkan dengan lamanya rawatan UPI adalah 70 (25-97)%, median intensitas adalah 186 (161.63 – 232.88). Hanya durasi yang berhubungan secara signifikan dengan lama rawatan (P= 0.009) dan mortalitas (P= 0.030).&#xD;
Kesimpulan Durasi hiperglikemia berhubungan secara signifikan dengan lama rawatan dan mortalitas.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh  Waktu  Pengikatan  Tali  Pusat    &#xD;
terhadap Kadar Bilirubin Bayi Baru Lahir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26142" />
    <author>
      <name>Triana, Anna</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26142</id>
    <updated>2013-03-16T19:45:22Z</updated>
    <published>2011-06-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Triana, Anna
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Lubis, Bidasari
Abstract: Background. At the time of delivery, infant is still attached to the mother by the umbilical cord. The infant will be separated from the placenta by clamping and cutting the umbilical cord. Until now the time of clamping the cord remained controversy. Indonesian Health Department recommends to delay clamping the cord for 2 minutes in normal infant, known as delayed cord clamping. Early cord clamping defined as clamping the umbilical cord in the first 15 seconds of delivery.  Delaying cord clamping give some advantages for the infant such as decreasing the incidence of anemia and increasing iron deposit. Some studies showed that delaying cord clamping could cause neonatal jaundice.&#xD;
Objective. To investigate whether a difference of timing of cord clamping might have impact on bilirubin values in term newborn  infants.&#xD;
Methods. A randomized, single blind trial  was conducted on September 2008 to June 2009, at two general hospitals in Medan, which eligible newborn infants ( term infant, single pregnancy, born spontaneously, body weight ≥2500-4000 gr, Apgar score ≥7)  were randomly  assigned to early cord clamping = ECC (15 seconds after delivery) or delayed cord  clamping = DCC (2 minutes after delivery). The infants were placed on the mother’s abdomen before the umbilical cord were clamped. Bilirubin values were measured from the umbilical cord vein blood 24 – 48 hours after delivery.&#xD;
Results.  Totally 63 infants were eligible which consist of 32 infants with ECC and 31 infants with DCC. We found mean bilirubin value 4.07 (1.14) mg/dl  in  ECC  and 4.76 (1.71) mg/dl  in  DCC  group  (P=0.064).&#xD;
Conclusion. There was no significant difference on bilirubin  value between early and delayed cord clamping.
Abstract (other language): Latar belakang. Pada waktu dilahirkan bayi masih tetap berhubungan dengan ibunya melalui tali pusat. Bayi dipisahkan dari plasenta dengan melakukan pengikatan dan pemotongan tali pusat. Namun sampai saat ini waktu yang paling tepat untuk pengikatan tali pusat masih kontroversial. Waktu pengikatan tali pusat dikenal dengan pengikatan tali pusat dini (15 detik) dan tertunda (45 detik sampai pulsasi tali pusat berhenti) setelah bayi lahir. Departemen Kesehatan RI sejak tahun 2007 merekomendasikan penundaan pengikatan tali pusat selama 2 menit pada bayi normal dengan tujuan mengurangi kejadian anemia dan meningkatkan cadangan besi, namun dapat juga memberikan efek yang tidak baik yaitu neonatal jaundice.&#xD;
Tujuan.  Mengetahui dampak waktu pengikatan tali pusat terhadap kadar bilirubin bayi baru lahir.&#xD;
Metode. Suatu penelitian uji klinis acak sederhana tersamar tunggal yang dilakukan sejak bulan September 2008 sampai Juni 2009, di dua RSU Pemerintah, dilakukan pada bayi baru lahir yang memenuhi kriteria (cukup bulan, kehamilan tunggal, partus spontan, berat badan ≥2500-4000 gram, skor Apgar ≥7) dimana bayi diacak, terbagi dua kelompok, yaitu kelompok I yang dilakukan pengikatan tali pusat dini (15 detik setelah lahir) dan tertunda (2 menit setelah lahir) pada kelompok II. Bayi diletakkan di atas perut ibu sebelum dilakukan pemotongan tali pusat  dan kadar bilirubin  bayi  diukur  dari  darah  vena umbilikal yang diambil 24-48 jam setelah lahir. &#xD;
Hasil. Dari total 63 bayi, terdiri dari 32 bayi pada kelompok I dan 31 bayi pada kelompok II. Nilai rerata bilirubin  pada kelompok I  4.07 (1.14) mg/dl  dan 4.76 (1.71) mg/dl pada kelompok II ( P=0.064).&#xD;
Kesimpulan. Tidak ada perbedaan bermakna pada kadar bilirubin antara pengikatan tali pusat dini dan tertunda.</summary>
    <dc:date>2011-06-16T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Triana, Anna</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang. Pada waktu dilahirkan bayi masih tetap berhubungan dengan ibunya melalui tali pusat. Bayi dipisahkan dari plasenta dengan melakukan pengikatan dan pemotongan tali pusat. Namun sampai saat ini waktu yang paling tepat untuk pengikatan tali pusat masih kontroversial. Waktu pengikatan tali pusat dikenal dengan pengikatan tali pusat dini (15 detik) dan tertunda (45 detik sampai pulsasi tali pusat berhenti) setelah bayi lahir. Departemen Kesehatan RI sejak tahun 2007 merekomendasikan penundaan pengikatan tali pusat selama 2 menit pada bayi normal dengan tujuan mengurangi kejadian anemia dan meningkatkan cadangan besi, namun dapat juga memberikan efek yang tidak baik yaitu neonatal jaundice.&#xD;
Tujuan.  Mengetahui dampak waktu pengikatan tali pusat terhadap kadar bilirubin bayi baru lahir.&#xD;
Metode. Suatu penelitian uji klinis acak sederhana tersamar tunggal yang dilakukan sejak bulan September 2008 sampai Juni 2009, di dua RSU Pemerintah, dilakukan pada bayi baru lahir yang memenuhi kriteria (cukup bulan, kehamilan tunggal, partus spontan, berat badan ≥2500-4000 gram, skor Apgar ≥7) dimana bayi diacak, terbagi dua kelompok, yaitu kelompok I yang dilakukan pengikatan tali pusat dini (15 detik setelah lahir) dan tertunda (2 menit setelah lahir) pada kelompok II. Bayi diletakkan di atas perut ibu sebelum dilakukan pemotongan tali pusat  dan kadar bilirubin  bayi  diukur  dari  darah  vena umbilikal yang diambil 24-48 jam setelah lahir. &#xD;
Hasil. Dari total 63 bayi, terdiri dari 32 bayi pada kelompok I dan 31 bayi pada kelompok II. Nilai rerata bilirubin  pada kelompok I  4.07 (1.14) mg/dl  dan 4.76 (1.71) mg/dl pada kelompok II ( P=0.064).&#xD;
Kesimpulan. Tidak ada perbedaan bermakna pada kadar bilirubin antara pengikatan tali pusat dini dan tertunda.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efektivitas Amitriptilin Sebagai Terapi Preventif Serangan Nyeri Kepala Migren Pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26123" />
    <author>
      <name>Zulkifli, Astri Nurhayati</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/26123</id>
    <updated>2013-03-16T19:36:44Z</updated>
    <published>2011-06-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Zulkifli, Astri Nurhayati
Advisors: Saing, Bistok; Supriatmo
Abstract: Background: Migraine is a cause of recurrent headache in childhood. The efficacy of amitriptyline is well known as a prophylactic treatment in adults, whereas in children and adolescents do not have sufficient data.&#xD;
Objective: To determine the efficacy of amitriptyline as the prophylactic treatment of migraine in adolescents.&#xD;
Methods: We conduct a single-blind randomized controlled trial in Medan, North Sumatra, from July until October 2009. Participants eligible for migraine according to International Headache Society criteria were included in the study. They were divided into two groups, each group was given 10 mg of amitriptyline or placebo for 3 months. Headache frequency was measured in headache days per month, duration was measured in hours and functional disability was measured by Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). The efficacy was measured before, during and after intervention.&#xD;
Results: A total of 98 patients, ranging in age from 12 until19 years (mean age 14.69 years) were enrolled to the study, and divided into amitriptyline and placebo groups. Compared to baseline, there were significant difference on headache frequency and PedMIDAS score in amitriptyline group (P=0.001, 95%CI (2.023;2.937) and P=0.001, 95%CI (7.664;9.756), but not in placebo group (P&gt;0.05). There were significant differences on frequency, duration, and functional disability in amitriptyline groups compared to placebo after 3 months of treatment (P&lt; 0.05). &#xD;
Conclusion: Amitriptyline appears to be effective in prophylactic treatment of migraine in adolescent after 3 months of intervention.
Abstract (other language): Latar belakang: Migren merupakan penyebab tersering nyeri kepala berulang pada anak dan remaja. Efikasi amitriptilin sebagai terapi preventif nyeri kepala migren telah luas berkembang pada dewasa, sedangkan pemakaiannya pada anak dan remaja masih memiliki keterbatasan data.&#xD;
Tujuan: Menilai efikasi amitriptilin sebagai terapi preventif serangan nyeri kepala migren pada remaja. &#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar tunggal dilakukan di Medan, Sumatera Utara antara bulan Juli hingga Oktober 2009. Penderita yang memenuhi kriteria migren sesuai dengan The International Headache Society (IHS) dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup amitriptilin yang mendapat 10 mg amitriptilin atau grup plasebo selama 3 bulan. Frekuensi nyeri kepala dinilai dalam hari per bulan, durasi dinilai dalam jam dan disabilitas fungsi dinilai dengan menggunakan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). Efikasi pengobatan dinilai sebelum, selama dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 hingga 19 tahun (rerata 14.69 tahun), dan dibagi atas dua kelompok. Dibandingkan sebelum pengobatan, terdapat perbedaan yang bermakna pada frekuensi nyeri kepala dan skor PedMIDAS pada kelompok amitriptilin (P=0.001, IK 95% (2.023;2.937) dan P=0.001, IK 95% (7.664;9.756), tetapi tidak pada kelompok plasebo. (P&gt;0.05). Terdapat perbedaan yang bermakna pada frekuensi, durasi dan disabilitas fungsi pada kelompok amitriptilin dibandingkan plasebo setelah 3 bulan.( P&lt; 0.05). &#xD;
Kesimpulan:  Amitriptilin efektif sebagai terapi preventif serangan nyeri kepala migren pada remaja setelah pengobatan selama 3 bulan.</summary>
    <dc:date>2011-06-15T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Zulkifli, Astri Nurhayati</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Migren merupakan penyebab tersering nyeri kepala berulang pada anak dan remaja. Efikasi amitriptilin sebagai terapi preventif nyeri kepala migren telah luas berkembang pada dewasa, sedangkan pemakaiannya pada anak dan remaja masih memiliki keterbatasan data.&#xD;
Tujuan: Menilai efikasi amitriptilin sebagai terapi preventif serangan nyeri kepala migren pada remaja. &#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar tunggal dilakukan di Medan, Sumatera Utara antara bulan Juli hingga Oktober 2009. Penderita yang memenuhi kriteria migren sesuai dengan The International Headache Society (IHS) dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup amitriptilin yang mendapat 10 mg amitriptilin atau grup plasebo selama 3 bulan. Frekuensi nyeri kepala dinilai dalam hari per bulan, durasi dinilai dalam jam dan disabilitas fungsi dinilai dengan menggunakan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). Efikasi pengobatan dinilai sebelum, selama dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 hingga 19 tahun (rerata 14.69 tahun), dan dibagi atas dua kelompok. Dibandingkan sebelum pengobatan, terdapat perbedaan yang bermakna pada frekuensi nyeri kepala dan skor PedMIDAS pada kelompok amitriptilin (P=0.001, IK 95% (2.023;2.937) dan P=0.001, IK 95% (7.664;9.756), tetapi tidak pada kelompok plasebo. (P&gt;0.05). Terdapat perbedaan yang bermakna pada frekuensi, durasi dan disabilitas fungsi pada kelompok amitriptilin dibandingkan plasebo setelah 3 bulan.( P&lt; 0.05). &#xD;
Kesimpulan:  Amitriptilin efektif sebagai terapi preventif serangan nyeri kepala migren pada remaja setelah pengobatan selama 3 bulan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Antara Kadar Hemoglobin dan Nilai&#xD;
Rasio Jantung Toraks Pada Penderita Anemia &#xD;
Berat Kronis</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24771" />
    <author>
      <name>Wahyuni, Fera</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24771</id>
    <updated>2011-09-14T23:28:59Z</updated>
    <published>2011-05-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wahyuni, Fera
Advisors: Ali, Muhammad; Lubis, Bidasari
Abstract: Background Chronic severe anemia usually increases cardiac output when the hemoglobin level is below or equal to 7 g/dL for more than three months. Chronic severe anemia is associated with a high incidence of cardiac enlargement and congestive heart failure. &#xD;
Objective To determine the relationship between hemoglobin level and cardiothoracic ratio in children with chronic severe anemia. &#xD;
Methods A cross-sectional study was conducted in Haji Adam Malik Hospital Medan, Indonesia in October 2009 to December 2009. Consecutive samples were 1 year to 15 years old chronic severe anemia children. Hematological data was collected at the beginning of the study. The heart is considered enlarged if the cardiothoracic ratio is more than 50 per cent (0.50) in chest roentgenogram. Univariate analysis and linear regression were performed. &#xD;
Results Thirty samples were enrolled to study. The mean of age was 115.7 months (SD 56.95). The hemoglobin level values ranged from 2.1 to 6.9 g/dL. The mean of hemoglobin was 4.7 g/dL (SD 1.48). Enlargement of the heart was found in 27 patients (90%). The cardiothoracic ratio in these patients varied from 0.52 to 0.69. There was a significant association between hemoglobin and CTR with quite strong correlation (P &lt; 0.05 and r = - 0.612). Based on the line equation, Y represent of CTR = 0.66 – 0.03(hemoglobin), with this equation we can predict cardiothoracic ratio if hemoglobin level is noted.&#xD;
Conclusion We concluded there was a strong enough relation between hemoglobin level and cardiothoracic ratio in children with chronic severe anemia.  &#xD;
Lower hemoglobin level is associated with greater alteration in cardiothoracic ratio. It is also possible that low hemoglobin level is a marker of the alteration of cardiothoracic ratio.
Abstract (other language): Latar belakang Pada anemia berat kronis  terjadi peningkatan cardiac output yaitu ketika kadar hemoglobin di bawah atau sama dengan 7 g/dL  selama lebih dari tiga bulan berturut-turut. Anemia berat kronis dihubungkan dengan peningkatan kejadian pembesaran jantung dan gagal jantung. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan rasio jantung toraks pada anak anemia berat kronis. &#xD;
Metode Suatu penelitian cross sectional dilaksanakan di RS. Haji Adam Malik Medan, Indonesia pada bulan Oktober 2009 sampai dengan Desember 2009. Sampel diambil secara consecutive samples  yaitu anak usia 1 tahun sampai 15 tahun yang menderita anemia berat kronis. Data hematologi diambil pada awal penelitian. Jantung dinyatakan membesar bila pada pemeriksaan foto toraks didapati rasio jantung toraks lebih dari 50 persen (0.50). Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan regresi linier. &#xD;
Hasil Tiga puluh sampel diikutkan pada penelitian ini.  Rerata usia anak yaitu 115.7 bulan (SD 56.95). Kadar hemoglobin antara 2.1 sampai 6.9 g/dL. Rerata kadar hemoglobin adalah 4.7 g/dL (SD 1.48). Pembesaran jantung ditemukan pada 27 pasien (90%).  Rasio jantung toraks bervariasi antara 0.52 sampai 0.69. Hubungan kadar hemoglobin dan rasio jantung toraks menunjukkan hasil yang bermakna dengan nilai  P = 0.001 (P &lt; 0.05). dan koefisien korelasi Pearson adalah r = - 0.612. Berdasarkan persamaan garis Y= 0.66 – 0.03 (hemoglobin), dengan nilai Y adalah mewakili RJT, dengan rumus tersebut dapat memperkirakan nilai RJT sesuai dengan kadar hemoglobin yang diketahui.&#xD;
Kesimpulan Data penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan RJT pada anak penderita anemia berat kronis. Semakin rendah kadar hemoglobin, maka semakin besar pula nilai rasio jantung toraks. Hal ini memungkinkan bahwa kadar hemoglobin rendah sebagai tanda bahwa telah terjadi perubahan rasio jantung toraks.</summary>
    <dc:date>2011-05-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wahyuni, Fera</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Pada anemia berat kronis  terjadi peningkatan cardiac output yaitu ketika kadar hemoglobin di bawah atau sama dengan 7 g/dL  selama lebih dari tiga bulan berturut-turut. Anemia berat kronis dihubungkan dengan peningkatan kejadian pembesaran jantung dan gagal jantung. &#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dengan rasio jantung toraks pada anak anemia berat kronis. &#xD;
Metode Suatu penelitian cross sectional dilaksanakan di RS. Haji Adam Malik Medan, Indonesia pada bulan Oktober 2009 sampai dengan Desember 2009. Sampel diambil secara consecutive samples  yaitu anak usia 1 tahun sampai 15 tahun yang menderita anemia berat kronis. Data hematologi diambil pada awal penelitian. Jantung dinyatakan membesar bila pada pemeriksaan foto toraks didapati rasio jantung toraks lebih dari 50 persen (0.50). Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan regresi linier. &#xD;
Hasil Tiga puluh sampel diikutkan pada penelitian ini.  Rerata usia anak yaitu 115.7 bulan (SD 56.95). Kadar hemoglobin antara 2.1 sampai 6.9 g/dL. Rerata kadar hemoglobin adalah 4.7 g/dL (SD 1.48). Pembesaran jantung ditemukan pada 27 pasien (90%).  Rasio jantung toraks bervariasi antara 0.52 sampai 0.69. Hubungan kadar hemoglobin dan rasio jantung toraks menunjukkan hasil yang bermakna dengan nilai  P = 0.001 (P &lt; 0.05). dan koefisien korelasi Pearson adalah r = - 0.612. Berdasarkan persamaan garis Y= 0.66 – 0.03 (hemoglobin), dengan nilai Y adalah mewakili RJT, dengan rumus tersebut dapat memperkirakan nilai RJT sesuai dengan kadar hemoglobin yang diketahui.&#xD;
Kesimpulan Data penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan RJT pada anak penderita anemia berat kronis. Semakin rendah kadar hemoglobin, maka semakin besar pula nilai rasio jantung toraks. Hal ini memungkinkan bahwa kadar hemoglobin rendah sebagai tanda bahwa telah terjadi perubahan rasio jantung toraks.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh  Anemia Defisiensi Besi pada Ibu    &#xD;
terhadap Kadar T3,T4 dan TSH Bayi Baru Lahir</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24551" />
    <author>
      <name>Suratmin</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24551</id>
    <updated>2011-09-14T04:08:44Z</updated>
    <published>2011-05-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Suratmin
Advisors: Hakimi, H.; Deliana, Melda
Abstract: Background Prevalence of iron deficiency anemia in infants is associated to the prevalence of iron deficiency anemia in pregnancy. There are many factors that influence the prevalence of iron deficiency anemia in infants. A baby of anemic mother has lower haemoglobin level than non anemic mother. Several studies were suggested that iron deficiency anemia in neonate can influence the work of thyroid peroxydase (TPO) enzyme to produce thyroid hormones. A study reported that iron deficiency anemic mothers had lower thyroxine (T4) and triidothyronine (T3) concentrations, and this condition can influence haemoglobin level and thyroid function in newborn.      &#xD;
Objective To  determine the effects of iron deficiency anemia during pregnancy to newborn’s T3, T4, and TSH level. &#xD;
Methods  A cross-sectional study in determining effects of iron deficiency anemia during pregnancy to newborn’s T3, T4, and TSH level was performed in September to December 2009 in two public hospitals, enrolled newborns with the criteria (term, single pregnancy, labor, birth weight ≥2500-4000, APGAR score ≥7). Mother’s blood was taken for complete blood count, T3, T4, and ferritin level to get the baseline data of iron deficiency anemia. The newborn was placed onto the mother’s abdomen before the umbilical cord was cut, and then the haematocrit, haemoglobin, ferritin, T3, T4, and TSH level were measured from the umbilical blood vein in 24 hours of life.     &#xD;
Results The average of T3, T4, and TSH level of 40 newborns whose mother’s were iron deficiency anemia, were 2.23 nmol/L (SD 1.20 nmol/L), 8.54 ug/dL (SD 6.18 ug/dL), 15.45 uIU/mL (SD 3.95), respectively. Several babies had anemia with hemoglobin level &lt;14 g%.  There was no significant relationship between iron deficiency anemia during pregnancy with T3 (P= 0,96), and TSH (P=0,294) level of the newborn, but significant relation present in T4.&#xD;
Conclusion There was no significant relationship between iron deficiency anemia during pregnancy with T3 and TSH level of the newborn, but significant relation present in T4.</summary>
    <dc:date>2011-05-18T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Suratmin</dc:creator>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efikasi Riboflavin Sebagai Terapi Preventif &#xD;
Nyeri Kepala Migren Pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24357" />
    <author>
      <name>Athaillah</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/24357</id>
    <updated>2011-09-14T23:21:41Z</updated>
    <published>2011-05-13T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Athaillah
Advisors: Saing, Bistok; Hakimi, H.
Abstract: Background: Migraine is a cause of recurrent headache in childhood. The efficacy of riboflavin is well known as a preventif treatment in adults, whereas in children and adolescents do not have sufficient data.&#xD;
Objective: To assess the effectiveness of riboflavin as the preventive treatment of migraine in adolescents.&#xD;
Methods: We conducted a randomized double-blind controlled trial in Islamic centre of Musthafawiyah Mandailing Natal districs, North Sumatera, from May until July 2010. Participants with migraine according to International Headache Society criteria were included in the study. They were divided into two groups, each group received 400 mg of riboflavin  or placebo for 3 months. Headache frequency was measured in headache days per month, duration was measured in hours and functional disability was measured by Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). The efficacy was measured before, during and after intervention. Student t-.tes was used in this study&#xD;
Results: A total of 98 patients, ranging in age from 12 to 19 years (mean age 14.0 years) were enrolled to the study. Three months after intervention, we evaluated the headache frequency, duration, disability and PedMIDAS score. We found significant reduction in headache frequency  there were significant difference on headache frequency P= 0,029, 95% CI (0.104;1.891) , duration P= 0,001, 95% CI (0.001;0.03) disability P=0,001, 95% CI (0.001;0.03) and PedMIDAS score P= 0,001 95% CI (6.793;9.673)  in riboflavin group. &#xD;
Conclusion: Riboflavin appears to be effective in preventif treatment of migraine in adolescents after 3 months of intervention.
Abstract (other language): Latar belakang: Migren merupakan penyebab tersering nyeri kepala berulang pada anak dan remaja. Efikasi riboflavin sebagai terapi profilaktik nyeri kepala migren telah luas berkembang pada dewasa, sedangkan pemakaiannya pada anak dan remaja masih memiliki data yang terbatas.&#xD;
Tujuan: Menilai efikasi riboflavin sebagai terapi profilaktik nyeri kepala migren pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar ganda dilakukan di pondok pesantren Musthafawiyah desa purba baru kecamatan lembah Sorik Merapi kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara antara bulan May hingga Juli 2010. Penderita yang memenuhi kriteria migren sesuai dengan International Headache Society (IHS)  dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup riboflavin yang mendapat 400 mg riboflavin atau grup plasebo selama 3 bulan. Frekuensi nyeri kepala dinilai dalam hari per bulan, durasi dinilai dalam jam dan disabilitas fungsi dinilai dengan menggunakan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). Efikasi pengobatan dinilai sebelum, selama dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 19 tahun  (rerata  14.0 tahun),  dan  dibagi atas  dua  kelompok.  Setelah 3 bulan diintervensi, kami menemukan penurunan yang bermakna dalam frekuensi nyeri kepala sejak bulan pertama sampai bulan ketiga. Durasi nyeri kepala hanya berbeda bermakna pada bulan kedua dan ketiga (P = 0,012 dan P = 0,001, berturut-turut). Perbaikan dari  disabilitas yang dinilai dengan skor PedMIDAS yang lebih kecil ditunjukkan pada kelompok riboflavin dibandingkan dengan plasebo (26,1 dan 34,3 P = 0,001).&#xD;
Kesimpulan: riboflavin efektif sebagai terapi preventif nyeri kepala migren pada remaja&#xD;
setelah pengobatan selama 3 bulan.</summary>
    <dc:date>2011-05-13T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Athaillah</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Migren merupakan penyebab tersering nyeri kepala berulang pada anak dan remaja. Efikasi riboflavin sebagai terapi profilaktik nyeri kepala migren telah luas berkembang pada dewasa, sedangkan pemakaiannya pada anak dan remaja masih memiliki data yang terbatas.&#xD;
Tujuan: Menilai efikasi riboflavin sebagai terapi profilaktik nyeri kepala migren pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian uji klinis acak tersamar ganda dilakukan di pondok pesantren Musthafawiyah desa purba baru kecamatan lembah Sorik Merapi kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara antara bulan May hingga Juli 2010. Penderita yang memenuhi kriteria migren sesuai dengan International Headache Society (IHS)  dimasukkan dalam penelitian. Partisipan dibagi atas dua grup yaitu grup riboflavin yang mendapat 400 mg riboflavin atau grup plasebo selama 3 bulan. Frekuensi nyeri kepala dinilai dalam hari per bulan, durasi dinilai dalam jam dan disabilitas fungsi dinilai dengan menggunakan Pediatric Migraine Disability Assessment Scale (PedMIDAS). Efikasi pengobatan dinilai sebelum, selama dan setelah pengobatan.&#xD;
Hasil: Sebanyak 98 orang remaja mengikuti penelitian dengan rentang usia 12 sampai 19 tahun  (rerata  14.0 tahun),  dan  dibagi atas  dua  kelompok.  Setelah 3 bulan diintervensi, kami menemukan penurunan yang bermakna dalam frekuensi nyeri kepala sejak bulan pertama sampai bulan ketiga. Durasi nyeri kepala hanya berbeda bermakna pada bulan kedua dan ketiga (P = 0,012 dan P = 0,001, berturut-turut). Perbaikan dari  disabilitas yang dinilai dengan skor PedMIDAS yang lebih kecil ditunjukkan pada kelompok riboflavin dibandingkan dengan plasebo (26,1 dan 34,3 P = 0,001).&#xD;
Kesimpulan: riboflavin efektif sebagai terapi preventif nyeri kepala migren pada remaja&#xD;
setelah pengobatan selama 3 bulan.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efektivitas Fototerapi Tunggal Dibandingkan&#xD;
Fototerapi Ganda Pada Neonatus Dengan &#xD;
Hiperbilirubinemia Indirek</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23784" />
    <author>
      <name>Milyana, Nanda Susanti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23784</id>
    <updated>2011-09-15T00:29:22Z</updated>
    <published>2011-05-05T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Milyana, Nanda Susanti
Advisors: Tjipta, Guslihan  Dasa; Ali, Muhammad
Abstract: Background: Hyperbilirubinemia is one of the most common problems in term newborns and the phototherapy is the most widespread treatment for lowering bilirubin concentration in neonates. The double phototherapy unit could increase effectiveness of phototherapy.&#xD;
Objective: To compare the effectiveness of single phototherapy and double  phototherapy in decreasing serum bilirubin and increasing spectral irradiance&#xD;
Methods: An  open, randomized controlled trial was conducted  at both H. Adam Malik Hospital Medan and   Pirngadi Hospital Medan  since  June to December 2009. Subject divided into 2 group, one group received single phototherapy (n=30) and the other received double phototherapy (n=30). The criteria for inclusion in the study were  term newborns with neonatal jaundice presenting in the first week of life. Serum bilirubin level and average spectral irradiation level measured at baseline and after12 h, 24 h of phototherapy. &#xD;
Results: The mean total bilirubin level of single and double phototherapy groups at the beginning of therapy were 17.7(SD1,45) and 17.5(SD1.34) mg/dL respectively, there was no significant difference between the values. After 12 hours of therapy the mean decrease in total serum  bilirubin levels of single and double phototherapy group were 0.1 (SD 0.167) and 6.52 (SD 0.62) mg/dL respectively. The mean  decreased  in  total  serum bilirubin levels were significant differences between two groups  (P&lt;0.05). During the study period the sum of average spectral irradiance by double phototherapy was significantly higher than of the single phototherapy (P&lt; 0.05).&#xD;
Conclusion: Our study showed that double phototherapy is more effective than single phototherapy in reduction of bilirubin in jaundiced newborns.
Abstract (other language): Latar belakang: Hiperbilirubinemia merupakan salah satu dari banyak permasalahan  pada bayi cukup bulan dan fototerapi merupakan terapi yang banyak digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin pada bayi. Fototerapi ganda dapat meningkatkan efektivitas fototerapi.&#xD;
Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas fototerapi tunggal dan fototerapi ganda dalam menurunkan kadar bilirubin dan meningkatkan spektrum iradiansi&#xD;
Metode: Uji klinis terbuka, dilakukan di 2 RS, RS.H.Adam Malik  dan  RS. Dr. Pirngadi Medan. Penelitian dimulai bulan Juni 2009 sampai Desember 2009., Sampel dibagi 2 grup secara acak sederhana. Satu grup dengan menggunakan fototerapi tunggal (n=30) dan drup yang ke 2 menggunakan fototerapi ganda (n=30). Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah cukup bulan sesuai masa kehamilan yang secara klinis dijumpai ikterus atau kuning pada minggu pertama kehidupan. Serum bilirubin dan tingkat spektrum iradiansi diukur pada awal, 12 jam dan setelah 24 jam fototerapi.&#xD;
Hasil: Rerata kadar bilirubin awal pada ke dua grup yang menggunakan fototerapi ganda dan tunggal  saat dimulai fototerapi adalah 17 mg/ dL, tidak ada perbedaan yang signikan antara ke 2 grup. Setelah 12 jam fototerapi terjadi penurunan kadar bilirubin pada grup fototerapi tunggal 0.1 (SD 0.167) dan grup fototerapi ganda  6.5 (SD 0.62) mg/dL. Penurunan rerata  kadar serum bilirubin berbeda signifikan antara ke 2 grup (P&lt;0.05). Selama penelitian spektrum iradiansi  secara signifikan  lebih tinggi  pada grup fototerapi ganda dibandingkan fototerapi tunggal (P&lt;0.05).&#xD;
Kesimpulan: Penelitian kami dapat  bahwa  fototerapi ganda lebih efektif dalam menurunkan kadar bilirubin pada bayi-bayi dengan hiperbilirubinemia dengan peningkatan spectrum iradiansi.</summary>
    <dc:date>2011-05-05T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Milyana, Nanda Susanti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Hiperbilirubinemia merupakan salah satu dari banyak permasalahan  pada bayi cukup bulan dan fototerapi merupakan terapi yang banyak digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin pada bayi. Fototerapi ganda dapat meningkatkan efektivitas fototerapi.&#xD;
Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas fototerapi tunggal dan fototerapi ganda dalam menurunkan kadar bilirubin dan meningkatkan spektrum iradiansi&#xD;
Metode: Uji klinis terbuka, dilakukan di 2 RS, RS.H.Adam Malik  dan  RS. Dr. Pirngadi Medan. Penelitian dimulai bulan Juni 2009 sampai Desember 2009., Sampel dibagi 2 grup secara acak sederhana. Satu grup dengan menggunakan fototerapi tunggal (n=30) dan drup yang ke 2 menggunakan fototerapi ganda (n=30). Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah cukup bulan sesuai masa kehamilan yang secara klinis dijumpai ikterus atau kuning pada minggu pertama kehidupan. Serum bilirubin dan tingkat spektrum iradiansi diukur pada awal, 12 jam dan setelah 24 jam fototerapi.&#xD;
Hasil: Rerata kadar bilirubin awal pada ke dua grup yang menggunakan fototerapi ganda dan tunggal  saat dimulai fototerapi adalah 17 mg/ dL, tidak ada perbedaan yang signikan antara ke 2 grup. Setelah 12 jam fototerapi terjadi penurunan kadar bilirubin pada grup fototerapi tunggal 0.1 (SD 0.167) dan grup fototerapi ganda  6.5 (SD 0.62) mg/dL. Penurunan rerata  kadar serum bilirubin berbeda signifikan antara ke 2 grup (P&lt;0.05). Selama penelitian spektrum iradiansi  secara signifikan  lebih tinggi  pada grup fototerapi ganda dibandingkan fototerapi tunggal (P&lt;0.05).&#xD;
Kesimpulan: Penelitian kami dapat  bahwa  fototerapi ganda lebih efektif dalam menurunkan kadar bilirubin pada bayi-bayi dengan hiperbilirubinemia dengan peningkatan spectrum iradiansi.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh Terhadap &#xD;
Percepatan Menarke Pada Anak Perempuan</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23602" />
    <author>
      <name>Olivia, Dina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23602</id>
    <updated>2011-09-14T22:32:42Z</updated>
    <published>2011-05-02T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Olivia, Dina
Advisors: Deliana, Melda; Supriatmo
Abstract: Backgrounds   In trend,  early age at menarke in young girls. Nutrition status has an important role in attainment of  menarche. Some studies had shown that asociation between body mass index (BMI) young girl with age at menarche. &#xD;
Objective    The aim this study was to assess the association of BMI with age of menarche &#xD;
Methods  This is cross sectional’s study .The recruitmen of samples with purposive sampling in young girls aged 10 until 15 years old at primary and elementary school in Immanuel’s school Medan at Juli 2010.  The subjects whom according inclusion and exclusion criteria were measured height and body weight.The measured of  body weight was microtoir  2 m with precision 0.5 cm, that was standing without foundation of the foot with saw to front, buttock and heels patched to wall, then measured body height from foundation to top of head. The measurement of body weight with pair of scales in precision 0.5 kg. The measurement of body weigh without foundation of the foot and with clothing of school. The association between BMI and early age of menarche assessed  with  chu square and Pearson’s correlation test with P &lt; 0.05 and confidence interval 95%.&#xD;
Results   Eighthy five subjects were participated in this study. After measured the BMI, we found body weigh at percentile 5 -85, 85-95 , and &gt; 95 consist 44, 29 , and 12 .Then,  we found associaton negatif and strong among these group (r  -0.38  P 0.0001)&#xD;
.Conclusion   Body mass index  association body mass  index BMI) with a menarche  . Then, add of body mass index will accelerate of menarcShe in young girls.
Abstract (other language): Latar Belakang Saat ini usia menarke pada anak perempuan makin cepat. Status nutrisi sering dipertimbangkan memiliki pengaruh yang kuat terhadap menarke. Beberapa studi telah menunjukkan adanya kaitan indeks massa tubuh (IMT) seorang anak perempuan dengan usia pertama kali mendapat menstruasi (menarke).&#xD;
Tujuan.  Untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan usia pertama kali mendapat menstruasi.&#xD;
Metode  Studi ini merupakan studi cross sectional. Pemilihan sampel secara purposive sampling yang dilakukan pada murid remaja perempuan yang berusia 10 sampai 15 tahun di SD sampai SMP  sekolah swasta Immanuel di kota Medan yang dilakukan pada bulan Juli 2010. Semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diukur tinggi badan (TB) dan berat badan (BB). TB diukur  dengan menggunakan mikrotoir 2 m yang terbuat dari metal dengan tingkat presisi 0.5 cm, dimana posisi subjek berdiri tegak tanpa menggunakan alas kaki dengan muka lurus menghadap ke depan, bokong dan tumit menempel ke dinding, lalu TB diukur dari telapak kaki sampai batas atas kepala. Pengukuran BB dengan timbangan berdiri yang memiliki tingkat presisi 0.5 kg. Subjek ditimbang tanpa alas kaki dan hanya memakai seragam sekolah, lalu diukur indeks massa tubuh  (IMT). Hubungan antara IMT dengan usia menarke dinilai dengan uji chi-square dan korelasi Pearson, dengn P &lt; 0.05 dan interval kepercayaa 95%&#xD;
Hasil    Delapan puluh lima subjek berpartisipasi dalam penelitian ini, diperoleh anak dengan berat badan pada persentil 5-85,  85-95, dan di atas 95, masing-masing 44,29, dan 12. Ditemukan perbedaan yang bermakna usia rata-rata menarke antara kelompok persentil 5-85, 85-95, dan di atas  95&#xD;
(IK 95% -9.00; -5.97   P 0.0001). Selanjutnya didapati korelasi yang kuat dan berpola negatif antara indeks massa tubuh dengan usia menarke ( r : - 0.38    P: 0.0001)&#xD;
Kesimpulan  Indeks masa tubuh mempengaruhi  usia menarke. Semakin besar indeks masa tubuh maka usia menarke akan semakin cepat.</summary>
    <dc:date>2011-05-02T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Olivia, Dina</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang Saat ini usia menarke pada anak perempuan makin cepat. Status nutrisi sering dipertimbangkan memiliki pengaruh yang kuat terhadap menarke. Beberapa studi telah menunjukkan adanya kaitan indeks massa tubuh (IMT) seorang anak perempuan dengan usia pertama kali mendapat menstruasi (menarke).&#xD;
Tujuan.  Untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan usia pertama kali mendapat menstruasi.&#xD;
Metode  Studi ini merupakan studi cross sectional. Pemilihan sampel secara purposive sampling yang dilakukan pada murid remaja perempuan yang berusia 10 sampai 15 tahun di SD sampai SMP  sekolah swasta Immanuel di kota Medan yang dilakukan pada bulan Juli 2010. Semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diukur tinggi badan (TB) dan berat badan (BB). TB diukur  dengan menggunakan mikrotoir 2 m yang terbuat dari metal dengan tingkat presisi 0.5 cm, dimana posisi subjek berdiri tegak tanpa menggunakan alas kaki dengan muka lurus menghadap ke depan, bokong dan tumit menempel ke dinding, lalu TB diukur dari telapak kaki sampai batas atas kepala. Pengukuran BB dengan timbangan berdiri yang memiliki tingkat presisi 0.5 kg. Subjek ditimbang tanpa alas kaki dan hanya memakai seragam sekolah, lalu diukur indeks massa tubuh  (IMT). Hubungan antara IMT dengan usia menarke dinilai dengan uji chi-square dan korelasi Pearson, dengn P &lt; 0.05 dan interval kepercayaa 95%&#xD;
Hasil    Delapan puluh lima subjek berpartisipasi dalam penelitian ini, diperoleh anak dengan berat badan pada persentil 5-85,  85-95, dan di atas 95, masing-masing 44,29, dan 12. Ditemukan perbedaan yang bermakna usia rata-rata menarke antara kelompok persentil 5-85, 85-95, dan di atas  95&#xD;
(IK 95% -9.00; -5.97   P 0.0001). Selanjutnya didapati korelasi yang kuat dan berpola negatif antara indeks massa tubuh dengan usia menarke ( r : - 0.38    P: 0.0001)&#xD;
Kesimpulan  Indeks masa tubuh mempengaruhi  usia menarke. Semakin besar indeks masa tubuh maka usia menarke akan semakin cepat.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Arus Puncak Ekspirasi pada Anak Perokok Pasif Dan Bukan Perokok   Pasif</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23520" />
    <author>
      <name>Yanti, Fitri</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23520</id>
    <updated>2011-09-14T21:27:40Z</updated>
    <published>2011-04-29T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Yanti, Fitri
Advisors: Daulay, Ridwan M; Ali, Muhammad
Abstract: Background Indonesia ranks fifth among countries with the highest aggregate levels of tobacco consumption in the world. It is estimated that more than 43 million children are living with smokers and are exposed to passive or environmental tobacco smoke. Infants and children exposed to ETS have increased rates of respiratory and ear infections, asthma and reduced lung function. The effects of tobacco smoke exposure on lung function in children are dependent on the source, timing and dose of exposure and may be modified by the sex of the child and the child’s asthma status.&#xD;
Objective To compare peak flow volume between passive with non passive smokers children and to define what factor that contribute to peak flow volume in passive smokers.&#xD;
Method A cross sectional study was conducted in Desa Telaga Jernih, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara during August 2009. Peak expiratory flow measured with mini-wright peak flow meter.&#xD;
Results One hundred seventy participants were eligible which consist of 100 passive smokers and 70 non passive smokers children. Distribution of age in both groups was almost the same, as well as the characteristics of weight and height of each group. There were significant difference of peak expiratory flow volume between passive and non passive smokers, 211.3 l/minute (SD 61.08) and 242.7 l/minute (SD 77.09) respectively (P &lt; 0.005). No influence of time of exposure (P = 0.079) and amount of tobacco smoking (P = 0.098).&#xD;
Conclusion There was a significant difference of peak expiratory flow volume between passive and non passive smokers. No difference of peak expiratory flow volume in passive smoker children by time of exposure nor amount of tobacco smoking.
Abstract (other language): Latar belakang: Indonesia menempati urutan kelima di antara negara-negara pengkonsumsi sigaret (rokok) tertinggi di dunia. Diperkirakan lebih dari 43 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar pada asap rokok pasif atau asap rokok lingkungan. Efek ini tidak terbatas pada perokok aktif saja, tetapi juga perokok pasif seperti janin dalam kandungan, neonatus, bayi dan anak. Efek asap rokok terhadap fungsi paru anak bergantung pada sumber, waktu dan dosis paparan dan dimodifikasi oleh jenis kelamin dan status asma pada anak tersebut.&#xD;
Tujuan: untuk membandingkan nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif dengan bukan perokok pasif dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional untuk menilai perbedaan nilai arus puncak ekspirasi antara anak perokok pasif dengan bukan perokok pasif. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. &#xD;
Hasil: Sebanyak 170 anak mengikuti penelitian yang dibagi menjadi 100 anak perokok pasif dan 70 anak bukan perokok pasif. Distribusi usia pada masing-masing kelompok hampir sama begitu juga berat badan dan tinggi badan. Terdapat perbedaan yang bermakna arus puncak ekspirasi pada perokok pasif dan bukan perokok pasif, 211.3 l/minute (SD 61.08) and 242.7 l/minute (SD 77.09) secara berurutan (p&lt;0.005). Tidak terdapat pengaruh lama paparan (p=0.079) dan jumlah konsumsi rokok pada anak perokok pasif (p = 0.098).&#xD;
Kesimpulan: Adanya perbedaan arus puncak ekspirasi pada perokok pasif dan bukan perokok pasif. Namun tidak ada perbedaan yang bermakna nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif baik berdasarkan jumlah konsumsi rokok orang tua per hari maupun lama paparan terhadap asap rokok.</summary>
    <dc:date>2011-04-29T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Yanti, Fitri</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Indonesia menempati urutan kelima di antara negara-negara pengkonsumsi sigaret (rokok) tertinggi di dunia. Diperkirakan lebih dari 43 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar pada asap rokok pasif atau asap rokok lingkungan. Efek ini tidak terbatas pada perokok aktif saja, tetapi juga perokok pasif seperti janin dalam kandungan, neonatus, bayi dan anak. Efek asap rokok terhadap fungsi paru anak bergantung pada sumber, waktu dan dosis paparan dan dimodifikasi oleh jenis kelamin dan status asma pada anak tersebut.&#xD;
Tujuan: untuk membandingkan nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif dengan bukan perokok pasif dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional untuk menilai perbedaan nilai arus puncak ekspirasi antara anak perokok pasif dengan bukan perokok pasif. Penelitian dilaksanakan selama Agustus 2009 di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. &#xD;
Hasil: Sebanyak 170 anak mengikuti penelitian yang dibagi menjadi 100 anak perokok pasif dan 70 anak bukan perokok pasif. Distribusi usia pada masing-masing kelompok hampir sama begitu juga berat badan dan tinggi badan. Terdapat perbedaan yang bermakna arus puncak ekspirasi pada perokok pasif dan bukan perokok pasif, 211.3 l/minute (SD 61.08) and 242.7 l/minute (SD 77.09) secara berurutan (p&lt;0.005). Tidak terdapat pengaruh lama paparan (p=0.079) dan jumlah konsumsi rokok pada anak perokok pasif (p = 0.098).&#xD;
Kesimpulan: Adanya perbedaan arus puncak ekspirasi pada perokok pasif dan bukan perokok pasif. Namun tidak ada perbedaan yang bermakna nilai arus puncak ekspirasi pada anak perokok pasif baik berdasarkan jumlah konsumsi rokok orang tua per hari maupun lama paparan terhadap asap rokok.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan makanan terhadap migren pada remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23436" />
    <author>
      <name>Bouhairet, Magda</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23436</id>
    <updated>2011-09-14T19:47:31Z</updated>
    <published>2011-04-28T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Bouhairet, Magda
Advisors: Saing, Bistok; Ali, Muhammad
Abstract: Background Migraine is a common problem worldwide especially in adolescent and is usually chronic with frequent relapses.Therefore, any risk of headaches related to diet has important implications on migraineurs. However, very few are aware of the association between migraine and diet. &#xD;
Objective To study the association of dietary in adolescent migraine.&#xD;
Methods We conducted a cross sectional study on August until September 2009 in the Darussalam senior high school Medan, North Sumatera. Adolescent were 13 to 18 years old. Participants eligible for the diagnosis of migraine according to International Headache Society (IHS) criteria were included in this study. Ninety respondents completed the questionnaire. The food observed were milk, chocolate, ice cream, cheese, bread, instant noodles, meat ball, sauce, sweetener, yoghurt, pizza, snack, and other foods and beverages. Chi square test was used in this study.&#xD;
Results A total of 90 participants, female had migraine more frequently (61.1%) than male. There were statistically significant association on migraine triggered by foods  P = 0.045 (95%CI 0.59;0.79), and family history P = 0.043 (95%CI 0.46;0.66). Stress (P = 0.164), menstruation (P = 0.996), sound or light  (P = 0.577) have no significant association with migraine. A wide variety of food and beverages had been implicated as migraine precipitants, the most common were sauce (75%), ice cream (71%), milk (71%), instant noodles (67.7%), chocolate (61%), peanuts (59.7%), cheese (54.8%) and meat ball (54.8%).&#xD;
Conclusion Food and family history of migraine had a significant association with the occurence of migraine in adolescents.
Abstract (other language): Latar belakang Migren merupakan masalah yang sering dijumpai pada masyarakat umum khususnya pada remaja, biasanya bersifat kronik dan berulang. Setiap sakit kepala sangat penting dihubungkan dengan diet sebagai faktor pencetus migren. Namun masih sedikit diketahui hubungan diet dengan migren.&#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan makanan terhadap migren pada remaja. &#xD;
Metode Suatu penelitian cross sectional dilakukan di Medan, Sumatera Utara pada bulan Agustus sampai September 2009. Subyek adalah anak berusia 13 sampai 18 tahun yang menderita migren sesuai dengan International Headache Society (IHS). Data diperoleh dengan kuesioner dimana 90 responden menyelesaikan kuesioner secara lengkap. Jenis makanan yang diamati adalah susu, coklat, es krim, keju, roti, mie instan, bakso, saus, pemanis buatan, minuman fermentasi, pizza, snack, makanan dan minuman lainnya. Untuk mengetahui hubungan makanan terhadap migren digunakan uji kai kuadrat.&#xD;
Hasil Sebanyak 90 remaja mengikuti penelitian dimana wanita (61.1%) lebih sering mengalami migren dibandingkan laki-laki (38.9%). Secara statistik, terdapat hubungan yang bermakna pada makanan sebagai pencetus migren P = 0.045 (IK 95% 0.59;0.79) dan riwayat keluarga menderita migren P = 0.043 (IK 95% 0.46;0.66). Faktor pencetus stres P = 0.16, menstruasi P = 0.996, pengaruh cahaya atau suara P = 0.577 tidak berhubungan bermakna terhadap migren. Jenis makanan yang umum mencetuskan migren saus (75%), es krim (71%), susu (71%), mie instan (67.7%), coklat (61%), kacang (59.7%), keju (54.8%), bakso (54.8%).&#xD;
Kesimpulan Hubungan makanan dan riwayat keluarga yang menderita migren bermakna secara statistik terhadap serangan migren pada remaja.</summary>
    <dc:date>2011-04-28T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Bouhairet, Magda</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Migren merupakan masalah yang sering dijumpai pada masyarakat umum khususnya pada remaja, biasanya bersifat kronik dan berulang. Setiap sakit kepala sangat penting dihubungkan dengan diet sebagai faktor pencetus migren. Namun masih sedikit diketahui hubungan diet dengan migren.&#xD;
Tujuan Untuk mengetahui hubungan makanan terhadap migren pada remaja. &#xD;
Metode Suatu penelitian cross sectional dilakukan di Medan, Sumatera Utara pada bulan Agustus sampai September 2009. Subyek adalah anak berusia 13 sampai 18 tahun yang menderita migren sesuai dengan International Headache Society (IHS). Data diperoleh dengan kuesioner dimana 90 responden menyelesaikan kuesioner secara lengkap. Jenis makanan yang diamati adalah susu, coklat, es krim, keju, roti, mie instan, bakso, saus, pemanis buatan, minuman fermentasi, pizza, snack, makanan dan minuman lainnya. Untuk mengetahui hubungan makanan terhadap migren digunakan uji kai kuadrat.&#xD;
Hasil Sebanyak 90 remaja mengikuti penelitian dimana wanita (61.1%) lebih sering mengalami migren dibandingkan laki-laki (38.9%). Secara statistik, terdapat hubungan yang bermakna pada makanan sebagai pencetus migren P = 0.045 (IK 95% 0.59;0.79) dan riwayat keluarga menderita migren P = 0.043 (IK 95% 0.46;0.66). Faktor pencetus stres P = 0.16, menstruasi P = 0.996, pengaruh cahaya atau suara P = 0.577 tidak berhubungan bermakna terhadap migren. Jenis makanan yang umum mencetuskan migren saus (75%), es krim (71%), susu (71%), mie instan (67.7%), coklat (61%), kacang (59.7%), keju (54.8%), bakso (54.8%).&#xD;
Kesimpulan Hubungan makanan dan riwayat keluarga yang menderita migren bermakna secara statistik terhadap serangan migren pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Prestasi Akademik Dengan Dan     Tanpa Nyeri Haid  Pada Anak Perempuan Pubertas</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23068" />
    <author>
      <name>Alam, Syamsir</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23068</id>
    <updated>2011-09-14T02:47:00Z</updated>
    <published>2011-04-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Alam, Syamsir
Advisors: Hakimi; Sembiring, Tiangsa
Abstract: Backgrounds Dysmenorrhea is the most common gynecological symptom reported in adolescents. Prevalence estimates vary from 45% to 75%. Absenteeism from work and school as a result of dysmenorrhoea is common (13% to 51% women have been absent at least once and 5% to 14% are often absent owing to the severity of symptoms). Dysmenorrhea association with psychologist and behavior factors and its effects their physical activities and school performance. Some studies had shown that association between school performance with dysmenorrhea. &#xD;
Objective To assess the comparison between school performance with and without dysmenorrhea in pubertal adolescents&#xD;
Methods A cross sectional study was conducted on Juni 2010.The samples were recruited with simple randomization in adolescents aged 10 until 18 years old at school of Musthafawiyah Mandailing Natal districs. All subjects who met the inclusion criteria were assessed their school performance on 2 consecutive semester in one year. In order to assessed the comparison between school performance with or without dysmenorrhea used X2 test.&#xD;
Results One hunderd and sixteen subject were participated in this study. After measured the school performance. No significant different on school performance with and without dysmenorrhea in two group (P=0.176 and P=008, 95%CI -0.05 to 0.05)&#xD;
Conclusion there was no significant  difference school performance between with and without dysmenorrhea
Abstract (other language): Latar belakang Nyeri haid  merupakan nyeri yang terjadi selama masa menstruasi.Angka kejadian nyeri haid berkisar antara 45% sampai 75% dari seluruh remaja  perempuan pubertas.  Dimana ketidak hadiran di sekolah   berkisar antara 13% sampai 51% serta 5% sampai 14% ketidak hadiran tersebut disebabkan beratnya gejala yang terjadi.  Nyeri haid  berhubungan dengan  faktor  perilaku dan psikologis. Selain itu dapat menyebabkan  pembatasan aktifitas sekolah dan  prestasi akademik. Beberapa studi telah menunjukkan adanya kaitan prestasi akademik dengan nyeri haid.&#xD;
Tujuan Untuk mengetahui perbandingan prestasi akademik dengan dan tanpa nyeri haid pada anak perempuan pubertas.&#xD;
Metode Studi ini merupakan studi cross sectional. Pemilihan sampel secara acak sederhana yang dilakukan pada anak remaja perempuan yang berusia 10 sampai 18 tahun di pondok pesantren Musthafawiyah  desa Purba Baru kecamatan Lembah Sorik Merapi kabupaten Mandailing Natal yang dilakukan pada bulan Juni 2010. Semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dinilai prestasi akademik selama dua semester berturut-turut.Untuk menilai perbandingan prestasi akademik dengan atau tanpa nyeri haid digunakan uji X2.&#xD;
Hasil Seratus enam belas subjek berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah dinilai prestasi akademik. Ditemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara prestasi akademik dengan atau tanpa nyeri haid (P 0.176 vs  P: 0.08). IK 95%:-0.05; 0.05&#xD;
Kesimpulan Tidak ditemukan adanya hubungan prestasi akademik dengan dan tanpa nyeri haid</summary>
    <dc:date>2011-04-21T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Alam, Syamsir</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Nyeri haid  merupakan nyeri yang terjadi selama masa menstruasi.Angka kejadian nyeri haid berkisar antara 45% sampai 75% dari seluruh remaja  perempuan pubertas.  Dimana ketidak hadiran di sekolah   berkisar antara 13% sampai 51% serta 5% sampai 14% ketidak hadiran tersebut disebabkan beratnya gejala yang terjadi.  Nyeri haid  berhubungan dengan  faktor  perilaku dan psikologis. Selain itu dapat menyebabkan  pembatasan aktifitas sekolah dan  prestasi akademik. Beberapa studi telah menunjukkan adanya kaitan prestasi akademik dengan nyeri haid.&#xD;
Tujuan Untuk mengetahui perbandingan prestasi akademik dengan dan tanpa nyeri haid pada anak perempuan pubertas.&#xD;
Metode Studi ini merupakan studi cross sectional. Pemilihan sampel secara acak sederhana yang dilakukan pada anak remaja perempuan yang berusia 10 sampai 18 tahun di pondok pesantren Musthafawiyah  desa Purba Baru kecamatan Lembah Sorik Merapi kabupaten Mandailing Natal yang dilakukan pada bulan Juni 2010. Semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dinilai prestasi akademik selama dua semester berturut-turut.Untuk menilai perbandingan prestasi akademik dengan atau tanpa nyeri haid digunakan uji X2.&#xD;
Hasil Seratus enam belas subjek berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah dinilai prestasi akademik. Ditemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara prestasi akademik dengan atau tanpa nyeri haid (P 0.176 vs  P: 0.08). IK 95%:-0.05; 0.05&#xD;
Kesimpulan Tidak ditemukan adanya hubungan prestasi akademik dengan dan tanpa nyeri haid</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hubungan Gangguan Ansietas dan Gangguan  &#xD;
Depresi Terhadap Kejadian Sakit Perut Berulang Pada Remaja</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23008" />
    <author>
      <name>Fastralina</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23008</id>
    <updated>2011-09-14T21:52:13Z</updated>
    <published>2011-04-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Fastralina
Advisors: Sofyani, Sri; Simbolon, M. Joesoef
Abstract: Background: Anxiety and depression disorders affect the academic performance and social aspect of school activities. Adolescents with these disorders tend to develop recurrent abdominal pain.&#xD;
Objective: To assess the association of  anxiety and depression disorders to recurrent abdominal pain in adolescents.&#xD;
Methods: A cross sectional study was conducted at three junior  and three senior high schools in Secanggang Sub-district, Langkat District, Sumatera Utara Province from August to September 2009. The samples for this study were selected through consecutive sampling technique. The samples were instructed to fill out the CBCL form. Those with anxious/depressed score ≥ 12 for boys aged 12 to 18 years old and ≥14 for girls and those with suspected depression (CDI score ≥13) were then examined by psychiatrist. The adolescent diagnosed with anxiety and depression disorder were instructed to fill out a recurrent abdominal pain questionnaire based  on Apley and Naish criteria. We have got a number of adolescents with and without recurrent abdominal pain.&#xD;
Results: The 144 students participated in this study were divided into two groups consisting of 84 students with anxiety disorder and 60 students with depression disorder. Sixty students of the anxiety disorder group and 31 students of the depression disorder group experienced recurrent abdominal pain. The prevalence of anxiety and depression disorder was 8,7%  and 6,25% respectively. There was  a significant relationship between anxiety disorder (P=0.008) and depression disorder (P=0.04) with recurrent abdominal pain.&#xD;
Conclusion The anxiety and depression disorder were associated to recurrent abdominal pain in adolescents.
Abstract (other language): Latar belakang: Gangguan ansietas dan gangguan depresi dapat menimbulkan dampak terhadap prestasi akademik dan aspek sosial lainnya dari kehidupan sekolah sehingga cukup mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Kedua gangguan ini lebih cenderung menunjukan adanya keluhan sakit perut berulang. &#xD;
Tujuan: Menilai hubungan gangguan ansietas dan gangguan depresi terhadap kejadian sakit perut berulang pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan di 3 SLTP dan 3 SLTA Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara dari bulan Agustus sampai September 2009. Pemilihan sampel dipilih dengan cara consecutive sampling. Sampel  yang terjaring melalui formulir CBCL dengan nilai kategori anxious/depressed untuk usia 12 sampai 18 tahun untuk anak laki-laki ≥ 12 dan anak perempuan ≥ 14  dan diduga mengalami depresi anak dengan skor CDI ≥ 13, kemudian diperiksa oleh psikiater berdasarkan PPDGJ III. Anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi kemudian mengisi kuesioner sakit perut berulang sesuai kriteria Apley dan Naish. Didapati jumlah siswa yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang dan yang tidak menderita sakit perut berulang.&#xD;
Hasil: Sebanyak 144 siswa ikut berpartisipasi pada penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gangguan ansietas sebanyak 84 orang dan 60 orang  kelompok gangguan depresi, dari kedua kelompok tersebut diperoleh 60 orang kelompok gangguan ansietas dan 31 orang kelompok gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang. Didapati  prevalensi gangguan ansietas sebanyak 8.7% dan gangguan depresi 6.25% pada remaja di lokasi penelitian. Pada penelitian ini juga didapati perbedaan yang signifikan pada kelompok gangguan ansietas (P=0.008)  dan gangguan depresi (P=0.04) dengan sakit perut berulang.&#xD;
Kesimpulan: Prevalensi remaja yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi sebanyak 8.7% dan 6.25%. Gangguan ansietas dan gangguan depresi mempunyai hubungan dengan kejadian sakit perut berulang pada remaja.</summary>
    <dc:date>2011-04-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Fastralina</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Gangguan ansietas dan gangguan depresi dapat menimbulkan dampak terhadap prestasi akademik dan aspek sosial lainnya dari kehidupan sekolah sehingga cukup mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Kedua gangguan ini lebih cenderung menunjukan adanya keluhan sakit perut berulang. &#xD;
Tujuan: Menilai hubungan gangguan ansietas dan gangguan depresi terhadap kejadian sakit perut berulang pada remaja.&#xD;
Metode: Suatu penelitian cross sectional dilakukan di 3 SLTP dan 3 SLTA Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara dari bulan Agustus sampai September 2009. Pemilihan sampel dipilih dengan cara consecutive sampling. Sampel  yang terjaring melalui formulir CBCL dengan nilai kategori anxious/depressed untuk usia 12 sampai 18 tahun untuk anak laki-laki ≥ 12 dan anak perempuan ≥ 14  dan diduga mengalami depresi anak dengan skor CDI ≥ 13, kemudian diperiksa oleh psikiater berdasarkan PPDGJ III. Anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi kemudian mengisi kuesioner sakit perut berulang sesuai kriteria Apley dan Naish. Didapati jumlah siswa yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang dan yang tidak menderita sakit perut berulang.&#xD;
Hasil: Sebanyak 144 siswa ikut berpartisipasi pada penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gangguan ansietas sebanyak 84 orang dan 60 orang  kelompok gangguan depresi, dari kedua kelompok tersebut diperoleh 60 orang kelompok gangguan ansietas dan 31 orang kelompok gangguan depresi yang menderita sakit perut berulang. Didapati  prevalensi gangguan ansietas sebanyak 8.7% dan gangguan depresi 6.25% pada remaja di lokasi penelitian. Pada penelitian ini juga didapati perbedaan yang signifikan pada kelompok gangguan ansietas (P=0.008)  dan gangguan depresi (P=0.04) dengan sakit perut berulang.&#xD;
Kesimpulan: Prevalensi remaja yang mengalami gangguan ansietas dan gangguan depresi sebanyak 8.7% dan 6.25%. Gangguan ansietas dan gangguan depresi mempunyai hubungan dengan kejadian sakit perut berulang pada remaja.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efek Zink Dalam Mengurangi Keparahan Diare Akut Bakteri dan Nonbakteri pada Anak</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23006" />
    <author>
      <name>Abdillah, Hafaz Zakky</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/23006</id>
    <updated>2011-09-14T21:49:35Z</updated>
    <published>2011-04-19T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Abdillah, Hafaz Zakky
Advisors: Supriatmo; Deliana, Melda
Abstract: Background. The incidence of diarrhea in Indonesia has declined in the last five years, but mortality remains high in children under five years, required an appropriate and comprehensive treatment. Studies on the treatment of acute diarrhea have been increasing, especially zinc. But not yet known whether the zinc is better in reducing the severity of acute bacterial diarrhea compared with nonbacterial diarrhea. &#xD;
Objective. The effect of zinc therapy purpose in reducing the severity of acute bacterial diarrhea and nonbacterial.&#xD;
Methods.  A cross-sectional study, conducted in children aged 2 months to 14 years in Public Health Secanggang Langkat district, North Sumatra, in August 2009 until November 2009. Patients who met the inclusion criteria are included in the study, carried out by microscopic stool examination to separate groups of bacterial diarrhea with nonbacterial. Both groups get zinc sulphate 10mg/day for age &lt;6 months, and 20mg/day for ≥ 6 months of age for 10 days. Severity of diarrhea is determined by frequency of diarrhea and duration of diarrhea after administration of therapy. To compare the difference between the two groups used the independent t-test. &#xD;
Results. Sixty-two children who met the inclusion criteria participated in this study, where 31 children suffering from bacterial diarrhea and the rest suffered from nonbacterial. There were no significant differences between groups bacterial and nonbacterial diarrhea. Frequency of diarrhea after therapy (2.61 vs. 2.70, p = 0,27), and duration of diarrhea (63.39vs.66.68,p=0,06). &#xD;
Conclusion.     The zinc is not more effective in reducing the severity of acute bacterial diarrhea compared nonbacterial.
Abstract (other language): Latar Belakang  Insiden diare di Indonesia semakin menurun dalam lima tahun terakhir, namun angka kematian pada Balita masih tinggi, diperlukan suatu penanganan yang tepat dan komprehensif. Studi tentang penanganan diare akut telah banyak dilakukan, terutama zink . Namun belum diketahui apakah zink lebih baik dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dibandingkan dengan diare nonbakteri.       &#xD;
Tujuan  Menilai efek terapi zink dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dan nonbakteri.&#xD;
Metode  Suatu penelitian Cross-Sectional, dilakukan pada anak usia 2 bulan sampai 14 tahun di PUSKESMAS Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Agustus 2009 sampai November 2009. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian, dilakukan pemeriksaan feses secara mikroskopis untuk memisahkan kelompok diare bakteri dengan diare nonbakteri. Kedua kelompok mendapatkan  zink sulfat  10mg/hari untuk usia &lt; 6 bulan, dan 20mg/hari untuk usia ≥ 6 bulan selama 10 hari. Keparahan diare ditentukan berdasarkan frekuensi diare dan lamanya diare setelah pemberian terapi. Untuk membandingkan perbedaan antara kedua kelompok digunakan uji-t independen.&#xD;
Hasil  Enam puluh dua anak yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi pada studi ini, dimana 31 anak menderita diare bakteri, dan sisanya menderita diare nonbakteri. Didapatkan perbedaan yang tidak bermakna antara kelompok diare nonbakteri dan bakteri. Frekuensi diare setelah terapi (2.61 vs 2.70, p=0.27), dan  lama diare (63.39 vs 66.68, p=0.06). &#xD;
Kesimpulan  Pemberian zink tidak lebih efektif dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dibandingkan nonbakteri.</summary>
    <dc:date>2011-04-19T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Abdillah, Hafaz Zakky</dc:creator>
    <dc:description>Latar Belakang  Insiden diare di Indonesia semakin menurun dalam lima tahun terakhir, namun angka kematian pada Balita masih tinggi, diperlukan suatu penanganan yang tepat dan komprehensif. Studi tentang penanganan diare akut telah banyak dilakukan, terutama zink . Namun belum diketahui apakah zink lebih baik dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dibandingkan dengan diare nonbakteri.       &#xD;
Tujuan  Menilai efek terapi zink dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dan nonbakteri.&#xD;
Metode  Suatu penelitian Cross-Sectional, dilakukan pada anak usia 2 bulan sampai 14 tahun di PUSKESMAS Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Agustus 2009 sampai November 2009. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian, dilakukan pemeriksaan feses secara mikroskopis untuk memisahkan kelompok diare bakteri dengan diare nonbakteri. Kedua kelompok mendapatkan  zink sulfat  10mg/hari untuk usia &lt; 6 bulan, dan 20mg/hari untuk usia ≥ 6 bulan selama 10 hari. Keparahan diare ditentukan berdasarkan frekuensi diare dan lamanya diare setelah pemberian terapi. Untuk membandingkan perbedaan antara kedua kelompok digunakan uji-t independen.&#xD;
Hasil  Enam puluh dua anak yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi pada studi ini, dimana 31 anak menderita diare bakteri, dan sisanya menderita diare nonbakteri. Didapatkan perbedaan yang tidak bermakna antara kelompok diare nonbakteri dan bakteri. Frekuensi diare setelah terapi (2.61 vs 2.70, p=0.27), dan  lama diare (63.39 vs 66.68, p=0.06). &#xD;
Kesimpulan  Pemberian zink tidak lebih efektif dalam mengurangi keparahan diare akut bakteri dibandingkan nonbakteri.</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan Peningkatan Kembali Kadar  Bilirubin Serum Setelah Fototerapi Tunggal dengan Fototerapi Ganda</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22590" />
    <author>
      <name>Widyastuti</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22590</id>
    <updated>2011-09-14T22:58:03Z</updated>
    <published>2011-04-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Widyastuti
Advisors: Tjipta, Guslihan Dasa; Supriatmo
Abstract: Background: Hyperbilirubinemia is one of the most common clinical phenomenon found in newborns. Phototherapy is standart treatment for lowering bilirubin levels in neonates. Intensive phototherapy produces a more rapid decline in the bilirubin serum levels than standard phototherapy, it is possible a greater rebound  might occur.&#xD;
Objectives: To determine the outcome of post-phototherapy rebound after single and double phototherapy are discontinued, and to establish the comparison between post-phototherapy bilirubin rebound after single phototherapy and double phototherapy. &#xD;
Methods: An open randomized controlled trial was conducted at H. Adam Malik hospital and Dr. Pirngadi hospital Medan in August 2009 until January 2010 and was performed on 81 neonates with indirect hyperbilirubinemia. Measurement  and observation of plasma total bilirubin level were conducted within 12 hours and after 24 hours after phototherapy is discontinued. Rebound bilirubin serum level is the increment of bilirubin serum level of about 1 – 2 mg/dL after the phototherapy is discontinued&#xD;
Results: Based on 24 hour observation after single phototherapy is discontinued, it is found that 1 neonate (2.7%) has billirubin serum level increase of about 1 – 2 mg/dL after phototherapy is discontinued. On the other hand, observation for double phototherapy group shows that 4 neonates (10.8%) have billirubin serum level increase of about 1 – 2 mg/dL after phototherapy is discontinued. Fisher Exact Test did not reveal any significant difference to rebound bilirubin serum levels in both groups (P = 0.358)&#xD;
Conclusions: Rebound bilirubin serum levels after single and double phototherapy may occur in some cases associated with increased bilirubin production that keep on going. There were no significant differences of rebound bilirubin serum levels found after single or double phototherapy.
Abstract (other language): Latar belakang: Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Fototerapi merupakan terapi standar yang digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin pada neonatus. Fototerapi intensif dapat menurunkan kadar bilirubin serum lebih cepat dibandingkan fototerapi standar, kemungkinan yang lebih besar terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum (rebound) dapat saja terjadi.&#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui kejadian peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan fototerapi ganda dihentikan dan untuk membandingkan nilai peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan fototerapi ganda&#xD;
Metode: Uji klinis terbuka, dilakukan di RS.H.Adam Malik  dan  RS. Dr. Pirngadi Medan. Penelitian dimulai bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010 terhadap 81 neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan yang menderita hyperbilirubinemia indirek. Dilakukan pemeriksaan dan pemantauan kadar bilirubin total awal, 12 jam dan setelah 24 jam fototerapi dihentikan. Peningkatan kembali kadar bilirubin serum atau rebound adalah peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi dihentikan.&#xD;
Hasil: Dari hasil pemantauan 24 jam setelah fototerapi tunggal dihentikan, Dijumpai 1 neonatus (2.7%) yang memiliki peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi dihentikan. Dan pada kelompok fototerapi ganda dijumpai 4 neonatus (10.8%) yang memiliki peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi. Dengan menggunakan uji fisher exact tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum pada kedua kelompok&#xD;
Kesimpulan: Peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan ganda dapat saja terjadi pada beberapa keadaan yang berhubungan dengan peningkatan produksi bilirubin yang terus berlangsung. Tidak dijumpai perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal maupun fototerapi ganda</summary>
    <dc:date>2011-04-06T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Widyastuti</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang: Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Fototerapi merupakan terapi standar yang digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin pada neonatus. Fototerapi intensif dapat menurunkan kadar bilirubin serum lebih cepat dibandingkan fototerapi standar, kemungkinan yang lebih besar terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum (rebound) dapat saja terjadi.&#xD;
Tujuan: Untuk mengetahui kejadian peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan fototerapi ganda dihentikan dan untuk membandingkan nilai peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan fototerapi ganda&#xD;
Metode: Uji klinis terbuka, dilakukan di RS.H.Adam Malik  dan  RS. Dr. Pirngadi Medan. Penelitian dimulai bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010 terhadap 81 neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan yang menderita hyperbilirubinemia indirek. Dilakukan pemeriksaan dan pemantauan kadar bilirubin total awal, 12 jam dan setelah 24 jam fototerapi dihentikan. Peningkatan kembali kadar bilirubin serum atau rebound adalah peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi dihentikan.&#xD;
Hasil: Dari hasil pemantauan 24 jam setelah fototerapi tunggal dihentikan, Dijumpai 1 neonatus (2.7%) yang memiliki peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi dihentikan. Dan pada kelompok fototerapi ganda dijumpai 4 neonatus (10.8%) yang memiliki peningkatan kadar bilirubin serum 1 – 2 mg/dL setelah fototerapi. Dengan menggunakan uji fisher exact tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum pada kedua kelompok&#xD;
Kesimpulan: Peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal dan ganda dapat saja terjadi pada beberapa keadaan yang berhubungan dengan peningkatan produksi bilirubin yang terus berlangsung. Tidak dijumpai perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan kembali kadar bilirubin serum setelah fototerapi tunggal maupun fototerapi ganda</dc:description>
  </entry>
  <entry>
    <title>Manfaat Vitamin E Sebagai Pengobatan Dismenore Primer Pada Remaja Perempuan Pubertas</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22073" />
    <author>
      <name>Wagito</name>
    </author>
    <id>http://repository.usu.ac.id:80/handle/123456789/22073</id>
    <updated>2011-09-14T01:58:08Z</updated>
    <published>2011-02-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Authors: Wagito
Advisors: Hakimi; Deliana, Melda
Abstract: Background Primary dysmenorrhoea is common among adolescents girl. Absenteeism from work and school were associated with the severity of symptoms. Vitamin E is one of alternative treatment in primary dysmenorrhoea.&#xD;
Objective To investigate the effectiveness of vitamin E as a treatment of primary dysmenorrhoea.&#xD;
Methods We conducted a randomized, double blind, clinical trial on August 2009 until October 2009. Participants were divided in two groups, each group received 200 units of vitamin E or placebo twice a day, it began two days before menstruation and continued until the third day of menstruation. Treatment was continued over three consecutive menstrual periods.&#xD;
Results One hundred sixteen primary dysmenorrhoea patients were enrolled to the study, with simple randomization divided in two group with each group had fifty eight patients. There were no statistically significant difference on the degree and duration of pain at baseline and after 1 month treatment between groups. After treatment for 2 and 3 months, there were statistically significant difference on the degree (p=0.013 and p=0.0001, respectively) and duration of pain (p=0.025 and p=0.007, respectively) between groups. &#xD;
Conclusion Vitamin E is effective in treatment of primary dysmenorrhoea among pubertal adolescent girl after 2 and 3 months treatment.
Abstract (other language): Latar belakang Dismenore primer sering dijumpai pada remaja perempuan pubertas. Ketidakhadiran di lingkungan kerja dan sekolah berhubungan dengan beratnya gejala yang terjadi. Vitamin E merupakan salah satu pengobatan alternatif pada dismenore primer.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat vitamin E sebagai pengobatan dismenore primer.&#xD;
Metode Penelitian dilakukan secara acak tersamar ganda sejak Agustus sampai Oktober 2009. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mendapat 200 IU vitamin E atau plasebo dua kali perhari, mulai dari 2 hari sebelum menstruasi sampai hari ketiga menstruasi sebanyak 2 kali sehari. Pengobatan dilakukan selama 3 bulan.&#xD;
Hasil Seratus enam belas penderita dismenore primer diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok terdiri dari 58 orang. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada derajat dan durasi nyeri saat awal dan setelah 1 bulan pengobatan. Setelah pengobatan selama 2 dan 3 bulan, dijumpai perbedaan bermakna pada derajat nyeri (p=0.013 dan p=0.0001, berturut-turut), dan durasi nyeri antara kedua kelompok (p=0.025 dan p=0.007, berturut-turut).&#xD;
Kesimpulan Vitamin E bermanfaat sebagai pengobatan dismenore primer pada remaja perempuan pubertas setelah 2 dan 3 bulan pengobatan.</summary>
    <dc:date>2011-02-14T00:00:00Z</dc:date>
    <dc:creator>Wagito</dc:creator>
    <dc:description>Latar belakang Dismenore primer sering dijumpai pada remaja perempuan pubertas. Ketidakhadiran di lingkungan kerja dan sekolah berhubungan dengan beratnya gejala yang terjadi. Vitamin E merupakan salah satu pengobatan alternatif pada dismenore primer.&#xD;
Tujuan Meneliti manfaat vitamin E sebagai pengobatan dismenore primer.&#xD;
Metode Penelitian dilakukan secara acak tersamar ganda sejak Agustus sampai Oktober 2009. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mendapat 200 IU vitamin E atau plasebo dua kali perhari, mulai dari 2 hari sebelum menstruasi sampai hari ketiga menstruasi sebanyak 2 kali sehari. Pengobatan dilakukan selama 3 bulan.&#xD;
Hasil Seratus enam belas penderita dismenore primer diikutkan dalam penelitian ini, dengan randomisasi sederhana dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok terdiri dari 58 orang. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada derajat dan durasi nyeri saat awal dan setelah 1 bulan pengobatan. Setelah pengobatan selama 2 dan 3 bulan, dijumpai perbedaan bermakna pada derajat nyeri (p=0.013 dan p=0.0001, berturut-turut), dan durasi nyeri antara kedua kelompok (p=0.025 dan p=0.007, berturut-turut).&#xD;
Kesimpulan Vitamin E bermanfaat sebagai pengobatan dismenore primer pada remaja perempuan pubertas setelah 2 dan 3 bulan pengobatan.</dc:description>
  </entry>
</feed>

